Anda di halaman 1dari 13

Slide 3

Psikoanalisis adalah teori pertama yang muncul dalam psikologi


yang berhubungan dengan gangguan kepribadian dan perilaku
neorotik.

Teori-teori Freud sangat berpengaruh pada bagaimana orang-


orang dalam budaya Barat memandang dirinya dan dunianya mereka.
Terkadang kita berpikir bahwa manusia adalah makhluk yang rasional
yang sepenuhnya sadar setiap perilaku yang diperbuatnya. Namun
maksud ketidaksadaran dalam psikologi ini adalah ketidaksadaran kita
akan pengalaman yang tidak pernah kita sadari karena pengalaman ini
terjadi pada tahap perkembangan. Selain itu Freud juga percaya
bahwa ketidaksadaran yang sering dialami oleh kita ini bukan karena
factor-faktor yang statis melainkan masing-masing dari kita
mempunyai kekuatan yang membuatnya dinamis. Jadi di dalam
ketidaksadaran yang kita alami ini terdapat pergeseran dan gerakan
yang mengakibatkan saling mempengaruhi satu sama lain antara
factor-faktor dalam ketidaksadaran tersebut. Freud juga mengganggap
ketidaksadaran yang bersifat dinamis ini disebut sebagai Psikologi
Dinamik (Dynamic pschology).

Slide 4
Dinamika kepribadian
1. Id
Id adalah kepribadian yang paling tua dan berada dalam
ketidaksadaran sama sekali. Idini dapat dikatakan sebagai sistem
kepribadian yang pertama karena id ada sejak kita lahir dan diturunka
karena adanya gen dari orangtua kita. Id ini juga tidak akan pernah
kita sadari di sepanjang hidup kita. Freud mengatakan bahwa id ini
sebagai jembatan antara segi biologis dan psikis manusia. Id disini
dapat berupa prinsip kesenangan, pemenuhan kebutuhan dan nafsu,
serta tabiat
manusia hewani. Hal itu terjadi karena id mengandung perasaan
senang dan tidaks senang. Namun Id disni lebih menitik beratkan
kepada nafsu manusia yang selalu ingin lebih dan lebih. Tentu saja
hal ini karena sifat alami manusia yang tidak akan pernah puas dalam
pemenuhan kebutuhannya. Manusia akan mencari sesuatu yang lebih
lagi dari apa yang sudah mereka dapatkan.
Menurut Freud Id ini bekerja karena adanya dan menurut
prinsip kesenangan. Hal itu terjadi karena Id selalu mencari
kesenangan dan menghindari rasa sakit. Struktur kepribadian dari
Freud ini terdiri atas berbagai dorongan yang sifatnya tidak sadar
serta sebagai tempat penyimpanan energi psikis yang dimiliki oleh
seseorang. Id bergerak berdasarkan prinsip kesenangan (pleasure
principle) dengan hasrat ingin memenuhi kebutuhannya. Id bersifat
egoistis, tidak bermoral dan tidak mau tahu dengan kenyataan. Id
adalah tabiat manusia hewani.
Prinsip kesenangan dapat diproses dengan dua cara yaitu
dengan tindakan refleks dan proses primer. Tindakan refleks ini dapat
berupa reaksi yang otomatis yang dibawa sejak kita lahir. Reaksi ini
sering sekali kita lakukan dan hampir setiap pernah melakukannya
seperti mengejapkan mata. Selain itu proses primer ini merupakan
reaksi yang kita lakukan ketika kita sedang membayangkan atau
mengkhayal sesuatu. Proses ini bermanfaat untuk mengurangu dan
menghilangkan ketegangan misalnya ketika kita sedang lapar maka
kita akan cenderung membayangkan makanan yang enak yang ingin
kita makan. Namun kedua hal tersebut hanya mampu kita bayangkan
tanpa kita mampu membedakan khayalan itu dengan kenyataan yang
benar-benar memuaskan kebutuhan kita. Selain itu Id tidak akan
mampu menilai dan membedakan mana yang kita anggap benar dan
mana yang kita anggap salah karena hal itu bersifat tabu. Seperti dua
sisi mata uang logam, nafsu selalu memiliki dua sisi pula yaitu positif
dan negatif. Namun bagaimana pintarpintarnya dalam mengendalikan
nafsu negatif kita agar menjadi nafsu yang positif. Oleh karena itu
nafsu dalam diri manusia itu pasti selalu dimiliki oleh setiap manusia.
Nafsu ini dapat berbahaya jika kita memanfaatkan nafsu kita
untuk melakukan halhal yang bersifat individu tanpa memikirkan
kebutuhan orang lain. Apalagi jika nafsu itu adalah hanya untuk
kepentingan sendiri saja yang dapat membuat pihak lain merasa rugi.
Oleh karena itu kita harus selalu menahan hawa nafsu yang bersifat
negatif. Tetapi jika tidak ada nafsu maka tidak mungkin adanya
peradaban manusia. Nafsu itu boleh tinggi ketika hal itu bersifat
positif. Contoh dari nafsu yang bersifat postif adalah ketika nafsu
untuk ingin masuk perguruan tinggi dan jurusan yang sudah menjadi
impian kita. Maka dengan nafsu, kita akan terdorong dan termotivasi
untuk belajar agar masuk dan ketrima menjadi mahasiswa perguruan
tinggi dan jurusan yang kita inginkan. Contoh dari nafsu yang negatif
adalah nafsu ingin memiliki uang sebanyak mungkin dengan
memanfaatkan kedudukan dan jabatan yang sedang kita miliki. Hal
ini tentu sangat berbahaya karena dapat menimbulkan motif rasa
untuk memilikinya dengan berbagai cara misalnya seperti korupsi
atau tindak pencucian uang yang akhirakhir ini sedang marak di
Indonesia

2. Ego
Ego ini lebih sering kita kenal dengan sebutan rasionalitas.
Rasionalitas ini muncul karena adanya fungsi untuk menjembatani
tuntutan hawa nafsu manusia dengan realita yang ada di dunia luar
khususnya di sekitar kita. Rasionalitas yang dianggap sebagai
jembatan ini memiliki fungsi pula yaitu sebagai jembatan antara
hasrat atau nafsu dengan tuntutan rasional kita sebagai manusia yang
tentu pula bersifat realistis dan masuk akal sehat manusia. Dengan
rasionalitas maka manusia akan berpikir secara rasional pula. Menurut
Freud ego ini adalah struktur kepribadian yang menangani tuntutan
kenyataan karena ego sangat taat oleh prinsip kenyataan.
Ego ini dapat berkembang dari Id. Hal itu membuat orang
mampu menangani realita dengan rasionalitas yang kita miliki karena
ego termasuk salah satu prinsip dari realita (reality principle). Ego
dapat kita katakan sebagai pelaksana dari kepribadian yang memiliki
dua tugas utama. Pertama, ego ini memilih stimuli atau rangsanagan
mana yang akan kita respon serta insting mana yang akan dipusakan
sesuai dengan prioritas kebutuhan dari kita sendiri. Kedua, kita dapat
menentukan kapan dan bagaimana kebutuhan itu dapat kita puaskan
sesuai dengan tersedianya peluang dan kesempatan yang memiliki
resiko minimal. Ego ini tunduk dari Id dan harus mencari realitas apa
yang dibutuhkaan sehingga dapat memuaskan kebutuhan dan
meredakan ketegangan yang terjadi. Dengan ego pula, kita dapat
membedakan antara khayalan dengan kenyataan serta mau
menangguang segala ketegangan yang terjadi yang masih dalam batas
tertentu.
Ego ini dapat menunda pemuasan diri kita karena kita lebih
cenderung menggunakan ego untuk memuaskan diri yang lain yang
lebih seseuai dengan lingkungannya dan hati nurani. Dengan ego kita
dapat menggunakan kemampuan berpikir kita secara rasional dalam
mencari pemacahan masalah yang terbaik.Terkadang rasionalitas ini
mengalahkan hawa nafsu atau id. Kenapa? Ya karena dengan
rasionalitas manusia yang berpikir dengan rasional dan masuk akal ini
akan menghalangi nafsu-nafsu manusia yang akan berbuat negatif
karena memikirkan dampak-dampak negatif yang akan terjadi jika
seseorang akan melakukan perbuatan negatifnya karena rasa nafsu
yang tidak pernah puas.

3. Super Ego
Super ego biasa dikenal dengan sebutan atau istilah nurani
manusia. Superego tidak mempertimbangkan kenyataan karena
superego hanya mempertimbangkan berbagai dorongan id yang dapat
disalurkan dalam persyaratan moral yang dapat diterima.
Superego ini juga termasuk sebagai kekuatan dari kepribadian
yang menggunakan prinsip idealistik (idealistic principle). Prinsip ini
sebagai bentuk perlawanan dari prinsip kepuasan kepuasan Id dan
prinsip realistik dari Ego.
Ada tiga fungsi superego. Pertama, mendorong ego untuk
menggantikan tujuan-tujuan moralistik. Kedua, merintangi implus Id,
terutama implus seksual dan agresif yang bertentangan dengan
standar nilai masyarakat yang berkembang. dan yang terakhir adalah
mengejar kesempurnaan.
Super ego juga dikenal dengan sebutan polisi kepribadian
karena mengandung moralitas pada diri manusia. Polisi kepribadian
disini mempunyai arti bahwa super ego atau nurani manusia ini
memilki perasaan yang idealis. Kita sebagai anak sudah
mengembangkan superego yang kita miliki dengan berbagai perintah
dan larangan dari orang tua kita.
Super ego atau hati nurani ini muncul karena adanya
percampuran dari norma-norma sosial yang berkembang di masyarkat
dan lingkungan sekitar dengan budaya atau kultur yang turun temurun
dan sudah menjadi sebuah tradisi.
Dengan hati nurani yang baik yang dimilki oleh manusia
makan tentu saja akan menciptakan perilaku yang baik pula. Itu dapat
terjadi karena hati nurani yang dimiliki oleh manusia ini dapat
mengalahkan segala macam rasionalitas dan nafsu yang dimiliki
manusia pula.
Ketiga struktur kepribadian yang terdiri dari id, ego dan
superego yang sudah dijelaskan diatas itu bukan sebagai bagian yang
menjalankan kepribadian kita melainkan sebagai sistem struktur dan
proses psikologi yang mengikuti prinsip-prinsip tertentu. Ketiga
kepribadian ini sering muncul dengan tingkah laku kita yang
abnormal jika timbul adanya konflik.
Teori ini sangat menitikberatkan pada id, ego dan super ego.
Ketiga hal itu dianggap yang paling ada dan pasti dimiliki di dalam
diri manusia. Ketiga hal itu memang adalah hal yang pasti dimiliki
oleh manusia. Namun nafsu, rasional dan nurani itu dapat
dikendalikan manusia, apakah akan menjadi hal yang baik atau akan
menjadi hal yang kuran baik bahkan tidak baik itu semuanya
tergantung pada diri manusia.
Menurut Freud mekanisme pertahanan sebagai metode untuk
melindungi ego dan untuk mengurangi rasa cemas dengan berbagai
cara dan secara yang tidak sadar sehingga terdistorsi secara nyata.
Ada dua pokok dari mekanisme pertahanan ini yaitu bahwa kita
sepenuhnya tidak sadar bahwa kita telah menggunakan mereka dan
ketika kita menggunakan mekanisme pertahanan ini dengan kadar
menengah atau sementara maka membuat mekanisme pertahanan
yang selalu tidak sehat. Mekanisme pertahanan ini penting sekali
untuk kita miliki karena dapat membantu ego yang kita miliki agar
dapat bertahan hidup dalam mengahadapi segala tekanan yang kita
hadapi.
Selain dalam psikologi ini, Freud juga menganggap naluri
sebagai dinamika dari kepribadian kita. Ada dua naluri perwujudan
yang kita alami yaitu naluri hidup dan naluri mati. Naluri hidup ini
seperti cinta dan seks. Sedangkan naluri mati itu dapat berupa rasa
benci dan agresif.

Slide 5
Tahapan Perkembangan kepribadian
Freud menganggap dan meyakini bahwa tahapan ini sebagai
kepribadian seseorang yang berasal dari pengalaman awal di
kehidupan orang itu. Berikut tahapan-tahapan perkembangan
kepribadian yang universal:

1. Tahap oral (18 bulan pertama)


Tahap ini menjelaskan bahwa bayi memiliki pusat kenikmatan yang
terletak di mulut. Karena mulut sering dilakukan oleh bayi untuk
mengunyah, menghisap, dan menggigiti ketika menyusui ibunya.
Makanan bayi di umur-umur awal ini masih menggunakan ASI oleh
karena itu minum ASI adalah hala yang menjadi sumber kenikmatan
yang mengurangi rasa tegang pada bayi. Hal itu juga terjadi karena
bayi masih ketergantungan dengan ibunya untuk kelangsungan
hidupnya. Jadi tidak salah lagi jika bayi diumur segitu hanya
memiliki aktivitas yang rutin yaitu meminum susu dari ibunya atau
ASI dan tidur.
2. Tahap anal (18-36 bulan)

Pada tahap ini anak sedang belajar bagaimana caranya buang air besar dan kecil di toilet
sehingga anak belajar untuk tidak mengompol lagi celana. Dengan cara ini anak mulai
belajar dan membedakan serta menjaga keseimbangannya antara tuntutan Id dengan
batasan-batasan sosial yang sudah ditetapkan oleh orangtuanya. Hal ini dapat
mengembangkan sikap positif anak dan mengembangkan bakat anak yang lebih kreatif
dengan cara orangtua lebih sering memberikan pujian dan penghargaan kepada anak yang
sedang belajar pembuangan kotoran karena dengan cara ini anak dapat merasakan dihargai.
3. Tahap phalic (3-6 tahun)
Pada tahap ini kenikmatan ini terpusat pada alat kelamin seiring dengan
anak menemukan bahwa merangsang diri sendiri dapat membawa
kenikmatan. Menurut Freud walaupun anak tidak memiliki pemahaman
seksualitas yang jelas, tapi kehidupan dan dorongan seksual telah mulai
tumbuh. Hal ini sering terjadi pada setiap anak atau yang sering dikenal
dengan Oedipus Complex. Oedipus Complex merupakan bahwa pada
usia segini anak laki-laki cenderung memiliki keinginan untuk
menggantikan ayahnya dan menikmati afeksi dari ibunya. Hal itu terjadi
karena pada hakekatnya anak laki-laki yang akan menjadi pengganti
kepala keluarga setelah ayahnya meninggal. Sedangkan konflik elektra
yang terjadi pada anak perempuan yaitu seperti yang terjadi oada anak
laki-laki, bahwa objek cinta pertamanya anak perempuan adalah ibunya.
Kenapa demikian? Hal ini terjadi karena pada masa ini perhatian anak
adalah pada alamat kelaminnya dan dia tidak menemukan yang ada pada
saudara laki dan ayahnya, maka anak akan mengalami kekecawaan
besar.
4. Tahap laten (6 tahun sampai pubertas)
Tahap ini dianggap bukan tahap perkembangan tetapi lebih kepada masa
istirahatnya psikisnya anak karena dorongan seksual yang dimiliki oleh
anak ini tidak hilang tetapi seakan- akan sedang tertidur atau istirahat.
Tahap ini adalah tahap masa perkembangan ego dan supergo. Dengan
tahap ini anak dituntut harus belajar menyesuaikan dirinya dengan
lingkungan sosial yang lebih luas dengan mempelajari cara membaca
dan menulis.
5. Tahap genital (remaja dan dewasa)
Tahap ini yang dianggap sebagai masa kebangkitannya kembali
seksualitas sebagai sumber kenikmatan seksual yang sekarang dialami
oleh anak dengan umur segini tetapi dengan orang lain, bukan dengan
keluarga. Tahap ini juga sebagai puncak perkembangan kepribadian
manusia dari masa remaja sampai kita meninggal. Tahap ini menurut
Freud, manusia dapat menjadi sosok yang paling sempurna karena
dengan umur segitu maka kararkter seseorang telah terbentuk dan
berkembang menjadi hubungan sosial-seksual yang matang dalam cinta
dengan tipe normal yaitu tipe heteroseksual. Selain itu perhatian remaja
akan mulai beralih ke lawan jenis dan menyukainya hingga mengalami
tahap pacaran dan tahap pernikahan sehingga membentuk sebuah
keluarga.

Hal yang perlu diperhatikan oleh kita menurut Freud adalah bahwa
setiap individu dapat menjadi terpaku pada tahapan perkembangan mana
saja jika kita terlalu dimanjakan atau kurang dimanjakan pada suatu
tahap. Jadi kita seharusnya seimbang dalam perkembangan kepribadian
kita karena jika terlalu berlebihan dan terlalu kekurangan itu tidak akan
baik. Dengan fiksasi pula mekanisme pertahanan individu kita yang akan
muncul ketika kita tetap bertahan dalam tahap perkembangan
sebelumnya. Segala aspek kepribadianlah yang akan membantu kita
dalam proses menuju kedewasaan kita.

Slide 6

Aliran psikologi analisis atau yang biasa dikenal psikoanalisis ini terdiri dari personal
dan interpersonal. Kepribadian ini mempengaruhi proses belajar dan perilaku kita. Freud
berpendapat bahwa orang yang bertindak dengan atas dasar motif yang tidak disadarainya
maupun atas dasar pikiran, perasaan, dan kecenderungannya yang sebagian disadari. Freud juga
menjelaskan bahwa tingkah laku kita sebagai manusia ini bersumber dari dorongan-dorongan
alam bawah sadarnya.

Menurut Freud, kehidupan jiwa kita memiliki tiga tingkatan kesadaran yaitu sadar
(conscious), prasadar (preconscious) dan tidak sadar (unconscious).
a. Sadar (conscious)

Tingkat kesadaran ini menjelaskan kesadaran kita yang berisi semua hal yang kita
cermati pada saat keadaan tertentu. Menurut Freud kesadaran ini hanya sebagian kecil
saja dari kehidupan mental kita seperti pikiran, persepsi, perasaan dan ingatan kita.
Kesadaran ini merupakan hasil dari proses penyaringan yang diatur oleh stimulus dan
rangsangan kita.

b. Prasadar (preconscious)

Prasadar ini sering kita kenal dengan sebutan ingatan yang siap (available memory).
Prasadar ini dapat dikatakan sebagai jembatan antara kesadaran dan ketidaksadaran kita.
Proses prasadar ini terbentuk karena adanya pengalaman yang ditinggalkan oleh
perhatian kita sehingga dari semula yang kita sadari menjadi yang tidak kita cermati
sehingga akan menekan untuk berpindah ke daerah prasadar. Ketidaksadaran kita yang
sudah berada di daerah prasadar ini dapat muncul kesadaran dalam bentuk simbolik
seperti mimpi, lamunan, salah ucap dan mekanisme pertahanan diri kita.

c. Tidak sadar (unconscious)

Ketidaksadaran adalah bagian yang paling dalam dari struktur kesadaran. Menurut
Freud bagian ketidakasadaran ini adalah bagian terpenting dari jiwa manusia. kesadaran
kita dapat berupa insting, implus dan drives yang dibawa sejak kita lahir. Isi dari
ketidaksadaran ini memiliki kecenderungan yang kuat untuk bertahan terus untuk tetap
di dalam ketidaksadaran sehingga mempengaruhi kita untuk mengatir tingkah laku kita
yang sangat kuat dan tidak disadari.
Pikiran kesadaran dan ketidaksadaran ini dianalogikan sebagai gunung es oleh
Freud. Tujuan analogi gunung es ini, Freud ingin menggambarkan bahwa seberapa luas
bagian dari ketidaksadaran pikiran yang kita miliki ini. Dengan gunung es kita dapat
mengetahui bhawa super ego dan ego ini terdapat pada kesadaran dan ketidaksadaran
kita. Sedangkan Id sepenuhnya di dasar gunung es yang berada sepenuhnya pada zona
ketidaksadaran yang kita miliki.

Slide 8

Terdapat beberapa bentuk mekanisme pertahanan diri, yaitu:

a. Distorsi, merupakan pertahanan yang dilakukan dengan melakukan penyangkalan


terhadap kenyataan hidupnya, dengan tujuan untuk meghindari kecemasannya.
b. Proyeksi, merupakan upaya menyalahkan oranglain atas kesalahan dirinya sendiri yang
tidak baik kepada orang lain.
c. Fiksasi, adalah terhentinya perkembangan normal pada tahap perkembangan tertentu
karena perkembangan lanjutannya sangat sukar sehingga menimbulkan frustasi dan
kecemasan terlalu kuat.
d. Regresi, adalah secara tidak sadar memunculkan perilaku yang tidak matang, yaitu
mundur ke fase perkembangan sebelumnya yang di pandang tidak terlalu berat
tuntutannya.
e. Rasionalisasi, adalah membuat alasan yang tampak masuk akal guna membenarkan
tindakannya yang salah atau meminimalkan konsekuensi kejiwaan yang didapat karena
kesalahannya, sehingga apa yang dialaminya dapat diterima oleh orang lain dan
terhindar dari rasa cemasnya.
f. Sublimasi, merupakan mengganti dorongan-dorongan yang tidak dapat diterima secara
social ke bentuk yang dapat diterima secara social.
g. Salah sasaran, merupakan perasaan bermusuhan atau agresivitasnya dari sumber-sumber
aslinya ke orang suatu objek lain yang biasanya kurang penting.
h. Identifikasi, merupakan menambah rasa harga diri dengan menyamakan dirinya dengan
orang lain yang mempunyai nama.
i. Kompensasi, menutupi kesalahan dengan jalan memuaskan atau menunjukkan sifat
tertentu secara berlebihan karena frustasi delam bidang lain.

Slide 10

a. Asosiasi Bebas,
merupakan teknik utama psikoanalisis. Pasien diminta untuk mengatakan
(mengungkapkan)apa saja yang berada dalam pikirannya (perasaannya).
Menggunakan teknik ini memang tidak mudah dan sering memakan waktu
lama.
b. Analisis Mimpi,
Teknik ini terkait dengan asosiasi bebas. Ketika pasien tidur, ego menjadi
lemah untuk mengontrol dorongan-dorongan Id atau hal-hal yang tidak
disadari. Akhirnya dorongan-dorongan tersebut dapat mendesak ego untuk
memuaskannya. Proses pemuasan itu dilambangkan dalam bentuk mimpi.
Untuk menelusuri akar masalah yang dialami pasien, maka para analis dapat
mengungkapkannya dengan cara menganalisis mimpi pasien tersebut. Dalam
hal ini, pasien diminta untuk menceritakan isi mimpinya kepada konselor.
c. Interpretasi
Setelah masalah pasien diketahui dengan jelas, kemudian konselor mulai
menginterpretasikan masalah pasien tersebut. Melalui interpretasi dari
konselor ini, pasien menjadi terdorong untuk mengakui ketidaksadarannya,
baik terkait dengan pikiran, kegiatan, atau keinginan-keinginannya. Dengan
demikian interpretasi ini merupakan cara yang memfasilitasi pasien untuk
memahami ketidaksadarannya.
d. Resistensi
Memperoleh wawasan (insight) tidaklah mudah, karena masalah-masalah
neurotic yang dialami pasien dapat juga menimbulkan sikap resisten pasien
terhadap proses terapeutik. Sikap ini dipicu juga oleh ketidaksadaran dan
pertahanan diri yang terancam. Resistensi pasien ini dinyatakan dalam banyak
cara seperti tidak menepati janji, menolak interpretasi, dan banyak
menghabiskan waktu untuk diskusi.
e. Transferensi
Transferensi terjadi ketika pasien merespon konselor sebagai seorang figur
pada waktu kecil (orang tua). Respon ini bisa postifi dan bisa juga negative
begrantung pada suasana emosional yang dialaminya. Transferensi
memberikan petunjuk tentang hakikat maslah atau kesulitan pasiensehingga
memudahkan konselor untuk menginterpretasikannya. Sikap transferensi
pasien itu mungkin dinyatakan dalam bentuk pujian, celaan, atau marah
(ketidaksenangan).
Reaksi transferensi pasien terhadap konselor dipengaruhi oleh prasangka-
prasangka yang tidak realistic sebagai refleksi dari suasana emosional masa
lalunya. Terkait dengan hal ini konselor bertugas untuk meneliti reaksi-reaksi
tersebut agar memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang masalah
pasien.