Anda di halaman 1dari 48

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT Laporan Kasus

DAN ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS MEI 2017


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN

KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA DI


PIZZA RIA PERINTIS KEMERDEKAAN

Disusun Oleh:

Wan Hani Nadiah binti W Jusof C111 12 850


Nur Illani binti Ibrahim C111 12 855
Nur Izzati binti Adli C111 12 854
Nurul Nabilah Azra binti Nor Azlan C111 12 863

Pembimbing:
dr. Sultan Buraena, MS, Sp.OK

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DAN
ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017

1
DAFTAR ISI

SAMPUL . 1
DAFTAR ISI ........... 2
HALAMAN PENGESAHAN ................. 3
BAB I. PENDAHULUAN .................... 4
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ................ 7
BAB III. METODOLOGI .................................................................... 23
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................... 25
BAB V. KESIMPULAN ...................................................................... 42
DAFTAR PUSTAKA ... 44
LAMPIRAN.46

2
HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertanda tangan di bawah ini, menyatakan bahwa:

Nama :

Wan Hani Nadiah binti W Jusof C111 12 850


Nur Illani binti Ibrahim C111 12 855
Nur Izzati binti Adli C111 12 854
Nurul Nabilah Azra binti Nor Azlan C111 12 863

Laporan Kasus: Kesehatan Dan Keselamatan Kerja di Pizza Ria di Jalan Perintis
Kemerdekaan.

Telah menyelesaikan tugas dalam rangka kepaniteraan klinik pada bagian Ilmu
Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Kedokteran Keluarga, Fakultas Kedokteran Universitas
Hasanuddin.

Makassar, Mei 2017

Pembimbing

dr. Sultan Buraena, MS, Sp.OK

3
BAB I

PENDAHULUAN

Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) adalah bidang yang terkait dengan kesehatan,
keselamatan dan kesejahteraan manusia yang bekerja di sebuah institusi maupun lokasi
proyek. Ini termasuk salah satu program pemeliharaan yang ada di perusahaan. Program
keselamatan dan kesehatan kerja yang baik adalah program yangterpadu untuk melaksanakan
pekerjaan sehari-hari pada lingkungan pekerjaan dimana seseorang bekerja. Kasus
kecelakaan yang terjadi di Indonesia meningkat setiap tahunnya yaitu mencapai 93.000
kasus.(www.bpjsketenagakerjaan.go.id).

Tujuan K3 adalah untuk memelihara kesehatan dan keselamatan lingkungan kerja. K3


juga melindungi rekan kerja, keluarga pekerja, konsumen, dan orang lain juga mungkin
terpengaruh kondisi lingkungan kerja. Kesehatan dan keselamatan kerja cukup penting bagi
moral, legalitas dan finansial. Semua organisasi memiliki kewajiban untuk memastikan
bahwa pekerja dan orang lain yang terlibat tetap berada dalam kondisi aman sepanjang
waktu. Pemerintah sendiri sangat sadar tentang pentingnya kesehatan dan keselamatan kerja
(K3). Hal ini dapat dilihat dari undang-undang yang dikeluarkan, seperti undang-undang
(UU) nomor 1 tahun 1970 tentang keselamatan kerja (LNRI, 1970) dan UU nomor 13 tahun
2003 tentang ketenagakerjaan (LNRI, 2003).

Praktik K3 (keselamatan, kesehatan, kerja) meliputi pencegahan, pemberian sanksi


dan kompensasi, juga penyembuhan luka dan perawatan untuk pekerja dan menyediakan
perawatan kesehatan dan cuti sakit. K3 terkait dengan ilmu kesehatan kerja, teknik
keselamatan, teknik industri, kimia, fisika kesehatan, psikologi organisasi dan industri,
ergonomika, dan psikologi kesehatan kerja. Keselamatan kerja adalah sarana utama untuk
pencegahan kecelekaan, cacat, dan kematian sebagai akibat kecelakaan kerja. Keselamatan
kerja yang baik adalah pintu gerbang bagi keamanan tenaga kerja. Keselamatan kerja
menyangkut segenap proses produksi dan distribusi, baik barang maupun jasa.

Makna K3 ini belum sepenuhnya dipahami baik oleh pihak manajemen maupun
karyawan.Usaha yang harus ditanamkan adalah kesadaran jiwa bahwa keselamatan dan
kesehatan kerja (K3) merupakan bentuk kebutuhan. K3 atau OHS adalah kondisi yang harus
diwujudkan di tempat kerja dengan segala daya upaya berdasarkan ilmu pengetahuan dan
pemikiran mendalam guna melindungi tenaga kerja, manusia serta karya dan budayanya

4
melalui penerapan teknologi pencegahan kecelakaan yang dilaksanakan secara konsisten
sesuai dengan peraturan perundangan dan standar yang berlaku.

1.2 Tujuan

Adapun tujuan dari keselamatan kerja adalah :

1. Melindungi keselamatan pekerja dalam melakukan pekerjaannya untuk kesejahteraan


hidup dan meningkatkan produktfitas nasional.
2. Menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada di tempat kerja.
3. Sumber produksi terpelihara dan dipergunakan secara aman dan efisien.

1.3 Manfaat

1) Manfaat bagi mahasiswa :

a. Menambah pengetahuan tentang syarat dan prosedur keselamatan dan


kesehatan kerja di restoran.

b. Mengetahui berbagai masalah kesehatan dan keselamatan kerja di restoran.

c. Mengaplikasikan teori yang didapat selama perkuliahan dalam


menganalisis permasalahan dalam K3 informal.

2) Manfaat bagi Fakultas Kesehatan Masyarakat :

a. Dapat menjadi referensi baru tentang permasalahan K3 informal di Fakultas


Kesehatan Masyarakat

b. Sebagai sarana sosialisasi dengan masyarakat maupun publikasi kepada


khalayak sehingga Fakultas Kesehatan Masyarakat dapat dikenal oleh
masyarakat luas.

3) Manfaat bagi masyarakat :

a. Meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan untuk menciptakan


budaya K3 di lingkungan kerja.

5
b. Memberikan informasi mengenai pentingnya penerapan Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3)

c. Mendapatkan informasi tentang masalah kesehatan yang dimanfaatkan untuk


meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara optimal.

d. Sebagai masukan referensi untuk penulis/peneliti selanjutnya yang


berhubungan dengan bidang keselamatan dan kesehatan kerja dan
pengaruhnya dengan produktivitas kerja.

6
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Restoran

Menurut Marsum (Marsum, 2005), restoran adalah suatu tempat atau bangunan yang
diorganisir secara komersil, yang menyelenggarakan pelayanan dengan baik kepada semua
konsumennya baik berupa makanan maupun minuman. Tujuan operasional restoran adalah
untuk mencari keuntungan sebagaimana tercantum dalam definisi Prof. Vanco Christian dari
School Hotel Administration di Cornell University. Selain bertujuan bisnis atau mencari
keuntungan, membuat puas para konsumennya pun merupakan tujuan operasional restoran
yang utama.
Pengertian restoran atau rumah makan menurut Keputusan Menteri Pariwisata, Pos
dan Telekomunikasi No.KN.73/PVVI05/MPPT-85 tentang Peraturan usaha Rumah Makan,
dalam peraturan ini yang dimaksud dengan pengusaha Jasa Pangan adalah : Suatu usaha
yang menyediakan jasa pelayanan makanan dan minuman yang dikelola secara komersial.
Sedangkan menurut peraturan Menteri Kesehatan RI No. 304/Menkes/Per/89 tentang
persyaratan rumah makan maka yang dimaksud rumah makan adalah satu jenis usaha jasa
pangan yang bertempat di sebagian atau seluruh bangunan yang permanen dilengkapi dengan
peralatan dan perlengkapan untuk proses pembuatan, penyimpanan dan penjualan makanan
dan minuman bagi umum di tempat usahanya.
Secara umum, restoran merupakan tempat yang dikunjungi orang untuk mencari
berbagai macam makanan dan minuman. Restoran biasanya juga menyuguhkan keunikan
tersendiri sebagai daya tariknya, baik melalui menu masakan, hiburan maupun tampilan fisik
bangunan.

2.1.2 Jenis-jenis Restoran

Menurut Mary B.Gregoire (2010, pp. 11-12) komersial restoran terbagi dalam
beberaapa macam, antara lain;

1. Limited service, limited menu restaurant


Limited service, limited menu restaurant (biasa disebut dengan fast-
food/quickservice) menyediakan menu yang terbatas kepada konsumen dan sering
kali konsumen memesan makanan dan membayar langsung sebelum makan. Jenis

7
restoran seperti ini menargetkan konsumen yang ingin makan dengan cepat
dengan harga yang terjangkau.
2. Full-service restaurant
Full-service restaurant menyediakan meja untuk makan dengan pelayanan.
Konsumen disapa dan dipersilahkan duduk oleh host/hostess dan melayani
pemesanan makanan. Pembayaran dilakukan setelah makan.
3. Casual dining restaurant
Casual dining restaurant untuk menarik konsumen dari ekonomi menengah yang
menyukai makan di luar dan tidak menginginkan suasana yang formal dan harga
yang mahal. Suasananya sederhana, santai, dan harga terjangkau.
4. Fine dining restaurant
Fine dining restaurant biasanya didekorasi dengan suasana yang elegan,
expensive looking, dan fine cuisine. Restoran akan memberikan pengalaman
makan yang memorable.

Untuk California Fried Chicken merupakan jenis restoran Limited service, limited
menu restaurant,yaitu restoran informal menyediakan jasa pelayanan makanan dan minuman
yang dikelola secara komersial dan professional dengan lebih mengutamakan kecepatan
pelayanan, kepraktisan dan percepatan frekuensi pelanggan yang silih berganti .

2.2 Alur Kerja

Pengertian Alur Kerja Alur kerja dapat diartikan sebagai otomatisasi prosedur ketika
dokumen, informasi atau pekerjaan dilewatkan melalui sejumlah orang menurut aturan
tertentu untuk mencapai suatu tujuan. Alur kerja merupakan sarana yang memodelkan dan
mengimplementasikan proses bisnis. Alur Kerja ini terdiri dari langkah-langkah aktivitas
yang berurutan dan memiliki aturan-aturan tertentu yang ada di dalamnya sehingga dapat
digunakan untuk mencapai sebuah tujuan yang telah ditetapkan

8
Manager

Gudang/Penyimpanan

Dapur/Tukang Masak

Kasier

Waiters

Delivery

Cleaner

Keamanan

Gambar 1: Alur kerja California Fried Chicken (state-machine)

Proses alur kerja dimodelkan menggunakan state-machine yang dapat


mengakomodasi kebutuhan interaksi antara manusia dan sistem. Contoh pemodel alur kerja
menggunakan state-machine diberikan pada Gambar 1. Berikut adalah alur kerja yang
tersedia dalam pelayanan makanan di California Fried Chicken:

2.2.1 Administrasi dan Penyimpanan


Administrasi adalah perencanaan, pengendalian, dan pengorganisasian
pekerjaan perkantoran, serta penggerakan mereka yang melaksanakannya agar
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Manajer restoran bertanggung jawab atas
kelancaran administrasi dan operasional serta mengkoordinir segala keselarasan
kegiatan di unit restoran dan dapur dari segala aspek operasionalnya, termasuk juga
terhadap pengontrolan pembiayaan dari target hasil usaha yang selaras dengan tujuan
perusahaan.
Gudang merupakan suatu fasilitas yang berfungsi sebagai lokasi penyaluran
barang dari supplier (pemasok), sampai ke end user (pengguna). Dalam praktik
operasional setiap perusahaan cenderung memiliki suatu ketidakpastian akan
permintaan. Hal ini mendorong timbulnya kebijakan dari perusahaan untuk
melakukan sistem persediaan (inventory) agar permintaan dapat diantisipasi dengan
cermat. Dengan adanya kebijakan mengenai inventory ini mendorong perusahaan

9
untuk menyediakan fasilitas gudang sebagai tempat untuk menyimpan
barang inventory.
Dalam penyelenggaraan makanan diperlukan ruangan atau tempat untuk
melaksanakan penyelenggaraan makanan tersebut, mulai dari ruangan penerimaan
bahan makanan sampai kepada tempat pembuangan akhir sisa bahan makanan.
Adapun ruangan tersebut adalah:
a) Tempat/ruang penerimaan bahan makanan.
b) Tempat/ruang penyimpanan bahan makanan.
c) Tempat/ruang persiapan bahan makanan.
d) Tempat/ruang pendistribusian bahan makanan.
e) Tempat/ruang pencucian dan penyimpanan alat.
2.2.2 Product
Belanja dan gudang adalah yang bertanggunjawab dalam penyediaan bahan
makanan dalam melaksanakan pelayanan makanan. Utari (2009) yang mengutip
pedoman teknis proses penyediaan makanan dalam sistem penyelenggaraan makanan
institusi(Depkes RI, 2003), prasyarat pemesanan dan pembelian bahan makanan
adalah adanya kebijakan institusi tentang pengadaan bahan makanan,a adanya surat
perjanjian dengan bagian logistik rekanan, adanya spesifikasi bahan makanan, adanya
daftar pesanan bahan makanan dan tersedianya dana.
Tukang masak atau juru masak adalah orang yang menyiapkan makanan untuk
disantap. Istilah ini kadang merujuk pada chef, walaupun kedua istilah ini
secara profesional tidak dapat disamakan. Istilah tukang masak pada
suatu dapur rumah makan atau restoran biasanya merujuk pada orang dengan sedikit
atau tanpa pengaruh kreatif terhadap menu dan memiliki sedikit atau tanpa pengaruh
apapun terhadap dapur. Mereka biasanya adalah semua anggota dapur yang berada di
bawah chef (kepala tukang masak)
Jenis restoran lain mungkin memiliki menu yang relatif konstan dan hanya
memiliki orang-orang yang dapat menyiapkan makanan secara cepat dan konsisten,
serta tidak terlalu membutuhkan kepala tukang masak. Restoran jenis ini dapat
dijalankan sepenuhnya oleh tukang masak, contohnya pada restoran cepat saji.
Dapur adalah merupakan suatu ruangan atau tempat khusus yang memiliki
perlengkapan dan peralatan untuk mengolah makanan hingga siap untuk disajikan.

10
2.2.3 Service/pelayanan
Seorang pelayan restaurant dan hotel biasanya disebut waiter, khusus melayani
tamu yang memesan makan dan minuman. Untuk memberikan pelayanan dengan
sopan dan efisien untuk para tamu sesuai dengan standar layanan dan prosedur yang
sudah ditentukan. Posisi seorang waiter / waitress adalah
a. Greeter
Bertugas untuk menyambut tamu pada saat pertama kali datang dan
mengarahkan tamu untuk duduk diarea good view atau dimeja yang lain.
b. Taking Order
Bertugas untuk menjual makanan maupun minuman kepada tamu, dimulai dari
makanan dan minuman promo, makanan atau minuman favorit, makanan atau
minuman termahal.
c. Food Checker
Bertugas menagani captain order yang diserahkan ke kitchen dan mengontrol
makanan sebelum disajikan keapada tamu.
d. Runner
Bertugas membantu food checker dan mengantar makanan kemeja tamu yang
sudah dipesan oleh tamu.
Sebagai bagian dari frontliner atau garda depan, kasir (cashier) memiliki
tugas-tugas yang harus dijalankan dengan baik di setiap hari kerjanya. Karena posisi
kasir yang vital disebabkan berhubungan langsung dengan administrasi dan uang,
maka ia dituntut untuk selalu berhati-hati dalam menjalankan setiap tugas yang
dijalankannya.
Delivery crew bertugas mempersiapkan perlengkapan delivery dan kondisi
motor dalam keadaan baik, memastikan bahwa makanan yang dibawa sesuai
pesanan konsumen, dan membuat laporan keluhan konsumen

2.2.4 Facility control/maintenance


Cleaning service adalah tindakan pembersihan yang melibatkan hygiene pada
pelayanan makanan itu sendiri. Petugas ini sering terpapar dengan faktor-faktor kimia
pada alatan mencuci seperti pencuci lantai, pencuci pinggan, cermin dan lain-lain.
Penting juga untuk menjaga linkungan yang bersih dari faktor biologis.

11
Security atau pengamanan adalah satuan Pengamanan atau sering juga
disingkat Satpam adalah satuan kelompok petugas yang dibentuk oleh
instansi/proyek/badan usaha untuk melakukan keamanan fisik (physical security)
dalam rangka penyelenggaraan keamanan swakarsa di lingkungan kerjanya. Definisi
lain menyebut satuan keamanan atau security guard adalah tim atau kelompok yang
bertugas mengamankan aset dari tindakan kejahatan atau kerusakan.

2.3 Definisi Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Kesehatan kerja adalah merupakan bagian dari kesehatan masyarakat atau aplikasi
kesehatan masyarakat didalam suatu masyarakat pekerja dan masyarakat lingkungannya.1

Keselamatan kesehatan kerja adalah merupakan multidisplin ilmu yang terfokus pada
penerapan prinsip alamiah dalam memahami adanya risiko yang mempengaruhi kesehatan
dan keselamatan manusia dalam lingkungan industri ataupun lingkungan diluar industri,
selain itu keselamatan dan kesehatan kerja merupakan profesionalisme dari berbagai disiplin
ilmu yaitu fisika, kimia, biologi dan ilmu perilaku yang diaplikasikan dalam manufaktur,
transportasi, penyimpanan dan penanganan bahan berbahaya.3

Tujuan umum dari K3 adalah menciptakan tenaga kerja yang sehat dan produktif.
Tujuan hyperkes dapat dirinci sebagai berikut (Rachman, 1990):

a. Agar tenaga kerja dan setiap orang berada di tempat kerja selalu dalam keadaan
sehat dan selamat.

b. Agar sumber-sumber produksi dapat berjalan secara lancar tanpa adanya


hambatan.3

2.4 Potensi Bahaya dan Risiko Terhadap Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Motivasi utama dalam melaksanakan keselamatan dan kesehatan kerja adalah untuk
mencegah kecelakaan kerja dan penyakit yang ditimbulkan oleh pekerjaan.Oleh karena itu
perlu melihat penyebab dan dampak yang ditimbulkannya. 2

Potensi Bahaya adalah sesuatu yang berpotensi untuk terjadinya insiden yang berakibat pada
kerugian.

12
Risiko adalah kombinasi dan konsekuensi suatu kejadian yang berbahaya dan peluang
terjadinya kejadian tersebut.

Tabel A: Potensi bahaya keselamatan dan kesehatan kerja didasarkan pada dampak korban2

Dalam Tabel A, bahan-bahan bersifat racun atau asam termasuk dalam kategori A, sedangkan
tikar tergulung merupakan bahaya tersandung termasuk bagian housekeeping dalam kategori
B. Tentu saja beberapa hal mungkin dapat termasuk dalam kedua kategori. Misalnya api bisa
ditempatkan dalam kategori A dan B.

Tabel A menggambarkan bahwa keselamatan dan kesehatan kerja mencakup semua dampak
kesehatan pada pekerja, dari keselamatan fisik sampai kesejahteraan mental dan sosial serta
bahaya/risiko yang ditimbulkannya. Tidak akan mungkin bagi seorang pengusaha untuk
mengidentifikasi dan menemukan solusi untuk semua elemen ini tanpa kerjasama dengan
tenaga kerja. Inilah salah satu alasan lagi mengapa konsultasi antara pekerja dan manajemen
sangat penting. 2

2.4.1 Bahaya Faktor Kimia

Risiko kesehatan timbul dari pajanan berbagai bahan kimia. Banyak bahan kimia yang
memiliki sifat beracun dapat memasuki aliran darah dan menyebabkan kerusakan pada sistem

13
tubuh dan organ lainnya. Bahan kimia berbahaya dapat berbentuk padat, cairan, uap, gas,
debu, asap atau kabut dan dapat masuk ke dalam tubuh melalui tiga carautama antara lain:

a. Inhalasi (menghirup):

Dengan bernapas melalui mulut atau hidung, zat beracun dapat masuk ke dalam paru-paru.
Seorang dewasa saat istirahat menghirup sekitar lima liter udara per menit yang mengandung
debu, asap, gas atau uap. Beberapa zat, seperti fiber/serat, dapat langsung melukai
paruparu.Lainnya diserap ke dalam aliran darah dan mengalir ke bagian lain dari tubuh.

b. Pencernaan (menelan):

Bahan kimia dapat memasuki tubuh jika makan makanan yang terkontaminasi, makan dengan
tangan yang terkontaminasi atau makan di lingkungan yang terkontaminasi.Zat di udara juga
dapat tertelan saat dihirup, karena bercampur dengan lendir dari mulut, hidung atau
tenggorokan. Zat beracun mengikuti rute yang sama sebagai makanan bergerak melalui usus
menuju perut.

c. Penyerapan ke dalam kulit atau kontak invasif:

Beberapa di antaranya adalah zat melewati kulit dan masuk ke pembuluh darah, biasanya
melalui tangan dan wajah.Kadang-kadang, zat-zat juga masuk melalui luka dan lecet atau
suntikan (misalnya kecelakaan medis). Guna mengantisipasi dampak negatif yang mungkin
terjadi di lingkungan kerja akibat bahaya faktor kimia maka perlu dilakukan pengendalian
lingkungan kerja secara teknis sehingga kadar bahan-bahan kimia di udara lingkungan kerja
tidak melampaui nilai ambang batas (NAB).

Bahan-bahan kimia digunakan untuk berbagai keperluan di tempat kerja. Bahan-bahan kimia
tersebut dapat berupa suatu produk akhir atau bagian bentuk bahan baku yang digunakan
untuk membuat suatu produk. Juga dapat digunakan sebagai pelumas, untuk pembersih,
bahan bakar untuk energi proses atau produk samping. Banyak bahan kimia yang digunakan
di tempat kerja mempengaruhi kesehatan kita dengan cara-cara yang tidak diketahui.Dampak
kesehatan dari beberapa bahan kimia bisa secara perlahan atau mungkin membutuhkan waktu
bertahuntahun untuk berkembang. 2

14
2.4.2 Bahaya Faktor Fisik

Faktor fisik adalah faktor di dalam tempat kerja yang bersifat fisika antara lain kebisingan,
penerangan, getaran, iklim kerja, gelombang mikro dan sinar ultra ungu. Faktor-faktor ini
mungkin bagian tertentu yang dihasilkan dari proses produksi atau produk samping yang
tidak diinginkan.

a. Kebisingan

Kebisingan adalah semua suara yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat-alat proses
produksi dan atau alat-alat kerja yang pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan
pendengaran. Suara keras, berlebihan atau berkepanjangan dapat merusak jaringan saraf
sensitif di telinga, menyebabkan kehilangan pendengaran sementara atau permanen.Hal ini
sering diabaikan sebagai masalah kesehatan, tapi itu adalah salah satu bahaya fisik utama.
Batasan pajanan terhadap kebisingan ditetapkan nilai ambang batas sebesar 85 dB selama 8
jam sehari.

b. Penerangan

Penerangan di setiap tempat kerja harus memenuhi syarat untuk melakukan


pekerjaan.Penerangan yang sesuai sangat penting untuk peningkatan kualitas dan
produktivitas.Sebagai contoh, pekerjaan perakitan benda kecil membutuhkan tingkat
penerangan lebih tinggi, misalnya mengemas kotak.Studi menunjukkan bahwa perbaikan
penerangan, hasilnya terlihat langsung dalam peningkatan produktivitas dan pengurangan
kesalahan.Bila penerangan kurang sesuai, para pekerja terpaksa membungkuk dan mencoba
untuk memfokuskan penglihatan mereka, sehingga tidak nyaman dan dapat menyebabkan
masalah pada punggung dan mata pada jangka panjang dan dapat memperlambat pekerjaan
mereka.

c. Getaran

Getaran adalah gerakan bolak-balik cepat (reciprocating), memantul ke atas dan ke bawah
atau ke belakang dan ke depan. Gerakan tersebut terjadi secara teratur dari benda atau media
dengan arah bolak balik dari kedudukannya.Hal tersebut dapat berpengaruh negatif terhadap
semua atau sebagian dari tubuh.Misalnya, memegang peralatan yang bergetar sering
mempengaruhi tangan dan lengan pengguna, menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah
dan sirkulasi di tangan.Sebaliknya, mengemudi traktor di jalan bergelombang dengan kursi

15
yang dirancang kurang sesuai sehingga menimbulkan getaran ke seluruh tubuh, dapat
mengakibatkan nyeri punggung bagian bawah.

Getaran dapat dirasakan melalui lantai dan dinding oleh orang-orang disekitarnya.Misalnya,
mesin besar di tempat kerja dapat menimbulkan getaran yang mempengaruhi pekerja yang
tidak memiliki kontak langsung dengan mesin tersebut dan menyebabkan nyeri dan kram
otot.Batasan getaran alat kerja yang kontak langsung maupun tidak langsung pada lengan dan
tangan tenaga kerja ditetapkan sebesar 4 m/detik2.

d. Iklim Kerja

Ketika suhu berada di atas atau di bawah batas normal, keadaan ini memperlambat
pekerjaan.Ini adalah respon alami dan fisiologis dan merupakan salah satu alasan mengapa
sangat penting untuk mempertahankan tingkat kenyamanan suhu dan kelembaban ditempat
kerja.Faktor-faktor ini secara signifikan dapat berpengaruh pada efisiensi dan produktivitas
individu pada pekerja.Sirkulasi udara bersih di ruangan tempat kerja membantu untuk
memastikan lingkungan kerja yang sehat dan mengurangi pajanan bahan kimia.Sebaliknya,
ventilasi yang kurang sesuai dapat mengakibatkan pekerja kekeringan atau kelembaban yang
berlebihan; menciptakan ketidaknyamanan bagi para pekerja; mengurangi konsentrasi
pekerja, akurasi dan perhatian mereka untuk praktek kerja yang aman.

Agar tubuh manusia berfungsi secara efisien, perlu untuk tetap berada dalam kisaran suhu
normal.Untuk itu diperlukan iklim kerja yang sesuai bagi tenaga kerja saat melakukan
pekerjaan.Iklim kerja merupakan hasil perpaduan antara suhu, kelembaban, kecepatan
gerakan udara dan panas radiasi dengan tingkat panas dari tubuh tenaga kerja sebagai akibat
dari pekerjaannya. Iklim kerja berdasarkan suhu dan kelembaban ditetapkan dalam
Kepmenaker No 51 tahun 1999 diatur dengan memperhatikan perbandingan waktu kerja dan
waktu istirahat setiap hari dan berdasarkan beban kerja yang dimiliki tenaga kerja saat
bekerja (ringan, sedang dan berat).

e. Radiasi Tidak Mengion

Radiasi gelombang elektromagnetik yang berasal dari radiasi tidak mengion antara lain
gelombang mikro dan sinar ultra ungu (ultra violet). Gelombang mikro digunakan antara lain
untuk gelombang radio, televisi, radar dan telepon. Gelombang mikro mempunyai frekuensi
30 kilo hertz 300 giga hertz dan panjang gelombang 1 mm 300 cm. Radiasi gelombang
mikro yang pendek < 1 cm yang diserap oleh permukaan kulit dapat menyebabkan kulit

16
seperti terbakar. Sedangkan gelombang mikro yang lebih panjang (> 1 cm) dapat menembus
jaringan yang lebih dalam.Radiasi sinar ultra ungu berasal dari sinar matahari, las listrik,
laboratorium yang menggunakan lampu penghasil sinar ultra violet.Panjang felombang sinar
ultra violet berkisar 1 40 nm.Radiasi ini dapat berdampak pada kulit dan mata.2

2.4.3 Bahaya Faktor Biologi

Faktor biologi penyakit akibat kerja sangat beragam jenisnya. Seperti pekerja di pertanian,
perkebunan dan kehutanan termasuk di dalam perkantoran yaitu indoor air quality, banyak
menghadapi berbagai penyakit yang disebabkan virus, bakteri atau hasil dari pertanian,
misalnya tabakosis pada pekerja yang mengerjakan tembakau, bagasosis pada pekerja -
pekerja yang menghirup debu-debu organic misalnya pada pekerja gandum (aspergillus) dan
di pabrik gula,. Penyakit paru oleh jamur sering terjadi pada pekerja yang menghirup debu
organik, misalnya pernah dilaporkan dalam kepustakaan tentang aspergilus paru pada pekerja
gandum.Demikian juga grain asma sporotrichosis adalah salah satu contoh penyakit akibat
kerja yang disebabkan oleh jamur.Penyakit jamur kuku sering diderita para pekerja yang
tempat kerjanya lembab dan basah atau bila mereka terlalu banyak merendam tangan atau
kaki di air seperti pencuci.Agak berbeda dari faktor-faktor penyebab penyakit akibat kerja
lainnya, faktor biologis dapat menular dari seorang pekerja ke pekerja lainnya. Usaha yang
lain harus pula ditempuh cara pencegahan penyakit menular, antara lain imunisasi dengan
pemberian vaksinasi atau suntikan, mutlak dilakukan untuk pekerja-pekerja di Indonesia
sebagai usaha kesehatan biasa. Imunisasi tersebut berupa imunisasi dengan vaksin cacar
terhadap variola, dan dengan suntikan terhadap kolera, tipus dan para tipus perut. Bila
memungkinkan diadakan pula imunisasi terhadap TBC dengan BCG yang diberikan kepada
pekerja-pekerja dan keluarganya yang reaksinya terhadap uji Mantaoux negatif, imunisasi
terhadap difteri, tetanus, batuk rejan dari keluarga-keluarga pekerja sesuai dengan usaha
kesehatan anak-anak dan keluarganya, sedangkan di Negara yang maju diberikan pula
imunisasi dengan virus influenza. 2

2.4.4 Bahaya Faktor Ergonomi dan Pengaturan Kerja

Ergonomi adalah studi tentang hubungan antara pekerjaan dan tubuh manusia.barang dan jasa
telah mengembangkan kualitas dan produktivitas. Restrukturisasi proses produksi barang dan
jasa terbukti meningkatkan produktivitas dan kualitas produk secara langsung berhubungan

17
dgn disain kondisi kerja Pengaturan cara kerja dapat memiliki dampak besar pada seberapa
baik pekerjaan dilakukan dan kesehatan mereka yang melakukannya. Semuanya dari posisi
mesin pengolahan sampai penyimpanan alat-alat dapat menciptakan hambatan dan risiko.

Penyusunan tempat kerja dan tempat duduk yang sesuai harus diatur sedemikian sehingga
tidak ada pengaruh yang berbahaya bagi kesehatan.Tempat tempat duduk yang cukup dan
sesuai harus disediakan untuk pekerja-pekerja dan pekerja-pekerja harus diberi kesempatan
yang cukup untuk menggunakannya.

Prinsip ergonomi adalah mencocokan pekerjaan untuk pekerja.Ini berarti mengatur


pekerjaan dan area kerja untuk disesuaikan dengan kebutuhan pekerja, bukan mengharapkan
pekerja untuk menyesuaikan diri.Desain ergonomis yang efektif menyediakan workstation,
peralatan dan perlengkapan yang nyaman dan efisien bagi pekerja untuk digunakan. Hal ini
juga menciptakan lingkungan kerja yang sehat, karena mengatur proses kerja untuk
mengendalikan atau menghilangkan potensi bahaya. Tenaga kerja akan memperoleh
keserasian antara tenaga kerja, lingkungan, cara dan proses kerjanya. Cara bekerja harus
diatur sedemikian rupa sehingga tidak menimbulkan ketegangan otot, kelelahan yang
berlebihan atau gangguan kesehatan yang lain.

Risiko potensi bahaya ergonomi akan meningkat:

dengan tugas monoton, berulang atau kecepatan tinggi;

dengan postur tidak netral atau canggung;

bila terdapat pendukung yang kurang sesuai;

bila kurang istirahat yang cukup. 2

2.5 Upaya Pencegahan Kecelakaan dan Penyakit Akibat Kerja

Pencegahan dan penanggulangan penyakit dilakukan dengan melakukan pelayanan kesehatan


komprehensif terdiri dari upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif dengan
mempertimbangkan keadaan lingkungan dan masyarakat. Pencegahan dan penanggulangan
penyakit akibat kerja dilaksanakan dengan terintegrasi dalam SMK3 (Sistem Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan Kerja)

18
Prinsip pencegahan Penyakit Akibat kerja

1. Pencegahan Primer/Awal, dilakukan sedini mungkin sebelum kasus terjadi melalui


kegiatan :

a) Pemeriksaan kesehatan tenaga kerja ( awal, berkala, khusus)

b) Penyediaan pelayanan kesehatan kerja

2. Pencegahan Sekunder, dilakukan apabila sudah terdapat tanda-tanda atau gejala adanya
PAK melalui kegiatan pemantauan/pengukuran lingkungan kerja faktor fisik, kimia, biologi,
ergonomi dan Psikososial. Cara pengendalian ancaman bahaya kesehatan kerja

Pengendalian teknik: mengganti prosedur kerja, menutup mengisolasi bahan

berbahaya, menggunakan otomatisasi pekerjaan, menggunakan cara kerja basah dan

ventilasi pergantian udara.

Pengendalian administrasi: mengurangi waktu pajanan, menyusun peraturan

keselamatan dan kesehatan, memakai alat pelindung, memasang tanda tanda

peringatan, membuat daftar data bahan-bahan yang aman, melakukan pelatihan sistem

penangganan darurat.

Pemantauan kesehatan : melakukan pemeriksaan kesehatan.

3. Pencegahan Tersier, melalui tindakan penanganan terhadap kasus PAK yang sudah terjadi
agar masih dapat dioptimalkan fungsi dan mencegah terjadi kecacatan. Hal ini bisa dilakukan
antara lain sbb:

Mengistrahatkan pekerja

Melakukan pemindahan pekerja dari tempat yang terpajan

Melakukan pemeriksaan berkala untuk evaluasi penyakit

Dalam pengendalian penyakit akibat kerja, salah satu upaya yang wajib dilakukan adalah
deteksi dini, sehingga pengobatan bisa dilakukan secepat mungkin.Dengan demikian,
penyakit bisa pulih tanpa menimbulkan kecacatan.Sekurang-kurangnya, tidak menimbulkan

19
kecacatan lebih lanjut.Pada banyak kasus, penyakit akibat kerja bersifat berat dan
mengakibatkan cacat.Ada dua faktor yang membuat penyakit mudah dicegah. a. Bahan
penyebab penyakit mudah diidentifikasi, diukur, dan dikontrol. b. Populasi yang berisiko
biasanya mudah didatangi dan dapat diawasi secara teratur serta dilakukan pengobatan.

Upaya-upaya dalam rangka pencegahan dan penanggulangan Penyakit Akibat kerja meliputi :

A. Upaya Kesehatan Promotif :

1. Pembinaan kesehatan kerja

2. Pendidikan dan pelatihan bidang kesehatan kerja

3. Perbaikan gizi kerja

4. Program olah raga di tempat kerja

5. Penerapan ergonomi kerja

6. Pembinaan cara hidup sehat

7. Program pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS dan Narkoba di

tempat kerja

8. Penyebarluasan informasi kesehatan kerja melalui penyuluhan dan media

KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi), dengan topik yang relevan.

B. Upaya Kesehatan Preventif :

1. Melakukan penilaian terhadap faktor risiko kesehatan di tempat kerja (health hazard risk
assesment) yang meliputi :

a. Identifikasi faktor bahaya kesehatan kerja melalui : pengamatan, walk through survey,
pencatatan/pengumpulan data dan informasi

b. Penilaian/pengukuran potensi bahaya kesehatan kerja

c. Penetapan tindakan pengendalian faktor bahaya kesehatan pekerja

20
2. Pemeriksaan kesehatan (awal, berkala dan khusus)

3. Survailans dan analisis PAK dan penyakit umum lainnya

4. Pencegahan keracunan makanan bagi tenaga kerja

5. Penempatan tenaga kerja sesuai kondisi/status kesehatannya

6. Pengendalian bahaya lingkungan kerja

7. Penerapan ergonomi kerja

8. Penetapan prosedur kerja aman (SOP)

9. Penggunaan APD yang sesuai

10. Pengaturan waktu kerja (rotasi, mutasi, pengurangan jam kerja terpapar

faktor risiko dll);

11. Program imunisasi

12. Program pengendalian binatang penular (vektor) penyakit.

C. Upaya Kesehatan Kuratif :

1. Pengobatan dan perawatan

2. Tindakan P3K dan kasus gawat darurat lainnya

3. Respon tanggap darurat

4. Tindakan operatif,

5. Merujuk pasien dll.

D. Upaya Kesehatan Rehabilitatif :

1. Fisio therapi

2. Konsultasi psikologis (rehabilitasi mental)

3. Orthose dan prothese (pemberian alat bantu misalnya : alat bantu dengar,

tangan/kaki palsu dll)

21
4. Penempatan kembali dan optimalisasi tenaga kerja yang mengalami cacat

akibat kerja disesuaikan dengan kemampuannya.

5. Rehabilitasi kerja.

Selain upaya pencegahan juga perlu disediakan sarana untuk menanggulangi kecelakaan yang
terjadi di tempat kerja yaitu :

a. Penyediaan P3K

Peralatan P3K yang ada sesuai dengan jenis kecelakaan yang mungkin terjadi di tempat kerja
untuk mengantisipasi kondisi korban menjadi lebih parah apabila terjadi kecelakaan,
peralatan tersebut harus tersedia di tempat kerja dan mudah dijangkau, petugas yang
bertanggung jawab melaksanakan P3K harus kompeten dan selalu siap apabila terjadi
kecelakaan di tempat kerja.

b. Penyediaan Peralatan Dan Perlengkapan Tanggap Darurat.

Kecelakaan kerja yang terjadi di tempat kerja terkadang tanpa kita sadari seperti terkena
bahan kimia yang bersifat korosif yang dapat menyebabkan iritasi pada kulit/mata atau
terjadinya kebakaran, untuk menanggulangi keadaan tersebut perencanaan dan penyediaan
perlatan/perlengkapan tanggap darurat di tempat kerja sangat diperlukan seperti pemadam
kebakaran, hidran, peralatan emergency shower, eye shower dengan penyediaan air yang
cukup, semua peralatan ini harus mudah dijangkau.

22
BAB III

METODOLOGI

A. Bahan dan cara

Pemantauan dan mengidentifikasi aspek keselamatan dan kesehatan kerja petugas dilakukan
di Resto Makanan Segera California Fried Chicken cawangan Kampus Universitas
Hasanuddin. Pemantauan ini dilakukan dengan metode walk through survey dengan
menggunakan check list dan wawancara.

B. Jadwal Survey

a. Lokasi

Lokasi survei kesehatan dan keselamatan kerja adalah di Resto Makanan Segera California
Fried Chicken cawangan Kampus Universitas Hasanuddin, Makassar.

b. Waktu

Waktu pelaksanaan yaitu 8-11 May 2017 dengan agenda sebagai berikut.

No. Tanggal Kegiatan

1. 8 May 2017 - Melapor ke bagian K3 RS Ibnu Sina

- Pengarahan kegiatan

- Pembuatan proposal walk through survey

- Walk through survey

2. 9 May 2017 - Pembuatan laporan walk through survey

- Pembuatan status okupasi

3. 10 May 2017 - Pembuatan laporan walk through survey

- Pembuatan artikel status okupasi

23
4. 11 May 2017 - Presentasi walk through survey

- Presentasi status okupasi

C. Biaya

Biaya yang digunakan pada survei ini adalah swadaya.

D. Peralatan yang diperlukan

Adapun peralatan yang diperlukan untuk melakukan walk through survey (survei jalan
sepintas) dengan menggunakan alat-alat tambahan antara lain:

1). Alat tulis menulis

Berfungsi sebagai media untuk pencatatan selama survei jalan sepintas

2). Kamera

Berfungsi sebagai alat untuk memotret keadaan yang terjadi dan untuk mengidentifikasi
sumber bahaya selama survei jalan sepintas

3). Check List

Berfungsi sebagai alat untuk mendapatkan data primer mengenai survei jalan sepintas yang
dilakukan.

24
BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Lokasi

Resto Makanan Segera, California Fried Chicken (CFC) cawangan kampus Universitas
Hasanuddin terletak di Tamalanrea, Makassar, Sulawesi Selatan di antara Private Care
Centre dengan Rumah Sakit Universitas Hasanuddin. Keluasan CFC cawangan kampus
Universitas Hasanuddin diperikirakan adalah 2.000m2.

CFC cawangan kampus Universitas Hasanuddin terdiri dari satu blok yang terdiri dari
satu lantai. CFC cawangan kampus Universitas Hasanuddin terdiri dari dua ruangan yaitu
ruangan dapur dan pelayanan, dan secara keseluruhannya meliputi ruangan bekerja dan
pelayanan. Ruangan bisa memuatkan kurang lebih 30 pelanggan dan beberapa orang petugas.

Gambar 1: Peta lokasi CFC cawangan kampus Universitas Hasanuddin, Tamalanrea,


Makassar, Sulawesi Selatan

Sumber dari: Google Maps

CFC cawangan kampus Universitas Hasanuddin adalah terletak diantara Private Care
Centre dan Rumah Sakit Pendidikan Universitas Hasanuddin. Berhadapan dengan Rusunawa
Unhas adalah Rumah Sakit Umum Pendidikan Wahidin Sudirohusodo Makassar. Terdapat
dua akses jalan untuk ke Rusunawa Unhas dari Jalan Perintis Kemerdekaan yaitu Jalan Pintu
I dan Jalan Pintu II.

25
Gambar 2: Peta lokasi CFC cawangan kampus Universitas Hasanuddin, Tamalanrea,
Makassar, Sulawesi Selatan

Sumber dari: Google Earth

4.2 Tenaga Kerja

Jumlah tenaga kerja di CFC cawangan kampus Universitas Hasanuddin berjumlah 8


orang. Pelayanan kerja yang tersedia di CFC terdiri atas

i. Manager

ii. Petugas Gudang dan Penyimpanan

iii. Tukang Masak

iv. Petugas Kasier

v. Petugas Waiter

vi. Delivery crew

vii. Cleaning Service

viii. Satuan pengaman (SATPAM)

26
4.2.1 GUDANG
HASIL SURVEY
1. HAZARD LINGKUNGAN KERJA
Faktor fisik
1. Kebisingan
Tidak ditemukan sumber bagi faktor kebisingan
2. Sumber cahaya
Sumber cahaya di tempat survey adalah cahaya matahari lampu dengan sinar
warna putih. Pencahayaan cukup, warna dinding cerah.
3. Sumber getaran
Sumber getaran tidak ada.
4. Temperature
Suhu di ruangan dibantu dengan aliran udara dari ventilasi dan exhaustion
Faktor kimia
1. Bahan kimia yang digunakan
Petugas tidak menggunakan bahan-bahan kimia.
Faktor biologi
Tidak terdapat faktor biologi.
Faktor ergonomis
1. Pekerjaan yang dilakukan secara manual seperti mengangkat dan mengalihkan
barang dari mobil penghantaran ke dalam gudang.
2. Postur dan posisi saat bekerja
- Posisi badan membungkuk, petugas lebih banyak berjongkok dan berdiri sa
at melakukan pekerjaan
- Petugas cenderung bolak balik dari mobil truk ke dalam gudang dengan me
ngangkat beban berat.
Faktor psikososial
1. Rasa emosi saat bekerja
Petugas merasa kewalahan apabila terlalu banyak beban yang harus diangkat d
an apabila muncul keluhan nyeri punggung bawah
2. Hubungan sesama petugas baik.
3. Gaji para petugas setiap bulannya sesuai.
2. KELUHAN/ PENYAKIT YANG DIALAMI

27
- Keluhan musculoskeletal seperti nyeri pinggang bawah dan pegal-begal lengan at
as adalah keluhan yang sering dialami oleh beban kerja disertai posisi pada saat m
engangkat barang

3. ALAT PELINDUNG DIRI YANG DIGUNAKAN


- Penggunaan alat pelindung diri
APD yang disediakan untuk para petugas adalah masker, handscoen khusus, celem
ek gudang, sarung tangan dan sepatu boots. Petugas menggunakan APD selama me
ngangkat dan memindahkan barang.
4. UPAYA KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA LAINNYA
- Petugas pernah mengikuti pelatihan atau penyuluhan tentang K3
- Kotak P3K di ruang ada
5. KONSTRUKSI BANGUNAN
- Lantai
Tidak terdapat kerusakan.
- Langit-langit
Tidak terdapat kerusakan.
- Pintu dan Jendela
Tidak terdapat kerusakan.
- Ventilasi
Baik
6. ALAT PEMADAM KEBAKARAN
- Alat pemadam api ringan ada
- Detector dan alarm kebakaran ada

7. PEMERIKSAAN KESEHATAN
Pemeriksaan kesehatan rutin tidak dilakukan, petugas hanya memeriksakan diri di
puskesmas atau klinik jika ada gejala tertentu.
Hasil pemeriksaan kesehatan dikatakan bahwa petugas tidak mengalami sakit berat
, hanya karena capek.
Berdasarkan daftar tilik Checklist Walk Through Survey di poliklinik didapatkan skor hazard
06 dari 21 aspek.

28
4.2.2 PRODUK
a) DAPUR
HASIL SURVEY
1. HAZARD LINGKUNGAN KERJA
Faktor fisik
1. Kebisingan
Faktor kebisingan ada yaitu bunyi blender yang digunakan saat memasak.
2. Sumber cahaya
Sumber cahaya di tempat kerja bersumber dari cahaya matahari dan lampu.
3. Sumber getaran
Sumber getaran tidak ada.
4. Temperatur
Suhu di ruangan menggunakan AC dan kipas angin
- Faktor kimia
1. Bahan kimia yang digunakan
Petugas menggunakan bahan-bahan kimia berupa sabun yang digunakan ketik
a mencuci piring
- Faktor biologi
Terdapat faktor biologi yang diduga berasal dari bahan baku masak .
- Faktor ergonomis
1. Pekerjaan yang dilakukan secara manual misalnya mengoreng ayam.
2. Postur dan posisi saat bekerja
- Posisi badan membungkuk, petugas lebih banyak membungkuk dan berdiri
pada saat melakukan pekerjaan.
- Petugas cenderung bolak-balik antara deep fryer dengan tempat penyejukka
n ayam yang berada di depan ruangan pelayanan.
- Faktor psikososial
1. Rasa emosi saat bekerja
Petugas kadang merasa emosi cepat meninggi dikarenakan adanya perilaku pel
anggan yang tidak sabar dan menginterupsi pelayanan yang sedang berlangsun
g.
2. Kerja berlebih
Petugas bekerja 6 hari dalam seminggu dari Senin-Sabtu, bekerja dari jam 14.0
0-21.00 atau sekitar 8 jam dalam sehari dan setiap hari pelanggan yang datang
29
belanja kurang lebih 150 pelanggan dan tukang masak hanya bekerja seorang d
iri bergilir-gilir.
3. Hubungan sesama petugas baik.
4. Gaji para petugas setiap bulannya sesuai dengan kerjanya.
1. KELUHAN/ PENYAKIT YANG DIALAMI
- Keluhan musculoskeletal pegal-pegal (nyeri bahu, pinggang, tangan, paha, kaki)
adalah keluhan yang sering dialami oleh karena posisi petugas bekerja dalam wak
tu yang lama disertai posisi yang tidak ergonomis
2. ALAT PELINDUNG DIRI YANG DIGUNAKAN
- Penggunaan alat pelindung diri(APD)
APD yang disediakan untuk para petugas masker, handscoen, celemek, sarung tan
gan dan sepatu boots. Petugas menggunakan APD selama memasak dan baju ser
agam sebagai pakaian kerja.
3. UPAYA KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA LAINNYA
- Petugas pernah mengikuti pelatihan atau penyuluhan tentang K3
- Kotak P3K di ruangan ada
4. KONSTRUKSI BANGUNAN
- Lantai
Tidak terdapat kerusakan.
- Langit-langit
Tidak terdapat kerusakan.
- Pintu dan Jendela
Tidak terdapat kerusakan.
- Ventilasi
Terbuka
5. ALAT PEMADAM KEBAKARAN
- Alat pemadam api ringan ada
- Detector dan alarm kebakaran ada
6. PEMERIKSAAN KESEHATAN
- Pemeriksaan kesehatan rutin tidak dilakukan, petugas hanya memeriksakan diri di
puskesmas atau klinik jika ada gejala tertentu.
- Hasil pemeriksaan kesehatan dikatakan bahwa petugas tidak mengalami sakit ber
at, hanya karena capek.
Berdasarkan daftar tilik Checklist Walk Through Survey di poliklinik didapatkan skor hazard

30
10 dari 21 aspek
4.2.3 KASIR
HASIL SURVEY
4. HAZARD LINGKUNGAN KERJA
Faktor fisik
1. Kebisingan
Faktor kebisingan tidak ada.
5. Sumber cahaya
Sumber cahaya di tempat kerja bersumber dari cahaya matahari dan lampu. Pe
ncahayaan cukup, warna lampu sesuai, warna dinding ruangan terang
6. Sumber getaran
Sumber getaran tidak ada.
5. Temperature
Suhu di ruangan dipertahankan pada 18-24 derajat celcius.
- Faktor kimia
Petugas tidak menggunakan bahan-bahan kimia.
- Faktor biologi
Tidak terdapat faktor biologi.
- Faktor ergonomis
1. Pekerjaan yang dilakukan secara manual misalnya pencatatan pesanan pelangg
an pada mesin kasir dan pengambilan makanan siap saji.
2. Postur dan posisi saat bekerja
- Posisi badan berdiri pada saat melakukan pekerjaan.
- Petugas cenderung bolak-balik antara meja kasir dengan tempat penghangat
makanan siap saji.
- Faktor psikososial
1. Rasa emosi saat bekerja
Petugas kadang merasa emosi bila ada perilaku pelanggan yang lama memilih,
banyak bertanya, dan tidak sopan saat memesan makanan.
2. Kerja berlebih
Petugas bekerja 7 hari dalam seminggu dari Senin-Minggu, bekerja berdasarka
n aturan shift dengan shift pagi dari jam 08.00-14.00, shift siang jam 14.00-21.
00, dan shift malam 21.00-05.00 atau sekitar 5-8 jam dalam sehari dan setiap h
ari pelanggan yang datang memesan makanan kurang lebih 80-100 pelanggan.
31
3. Hubungan sesama petugas baik.
4. Gaji para petugas setiap bulannya sesuai.
5 KELUHAN/ PENYAKIT YANG DIALAMI
- Keluhan musculoskeletal pegal-pegal (nyeri bahu, pinggang, tangan, paha, kaki)
adalah keluhan yang sering dialami oleh karena posisi petugas bekerja dalam wak
tu yang lama disertai posisi yang tidak ergonomis
6 ALAT PELINDUNG DIRI YANG DIGUNAKAN
- Penggunaan alat pelindung diri
APD yang disediakan untuk petugas kasir adalah masker, sarung tangan, dan cele
mek namun APD ini sangat jarang digunakan oleh petugas pada saat bekerja. Pet
ugas biasanya hanya menggunakan baju seragam sebagai pakaian kerja ditambah
dengan celemek.
7 UPAYA KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA LAINNYA
- Petugas pernah mengikuti pelatihan atau penyuluhan tentang K3
- Kotak P3K di ruang ada
8 KONSTRUKSI BANGUNAN
- Lantai
Tidak terdapat kerusakan. Luas bangunan sekitar 32m2.
- Langit-langit
Tidak terdapat kerusakan. Tinggi bangunan sekitar 3m.
- Pintu dan Jendela
Tidak terdapat kerusakan.
- Ventilasi
Terbuka. Terdapat exhaust fan.
9 ALAT PEMADAM KEBAKARAN
- Alat pemadam api ringan ada.
- Detector dan alarm kebakaran ada.
- Hydrant dan sprinkler tidak ada.
10 PEMERIKSAAN KESEHATAN.
- Pemeriksaan kesehatan rutin tidak dilakukan, petugas hanya memeriksakan diri di
puskesmas atau klinik jika ada gejala tertentu.
- Hasil pemeriksaan kesehatan dikatakan bahwa petugas tidak mengalami sakit ber
at, hanya karena capek.
Berdasarkan daftar tilik Checklist Walk Through Survey di poliklinik didapatkan skor hazard

32
14 dari 21 aspek.

4.2.4 PENGANTAR MAKANAN


HASIL SURVEY
7. HAZARD LINGKUNGAN KERJA
Faktor fisik
1. Kebisingan
Faktor kebisingan tidak ada.
8. Sumber cahaya
Sumber cahaya di tempat kerja bersumber dari cahaya matahari dan lampu. Pe
ncahayaan cukup, warna lampu sesuai, warna dinding ruangan terang
9. Sumber getaran
Sumber getaran tidak ada.
6. Temperature
Suhu di ruangan dipertahankan pada 18-24 derajat celcius.
- Faktor kimia
Petugas tidak menggunakan bahan-bahan kimia.
- Faktor biologi
Tidak terdapat faktor biologi.
- Faktor ergonomis
1. Pekerjaan yang dilakukan secara manual misalnya pengambilan makanan siap
saji dan pengantaran sampai ke pelanggan.
2. Postur dan posisi saat bekerja
- Posisi badan berdiri pada saat melakukan pekerjaan.
- Petugas cenderung bolak-balik antara tempat pengambilan masakan dan te
mpat duduk pelanggan.
- Faktor psikososial
1. Rasa emosi saat bekerja
Petugas kadang merasa emosi bila ada perilaku pelanggan dengan permintaan
yang aneh-aneh dan tidak sopan.
2. Kerja berlebih
Petugas bekerja 7 hari dalam seminggu dari Senin-Minggu, bekerja berdasarka
n aturan shift dengan shift pagi dari jam 08.00-14.00, shift siang jam 14.00-21.
00, dan shift malam 21.00-05.00 atau sekitar 5-8 jam dalam sehari dan setiap h
33
ari pelanggan yang datang memesan makanan kurang lebih 80-100 pelanggan.
3. Hubungan sesama petugas baik.
4. Gaji para petugas setiap bulannya sesuai.
4 KELUHAN/ PENYAKIT YANG DIALAMI
- Keluhan musculoskeletal pegal-pegal (nyeri bahu, pinggang, tangan, paha, kaki)
adalah keluhan yang sering dialami oleh karena posisi petugas bekerja dalam wak
tu yang lama disertai posisi yang tidak ergonomis
5 ALAT PELINDUNG DIRI YANG DIGUNAKAN
- Penggunaan alat pelindung diri
APD yang disediakan untuk petugas adalah masker, sarung tangan, dan celemek
namun APD ini sangat jarang digunakan oleh petugas pada saat bekerja. Petugas
biasanya hanya menggunakan baju seragam sebagai pakaian kerja ditambah deng
an celemek.
6 UPAYA KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA LAINNYA
- Petugas pernah mengikuti pelatihan atau penyuluhan tentang K3
- Kotak P3K di ruang ada
7 KONSTRUKSI BANGUNAN
- Lantai
Tidak terdapat kerusakan. Luas bangunan sekitar 32m2.
- Langit-langit
Tidak terdapat kerusakan. Tinggi bangunan sekitar 3m.
- Pintu dan Jendela
Tidak terdapat kerusakan.
- Ventilasi
Terbuka. Terdapat exhaust fan.
8 ALAT PEMADAM KEBAKARAN
- Alat pemadam api ringan ada.
- Detector dan alarm kebakaran ada.
- Hydrant dan sprinkler tidak ada.
9 PEMERIKSAAN KESEHATAN.
- Pemeriksaan kesehatan rutin tidak dilakukan, petugas hanya memeriksakan diri di
puskesmas atau klinik jika ada gejala tertentu.
- Hasil pemeriksaan kesehatan dikatakan bahwa petugas tidak mengalami sakit ber
at, hanya karena capek.

34
Berdasarkan daftar tilik Checklist Walk Through Survey di poliklinik didapatkan skor hazard
14 dari 21 aspek.
4.2.5 PETUGAS DELIVERY PESAN-ANTAR
HASIL SURVEY
10. HAZARD LINGKUNGAN KERJA
Faktor fisik
1. Kebisingan
Faktor kebisingan dari kendaraan semasa mengemudi sepeda motor
4. sumber radiasi
Faktor radiasi dari UV dan debu serta asap dari kendaraan
11. Sumber cahaya
Sumber cahaya di tempat kerja bersumber dari cahaya matahari dan lampu. Pe
ncahayaan cukup, warna lampu sesuai, warna dinding ruangan terang
12. Sumber getaran
Sumber getaran tidak ada.
7. Temperature
Suhu tergantung kondisi cuaca
- Faktor kimia
Petugas tidak menggunakan bahan-bahan kimia.
- Faktor biologi
Petugas dapat terpapar dengan bakteri, virus, parasite dan jamur semasa berada me
nghantar pesanan
- Faktor ergonomis
1. Pekerjaan yang dilakukan secara manual menghantar makanan ke destinasi pes
anan menggunakan sepeda motor
2. Postur dan posisi saat bekerja
- Posisi badan duduk di atas sepeda motor saat melakukan pekerjaan.
- Petugas cenderung berada diatas sepeda motor untuk tempoh yang lama da
n terpapar dengan cuaca panas atau hujan.
- Faktor psikososial
1. Rasa emosi saat bekerja
Petugas kadang merasa emosi bila ada perilaku pelanggan dengan permintaan
yang aneh-aneh dan tidak sopan serta bila terjadi kemacetan atau ketika cuaca t
erlalu panas dan hujan.
35
2. Kerja berlebih
Petugas bekerja 7 hari dalam seminggu dari Senin-Minggu, bekerja berdasarka
n aturan shift dengan shift pagi dari jam 08.00-14.00, shift siang jam 14.00-21.
00 atau sekitar 5-8 jam dalam sehari
3. Hubungan sesama petugas baik.
4. Gaji para petugas setiap bulannya sesuai.
5 KELUHAN/ PENYAKIT YANG DIALAMI
- Keluhan musculoskeletal pegal-pegal (nyeri bahu, pinggang, tangan, paha, kaki)
adalah keluhan yang sering dialami oleh karena posisi petugas bekerja dalam wak
tu yang lama disertai posisi yang tidak ergonomis
- Keluhan sistem pernapasan ( Batuk, bersin dan nyeri tenggorokan) adalah keluah
an ygang sering dialami oleh petugas karena sering terpapar dengan debu dan asa
p dari kendaraan.
6 ALAT PELINDUNG DIRI YANG DIGUNAKAN
- Penggunaan alat pelindung diri
APD yang disediakan untuk petugas adalah masker, sarung tangan, dan celemek
namun APD ini sangat jarang digunakan oleh petugas pada saat bekerja. Petugas
biasanya hanya menggunakan baju seragam sebagai pakaian kerja ditambah deng
an celemek.
7 UPAYA KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA LAINNYA
- Petugas pernah mengikuti pelatihan atau penyuluhan tentang K3
- Kotak P3K di ruang ada
8 KONSTRUKSI BANGUNAN
- Lantai
Tidak terdapat kerusakan. Luas bangunan sekitar 32m2.
- Langit-langit
Tidak terdapat kerusakan. Tinggi bangunan sekitar 3m.
- Pintu dan Jendela
Tidak terdapat kerusakan.
- Ventilasi
Terbuka. Terdapat exhaust fan.
9 ALAT PEMADAM KEBAKARAN
- Alat pemadam api ringan ada.
- Detector dan alarm kebakaran ada.

36
- Hydrant dan sprinkler tidak ada.
10 PEMERIKSAAN KESEHATAN.
- Pemeriksaan kesehatan rutin tidak dilakukan, petugas hanya memeriksakan diri di
puskesmas atau klinik jika ada gejala tertentu.
- Hasil pemeriksaan kesehatan dikatakan bahwa petugas tidak mengalami sakit ber
at.
Berdasarkan daftar tilik Checklist Walk Through Survey di poliklinik didapatkan skor hazard
14 dari 21 aspek.

4.2.6 FACILITIES CONTROL/ MAINTANENCE


a) CLEANING SERVICES
HASIL SURVEY
1. HAZARD LINGKUNGAN KERJA
Faktor fisik
1. Kebisingan
Sumber kebisingan tidak ada
2. Sumber cahaya
Sumber cahaya di tempat kerja bersumber dari cahaya matahari dan lampu.
3. Sumber getaran
Sumber getaran tidak ada.
4. Temperatur
Suhu di ruangan menggunakan AC dan kipas angin
- Faktor kimia
1. Bahan kimia yang digunakan
Petugas menggunakan bahan-bahan kimia berupa sabun yang digunakan ketik
a membersihkan lantai dan disinfektan pada kamar mandi.
- Faktor biologi
Terdapat faktor biologi yang diduga berasal dari bahan buangan dan kotoran di tem
pat buangan.
- Faktor ergonomis
1. Pekerjaan yang dilakukan secara manual misalnya mengemop lantai
2. Postur dan posisi saat bekerja
- Posisi badan membungkuk, petugas lebih banyak membungkuk dan berdiri
pada saat melakukan pekerjaan.
37
- Petugas cenderung bolak-balik saat melakukan pembersihan tempat makan.
- Faktor psikososial
1. Rasa emosi saat bekerja
Petugas kadang merasa emosi cepat meninggi dikarenakan adanya perilaku pel
anggan yang tidak bersih dan menginterupsi pembersihan yang berlangsung.
5. Hubungan sesama petugas baik.
6. Gaji para petugas setiap bulannya sesuai dengan kerjanya.
11 KELUHAN/ PENYAKIT YANG DIALAMI
- Keluhan musculoskeletal pegal-pegal (nyeri bahu, pinggang, tangan, paha, kaki)
adalah keluhan yang sering dialami oleh karena posisi petugas bekerja dalam wak
tu yang lama disertai posisi yang tidak ergonomis
12 ALAT PELINDUNG DIRI YANG DIGUNAKAN
- Penggunaan alat pelindung diri(APD)
APD yang disediakan untuk para petugas masker, handscoen, celemek, sarung tan
gan dan sepatu boots. Petugas menggunakan APD selama mencuci dan baju sera
gam sebagai pakaian kerja.
13 UPAYA KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA LAINNYA
- Petugas pernah mengikuti pelatihan atau penyuluhan tentang K3
- Kotak P3K di ruangan ada
14 KONSTRUKSI BANGUNAN
- Lantai
Tidak terdapat kerusakan.
- Langit-langit
Tidak terdapat kerusakan.
- Pintu dan Jendela
Tidak terdapat kerusakan.
- Ventilasi
Terbuka
15 ALAT PEMADAM KEBAKARAN
- Alat pemadam api ringan ada
- Detector dan alarm kebakaran ada
16 PEMERIKSAAN KESEHATAN
- Pemeriksaan kesehatan rutin tidak dilakukan, petugas hanya memeriksakan diri di
puskesmas atau klinik jika ada gejala tertentu.

38
- Hasil pemeriksaan kesehatan dikatakan bahwa petugas tidak mengalami sakit ber
at, hanya karena capek.
Berdasarkan daftar tilik Checklist Walk Through Survey di poliklinik didapatkan skor hazard
06 dari 21 aspek.
.

4.2.7 KEAMANAN
HASIL SURVEY
13. HAZARD LINGKUNGAN KERJA
Faktor fisik
1. Kebisingan
Faktor kebisingan tidak ada.
14. Sumber cahaya
Sumber cahaya di tempat kerja bersumber dari cahaya matahari dan lampu. Pe
ncahayaan cukup, warna lampu sesuai, warna dinding ruangan terang
15. Sumber getaran
Sumber getaran tidak ada.
8. Temperature
Suhu tergantung kondisi cuaca
- Faktor kimia
Petugas tidak menggunakan bahan-bahan kimia.
- Faktor biologi
Tidak terdapat faktor biologi.
- Faktor ergonomis
1. Pekerjaan yang dilakukan secara manual misalnya menjaga keamanan, mengat
ur parkiran pelanggan dan mempelawa pelanggan ke resto
2. Postur dan posisi saat bekerja
- Posisi badan berdiri pada saat melakukan pekerjaan.
- Petugas lebih banyak berdiri di satu tempat berbanding bergerak
- Faktor psikososial
1. Rasa emosi saat bekerja
Petugas kadang merasa emosi bila ada perilaku pelanggan yang tidak sopan ser
ta jika berada dalam keadaan terlalu panas atau hujan

39
2. Kerja berlebih
Petugas bekerja 7 hari dalam seminggu dari Senin-Minggu, bekerja berdasarka
n aturan shift dengan shift pagi dari jam 08.00-14.00, shift siang jam 14.00-21.
00, dan shift malam 21.00-05.00 atau sekitar 5-8 jam dalam sehari.
3. Hubungan sesama petugas baik.
4. Gaji para petugas setiap bulannya sesuai.
5 KELUHAN/ PENYAKIT YANG DIALAMI
- Keluhan sistem musculoskeletal pegal-pegal (nyeri bahu, pinggang, tangan, paha
, kaki) adalah keluhan yang sering dialami oleh karena posisi petugas bekerja dala
m waktu yang lama disertai posisi yang tidak ergonomis
6 ALAT PELINDUNG DIRI YANG DIGUNAKAN
- Penggunaan alat pelindung diri
Petugas biasanya hanya menggunakan baju seragam sebagai pakaian kerja ditamb
ah dengan sepatu, wisel dan lampu sorot.
7 UPAYA KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA LAINNYA
- Petugas pernah mengikuti pelatihan atau penyuluhan tentang K3
- Kotak P3K di ruang ada
8 KONSTRUKSI BANGUNAN
- Lantai
Tidak terdapat kerusakan. Luas bangunan sekitar 32m2.
- Langit-langit
Tidak terdapat kerusakan. Tinggi bangunan sekitar 3m.
- Pintu dan Jendela
Tidak terdapat kerusakan.
- Ventilasi
Terbuka. Terdapat exhaust fan.
9 ALAT PEMADAM KEBAKARAN
- Alat pemadam api ringan ada.
- Detector dan alarm kebakaran ada.
- Hydrant dan sprinkler tidak ada.
10 PEMERIKSAAN KESEHATAN.
- Pemeriksaan kesehatan rutin tidak dilakukan, petugas hanya memeriksakan diri di
puskesmas atau klinik jika ada gejala tertentu.
- Hasil pemeriksaan kesehatan dikatakan bahwa petugas tidak mengalami sakit ber

40
at, hanya karena capek.
Berdasarkan daftar tilik Checklist Walk Through Survey di poliklinik didapatkan skor hazard
14 dari 21 aspek.

41
BAB 5

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pengelolahan data yang dilakukan dapat ditarik
kesimpulan berikut :

1. Dari hasil workthrough survey didapatkan beberapa faktor hazard yang dialami
petugas CFC cawangan kampus Universitas Hasanuddin berupa faktor fisik,
faktor kimia, faktor biologi dan faktor ergonomis.
2. Tingkat pengetahuan tentang kesehatan dan keselamatan kerja berada pada tahap
sederhana. Pegawai telah mendapatkan informasi tentang K3 namun tidak dapat
mngaplikasikan pengetahuan dengan baik.
3. Alat pelindung diri yang digunakan oleh petugas CFC cawangan kampus
Universitas Hasanuddin untuk melindungi pekerjanya dari hazard, yaitu apron,
sarung tangan dan sepatu. Apron dipakai untuk kebersihan baju pekerja dan
menghalangi dari sumber infeksi. Sarung tangan untuk proteksi dari mencuci dan
membersihkan. Namun sayangnya, hanya sebagian pekerja yang menggunakan
sarung tangan plastik.
4. Pengelola CFC cawangan kampus Universitas Hasanuddin telah menyiapkan
kotak P3K untuk penanganan awal jika terdapat kecelakaan sewaktu bekerja.
Namun letaknya sulit dijangkau karena berada di kantor pengelola CFC
cawangan kampus Universitas Hasanuddin yang sering terkunci. Tidak ada
petugas P3K yang khusus di tempat kerja, untungnya lokasi CFC cawangan
kampus Universitas Hasanuddin ini berada dekat dengan rumah sakit daerah
setempat, sekitar 200 meter, dan mudah dijangkau sehingga penanganan definitif
dapat segera diperoleh.
5. Tidak ada pemeriksaan kesehatan khusus yang dianjurkan oleh pengelola untuk
pekerjanya, baik sebelum bekerja, maupun pengobatan berkala untuk menjamin
kesehatan pekerja. Pekerja yang sakit berat diberikan ijin istirahat, namun tidak
ada jaminan kesehatan khusus.

42
6. Tidak ada petugas K3 khusus atau petugas dari rumah sakit sedekat ataupun dari
dinas kesehatan melakukan pemeriksaan berkala setiap 3 bulan. Pemeriksaan
yang seharusnya dilakukan berupa pemeriksaan alat pemadam kebakaran,
kesehatan lingkungan di tempat kerja, dan sebagainya.
7. Untuk mencegah dan menanggulangi kebakaran di CFC cawangan kampus
Universitas Hasanuddin telah menyiapkan satu buah alat pemadam api ringan
dekat di setiap ruangan. Pengelola juga mengajarkan pekerjanya cara
menggunakan APAR. Pengelola menyediakan hidran, alarm kebakaran, smoke
detector, fire detector, dan rambu-rambu evakuasi namun tidak melakukan
pemeriksaan berkala dengan baik.

Saran

Kesehatan dan keselamatan kerja sangat penting dalam pembangunan, karena sakit
dan kecelakaan kerja akan menimbulkan kerugian ekonomi (lost benefit) suatu
perusahaan atau negara. Maka dari itu kesehatan dan keselamatan kerja harus dikelola
secara maksimal bukan saja oleh tenaga kesehatan tetapi seluruh masyarakat.

Berdasarkan hasil analisis data dan kesimpulan diatas maka kami ajukan saran:

1. Bagi karyawan lebih memperhatikan program keselamatan dan kesehatan kerja (K3)
dengan bekerja secara disiplin dan berhati-hati serta mengikuti proses.
2. Lengkapi alat pelindung diri (APD)

43
Daftar pustaka

1. International LabourOrganizaton. (2013) KeselamatandanKesehatanKerja;


saranauntukProduktivitas. [Accessed Mei 2017].
http://www.ilo.int/wcmsp5/groups/public/---asia/---ro-bangkok/---ilojakarta/
documents/publication/wcms_237650.pdf.
2. World Health Organization, (2008) A Guide To Developing Knowledge, Attitude
And Practice Surveys. [Accessed Mei
2017].http://whqlibdoc.who.int/publications/2008
3. Marsum, W. Restoran dan Segala Permasalahannya. edisi 4. Yogyakarta: Andi, 2005
Andri Prasetia
4. Jogja Resto and Gallery. Diambil pada 8 Mei 2017
http://library.binus.ac.id/eColls/eThesisdoc/Bab2/2014-2-01563-HM%20Bab2001.pdf
5. Manajemen Pemantauan alur kerja. Diambil pada 8 Mei 2017
https://luk.staff.ugm.ac.id/atur/rbi/PemantauanAlurKerja.pdf
6. AgusYulianto, PelatihanKeselamatan Dan
KesehatanKerjaSebagaiUpayaPencegahanKecelakaanKerja,
(http://bdtbt.esdm.go.id/index.php/file/file/K3.pdf)
7. Badraningsih L., EnnyZuhny K.(2015) Kecelakaan&penyakitakibatkerja.
(http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/dr-dra-badraningsih-lastariwati-
mkes/materi-ajar-k3-ft-uny-20152-kecelakaan-akibat-kerja-dan-penyakit-akibat-
kerjabadraningsih-l.pdf)
8. GanjarPranowo. PenyakitAkibatKerja
(http://jdihukum.jatengprov.go.id/?wpfb_dl=363
9. KhazanahDuniaPustaka. 2012. PenangananKecelakaanKerja.
(http://hadianzah28.blogspot.co.id/2012/07/penanganan-kecelakaan-kerja.html)
10. Nasrullah&Suwandi, 2014. Hubunganantara knowledge, Attitude, practice safe
behaviourpekerjadalamupayauntukmenegakkankeselamatandankesehatankerja.
Indonesia
11. .Jurnal.Surabaya, UniversitasAirlangga. Vol.3:1. Hal.83-85
12. Antique, ArieDwiBudiawati 2013, VIVAnews, Senin 11 Maret,
Eksporfurniturdankerajinantembusmiliarandolar AS, dilihat 4 juni 2013,
http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/396696-ekspor-furnitur-dan-kerajinan-tembus-
miliaran-dollar-as

44
13. International Labour Organization. 2013. KeselamatandanKesehatanKerja. Jakarta:
International Labour Office.
14. PemerintahRepublik Indonesia. 2012. PeraturanPemerintahRepublik Indonesia
Nomor 50 Tahun 2012
tentangPenerapanSistemManajemenKeselamatandanKesehatanKerja. Jakarta (ID):
Sekretariat Negara.

45
LAMPIRAN

Wawancara Manager CFC

46
Bagian Pelayanan CFC

47
Cleaning Service

Kelompok 2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

48