Anda di halaman 1dari 37

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Minyak Bumi


Minyak bumi dalam bahasa inggris petroleum, dari bahasa Latin
petruskarang dan oleum minyak), atau disebut juga sebagai emas hitam,
adalah cairan kental, coklat gelap, atau kehijauan yang mudah terbakar yang
berada di lapisan atas dari beberapa area kerak bumi. Minyak bumi terdiri dari
campuran kompleks dari berbagai hidrokarbon, sebagian besar meruapakan
deret senyawa alkana, bervariasi dalam komposisi dan kemurniannya. Minyak
bumi erat kaitannya dengan produk-produk petrokimia. Hal ini disebabkan
dalam minyak bumi terkandung bahan-bahan selain karbon, yaitu hidrogen
sulfur, nitrogen, oksigen, dan lain-lain. (Risdiyanta, 2002)
Pada awalnya, minyak bumi banyak dimanfaatkan sebagai minyak tanah,
namun seiring dengan perkembangan teknologi maka minyak bumi diolah
menjadi bahan lain yang sangat berguna bagi manusia seperti bahan bakar
(bensin, solar, kerosin, minyak diesel, dll.) yang lebih dikenal dengan sebutan
BBM (bahan bakar minyak). Minyak bumi bersumber dari cadangan alam yang
tidak dapat diperbaharui, sehingga makin hari cadangannya makin menipis
sejalan dengan tuntutan kebutuhan energi dunia yang semakin meningkat.
(Risdiyanta, 2002)

Tabel 2.1. Komposisi Kimia Minyak Bumi


Unsur Gas Bumi Aspal Minyak Mentah
Karbon 65 - 80 80 - 85 82,2 87,1 83 87
Hidrogen 1 - 25 8,5 - 11 11,7 14,7 11 25
Belerang 0 0,2 2-8 0,1 5,5 06
Nitrogen 1 - 15 0-2 0,1 1,5 0 0,7
Oksigen - - 0,1 4,5 0 0,5
Logam - - - 0, - 0,1
(Risdiyanta, 2002)
Sebagai bahan alami, komposisi minyak bumi bervariasi tidak hanya
dari daerah ke daerah, melainkan juga lapangan yang satu ke lapangan yang
lain dalam satu daerah. Minyak bumi terdiri dari ribuan senyawa kimia
termasuk gas, cairan dan zat padat mulai dari metana sampai aspal.

a. nparafin: merupakan fraksi utama dari minyak mentah yang dihasilkan dari
straight-destilation, di mana senyawa yang dihasilkan mempunyai bilangan
oktan rendah.
b. Isoparafin: Senyawa yang mempunyai rantai cabang sangat sedikit, namun
jumlah isoparafinnya dapat ditingkatkan melalui proses perengkahan
katalitik, alkilasi, iso merasi dan polimerisasi.
c. Olefin: senyawa olefin hampir tidak terdapat dalam minyak mentah tetapi
proses perengkahan katalitik akan menghasilkan senyawa ini. Senyawa
olefin tidak stabil dan digunakan sebagai bahan baku untuk zat petrokimia.
d. Aromatik. Minyak bumi sangat sedikit mengandung senyawa aromatik
yang sangat dibutuhkan pada bensin sebagai bahan anti-knocking
e. Nafta: merupakan senyawa siklis yang jenuh dan tidak reaktif, yang
merupakan senyawa kedua terbanyak dalam minyak bumi. Senyawa ini
memiliki berat molekul yang rendah dan digunakan sebagai bahan bakar,
sedangkan senyawa nafta yang memiliki berat molekul yang tinggi terdapat
pada fraksi gas oil dan minyak pelumas.
f. Senyawa belerang: merupakan senyawa yang berbau dan dapat
menimbulkan korosi, namun kadang-kadang senyawa ini terkandung dalam
jumlah sedikit sehingga dapat diabaikan. (W.L. Nelson, 1969)

2.1.1. Komposisi Minyak Bumi


Campuran minyak bumi dikelompokkan sebagai berikut:
a. Senyawa hidrokarbon (senyawa yang terbentuk dari karbon dan
hidrogen).
b. Senyawa non-hidrokarbon.
c. 3. Senyawa organometalik dan garam inorganik (senyawa metalik).
Senyawa Hidrokarbon Komponen utama dari kebanyakan
minyak bumi adalah senyawa hidrokarbon. Semua kelas hidrokarbon
terdapat dalam minyak bumi, kecuali alkena dan alkina. Ini mungkin
mengisyaratkan bahwa minyak bumi berasal dari atmosfer yang
berkurang. Berikut ini adalah uraian ringkas kelas hidrokarbon yang
ditemukan dalam minyak bumi. Alkana (Parafin) Alkana adalah
hidrokarbon jenuh dengan formula umum CnH2n+2. Alkana paling
sederhana adalah metana (CH4), yang merupakan komponen utama gas
alam. Metana, etana, propana, dan butana adalah gas-gas hidrokarbon
pada temperatur kamar dan tekanan atmosfer. Mereka biasa ditemukan
bersama minyak bumi dalam keadaan terlarut. Alkana normal (n-
alkana, n-parafin) adalah hidrokarbon rantai-lurus tanpa cabang.
Alkana bercabang merupakan hidrokarbon jenuh dengan satu gugus
alkil atau satu cabang samping pada cabang utamanya. (W.L. Nelson,
1969)

2.1.1.1.Sikloparafin (Naftena)
Hidrokarbon melingkar jenuh biasanya disebut dengan
naftena, adalah juga bagian dari komponen hidrokarbon dalam
minyak bumi. Namun, perbandingannya tergantung pada jenis
minyaknya. Anggota naftena rendah adalah siklopentana,
sikloheksana, dan senyawa mono-substitusinya. Mereka
biasanya ada dalam fraksi nafta ringan dan berat. Sikloheksana,
siklopentana tersubstitusi, dan sikloheksana tersubstitusi
merupakan pemicu penting untuk pembuatan hidrokarbon
aromatik.

Gambar 2.1. Sikloparafin (Naftena)


Contoh di atas memperlihatkan tiga naftena khusus yang
penting. Jika suatu fraksi nafta berisi senyawa ini, dua yang
pertama dapat diubah menjadi benzena, dan senyawa terakhir
dapat dihidrogenasi menjadi toluena melalui pemrosesan
tertentu (lihat Xilena nanti di bagian ini). Fraksi petroleum
lebih berat seperti minyak-tanah (kerosine) dan solar mungkin
mengandung dua atau beberapa cincin sikloheksana yang
berikatan pada dua karbon vicinalnya. (Hardjono,A.2001)

2.1.1.2.Senyawa Aromatik
Anggota senyawa aromatik rendah terkandung dalam
jumlah sedikit dalam minyak bumi dan fraksi petroleum ringan.
Senyawa aromatik berinti tunggal paling sederhana adalah
benzena (C6H6). Toluena (C7H8) dan xilena (C8H10) adalah juga
senyawa aromatik berinti tunggal yang didapati dalam jumlah
bervariasi dalam minyak bumi. Benzena, toluena, xilena (BTX)
merupakan bahan petrokimia-antara yang penting, juga sebagai
komponen bensin yang penting. Pemisahan aromatic BTX dari
distilat minyak bumi tidaklah layak karena mereka ada dalam
konsentrasi rendah. Memperkaya fraksi nafta dengan aromatik
ini mungkin dilakukan melalui proses reforming katalitik.
Hidrokarbon aromatik berinti dua didapati dalam fraksi lebih
berat dari nafta. Hidrokarbon aromatik berinti tiga dan berinti-
banyak, dalam campurannya dengan senyawa heterosiklik,
merupakan komponen utama dari minyak berat dan residu
minyak. Aspaltena adalah campuran rumit senyawa aromatik
dan heterosiklik. Sifat alami dan struktur beberapa senyawa ini
telah diteliti. Berikut ini adalah contoh beberapa senyawa
aromatik yang ditemukan dalam minyak bumi:
(Hardjono,A.2001)
Gambar 2.2. senyawa aromatic

2.1.1.3.Senyawa Non-hidrokarbon

Berbagai jenis senyawa non-hidrokarbon ada dalam


minyak bumi dan aliran kilang. Yang paling penting adalah
senyawa sulfur organik, nitrogen, dan oksigen. Adanya zat
pengotor ini berakibat merusak dan mungkin menyebabkan
masalah pada proses katalitik tertentu. Bahan bakar yang
mengandung tingkat nitrogen dan sulfur tinggi akan
menimbulkan masalah polusi dan juga masalah karena sifat
korosi dari produk oksidasinya. (Hardjono,A.2001)
2.1.1.4.Senyawa Sulfur
Sulfur dalam minyak bumi terutama ada dalam bentuk senyawa
organosulfur. Hidrogen sulfida adalah satu-satunya senyawa
sulfur inorganik penting yang didapati dalam minyak bumi.
Namun keberadaannya berakibat merusak karena sifat
korosifnya. Senyawa organosulfur bisa secara umum
dikelompokkan sebagai asam dan non-asam. Senyawa sulfur
asam adalah tiol (merkaptan). Tiofena, sulfida-sulfida, dan
disulfida-disulfida adalah contoh senyawa sulfur non-asam yang
didapati dalam fraksi minyak bumi. Penelitian luas telah
dilakukan untuk mengenal beberapa senyawa sulfur dalam fraksi
petroleum ringan sempit. Contoh beberapa senyawa sulfur dari
kedua jenis ini adalah:
(Hardjono,A.2001)
a. Senyawa Sulfur Asam

Gambar 2.3. Senyawa Sulfur Asam


b. Senyawa Sulfur Non-asam

Gambar 2.4. Senyawa Sulfur Non Asam


Minyak bumi asam mengandung persentasi hidrogen
sulfida tinggi. Karena banyak senyawa sulfur organik yang tidak
stabil secara termal, hidrogen sulfida sering dihasilkan saat
pengolahan minyak bumi. Minyak bumi dengan sulfur-tinggi
kurang disukai karena memerlukan pengolahan aliran kilang
yang tersendiri untuk mengambil asam hidrogen sulfida
sehingga akan meningkatkan biaya produksi. Kebanyakan
senyawa sulfur bisa diambil dari aliran petroleum melalui proses
hidrotreament, yang menghasilkan hidrogen sulfida dan
melepaskan hidrokarbon bersangkutan. Hidrogen sulfida
kemudian diserap dengan bahan penyerap tertentu dan diambil
sebagai sulfur. (Nugroho,A.2006)
2.1.1.5.Senyawa Nitrogen
Senyawa nitrogen organik ada dalam minyak bumi baik
dalam bentuk heterosiklik sederhana seperti piridina (C5H5N)
dan pirrola (C4H5N), atau dalam bentuk struktur rumit seperti
porfirin. Kandungan nitrogen dalam kebanyakan minyak bumi
adalah sangat rendah dan tidak melebihi 0,1%-brt. Namun dalam
beberapa minyak bumi berat, kandungan nitrogen bisa mencapai
hingga 0,9%-brt. Senyawa nitrogen secara termal lebih stabil
daripada senyawa sulfur dan karenanya akan terkonsentrasi
dalam fraksi petroleum lebih berat dan residu. Aliran petroleum
ringan mungkin mengandung sedikit sekali senyawa nitrogen,
yang harus juga diambil karena meracuni banyak katalis
pemrosesan. Saat hidrotreatment fraksi petroleum, senyawa
nitrogen didenitrogenasi menjadi ammonia dan hidrokarbon
bersangkutan. (Nugroho,A.2006)
2.1.1.6. Senyawa Oksigen
Senyawa oksigen dalam minyak bumi lebih rumit
daripada senyawa sulfur. Namun, keberadaannya dalam aliran
petroleum tidak meracuni katalis pemroses. Banyak senyawa
oksigen didapati dalam minyak bumi berupa asam lemah. Di
antaranya adalah asam karboksilik, asam kresilik, fenol, dan
asam naftenik. Asam naftenik terutama berupa turunan
siklopentana dan sikloheksana yang memiliki satu rantai-
samping karboksialkil.
Asam naftenik dalam fraksi nafta mempunyai nilai komersial
khusus dan bisa diekstraksi dengan memakai larutan kaustik
encer. Kandungan asam total dari kebanyakan minyak bumi
biasanya rendah, tetapi bisa mencapai hingga 3%,seperti dalam
beberapa minyak bumi California. Senyawa oksigen non-asam
seperti ester, ketona, dan amida berjumlah lebih sedikit daripada
senyawa asam. Senyawa ini tak memiliki nilai komersial.
2.1.1.7.Senyawa Metalik
Banyak logam terdapat dalam minyak bumi. Beberapa
yang biasa didapati dalam jumlah yang sangat banyak adalah
natrium, kalsium, aluminum, besi, vanadium, dan nikel. Logam
ini dapat berbentuk garam inorganik, seperti natrium dan
magnesium klorida, atau dalam bentuk senyawa organometalik,
seperti senyawa nikel dan vanadium (dalam porfirin). Senyawa
ini bertindak sebagai pengemulsi, dan keberadaannya tidak
diingini. Meskipun logam dalam minyak bumi ditemukan dalam
jumlah sangat sedikit, keberadaannya merusak dan harus
diambil. Bila minyak bumi diolah, natrium dan magnesium
klorida akan menghasilkan asam hidroklorik, yang sangat
korosif. Penghilangan garam dalam minyak bumi merupakan
satu tahap yang diperlukan untuk mengurangi garam-garam ini.
Vanadium dan nikel meracuni banyak katalis dan harus
dikurangi hingga tingkat sangat rendah. Kebanyakan senyawa
vanadium dan nikel terkonsentrasi dalam residu berat. Proses
ekstraksi pelarut digunakan untuk mengurangi konsentrasi
logam berat ini dari residu petroleum. (Fatimah.2003)

2.1.2. Sifat-Sifat Minyak Bumi


Minyak bumi sangat beragam dalam sifatnya tergantung dari asal dan
perbandingan komponen berbeda dalam campurannya. Minyak lebih
ringan umumnya menghasilkan lebih banyak distilat ringan dan
medium yang bernilai tinggi sehingga dijual dengan harga lebih tinggi.
Minyak bumi yang mengandung persentasi tinggi zat pengotor, seperti
senyawa sulfur, biasanya kurang disukai daripada minyak mentah
bersulfur-rendah karena sifat karatnya dan biaya pengolahan
tambahannya. Korosifitas minyak bumi merupakan fungsi dari banyak
parameter di antaranya adalah jenis senyawa sulfur dan temperature
penguraiannya, total bilangan asam, jenis asam karboksilik dan naftenik
dalam minyak bumi dan temperatur penguraiannya. Diketahui bahwa
asam naftenik mulai terurai pada 316oC. Pengalaman pengilangan
memperlihatkan bahwa di atas 399oC tidak ada korosi asam naftenik.
Masalah ini telah ditelaah oleh Kane dan Cayard. Bagi pengilangan,
diperlukan adanya kriteria untuk menghubungkan satu minyak bumi
dengan yang lainnya sehingga mutu minyak bumi itu bisa ditentukan
dan skema proses terbaik bisa dipilih. Berikut ini adalah beberapa uji
penting yang dipakai untuk menentukan sifat minyak bumi.
(Sukanto,1986)
2.1.2.1.Densitas, Graviti Spesifik dan Graviti API
Densitas didefenisikan sebagai massa per satuan volume
bahan pada temperatur tertentu. Satuan yang banyak dipakai
dalam industri petroleum adalah graviti spesifik, yaitu
perbandingan berat satu volume bahan terhadap berat air pada
volume sama dan diukur pada temperatur sama. Graviti spesifik
digunakan untuk menghitung massa minyak bumi dan
produknya. Biasanya, minyak bumi dan produk cairnya mula-
mula diukur pada suatu basis volume, kemudian diubah menurut
masa dengan memakai gravity spesifik. Graviti API (American
Petroleum Institute) adalah cara lain untuk menunjukkan massa
relatif minyak bumi. Graviti API bisa dihitung secara
matematika dengan persamaan berikut:
141,5
API =Gr.sp.60/60 131,5

Graviti API rendah menunjukkan minyak bumi atau produk


petroleum lebih berat, sedangkan graviti API lebih tinggi berarti
minyak bumi atau produk lebih ringan. Graviti spesifik minyak
bumi secara kasar berada dalam rentang 0,82 untuk minyak bumi
lebih ringan hingga 1,0 untuk minyak bumi lebih berat (skala
o
API 41 - 10).

2.1.2.2.Kadar Garam
Kandungan garam yang dinyatakan dalam miligram natrium
klorida per liter minyak (atau dalam pound/barrel) menunjukkan
jumlah garam terlarut dalam air. Air dalam minyak bumi
terutama ada dalam bentuk emulsi. Kandungan garam tinggi
dalam minyak bumi memberikan masalah korosi serius saat
proses pengilangan. Tambahan lagi, kandungan garam tinggi
merupakan penyebab utama mampetnya alat penukar panas dan
pipa pemanas. Kandungan garam lebih tinggi dari 10 lb/1.000
barrel (4,5 kg/159 m3, dinyatakan sebagai NaCl) akan
memerlukan proses penghilangan garam.
2.1.2.3.Kadar Sulfur
Mengetahui kandungan sulfur dalam minyak mentah sangat
penting Karena jumlah sulfur menentukan jenis pengolahan
yang diperlukan untuk distilat itu. Untuk menentukan
kandungan sulfur, beberapa contoh minyak mentah (atau
fraksinya) dibakar dalam aliran udara. Semua senyawa sulfur
akan teroksidasi menjadi sulfur dioksida, yang dioksidasi lebih
lanjut menjadi sulfur trioksida dan akhirnya dititrasi dengan
alkali standar. Penentuan senyawa sulfur dalam minyak bumi
dan produknya hanya sedikit kegunaannya bagi pengilangan
karena semua senyawa sulfur dapat mudah dihidrodesulfurisasi
menjadi hidrogen sulfida dan hidrokarbon bersangkutan.
Namun, kandungan sulfur dalam minyak bumi sangat penting
dan biasanya diperhitungkan dalam penentuan nilai
komersialnya. (Sukarmin,2004)
2.1.2.4.Titik Pour
Titik pour minyak bumi atau produknya adalah temperatur
terendah dari suatu minyak terlihat mengalir pada kondisi
percobaan. Data titik pour menunjukkan jumlah parafin rantai
panjang (lilin petroleum) yang ada dalam minyak bumi. Minyak
bumi parafinik biasanya memiliki kandungan lilin lebih tinggi
daripada jenis minyak bumi lain. Pengolahan dan pengangkutan
minyak bumi dan bahan bakar berat sangat sulit pada temperatur
di bawah titik pournya. Sering, aditif kimia yang bisa
menurunkan titik pour dipakai untuk memperbaiki sifat alir
bahan bakar. n-Parafin rantai-panjang terutama dalam rentang
16-60 atom karbon, bertanggung jawab atas pengendapan pada
temperatur mendekati temperatur-kamar. Pada distilat medium,
kurang dari 1% lilin bisa cukup untuk menyebabkan pemadatan
bahan bakar.
2.1.2.5.Kadar Abu
Uji ini memperlihatkan jumlah zat metalik dalam minyak bumi.
Abu tertinggal setelah pembakaran contoh minyak biasanya
mengandung garam metalik stabil, oksida metal, dan oksida
silikon. Abu ini bisa dianalisa lebih lanjut untuk mengetahui
elemen individualnya memakai teknik spektroskopik.
2.1.3. Peralatan Proses Pengolahan Minyak Bumi
Kilang minyak (refinery unit) merupakan suatu area yang di
dalamnya berisi alat-alat produksi yang memiliki fungsi masing-masing
dalam hal pengolahan minyak bumi menjadi produk jadi. Setiap alat
telah tersusun sebagaimana mestinya sesuai dengan flow diagram
proses seperti pada gambar di atas. Berikut ini meruapakan beberapa
jenis peralatan utama pada proses pengolahan minyak mentah beserta
fungsinya masing-masing, yaitu: (Jasji,E.1996)
2.1.3.1. Pompa
Alat ini merupakan bagian penting dalam suatu instalasi
pada kilang minyak, digunakan untuk memindahkan liquid
dari suatu tempat ke tempat lain. pada proses destilasi, pompa
digunakan untuk mentransferkan fluida dari dalam tanki
penampungan bahan baku menuju kolom destilasi, umunya
pompa yang digunakan ialah pompa jenis cenrifugal.
2.1.3.2. Heat Exchanger
Heat Exchanger merupakan alat penukar kalor (panas)
antar liquid, pada proses destilasi alat ini digunakan untuk
memanaskan minyak mentah yang akan dimasukkan ke dalam
kolom destilasi serta untuk mendinginkan fraksi yang keluar
dari dalam kolom. Kedua zat yang memiliki temperatur yang
berbeda dibatasi oleh dinding sehingga kedua zat tersebut
tidak akan bercampur pada zaat terjadinya proses pertukaran
panas.
2.1.3.3. Desalter
Sesuai dengan namanya, alat ini digunakan untuk
menghilangkan garam yang terdapat di dalam kandungan
minyak bumi. Cara kerja dari alat ini yaitu dengan
mencampurkan minyak mentah dengan air agar mineral yang
terkandung di dalam minyak bumi akan terlarut dengan air,
selanjutnya akan dikontakkan dengan plat yang dialiri dengan
tegangan listrik AC, maka secara otomatis ion-ion yang
terdapat di dalam minyak akan ditarik ke katup-katup plat, air
yang telah berisi mineral akan membesar dan jatuh ke bawah
dasar tanki desalter.
2.1.3.4. Furnace
Furnace adalah proses dimana terjadinya pemanasan
minyak mentah yang mengalir di dalam pipa sebelum
dimasukkan kedalam kolom destilasi. Panas yang digunkan
berasal dari hasil pembakaran fuel oil maupun gas dengan suhu
sekitar 350C, di dalam furnace terdapat susunan pipa yang
merupakan media yang dipanaskan kemudian panas tersebut
akan diserap oleh liquid yang mengalir di dalam pipa, proses
perpindahan panas terjadi dengan tiga cara yaitu konduksi,
radiasi dan konveksi.
2.1.3.5. Kolom Destilasi
Crude oil yang telah dipanaskan, selanjutnya akan
dimasukkan ke dalam kolom destilasi, kolom ini berbentuk
bejana dengan material baja dan memiliki tekanan 1 atm.
Fungsi dari kolom ini ialah sebagai tempat terjadinya
penguapan molekul-molekul minyak bumi dan kemudian
dipisahkan kedalam fraksi-fraksi tertentu sesuai dengan titik
didihnya. Pemisahan terjadi dengan menggunakan tray-tray
khusus, dimana suatu fraksi dengan titik tertentu akan
tertampung pada tray tertentu pula. Molekul yang memiliki
titik didih paling rendah yaitu gas akan berada pada bagian
puncak kolom dan fraksi berat (long residu) akan tetap berada
pada bagian bawah kolom. Hasil dari kolom destilasi ini terdiri
dari gas (20C), Naphta (40C), Kerosen (120C), Diesel
(170C), Lubricating oil atau pelumas (300C) dan residu
(350C).
2.1.3.6. Kolom Stripper
Peralatan proses pengolahan minyak bumi selanjutnya
yaitu kolom stripper, kolom ini memiliki bentuk yang mirip
dengan kolom destilasi hanya saja ukurannya lebih kecil, alat
ini berfungsi untuk mengeluarkan fraksi yang lebih ringan dari
dalam fraksi yang lebih berat, contohnya fraksi naphta yang
terikut masuk kedalam penampungan fraksi kerosen. Cara
kerja dari alat ini yaitu penguapan biasa dengan menggunakan
injeksi steam dari dasar kolom sebagai sumber panas.
2.1.3.7. Condensor
Kondensor merupakan alat yang digunakan untuk
mencairkan fraksi gas yang merupakan hasil dari kolom
destilasi. Gas tersebut didapatkan dari bagian atas kolom yang
merupakan fraksi yang memiliki titik didih terendah. Cara
kerja dari kondensor ini yaitu pertukaran panas, dengan cara
gas akan dimasukkan kedalam ruangan pada alat tersebut,
diamana di dalamnya terdapat pipa-pipa yang berisi air
(sebagai pendingin), gas tersebut akan mengalami kontak
dengan permukaan luar pipa sehingga panasnya (panas latent)
akan diserap oleh air pendingin yang membuat temperatur dari
gas tersebut akan menurun dan akan terkondensasi.
2.1.3.8. Cooler
Coler adalah alat yang digunakan untuk mendinginkan
suatu produk yang memiliki panas yang tinggi sehingga tidak
dapat ditampung di dalam tanki. Media pendingin pada alat ini
sama halnya dengan kondensor yaitu media air. Cara kerjanya
yaitu pipa-pipa yang berisi produk panas akan melewati media
pendingin air sehingga panas dari produk tersebut akan
terserap dan menurunkan temperaturnya hingga mencapai
temperatur normal.
2.1.3.9. Seperator
Separator digunakan untuk memisahkan dua zat yang
tidak dapat melarut, misalnya air dan minyak atau minyak dan
gas. Cara kerjanya yaitu dengan cara pengendapan, sehingga
zat yang memiliki densitas yang tinggi (misalnya air) akan
berada pada bagian bawah sedangkan zat yang memiliki
densitas yang rendah akan berada pada bagian atas (minyak),
selanjutnya salah satu zat tersebut akan dikeluarkan baik itu
minyak maupun air.
2.1.3.10. Perpipaan
Sistem perpipaan dalam indutri migas sangatlah
diperlukan, tanpa adanya pipa maka proses di dalam kilang
tidak akan terjadi. Pipa berfungsi sebagai tempat mengalirnya
suatu fluida dari suatu tempat ke tempat lain. Pipa terbuat dari
berbagai jenis bahan tergantung dari karakteristik liquid yang
akan dialirkan didalamnya. Khusus untuk mengalirkan
minyak, jenis pipa yang digunakan biasanya terbuat dari baja
dengan paduan serat carbon.
2.1.3.11. Instrument
Instrument ialah sistem control yang terdiri dari data-
data suatu proses yang sedang terjadi di lapangan. Fungsi dari
instrument yaitu menjaga kestabilan dan memantau suatu
proses produksi sehingga proses tersebut dapat berjalan sesuai
dengan jalur yang ditetapkan. Contoh sederhana dari peralatan
instrumen yaitu control valve (katup) yang digunakan untuk
mengatur jumlah aliranan fluida dalam pipa baik itu secara
manual maupun dengan kendali jarak jauh.
2.1.4. Proses Pengolahan Bbm
Untuk mengolah crude oil / minyak mentah menjadi produk
BBM dan non BBM diperlukan proses secara fisika dan kimia agar
minyak mentah bisa bisa dimurnikan menjadi produk BBM yang
dibutuhkan oleh konsumen. Untuk kapasitas BBM, Kilang Cilacap,
Balongan, dan Balikpapan memasok hampir 60% produk BBM
nasional. Adapun produk BBM yang dihasilkan kilang nasional adalah
bensin (RON 88, RON 92, dan RON 95), IDO, ADO, Fuel Oil, Avtur,
Avgas, dan Kerosene. Total produksi produk BBM selama Semester I
2014 mencapai 3.910,9 juta barel dimana sekitar 53% merupakan
kelompok minyak diesel, 30% kelompok bensin 11,5% kelompok
kerosene, dan 5,5% Fuel Oil. Direncanakan pada 2014 Pertamina akan
menambah jumlah kilangnya dari total saat ini hanya berkapasitas
sekitar 1,1 juta bpd menjadi 1,4 juta bpd. Hal ini diperlukan guna
meningkatkan produksi BBM nasional yang saat ini baru mencapai 700
ribu bpd dari total kebutuhan BBM yang mencapai 1,2 juta bpd saat ini
.Dari jumlah tersebut, transportasi merupakan pengguna BBM terbesar
dibandingkan dengan sektor lainnya. Penggunaan BBM di sector
transportasi pada 2012 sebesar 887 ribu bpd, 12% lebih besar
dibandingkan dengan total penggunaan BBM di sector
transportasi sebelumnya. Secara keseluruhan penggunaan
bahan bakar di sektor transportasi mencapai 99% dari total penggunaan
bahan bakar secara total. Bensin adalah bahan bakar yang paling banyak
digunakan pada sektor transportasi, diikuti dengan solar yang masing
masing mencapai 495 ribu bpd dan 313 ribu bpd pada 2012. Dari jumlah
tersebut 96% diantaranya merupakan bensin dan solar yang
bersubsidi. Minyak mentah merupakan campuran yang amat kompleks
yang tersusun dari berbagai senyawa hidrokarbon. Di dalam
kilang minyak tersebut, minyak mentah akan mengalami sejumlah
proses yang akan memurnikan dan mengubah struktur dan
komposisinya sehingga diperoleh produk yang bermanfaat.
Secara garis besar, proses yang berlangsung di dalam kilang
minyak dapat digolongkan menjadi 5 bagian, yaitu: (Sukanto,1986)
2.1.4.1.Proses Distilasi, yaitu proses penyulingan berdasarkan
perbedaan titik didih; Proses ini berlangsung di kolom distilasi
atmosferik dan Kolom Destilasi Vakum.
2.1.4.2.Proses Konversi, yaitu proses untuk mengubah ukuran dan
struktur senyawa hidrokarbon. Termasuk dalam proses ini
adalah:
a. Dekomposisi dengan cara perengkahan termal dan katalis
(thermal and catalytic cracking)
b. Unifikasi melalui proses alkilasi dan polimerisasi
c. Alterasi melalui proses isomerisasi dan catalytic reforming
2.1.4.3.Proses Pengolahan (treatment). Proses ini dimaksudkan untuk
menyiapkan fraksi-fraksi hidrokarbon untuk diolah lebih lanjut,
juga untuk diolah menjadi produk akhir.
2.1.4.4.Formulasi dan Pencampuran (Blending), yaitu proses
pencampuran fraksi-fraksi hidrokarbon dan penambahan
bahan aditif untuk mendapatkan produk akhir dengan spesikasi
tertentu.
2.1.4.5.Proses-proses lainnya, antara lain meliputi: pengolahan limbah,
proses penghilangan air asin (sour-water stripping), proses
pemerolehan kembali sulfur (sulphur recovery), proses
pemanasan, proses pendinginan, proses pembuatan hidrogen,
dan proses-proses pendukung lainnya.
2.1.4.6.Proses Primer Distilasi Atmosferis (Crude Distillation Unit)
Crude Distillation Unit (CDU) beroperasi dengan prinsip
dasar pemisahan berdasarkan titik didih komponen
penyusunnya. Kolom CDU memproduksi produk LPG, naphtha,
kerosene, dan diesel sebesar 50-60% volume feed, sedangkan
produk lainnya sebesar 40-50% volume feed berupa atmospheric
residue. Distilasi Atmosferik berfungsi memisahkan minyak
mentah (crude oil) atas fraksi-fraksinya berdasarkan perbedaan
titik didih masing-masing pada keadaan Atmosferik.
Atmospheric residue pada kilang lama, yang tidak memiliki
Vacum Distillation Unit/VDU, biasanya hanya dijadikan fuel oil
yang value-nya sangat rendah atau dijual ke kilang lain untuk
dioleh lebih lanjut di VDU. Sedangkan pada kilang modern,
atmospheric residue dikirim sebagai feed Vacuum Distillation
Unit atau sebagai feed Residuel Catalytic Cracking (setelah
sebagiannya di-treating di Atmospheric Residue Hydro
Demetalization unit untuk menghilangkan kandungan metal
atmospheric residue). (Sukanto,1986)
2.1.4.7.Umpan dan Produk Crude Distilaion Unit
Jenis umpan CDU dapat berupa sour crude (impurities tinggi)
atau sweet crude (impurities rendah) tergantung dari
desainnya. Penggunaan crude non-disain tetap dimungkinkan
namun terlebih dahulu harus dilakukan uji coba pemakaian
untuk mengetahui efeknya terhadap unit-unit dowstream.
Adapun UP II dumai mempunyai bahan mentah minyak dari
Sumatera Light Crude dan Duri Light Crude. Residu yang
diperoleh akan rusak (terurai) jika terus didistilasi pada tekanan
atmosferik dengan temperatur yang lebih tinggi lagi. Oleh
karena itu, residu ini didistilasi lagi pada tekanan vakum.
(Risdiyanta, 2002)
Tabel 2.2. Karakteristik Produk Distilasi Atmosferik Minyak
Bumi Mentah

2.1.4.8.Aliran Proses Crude Distillation Unit (Distilasi Atmosferik)


a. Minyak mentah umpan masih mengandung kotoran garam
dan pasir sehingga perlu dibersihkan terlebih dahulu Karena
kehadiran zat-zat ini dapat mempercepat laju korosi bahan
konstruksi unit pengolahan, menyebabkan pengendapan kerak
serta penyumbatan pada peralatan kilang. Pengolahan awal
yang dilakukan adalah desalting atau pemisahan garam.
Minyak bumi mentah dipompa dan dipanaskan lalu dicampur
denganair sebanyak 3-10% volume minyak mentah pada
temperature 90-150 oC. Garam-garam akan larut dan fasa air
dan minyak akan memisah dalam tangki desalter.
b. Minyak mentah yang tidak mengandung garam dan padatan
tersebut dipanaskan lagi dengan minyak residu panas lalu
heater sebelum diumpankan ke kolom distilasi atmosferik.
Produk atas kolom distilasi utama (gas kilang dan straight run
gasoline) ini umumnya masih perlu distabilkan agar tidak
terlalu banyak mengandung hidrokarbon-hidrokarbon yang
sangat mudah menguap seperti butana di dalam kolom
distilasi lain yang disebut kolom stabilisasi. Produk samping
dan bawah yang berupa cairan dilucuti oleh kukus dan
diuapkan lagi untuk menyempitkan rentang titik
didihnya. Pelucutan ini diselenggarakan dalam kolom-kolom
pelucut kecil yang disusun setelah kolom distilasi utama.

Gambar 2.5. Proses Distilasi Atmosferis

Gambar 2.6. Flow Diagram CDU


2.1.4.9.Proses Sekunder

Proses ini dilakukan untuk mengubah fraksi yang satu


ke fraksi yang diinginkan. Perubahan fraksi dapat dilakukan
dengan beberapa proses.(Risdiyanta,2002)

Gambar 2.7. Proses Sekunder Pengolahan minyak bumi


Cracking
Molekul dipecah menjadi molekul molekul kecil. Contoh:
perubahan fraksi minyak pelumas menjadi fraksi
bensin.
Polimerisasi
Perubahan rantai lurus menjadi rantai cabang.
Contoh: perubahan n-oktana menjadi
isooktana.
Alkilasi
Perubahan molekul kecil menjadi molekul besar. Contoh:
perubahan propena +butena menjadi heptane.
Reforming
Perubahan angka oktan dari rendah ke tinggi
2.1.4.9.1. Perekahan/Cracking
Kebutuhan akan bahan bakar memiliki peningkatan yang
sangat signifikan setiap tahunnya, sehingga proses
pengolahan minyak bumi menggunakan beberapa metode
untuk menghasilkan jenis bahan bakar tertentu agar
memenuhi kebutuhan pada konsumen, salah satunya ialah
bensin. Terdapat beberapa metode yang digunakan untuk
menghasilkan fraksi bensin, salah satunya ialah proses
cracking. Cracking adalah proses penguraian molekul
senyawa hidrokarbon yang besar menjadi hidrokarbon
yang memiliki struktur molekul yang kecil. Salah satu
contoh proses cracking yaitu pengurain struktur
hidrokarbon pada fraksi minyak tanah menjadi struktur
molekul kecil fraksi bensin ataupun pengurain fraksi solar
menjadi bensin. terdapat berbagai macam proses
cracking yaitu thermal cracking, catalytic cracking
dan hidrocracking. Proses pengurain dari tiga metode
tersebut menggunakan cara-cara yang berbeda.

Gambar 2.8. Proses Perekahan/Cracking


2.1.4.9.2. Polimerisasi
Penggabungan dua atau lebih molekul - molekul
kecil untuk membentuk kelompok molekul kompleks
disebut polimerisasi. Istilah ini berasal dari kata
poly yang berarti banyak dan meric (meros) yang
berarti bagian. Dengan demikian polimeric berarti suatu
bagian yang berulang-ulang. Didalam proses ini
sebagai ganti dari penambahan molekul-moleku yang
berbeda atau sama (suatu molekul sederhana
ditambahkan ke suatu molekul yang lain).
Hidrokarbon seperti alkene (olefin) yang mengalami
reaksi penggabungan dirinya sendiri dinyatakan
sebagai reaksi polimerisasi. Sebagai contoh, molekul-
molekul ethylene dapat saling menggabung dan
penggabungannya dapat berulang-ulang tergantung
pada produk akhir yang dikehendaki. (Risdiyanta, 2002)

Gambar 2.9. Reaksi Polimerisasi


2.1.4.9.3. Alkilasi
Alkilasi dapat diartikan sebagai reaksi penambahan
gugus alkil ke suatu senyawa tertentu. Tetapi di dalam
industry pengolahan minyak bumi istilah tersebut
mengacu pada reaksi antara olefin dan isoparaffin yang
rantainya lebih panjang. Reaksi alkilasi tersebut dapat
terjadi tanpa menggunakan katalis, tetapi memerlukan
suhu dan tekanan tinggi, disamping itu peralatan yang
digunakan cukup mahal. Karena alasan tersebut, maka
sekarang banyak dikembangkan proses alkilasi yang
menggunakan bantuan katalis. Katalis yang digunakan
untuk proses ini biasanya sulfuric acid dan hydrogen
fluoride jika feed-nya berupa isobutane dengan
propene dan butene. Aluminum chloride juga digunakan
sebagai katalis dalam proses alkilasi jika feed-nya
berupa isobutane dan ethylene. (Risdiyanta, 2002)
Gambar 2.10. Reaksi Alkilasi
2.1.4.9.4. Reforming
Reforming adalah proses untuk memperlakukan sraight-
run gasoline atau naphtha yang mempunyai angka oktan
rendah sehingga menjadi gasoline yang mempunyai
angka oktan tinggi dengan maksud untuk memperbaiki
kwalitas pembakarannya (ignation performance).
Didalam memperbaiki kwalitas gasoline tidak hanya dari
segi angka oktan saja, tetapi juga menaikkan daya
penguapannya (volatility),karena melalui proses ini
normal-paraffin dikonversikan menjadi iso-
paraffin,aromatik dan olefin, disamping itu juga
naphthene dikonversi menjadi aromatik. Berbagai reaksi
akan terjadi dalam proses reforming seperti.
Isomerisasi: yaitu mengkonversikan normal-paraffin
menjadi iso-paraffin.
Siklisasi : yaitu pembentukan senyawa siklis (cincin)
dari senyawa alifatik. Proses reforming dapat dilakukan
secara thermal ataupun secara catalytic yang sering
disebut Thermal Reforming dan Catalytic Reforming.
Didalam proses pengolahan minyak, upaya untuk
meningkatkan jumlah gasoline dilakukan dengan
perengkahan (cracking), sedangkan untuk peningkatan
mutu pembakaran bahan bakar (angka oktan) gasoline
adalah merupakan sasaran utama dari proses reforming.
Paraffin dengan rantai panjang akan direngkah menjadi
paraffin dengan rantai lebih pendek dan olefin yang titik
didihnya lebih rendah dari pada sebelumnya. Bahkan
bisa juga reaksi yang terjadi tidak hanya perengkahan
saja tetapi juga dibarengi dengan reaksi dehidrogenasi
sehingga hasil reaksinya berupa molekul-molekul olefin
pendek yang lebih reaktif untuk berpolimerisasi. Sebagai
contoh heptane (C7H16) dipanaskan pada suhu 211 oC
tekanan yang cukup tinggi akan dikonversi menjadi
amylene (C5H10) yang mempunyai angka oktan 92,
ethylene (C2H4) dengan angka oktan 81 dan
hidrogen (H2) yang banyak digunakan di dalam
proses treating. (Risdiyanta,2002)

Gambar 2.11. Proses Reforming Sederhana


Pada seluruh proses pengolahan Crude Oil selalu
menggunakan alat pemanas, dimana alat pemanas yang digunakan
sesuai dengan kebutuhan dan fungsi tertentu, salah satunya adalah
Furnace.

2.1.5. Furnace
Furnace atau tungku adalah proses dimana terjadinya
pemanasan minyak mentah yang mengalir di dalam pipa sebelum
dimasukkan kedalam kolom destilasi. Panas yang digunkan berasal
dari hasil pembakaran fuel oil maupun gas dengan suhu sekitar
350C. (William, 1967)
Furnace atau tungku adalah dapur sebagai penerima panas
bahan bakar untuk pembakaran, yang terdapat fire gate di bagian
bawah sebagai alas bahan bakar dan yang sekelilingnya adalah pipa-
pipa air ketel yang menempel pada dinding tembok ruang
pembakaran yang menerima panas dari bahan bakar secara radiasi,
konduksi, dan konveksi.
Tungku adalah sebuah peralatan yang digunakan untuk melelehkan
logam untuk pembuatan bagian mesin (casting) atau untuk
memanaskan bahan serta mengubah bentuknya (misalnya
rolling/penggulungan, penempaan) atau merubah sifat-sifatnya
(perlakuan panas).
Karena gas buang dari bahan bakar berkontak langsung dengan
bahan baku, maka jenis bahan bakar yang dipilih menjadi penting.
Sebagai contoh, beberapa bahan tidak akan mentolelir sulfur dalam
bahan bakar. Bahan bakar padat akan menghasilkan bahan partikulat
yang akan mengganggu bahan baku yang ditempatkan di dalam
tungku.
Hampir seluruh tungku menggunakan bahan bakar cair, bahan
bakar gas atau listrik sebagai masukan energinya.
Tungku induksi dan busur/arc menggunakan listrik untuk
melelehkan baja dan besi tuang.
Tungku pelelehan untuk bahan baku bukan besi menggunakan
bahan bakar minyak.
Tungku yang dibakar dengan minyak bakar hampir seluruhnya
menggunakan minyak tungku, terutama untuk pemanasan
kembali dan perlakuan panas bahan.
Minyak diesel ringan (LDO) digunakan dalam tungku bila
tidak dikehendaki adanya sulfur.

Idealnya tungku harus memanaskan bahan sebanyak


mungkin sampai mencapai suhu yang seragam dengan bahan
bakar dan buruh sesedikit mungkin. Kunci dari operasi tungku
yang efisien terletak pada pembakaran bahan bakar yang
sempurna dengan udara berlebih yang minim. Tungku beroperasi
dengan efisiensi yang relatif rendah (serendah 7 persen)
dibandingkan dengan peralatan pembakaran lainnya seperti boiler
(dengan efisiensi lebih dari 90 persen). Hal ini disebabkan oleh
suhu operasi yang tinggi dalam tungku. Sebagai contoh, sebuah
tungku yang memanaskan bahan sampai suhu 1200 derajat Celsius
akan mengemisikan gas buang pada suhu 1200 derajat celsius atau
lebih yang mengakibatkan kehilangan panas yang cukup
signifikan melalui cerobong. (William, 1967)

Seluruh tungku memiliki komponen-komponen :


Ruang refraktori dibangun dari bahan isolasi untuk menahan
panas pada suhu operasi yang tinggi.
Perapian untuk menyangga atau membawa baja, yang terdiri
dari bahan refraktori yang didukung oleh sebuah bangunan
baja, sebagian darinya didinginkan oleh air.
Burners yang menggunakan bahan bakar cair atau gas
digunakan untuk menaikan dan menjaga suhu dalam
ruangan. Batubara atau listrik dapat digunakan dalam
pemanasan ulang/reheating tungku.
Cerobong digunakan untuk membuang gas buang
pembakaran dari ruangan.
Pintu pengisian dan pengeluaran digunakan untuk pemuatan
dan pengeluaran muatan. Peralatan bongkar muat termasuk
roller tables, conveyor, mesin pemuat dan pendorong
tungku.
2.1.5.1. Jenis-jenis Furnace
2.1.5.1.1. Muffle furnace
Muffle furnace adalah tungku dimana
bahan subyek dan semua produk pembakaran
termasuk gas dan abu terisolasi dari bahan bakar.
Setelah pengembangan pemanas listrik temperatur
tinggi dengan elemen dan elektrifikasi yang
berkembang di negara-negara maju, muffle
furnace dengan cepat berubah ke listrik. Saat ini,
muflle furnace biasanya berupa sebuah front-
loading kotak-jenis oven atau kiln untuk aplikasi
suhu tinggi seperti kaca sekering, menciptakan
lapisan enamel, keramik dan barang solder dan
mematri. Muffle furnace juga digunakan dalam
banyak penelitian, misalnya oleh ahli kimia untuk
menentukan berapa proporsi sampel yang mudah
terbakar dan non-volatile. jenis Vecstar, sekarang
bisa menghasilkan kerja suhu sampai 1800 derajat
Celcius, yang memfasilitasi aplikasi metalurgi
lebih canggih. Muffle furnace yang panjang juga
dapat digunakan untuk memanaskan benda yang
dibangun di banyak prinsip yang sama dengan
jenis kiln kotak tersebut, bentuk tabung hampa
panjang, lebar, dan tipis yang digunakan dalam
roll untuk menggulung proses manufaktur. Kedua
furnace yang disebutkan di atas biasanya
dipanaskan sampai suhu yang diinginkan untuk
konduksi, konveksi, atau radiasi dan hambatan
listrik dari elemen pemanas. Oleh karena itu
biasanya tidak ada pembakaran yang terlibat
dalam kontrol suhu sistem, yang memungkinkan
untuk kontrol jauh lebih besar keseragaman suhu
dan menjamin isolasi bahan yang dipanaskan dari
produk sampingan pembakaran bahan bakar.
Sebuah muffle furnace, digunakan untuk anil,
pengerasan, dan tempering; panas yang diperoleh
dengan minyak, yang terkandung dalam tangki A,
dan disimpan di bawah tekanan oleh pemompaan
pada suatu interval dengan gagang kayu, sehingga
bila katup B dibuka minyak yang menguap dengan
lewat melalui kumparan pemanas di pintu masuk
tungku, dan ketika dinyalakan akan membakar api
gas. Kemudian masuk ke dalam tungku C melalui
dua luban, dan memutar di bawah D dan di
meredam D, berdiri di slab clay tahan api. Pintu ini
ditutup oleh dua blok clay tahan api di E. A suhu
lebih dari 2000 F dapat diperoleh dalam tungku
dari ruang ini, dan panas yang memang di bawah
kendali yang sempurna. (Robert, 1986)

Gambar 2.12. Muffle furnace


2.1.5.1.2. Salt bath furnace
Salt bath furnace modern digunakan untuk
sejumlah aplikasi perlakuan panas seperti:
Preheating
Austenitizing
Martempering
Pengerasan netral
High-Speed Tool Pengerasan
Tempering Nitridasi
karburizing
heat treatment solution
Dip brazing
sistem modern menawarkan keseragaman
kecepatan ramp-up dan pemanasan tinggi dengan
suhu dipertahankan untuk dalam waktu 5 derajat
di seluruh bath sehingga memberikan hasil
pengolahan yang tinggi dan seragam.sekarang ini
furnace dipanaskan oleh listrik, minyak atau gas.
Dalam pengadaan Salt harus diberikan perhatian
khusus pada Bath Furnace sehingga standar
keselamatan operator dan persyaratan lingkungan
lokal dipenuhi dan teknologi pengolahan limbah
yang terlibat memenuhi peraturan pemerintah dan
memberikan untuk pengelolaan sampah yang
komprehensif dan biaya-efektif seperti sistem
pembuangan lumpur efektif. sistem modern
termasuk tahap modular untuk mengakomodasi
pra-dan pasca-perawatan yang dikombinasikan
dengan kontrol penuh Programmable yang
menawarkan kemampuan dan pengolahan yang
tepat. perlakuan panas yang diaplikasikan dalam
alat ini antara lain:
annealing
nitridasi
melting
tempering
pengerasan
pemateri
galvanizing
aluminizing
serta perlakuan Permukaan berbagai logam &
paduan. (Robert, 1986)
2.1.5.1.3. Vacuum furnace
Vacuum furnace adalah jenis furnace yang
dapat memanaskan bahan, biasanya logam, pada
temperatur sangat tinggi dan melaksanakan proses
seperti mematri, sintering dan perlakuan panas
dengan konsistensi tinggi dan kontaminasi
rendah.Dalam sebuah vacuum furnace produk
dalam tungku dikelilingi oleh ruang hampa. Tidak
adanya udara atau gas lainnya mencegah
perpindahan panas dengan produk melalui
konveksi dan menghilangkan sumber kontaminasi.
Beberapa manfaat dari vakum furnace
adalah:
Uniform dalam rentang temperatur 2000-
2800 F (1100-1500 C)
Suhu dapat dikontrol dalam area kecil
kontaminasi dari karbon oksigen dan gas-gas
lain pada produk rendah
pendinginan produk cepat
Proses dapat dikendalikan komputer untuk
memastikan berulangnya fasa dalam metalurgi.
Pemanas logam untuk temperatur tinggi
biasanya menyebabkan oksidasi cepat, yang tidak
diinginkan.Vakum furnace menghilangkan
oksigen dan mencegah hal ini terjadi.Gas
inert,seperti Argon,biasanya digunakan untuk
mempercepat pendinginan logam sampai kembali
ke tingkat non-metalurgi (di bawah 400 F) setelah
proses yang diinginkan dalam tungku. Gas inert
dapat ditekan untuk dua kali perlakuan atau lebih,
kemudian mengalir melalui daerah zona panas
untuk mengambil panas sebelum melalui sebuah
penukar panas untuk membuang panas. Proses ini
diulang sampai suhu yang diinginkan tercapai.
Penggunaan umum dari vakum furnace adalah
untuk heat treatment baja paduan. Banyak
perlakuan panas yang dapat menggunakan vakum
furnace misalnya hardening dan tempering dari
baja untuk menambah kekuatan dan ketangguhan.
Pengerasan melibatkan pemanasan baja ke suhu
yang sudah ditentukan, kemudian didinginkan
secara cepat. Vacuum furnace yang ideal untuk
aplikasi mematri. Mematri merupakan proses
perlakuan panas yang digunakan untuk
menggabung dua atau lebih komponen dasar
logam dengan pelelehan lapisan tipis logam
pengisi dalam celah antara logam tersebut.
Aplikasi lainnya dari vakum furnace adalah
Vacuum karburasi, yang juga dikenal sebagai
Tekanan Rendah karburasi atau LPC.Dalam
proses ini, gas (seperti asetilen) dimasukkan
dengan tekanan parsial ke zona panas pada suhu
biasanya antara 1600F dan 1950F. Gas
dimasukkan ke dalam molekul konstituen (dalam
hal ini karbon dan hidrogen). karbon tersebut
kemudian menyebar ke daerah permukaan logam.
Hal ini biasanya diulang dalam berbagai durasi
input gas dan waktu difusi. Setelah benda kerja
sesuai dengan apa yang diinginkan kemudian
diinduksi biasanya menggunakan minyak atau gas
bertekanan tinggi (HPGQ) berupa nitrogen atau
helium kemudian diquenching dengan cepat.
Proses ini juga dikenal sebagai pengerasan khusus.
2.1.5.1.4. Fluidized-bed furnace
Fluidized-bed furnace adalah tungku berbentuk
silinder atau persegi dan terdiri sebuah tungku
Panjang Dari Ruang dan Reaksi Ruang untuk
penyediaan ledakan Udara atau distribusi gas ke
perapian.
Perapian, yang dirancang untuk
menyediakan distribusi seragam ledakan di atas
penampang seluruh ruang reaksi, adalah sebuah
kisi logam atau plat beton dengan sebuah klep.
Perapian,Yang dirancang untuk mengatur
distribusi ledakan yang seragam di seluruh
penampang ruang Reaksi tetap permanent, sebuah
kisi logam atau plat bukaan yang terbuat dari beton
atau teradang dibuat dari blok keramik berpori
yang berupa butiran padat tersuspensi oleh udara
atau gas yang mengalir melalui grid dan
membentuk fluidized bed di mana interaksi antara
bahan padat dan gas berlangsung. Butiran padat
tersuspensi dibuat dari udara atau gas yang
mengalir membentuk grid di dalam fluidized bed
di mana Interaksi antara Bahan berlangsung dalam
bentuk padat dan gas. Produk jadi (misalnya,
sinter) dibuang dari tungku melalui sebuah pintu
di bagian atas dari fluidized bed. Alat penukar
panas dipasang di zona fluidized untuk melakukan
pemanasan dalam bed selama proses eksotermik
(pembakaran) atau untuk memasok panas ke
fluidized bed selama proses endotermik
(pengurangan).Tungku fluidized - bed
Multichamber dengan beberapa bed fluidized
sekuensial digunakan untuk proses yang
melibatkan pengolahan bahan dalam beberapa
langkah pada berbagai suhu dan berbagai
komposisi fasa gas.Dibandingkan dengan furnace
listrik jenis lain (misalnya, rotary kiln), di dalam
fluidized-bed furnace gas dan bahan lebih efektif
berinteraksi dan lebih seragam pada produk akhir,
fluidized bed furnace juga membuat seintensive
mungkin dan otomatisasi proses berlangsung di
dalamnya. (Robert, 1986)
Proses proses yg dapat dilakukan di
fluidized bed furnace adalah:
Nitro Carburizing
Carbonitriding
Carburizing
Gas Nidriding
Annealing
Normalising
dan proses heat treatment lainnya dalam satu
tungku.
2.1.5.2. Nilai Kalor Furnace
Nilai kalor merupakan jumlah energi kalor yang dilepaskan
bahan bakar pada waktu terjadinya oksidasi unsur-unsur kimia
yang ada pada bahan bakar tersebut. Dalam perencanaan ruang
bakar sebuah ketel uap, nilai kalor bahan bakar sangat
menentukan. Volume ruang bakar dapat ditentukan dengan
menggunakan rumus dari (Skrotzki, 1979).

=

Dimana:
Vrb = volume ruang bakar (m3)
mbb = konsumsi bahan bakar (kg/s)
LHV = low heating value (nilai kalor bawah) (kJ/kg)
hrf = laju pelepasan kalor (kg/ m3.s)
Dari rumus di atas ini dapat dilihat bahwa volume ruang bakar
dapat diketahui bila nilai kalor bawah (LHV) diketahui.
Nilai kalor bahan bakar terdiri dari:
2.1.5.2.1. Nilai Kalor Atas
Nilai kalor atas atau highest heating value (HHV)
adalah nilai kalor yang diperoleh dari pembakaran 1
kg bahan bakar dengan memperhitungkan panas
kondensasi uap (air yang dihasilkan dari
pembakaran berada dalam wujud cair) (Skrotzki,
1979).
2.1.5.2.2. Nilai Kalor Bawah
Nilai kalor bawah atau lowest heating value (LHV),
adalah nilai kalor yang diperoleh dari pembakaran 1
kg bahan bakar tanpa memperhitungkan panas
kondensasi uap (air yang dihasilkan dari
pembakaran berada dalam wujud gas/uap).
(Skrotzki, 1979).
2.1.5.2.3. Metode Penentuan Harga Nilai Kalor
Harga nilai kalor (HHV dan LHV) dapatdiperoleh
dengan cara berikut:
a. Mengambil Harga Nilai Kalor dari Literatur
yang Ada
b. Memperoleh Nilai Kalor Melalui Pengujian di
Laboratorium Nilai Kalor (heating value) suatu
bahan bakar dapat juga diperoleh dengan
menggunakan peralatan di laboratorium, yaitu
bom kalorimeter oksigen. Melalui peralatan
tersebut diperoleh nilai kalor atas atau highest
heating value (HHV) dan dapat dihitung dengan
rumus, (Skrotzki, 1979). yaitu:
HHV = (T2 T1 Tkp ) x cv (kJ/kg)
Sedangkan nilai kalor bawah atau lowest
heating value (LHV) dihitung dengan
persamaan:
LHV = HHV 3240 (kJ/kg)
Bila dilakukan pengujian 15 kali, maka:

dimana:
T1=Suhu air pendingin sebelum dinyalakan
(oC)
T2=Suhu air pendingin sesudah dinyalakan
(oC)
Tkp=Kenaikan suhu kawat penyala = 0,05 (oC)
cv= Panas jenis alat = 73.529,6 (kJ /kg oC)
2.1.5.2.4. Perhitungan Stokiometri Kebutuhan Udara
Untuk pembakaran diperlukan udara. Jumlah udara yang
diperlukan dapat dihitung dengan menggunakan metode
yang diberikan dibawah ini. Langkah pertama adalah
menentukan komposisi minyak bakar. Spesifikasi bahan
bakar diberikan dibawah ini:
Tabel 2.3. Spesifikasi Analisis Bahan Bakar
(Pedoman Efisiensi Energi untuk Industri di Asia)

a. Menghitung Persen Kelebihan Udara Yang Di


Gunakan. (Heru,2008)

b. Menghitung Massa Udara Sebenarnya Yang Di


Gunakan (Heru,2008)
DAFTAR PUSTAKA

G.D. HOBSON, Modern Petroleum Technology, Applied Science Publishing


Ltd, 1975.
H.S. BELL, American Petroleum Refining D. Van Nostrand Company
Inc,New York,1959.
ROBERT A MEYERS, Handbook of Petroleum Refining Process, McGraw-
Hill Book Company Inc. New York, 1986.
WILLIAM I. BLAND & ROBERT L DAVIDSON, Petroleum Processing
Handbook, McGraw-Hill Book Company, New York, 1967.
W.L. NELSON, Petroleum Refinery Engineering, McGraw - Hill Book
Company Inc.,New York, 1969.
Suroso.2005.Kilang Pengolahan BBM Dioptimalkan, Harian Pagi Jawa Pos 11
Maret 2005.
Fatimah.(2003).Penyulingan, Pemrosesan Dan Penggunaan Minyak Bumi.
Medan: Universitas Sumatera Utara.
Hardjono, A. (2002). Teknologi Minyak Bumi. Yogyakarta:UGM press
Murachman, B.(2012). Proses Pengolahan Minyak Bumi. Yogyakarta: Sekolah
Pascasarjana UGM
Sukarmin.(2004). Hidrokarbon dan Minyak Bumi. Jakarta: Dirjen Depdiknas
Wahyono, Kuswo.(2008). Buku Pintar Migas
Skrotzki, Bernad D, Penerjemah Zulkifli Harahap, Power Station Enginering
and Economy , Mc Graw Hill Publishing Book Company Ltd, NewDelhi,
1979. hal. 170.
Culp Archie W, Prinsip-Prinsip Konversi Energi, Cetakan ketiga Penerbit
Erlangga, Jakarta , 1991. hal. 44