Anda di halaman 1dari 11

LATAR BELAKANG

Terminologi geotermal berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari kata geo
(bumi) dan thermos (bumi). Maka geotermal memiliki arti energi yang
tersimpan di bawah permukaan bumi. Energi geothermal ini berasal dari
interior bumi, hasil dari peluruhan unsur radioaktif sehingga mengasilkan
energi peluruhan yang terkonversi menjadi energi panas. Panas dari dalam
bumi ini dimanfaatkan untuk sumber energi.
Untuk eksploitasi geotermal memerlukan metode dan ilmu, yang terdiri
geologi, geofisika dan geokimia. Geologi mencakup karakteristik/gejala
yang terlihat yaitu kondisi batuan, adanya manifestasi. metode geokimia
menggunakan prinsip kimia, untuk menentukan kandungan ion di dalam
manifestasi yang berguna untuk penentuan kematangan, temperatur
reservoar, dan tipe air geotermal. Geofisika yaitu menggunakan konsep
fisika dapat digunakan memodelkan subsurface.
Makalah ini akan membahas bagaimana penerapan geofisika di lapangan
geothermal. Metode geofisika yang digunakan adalah metode geomagnetik.
Bertujuan untuk memodelkan subsurface dari lapangan geotermal. Metode
geomagnetik bekerja berdasarkan variasi intensitas magnetik yang terdapat
di bawah permukaan. Perbedaan intensitas magnetik dipengaruhi oleh sifat
kemagnetan batuan.
Penggunaan metode magnetik lebih sederhana, relatif ekonomis, rumit,
karena instrumen yang digunakan ringan, parameter mudah diatur,
melakukan akusisi data dengan tepat. Untuk wilayah survei yang tidak telalu
luas, dapat dilakukan berjalan kaki membuat lintasan. Morfologi area lereng
karena disekitar gunung api.
DASAR TEORI
Metode geofisika digunakan untuk mengetahu sifat fisik batuan yang
terdapat di area di bawah permukaan. Prinsip kerja dari metode magnetik
adalah mengukur variasi intensitas magnetik batuan yang ada di bawah
permukaaan. Variasi intensitas magnetik terjadi tidak homogen atau
anomali dari magnetik. Variasi intensitas magnetik dapat digunkan untuk
memnetukan kondisi bawah permukaan seperti patahan, lipatan, intrusi
batuan beku atau reservoir panas bumi. Metode geomagnetik dalam
geotermal dapat menentukan area sumber panas. Area temperatur tinggi
diindikasikan dengan nilai magnetik rendah. Hal ini disebabkan oleh
demagnetisasi diakibatkan oleh alterasi dari hidrotermal sehingga
mengubah sifat kemagnetan mineral menhjadi paramagnetik atau
diamagentik. Area dengan nilai magnetik yang rendah interpretasikan zona
reservoar atau heat source. Intensitas magnetik suatu batuan berdasarkan
kuat medan magnet, akan mengalami magnetisasi karena induksi
dinyatakan dengan persamaan dibawah ini.
=/
Sedangkan derajat suatu benda atau batuan termagnetisasi ditentukan oleh
susceptibilitas magnetik dinyatakan dengan persamaan dibawah ini.
M= k.H
Besaran susceptibilitas ini merupakan parameter dasar dalam penentuan
intensitas magnetik. Jika susceptibilitas dari suatu batuan maka mineral
ferromagnetik akan banyak dijumpai. Sifat kemagnetan batuan dikeompok
menjadi tiga yaitu diamagnetik, paramagnetik, dan ferromagnetik. Material
diamagnetik memiliki suseptibilitas rendah dan negatif serta memiliki
magnetisasi yang berlawanan dengan medan yang diberikan. Material
paramagnetik memiliki suseptibilitas rendah dan positif. Sifat
ferromagnetik dikarakterisasi dengan sifat kemagnetan kuat, memiliki
suseptibilitas tinggi, dan positif.
Sifat magnetik dari batuan dipengaruhi oleh temperatur, kecuali sifat
magnetik diamagnetik dinyatakan dalam persamaan di bawah ini.
=/
Persamaan diatas merupakan Hukum Curie dimana C adalah konstanta Cu

PENGOLAHAN DATA DAN ANALISIS


Wilayah studi kasus terdapat di Lapangan Geotermal Diwak-Derekan.
Diwak-Derekan terletak area gunungapi di Ungaran, Jawa Tengah.

Gambar 1. Peta Geologi Gunungapi Ungaran


Pengukuran variasi intensitas magnetik menggunakan alat magnetometer seperti
pada gambar di bawah ini. Tipe magnetometer terdiri dari mengukur secara skalar
dan vektor. Magnetometer ini pengukurannya secara skalar dengan proton
precession magnetometer (PPM). Cara kerjanya mengukur resonansi magnetik di
area pengukuran intensitas magnetik. Akurasi dari PPM ini hanya tergantung atom
yang konstan dan kekuatan dari lingkungan magnetik. Akurasi dari magnetometer
ini mencapai 1 ppm. Arus mengalir langsung di solenoida membuat gaya magnetik
besar disekitar fluida yang kaya akan hidrogen. Laju pegukuran sampel terbatas
satu sampel setiap detiknya. Instrumen portable terbatas dalam volume sensor dan
penggunaan daya. PPM bekerja di gradien magnetik sampai 3000 nT/m.
Pengukuran mahnetik dangat sensitif terhadap perubahan ketinggian. Sehingga
metode magnetik ini digunakan dalam tahap awal. Keuntungan menggunakan PPM
portable mudah dibawah dalam medan yang berat, harga relatif murah sekitar
8000 USD.

Gambar 2. Magnetometer (Nuha, dkk, 2016)


Hasil pengukuran intensitas magnetometer akan diolah dengan cara membuat
kontur berdasarkan nilai variasi intensitas magentometer. Berikut hasil pengukuran
intensitas magnetik yang telah dibuat dalam kontur.

Gambar 3. Kontur pengukuran intensitas magnetik (Nuha,dkk, 2016)

Ada beberapa hal yang dilakuan untuk mengakurasi data pengukuran


geomagnetometer yaitu koreksi diurnal dan koreksi IGRF. Koreksi diurnal
merupakan koreksi medan magnet luar akibat adanya partikel terionisasi.
Jangkauan variasi harian mencapai 30 gamma dengan perioda 24 jam dan berkisar
2 gamma dengan perioda 25 jam. Badai magnetik mencapai 1000 gamma dengan
periode acak tetapi kejadian ini sering muncul dalam interval sekitar 27 hari
berhubungan dengan aktivitas sunspot (Telford, 1990). Koreksi IGRF
menghilangkan pengaruh magnetik yang berasal dari magnet bumi utama bumi.
Koreksi IGRF dilakukan dengan mengurangkan nilai IGRF pada medan magnetik
total yang terkoreksi diurnal.
Area penelitian dipengaruhi kuat oleh topografi sehingga menunjukan anomali di
topografi. Cara unntu interpretasi data dengan proses kontinuasi ke atas dan
mereduksi kutub terhadap total anomali area. Kegunaan continuasi ke atas
membantu mesihkan anomali regional dengan anomali lokal sedangkan reduksi
penyaring kutub untuk memisahkan pengaruh dari sudut inklinasi. Interpretasi
posisi dari penyabab magnetik rendah dilakukan berdasarkan kualitatif dan
kuantitatif. Interpretasi kualitatif dilakukan dengan analisis kontur dari total
anomali magnetik. Kontinuasi ke atas merupakan alat filter yang digunakan
menghilangkan pengaruh medan magnet lokal. Proses ini dapat mengurangi
anomali magnetik lokal dari objek magnetik yang tersebar di permukaan topografi.
Reduksi kutub mengubah arah magnetisasi dan medan utama arah vertikal. Hasil
reduksi ke kutub umumnya berupa peta anomali magnetik yang berupa pasangan
klosur positif dan negatif karena sifat dalam magnetik yaitu adanya dua kutub yang
perpasangan. Berikut kontur dari variasi intensitas magnetik setelah dilakukan
koreksi.

Gambar 4. Kontur variasi total magnetik (Nuha,dkk, 2016)

Berdasarkan gambar 4. menunjukan adanya susunan kontur yang berpasangan


positif dan negatif. Nilaiintensitas magneti menunjukan posisi objek. Untuk
interpretasi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu kualitatif dan kuantitatif.
Interpretasi kualitatif dilakukan dengan analisis total kontur magnetik Pada kontur
negatif dan positif terlihat kontur rapat, itu mengindikasikan adanya struktur sesar.
Karena struktur sesar dicirikan dengan kontur magnetik yang rapat, defleksi
anomali (negatif dan positif), dan polarisasi anomali (positif dan negatif).
Analisis lebih lanjut, berdasarkan peta kontur yang berpasangan (positif dan
negatif) dibuat dua lineament yaitu A-A dan B-B. Dari lineamen digunakan untuk
memodelkan struktur bawah permukaan. Modeling struktur bawah permukaan
bertujuan untuk memodelkan struktur sesar dan sistem geotermal yang diduga
sebagai penyebab anomali negatif. Untuk memodelkan tidak cukup hanya data
magnetik diabntu dengan data geologi yang ada.
Penampang dari lineament A-A sebagai berikut.

Gambar 5 penampang A-A (Nuha, dkk, 2016)

Dari informasi geologi area penampang A-A tersusun dari dua lapis batuan secara
umum berumur kuarter. Pada model pertama lapisan pertama batuan vulkanik.
Lapisan terdapat di kedalaman 8365 m dengan nilai susceptibilitas 0,0115 ( unit
SI). Di lapisan sudah terlihat struktur sesar. Lapisan kedua tersusun dari batuan lava
volkanil yang mengalir dari Gajahmungkur dengan nilai susceptibilitas 0,1406 (unit
SI)yang berada di formasi Kaligetas. Terdapat di kedalaman 200-1000 m.
Berdasarkan pemodelan lineament A-A indikasi kehadiran sesar di regional
Diwak- Derekan. Sesar ini dibuktikan adanya tegasan oleh kenampakan permukaan
yang mana sungai mengalami stretch daria arah SW-NE. Jadi dapat diestimasi tren
dari sesar SW-NE.
Pemodelan kedua hasil dari penampang B-B seperti pada gambar di bawah
ini.

Gambar 6 Penampang B-B (Nuha,dkk, 2016)

Berdasarkan pemodelan diatas terdiri dari tiga lapisan batuan. Lapisan pertama
meruppakan batuan vulkanik berasal dari breksia dan pasir tuff GajahMungkur
lapisan paling atas. Terdapat di kedalaman 650 mdenagn nilai susceptibilitas 0,0001
( unit SI). Di lapisan batuan di lapangan dapat struktur sesar dengan kenampakan
Kali Klampok. Lapisan keduadari batuan ini tersusun dari batuan breksia dengan
lava mengalir dari Gajahmungkur dengan nilai susceptibilitas 0,7218 (unit SI).
Kedalaman lapisan kedua terdapat di kedalaman 280 -1070 m. Lapisan ketiga
terdapat di kedalamn 780-1070 m. Di lapisan kedua dan ketiga terlihat dua struktur
sesar yaitu sesar normal dan sesar naik. Berdasarkan data anomali magnetik dan
modeling dari sistem geotermal Diwak-Derekan dapat dijelaskan dengan model
geofisika. Sumber panas (heat source) bersasal dari asosiasi tubuh intrusu dengan
kubah lava andesit. Lokasi dari sumber panas (heat source) bertepatan dengan
hotspring Kendalisodo.

Gambar 7. Konsep Model sistem geotermal dari Diwak-Derekan


(Nuha,dkk, 2016)

Pada gambar 7 kehadiran intrusi andesit berperan sebagai sumber panas dari sistem
geotermal ini. Panas kemudian terdistribusi terhadap batuan permeabilitas
sekitarnya. Itu terjadi karena aliran konveksi dari fluida hidrotermal. Fluida
terkonveksi ke atas akan tetapi tidak sampai permukaan karena dihalangi oleh
lapisan batuan permeabilitasnya rendah (cap rock). Dari reservoar fluida dapat
mengalir ke permukaan. Dari zona sesar fluida dapat mengalir ke permukaan,
manifestasi dipermukaan sebagai hotspring.

KESIMPULAN
Total data anomali area magnetik menunjukan pasangan klosure positf dan negatif
mengindikasikan interpretasi dari sesar. Hasil interpretasi terdapat dua struktur
sesar di regional Diwak-Derekan memiliki trend SW-NE. Manifestasi geotermal
dari Diwak-Derekan terdapat di zona sesar.

Daftar Pustaka
Nuha, M.U, Harmoko, U, Yulianto,T, Yulianto,G, Widaba,S,
Herlambang,Y.D,Sahit, 2016. Development of Geophysics Conceptual Model of
the Diwak-Derekan Geothermal Fields Based on Magnetic Data Interpretation.
Research Journal of Applied Sciences, Engineering and Technology.

https://en.wikipedia.org/wiki/Magnetometer#Proton_precession_magnetometer
(diakses 28November 2016).