Anda di halaman 1dari 20

Penyusunan Rencana Induk Pengembangan Industri

di Provinsi Jambi

KERANGKA ACUAN KERJA

1.1 LATAR BELAKANG

alah satu misi pembangunan industri kedepan adalah mendorong penyebaran

S industri keseluruh wilayah Indonesia dan perlahan menunjukan pencapaian yang


cukup mengembirakan. Walaupun kontribusi pulau Sumatera dalam PDB sektor
industri pengolahan non migas masih sangat dominan, namun demikian menunjukan
kecenderungan yang terus menurun, secara perlahan sektor industri pengolahan non migas
mulai bergeser ke luar Pulau Jawa. Disamping itu pertumbuhan industri non migas di luar
Pulau Jawa mencapai 6,31% juga lebih tinggi dari pertumbuhan Pulau Jawa sebesar 6,2%
pada tahun 2013 (BPS, 2015). Belum berkembangnya infrastruktur pendukung industri
relatif berjalan lambat. belum meratanya perkembangan sektor industri disetiap provinsi
terlihat karena hanya 4 provinsi yang peranan sektor industrinya kuat dengan nilai LQ lebih
dari 1 provinsi Jawa Barat, Banten, Kep. Riau dan Jawa Timur. Kementerian perindustrian
akan terus berupaya untuk melakukan pemeratan dan penyebaran industri ke seluruh
wilayah Indonesia. Diharapkan kedepan kontribusi wilayah di luar Pulau Jawa dalam
sumbangannya terhadap nilai tambah sektor industri akan terus ditingkatkan dari 28% pada
tahun 2013 menjadi 45% pada tahun 2035.

Sesuai dengan amanat pada Pasal 14 UU No. 3 tahun 2014 tentang perindustrian,
pemerintah dan pemerintah daerah melakukan percepatan penyebaran dan pemerataan
pembangunan industri keseluruh wilayah negara RI melalui Perwilayahan Industri yang
dilaksanakan melalui:

a. Pengembangan Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri (WPPI).


b. Pengembangan kawasan peruntukan industri (KPI).
c. Pembangunan Kawasan Industri (KI).
d. Pembangunan Sentra Industri Kecil dan Industri Menengah (SIKIM).

Pada perencanaan dan pengembangan industri maka yang pertama yang bisa di lakukan
adalah menyusun perencanaan di tingkat Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri (WPPI)
dimana
Penyusunan Rencana Induk Pengembangan Industri
di Provinsi Jambi

wilayah yang dirancang dengan pola basis pengembangan industri dengan pendayagunaan
potensi sumberdaya wilayah melalui penguatan infrastruktur, industri dan konektivitas yang
memiliki keterkaitan ekonomi kuat. Provinsi/kabupaten/kota yang tidak termasuk sebagai
WPPI diberikan peranan sebagai pendukung WPPI. Peranannya dapat berupa : penyedia
bahan baku, penyedia tenaga kerja, tempat penelitian dan pengembangan, penyedia
sumber air bersih, dan lain-lain.

Era globalisasi dan liberalisasi ekonomi telah membawa dampak yang sangat siknifikan
antara lain pada semakin ketatnya persaingan di sektor industri. Daya saing yang tinggi
dari sektor industri dapat tercapai apabila sektor industri memiliki struktur yang kuat,
adanya peningkatan nilai tambah dan produktivitas di sepanjang rantai nilai produksi,
dan dukungan dari seluruh sumberdaya produktif yang dimiliki.

Dalam kerangka persaingan yang ketat tersebut, Kementerian Perindustrian mengemban


visi pembangunan industri nasional Indonesia yaitu pada Tahun 2020 Indonesia telah
menjadi sebuah Negara Industri Maju Baru. Untuk mewujudkan visi tersebut maka strategi
yang dilakukan berupa peningkatan nilai tambah dan produktivitas, pengembangan klaster
industri, pengembangan lingkungan bisnis yang nyaman dan kondusif, pembangunan
industri yang berkelanjutan, persebaran industri, dan pengembangan industri kecil dan
menengah.

Implementasi terhadap strategi pembangunan industri tersebut di atas antara lain


dilakukan melalui pembangunan pusat-pusat pertumbuhan industri yang berbasiskan
keunggulan komparatif daerah. Pembangunan pusat-pusat pertumbuhan tersebut
berupa pembangunan kawasan industri dengan ciri-ciri: (1) diarahkan untuk
pengembangan kota baru, (2) infrastruktur sudah terintegrasi dengan sistem logistik
yang efektif dan efisien, (3) berorientasi pada pelayanan jasa, (4) adanya sarana
pendidikan kekhususan industri, (5) adanya pusat inovasi, dan (6) memperhatikan aspek
lingkungan.

Dengan banyaknya dan beragamnya keunggulan komparatif daerah maka secara teoritis
dimungkinkan untuk dibangun beberapa pusat pertumbuhan industri di beberapa lokasi
pada wilayah tertentu. Untuk meningkatkan kinerja berbagai pusat-pusat pertumbuhan
maka konektivitas menjadi suatu keniscayaan.
Penyusunan Rencana Induk Pengembangan Industri
di Provinsi Jambi

Sejalan dengan arah pengembangan dan pembangunan wilayah visi pembangunan


perwilayahan industri nasional ditujukan untuk percepatan penyebaran dan pemerataan
industri sebagaimana dijelaskan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2015
tentang Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN). Salah satu strategi yang
diusulkan adalah ditetapkannya Wilayah Pusat Pertumbuhan Industri (WPPI). Tujuan WPPI
adalah terbentuknya suatu wilayah dengan karakteristik tertentu yang berpotensi untuk
menumbuhkan dan mengernbangkan industri tertentu. Sebagai penggerak utama (prime
mover) bagi pengembangan wilayah tersebut serta mendorong peningkatan pertumbuhan
industri dan ekonomi pada daerah lain sekitarnya dalam suatu wilayah regional, sehingga
sasaran-sasaran pembangunan industri yang terdapat dalam RIPIN dapat dicapai..
Selanjutnya, sebagai implementasi dari penetapan wilayah pengembangan industri
tersebut, maka perlu dilakukan penyusunan rencana induk pengembangan Industri yang
nantinya akan menjadi pedoman bagi semua pemangku amanah dalam melaksanakan
program-program pengembangan wilayah pusat pertumbuhan industri.

Sebagai dokumen perencanaan pembangunan industri di daerah, rencana induk


pengembangan Industri memerlukan pendekatan dan perencanaan yang sistematik, serta
mencakup tahapan pencapaian dalam kerangka waktu jangka pendek, menengah, hingga
jangka panjang yang mengacu pada PP No. 14 Tahun 2015 tentang RIPIN. Perencanaan
yang dilakukan dilandasi oleh identifikasi potensi sumberdaya industri dan infrastruktur
industri. Di samping potensi yang telah diidentifikasi, perencanaan ini perlu menetapkan
industri prioritas, pembangunan sumber daya industri (SDM, SDA, Teknologi, Inovasi dan
kreativitas, serta pembiayaan industri), penguatan infrastruktur industri termasuk
pembangunan sistem logistik dan penguatan konektivitas). Selain itu, rencana induk
pengembangan WPPI yang dihasilkan mampu mengidentifikasi kebutuhan lnvestasi dan
sumber pembiayaan, serta menjelaskan dampak pengembangan WPPI terhadap
pencapaian sasaran pembangunan industri wilayah. Dari aspek spasial, rencana induk
pengembangan WPPI perlu mereview kapasitas dan menetapkan lokasi Kawasan
Peruntukkan Industri (KPI), Kawasan Industri dan Sentra IKM, sekaligus memperhatikan
isu pembangunan yang berkelanjutan. Artinya, konsepsi pengembangan WPPI perlu
memperhatikan aspek lingkungan dan keterlibatan masyarakat, terintegrasi dengan
pembangunan urban dan regional, serta adanya pembagian peran Pemerintah dan
Pemerintah Daerah secara tegas.
Penyusunan Rencana Induk Pengembangan Industri
di Provinsi Jambi

1.2 MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud dari kegiatan ini adalah untuk menyusun Rencana Induk Pengembangan Industri
untuk jangka waktu perencanaan 20 tahun ke depan.

Sedangkan tujuan kegiatan ini sebagai acuan bagi Pemerintah dan Pemerintah Daerah
untuk menetapkan kebijakan sektoral dalam rangka mendukung pengembangan Industri
sesuai dengan kewenangan masing-masing; dan acuan bagi pemerintah daerah dalam
melaksanakan kebijakan pengembangan industri Penyusunan Pola Pengembangan industri
Provinsi Jambi.

1.3 RUANG LINGKUP

1.3.1 Ruang Lingkup Wilayah

Ruang lingkup daerah kajian dilakukan di Kawasan Pertumbuhan Industri Provinsi Jambi.
Guna mengetahui orientasi wilayah perencanaan dan administrasi wilayah perencanaan,
Gambar 1.1 dan Gambar 1.2.
Penyusunan Rencana Induk Pengembangan Industri
Provinsi Jambi

Gambar 1.1
Peta Ruang Lingkup Wilayah Kajian

LAPORAN ANTARA 1-5


Penyusunan Rencana Induk Pengembangan Industri
Provinsi Jambi

LAPORAN ANTARA 1-6


1.3.2 Ruang Lingkup Kegiatan

Secara umum ruang lingkup keseluruhan kegiatan Perencanaan pengembangan


pertumbuhan industri ini adalah :

a. Penetapan Industri Prioritas sebagai pendorong utama (anchor industry);


b. Pembangunan sumber daya industri dalam wilayah pengembangan industri provinsi
jambi setidaknya meliputi analisis pembangunan SDM industri, pernanfaatan,
penyediaan dan penyaluran SDA, pengembangan dan pemanfaatan teknologi industri,
penguatan IPTEK, kreativitas dan inovasi;
c. Analisis kebutuhan dan penetapan lokasi kawasan peruntukkan industri (KPI), kawasan
industri dan sentra IKM;
d. Pengembangan sistem logistik dan konektivitas WPI Jambi terhadap WPPI yang berada
di sekitarnya;
e. Analisis kebutuhan infrastruktur WPPI setidaknya meliputi lahan industri, jaringan
energi dan kelistrikan, jaringan telekomunikasi, jaringan sumber daya air, fasilitas
sanitasi dan jaringan transportasi, fasilitas penguatan SDM industri;
f. Analisis kebutuhan investasi dan sumber pembiayaan, serta simulasi dampak
pengembangan industri terhadap pencapaian sasaran pembangunan industri wilayah;
g. Pembagian peran Pemerintah dan Pemerintah Daerah; dan
h. Penyusunan Rencana Strategi dan Rencana Aksi, yaitu analisa dan perumusan Rencana
Strategis dan Rencana Aksi untuk mendukung implementasi pengembangan Industri di
Provinsi Jambi.

Dalam proses penyusunan Pengembangan industri perlu juga dilakukan identifikasi potensi
pengembangan perwilayahan industri yang meliputi :

a. Identifikasi potensi yang dimiliki daerah

Analisis potensi sumberdaya yang dimiliki daerah dilakukan untuk melihat potensi
sumber daya alam, sumber daya manusia dan lokasi geografis dan infrastruktur, baik
yang sudah ada maupun rencana pengembangan ke depan di suatu wilayah sehingga
dapat dikembangkan sebagai satu atau beberapa perwilayahan industri.
b. Analisis RTRW untuk melihat kesesuaiannya dalam pengembangan industri

Analisis RTRW dilakukan untuk mengidentifikasi daerah-daerah yang ditetapkan sebagai


kawasan peruntukan industri dan survey secara fisik ke lokasi untuk melihat kelayakan
kawasan peruntukan industri dari sisi aspek teknis.

c. Identifikasi infrastruktur yang dimiliki daerah

Analisis infastruktur yang dimiliki daerah dilakukan untuk melihat infrastruktur baik yang
sudah ada maupun rencana pengembangan ke depan sehingga dapat mendukung
pengembangan wilayah tersebut sebagai WPPI, KPI, KI atau Sentra IKM.

d. Analisis penetapan wilayah

Analisis penetapan wilayah dilakukan untuk mengelompokkan daerah-daerah yang


disurvei untuk dikembangkan sebagai WPPI, KPI, KI atau Sentra IKM.

Pelaksanaan pekerjaan adalah sebagai berikut:

a. Persiapan dan Koordinasi

Tahap persiapan terdiri dari penyusunan rencana kerja serta penyusunan desain survei
dan pengumpulan data. Berkoordinasl dengan Kementerian dan Instansi lain di tingkat
pusat dan daerah terkait dengan berbagai program dan rencana pengembangan
wilayah studi yang ditetapkan sebagai WPPI, tahap ini juga termasuk melakukan desk
study terkait berbagai konsep yang dapat digunakan untuk best practice
pengembangan wilayah industri.

b. Pengumpulan dan Pengolahan Data

Pengumpulan data dan informasi baik untuk data sekunder dari berbagai lembaga
maupun data primer melalui observasi, wawancara dan survey lapangan.

c. Analisis

Analisis dilakukan dengan menggunakan berbagai alat dan metode pengolahan data
yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah sehingga dapat menjadi pijakan
dalam penyusunan rencana kebijakan.
d. Pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD)

Focus Group Discussion (FGD) dilaksanakan dua kali dalam rangka mendapatkan
masukan dari stakeholder daerah terkait hasll survey dan laporan antara rencana induk
pengembangan Industri.

e. Pelaksanaan Konsinyering

Konsinyering dilaksanakan satu kali dalam rangka mendapatkan masukan dari


stakeholder pusat dan daerah terkait draf laporan akhir rencana induk pengembangan
WPPI.

f. Penyusunan Rencana Induk Pengembangan WlIayah Pertumbuhan Industri

Penyusunan Rencana Induk Wilayah Pertumbuhan Industri yang juga memuat


Rencana Strategis dan Rencana Aksi Pengembangan Wilayah Pertumbuhan Industri
Penyusunan Pola Pengembangan Wilayah Pertumbuhan Industri di Kab. ......, Kab.
......., Kab. ........ Berdasarkan hasil analisa dan masukan dari stakeholder daerah saat
FGD dan konsinyering.

1.4 KELUARAN KEGIATAN

Keluaran (output) dari kegiatan ini adalah dokumen perencanaan berupa Dokumen
rencana induk pengembangan Wilayah Pertumbuhan Industri Penyusunan Pola
Pengembangan Wilayah Pertumbuhan Industri di Kab. ......, Kab. ......., Kab. ........ yang
juga memuat Rencana Strategis dan Rencana Aksi Pengembangan WPPI Penyusunan Pola
Pengembangan Wilayah Pertumbuhan Industri Provnsi Jambi.

A. Tahapan Pelaksanaan Pekerjaan

Tahapan pelaksanaan pekerjaan Penyusunan Rencana Induk Pengembangan Wilayah


Pertumbuhan Industri Kab. ......, Kab. ......., Kab. ........ terdiri dari beberapa tahapan
yang meliputi:

1. Tahap Persiapan
Tahap persiapan mencakup segenap kegiatan yang perlu dipersiapkan untuk
memulai pekerjaan, baik sebelum maupun setelah terbitnya Surat Perintah Mulai
Kerja (SPMK), antara lain:
a. Desk study peraturan perundangan dan dokumen perencanaan/hasil penelitian
perencanaan. Desk study kebijakan pengembangan industri, meliputi:

Visi Pembangunan Industri Nasional.


Arahan RPJMN Tentang Pembangunan Industri.
Rencana Induk Pengembangan Industri Nasional (RIPIN).
RTRW Provinsi dan Kabupaten/Kota wilayah perencanaan.
b. Pengurusan administrasi proyek dan penyelesaian Dokumen Kontrak;
c. Mobilisasi Tenaga Ahli dan Tenaga Pendukung;
d. Memantapkan dan menjabarkan rumusan maksud, tujuan, dan sasaran
pekerjaan;
e. Merumuskan keluaran (output) dari tiap kegiatan, sasaran, dan tolok ukur
pencapaian yang digunakan;
f. Koordinasi awal bersama Tim Konsultan, Tim Supervisi, KPA/PPK sebelum
memulai pekerjaan penyusunan Masterplan;
g. Menyiapkan segenap prasarana dan sarana, peralatan dan kelengkapan kerja;
h. Pengumpulan data sekunder awal, referensi terkait; dan citra satelit lokasi
perencanaan;
i. Melakukan interpretasi peta (dalam hal diperoleh shp peta lokasi perencanaan
yang diinginkan) untuk menghasilkan peta dasar, sebaran bangunan,
penggunaan lahan, dan topografi wilayah; dan
j. Penyiapan administrasi survei, pengadaan perlengkapan survei dll.

Sebelum memulai kegiatan pekerjaan, konsultan harus mengadakan konsultasi


terlebih dahulu dengan Pengguna Jasa/Kuasa Pengguna Anggaran/Pejabat
Pembuat Komitmen/Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan, untuk konfirmasi mengenai
pekerjaan yang akan ditangani beserta utilitasnya.

Adapun data-data yang diperlukan sebelum melaksanakan pekerjaan sebagai


berikut :

a. Data-data dokumen kontrak sesuai dengan Penyedia Barang/Jasa yang ditunjuk


untuk melaksanakan kegiatan pembangunan.
b. Data lokasi untuk membantu proses selanjutnya.
c. Usulan-usulan teknis lain dari sumber-sumber yang dapat dipercaya.
d. Studi-studi terdahulu maupun data-data sekunder lainnya yang diperlukan dan
dianggap penting

2. Tahap Pengumpulan Data dan Informasi

Tahap ini bertujuan untuk dapat mengidentifikasi kondisi awal lokasi perencanaan
dan kecenderungan perkembangannya. Data dan informasi tersebut berdasarkan
runtun waktu (time series) hingga saat tahun penyusunan. Jenis data yang
dikumpulkan mengkuti kajian yang akan dilaksanakan. Jenis data yang dikumpulkan
meliputi data primer dan sekunder.

3. Tahap Kompilasi Data dan Analisa Data

a. Kompilasi Data

Kompilasi data merupakan kegiatan tahap lanjut di studio setelah dilaksanakan


survei sekunder dan survei primer, meliputi : kompilasi data hasil survei,
justifikasi wilayah perencanaan dan rumusan-rumusan data lainnya. Adapun
identifikasi potensi industri di wilayah perencanaan, meliputi:
Identifikasi dan Pemetaan Potensi Industri.
Inventarisasi Jenis Industri.
Kondisi sistem logistik.
Kondisi sistem sarana dan prasarana pendukung.
Kondisi Ketenagakerjaan.

b. Analisa Data

Tahap ini merupakan proses penyusunan kajian analisis dan pembahasan


terhadap hasil identifikasi temuan data penelitian dengan pendekatan pada
sintesis teori-teori pustaka, data literatur, dan peraturan pemerintah maupun
arahan kebijakan kawasan. Kajian analisis dilakukan dengan metode kualitatif
deskriptif, baik disajikan secara tertulis maupun gambar. Analisis data untuk
WPPI ini, meliputi:
Penetapan industri prioritas.
Analisa spasial tata ruang.
Analisa penetapan wilayah.
Analisa sistem logistik dan konektivitas WPPI.
Analisa kebutuhan infrastruktur.
Analisa kebutuhan investasi dan sumber pembiayaan, serta simulasi dampak
pengembangan WPPI.
Analisa kelembagaan.

4. Tahap Perumusan Konsep Pengembangan Perwilayahan Industri

a. Perumusan konsep/prinsip dasar pengembangan.


b. Konsep konektivitas dan sinergitas antar daerah dalam WPPI.
c. Konsep pengembangan infrastruktur.
d. Konsep pola pengembangan industri.
e. Perumusan rencana strategis dan rencana aksi.

5. Tahap Rencana Pengembangan Pusat Pertumbuhan Industri

a. Rencana konektivitas dan sinergitas antar daerah dalam WPPI.


b. Rencana Pengembangan Infrastruktur fisik meliputi transportasi air baku/bersih,
listrik, energi dan telekomunikasi serta infrastruktur non fisik yaitu sumber daya
manusia.
c. Rencana strategis pengembangan WPPI, yang meliputi visi, misi, strategi
pengembangan WPPI serta rekomendasi aspek sosial lingkungan.
d. Rencana aksi pengembangan WPPI, meliputi kelembagaan, pentahapan
program dan sumber pendanaan.

6. Tahap Pelaksanaan FGD (Focus Group Discussion)

Tahap ini dilakukan 2 kali FGD dengan mengundang lintas SKPD terkait dan
stakeholder lainnya. Kegiatan FGD dilakukan untuk memperkaya dalam Penyusunan
Rencana Induk Pengembangan WPPI Kota Makasar, Kab. Maros, Kab. Gowa, Kab.
Takalar, Kab. Jeneponto dan Kab. Bantaeng. Kegiatan pelaksanaan FGD dilakukan
sebagai berikut:
a. Pra Laporan Antara; dan
b. Pasca Laporan Antara.

7. Tahap Pelaksanaan Rapat Pembahasan Laporan

a. Rapat Pembahasan Riset Desain.


b. Rapat Pembahasan Laporan Pendahuluan.
c. Rapat Pembahasan Laporan Antara.
d. Rapat Pembahasan Laporan Rampung (Laporan Akhir).

8. Tahap Pelaporan

a. Laporan Riset Desain.


b. Laporan Pendahuluan.
c. Laporan Antara.
d. Laporan Rampung (Laporan Akhir).
e. Ringkasan Eksekutif (Executive Summary).

1.5.2 Alat Analisis

A. Analisa Proyeksi Penduduk dan Tenaga Kerja

B. Analisis Pola Pergerakan Transportasi (Sistem Logistik)

Skema pola penggunaan ruang yang menentukan intensitas populasi dan lokasi
produksi dapat dilihat pada RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah), dalam skala Provinsi,
maupun Kabupaten/Kota. Sehingga penelaahan terhadap dokumen perencanaan ruang
ini sangatlah penting. Dalam analisis pusat produksi pergerakan yang paling penting
untuk diketahui adalah mengenai:

Jenis, volume, dan pola pergerakan orang/barang yang diproduksi.


Variabel atau determinan utama yang mendukung tingkat produksi pergerakan
orang/barang di wilayah yang bersangkutan.
Kecenderungan terhadap perubahan permintaan perjalanan diantara pusat-pusat
produksi pergerakan yang ada.

C. Analisis Kebutuhan Infrastruktur

Alat analisis untuk kebutuhan infratruktur di WPPI adalah menggunakan Peraturan


Menteri Perindustrian dan Perdagangan No.40 tahun 2016 tentang Pedoman Teknis
Pembangunan Kawasan Industri.

D. Analisis Pemilihan Pusat Pengembangan Industri

Faktor yang menentukan dalam berdirinya suatu industri di suatu wilayah yang
menyangkut faktor ekonomis, historis, manusia, politis dan geografis (Drs.
N. Daldjoeni, Geografi Baru) diantaranya adalah :

a. Bahan mentah.
b. Sumber daya tenaga (power resource).
c. Suplai tenaga kerja.
d. Suplai air.
e. Pasaran.
f. Fasilitas transportasi.

Konsep Von Thunen bahwa sewa tanah sangat mempengaruhi jenis kegiatan yang
mengambil tempat pada lokasi tertentu masih tetap berlaku dan hal ini mendorong
terjadinya konsentrasi kegiatan tertentu pada lokasi tertentu. Adapun faktor-faktor yang
berpengaruh dalam penentuan suatu lokasi diantaranya adalah :

a. Tanah.
b. Modal, finansial dan alat.
c. Material dan energi.
d. Tenaga kerja dan management.
e. Pasar dan harga.
f. Transportasi dan biaya angkut.
g. Aglomerasi, linkage dan eksternal economies.
h. Public policy, perencanaan dan pemerintahan.
i. Organisasi dan perilaku.
Pada dasarnya penentuan lokasi industri berdasarkan sifat bahan baku dan produk
jadinya dapat dibagi menjadi :

a. Jenis industri yang lokasinya mendekati bahan baku (raw mterial).


b. Jenis industri yang lokasinya mendektai pasar (market oriented).
c. Jenis industri yang lokasinya berada pada suatu titik persimpangan jalan antara
beberapa daerah sumber (junction oriented) (Yenni Rostiani, 1979:4).

Lokasi industri tersebut ditentukan berdasarkan perbedaan ongkos transport bahan


baku dengan produk jadi. Jika ongkos transport bahan baku perunit lebih kecil
dibandingkan produk jadi, lokasi ditentukan berdasarkan proses produksi yaitu apakah
setelah proses terjadi penambahan berat barang jadi, maka lokasi industri cenderung
mendekati bahan baku (Emil Salim, 1977 : 64-68). Jadi minimasi ongkos transport
berpengaruh dalam penentuan lokasi industri.

Pada kenyataannya minimasi ongkos transport bukan satu-satunya faktor yang


berpengaruh dalam penentuan lokasi industri. Suatu industri mungkin saja memilih
lokasi pada suatu tempat yang ongkosnya transportnya relatif besar asal tujuan akhir
dapat dicapai semaksimal mungkin. Faktor-faktor lain tersebut adalah : tenaga kerja,
bahan baku untuk industri, fasilitas transpor, pasar, fasilitas-fasilitas distribusi, energi,
air. Dengan demikian dalam penentuan lokasi industri pertanian perlu
mempertimbangkan faktor-faktor yang telah diuraikan di atas.

Pendekatan Isard mengaitkan analisa lokasi yang berorientasi pada transportasi dengan
teori produksi tradisional. Dengan menerapkan masukan-masukan transpor dalam
fungsi transformasi perusahaan, hal ini berarti menambah dimensi tata ruang ke dalam
teori produksi. Sumbangan pemikiran Isard lainnya yaitu ia telah mengintroduksikan
analisa kompleks industri (Industrial Complex). Suatu kompleks industri didefinisikan
sebagai suatu perangkar kegiatan-kegiatan pada suatu spesifik yang mempunyai saling
keterhubungan secara teknis dan produksi.

E. Penentuan Lokasi Pusat Industri Pengolahan

Usaha Penentuan Lokasi Pusat Industri Pengolahan di daerah studi dapat direncanakan
sebaik mungkin. Adapun dasar pertimbangan penggunaan ketiga faktor tersebut adalah
sebagai berikut :
a. Faktor pertama (Faktor Kapasitas Produksi Bahan Baku)

Memegang peranan penting, karena kelangsungan jalannya. Industri pengolahan


produksi pertanian akan sangat bergantung pada kapasitas bahan baku yang
tersedia. Sebagai langkah awal, adalah lebih ekonomis dibandingkan dengan sub
sektor yang lainnya untuk meningkatkan peranan dari jenis komoditi pertanian yang
merupakan potensi daerah, dibandingkan dengan mengembangkan jenis komoditi
yang kurang/belum berpotensi di daerah tersebut.

b. Faktor kedua (Faktor Permintaan Pasar)

Memegang peranan penting, krena identifikasi permintaan pasar dapat memberi


informasi akan jenis produk industri yang akan dikembangkan. Hal ini sangat
penting mengingat bahwa : Supply does not necessary create its own demand
(diktuip dari tulisan Dude Hadar). Kegagalan dalam usaha pegembangan industri ini
sering disebabkan karena tidak adanya kesesuaian antara produk industri yang
dikeluarkan dengan permintaan (kebutuhan) pasar. Sedangkan kelancaran dalam
pemasaran pada gilirannya akan mendorong untuk memperbanyak produksinya dan
mengembangkan kegiatan pengolahannya atau proses produksinya, yang
selanjutnya akan mendorong perkembangan sub sektor pertanian sebagai sektor
penghasil bahan baku. Kaitan antara kedua faktor tersebut di atas dalam penentuan
pusat industri pengolahan produksi pertanian diungkapkan oleh FAO sebagai berikut
:

The production of the raw material can obviously be planned realistically only in
the light of the demand for the final product, while equally the processing enterprise
must take account of raw material supply (Rome : 15, 1976).

Produksi bahan baku atau bahan mentah jelas dapat direncanakan secara nyata
hanya sedikit dalam permintaan selama produksi berakhir, selama produksi
berlangsung harus memperhitungkan persediaan bahan baku.

c. Faktor ketiga (Faktor Lokasi)

Memegang peranan penting, karena masalah lokasi merupakan bagian dari suatu
sistem yang menyeluruh. Penentuan lokasi yang tepat akan dapat memberikan
efesiensi bagi suatu kegiatan tertentu, baik dilihat dari sudu kegiatan itu sendiri
maupun kaitannya dengan kegiatan-kegiatan di tempat-tempat lain yang
mempunyai saling ketergantungan terhadapnya (Ir. Myra P. Gunawan : 6).

1.5.3 Metode Pengumpulan dan Pengolahan Data

A. Pengumpulan Data

Tahap ini bertujuan untuk dapat mengidentifikasi kondisi awal lokasi wilayah
perencanaan dan kecenderungan perkembangannya. Data dan informasi tersebut
berdasarkan runtun waktu (time series) hingga saat tahun penyusunan. Jenis data yang
dikumpulkan mengkuti kajian yang akan dilaksanakan. Jenis data yang dikumpulkan
meliputi data primer dan sekunder.

a. Survei Primer (Observasi Lapangan)

Pengumpulan data primer dilakukan melalui :

1. Penjaringan aspirasi stakeholders dan masyarakat yang dapat dilaksanakan


melalui penyebaran angket, temu wicara, wawancara orang perorang, dan lain
sebagainya untuk menjaring aspirasi masyarakat terhadap kebutuhan yang
diatur dalam Penyusunan Rencana Induk Pengembangan WPPI Kota Makassar,
Kab. Maros, Kab. Gowa, Kab. Takalar, Kab. Jeneponto, dan Kab. Bantaeng serta
kepada pihak yang melaksanakan pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan
ruang; dan

2. Pengenalan kondisi fisik secara langsung melalui peninjauan lapangan serta


Metode Overlay guna memadukan data-data dasar yang diperoleh dari hasil
survey dan investigasi lapangan.

b. Survei Sekunder (Instansional)

Data sekunder yang harus dikumpulkan meliputi :

1. Peta-peta, antara lain :


peta Rupa Bumi Indonesia atau peta topografi;
citra satelit untuk memperbaharui (update) peta dasar dan membuat peta
tutupan lahan;
peta batas wilayah administrasi;
peta batas kawasan hutan;
peta-peta untuk analisis kebencanaan;
peta-peta untuk identifikasi potensi sumber daya alam;
Peta-peta rencana kawasan dari RTRW Provinsi/Kabupaten/Kota;
Peta-peta rencana kawasan dari RDTR/RTBL Provinsi/Kabupaten/ Kota.

2. Data dan Informasi, meliputi:


data wilayah administrasi;
data fisiografis;
data kependudukan;
data ekonomi dan keuangan;
data ketersediaan prasarana dan sarana;
data peruntukan ruang;
data penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan lahan;
data persebaran kawasan peruntukan industri eksisting;
data jenis dan bidang usaha industri;
data kependudukan;
data sarana dan prasarana wilayah;
data perekonomian wilayah;
data kelembagaan pembangunan daerah;
data tentang kebijakan penataan ruang terkait (RTRW kabupaten/kota yang
sebelumnya, RTRW provinsi, RTRW Nasional dan RTR pulau terkait);
data tentang kebijakan pembangunan sektoral, terutama yang merupakan
kebijakan pemerintah pusat;
peraturan perundang-undangan terkait.

Penyusunan Rencana Induk Pengembangan WPPI Kota Makassar, Kab. Maros, Kab.
Gowa, Kab. Takalar, Kab. Jeneponto, dan Kab. Bantaeng, tingkat akurasi data,
sumber penyedia data, kewenangan sumber atau instansi penyedia data, tingkat
kesalahan, variable ketidakpastian, serta variabel-variabel lainnya yang mungkin
ada, perlu diperhatikan dalam pengumpulan data. Data dalam bentuk data statistik
dan peta, serta informasi yang dikumpulkan berupa data tahunan (time series)
minimal 5 (lima) tahun terakhir dengan kedalaman data setingkat desa/kelurahan.
B. Pengolahan Data

a. Kompilasi Data

Kompilasi data merupakan kegiatan tahap lanjut di studio setelah dilaksanakan


survei sekunder dan survei primer, meliputi : kompilasi data hasil survei, justifikasi
delineasi wilayah perencanaan dan rumusan-rumusan data lainnya.

Kompilasi data hasil survei lapangan, meliputi komponen-komponen seleksi data,


kodifikasi, kompilasi, dan tabulasi data. Data yang telah berhasil dikumpulkan dari
lapangan pertama-tama perlu diseleksi agar diperoleh data yang benar-benar
relevan, kemudian dikodifikasi berdasarkan varian data yang sesuai dengan
kebutuhan, untuk selanjutnya dikompilasi dan ditabulasi dalam berbagai bentuk
seperti: tabel, grafik, bagan, peta dll.

Adapun data dan informasi yang berupa peta-peta, rekaman suara, video, dan foto-
foto diolah dengan komputer menggunakan aplikasi program SIG dan multimedia.
Guna mengetahui sistem kerja SIG dan basisdata SIG dapat dilihat Gambar 1.3,
Gambar 1.4 dan Tabel 1.2.

Gambar 1.3
Sistem Kerja Sistem Informasi Geografis (SIG)
b. Analisis Data

Tahap ini merupakan proses penyusunan kajian analisis dan pembahasan terhadap
hasil identifikasi temuan data penelitian dengan pendekatan pada sintesis teori-teori
pustaka, data literatur, dan peraturan pemerintah maupun arahan kebijakan
kawasan. Kajian analisis dilakukan dengan metode kualitatif deskriptif, baik disajikan
secara tertulis maupun gambar.

Analisis data untuk Penyusunan Rencana Induk Pengembangan Wilayah


Pertumbuhan Industri, meliputi:

1. Analisis kebutuhan dan penetapan lokasi kawasan peruntukkan industri (KPI),


kawasan industri dan sentra IKM;
2. Analisis kebutuhan infrastruktur Wilayah Pertumbuhan Industri setidaknya
meliputi lahan industri, jaringan energi dan kelistrikan, jaringan telekomunikasi,
jaringan sumber daya air, fasilitas sanitasi dan jaringan transportasi, fasilitas
penguatan SDM industri;
3. Analisis kebutuhan investasi dan sumber pembiayaan, serta simulasi dampak
pengembangan Wilayah Pertumbuhan Industri terhadap pencapaian sasaran
pembangunan industri wilayah.