Anda di halaman 1dari 6

TUGAS MATA KULIAH

EKONOMI SUMBERDAYA ALAM DAN LINGKUNGAN

RESUME
MENGATASI DAMPAK TRANSFORMASI HABITAT ALAMI
MENJADI LAHAN PERTANIAN TERHADAP PERUBAHAN
FUNGSI-FUNGSI EKOSISTEM

Dosen Pengampu
Fuad Nurdiansyah, S.P., M.PlaHBio., Ph.D

Disusun Oleh :
M. Fauzi
(P2F116022)

PROGRAM STUDI PASCASARJANA


MAGISTER ILMU LINGKUNGAN
UNIVERSITAS JAMBI
2017
1. Dampak Transformasi Hutan Menjadi Lahan-lahan Pertanian
Terhadap Fungsi-fungsi Ekosistem

Hutan pada hakekatnya merupakan ekosistem yang mempunyai tiga

fungsi dasar yaitu fungsi produksi, soial dan ekologi (Iskandar 2000). Tetapi
sekarang hutan di Indonesia mengalami penyusutan. Degradasi hutan jika

dicermati bersumber dari pertambahan penduduk yang memicu perubahan


lingkungan. Secara ekologis transformasi hutan berdampak negativ pada

kelangsungan ekosistem, antara lain ancaman terhadap kelesestarian flora dan


fauna hingga perubahan iklim.

Pringle (2007) menyatakan manusia melakukan transformasi hutan


menjadi lahan pertanian berakibat pada rusaknya habitat hutan yang menjadi

tempat berlindung flora maupun faunan serta menggu sistema rantai


makanan organisme yang tinggal di habitat hutan tersebut.

Rusaknya habitat hutan akan berdampak pada sebagian organisme yang


tidak cocok dengan lingkungan sekitar berpindah mencari habitat baru, dan

sebagian lagi akan berusahan beradaptasi (Swift et al, 2004). Setiap organisme
memiliki kontribusi dalam ekosisitem yang bersifat bervariasi sehingga

pengurangan jumlah spesies menyebabkan penurunan jasa ekosisitem. Jasa-


jasa ekosistem yang diberikan berbagai spesies mempengaruhi porduksi

pertanian, semisal pengendalian hama, kesuburan tanah, meminimalkan biaya

pengelolaan lingkungan, dan memelihara keanekaragaman hayati (Power,


2010, Tscharntke et al 2012)
Selain berkurangnya keanekaragaman hayati dan terganggunya jaringan
sistem organisme, habitat hutan berdampak pada depoisis nitrogen dan

peningkatan konsentrasi CO2, (Sala et al 2000)

2. Pendekatan Pertanian Konservasi, Khususnya Manajemen Habitat


Dalam Mengembalikan Fungsi-fungsi Tersebut di Lahan Pertanian

Pendekatan Pertanian Konservasi yang dapat diterapkan pada lahan

pertanian salah satunya adalah Sistem Agroforestri.


Agroforesti mencakup upaya dalam memperoleh hasil produksi dari

kombinasi tanaman, pepohonan dan ternak secara bersamaan atau bergiliran


melalui pengolahan lahan. Menurut (Van der Heide et al 1992, Tomich et al

1998) Salah satu sasaran utama dari agroforestri ialah sistem pertanian
berkelanjutan, yang meliputi beberapa indikator

a. Dipertahankan sumber daya alam sebagai penunjang produksi tanaman


b. Penggunaan tenaga kerja yang rendah

c. Terjaganya kondisi lingkungan tanah dan air


d. Rendahnya emisi gas rumah kaca
e. Terjaganya keanekaragaman hayati

Agroforestri dapat mencegah kelaparan tanah, yang dimaksudkan


sebagai cukupnya kandungan bahan organik tanah , terjaganya unsur hara,

struktur dan kondisi bilogi tanah terpeihara, perlindungan tanaman terhadap

gulma, hama dan penyakit.


3. Upaya-upaya yang Dapat dilakukan Guna Mengintervensi Berbagai
Kebijakan yang Ada (Baik Lokal Maupun Nasional) untuk Menurunkan

Kerusakan Fungsi Ekosistem dan Juga Upaya Mengembalikan Fungsi-


Fungsi Tersebut

Menurunnya fungsi ekosistem membawa dampak tidak hanya

keanekaragaman terhadap flora dan fauna juga membawa dampak lain


terhadap masyarakat.

Menurut Pasal 21 ayat (2) UU PPLH 2009 meliputi Kriteria baku kerusakan
lingkungan hidup, meliputi kriteria baku kerusakan ekosistem dan kriteria baku

kerusakan akibat perubahan iklim. Dalam ayat 3 Kriteria baku kerusakan


ekosistem meliputi:

kriteria baku kerusakan tanah untuk produksi biomassa;


kriteria baku kerusakan terumbu karang;

kriteria baku kerusakan lingkungan hidup yang berkaitan dengan


kebakaran hutan dan/atau lahan;

kriteria baku kerusakan mangrove;


kriteria baku kerusakan padang lamun;
kriteria baku kerusakan gambut;
kriteria baku kerusakan karst; dan/atau

kriteria baku kerusakan ekosistem lainnya sesuai dengan perkembangan


ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dalam mencegah kerusakan ekosistem maka diperlukan pengendalian


terhadapa lingkungan dengen menetapkan baku mutu lingkungan. Baku mutu
lingkungan meliputi kualitas lingkungan hidup dan kualitas buangan atau
limbah (baku mutu effluent). Menurut Pasal 20 ayat 2 UUPPLH 2009 baku mutu
lingkungan dibedakan atas baku mutu air, baku mutu limbah, baku mutu air

laut, baku mutu udara ambient, baku mutu emisi, baku mutu gangguan, dan
baku mutu lain sesuai dengan perkembangan ilmu pengatahuan dan teknologi.

Adapun upaya pengembalian fungsi ekosistem salah satunya adalah

restorasi ekosistem. Restorasi ekosistem merupakan salah satu upaya


menyelamatkan kondisi ekosistem hutan sebagai habitat bagi berbagai

keragaman hayati yang terkandung di dalamnya (Elliot et al, 1995).


Ada empat kegiatan kunci, yaitu restorasi, rehabilitasi, remediasi, dan

reklamasi (Bradshaw, 1997) :


Restorasi ialah proses pemulihan suatu ekosistem ke keadaan seperti

keadaan semula sebelum terjadinya kerusakan dalam ekosistem


Rehabilitasi merupakan tindakan mengembalikan kondisi ekosis yang

rusak ke keadaan seperti sebelumnya yang lebih baik. Rehabilitasi ini


mendekati tujuan ses restorasi

Remediasi ialah proses perbaikan atau membuat kondisi ekosistem


menjadi baik kembali. Kegiatan ini lebih menekankan kepada proses yang
dilakukan daripada pencapaian akhirnya.
Reklamasi ialah proses untuk mengondisikan suatu lahan cocok untuk

ditanami
DAFTAR PUSTAKA

Bradshaw, A.D. 1997. What do we mean by restoration? In Restoration Ecology


and Sustainable Development. Jordan, W.R., Gilpin, M.E., Aber, J.D. pp. 23-
29. Cambridge: Cambridge University Press.

Elliot dkk., 1995. Research needs for restoring the forests of Thailand. Nat. Hist.
Bull. Siam Soc. 43:179-184.

Power AG. 2010. Ecosystem services and agriculture: Tradeoffs and synergies.
Phil Trans R Soc. 365: 2959-2971
Pringle A. 2007. Biodiversity decline. In: The Habitable Planet a Systems
Approach to Environmental Science. Cambridge: Annenberg Media.

Sala OE, Chapin FS, Armesto JJ, Berlow E, Bloomfield J, Dirzo R, HuberSanwald
E, Huenneke LF, Jackson RB, Kinzig A, et al. 2000. Global biodiversity
scenarios for the year 2100. Science. 287: 1770-1774.

Swift M, Izac A, Noordwijk MV. 2004. Biodiversity and ecosystem services in


agricultural landscapes - are we asking the right questions? Agriculture,
Ecosystems and Environment. 104: 113-134.
Tomich TP, M van Noordwijk, S Budidarsono, A Gillison, T Kusumanto, D
Murdiyarso, F Stole and AM Fagi. 1998. Alternatives to slash-and-burn in
Indonesia. Summary report and synthesis phase II. ICRAF, Nairobi, Kenya

Tscharntke T, Clough Y, Wanger TC, Jackson L, Motzke I, Perfecto I, Vandermeer


J, Whitbread A. 2012. Global food security, biodiversity conservation and
the future of agricultural intensification. Biological Conservation. 151: 53-
59

Van der Heide J, S Setijono, Syekhfani MS, EN Flach, K Hairiah, S Ismunandar,


SM Sitompul and M van Noordwijk. 1992. Can low external input cropping
systems on acid upland soils in the humid tropics be sustainable?
Background of the Unibraw/IB Nitrogen management project in Bunga
Mayang (Sungkai Selatan, Kotabumi, Lampung Utara, Indonesia). Agrivita
15: 1-10