Anda di halaman 1dari 36

Evaluasi Program Puskesmas Mengenai Pemberantasan Panyakit DBD

Stephanie Maria Embula


102012126
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6 Kebon Jeruk, Jakarta 11510
e-mail : Stephanie.hoon@ymail.com

Abstrak
Demam Berdarah Dengue (DBD/DHF) pada saat ini merupakan salah satu masalah kesehatan
masyarakat di Indonesia. Oleh menteri Kesehatan Republik Indonesia, DHF telah ditetapkan
menjadi salah satu penyakit menular yang harus dilaporkan dalam waktu satu kali dua puluh
empat jam. Hal ini disebabkan karena angka kematian yang tinggi, angka kesakitan cenderung
meningkat dari tahun ke tahun, daerah yang terjangkit semakin meluas khususnya di daerah
perkotaan yang padat dan adanya beberapa Kejadian Luar Biasa (KLB) yang berdampak pada
bidang pariwisata. Penyakit DHF dalam dua puluh tahun terakhir merupakan penyakit yang
menimbulkan keresahan masyarakat karena menyerang terutama pada anak-anak dan terjadinya
kematian yang mendadak sesudah demam tinggi mendadak, serta menyerang beberapa anggota
keluarga secara bersamaan atau selang beberapa hari dan penyakit ini sulit diramalkan
kesudahannya. Pada saat wabah menyerang anak-anak dengan tanda demam tinggi disertai
perdarahan dan syok. Vektor penyakit ini adalah nyamuk Aedes aegypti yang banyak di
perkotaan dan Aedes Albopictus (transmitan co-vector) di perdesaan. Penularan DHF berkaitan
dengan musim penghujan khususnya pada permulaan dan pada akhir musim. Adapula jika cepat
terdeteksi dan ditangani dini, maka prognosisnya akan baik.

Kata kunci: Demam Berdarah Dengue, penyakit menular, KLB, vektor nyamuk, musim hujan.

1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan satu masalah kesehatan masyarakat
penting di Indonesia dan sering menimbulkan suatu letusan Kejadian Luar Biasa dengan
kematian yang besar. 1
Di Indonesia nyamuk penular (vector) penyakit DBD yang penting adalah Aedes aegypti,
Aedes albopictus, dan Aedes scutellaris,tetapi sampai saat ini yang menjadi vector utama dari
penyakit DBD adalah Aedes aegypti.1
Penyakit DBD adalah penyakit infeksi oleh virus Dengue yang di tularkan melalui tusukan
nyamuk Aedes aegypty. Biasanya ditandai dengan demam yang bersifat bifasik selama 2-7 hari,
ptekie dan adanya manifestasi perdarahan, dengan ciri demam tinggi mendadak disertai
manifestasi perdarahan bertendensi menimbulkan rejatan (syok) dan kematian.
Kejadian Luar Biasa DBD terbesar terjadi pada tahun 1998, dengan Incidence rate(IR)=
35,19 per 100.000 penduduk dan CFR = 2%. Pada tahun 1999 IR menurun tajam sebesar
10,17%, namun pada tahun berikutnya IR cenderung meningakat yaitu 15,99 (tahun 2000); 21,66
(tahun 2001); 19,24 (tahun 2002) dan 23,87 (tahun 2003).
Jumlah kasus DBD di Indonesia sebagai berikut, 44.548 orang (1996), dengan jumlah
kematian sebanyak 1.234 orang, tahun 1998 sejumlah 72.133 orang, denan jumlah kematian
sebanyak 1.414 orang. Tahun 1999 jumlah kasus 21.134 orang, tahun 200 jumlaj kasus 33.443
orang, tahun 2001 jumlah kasus 45.904 orang, tahun 2002 jumlah kasus 26.015 orang, dengan
jumlah kematian sebanyak 389 orang dan tahun 2005 jumlah kasus 38.635 orangm dengan
jumlah kematain sebanyak 539 orang.
Meningkatnya jumlah kasus serta bertambahnya wilayah yang terjangkit disebabkan karena
semakin baiknya sarana transporatasi penduduk, adanya pemukiman baru, kurangnya perilaku
masyarakat terhadap pembersihan sarang nyamuk, terdapatnya vector nyamuk hampir pada di
seluruh pelosok tahan air serta adanya empat sel tipe virus yang bersirkulasi sepanjang tahun.
Penyakit DBD sampai saat ini mesih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat
yang utama di Indonesia. Sampai sekarang penyakit DBD belum di temukan obat maupun
vaksinnya, sehingga satu-satunya cara untuk mencegah penyakit ini dengan memutuskan rantai
penularan yaitu dengan pengendalian vector. Vector utama penyakit DBD di Indonesia adalnya
nyamuk aedes aegypti. Tempat yang disukai sebagai tempat perindukannya adalah genangan air

2
yang terdapat dalam wadah (container) tempat penampungan air artificial misalnya drum, bak
mandi, gentong, ember dan sebagainya; tempat penampungan air alamiah misalnya lubang
pohon, daun pisang, pelepah daun keladi, lubang batu; ataupun bukan tempat penampungan air
misalnya vas bunga, ban bekas, botol keras, tempat minum burung dan sebagainya.
Salah satu caranya adalah dengan meningkatkan kebersihan lingkungan kita dengan cara 3M,
yaitu menguras tempat penampungan air dengan menyikat bagian dalam dan harus dikuras
paling sedikit seminggu sekali, menutup rapat-rapat tempat penampungan air dan menimbun
dalam tanah barang-barang bekas ataupun sampah yang dapat menampung air hujan.
Insiden penyebaran penyakit DBD di pengaruhi oleh kondisi lingkungan, mobilitas
penduduk, kepadatan penduduk, adannya container buatan maupun alami di tempat pembuangan
akhir akhir sampah (TPA) ataupun di tempat sampah lainnya, penyuluhan dan perilaku
masyarakat, antara lain: pengetahuan, sikap, kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN),
foffing, abatisasi, dan pelaksanaan 3M (menguras, menutup dan mengubur).
Selain itu, pemerintah melalui puskesmas memberikan bantuan berupa pengasapan sarang
nyamuk (fogging) dan memberikan bubuk abate untuk membunuh jentik nyamuk bagi daerah
yang memiliki penderita DBD (Depkes, 2004). Penyakit DBD mudah berkembang oleh karena:
antara rumah jaraknya berdekatan, yang memungkinkan penularan karena jarak terbang aedes
aegypti 40-100 meter. Aedes aegypty betina mempunyai kebiasaan menggigit berulang, yaitu
menggigit beberapa orang secara bergantian dalam waktu singkat.
Kasus DHF cenderung meningkat pada musim hujan, kemungkinan disebabkan oleh
beberapa factor diantaranya: perubahan musim mempengaruhi frekuensi gigitan nyamuk; karena
pengaruh musim hujan, puncak gigitan terjadi pada pagi dan sore hari, perubahan musim
mempengaruhi manusia sendiri dalam bersikapnya, misalnya dengan lebih banyak berdiam
dirumah selama musim hujan. Jumlah penderita dan luas daerah penyebaran semakin bertambah
dengan meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk.

1.2. Tujuan
o Untuk mengetahui upaya manajemen program puskesmas dalam melakukan
pemberantasan DHF melalui tindakan promotif, preventif, kuratif, rehabilitative, serta
protektif.
o Untuk melatih masyarakat melalui program pemberdayaan masyarakat.

3
o Untuk mengetahui status kejadian DHF disuatu wilayah.
o Mempelajari tentang Program-program puskesmas dalam melakukan pemberantasan
penyakit-penyakit melular yaitu Demam Berdarah Dengue
o Mempelajari tentang bagaimana peran Dokter di puskesmas dalam menjalankan tugasnya
sebagai pelayan kesehatan bagi masyarakat
o Mempelajari tentang peran dan fungsi Puskesmas bagi masyarakat
o Mempelajari tentang Upaya Kesehatan Pokok Puskesmas

PEMBAHASAN
Skenario : Pada akhir tahun berdasarkan evaluasi program pemberantasan DHF masih
didapatkan prevalensi DHF berkisar 18% dengan tingkat CFR 4%. Rata-rata penderita datang
terlambat sehingga terlambat juga dirujuk ke Rumah Sakit. Berdasarkan pemantauan jentik,
didapatkan Angka Bebas Jentik (ABJ) adalah 60%. Berdasarakan pemantauan jentik didapatkan
angka bebas jentik 60 %. Dilihat dari situasi endemisitas desa, maka beberapa desa termasuk
desa endemis dan sisanya termasuk desa sporadik. Kepala Puskesmas akan melakukan
revitalisasi program pemberantasan DHF dan ingin didapatkan insidens yang serendah-
rendahnya dan CFR serendah-rendahnya dan CFR 0%.

A. Epidemiologi DBD
a. Agent : Demam Dengue (DD) dan Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan oleh
virus dengue yang termasuk dalam kelompok B Arthropod Borne Virus (Arboviroses)
yang sekarang dikenal sebagai genus flavivirus, family falvivirus, family flaviviridae dan
mempunyai 4 jenis serotype yaitu: DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4. Yang di tularkan
melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Kedua jenis nyamuk ini
terdapat di hampir seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat ketinggian lebih
dari 1000 meter diatas permukaan air laut.
Infeksi salah satu serotype akan menimbulkan antibody terhadap serotype bersangkutan,
sedangkan antibody yang terbentuk terhadap serotype lain sangat kurang, sehingga tidak
dapat memberi perlindungan yang memadai terhadap serotype yang lain. Serotype 3
merupakan serotype yang dominan dan diasumsikan banyak yang menunjukan
manifestasi klinis yang berat.1,2

4
b. Pejamu (host): virus dengue ditularkan kepada manusia lewat gigitan nyamuk Aedes
aegypty. Nyamuk Aedes tersebut dapat mengandung virus dengue pada saat mengigit
manusia yang sedang mengalami viremia. Kemudian virus yang ada dalam kelenjar liur
berkembang biak dalam waktu 8-10 hari (extrinsic ebcubation period) sebelum dapat di
tularkan kepada manusia pada saat gigitan berikutnya. Virus dalam tubuh nyamuk betina
dapat ditularkan kepada telurnya (transovanan transmission) , namun perananya dalam
penularan virus tidak penting. Sekali virus dapat masuk dan berkembang biak dalam
nyamuk, nyamuk tersebut akan dapat menularkan virus selama hidup (infektif). Didalam
tubuh manusia, virus memerlukan waktu masa tunas 46 hari (intrinsic incubation period)
sebelum menimbulkan penyakit. Penularan dari manusia kepada nyamuk hanya dapat
terjadi bila nyamuk menggigit manusia yang sedang mengalami viremia, yaitu 2 hari
sebelum panas sampai 5 hari setelah demem timbul. 1,2,3

c. Lingkungan (environment).2,3
Lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan vektor, sehingga
berpengaruh pula terhadap penularan penyakit DBD, antara lain sebagai berikut.
1) Lingkungan fisik, terdiri dari genangan air, khususnya genangan air yang tidak
kontak langsung dengan tanah, tempat penampungan air, air di pelepah atau batang
pisang, air di kaleng bekas atau ban bekas dan tanaman hias.
a. Letak geografis: Penyakit akibat infeksi virus dengue ditemukan tersebar luas di
berbagai negara terutama di negara tropik dan subtropik seperti Asia Tenggara,
Pasifik Barat dan Caribbean dengan tingkat kejadian sekitar 50-100 juta kasus setiap
tahunnya. Infeksi virus dengue di Indonesia telah ada sejak abad ke-18 seperti yang
dilaporkan oleh David Bylon seorang dokter berkebangsaan Belanda.
Pada saat itu virus dengue menimbulkan penyakit yang disebut penyakit demam
lima hari kadang-kadang disebut demam sendi. Disebut demikian karena demam
yang terjadi menghilang dalam lima hari, disertai nyeri otot, nyeri pada sendi dan
nyeri kepala. Sehingga sampai saat ini penyakit tersebut masih merupakan problem
kesehatan masyarakat dan dapat muncul secara endemik maupun epidemik yang
menyebar dari suatu daerah ke daerah lain atau dari suatu negara ke negara lain

5
b. Musim: Secara nasional penyakit Demam Berdarah Dengue di Indonesia setiap
tahun terjadi pada buan September s/d Februari dengan puncak pada bulan
Desember atau Januari yang bertepatan dengan waktu musim hujan.
Akan tetapi Untuk kota besar, seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya
musim penularan terjadi pada bulan Maret s/d Agustus dengan puncak terjadi pada
bulan Juni atau Juli.4
2) Lingkungan biologi: terdiri dari tanaman yang dapat menampung air pada
pelepah, daun maupun batangnya.
a. Populasi: Kepadatan penduduk yang tinggi akan mempermudah terjadinya infeksi
virus dengue, karena daerah yang berpenduduk padat akan meningkatkan jumlah
insiden kasus DBD tersebut. Dengan semakin banyaknya manusia maka akan
semakin besar peluang nyamuk mengigit, sehingga penyebaran kasusu DBD dapat
menyebar dengan cepat dalam suatu wilayah.
b. Nutrisi: Teori nutrisi mempengaruhi derajat berat ringan penyakit dan ada
hubungannya dengan teori imunologi, bahwa pada gizi yang baik mempengaruhi
peningkatan antibodi dan karena ada reaksi antigen dan antibodi yang cukup baik,
maka terjadi infeksi virus dengue yang berat.
3) Lingkungan sosial-ekonomi, berupa perilaku masyarakat yang kurang
memperhatikan kebersihan lingkungannya, terutama menguras bak atau tempat
penampungan air dan sampah-sampah yang dapat menampung air.

Puskesmas:4,5
Puskesmas ialah suatu unit pelaksana fungsional yang berfungsi sebagai pusat pembangunan
kesehatan, pusat pembinaan peran serta masyarakat dalam bidang kesehatan serta pusat
pelayanan kesehatan tingkat pertama yang menyelenggarakan kegiatannya secara menyeluruh,
terpadu, dan berkesinambungan pada suatu masyarakat yang bertempat tinggal dalam suatu
wilayah tertentu. Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten atau
kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di satu atau sebagian
wilayah kecamatan.

6
Tujuan:
Mendukung tercapainya pembangunan kesehatan nasional yakni meningkatkan kesadaran,
kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang yang bertempat tinggal di wilayah kerja
puskesmas.4

Fungsi:
a. Pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan
- Berupaya menggrakkan lintas sector dan dunia usaha di wilayah kerjanya agar
menyelenggarakan pembangunan yang berwawasan kesehatan.
- Aktif memantau dan melaporkan dampak kesehatan dari penyelenggaraan setiap
program pembangunan di wilayah kerjanya.
- Mengutamakan pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit tanpa mengabaikan
penyembuhan dan pemulihan.
b. Pusat pemberdayaan masyarakat
Berupaya agar perorangan terutama pemuka masyarakat, keluarga, dan masyarakat:
- Memiliki kesadaran, kemauan, dan kemampuan melayani diri sendiri dan masyarakat
untuk hidup sehat.
- Berperan aktif dalam memperjuangkan kepentingan kesehatan termasuk pembiayaan.
- Ikut menetapkan, menyelenggarakan, dan memantau pelaksanaan program kesehatan.
c. Pusat pelayanan kesehatan strata pertama
Menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu, dan
berkesinambungan.
- Pelayanan kesehatan perorangan
- Pelayanan kesehatan masyarakat

Kegiatan Pokok Puskesmas


Kegiatan pokok Puskesmas dikembangkan dari Basic Health Care Services (WHO) yang dikenal
sebagai Basic Seven yang terdiri atas :5
a. Mother and Child Health Care
b. Medical Care
c. Environmental Sanitation

7
d. Health Education
e. Simple Laboratory
f. Communicable Disease Control
g. Simple statistic
Pada Rakernas ke 111/1970, ditetapkan 6 Usaha Kesehatan Pokok seiring dengan perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi serta keinginan program di Tingkat Pusat, maka berkembang
menjadi 18 Usaha Kesehatan Pokok.
Upaya Kesehatan
Puskesmas bertangung jawab menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan masyarakat.
Ada 2 Upaya :
a. Upaya kesehatan Wajib
Adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan komitmern nasional,regional dan global serta
mempunyai daya ungkit tinggi untuk meningkatkan derajat kesehatan masyrakat. Upaya ini
harus diselenggarakan oleh setiap puskesmas yang ada di Indonesia, meliputi:
- Upaya Promosi Kesehatan
- Upaya Kesehatan Lingkungan
- Upaya Kesehatan Ibu & Anak Serta Kb
- Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat
- Upaya Pencegahan Dan Pemberantasan Penyakit Menular
- Upaya Pengobatan
b. Upaya Kesehatan Pengembangan
Adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan permasalahan kesehatan yang ditemukan di
masyarakat serta yang disesuaikan dengan kemampuan puskesmas. Upaya kesehatan ini
meliputi:
- UpayaKesehatanSekolah
- UpayaKesehatanOlahraga
- UpayaKesehatanKesehatanMasyarakat
- UpayaKesehatanKerja
- UpayaKesehatanGigidanMulut
- UpayaKesehatanJiwa
- UpayaKesehatanMata

8
- UpayaKesehatanusialanjut
- UpayaPembinaanPengobatanTradisional

Stuktur Organisasi Puskesmas


- Kepala Puskesmas
- Unit Tata Usaha
- Unit Pelaksana Teknis Fungsional
Upaya Kesehatan Masyarakat
Upaya Kesehatan perorangan
- Jaringan Pelayanan
Puskesmas pembantu
Puskesmas Keliling
Bidan di Desa/Komunitas

Fungsi Petugas Puskesmas
1. Petugas Medis :
a. Dokter Umum : Melakukan pelayanan medis di poli umum, puskel, pustu, posyandu.
b. Dokter Gigi :Melaksanakan pelayanan medis di poli gigi, puskel, pustu.
c. Dokter Spesialis : Khusus untuk puskesmas rawat inap bagus juga ada kunjungan
dokter spesialis sebagai dokter konsultan, misalnya : dokter ahli anak, kandungan dan
penyakit dalam.
2. Petugas Para Medis :
a. Bidan : Pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA), pelaksana asuhan kebidanan.
b. Perawat Umum : Pendamping tugas dokter umum, pelaksana asuhan keperawatan umum.
c. Perawat Gigi : Pendamping tugas dokter gigi, pelaksana asuhan keperawatan gigi.
d. Perawat Gizi: Pelayanan penimbangan dan pelacakan masalah gizi masyarakat.
e. Sanitarian : Pelayanan kesehatan lingkungan pemukiman dan institusi lainnya.
f. Sarjana Farmasi: Pelayanan kesehatan obat dan perlengkapan kesehatan.
g. Sarjana Kesehatan Masyarakat :Pelayanan administrasi, penyuluhan, pencegahan dan
pelacakan masalah kesehatan masyarakat.

9
3. Petugas Non Medis :
a. Administrasi :Pelayanan administrasi pencatatan dan pelaporan kegiatan puskesmas.
b. Petugas Dapur :Menyiapkan menu masakan dan makanan pasien puskesmas perawatan.
c. Petugas Kebersihan: Melakukan kegiatan kebersihan ruangan dan lingkungan puskesmas.
d. Petugas Keamanan: Menjaga keamanan pelayanan khususnya ruangan rawat inap.
e. Sopir: Mengantar, membantu seluruh kegiatan pelayanan puskesmas keliling di luar gedung
puskesmas.

Peran Dan Fungsi Kepala Puskesmas


Kepala Puskesmas merupakan seorang dokter atau sarjana bidang Kesehatan.
Kepala Puskesmas mempunyai tugas memimpin, mengawasi, mengkoordinasikan pelaksanaan
pelayanan upaya kesehatan secara paripurna kepada masyarakat dalam wi1ayah kerjanya.
Peranan Kepala Puskesmas
a. Dokter Kepala Puskesmas sebagai Seorang Dokter.
b. Dokter Kepala Puskesmas Sebagai Seorang Manajer
- Organisasi Tatalaksana
- Bimbingan Teknis dan Supervisi
- Hubungan Kerja antar Instansi Tingkat Kecamatan
- Dokter puskesmas sebagai penggerak pembangunan di wilayah kerjanya.
c. Dokter kepala puskesmas sebagai tenaga ahli pendamping camat

Tugas Kepala Puskesmas:


a. Membuat perencanaan puskesmas
Menganalisa kondisi, situasi dan kinerja puskesmas, apakah sudah baik, masih kurang
ataukah banyak yang belum beres, kemudian menentukan perencanaan kegiatannya.
b. Mengatur pelayanan puskesmas
Menata apa saja jenis kegiatan program pelayanan, siapa saja yang akan
menjalankannya bersama seluruh staf puskesmas

c. Menggerakkan pegawai puskesmas

10
Mendorong segenap komponen pelayanan puskesmas untuk melaksanakan tugas pokok
sesuai fungsinya dalam pelayanan kepada masyarakat
d. Mengevaluasi kinerja puskesmas
Menelaah hasil pencapaian program puskesmas secara terpadu dengan instansi terkait,
sebagai pedoman untuk menentukan perencanaan pelayanan puskesmas.
e. Menggalang kerjasama pelayanan puskesmas
Menjalin kerjasama internal puskesmas dan eksternal puskesmas, antara staf, pegawai,
petugas, aparat, pejabat, kader kesehatan, tokoh masyarakat, dan yang lainnya,
khususnya diwilayah kerja puskesmas

Peranan Dokter di Puskesmas


Tugas Pokok
Mengusahakan agar fungsi Puskesmas dapat diselenggarakan dengan baik dan dapat
memberi manfaat kepada masyarakat di wilayah kerjanya.
Fungsi
- Sebagai seorang dokter
- Sebagai seorang manajer
Kegiatan Pokok
- Melaksanakan Fungsi Manajerial
- Melakukan pemeriksaan dan pengobatan penderita. Menerima rujukan dan konsultasi.
- Mengkoordinir pembinaan peran serta masyarakat melalui pendekatan PKMD
Kegiatan Lain: Menerima konsultasi dari semua kegiatan Puskesmas
Lima tugas utama seorang manajer atau kepala puskesmas, untuk menjalankan prinsip
manajemen puskesmas berikut ini:
1. Membuat perencanaan Puskesmas :menganalisa kondisi, situasi dan kinerja
puskesmas, apakah sudah baik, masih kurang ataukah banyak yang belum beres,
kemudian menentukan perencanaan kegiatannya.
2. Mengatur pelayanan Puskesmas : menata apa saja jenis kegiatan program
pelayanan, siapa saja yang akan menjalankannya bersama seluruh staf puskesmas

11
3. Menggerakkan pegawai Puskesmas : mendorong segenap komponen pelayanan
puskesmas untuk melaksanakan tugas pokok sesuai fungsinya dalam pelayanan
kepada masyarakat
4. Mengevaluasi kinerja Puskesmas :menelaah hasil pencapaian program puskesmas
secara terpadu dengan instansi terkait, sebagai pedoman untuk menentukan
perencanaan pelayanan puskesmas.
5. Menggalang kerjasasam pelayanan Puskesmas: menjalin kerjasama internal
puskesmas dan eksternal puskesmas, antara staf, pegawai, petugas, aparat,
pejabat, kader kesehatan, tokoh masyarakat, dan yang lainnya, khususnya
diwilayah kerja puskesmas

B. Sistem Puskesmas
Dalam menangani sebuah kasus permasalahan, perlu dievaluasi ulang apa saja pembentuk
unsur-unsur daripada pelaksanaan suatu program. Dalam hal ini yang perlu ditinjau ulang ialah
sistem daripada permasalahan tersebut. Sistem adalah gabungan elemen yang dihubungkan oleh
proses/struktur yang berfungsi untuk menghasilkan sesuatu yang telah ditetapkan. Ciri-ciri
sistem ialah:

- Mempunyai tujuan
- Terdiri dari beberapa elemen yang membentuk suatu kesatuan
- Mengubah input menjadi output
- Dipengaruhi oleh lingkungan
- Mempunyai mekanisme pegendalian mengatur diri sendiri dan adaptasi

12
Gambar 1. Skema sebuah Sistem8

Terdapat empat macam fungsi administrasi yang sudah disederhanakan menurut George R.
Terry, antara lain:6,7

i. Planning (perencanaan)

Menurut Billy E. Goets, planning adalah kemampuan untuk memilih satu kemungkinan dari
beberapa kemungkinan yang tersedia yang dipandang paling tepat untuk mencapai tujuan. Dalam
kehidupan sehari-hari dikenal beberapa istilah yang agak identik dengan perencanaan.9 Istilah
yang dimaksud adalah:6

Peramalan (forcasting)
Penyelesaian masalah (problem solving)
Penyusunan program (programming)
Penyusunan rancangan (designing)
Pengkajian kebijakan (policy analysis)
Proses pengambilan keputusan (decision making process)

13
Macam perencanaan ditinjau dari jangka waktu berlakunya rencana, tingkatan rencana
maupun dari ruang lingkup adalah:7

i) Ditinjau dari jangka waktu berlakunya rencana dalam waktu jangka panjang, jangka
menengah atau jangka pendek
ii) Ditinjau dari tingkatan rencana dari aspek induk, operasional atau harian
iii) Ditinjau dari ruang lingkup yang mencakupi
Strategik
Taktis
Menyeluruh
Terpadu
Unsur-unsur planning (perencanaan) antara lain adalah rumusan misi, rumusan masalah,
rumusan tujuan umum dan khusus, rumusan kegiatan, asumsi perencanaan, strategi
pendekatan, waktu, organisasi dan tenaga pelaksana, biaya dan metoda penilaian dan
kriteria keberhasilan

ii. Organization (pengorganisasian)

Pengorganisasian adalah pengelompokan berbagai kegiatan yang diperlukan untuk


melaksanakan suatu rencana sedemikian rupa sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat
dicapai dengan memuaskan. Definisi lain menyebutkan pengorganisasian adalah pengaturan
sejumlah personil yang dimiliki untuk memungkinkan tercapainya suatu tujuan yang telah
disepakati dengan jalan mengalokasikan masing-masing fungsi dan tanggungjawabnya.9 Unsur-
unsur pokok dalam pengorganisasian antara lain:6
Hal yang diorganisasikan seperti kegiatan, tenaga pelaksana
Proses pengorganisasian
Hasil pengorganisasian.Prinsip pokok organisasi antara lain:
Mempunyai pendukung
Mempunyai tujuan
Mempunyai kegiatan
Mepunyai pembagian tugas
Mempunyai perangkat organisasi

14
Mempunyai pembagian dan pendelegasian wewenang
Mempunyai kesinambungan kegiatan, kesatuan perintah danarah.

iii. Actuating (penggerakkan/pelaksaanaan)

Actuating (penggerakkan/pelaksaanaan) adalah melaksanakan rencana yang telah dibuat dan


yang telah ditetapkan bentuk organisasi yang akan melaksanakan rencana tersebut. Sebagai
seorang manager didalam pelaksanaan rencana/program (kesehatan) harus mempunyai
pengetahuan/ kemampuan :6,9
Motivasi (motivation)
Komunikasi (communication)
Kepemimpinan (leadership)
Pengarahan (directing)
Pengawasan (controlling)
Supervisi (supervision)

iv. Controlling (pengawasan)

Controlling adalah melakukan penilaian dan sekaligus koreksi terhadap setiap penampilan
pelaksana untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam rencana. Definisi lain
menyebutkan controlling (pengawasan) adalah suatu proses untuk mengukur penampilan suatu
program yang kemudian dilanjutkan dengan mengarahkannya sehingga tujuan yang telah
ditetapkan dapat tercapai. Untuk melaksanakan pengawasan perlu diperhatikan:6,9

Obyek pengawasan, yaitu hal-hal yang akan diawasi dari pelaksanaan program
Metoda pengawasan, yang merupakan mekanisme umpan-balik
Proses pengawasan, merupakan langkah langkah yang terdiri: merumuskan rencana,
tujuan dan standar pengawasan, mengukur penampilan, membandingkan hasil dengan
standar, menarik kesimpulan dan melaksanakan tindak lanjut

15
1. Man
Dokter
Menjadi seorang dokter adalah sebuah aktivitas mulia bila dilandasi dengan niat yang
baik. Selain mempelajari berbagai macam teori mengenai penyakit dan obat-obatan
yang sangat detail, seorang dokter juga perlu belajar cara berinteraksi dengan orang
lain, agar dapat memberikan pelayanan holistik pada pasiennya.
WHO menetapkan 5 standar dokter ideal yang dirangkum dalam 5 stars doctor,
antara lain:
1. Health care provider (penyedia layanan kesehatan) yaitu kemampuan dokter
sebagai tenaga medis, memberikan tindakan terhadap keluhan-keluhan pasiennya.
Tindakan kesehatan yang dilakukan dapat berupa kuratif, preventif, promotif dan
rehabilitatif.
2. Decision maker (pembuat keputusan), salah satu peran seorang dokter yaitu
memberikan keputusan terhadap suatu permasalahan, yang sudah ditimbang dari sudut
pandang medis dari ilmu yang dikuasainya.
3. Community leader (pemimpin komunitas), didalam lingkungan bermasyarakat,
seorang dokter harus dapat mengayomi masyarakat untuk dapat hidup sehat, dapat
menjadi contoh bagi komunitas disekelilingnya
4. Manager (manajer), adakalanya seorang dokter akan menjadi pemimpin dari
sebuah lembaga kesehatan (puskesmas, DinKes atau Rumah Sakit), untuk itu,
kemampuan mengelola sistem, staf, dan berkolaborasi dengan struktur lembaga
merupakan sesuatu yang perlu dimiliki oleh setiap dokter.
5. Communicator (penyampai), memutuskan untuk menjadi seorang dokter, berarti
memutuskan untuk menjadi pekerja sosial, yang berhubungan dengan manusia. Di
masyarakat, dokter merupakan sosok panutan, lantaran karena ilmunya yang luas dan
kepeduliannya terhadap hidup sesama. Untuk itu, keterampilan berkomunikasi,
menyampaikan sesuatu dengan baik merupakan softskill yang harus dimiliki setiap
dokter
Dalam menghadirkan pelayanan kesehatan, seorang dokter akan berkolaborasi dengan
tenaga kesehatan lainnya, antara lain perawat, ahli gizi, ahli farmasi, bidan, sanitarian
dan petugas administratif. Untuk itu diperlukan pemahaman tentang area kerja masing-

16
masing disiplin ilmu, agar tidak saling tumpang tindih dan menimbulkan konflik lintas
profesi.
Koordinator P2M dan PKM
Petugas Laboratorium
Petugas Administrasi
Kader aktif
Jumantik

2. Money:
Dana untuk pelaksanaan program dapat diperoleh di:
APBD : sebagai contoh, APBD menyediakan anggaran untuk pengawasan dan
monitoring, sarana diagnosis, bahan cetakan, kegiatan pemecahan masalah di
kotamadya.
Swadaya Masyarakat : contoh, menyediakan anggaran untuk operasional,
pemeliharaan, pelaksanaan, pencegahan dan penanggulangan DBD

3. Matrial:
Medis
Meliputi hal-hal dibawah ini :
a. Poliklinik set : stetoskop, timbangaan BB, thermometer, tensimeter, senter
b. Alat pemeriksaan hematokrit
c. Alat penyuluhan kesehatan masyarakat
d. Formulir laporan Standart Operasional dan KDRS (kasus DBD di Rumah
Sakit)
e. Obat-obatan simptomatis untuk DBD (analgetik dan antipiretik)
f. Buku petunjuk program DBD
g. Bagan penatalaksanaan kasuk DBD
h. Larvasida

17
Non-Medis
Meliputi hal-hal dibawah ini :
a. Gedung puskesmas
b. Ruang tunggu
c. Tuang administrasi
d. Ruang periksa
e. Ruang tindakan
f. Laboratorium
g. Apotik
h. Perlengkapan administrasi
i. Formulir laporan

4. Methode
Terdapat metode untuk:
1. Penemuan penderita tersangka DBD
Kasus dilihat dari jumlah suspek DBD yang datang ke puskesmas
2. Rujukan penderita DBD
Semua kasus tersangka dilaporkan 1 x 24 jam
3. Diagnosis pasti penderita DBD: ditegakan bila mememukan criteria klinis
pertama ditambah trombositopenia dan hemokonsentrasi serta didapatkan
peningkatan (positif) pada pemeriksaan Elisa (IgM/IgG)
4. Surveilans kasus DBD: dilakukan berdasarkan lapaoran kasus setiap
klinik, dokter praktek umum, puskesmas serta rumah sakit
5. Surveilans vector DBD: : pemantauan jentik berkala (PJB) dilakukan oleh
petugas kesehatan dan jumantik di tempat-tempat penampungan air (TPA)
yang menjadi perindukan nyamuk (bak mandi, drum, vas bunga, kaleng
bekas) di rumah-rumah yang di pilih secara acak dan dilaksanakan secara
acak dan dilaksanakan secara teratur setiap 3 bulan.

18
6. Pemeberatasan vector
a. Abatisasi selektif
Pemberian bubuk abate yang dilakukan oleh petugas kesehatan ,
jumantik dan kader kelurahan pada tempat penampungan air yang
tidak dapat dikuras. Caranya dengan menaburi tempat tersebut dengan
bubuk abate sesuai dengan dosis satu sendok peres ( 10 gram) untuk
100 liter air.
b. Kegiatan 3M
Dengan Bulan Gerakan 3 M yang perwujudannya melalui jumat
bersih selama 30 menit setiap satu minggu sekali. Dilakukan dengan
pengawasan kader PKK: menguras, menutup dan mengubur tempat
pertumbuhan jentik.
c. Fogging fokus
Pengasapan menggunakan insektisida yang dilakukan pada titik fokus
dan sekitarnya dengan jarak radius 100 meter atau kurang lebih 20
rumah sekitarnya. Dilakukan 2 siklus dengan dengan jarak seminggu.
Fogging fokus ini dilakukan jika penyelidikan epidemiologi (PE)
positif, yaitu:
Dalam radius 100 meter dari rumah penderita DBD, ada 2 kasus
DBD lain
Dalam radius 100 meter dari rumah penderita DBD, ada 3 kasus
demam.
Ada kasus DBD meninggal

d. Fogging massal
Dilakukan 2 siklus di seluruh wilayah daerah endemis merah pada
awal dan akhir musim penghujan.

7. Penyuluhan kesehatan
Perorangan: penyuluhan langsung dengan cara tanya jawab/ konsultasi
terhadap individu yang berobat di puskesmas.

19
Kelompok: dilakukan dengan mengadakan ceramah di tempat umum
dan di sekolah melalui diskusi, dan menggunakan poster.
8. Pelatihan kader PSN : kader PSN dilatih di puskesmas kecamatan
9. Pencatatan dan pelaporan kasus

C. Proses (management function)


1. Perencanaan
Penemuan penderita tersangka DBD : dilihat dari jumlah pasien suspect DBD
yang datang ke puskesmas.
Tersangka DBD menurut WHO:
kriteria klinis:
Demam mendadak tinggi tanpa sebab yang jelas selama 2-7
hari
Manifestasi perdarahan sekurang-kurangnya uji tourniquet
positif
Pembesaran hati
Syok

kriteria labolatorium:
Trombositopenia (jumlah tombosit kurang dari atau sama
dengan 100.000/uL
Hemokonsentrasi, dapat di lihat peningkatan hematokrit.

Rujukan penderita DBD : Semua kasus tersangka dilaporkan 1 x 24 jam


Diagnosis pasti penderita DBD: ditegakan bila mememukan criteria klinis
pertama ditambah trombositopenia dan hemokonsentrasi serta didapatkan
peningkatan (positif) pada pemeriksaan Elisa (IgM/IgG)
Surveilans kasus DBD: Dilakukan setiap hari kerja, pada pukul 08.00- 14.00
berdasarkan laporan kasus setiap klinik, dokter parktik umu, Puskesmas serta
Rumah sakit

20
Surveilans vector pemantauan jentik berkala: Dilakukan 4 kali pertahun oleh
petugas kesehatan dan jumantik di tempat- tempat penampungan air yang
menjadi tempat perindukan nyamuk.
Pemberantasan vector
Abatisasi selektif : akan dilakukan 4 kali pertahun oleh petugas
kesehatan , jumantik dan kader kelurahan pada tempat
penampungan air yang tidak dapat dikuras ,pada hari kerja
Kegiatan 3M : 4 kali perbulan , oleh masyarakat setiap hari Jumat
pukul 09.00-09.30 WIB
Fogging fokus : dilakukan jika penyelidikan epidemiologi ( PE)
positif yaitu,:
Dalam radius 100 meter dari rumah penderita DBD, ada 2
kasus DBD lain
Dalam radius 100 m darirumah penderita DBD, ada 3 kasus
demam
Ada 3 kasus yang meninggal
Fogging massal: dilakukan 2 siklus di seluruh wilayah pada daerah
endemis merah pada awal dan akhir musim penghujan

Penyuluhan Kesehatan : Perorangan dan Kelompok


Penyuluhan kesehatan
Perorangan : setiap hari kerja ,pada pukul 08.00- 14.00 WIB.
Kelompok : 4 kali pertahun dilakukan dengan mengadakan
cerama di temoat umum dan sekolah.

Pelatihan kader PSN : 1 kali pertahun


Pencatatatan dan pelaporan kasus: pencatatan yang dilakuka pada jam kerja,
seiap bulanan, tribulanan , semester, dan tahunan dan pelaporan akan dilakukan
setiap tanggal 5 di awal bulan.

21
2. Organisasi
Terdapat struktur tertulis dan pembagian tugas yang teratur dalam rangka melaksanakan
program pemberantasan DBD. Serta juga terdapat strukur organisasi tertulis dan
pemberian tugas yang jelas dalam melaksanakan tugasnya.
Rangkaian kegiatan manajemen untuk menghimpun semua sumber daya (potensi) yang
dimiliki oleh organisasi dan memanfaatkannya secara efisien untuk mencapai tujuan
organisasi. Atas dasar pengertian tersebut, fungsi pengorganisasian juga meliputi proses
mengintegrasikan semua sumber daya (potensi) yang dimiliki oleh sebuah organisasi atau
mengatur sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan organisasi. Susunan organisasi
Puskesmas terdiri dari:
a. Unsur pimpinan : Kepala Puskesmasb.
b. Unsur pembantu pimpinan : Urusan Tata Usaha
c. Unsur Pelaksana.
Unit yang terdiri dari tenaga/pegawai dalam jabatan fungsional. Jumlah unit tergantung
kepada kegiatan, tenaga dan fasilitas daerah masing-masing. Unit-unit terdiri dari:Unit I,
Unit II, Unit III, Unit IV, Unit V, Unit VI, Unit VII. Kepala Puskesmas, mempunyai
tugas memimpin, mengawasi dan mengkoordinasikegiatan Puskesmas yang dapat
dilakukan dalam jabatan struktural dan jabatan fungsional.
Kepala Urusan Tata Usaha, mempunyai tugas di bidang kepegawaian, keuangan,perlengkapan dan
surat menyurat serta pencatatan dan pelaporan.
Unit I.mempunyai tugas melaksanakan kegiatan kesejahteraan ibu dan anak, keluarga
berencanadan perbaikan gizi. Unit II,mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pencegahan dan
pemberantasan penyakit,khususnya imunisasi, kesehatan lingkungan dan laboratorium
sederhana. Unit III,mempunyai tugas melaksanakan kegiatan kesehatan gigi dan mulut,
kesehatan tenaga kerjadan manula. Unit IV,mempunyai tugas melaksanakan kegiatan
perawatan kesehatan masyarakat, kesehatansekolah dan olah raga, kesehatan jiwa,
kesehatan mata dan kesehatan khusus lainnya. Unit V,mempunyai tugas melaksanakan
kegiatan pembinaan dan pengembangan upaya kesehatanmasyarakat dan penyuluhan kesehatan
masyarakat. Unit VI,mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pengobatan rawat jalan dan
rawat nginap. Unit VII,mempunyai tugas melaksanakan kefarmasian.

22
3. Pelaksanaan
Proses bimbingan kepada staf agar mereka dapat melaksanakan tugas-tugas
pokoknya sesuai dengan keterampilan yang dimiliki dan dukungan sumber daya yang
tersedia:
Penemuan penderita tersangka : dilakukan setiap hari kerja ( dari hari senin
sampai jumat, dari pukul 08.00 sampai 14.00
Rujukan : dilakukan setiap penemuan kasus penderita yang langsung merujuk ke
rumash sakit setiap hari dan waktu kerja.
Diagnosis penderita DBD : didapatkan dari laporan rumah sakit rujukan
Surveilans kasus DBD : dilakukan setiap hari kerja
Surveilans vektor pengamatan jentik berkala: dilakukan 4kali setahun oleh
petugas kesehatan, jumantik, dan kader kelurahan pada tempat penampungan air
pada hari puku 08.00- 14.00
Pemberantasan vektor
i. Abatisasi selektif : dilakukan 4x setahun oleh petugas kesehatan ,
jumantik dan kader kelurahan pada tempat penampungan air yang tidak
dapat dikuran pada hari kerja pukul 08.00 -14.00 WIB
ii. Kegiatan 3 M : 4xperbulan oleh masyarakat setiap hari kerja 08.00- 14.00
iii. Fogging fokus
iv. Fogging massal
Penyuluhan kesehatan
i. Perorangan : setiap hari kerja
ii. Kelompok : 4x/ tahun dilakukan dengan mengadakan ceramah di tempat
umum dan di sekolah.
Pelatihan kader PSN :1x/tahun
Pencatatan dan pelaporan kasus : pencatatan dilakukan oleh petugas Puskesmas
1kali 24 jam setelah menerima laporan dari Rumah sakit rujukan dan dilaporkan
pada tanggal 5 setiap bulannya.

23
4. Pengawasan dan pengendalian
Proses untuk mengamati secara terus-menerus pelaksanaan kegiatan sesuai dengan
rencana kerja yang sudah disusun dan mengadakan koreksi jika terjadi
penyimpangan. Fungsi manajemen ini memerlukan perumusan standar kinerja staf
(standar performance sesuai dengan prosedur tetap).
Standar digunakan manager untuk menilai hasil kegiatan staf atau unit (kelompok)
kerja. Jika ditemukan penyimpangan, fungsi pengawasan managerial harus mampu
melakukan koreksi terhadap penyimpangan yang telah terjadi. Pengawasan dan
pengendalian dilaksanakan Melalui pencatatan dan pelaporan yang
dilakukan:Bulanan, Triwulanan, Tahunan.

D. Keluaran
Kumpulan bagian atau elemen yang dihasilkan dari berlangsungnya proses dalam system
dari kegiatan pemberantasan DBD
Penemuan penderita tersangka DBD : dilihat dari jumlah pasien suspect DBD yang
datang ke puskesmas
Contoh : 128 orang/tahun
Rujukan penderita DBD : Bila terdapat tanda-tanda penyakit DBD, seperti mendadak
panas tinggi 2-7hari, tampak lemah dan lesu, suhu badan antara 38OC sampai 40OC
atau lebih, tampak bintik-bintik merah pada kulit dan jika kulit direnggangkan bintik
merah itu tidak hilang, kadang-kadang ada perdarahan hidung, mungkin terjadi
muntah darah atau BAB darah, tes Torniquet positif.
Contoh : dilakukan rujukan 100% kasus
Penyuluhan dan penggerakkan masyarakat untuk PSN (pemberantasan sarang
nyamuk)
Penyuluhan/informasi tentang demam berdarah dan pencegahannya dilakukan
melalui jalur-jalur informasi yang ada:
a. Penyuluhan Kelompok: PKK, Organisaasi social masyarakat lain, kelompok
agama, guru, murid sekolah, pengelola tempat umum/instansi, dll.

24
b. Penyuluhan Perorangan: Kepada ibu-ibu pengunjung posyandu, Kepada
penderita/keluarganya di puskesmas, Kunjungan rumah oleh kader/ petugas
puskesmas
c. Penyuluhan melalui media massa : TV, radio, dll .

Surveilans kasus DBD : hasil Angka Bebas Jentik


Survei jentik dilakukan dengan cara melihat atau memeriksa semua tempat atau bejana
yang dapat menjadi tempat berkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti dengan mata
telanjang untuk mengetahui ada tidaknya jentik,yaitu dengan cara visual. Cara ini
cukup dilakukan dengan melihat ada tidaknya jentik disetiap tempat genangan air
tanpa mengambil jentiknya. Ukuran-ukuran yang dipakai untuk mengetahui kepadatan
jentik Aedes aegypti adalah:
House Indeks (HI), yaitu persentase rumah yang terjangkit larva dan atau pupa. HI
= Jumlah Rumah Yang Terdapat Jentik x 100%
Container Indeks (CI), yaitu persentase container yang terjangkit larva atau pupa.
CI = Jumlah Container Yang Terdapat Jentik x 100%
Breteau Indeks (BI), yaitu jumlah container yang positif per-100 rumah yang
diperiksa. BI = Jumlah Container Yang Terdapat Jentik x 100 rumah
Dari ukuran di atas dapat diketahui persentase Angka Bebas Jentik (ABJ), yaitu
jumlah rumah yang tidak ditemukan jentik per jumlah rumah yang diperiksa.
ABJ = Jumlah Rumah Yang Tidak Ditemukan Jentik x 100%
Jumlah Rumah Yang Diperiksa
Merupakan salah satu indicator keberhasilan program pemberantasan vector penular
DBD. Angka Bebas Jentik sebagai tolak ukur upaya pemberantasan vector melalui
gerakan PSN-3M menunjukan tingkat partisipasi masyarakat dalam mencegah DBD.
Rata-rata ABJ yang dibawah 95% menjelaskan bahwa partisipasi masyarakat dalam
mencegah DBD di lingkunagnnya masing-masing belum optimal.
Contoh : 3x/ tahun dengan cakupan ABJ 96,07%
Surveilans vector : melalui Pengamatan Jentik Berkala
Pemeriksaan Jentik Berkala (PJB) merupakan bentuk evaluasi hasil kegiatan yang
dilakukan tiap 3 bulan sekali disetiap desa/kelurahan endemis pada 100

25
rumah/bangunan yang dipilih secara acak (random sampling). Angka Bebas Jentik dan
House Indeks lebih menggambarkan luasnya penyebaran nyamuk disuatu wilayah.

Pemberantasan vector :
Perlindungan perseorangan, yaitu memberikan anjuran untuk mencegah gigitan
nyamuk Aedes aegypti yaitu dengan meniadakan sarang nyamuknya di dalam rumah.
Yaitu dengan melakukan penyemprotan dengan obat anti serangga yang dapat dibeli di
took-toko seperti baygon, dll.
a. Menggunakan insektisida

- Abatisasi : adalah menaburkan bubuk abate ke dalam penampung air untuk


membunuh larva dan nyamuk. Cara melakukan abatisasi : untuk 10 liter air cukup
dengan 1 gram bubuk abate. Bila tidak ada alat untuk menakar gunakan sendok
makan. Satu sendo makan peres ( diratakan atasnya) berisi 10 gram abate,
selanjutnya tinggal membagi atau menambah sesuai jumlah air.dalam takaran
yang dianjurkan seperti di atas, aman bagi manusia dan tidak akan menimbulkan
keracunan. Penaburan abate perlu di ulang selama 3 bulan.7

- Fogging dengan malathion atau fonitrothion. Melakukan pengasapan saja tidak


cukup, karena penyemprotan hanya mematikan nyamuk dewasa.
b. Tanpa insektisida
Pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan melaksanakan penyuluhan 3M:
- Menguras tempat-tempat penampungan air sekurang-kurangnya seminggu sekali
- Menutup rapat-rapat tempat penampungan air
- Menguburkan, mengumpulkan, memanfaatkan atau menyingkirkan barang-barang
bekas yang dapat menampung air hujan seperti kaleng bekas, plastic bekas dan
lain-lain.
Selain itu ditambah dengan cara yang dikenal dengan istilah 3M Plus, seperti :
- Ganti air vas bunga, minuman burung dan tempat-tempat lain seminggu sekali
- Perbaiki saluran dan talang air yang tidak lancar
- Tutup lubang-lubang pada potongan bamboo, pohon dan lain-lain, misalnya
dengan tanah.

26
- Bersihkan/keringkan tempat-tempat yang dapat menampung air seperti pelepah
pisang atau tanaman lainnya termasuk tempat-tempat lain yang dapat menampung
air hujan di pekarangan, kebun, pemakaman, rumah kosong, dan lain-lain.
- Pemeliharaan ikan pemakan jentik nyamuk
- Pasang kawat kasa di rumah
- Pencahayaan dan ventilasi memadai
- Jangan biarkan menggantuk pakian di rumah
- Tidur menggunakan kelambu
- Gunakan obat nyamuk untuk mencegah gigtan nyamuk
E. Dampak
Akibat yang ditimbulkan oleh keluaran dalam pemberantasan DBD
a. Langsung : apakah terjadi penurunan angka morbiditas dan mortalitas kasus DBD
b. Tidak langsung : apakah terjadi peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

F. Promotif
Promosi Kesehatan
Penyuluhan dan penggerakan masyarakat untuk PNS (pemberantasan sarang nyamuk),
penyuluhan tentang informasi tentang demam berdarah dan pencegahannya dilakukan melalui
jalur informasi yang ada :
a. Penyuluhan kelompok : PKK, organisasi social masyarakat lain, kelompok agama, guru,
murid di sekolah, pengelola tempat umum/instansi.
b. Penyuluha perorangan : kepada ibu-ibu pengunjung posyandu, kepada
penderita/keluarganya di puskesmas
c. Kunjungan rumah oleh kader/petugas puskesmas.
d. Penyuluhan melalu media massa : TV, radio dan lain-lain (oleh Dinas Kesehatan Tk. II, I,
Pusat)
Menggerakan masyarakat untuk melaksanankan PSN penting terutama sebelum musim
penularan (musim hujan) yang pelaksanaannya dikoordinasi oleh kepala wilayah setempat.
Di tingkat puskesmas,ausaha pemberantasan sarang nyamuk seyogyanya diintegrasikan
dalam program sanitasi

27
G. Preventif10
Pemberantasan vektor
a. Pengasapan (fogging/ ULV)
pelaksana : petugas kesehatan dinas kabupaten/kota. Puskesmas dan tenaga lain yang
telah dilatih
lokasi : meliputi seluruh wilayah terjangkit
sasaran : rumah dan tempat-tempat umum
insektisida : sesuai dengan dosis
alat : mesin fog atau ULV
cara pengasapan/ULV dilaksanakan 2 siklus dengan inerval 1 minggu
b. Pemberantasan sarang nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN DBD)
pelaksana : masyarakat di lingkungan masing-masing
lokasi : meliputi seluruh wilayah terjangkit dan wilayah sekitarnya dan
merupakan satu kesatuan epidemiologis.
Sasaran : semua tempat potensial bagi perindukan nyamuk; tempat penampungan
air, barang bekas, lubang pohon/tiang pagar, tempat minum burung dan sebagainya, di
rumah/bangunan dan tempat umum.
Cara : melakukan kegiatan 3M plus
untuk mencegah dan membatasi penyebaran penyakit Demam Berdarah, setiap keluarga perlu
melakukan Pemberantasan Demam Berdarah Dengue (PSN-DBD) dengan cara 3M yaitu:
1. Menguras dengan menyikat dinding tempat penampungan air (tempayan,drum, bak
mandi, dan lain-lain) atau menaburkan bubuk abate/altosid bila tempat-tempat tersebut
tidak bisa dikuras
2. Menutup rapat-rapat tempat penampungan air agar nyamuk tidak dapatmasuk dan
berkembang biak di dalamnya
3. Mengubur/membuang barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan misalnya
ban bekas, kaleng bekas, tempat minuman mineral dan lain-lain
c. Larvasidasi
pelaksana : tenaga dari masyarakat dengan bimbingan petugas puskesmas/dinas
kesehatan kabupaten/kota
lokasi : meliputi seluruh wilayah terjangkit

28
sasaran : tempat penampungan air(TPA) di rumah dan tempat-tempat umum
Larvasida : sesuai dengan dosis
Cara : larvasidasi dilaksanakan di seluruh wilayah KLB
Larvasida yang biasa digunakan antara lain adalah bubuk abate (temephos). Formulasi
temephos yangdigunakan adalah granules (sand granules). Dosis yang digunakan 1 ppm atau
10gram ( 1 sendok makan rata) untuk setiap 100 liter air. Larvasida dengan temephos ini
mempunyai efek residu 3 bulan. Selain itu dapat pula digunakan golongan insect growth
regulator.

H. Kuratif
Pada dasarnya pengobatan DBD bersifat suportif, yaitu mengatasi kehilangan cairan plasma
sebagai akibat peningkatan kapiler dan sebagai akibat perdarahan. Pasien DD dapat berobat jalan
sedangkan pakien DBD dirawat di ruang perawatan biasa. Tetapi pada kasus DBD dengan
komplikasi perlu perawatan intensif.3,10
a. Tirah baring selama masih demam
b. Obat antipiretik atau kompres panas hangat.
c. Untuk menurunkan suhu dianjurkan pemberian parasetamol. Asetosal/salisilat tidak
dianjurkan oleh karena dapat menyebabkan gastritis, perdarahan atau asidosis.
d. Diajurkan pemberian cairan elektrolit (mencegah dehidrasi sebagai akibat demam,
anoreksia dan muntah) per oral, jus buah, sirup, susu. Disamping air putih, dianjurkan
diberikan selama 2 hari.
e. Pasien harus diawasi ketat terhadap kejadian syok. Periode kritis adalah pada saat suhu
turun pada umumnya hari ke-3 -5 fase demam.
f. Pemeriksaan kadar hematokrit berkala untuk pengawasan hasil pemberian cairan yaitu
menggambarkan derajat kebocoran plasma dan pedoman kebutuhan cairan vena.
Jenis cairan kristaloid : larutan ringer laktat ( RL), larutan ringer asetat (RA), larutan garam
faali (GF), detroksa 5% dalam larutan ringer laktat (D5/RL), detroksa 5% dalam larutan
ringer asetat (D5/RA). (catatan :auntukresusitasi syok dipergunakan larutan RL atau RA
tidak boleh larutan yang mengandung dekstran) Cairan koloid : dekstran 40, plasma, albumin

29
I. Protektif
Penyakit DBD sampai saat ini belum ada obat dan vaksinnya, untuk itu yang bisa dilakukan
adalah melakukan tindakan protektif dengan mencegah dan membatasi penyebaran penyakit
DBD melalui upaya memutuskan rantai penularan. Tindakan protektif dipengaruhi oleh prilaku
dan kebiasaan masyarakat.10
1. Prilaku Masyarakat
Adalah reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan dari luar). Atau dapat pula diartikan
suatu tindakan yang dilatarbelajangi oleh pengetahuan, sikap dan praktek.
a. Pengetahuan
Merupakan hasil dari tahu, kemudian meningkat menjadi memahami, mengaplikasi,
menganalisis, dan mensistesis serta mengevaluasi dari obyek yang diterima oleh panca indera.
Indicator untuk mengetahui tingkat pengetahuan atau kesadaran terhadap kesehatan dapat
dikelompokkan menjadi:
- pengetahuan tentang sakit (penyebab, gejala, cara pengobatan, cara penularan, cara
pencegahan DBD)
- pengetahuan tentang cara pemeliharaan kesehatan
- pengetahuan tentang kesehatan lingkungan (cara pembuangan sampah yang sehat)
Salah satu pengetahuan adalah tentang penanaman tanaman antinyamuk seperti cayuputih,
sereh,jahe, lengkuas, kemangi, kencur, jeruk purut, lavender. Pengetahuan mengenai
pemeliharaan ikan cupang, cere kepala timah dapat pula dilakukan untuk pemberantasan
biologic.

b. Sikap
Merupakan penilaian dari reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu
stimulus atau obyek. Indicator untuk sikap kesehatan juga sejalan dengan pengetahuan kesadaran
seperti diatas:
- sikap tentang sakit (penyebab, gejala, cara pengobatan, cara penularan, cara pencegahan
DBD)
- sikap tentang cara pemeliharaan kesehatan
- sikap tentang kesehatan lingkungan (cara pembuangan sampah yang sehat)

30
c. Praktik./Tindakan
Merupakan proses lanjutan yang diharapkan akan melaksanakan atau mempraktikan apa yang
diketahui atau disikapi. Indikato praktik kesehatan ini mencakup:
- praktik/tindakan sehubungan dengan penyakit mencakup pencegahan dan pengobatan
penyakit DBD
- praktik/tindakan sehubungan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan mencakup
mengkonsumsi makanan dan gizi seimbang
- praktik/ tindakan sehubungan kesehatan lingkungan mencakup pembuangan sampah pada
tempatnya.

2. Kebiasaan Masyarakat
Berhubungan dengan penyakit DBD adalah kebiasaan tidur siang dan menggantung baju. Hal ini
berhubungan dengan kebiasaan menggigit vector penyakit DBD yang aktif pada pagi dan siang
hari serta kesenangan vector untuk beristirahat dan bersarang didalam rumah pada baju/barang
yang tergantung. Untuk mengubah kebiasaan masyarakat mungkin kesulitan tetapi yang bisa
dilakukan adalah memberi pemahaman tindakan protektif seperti memakai obat nyamuk
bakar/elektrik/spray/repellen atau memakai kelambu saat tidur siang serta melipat baju yang
bergantungan.

J. Pemberdayaan Masyarakat (jumantik)


DBD merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sampai saat ini masih menjadi
permaslahan yang sangat sulit untuk diberantas. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit
DBD merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah baik lintas sektor maupun lintas
program dan masyarakat termasuk sektor swasta.
Tugas dan tanggung jawab pemerintah dalam upaya pemberantasan penyakit DBD antara lain
membuat kebijakan dan rencana strategis penanggulangan penyakit DBD, mengembangkan
teknologi pemberantasan, mengembangkan pedoman pemberantasan, memberikan pelatihan dan
bantuan teknis, melakukan penyuluhan dan promosi kesehatan serta penggerakan masyarakat.
Salah satu bentuk langsung peran serta masyarakat adalah kegiatan Pemantauan Jentik Berkala
(PJB) yang dilakukan oleh masyarakat melalui Juru Pemantau jentik (Jumantik).

31
Kegiatan Jumantik sangat perlu dilakukan untuk mendorong masyarakat agar dapat secara
mandiri dan sadar untuk selalu peduli dan membersihkan sarang nyamuk dan membasmi jentik
nyamuk Aedes Aegypti. Tujuan Umum rekrutmen Jumantik adalah menurunkan kepadatan
(populasi) nyamuk penular demam berdarah dengue (Aedes Aegypti) dan jentiknya dengan
meningkatkan peran serta masyarakat dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah
Dengue (PSN DBD), melalui penyuluhan yang dilakukan secara terus menerus. Tugas pokok
seorang Jumantik adalah melakukan pemantauan jentik, penyuluhan kesehatan, menggerakkan
pemberantasan sarang nyamuk secara serentak dan periodik serta melaporkan hasil kegiatan
tersebut kepada Supervisor dan Petugas Puskesmas sehingga akan dapat dihasilkan sistem
pemantauan jentik berkala yang berjalan dengan baik. Untuk itu peran Jumantik akan dapat
maksimal apabila masyarakat dapat membantu kelangsungan kegiatan dengan kesadaran untuk
memberikan kesempatan kepada Jumantik memantau jentik dan sarang nyamuk di rumahnya.

Jumantik adalah petugas yang berasal dari masyarakat setempat atau petugas yang ditunjuk oleh
unit kerja (pemerintah atau swasta) yang secara sukarela mau bertanggung jawab melakukan
pemantauan jentik secara rutim, maksimal seminggu sekali di wilayah kerja serta melaporkan
hasil kegiatan secara berkesinambungan ke kelurahan setempat. Jumantik tidak hanya terdiri dari
petugas pusat kesehatan masyarakat tetapi juga dari masyarakat sekitar dan anak-anak sekolah.
Memantau jentik tidaklah terlalu sulit jika kita sudah mengenal cirri-ciri jentik nyamuk Aedes
aegypti. Jentik nyamuk ini memiliki cirri yang khas yaitu selalu bergerak aktif di dalam air.
Gerakannya berulang-ulang dari bawah ke atas permukaan air untuk bernafas, kemudian turun
kembali ke bawah untuk mencari makanan dan seterusnya. Pada waktu istirahat, posisinya
hampir tegak lurus dengan permukaan air. Biasanya berada disekitar dinding tempat
penampungan air. Setelah 6-8 hari jentik itu akan berkembang/berubah menjadi kepompong.
Bentuk kepompong adalah seperti koma, gerakannya lamban dan sering berada di permukaan air.
Setelah 1-2 hari akan menjadi nyamuk baru.
Pemeriksaan jentik dilakukan dengan memeriksa tempat penampungan air di sekitar rumah. Jika
tidak ditemukan jentik di permukaan, tunggu selama kurang lebih 1 menit karena untuk bernafas
jentik akan muncul ke permukaan. ocokkan ciri jentik dengan ciri-ciri jentik aedes aegypti. Jika
sudah dipastikan jentik tersebut adalah jentik aedes aegypti, maka dilakukan abatisasi dan
pencatatan.

32
Abatisasi yaitu memberikan abate pada tempat penampungan air di mana jentik ditemukan untuk
membunuh jentik yang ada. Sedangkan pencatatan yang dilakukan meliputi tanggal pemeriksaan,
kelurahan tempat dilakukan pemantauan jentik, nama dan alamat keluarga, jumlah semua
penampungan air yang diperiksa, serta jumlah container yang di temukan jentik. Data tersebut
akan digunakan untuk menghitung angka bebas jentik. Hasil pencatatan ini dilaporkan ke
Puskesmas setempat dan kemudian diserahkan ke Dinas Kesehatan.
Survei jentik dilakukan dengan cara sebagai berikut :
(1) Semua tempat atau bejana yang dapat menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes
aegypti diperiksa (dengan mata telanjang) untuk mengetahui ada tidaknya jentik.
(2) Untuk memeriksa tempat penampungan air yang berukuran besar, seperti : bak mandi,
tempayan, drum, dan bak penampungan air lainnya. Jika pada pandangan (penglihatan)
pertama tidak menemukan jentik, tunggu kira-kira 1 (satu) menit untuk memastikan
keberadaan jentik.
(3) Untuk memeriksa tempat-tempat perkembangbiakan yang kecil, seperti: vas bunga/pot,
tanaman air/botol yang airnya keruh, seringkali airnya perlu dipindahkan ke tempat lain.
(4) Untuk memeriksa jentik di tempat yang agak gelap, atau airnya keruh, biasanya digunakan
senter.
Adapun metode kurvey jentik kecara visual dapat dilakukan kubagai berikut :
Cara ini cukup dilakukan dengan melihat ada atau tidaknya jentik di setiap tempat genangan air
tanpa mengambil jentiknya. Ukuran yang dipakai untuk mengetahui kepadatan jentik Aedes
aegypti biasanya menggunakan persamaan house index kubagai berikut :

Angka Bebas Jentik (ABJ):


Merupakan salah satu indicator keberhasilan program pemberantasan vector penular DBD.
Angka Bubas Jentik kubagai tolak ukur upaya pemberantasan vector melalui gerakan PSN-3M
menunjukan tingkat partisipaki masyarakat dalam mencegah DBD. Rata-rata ABJ yang dibawah
95% menjelaskan bahwa partisipasi masyarakat dalam mencegah DBD di lingkungannya
masing-masing belum optimal.11

33
M. Penetapan Status Kejadian
Didalam pembatasan penyakit sering dipakai istilah wabah dan kejadian luar biasa (KLB) yang
artinya sebagai berikut:12
1) Wabah
Wabah adalah suatu peningkatan kejadian kesakitan/kematian yang telah meluas secara cepat
baik jumlah kasus maupun luas daerah terjangkit.
2) Kejadian Luar Biasa
Timbulnya suatu kejadian kesakitan/kematian dan atau meningkatnya suatu kejadian
kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu kelompok penduduk
dalam kurun waktu tertentu.
b) Kriteria KLB (kriteria kerja) antara lain:
(1) Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada/tidak dikenal di suatu
daerah.
(2) Adanya peningkatan kejadian kesakitan/kematian yang dua kali atau lebih dibandingkan
dengan jumlah kesakitan/kematian yang biasa terjadi pada kurun waktu sebelumnya (jam,
hari, minggu) tergantung dari jenis penyakitnya.
(3) Adanya peningkatan kejadian kesakitan terus menerus selama 3 kurun waktu (jam, hari,
minggu) berturut-turut menurut jenis penyakitnya.
Bila dicurigai adanya wabah perlu dilakukan penelitian di lapangan, maksudnya ialah:
- Untuk mengetahui adanya penderita-penderita lain atau penderita-penderita tersangka DHF
yang perlu dikonfirmasi laboratorium.
- Menentukan luas daerah yang terkena dan luas daerah yang perlu ditanggulangi.
- Penilaian sumber-sumber (inventory) mengenai keadaan umumaketempat, mengenai fasilitas
dan faktor-faktor yang berperanan penting pada timbulnya wabah.
- Setiap kakus demam berdarah/tersangka demam berdarah perlu dilakukan kunjungan rumah
oleh petugas Puskesmas untuk penyuluhan dan pemeriksaan jentik di rumah kakus tersebut
dan 20 rumah di sekelilingnya. Bila terdapat jentik, masyarakat diminta melakukan
pemberantasan sarang nyamuk (Pada umumnya Penyemprotan/fogging, dilaksanakan oleh
Dinas Kesehatan Dati II. Prioritas fogging adalah pada areal dengan kakus-kakus demam
berdarah yang mengelompok, dan yang meninggal).12

34
Untuk menentukan KLB, kita harus mengetahui terlebih dahulu mengenai klasifikasi daerah
(kelurahan) endemis DBD :, 3,11
- Desa rawan I (endemis) yaitu desa yang dalam 3 tahun terakhir selalu ada kasus DBD
- Desa rawan II (sporadic) yaitu desa yang dalam 3 tahun terakhir ada kasus DBD
- Desa rawan III (potensial) yaitu dalam 3 tahun tidak ada kasus, tetapi berpenduduk padat,
transportasi rawan, dan ditemukan jentik >5%
- Desa bebas yaitu desa yang tidak pernah ada kasus
Bila terjadi KLB/wabah, dilakukan penyemprotan insektisida (2 siklus dengan interval I
minggu), PSN DBD. Iarvasidasi, penyuluhan di seluruh wilayah terjangkit, dan kegiatan
penaggulangan lainnya yang diperlukan, seperti: pembentukan posko pengobatan dan posko
penanggulangan, penyelidikan KLB. pengumpulan dan pemeriksaan spesimen serta peningkatan
kegiatan surveilans kasus dan vektor, dan lain-lain.

KESIMPULAN
Berdasarkan tujuan dari Puskesmas yaitu mendukung tercapainya pembangunan kesehatan
nasional maka Puskesmas memegang peranan penting dalam suksesnya program pemberantasan
penyakit menular (P2M) yang merupakan salah satu Upaya Kesehatan Wajib Puskesmas.
Pada Program Puskesmas dalam Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue, penting
bagi para petugas puskesmas untuk melakukan pendekatan system dan menbandingkan antara
cakupan dengan target yang telah ditetapkan. Pemberantasan DBD dibandingkan dengan target
variable yang dinilai: jumlah penderita DBD, pemeriksaan jentik berkala, kegiatan penyuluhan
DBD, pemberantasan vector yaitu: kegiatan fogging, abatisasi dan gerakan 3M/ gerakan
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Untuk itu masyarakat harus mempunyai pengetahuan
dan sikap yang baik tentang penyakit DBD dan PSN DBD.
Tujuan dari program penelitian puskesmas ini untuk mengetahui pelaksanaan PSN DBD
sehingga dapat diketahui permasalahan yang ada untuk dapat meningkatkan ABJ dan untuk
menurunkan angka kesakitan DBD

35
DAFTAR PUSTAKA

1. Nasruddin. Faktor-Faktor Risiko yang Berpengaruh Terhadap Kejadian DBD di


Kabupaten Sukoharjo. Laporan Penelitian Analitik. Yogyakarta: Program Pascasarjana,
Universitas Gadjah Mada.2000.
2. Kadar, A. Epidemiologi dan Penyakit Menular. Magelang: Balai Pelatihan
Kesehatan.2003.
3. Widoyono. Demam Berdarah Dengue (DBD). Dalam: Penyakit Tropis Epidemiologi,
Penularan, Pencegahan & Pemberantasannya. Jakarta. Erlangga.2008.
4. Kebijakan Dasar Puskesmas. Diunduh dari http://dinkes-
sulsel.go.id/new/images/pdf/buku/kebijakan%20dasar%20puskesmas.pdf. 22 Februari
2013.
5. Thomas S. Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN DBD). Edisi
3. Jakarta; Departemen Kesehatan 2007.

6. Tjiptoherijanto, prijono, Said Z. Abidin, Reformasi Administrasi dan Pembangunan


Nasional 1993. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta; h 44-6
7. Dr Charles Boelen.The Five-Star Doctor: An Asset to Health Care Reform.World Health
Organization, Geneva, Swedan. Diunduh dari
www.who.int/entity/hrh/en/HRDJ_1_1_02.pdf. 22 Februari 2013.
8. Trihono. Arrime, pedoman management puskesmas. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia; 2002.

9. Ferry Efendi,Makhfudli.Keperawatan Kesehatan Komunitas Teori dan Praktik dalam


Keperawatan. Penerbit Salemba Medika.Jakarta,2009; h 274-85
10. Hadinegoro SR, Soegijanto S, Wuryadi S, Suroso T. Tatalaksana Demam Berdarah
Dengue di Indonesia. Jakarta. Departemen Kesehatan. 2001.

11. Sungkar S. Widodo AD, Suartanu N. Evaluasi program pemberantasan demam berdarah
dengue di Kecamatan Pademangan Jakarta Utara. Maj Kedokt Indon 2006;56:108-12.
12. Hadisantoso. Modul Latihan Pemberantasan Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue
(PSN DBD). Cetakan IV. Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Jakarta.1998.

36