Anda di halaman 1dari 12

Paper Tutorial

Juni, 2014

Tutorial
Blok 16
Module 2
Gemuk Waktu Kecil Katanya Menggemaskan, Sekarang..?

Disusun Oleh:
Ni Komang Sri Selvia Ningsih
G 501 11 013

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2014
LEARNING OBJECTIVE:

1. Hubungan perbedaan gemuk dari kecil dan penyakit sekarang?


2. Yang membedakan antara obesitas anak dan dewasa? Definisi-komplikasi. Anak Vs dewasa?
3. Hubungan tekanan darah pda skenario dengan penyakit sekarang?
4. Diagnosis-preventif pada sknario (pentalaksanaa,komplikasi,preventip DM. Glongan obat2 DM?
5. Algoritma penanganan DM, pencegahan (diagnosis-klasifikasi-penanganan-pencegahan). Prinsip
diagnosis DM dan Obes?
6. Klasifiksi DM (selain yg tipe 1, 2)?
7. Mcam2 makro dan mikronutrien? Akibat jika kelebihan dan kekurangan?
8. Hubungan keluarga obes dengan kondisi sekarang?
9. Diet pada DM?
10. Penggunaan terapi insulin, contoh2 obat dan bgaimna pemberianya?
11. Monitoring pasien DM?
12. Kompliksi DM?
13. Efek DM pada seksual?
14. Eduksi untuk DM?
15. Tanda2 klinis vaskuler pada DM?
16. Menggambarkan keseimbangan nutrisi dan faktor2 yg mempengaruhi keseimbangan nutrisi
terhadap obes?
17. Peran hormon terhadap obes?
18. Peran diet seimbang terhadap obes?
19. Tanda2 malnutrisi?
20. Terapi dan komplikasi malnutrisi?
21. Terapi farmakologi dan exercase pada obes. Bagaimna terapi nutrisi/diet untk obes?

JAWABAN :

1. Obesitas pada masa anak berisiko tinggi menjadi obesitas dimasa dewasa dan berpotensi
mengalami penyakit metabolik dan penyakit degeneratif dikemudian hari. Profil lipid darah pada
anak obesitas menyerupai profil lipid pada penyakit kardiovaskuler dan anak yang obesitas
mempunyai risiko hipertensi lebih besar. Penelitian Syarif menemukan hipertensi pada 20 30%
anak yang obesitas, terutama obesitas tipe abdominal. Dengan demikian obesitas pada anak
memerlukan perhatian yang serius dan pananganan yang sedini mungkin, dengan melibatkan
peran serta orang tua.

2. Kelebihan berat badan pada anak dapat disebabkan oleh faktor keturunan. Terutama jika orang
tua mengindap penyakit diabetes, maka anak-anaknya berisiko untuk mengalami obesitas pada
usia muda, meskipun ketika balita mereka memiliki berat badan yang normal.
Selain faktor keturunan, faktor yang paling berperan sebagai penyebab obesitas pada
anak adalah pola makan, aktivitas fisik dan pola istirahat yang diterapkan pada si Kecil. Banyak
anak mengalami obesitas karena pola makan dengan porsi yang berlebihan dan pilihan makanan
yang terlalu banyak karbohidrat serta lemak, seperti:
Permen dan coklat.
Minuman yang mengandung banyak gula.
Makanan cepat saji (junk food).
Kue-kue yang mengandung banyak gula dan coklat.
Keju dan kacang-kacangan, dll.

Meskipun demikian, tidak berarti makanan seperti di atas tidak boleh diberikan, si Kecil masih
boleh mengkonsumsinya asalkan porsi dan frekuensinya tidak berlebihan. Porsi makan yang pas
untuk batita adalah:

dari porsi makan orang dewasa.


Minum jus yang terbuat dari 100% buah asli tidak lebih dari 180 ml per hari.
Jika ia masih lapar, berikan tambahan berupa sayuran dan buah-buahan yang kaya serat.
Biasakan membeli makanan selingan dalam ukuran sekali makan.
Jika harus membeli dalam ukuran besar, sajikan pada si kecil dalam wadah terpisah.
Susun jadwal makan yang teratur (3x makan besar, 2x makan selingan)

Selain mengatur pola makan, kebiasaan makan bersama sekeluarga juga membantu ibu mengawasi
asupan nutrisi yang dikonsumsi si Kecil. Biasakan juga si Kecil untuk selalu aktif dan memiliki
jadwal istirahat yang cukup. Anda mungkin berpikir bahwa tidur terlalu banyak dapat
meningkatkan risiko obesitas pada anak, tetapi ternyata riset membuktikan bahwa tidak cukup tidur
malah dapat meningkatkan risiko obesitas. Kurang istirahat dapat mengganggu metabolisme dan
membuat anak lebih suka untuk nyemil.

Ajak juga si Kecil untuk bermain bersama teman-temannya sehingga ia tetap aktif bergerak,
kurangi waktu di depan TV atau bermain games elektronik/komputer karena membuat anak malas
untuk aktif bergerak. Anak usia 1-5 tahun dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik selama total 3
jam sepanjang hari, setiap harinya. Lakukan aktivitas ini secara bertahap sepanjang hari, jangan
langsung selama 3 jam. Lalu, apa saja aktivitas fisik yang dianjurkan untuk anak usia 1-5 tahun?
Anak usia 1-3 tahun
Anak dianjurkan untuk aktif bergerak lewat permainan-permainan yang aktif, yang
didalamnya termasuk gerakan berlari, melompat, dan memanjat. Mereka juga mulai dapat
dilatih untuk melakukan gerakan motorik seperti menendang, menangkap, melempar,
memukul, dan berguling-guling. Anda juga dapat mengajak anak untuk menari bersama
agar dia tidak bosan.
Anak usia 3-5 tahun
Di usia ini, anak sudah bisa melakukan banyak aktivitas. Selain aktivitas-aktivitas seperti
anak usia 1-3 tahun di atas, Anda sudah mulai bisa mengajarinya beraktivitas fisik yang
melatih kestabilan dan kemampuan mengontrol gerakan seperti naik sepeda. Ajak si Kecil
ke taman bermain agar dia bisa beraktivitas fisik sekaligus belajar bersosialisasi dengan
teman-teman seusianya.

3. Hipertensi merupakan faktor utama dari harapan hidup dan komplikasi pada pasien diabetes dan
menentukan evaluasi dari nefropati dan retinopati penderita diabetes
khususnya. Adapun salah satu penyebab terjadinya hipertensi adalah resistensi
insulin/hiperinsulinemia. Kaitan hipertensi primer dengan resistensi insulin telah
diketahui sejak beberapa tahun silam, terutama pada pasien gemuk. Insulin merupakan zat
penekan karena meningkatkan kadar ketekolamin dan reabsorpsi natrium.
Hubungan antara diabetes tipe 2 dan hipertensi lebih kompleks dan tidak
berkaitan dengan nefropati. Pada pasien diabetes tipe 2, hipertensi seringkali
bagian dari sindrom metabolik dari resistensi insulin. Hipertensi mungkin muncul
selama beberapa tahun pada pasien ini sebelum diabetes mellitus muncul.
Hiperinsulinemia memperbesar patogenesis hipertensi dengan menurunkan
ekskresi sodium pada ginjal, aktivitas stimulasi dan tanggapan jaringan pada
sistem saraf simpatetik, dan meningkatkan resistensi sekeliling vaskular melalui
hipertropi vaskular. Penatalakasanaan yang giat dari hipertensi (<130/80 mmHg)
mengurangi perkembangan komplikasi makrovaskular dan mikrovaskular.

4. Prinsip edukasi pasien DM Penatalaksanaan DM dimulai dengan pendekata non farmakologis


yaitu berupa pemberian edukasi, perencanan makan/terapi nutrisi medik, kegiatan jasmani dan
penurunan berat badan bila didapat berat badan lebih atau obesitas. Bila dengan langkah-langkah
pendekatan non farmakologi tersebut belum mampu mencapai sasaran pengendalian DM belu
tercapai, maka dilanjutkan dengan penggunaan perlu penambahan terapi medikamentosa atau
intervensi farmakologi disamping tetap melakukan pengaturan makan dan aktivitas fisik yang
sesuai.
Pada beberapa kondisi saat kebutuhan insulin sangat meningkat akibat adanya infeksi,
stres akut (gagal jantung, iskemi jantung akut), tanda-tanda defisiensi insulin yang berat atau pada
kehamilan yang kendali glikeminya tidak terkontrol dengan perencanaan makan, maka
pengelolaan farmakologis umumnya memerlukan terapi insulin.

Macam-macam obat antihiperglikemik oral:


Biguanid Saat ini golongan biguanid yang banyak dipakai adalah metformin. Metformin
menurunkan glukosa darah melalui pengaruhnya tehadap kerja insulin dan menurunkan
produksi glukosa hati. Metformin meningkatkan pemakaian glukosa oleh sel usus
sehingga menurunkan glukosa darah dan juga diduga menghambat absorpsi glukosa di
usus sesudah asupan makan.
Glitazone
Glitazone merupakan regulator homeostasis lipid, diferensiasi adiposit, dan kerja insulin.
Sama seperti metfomin, glitazone tidak menstimulasi produksi insulin oleh sel beta
pankreas bahkan menurunkan konsentrasi insulin lebih besar daripada metformin.
Mengingat efeknya dalam metabolisme glukosa dan lipid, glitazone dapat meningkatkan
efisiensi dan respons sel beta pankreas dengan menurunkan glukotosisitas dan
lipotoksisitas.
Golongan Sekretagok Insulin Sekretagok insulin mempunyai efek hipoglikemik dengan
cara stimulasi sekresi insulin oleh sel beta pankreas.
Penghambat alfa glukosidase Obat ini memperlambat dari pemecahan dan penyerapan
karbohidrat kompleks dengan mengambat enzim alfa glukosidase yang terdapat pada
dinding enterosit yang terletak pada bagian proksimal usus halus. Secra klinis akan
terjadi hambatan pembentukan monosakarida intraluminal, menghambat dan
memperpanjang peningkatan glukosa darah postprandial dan mempengaruhi respons
insulin plasma. Hasil akhirnya adalah penurunan glukosa darah post prandial. Sebagai
monoterapi tidak akan merangsang sekresi insulin sehingga tidak dapat menyebabkan
hipoglikemia.
Golongan Incretin Terdapat 2 hormon incretin yang dikeluarkan oeh saluran cerna yaitu
glucose dependent insulinotropic polypeptide (GIP) dan glucagon-like peptide-1 (GLP-
1). Kedua hormon ini dikeluarkan sebagai respons terhadap asupan makanan sehingga
meningkatkan sekresi insulin.

5.
6. Klasifikasi Etiologi Diabetes Mellitus
1) Diabetes Melitus tipe 1 (destruksi sel beta, umumnya menjurus ke defisiensi insulin
absolut) :
Autoimun
Idiopatik (tidak diketahui penyebabnya)
2) Diabetes Melitus tipe 2 (bervariasi mulai dari yang terutama dominan resistensi insulin
disertai defisiensi insulin relatif sampai yang terutama defek sekresi insulin disertai
resistensi insulin)
3) Diabetes Melitus tipe lain :
a) Defek genetik fungsi sel beta :
Maturity Onset Diabetes of the Young (MODY) 1,2,3.
DNA mitokondria
b) Defek genetik kerja insulin
c) Penyakit endokrin pankreas :
Pancreatitis
tumor pankreas /pankreatektomi
pankreatopati fibrokalkulus
d) Endokrinopati :
Akromegali
sindrom Cushing
feokromositoma
hipertiroidisme
e) Karena obat/zat kimia :
vacor, pentamidin, asam nikotinat
glukokortikoid, hormon tiroid
tiazid, dilantin, interferon alfa dan lain-lain
f) Infeksi : Rubella kongenital, Cytomegalovirus (CMV)
g) Sebab imunologi yang jarang : antibodi anti insulin
h) Sindrom genetik lain yang berkaitan dengan DM :sindrom Down, sindrom
Kleinfelter, sindrom Turner, dan lain-lain.
4) Diabetes Melitus Gestasional (DMG)
7. Kebutuhan zat gizi
a) Protein
Menurut konsensus pengelolaan diabetes di Indonesia tahun 2006, kebutuhan protein
untuk penyandang diabetes 10-20% energi. Perlu penurunan asupan protein menjadi
0,8 g/kgBB perhari atau 10% dari kebutuhan energi dengan timbulnya nefropati pada
orang dewasa dan 65% hendaknya bernilai biologik tinggi.
b) Total lemak
Asupan lemak dianjurkan <7% energi dari lemak jenuh dantidak lebih dari 10% energi
dari lemak tidak jenuh ganda, sedangkan selebihnya dari lemak tidak jenuh
tunggal. Anjuran asupan lemak di Indonesia adalah 20-25% energi.
c) Lemak dan kolesterol
Tujuan utama pengurangan konsumsi lemak jenuh dan kolesterol adalah untuk
menurunkan risiko penyakit kardiovaskuler. Oleh karena itu <7% asupan energi sehari
seharusnya dari lemak jenuh dan asupan kolesterol makanan hendaknya dibatasi tidak
lebih dari 300 mg perhari.
d) Karbohidrat dan pemanis
Anjuran konsumsi karbohidrat untuk orang dengan diabetes di Indonesia adalah 45-
65%.
(1) Sukrosa
Bukti ilmiah menunjukkan bahwa penggunaan sukrosa sebagai bagian dari
perencanaan makan tidak memperburuk kontrol glukosa darah pada individu diabetes
tipe 1 dan 2.
(2) Pemanis
Fruktosa menaikkan glukosa plasma lebih kecil daripada sukrosa dan kebanyakan
karbohidrat jenis tepung-tepungan.
e) Serat
Rekomendasi asupan serat untuk orang dengan diabetes sama dengan untuk orang yang
tidak diabetes yaitu dianjurkan mengkonsumsi 20-35 g serat dari berbagai sumber
bahan makanan.
f) Natrium
Anjuran asupan untuk orang dengan diabetes sama dengan penduduk biasa yaitu tidak
lebih dari 3000 mg, sedangkan bagi yang menderita hipertensi ringan sampai sedang,
dianjurkan 2400 mg natrium perhari.
g) Alkohol
Dalam keadaan normal, kadar glukosa darah tidak terpengaruh oleh penggunaan
alkohol dalam jumlah sedang apabila diabetes terkendali dengan baik.
h) Mikronutrien : vitamin dan mineral
Apabila asupan gizi cukup, biasanya tidak perlu menambah suplementasi vitamin dan
mineral.
8. Faktor Genetik .
Parental fatness merupakan faktor genetik yang berperanan besar. Bila kedua orang tua
obesitas, 80% anaknya menjadi obesitas; bila salah satu orang tua obesitas, kejadian obesitas
menjadi 40% dan bila kedua orang tua tidak obesitas, prevalensi menjadi 14%.5 Hipotesis Barker
menyatakan bahwa perubahan lingkungan nutrisi intrauterin menyebabkan gangguan
perkembangan organ-organ tubuh terutama kerentanan terhadap pemrograman janin yang
dikemudian hari bersama-sama dengan pengaruh diet dan stress lingkungan merupakan
predisposisi timbulnya berbagai penyakit dikemudian hari. Mekanisme kerentanan genetik
terhadap obesitas melalui efek pada resting metabolic rate, thermogenesis non exercise,
kecepatan oksidasi lipid dan kontrol nafsu makan yang jelek. Dengan demikian kerentanan
terhadap obesitas ditentukan secara genetik sedang lingkungan menentukan ekspresi fenotipe.
9. Kld;
10. Macam-macam sediaan insulin:
1) Insulin kerja singkat
Sediaan ini terdiri dari insulin tunggal biasa, mulai kerjanya baru sesudah setengah jam
(injeksi subkutan), contoh: Actrapid, Velosulin, Humulin Regular.
2) Insulin kerja panjang (long-acting)
Sediaan insulin ini bekerja dengan cara mempersulit daya larutnya di cairan jaringan dan
menghambat resorpsinya dari tempat injeksi ke dalam darah. Metoda yang digunakan
adalah mencampurkan insulin dengan protein atau seng atau mengubah bentuk fisiknya,
contoh: Monotard Human.
3) Insulin kerja sedang (medium-acting)
Sediaan insulin ini jangka waktu efeknya dapat divariasikan dengan mencampurkan
beberapa bentuk insulin dengan lama kerja berlainan, contoh: Mixtard 30 HM.
Secara keseluruhan sebanyak 20-25% pasien DM tipe 2 kemudian akan memerlukan
insulin untuk mengendalikan kadar glukosa darahnya. Untuk pasien yang sudah tidak
dapat dikendalikan kadar glukosa darahnya dengan kombinasi metformin dan
sulfonilurea, langkah selanjutnya yang mungkin diberikan adalah insulin.
11. HASIL YANG DIINGINKAN TERAPI GIZI MEDIS (TGM) UNTUK PASIEN DM
TIPE 2

a. Kontrol glikemik
Terkendali Baik Sedang
Puasa < 110
(mg/dl) 110 125
2 jam PP 80 145
(mg/dl) 144 179
AIC (%) < 6,5 8
6,5

1) Sesudah 4-6 minggu kunjungan I :


Kecenderungan turun (-10%) atau sudah sampai sasaran
Bila tidak tercapai anjurkan perubahan terapi gizi atau medis
2) Hasil yang diharapkan TGM yang berkesinambungan :
Mempertahankan pencapaian sasaran

b. Lipid

Terkendali Baik Sedang


Kolesterol <200 200-
total <100 239
(mg/dl) Pria : 100-
LDL >40 129
(mg/dl) Wanita
HDL : >50
(mg/dl) <150 150-
199
Trigliserida
(mg/dl)

Sesudah 4-6 minggu dari kunjungan I :


1) Bila kolesterol meningkat, turunkan 6-12 %
2) Bila kadar kolesterol tidak mencapai sasaran sesudah 4-6 bulan TGM, beritahu
dokter

c. Tekanan Darah
1) Tujuan : 130/80
2) Bila tidak ada respon terhadap perubahan gaya hidup, beritahu dokter
d. Berat badan
1) Tujuan : pertahankan berat badan yang memadai
Baik Sedang
IMT <23 23-25
18,5-

2) Penurunan berat badaan jangka pendek 0,2 0,5 kg/minggu


3) Penurunan berat badaan jangka lama 2,5-9 kg
4) Hasil setelah 4-6 minggu dari kunjungan I : penurunan berat badan 1,5-3 kg
5) Hasil setelah TGM yang berkesinambungan : penurunan berat badan 4,5 9 kg

12. Komplikasi-komplikasi yang terjadi pada penderita diabetes mellitusdapat terbagi menjadi dua
kategori mayor, yaitu :
Komplikasi metabolic akut
Komplikasi metabolic diabetes disebabkan oleh perubahan yangrelative akut dari konsentrasi
glukosa plasma. Komplikasi metabolicyang paling serius pada diabetes tipe 1 adalah diabetic
ketoacidosis(DKA). Hiperglikemia, hiperosmolar, koma nonketotik (HHNK) juga merupakan
komplikasi metabolic akut dari diabetes yang sering terjadi pada penderita diabetes tipe 2 yang lebih tua.
Hiperglikemia menyebabkan hiperosmolaritas, diuresis osmotik, dan dehidrasi berat.Pasien
dapat menjadi tidak sadar dan meninggal bila keadaan ini tidak segera ditangani. Komplikasi
metabolic lain yang sering terjadi padadiabetes adalah hipoglikemia sebagai akibat dari syok insulin
yang dikarenakan pemberian insulin yang berlebih.
Komplikasi vaskular jangka panjangKomplikasi vaskular jangka panjang dari diabetes
melibatkanpembuluh-pembuluh darah kecil (mikroangiopati) dan pembuluh- pembuluh darah
sedang dan besar (makroangiopati). Mikroangiopati merupakan lesi spesifik diabetes yang menyerang
kapiler dan arteriola retina (retinopati diabetic) dan saraf-saraf perifer (neuropati diabetic ),otot-
otot serta kulit. Komplikasi makrovaskular terutama terjdi akibat aterosklerosis.
Komplikasi makrovaskular ikut berperan dan menyebabkan gangguan aliran darah, penyulit
komplikasi jangka panjang, dan peningkatan mortalitas.
13. Disfungsi Ereksi (Impotensi)
Masalah seksual yang paling umum pada pria dengan diabetes adalahdifusi ereksi
(atau lebih dikenal dengan impotensi). Difusi ereksi adalah ketidakmampuan penis
untuk ereksi atau menegang dalam waktu lama atau mungkin tidak sama sekali
saat melakukan hubungan seksual. Disfungsi ereksi pada pria dengan diabetes
dapat disebabkan oleh:
kerusakan saraf atau pembuluh darah yang menuju ke penis
kontrol gula darah yang buruk

Kerusakan Saraf dan Pembuluh Darah : Kerusakan saraf, atau neuropati, bisa
terjadi karena kadar gula darah tinggi sehingga dapat merusak pembuluh darah
yang membawa oksigen dan nutrisi ke saraf. Jika saraf yang rusak mereka tidak
mampu mengirimkan sinyal dengan benar.

Ejakulasi Retrograd

Ejakulasi retrograd adalah suatu kondisi dimana air mani mundur ke dalam
kandung kemih bukan keluar melalui ujung penis.Pada pria dengan diabetes,
ejakulasi retrograd dapat disebabkan oleh kerusakan pada otot sfingter pada
leher kandung kemih. Otot sfingter sendiri adalah otot-otot melingkar yang
membantu menjaga urin agar tidak bocor dengan menutup erat-erat seperti
sebuah gelang karet di sekitar pembukaan kandung kemih. Kadar glukosa darah
yang meningkat dapat merusak otot sfingter dan saraf yang mengendalikannya,
yang berarti bahwa sfingter tidak menutup dengan benar dan memungkinkan air
mani kembali ke dalam kandung kemih.

Defisiensi Testosteron

Defisiensi testosteron adalah penurunan hormon testosteron. Kurangnya


testosteron dapat menyebabkan penurunan libido pada pria dewasa. Pria dengan
diabetes tipe 2 beresiko kekurangan testosteron, terutama jika mereka juga
kelebihan berat badan. Menurunkan berat badan, mengontrol kadar glukosa
darah dan berolahraga secara teratur dapat membantu mencegah dan mengobati
defisiensi testosteron pada pria dengan diabetes.

14. Edukasi
Diabetes Tipe 2 biasa terjadi pada usia dewasa, suatu periode dimana telah terbentuk kokoh pola
gaya hidup dan perilaku. Pengelolaan mandiri diabetes secara optimal membutuhkan partisipasi
aktif pasien dalam merubah perilaku yang tidak sehat. Tim kesehatan harus mendampingi pasien
dalam perubahan perilaku tersebut, yang berlangsung seumur hidup. Keberhasilan dalam
mencapai perubahan perilaku, membutuhkan edukasi, pengembangan keterampilan (skill), dan
motivasi yang berkenaan dengan:

makan makanan sehat;


kegiatan jasmani secara teratur;
menggunakan obat diabetes secara aman, teratur, dan pada waktu-waktu yang spesifik;
melakukan pemantauan glukosa darah mandiri dan memanfaatkan berbagai informasi yang ada;
melakukan perawatan kaki secara berkala;
mengelola diabetes dengan tepat;
mengembangkan sistem pendukung dan mengajarkan keterampilan;
dapat mempergunakan fasilitas perawatan kesehatan.
Edukasi (penyuluhan) secara individual dan pendekatan berdasarkan penyelesaian masalah
merupakan inti perubahan perilaku yang berhasil. Perubahan perilaku hampir sama dengan proses
edukasi dan memerlukan penilaian, perencanaan, implementasi, dokumentasi, dan evaluasi.

15. Faktor Risiko Penyakit Kardiovaskuler


Faktor Risiko ini meliputi peningkatan: kadar insulin, trigliserida, LDL-kolesterol dan tekanan
darah sistolik serta penurunan kadar HDL- kolesterol. Risiko penyakit Kardiovaskuler di usia
dewasa pada anak obesitas sebesar 1,7 - 2,6. IMT mempunyai hubungan yang kuat (r = 0,5)
dengan kadar insulin. Anak dengan IMT > persentile ke 99, 40% diantaranya mempunyai kadar
insulin tinggi, 15% mempunyai kadar HDL-kolesterol yang rendah dan 33% dengan kadar
trigliserida tinggi.15 Anak obesitas cenderung mengalami peningkatan tekanan darah dan denyut
jantung, sekitar 20-30% menderita hipertensi.

16. Faktor nutrisional.


Peranan faktor nutrisi dimulai sejak dalam kandungan dimana jumlah lemak tubuh dan
pertumbuhan bayi dipengaruhi berat badan ibu. Kenaikan berat badan dan lemak anak
dipengaruhi oleh : waktu pertama kali mendapat makanan padat, asupan tinggi kalori dari
karbohidrat dan lemak5 serta kebiasaan mengkonsumsi makanan yang mengandung energi
tinggi.
Penelitian di Amerika dan Finlandia menunjukkan bahwa kelompok dengan asupan tinggi
lemak mempunyai risiko peningkatan berat badan lebih besar dibanding kelompok dengan
asupan rendah lemak dengan OR 1.7. Penelitian lain menunjukkan peningkatan konsumsi daging
akan meningkatkan risiko obesitas sebesar 1,46 kali. Keadaan ini disebabkan karena makanan
berlemak mempunyai energy density lebih besar dan lebih tidak mengenyangkan serta
mempunyai efek termogenesis yang lebih kecil dibandingkan makanan yang banyak
mengandung protein dan karbohidrat. Makanan berlemak juga mempunyai rasa yang lezat
sehingga akan meningkatkan selera makan yang akhirnya terjadi konsumsi yang berlebihan.
Selain itu kapasitas penyimpanan makronutrien juga menentukan keseimbangan energi. Protein
mempunyai kapasitas penyimpanan sebagai protein tubuh dalam jumlah terbatas dan
metabolisme asam amino di regulasi dengan ketat, sehingga bila intake protein berlebihan dapat
dipastikan akan di oksidasi; sedang karbohidrat mempunyai kapasitas penyimpanan dalam
bentuk glikogen hanya dalam jumlah kecil. Asupan dan oksidasi karbohidrat di regulasi sangat
ketat dan cepat, sehingga perubahan oksidasi karbohidrat mengakibatkan perubahan asupan
karbohidrat. Bila cadangan lemak tubuh rendah dan asupan karbohidrat berlebihan, maka
kelebihan energi dari karbohidrat sekitar 60-80% disimpan dalam bentuk lemak tubuh. Lemak
mempunyai kapasitas penyimpanan yang tidak terbatas. Kelebihan asupan lemak tidak diiringi
peningkatan oksidasi lemak sehingga sekitar 96% lemak akan disimpan dalam jaringan lemak.

17. Faktor hormonal Pada perempuan menopause dapat terjadi penurunan fungsi hormon
thyroid dan kemampuan menggunakan energi berkurang dengan menurunnya fungsi hormon ini.
Hal tersebut terlihat dengan menurunnya metabolisme tubuh sehingga menyebabkan
Kegemukan

18. Peran diet seimbang


Memahami BMR (basal metabolic rate)
Prinsip metabolisme komponen diet
Keseimbangan energi dan kebutuhan nutrisi Obesitas merupakan suatu kelainan
kompleks pengaturan nafsu makan dan metabolisme energi yang dikendalikan oleh
beberapa faktor biologik spesifik. Faktor genetik diketahui sangat berpengaruh bagi
perkembangan penyakit ini. Secara fisiologis, obesitas didefinisikan sebagai suatu
keadaan dengan akumulasi lemak yang tidak normal atau berlebihan dijaringan adiposa
sehingga dapat mengganggu kesehatan. Keadaan obesitas ini, terutama obesitas sentra,
meningkatkan resiko penyakit kardiovaskular karena keterkaitannya dengan sindrom
metabolik atau sindrom resistensi insulin yang terdiri dari resistensi insulin/
hiperinsulinemia, intoleransi glukosa/ diabetes melitus, dislipidemia, hiperuresemia,
gangguan fibrinolisis, hiperfibrinogenemia dan hipertensi. Mengukur lemak tubuh secara
langsung sangat sulit dan sebagai pengukur pengganti dipakai body mass index (BMI)
atau indeks massa tubuh (IMT) untuk menentukan berat badan lebih dan obesitas pada
orang dewasa.
IMT merupakan indikator yang paling sering digunakan dan praktis untuk mengukur
tingkat populasi berat badan lebih dan obes pada orang dewasa. Untuk penelitian
epidemiologi digunakan IMT atau indeks Quetlet, yaitu berat badan dalam kg dibagi
tinggi dalam m2. Saat ini IMT merupakan indikator paling bermanfaat untuk menetukan
berat badan lebih atau obes. Orang-orang yang lebih besar-tinggi dan gemuk, akan lebih
berat dari orang yang lebih kecil.
19.
20. PENATALAKSANAAN GIZI BURUK
Mencegah dan mengatasi hipoglikemi. Hipoglikemi jika kadar gula darah < 54 mg/dl
atau ditandai suhu tubuh sangat rendah, kesadaran menurun, lemah, kejang, keluar
keringat dingin, pucat. Pengelolaan berikan segera cairan gula: 50 ml dekstrosa 10% atau
gula 1 sendok teh dicampurkan ke air 3,5 sendok makan, penderita diberi makan tiap 2
jam, antibotik, jika penderita tidak sadar, lewat sonde. Dilakukan evaluasi setelah 30
menit, jika masih dijumpai tanda-tanda hipoglikemi maka ulang pemberian cairan gula
tersebut.
Mencegah dan mengatasi hipotermi. Hipotermi jika suhu tubuh anak < 35oC , aksila 3
menit atau rectal 1 menit. Pengelolaannya ruang penderita harus hangat, tidak ada lubang
angin dan bersih, sering diberi makan, anak diberi pakaian, tutup kepala, sarung tangan
dan kaos kaki, anak dihangatkan dalam dekapan ibunya (metode kanguru), cepat ganti
popok basah, antibiotik. Dilakukan pengukuran suhu rectal tiap 2 jam sampai suhu >
36,5oC, pastikan anak memakai pakaian, tutup kepala, kaos kaki.
Mencegah dan mengatasi dehidrasi. Pengelolaannya diberikan cairan Resomal
(Rehydration Solution for Malnutrition) 70-100 ml/kgBB dalam 12 jam atau mulai
dengan 5 ml/kgBB setiap 30 menit secara oral dalam 2 jam pertama. Selanjutnya 5-10
ml/kgBB untuk 4-10 jam berikutnya, jumlahnya disesuaikan seberapa banyak anak mau,
feses yang keluar dan muntah. Penggantian jumlah Resomal pada jam 4,6,8,10 dengan
F75 jika rehidrasi masih dilanjutkan pada saat itu. Monitoring tanda vital, diuresis,
frekuensi berak dan muntah, pemberian cairan dievaluasi jika RR dan nadi menjadi cepat,
tekanan vena jugularis meningkat, jika anak dengan edem, oedemnya bertambah.
Koreksi gangguan elektrolit. Berikan ekstra Kalium 150-300mg/kgBB/hari, ekstra Mg
0,4-0,6 mmol/kgBB/hari dan rehidrasi cairan rendah garam (Resomal)
Mencegah dan mengatasi infeksi. Antibiotik (bila tidak komplikasi : kotrimoksazol 5
hari, bila ada komplikasi amoksisilin 15 mg/kgBB tiap 8 jam 5 hari. Monitoring
komplikasi infeksi ( hipoglikemia atau hipotermi) Mulai pemberian makan. Segera
setelah dirawat, untuk mencegah hipoglikemi, hipotermidan mencukupi kebutuhan energi
dan protein. Prinsip pemberian makanan fase stabilisasi yaitu porsi kecil, sering, secara
oral atau sonde, energi 100 kkal/kgBB/hari, protein 1-1,5 g/kgBB/hari, cairan 130
ml/kgBB/hari untuk penderita marasmus, marasmik kwashiorkor atau kwashiorkor
dengan edem derajat 1,2, jika derajat 3 berikan cairan 100 ml/kgBB/hari.