Anda di halaman 1dari 22
  • I. Karateristik dan Demografi Keluarga

    • A. Identitas Kepala Keluarga dan Pasangannya

      • 1. Kepala Keluarga

a.

Nama

: Wahyono

b.

Usia

: 47 tahun

c.

Jenis kelamin

: Laki-laki

d.

Agama

: Islam

e.

Pekerjaan

: Wiraswasta

f.

Pendidikan

: S-1

g.

Alamat lengkap

: RT 005 RW 001 Kecamatan Kedungbanteng Kabupaten Banyumas

h.

Bentuk keluarga

: Nuclear family / Keluarga Inti

  • 2. Pasangan KK

a.

Nama

: Siti Tolingah

b.

Usia

: 37 tahun

c.

Jenis kelamin

: Perempuan

d.

Agama

: Islam

e.

Pendidikan

: SD

  • B. Daftar Anggota Keluarga Tabel 1.1. Daftar Anggota Keluarga yang Tinggal Satu Rumah

Nama

L/P

Usia

Kedudukan

Pekerjaan

Pendidikan

Ket.

Wahyono

L

47 tahun

KK

Wiraswasta

S-1

-

Siti Tolingah

P

37 tahun

istri

Wiraswasta

SD

-

 

Anak

Afni Muzayanah

P

12 tahun

kandung

Pelajar

TK

-

II.

Status Penderita

  • A. Identitas Penderita

    • 1. : Wahyono

Nama

  • 2. : 47 tahun

Usia

  • 3. : Laki-laki

Jenis Kelamin

  • 4. : Menikah

Status

5.

Agama

: Islam

  • 6. Suku Bangsa

: Jawa

  • 7. Kewarganegaraan

: Indonesia

  • 8. Pekerjaan

: Wiraswasta

  • 9. Pendidikan

: S-1

  • 10. Penghasilan/bulan : Rp 500.000 Rp 1.000.000

  • 11. : RT 005 RW 001 Kec. Kedungbanteng Kab. Banyumas. Prop. Jawa Tengah

Alamat

B.

Anamnesis

 
  • 1. Keluhan Utama

 

Sering vertigo

  • 2. Riwayat Penyakit Sekarang

Lokasi

  • a. :

-

  • b. : keluhan dirasakan sejak tahun 2011

Onset

  • c. : badan seperti berputar-putar, hilang keseimbangan
    d. -

Kualitas

Kuantitas

:

  • e. : Aktivitas fisik, minum kopi, merokok

Faktor Pemberat

  • f. Faktor Peringan

: Istirahat

  • g. Keluhan Penyerta

: mudah lelah, badan terasa pegal, susah tidur di

malam hari

  • 3. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien telah merasakan keluhan sejak tahun 2011, namun telah kontrol dan berobat secara rutin di puskesmas. Pasien mengaku belum pernah mengalami keluhan yang lain sebelumnya. Diabetes mellitus disangkal.

  • 4. Riwayat Penyakit Keluarga Pasien memiliki riwayat keluarga dengan sindroma metabolik. Kakek pasien meninggal karena komplikasi dari diabetes mellitus. Ayah pasien diketahui meninggal karena stroke dan memiliki riwayat hipertensi. Ibu pasien juga memiliki hipertensi. Saudara perempuan kandung pasien memiliki riwayat hipertensi, diabetes mellitus, dan penyakit jantung.

  • 5. Riwayat Sosial Ekonomi dan Exposure

Bapak Wahyono merupakan seorang wiraswasta yang bekerja sebagai tukang cukur di rumahnya. Sedangkan Ibu Siti Tolingah berjualan makanan dan minuman ringan di depan rumahnya. Keduanya memiliki penghasilan yang tidak tetap. Bapak Wahyono dan Ibu Siti Tolingah memiliki seorang anak perempuan bernama Afni Muzayanah yang masih berusia 12 tahun dan duduk di kelas 6 SD. Bapak Wahyono tinggal di sebuah rumah berukuran kurang lebih 8x4 meter bersama Ibu Siti Tolingah dan anaknya. Rumah beliau sudah berdinding sempurna dengan ventilasi dan pencahayaan yang cukup. Tempat Bapak Wahyono bekerja, tempat jualan makanan dan minuman ringan, dan ruang tamu berada di ruang yang sama dan tanpa penyekat. Bapak Wahyono mengaku memiliki kebiasaan merokok dan minum kopi sebelumnya, namun setelah didiagnosis hipertensi beliau mulai mengurangi kebiasaan merokok menjadi ½ bungkus perhari dan berhenti mengkonsumsi kopi. Beliau juga masih sering mengkonsumsi gorengan. Bapak Wahyono masih rutin beraktivitas fisik dengan berjalan kaki di pagi hari. Bapak Wahyono mengaku sering terbebani pikirannya karena kondisi ekonomi dan masalah-masalah dalam keluarga.

  • C. Pemeriksaan Fisik

    • 1. Keadaan Umum dan Kesadaran Compos mentis

    • 2. Tanda Vital

      • a. : 90x/menit

Denyut nadi

  • b. Respiratory Rate

: 17x/menit

Tekanan darah

  • c. : 130/100

  • d. : 37 o C

Suhu tubuh

  • 3. Pemeriksaan Kepala Bentuk mesocephal

  • 4. Pemeriksaan Mata

  • 5. Pemeriksaan Hidung

: conjunctiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)

: dalam batas normal (dbn)

  • 6. Pemeriksaan Gigi dan mulut: dbn, faring tidak hiperemis, T1/T1

  • 7. Pemeriksaan Tenggorok

: dbn

  • 8. Pemeriksaan Telinga

: dbn

9.

Pemeriksaan Leher

: dbn, pembesaran KGB (-)

  • 10. Pemeriksaan Thoraks

  • a. Paru

1)

2)

3)

4)

Inspeksi

Palpasi

Perkusi

Auskultasi

  • b. Jantung

: simetris, gerak napas simetris

: vokal fremitus kanan sama dengan kiri

: sonor pada seluruh lapang paru

: vesikuler pada seluruh lapang paru, ronki -/-,

wheezing -/-

1)

2)

Inspeksi

Palpasi

: ictus cordis tidak tampak

: teraba ictus cordis di SIC V linea midclavicula

sinistra

3)

Perkusi batas jantung

a)

Kanan atas

: SIC II linea parasternal dekstra

b)

Kanan bawah

: SIC IV linea parasternal dekstra

c)

Kiri atas

: SIC II linea parasternal sinistra

d)

Kiri bawah

: SIC V linea parasternal sinistra

4)

Auskultasi

: S1-S2 reguler, gallop (-), murmur (-)

  • 11. Pemeriksaan Abdomen

  • a. : bentuk cembung dalam batas normal

Inspeksi

  • b. : bising usus dalam batas normal

Auskultasi

  • c. : timpani pada abdomen

Perkusi

  • d. Palpasi

  • 12. Pemeriksaan Genitalia

  • 13. Pemeriksaan Anorektal

  • 14. Pemeriksaan Ekstremitas

: nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba

: tidak dilakukan pemeriksaan

: tidak dilakukan pemeriksaan

Dalam batas normal, sianosis (-), akral dingin (-)
15. -

Status Lokalis

:

  • 16. Status Neurologis

:

-

  • D. Hasil Pemeriksaan Laboratorium Penunjang Tidak ada hasil pemeriksaan laboratorium

III.

Identifikasi Fungsi-Fungsi Keluarga

  • A. Fungsi Fisiologis Rata-rata APGAR Score anggota keluarga : 5,5 Keluarga Bapak Wahyono termasuk ke dalam keluarga yang kurang sehat secara fungsi fisiologis.

  • B. Fungsi Genetik Genogram keluarga Bapak Wahyono dapat digambarkan sebagai berikut :

III. Identifikasi Fungsi-Fungsi Keluarga A. Fungsi Fisiologis Rata-rata APGAR Score anggota keluarga : 5,5 Keluarga Bapak

Gambar 1. Genogram Keluarga Pasien

Keterangan gambar :

: Laki-laki

: Laki-laki

: Perempuan

: Perempuan

: Meninggal dunia

: Meninggal dunia

b

: tanggal lahir

  • D : tanggal meninggal

IV.

Identifikasi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesehatan

  • A. Identifikasi Perilaku

    • 1. Pengetahuan Pengetahuan pasien mengenai hipertensi sudah dirasa cukup baik. Beliau mengetahui apa saja yang menjadi faktor resiko hipertensi. Pentingnya kontrol dan minum obat secara rutin bagi pasien hipertensi.

    • 2. Sikap Sikap pasien dianggap cukup baik karena beliau masih bersedia untuk kontrol dan berobat secara rutin dan mengikuti program prolanis hipertensi yang ada di Puskesmas.

    • 3. Tindakan dan kebiasaan Pasien memiliki kebiasaan merokok dan minum kopi sebelumnya, namun setelah didiagnosis hipertensi beliau mulai mengurangi kebiasaan merokok menjadi ½ bungkus perhari dan berhenti mengkonsumsi kopi. Pasien masih sering mengkonsumsi gorengan. Pasien masih rutin beraktivitas fisik dengan berjalan kaki di pagi hari.

  • B. Identifikasi Non-perilaku

    • 1. Lingkungan rumah keluarga

      • a. Letak rumah

  • : di daerah pedesaan

    • b. Bentuk bangunan

    : permanen

    • c. Kepemilikan rumah

    : milik sendiri

    • d. : 8x4 m 2

    Luas rumah

    • e. Lantai rumah

    : semen

    • f. Dinding rumah

    : bata dan semen

    • g. : genting

    Atap rumah

    • h. : ada, pencahayaan cukup

    Jendela rumah

    • i. Listrik di rumah

    : ada

    • j. Lubang ventilasi

    : ada, kelembaban cukup

    • k. Kebersihan dalam rumah

    : cukup baik

    • l. Sumber air minum

    : sumur

    • m. Kamar mandi

    1)

    Jumlah

    :

    1

    2)

    Sumber air

    : sumur

    • n. Tempat sampah diluar rumah

    : tidak ada

    • o. Jalan di depan rumah

    : pasir dan batu

    • p. Kandang binatang

    :

    -

    4 m 2 8 m 2
    4 m 2
    8 m 2

    Gambar 2. Denah Rumah Pasien

    • 2. Keturunan Pasien memiliki riwayat keluarga dengan sindroma metabolik. Kakek pasien meninggal karena komplikasi dari diabetes mellitus. Ayah pasien diketahui meninggal karena stroke dan memiliki riwayat hipertensi. Ibu pasien juga memiliki hipertensi. Saudara perempuan kandung pasien memiliki riwayat hipertensi, diabetes mellitus, dan penyakit jantung.

    • 3. Pelayanan kesehatan Jarak rumah pasien dengan pusat pelayanan kesehatan ±2 km

    • V. Diagnosis Holistik dan Penanganan Komprehensif

      • A. Diagnosis Holistik

    • 1. Aspek Personal

    Keluhan utama

    : Sering vertigo

    Keluhan penyerta

    : mudah lelah, badan terasa pegal, susah

    Consern

    tidur di malam hari : keluhan mengurangi produktivitas pasien

    Anxiety

    : pasien khawatir penyakitnya semakin

    bertambah buruk dan timbul komplikasi Expectation : pasien barharap keluhan karena hipertensi yang dimiliki tidak sering kambuh dan tekanan darah pasien terus terkontrol

    • 2. Aspek Klinis

    Diagnosis Kerja

    : Pre-hipertensi

    Diagnosis Banding

    :

    -

    • 3. Aspek Faktor Resiko Internal

      • a. Jenis kelamin laki-laki

      • b. Usia 47 tahun

      • c. Riwayat penyakit kedua orang tua pasien yang memiliki hipertensi

      • d. Kebiasaan pasien : merokok, makan gorengan, minum kopi,

  • 4. Aspek Faktor Resiko Eksternal

    • a. APGAR Score keluarga pasien termasuk ke dalam keluarga yang kurang sehat secara fungsi fisiologis

  • 5. Aspek Skala Fungsi

  • Tabel 1.2. Skala Fungsi

    Skala

    Aktivitas Menjalankan Fungsi

    Ketergantungan Terhadap

    Fungsi

    Orang Lain

    • 1 pekerjaan

    Melakukan

    seperti

    Perawatan diri, kerja di dalam/luar

     

    sebelum sakit

    rumah dengan mandiri

    • 2 ringan sehari-hari di

    Pekerjaan

    Mulai mengurangi aktivitas kerja

    dalam/luar rumah

    • 3 Perawatan diri, pekerjaan ringan Perawatan diri masih bisa dilakukan, kerja ringan

    • 4 Perawatan diri pada keadaan tertentu, duduk dan berbaring

    • 5 Perawatan diri dilakukan orang lain, berbaring pasif

    Tidak melakukan aktivitas kerja, tergantung keluarga

    Tergantung perilaku rawat

    Skala fungsi sosial : 1 karena pasien masih mampu melakukan aktivitas seperti biasa baik dalam maupun luar rumah

    • B. Penanganan Komprehensif

    1.

    Aspek Personal:

     

    a.

    Initial Plan

     

    1)

    Pemeriksaan GDS, GDP, GD2PP, fruktosamin, dan HbA1c

    2)

    untuk melihat kontrol gula darah harian, mingguan, dan bulanan. Pemeriksaan profil lipid seperti kolesterol, LDL, HDL,

    3)

    trigliserid. Foto thorax dan EKG.

     

    b.

    Pengobatan (Medikamentosa)

    renin rendah, seperti pada usia lanjut. Antagonis kalsium sering

     

    Calcium Channel Blocker (Amlodipin, Nifedipin) Antagonis kalsium menghambat influks kalsium pada sel otot vaskular dan miokardium. Antagonis kalsium juga dapat bekerja langsung di pembuluh darah, dapat menimbulkan relaksasi arteriol, serta dapat menunkan resisrensi perifer. Penurunan resistensi perifer ini sering diikuti oleh reflek takikardia dan vasokontriksi (nifedipin). Sebagai monoterapi, antagonis kalsium terbukti efektif pada hipertensi dengan kadar

    dikombinasi bersama ACE-inhibitor, metildopa, atau beta- bloker (Gunawan et al., 2009).

     

    c.

    Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE)

    1)

    Beri keterangan yang jelas tentang jenis obat, cara pemakaian,

    2)

    dan frekuensi pemakaiannya. Konsumsi obat secara teratur dan disiplin.

    3)

    Mengatur pola diet rendah garam, rendah karbohidrat, dan rendah lemak, serta cukup protein. Panduan diet untuk pasien hipertensi disesuaikan dengan kebutuhan kalori pasien menggunakan rumus Brocca. Tn. Wahyono memiliki BB 70 kg, dan TB 166cm, tentukan berat badan ideal (BBI). Kemudian hitung kalori totalnya, ditambahkan dengan faktor aktifitas yang sedang dan usia. Rumus Brocca Berat Badan Ideal (BBI) = (TB - 100) kg

    BBI x 25 kkal = Kebutuhan kalori per hari

    BBI

    = (166 100) kg

    = 66 kg

    Kebutuhan kalori per hari = 66 x 25 kkal = 1650 kkal Fx. Aktifitas sedang + 20% = 1650 + 330 = 1980 kkal Fx. Usia 10% = 1980 - 198 = 1782 kkal Kebutuhan asupan makanan juga harus diatur komposisinya. Panduan komposisi pembagian makanan pada Permenkes No. 5 tahun 2014 adalah sebagai berikut:

    Karbohidrat 45-65 %, Lemak 20-25 %, dan Protein 15-20 % Panduan diet untuk hipertensi pada Tn. Wahyono adalah diet DASH, yaitu diet yang memperbanyak konsumsi buah- buahan, sayur, susu bebas atau rendah lemak; konsumsi biji- bijian, kacang-kacangan, ikan, minyak sayur; serta membatasi konsumsi pemanis, garam, dan daging merah (NIH, 2014). Berikut merupakan contoh komposisi diet DASH untuk penderita hipertensi:

    BBI x 25 kkal = Kebutuhan kalori per hari BBI = (166 – 100) kg =

    Gambar 3. Contoh komposisi diet DASH (NIH, 2014)

    Maksimal konsumsi sodium adalah sekitar 100 mmol per hari (2-4 gram sodium atau 6 gram sodium klorida). Diet rendah sodium ini dimaksudkan juga untuk mengurangi makanan yang asin, seperti ikan asin, dan makanan asin lainnya. Diet rendah sodium berkontribusi dalam penurunan tekanan darah sekitar 2- 8 mmHg (U.S. Department of Health and Human Services.

    4)

    2010). Mudahnya, tidak lebih dari setengah sendok teh perhari (Kemenkes RI, 2011). Menyarankan aktifitas fisik semampunya seperti berjalan kaki

    5)

    selama 3-4 kali dalam seminggu dengan durasi 30 menit. Menjaga higenitas.

    6)

    Edukasi tentang penyakit familial.

    7)

    Kontrol ke fasilitas pelayanan kesehatan secara rutin.

    • d. Monitoring dan Evaluasi

    1)

    Pemeriksaan tekanan darah dan gula darah rutin.

    2)

    Kontrol dan mengambil obat setiap bulan.

    3)

    Monitoring BB, terkait jumlah kalori yang dibutuhkan oleh Tn. Wahyono

    • 2. Family Care/ Family Focus Meningkatkan penerapan 5 fungsi dasar keluarga, yaitu (Goh et al., 2004):

      • a. Support Meminta istri dan keluarga Bapak Wahyono untuk memberi semangat dan nasihat kepada Bapak Wahyono dalam segala hal. Termasuk dalam menjaga kesehatan, perilaku atau kebiasaan makannya. Tidak membiarkan Bapak Wahyono mengkonsumsi makanan-makanan yang tidak seharusnya, seperti makanan tinggi garam, makan nasi dengan porsi yang banyak, makanan berlemak, juga ingatkan Bapak Wahyono untuk rutin berolahraga.

      • b. Autonomy and Independence Menghimbau Bapak Wahyono dan anggota keluarganya yang lain untuk saling menghargai kebebasan sebagai individu dan tidak saling memaksakan kehendak. Sehingga Bapak Wahyono tetap terjaga secara emosional yang membantu proses pengobatan dan kualitas hidupnya.

      • c. Rules Bapak Wahyono dan semua anggota keluarga harus menaati dan menghormati aturan yang telah disepakati bersama.

      • d. Adapt Menyesuaikan diri dengan keadaan dan kondisi yang ada. Disarankan agar mengurangi stressor-stressor yang dapat mempengaruhi

    kesehatan Bapak Wahyono seperti meningkatkan kualitas hubungan keluarga. Bapak wahyono juga dapat berbagai keluh kesahnya kepada keluarga agar tidak menjadi beban pikiran sendiri. e. Communicate

    Meningkatkan komunikasi yang baik antar anggota keluarga. Terutama keluarga yang tinggal serumah, dalam hal ini adalah istri dan anak. Bapak Wahyono juga supaya mengingatkan anak-anaknya supaya melakukan skrining dan perbaikan life style untuk deteksi dini penyakit familial.

    • 3. Local Community Care/ Focus

    I.

    Penyuluhan seputar penyakit hipertensi seperti penyebab, faktor

    II.

    resiko, pengobatan, dan juga komplikasi di lingkungan sekitar Bapak Wahyono. Memprakarsai adanya kegiatan olahraga rutin.

    III.

    Edukasi masyarakat untuk mengubah pola hidangan pada hajatan dan kegiatan-kegiatan sosial dengan makanan yang lebih sehat dan bergizi.

    VI.

    Tinjauan Pustaka

    • A. Hipertensi Essensial/ Primer

      • 1. Definisi Definisi Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan cukup istirahat/tenang. Peningkatan tekanan darah yang berlangsung dalam jangka waktu lama (persisten) dapat menimbulkan kerusakan pada ginjal (gagal ginjal), jantung (penyakit jantung koroner) dan otak (menyebabkan stroke) bila tidak dideteksi secara dini dan mendapat pengobatan yang memadai. Banyak pasien hipertensi dengan tekanan darah tidak terkontrol dan jumlahnya terus meningkat. Oleh karena itu, partisipasi semua pihak, baik dokter dari berbagai bidang peminatan hipertensi, pemerintah, swasta maupun masyarakat diperlukan agar hipertensi dapat dikendalikan (Depkes, 2014).

    2.

    Etiologi Hal berikut ini menggambarkan kemungkinan-kemungkinan

    penyebab hipertensi primer (Susalit, 2005) :

    • a. Garam berlebih.

    • b. Kelainan membran plasma, misalnya gangguan pompa Na - K.

    • c. Tekanan fisik pada pusat kontrol kardiovaskuler oleh suatu arteri di atasnya.

    • d. Zat mirip-digitalis endogen.

    Hampir setengah abad yang lalu, Irvin H. Page yang terkenal dengan teori mosaic of hypertension menguraikan bahwa, hipertensi merupakan

    penyakit pengaturan tekanan yang diakibatakan oleh multifaktorial (Majid,

    2005).

    • 3. Faktor Risiko Kemajuan dalam penelitian mengenai hipertensi ternyata masih banyak lagi faktor yang berperan dalam mekanisme pengaturan tekanan darah yang belum termasuk dalam teori mosaic. Multifaktorial yang dihubungkan dengan patogenesis hipertensi primer yang terutama terdiri dari 3 elemen penting yaitu :

      • a. Faktor genetik.

      • b. Rangsangan lingkungan.

      • c. Adaptasi struktural yang membuat pembuluh darah dan jantung membutuhkan tekanan yang lebih tinggi dari fungsi normalnya. Ketiga elemen ini saling terkait dimana pengaruh lingkungan yang berlebihan dibutuhkan untuk mencetuskan predisposisi genetik sedangkan perubahan struktural kadang-kadang dipercepat oleh faktor genetik (Majid, 2005). Pada fase awal, interaksi antara predisposisi genetik dan pengaruh

    lingkungan menyebabkan terjadi peningkatan cardiac output (CO) melebihi resistensi perifer.

    Beberapa yang menjadi faktor resiko hipertensi adalah :

    1)

    Gangguan keseimbangan garam

    2) Obesitas

    3) Stress

    4) Lain-lain

    Faktor- faktor lain yang diduga berperan dalam hipertensi primer yaitu rasio asupan garam, kalium, inaktivitas fisik, umur, jenis kelamin, life style (merokok dan alkohol) dan ras (Majid, 2005).

    • 4. Klasifikasi hipertensi Hipertensi merupakan pengukuran tekanan darah di atas skala normal (120/80 mmHg). Menurut JNC 7, tekanan darah dibagi dalam tiga klasifikasi yakni normal, pre-hipertensi, hipertensi stage 1, dan hipertensi stage 2. Klasifikasi ini berdasarkan pada nilai ratarata dari dua atau lebih pengukuran tekanan darah yang baik, yang pemeriksaannya dilakukan pada posisi duduk dalam setiap kunjungan berobat.

    Faktor- faktor lain yang diduga berperan dalam hipertensi primer yaitu rasio asupan garam, kalium, inaktivitas fisik,

    Gambar 4. Klasifikasi hipertensi menurut JNC 7 (National institute of health,

    Keterangan:

    2004)

    TDS, Tekanan Darah Sistolik; TDD, Tekanan Darah Diastolik Kepanjangan Obat: ACEi, Angiotensin Converting Enzim Inhibitor; ARB, Angiotensin Reseptor Bloker; BB, Beta Bloker; CCB, Calcium Chanel Bloker

    5.

    Pengobatan berdasarkan pada kategori hipertensi † Penggunaan obat kombinasi sebagai terapi awal harus digunakan secara hati-hati oleh karena hipotensi ortostatik. Penanganan pasien hipertensi dengan gagal ginjal atau diabetes harus mencapai nilai target tekanan darah sebesar <130 mmHg. Pasien dengan pre-hipertensi memiliki resiko dua kali lipat untuk berkembang menjadi hipertensi. Dimana berdasarkan dari tabel tersebut, diakui perlu adanya peningkatan edukasi pada tenaga kesehatan dan masyarakat mengenai modifikasi gaya hidup dalam rangka menurunkan dan mencegah perkembangan tekanan darah ke arah hipertensi. Modifikasi gaya hidup merupakan salah satu strategi dalam pencapaian tekanan darah target, mengingat hipertensi merupakan salah satu penyakit degeneratif yang disebabkan oleh perilaku gaya hidup yang salah. Patomekanisme Tekanan darah dipengaruhi oleh cardiac output dan resistensi perifer. Cardiac output sendiri dipengaruhi oleh stroke volume dan heart rate. Stroke volume dipegaruhi kontraktibilitas miokardium dan ukuran kompartemen pembuluh darah. Heart rate dipengaruhi oleh aktivitas saraf otonom simpatis-parasimpatis. Sedangkan resistensi perifer dipengaruhi oleh struktur anatomi pembuluh darah yang meliputi panjang, diameter, dan ada tidaknya kerusakan pembuluh darah, juga fungsional vaskuler, serta viskositas darah itu sendiri (Guyton, 2007). Mekanisme pengaturan tekanan darah dibagi menjadi 2 yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Kontrol intrinsik yaitu disesuaikan dengan kebutuhan tubuh, seperti kebutukan akan metabolisme. Kontrol ekstrinsik yaitu pengaturan tekanan darah melalui aktifasi saraf simpatis dan parasimpatis (Guyton, 2007). Selain itu, peran penting dari sistem renin-angiotensin-aldosteron (RAA). Sistem ini bekerja di ginjal, yaitu pengaturan aktivasi renin. Secara fisiologis, saat tekanan darah menurun, maka renin teraktivasi. Renin tersebut akan mengubah angiotensinogen menjadi angiotensin I yang merupakan vasokonstriktor lemah. Selanjutnya Angiotensin I dikonversi menjadi Angiotensin II yang merupakan vasokonstriktor kuat oleh Angiotensin Converting Enzym (ACE). Sehingga meningkatkan

    vasokonstriksi pembuluh darah, meningkatkan tahanan perifer, dan akan meningkatkan tekanan darah. Begitu pula sebaliknya, saat tekanan darah tinggi, maka renin akan dihambat (Guyton, 2007). Selain itu, Angiotensin II juga merangsang aldosteron dan ADH

    untuk meningkatkan intake air dan retensi air dan garam, sifat Na + yang menarik cairan intrasel ke ekstrasel sehingga viskositas darah naik, tahanan perifer selanjutnya akan naik juga, dan hasilnya tekanan darah menjadi naik (Guyton, 2007). Gangguan mekanisme di atas, dan juga akibat life style yang mendukung akan menyebabakan hipertensi.

    • 6. Penegakan Diagnosis

      • a. Anamnesis (Corwin, 2007; Panggabean, 2009; Gray, 2005)

    1)

    Sakit kepala ketika terjaga, leher terasa tegang kadang disertai

    2)

    mual dan muntah karena peningkatan tekanan intrakranial. Penglihatan kabur karena kerusakan hipertensif pada retina.

    3)

    Cara berjalan tidak mantap karena kerusakan susunan saraf

    4)

    pusat. Nokturia karena penimgkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerulus.

    5)

    Edema dependen (bengkak pada kaki atau perut) karena peningkatan tekanan kapiler.

    6) Berdebar-debar.

    7)

    Rasa melayang (dizziness).

    8) Impotensi.

    9)

    Mudah lelah, sesak nafas dan sakit dada.

    10)

    Epistaksis, hematuria, dan transient cerebral ischemia.

    11)

    Ditanya lama penyakit (biasanya sudah lama).

    12)

    Gaya hidup dan faktor risiko, sering makan makanan yang

    13)

    mengandung natrium (garam) dan kebiasaan merokok. Ditanya apakah pasien sebelumnya mengkonsumsi obat-obatan

    tertentu, karena mungkin tekanan darah yang tinggi yang terjadi merupakan efek samping dari suatu obat.

    • b. Pemeriksaan fisik Hal-hal yang perlu diperiksa adalah (Panggabean, 2009; Gray, 2005):

    1) Keadaan umum, tinggi badan dan berat badan.

    2)

    Tekanan darah diukur minimal dua kali dalam satu waktu pengukuran kemudian diambil rata-ratanya. Positif hipertensi apabila didapatkan minimal dua kali hasil positif hipertensi pada tiga kali pengukuran pada waktu yang berbeda dalam

    waktu dua sampai empat minggu. Pada pasien usia muda, perlu diukur tekanan darah pada daerah betis. 3) Pemeriksaan funduskopi dengan klasifikasi Keith-Wagener- Barker untuk menilai prognosis.

    4)

    Pemeriksaan leher yaitu palpasi dan auskultasi arteri karotis untuk melihat adanya stenosis atau oklusi.

    5)

    Pemeriksaan ekstremitas (a. radialis, a. femoralis, a. dorsalis

    6)

    pedis). Pemeriksaan paru untuk memeriksa adanya bunyi ronki atau tidak

    • c. Pemeriksaan jantung

    1)

    Mencari ada tidaknya kardiomegali, menilai HVK dan gagal

    2)

    jantung. Auskultasi jantung, dapat ditemukan:

    • a) Bunyi S2 yang meningkat karena kerasnya penutupan katup aorta.

    • b) Bunyi S3 karena tekanan akhir diastolik ventrikel kiri yang meningkat akibat dilatasi.

    • c) Bunyi S4 atau gallop atrial atau presistolik karena peningkatan tekanan atrium kiri.

    • d) Murmur diastolik karena regurgitasi aorta.

    • e) Apabila didapatkan bunyi S3 dan S4 dinamakan summation gallop

    • d. Pemeriksaan abdomen

    1)

    Mencari adanya aneurisma, pembesaran hati, limpa, ginjal dan asites.

    2)

    Auskultasi dapat ditemukan bising sekitar kiri dan kanan umbilicus. Hal ini menandakan adanya renal artery stenosis

    • e. Pemeriksaan penunjang (Panggabean, 2009; Gray, 2005) 1) Pemeriksann laboratorium

     

    a)

    Urinalisa: protein, dan lain-lain untuk mengetahui adanya penyakit ginjal.

    b)

    Darah: hemoglobin, hematokrit, platelet, fibrinogen, GDS.

    c)

    Biokimia: potassium, sodium, kreatinin, profil lipid (untuk melihat risiko penyakit kardiovaskular mendatang).

     

    2)

    Pemeriksaan tambahan

     

    a)

    Foto toraks dada.

    b)

    EKG 12 lead, menilai ada tidaknya hipertrofi ventrikel

     

    kiri.

     

    c)

    Mikroalbuminuria.

    d)

    Ekokardiografi.

    7.

    Penatalaksanaan

    a.

    Nonmedikamentosa

     

    1)

    Modifikasi Gaya Hidup Berikut ini merupakan gaya hidup yang harus dilakukan menurut JNC 7 dalam National Institute of Health (2004):

     

    a)

    DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) DASH merupakan suatu program diet atau pengaturan makan yang diatur untuk mencegah tekanan darah tinggi. Rencana makan dari DASH ini adalah diet tinggi buah-buahan, sayur-sayuran, susu rendak lemah dan produk olahannya, serta diet rendah kolesterol, lemak jenuh, dan lemak total. DASH diestimasi dapat menurunkan tekanan darah 8-14 mmHg.

    b)

    Menjaga berat badan.

    c)

    Diet rendah sodium.

    d)

    Aktivitas fisik.

    e)

    Kurangi konsumsi alkohol dan berhenti merokok.

     

    2)

    Follow-up dan Monitoring Apabila terapi sudah dimulai, monitoring terhadap pasien harus tetap berjalan, minimal sebulan sekali pasien datang lagi ke dokter, sampai tekanan darah menurun dan stabil. Pasien

    dengan hipertensi stage 2 harus lebih sering datang daripada pasien hipertensi biasa (JNC 7 dalam National Institute of Health, 2004). Kadar potassium dan kreatinin serum juga harus dicek,

    kurang lebih 1-2 kali pertahun. Jika tekanan darah sudah menurun sampai tujuan dan stabil, pasien tetap datang ke dokter secara berkala minimal 3-6 bulan sekali. Faktor risiko penyakit kardiovaskular dan ginjal harus tetap dicek dan dicegah kejadiannya. Namun apabila pasien hipertensi sudah memiliki penyakit kardiovaskular atau diabetes harus selalu dikontrol (JNC 7 dalam National Institute of Health, 2004).

    b.

    Medika mentosa

     

    1)

    Diuretik Obat diuretik yang dapat digunakan antara lain (Gunawan et al.,

     

    2009):

    a)

    Golongan Tiazid Contoh obat golongan tiazid adalah hidroklorotiazid.

    b)

    Diuretik Kuat Contoh diuretik kuat adalah furosemid, torsemid, bumetanid, asam etakrinat.

    c)

    Diuretik Hemat Kalium Diuretik hemat kalium bekerja dengan cara menghambat reabsorpsi sodium dan sekresi kalium dengan jalan antagonis kompetitif atau secara langsung di tubulus distal. Amilorid, triamteren, dan spironolakton merupakan diuretik lemah. Penggunaannya terutama dalam kombinasi dengan diuretik lain untuk mencegah hipokalemia ..

     

    2)

    Penghambat Sistem Adrenergik

     

    a)

    β-bloker Contoh obat β-bloker adalah atenolol, metoprolol, karvedilol, labetolol (Gunawan et al., 2009).

    • b) α-bloker Contoh α-bloker adalah prazosin, terazosin, bunazosin, doksasozin (Gunawan et al., 2009).

    3)

    Centrally Acting Sympathoplegic Drugs

    Obat jenis ini bekerja dengan menurunkan sinyal simpatis pada pusat vasomotor di otak, lalu menahan kerja dari baroreseptor, contoh obatnya yaitu (Gunawan et al., 2009):

    • a) Methyldopa

    • b) Clonidine

    4)

    Vasodilator

    5)

    Mekanisme kerja obat ini secara umum bekerja langsung pada pembuluh darah, meberikan efek relaksasi pada otot polos pembuluh darah, menurunkan resistensi vascular. Contoh vasodilator adalah hidralazin, minoksidil, diazoksid, dan natrium nitroprusid (Gunawan et al., 2009). Renin-Angiotensin-Aldosteron Inhibitor

    • a) Angiotensin Converting Enzyme (ACE) inhibitor Contoh ACE-inhibitor antara lain adalah kaptopril, enalapril, lisinopril, imidapril (Gunawan et a.l, 2009).

    • b) Angiotensin Receptor Blocker (ARB) Ada dua tipe reseptor angiotensin II, yaitu AT1 dan AT2. AT1 terdapat di otot polos jantung, pembuluh darah, ginjal, otak, dan kelenjar adrenal. Reseptor AT1 jika berikatan dengan angiotensin II dapat memicu sekresi aldosteron dan memicu vasokontriksi. Sedangkan kerja reseptor AT2 mekanismenya belum jelas (Gunawan et al., 2009). ARB dapat menghambat vasokontriksi, sekresi aldosteron, aktivitas saraf simpatis, efek sentral Angiotensin II, serta menghambat stimulasi jantung. Contoh ARB adalah losartan, valsartan, irbesartan, telmisartan (Gunawan et al., 2009). Efek samping dari ARB antara lain adalah hipotensi, hipovolemia, gagal jantung, hipertensi

    renovaskular, hiperkalemia, serta bersifat fetotoksik. Oleh karena itu, ARB dikontraindikasikan bagi ibu hamil dan ibu menyusui (Gunawan et al., 2009). 6) Antagonis Kalsium (Nifedipin, dihidropirin, diltiazem, verapamil) Antagonis kalsium menghambat influks kalsium pada sel otot vaskular dan miokardium. Antagonis kalsium juga dapat bekerja langsung di pembuluh darah, dapat menimbulkan relaksasi arteriol, serta dapat menunkan resisrensi perifer. Penurunan resistensi perifer ini sering diikuti oleh reflek takikardia dan vasokontriksi (nifedipin) (Gunawan et al., 2009). Sebagai monoterapi, antagonis kalsium terbukti efektif pada hipertensi dengan kadar renin rendah, seperti pada usia lanjut. Antagonis kalsium sering dikombinasi bersama ACE- inhibitor, metildopa, atau beta-bloker (Gunawan et al., 2009).

    8.

    Komplikasi Penyakit jantung koroner sering terjadi pada pasien hipertensi, bersama dengan hipertrofi ventrikel kiri. Risiko penyakit jantung (kematian, infark miokard, gagal jantung, aritmia) akan berkurang jika tekanan diturunkan. Jika tekanan diastolik turun hingga < 80 mmHg, risiko akan meningkat lagi yang disebut kurva berbentuk J. Peningkatan gejala penyakit jantung pada tekanan diastolik yang rendah disebabkan rendahnya tekanan perfusi koroner, yang dengan penebalan miokard disertai resistensi arteriol dapat memicu jantung iskemik pada malam hari ketika tekanan darah dalam kondisi rendah (Gray et al, 2005).

    DAFTAR PUSTAKA

    Corwin, Elizabeth J. 2007. Buku Saku Patofisiologi. Edisi 3. Jakarta: EGC. Depkes. 2014. InfoDatin Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI. Gray, Huon H. et al. 2005. Lecture Notes: Kardiologi. Jakarta: Erlangga. Goh, Lee, Azwar Azrul, dan Sugito Wonodirekso. 2004. A Primer on Family Medicine Practice. Singapore: International Foundation. Gunawan, Lany. 2008. Hipertensi . Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Gunawan, S. Gan, et al. 2009. Farmakologi dan Terapi. Edisi 5. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. Guyton, Arthur C, dan John E. Hall. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 11. Jakarta:

    EGC. Kemenkes RI. 2011. Pengaturan Diet Pada Hipertensi. Jakarta: Direktorat Bina Gizi Kemenkes RI. Majid, Abdul. 2005. Fisiologi Kardiovaskular. Edisi 2. Medan: Bagian Fisiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. National Institutes of Health. 2004. The Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC 7). U.S: U.S Department of Health and Human Services. National Institutes of Health. 2014. Departement of Health and Human Services: DASH eating PlanUS, dapat diakses pada: http://www.nhlbi.nih.gov/health/health- topics/topics/dash/ (Diakses pada 13 Juni 2017). Panggabean. 2009. Penyakit Jantung Hipertensi. Dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Edisi V, Jilid II. Jakarta: Interna Publishing. Susalit, E., Kapojos E. J., dan Lubis H. R. 2005. Hipertensi Primer Dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi III. Jilid II. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. U.S. Department of Health and Human Services. 2010. Dietary Guidelines for Americans. U.S: U.S Department of Health and Human Services.