Anda di halaman 1dari 10

ABSTRAK

Istilah kriging diambil dari nama seorang ahli, yaitu D.G. Krige, yang pertama kali

menggunakan korelasi spasial dan estimator yang tidak bias. Istilah kriging diperkenalkan oleh

G. Matheron untuk menonjolkan metode khusus dalam moving average terbobot (weighted

moving average) yang meminimalkan varians dari hasil estimasi. Jadi metode kriging Kriging

sebagai metode interpolasi membutuhkan proses inversi matriks korelasi antar sample. Secara

empiris, observasi yang berada jauh dari titik interpolasi cenderung memiliki bobot nol atau

negative (screen effect).

Metode kriging menghasilkan estimator tidak bias terbaik (the best unbiased estimator,

BLUE) dari variabel yang ingin diketahui nilainya. Sampel data dalam geosains biasanya

diambil di tempat yang tidak beraturan. Komputer akan bekerja hanya dengan data digital yang

teratur (misal kalau akan menggambar konturnya). Untuk itu perlu dibuat jejala (grid) yang

teratur, dimana sampel data harus ditempatkan untuk bisa diproses oleh komputer.

Masalahnya adalah bagaimana memperkirakan (mengestimasikan) sampel data pada titik-titik

grid yang ada dari data sampel yang tersebar secara tidak teratur. Banyak cara untuk

mengestimasi nilai data di titik grid tersebut, yang pada umumnya menggunakan korelasi spasial,

antara lain adalah kriging. Bila di semua titik telah diestimasi nilai datanya (teratur), berarti data

untuk automatic contouring dengan computer sudah siap pakai.

1
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Cadangan (reserves) adalah bagian dari sumber daya terindentifikasi dari suatu komoditas

mineral ekonomi yang dapat diperoleh dan tidak bertentangan dengan ketentuan hukum atau

kebijakan. Cadangan merupakan bagian dari sumber daya yang berdasarkan kelayakan ekonomi

dan ditinjau dari berbagai aspek, bahan galian tersebut dapat ditambang. Aspek yang

menentukan kelayakan suatu bahan tambang adalah ekonomi, teknologi, (penambangan dan

pengolahan) pemasaran, lingkungan, social, peratutan perundang-undangan dan kebijaksanaan

pemerintah. Adapun cadangan (reserves) dikelompokkan menjadi kategori yaitu

Klasifikasi cadangan (reserves) yaitu :

1. Cadangan hipotetik adalah cadngan suatu bahan galian yang bersifat deduktif / dugaan dari

kemungkinan factor-faktor geologi yang mengontrolnya atau dugaan dari hasil penyelidikan

awal. Tingkat keyakinan cadangan sebesar (10-15)% dari total cadangan yang diduga.

2. Cadangan tereka adalah cadangan suatu bahan galian yang perhitungannya didasarkan atas

tinjau lapangan dengan tingkat keyakinan cadangan (20-30) % dari total cadangan yang ada.

3. Cadangan terindikasi adalah suatu bahan galian yang perhitungannya didasarkan atas

penilitian lapangan dan hasil analisa laboratorium dengan tingkat keyakinan cadangan (50-60) %

dari total cadangan terindikasi.

1.2. Rumusan Masalah

Adapun dalam pembuatan makalah dikemukakan beberapa masalah yang dihadapi dalam

menghitung jumlah cadangan batu bara dengan menggunkan metode krigging antara lain:

2
1. Bagaimana rumus metode krigging ?

2. Bagaimana cara menggunakan metode krigging pada batu bara?

1.3. Batasan Masalah

Dalam penyusunan makalah ini hanya dibatasi pada penggunaan metode krigging genesa

batu bara dan paragenesis batubara.

1.4. Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah agar mahasiswa mampu mengindentifikasi serta

dapan menggunakan metode-metode perhitungan cadangan yang cocok untuk masing-masing

tipe endapan.

3
BAB II PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Metode Krigging

Kriging yaitu suatu teknik perhitungan untuk estimasi atau simulasi dari suatu variabel

terregional (regionalized variable) yang memakai pendekatan bahwa data yang dianalisis

dianggap sebagai suatu realisasi dari suatu variabel acak (random variable), dan keseluruhan

variable acak dalam daerah yang dianalisis tersebut akan membentuk suatu fungsi acak dengan

menggunakan model struktural variogram atau kovariogram (Dr. Ir. Rukmana Nugraha Adhi,

1998).

Kriging adalah penaksiran geostatistik linier tak bias yang paling bagus untuk mengestimasi

kadar blok karena menghasilkan varians estimasi minimum BLUE (Best Linier Unbiased

Estimator). (Dr. Ir. Totok Darijanto, 2003). Kriging diambil dari nama seorang pakar geostatistik

dari Afrika Selatan yaitu D.G Krige yang telah banyak memikirkan hal tersebut sejak tahun

50an.

Secara sederhana, kriging menghasilkan bobot sesuai dengan geometri dan sifat

mineralisasi yang dinyatakan dalam variogram. Bobot yang diperoleh dari persamaan kriging

tidak ada hubungannya secara langsung dengan kadar conto yang digunakan dalam penaksiran.

Bobot ini hanya tergantung pada konfigurasi conto di sekitar blok serta model variogramnya.

Perhitungan dengan metoda kriging ini kadang-kadang terlalu kompleks untuk suatu

komoditi tertentu. Hal ini sangat bermanfaat jika dilakukan pada penentuan cadangan-cadangan

yang mineable dengan kadar-kadar di atas cut off grade.

4
Secara sederhana, kriging menghasilkan bobot sesuai dengan geometri dan sifat

mineralisasi yang dinyatakan dalam variogram. Bobot yang diperoleh dari persamaan kriging

tidak ada hubungannya secara langsung dengan kadar conto yang digunakan dalam penaksiran.

Bobot ini hanya tergantung pada konfigurasi conto di sekitar blok serta model variogramnya.

Nilai estimasi (1) dan variabel estimasi kriging (2) yang ditentukan dengan metoda

geostatistik untuk suatu variabel terregional disetiap support V adalah sebagai berikut :

a). Blok Teratur

b). Blok Tidak Teratur

Perhitungan dengan metoda kriging ini kadang-kadang terlalu kompleks untuk suatu

komoditi tertentu. Hal ini sangat bermanfaat jika dilakukan pada penentuan cadangan-cadangan

yang mineable dengan kadar-kadar di atas cut off grade.

Sebagai conto hubungan antara analisa conto dengan harga analisa blok bijih (harga sebenarnya)

yang terpencar membentuk elips kemudian tarik garis regsresi melalui titik 0 dan titik (},~),

selanjutnya bagi elips tersebut dengan cut off grade zc = Zc = 5 % menjadi empat bagian.

Gambar Pencaran data antara kadar conto vs kadar blok yang memperlihatkan kesalahan

5
Penambangan

Daerah 1 : Semua blok dengan kadar > cog yang sesuai dengan kadar conto > cog

ditambang

Daerah 2 : Semua blok dengan kadar < cog yang sesuai dengan kadar conto < cog

ditambang

Daerah 3 : Semua blok dengan kadar < cog yang sesuai dengan kadar conto > cog

ditambang

Daerah 4 : Semua blok dengan kadar > cog yang sesuai dengan kadar conto < cog ditambang

Jika garis regresi B-B yang menunjukkan hubungan antara conto dan kadar blok diplot,

maka blok-blok dengan kadar 5% juga akan ditambang walaupun kadar conto kadar 3,5%

(Gambar.3). Daerah 4 pada Gambar 1 yang baik tertambang karena kesalahan informasi menjadi

kecil, sementara itu daerah 3 yang ditambang walaupun berkadar rendah menjadi lebih besar,

walaupun demikian secara keseluruhan daerah dengan blok-blok yang mempunyai kadar > cut

off grade (5%) dan ditambang menjadi lebih besar.

Berdasarkan analisis variogram, Matheron memberikan koreksi perkiraan kadar pada suatu

blok yang tidak hanya dipengaruhi oleh conto di dalam blok saja, tetapi juga pada conto-conto

disekitarnya.

Melalui koreksi ini bentuk elips akan lebih kurus/sempit dengan batas-batasnya mendeteksi

garis regresi yang membentuk sudut 450. Jumlah conto dan pasangan bloknya pada daerah 3 dan

daerah 4 yang menyatakan kadar rendah ditambang atau kadar tinggi tidak ditambang akan

berkurang.

6
2.2. Paragenesis Pembentukan Batubara

Hampir seluruh pembentuk batubara berasal dari tumbuhan. Jenis-jenis tumbuhan

pembentuk batubara dan umurnya menurut Diessel (1981) adalah sebagai berikut:

1. Alga dari Zaman Pre-kambrium hingga Ordovisium dan bersel tunggal. Sangat sedikit

endapan batubara dari perioda ini.

2. Silofita, dari Zaman Silur hingga Devon Tengah, merupakan turunan dari alga. Sedikit

endapan batubara dari perioda ini.

3. Pteridofita, umur Devon Atas hingga KArbon Atas. Materi utama pembentuk batubara

berumur Karbon di Eropa dan Amerika Utara. Tetumbuhan tanpa bunga dan biji, berkembang

biak dengan spora dan tumbuh di iklim hangat.

4. Gimnospermae, kurun waktu mulai dari Zaman Permian hingga Kapur Tengah. Tumbuhan

heteroseksual, biji terbungkus dalam buah, semisal pinus, mengandung kadar getah (resin)

tinggi. Jenis Pteridospermae seperti gangamopteris dan glossopteris adalah penyusun utama

batubara Permian seperti di Australia, India dan Afrika.

5. Angiospermae, dari Zaman Kapur Atas hingga kini. Jenis tumbuhan modern, buah yang

menutupi biji, jantan dan betina dalam satu bunga, kurang bergetah dibanding gimnospermae

sehingga, secara umum kurang dapat terawetkan.

Berdasarkan tingkat proses pembentukannya yang dikontrol oleh tekanan, panas dan

waktu, batubara umumnya dibagi dalam lima kelas: antrasit, bituminus, sub-bituminus, lignit dan

gambut.

7
1. Antrasit adalah kelas batubara tertinggi, dengan warna hitam berkilauan (luster) metalik,

mengandung antara 86% - 98% unsur karbon (C) dengan kadar air kurang dari 8%.

2. Bituminus mengandung 68 - 86% unsur karbon (C) dan berkadar air 8-10% dari beratnya.

Kelas batubara yang paling banyak ditambang di Australia.

3. Sub-bituminus mengandung sedikit karbon dan banyak air, dan oleh karenanya menjadi

sumber panas yang kurang efisien dibandingkan dengan bituminus.

4. Lignit atau batubara coklat adalah batubara yang sangat lunak yang mengandung air 35-75%

dari beratnya.

5. Gambut, berpori dan memiliki kadar air di atas 75% serta nilai kalori yang paling rendah.

2.3. Genesa Endapan Batubara

Batubara adalah mineral organik yang dapat terbakar, terbentuk dari sisa tumbuhan purba

yang mengendap yang selanjutnya berubah bentuk akibat proses fisika dan kimia yang

berlangsung selama jutaan tahun. Oleh karena itu, batubara termasuk dalam kategori bahan bakar

fosil. Adapun proses yang mengubah tumbuhan menjadi batubara tadi disebut dengan

pembatubaraan (coalification).

Faktor tumbuhan purba yang jenisnya berbeda-beda sesuai dengan jaman geologi dan lokasi

tempat tumbuh dan berkembangnya, ditambah dengan lokasi pengendapan (sedimentasi)

tumbuhan, pengaruh tekanan batuan dan panas bumi serta perubahan geologi yang berlangsung

kemudian, akan menyebabkan terbentuknya batubara yang jenisnya bermacam-macam. Oleh

karena itu, karakteristik batubara berbeda-beda sesuai dengan lapangan batubara (coal field) dan

lapisannya (coal seam).

8
Pembentukan batubara dimulai sejak periode pembentukan Karbon (Carboniferous Period)-

dikenal sebagai zaman batu bara pertama yang berlangsung antara 360 juta sampai 290 juta

tahun yang lalu. Kualitas dari setiap endapan batu bara ditentukan oleh suhu dan tekanan serta

lama waktu pembentukan, yang disebut sebagai 'maturitas organik'. Proses awalnya, endapan

tumbuhan berubah menjadi gambut (peat), yang selanjutnya berubah menjadi batu bara muda

(lignite) atau disebut pula batu bara coklat (brown coal). Batubara muda adalah batu bara dengan

jenis maturitas organic rendah.

Setelah mendapat pengaruh suhu dan tekanan yang terus menerus selama jutaan tahun, maka

batu bara muda akan mengalami perubahan yang secara bertahap menambah maturitas

organiknya dan mengubah batubara muda menjadi batu bara sub-bituminus (sub-bituminous).

Perubahan kimiawi dan fisika terus berlangsung hingga batu bara menjadi lebih keras dan

warnanya lebih hitam sehingga membentuk bituminus (bituminous) atau antrasit (anthracite).

Dalam kondisi yang tepat, peningkatan maturitas organik yang semakin tinggi terus berlangsung

hingga membentuk antrasit.

Dalam proses pembatubaraan, maturitas organik sebenarnya menggambarkan perubahan

konsentrasi dari setiap unsur utama pembentuk batubara. Berikut ini ditunjukkan contoh analisis

dari masing --masing unsur yang terdapat dalam setiap tahapan pembatubaraan.

9
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Metode kriging menghasilkan estimator tidak bias terbaik (the best unbiased estimator,

BLUE) dari variabel yang ingin diketahui nilainya. Sampel data dalam geosains biasanya

diambil di tempat yang tidak beraturan. Komputer akan bekerja hanya dengan data digital yang

teratur (misal kalau akan menggambar konturnya). Untuk itu perlu dibuat jejala (grid) yang

teratur, dimana sampel data harus ditempatkan untuk bisa diproses oleh komputer.

Batubara adalah mineral organik yang dapat terbakar, terbentuk dari sisa tumbuhan purba yang

mengendap yang selanjutnya berubah bentuk akibat proses fisika dan kimia yang berlangsung

selama jutaan tahun. Oleh karena itu, batubara termasuk dalam kategori bahan bakar fosil.

Adapun proses yang mengubah tumbuhan menjadi batubara tadi disebut dengan pembatubaraan

(coalification).

3.2. Saran

Dari kesimpulan diatas, maka penulis menyarankan agar untuk menghitung pembobotan kadar

dapat menggunakan metode krigging.

10