Anda di halaman 1dari 8

LEMBAGA KETAHANAN NASIONAL

REPUBLIK INDONESIA

DISKUSI KELOMPOK (DK-3) B.S TANNAS


Kertas Karya Acuan

Tema Pendidikan : Ketahanan Pangan Dalam Rangka Kemandirian


Bangsa.

I. Judul : Optimalisasi Transportasi Dalam Perspektif Tannas


Guna Meningkatkan Ketahanan Pangan Dalam Rangka
Kemandirian Bangsa.

II. Variabel : Variabel-1 :Optimalisasi Transportasi Dalam Perspektif


Tannas.
Variabel-2 :Meningkatkan Ketahanan Pangan.
Variabel-3 :Kemandirian Bangsa.

III. Pokok Permasalahan.

Sebagaimana diuraikan dalam Peraturan Presiden Nomor 5 tahun 2010


tentang RPJMN 2010-2014, transportasi secara umum berfungsi sebagai
katalisator dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, pengembangan wilayah
dan pemersatu wilayah Negara Kesatuan R.I (NKRI). Dari uraian ini ada
hubungan kasaulitas bahwa baiknya transportasi yang meliputi infrastrukturnya,
sarana dan prasarana maupun konektifitas antar jenis transportasi serta antar
wilayah yang dapat mengcover seluruh wilayah atau geografi NKRI akan
menghasilkan ketahan nasional sebagai sebuah kondisi. Yaitu kondisi dinamik
yang berisi keuletan dan ketangguhan untuk kemudian mampu
mengembangkan kekuatan nasional dalam menghadapi berbagai tantangan,
ancaman, hambatan dan ganguan baik yang bersumber dari dalam maupun dari
1
luar yang secara langsung maupun tidak langsung.

1 Lemhannas R.I., Pokja B.S Ketahanan Nasional, TOR Diskusi Kelompok PPRA B.S Tannas,
Jakarta, 2012, hal. 1
Dalam prioritas ke 5 RPJMN 2010-2014 yaitu dibidang ketahanan pangan
salah satu program aksinya adalah pembangunan infrastruktur berupa
pembangunan dan pemeliharaan sarana transportasi dan angkutan yang
dilengkapi dengan pembangunan dan pemeliharaan pengairan, jaringan listrik,
tehnologi komunikasi dan sitem informasi nasional yang dikhususkan untuk
melayani darah-daerah sentra produksi pertanian demi peningkatan kuantitas
2
dan kualitas produksi serta kemampuan pemasarannya. Ini menunjukkan
bahwa disadari betul bahwa transportasi di lihat dari perspektif ketahanan
nasional kususnya konektifitas wilayah atau geografi Indonesia sangatlah
penting. Demikian juga dalam pembangunan nasional yang menjadi prioritas ke
enam yaitu pembangunan infrastruktur nasional yang memiliki daya dukung dan
daya gerak pertumbuhan ekonomi dan sosial yang berkeadilan dan
mengutamakan kepentingan masyarakat umum diseluruh bagian negara
kepulauan maka akan dibangun jaringan prasarana dan penyediaan sarana
transportasi antar moda (jenis-jenis transportasi) dan antar pulau yang
terintegrasi dan terkoneksi.

Dengan memperhatikan sedikit uraian di atas maka sesungguhnya konsepsi


ketahanan nasional, yaitu pengembangan kekuatan nasional melalui
pengaturan penyelenggaraan kesejahteraan dan keamanan yang berimbang,
serasi dan selaras dalam seluruh aspek kehidupan, secara utuh dan
menyeluruh berdasarkan kepada Pancasila, UUD 1945 dan Wasantara
sangatlah tepat untuk diimplementasi dan dioptimalisasikan dalam mengatasi
masalah transportasi. Oleh karena itu maka tulisan kertas karya acuan ini
merumuskan pokok permasalahannya adalah : Bagaimana optimalisasi
transportasi dalam perspektif ketahanan nasional guna meningkatkan
ketahanan pangan dalam rangka kemandirian bangsa ?.

IV. Pokok-Pokok Persoalan.

Beberapa pokok-pokok persoalan dirumuskan sebagai berikut :

1. Infrastruktur transportasi belum secara optimal mengkoneksikan


seluruh wilayah geografi Indonesia khususnya antar wilayah sentra
produksi pangan. Hal ini berkaitan juga dengan konektifitas antar jenis
transportasi yang ada maupun sarana dan prasarana seperti pelabuhan,
2 _____ Perpres Nomor 5 tahun 2010, Buku I Prioritas Nasional, Jakarta, 2010, hal 50.

2
jenis moda transportasi khususnya untuk wilayah-wilayah Indonesia Timur,
pulau-pulau kecil dan terluar.

2. Adanya penggunaan sarana prasarana transportasi darat tidak


sesuai dengan peruntukannya, sehinga mengakibatkan cepat rusaknya
saranan dan prasarana jalan. Kondisi ini mengakibatkan cepat rusaknya
sarana dan prasarana jalan, sehingga menimbulkan biaya tinggi dan waktu
tempuh yang lebih lama serta keamanan dijalan semakin beresiko tinggi.
Persoalan ini berkaitan dengan tidak tegasnya penegakan hukum peraturan
perundang-undangan dibidang tansportasi yang ada serta adanya
penyelewengan pelaksanaan tugas oleh oknum sumber daya manusia
instansi terkait melalui pungutan liar baik di jalan raya maupun di simpul-
simpul jembatan timbang.

3. Belum adanya political will atau kemauan politik secara kuat untuk
menggunakan transportasi masssa seperti kereta api khususnya untuk
transportasi produk pangan maupun komoditas dagang lainnya serta
hasil tambang di pulau-pulau besar. Kondisi ini mengakibatkan seakan-
akan adanya pembiaran kepada para pengusaha transportasi untuk
menggunakan truk-truk angkutan barang yang melebihi tonase atau
peruntukan jalan. Dampak yang ditimbulkan oleh penggunaan tranportasi
darat yang melebihi tonase adalah semakin cepatnya kerusakan jalan
maupun semakin padatnya kendaraan transportasi di jalan raya yang
menimbulkan resiko kecelakaan, ketidak efesiensi dan pemborosan secara
nasional.

V. Pokok-Pokok Pemecahan Persoalan.

1. Kebijakan.

Setelah melihat rumusan judul, pokok permasalahan dan pokok-


pokok persoalan, maka kebijakan yang diambil adalah Revolusi
kebijaksanaan transportasi nasional yang berorientasi kepada
angkuatan massal secara lebih efektif, efesien, tranparan dan
akuntabel serta konetifitas seluruh wilayah Indonesia. Revolusi
kebijaksanaan ini dimaksudkan secara total lebih membangun
infrastruktur transportasi yang bersifat massal seperti kereta api untuk di

3
kota-kota besar di Indonesia, Pulau Jawa, Sumatera, Bali, Kalimantan
dan Sulawesi yang saling tekoneksi dari pada membiarkan
kebijaksanaan industri transportasi angkutan jalan seperti mobil dan
sepeda motor.

2. Strategi.

Untuk mewujudkan kebijaksanaan di atas maka beberpa strategi yang


dijalankan antara lain :

a. Membangun infrastruktur transportasi di seluruh wilayah Indonesia


khususnya sentra-sentra produksi pertanian, peternakan, perkebunan
dan perikanan baik transportasi darat, laut dan udara dengan
memperhatikan sistem yang berkelanjutan dan kelestarian alam dan
lingkungan.

b. Menegakan hukum peraturan perundang-undangan dibidang


transportasi secara tegas dengan memperhatikan kemaslahatan yang
lebih besar dengan memperkuat sistem pengawasan dan pengendalian
untuk mencegah berbagai macam penyimpangan. Penyimpangan yang
sering terjadi di lingkungan tranportasi ini seperti penyalah gunaan
jembatan timbangan sebagai sarana pungutan liar dan
menekankanketerpaduan yang koordinatif (menghilangkan ego sektoral)
dari berbagai pemangku kepentingan dibidang transportasi seperti
Kementerian Perhubungan, Polisi Lalu Lintas Polri, Pemda,
Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian perdagangan dan Industri
dan lain-lain.

c. Membangun infrastruktur angkutan masssal seperti kereta api di


kota-kota besar dan mengkoneksikannya antar kota untuk di pulau-
pulau besar Jawa, Sumatera, Bali, Kalimatan dan Sulawesi. Kemudian
disusul dengan pembuatan peraturan perundang-undangan yang
mewajibkan penggunaan transportasi kereta api dalam angkutan
produksi hasil bumi seperti pangan, hasil perkebunan, bahan
perdagangan lainnya maupun hasil tambang seperti batu bara dengan
tetap memperhatikan faktor keekonomian, keberlanjutan dan kelestarian
lingkungan.

4
3. Upaya.

Upaya strategi-1; Membangun infrastruktur transportasi di seluruh


wilayah Indonesia khususnya sentra-sentra produksi pertanian,
peternakan, perkebunan dan perikanan baik transportasi darat, laut
dan udara dengan memperhatikan sistem yang berkelanjutan dan
kelestarian alam dan lingkungan dengan upaya-upaya antara lain :

a. Penyelesaian pembangunan sarana dan prasarana jalan

lintas Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, NTB, NTT dan Papua
dengan menekankan kualitas jalan dan jembatan yang dibangun.
Pembangunan sarana transportasi jalan ini tetap memperhatikan
kelesrarian lingkungan seperti hutan lindung dan kelestarian alam
lainnya.

b. Pembangunan jaringan prasarana dan penyediaan sarana

transportasi antar moda, antar pulau yang terintegrasi seperti


membangun terminal bandara, terminal angkutan darat dan pelabuhan
laut baik skala internasional, antar provinsi dan antar pulau kecil, terluar
dan tertinggal.

c. Pemeliharaan dan peningkatan kondisi sarana dan

prasarana transportasi yang sudah ada baik jalan, pelabuhan udara,


pelabuhan laut dan kereta api.

d. Pengembangan, pembangunan dan pengelolaan pelabuahn

perikanan yang baik dan terkoneksi dengan tempat pelelangan ikan yang
dapat memberikan kontribusi keuntungan kepada para nelayan.

5
e. Pembinaan dan pengembangan kapal perikanan, alat

penangkap ikan yang berorientasi kepada pemberdayaan para nelayan.

Upaya strategi-2; Menegakan hukum peraturan perundang-undangan


dibidang transportasi secara tegas dengan memperhatikan
kemaslahatan yang lebih besar dengan memperkuat sistem
pengawasan dan pengendalian untuk mencegah berbagai macam
penyimpangan :

a. Menghilangkan ketrersumbatan atau bottleneck hubungan antar


para pemangku kepentingan dibidang perhubungan atau transportasi
baik darat, laut dan udara dengan melakukan koordinasi, komunikasi
yang intens dan berkelanjutan.

b. Menkaji dan memperbaiki manajemen keamanan dan kesemalatan


transportasi yang telah memakan korban cukup besar kepada
masyarakat penguna jasa transportasi.

c. Meningkatkan kualitas SDM transportasi yang dimulai dari sitem


rekruitmen, pendidikan, pelatihan yang bersih, transparan dan tanpa
dipungut biaya untuk mewujudkan penyelenggaraan transportasi yang
handal, efektif dan efesien dan berorientasi kepada pelanggan atau
pengguna jasa transportasi.

d. Membangun jembatan timbang sebagai upaya mengurangi beban


jalan dengan meningkatkan pengawasan dan pengendalian kepada
petugas untuk mencegah penyimpangan dijadikannya jembatan
timbangan tempat pungutan liar.

Upaya strategi-3; Membangun infrastruktur angkutan masssal seperti


kereta api di kota-kota besar dan mengkoneksikannya antar kota untuk
di pulau-pulau besar Jawa, Sumatera, Bali, Kalimatan dan Sulawesi
maupun antar moda yang ada dengan berorientasi kebutuhan
pengguna jasa transportasi baik arus orang maupun barang :

a. Membangun sub-way atau kereta dibawah tanah maupun diatas


tanah secara revolosional yang tidak mengurangi lahan transportasi

6
yang sudah ada dengan didasarkan kepada kajian serta studi kelayakan
maupun studi banding dengan memperhatikan keberlanjutan program
yang ramah lingkungan. Cara ini ditempuh secara revolosinal untuk
membalikkan paradigma transportasi selama ini yang menekankan
pada pemajuan industri mobil dan sepeda motor (sektor industri negara
tertentu) yang mengakibatkan peningkatan carbon dioksida, kerusakan
lingkungan dan pemborosan nasional khususnya bidang subsidi BBM.
Pembangunan transportasi ini diutamakan di kota-kota besar di
Indonesia baik yang sudah mengalami permasalahan transportasi
seperti di Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Maksar, Semarang,
Palembang dan kota-kota besar lainnya di Indonesia.

b. Membangun jalan kereta api yang mengkoneksikan antara kota


Banda Aceh-Kota-kota besar di Sumatera-Kota-kota besar di Jawa dan
Bali yang berorientasi pada studi kelayakan dan kemamfaatan untuk
transportasi manusia maupun barang hasil bumi dan pertambangan.
Paradigma pembangunan transportasi dan jalan kereta api ini untuk
mengurangi beban jalan raya serta antisipasi perkembangan
transportasi kedepan dengan biaya yang dapat dijangkau oleh
masyarakat pengguna jasa transportasi dan dapat memberikan
keuntungan kepada negara.

c. Paradigma pembangunan dan penggunaan transportasi kereta api


ini tentu harus didukung oleh transportasi laut maupun udara yang
terkoneksi dengan kereta api untuk mendukung kelancaran distribusi
produk-produk pangan maupun arus barang lainnya. Karena itu perlu
pembangunan pelabuhan-pelabuhan baik di kota-kota besar di pulau-
pulau besar maupun pulau-pulau kecil, terluar dan perbatasan sebagai
tali penghubung persatuan dan kesatuan NKRI.

Jakarta, Juni 2012.


Peserta PPRA XLVIII/ 2012,

Zulkarnain.

7
Nomor ururt absen : 82
Lampiran :
1. Alur Pikir.
2. Pola Pikir.