Anda di halaman 1dari 21

KONSEP MAQAMAT: Pengertian, Indikator, al-Taubah, al-Zuhud, al-

Wara, al-Faqr, al-Shabr, al-Tawakkal dan al-Ridha

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas


matakuliah Filsafat dan Tasawuf

Dosen Pengampu :
Dr. H. Ahmad Khudori Sholeh, M.Ag.

A B D. W A F A
NIM : 16770030

PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


PASCASARJANA
UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
MARET 2017
DAFTAR ISI

A. Pendahuluan .................................................................................................................... 2

B. Pengertian Maqamat ....................................................................................................... 3

C. Indikator (ciri-ciri) Maqamat ........................................................................................ 5

D. Stuktur Maqamat ............................................................................................................ 6

1. Al-Taubah ................................................................................................................... 7

2. Al-Wara ..................................................................................................................... 9

3. Al-Zuhud .................................................................................................................. 11

4. Al-Faqr...................................................................................................................... 13

5. Al-Shabr.................................................................................................................... 14

6. Al-Tawakkal ............................................................................................................. 15

7. Al-Ridha.................................................................................................................... 17

E. Kesimpulan .................................................................................................................... 19

F. Daftar Pustaka ............................................................................................................... 20

1
KONSEP MAQAMAT: Pengertian, Indikator, al-Taubah, al-Zuhud, al-Wara, al-
Faqr, al-Shabr, al-Tawakkal dan al-Ridha

Oleh: Abd. Wafa (16770030)

A. Pendahuluan
Berbicara tentang etika dalam Islam berarti berbicara tentang prinsip pokok
dan misi dasar Islam diturunkan ke bumi ini. Yakni, Islam sebagai rahmatan lil-Alamin.
Dan yang kemudian ditegaskan oleh Nabi Muhammad saw., Innama buistu
liutammima makarimal akhlaq (Sesungguhnya tiadalah aku diutus kecuali untuk
menyempurnakan akhlak yang mulia). Perbincangan tentang Islam belakangan ini di
Indonesia. maraknya sejumlah aksi intimidasi, pemaksaan, dan kekerasan yang
membawa nama Islam, mengukuhkan kenyataan bahwa etika dan moralitas sudah
terlepas jauh dari pengalaman keagamaan umat.1
Dalam tradisi tasawuf, banyak teori yang menyebutkan karakter-karakter
keluhuran yang seharusnya dimiliki manusia seperti maqamat, wahdat al-wujud,
wahdat al-syuhud, wahdat al-din, dan lain-lain. Sedangkan dalam konsteks perilaku
(takhalluq), mengimplementasikan kesempurnaan, perasaan menyatu dengan Tuhan,
kesetaraan, keadilan, keindahan, keutuhan, keserasian, kesederhanaan, dan sifat-sifat
kebaikan lainnya.2
Salah satu tujuan hidup manusia dalam perspektif Islam yakni mengabdikan
diri kepada Allah swt. Secara umum, kata pengabdian dapat mencakup berbagai
aktivitas manusia yang sifatnya baik. Tetapi secara lebih spesifik, sebagian orang
melakukan praktek-praktek ibadah yang lebih maksimal, dan menurut mereka keadaan
seperti itu adalah sebaik-baik upaya mendekatkan diri kepada Allah swt.3
Banyak jalan dan cara yang ditempuh oleh para sufi dalam meraih cita-cita dan
tujuannya mereka untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. seperti memperbanyak
zikir, puasa, beramal sholeh, dan sebagainya. Oleh karena itu, dalam perjalanan
spiritualnya, para sufi pasti menempuh beberapa tahapan. Tahapan-tahapan itu dalam
ilmu tasawuf disebut sebagai Maqamat. Untuk berpindah dari satu maqamat ke
maqamat lain memerlukan usaha yang berat dan waktu yang tidak singkat.4
Menurut A. Rivay Siregar, di kalangan sufi, orang pertama yang membahas
masalah maqamat atau jenjang dan fase perjalanan menuju kedekatan dengan Tuhan
adalah al Haris ibnu Asad al-Muhasibi. Tetapi, siapapun yang pertama menyususun
maqamat, tidaklah dipermasalahkan, tetapi yang pasti adalah sejak abad tiga hijriyah
setiap orang yang ingin mencapai tujuan tasawuf, ia harus menempuh jalan yang berat

1
Said Aqil Siroj, Tasawuf Sebagai Kritik Sosial, (Bandung: Mizan, 2007), hlm. 15-16.
2
Moenir Nahrowi Tohir, Menjelajahi Eksistensi TASAWUF Meniti Jalan Menuju Tuhan, (Jakarta:
PT. As-Salam Sejahtera, 2012), hlm. 93.
3
Asnawiyah, Maqam dan Ahwal: Makna dan Hakikatnya dalam Pendakian Menuju Tuhan. Jurnal
Subtansia, UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Vol. 16 No. 1 April 2014, hlm. 79
4
Syamsun Niam, Cinta Ilahi: Perspektif Rabiah al-Adawiyah dan Jalaluddin Rumi, (Surabaya:
Risalah Gusti, 2001), hlm. 51.
2
dan panjang, melakukan berbagai latihan amalan, baik amalan lahiriyah maupunn
batiniah.5
Makalah ini akan membahas tentang konsep tasawuf dengan fokus
pembahasan meliputi pengertian secara bahasa dan istilah, indikator, dan beberapa
tahapan maqamat yang berupa al-Taubah, al-Zuhud, al-Wara, al-Faqr, al-Shabr, al-
Tawakkal dan al-Ridha.
B. Pengertian Maqamat
Pada dasarnya tujuan dari tasawuf atau sufisme adalah berada sedekat mungkin
dengan Allah swt. meskipun banyak pertentangan berkenaan dengan asal-usul tasawuf.6
Di dalam perjalanan menuju Allah swt. para guru sufi mempunyai peranan yang sangat
vital. Ia merupakan tokoh sentral dalam dunia tasawuf. Ia adalah satu-satunya yang
mempunyai otoritas dalam menentukan para salik, dalam melakukan perjalanan menuju
Allah swt. Lewat pengalamannya para guru sufi ini kemudian membuat beberapa
metode dan konsep untuk membantu dan memudahkan para salik mencapai tujuannya.
Dari banyaknya konsep yang ada dan berkembang di kalangan Sufi konsep mengenai
maqamat dan ahwal adalah salah satunya.7
Maqamat merupakan salah satu konsep yang digagas oleh Sufi yang
berkembang paling awal dalam sejarah tasawuf Islam. Maqamat adalah tahapan adab
(etika) seorang hamba dalam wushul kepada-Nya dengan macam upaya, di-wujud-kan
dengan suatu tujuan pencarian dan ukuran tugas. Masing-masing berada dalam
tahapannya sendiri ketika dalam kondisi tersebut, serta tingkah laku riyadhah menuju
kepada-Nya.8
Syaratnya, seorang hamba tidak akan menaiki dari satu maqam ke maqam
lainnya sebelum terpenuhi hukum-hukum maqam tersebut. Barang siapa yang belum
sepenuhnya qanaah, belum bisa mencapai tahap tawakkal. Dan barang siapa yang
belum bisa tawakkal tidak sah ber-taslim. Siapa yang tidak bertobat, tidak sah pula ber-
inabat. Dan barangsiapa tidak wara, tidak sah untuk ber-zuhud.9
Sebelum dijelaskan lebih lanjut mengenai konsep maqamat, perlu kita kaji
terlebih dahulu difinisi maqamat dari sudut bahasa dan terminologi tasawuf agar jelas
pengertian dan maksudnya.
Dari perspektif bahasa, Maqamat merupakan jama dari kata maqam yang
artinya kedudukan, posisi, martabat, tingkatan.10 Sedangkan secara terminologi,
pengertian maqam memiliki banyak definisi yang dikemukankan oleh para tokoh

5
A. Rivay Siregar, Tasawuf: Dari Sufisme Klasik ke Neo-Sufisme, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,
2002), hlm. 113.
6
Dalam kajian Tasawuf setidaknya terdapat dua pendapat mengenai asal-usul tasawuf. Pertama,
pendapat yang mengatakan bahwa tasawuf dan ajaran-ajarannya bersumber dari agama Islam. Kedua,
pendapat yang mengatakan bahwa tasawuf dan ajarannya masih mempunyai hubungan dari ajaran-ajaran
agama di luar Islam.
7
Ibnu Farhan, Konsep Maqamat dan Ahwal dalam Perspektif para Sufi. Jurnal Yaqzhan, IAI Bunga
Bangsa Cirebon, Vol. 2, No. 2 Desember 2012, hlm. 158.
8
Ibnu Farhan, Konsep Maqamat dan Ahwal dalam Perspektif para Sufi. Jurnal Yaqzhan, IAI Bunga
Bangsa Cirebon, Vol. 2, No. 2 Desember 2012, hlm. 158.
9
Abul Qasim al-Qusyairy, Ar-Risalatul Qusyairiyyah fi Ilmi at-Tashawwufi. Terjemah oleh
Muhammad Luqman Hakiem, RISALATUL QUSYAIRIYYAH, Induk Ilmu Tasawuf, (Surabaya: Risalah Gusti,
1999), cet. Ke-III, hlm. 23.
10
Kamus Online Android Bahasa Arab
3
tentang apa yang dimaksud dengan maqam. Misalnya Said Aqil Siraj, misalnya,
mengatakan:
Maqam adalah seseorang yang menempuh jalan penjernihan dan penyucian hati serta
meningkatkan kualitas karakter keimanan dan ibadah mereka agar mencapai tahapan-
tahapan tertentu dalam ketundukan kepada Allah swt11
M. Jamil, berpendapat bahwa:
Maqam merupakan tingkatan seorang hamba dihadapan Tuhannya dalam hal ibadah
dan latihan-latihan jiwa yang dilakukannya12
sedangkan Harun Nasution, mengemukakan pendapatnya:
Jalan panjang yang harus ditempuh oleh seorang sufi untuk berada dekat dengan
Allah.13
Dari tiga definisi tersebut, penulis menyimpulkan bahwa maqam adalah
tingkatan kedekatan seorang hamba kepada Allah swt yang diraih dengan cara
menempuh jalan spiritual melalui pensucian hati & jiwa, dan peningkatan kualitas
keimanan & ibadah.
Maqam disini sesungguhnya diperoleh dan terjadi berkat Rahmat Allah swt.
manakala sang penenempuh Jalan Spiritual (salik) naik ke maqam yang lebih tinggi, dia
tidak meninggalkan maqam yang lebih rendah, melainkan melakukan perjalanan
bersamanya. Ketika tercapai kualitas-kualitas terpuji yang berkenaan dengan suatu
kedudukan khusus, maka segenap kualitas itu semakin kukuh dan mantap serta tetap
besamanya dalam kenaik-annya yang tiada henti.14 Sehingga, kata maqamat disini
merupakan kedudukan-kedudukan spiritual. Kedudukan-kedudukan ini adalah dasar
dan asas yang mesti ada guna mengaktualisasi kesempurnaan manusia dan harus
ditempuh dalam perjalanan kembali kepada Allah swt. Maqamat adalah segenap
perolehan (makasib) melalui usaha spiritual (mujahadah).15
Menurut Nahrowi, konsepsi maqmat dalam tradisi Tasawuf sangat mirip
dengan konsepsi psikologi humanistik dari Abraham Harold Maslow, yaitu konsepsi
aktualisasi diri (self-actualization) dan konsepsi pengalaman puncak (peak-experience).
Konsepsi pengalaman puncak dari konsep psikologi humanistik Maslow
menggambarkan kondisi psikologis itu sebagai kesadaran seseorang dalam kondisi
merasakan menyatu dangan Alam. Atau kesadaran akan kesatuan antara alam
mikrokosmos, maksrokosmos, dan metakosmos. Menurut Maslow, pengalaman itu
adalah pengalaman yang bersifat universal dan merupakan pengalaman spiritual atau

11
Said Aqil Siroj, Tasawuf Sebagai Kritik Sosial..., hlm. 38
12
Pengertian maqam ini merupakan kesimpulan yang diambil dari defini maqam menurut al-Qusairi
dan al-Thusi. Lihat M. Jamil, Carkrawala Tasawuf: Sejarah, Pemikiran & Kontekstualitas, (Jakarta: Gaung
Persada Press, 2004), hlm. 46-47.
13
Penulis mengambil pendapat ini yang dikutif oleh Abudin Nata pada buku Falsafah dan Mistisme
dalam Islam. Lihat Abudin Nata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1996), hlm. 193.
14
Amatullah Amstrong, Sufi Terminology (al-Qamus al-Sufi): The Mystical Language of Islam.
Diterjemahkan oleh M. S. Nashrullah dan Ahmad Baiquni, Khazanah Istilah Sufi: Kunci Memasuki Dunia
Tasawuf, (Bandung: Mizan, 2001), hlm. 175.
15
M. S. Nashrullah dan Ahmad Baiquni, Khazanah Istilah Sufi: Kunci Memasuki Dunia Tasawuf,
(Bandung: Mizan, 2001), hlm. 175.
4
keagamaan, yaitu ketika seseorang merasa tidak ada batas lagi antara dirinya dengan
alam.16
Secara historis, konsep maqamat diduga muncul pada abad pertama hijriyah
ketika para sahabat Nabi masih banyak yang hidup. Sosok yang memperkenalkan
konsep tersebut adalah menantu Rasulullah swa. Yaitu sahabat Ali bin Abi Thalib. Hal
ini dapat ditemukan dalam satu informasi bahwa suatu ketika para sahabat bertanya
kepadanya mengenai soal Iman, Ali bin Abi Thalib menjawab bahwa iman itu dibangun
atas empat pondasi yaitu kesabaran (as-sabr), keyakinan (al-yaqinu), keadilan (al-adl),
dan perjuangan (al-jihadu). Dan masing-masing pondasi tersebut mempunyai sepuluh
tingkatan (maqamat). Hal ini setidaknya menjadi bukti kuat bahwa sumber tasawuf
sudah dapat dilihat pada masa Nabi Muhammad saw.17
Namun dalam tradisi tasawuf, Istilah maqamat dan ahwal ini biasanya
disandarkan kepada tokoh sufi mesir yaitu Syeikh Zunnun al-Mashri. Dia adalah salah
satu sufi masyhur yang lahir di Mesir selatan dan meninggal pada tahun 859 M. dia
adalah seorang sufi yang memperkenalkan teori marifah atau gnosis dalam tradisi
tasawuf. Menurut Zunnun, marifah adalah cahaya yang diberikan Tuhan ke dalam hati
seorang sufi. Sebuah ungkapan mengenai marifah yang terkenal darinya aku
mengetahui Tuhan melalui Tuhan dan jika sekirannya tidak karena Tuhan, aku tidak
akan tahu Tuhan. Zunnun juga menambahkan bahwa marifah bukan saja merupakan
hasil dari usaha seorang sufi untuk menggapainya tapi juga merupakan anugerah dari
Tuhan. Dengan demikian adanya usaha dan kesabaran dalam menunggu anugerah
Tuhan merupakan keniscayaan untuk menggapai marifah.18
Dalam perkembangan selanjutnya, konsep maqamat dan ahwal merupakan
salah satu konsep tasawuf yang apda gilirannya menadapat perhatian yang serius dari
para Sufi. Para Sufi kemudian membuat beberapa definisi dan tingkatan maqamat yang
berbeda-beda. Pada Sufi juga membuat beberapa difinisi berkenaan dengan ahwal dan
bagaimana mengenai proses dari kosep-konsep tersebut. Adapun tujuan dari pembuatan
konsep maqamat dan ahwal oleh para Sufi adalah sebagai gerakan atau prilaku untuk
mencapai kesempurnaan menuju Tuhan secara sistematik. Berdasarkan konsep
maqamat dan hal tersebut, maka para sufi dapat memberikan suatu aturan yang dapat
dijalankan oleh pengikutnya sehingga jalan menuju Tuhan menjadi lebih jelas dan
mudah.19
C. Indikator (ciri-ciri) Maqamat
Maqamat yang digunakan para sufi untuk mendekatkan diri kepada Allah swt
memiliki indikator sebagai berikut20:

16
Moenir Nahrowi Tohir, Menjelajahi Eksistensi TASAWUF Meniti Jalan Menuju Tuhan...., hlm. 94.
17
Ibnu Farhan, Konsep Maqamat dan Ahwal dalam Perspektif para Sufi. Jurnal Yaqzhan, IAI Bunga
Bangsa Cirebon, Vol. 2, No. 2 Desember 2012, hlm. 158-159.
18
Ibnu Farhan, Konsep Maqamat dan Ahwal dalam Perspektif para Sufi. Jurnal Yaqzhan, IAI Bunga
Bangsa Cirebon, Vol. 2, No. 2 Desember 2012, hlm. 159.
19
Ibnu Farhan, Konsep Maqamat dan Ahwal dalam Perspektif para Sufi. Jurnal Yaqzhan, IAI Bunga
Bangsa Cirebon, Vol. 2, No. 2 Desember 2012, hlm. 159.
20
Materi disampaikan dalam acara perkuliahan Filsafat Islam dan Tasawuf pada jurusan Magister
Pendidikan Agama Islam Semester II oleh Dr. H. Ahmad Khudori Sholeh, M.Ag. pada tanggal 29 Maret 2017
5
1. Cara Menggapainya dengan Usaha/ Diupayakan
Untuk mencapai tahapan-tahapan maqamat, seorang berusaha dengan
keras untuk melakukan hal-hal yang menjadi ketentuan pada tahapan pada
maqamat. Selain itu, seorang sufi juga harus menghidari dan menjauhi sesuatu
yang dilarang pada ketentuan maqamat. Suatu contoh, seorang yang ingin
mencapai maqam Taubat, maka dia harus berusaha untuk bertaubat kepada Allah
swt, dan juga bertaubat dengan cara meminta maaf kepada orang lain, dan
seterusnya untuk tahapan selanjutnya. Cara mencapai atau mendapatkan Maqamat
ini berbeda dengan Ahwal. Cara mendapatkan Ahwal tidak bisa diusahakan sendiri
oleh manusia, Ahwal merupakan anugerah pemberian Allah swt.
2. Jumlah Maqamat Terbatas
Jumlah maqamat berbeda-beda menurut pendapat para ulama, syeikh al-
Qusairy berpendapat bahwa jumlah maqamat itu ada empat puluh satu, sedangkan
imam al-Ghazali berpendapat bahwa jumlah maqamat itu ada delapan, Muhammad
al-Kalabazy berpendapat bahwa jumlah maqamat itu ada sepuluh, sedangkan Abu
Nasr al-Sarraj al-Tusi berpendapat bahwa jumlah maqamat itu ada tujuh. Dari
pendapat itulah, bisa penulis simpulkan bahwa jumlah maqamat itu terbatas,
maksimal ada empat puluh satu, sedangkan jumlah terkecil yaitu tujuh. Hal ini
berbeda dengan ahwal, jumlah ahwal sangat banyak dan tidak terbatas, karena
hanya Allah swt sendiri memberi, jadi manusia tidak tau berapa jumlahnya.
3. Membutuhkan Waktu yang lama
Selain membutuhkan usaha untuk mencapai maqamat, seseorang juga
membutuhkan waktu yang lama dalam mencapainya. Karena dalam mencapai
maqamat ini seseorang dituntut untuk berlatih dan berusaha untuk mencapai
tahapan-tahap tertentu yang waktunya tergantung dari seseorang yang sedang
menjalani maqamat. Karena hal maqamat merupakan suatu usaha untuk
mendekatkan diri kepada Allah swt, jadi tidak mengherankan harus membutuhkan
usaha dan waktu yang lama. Hal ini berbeda dengan ahwal yang mana cara
perolehan ahwal tidak membutuhkan waktu yang lama, karena ahwal adalah
pemberian langsung dari Allah swt.
4. Statusnya Berjenjang/ Bertahap
Struktur maqamat yaitu berjenjang atau bertahap. Maksudnya, seseorang
tidak bisa melewati maqam tingkat ke dua sebelum melewati maqam tingkat
pertama. jadi harus mulai dari maqam tingkat pertama dulu, kemudian naik ke
maqam tingkat kedua, dan seterusnya. Berbeda dengan ahwal, yang mana tidak
membutuhkan struktur yang bertahap atau berjenjang.
D. Stuktur Maqamat
Seorang Sufi yang meraih derajat kesempurnaan diri dituntut untuk melampaui
tahapan-tahapan spiritual yang disebut maqamat seperti yang telah dijelaskan pada
sub bab sebelumnya, yaitu struktur nilai yang harus menyatu (menginternal) dalam diri
seorang Sufi.21
Tentang berapa jumlah tangga atau maqamat yang harus ditempuh oleh
seorang sufi untuk sampai menuju Tuhan, di kalangan para sufi tidak sama
pendapatnya. Muhammad al-Kalabazy dalam kitabnya al-Taarruf li Mazhab ahl al-
Tasawwuf, sebagai dikutip Harun Nasution misalnya mengatakan bahwa maqamat itu

21
Moenir Nahrowi Tohir, Menjelajahi Eksistensi TASAWUF Meniti Jalan Menuju Tuhan...., hlm. 95.
6
jumlahnya ada sepuluh, yaitu al-taubah, al-zuhud, al-shabr, al-faqr, al-tawadlu, al-
taqwa, al-tawakkal, al-ridla, al-mahabbah dan al-marifah.22
Sementara itu Abu Nasr al-Sarraj al-Tusi dalam kitab Luma menyebutkan
jumlah maqamat hanya tujuh, yaitu al-taubah, al-wara, al-zuhud, al-faqr, al-tawakkal
dan al-ridla.23 Sedangkan imam al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulum al-Din
mengatakan bahwa maqamat itu ada delapan, yaitu al-taubah, al-shabr, al-zuhud, al-
tawakkal, al-mahabbah, al-marifah dan al-ridla.24 Nahrowi menambahkan, Tujuan
akhir dari perjalanan spiritual adalah kemurnian Tauhid, yaitu kesaksian seorang
Muslim dengan mengucapkan kalimah syahadah, la illaha illa Allah (tiada tuhan selain
Allah). Pengakuan ini mengandung dua komitmen, pertama, tidak ada tuhan, dan
kedua, selain Allah. Dua komitmen inilah yang menjadi dasar struktur maqamat.
Komitmen pertama merefleksikan pengosongan diri dari segala sesuatu yang buruk
(takhalli), seperti maqam taubat, wara, zuhud, dan faqr. Kemudian komitmen kedua
berupa pengakuan, atau tahalli, seperti maqam shabr, tawakkal, dan ridha.25
Keadaan tersebut memperlihatkan keadaan variasi penyebutan maqamat yang
berbeda-beda, namun ada maqamat yang oleh mereka disepakati yaitu; al-taubah, al-
wara, al-zuhud, al-faqr, al-shabr, al-tawakkal, dan al-ridla. Sedangkan al-tawaddu,
al-mahabbah dan al-marifah oleh mereka tidak disepakati sebagai maqamat. Terdapat
tiga istilah yang disebut terakhir itu (al-tawaddu, al-mahabbah dan al-marifah)
terkadang para ahli tasawuf menyebutnya sebagai maqamat, dan terkadang
menyebutnya sebagai hal dan ittihad (tercapainya kesatuan wujud rohaniah dengan
Tuhan).26
Untuk itu, dalam makalah ini, penulis akan menguraikan maqamat yang telah
disepakati oleh para tokoh-tokoh yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu al-taubah,
al-wara, al-zuhud, al-faqr, al-shabr, al-tawakkal, dan al-ridla. Penjelasan tentang
masing-masing istilah tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut.
1. al-Taubah
at-Taubah merupakan tingkat pertama di antara tingkat-tingkat yang
dialami oleh para Sufi dan tahapan pertama di antara tahapan-tahapan yang dicapai
oleh penempuh jalan Allah (salik).27 Pembahasan mengenai taubat tidak bisa
terlepas dari landasan al-Quran dan al-Hadits. Di dalam al-Quran, Allah swt.
berfirman dalam surat An-Nur ayat 31 yang berbunyi:
...
Bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang
beriman, supaya kamu beruntung.
Kemudian, diriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah saw. bersabda:





22
Abudin Nata, Akhlak Tasawuf..., hlm. 193., bisa dilihat juga pada M. Jamil, Carkrawala Tasawuf:
Sejarah, Pemikiran & Kontekstualitas..., hlm. 48.
23
Abudin Nata, Akhlak Tasawuf..., hlm. 194., bisa dilihat juga pada M. Jamil, Carkrawala Tasawuf:
Sejarah, Pemikiran & Kontekstualitas..., hlm. 47.
24
Abudin Nata, Akhlak Tasawuf..., hlm. 194., bisa dilihat juga pada M. Jamil, Carkrawala Tasawuf:
Sejarah, Pemikiran & Kontekstualitas..., hlm. 47.
25
Moenir Nahrowi Tohir, Menjelajahi Eksistensi TASAWUF Meniti Jalan Menuju Tuhan...., hlm. 95.
26
Abudin Nata, Akhlak Tasawuf..., hlm. 194.
27
Abul Qasim al-Qusyairy, Ar-Risalatul Qusyairiyyah fi Ilmi at-Tashawwufi.... hlm. 79.
7
Orang yang bertobat dari dosa seperti orang tidak berdosa, dan jika
Allah mencintai seorang hamba, niscaya dosa tidak melekat pada
dirinya. (H.R. Ibnu Majah, Tirmidzi dan Hakim).
Selanjutnya, beliau membacakan ayat, Sesungguhnya Allah menyukai orang-
orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. (Q.S. Al-
Baqarah: 222).28
Oleh karena itu, kata At-Taubah berasal dari bahasa Arab yaitu taba,
yatubu, taubatan yang artinya kembali.29 ia bertobat berarti ia kembali. Jadi
tobat adalah kembali dari sesuatu yang dicela oleh syara menuju sesuatu yang
dipuji olehnya. Rasulullah saw. bersabda, Menyesali kesalahan merupakan suatu
tobat (H.R. Bukhari dan Ahmad).30
Sedangkan taubat yang dimaksud oleh kalangan sufi adalah memohon
ampun atau segala dosa dan kesalahan-kesalahan yang dilakukan, disertai janji
yang sungguh-sungguh untuk tidak mengulangi dosa-dosa atau kesalahan-
kesalahan yang telah dilakukan, disertari dengan melaksanakan amalan-amalan
shaleh. selain pengertian tersebut, para sufi menambahkan pengertian tersebut
mesti bertaubat dari bisikan-bisikan yang tidak baik dalam diri seperti iri, dengki,
riya dan lain-lain, juga bertaubat dari kelalaian mengingat Allah swt.31
Dalam rangka mencapai maqam taubat, seorang sufi harus mengosongkan
dan membersihkan semua perilaku, tindakan, perbuatan dan lain-lain yang
cenderung mendorong seseorang kepada sifat, sikap rendah dan kemaksiatan. Hal
itu berlaku dalam hubungan dengan manusia, maupun dengan tanggung jawab
kedinasan. Dengan taubat, jiwa seseorang akan kembali kepada fitrahnya lagi.
Seseorang menjadi tidak mudah luntur dalam godaan rendah, tidak terhanyut dalam
pesona duniawi dan bebas dari segala sesuatu yang dapat menghadapi
perjalanannya menemukan diri fitri-nya.32
Membincangkan tentang taubat, kita tidak bisa terlepas dengan syarat-
syarat taubat. Menurut Syeikh Qusyairy, ada tiga syarat yang harus dipenuhi
seseorang ketika bertobat, yaitu menyesali kemasiatan yang telah dilakukan;
meninggalkan secara langsung kemaksiatan; dan memutuskan untuk tidak kembali
pada kemaksiatan yang sama.33 Pendapat lain tentang syarat taubat dikemukan
oleh Syeikh Abdul Qadir Isa, beliau mengatakan bahwa syarat taubat yaitu: harus
menghentikan maksiat; harus menyesali perbuatan yang terlanjut dilakukannya;
dan harus berniat dengan sungguh-sungguh untuk tidak mengulangi perbuatan itu
kembali. Jika salah satu dari tiga syarat tersebut tidak terpenuhi, maka taubatnya
tidak sah.34
Sementara jika maksiat yang dilakukannya ada sangkut pautnya dengan
hak manusia, maka syaratnya ada empat: tiga syarat yang telah disebutkan di atas
28
Abul Qasim al-Qusyairy, Ar-Risalatul Qusyairiyyah fi Ilmi at-Tashawwufi.... hlm. 78.
29
Abudin Nata, Akhlak Tasawuf..., hlm. 197.
30
Abul Qasim al-Qusyairy, Ar-Risalatul Qusyairiyyah fi Ilmi at-Tashawwufi.... hlm. 79.
31
M. Jamil, Carkrawala Tasawuf: Sejarah, Pemikiran & Kontekstualitas..., hlm. 48.
32
Moenir Nahrowi Tohir, Menjelajahi Eksistensi TASAWUF Meniti Jalan Menuju Tuhan...., hlm. 96.
33
Abul Qasim al-Qusyairy, Ar-Risalatul Qusyairiyyah fi Ilmi at-Tashawwufi.... hlm. 79.
34
Abdul Qadir Isa, Haqaiq at-Tashawwuf. Diterjemahkan oleh Khairul Amru Harahap dan Afrizal
Lubis, Hakekat Tasawwuf, (Jakarta: Qisthi Press, 2010), hlm.195-196.
8
dan satu syarat lagi, yaitu menyelesaikan urusannya dengan pemilik hak tersebut.
Jika hak tersebut adalah harta, maka dia harus mengmbalikannya. Jika hak tersebut
adalah had qadzf (menuduh orang lain berzina), maka dia harus menyerahkan diri
untuk dijatuhi had atau meminta maaf kepada orangnya. Jika hak tersebut adalah
ghibah, maka dia harus meminta maaf dari orang yang digunjingnya. Dan wajib
atasnya untuk bertobat dari semua dosa.35
Taubat dalam tasawuf ada beberapa macam. Menurut Dzu al-Nun al-
Mishri, taubat terbagi menjadi dua yaitu: pertama taubat orang awam, bagi orang-
orang awam atau orang umum kebanyakan taubat berarti menyesali perbuatan-
perbuatan dosa36 yang telah dilakukan, berjanji untuk tidak mengulanginya dan
mengisi kehidupan dengan amal saleh; dan kedua taubat orang khawash, bagi
orang-orang khawash seseorang yang telah mendalami kehidupan sufi, kelalaian
mengingat Tuhan (Ghaflah) merupakan suatu dosa. Ghaflah dilihat sebagai sumber
segala bentuk kemaksiatan. Dalam pandangan kaum sufi, seseorang tidak akan
melakukan kemaksiatan, jika ia benar-benar dalam keadaan ingat kepada Tuhan.37
Dengan demikian, taubat merupakan pangkal dari peralihan hidup cara
lama yang ghaflah kepada kehidupan baru yang senantiasa ingat kepada Allah
sepanjang masa dan di mana saja. Bertaubat adalah sesuatu yang diperintahkan
baik di dalam al-Quran maupun di dalam Sunnah Rasulullah saw., Nabi
Muhammad saw yang maksum (terbebas dari dosa) bersabda Wahai manusia,
bertaubat dan memohon ampunlah kepada Allah swt., seseungguhnya saya
bertaubat dalam sehari sebanyak seratus kali.38
2. Al-Wara
Secara harfiah al-wara artinya saleh, menjauhkan diri dari perbuatan
39
dosa. Dalam pandangan tokoh islam, ada beberapa pengertian tentang wara,
diantaranya menurut al-Jurjani, wara adalah menghindari hal-hal yang syubhat
(samar) karena takut terjerumus ke dalam hal-hal yang haram.40 Syeikh Abu Ali
ad-Daqqaq mengatakan bahwa wara adalah meninggalkan apa pun yang syubhat,
dan Ibrahim bin Adham memberikan penjelasan wara adalah meninggalkan
segala sesuatu yang meragukan, segala sesuatu yang tidak berarti, dan apa pun
yang berlebihan. Sedangkan Said Aqil Siroj (seorang ulama kontemporer)
mengatakan bahwa wara adalah sebuah sikap moral seorang sufi yang sangat
selektif, dan tidak mengambil sesuatu, kecuali kalau diyakininya itu halal dan tidak
mengambil sesuatu pendapat kecuali yang ia yakini betul-betul benar.41 Dari
pengertian tentang wara yang dikemukakan oleh para tokoh tersebut, penulis
menyimpulkan bahwa wara adalah suatu sikap kehati-hatian dalam mengambil

35
Abdul Qadir Isa, Haqaiq at-Tashawwuf.... hlm. 196.
36
Dosa yang dimaksudkan di sini adalah pelanggaran-pelanggaran terhadap perintah atau larangan
yang berhubungan dengan perbuatan-perbuatan manusia, kelalaian dari mengingat Tuhan belum dianggap
sebagai dosa.
37
Maksudnya, bagaimana seseorang bisa melakukan kemaksiatan, jika orang tersebut selalu ingat dan
menyakini bahwa dia dalam pengawasan Tuhan di mana pun dia berada dan semua amal dan perbuatannya
akan diperhitungkan dan akan diberikan ganjaran. Lihat pada M. Jamil, Carkrawala Tasawuf..., hlm. 49.
38
M. Jamil, Carkrawala Tasawuf: Sejarah, Pemikiran & Kontekstualitas..., hlm. 49.
39
Abudin Nata, Akhlak Tasawuf..., hlm. 197.
40
Abdul Qadir Isa, Haqaiq at-Tashawwuf.... hlm. 233.
41
Said Aqil Siroj, Tasawuf Sebagai Kritik Sosial.... hlm. 94.
9
sesuatu, tidak mengambil sesuatu yang belum jelas hukumnya (halal atau haram)
dan meninggalkan berbagai hal yang diperbolehkan tetapi dianggap tidak
bermanfaat atau tidak penting.
Dalam pandangan sufi, sesuatu yang haram akan menyebabkan noda
hitam di dalam hati yang pada akhirnya dapat mematikan hati yang karena tidak
dapat berhubungan dan dekat dengan Allah. Karena itu, para sufi sangat hati-hati,
sesuatu yang tidak jelas kehalalan dan keharamanya pun mesti ditinggalkan.42
Selain itu, warak termasuk juga menjauhi dan meninggalkan segala sesuatu yang
tidak bermanfaat, baik menyangkut diri sendiri maupun menyangkut orang lain.
Nabi Muhammad saw bersabda, sebagian dari kebaikan tindakan keislaman
seseorang adalah bahwa ia menjauhi sesuatu yang tidak berarti.43
Perintah untuk melakukan war ini ditemui dalam sabda Rasulullah saw
yang berbunyi:
) (
Maka barang siapa yang terbebas dari syubhat, maka sesungguhnya ia
telah terbebas dari yang haram. (H.R. Bukhari)44
Untuk memperjelas pembahasan tentang wara, berikut ini akan dibahas
tentang tingkatan-tingkatan wara menurut menurut ulama. Menurut syeikh Abdul
Qadir Isa, tingkatan wara terbagi menjadi dua, yaitu waranya orang awan,
waranya orang khawash dan waranya orang khawashulkhawash.
Wara orang awam meninggalkan segala hal yang syubhat, sehingga dia
tidak terjerumus ke dalam lumpur dosa. Dan ini wujud dari penerapan sabda Nabi
Muhammad saw., sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas.
Dan diantara keduanya terdapat hal-hal syubhat yang tidak diketahui oleh
kebanyakan orang. Barang siapa meninggalkan hal-hal tersebut, maka dia telah
memelihara agama dan kehormatannya. Dan barang siapa jatuh ke dalamnya,
maka dia akan terjatuh ke dalam hal-hal yang haram. Sebagaimana penggembala
yang menggembalakan ternaknya di pinggir tanah larangan, bisa dipastikan dia
masuk ke dalamnya. Ingatlah ! tiap-tipa penguasa mempunyai tanah larangan.
Ingatlah! Tanah larangan Allah adalah segala yang diharamkan. (H.R.
Bukhari).45
Adapun waranya orang khawash adalah meninggalkan apa-apa yang
mengotori hati dan membuatnya selalu dalam kekhawatiran dan kekacauan.
Kalangan sufi senantiasa menjauhi beragam pikiran yang mengacaukan hati
mereka dan beragam bisikan yang membimbangkan jiwa mereka. Hati mereka
yang suci adalah pengingat terbesar bagi mereka di kala mereka bimbang terhadap
suatu perkara atau hukum. Nabi Muhammad saw bersabda, Tinggalkanlah apa-apa
yang meragukanmu menuju apa-apa yang tidak meragukanmu. (H.R. Trimidzi).
Beliau juga bersabda, kebajikan adalah budi pekerti yang baik. Sedangkan dosa

42
M. Jamil, Carkrawala Tasawuf: Sejarah, Pemikiran & Kontekstualitas..., hlm. 50.
43
Moenir Nahrowi Tohir, Menjelajahi Eksistensi TASAWUF Meniti Jalan Menuju Tuhan...., hlm. 97.
44
M. Jamil, Carkrawala Tasawuf: Sejarah, Pemikiran & Kontekstualitas..., hlm. 50.
45
Abdul Qadir Isa, Haqaiq at-Tashawwuf.... hlm. 233-234.
10
adalah yang meresahkan hatimu, dan engkau enggan orang lain mengetahuinya.
(H.R. Muslim).46
Sedangkan waranya orang khawashulkhawash adalah menolak segala
ketergantungan kepada selain Allah dan menutup pintu harapan kepada segala
sesuatu selain Dia. Dan inilah tingkatan wara para ahli makrifat yang menganggap
bahwa segala sesuatu yang membuatmu lalai atau lupa kepada Allah adalah
kecelakaan bagimu.47
3. Al-Zuhud
Zuhud adalah maqam selanjutnya setelah wara. Secara harfiah al-zuhud
berarti tidak ingin kepada sesuatu yang bersifat keduniawian.48 Menurut Syeikh
Abdul Qadir Isa, zuhud adalah mengosongkan hati dari cinta kepada dunia dan
semua keindahannya serta mengisinya dengan cinta kepada Allah swt dan makrifat
kepada-Nya. Apabila hati terlepas dari ketergantungan terhadap perhiasan dunia
dan kesibukannya, maka ini akan menambah cinta kepada Allah, menghadap
kepada-Nya, muraqabah (pengawasan) dan makrifat. Oleh karena itu, para ahli
makrifat menganggap zuhud sebagai perantara untuk mencapai Allah dan syarat
untuk mendapatkan cinta dan ridha-Nya, dan bukan sebagai tujuan.49
Said Aqil Siroj berpendapat bahwa seorang yang zahid adalah orang yang
memandang bahwa apa yang dimilikinya tidaklah punya nilai dibandingkan dengan
apa yang dimiliki Allah swt. Bahkan dunia dengan segala kenikamtannya ini pun
bukanlah sesuatu yang bernilai baginya dibanding dengan yang ada di sisi Allah
swt. sampai-sampai seorang sufi berkeyakinan, seandainya alam alam dan seisinya
ini senilai sayap seekor nyamuk, niscaya dunia ini tidak akan diberikan kepada
orang kafir. Bahwkan ada seorang sufi yang berpendapat bahwa zuhud itu adalah
sebuah sikap pengabdian. Bagi mereka, menzuhudi sesuatu yang tidak punya nilai
adalah ghaflah, sebuah kekeliruan karena zuhud adalah sebuah kelalaian
(terhadap dunia dan kenikmatannya).50
Dari kedua pendapat tersebut, penulis menyimpulkan bahwa zuhud
merupakan sikap berpaling dari dunia dan gemerlapnya, dan menfokuskan diri
(hati, fikiran, dan perbuatan) kepada Allah swt serta mengabdikan hidupnya kepada
Allah swt baik ibadah mahdoh maupun ghairu mahdoh.
Masyarakat kita memiliki persepsi tentang zuhud yaitu identik dengan
kemiskinan, dan rendahnya perekonomian. Persepsi masyarakat demikian ini
kurang tepat, karena bagaimana kita mengetahui orang itu bisa juhud tetapi dia
tidak pernah diuji (memiliki harta). Sehingga, kita harus meluruskan persepsi
mayarakat tersebut bahwa orang zuhud itu ya harus kaya, tetapi tidak terlena
dengan kekayaan yang dimiliki.51 Allah swt telah menghimbau ummat manusia
untuk bersikap zuhud berkenaan dengan pemerolehan kekayaan, melalui firman-
Nya, Katakanlah, kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih
46
Abdul Qadir Isa, Haqaiq at-Tashawwuf.... hlm. 234-235.
47
Abdul Qadir Isa, Haqaiq at-Tashawwuf.... hlm. 235.
48
Abudin Nata, Akhlak Tasawuf..., hlm. 194.
49
Abdul Qadir Isa, Haqaiq at-Tashawwuf.... hlm. 240.
50
Said Aqil Siroj, Tasawuf Sebagai Kritik Sosial.... hlm. 94-95.
51
Pengantar matakuliah Filsafat Islam dan Tasawuf pada awal perkuliahan semester II yang
disampaikan oleh Dr. H. Ahmad Khudori Sholeh Februari 2017
11
baik untuk orang-orang yang bertaqwa. (Q.S. An-Nisa: 77). Banyak ayat lainnya
yang dapat dijumpai berkenaan dengan tidak berharganya dunia dan seruan untuk
bersikap zuhud terhadapnya.
Sebagian orang ada yang mengatakan bahwa zuhud adalah orang yang
zuhud di dalam masalah yang haram, karena yang halal adalah sesuatu yagn mubah
dalam pandangan Allah, yaitu orang yang diberikan nikmat berupa yang halal,
kemudian ia bersyukur dan meninggalkan dunia itu dengan kesadarannya sendiri.52
Sebagian orang lain menafikan adanya zuhud dalam Islam, dan
menganggap bahwa zuhud merupakan bidah yang dimaksukkan ke dalam melalui
perantaraan para pendeta Nasrani atau tata cara beribadah orang-orang non-Arab.
tidak diragukan lagi bahwa pendapat mereka ini merupakan suatu hal yang terburu-
buru dalam menentukan suatu hukum, yang disertai dengan kebodohan tentang
hakikat Islam. Sekiranya mereka yang mengingkari adanya zuhud tersebut kembali
kepada hadits-hadits Rasulullah saw niscaya mereka akan menemukan bahwa Nabi
Muhammad saw dengan jelas menyeru kepada zuhud dan menganggapnya sebagai
perantara untuk memperoleh cinta Allah swt., Rasulullah saw bersabda,
Berzuhudlah engkau terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu. Dan
berzuhudlah engkau terhadap apa-apa yang ada di manusia, niscaya mereka akan
mencintaimu (H.R. Ibnu Majah).53
Apabila kita mengamati sejarah Rasulullah saw., kita menemukan bahwa
beliau seringkali mengarahkan sahabat-sahabatnya agar berpaling dari dunia dan
zuhud terhadap kemewahannya, yaitu dengan memandang rendah perkara dunia
dan menghinakan segala godaan dan bujuk rayuannya. Itu semua supaya dunia
tidak menyibukkan mereka dari tugas utama yang mereka diciptakan untuk-Nya
dan tidak memutuskan mereka dari misi suci yang mereka emban. Kadang-kadang
Rasulullah menjelaskan bahwa Allah menjadikan dunia sebagai perhiasan untuk
menguji kita, supaya Dia melihat apakah kita mempergunakannya di jalan yang
Dia ridhai atau tidak. Rasulullah saw bersabda, Sesungguhnya dunia itu sangatlah
indah dan hijau. Dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian sebagai khalifah di
dalamnya, supaya Dia melihat bagaimana kalian mempergunakannya. Maka
berhati-hatilah terhadap dunia dan berhati-hatilah terhadap wanita. (H.R.
Muslim).54
Di dalam maqam zuhud, ada tiga jenis kezuhudan di dalam maqamat
tasawuf, yaitu: a) kezuhudan orang-orang awam dalam peringkat pertama; b)
kezuhudan orang-orang khusus (al-Khawwash) dalam peringkat kedua adalah
kezuhudan dalam kezuhudan. Ini berarti berubahnya kegembiraan dari perolehan
kezuhudan yang menjadi tiang penyangga kegembiraan, kehendak sang hamba, dan
nafs-nya yang dipengaruhi dengan kebahagiaan akhirat. Dengan fana
kehendaknya sendiri dalam kehendak Allah, makna ini menjadi kenyataan; c)
kezuhudan orang-orang khusus di kalangan kaum khusus (khawwash al-khawwash)
dalam peringkat ketiga, yakni kezuhudan bersama Allah. Ini hanyalah khusus

52
Abudin Nata, Akhlak Tasawuf..., hlm. 195.
53
Abdul Qadir Isa, Haqaiq at-Tashawwuf.... hlm. 241.
54
Abdul Qadir Isa, Haqaiq at-Tashawwuf.... hlm. 242.
12
diperuntukkan bagi para nabi dan manusia suci, dan berda di dunia sesudah fana
kehendaknya sendiri oleh kehendak Allah.55
Untuk menjauhi dunia yang fana dan menginginkan kebahagiaan dalam
kehidupan abadi di akhirat, seorang yang melakukan kezuhudan (zahid)
meminjamkan amal perbuatan pada landasan yang tangguh dan kukuh (yakni,
kehendak Allah).56
Berbicara tentang zahid, menurut Syeikh Zaruq berkata, Seorang zahid
memiliki keistimewaan karena tiga alasan. Pertama, ada ketenangan hati dari
segala kesibukan dan masalah. Kedua, karena dia menyaksikan keseriusan dalam
cinta. Cinta dunia tidak akan dapat ditinggalkan kecuali karena sesuatu yang lebih
menarik darinya. Nabi saw bersabda, sedekah adalah petunjuk. Yakni petunjuk
kecintaan seorang hamba kepada Tuhannya. Ketiga, dia menujukkan makrifatnya
kepada Allah dan percaya pada-Nya, karena penghirauan dunia merupakan tanda
percaya pada Tuhan dan memelihara dunia menjadi tanda sangkaan buruk kepada
Tuhan. 57
4. Al-Faqr
Secara harfiah, fakir biasanya diartikan sebagai orang yang berhajat, butuh
atau orang miskin. Sedangkan dalam pandangan sufi, fakir adalah tidak meminta
lebih dari apa yang telah ada pada diri kita. Tidak meminta rezeki kecuali hanya
untuk dapat menjalankan kewajiban-kewajiban. Tidak meminta sungguhpun tak
ada pada diri kita, kalau diberi diterima. Tidak meminta tetapi tidak menolak. 58
Ada macam-macam interpertasi tentang maqam faqr ini. Ada yang
menginterpretasikan faqr sebagai kondisi seseorang yang tidak membutuhkan
apapun selain Tuhan, dan itu ditandai dengan tidak adanya harta benda. Ada lagi
yang menafsirkan bahwa faqr adalah jika tidak ada lagi sesuatu pun yang tersisa
dari apa yang pernah dimiliki. Kemudian, masih ada juga interpretasi yang
mengatakan bahwa faqr adalah kemiskinan spiritual, dan masih ada interpretasi-
interpretasi lainnya.59 Pandangan lain terkait pengertian faqr dikemukanan oleh
Said Aqil Siroj, bahwa faqr adalah sebuah sikap spiritual yang memandang bahwa
kita tidak merasa memiliki apa-apa; semuanya milik Allah. Sampai terhadap diri
kita sendiri pun, kita tidak merasa memiliki. Sebagaimana firman Allah,
) : (

Dan Allah-lah yang Mahakaya sedangkan kamulah orang-orang yang
membutuhkan (Nya).60
Pembahasan tentang faqr, ada beberapa golongan orang-orang fakir
(fuqara), yaitu:

55
Syaikh Syihabuddin Umar Suhrawardi, Awarif al-Maarif: Sebuah Buku Daras Klasik Tasawuf.
Terjemah oleh Ilma Nugrahani Ismail (Bandung: Pustaka Hidayah, 1998), hlm. 163-164.
56
Syaikh Syihabuddin Umar Suhrawardi, Awarif al-Maarif..., hlm. 163-164.
57
Ahmad bin Muhammad bin Ajibah al-Hasani, Iqazh al-Himam fi Syarh al-Hikam. Diterjemahkan
oleh Abdul Halim, Lebih Dekat kepada Allah: Jangan Asal Beriman, (Bandung: Pustaka Hidayah, 2007), hlm.
147.
58
Abudin Nata, Akhlak Tasawuf..., hlm. 200.
59
Moenir Nahrowi Tohir, Menjelajahi Eksistensi TASAWUF Meniti Jalan Menuju Tuhan...., hlm. 97.
60
Said Aqil Siroj, Tasawuf Sebagai Kritik Sosial.... hlm. 95.
13
a. Mereka yang memandang dunia dan hartanya sebagai bukan kekayaan. Jika
mereka mampu memperolehnya, maka mereka memberikannya kepada orang
lain; sebab, mereka tidak menginginkannya dalam kehidupan dunia ini dan
akhirat nanti;
b. Mereka yang tidak memperhatikan amal-amal dan ibadahnya sendiri,
meskipun dari mereka semuanya itu bersumber dari mereka mereka tidak
mengetahui kekayaannya sendiri; dan tidak mengharapkan ganjaran apa pun;
c. Mereka yang; dengan dua kualitas atau sifat ini, tidak memandang hal dan
maqam mereka sendiri sebagai anugerah Allah;
d. Mereka yang tidak menganggap dzat dan eksistensi mereka sendiri sebagai
sebagai milik mereka dan amal mereka tidaklah ada dan bukan apa-apa.
Mereka tidak meninggalkan apa-apa di dunia dan di akhirat.61
5. Al-Shabr
Secara harfiah, sabar berarti tabah hati.62 Menurut Zun al-Nun al-Mishry,
sabar artinya menjauhkan diri dari hal-hal yang bertentangan dengan kehendak
Allah, tetapi tenang ketika mendapat cobaan, dan menampakkan sikap cukup
walaupun sebenarnya berada dalam kefakiran dalam bidang ekonomi. Selanjutnya
Ibn Atha mengatakan sabar artinya tetap tabah dalam menghadapi cobaan dengan
sikap yang baik. Dan pendapat lain mengatakan sabar berarti menghilangkan rasa
mendapatkan cobaan tanpa menunjukkan rasa kesal. Ibnu Usman al-Hairi
mengatakan, sabar adalah orang yang mampu memasung dirinya atas segala
sesuatu yang kurang menyenangkan.63
Di kalangan para sufi, sabar diartikan dalam mejalankan perintah-perintah
Allah, dalam menjauhi segala larangan-larangan-Nya dan dalam menerima segala
percobaan-percobaan yang ditimpakan-Nya pada diri kita. sabar dalam menunggu
datangnya pertolongan Tuhan. Sabar dalam menjalani cobaan dan tidak menunggu-
nunggu datangnya pertolongan.64
Sikap sabar sangat dianjurkan dalam ajaran al-Quran. Allah swt
berfirman dalam surah al-Ahqaf ayat 35, Maka bersabarlah kamu seperti orang-
orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul dan janganlah kamu
meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Dalam ayat lain, Allah swt juga
berfirman, Bersabarlah dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan
pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka
dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan
(Q.S. al-Nahl: 127).
Menurut Ali bin Abi Thalib, bahwa sabar itu adalah bagian dari iman
sebagaimana kepala yang kedudukannya lebih tinggi dari jasad. Hal ini
menunjukkan bahwa sabar sangat memegang peranan penting dalam kehidupan
manusia.65

61
Syaikh Syihabuddin Umar Suhrawardi, Awarif al-Maarif..., hlm. 166.
62
Abudin Nata, Akhlak Tasawuf..., hlm. 200.
63
Abudin Nata, Akhlak Tasawuf..., hlm. 200.
64
Abudin Nata, Akhlak Tasawuf..., hlm. 201.
65
Abudin Nata, Akhlak Tasawuf..., hlm. 201.
14
Para ulama telah membagi sabar dengan pembagian yang beranekaragam.
Dan semuanya bermuara kepada tiga macam, yakni sabar dalam menjalankan
ketaatan, sabar terhadap maksiat dan sabar dalam menghadapi musibah.
Sabar dalam menjalankan ketaantan adalah sikap istiqamah dalam
menjalankan syariat Allah; membiasakan diri untuk senantiasa menjalankan segala
macam ibadah, baik yang berkaitan dengan harta, jasmani, maupun hati;
meneruskan amar makruf nahi mungkar; dan bersabar dalam menjalankan semua
itu terhadap beraneka macam ujian dan cobaan. Sebab, siapa saja yang mewarisi
dakwah dan perjuangan Nabi Muhammad saw., pasti dia akan ditimpa cobaan
sebagaimana cobaan yang menimpa beliau, seperti pendustaan, serangan dan
gangguan.66
Adapun sabar terhadap maksiat adalah dengan melakukan perjuangan
melawan hawa nafsu, memerangi penyelewengan jiwa, meluruskan
kebengkokannya dan mengekang pendorong-pendorong kejahatan dan kerusakan
yang dibisikkan oleh setan ke dalamnya. Apabila seseorang telah berjuang
melawan hawa nafsunya, mensucikannya dan mengembalikannya dari
kesesatannya, maka dia akan sampai kepada hidayah yang sempurna.67
Sedangkan sabar dalam menghadapi musibah adalah dengan menyadari
bahwa dunia ini adalah tempat ujian dan cobaan. Allah akan menguji iman hamba-
Nya dengan beraneka ragam musibah, sebab Dialah yang lebih tau tentangnya. Dan
Allah akan menyaring kaum mukminin dengan beragam cobaan untuk memisahkan
yang baik dari yang buruk, yang beriman dari yang munafik.68
6. Al-Tawakkal
Tawakkal dapat dikatakan sebagai hasil dari sikap sabar. Sehingga bila
sudah mampu ditegakan, otomatis dia juga seorang yang tawakkal. 69 Tawakkal
memiliki makna berserah diri, yakni salah satu sifat mulia yang harus ada pada diri
ahli sufi.70 Ada macam-macam definisi tawakkal menurut para ahli, yaitu menurut
Sayid berkata bahwa tawakkal adalah percaya sepenuh hati terhadap apa-apa yang
ada pada Allah, dan putus asa terhadap apa-apa yang ada pada manusia.71
Sedangkan Ibnu Ujaibah mengatakan bahwa tawakkal adalah kepercayaan
hati terhadap Allah, sampai dia tidak bergantung kepada sesuatu selain-Nya.
Dengan kata lain, tawakal adalah bergantung dan bertumpu kepada Allah dalam
segala sesuatu, berdasarkan pengetahuan bahwa Dia Maha Mengetahui segala
sesuatu. Selain itu, tawakal juga menuntut subyek untuk melebihkan semua yang
ada dalam kekuasaan Allah lebih dipercaya daripada yang di tangan subyek. Ada
kata lain mengatakan bahwa tawakkal merupakan engkau mencukupkan diri

66
Abdul Qadir Isa, Haqaiq at-Tashawwuf.... hlm. 226.
67
Abdul Qadir Isa, Haqaiq at-Tashawwuf.... hlm. 226.
68
Abdul Qadir Isa, Haqaiq at-Tashawwuf.... hlm. 226.
69
Moenir Nahrowi Tohir, Menjelajahi Eksistensi TASAWUF Meniti Jalan Menuju Tuhan...., hlm.
100.
70
Syekh Abdul Qodir al-Jailani, Sirr al-Asrar Fi Ma Yahtaj Ilayh al-Abrar. Diterjemahkan oleh
Abdul Majid Hj. Khatib, Rahasia di atas Rahasia Menjadi Kekasih Allah, (Jogjakarta: Diva Press, 2010), hlm.
301
71
Abdul Qadir Isa, Haqaiq at-Tashawwuf.... hlm. 261.
15
dengan pengetahuan Allah tentang dirimu, dari ketergantungan hatimu kepada
selain Dia, dan engkau mengembalikan segala sesuatu hanya kepada Allah swt.72
Jadi, tawakkal kepada Allah adalah menyerahkan segala sesuatu kepada-
Nya, bergantung dalam semua keadaan kepada-Nya, dan yakin bahwa segala
kekuatan dan kekuasaan hanyalah milik-Nya. Oleh karena itu, tidak ada
pertentangan antara tawakkal kepada Allah dan antara bekerja serta berusaha.
Tempat tawakal adalah hati, sedangkan tempat berusaha dan bekerja adalah badan.
Bagaimana seorang mukmin meninggalkan usaha setelah Allah memerintahkannya
dalam ayat-ayat yang mulia dan Rasulullah saw. menganjurkannya dalam banyak
hadits.73
Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw. dengan mengendarai
unta, lalu berkata,



Wahai Rasulullah, apakah aku boleh melepaskan untaku, lalu aku
bertawakal? Rasulullah saw. menjawab, ikatlah dia (terlebih dahulu), lalu
bertawak. (H.R. Tirmidzi)
Oleh karena itu, para ulama beranggapan bahwa tidak pekerja atau tidak
berusaha adalah kemalasan yang tidak sesuai dengan jiwa Islam. Para sufi juga
menekankan hal ini, sebagai bentuk pelurusan pemikiran, jawaban atas berbagai
keraguan dan penjelasan kepada masyarakat bahwa tasawuf adalah pemahaman
yang hakiki terhadap Islam. Al-Ghazali berkata orang-orang yang bodoh
menyangka bahwa syarat tawakal adalah meninggalkan usaha dan pengobatan,
serta menyerah pada semua yang hancurkan. Hal ini merupakan kesalahan, karena
semua itu diharapkan oleh syariat. Syariat telah memuji tawakal dan
mengharuskannya. Maka bagaimana bisa tawakal diterima jika dia berkaitan
dengan hal-hal yang dilarang?.74
Bertawakkal termasuk perbuatan yang diperintahkan oleh Allah. Dalam
firman-Nya, Allah menyatakan, ... dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang
beriman bertawak (Q.S. At-Taubah: 51) dan Dan bertawakkal kepada Allah, dan
hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakkal (Q.S. al-
Maidah:11).75
Dalam hal tawakal, manusia mempunyai beberapa tingkatan. Sebab,
sebagaimana maqam-maqam perjalanan menuju Allah lainnya, tawakal juga
memiliki tingkatan-tingkatan. Seorang mukmin meneliti tangga-tangga tawakal
sesuai dengan tingkatan makrifatnya. Abu Laits Samarqandi berpendapat bahwa
tawakkal terbagi menjadi dua, yaitu: pertama, tawakkal tentang rizki, maka tidak
boleh gelisah, prihatin di dalamnya; kedua, tawakkal tentang pahala amal, harus
percaya dan tenang pada janji Allah, dan khawatir terhadap amalnya, apakah
diterima atau tidak, kau belum tahu persis untuk masalahnya.76

72
Abdul Qadir Isa, Haqaiq at-Tashawwuf.... hlm. 261-262.
73
Abdul Qadir Isa, Haqaiq at-Tashawwuf.... hlm. 262.
74
Abdul Qadir Isa, Haqaiq at-Tashawwuf.... hlm. 262.
75
Abudin Nata, Akhlak..., hlm. 202-203.
76
Abu Laits Samarqandi, Tanbihul Ghafilin. Diterjemahkan oleh Abu Imam Taqyuddin, Pembangun
Jiwa dan Moral Umat, (Surabaya: Mutiara Ilmu), hlm. 464
16
Imam al-Ghazali dan Ibnu Ujaibah mengutarakan pendapat yang berbeda
dari Abu Laits Samarqandi mengenai pembagian tawakal, beliau berdua
berpendapat bahwa tawakal dibagi menjadi tiga tingkatan: pertama, tingkatan yang
paling rendah, yaitu engkau bersama Allah, sebagaimana sikapnya kepada orang
yang dipercaya sebagai wakilnya. Kedua, tingkatan pertengahan, yaitu engkau
bersama Allah, sebagaimana halnya seorang anak bersama ibunya. Seorang anak
tidak akan mencurahkan segala urusannya kecuali kepada ibunya.77 Ketiga, tingkat
yang paling tinggi, yaitu engkau bersama Allah, sebagaimana halnya orang yang
sakit di hadapan dokternya.78 Pada tingkat ini, Syeikh Nawawi memberikan
pendapat bahwa tawakal tingkat ketiga adalah segala gerak dan diamnya di depan
Allah sebagaimana mayat di depan orang yang memandikannya. Ia tak akan
meninggalkan tawakkal, kecuali dirinya sebagai mayat. Yang menggerakkan
adalah kemampuan azali (masa yang tak ada permulaannya) sebagaimana tangan
orang yang akan memandikan menggerakkannya. Orang yang tawakkal seperti ini
adalah orang yang imannya kuat, bahwa Allah swt. adalah Dzat yang mengatur
gerakan itu. Tingkat ketiga ini adalah tingkatan tinggi dan tingkatan pertama adalah
tingkatan terendah.79
7. Al-Ridha
Ada sebuah ulama yang berpendapat bahwa ridha itu termasuk dalam
struktur ahwal dan bukan maqamat, karena ridha tidak bersifat kasbi (diupayakan).
Tapi yang jelas ridha adalah anugerah dari Allah karena orang mampu bersikap
tawakkal.80
Secara harfiah ridha artinya rela, suka, senang. Shurawardi mengatakan
bahwa ridha berarti mengangkat (dan menghilangkan) kebencian pada qadha dan
qadr; dan memandang kepahitan dalam berbagai ketentuannya sebagai terasa
manis. Sesudah melewati tahapan-tahapan tawakkul (mempercayakan segala
urusan kepada Allah), tahap berikutnya adalah ridha. Menerima qadha dan qadr
dengan hati senang. Mengeluarkan perasaan benci dari hati sehingga yang tinggal
di dalamnya hanya perasaan senang dan gembira. Merasa senang menerima
malapetaka sebagaimana merasa senang menerima nikmat. Tidak meminta surga
dari Allah dan tidak meminta dijauhkan dari neraka. Tidak berusaha sebelum
turunnya qadha dan qadr, tidak merasa pahit dan sakit sesudah turunnya qadha
dan qadr, malahan perasaan cinta bergelora di waktu turunnya bala (cobaan yang
berat).81
Manusia biasanya merasa sukar menerima keadaan-keadaan yang biasa
menimpa dirinya, seperti kemiskinan, kerugian, kehilangan barang, pangkat dan
77
Bila si bayi melihat ibunya, ia akan langsung bergelayun kepadanya. Bila ia mengalami sesuatu
ketika ibunya tidak ada, yang serta merta terucap di mulutnya adalah oh ibu, dan yang serta merta muncul di
dalam hatinya adalah bayangan ibunya. Anak itu betul-betul telah percaya penuh pada tanggung jawab dan
kasih sayang ibunya. Lihat pada Syaikh Nawawi bin Umar, Qomiuth Thughyan Ala Manzhumati Syuabil
Iman. Diterjemahkan oleh A. Maruf Asrori & A. Labib Asrori, Menjadi Mukmin Sejati, (Surabaya: al-Miftah,
1996), hlm. 13
78
Abdul Qadir Isa, Haqaiq at-Tashawwuf.... hlm. 265-266.
79
Syaikh Nawawi bin Umar, Qomiuth Thughyan Ala Manzhumati Syuabil Iman...., hlm. 13-14.
80
Moenir Nahrowi Tohir, Menjelajahi Eksistensi TASAWUF Meniti Jalan Menuju Tuhan...., hlm.
100.
81
Abudin Nata, Akhlak Tasawuf..., hlm. 203.
17
kedudukan, kematian dan lain-lain yang dapat mengurangi kesenangannya. Yang
dapat bertahan dari berabagai cobaan itu hanyalah orang-orang yang telah memiliki
sifat ridha. Selain itu ia juga rela berjuang atas jalan Allah, rela menghadapi segala
kesukaran, rela membela kebenaran, rela berkorban harta, jiwa dan lainnya. Semua
itu bagi sufi dipandang sebagai sifat-sifat yang terpuji dan akhlak yang bernilai
tinggi bahkan dianggap sebagai ibdat semat-mata karena mengharapkan keridhaan
Allah. Dalam hadits Qudsi, Nabi Muhammad menegaskan, Sesungguhnya Aku ini
Allah, tiada Tuhan selain Aku. Barang siapa yang tidak bersabar atas cobaan-Ku,
tidak bersyukur atas segala nikmat-Ku serta tidak rela terhadap keputusan-Ku,
maka hendaknya ia keluar dari kolong langit dan cari Tuhan selain Aku.82
Dzunnun al-Mishri berpendapat bahwa ridha adalah menerima tawakkal
dengan keikhlasan hati. Tanda-tanda ridha adalah dia menerima hasil dari segala
sesuatu yang dia upayakan dengan ikhlas dan sabar sebelum datang ketentuan, dan
tidak merasa cemas serta resah setelah datangnya ketentuan.83
Ada beberapa syubhat dalam permasalah ridha yang diungkapkan oleh
sebagian orang yang bodoh. Penyebabnya tidak lain adalah kebodohan mereka
sendiri dan ketidak mampuan mereka untuk merasakan maqam yang mulia ini. Dan
manusia adalah musuh dari apa yang tidak dia ketahui. Di bawah ini, ada beberapa
keraguan dan ketidakbenaran tentang maqam ridha, diantaranya sebagai berikut.84
Pertama,85 sekelompok orang menolak keberadaan ridha dari sumbernya,
dengan mengatakan bahwa ridha terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan hawa
nafsu tidak mungkin terjadi. Yang mungkin terjadi hanyalah sabar saja. Apakah
masuk akal, seseorang tidak merasakan sakitnya musibah atau pedihnya
kesusahan?
Bantahannya adalah bahwa orang yang ridha terhadap cobaan dan
musibah yang menimpanya sebenarnya merasakan apa yang dirasakan oleh
manusia pada umumnya. Akan tetapi, dia ridha dengan akal dan imannya, karena
dia menyakini besarnya pahala dan balasan atas cobaan dan musibah tersebut. Oleh
karena itu, dia tidak menolaknya dan tidak gelisah.
Permisalannya adalah seperti seorang pasien yang merasakan sakitnya
suntikan dan beratnya terapi. Akan terapi, dia rela menerimanya karena dia
mengetahui bahwa itu merupakan penyebab kesembuhannya. Sehingga, dia akan
senang terhadap orang yang memberikan obat kepadanya, sekalipun obat tersebut
rasanya pahit dan baunya tidak enak.
Kedua, sekolompok orang terlalu cepat mengatkan bahwa ridha akan
mewariskan pada hati orang-orang mukmin sikap menerima perbuatan orang-orang
fasik dan menganggap baik soal kondisi para pelaku maksiat. Dan akhirnya, ini
akan menyebabkan hilangnya amar makruf nahi mungkar.
Bantahannya adalah bahwa pemahaman ini merupakan kesalahan yang
jelas dan kebodohan yang nyata. Apakah masuk akal, seorang mukmin

82
Abudin Nata, Akhlak Tasawuf..., hlm. 204.
83
Moenir Nahrowi Tohir, Menjelajahi Eksistensi TASAWUF Meniti Jalan Menuju Tuhan...., hlm.
100.
84
Abdul Qadir Isa, Haqaiq at-Tashawwuf.... hlm. 257.
85
Abdul Qadir Isa, Haqaiq at-Tashawwuf.... hlm. 256.
18
menghancurkan salah satu hukum Allah dan salah satu rukun yang menjadi
penopang agama-Nya, yaitu amar maruf nahi mungkar, padahal kita mengetahui
bahwa Allah tidak akan ridha terhadap seorang mukmin kecuali jika dia
menegakkan agama-Nya dan mengikuti syariat-Nya.
Sebenarnya tidak ada pertentangan antara menerima semua keputusan
Allah dan menolak kemungkaran. Seorang mukmin akan menerima semua
perbuatan Allah, karena semua itu berasal dari Dzat Yang Mahabijaksana dan
Maha Mengetahui; dan dia tidak ridha atas perbuatan para pelaku maksiat, karena
hal itu adalah sifat dan pekerjaan mereka, dan karena hal itu merupakan bukti
bahwa mereka adalah orang-orang yang dibenci oleh Allah.
Ketiga, sekolompok orang mempunyai anggapan yang salah, yaitu bahwa
salah satu akibat dari ridha terhadap Allah adalah, manusiaakan meninggalakn doa,
mengabaikan usah-usaha yang dapt mendatangkan kebaikan dan menolak bala,
serta menjauhi penggunaan obat ketika terserang penyakit.
Bantahannya adalah bahwa itu merupakan pemahaman yang tidak benar.
Sebab, pada hakikatnya, di antara bagian ridha terhadap Allah adalah bahwa
seorang mukmin harus melakukan usaha-usahan yang bisa menghantarkannya
kepada ridha Kekasihnya. Disamping itu, dia juga lurus menghilangkan apa-apa
yang menyingkan dari perintah-Nya dan dapat menhalami ridha-Nya.
E. Kesimpulan
Dari uraian tentang konsep maqomat tersebut, pemakalah menyimpulkan
sebagai berikut.
Pertama, Maqamat adalah tahapan spiritual seorang hamba dalam wushul
kepada-Nya dengan macam upaya, di-wujud-kan dengan suatu tujuan pencarian dan
ukuran tugas. Masing-masing berada dalam tahapannya sendiri ketika dalam kondisi
tersebut, serta tingkah laku riyadhah menuju kepada-Nya. maqam adalah tingkatan
kedekatan seorang hamba kepada Allah swt yang diraih dengan cara menempuh jalan
spiritual melalui pensucian hati & jiwa, dan peningkatan kualitas keimanan & ibadah.
Kedua, Indikator (atau yang disebut sebagai ciri-ciri) maqamat yaitu cara
mencapainya harus dengan upaya dan atau diupayakan, jumlah maqamat terbatas,
waktu yang dibutuhkan untuk mencapainya relatif lama, dan status/struktunya
berjenjang atau bertahap.
Ketiga, struktur maqamat terdiri dari: yaitu al-taubah, al-wara, al-zuhud, al-
faqr, al-shabr, al-tawakkal, dan al-ridla. At-Taubah merupakan tingkat pertama di
antara tingkat-tingkat yang dialami oleh para Sufi dan tahapan pertama di antara
tahapan-tahapan yang dicapai oleh penempuh jalan Allah (salik). Tobat adalah kembali
dari sesuatu yang dicela oleh syara menuju sesuatu yang dipuji oleh-Nya. Al-Wara
adalah suatu sikap kehati-hatian dalam mengambil sesuatu, tidak mengambil sesuatu
yang belum jelas hukumnya (halal atau haram) dan meninggalkan berbagai hal yang
diperbolehkan tetapi dianggap tidak bermanfaat atau tidak penting. Al-zuhud
merupakan sikap berpaling dari dunia dan gemerlapnya, dan menfokuskan diri (hati,
fikiran, dan perbuatan) kepada Allah swt serta mengabdikan hidupnya kepada Allah swt
baik ibadah mahdoh maupun ghairu mahdoh. Al-faqr biasanya diartikan sebagai orang
yang berhajat, butuh atau orang miskin. Sedangkan dalam pandangan sufi, fakir adalah

19
tidak meminta lebih dari apa yang telah ada pada diri kita. Tidak meminta rezeki
kecuali hanya untuk dapat menjalankan kewajiban-kewajiban. Al-Shabr diartikan dalam
mejalankan perintah-perintah Allah, dalam menjauhi segala larangan-larangan-Nya dan
dalam menerima segala percobaan-percobaan yang ditimpakan-Nya pada diri kita. Al-
Tawakkal kepada Allah adalah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya, bergantung
dalam semua keadaan kepada-Nya, dan yakin bahwa segala kekuatan dan kekuasaan
hanyalah milik-Nya. Al-Ridla berarti mengangkat (dan menghilangkan) kebencian pada
qadha dan qadr; dan memandang kepahitan dalam berbagai ketentuannya sebagai
terasa manis.
F. Daftar Pustaka
al-Hasani, A. b. (2007). Iqazh al-Himam fi Syarh al-Hikam. Diterjemahkan oleh Abdul
Halim, Lebih Dekat kepada Allah: Jangan Asal Beriman. Bandung: Pustaka
Hidayah.
al-Jailani, S. A. (2010). Sirr al-Asrar Fi Ma Yahtaj Ilayh al-Abrar. diterjemahkan oleh
Abdul Majid Hj. Khatib, Rahasia di atas Rahasia Menjadi Kekasih Allah.
Jogjakarta: Diva Press.
al-Qusyairy, A. Q. (1999). Ar-Risalatul Qusyairiyyah fi Ilmi at-Tashawwufi. terjemah
oleh Muhammad Luqman Hakiem, Risalatul Qusyairiyyah: Induk Ilmu Tasawuf.
Surabaya: Risalah Gusti.
Baiquni, M. N. (2001). Khazanah Istilah Sufi: Kunci Memasuki Dunia Tasawuf`.
Jakarzakat: Mizan.
Isa, A. Q. (2010). Haqa'iq at-Tashawwuf. terjemah oleh Kairul Amru Harahap dan
Afrizal Lubis, Hakekat Tasawwuf. Jakarta: Qisthi Press.
Jamil, M. (2004). Cakrawala Tasawuf: Sejarah, Pemikiran & Kontekstualitas. Gaung
Persada Press.
Ni'am, S. (2001). Cinta Ilahi: Perspektif Rabi'ah al-Adawiyah dan Jalaluddin Rumi.
Surabaya: Risalah.
Samarqandi, A. L. (t.thn.). Tanbihul Ghafilin. Diterjemahkan oleh Abu Imam
Taqyuddin, Pembangun Jiwa dan Moral Umat,. Surabaya: Mutiara Ilmu.
Siregar, A. R. (2002). Tasawuf: Dari Sufisme Klasik ke Neo-Sufisme. Jakarta: PT
RajaGrafindo.
Siroj, S. A. (2007). Tasawuf Sebagai Kritik Sosial. Bandung: Mizan.
Suhrawardi, S. U. (1998). Awarif al-Ma'arif: Sebuah Buku Daras Klasik Tasawuf/
Syeikh Syihabuddin Umar Suhrawardi; penerjemah oleh Ilma Nugrahani Ismail.
Bandung: Pustaka Hidayah.
Asnawiyah, Maqam dan Ahwal: Makna dan Hakikatnya dalam Pendakian Menuju
Tuhan. Jurnal Subtansia, UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Vol. 16 No. 1 April 2014.
Ibnu Farhan, Konsep Maqamat dan Ahwal dalam Perspektif para Sufi. Jurnal Yaqzhan,
IAI Bunga Bangsa Cirebon, Vol. 2, No. 2 Desember 2012.

20