Anda di halaman 1dari 9

STATUS PASIEN

BAGIAN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN


RSUD UNDATA PALU

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : An. Indah
Umur : 4 tahun 10 bulan
Jenis kelamin : perempuan
Alamat : Perumahan Pesona Nokilalaki
Pekerjaan :-
Pendidikan terakhir : TK
Agama :-
Status pernikahan :-
Tanggal pemeriksaan: 23/1/2016
Ruangan : Poliklinik Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Undata

II. ANAMNESIS
Keluhan utama :
Botak pada sebagian kepala

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien datang dengan keluhan botak pada sebagian kepala. Keluhan dirasakan
sejak 2 minggu yang lalu. Botak pada sebagian kepala dirasakan tiba-tiba.
Awalnya area yang botak pada kepala hanya berukuran kecil. Namun lama-
kelamaan ukuran area kepala yang botak melebar. Bagian kepala yang botak
hanya pada bagian puncak kepala. Area kepala yang botak terasa gatal. Tidak
ada area tubuh lain yang mengalami kebotakan. Tidak ada teman
sepermainannya yang memiliki keluhan yang sama.
Di rumah pasien memiliki kucing peliharaan dan pasien sering tidur dengan
kucing peliharaannya tersebut.

1
Riwayat penyakit dahulu :
Riwayat alergi (-). Pasien belum pernah mengalami keluhan seperti ini
sebelumnya.

Riwayat penyakit keluarga :


Tidak ada keluarga dengan keluhan yang sama.

III. PEMERIKSAAN FISIK


a. Status Generalisata
Keadaan umum : sakit ringan
Kesadaran : compos mentis
Status gizi :gizi baik
b. Vital Sign
Tekanan darah : tidak dilakukan pengukuran
Nadi : 100 kali/menit
Respirasi : 20 kali/menit
Suhu : tidak dilakukan pengukuran
c. Status Dermatologis
Lokalisasi:
1. Kepala : Ditemukan skuama berwarna abu-abu pada kulit
kepala, rambut patah beberapa millimeter di atas kulit kepala
2. Leher : Tidak terdapat ujud kelainan kulit (UKK)
3. Dada : Tidak terdapat ujud kelainan kulit (UKK)
4. Punggung : Tidak terdapat ujud kelainan kulit (UKK)
5. Perut : Tidak terdapat ujud kelainan kulit (UKK)
6. Genitalia : Tidak terdapat ujud kelainan kulit (UKK)
7. Bokong : Tidak terdapat ujud kelainan kulit (UKK)
8. Ekstremitas atas : Tidak terdapat ujud kelainan kulit (UKK)
9. Ekstremitas bawah : Tidak terdapat ujud kelainan kulit (UKK)

2
IV. GAMBAR

Gambar 1. Tampak skuama berwarna abu-abu pada kulit kepala, rambut


patah beberapa millimeter di atas kulit kepala

V. RESUME
Pasien datang dengan keluhan botak pada sebagian kepala yang disertai
gatal sejak 2 minggu yang lalu. Kebotakan dirasakan tiba-tiba, yang awalnya
berukuran kecil namun lama-kelamaan melebar. Kebotakan hanya pada puncak
kepala. Pasien sering kontak dengan kucing peliharaan.
Pada pemeriksaan fisik kepala terdapat skuama berwarna abu-abu pada
kulit kepala, rambut patah beberapa millimeter di atas kulit kepala.
Pada pemeriksaan lampu wood didapatkan fluoresensi berwarna
kehijauan pada area kepala yang mengalami kebotakan.

VI. DIAGNOSA KERJA


Tinea capitis tipe grey patch

3
VII. DIAGNOSA BANDING
Dermatitis seboroik
Alopecia areata
Scalp psoriasis

VIII. PEMERIKSAAN TAMBAHAN


Pemeriksaan lampu wood

Gambar 2. Tampak fluoresensi kehijauan pada area yang botak


(pemeriksaan lampu wood positif)

IX. PENATALAKSANAAN
a. Non Medikamentosa
Menghindari pemakaian alat bersama, misalnya topi, pakaian, dan alat-
alat rambut
Hindari menggaruk kepala
Hindari kontak dengan kucing peliharaan. Jika perlu, periksa juga kucing
peliharaan untuk memastikan apakah kucing terinfeksi jamur atau tidak

4
b. Medikamentosa
Topikal
Sampo ketokonazol 2% digunakan 3 kali seminggu dan didiamkan pada
kulit kepala selama minimal 5 menit

Sistemik :
Griseofulvin ultramicrosize 125mg 2x1
Cetirizin syr. 5mg/5ml 1x1 cth

X. PROGNOSIS
a. Qua ad vitam : ad bonam
b. Qua ad fungtionam : ad bonam
c. Qua ad sanationam : ad bonam
d. Qua ad cosmetikam : ad bonam

PEMBAHASAN

Tinea kapitis adalah kelainan pada kulit dan rambut kepala yang
disebabkan oleh spesies dermatofita. Kelainan ini dapat ditandai dengan lesi
bersisik, kemerah-merahan, alopesia, dan kadang-kadang terjadi gambaran klinis
yang lebih berat, yang disebut kerion. 1
Agen penyebab tinea kapitis hanya dua genus jamur, yaitu Tricophyton
dan Microsporum. T. tonsurans adalah spesies yang saat ini paling sering
menyebabkan tinea kapitis di seluruh dunia dan yang kedua yaitu M. canis. Di
daerah Mediteranian, M. canis menjadi organism dominan yang menyebabkan
tinea kapitis. M. canis merupakan dermatofita yang dibawa oleh kucing liar dan
anjing, serta hewan peliharaan seperti anak anjing, anak kucing, dan kelinci. 2
Jamur penyebab tinea kapitis secara iv vivo hidup dikeratin yang terbentuk
lengkap di bagian rambut yang sudah ati. Jamur menyebabkan keratolisis oleh
enzim keratinase, walaupun banyak juga jamur penghasil keratinase yang tidak

5
menyebabkan tinea kapitis. Penjelasan mengenai keratolisis masih belum
diketahui, sehingga pembuktian keratolisi hanya berdasarkan pengurangan keratin
secara tidak langsung. Insidens tinea kapitis pada anak prepubertas terjadi karena
menurunnya asam lemak dalam sebum. Infeksi dimulai dengan invasi dermatofita
melalui stratum korneum perifolikular, hifa tumbuh ke dalam folikel dan berhenti
pada pertemuan antara sel yang telah berkeratin tebal dan tidak berinti dengan
yang masih berinti. Lingkaran ujung-ujung hifa ini disebut Adamsons Fringe.
Beberapa spesies dermatofita selanjutnya membentuk spora bulat kecil atau besar
di sisi lura rambut (spora eksotrik); beberapa spesien lainnya membentuk spora
besar di dalam rambut (spora endotriks). Selama pertumbuhan rambut, jamur ikut
tumbuh kearah batang rambut yang menyebabkan rambut patah dan terjadi
alopesia. Hifa tidak ditemukan pada rambut yang terdapat di atas kulit. 3
Terdapat beberapa bentuk gejala klinis tinea kapitis, yaitu: 4
1. Noninflamatori
a. Grey patch. Infeksi Microsporum berspora kecil eksotrik menghasilkan
karakteristik sisik halus dengan alopesia sirkular, berwarna abu-abu pucat
akibat arthrospora melapisi rambut yang terinfeksi. Inflamasi minimal
dengan fungi arthropofilik; namun, spesien zoofilik atau gefilik biasanya
menghasilkan respon inflamasi yang lebih intens.
b. Balack dot. Infeksi endotriks oleh spesies Trichophyton menghasilkan
alopesia patch ddengan sisik halus. Potongan rambut yang batah
menghasilkan tampakan black dot. Patch kemungkinan multipel.
c. Diffuse scale. Pada beberapa kasus, alopesia minimal atau tidak ada dan
infeksi tampak menyeluruh, pembentukan sisik yan menyabar pada kulit
kepala, seperti ketombe.
2. Inflamatori
a. Diffuse pustular. Pada varian yang lebih inflamasi, alopesia difus berbatas
tegas dapat bersamaan dengan pustule yang menyebar atau folikulitis
low-grade. Dapat disertai dengan limfadenopati regional yang nyeri.

6
b. Kerion atau kerion celsi, istilah ini digunakan untuk tinea kapitis yang
muncul sebagai massa inflamasi yang nyeri, lunak, basah, dan disertai
alopesia. Plak dapat soliter atau multipel, terdapat pustule, dan krusta.
c. Favus. Merupakan tinea kapitis inflamatori kronis yang biasa dijumpai
pada infeksi T. schoenleinii , varian ini biasanya ditemukan di daerah
timur tengah dan afrika utara. Favus ditandai dengan lesi warna kuning,
berkrusta, lesi berbentuk cangkir (scutula) yang terdiri dari debris hifa
dan keratin, yang berkembang di sekeliling lubang folikular. Favus dapat
mengakibatkan alopesia sikatrikal. Infeksi favus berfluorosensi di bawah
lampu wood.
d. Dermatophytid, biasanya muncul di bagian luar helix telinga, dapat
bersamaan dengan mulainya pengobatan. Erupsi ini merupakan respon
host yang dimediasi sel terhadap dermatofita setelah pengobatan efektif
dimulai dan jangan menghentikan menghentikan terapi sistemik.
Pemberian kortikosteroid topical (atau oral jika kondisi lebih parah) akan
memperbaiki gejala.
Pemeriksaan penunjang yang dapat digunakan untuk membantu diagnosis
tinea kapitis antara lain: 3
1. Pemeriksaan lampu wood. Pemeriksaan ini dilakukan di ruang gelap.
Microsporum canis, M. audoini, M. distortum, M. ferrugineum dan kadang-
kadang M. schoenleinii memberikan fluoresensi kehijauan, sedangkan T.
tonsurans dan T. violaseum tidak berfluoresensi.
2. Pemeriksaan KOH. Bahan diambil dari kerokan kulit kepala dan pencabutan
kulit kepala, kemudian dilakukan pemeriksaan dengan larutan KOH 10-20%.
Pada eksotriks terlihat artrospora yang kecil di sekitar batang rambut dan pada
infeksi endotriks tampak rantai artrospora di dalam batang rambut. Pada
skuama kulit kepala dijumpai hifa dan artrospora.
3. Biakan. Pemeriksaan ini bertujuan untuk menentukan spesiesdermatofia
penyebab tinea kapitis. Media biakan yang biasa dugunakan adalah agar
Sabouraud. Jamur akan tumbuh dalam 5-14 hari pada media DTM.

7
Pertumbuhan jamur dapat dilihat dengan perubahan warna dari kuning ke
merah yang dimulai setelah 24-48 jam, serta jelas dibaca pada hari 3-7.
Diagnosis banding tinea kapitis sangat luas, meliputi berbagai kondisi
yang dapat menyebabkan hilangnya rambut yang tidak lengkap, pebentukan sisik,
atau inflamasi kulit kepala. Scalp psoriasis, dermatitis seboroik, dan dermatitis
atopic kemungkinan sulit dibedakan dari tinea kapitis noninflamatori. Tinea
capitis inflamatori kemungkinan salah didiagnosis sebagai folikulitis bacterial,
folikulitis decalvans atau abses. 4
Tujuan terapi yaitu untuk menghilangkan organism penyebab, sehingga
menghasilkan kesembuhan klinis dan mikologis secepat dan seaman mungkin;
meringankan gejala; mencegah scarring; dan mengurangi transmisi kepada orang
lain. 4
Antijamur yang dapat diberikan pada pasien dan keluarganya berupa
sampo ketokonazol 2% atau selenium sulfide 1% atau 2,5%, diberikan paling
sedikit selama 3x/minggu dan digunakan pada kulit kepala paling sedikit 5 menit.
Selain itu, dapat juga diberikan sampo zinc pyrithion 1% atau 2% dan antiseptic
povidon iodine 2,5%. Sampo ini diberikan selama belum ada kesembuhan klinis
dan mikologis. Pencegahan penularan dilakukan dengan menghindari pemakaian
alat bersama, misalnya topi, telepon, pakaian, dan alat-alat rambut. 3
Antifungi oral yang dapat digunakan yaitu Griseofulvin. Obat ini masih
merupakan obat pilihan kerena aman dapat ditoleransi baik oleh anak. Terdapat 2
bentuk yaitu ultramicrosize (dosis anak 10-15mg/kgBB) dan microsize (dosis
anak15-25mg/kgBB). Obat ini digunakan selama 6-12 minggu. 2

DAFTAR PUSTAKA

1. Menaldi SL. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi ketujuh. Jakarta: Badan
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2015.
2. Bennassar A, Grimalt R. Management of Tinea Capitis in Chilhood. Clinical,
Cosmetic and Invetigation Dermatology. Vol. 3. 2010.

8
3. Bramono K (Ed.). Dermatomikosis Superfisialis Edisi kedua. Jakarta: Badan
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2013.
4. Fuller LC, Barton RC, Mustapa MF, Proudfoot LE, Punjabi SP, Higgins EM.
British Association of Dermatologists Guidelines for the Management of
Tinea Capitis 2014. British journal of Dermatology. Vol. 171. 2014.