Anda di halaman 1dari 1

Aku Menagih Ceritamu.

Ayah tak sekalipun menulisku sebagai sajak.

Dijantungnya tak pernah tumbuh satu pun prosa atau novel sastra lainnya.

Ia pun tak mau menulisku


sebagai sebuah naskah drama.

Sebab, segala bentuk sandiwara tak pernah menancap di lembah dadanya.

Perihal tulis-menulis, aku bukanlah orang yang pandai membikin kalimat santun
apalagi cerpen kasih sayang.

Ku kira, mungkin memang benih-benih itu tak pernah ternanam didalam tubuhku.

Namun, setidaknya aku terlahir dari sebuah rahim puisi, diatas kota bernama Kata
yang terbakar.

Aku mengetahui biografi singkat masa kecil ku, lewat kitab-kitab karangan ibu
dimalam sebelum tidur.

Yang setelah dewasa kuteliti, ternyata ibu sama sekali tak pernah menulis satu
kalimat pun dalam kitabnya itu.

Ia hanya membacakannya.
rajastrhidup es!
faturshaukau pernah menulis, "Biarkan rezim naik kasta atau jungkir balik sekalian,
tapi jangan lupa untuk minum kopi, bincang malam, dan jatuh cinta." dan bukan
karena kata-kata jatuh cinta itu yang membuatku jatuh cinta dengan kalimat itu,
melainkan itu merepresentasikan kehidupan kita yang bebas seolah sonder peduli
terhadap apa pun dan siapa pun dan itu juga sesuai dengan kalimat Tuhan lain yang
dialamatkan kepada Jean Paul Sartre, "Manusia dikutuk untuk bebas." aku mungkin
sama sepertimu untuk hal-hal di atas, tapi apabila aku tak dituliskan, aku akan
menuliskan diriku sendiri dan mereka semua yang kucinta.