Anda di halaman 1dari 10

STATUS PASIEN

BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN


RSUD UNDATA PALU

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : An. Afika
Umur : 1 tahun 9 bulan
Jenis kelamin : perempuan
Alamat : BTN Polda Layana
Pekerjaan :-
Pendidikan terakhir : -
Agama : Islam
Status pernikahan :-
Tanggal pemeriksaan: 20/1/2016
Ruangan : Poliklinik Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Undata

II. ANAMNESIS
Keluhan utama :
Binitk kemerahan pada kulit yang disertai gatal

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien datang dengan keluhan Binitk kemerahan pada kulit yang disertai gatal.
Keluhan dirasakan sejak 2 minggu yang lalu. Pada awalnya bintik-bintik kecil
muncul di bagian telinga kiri pasien, kemudian setelah sering digaruk bintik-
bintik kecil terkelupas dan mengeluarkan cairan. Setelah itu bintik-bintik kecil
juga mulai muncul di tangan, punggung, dan kaki pasien. Bintik-bintik kecil
mulai muncul setelah pasien makan snack. Dalam 2 minggu ini pasien belum
diberi obat untuk keluhannya tersebut. Tidak ada riwayat mengonsumsi obat
tertentu sebelum timbul keluhan. Keluhan binitk kemerahan pada kulit yang
disertai gatal tidak disertai dengan keluhan lain seperti demam.

1
Riwayat penyakit dahulu :
Pasien belum pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya.

Riwayat penyakit keluarga :


Tidak ada keluarga dengan keluhan yang sama, namun ada keluarga yang
memiliki riwayat asma.

III. PEMERIKSAAN FISIK


a. Status Generalisata
Keadaan umum : sakit sedang
Kesadaran : compos mentis
Status gizi :gizi baik
b. Vital Sign
Tekanan darah : tidak dilakukan pengukuran
Nadi : 100 kali/menit
Respirasi : 22 kali/menit
Suhu : tidak dilakukan pengukuran
c. Status Dermatologis
Lokalisasi:
1. Kepala : Ditemukan papul eritematosa pada bagian kiri
wajah; terdapat vesikel pada bagian kiri wajah, telinga luar; terdapat
crusta pada telinga luar dan area sekitar telinga
2. Leher : Tidak terdapat ujud kelainan kulit (UKK)
3. Dada : Tidak terdapat ujud kelainan kulit (UKK)
4. Punggung : Ditemukan vesikel, patch hiperpigentasi, dan
papul eritematosa pada punggung bawah
5. Perut : Tidak terdapat ujud kelainan kulit (UKK)
6. Genitalia : Tidak terdapat ujud kelainan kulit (UKK)
7. Bokong : Tidak terdapat ujud kelainan kulit (UKK)
8. Ekstremitas atas : Ditemukan patch hiperpigmentasi dengan
skuama pada fossa cubiti kanan; terdapat papul eritematosa pada lengan

2
atas kanan; terdapat patch eritematosa dengan skuama pada lengan kiri
atas
9. Ekstremitas bawah : Ditemukan patch eritematosa pada tungkai
bawah kiri.

IV. GAMBAR

Gambar 1. Tampak papul eritematosa pada bagian kiri wajah; terdapat


vesikel pada bagian kiri wajah, telinga luar; terdapat crusta pada telinga
luar dan area sekitar telinga

Gambar 2. Tampak patch hiperpigmentasi dengan skuama pada fossa cubiti


kanan; terdapat papul eritematosa pada lengan atas kanan; terdapat patch
eritematosa dengan skuama pada lengan kiri atas

3
Gambar 3. vesikel, patch hiperpigentasi, dan papul eritematosa pada
punggung bawah

Gambar 4. Ditemukan patch eritematosa pada tungkai bawah kiri

V. RESUME
Pasien datang dengan keluhan gatal pada kulit yang berbintik-bintik.
Keluhan dirasakan sejak 2 minggu yang lalu. Bintik-bintik kecil mulai muncul
setelah pasien makan snack. Tidak ada keluarga dengan keluhan yang sama,
namun ada keluarga yang memiliki riwayat asma.
Pada pemeriksaan fisik kepala terdapat papul eritematosa pada bagian
kiri wajah; terdapat vesikel pada bagian kiri wajah, telinga luar; terdapat
crustapada telinga luar dan area sekitar telinga. Pada punggung tampak vesikel,
patch hiperpigentasi, dan papul eritematosa pada punggung bawah. Pada
ekstremitas atas tampak patch hiperpigmentasi dengan skuama pada fossa cubiti
kanan; terdapat papul eritematosa pada lengan atas kanan; terdapat patch

4
eritematosa dengan skuama pada lengan kiri atas. Pada ekstremitas bawah
tampak patch eritematosa pada tungkai bawah kiri.

VI. DIAGNOSA KERJA


Dermatitis atopic infantil

VII. DIAGNOSA BANDING


Dermatitis seboroik
Dermatitis numularis
Dermatitis kontak iritan

VIII. PEMERIKSAAN TAMBAHAN


Darah rutin
IgE total
IgE radioallergosorbent (RAST)
Skin prick test

IX. PENATALAKSANAAN
a. Non Medikamentosa
Menghindari makanan yang diduga dapat mencetuskan alergi seperti
bahan penyedap
Hindari menggaruk kulit terutama kulit yang terdapat lesi
Kuku sebaiknya dipotong pendek untuk menghindari kerusakan kulit
Hindari pakaian yang terlalu tebal, bahan wol atau yang kasar karena
dapat mengiritasi kulit

b. Medikamentosa
Topikal
Fluticasone propionat krim 0,05%
Kompres NaCl 0,9%

5
Sistemik :
Cetirizin syr. 5mg/5ml 2x1/2cth
Amoxicillin syr. 125mg/5ml 3x1cth

X. PROGNOSIS
a. Qua ad vitam : ad bonam
b. Qua ad fungtionam : ad bonam
c. Qua ad sanationam : ad bonam
d. Qua ad cosmetikam : ad bonam

PEMBAHASAN

Pasien datang dengan keluhan gatal pada kulit yang berbintik-bintik.


Keluhan dirasakan sejak 2 minggu yang lalu. Bintik-bintik kecil mulai muncul
setelah pasien makan snack. Tidak ada keluarga dengan keluhan yang sama,
namun ada keluarga yang memiliki riwayat asma.
Pada pemeriksaan fisik kepala terdapat papul eritematosa pada bagian kiri
wajah; terdapat vesikel pada bagian kiri wajah, telinga luar; terdapat crustapada
telinga luar dan area sekitar telinga. Pada punggung tampak vesikel, patch
hiperpigentasi, dan papul eritematosa pada punggung bawah. Pada ekstremitas
atas tampak patch hiperpigmentasi dengan skuama pada fossa cubiti kanan;
terdapat papul eritematosa pada lengan atas kanan; terdapat patch eritematosa
dengan skuama pada lengan kiri atas. Pada ekstremitas bawah tampak patch
eritematosa pada tungkai bawah kiri.
Dermatitis atopic (DA) adalah peradangan kulit berupa dermatitis yang
kronis residif, disertai rasa gatal, dan mengenai bagian tubuh tertentu terutama di
wajah pada bayi (fase infantile) dan bagian fleksural ekstremitas (pada fase anak).
Dermatitis atopic kerap terjadi pada bayi dan anak, sekitar 50% menghilang saat
remaja, kadang dapat menetap, atau bahkan baru mulai muncul pada saat dewasa.1

6
Faktor penyebab dermatitis atopic merupakan kombinasi faktor genetic
(turunan) dan lingkungan seperti kerusakan fungsi kulit, infeksi, stress, dan lain-
lain. Sekitar 70% pasien dermatitis atopic memiliki riwayat keluarga penyakit
atopic. Odds untuk terjadinya dermatitis atopic yaitu 2-3 kali lipat lebih tinggi
pada anak dengan 1 orang tua yang atopic, dan akan meningkat 3-5 kali lipat pada
anak yang kedua orangtuanya atopic. Gejala klinis perjalanan penyakit dermatitis
atopic sangat bervariasi, membentuk sindrom diathesis atopic. 2, 3
Gejala utama dermatitis atopic adalah gatal/pruritus yang muncul
sepanjang hari dan memberat ketika malam hari yang dapat menyebabkan
insomnia dan penurunan kualitas hidup. Rasa gatal yang hebat menyebabkan
penderita menggaruk kulitnya sehingga memberikan tanda bekas garukan (scratch
mark) yang akan diikuti oleh kelainan-kelainan sekunder berupa papula, erosi atau
ekskoriasi dan selanjutnya akan terjadi likenifikasi bila proses menjadi kronis.
Gambaran lesi eksematous dapat timbul secara akut (plak eritematosa, prurigo
papules, papulovesikel), subakut (penebalan dan plak ekskoriasi), dan kronik
(likenifikasi). Lesi eksematous dapat menjadi erosif bila terkena garukan dan
terjadi eksudasi yang berakhir dengan lesi berkrustae. Lesi kulit yang sangat basah
(weeping) dan berkrusta sering didapatkan pada kelainan yang lanjut. Gambaran
klinis dermatitis atopic dibagi menjadi 4 tipe berdasarkan lokaliasasinya terhadap
usia, yaitu: 4
1. Dermatitis Atopik Infantil (0-1 tahun). Dermatitis atopi sering muncul pada
tahun pertama kehidupan dan dimulai sekitar usia 2 bulan. Jenis ini disebut
juga milk scale karena lesinya menyerupai bekas susu. Lesi berupa plak
eritematosa, papulo-vesikel yang halus, dan menjadi krusta akibat garukan
pada pipi dan dahi. Rasa gatal yang timbul menyebabkan anak menjadi
gelisah, sulit tidur, dan sering menangis. Lesi eksudatif, erosi, dan krusta
dapat menyebabkan infeksi sekunder dan meluas generalisata dan menjadi lesi
kronis dan residif.
2. Dermatitis Atopik pada Anak (1-4 tahun). Dapat merupakan kelanjutan bentuk
infantile atau timbul sendiri. Pada umumnya lesi berupa papul eritematosa
simetris dengan ekskoriasi, krusta kecil, dan likenifikasi. Lesi dapat ditemukan

7
di bagian fleksura dan ekstensor ekstremitas, sekitar mulut, kelopak mata,
tangan dan leher.
3. Dermatitis Atopik pada Anak (4-16 tahun). Pada usia 4-16 tahun dapat
dijumpai dermatitis pada tubuh bagian atas dan wajah. Umumnya muncul
dermatitis yang simetris pada area fleksura, tangan, dan kaki.
4. Dermatitis Atopik pada Dewasa (4-16 tahun). Pada orang dewasa, lesi
dermatitis kurang karakteristik, dapat di wajah, tubuh bagian atas, fleksura,
bibir dan tangan. Lesi kering, papul datar, plak likenifikasi dengan sedikit
skuama, dan sering terjadi ekskoriasi dan eksudasi karena garukan. Terkadang
dapat berkembang menjadi eritroderma. Stres dapat menjadi faktor pencetus
karena saat stres nilai ambang rasa gatal menurun.
Diagnosis dermatitis atopic dapat ditegakkan secara klinis dengan gejala
utama gatal, penyebaran simetris di tempat predileksi (sesuai usia), terdapat
dermatitis yang kronik-residif, riwayat atopi pada pasien atau keluarganya.
Criteria tersebut disebut sebagai kritria mayot Hanifin-Rajka, untuk memastikan
diagnosis dibutuhkan 3 kriteria minor lainnya. Dalam praktik sehari-hari dapat
digunakan criteria William guna mendapatkan diagnosis DA, yaitu: 1, 4
1. Harus ada : Rasa gatal (pada anak-anak dengan bekas garukan).
2. Ditambah 3 atau lebih:
a. Terkena pada daerah lipatan siku, lutut, di depan mata kaki atau sekitar
leher (termasuk pipi pada anak di bawah 10 tahun).
b. Anamnesis ada riwayat atopi seperti asma atau hay fever (ada riwayat
penyakit atopi pada anak-anak).
c. Kulit kering secara menyeluruh pada tahun terakhir.
d. Ekzema pada lipatan (termasuk pipi, kening, badan luar pada anak <4
tahun).
e. Mulai terkena pada usia dibawah 2 tahun (tidak digunakan pada anak <4
tahun).
Diagnosis banding DA bergantung pada fase atau usia, manifestasi klinis,
serta lokasi DA. Pada fase bayi dapat mirip dengan dermatitis seboroik, psoriasis
dan dermatitis popok. Sedangkan pada fase anak dapat mirip dengan dermatitis

8
numularis, dermatitis intertriginosa, dermatitis kontak, dan dermatitis traumatika.
Sedangkan pada fase dewasa lebih mirip dengan neurodermatitis atau liken
simpleks kronikus.1
Adapun algoritma penanganan dermatitis atopic yaitu:5

Gambar 5. Algoritma penatalaksanaan dermatitis atopic (ICCAD II) 5

Prognosis DA pada area yang tidak diobati lesi akan bertahan selama
beberapa bulan atau tahun. Sembuh spontan dengan sempurna atau kurang
sempurna biasanya terjadi pada >40% kasus anak, kekambuhan yang lebih parah

9
terjadi pada dewasa. Pada banyak pasien, penyakit akan bertahan selama 15-20
tahun, tetapi kurang parah. 30-50% pasien berkembang menjadi asma atau hay
fever. Onset dermatitis atopic pada dewasa biasanya parah. Infeksi S. aureus dapat
menyebabkan erosi ekstensif dan krusta.6
DAFTAR PUSTAKA

1. Menaldi SL. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi ketujuh. Jakarta:
Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2015.
2. Natalia, Menaldi SL, Agustin T. Perkembangan Terkini pada Terapi
Dermatitis Atopik. J Indon Med Assoc. vol. 61 No. 7. 2011.
3. Eichenfield LF, et. al.. Guidelines of Care for the Management of Atopic
Dermatitis. J Am Acad Dermatol. Vol. 70 No. 2. 2013.
4. Evina B. Clinical Manifestations and Diagnostic Criteria of Atopic
Dermatitis. J Majority. Vol. 4 No. 4. 2015.
5. Ellis C, et. al.. International Consensus on Atopic Dermatitis II (ICCAD
II*): Clinical and Current Treatment Strategies. British Journal of
Dermatology. 148 (suppl. 63). 2003.
6. Klaus W, Johnson RA, Saavedra A. Fitzpatricks Color Atlas and Synopsis
of Clinical Dermatology 7th Edition. New York: Mc Graw Hill; 2013.

10