Anda di halaman 1dari 8

Cara Mengenalkan Pendidikan Seks Sejak Dini Kepada Anak

Selama ini terapi yang diberikan pada anak-anak kebutuhan khusus seperti autis,
sindrom Asperger dan lainnya sebatas terapi bicara dan okupasi agar si anak bisa berbicara,
menulis, belajar dan bersosialisasi. Padahal pendidikan seks juga harus diajarkan pada anak
kebutuhan khusus sejak dini.
Pendidikan seks tidak selalu mengenai hubungan pasangan suami istri, tapi juga
mencakup hal-hal lain seperti pemberian pemahaman tentang perkembangan fisik dan
hormonal seorang anak serta memahami berbagai batasan sosial yang ada di masyarakat.
Hasrat seks merupakan suatu hal yang alamiah. Masa puber yang terjadi pada anak
berkebutuhan khusus terkadang datang lebih awal dari anak normal, tapi bisa juga datang
lebih lama atau mengalami keterlambatan. Dalam hal ini anak akan mengalami perubahan
hormonal dan juga perubahan fisik berbeda pada anak laki-laki dan perempuan.
Jika pendidikan seks tidak diberikan sejak dini, maka nantinya bisa menjadi masalah
baik dari sisi eksternal atau internal si anak, seperti mungkin saja anak jadi memiliki
kebiasaan memegang kemaluan sendiri, suka menyentuh bagian privat orang lain, tidak siap
menghadapi menstruasi, masturbasi atau mimpi basah yang dapat mempengaruhi emosinya
dan juga tidak dapat menjaga kebersihan daerah kemaluannya.
Dalam memberikan pendidikan seks pada anak sebaiknya anak mengenali bagian
tubuh dirinya sendiri dan jangan pernah mengeksplor tubuh orang lain. Selain itu, orang tua
harus waspada dalam memberikan pemahaman mengenai perubahan fisik yang terjadi.
Sedangkan dalam memberikan pemahaman mengenai perubahan hormonal bisa melalui
cerita yang mudah dimengerti, karena hormon tidak dapat terlihat secara visual.
Dalam hal ini orangtua harus dengan sabar mengajarkan anak apa saja yang boleh dan
tidak boleh dilihat saat sedang berbicara, anak memahami mana yang termasuk sentukah OK
dan mana yang tidak serta anak diajari mengenai social circle, yaitu anak diberitahu siapa
saja yang boleh mendapatkan peluk dan cium.
Orangtua harus memiliki kesadaran bahwa masalah seksual kini semakin eksis,
sehingga orangtua jangan hanya terpaku pada mind setting masyarakat mengenai pendidikan
formal saja.
Anak dengan kebutuhan khusus juga memerlukan pendidikan mengenai seks, karena
tanpa disadari mereka juga akan mengalami hal yang sama dengan anak normal lainnya.
Sedangkan pada anak kebutuhan khusus terkadang memiliki kadar emosional yang tidak
stabil, sehingga harus diajarkan secara bertahap.
Pendidikan seks harus dimulai sejak dini, karena jika tidak dilakukan sejak awal maka
ada kemungkinan anak akan mendapatkan banyak masalah seperti memiliki kebiasaan suka
memegang alat kemaluan sebelum tidur, suka memegang payudara orang lain atau masalah
lainnya.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memberikan pendidikan mengenai seks
pada anak kebutuhan khusus yaitu, orangtua lebih berperan dibandingkan dengan terapis,
memberikan pendidikan berdasarkan tingkat pemahaman anak dan dengan kata-kata positif,
membuat rekayasa suasana sebelum anak diekspos keluar, memiliki peraturan tersendiri,
menggunakan kekuatan reward (hadiah) dan bukan kekuatan hukuman.

Adapun cara mengenalkan pendidikan seks secara dini kepada anak adalah dengan
cara sebagai berikut.

1. Kenalkan bagian tubuh yang tidak boleh dilihat dan disentuh orang lain.

Caranya cukup mudah, misalnya dengan menggunakan boneka ataupun ketika mandi.
Perkenalkan anak secara singkat organ tubuh yang dimiliki, seperti rambut, kepala, tangan,
kaki, perut, serta jangan lupa penis dan vagina. Terangkan juga fungsi dari anggota tubuh dan
cara pemeliharaannya agar terhindar dari kuman penyakit.

Kenalkan anak bagian-bagian tubuh dan fungsinya, kemudian berikan penjelasan ada
bagian tubuh tertentu yang tidak boleh dilihat dan disentuh orang lain. Bagian tubuh tersebut
antara lain: dada, bibir, organ reproduksi, dan pantat.
2. Ajarkan konsep perbedaan jenis kelamin kepada anak.

Orang tua perlu mengajarkan anak tentang perbedaan jenis kelamin antara perempuan
dan laki-laki. Memberikan contoh bahwa laki-laki nantinya akan seperti ayah, dan perempuan
seperti ibu. Konsep perbedaan jenis kelamin ini juga berfungsi untuk mengajarkan anak
menggunakan toilet dan pakaian sesuai dengan jenis kelaminnya. Jelaskan bahwa Tuhan
menciptakan laki-laki dan perempuan yang memiliki perbedaan jenis kelamin. Hal ini yang
menyebabkan beberapa hal menjadi berbeda, seperti cara berpakaian, gaya rambut, cara
buang air kecil. Terangkan bahwa anak laki-laki jika sudah besar akan jadi ayah dan anak
perempuan akan menjadi ibu. Tugas utama ayah adalah mencari nafkah, walaupun harus
tetap memperhatikan keluarga. Adapun tugas utama ibu adalah mengatur rumah tangga dan
keluarga. Namun, tidak menutup kemungkinan seorang ibu membantu ayah dalam
mencukupi kebutuhan. Dengan demikian, anak bisa memahami peran jenis kelamin dengan
baik dan benar.
3. Tanamkan budaya malu kepada anak.

Penting bagi orang tua mengajarkan rasa malu kepada anak agar anak dapat
menghargai dirinya sendiri. Mengajarkan batasan-batasan dalam bermain dengan lawan jenis.
Memberi arahan untuk tidak melepas dan mengganti pakaian di tempat umum.

4. Membatasi aktivitas menonton pada anak.

Disamping dampak negatif yang muncul dari kebiasaan menonton televisi terlalu
lama, tayangan yang dipertontonkan kepada anak juga tidak semuanya bernilai pendidikan.
Banyaknya tayangan yang menampilkan adegan-adegan yang belum pantas dilihat oleh
anak. Hal ini akan mengakibatkan anak meniriu adegan dalam tayangan tersebut karena sifat
alamiah dari anak adalah meniru apa yang mereka lihat. Lebih baik bermain bersama anak
daripada membiarkan anak menonton televisi.
5. Jauhkan gadget dari anak!

Dewasa ini banyak orang tua dengan bangga memberikan gadget kepada anak.
Sebagian oang tua bahkan memberikan akses penuh gadget kepada anak dengan dalih agar
anak dapat belajar atau agar anak tidak menganggu pekerjaan orang tua. Namun, hal tersebut
bukanlah langkah yang tepat bagi orang tua. Anak dibiarkan mendownload games tanpa
pengawasan orang tua. Padahal banyaknya konten yang tersembunyi dari games tersebut.
Banyaknya unsur pornografi dan perilaku yang kurang pantas dilihat oleh anak ada di
dalamnya.

6. Tumbuhkan rasa percaya anak kepada orang tua.

Tumbuhkan rasa percaya anak kepada orang tua. Ajarkan anak untuk tidak
menyembunyikan apapun dari orang tua apabila ada perlakuan yang tidak pantas yang
diterima atau yang terlihat oleh anak meskipun anak mendapatkan ancaman dari si pelaku.
7. Bicarakan seks kepada anak dengan mengajak diskusi sederhana.

Pendidikan seks dapat ditanamkan orang tua dengan mengajak anak berdiskusi
sederhana dan menyenangkan. Menjawab pertanyaan anak dengan lemah lembut.
Menjelaskan fakta-fakta yang terjadi dilapangan dengan bahasa yang tidak vulgar dan tidak
terkesan menakut-nakuti anak.

Orang tua juga harus banyak mempelajari hal-hal terkait tentang pendidikan
seks terhadap anak. Karena, semakin berkembangnya zaman pemikiran anak akan semakin
bertambah dan anak akan semakin kritis mempertanyakan hal-hal yang tidak dimengerti
olehnya. Penting bagi orang tua untuk banyak membaca atau mengikuti forum diskusi seputar
pendidikan seks untuk anak usia dini dari pakar yang berkompeten dibidangnya.

8. Menghindari anak dari kemungkinan pelecehan seksual


Tegaskan pada anak bahwa alat kelamin tidak boleh dipertontonkan secara
sembarangan. Tumbuhkan rasa malu pada anak, misalnya ketiika keluar dari kamar mandi
hendaknya mengenakan pakaian atau handuk penutup. Selain itu, jika ada yang
menyentuhnya, segera laporkan pada orang tua atau guru di sekolah. Anak boleh teriak
sekeras-kerasnya dalam hal ini untuk melindungi dirinya.

9. Informasikan tentang asal-usul anak

Untuk anak usia prasekolah, bisa diterangkan bahwa anak berasal dari perut ibu,
misalnya sambil menunjuk perut ibu atau pada ibu yang sedang hamil. Sejalan dengan usia,
anak boleh diterangkan bahwa seorang anak berasal dari sel telur ibu yang dibuahi oleh
sperma yang berasal dari ayah. Tekankan bahwa pembuahan boleh atau bisa dilakukan
setelah wanita dan pria menikah.
10. Persiapan menghadapi masa pubertas

Informasikan bahwa seiring bertambahnya usia, anak akan mengalami perubahan dan
perkembangan. Perubahan yang jelas terlihat adalah ketika memasuki masa pubertas. Anak
perempuan akan mengalami menstruasi/haid, sedangkan anak laki-laki mengalami mimpi
basah. Hal ini menandai juga perubahan pada bentuk tubuh dan kualitas, misalnya bagian
dada yang membesar pada wanita dan suara yang memberat pada seorang pria.

Penjelasan yang diberikan tentu menggunakan istilah tepat namun tetap dapat
dipahami anak. Orang tua dapat memberikan anak buku dengan topik pendidikan tentang
seks. Bacalah bersama anak dan diskusikan apa yang telah dibaca. Hati-hati menonton acara
televisi yang mungkin tidak sengaja berisi kasus-kasus perkosaan dan kekerasan seksual
lainnya.

Oleh karena itu, orang tua harus peka untuk langsung mendiskusikannya dan
menjelaskan secara baik, sebab akibat dari kasus tersebut. Yang terpenting di sini adalah
meluangkan waktu, untuk menyampaikan pendidikan seks dengan santai dan cukup waktu.
Perhatikan juga karakter anak dan rentang atensi yang dimiliki anak, sehingga anak tidak
bosan atau jenuh. Gunakan media seperti gambar, buku, dan benda lain yang menarik minat
anak dan buat semenarik mungkin.