Anda di halaman 1dari 213

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN

SISA MAKANAN PASIEN RAWAT INAP


DI RUMAH SAKIT JIWA SAMBANG LIHUM

Skripsi
Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan
Guna Mencapai Gelar Sarjana Gizi (S.Gz)

KHAIRUN NIDA 08S1AJ0007


PROGRAM STUDI GIZI

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HUSADA


BORNEO BANJARBARU 2011
LEMBAR PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini,

Nama : Khairun Nida

NIM : 08S1AJ0007

Program Studi : Gizi

Judul Skripsi : Faktor-faktor yang berhubungan Dengan Sisa

Makanan Pasien Rawat Inap Di Rumah Sakit Jiwa

Sambang Lihum

Dengan ini saya menyatakan bahwa hasil penulisan karya ilmiah yang telah saya buat ini
merupakan hasil karya sendiri dan tidak melakukan pelanggaran sebagai berikut :

Plagiasi tulisan maupun gagasan

Rekayasa dan manipulasi data

Meminta tolong atau membayar orang lain untuk meneliti

Mengajukan sebagian atau seluruh karya ilmiah untuk publikasi atau untuk memperoleh
gelar atau sertifikat atau pengakuan akademik atau profesi ditempat

lain

Apabila terbukti saya melakukan pelanggaran tersebut diatas, maka saya bersedia menerima
sanksi berupa pencabutan gelar akademik.

Demikian pernyataan ini saya buat dalam keadaan sadar dan tidak dipaksakan.

Penulis,

Khairun Nida
HALAMAN PERSETUJUAN

Nama : Khairun Nida

NIM : 08S1AJ0007

Skripsi ini telah disetujui untuk di Sidangkan

Banjarbaru, 28 Januari 2011

Pembimbing Utama,

Rusman Efendi, SKM, Msi


NIDN : 1218047801

Pembimbing Pendamping,

Norhasanah, SGz
NIDN : 1119098402
HALAMAN PENGESAHAN

Nama : Khairun Nida

NIM : 08S1AJ0007

Skripsi ini telah dipertahankan di depan dewan penguji dan disetujui

Pada tanggal : 18 Maret 2011

Penguji 1 (Ketua),

Rusman Efendi, SKM, Msi


NIDN : 1218047801

Penguji 2 (Anggota), Penguji 3 (Anggota),

Norhasanah, SGz Mahyuni, SSos, MPH

NIDN : 1119098402

Diketahui

Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ketua Program Studi Gizi


Kesehatan Husada Borneo

Rusman Efendi, SKM, MSi Norhasanah, SGz


NIDN : 1218047801 NIDN : 1119098402
ABSTRAK

Khairun Nida, 08S1AJ0007

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN SISA


MAKANAN PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT JIWA
SAMBANG LIHUM

Skripsi. Program Gizi. 2011 (xiii + 43 + lampiran)

Pelayanan makan pasien di rumah sakit bertujuan untuk mencukupi kebutuhan zat-
zat gizi pasien guna menunjang proses penyembuhan dan mencapai status gizi
optimal. Namun sampai sekarang mutu pelayanan makan rumah sakit belum dapat
dikatakan memadai. Masalah yang dihadapi adalah tingkat konsumsi yang kurang
sehingga menyebabkan sisa pada makanan yang disajikan. Tujuan dari penelitian ini
yaitu untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan sisa makanan pasien
rawat inap di RS Jiwa Sambang Lihum. Rancangan penelitiaan adalah cross
sectional dengan pendekatan survey. Subjek penelitian berjumlah 59 orang yaitu
pasien kelas III di ruang Pinus dan ruang Nusa Indah yang sudah tenang, dapat diajak
berkomunikasi dan dapat makan sendiri. Pasien yang berumur > 35 tahun sisa
makanan yang paling banyak yaitu sayur 93,1 %, sedangkan yang berumur < 35
tahun yang paling banyak sisa juga sayur yaitu 43,3 % Pasien dengan pendidikan >
SMA sisa makanan yang banyak adalah sayur yaitu 80 %, sedangkan yang
pendidikan < SMA yang banyak sisa juga sayur yaitu 63,6 % . Cita rasa makanan
memuaskan sebesar 54,2 % dan tidak memuaskan sebesar 45,8 %. Rata-rata sisa
makanan pasien bersisa banyak ( > 25 % ) pada jenis makanan sayur yaitu sebesar
67,8 %, lauk hewani bersisa 52,2 % dan lauk nabati bersisa 50,8 %. Ada hubungan
antara sisa makanan dengan umur dan sisa makanan dengan cita rasa makanan. Tidak
ada hubungan antara sisa makanan dengan tingkat pendidikan.

Kata Kunci: Umur, tingkat pendidikan, cita rasa dan sisa makanan RS.
ABSTRACT

Khairun Nida, 08S1AJ0007

THE FACTORS THAT RELATED TO MEAL REMNANT OF


STAY OVERNIGHT TREATMENT PATIENT IN SAMBANG
LIHUM MENTAL HOSPITAL

Script. Nutrient Program. 2011 (xiii + 43 + appendix)

The service of patients meal in hospital purposed to complete the necessity of


substances patients nutrient in order to support the healing process and reach
optimum nutrient status. However until now, the quality of meal service in the
hospital does not said complete yet. The problema that faced is the consumption level
which is less, so that it causes remnant at served meal. The purpose or this research is
to know the factors that related to meal remnant of stay overnight treatment patient in
Sambang Lihum Mental Hospital. The design of the research is cross sectional with
survey approach. The subject of the research number in 59 people, they are patient of
class III in Pinus Room and Nusa Indah Room which are already calm, can be invited
to communicate and can eat by them selves. Patients who are more tan equal 35
years old, the most of meal remnant is vegetable 93,1 %, patient are less than 35
years old, the most of meal remnant is vegetable too, 43,3%, patient who are
educated more tan equal from higt school, the most is vegetable too 80%, while
patients less tan from high shcool, the most is also vegetable 63,6%. The taste of the
meal is satisfying in the amount of 54,2% and not satisfying in the amount of 45,8 %.
The average of the patients meal remnant is so much (more than 25%) to the kind of
vegetable mea lis in the amount of 67,8%, animal dish is left over 52,2%, and
vegetable dish is left over 50,8%. There is a relation between the meal remnant with
age and the meal remnant with the taste. There is no relation between the meal
remnant with education degree.

Key Words : Age, Education Degree, Taste and Meal Remnant of Hospital
KATA PENGANTAR

P uji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpa
hkan Rahmat dan KaruniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan

proposal ini dengan baik, yang merupakan salah satu syarat untuk.

menyelesaikan pendidikan pada Program Stu di S1 Gizi Sekolah Tinggi Ilmu


Kesehatan Husada Borneo. Judul yang dijadik an skripsi adalah Faktor-Faktor
Yang Berhubungan dengan Sisa Makanan Pasien Rawat Inap Di Rumah Sakit
Jiwa Sambang Lihum Banjarmasin.

Pa da kesempatan ini penulis menguca pkan terima kasih yang sebesar-besarnya


kepada semua pihak yang telah me mbantu sehingga penulisan skripsi ini dapat
terwujud. Ucapan terima kasih ini penulis sampaikan kepada yang terhorma :

1. Bap ak Rusman Efendi, SKM, Msi selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu
Kes ehatan Husada Borneo Banjar Bar u dan selaku pembimbing utama yang
telah memberikan petunjuk dan bim bingannya.

Ibu Norhasanah, S.Gz selaku Ketua Program Studi S1 Gizi Kesehatan Stik es
Husada Borneo Banjar Baru dan selaku pembimbing pendamping, yang telah
dengan sabar dan teliti membimbing penulis menyelesaikan skripsi ini.

Bap ak Mahyuni, Ssos, MPH selaku penguji yang telah memberikan kritik dan
masukan untuk kesempurnaan penyu sunan skripsi ini.

Do sen dan staf pengajar Program Studi S1 Gizi Kesehatan Stikes Husada
Borneo yang turut membantu dan memberi dorongan dalam penyusunan

skripsi ini.
5.
Orang tua tersayang, juga Kakakku dan Adik-adikku yang selalu

me mberikan doa dan dorongan yang tulus serta penuh kasih sehingga

penulis dapat menyelesaikan pendidikan dan penyusunan skripsi ini.


Suami dan anakku tercinta, yang telah sabar dan penuh pengertian selalu
memberikan dukungan moril, materiil serta doa yang tulus sehingga penulis dapat
menyelesaikan pendidikan dan penyusunan skripsi ini.

Seluruh rekan-rekan mahasiswa Program Studi S1 Gizi Alih Jenjang Stikes


Husada Borneo, semoga kekompakan dan kebersamaan kita tetap terjalin.

Serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Penulis menyadari bahwa penelitian ini masih mempunyai banyak kekurangan,


untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca. Akhirnya
semoga penelitian ini dapat bermanfaat.

Banjarbaru, Maret 2011

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL i

LEMBAR PERNYATAAN ii

HALAMAN PERSETUJUAN iii

HALAMAN PENGESAHAN ..iv

ABSTRAK v

KATA PENGANTAR viii

DAFTAR ISI ix

DAFTAR TABEL xi

DAFTAR GAMBAR xii

DAFTAR LAMPIRAN xiii

BAB I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Rumusan Masalah4

1.3 Tujuan Penelitian 4

1.4 Manfaat Penelitian 4

1.5 Keaslian Penelitian 5

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Teori 6

2.2 Landasan Teori 19

2.3 Kerangka Konsep 21

2.4 Hipotesis Penelitian 21

BAB III. METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian 22

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 22

3.3 Subjek Penelitian 22


3.4 Variabel Penelitian Dan Definisi Operasional 22

3.5 Instumen Penelitian 24

3.6 Teknik Pengumpulan Data 24

3.7 Teknik Analisa Data . 25

3.8 Prosedur Penelitian 25

3.9 Keterbatasan dan Kelemahan Penelitian 26

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian 27

4.1.1 Gambaran Umum RSJ Sambang Lihum 27

4.1.2 Gambaran Umum Instalasi Gizi RSJ Sambang Lihum 28

4.1.3 Karakteristik Pasien 29

4.1.4 Cita Rasa Makanan Pasien 30

4.1.5 Sisa Makanan Pasien 30

4.1.6 Hubungan sisa makanan dengan umur 31

4.1.7 Hubungan sisa makanan dengan tingkat pendidikan 33

4.1.8 Hubungan sisa makanan dengan cita rasa makanan 34

4.2 Pembahasan 35

4.2.1 Umur 35

4.2.2 Tingkat Pendidikan 35

4.2.3 Cita Rasa Makanan Pasien 36

4.2.4 Sisa Makanan Pasien 36

4.2.5 Hubungan sisa makanan dengan umur 37

4.2.6 Hubungan sisa makanan dengan tingkat pendidikan 38

4.2.7 Hubungan sisa makanan dengan cita rasa makanan 38

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan 40

5.2 Saran 40

DAFTAR PUSTAKA 42

LAMPIRAN
DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Standar gizi untuk penderita gangguan jiwa 10

Tabel 3.1 Definisi Operasional 23

Tabel 4.1 Distribusi Ketenagaan di Instalasi Gizi RSJ Sambang Lihum 28

Tabel 4.2 Distribusi Pasien Menurut Umur 29

Tabel 4.3 Distribusi Pasien Menurut Tingkat Pendidikan 30

Tabel 4.4 Cita rasa makanan pasien 30

Tabel 4.5 Rata-rata sisa makanan menurut jenis makanan 31

Tabel 4.6 Hubungan sisa makanan dengan umur 32

Tabel 4.7 Hubungan sisa makanan dengan tingkat pendidikan 33

Tabel 4.8 Hubungan sisa makanan dengan cita rasa makanan 34


DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar
2.1
Faktor yang berhubungan dengan persepsi makanan
............... 20

Gambar
2.2
Kerangka Konsep .....................................................................
21
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Formulir Karakteristik Pasien

Lampiran 2 Kuesioner Cita Rasa Makanan

Lampiran 3 Formulir Taksiran Sisa Makanan

Lampiran 4 Stuktur Organisasi Instalasi Gizi RSJ Sambang Lihum


Lampiran 5 Menu Kelas III

Lampiran 6 Hasil uji statistik


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pembangunan kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010 tujuannya adalah


meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang
agar terwujud derajat kesehatan yang optimal melalui terciptanya masyarakat, bangsa
dan negara Indonesia yang ditandai oleh penduduk yang hidup dalam lingkungan
dengan prilaku yang sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan
kesehatan yang bermutu secara adil dan merata,serta memiliki derajat kesehatan yang
optimal diseluruh wilayah Republik Indonesia (Depkes RI, 2000).

Rumah sakit merupakan salah satu sarana kesehatan yang memegang peranan
penting untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Fungsi dari rumah sakit
memberikan pelayanan yang sempurna, baik pencegahan maupun pengobatan
penyakit. Dalam UU No. 23/1992 tentang kesehatan disebutkan berbagai sarana atau
tempat untuk menyelenggarakan upaya kesehatan yang menangani khusus satu
macam penyakit adalah Rumah Sakit Khusus, diantaranya adalah Rumah Sakit Jiwa
(Depkes 1991-1992).

Salah satu upaya pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Khusus seperti Rumah Sakit
Jiwa adalah pelayanan gizi yang dalam pelaksanaannya berintegrasi dengan
pelayanan kesehatan lain yang ada di rumah sakit. Pelayanan gizi di rumah sakit
merupakan faktor penunjang dalam rangka meningkatkan status gizi pasien (Depkes
1990). Saat ini pelayanan gizi mulai dijadikan tolok ukur mutu pelayanan di rumah
sakit karena makanan merupakan kebutuhan dasar manusia dan sangat dipercaya
menjadi faktor pencegah dan membantu penyembuhan suatu penyakit.

Berdasarkan Surat Keterangan Menteri Kesehatan No. 134/Menkes/IV/1978 bahwa


ada 4 kegiatan pokok pelayanan gizi di rumah sakit yaitu : 1) Kegiatan pengadaan
dan penyediaan makanan, 2) Kegiatan pelayanan gizi rawat inap, 3) Kegiatan
penyuluhan dan konsultasi serta rujukan gizi, 4)
Kegiatan penelitian dan pengembangan gizi terapan (Depkes RI, 1991).
Keempat kegiatan tersebut dilaksanakan di rumah sakit dengan pertimbangan
kesiapan tenaga atau sumber daya manusia, saran dan prasarana serta
manajemen yang baik.

Pelayanan makan pasien di rumah sakit bertujuan untuk mencukupi kebutuhan


zat-zat gizi pasien guna menunjang proses penyembuhan dan mencapai status
gizi optimal. Namun sampai sekarang mutu pelayanan makan rumah sakit belum
dapat dikatakan memadai. Masalah yang dihadapi masih merupakan masalah
mendasar seperti kekurangan sumber daya, biaya, tenaga dan sarana fisik.
Pelayanan makanan juga merupakan komponen yang cukup besar dalam
pembiayaan rumah sakit sehingga perlu dikelola secara efisien dan efektif
(Depkes, 1991).

Menurut Suharjo (1989) mengkonsumsi pangan berarti juga mengkonsumsi zat


gizinya. Salah satu faktor penyebab terjadinya kurang gizi adalah kurangnya
intake zat gizi essensial karena makanan yang dikonsumsi tidak cukup, baik
kualitas maupun kuantitasnya. Bila keadaan ini terjadi pada penderita yang
dirawat di rumah sakit, selain akan menurunkan status gizi penderita, juga akan
memperpanjang hari rawat dan meningkatkan biaya perawatan. Berbagai faktor
penyebab kurang gizi pada pasien yang dirawat, diantaranya adalah asupan zat
gizi yang kurang karena kondisi pasien, hilangnya nafsu makan, faktor ekonomi,
defresi (faktor stress), kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan lama
dirawat yang dapat menimbulkan kebosanan terhadap makanan yang disajikan.

Ada beberapa faktor yang menentukan bagaimana seseorang memilih makanan


yaitu kesenangan dan ketidaksenangan, kebiasaan, daya beli serta ketersediaan
makanan, kepercayaan dan ketakhyulan, aktualisasi diri, faktor agama serta
psikologis dan yang paling akhir dan sering tidak dianggap penting,
pertimbangan gizi dan kesehatan (Hartono,2000). Menurut Djamaluddin (2002)
jenis kelamin, tingkat pendidikan, kelompok umur dan cita rasa pasien juga
mempengaruhi seseorang dalam memilih makanaan yang dikonsumsi .

Sisa makanan (waste) merupakan indikator penting dari pemanfaatan sumber


daya dan persepsi konsumen terhadap penyelenggaraan makanan
(Frakes et al,1986). Data Sisa makanan umumnya digunakan untuk
mengevaluasi efektifitas program penyuluhan gizi, penyelenggaraan dan
pelayanan makanan, serta kecukupan konsumsi makanan pada kelompok atau
perorangan. Thomson et al (Cit. Djamaluddin,2002)

Berdasarkan penelitian Chanzul Rijadi (2002) pada Rumah Sakit Islam


Samarinda dari 35 responden 30,4% tidak dapat menerima makanan biasa yang
disajikan, padahal bila makanan yang disajikan tidak dihabiskan, apalagi
berlangsung dalam waktu lama, akan menyebabkan pasien mengalami defisiensi
zat-zat gizi dan ini berarti pelayanan gizi tidak tercapai. Demikian juga dengan
hasil penelitian Zulfah (2002), mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi
kejadian malnutrisi rumah sakit di RSU DR. Zainoel Abidin Banda Aceh
menyatakan pasien dengan intake makanan yang tidak cukup kemungkinan
mempunyai resiko 6 kali lebih besar untuk terjadinya malnutrisi rumah sakit
dibandingkan dengan pasien yang intake makanannya cukup.

Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum adalah rumah sakit tipe A dengan kapasitas
250 tempat tidur, memiliki 12 kelas perawatan dan 16 pelayanan instalasi
penunjang yang salah satunya adalah instalasi gizi. Dengan sistem
penyelenggaran makanan sentralisasi untuk ruang pria dan desentralisasi untuk
ruang wanita.

Pasien di rumah sakit jiwa adalah pasien yang mengalami gangguan kejiwaan.
Pasien gangguan jiwa mempunyai perilaku makan yang berbeda-beda, baik laki-
laki maupun perempuan mempunyai nafsu makan yang tidak teratur. Pada suatu
saat mereka mampu menghabiskan makanan yang disediakan, tetapi pada saat
lain mereka bahkan tidak menyentuh makanan yang disajikan atau bahkan
membuangnya (Astuti 1991). Keadaan ini berpengaruh terhadap tingkat
konsumsi yang pada akhirnya menyebabkan sis\a pada makanan yang disajikan.

Hasil observasi secara visual yang pernah dilakukan di instalasi gizi Rumah
Sakit Jiwa Sambang Lihum, menunjukkan masih adanya sisa makanan, terutama
diruang rawat inap kelas III. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas peneliti tertarik
untuk melakukan penelitian tentang faktor-faktor yang berhubungan dengan sisa
makanan pasien di ruang rawat inap kelas III RS Jiwa Sambang Lihum. Karena
menurut Almatsier (1992) makanan pasien mempunyai
nilai ekonomi yang cukup besar dalam pembiayaan di rumah sakit sehingga perlu
dikelola secara efektif dan efisien.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas maka rumusan masalah adalah sebagai berikut :

Berapa jumlah sisa makanan di RS Jiwa Sambang Lihum?

Faktor- faktor apa saja yang berhubungan dengan sisa makanan pasien rawat inap di
RS Jiwa Sambang Lihum?

Tujuan Penelitian

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan sisa makanan pasien


rawat inap di RS Jiwa Sambang Lihum

1.3.2 Tujuan Khusus

Mengidentifikasi umur pasien rawat inap RS Jiwa Sambang Lihum

Mengidentifikasi tingkat pendidikan pasien rawat inap RS Jiwa Sambang Lihum

Mengidentifikasi cita rasa makanan pasien rawat inap RS Jiwa Sambang Lihum

Mengidentifikasi jumlah sisa makanan pasien rawat inap RS Jiwa Sambang Lihum

Menganalisa hubungan sisa makanan pasien rawat inap RS Jiwa Sambang Lihum
menurut umur.

Menganalisa hubungan sisa makanan pasien rawat inap RS Jiwa Sambang Lihum
menurut pendidikan.

Menganalisa hubungan sisa makanan pasien rawat inap RS Jiwa Sambang Lihum
menurut cita rasa makanan.

Manfaat Penelitian

Penelitian ini dapat memberi manfaat bagi : a. Bagi Peneliti


Bahan informasi mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan sisa

makanan di rumah sakit

Bagi Rumah Sakit

Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan data, khususnya sebagai bahan
evaluasi terhadap penyelenggaraan makanan.

Keaslian Penelitian

1. Khairunnas (2001), berjudul Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya sisa


makanan pada pasien yang dirawat inap di RS Dr. Ahmad Mochtar Bukit Tinggi.

Hasil penelitiannya, jenis hidangan yang tersisa adalah makanan pokok (45%), hal ini
disebabkan karena perubahan bentuk makanan yang biasa dikonsumsi dirumah
dengan yang diberikan di Rumah Sakit. Persamaan dengan penelitian ini adalah
sama-sama mengamati sisa makanan pasien dengan metode cross sectional,
perbedaannya penelitian tersebut menggunakan metode penimbangan sedangkan
penelitian ini menggunakan taksiran visual comstock.

2. Murwani (2002), berjudul Sisa Makanan Pasien Rawat Inap dengan metode
Taksiran Visual Comstock Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui akurasi
visual dengan skala comstock 6 poin . Metode penelitian yang digunakan adalah
observasional dengan rancangan cross sectional, untuk mengetahui korelasi antara
metode taksiran visual comstock dan metode penimbangan digunakan pearson
product moment. Hasil yang didapatkan adalah tidak ada perbedaan yang bermakna
antara penentuan sisa makanan dengan metode taksiran visual Comstock 6 poin dan
metode penimbangan.

3. Djamaluddin (2002), berjudul Analisis Zat Gizi dan Biaya Sisa Makanan Biasa di
Rumah Sakit Sarjito Yogjakarta. Jenis penelitian Observasional dengan rancangan
Cross sectional. Hasil penelitian sisa makan banyak dijumpai pada waktu makan pagi
terdapat pada sayuran sebesar 25,33%, nasi 23,1% dan lauk nabati 21,8%. Penelitian
ini sama-sama mengamati sisa makanan pasien tetapi lebih memfokuskan pada
faktor-faktornya saja, tidak dianalisis zat gizi dan biayanya.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan Teori

2.1.1 Pelayanan Gizi Rumah Sakit

Pelayanan Gizi Rumah Sakit adalah kegiatan pelayanan gizi di rumah sakit untuk
memenuhi kebutuhan gizi masyarakat rumah sakit baik rawat inap maupun rawat
jalan, untuk keperluan metabolisme tubuh, peningkatan kesehatan, maupun
mengkoreksi kelainan metabolisme, dalam rangka upaya preventif, kuratif,
rehabilitatif dan promotif (Depkes RI, 2003).

Instalasi gizi adalah wadah yang mengelola kegiatan pelayanan gizi di rumah sakit.
Pelayanan gizi rumah sakit (PGRS) dilihat dari sistem pelayanan kesehatan rumah
sakit merupakan bagian yang tidak terpisahkan. Tujuan dari PGRS adalah membantu
masyarakat rumah sakit (pasien, pengunjung dan petugas rumah sakit) untuk memilih
dan memperoleh makananan yang memenuhi persyaratan gizi, agar mencapai status
gizi yang optimal. Pengertian tentang tujuan ini bukan berarti instalasi gizi harus
menyediakan makanan bagi seluruh masyarakat rumah sakit. Bantuan dapat
diberikan berupa transfer pengetahuan dan ketrampilan gizi/diit kepada pasien,
pengunjung dan petugas rumah sakit lain (Mukrie,1990)

Berdasarkan mekanisme kerja pelayanan gizi di rumah sakit maka kegiatan pokok
PGRS dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok kegiatan yaitu kegiatan
pengadaan dan penyediaan makanan bagi orang sakit atau petugas; pelayanan gizi di
ruang rawat inap; penyuluhan atau konsultasi dan rujukan gizi , serta kegiatan
penelitian dan pengembangan gizi terapan. Kegiatan ini berbeda untuk setiap kelas
rumah sakit tergantung dari besar instalasi gizi serta luas pelayanan kesehatan yang
diberikan serta beban kerja yang ditetapkan. (Depkes RI,2003)

Pelayanan gizi rawat inap, merupakan rangkaian kegiatan dimulai dari upaya
perencanaan penyusunan diit pasien hingga pelaksanaan
evaluasinya diruang perawatan. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari
kegiatan pengadaan atau penyediaan makanan dari instalasi gizi, yang dalam
kaitannya dengan penyembuhan pasien. Tujuan kegiatan ini adalah memberikan
terapi diit yang sesuai dengan kondisi pasien dalam upaya mempercepat
penyembuhan melalaui penyediaaan makanan khusus, upaya perubahan sikap dan
prilaku terhadap makanan selama dalam perawatan, adanya peran serta
masyarakat , dan mencegah kambuh penyakit (Depkes RI, 2003)

Studi visual sisa makanan dapat memberikan informasi yang dapat digunakan
sebagai standar pencapaian menu dan membantu dalam meningkatkan informasi
dan efisiensi menu. Dengan meminimalkan sisa, sebuah menu dapat dianggap
ikut pula mengoptimalkan gizi pasien (Connors,et al, 2004).

2.1.2 Standar Makanan Rumah Sakit

Setiap orang dalam hidupnya selalu membutuhkan dan mengkonsumsi berbagai


bahan makanan baik dalam keadaan sehat ataupun sakit. Menurut Moehyi (1995)
makanan dalam upaya penyembuhan penyakit berfungsi sebagai salah satu
bentuk terapi, penunjang pengobatan atau tindakan medis.

Pemberian makanan pada orang sakit harus disesuaikan dengan keadaan


penyakitnya dengan memperhatikan konsistensi makanan dan kandungan gizinya
agar orang sakit memperoleh zat gizi sesuai dengan kebutuhannya. Kebutuhan zat
gizi pada setiap individu dipengaruhi oleh faktor umur, jenis kelamin, aktivitas,
komplikasi penyakit dan faktor stress (Depkes 2003).

Makanan merupakan suatu bentuk terapi yang bertujuan untuk memelihara status
gizi secara normal atau optimal walaupun terjadi peningkatan kebutuhan gizi
akibat penyakit yang dideritanya. Disamping itu untuk memperbaiki terjadinya
defisiensi zat gizi serta kelebihan atau kekurangan berat badan pasien.
Makanan yang diberikan kepada orang sakit disesuaikan dengan keadaan
penyakitnya. Oleh karena itu, banyak sekali kemungkinan modofikasi yang dapat
dilakukan. Modifikasi dapat berkenaan dengan :

Konsistensi makanan yaitu dari makanan biasa menjadi makanan lunak, makanan
saring, atau makanan cair

Kandungan kalori dalam makanan, terutama berkenaan dengan jumlah hidrat


arang, protein dan zat lemak.

Kandungan unsur gizi tertentu, baik mengenai jenis ataupun jumlah unsur gizi.

Apapun modifikasi yang dilakukan haruslah senantiasa diperhatikan agar orang


sakit memperoleh zat gizi sesuai dengan kebutuhannya (Moehyi, 1999).

2.1.3 Kesehatan Jiwa

Berdasarkan UU No 3 tahun 1996 dijelaskan yang dimaksud dengan kesehatan


jiwa adalah suatu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual
dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan
selaras dengan keadaan orang lain. Sedangkan gangguan jiwa adalah gangguan
pada fungsi kejiwaan. Yang dimaksud dengan fungsi kejiwaan adalah proses
berfikir, emosi, kemauan dan perilaku psikomotorik termasuk berbicara.

Penyebab timbulnya gangguan jiwa (neurose) dan penyakit jiwa (psychose)


merupakan akibat dari tidak mampunya orang dalam menghadapi kesukaran
dengan wajar atau ia tidak sanggup menyesuaikan diri dengan situasi yang
dihadapi. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya gangguan jiwa
antara lain frustasi (tekanan perasaan), konflik/pertentangan batin dan kecemasan.
(Daradjat, Z 2001).

Dari hasil berbagai penyelidikan dapat dikatakan bahwa gangguan jiwa adalah
kumpulan keadaan yang tidak normal, baik yang berhubungan dengan fisik
maupun mental. Keabnormalan tersebut tidak disebabkan oleh sakit atau
rusaknya bagian-bagian anggota badan, walaupun kadang gejalanya terlihat pada
fisik. Keabnormalan itu terlihat dalam bermacam-macam gejala antara lain
ketegangan batin (tension), rasa putus asa dan
murung, gelisah/cemas, perbuatan yang terpaksa (compulsive), hysteria,
rasa lemah dan tidak mampu mencapai tujuan, takut pikiran buruk.
Semuanya itu mengganggu ketenangan hidup misalnya tidak bisa tidur
nyenyak, tidak ada nafsu makan dan sebagainya. Ada perbedaan antara
neurose dan psychose. Orang yang terkena neurose masih mengetahui dan
merasakan kesukarannya, kepribadiannya tidak jauh dari realitas dan masih
hidup dalam alam kenyataan. Sedangkan orang yang kena psychose
kepribadiannya sangat terganggu, tidak ada integritas dan hidup jauh dari
alam kenyataan (Daradjat, Z 2001).

Menurut Pedoman Penggolongan Diagnosa Gangguan Jiwa (PPDGJ) III


gangguan jiwa diartikan sebagai adanya kelompok gejala-gejala atau
perilaku yang ditemukan secara klinis yang disertai adanya penderitaan
(distress) dan berkaitan dengan terganggunya fungsi seseorang. Bila
disimpulkan ganguan jiwa adalah kondisi terganggunya fungsi mental
diantaranya emosi, pikiran, kemauan, perilaku psikomorik dan verbal
(Maslim, R 1996).

Penderita gangguan jiwa mempunyai perilaku makan yang berbeda-beda,


baik laki-laki maupun perempuan mempunyai nafsu makan yang tidak
teratur. Pada suatu saat mereka mampu menghabiskan makanan yang
disediakan, tetapi pada saat lain mereka bahkan tidak menyentuh makanan
yang disajikan atau bahkan membuangnya (Astuti 1991).

Keadaan nafsu makan yang tidak teratur disebabkan karena adanya waham,
halusinasi, keinginan bunuh diri, hiperaktif, hipertim (keadaan yang sangat
menggembirakan), hipotim (keadaan yang menyedihkan), suasana baru
yang mencekam dan membosankan serta berfikiran bahwa makanan
mempunyai arti simbolik (Depkes 1997).

Pengaturan diet dan penyusunan menu makanan untuk pasien gangguan


jiwa dan neurologi, disesuaikan dengan individu pasien dan penyakit yang
diderita. Berbagai kondisi fisiologis pasien bervariasi dan berbeda pada
penyakit yang menyerang susunan saraf pusat yang menimbulkan gangguan
antara lain kejang, kesadaran menurun dan dimensia yang membutuhkan
diet khusus. Pemberian diet disini bertujuan
untuk mempertahankan status gizi normal, dengan memberikan makanan
sesuai dengan kebutuhan pasien, dimana kalori dan protein diberikan sesuai
kondisi berat ringannya penyakit (Depkes 2003). Diet yang
direkomendasikan untuk penderita gangguan jiwa antara lain :

Memberikan diet ketogenik dengan menyesuaikan lemak sebagai sumber


energi utama bertujuan untuk menurunkan serangan kejang.

Pemberian makanan tinggi kalori pada kesadaran menurun untuk mengoreksi


adanya stress. Protein, lemak, vitamin dan mineral disesuaikan dengan
penyakitnya.

Bentuk makanan cair, lunak atau makanan biasa dapat diberikan secara oral,
enteral atau parenteral sesuai dengan tingkat kesadaran pasien.

Pada dimensia, pengaturan diet dan penyusunan menu makanan sesuai status
gizi pasien.

Pemberian vitamin dan mineral disesuaikan untuk meningkatkan daya tahan


tubuh.

Departemen Kesehatan menetapkan peraturan pemberian makanan

untuk penderita gangguan jiwa dengan diet tinggi kalori tinggi protein

(Depkes 1991).

Tabel 1 Standart gizi untuk penderita gangguan jiwa

No
Komponen
Berat (gram)
Kkal
1
Beras
500
1.750
2
Daging
100
190
3
Telur
50
95
4
Tahu / tempe
100
160
5
Susu
15
76
6
Sayuran
200
78
7
Buah-buahan
200
80
8
Bumbu
25
0
9
Garam
10
0
10
Minyak Goreng
15
135
11
Gula Pasir
20
72
12
Kecap
5
0
13
Teh
3
0

Jumlah

2.636
Sumber : Peraturan Pemberian Makan Untuk RS Jiwa. DepKes.RI, 1997
2.1.4.Karakteristik Pasien 2.1.4.1 Umur

Umur seseorang adalah jumlah hari, bulan, tahun yang telah dilalui sejak
lahir sampai dengan waktu tertentu.

Umur disini maksudnya adalah masa pada keadaan tertentu yang dapat
mendukung terjadinya gangguan jiwa antara lain :

usia bayi

Yang dimaksud masa adalah menjelang usia 2-3 tahun, dasar perkembangan
yang dibentuk pada masa tersebut adalah sosialisasi.

Usia prasekolah ( antara 2-7 tahun)

Pada usia ini sosialisasi mulai dijalankan dan telah tumbuh displin dan
otoritas.

Usia anak sekolah

Masa ini tandai oleh pertumbuhan jasmaniah dan intelektual yang pesat.
Pada masa ini, anak mulai memperluas lingkungan pergaulannya. Keluar
dari batas-batas keluarga

Usia remaja

Secara jasmaniah, pada masa ini terjadi perubahan-perubahan yang penting


yaitu timbulnya tanda-tanda sekunder (ciri-ciri diri kewanitaan atau kelaki-
lakian) sedang secara kejiwaan, pada masa ini terjadi pergolakan yang
hebat. Pada masa ini, seorang remaja mulai (hak-hak seperti orang dewasa),
sedang dilain pihak belum sanggup dan belum ingin menerima tanggung
jawab atas semua perbuatannya. Egosentrik bersifat menentang terhadap
otoritas, senang berkelompok, idealis adalah sifat-sifat yang sering terlihat.
Suatu lingkungan yang baik dan penuh pengertian akan sangat membantu
proses kematangan kepribadian di usia remaja.

Usia dewasa muda

Seorang yang melalui masa-masa sebelumnya dengan aman dan bahagia


akan cukup memiliki kesanggupan dan kepercayaan diri
dan umunya ia akan berhasil mengatasi kesulitan-kesulitan pada masa ini.
Sebaliknya yang mengalami banyak gangguan pada masa sebelumnya, bila
mengalami masalah pada masa ini mungkin akan mengalami gangguan-
gangguan jiwa.

Usia dewasa tua

Sebagai patokan, masa ini dicapai apabila status pekerjaan dan sosial
seseorang sudah mantap.

Usia tua

Ada dua hal yang penting yang perlu diperhatikan masa ini berkurangnya
daya tanggap, daya ingat, berkurangnya daya belajar, kemampuan
jasmaniah dan kemampuan sosial ekonomi menimbulkan rasa cemas dan
rasa tidak aman serta sering mengakibatkan kesalah pahaman orangtua
terhadap orang dilingkungannya. Perasaan terasing karena kehilangan
teman sebaya, keterbatasan gerak, dapat menimbulkan kesulitan emosional
cukup hebat (Yosep Iyus, 2007)

Menurut Almatsier umur pasien berhubungan dengan asupan makanan


pasien. Umur pasien 41-90 tahun mempunyai kemungkinan 0,4 kali lebih
kecil dalam asupan makanan pasien rawat inap dibandingkan dengan umur
pasien 15-40 tahun.

2.1.4.2 Tingkat Pendidikan

Perkembangan manusia dipengaruhi oleh faktor dari dalam dirinya dan


diluar faktor dalam diri meliputi semua potensi individu sejak lahir , setiap
manusia mempunyai potensi yang mengembangkan pikiran, perasaan segi
sosial bakat dan minat dalam potensi ini akan tetep terpendam jika tidak
dikembangkan melalui pendidikan, sehingga ditinjau dari potensi
pendidikan mempunyai tugas untuk mengaktualisasikan potensi tersebut.
Melalui pendidikan diharapkan terbentuk kepribadian seseorang yang boleh
dikatakan hampir semua kelakuan individu dipengaruhi dan pada orang lain
(Nasution 1995)
Menurut Tirtaraharja (2000), pendidikan dapat

diklasifikasikan dalam 3 bentuk yaitu :

Pendidikan formal ( lingkungan sekolah )

dilingkungan sekolah, peserta didik untuk memeperluas bekal yang


telah diperoleh dari lingkungan kerja keluarganya berupa
pengetahuan, keterampilan dan sikap. Bekal dimaksud baik berupa
bekal dasar lanjutan (dari SD dan sekolah lanjutan) ataupun bekal
kerja yang langsung dapat digunakan secara aplikatif (sekolah
menengah kejuruan dan perguruan tinggi). Kedua macam bekal
tersebut dipersaipkan secara formal dan berguna sebagai sarana
penunjang pembangunan diberbagai bidang.

Pendidikan Informal (lingkungan keluarga)

didalam lingkungan keluarga anak dilatih bertbagai kebiasaan yang


baik (habit information) tentang hal-hal yang berhubungan dengan
kecekatan, kesopanan dan moral. Disamping itu, kepada mereka
ditanamkan keyakinan-keyakinan yang penting utamnya hal-hal
yang bersifat religius. Hal-hal tersebut sangat tepat dilakukan pada
masa kanak-kanak sebelum perkembangannya rasio mendominasi
perilakunya. Kebiasaan baik dan dan keyakinan-keyakian penting
yang mendarah dading merupakan landasan yang sangat diperlukan
untuk pembangunan

pendidikan non formal (lingkungan masyarakat)

dilingkungan masyarakat, peserta didik memperoleh bekal praktis


untuk berbagai jenis pekerjaan khususnya mereka yang tidak sempat
melanjutkan proses belajarnya melalui jalur formal. Pada
masyarakat kita (sebagai masyarakat yang sedang berkembang).
Sistem pendidikan non formal mengalami perkembangan yang
sangat pesat. Hal ini bertalian erat dengan semakin berkembangnya
sektor swasta yang menunjang pembangunan. Disegi lain, hal
tersebut dapat diartikan bernilai positif karena dapat
mengkonpensasikan keterbatasan lapangan
kerja formal dilembaga-lembaga pemerintah. Disamping itu juga dapat
memperbesar jumlah angka kerja tingkat dan menengah yang sangat diperlukan
untuk memelihara proporsi yang selaras antara pekerja rendah, menengah dan
tinggi. Hal demikian dapat dipandang sebagai upaya untuk menciptakan
kestabilan nasional.

2.1.5 Sisa Makanan

Keberhasilan suatu pelayanan gizi di ruang rawat inap di evaluasi dengan


pengamatan sisa makanan yang tidak di konsumsi setelah makanan disajikan
(Sutarjo, 1999)

Sisa makanan merupakan suatu dampak dari sistem pelayanan gizi di rumah sakit.
Hal ini merupakan suatu implementasi dari pelayanan gizi dan aspek perilaku
pasien. Banyaknya sisa makanan dalam piring pasien mengakibatkan masukan
gizi kurang selama pasien dirawat. Kebutuhan gizi merupakan salah satu faktor
yang harus diperhatikan atau dipertimbangkan dalam menyusun men pasien
karena untuk orang sakit kebutuhan gizinya akan meningkat. Pemberian makanan
sehat yang terdiri dari makanan pokok, lauk, sayur-sayuran dan buah dalam
jumlah yang cukup, dan dapat dihabiskan oleh pasien (Moehyi, 1992).

Pasien yang menjalani rawat inap dalam waktu yang cukup lama, makanan yang
disajikan dari rumah sakit seringkali tidak habis. Hal ini dimungkinkan akan
berakibat terjadinya kekurangan zat gizi pada pasien. Kekurangan zat gizi tersebut
sangat memudahkan terjadinya infeksi dan mendorong terjadinya malnutrisi.

Sisa makanan dibedakan menjadi dua yaitu :

Waste yaitu makanan yang hilang karena tidak dapat diperoleh/diolah atau
makanan hilang karena tercecer.

Platewaste yaitu makanan yang terbuang karena setelah dihidangkan

tidak habis dikonsumsi.

Menurut ilmu kesehatan keseluruhan dari benda atau hal-hal yang tidak
digunakan, tidak dipakai , tidak disenangi atau harus dibuang disebut
benda-benda bekas (waste). Sisa pengolahan ataupun sisa makanan yan mudah
membusuk dalam ilmu kesehatan lingkungan disebut garbage (Azwar, 1996).

Dalam memberikan makanan di rumah sakit ada beberapa faktor bagaimana


seseorang memilih makanannya. Faktor-faktor tersebut adalah kesenangan serta
ketidaksenangan, kebiasaan, daya beli serta ketersediaan makanan , kepercayaan
serta ketahayulan, aktualisasi diri, faktor agama serta psikologis dan yang paling
tidak dianggap penting, pertimbangan gizi serta kesehatan (Hartono,2000).

Menurut Almatsier (1992), sisa makanan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu
jenis kelamin, tingkat pendidikan, kelompok umur, cita rasa makanan, kelas
perawatan, lama perawatan dan penyakit mempengaruhi sisa makanan pasien.

Jika faktor-faktor ini baik, maka persepsi pasien terhadap makanan yang disajikan
akan baik sehingga makanan yang disajikan dikonsumsi habis. Jika persepsi
pasien terhadap makanan yang disajikan kurang, maka makanan yang disajikan
tidak dikonsumsi habis dan akan meninggalkan sisa.

2.1.6 Cita Rasa Makanan

Cita rasa makanan ditimbulkan oleh terjadinya rangsangan terhadap berbagai


indera dalam tubuh manusia terutama indera penglihatan, indera pencium, dan
indera pengecap. Makanan yang memiliki cita rasa yang tinggi adalah makanan
yang disajukan dengan menarik, menyebarkan bau yang sedap dan memberikan
rasa yang lezat (Moehyi, 1992).

Cita rasa makanan mencakup dua aspek utama, yaitu penampilan makanan
sewaktu dihidangkan dan rasa makanan waktu di makan. Kedua aspek itu sama
pentingnya untuk diperhatikan agar betul-betul dapat menghasilkan makanan yang
memuaskan (Moehyi, 1992).

Dua aspek yang berkaitan dengan cita rasa adalah sebagai berikut: a. Penampilan
makanan
Penampilan yang ditimbulkan oleh makanan yang disajikan. Beberapa

faktor berikut ini yang berkaitan dengan penampilan makanan yaitu:

Warna Makanan

Warna makanan adalah rupa hidangan yang disajikan dan dapat


memberikan penampilan lebih menarik terhadap makanan yang
disajikan (West dan Wood, 1998).

Kombinasi warna adalah hal yang sangat diperlukan dan membantu


dalam penerimaan suatu makanan dan secara tidak langsung dapat
merangsang selera makan, dimana makanan yang penuh warna
mempunyai daya tarik untuk dilihat, karena warna juga mempunyai
dampak psikologis pada konsumen.

Makanan yang bergizi, enak dimakan dan aromanya juga enak, tidak
akan dimakan apabila warnanya memberikan kesan menyimpang dari
warna yang seharusnya (Winarno, 1992)

Bentuk Makanan

Bentuk makanan dapat juga digunakan untuk menimbulkan ketertarikan


dalam menu karena dari bermacam-macam bentuk makanan yang
disajikan (Spear dan Vaden,1984). Bentuk makanan yang serasi akan
memberikan daya tarik tersendiri bagi setiap makanan yang disajikan
(Moehyi, 1992)

Besar Porsi

Besar porsi makanan adalah banyaknya makanan yang disajikan, porsi


untuk setiap individu berbeda sesuai kebutuhan makan.Porsi yang
terlalu besar atau terlalu kecil akan mempengaruhi penampilan
makanan. Posi makanan juga berkaitan dengan perencanaan dan

perhitungan penampilan hidangan yang disajikan (Muchatab,1991)

Penyajian Makanan

Penyajian makanan adalah perlakuan terakhir dalam penyelenggaraan


makanan sebelum dikonsumsi, penyajian makanan meliputi pemilihan
alat, cara penyusunan makanan, dan penghiasan hidangan. Penyajian
makanan juga merupakan faktor penentu dalam penampilan hidangan
yang disajikan (Moehyi, 1992).
Cara penyajian makanan merupakan faktor yang perlu mendapat perhatian
dalam mempertahankan penampilan dari makanan yang disajikan (Depkes
RI, 2003). Penelitian Dwiyanti (2003) menunjukkan penampilan yang
menarik akan meningkatkan selera makan pasien dalam mengkonsumsi
makanan yang dihidangkan di rumah sakit.

b. Rasa Makanan

Rasa makanan lebih banyak melibatkan penginderaan cecapan (lidah),


penginderaan cecapan dapat dibagi menjadi cecapan utama yaitu asin,
manis asam dan pahit (Winarno,1997).

Mengkombinasikan berbagai rasa sangat diperlukan dalam mencipatakan


keunikan sebuah menu. Dominasi satu macam rasa sangat tidak disukai.

Menurut Moehyi, (1992) Rasa makanan adalah rasa yang ditimbulkan dari
makanan yang disajikan dan merupukan faktor kedua yang menentukan cita
rasa makanan setelah penampilan makanan itu sendiri, adapun beberapa
komponen yang berperan dalam penentuan rasa makanan yaitu :

Aroma Makanan

Aroma Makanan adalah aroma yang disebarkan oleh makanan yang


mempunyai daya tarik yang sangat kuat dan mampu merangsang indera
penciuman sehingga mampu membangkitkan selera. Aroma yang
dikeluarkan oleh makanan berbeda-beda. Demikian pula cara memasak
makanan yang berbeda akan memberikan aroma yang berbeda pula
(Moehyi, 1992 )

Bumbu Masakan

Bumbu masakan adalah bahan yang ditambahkan dengan maksud untuk


mendapatkan rasa yang enak dan khas dalam setiap pemasakan.
Tekstur Makanan

Tekstur adalah hal yang berkaitan dengan struktur makanan yang dirasakan dalam
mulut. Gambaran dari tekstur makanan meliputi krispi, empuk, berserat, halus,
keras dan kenyal. Keempukan dan kerenyahan (krispi) ditentukan oleh mutu
bahan makanan yang digunakan dan cara memasaknya (Moehyi, 1992).
Bermacam-macam tekstur dalam makanan lebih menyenangkan daripada satu
macam tekstur.

Suhu Makanan

Suhu makanan waktu disajkan memegang peranan dalam penentuan cita rasa
makanan. Namun makanan yang terlalu panas atau terlalu dingan sangat
mempengaruhi sensitifitas saraf pengecap terhadap rasa makanan sehingga dapat
menguranggi selera untuk memakannya (Moehyi, 1992).

Metode Taksiran Visual

Prinsip dari metode taksiran visual adalah para penaksir

(enumenator) menaksir secara visual banyaknya sisa makanan yang ada

untuk setiap golongan makanan atau jenis hidangan. Hasil estimasi tersebut bisa
dalam bentuk berat makanan yang dinyatakan dalam bentuk gram atau dalam
bentuk skor bila menggunakan skala pengukuran.

Metode taksiran visual dengan menggunakan skala pengukuran dikembangkan


oleh comstock dengan menggunakan skor skala 6 poin dengan kriteria sebagai
berikut :

0 : Jika tidak ada porsi makanan yang tersisa (100% dikonsumsi)

1 : Jika tersisa porsi ( hanya 75% yang dikonsumsi)

2 : Jika tersisa porsi ( hanya 50% yang dikonsumsi)

3 : Jika tersisa porsi (hanya 25% yang dikonsumsi)

4 : Jika tersisa hampir mendekati utuh ( hanya dikonsumsi sedikit atau 5%)

5 : Jika makanan tidak dikonsumsi sama sekali (utuh)


Skala comstock tersebut pada mulanya digunakan para ahli biotetik untuk mengukur
sisa makanan. Untuk memperkirakan berat sisa makanan yang sesungguhnya, hasil
pengukuran dengann skala comstock tersebut kemudian dikonversi kedalam persen
dan dikalikan dengan berat awal. Hasil dari penelitian tersebut juga menunjukkan
adanya korelasi yang kuat antara taksiran visual dengan persentasi sisa makanan
(Comstock,1991).

Metode taksiran visual mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari


metode taksiran visual antara lain: waktu yang diperlukan relatif cepat dan singkat,
tidak memerlukan alat yang banyak dan rumit, menghemat biaya dan dapat
mengetahui sisa makanan menurut jenisnya. Sedangkan kekurangan dari metode
taksiran visual antara lain diperlukan penaksir (estimator) yang terlatih, teliti,
terampil, memerlukan kemampuan menaksir dan pengamatan yang tinggi dan sering
terjadi kelebihan dalam menaksir (over estimate) atau kekurangan dalam menaksir
(under estimate) (Comstock, 1991).

2.2 Landasan Teori

Pelayanan gizi rumah sakit merupakan salah satu usaha kesehatan di rumah sakit
yang bertujuan agar tercapainya kesembuhan pasien dalam waktu sependek mungkin.
Pelayanan makanan yang baik, akan meningkatkan selera makan pasien selama masa
rawat, sehingga juga meningkatkan asupan pasien dan kemungkinan terpenuhinya
kebutuhan nutrisi pasien juga meningkat.

Dimensi yang berhubungan dengan kepuasan pasien terhadap pelayanan gizi meliputi
kualitas makanan, ketepatan waktu penyajian, reabilitas pelayanan, temperatur
makanan, sikap petugas, distribusi makanan dan perlakuan lain terhadap pasien.
Dube dkk. (1994). Kepuasan pasien terhadap pelayanan gizi dapat diukur dengan
pengamatan sisa makanan sebagai indikatornya.

Selain mutu produk makanan (penampilan dan rasa makanan), ada faktor lain yang
berhubungan dengan persepsi pasien terhadap makanan yaitu demografi (umur, jenis
kelamin, pendidikan), lingkungan dan selera makan. Jika faktor-faktor ini baik, maka
persepsi pasien terhadap makanan yang disajikan
akan baik sehingga makanan yang disajikan dikonsumsi habis. Jika persepsi

pasien terhadap makanan yang disajikan kurang, maka makanan yang disajikan

tidak dikonsumsi habis dan akan meninggalkan sisa. Hal ini dapat dilihat pada

kerangka teoritis di bawah ini :


tentan Gender
g
Pendidikan
Rasa
Pena
Sistem penyelenggaraan makanan mpila
n
Menu warna Lingkungan
Produksi bentu Jenis RS
Distribusi k maka
Sarana besar nan Kelas perawatan
porsi
Tenaga Kontrol mutu Kontrol harga - cara Suhu Lama perawatan
menat
a Bumb Jenis diit
u
Tekst
ur

Bau Selera makan


Perse Penyakit
psi Pengobatan
Demo
Mutu makanan Palatibilitas grafi Psikis
Akseptabilitas Umur
Ga 1 aktor yang persepsi makanan
mb : berhubung (Almatsier,1992)
ar F an dengan
2.3 Kerangka Konsep Penelitian

Umur

Pendidikan
Sisa makanan

Jenis kelamin

Makanan dari luar RS

Cita Rasa Makanan

Ket :

_______ = Variabel yang diteliti

----------- = Variabel yang tidak diteliti

Gambar 2 : Kerangka konsep

Hipotesis

Ada hubungan sisa makanan menurut umur.

Ada hubungan sisa makanan menurut tingkat pendidikan

Ada hubungan sisa makanan menurut cita rasa makanan


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian

Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional dengan
pendekatan survey.

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian dilaksanakan di RS Jiwa Sambang Lihum Banjarmasin Sedangkan


waktu penelitian pada Bulan Agustus Oktober 2010.

3.3 Subjek Penelitian

Populasi dari penelitian ini adalah pasien kelas III yang dirawat inap di Ruang Pinus
dan ruang Nusa Indah.

Subjek yang diteliti adalah pasien di ruang pinus dan nusa indah dengan kriteria
sebagai berikut:

Bersedia menjadi subjek penelitian.

Pria dan wanita dewasa berusia 18 tahun keatas

Bisa di ajak berkomunikasi

Kondisi pasien dalam keadaan tenang dan dapat makan sendiri.

Variabel Penelitian Dan Definisi Operasional

3.4.1 Variabel penelitian

Variabel bebas : karakteristik pasien (umur, pendidikan, cita rasa

makanan.

Variabel terikat : sisa makanan


Definisi Operasional

Tabel 2. Definisi Operasional

Variabel
Definisi Operasional
Skala
Kriteria Objektif

Umur
Lama
waktu

hidup
Ordinal
< 35 tahun

sejak
lahir
hingga

35 tahun

penelitian berlangsung

(Juju, 2007)

Pendidikan
Jenjang

pendidikan
Ordinal
Pendidikan tinggi

formal
yang
pernah

( SMA)

diikuti
oleh
responden

Pendidikan rendah

dinyatakan

dalam
(< SMA)

jenjang
SD,

SMP,

(Juju, 2007)

SMA dan Sarjana

Cita rasa
Total
skor
penilaian
Ordinal
Sangat memuaskan
makanan
sampel

terhadap

(76% - 100%)

makanan
yang
di

Memuaskan

sajikan RS terdiri dari

(51% - 75,9%)

besar
porsi,
warna

Tidak memuaskan

makanan,
penyajian,

(26% - 50,9%)

aroma, rasa bumbu dan

Sangat tidak

kematangan.
memuaskan (<26%)

(Juju, 2007)

Sisa
Jumlah makanan
yang
Ordinal
Sisa makanan banyak
Makanan
diberikan
oleh
RS

(> 25%)

(Makanan pokok, lauk

Sisa makanan sedikit

hewani
dan
nabati,

( 25)

sayur, buah) yang tidak

(Juju, 2007)

dikonsumsi oleh pasien


3.5 Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah :

Form untuk mendapatkan karakteristik pasien ( umur dan pendidikan).

Form untuk menilai cita rasa makanan pasien.

Form skala Comstock 6 poin untuk menaksir sisa makanan pasien.

Teknik Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi :

Data Primer Terdiri dari :

Data karakteristik pasien, seperti umur dan pendidikan yang diperoleh dari catatan
medis pasien.

Data Cita rasa makanan pasien yang diperoleh melalui wawancara dengan
menggunakan kuesioner selama tiga hari pengamatan kemudian dirata-ratakan pada
hari terakhir penelitian. Sampel diminta untuk menjawab sangat memuaskan (4),
memuaskan (3), tidak memuaskan (2) dan sangat tidak memuaskan (1). Pencapaian
skor nilai dibagi skor hasil dikali dengan 100, dikatakan sangat memuaskan bila
prosentasinya: 76%- 100%, memuaskan: 51% - 75%, tidak memuaskan: 26% -
50,9% dan sangat tidak memuaskan : < 25,9%.

Data sisa makanan pasien yang diperoleh melalui pengamatan (taksiran visual)
dengan menggunakan skala Comstok 6 poin untuk setiap makan pagi, makan siang
dan makan sore selama 3 hari.

Data Sekunder

Terdiri dari data gambaran umum Instalasi Gizi RS Jiwa Sambang Lihum
Banjarmasin diperoleh dari buku laporan tahunan Instalasi Gizi RS Jiwa Sambang
Lihum Banjarmasin.
Teknik Analisis Data

Analisa data yang digunakan adalah :

Analisa Univariat

Digunakan untuk menginformasikan suatu variabel dalam kondisi tertentu tanpa


dikaitkan dengan variabel lain yang dinyatakan dengan sebaran frekuensi baik secara
angka-angka mutlak maupun secara persentase.

Dalam hal ini variabelnya adalah data karakteristik pasien (umur dan pendidikan),
data cita rasa makanan dan data sisa makanan yang disajikan dalam bentuk tabel dan
diolah secara deskriptif

Analisa Bivariat

Digunakan untuk melihat hubungan antara 2 variabel yaitu hubungan antara umur,
pendidikan, cita rasa makanan dengan sisa makanan pasien. Data diolah dengan uji
Chi Square dengan tingkat kepercayaan 95% dan menggunakan program SPSS.

Prosedur Penelitian

Prosedur penelitian ini mempunyai dua tahap penggumpulan data yaitu:

Tahap Pra Penelitian

Meminta ijin kepada kepala ruang rawat inap yaitu ruang Pinus dan ruang Nusa
Indah untuk melakukan penelitian

Menentukan observer yang akan membantu pengumpulan data dan menghubungi


pasien untuk meminta kesediannya diwawancarai / menjadi responden

Mempersiapkan kelengkapan administrasi yang akan diperlukan (formulir, alat tulis,


dll)

Tahap Pelaksanaan Penelitian

Memberi penjelasan dan pelatihan kepada observer yang bertujuan untuk


menyamakan persepsi antar observer mengenai pengisian formulir skala Comstock 6
poin porsi makanan dan cara menaksir sisa makanan dengan menggunakan metode
taksiran visual Comstock 6 poin.

Mengumpulkan data karakteristik pasien (Umur dan pendidikan)


Mengumpulkan hasil pengisian kuesioner data sisa makanan pasien dan data
mengenai cita rasa makanan

Melakukan pengolahan data.

Keterbatasan dan kelemahan penelitian

Penelitian ini hanya mengamati bentuk makanan biasa sehingga tidak dapat
menggambarkan sisa makanan dalam bentuk makanan lunak, saring dan cair.

Penelitian ini tidak mengamati makanan dari luar rumah sakit yang dikonsumsi
pasien.
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

4.1.1 Gambaran Umum Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum

Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum merupakan Rumah Sakit Khusus milik
Pemerintah Daerah Propinsi Kalimantan Selatan, yang terletak di wilayah
Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar dengan luas areal 10 hektar, berdiri di
atas lahan gambut dan jauh dari pemukiman penduduk.

Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum sebelumnya bernama Rumah Sakit Jiwa
Tamban yang berlokasi di Kabupaten Barito Kuala. Pada tahun 2007 Rumah Sakit
Jiwa Tamban direlokasi ke tempat baru dan namanya diganti menjadi Rumah Sakit
Jiwa Sambang Lihum.

Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum diklasifikasikan sebagai Rumah Sakit Khusus
Daerah Tipe A yang disyahkan dengan SK. No 580/Men.Kes/SK/VII/2009 tanggal
28 Juli 2009. Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum telah terakreditasi untuk 5
pelayanan dasar yaitu Administrasi Manajemen, Pelayanan Medis, Pelayanan
Keperawatan, Pelayanan Instalasi Gawat Darurat dan Pelayanan Rekam Medis.

Saat ini Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum memiliki 300 tempat tidur dan 333
orang pegawai. Dengan Visi, Menjadikan Pusat Pelayanan Profesional Kesehatan
Jiwa Regional Kalimantan. Sedangkan Misi nya adalah :

Menyelenggarakan upaya Kesehatan Jiwa yang bersifat Holistik, Terpadu,


Berkelanjutan, Terjangkau, Berjenjang, Profesional dan Bermutu.

Meningkatkan upaya Pencegahan, Promosi dan Penanggulangan Gangguan Jiwa


dan masalah Psikososial dimasyarakat melalui jejaring pelayanan Kesehatan Jiwa.
Menyediakan dan mengembangkan fasilitas Pendidikan, Pelatihan dan
Penelitian dalam bidang pelayanan Kesehatan Jiwa untuk meningkatkan
kualitas SDM.

Mewujudkan sistem manajemen keuangan dan pengelolaan sumber


daya secara efisien dan akuntabel

4.1.2 Gambaran Umum Instalasi Gizi Rumah Sakit Jiwa Sambang


Lihum Instalasi Gizi Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum merupakan

Instalasi penunjang medik yang dikepalai oleh seorang kepala instalasi


yang bertanggung jawab langsung kepada Direktur Rumah Sakit.
Berdasarkan Struktur Instalasi gizi RS Jiwa Sambang Lihum
mempunyai 3 sub bagian yaitu:

Sub bagian Asuhan Gizi rawat jalan dan rawat inap.

Sub bagian penyelenggaraan makanan.

Sub bagian Penelitian dan Pengembangan Gizi Terapan.

Adapun Struktur Organisasi di Instalasi Gizi RSJ Sambang Lihum dapat


dilihat pada lampiran 6. Pola ketenagaan Instalasi Gizi RSJ Sambang
Lihum dapat dilihat pada tabel 1:

Tabel 1: Distribusi Ketenagaan di Instalasi Gizi RSJ Sambang Lihum

PENDIDIKAN

JUM

NO
JABATAN

S1
D3

D1
SMKK/
SMP/
LAH

SLTA
SD

1.
TENAGA GIZI
1
1

2
-
-
4

2.
TENAGA
-
-

-
4
1
5

PEMASAK
3.
TENAGA
-
-

-
2
-
2

KEBERSIHAN

JUMLAH
1
1

2
6
1
11

Pembagian kerja di Instalasi Gizi Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum


terbagi menjadi 3 Shift yaitu shift pagi, shift siang dan shift sore.

Penyelenggaraan makanan di Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum saat


ini hanya melayani pasien yang dirawat inap saja untuk jenis makanan
biasa dan diit. Siklus menu yang digunakan adalah siklus
menu 10 hari. Rata-rata jumlah pasien yang dilayani sehari sebanyak 250 orang
pasien dengan makanan biasa untuk seluruh kelas perawatan.

Standar zat gizi makanan biasa yang disajikan perhari untuk energi 2636 kkal,
protein 98,85 gram, lemak 58,6 gram dan karbohidrat 428,35 gram. Standar ini
mengacu pada Buku penuntun Diit Edisi Baru yang diterbitkan Instalasi Gizi
Perjan RS Dr. Cipto Mangunkusumo dan Asosiasi Dietisien Indonesian

Setiap hari pasien mendapat tiga kali makan utama yaitu pada pagi hari pukul
07.00 WIB, siang pukul 12.00 WIB dan sore hari pukul 17.00 WIB, yang
didistribusikan secara sentralisasi untuk ruangan wanita dan desentralisasi untuk
ruangan pria.

Penyajian untuk kelas I menggunakan piring melamin, untuk kelas II


menggunakan plato persegi dari bahan melamin sedangkan untuk kelas III plato
persegi dari stainless steel dan rantang tutup dari bahan plastik.

Anggaran biaya Instalasi Gizi Rumah Sakit direncanakan pertriwulan, adapun


biaya anggaran keseluruhan dari triwulan I sampai triwulan III (Januari
Desember 2010) sebesar Rp.1.800.000.000 untuk seluruh pasien yang dilayani
pada saat itu. Dengan indek harga biaya makan kelas III perhari sebesar Rp.
17.000

Karakteristik Pasien

a. Distribusi Pasien Menurut Umur

Jumlah pasien pada penelitian ini sebanyak 59 orang, dengan karakteristik


pasien secara umum disajikan pada tabel 2 dibawah ini. Tabel 2. Distribusi
Pasien Menurut Umur

Variabel
N
%

Umur

< 35 tahun
30
50,8
> 35 tahun
29
49,2

Jumlah
59
100

Berdasarkan tabel 2, Umur pasien < 35 tahun yaitu sebanyak

50,8 % dan > 35 sebanyak 49,2 %


Distrubusi Pasien Menurut Tingkat Pendidikan

Tabel 3. Distribusi Pasien Menurut Tingkat Pendidikan

Variabel
N
%

Tingkat Pendidikan

< SMA
44
74,6
> SMA
15
25,4

Jumlah
59
100

Sedangkan tingkat pendidikan pasien berdasarkan tabel 3 sebagian besar tamat


SD dan SMP yaitu sebanyak 74,6 % dan yang lainnya tamat SMA atau PT yaitu
sebanyak 25,4 %.

4.1.4 Cita Rasa Makanan Pasien

Cita rasa makanan pasien RS Jiwa Sambang Lihum yang meliputi penampilan
makanan dan rasa makanan dapat dilihat pada

tabel di bawah ini :

Tabel 4. Cita rasa makanan pasien

Cita rasa makanan


N
%

Sangat memuaskan (76% - 100%)


-
-
Memuaskan (51% - 75,9%)
32
54,2
Tidak memuaskan (26% - 50,9%)
27
45,8
Sangat tidak memuaskan (< 26%)
-
-

Jumlah
59
100

Pada tabel 4 dapat dilihat bahwa cita rasa makanan pasien memuaskan sebanyak
32 orang (54,2 %) dan tidak memuaskan sebanyak 27 orang (45,8 %).

Sisa Makanan Pasien

Jumlah rata-rata sisa makanan biasa pada Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum
dapat dilihat pada tabel di bawah ini .
Tabel 5. Rata-rata sisa makanan biasa menurut jenis makanan.

Jenis sisa makanan


n
%

Makanan pokok ( nasi )

Sisa sedikit
( 25 % )
30
50,8
Sisa banyak ( > 25 % )
29
49,2

Lauk Hewani

Sisa sedikit
( 25 % )
28
47,5
Sisa banyak ( > 25 % )
31
52,5

Lauk Nabati

Sisa sedikit
( 25 % )
29
49,2
Sisa banyak ( > 25 % )
30
50,8

Sayur

Sisa sedikit
( 25 % )
19
32,2
Sisa banyak ( > 25 % )
40
67,8

Buah

Sisa sedikit
( 25 % )
39
66,1
Sisa banyak ( > 25 % )
20
33,9

Pada tabel 5 terlihat, rata-rata sisa makanan pasien bersisa banyak ( > 25 % )
pada jenis makanan sayur yaitu sebesar 67,8 %, lauk hewani bersisa 52,2 %
dan lauk nabati bersisa 50, Sedangkan untuk jenis makanan pokok dan buah
cenderung lebih banyak dihabiskan, terlihat dari rata-rata makanan yang bersisa
sedikit yaitu untuk makanan pokok sebesar 49,2% dan untuk buah sebesar 66,1
%.

Hubungan sisa makanan dengan umur

Data hubungan antara sisa makanan dengan umur pasien Rumah Sakit Jiwa
Sambang Lihum dapat dilihat pada tabel 5 di bawah ini :
Tabel 6. Hubungan sisa makanan dengan umur

Umur (tahun)

Jenis sisa makanan

< 35

> 35

%
n

Makanan Pokok

Sisa sedikit (< 25 % )


21

70
9

31,1
0,003

Sisa banyak ( > 25 % )


9

30
20

68,9

Lauk Hewani

Sisa sedikit (< 25 % )


21

70
7

24,1
0,000

Sisa banyak ( > 25 % )


9

30
22

75,9
Lauk Nabati

Sisa sedikit (< 25 % )


20

66,7
9

31,1
0,006

Sisa banyak ( > 25 % )


10

33,3
20

68,9

Sayur

Sisa sedikit (< 25 % )


17

56,7
2

6,9
0,000

Sisa banyak ( > 25 % )


13

43,3
27

93,1
Buah

Sisa sedikit (< 25 % )


28

93,3
11

37,9
0,000

Sisa banyak ( > 25 % )


2

6,7
18

62,1

Berdasarkan uji Chi Square didapat nilai p < 0,05 untuk setiap jenis
makanan. Hal ini menunjukkan ada hubungan antara sisa makanan
dengan umur pasien, dimana pasien yang berumur > 35 tahun lebih
banyak menyisakan makanannya dari pada pasien yang berumur < 35
tahun.

Jenis makanan yang paling banyak sisa adalah sayur yaitu sebesar 93,1
% dan yang paling sedikit sisa juga sayur yaitu sebesar 6,9 % untuk
kelompok umur > 35 tahun. Sedangkan untuk kelompok umur < 35
tahun jenis makanan yang paling banyak sisa adalah sayur yaitu sebesar
43,3 % dan yang paling sedikit sisa juga sayur yaitu sebesar 56,7 %.
Hubungan sisa makanan dengan tingkat pendidikan

Data hubungan antara sisa makanan dengan tingkat pendidikan pasien Rumah
Sakit Jiwa Sambang Lihum dapat dilihat pada tabel 6 di bawah ini :

Tabel 7. Hubungan sisa makanan dengan tingkat pendidikan

Pendidikan

Jenis sisa makanan


< SMA
> SMA
P

n
%
n
%

Makanan Pokok

Sisa sedikit (< 25 % )


22
50
8
53,3
0,824
Sisa banyak ( > 25 % )
22
50
7
46,7
Lauk Hewani

Sisa sedikit (< 25 % )


21
47,7
7
46,7
0,943
Sisa banyak ( > 25 % )
23
52,3
8
53,3

Lauk Nabati

Sisa sedikit (< 25 % )


24
54,5
5
33,3
0,156
Sisa banyak ( > 25 % )
20
45,5
10
66,7

Sayur

Sisa sedikit (< 25 % )


16
36,4
3
20
0,241
Sisa banyak ( > 25 % )
28
63,6
12
80

Buah

Sisa sedikit (< 25 % )


31
70,5
8
53,3
0,226
Sisa banyak ( > 25 % )
13
29,5
7
46,7

Hasil uji Chi Square didapat nilai p > 0,05. Hal ini

menunjukkan tidak ada hubungan antara sisa makanan dengan jenis pendidikan.
Dimana pasien dengan pendidikan rendah (< SMA) sisa makanan yang lebih
banyak yaitu 28 orang (63,6 %) untuk jenis sayur dan jenis makanan dengan sisa
sedikit adalah buah yaitu 31 orang (70,5%). Sedangkan pasien dengan
pendidikan tinggi (> SMA) makanan yang bersisa banyak juga pada jenis
makanan sayur yaitu
sebanyak 12 orang (80 %) dan yang sisa sedikit pada jenis makanan pokok dan
buah yaitu sebanyak 8 orang (53,3 %).

Hubungan sisa makanan dengan cita rasa makanan

Data hubungan antara sisa makanan dengan cita rasa makanan pasien Rumah
Sakit Jiwa Sambang Lihum dapat dilihat pada tabel 7 di bawah ini :

Tabel 8. Hubungan sisa makanan dengan cita rasa makanan

Cita rasa makanan

Jenis sisa makanan


Memuaskan

Tidak
P

memuaskan

%
n

%
Makanan Pokok

Sisa sedikit (< 25 % )


27

84,4
3

11,1
0,000

Sisa banyak ( > 25 % )


5

15,6
24

88,9

Lauk Hewani

Sisa sedikit (< 25 % )


25

78,1
3

11,1
0,000
Sisa banyak ( > 25 % )
7

21,9
24

88,9

Lauk Nabati

Sisa sedikit (< 25 % )


23

71,9
6

22,2
0,000

Sisa banyak ( > 25 % )


9

28.1
21

77,8

Sayur
Sisa sedikit (< 25 % )
18

56,3
1

3,7
0,000

Sisa banyak ( > 25 % )


14

43,7
26

92,3

Buah

Sisa sedikit (< 25 % )


27

84,4
12

44,4
0,001

Sisa banyak ( > 25 % )


5

15,6
15

55,6
Hasil uji Chi Square menunjukkan ada hubungan antara sisa makanan dengan
cita rasa makanan karena nilai p < 0,05. Cita rasa makanan dengan kategori
memuaskan yang bersisa banyak yaitu 14 orang (43,7 %) terdapat pada jenis
makanan sayur sedangkan yang
bersisa sedikit terdapat pada jenis makanan pokok dan buah yaitu 27 orang (84,4 %).
Sedangkan untuk katagori tidak memuaskan terdapat pada sisa makanan jenis buah
dengan sisa sedikit yaitu ( 44,4 % ) dan sayur untuk sisa banyak yaitu 26 orang
(92,3%).

Pembahasan

Umur

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh pasien yang menderita gangguan jiwa


cenderung lebih banyak diderita oleh orang yang berumur < 35 tahun yaitu sebanyak
30 orang. Hal ini disebabkan tingkat masalah pada usia tersebut cenderung tinggi,
sehingga stres yang dialami lebih tinggi dibandingkan rentang umur lainnya (Baniah
Patriawati, 2009).

Teori juga mengatakan bahwa faktor usia dapat mempengaruhi terjadinya gangguan
jiwa pada seseorang, karena makin bertambahnya usia seseorang apalagi dalam
memasuki usia-usia dewasa hingga usia produktif maka semakin banyak beban dan
tanggung jawab yang diembannya, sehingga dalam proses menjalani kehidupannya ia
selalu terbebani dan memilki tanggung jawab yang besar. Hal inilah yang
memungkinkan sesorang untuk dapat mengalami gangguan jiwa.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh direktorat kesehatan jiwa Depkes RI juga
menyatakan bahwa penderita gangguan jiwa saat ini cenderung dialami seseorang
yang menginjak usia dewasa hingga usia produktif.

Sedangkan menurut Irmasnyah, depresi biasanya menyerang mereka yang ada dalam
usia produktif karena himpitan hidup akibat tekanan ekonomi.

Tingkat pendidikan

Hasil penelitian menunjukkan pasien gangguan jiwa lebih banyak diderita oleh orang
dengan pendidikan rendah (< SMA) yaitu sebanyak 44 orang. Hal ini mungkin
disebabkan pada orang yang berpendidikan rendah memiliki keterbatasan dalam
memahami dan
menyelesaikan suatu permasalahan yang ada disekitarnya. Sehingga ada
kecenderungan untuk bertindak dan berperilaku tidah baik yang akhirnya akan
menyebabkan gangguan jiwa.

Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Crow (dalam
Supriyatno, 2001) bahwa pendidikan diinterpretasikan dengan makna untuk
mempertahankan individu dengan kebutuhan-kebutuhan yang senantiasa
bertambah dan merupakan suatu harapan untuk dapat mengembangkan diri agar
berhasil serta untuk memperluas, mengintensifkan ilmu pengetahuan dan
memahami elemen-elemen yang ada disekitarnya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991), pendidikan diartikan sebagai


proses pembelajaran bagi individu untuk mencapai pengetahuan dan pemahaman
yang lebih tinggi mengenai obyek-obyek tertentu dan spesifik. Pengetahuan
tersebut diperoleh secara formal yang berakibat individu mempunyai pola pikir
dan perilaku sesuai dengan pendidikan yang telah diperolehnya.

Cita rasa makanan pasien

Berdasarkan hasil penelitian sebanyak 32 pasien mengatakan bahwa cita rasa


makanan di RSJ Sambang Lihum memuaskan. Hal ini mungkin disebabkan
makanan yang diberikan adalah makanan biasa, bukan diit sehingga rasa maupun
penampilannya sesuai dengan selera pasien.

Menurut Moehyi cita rasa makanan mencakup dua aspek utama, yaitu
penampilan makanan sewaktu dihidangkan dan rasa makanan waktu di makan.
Makanan yang memiliki cita rasa tinggi adalah makanan yang disajikan dengan
menarik, menyebarkan bau yang sedap, dan memberikan rasa yang lezat
sehingga memuaskan bagi yang memakannya (Moehyi, 1992).

Sisa makanan pasien

Berdasarkan hasil penelitian makanan yang paling banyak sisanya adalah jenis
makanan sayur yaitu sebesar 67,8 %. Hal ini
mungkin disebabkan kebiasaan makan pasien di rumah yang tidak pernah
menggunakan sayur. Hal ini sesuai dengan pendapat Moehyi yang mengatakan
bahwa ketidakpuasan pasien terhadap makanan yang diberikan dipengaruhi oleh
kebiasaan dan pola makan pasien di rumah sebelum masuk rumah sakit.

Selain itu sisa makanan ini mungkin disebabkan kebosanan pasien terhadap
menu masakan sayur. Dimana untuk makan pagi menunya selalu sayur tumis
atau oseng-oseng. Hal ini ditunjukkan dengan hasil penelitian bahwa sisa
makanan yang terbanyak terutama sayur terjadi pada waktu makan pagi.

Hubungan sisa makanan dengan umur pasien

Hasil uji statistik menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara sisa
makanan dengan umur pasien karena nilai p < 0,05 untuk semua jenis makanan,
dimana pasien dengan umur > 35 tahun lebih banyak sisa makanannya dibanding
pasien dengan umur < 35 tahun. Hal ini kemungkinan karena pasien dengan
umur > 35 tahun aktivitas fisiologisnya menurun. Dengan menurunnya aktivitas
maka kebutuhan kalori dan protein juga lebih sedikit, sedangkan makanan yang
diberikan di Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum adalah tinggi kalori tinggi
protein, sehingga untuk pasien dengan umur > 35 tahun porsi ini terlalu besar,
akibatnya makanan yang disajikan tidak habis dikonsumsi.

Sedangkan umur < 35 tahun lebih membutuhkan energi untuk aktivitasnya


sehingga makanan tinggi kalori dan tinggi protein yang diberikan sudah sesuai
dengan kebutuhannya. Oleh karena itu makanan disajikan oleh rumah sakit
hanya sedikit sisanya dan sebagian habis dikonsumsi.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian Saepuloh (2003) yang menyatakan ada
pengaruh antara daya terima pasien terhadap makanan biasa dengan umur pasien.
Hubungan sisa makanan dengan tingkat pendidikan pasien

Pada tabel 7, sisa makanan banyak maupun sisa makanan sedikit ada pada pasien
dengan tingkat pendidikan rendah (< SMA). Dengan demikian maka hasil uji
statistik menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara sisa makanan
dengan tingkat pendidikan pasien . Ini kemungkinan karena pasien mengalami
gangguan kejiwaan seperti gangguan cara berpikir, kemauan, emosi dan tindakan
sehingga daya terimanya terhadap makanan tergantung keadaan kejiwaannya.

Penderita gangguan jiwa mempunyai perilaku makan yang berbeda-beda, baik


laki-laki maupun perempuan mempunyai nafsu makan yang tidak teratur. Pada
suatu saat mereka mampu menghabiskan makanan yang disediakan, tetapi pada
saat lain mereka bahkan tidak menyentuh makanan yang disajikan atau bahkan
membuangnya (Astuti 1961).

Keadaan nafsu makan yang tidak teratur disebabkan karena adanya waham,
halusinasi, keinginan bunuh diri, hiperaktif, hipertim (keadaan yang sangat
menggembirakan), hipotim (keadaan yang menyedihkan), suasana baru yang
mencekam dan membosankan serta berfikiran bahwa makanan mempunyai arti
simbolik (Depkes 1987).

Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Chanzul Rijadi yang
menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara sisa makanan dengan tingkat
pendidikan.

Hubungan sisa makanan dengan cita rasa makanan pasien

Berdasarkan tabel 8 terlihat ada hubungan sisa makanan dengan cita rasa
makanan pada semua jenis makanan. Sebagian besar pasien menyatakan bahwa
cita rasa makanan yang diberikan sudah memuaskan hanya sedikit menyisakan
makanannya baik makanan pokok, lauk hewani, lauk nabati, sayur maupun buah.

Hal ini mungkin dikarenakan makanan yang diberikan oleh rumah sakit memiliki
cita rasa yang tinggi. Karena makanan yang memiliki cita rasa tinggi adalah
makanan yang disajikan dengan menarik,
menyebarkan bau yang sedap, dan memberikan rasa yang lezat sehingga
memuaskan bagi yang memakannya (Moehyi, 1992).

Selain itu beberapa pasien yang menyatakan bahwa cita rasa makanan
yang diberikan tidak memuaskan menyisakan banyak makanannya. Ini
mungkin dikarenakan pasien bosan dengan menu makanan yang
diberikan oleh rumah sakit karena menurut Moehyi faktor-faktor yang
mempengaruhi sisa makanan selain faktor eksternal yaitu cita rasa
makanan juga adanya faktor internal yaitu nafsu makan, kebiasaan
makan, rasa bosan dan adanya makanan dari luar.

Disamping itu ketidakpuasan pasien terhadap makanan yang diberikan


bisa juga dipengaruhi oleh kebiasaan dan pola makan pasien di rumah
sebelum masuk rumah sakit. Karena menurut Moehyi kebiasaan makan
pasien dapat mempengaruhi pasien dalam menghabiskan makanan yang
disajikan. Bila kebiasaan makan pasien sesuai dengan makanan yang
disajikan baik dalam hal susunan menu dan besar porsi maka pasien
cenderung dapat menghabiskan makanan yang disajikan sebaliknya bila
tidak sesuai dengan kebiasaan makan pasien, maka diperlukan waktu
untuk menyesuaikannya.

Penelitian ini sejalan dengan penelitian Khairunnas (2001) pada Rumah


Sakit di Sumatera Barat dimana terdapat hubungan yang bermakna antara
cita rasa makanan dengan sisa makanan. Begitu pula dengan penelitian
Juju Juariah (2007) yang menyatakan ada perbedaan yang bermakna
antara sisa makanan dengan cita rasa makanan.
BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Pasien dengan gangguan kejiwaan cenderung lebih banyak diderita oleh orang
yang berumur < 35 tahun.

Penderita gangguan jiwa lebih banyak terjadi pada orang yang berpendidikan
rendah (< SMA).

Sebanyak 32 orang ( 54,2 %) pasien mengatakan bahwa cita rasa makanan di RSJ
Sambang Lihum memuaskan.

Rata-rata sisa makanan pasien bersisa banyak ( > 25 % ) pada jenis makanan
sayur yaitu sebesar 67,8 %, lauk hewani bersisa 52,2 % dan lauk nabati bersisa
50,8 %.

Ada hubungan antara sisa makanan dengan umur, dimana kelompok umur > 35
tahun sisa makanan lebih banyak daripada kelompok umur < 35 tahun.

Tidak ada hubungan antara sisa makanan dengan tingkat pendidikan.

Ada hubungan yang bermakna antara sisa makanan dengan cita rasa makanan,
dimana pasien yang mengatakan bahwa cita rasa makanan memuaskan sisa
makanan hanya sedikit.

Saran

Bagi instalasi gizi diharapkan tetap meningkatkan mutu dan cita rasa makanan
yang disajikan agar tidak ada lagi makanan yang tersisa.

Peningkatan ketrampilan dan pengetahuan petugas melalui pelatihan, studi


banding agar petugas dan juru masak dapat menghasilkan menu yang sesuai
selera pasien.

Perlunya pendekatan dan pengkajian lebih dalam dari pihak rumah sakit agar
dapat mengerti keinginan pasien. Melalui penyuluhan gizi, tanya
jawab atau evaluasi kepuasan/daya terima pasien terhadap makanan

secara rutin.

Perlu adanya perubahan atau modifikasi menu untuk menghindari kebosanan


pasien terhadap makanan yang disajikan di rumah sakit.

Perlu mempertahankan dan meningkatkan kualitas program pelayanan gizi


menjadi semakin baik agar tujuan pelayanan gizi rumah sakit dalam rangka
membantu mempercepat kesembuhan pasien dan meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat dapat tercapai secara optimal.
DAFTAR PUSTAKA

Akmal N, Almatsier, S Sutardjo, S, Rahimy, R, Octarina ( 1995), Persepsi Pasien


Terhadap Makanan dan Faktor Lain yang Mungkin Berpengaruh pada 10 Calon
Rumah Sakit Panduan dalam Pelayanan Gizi Rumah Sakit, makalah dipresentasikan
pada Kongres Nasional PERSAGI X KPIG.

Almatsier, S., (1992). Persepsi pasien Terhadap makanan di Rumah Sakit. Gizi
Indonesia, Vol 17 hal 87 96 Jakarta.

Asmoro, S. Ismail, S. (1995) Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis, Bagian


Ilmu Kesehatan Anak FK UI, Bina Rupa Aksara, Jakarta.

Chanzul Rijadi (2002), Faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya sisa


makanan pasien rawat inap, http://www.fkm-undip.or.id

Comstock, E.M, Pierre, R.G., and Mackieman, Y.D., (1991). Measuring Individual
Plate Waste in School Lunches, J.Am.Diet.Assoc., 94, 290-297.

Connor P, Rozell S, (2004), Using a Visual Plate Waste Study to Monitor Menu
Performance. J. Am. Diet Assoc, 104:94:96.

Departemen Kesehatan RI., (1991). Buku Pedoman Pelayanan Gizi Rumah Sakit,
Dirjen Pelayanan Medik, Direktorat Rumah Sakit Khusus dan Swasta, Jakarta.

Departemen Kesehatan RI, (2003). Buku Pedoman Pelayanan Gizi Rumah Sakit,
Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat, Jakarta.

Sabri, L, (2006), Statistika Kesehatan, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Djamaluddin, M., (2002). Analisis Zat Gizi dan Biaya Sisa Makanan pada Pasien
dengan Makanan Biasa di RS. Dr. Sardjito Yogyakarta, Tesis Program Pascasarjana
UGM, Yogyakarta.

Dwiyanti, D., (2003). Pengaruh Asupan Makanan Terhadap Kejadian Malnutrisi di


Rumah Sakit, Tesis, Program Pascasarjana UGM, Yogyakarta.

Hartono, A , (2000), Asuhan Nutrisi Rumah Sakit, Penerbit Buku Kedokteran,


Yogjakarta.

Khairunnas, (2001). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Sisa Makanan


pada Pasien yang dirawat Inap di Rumah Sakit dr. Achmad Mochtar Bukit Tinggi.
Tesis, Program Pascasarjana UGM, Yogyakarta.

Instalasi Gizi RS Jiwa Sambang Lihum Banjarmasin (2005), Laporan tahunan


Instalasi Gizi RSJ Sambang Lihum Banjarmasin
Juju Juariah, (2007), Faktor-faktor yang mempengaruhi sisa makanan biasa pada
pasien kelas III rawat inap di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soedarsono
Pontianak, Skripsi Program S 1 Gizi Kesehatan UGM, Yogyakarta

Moehyi, S., (1992). Penyelenggaraan Makanan Institusi dan Jasa Boga, Bharata,
Jakarta.

Moehyi, S., (1999). Pengaruh Makanan dan Diit Untuk Penyembuhan Penyakit,
Gramedia, Jakarta.

Muchatab, Elmiar, dkk.(1991) Pedoman Manajemen Gizi Makanan Berkelompok.


Jakarta, Depkes RI.

Murwani, R., (2001). Penentuan Sisa Makanan Pasien Rawat Inap dengan Metode
Taksiran Visual Comstock di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, Tesis, Program
Pascasarjana UGM, Yogyakarta.

Mukrie, A Nursiah (1990). Manajemen Pelayanan Gizi Institusi dasar. Jakarta.


Proyek Pengembangan Pendidikan Tenaga Gizi Pusat bekerjasama dengan AKZI
Depkes RI.

Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum (2005), Profil Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum
Banjarmasin

Sediaoetama, Achmad Djaeni (1999) Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan Profesi Jilid II,
PT Dian Rakyat, Jakarta

Sastroamoro Sudigdo, Ismael Sofyan. (1995) Dasar-dasar Metodologi Penelitian


Klinis, Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
Jakarta.

Saepuloh, (2003) Faktor-faktor yang mempengaruhi daya terima pasien dewasa diit
makanan biasa (studi di ruang rawat inap kelas II dan III rumah sakit immanuel
bandung). undergraduate thesis, diponegoro university.

West dan Wood.(1998) Food Service in Institution Sixth Education New York. Mac
Milan Publising Company.

Winarno, F.G., (1997), Kimia Pangan dan Gizi. Penerbit Gramedia, Jakarta.

Zulfah, S., (2002), Faktor-faktor yang Mempengaruhi terjadinya malnutrisi RS di


RSU Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Tesis, Program Pascasarjana UGM, Yogyakarta.
Lampiran 1

FORMULIR KARAKTERISTIK PASIEN

Untuk keterangan ini dilihat pada catatan medis pasien

1.
No. ID

2.
Ruang perawatan
__________________
3.
Kelas perawatan
__________________
4.
Tanggal masuk RS
__/ ___/ ___
5.
Nama pasien
__________________
Alamat _______________________________________
_______________________________________

7.
Jenis kelamin
1.
[ ] Laki-laki

2.
[ ] Perempuan

8.
Umur (tahun)

9.
Pendidikan
1.
[ ] Tidak sekolah / tidak tamat SD
2.
[ ] SD

3.
[ ] SLTP

4.
[ ] SLTA

5.
[ ] Sarjana

Observer : ________ Tgl : __/ ___/ 2010


Lampiran 2

Kuesioner Cita Rasa Makanan

Untuk pertanyaan-pertanyaan berikut ini, ada empat pilihan jawaban yaitu: 1 : Sangat
tidak memuaskan.
2 : Tidak memuaskan
3 : Memuaskan.
4 : Sangat memuaskan.

Isikanlah sesuai dengan pendapat pasien, beri tanda untuk pilihan jawaban

ASPEK YANG DINILAI


1
2
3
4
Selama dirawat bagaimana pendapat bapak/ibu/saudara terhadap :

I. PENAMPILAN MAKANAN

A.
Besar porsi

1.
Nasi

2.
Lauk hewani

3.
Lauk nabati

4.
Sayur
5.
Buah

B.
Warna makanan

1.
Warna lauk hewani

2.
Warna lauk nabati

3.
Warna sayur

4.
Warna buah

C.
Penyajian

1.
Nasi

2.
Variasi lauk hewani

3.
Variasi lauk nabati
4.
Variasi sayur

5.
Variasi buah

6.
Ketepatan waktu penyajian

7.
Kebersihan alat

RASA MAKANAN

Aroma

Aroma lauk hewani

Aroma lauk nabati

Aroma sayur

Bumbu

Rasa bumbu lauk hewani

Rasa bumbu lauk nabati

Rasa bumbu sayur

Kematangan

Kematangan Nasi

Kematangan lauk hewani

Kematangan lauk nabati

Kematangan sayur

Kematangan buah
Lampiran 3

FORMULIR TAKSIRAN SISA MAKANAN

No. ID
: _______
Ruangan
: _______

Tanggal
: _______
Kelas perawatan
: _______
Observer
: _______

SKALA PENGUKURAN

0
1
2
3
4
5
WAKTU
JENIS
(0%)
(25%)
(50%)
(75%)
(95%)
(100%)
MAKAN
MAKANAN

PAGI
NASI
LAUK HEWANi

LAUK NABATI

SAYUR

BUAH

SIANG
NASI

LAUK HEWANI

LAUK NABATI
SAYUR

BUAH

SORE
NASI

LAUK HEWANI

LAUKNABATI

SAYUR

BUAH
Lampiran 4

STRUKTUR ORGANISASI INSTALASI GIZI

R.S JIWA SAMBANG LIHUM

DIREKTUR

Dr. ASYIKIN NOOR, Sp.Kj.MAP

KASIE PENUNJANG MEDIS

NOOR ABIDIN

KEPALA INSTALASI GIZI

KHAIRUN NIDA
ASUHAN GIZI

PENYELENGGARAAN MAKANAN

PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

RAWAT INAP DAN RAWAT JALAN


SYARKIAH.S.Gz

SYARKIAH. S.Gz
PEMERIKSAAN

PEMESANAN

DAN

PERENCANAAN

PERSIAPAN

PENGOLAHAN

PENDISTRIBUSIAN

BAHAN

PENYIMPANAN

BAHAN
MENU

MAKANAN

MAKANAN

MAKANAN

BAHAN

MAKANAN
MAKANAN

MISBAH

DEWI YANA

DARMAWATI

HAIRIAH

ST. KHADIJAH
ISMIATI
Lampiran 5

MENU 11 HARI MAKANAN PASIEN RAWAT INAP KELAS III


RS JIWA SAMBANG LIHUM

MENU
PAGI
SNAK
SIANG
SORE
I
NB / NL / BB / BS / BC
DONAT
NB/NL/BB/BS/BC
NB / NL / BB / BS / BC

ORAK-ARIK TELUR

AYAM GORENG TEPUNG


IKAN PEDA Bb BALI

MIE GORENG

S.G TAHU
ACAR SAYURAN

( Kacang Panjang, kol )

SUP KIMLO
( Wortel, timun, kacang

TELUR REBUS ( TKTP )

( wortel, kentang,sedap
panjang

SUSU ( TKTP )

malam, kembang tahu,


TELUR REBUS ( TKTP )

Kc.maling )
SUSU ( TKTP )

TELUR REBUS ( TKTP )

SUSU ( TKTP )

PEPAYA MASAK

II
NB / NL / BB / BS / BC
LEMPER
NB / NL / BB / BS / BC
NB / NL / BB / BS / BC

SAMBAL GORENG

KAREH AYAM
BISTIK DAGING

UDANG
SUSU
TEMPE GORENG
SOP OYONG

TUMIS KACANG

URAPAN
( Misoa, karawila, wortel,

PANJANG + WORTEL

( Kangkung, Kc panjang,
kol, kentang )

TELUR REBUS ( TKTP )

kecambah, kelapa muda )


TELUR REBUS ( TKTP )

SUSU ( TKTP )

TELUR REBUS ( TKTP )


SUSU ( TKTP )

SUSU ( TKTP )

SEMANGKA

III
NB / NL / BB / BS / BC
BUBUR
NB / NL / BB / BS / BC
NB / NL / BB / BS / BC

OPOR AYAM
KACANG
IKAN PATIN GORENG
TELUR Bb KUNING

OSENG BUNCIS + KOL +


HIJAU
S.G TEMPE
CA BAYAM

WORTEL

SAYUR SANTAN
( Bayam, baby corn, kol )

TELUR REBUS ( TKTP )

( labu merah, bayam,


TELUR REBUS ( TKTP )

SUSU ( TKTP )
kc panjang )
SUSU ( TKTP )

TELUR REBUS ( TKTP )

SUSU ( TKTP )

PISANG MAHULI

IV
NB / NL / BB / BS / BC
KUE LAPIS
NB / NL / BB / BS / BC
NB / NL / BB / BS / BC

SAMBAL GORENG HATI

AYAM Bb BALI
KAREH DAGING

MIHUN GORENG

TAHU GORENG
PECEL

( wortel, sawi, kol )

SUP SAYURAN
( pepaya muda, kangkung,

TELUR REBUS ( TKTP )

( wortel, kol, kentang,


kecambah, kc panjang )

SUSU ( TKTP )

macaroni)
TELUR REBUS ( TKTP )

TELUR REBUS ( TKTP )


SUSU ( TKTP )

SUSU ( TKTP )

MELON
V
NB / NL / BB / BS / BC
DADAR
NB / NL / BB / BS / BC
NB / NL / BB / BS / BC

ASAM MANIS TENGGIRI


GULUNG
TONGKOL Bb BALI
IKAN GORENG

CA

TEMPE GORENG
SAYUR ASAM BANJAR

KENTANG+WORTEL+

CAP CAY
( Kc panjang, kol, timun )

BUNCIS

( wortel, kol, kembang kol,


TELUR REBUS ( TKTP )

TELUR REBUS ( TKTP )

sawi )
SUSU ( TKTP )

SUSU ( TKTP )

TELUR REBUS ( TKTP )

SUSU ( TKTP )

PISANG AMBON
VI
NB / NL / BB / BS / BC
ROTI KUKUS
NB / NL / BB / BS / BC
NB / NL / BB / BS / BC

TELUR Bb BALI

AYAM GORENG TEPUNG


IKAN BB KUNING

OSENG Kc PANJANG +
SUSU
S.G TAHU
CA JAGUNG

WORTEL

CA JAMUR KUPING
( kc panjang, baby corn,

TELUR REBUS ( TKTP )

( wortel, kol, sawi, sedap


wortel) )

SUSU ( TKTP )

malam, jamur kuping )


TELUR REBUS ( TKTP )

TELUR REBUS ( TKTP )


SUSU ( TKTP )

SUSU ( TKTP )

PEPAYA MASAK

VII
NB / NL / BB / BS / BC
PASTEL
NB / NL / BB / BS / BC
NB / NL / BB / BS / BC

S.G HATI + KENTANG

AYAM MASAK HIJAU


OPOR AYAM

MIE GORENG

SAYUR LODEH
OSENG BUNCIS +
( wortel, sawi kol )

( nangka muda, kc panjang,


WORTEL + TAHU

TELUR REBUS ( TKTP )

tahu masak )
MASAK

SUSU ( TKTP )

TELUR REBUS ( TKTP )


TELUR REBUS ( TKTP )

SUSU ( TKTP )
SUSU ( TKTP )

MELON

VIII
NB / NL / BB / BS / BC
BUBUR
NB / NL / BB / BS / BC
NB / NL / BB / BS / BC

ORAK ARIK TELUR +


KACANG
RAWON
TELUR Bb KAREH

KORNET
HIJAU
( Daging rawon + kecambah )
SAYUR BENING

TUMIS KANGKUNG +

TEMPE GORENG
( labu merah, bayam,

TOUGE + JAGUNG

TELUR REBUS ( TKTP )


oyong, jagung manis )

MANIS

SUSU ( TKTP )
TELUR REBUS ( TKTP )

TELUR REBUS ( TKTP )

SEMANGKA
SUSU ( TKTP )

SUSU ( TKTP )

IX
NB / NL / BB / BS / BC
ROTI MANIS
NB / NL / BB / BS / BC
NB / NL / BB / BS / BC

TENGGIRI GORENG

KALIO DAGING
AYAM GORENG

TUMIS KACANG

TAHU GORENG
SAYUR ASAM JAKARTA

PANJANG + KOL +

ACAR KUNING
( jagung manis, kc panjang,

WORTEL

( wortel, ketimun , buncis,


daun melinjo, kc tanah )

TELUR REBUS ( TKTP )

baby corn )
TELUR REBUS ( TKTP )

SUSU ( TKTP )

TELUR REBUS ( TKTP )


SUSU ( TKTP )

SUSU ( TKTP )

PISANG MAHULI

X
NB / NL / BB / BS / BC
BINGKA
NB / NL / BB / BS / BC
NB / NL / BB / BS / BC

SARDEN

IKAN PATIN GORENG


BISTIK AYAM

MIHUN GORENG

TEMPE GORENG
SUP JAGUNG

( sawi, wortel, kol )

LODEH TERUNG
( jagung manis, kembang

TELUR REBUS ( TKTP )

( terung ungu, kc panjang )


kol, wortel, kc buncis

SUSU ( TKTP )

TELUR REBUS ( TKTP )


TELUR REBUS ( TKTP )

SUSU ( TKTP )
SUSU ( TKTP )

SEMANGKA

XI
NB / NL / BB / BS / BC
BOLU
NB / NL / BB / BS / BC
NB / NL / BB / BS / BC

TELUR Bb BALI

SOTO AYAM
DAGING Bb RUJAK

TUMIS LABU SIAM + KC

(Soun, wortel, kentang, macaroni)


CA OYONG

PANJANG

S.G TEMPE
( Karawila, jagung manis,

TELUR REBUS ( TKTP )

TELUR REBUS ( TKTP )


kc.panjang )

SUSU ( TKTP )

SUSU ( TKTP )
TELUR REBUS ( TKTP )

MELON
SUSU ( TKTP )
Lampiran 6

Hasil Uji Statistik

Frequency Table
umur pasien

Cumulative

Frequency
Percent
Valid Percent
Percent

Valid
< 35 tahun

50.8
50.8
50.8

30

> 35 tahun
29
49.2
49.2
100.0

Total
59
100.0
100.0

tingkat pendidikan pasien

Cumulative

Frequency
Percent
Valid Percent
Percent

Valid
pendidikan rendah(<SMA)

44
74.6
74.6
74.6
pendidikan tinggi (>SMA)

15
25.4
25.4
100.0

Total

59
100.0
100.0

cita rasa makanan pasien

Cumulative
Frequency
Percent
Valid Percent
Percent

Valid
memuaskan (51-75,9%)

32
54.2
54.2
54.2

tidak memuaskan (26-50,9%)

27
45.8

100.0

45.8

Total

59
100.0

100.0
Sisa makanan pokok pasien

Cumulative

Frequency
Percent

Valid Percent
Percent

Valid
sisa sedikit (< 25 %)
30
50.8

50.8
50.8

sisa banyak (> 25%)


29
49.2

49.2
100.0
Total
59
100.0

100.0
Sisa lauk hewani pasien

Cumulative

Frequency
Percent
Valid Percent
Percent

Valid
sisa sedikit (< 25%)
28
47.5
47.5
47.5

sisa banyak (>25%)


31
52.5
52.5
100.0

Total
59
100.0
100.0

sisa lauk nabati pasien

Cumulative
Frequency
Percent
Valid Percent
Percent

Valid

sisa sedikit (<25%)


29

49.2
49.2
49.2

sisa banyak (>25%)


30
50.8
50.8
100.0
Total
59
100.0
100.0

sisa sayur pasien

Cumulative

Frequency
Percent
Valid Percent
Percent
Valid

sisa sedikit (<25%)


19
32.2
32.2
32.2

sisa banyak (>25%)


40
67.8
67.8
100.0

Total
59
100.0
100.0
sisa buah pasien

Cumulative

Frequency
Percent
Valid Percent
Percent

Valid

sisa sedikit (<25%)


39
66.1
66.1
66.1

sisa banyak (>25%)


20
33.9

100.0

33.9
Total
59
100.0
100.0
sisa makanan pokok pasien * umur pasien

Crosstab

umur pasien

< 35 tahun

> 35 tahun
Total

sisa makanan pokok pasien


sisa sedikit (< 25 %)
Count
21

9
30

Expected Count
15.3

14.7
30.0

sisa banyak (> 25%)


Count
9

20
29

Expected Count
14.7

14.3
29.0

Total

Count

30

29
59

Expected Count

30.0

29.0
59.0

Chi-Square Tests
Asymp. Sig. (2-
Exact Sig. (2-
Exact Sig. (1-

Value
df
sided)
sided)
sided)

Pearson Chi-Square

a
8.958
1
.003

b
Continuity Correction
7.467

1
.006

Likelihood Ratio
9.199

1
.002

Fisher's Exact Test

.004
.003

Linear-by-Linear Association

8.806

1
.003

b
N of Valid Cases

59

0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 14.25.

Computed only for a 2x2 table


sisa lauk hewani pasien * umur pasien

Crosstab

umur pasien

< 35 tahun

> 35 tahun
Total

sisa lauk hewani pasien


sisa sedikit (< 25%)
Count
21

7
28

Expected Count
14.2

13.8
28.0

sisa banyak (>25%)


Count
9

22
31

Expected Count
15.8

15.2
31.0
Total

Count

30

29
59

Expected Count

30.0

29.0
59.0

Chi-Square Tests
Asymp. Sig. (2-

Exact Sig. (2-

Exact Sig. (1-

Value
df
sided)

sided)

sided)

Pearson Chi-Square

a
12.438
1
.000

b
Continuity Correction

10.667
1
.001

Likelihood Ratio

12.932

1
.000

Fisher's Exact Test

.001

.000

Linear-by-Linear Association

12.227

1
.000
b
N of Valid Cases

59

0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 13.76.

Computed only for a 2x2 table


sisa lauk nabati pasien * umur pasien

Crosstab

umur pasien

< 35 tahun
> 35 tahun
Total

sisa lauk nabati pasien


sisa sedikit (<25%)
Count
20
9
29

Expected Count

14.7
14.3
29.0

sisa banyak (>25%)


Count

10
20
30

Expected Count
15.3
14.7
30.0

Total

Count

30
29
59

Expected Count

30.0
29.0
59.0

Chi-Square Tests
Asymp. Sig. (2-

Exact Sig. (2-

Exact Sig. (1-

Value
df
sided)

sided)

sided)

Pearson Chi-Square

a
7.491
1
.006

b
Continuity Correction
6.133

1
.013

Likelihood Ratio

7.660

1
.006

Fisher's Exact Test

.009

.006

Linear-by-Linear Association

7.364

1
.007
b
N of Valid Cases

59

0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 14.25.

Computed only for a 2x2 table


sisa sayur pasien * umur pasien

Crosstab

umur pasien

< 35 tahun

> 35 tahun

Total
sisa sayur pasien
sisa sedikit (<25%)
Count
17

19

Expected Count
9.7

9.3

19.0

sisa banyak (>25%)


Count
13

27

40

Expected Count
20.3

19.7

40.0

Total

Count

59

30

29

Expected Count
59.0

30.0

29.0

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2-


Exact Sig. (2-
Exact Sig. (1-

Value
df
sided)
sided)
sided)

Pearson Chi-Square

a
16.730
1

.000

b
Continuity Correction
14.528

.000

Likelihood Ratio

18.541

.000

Fisher's Exact Test


.000
.000

Linear-by-Linear Association

16.446

.000

b
N of Valid Cases

59

0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 9.34.

Computed only for a 2x2 table


sisa buah pasien * umur pasien

Crosstab

umur pasien

< 35 tahun

> 35 tahun

Total
sisa buah pasien
sisa sedikit (<25%)
Count
28

11

39

Expected Count
19.8

19.2

39.0

sisa banyak (>25%)


Count
2

18

20

Expected Count
10.2

9.8

20.0

Total

Count

59

30

29

Expected Count
59.0

30.0

29.0

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2-


Exact Sig. (2-
Exact Sig. (1-

Value
df
sided)
sided)
sided)

Pearson Chi-Square
a
20.199
1
.000

b
Continuity Correction
17.802
1
.000

Likelihood Ratio
22.370
1
.000

Fisher's Exact Test

.000
.000
Linear-by-Linear Association
19.857
1
.000

b
N of Valid Cases

59

0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 9.83.

Computed only for a 2x2 table


sisa makanan pokok pasien * tingkat pendidikan pasien

Crosstab

tingkat pendidikan pasien

pendidikan
pendidikan

rendah(<SMA)
tinggi (>SMA)
Total

sisa makanan pokok pasien


sisa sedikit (< 25 %)
Count
22

8
30
Expected Count
22.4

7.6
30.0

sisa banyak (> 25%)


Count
22

7
29
Expected Count
21.6

7.4
29.0

Total

Count
44

15
59

Expected Count
44.0

15.0
59.0

Chi-Square Tests
Asymp. Sig. (2-

Exact Sig. (2-


Exact Sig. (1-

Value
df
sided)

sided)
sided)

Pearson Chi-Square

a
.050
1
.824
b
Continuity Correction

.000

1
1.000

Likelihood Ratio

.050

1
.823

Fisher's Exact Test

1.000

.531
Linear-by-Linear Association

.049

1
.825

b
N of Valid Cases

59
0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 7.37.

Computed only for a 2x2 table


sisa lauk hewani pasien * tingkat pendidikan pasien

Crosstab

tingkat pendidikan pasien

pendidikan

pendidikan

rendah(<SMA)

tinggi (>SMA)

Total
sisa lauk hewani pasien
sisa sedikit (< 25%)
Count
21

28

Expected Count
20.9

7.1

28.0

sisa banyak (>25%)


Count
23

31
Expected Count
23.1

7.9

31.0

Total

Count
44

15

59

Expected Count
44.0

15.0

59.0
Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2-

Exact Sig. (2-


Exact Sig. (1-

Value
df
sided)

sided)
sided)
Pearson Chi-Square

a
.005
1
.943

b
Continuity Correction

.000

1
1.000

Likelihood Ratio

.005

1
.943
Fisher's Exact Test

1.000

.591

Linear-by-Linear Association

.005

1
.944

b
N of Valid Cases

59
0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 7.12.

Computed only for a 2x2 table


sisa lauk nabati pasien * tingkat pendidikan pasien

Crosstab

tingkat pendidikan pasien

pendidikan

pendidikan

rendah(<SMA)

tinggi (>SMA)

Total
sisa lauk nabati pasien
sisa sedikit (<25%)
Count
24

29

Expected
21.6

7.4

29.0

Count

sisa banyak (>25%)


Count
20

10

30

Expected
22.4

7.6

30.0

Count

Total

Count
44

15

59
Expected
44.0

15.0

59.0

Count

Chi-Square Tests
Asymp. Sig. (2-
Exact Sig. (2-
Exact Sig. (1-

Value
Df
sided)
sided)
sided)

Pearson Chi-Square

a
2.014
1
.156

b
Continuity Correction

1.255

1
.263

Likelihood Ratio

2.046

1
.153
Fisher's Exact Test

.233
.131

Linear-by-Linear Association

1.980

1
.159

b
N of Valid Cases

59
0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 7.37.

Computed only for a 2x2 table


sisa sayur pasien * tingkat pendidikan pasien

Crosstab

tingkat pendidikan pasien

pendidikan

pendidikan

rendah(<SMA)

tinggi (>SMA)
Total
sisa sayur pasien
sisa sedikit (<25%)
Count
16

3
19

Expected Count
14.2

4.8
19.0

sisa banyak (>25%)


Count
28

12
40

Expected Count
29.8

10.2
40.0

Total

Count
44

15
59

Expected Count
44.0

15.0
59.0
Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2-


Exact Sig. (2-
Exact Sig. (1-

Value
Df
sided)
sided)
sided)

Pearson Chi-Square
a
1.372
1
.241

b
Continuity Correction
.725

1
.395
Likelihood Ratio
1.456

1
.228

Fisher's Exact Test

.342
.199

Linear-by-Linear Association
1.349

1
.246

b
N of Valid Cases
59
1 cells (25.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 4.83.

Computed only for a 2x2 table


sisa buah pasien * tingkat pendidikan pasien

Crosstab

tingkat pendidikan pasien

pendidikan
pendidikan

rendah(<SMA)
tinggi (>SMA)
Total

sisa buah pasien


sisa sedikit (<25%)
Count
31
8
39

Expected Count
29.1
9.9
39.0

sisa banyak (>25%)


Count
13
7
20

Expected Count
14.9
5.1
20.0

Total

Count
44
15
59

Expected Count
44.0
15.0
59.0

Chi-Square Tests
Asymp. Sig.
Exact Sig. (2-

Exact Sig.

Value
Df
(2-sided)
sided)

(1-sided)

Pearson Chi-Square
a
1.463
1
.226

b
Continuity Correction
.799

1
.371

Likelihood Ratio
1.422

1
.233

Fisher's Exact Test


.344

.185

Linear-by-Linear Association
1.439

1
.230

b
N of Valid Cases
59

0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 5.08.

Computed only for a 2x2 table


sisa makanan pokok pasien * cita rasa makanan pasien

Crosstab

cita rasa makanan pasien

memuaskan

tidak memuaskan

(51-75,9%)

(26-50,9%)
Total

sisa makanan pokok pasien


sisa sedikit (< 25 %)
Count
27

30

Expected

16.3

13.7
30.0

Count
sisa banyak (> 25%)
Count
5

24
29

Expected

15.7

13.3
29.0

Count

Total

Count
32
27
59

Expected
32.0

27.0
59.0

Count

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2-


Exact Sig. (2-
Exact Sig. (1-
Value
df

sided)
sided)
sided)

Pearson Chi-Square
a
31.450
1

.000

b
Continuity Correction
28.587

.000
Likelihood Ratio
35.200

.000

Fisher's Exact Test

.000
.000

Linear-by-Linear Association
30.917

.000

b
N of Valid Cases
59
0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 13.27.

Computed only for a 2x2 table


Sisa lauk hewani pasien * cita rasa makanan pasien

Crosstab

cita rasa makanan pasien

memuaskan

tidak memuaskan

(51-75,9%)

(26-50,9%)

Total
sisa lauk hewani pasien
sisa sedikit (< 25%)
Count
25

3
28

Expected
15.2

12.8
28.0

Count

sisa banyak (>25%)


Count
7

24
31

Expected
16.8

14.2
31.0
Count

Total

Count
32

27
59

Expected
32.0

27.0
59.0

Count
Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2-


Exact Sig. (2-
Exact Sig. (1-

Value
df
sided)
sided)
sided)
Pearson Chi-Square
a
26.374
1
.000

b
Continuity Correction
23.755
1
.000

Likelihood Ratio
29.181
1
.000

Fisher's Exact Test

.000
.000
Linear-by-Linear Association
25.927
1
.000

b
N of Valid Cases
59

0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 12.81.

Computed only for a 2x2 table


sisa lauk nabati pasien * cita rasa makanan pasien

Crosstab

cita rasa makanan pasien

memuaskan
tidak memuaskan

(51-75,9%)
(26-50,9%)

Total

sisa lauk nabati pasien


sisa sedikit (<25%)
Count
23
6

29

Expected
15.7
13.3

29.0

Count

sisa banyak (>25%)


Count
9
21

30

Expected

16.3
13.7
30.0

Count

Total

Count
32
27

59

Expected
32.0
27.0

59.0

Count
Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2-


Exact Sig. (2-
Exact Sig. (1-

Value
df
sided)
sided)
sided)
Pearson Chi-Square

a
14.446

1
.000

b
Continuity Correction

12.527

1
.000

Likelihood Ratio

15.146

1
.000
Fisher's Exact Test

.000
.000

Linear-by-Linear Association

14.201

1
.000

b
N of Valid Cases

59

0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 13.27.

Computed only for a 2x2 table


sisa sayur pasien * cita rasa makanan pasien

Crosstab

cita rasa makanan pasien

memuaskan

tidak memuaskan

(51-75,9%)

(26-50,9%)
Total
sisa sayur pasien
sisa sedikit (<25%)
Count
18

1
19

Expected
10.3

8.7
19.0

Count

sisa banyak (>25%)


Count

40

14

26

Expected
21.7

18.3
40.0
Count

Total

Count
32

27
59

Expected
32.0

27.0
59.0

Count
Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2-


Exact Sig. (2-
Exact Sig. (1-

Value
df

sided)
sided)
sided)

Pearson Chi-Square
a
18.520
1

.000
b
Continuity Correction
16.191

.000

Likelihood Ratio
21.736

.000

Fisher's Exact Test

.000
.000

Linear-by-Linear Association
18.206

.000

b
N of Valid Cases
59
0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 8.69.

Computed only for a 2x2 table


sisa buah pasien * cita rasa makanan pasien

Crosstab

cita rasa makanan pasien

memuaskan

tidak memuaskan

(51-75,9%)

(26-50,9%)
Total
sisa buah pasien
sisa sedikit (<25%)
Count

27

12
39

Expecte

21.2

17.8
39.0

d Count

sisa banyak (>25%)


Count
5

15
20

Expecte

10.8

9.2
20.0

d Count

Total

Count

32

27
59

Expecte

32.0

27.0
59.0

d Count
Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2-

Exact Sig. (2-


Exact Sig. (1-

Value
df
sided)

sided)
sided)
Pearson Chi-Square

a
10.420
1
.001

b
Continuity Correction

8.714

1
.003

Likelihood Ratio

10.729

1
.001
Fisher's Exact Test

.002
.001
Linear-by-Linear Association
10.244
1
.001

b
N of Valid Cases
59

0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 9.15.

Computed only for a 2x2 table