Anda di halaman 1dari 13

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA

UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA


Jl. Terusan Arjuna No. 6, Kebon Jeruk, Jakarta-Barat

KEPANITERAAN KLINIK
STATUS ILMU JIWA
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
Hari/Tanggal Ujian/Presentasi Kasus: 17 Mei 2017
SMF ILMU JIWA
RUMAH SAKIT JIWA PROVINSI JAWA BARAT

Nama : Theresia Chlara E. Obisuru Tanda Tangan


Nim : 11.2015.355

Dr. Pembimbing / Penguji : dr. Hj. Meutia Laksminingrum, Sp.KJ

NOMOR REKAM MEDIS : 038643


Nama Pasien : Tn. DW
Nama Dokter yang merawat : dr. Meutia Laksminingrum, Sp.KJ
Masuk RS pada tanggal : 24 April 2017 di rawat diruang Garuda kemudian
dipindahkan ke ruang Merak pada tanggal 5 Mei 2017
Rujukan/datang sendiri/keluarga : Diantar oleh istri dan keluarga pasien
Riwayat perawatan : Pernah dirawat di RSJ Provinsi Jawa Barat sebanyak dua
kali dengan gejala yang sama

I. IDENTITAS PASIEN
Nama (inisial) : Tn. DW
Tempat & tanggal lahir : Bandung, 11 Oktober 1971
Jenis kelamin : Laki-laki
Suku bangsa : Sunda
Agama : Islam
Pendidikan : SLTA
Pekerjaan : Buruh
Status perkawinan : Sudah menikah
Alamat : Kp. Bojongwaru RT 04/11 Kelurahan Rancamulya,
Kec. Pameungpeuk, Bandung

II. RIWAYAT PSIKIATRIK


Data diperoleh dari:
Autoanamnesis : 12 Mei 2017 jam 15.00
Alloanamnesis tidak dilakukan

A. KELUHAN UTAMA :
1
Pasien mencekik dan memukul anaknya (Agresivitas Motorik).

B. RIWAYAT GANGGUAN SEKARANG :


Sejak 3 minggu yang lalu pasien gelisah, katakutan, merasa dikejar-kejar,
merasa terancam atau ada yang mau mencelakakannya (paranoid). Pasien mendengar
suara-suara bisikan yang mengatakan orang-orang disekelilingnya ingin
membunuhnya (halusinasi auditorik), pasien juga sering marah-marah tanpa sebab
yang jelas (agresivitas verbal), selain itu pasien mengguyur kopi panas ke kepalanya
dan memukul kepalanya dengan gelas (agresivitas motorik).
Satu hari sebelum masuk rumah sakit pasien bertengkar dengan istrinya karena
masalah ekonomi. Istri pasien marah-marah karena pendapatan pasien tidak
mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari akibatnya pasien marah dan
hampir memukuli istrinya. Anak pertama pasien ingin melerai orang tuanya tetapi
pasien malah mencekik dan memukul anaknya, sehingga pasien diantar oleh keluarga
dan istri pasien ke RSJ Provinsi Jawa Barat
Saat dilakukan anamnesis pada hari ke-19 dirawat, pasien mengatakan dia
masih sering melihat bendera Amerika, Singapur dan Irak, dan mengatakan Indonesia
akan terancam dengan negara tersebut. Pasien juga mengatakan bahwa ada mahkluk
gaib yang lagi melihatnya dengan tatapan marah dan ingin mencelakakannya. Pasien
mendengar suara-suara bisikan dan suara dari dalam hati yang menyuruh pasien untuk
bernyanyi.
Pada tahun 2016 pasien dibawa ke RSJ dan dirawat karena memotong jari
kelingking kiri dan berhalusinasi. Pasien mengatakan ada suara-suara yang menyuruh
pasien untuk memotong jarinya. Setelah membaik pasien dipulangkan tetapi pasien
tidak rutin kontrol ke rumah sakit. Terapi terakhir yang diberikan : risperidone, dan
clozapine (pasien lupa dosis obatnya). Pasien masih sering melamun, menyendiri, dan
semua keinginannya harus dipenuhi jika tidak pasien akan mengamuk dan
membanting perabotan didalam rumah.

C. RIWAYAT GANGGUAN SEBELUMNYA


1. Gangguan psikiatrik :
Pada tahun 2010, pasien terlihat murung dan tidak bersemangat (depresif).
Aktivitas pasien menjadi menurun, hanya berdiam diri di rumah (hipoaktivitas).
Kadang pasien tiba-tiba ngamuk dan memukul anak pertamanya tanpa sebab yang
jelas. Pasien mengatakan sering mendengar suara-suara yang menyuruhnya untuk

2
marah-marah dan membanting barang-barang dirumah. Sebulan kemudian setelah
gejala muncul istri dan orang tua pasien membawa pasien ke RSJ Provinsi Jawa Barat.
Awal kejadiannya saat istri pasien marah-marah karena masalah ekonomi
dalam keluarga. Menurut istri pasien pendapatan per bulan pasien kurang untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sejak saat itu pasien lebih sering menyendiri, pasien
sulit tidur, tidak bisa diam (hiperaktif), berbicara sendiri (autistik), sering marah-
marah (agresivitas verbal), mengancam, membanting barang (agresivitas motorik),
bicara dan tertawa sendiri (autistik). Pasien sering melihat bayangan yang tidak
dilihat orang lain (halusinasi visual). Sejak keluar dari RSJ pasien rutin kontrol
sampai membaik. Pasien sudah dapat melakukan aktivitas sehari-hari dan sudah dapat
bekerja kembali, hubungan dengan istri dan anak juga sudah mulai membaik. Pasien
mengaku sudah tidak ada keluhan yang muncul
2. Riwayat gangguan medik
Tidak ada riwayat penyakit seperti asma, diabetes mellitus, kelainan neurologis
kelainan kongenital dan riwayat kejang saat masih kecil pada pasien.
3. Riwayat penggunaan zat psikoaktif
Pasien merokok dan minum minuman beralkohol sejak SMP. Pasien tidak
mengonsumsi obat-obatan terlarang.

4. Riwayat gangguan sebelumnya

D. RIWAYAT KEHIDUPAN PRIBADI :


1. Riwayat perkembangan fisik :
Pasien anak ke-3 dari tiga bersaudara. Pasien dilahirkan dengan persalinan normal.
Tidak ada kelainan pada proses tumbuh kembang dari bayi sampai dewasa. Tidak ada
riwayat trauma kepala, kejang, operasi dan patah tulang.
2. Riwayat perkembangan kepribadian :
3
a. Masa kanak-kanak : pasien mengalami perkembangan kepribadian seperti
anak seusianya. Mulai dari kanak-kanak mampu aktif bergaul dengan orang
lain di lingkungannya.
b. Masa remaja : pasien memiliki hubungan pertemanan yang baik
dengan teman-teman di sekolah maupun di lingkungannya.
c. Masa dewasa : pasien mulai suka menyendiri, tidak aktif bergaul
dengan teman-temannya.
3. Riwayat pendidikan :
Pasien memulai pendidikannya dari jenjang SD sampai dengan lulus SLTA. Lalu
pasien tidak melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi karena masalah ekonomi
keluarga.
4. Riwayat pekerjaan:
Pasien bekerja sebagai buruh di papbrik tekstil sebagai operator dengan pendapatan
per bulan Rp. 1.500.000,00. Menurut pasien pendapatan tersebut masih kurang untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari
5. Kehidupan beragama:
Pasien jarang sholat maupun mengikuti kegiatan agama.
6. Kehidupan sosial dan perkawinan :
Pasien sudah menikah. Hubungan dengan istri dan orang-orang di lingkungan
sekitarnya baik.

E. RIWAYAT KELUARGA
Pasien adalah anak ke-3 dari tiga orang bersaudara. Pasien mengatakan kakak pertama
dan kedua juga mengalami gejala yang sama dengan pasien. Saudara pertama pasien
juga sempat dirawat di RS Soreang Bandung karena suka ngamuk-ngamuk di rumah
dan kadang menyendiri

Pohon keluarga

Keterangan:
4
: Laki-laki : Perempuan : Pasien

: Meninggal dunia

F. SITUASI KEHIDUPAN SOSIAL SEKARANG :


Pasien adalah anak ketiga dari tiga bersaudara. Sekarang pasien sudah menikah dan
mempunyai 3 orang anak. Pasien bekerja di pabrik tekstil sebagai operator, sedangkan
istri pasien bekerja sebagai ibu rumah tangga.

III. STATUS MENTAL


A. DESKRIPSI UMUM
Pada hari ke-19 dirawat
1. Penampilan:
Seorang laki-laki, penampilan sesuai usia, memakai baju dan celana RSJ berwarna
biru, tampak rapi. Postur tubuh normal. Perawatan diri tampak baik. Rambut
pendek dan sedikit berantakan, kuku tidak terawat. Kontak mata ada. Tidak
tampak adanya kecemasan.

2. Kesadaran:
a. Kesadaran sensorium/neurologik: Compos mentis
b. Kesadaran Psikiatrik: Tampak terganggu
3. Perilaku dan aktivitas psikomotor: Perhatian dan konsentrasi cukup, kontak mata
ada tetapi seperti waspada.
4. Sikap terhadap pemeriksa: kooperatif (pasien mendengarkan dan menjawab
pertanyaan).
5. Pembicaraan:
A. Cara berbicara: spontan, volume bicara normal, intonasi jelas, reaksi terhadap
pertanyaan kadang lambat.
B. Gangguan berbicara: tidak ada gangguan.

B. ALAM PERASAAN (EMOSI)


1. Suasana perasaan (mood) : eutimik
2. Afek ekspresi afektif
a. Arus : cepat
b. Stabilisasi : stabil
c. Kedalaman : dangkal
d. Skala diferensisasi : luas
e. Keserasian : serasi
f. Pengendalian impuls : kuat

5
g. Ekspresi : wajar
h. Dramatisasi : tidak ada akting emosional
i. Empati : tidak dapat dinilai

C. GANGGUAN PERSEPSI
a. Halusinasi : halusinasi auditorik dan visual
Pasien mendengar suara-suara bisikan yang mengatakan orang-
orang disekelilingnya ingin membunuhnya
Pasien melihat taplak meja seperti bendera Amerika, Singapura
dan Irak
b. Ilusi : tidak ada
c. Depersonalisasi : tidak ada
d. Derealisasi : tidak ada

D. SENSORIUM DAN KOGNITIF ( FUNGSI INTELEKTUAL)


1. Taraf pendidikan : tamat SLTA
2. Pengetahuan umum : kurang
3. Kecerdasan : rata-rata
4. Konsentrasi : kurang baik
5. Orientasi
a. Waktu : kurang baik (pasien lupa tanggal dan bulan sekarang)
b. Tempat: baik
c. Orang : baik
d. Situasi : baik
6. Daya ingat
a. Tingkat
Jangka panjang : Kurang baik (tidak mengingat jelas kapan pertama kali
sakit)
Jangka pendek : Baik (pasien menyebutkan menu sarapan tadi pagi)
Segera : Baik (dapat segera mengingat istilah yang diberitahu,
ingat nama).
b. Gangguan : Tidak ditemukan adanya gangguan.
7. Pikiran abstraktif
Persamaan : Kurang baik (tidak dapat memberitahukan persamaan apel dan pir)
Perbedaan : Kurang baik (pasien tidak dapat membedakan apel merah dengan apel
hijau)
8. Visuospasial : Baik (gambar jam dengan benar)
9. Bakat kreatif : Tidak terlihat
10. Kemampuan menolong diri sendiri : baik (mampu mandi, BAB dan BAK sendiri)

E. PROSES PIKIR
1. Arus pikir
Produktifitas : pasien bicara spontan
Kontinuitas : baik
Hendaya bahasa : tidak ada
2. Isi pikir
Preokupasi dalam pikiran : tidak ada
6
Waham : ada (Waham curiga, kejar)
Obsesi : tidak ada
Fobia : tidak ada
Gagasan rujukan : tidak ada
Gagasan pengaruh : tidak ada

F. PENGENDALIAN IMPULS
Baik, selama wawancara pasien dapat berlaku dengan tenang dan tidak menunjukkan
gejala yang agresif.
Namun, berdasarkan pengakuan dari pasien bila sedang mengamuk dan marah pasien
dapat memecahkan gelas kekepalanya.

G. DAYA NILAI
a. Daya nilai sosial : buruk (pasien mengatakan tidak apa-apa kalau memukul
anaknya)
b. Uji daya nilai : buruk (pasien mengatakan kalau melihat dompet jatuh diambil
uangnya)
c. Daya nilai realitas : buruk (pasien mempunyai gangguan perilaku dan halusinasi)

H. TILIKAN :
Tilikan derajat 1: dimana pasien tidak merasa bahwa ia sakit

I. RELIABILITAS : (Reality Testing Ability)/ RTA


Baik. Hal-hal yang diceritakan pasien mengenai gejalanya (waham dan halusinasi)
dapat dilihat dari isi pembicaraan pasien, bukan merupakan gejala buatan pasien saja.
Pasien dapat dipercaya dan tidak berpura-pura.

IV. PEMERIKSAAN FISIK


A. STATUS INTERNUS
1. Keadaan umum : Baik
2. Kesadaran : Compos mentis
3. Tensi : 120/80 mmHg
4. Nadi : 80x/menit
5. Suhu badan : 36,5C
6. Frekuensi pernafasan : 20x/menit
7. Bentuk tubuh : Tidak dilakukan pemeriksaan
8. Sistem kardiovaskuler : S1,S2 reguler, murmur (-), gallop (-)
9. Sistem respiratorius : suara nafas vesikuler, wheezing (-), ronkhi (-)
10. Sistem gastro-intestinal : bising usus (+) normal
11. Sistem musculo-sceletal : deformitas (-), simetris, eutropi
12. Sistem urogenital : Tidak dilakukan pemeriksaan
7
B. STATUS NEUROLOGIK
1. Saraf kranial (I-XII) : Tidak ditemukan kelainan
2. Gejala rangsang meningeal : kaku kuduk (-), Lasegue (-), Kernig (-)
3. Mata : CA-/-, SI -/-
4. Pupil : isokor, refleks cahaya +/+
5. Ofthalmoscopy : Tidak dilakukan pemeriksaan
6. Motorik : normotoni, normotrofi
kekuatan motorik
7. Sensibilitas :

8. Sistim saraf vegetatif : dalam batas normal


9. Fungsi luhur : Fungsi Bahasa: baik
Fungsi memori (ingatan): baik
Fungsi orientasi: baik
10. Gangguan khusus : Tidak ditemukan gangguan

V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang yang dianjurkan:
1. Darah rutin (GDS, SGOT, SGPT, Kreatinin)
2. CT-scan

Hasil Lab (28 April 2017, 11.40 WIB)


Glukosa sewaktu : 109 mg/dl
SGOT : 21,5 U/l (<35 U/l)
SGPT : 26,9 U/I (<45 U/l)
Kreatinin : 1,12 mg/dl (0,6-1,1)

VI. IKTHISAR PENEMUAN BERMAKNA


Seorang laki-laki berusia 44 tahun, beragama Islam, sudah menikah, pendidikan
terakhir SLTA, dan sudah bekerja sebagai buruh. Pasien adalah anak ketiga dari tiga
bersaudara. Sekarang pasien sudah menikah dan mempunyai 3 orang anak. Pasien
bekerja di pabrik tekstil sebagai operator, sedangkan istri pasien bekerja sebagai ibu
rumah tangga.

8
Sejak 3 minggu yang lalu pasien gelisah, katakutan, merasa dikejar-kejar,
merasa terancam atau ada yang mau mencelakakannya (paranoid). Pasien mendengar
suara-suara bisikan yang mengatakan orang-orang disekelilingnya ingin
membunuhnya (halusinasi auditorik), pasien juga sering marah-marah tanpa sebab
yang jelas (agresivitas verbal), selain itu pasien mengguyur kopi panas ke kepalanya
dan memukul kepalanya dengan gelas (agresivitas motorik).
Saat dilakukan anamnesis pada hari ke-19 dirawat, pasien mengatakan dia
masih sering melihat bendera Amerika, Singapur dan Irak, dan mengatakan Indonesia
akan terancam dengan negara tersebut. Pasien juga mengatakan bahwa ada mahkluk
gaib yang lagi melihatnya dengan tatapan marah dan ingin mencelakakannya
(paranoid). Pasien mendengar suara-suara bisikan dan suara dari dalam hati yang
menyuruh pasien untuk bernyanyi (halusinasi auditorik).
Pada tahun 2016 pasien dibawa ke RSJ dan dirawat karena memotong jari
kelingking kiri dan berhalusinasi. Pasien mengatakan ada suara-suara yang menyuruh
pasien untuk memotong jarinya.
Pada tahun 2010, pasien terlihat murung dan tidak bersemangat (depresif).
Aktivitas pasien menjadi menurun, hanya berdiam diri di rumah (hipoaktivitas).
Pasien lebih sering menyendiri, pasien sulit tidur, tidak bisa diam (hiperaktif),
berbicara sendiri (autistik), sering marah-marah (agresivitas verbal), mengancam,
membanting barang (agresivitas motorik), bicara dan tertawa sendiri (autistik).
Pasien sering melihat bayangan yang tidak dilihat orang lain (halusinasi visual).
Sampai sekarang pasien tidak merasa dirinya ada gangguan jiwa (tilikan 1).
Pada pemeriksaan, pasien menunjukkan gejala kesadaran psikiatrik yang terganggu.
Sikap pasien terhadap pemeriksa kooperatif, cara berbicara logore. Perhatian dan
konsentrasi cukup, kontak mata ada tetapi seperti waspada. Terdapat halusinasi
auditorik dan visual. Konsentrasi pasien baik, orientasi orang dan tempat baik,
sedangkan orientasi waktu jangka panjang kurang baik. Daya ingat jangka panjang
kurang baik. Terdapat waham curiga dan waham kejar. Tilikan pasien derajat I. Tidak
terdapat kelainan pada status interna dan status neurologis.

VII. FORMULASI DIAGNOSTIK


Susunan formulasi diagnostik ini berdasarkan dengan penemuan bermakna dengan urutan
untuk evaluasi multiaksial, sebagai berikut:
Diagnosa banding
1. F20.0 Skizofrenia Paranoid

9
a. Gangguan jiwa, atas dasar adanya gangguan pada pikiran dan perilaku yang
menimbulkan penderitaan (distress) dan menyebabkan gangguan dalam kehidupan
sehari-hari (hendaya)
b. Gangguan jiwa ini termasuk gangguan mental non-organik/GMNO, karena
Tidak terdapat adanya gangguan kesadaran neurologik
Tidak tampak ada retardasi mental
Tidak ada riwayat trauma kepala yang dapat menimbulkan disfungsi.
c. Gangguan psikotik, dibuktikan dengan adanya :
Paranoid
Halusinasi auditorik
Waham curiga
Gangguan fungsi (hendaya): Gangguan dalam fungsi kehidupan pribadi
d. Menurut PPDGJ, skizofrenia(F20) :
a. Halusinasi
b. Adanya waham
c. Gejala di atas berlangsung dalam kurun waktu lebih dari 1 bulan.
d. Gangguan fungsi berupa pasien tidak dapat bekerja
b. Diagnosis kerja F20.0 Skizofrenia Paranoid, karena:
Halusinasi auditorik dan visual
Waham curiga
Arus pikir asosiasi longgar

2. F22.0 Gangguan Waham


- Waham-waham merupakan satu-satunya ciri khas klinis atau gejala yang paling
mencolok. Waham-waham tersebut harus sudah ada sedikitnya 3 bulan lamanya dan
harus bersifat khas pribadi dan bukan budaya setempat.
- Tidak boleh ada bukti-bukti tentang adanya penyakit otak
- Tidak boleh ada halusinasi auditorik atau hanya kadang-kadang saja ada dan bersifat
sementara.
- Tidak ada riwayat gejala-gejala skizofrenia
3. Skizofrenia residual (F 20.5), kriteria:
- Gejala negatif skizofrenia yang menonjol (aktivitas , afek yang menumpul, sikap
pasif, kemiskinan dalam kuantitas / isi pembicaraan, volume suara yang pelan.
- Ada riwayat satu episode psikotik yang jelas di masa lampau memenuhi kriteria
diagnostik untuk skizofrenia.

10
- Sudah melampaui kurun waktu satu tahun di mana intensitas dan frekuensi gejala yang
nyata seperti waham dan halusinasi telah sangat berkurang (minimal) dan telah timbul
sindrom negatif skizofrenia.
- Tidak terdapat demensia atau penyakit/ gangguan organik otak lain, depresi kronis
yang dapat menjelaskan hendaya negatif tersebut.
4. Gangguan depresif berulang, episode kini berulang dengan gejala psikotik (F 33.3)
Dimana terdapat episode depresif berat perasaan depresif, kehilangan minat dan
kesenangan, aktivitas berkurang), konsentrasi dan perhatian berkurang, harga diri dan
kepercayaan diri berkurang, gagasan tentang perasaan bersalah dan tidak berguna, gagasan/
perbuatan membahayakan diri/ bunuh diri, tidur terganggu.
Sekurang-kurangnya dua episode telah berlangsung masing-masing selama minimal 2
minggu dengan sela waktu beberapa bulan tanpa gangguan perasaaan (mood) yang bermakna
5. Skizoafektif (F 25.1)
Gejala skizofrenik + depresi menonjol pada saat bersamaan, dalam satu episode
penyakit yang sama.
Perasaan depresi yang menonjol + dua gejala depresif yang khas (perasaan depresif,
kehilangan minat dan kesenangan), hilangnya energi, nafsu makan, hendaya dalam
konsentrasi, perasaan bersalah, keputusasaan, dan pikiran bunuh diri.
Gejala skizofrenik yang lebih khas, dimana pasien dapat menyakini bahwa pikiran-
pikirannya sedang disiarkan.
Episode skizoafektif tipe depresif biasanya berlangsung lebih lama dan prognosisnya
kurang baik dimana walaupun sebagian besar pasien sembuh secara sempurna, ada
sebagian lain yang akhirnya berkembang menjadi defek skizofrenik.

Diagnosis Kerja :
Diagnosis kerja untuk kasus ini adalah F20.0 Skizofrenia Paranoid karena:
1. Gangguan psikotik, dibuktikan dengan adanya :
Paranoid
Halusinasi auditorik
Waham curiga
2. Menurut PPDGJ, pasien ini mengalami skizofrenia(F20) karena:
a. Halusinasi auditorik berupa suara-suara yang sering membisikkan pasien untuk
memukuli anaknya.
b. Adanya waham rujukan berupa pasien curiga kepada orang lain.
c. Gejala di atas berlangsung dalam kurun waktu lebih dari 1 bulan.
3. Diagnosis kerja F20.0 Skizofrenia Paranoid, karena:
Halusinasi auditorik dan visual
Waham curiga

11
Arus pikir asosiasi longgar
4. Gangguan jiwa ini termasuk gangguan mental non-organik/GMNO

VIII. EVALUASI MULTIAKSIAL


Aksis I : DD: Skizoprenia Paranoid (F20.0), Gangguan waham (F22.0),
Skizofrenia residual (F 20.5), gangguan depresif berulang, episode
kini berulang dengan gejala psikotik (F 33.3), skizoafektif (F 25.1)
WD: F20.0 Skizoprenia Paranoid
Aksis II : tidak ada ciri kepribadian dan retardasi mental
Aksis III : Post amputasi digiti V
Aksis IV : putus obat dan masalah ekonomi
Aksis V : GAF Scale pada hari pertama dibawah ke rumah sakit : 50-41 gejala
berat (serious), disabilitas berat

IX. PROGNOSIS
1. Faktor yang mempengaruhi prognosis :
Faktor yang memperbaiki Faktor yang memperburuk
Sudah menikah Sudahkambuh lebih dari
2 kali, jarang kontrol,
dan malas minum obat.
Usia dewasa Ada Riwayat dalam keluarga
Ada dukungan keluarga

Skor 3 2

2. Kesimpulan prognosis
- Quo ad vitam : dubia ad bonam
- Quo ad functionam : dubia ad bonam
- Quo ad sanationam : dubia ad bonam

X. DAFTAR PROBLEM
Organobiologik: Post amputasi digiti V
Psikologi/psikiatrik: Halusinasi auditorik & visual, waham curiga
Sosial/keluarga: masalah ekonomi

XI. TERAPI

1. Psikofarmaka
R/ Haloperidol 1,5 mg No VI
S 3 dd tab I

12
----------------------------------------------

Pro: Tn. DW
Umur: 44 tahun

2. Psikoterapi
a. Terapi individual
Memberikan informasi dan edukasi pada pasien mengenai penyakitnya.
Memberikan informasi pada pasien mengenai pentingnya minum obat
dan kontrol secara teratur.
Memotivasi pasien untuk tidak memikirkan hal-hal yang dapat
membuat pengobatan pada dirinya menjadi semakin lama misalkan
tentang istri dan anak-anak yang menelantarkannya
b. Terapi kelompok
Memotivasi pasien untuk bersosialisasi dengan orang yang ada di
sekitar panti.

c. Terhadap keluarganya
Memberi edukasi keluarganya agar mau menerima pasien kembali
untuk dirawat
Memberi penjelasan tentang keadaan penyakit pasien untuk
mendukung proses penyembuhan dan mencegah kekambuhan
penyakitnya,
Memberi informasi dan edukasi kepada keluarga mengenai terapi yang
diberikan pada pasien dan pentingnya pasien agar dipantau kontrol dan
minum obat secara teratur untuk mencegah rawat jalan yang tidak
teratur.

3. Tindak lanjut
Kontrol tiap bulan ke rumah sakit jiwa atau ke dokter spesialis
kejiwaan bila telah dipulangkan dari panti
Minum teratur

13