Anda di halaman 1dari 7

Laporan Kasus

Diagnosis dan Tatalaksana Penyakit Ginjal Kronik

1
Christina Agustin 2Suzanna Ndraha
1
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
2
Departemen Penyakit Dalam RSUD Koja, Jakarta Utara, Jakarta, Indonesia

Abstrak
Introduksi :
Penyakit Ginjal Kronik (Chronic Kidney Disease) adalah suatu bentuk progresivitas dari
kegagalan fungsi ataupun struktur ginjal dengan manifestasi klinik mual, muntah, badan
terasa lemas, dan pusing kepala yang berlangsung lebih dari 3 bulan. Artikel ini akan
melaporkan penemuan kasus CKD dan penatalaksanaannya pada pasien berumur 71 tahun.

Kasus :
Wanita berusia 71 tahun datang ke RSUD Koja dengan keluhan badan terasa lemas sejak 3
hari yang lalu. Setelah dilakukan pemeriksaan fisik, didapatkan konjungtiva anemis,
abdomen terdapat nyeri tekan di epigastrium, dan pitting oedem kedua tungkai pada
pemeriksaan penunjang didapatkan Hb 6.9 g/dL, Ureum 105 mg/dL, Creatinin 3.67 mg/dL.
Pasien diputuskan dirawat, selama perawatan 5 hari, pemeriksaan USG didapatkan ukuran
ginjal kanan dan kiri kecil mulai mengecil sesuai gambaran CKD. Pasien diberikan terapi
simptomatik berupa transfusi darah, penurun tekanan darah, dan aminefron selama
perawatan. Pada perjalanan penyakit hari ke-7, kondisi pasien stabil dan pasien
diperbolehkan pulang.

Diskusi :
Pada kasus ini, tatacara diagnosis untuk penyakit ginjal kronik sudah baik dan sesuai dengan
kriteria derajat gagal ginjal kronik. Terapi yang diberikan juga sudah sesuai, namun yang
kurang tepat adalah belum dipersiapkannya hemodialisa pada pasien ini.

Kesimpulan :
Tatacara diagnosis dan terapi yang tepat pada pasien penyakit ginjal kronik di RSUD Koja
sudah sesuai standar.

Kata kunci : penyakit ginjal kronik, gagal ginjal kronik, anemia, hipertensi.

Chronic Kidney Disease Diagnosis and Therapy


1
Christina Agustin 2Suzanna Ndraha

1
Laporan Kasus

1
Faculty of Medicine, Krida Wacana Christian University
2
Internal Medicine Department, Koja General Hospital, North Jakarta, Jakarta, Indonesia

Abstract
Introduction:
Chronic Kidney Disease is a form of progressively deteriorating function or structural of the
kidney, with nausea, vomitting, fatique, and headache as clinical manifestations for more
than three months. This article will report a chronic kidney disease case with its therapy in
71 years old female patient.

Case:
71 years old female patient came to Koja General Hospital with fatigue since 3 days ago as a
main complaint. After the physical examination, she got anemic conjunctiva, epigastric pain,
and pitting oedem in both legs. Laboratory findings found that Hb 6.9 g/dL, Ureum 105
mg/dL, Creatinine 3,67 mg/dL. The patient was required to stay in the hospital in order to be
checked up for 5 days, and the USG investigation has obtained that the right and left kidney
has shrunk in size which support diagnosis of CKD. The patient has also been given a
symptomatic therapy such as antihypertension, and aminefron during the treatment. On the
7th day, the patients condition has been stable, and were sent home.

Diskusi :
In this case, the diagnostic method for the chronic kidney disease was stabilized and falls at
chronic kidney failure stage. The therapies given were also appropriate. The problem is that
the hemodialysis has not been prepared for this patient.

Kesimpulan :
The diagnostic, method, and the appropriate therapy for the chronic kidney disease patient in
Koja General Hospital has met the standart.

Kata kunci : Chronic Kidney Disease, Chronic Renal Failure, Anemia, Hypertension

Koja General Hospital

Pendahuluan

Penyakit ginjal kronik adalah adanya dapat dideteksi melalui pemeriksaan


kelainan struktural atau fungsional pada laboratorium (albuminuria, sedimen urin,
ginjal yang berlangsung minimal 3 bulan, kelainan elektrolit akibat ginjal),
dapat berupa kelainan struktural yang pemeriksaan histologi, pencitraan, atau

2
Laporan Kasus

riwayat transplantasi ginjal, atau gangguan derajat (stage) penyakit dan atas dasar
fungsi ginjal dengan laju filtrasi diagnosis etiologi. Klasifikasi atas dasar
glomerolus (LFG) < 60 mL/menit/1.73m2 derajat penyakit, dibuat atas dasar LFG,
dengan atau tanpa kerusakan ginjal. yaitu dihitung dengan mempergunakan
Klasifikasi penyakit ginjal kronik rumus Kockcroft-Gault sebagai berikut.1,2
didasarkan atas dua hal yaitu, atas dasar

LFG (ml/mnt/1,73m2) = (140 Umur) x Berat Badan

72 x Kreatinin Plasma (mg/dl) *)

*) pada perempuan dikalikan 0,85

Tabel 1. Klasifikasi Penyakit Ginjal Kronik atas Dasar Derajat Penyakit2


Derajat Penjelasan LFG (ml/mnt/1,73m2)

I Kerusakan ginjal dengan LFG normal atau 90


II Kerusakan ginjal dengan LFG ringan 60-89
III Kerusakan ginjal dengan LFG sedang 30-59
IV Kerusakan ginjal dengan LFG berat 15-29
V Gagal ginjal < 15 atau dialisis

Penyakit ginjal kronik disebabkan oleh ada yang dapat dimodifikasi, seperti
bermacam macam hal, antara lain hipertensi, proteinuria, glikemia, obesitas,
glomerulonefritis akibat infeksi dan ada yang tidak, misalnya usia, jenis
(endokarditis bakterial, hepatitis C, kelamin, dan ras.4
hepatitis B, HIV) atau yang bersifat kronis,
diabetes melitus menyebabkan nefropati Di negara-negara berkembang lainnya,
diabetik, hipertensi, penyakit insiden CKD diperkirakan sekitar 40-60
nefrosclerosis, uropati obstruktif (batu kasus perjuta penduduk pertahun. Sebuah
saluran kemih, tumor, dan lain lain), studi yang dilakukan Perhimpunan
lupus eritematosus sistemik, amiloidosis, Nefrologi Indonesia melaporkan sebanyak
penyakit ginjal polikistik, penggunaan obat 12.5% populasi di Indonesia mengalami
obatan (obat anti-inflamasi non steroid, penurunan fungsi ginjal.5 Penurunan fungsi
antibiotik, siklosporin, tacrolimus).2,3 CKD ginjal dikarenakan adanya gangguan atau
merupakan multihit process disease. Sekali kerusakan pada ginjal, terutama pada
mengalami gangguan fungsi ginjal, banyak komponen filtrasi ginjal, seperti membran
faktor yang akan memperberat perjalanan basal glomerulus, sel endotel, dan sel
penyakit. Faktor tersebut dikenal sebagai podosit. Kerusakan komponen
faktor progresivitas penyakit ginjal kronik, komponen ini disebabkan secara langsung

3
Laporan Kasus

oleh kompleks imun, mediator inflamasi, Keberadaan CKD harus ditegakkan,


atau toksin, juga mekanisme progresif berdasarkan adanya kerusakan ginjal dan
yang berlangsung dalam jangka panjang tingkat fungsi ginjal (LFG), selain dari
seperti hipertrofi kompensatori yang manifestasi klinis dan penunjang. Pada
terjadi karena pengurangan massa ginjal. pasien dengan CKD, stadium penyakitnya
Adanya sitokin dan growth factor juga harus ditentukan berdasarkan tingkat
berperan menyebabkan kerusakan ginjal fungsi ginjal menurut klasifikasi CKD.
dengan meningkatkan aktivitas aksis renin- Penghitungan LFG merupakan
angiotensin-aldosteron intrarenal yang pemeriksaan terbaik dalam menentukan
memberikan konstribusi terhadap fungsi ginjal. Penunjang yang dilakukan
terjadinya hiperfiltrasi dan progesifitas.2 pada pasien CKD adalah pemeriksaan
kadar ureum dan kreatinin serum,
Manifestasi klinik penyakit ginjal kronik pemeriksaan elektrolit, kadar gula, profil
tidak spesifik dan biasanya ditemukan lipid, analisa gas darah, urinalisis,
pada tahap akhir penyakit. Pada stadium kemudian USG dan bila diperlukan biopsi
awal, stadium 1-3, LFG sebesar 60%, ginjal.5,6 Tatalaksana CKD dilakukan untuk
pasien masih belum mengalami gejala apa menghambat penurunan LFG, mencegah
apa atau tidak mengalami gangguan progresivitas, dan komplikasi. Edukasi
keseimbangan cairan, elektrolit, endokrin penting untuk pasien dan modifikasi gaya
dan metabolik yang tampak secara klinis hidup. Mengontrol tekanan darah dengan
(asimtomatik), tapi sudah terjadi ACE inhibitors, ARB, atau CCB. Restriksi
peningkatan kadar urea dan kreatinin asupan protein dengan diet tinggi kalori
serum. Gangguan yang tampak secara rendah protein (0,6-0,8 mg/KgBB/hari).
klinis biasanya baru terlihat pada CKD Batasi asupan cairan dan garam.
stadium 4 dan 5. Pada LFG sebesar 30%, Pemeriksaan HbA1C dengan target <6,5%
mulai terjadi keluhan badan lemah, mual, untuk mengontrol kadar gula darah. Untuk
nafsu makan kurang dan penurunan berat mengatasi komplikasi CKD dapat
badan. Sampai pada LFG di bawah 30%, diberikan EPO apabila anemia dengan
gejala dan tanda uremia yang nyata, kadar Hb 10 g/dL dan Ht 30%, dan
anemia, peningkatan tekanan darah, dapat diberikan transfusi apabila Hb <7
gangguan metabolisme fosfor dan kalsium, g/dL. Target Hb yang harus tercapai adalah
infeksi saluran kemih, saluran napas, 11-12 g/dL. Untuk mengatasi asidosis
saluran cerna, gangguan keseimbangan metabolik, koreksi bikarbonat dapat
elektrolit antara lain natrium dan kalium, diberikan.2
sehingga timbul asidosis dan sesak napas,
juga dapat timbul edema perifer. Pada LFG Laporan Kasus
dibawah 15% akan terjadi gejala dan Wanita berusia 71 tahun datang ke IGD
komplikasi yang lebih serius, dan pasien RSUD Koja dengan keluhan badan terasa
sudah memerlukan terapi pengganti ginjal lemas sejak 3 hari SMRS. Badan lemas
(renal replacement therapy) antara lain disertai dengan nyeri ulu hati, mual,
dialisis atau transplantasi ginjal.2 muntah, dan pusing kepala. Muntah
sebanyak 3 kali, volume setiap kali muntah
sebanyak 1/2 gelas aqua, berisi makanan

4
Laporan Kasus

yang sebelumnya dimakan, dan tidak ada dengan anemia dan penyakit jantung
darah. Nafsu makan pasien juga menurun. hipertensi dimana kadar ureum dan
Riwayat hipertensi sejak 10 tahun yang kreatinin yang meningkat, Hb rendah, dan
lalu, meminum obat Captopril hanya jika tekanan darah yang cukup tinggi.
ada keluhan kepala pusing. Pemeriksaan
fisik didapatkan keadaan umum tampak Pada perawatan hari ke-3 (perjalanan
sakit sedang, kesadaran compos mentis, penyakit hari ke-6), keluhan badan lemah,
tekanan darah 160/100 mmHg, nadi kepala pusing, mual dan nyeri ulu hati
95x/menit, suhu 36,7oC, frekuensi napas berkurang. Nafsu makan mulai meningkat.
23x/menit, LFG = 9.1 ml/menit/1,73m2. Timbul sakit di kedua pinggang terasa
Konjungtiva anemis, abdomen terdapat sampai ke kaki. Pada pemeriksaan fisik
nyeri tekan di epigastrium dan pitting yang didapatkan tekanan darah 140/90
oedem kedua tungkai. Pemeriksaan mmHg, konjungtiva anemis, bibir masih
laboratorium darah rutin Hb 6.9 g/dL, Ht sedikit pucat, nyeri tekan epigastrium,
21.9%, Leukosit 6.57 103/uL, Trombosit nyeri ketok CVA negatif, pitting oedem.
292 103/uL, GDS 136 mg/dL, Ureum 105 Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan
mg/dL, Creatinin 3.67 mg/dL, Na 140 kadar Hb 9.3 g/dL, Ht 27.7 %, Leukosit
mEq/L, K 4.96 mEq/L, Cl 110 mEq/L. 5.30 103/uL, Trombosit 240 103/uL. Balans
EKG kesan normal. Lalu pasien dirawat di cairan : input 1650 cc output 1500 cc =
ruang rawat inap RSUD Koja. Pada terapi, +100 cc. Hasil pemeriksaan ronsen thorax
pasien diberikan Infus NaCl 0,9% 500 cc AP tampak cardiomegali dengan
dalam 24 jam, injeksi Pantoprazol aortosclerosis. Terapi dilanjutkan dan
1x40mg, Aminefron 500mg 3x1 PO, ditambah transfusi PRC 1x250cc pre lasik
Furosemide 1x40mg PO pagi, Losartan dan tramadol+paracetamol tab 3x1 PO.
1x50mg PO. Untuk diet, diterapkan diet Adanya hasil ronsen thorax ini membuat
lambung dan diet tinggi kalori rendah diagnosis penyakit jantung hipertensi dapat
protein serta rendah lemak dan garam. ditegakkan, karena adanya cardiomegali
dengan aortosclerosis.
Pada perawatan hari ke-1 (perjalanan
penyakit hari ke-4), pada pasien ditemukan Pada hari perawatan ke-5 (perjalanan
masalah anemia, CKD, hipertensi, dan penyakit hari ke-8), keluhan badan lemas,
dispepsia. Pasien masih merasakan badan kepala pusing, mual, dan nyeri ulu hati
terasa lemas dan kepala pusing, mual, sudah tidak tampak. Nafsu makan OS
nyeri ulu hati, dan nafsu makan belum sudah meningkat. Sakit pinggang sudah
membaik. Pada pemeriksaan fisik berkurang. Pada pemeriksaan fisik
didapatkan kesadaran compos mentis, didapatkan tekanan darah 130/80 mmHg.
tampak sakit ringan, tekanan darah 150/90 Konjungtiva anemis, bibir pucat, dan nyeri
mmHg, konjungtiva anemis, bibir pucat, tekan epigastrium sudah tidak ada. Nyeri
nyeri tekan epigastrium, dan pitting ketok CVA negatif. Pitting oedem masih
oedem. Pada pemeriksaan urinalisis ada. Pada pemeriksaan laboratorium
ditemukan sel epitel +1. Terapi dilanjutkan didapatkan kadar Hb 11.5 g/dL, Ht 33.7 %,
dan diberikan transfusi PRC 2x250cc pre Leukosit 5.90 103/uL, Trombosit 244
lasik. Saat ini keadaan pasien sesuai CKD 103/uL. Balans cairan : input 1500 cc

5
Laporan Kasus

output 1100 cc = +400 cc. Hasil kita dapatkan kadar Hb 6.9 g/dL, Ureum
pemeriksaan USG didapatkan ginjal kanan 105 mg/dL, Creatinin 3.67 mg/dL. Pada
dan kiri tampak ukuran mulai mengecil, pemeriksaan radiologi USG didapatkan
permukaan tidak rata, korteks menipis, tanda CKD yaitu ukuran kedua ginjal
ekostruktur hiperekoik, batas korteks dan mengecil, juga pada ronsen thorax
medulla tidak jelas. System pelviokalises didapatkan cardiomegali dengan
tidak melebar, tidak terlihat batu/SOL. aortoslcerosis.
Pada ginjal kiri terlihat kista berukuran 1,5
cm. Kesan sesuai gambaran Chronic Manifestasi pada pasien ini sesuai dengan
Kidney Disease dan kista renal sinistra, kriteria CKD dimana nilai LFG = 9,1
membuat diagnosa pasti CKD. Karena ml/menit/1,73m2 yang termasuk derajat V
keluhan pusing kepala, mual, nyeri ulu dan terdapat tanda anemia dari
hati, nyeri tekan epigastrium negatif, serta pemeriksaan fisik dan laboratorium, serta
kadar Hb mengalami peningkatan dan diagnosa diperkuat dengan adanya
tercapai target Hb >10 g/dL, maka injeksi pemeriksaan radiologi USG tampak kedua
Pantoprazole dan transfusi PRC di stop. ginjal mulai mengecil dan ronsen thorax
dengan cardiomegali dan aortosclerosis.
Pada hari perawatan ke-7 (perjalanan
penyakit hari ke-10), pasien sudah tidak Pada terapi yang diberikan, pasien ini
ada keluhan sakit pinggang. Pada diberikan terapi suportif seperti asam
pemeriksaan fisik didapatkan tekanan amino essensial, transfusi darah pre lasik,
darah 120/70 mmHg, pitting oedem dan proton pump inhibitor, dan ARB. Pada
nyeri ketok CVA negatif. Pada CKD memang terapi suportif asam amino
pemeriksaan laboratorium kadar Ureum essensial yang dibutuhkan untuk
125.4 mg/dL dan Creatinin 4.38 mg/dL. menghambat progresivitas kerusakan,
Dari hasil ini, maka masalah CKD dengan pembatasan cairan, diuretik untuk
anemia dan penyakit jantung hipertensi mengurangi overload, dan terapi untuk
sementara teratasi dan pasien dipulangkan gejala lain yang muncul. Terapi terakhir
hari ke-8 perawatan. yang dibutuhkan pada CKD grade V
adalah hemodialisa.
Diskusi
Pada pasien ini dipikirkan CKD karena Simpulan
dari anamnesis kita dapatkan keluhan Pasien wanita berusia 71 tahun, dengan
badan terasa lemas sejak 3 hari yang diagnosa CKD, dinyatakan sementara
disertai mual, muntah, dan sakit kepala. membaik dan terkontrol setelah dirawat
Pada pemeriksaan fisik kita dapatkan inap di RSUD Koja, dengan terapi
tekanan darah 160/100 mmHg juga tanda simptomatik berupa asam amino essensial,
anemia berupa konjungtiva anemis. transfusi darah pre lasik, obat hipertensi
Sedangkan dari pemeriksaan laboratorium, golongan ARB, proton pump inhibitors
dalam 7 hari perawatan.

6
Laporan Kasus

Daftar pustaka

1. Davey P. At a glance medicine.


Jakarta : Erlangga; 2006.h.243.

2. Suwitra K. Penyakit Ginjal Kronik.


Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B,
Alwi I, Simadibrata MK, Setiati S.
Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.
Jilid II. Edisi ke-5. Jakarta: Interna
Publishing; 2009.h.1035-41.

3. Bargman JM, Skorecki K. Chronic


Kidney Disease. In: Kasper DL,
Fauci AS, Hauser SL, Longo DL,
Jameson JL, Loscalzo J. Harrisons
Principles of Internal Medicine.
19th Edition. New York: McGraw
Hill Education; 2015.p.1811-20

4. Murphree DD, Thelen SM. Chronic


kidney disease in primary care.
JABM. 2010;23(4): 542-50.

5. Kowalak, Welsh, Mayer, editor.


Buku ajar patofisiologi. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC;
2014.h.562-3.

6. Watnick S, Dirkx T. Chronic


kidney disease. In: Papadakis MA,
McPhee SJ, Rabow MW. Current
Medical Diagnosis & Treatment
2015. 54th Edition. New York:
McGraw Hill Education; 2015:
900-8.