Anda di halaman 1dari 34

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
karuniaNya penyusun dapat menyelesaikan makalah ini. Tujuan penyusunan makalah ini
adalah untuk memenuhi tugas Reproduksi dan menambah pengetahuan kepada pembaca.
Makalah ini berisi tentang gambaran penyakit yang terjadi pada wanita dan dampak
fisik yang dialami pada penderita kanker payudara.
Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu
kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu penyusun harapkan demi
kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, penyusun menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Tuhan Yang
Maha Esa segala usaha kita. Amin.

Penyusun
DAFTAR ISI

Halaman :
Halaman Judul ..................................................................................................... i
Kata Pengantar .................................................................................................... ii
Daftar Isi ........................................................................................................... iii

BAB 1 PENDAHULUAN ................................................................................. 1


1.1 Latar Belakang ............................................................................................ 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................ 2
1.3 Tujuan .......................................................................................................... 2

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA


2.1.1 KANKER SERVIKS
A. Definisi ..................................................................................................
B. Klasifikasi. ..............................................................................................
C. Etiologi ...................................................................................................
D. Patofisiologi ............................................................................................
E. Manifestasi Klinis ..................................................................................
F. Pemeriksaan Diagnosis ...........................................................................
G. Terapi ......................................................................................................
H. Pencegahan .............................................................................................

2.1.2 KANKER PAYUDARA ............................................................................


A. Definisi ..................................................................................................
B. Klasifikasi ...............................................................................................
C. Etiologi....................................................................................................
D. Patofisiologi ............................................................................................
E. Manifestasi Klinis ...................................................................................
F. Komplikasi ..............................................................................................
G. Jenis Kanker Payudara............................................................................
H. Stadium Kanker Payudara ......................................................................
I. Pemeriksaan Penunjang ...........................................................................
J. Penatalaksanaan .......................................................................................

2.1.3 KISTA OVARIUM


A. Definisi ...................................................................................................
B.Klasifikasi ................................................................................................
C. Etiologi....................................................................................................
D. Patofisiologi ............................................................................................
E. Manifestasi Klinis ...................................................................................
F.Komplikasi ..............................................................................................
G.Penatalaksanaan ......................................................................................
BAB 3 PENUTUP ........................................................................................... 14
3.1 Kesimpulan ................................................................................................. 14
3.2 Saran ........................................................................................................... 14

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 15


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam pengertian secara umum, kanker dapat dikatakan sebagai pembelahan sel yang tak
terkendali. Tanpa memperhatikan jenisnya, kanker pada mulanya berkembang pada sel
normal dan sehat dan memiliki karakteristik dasar sel normal ini, setidaknya dalam
tahapan perkembangan awalnya. Namun demikian, sel-sel ini cenderung kehilangan
sebagian kemampuannya. Salah satu kemampuan yang penting adalah kemampuan untuk
bereaksi terhadap pesan-pesan yang dikirimkan oleh lingkungannya atau oleh
organismenya sendiri, yang mengatur replikasi sel. Ketika ketakteraturan seperti ini
terjadi, sel tak lagi dapat mengendalikan replikasinya dan pertumbuhan jaringan. Proses
ini, yang dikenal dengan "pembelahan berkesinambungan" secara genetis ditransfer
kepada sel-sel baru, mengakibatkan penyebaran tumor, yang pada gilirannya menyerang
jaringan tetangganya. Sel yang rusak ini memakan nutrisi sel lain, menghabiskan suplai
asam amino yang sangat penting. Sel kanker akhirnya menutup saluran dalam tubuh
manusia dengan volumenya yang terus membesar. Mereka berakumulasi dalam berbagai
organ seperti otak, paru-paru, hati dan ginjal, mengelilingi sel sehat dan normal dalam
organ ini dan menghalangi fungsi normalnya, akhirnya menimbulkan ancaman yang
serius terhadap kehidupan manusia.

1.2 Tujuan
Tujuan penulisan ini adalah:
1. Agar Mahasiswa Mengenal apa itu kanker Serviks.
2. Agar Mahasiswa Mengenal apa kanker payudara.
3. Agar Mahasiswa Mengenal apa itu Kista Ovarium.
BAB II
KONSEP TEORI

2.1.1 KANKER SERVIKS

A. Defenisi

Kanker merupakan pertumbuhan baru yang ganas terdiri dari sel-sel epitelial yang
cenderung menginfiltrasi jaringan sekitarnya dan menimbulkan metastasis.
Kanker serviks adalah keadaan dimana sel-sel neoplastik terdapat pada seluruh lapisan
epitel pada daerah serviks uteri. Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas
pada daerah mulut rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak
terkontrol dan merusak jaringan normal di sekitarnya. (FKUI, 1990; FKKP, 1997).
B. Klafisikasi
Klasifikasi yang digunakan sekarang adalah yang dianjurkan oleh IFGO (International
Federation of Obstetrics and Ginecology)

Tingkat 0 : carcinoma in situ.

Selaput basal masih utuh : disebut juga carcinoma ekstra epitel.

Tingkat 1 : carcinoma terbatas pada cervix.

Tingkat 1a : carcinoma micro invasive.

Proses telah menembus selaput basal tapi tidak lebih dari 3 mm. Dari selaput
tersebut dan tidak banyak tempat (papil invasive tak banyak) dan tidak
terdapat sel ganas di pembuluh darah / limfe

Tingkat 1b : Proses masih terbatas pada portio tapi suhdah terjadi sel tumor ganas yang
lebih jauh dari 1a.

Tingkat 1b : proses tidak nyata secara klinis tapi secara histopalogic sudah terjadi invasi
sel tumor ganas.

Tingkat 2 : Ca. Menyebar ke 2/3 bagian atas vagina dan pada uterus

Tingkat 2a : Proses sedah menyebar ke vagina dalam batas 2/3 proximal sedangkan
parametrium masih bebas dari proses.

Tingkat 2b : Proses sudah meluas sampai parametrium tapi belum masuk dinding
panggul.

Tngkat 3 : Ca. telah menyebar ke dinding pervic1/3 bagian bawah vagina

Tingkat 3a : proses sudah meluas 1/3 distal vagina proses parametria tidak meluas
mencapai dinding panggul
Tingkat 3b : proses sudah mencapai dinding pada panggul dan tidak terdapat daerah
terbebas antara portio dan proses pada dinding panggul tersebut.

Tingkat 4 : Ca. telah menyebar ke organ lain.

Tingkat 4a : proses telah mencapai mukosa rectum dan atau vu / sudah keluar dari
panggul kecil, metastasis juga belum terjadi

Tingkat 4b : terjadi metastasis jauh.

C. Etiologi
Penyebab kanker serviks belum jelas diketahui namun ada beberapa faktor resiko dan
predisposisi yang menonjol, antara lain :

1. Umur pertama kali melakukan hubungan seksual.


Penelitian menunjukkan bahwa semakin muda wanita melakukan hubungan seksual
semakin besar mendapat kanker serviks. Kawin pada usia 20 tahun dianggap masih
terlalu muda.

2. Jumlah kehamilan dan partus.


Kanker serviks terbanyak dijumpai pada wanita yang sering partus. Semakin sering
partus semakin besar kemungkinan resiko mendapat karsinoma serviks.

3. Jumlah perkawinan.
Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan berganti-ganti pasangan
mempunyai faktor resiko yang besar terhadap kankers serviks ini.

4. Infeksi virus.
Infeksi virus herpes simpleks (HSV-2) dan virus papiloma atau virus kondiloma
akuminata diduga sebagai factor penyebab kanker serviks.
5. Sosial Ekonomi.
Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah mungkin
faktor sosial ekonomi erat kaitannya dengan gizi, imunitas dan kebersihan
perseorangan. Pada golongan sosial ekonomi rendah umumnya kuantitas dan kualitas
makanan kurang hal ini mempengaruhi imunitas tubuh.

6. Hygiene dan sirkumsisi.


Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya kankers serviks pada wanita yang
pasangannya belum disirkumsisi. Hal ini karena pada pria non sirkum hygiene penis
tidak terawat sehingga banyak kumpulan-kumpulan smegma.

7. Pemakian AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim).


Pemakaian AKDR akan berpengaruh terhadap serviks yaitu bermula dari adanya erosi
diserviks yang kemudian menjadi infeksi yang berupa radang yang terus menerus, hal
ini dapat sebagai pencetus terbentuknya kanker serviks.

D. Patofisiologi
Serviks mempunyai dua jenis sel epitel yang melapisi nektoserviks dan endoserviks,
yaitu sel epitel kolumner dan sel epitel squamosa yang disatukan oleh Sambungan
Squamosa Kolumner (SSK) / Squamosa Columner Junction (SCJ)

Pada awalnya metaplasia (proses pergantian epitel kolumner dan squamosa)


berlangsung fisiologis. Namun dengan adanya mutagen dari agen yang ditularkan melalui
hubungan seksual seperti sperma, virus herpes simplek tipe II, maka yang semula
fisiologis berubah menjadi displasia. Displasia merupakan karakteristik konstitusional sel
seperti potensi untuk menjadi ganas.

Hampir semua ca. serviks didahului dengan derajat pertumbuhan prakanker yaitu
displasia dan karsinoma insitu. Proses perubahan yang terjadi dimulai di daerah
Squamosa Columner Junction (SCJ) atau SSK dari selaput lendir portio. Pada awal
perkembangannya, ca. serviks tidak memberikan tanda-tanda dan keluhan. Pada
pemeriksaan speculum, tampak sebagai portio yang erosive (metaplasia squamosa) yang
fisiologik atau patologik.

Tumor dapat tumbuh sebagai berikut:

1. Eksofitik, mulai dari SCJ kearah lumen vagina sebagai masa proliferasi yang
mengalami infeksi sekunder dan nekrosis.
2. Endofitik, mulai dari SCJ tumbuh ke dalam stroma serviks dan cenderung untuk
mengadakan infiltrasi menjadi ulkus.
3. Ulseratif, mulai dari SCJ dan cenderung merusak struktur jaringan serviks dan
melibatkan awal fornises vagina untuk menjadi ulkus yang luas.
Displasia pada serviks disebut Neoplasia Servikal Intraepitelial (CIN). CIN ada tiga
tingkatan yaitu:

a. CIN I : displasia ringan, terjadi di epitel basal lapisan ketiga, perubahan sitoplasmik
terjadi di atas sel epitel kedua dan ketiga.
b. CIN II : displasia sedang, perubahan ditemukan pada epitel yang lebih rendah dan
pertengahan, perubahan sitoplasmik terjadi di atas sel epitel ketiga.
c. CIN III : displasia berat, terjadi perubahan nucleus, termasuk pada semua lapis sel
epitel, diferensiasi sel minimal dan karsinoma insitu.

E. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala stadium awal Ca. Serviks jarang terdeteksi. Pada tahap lanjut, tanda dan
gejalanya lebih jelas terlihat, diantaranya adalah:

1. Perdarahan spontan
2. Perdarahan saat defekasi keluhan
3. Perdarahan berbau busuk yang khas
4. Nyeri diatas pubis dan sekitar panggul
5. Perdarahan yang dialami segera setelah coitus.
6. Keputihan yang purulen, berbau.
7. Anemia.
8. Cepat lelah.
9. Kehilangan berat badan.

F. Pemeriksaan Diagnosis
a. Sitologi / Pap Smear.
Keuntungan : murah dapat memeriksa bagian-bagian yang tidak terlihat.

Kelemahan : tidak dapat menentukan dengan tepat lokalisasi.

b. Schillentest.
Epitel karsinoma serviks tidak mengandung glycogen karena tidak mengikat yodium.
Kalau porsio diberi yodium maka epitel karsinoma yang normal akan berwarna coklat
tua, sedang yang terkena karsinoma tidak berwarna.

c. Koloskopi.
Memeriksa dengan menggunakan alat untuk melihat serviks dengan lampu dan
dibesarkan 10-40 kali.

Keuntungan : dapat melihat jelas daerah yang bersangkutan sehingga mudah untuk
melakukan biopsy.

Kelemahan : hanya dapat memeiksa daerah yang terlihat saja yaitu porsio, sedang
kelainan pada skuamosa columnar junction dan intra servikal tidak terlihat.

d. Kolpomikroskopi.
Melihat hapusan vagina (Pap Smear) dengan pembesaran sampai 200 kali.

e. Biopsi.
Dengan biopsi dapat ditemukan atau ditentukan jenis karsinomanya.

f. Konisasi.
Dengan cara mengangkat jaringan yang berisi selaput lendir serviks dan epitel gepeng
dan kelenjarnya. Konisasi dilakukan bila hasil sitologi meragukan dan pada serviks
tidak tampak kelainan-kelainan yang jelas.

G. Terapi
1. Irradiasi.
Dapat dipakai untuk semua stadium.
Dapat dipakai untuk wanita gemuk tua dan pada medical risk.
Tidak menyebabkan kematian seperti operasi.
Dosis :

Penyinaran ditujukan pada jaringan karsinoma yang terletak diserviks.

Komplikasi Irradiasi :

Kerentanan kandungan kencing.


Diare.
Perdarahan rectal.
Fistula vesico atau rectovaginalis.
2. Operasi.
Operasi limfadektomi untuk stadium I dan II.
Operasi histerektomi vagina yang radikal.
3. Kombinasi.
Irradiasi dan pembedahan.

Tidak dilakukan sebagai hal yang rutin, sebab radiasi menyebabkan bertambahnya
vaskularisasi, odema. Sehingga tindakan operasi berikutnya dapat mengalami
kesukaran dan sering menyebabkan fistula, disamping itu juga menambah penyebaran
kesistem limfe dan peredaran darah

4. Cytostatika.
Bleomycin, terapi terhadap karsinoma serviks yang radio resisten. 5 % dari
karsinoma serviks adalah resisten terhadap radioterapi, diangap resisten bila 8-10
minggu post terapi keadaan masih tetap sama.

H. Pencegahan
1. Personal Higiene yang baik, terutama daerah genitalia
2. Penggunaan obat yang terkontrol
3. Gaya hidup yang baik
4. Circumcici bagi pasangan
5. lingkungan yang baik
2.1.2 KANKER PAYUDARA
A. Defenisi
1. Kanker payudara adalah sekelompok sel tidak normal pada payudara yang terus
tumbuh berupa ganda. Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk benjolan di payudara.
Jika benjolan kanker itu tidak dibuang atau terkontrol, sel-sel kanker bisa menyebar
(metastase) pada bagian-bagian tubuh lain. Metastase bisa terjadi pada kelenjar getah
bening (limfe) ketiak ataupun di atas tulang belikat. Selain itu sel-sel kanker bisa
bersarang di tulang, paru-paru, hati, kulit, dan bawah kulit. (Erik T, 2005, hal: 39-40)
2. Ketika sejumlah sel di dalam payudara tumbuh dan berkembang dengan tidak
terkendali, inilah yang disebut kanker payudara. Sel-sel tersebut dapat menyerang
jaringan sekitar dan menyebar ke seluruh tubuh. Kumpulan besar dari jaringan yang
tidak terkontrol ini disebut tumor atau benjolan. Akan tetapi, tidak semua tumor
merupakan kanker karena sifatnya yang tidak menyebar atau mengancam nyawa.
Tumor ini disebut tumor jinak. Tumor yang dapat menyebar ke seluruh tubuh atau
menyerang jaringan sekitar disebut kanker atau tumor ganas. Teorinya, setiap jenis
jaringan pada payudara dapat membentuk kanker, biasanya timbul pada saluran atau
kelenjar susu (www.pitapink.com, situs resmi Yayasan Kanker Payudara Jakarta).
B. Klasifikasi Tnm Kanker Payudara
a. Tumor primer (T)
a. Tx: Tumor primer tidak dapat ditentukan
b. To: Tidak terbukti adanya tumor primer
c. Tis:
Kanker in situpaget dis pada papila tanpa teraba tumor
Kanker intraduktal atau lobuler insitu
Penyakit raget pada papila tanpa teraba tumor
d. T1: Tumor < 2 cm
T1a: Tumor < 0,5 cm
T1b: Tumor 0,5 1 cm
T1c: Tumor 1 2 cm
e. T2: Tumor 2 5 cm
f. T3: Tumor diatas 5 cm
g. T4: Tumor tanpa memandang ukuran, penyebaran langsung ke dinding thorax
atau kulit. Dinding dada termasuk kosta, otot interkosta, otot seratus anterior,
tidak termasuk otot pektoralis
T4a: Melekat pada dinding dada
T4b: Edema kulit, ulkus, peau dorange, nodul satelit pada daerah payudara
yang sama
T4c: T4a dan T4b
T4d: karsinoma inflamatoris mastitis karsinomatosis
b. Nodus limfe regional (N)
a. Nx: Pembesaran kelenjar regional tidak dapat ditentukan
b. N0: Tidak teraba kelenjar aksila
c. N1: Teraba pembesaran kelenjar aksila homolateral yang tidak melekat.
d. N2: Teraba pembesaran kelenjar aksila homolateral yang melekat satu sama lain
atau melekat pada jaringan sekitarnya.
e. N3: Terdapat pembesaran kelenjar mamaria interna homolateral
c. Metastas jauh (M)
a. Mx: Metastase jauh tidak dapat ditentukan
b. M0: Tidak ada metastase jauh
c. M1: Terdapat metastase jauh, termasuk kelenjar subklavikula

STADIUM

Stadium penyakit kanker adalah suatu keadaan dari hasil penilaian dokter saat

mendiagnosis suatu penyakit kanker yang diderita pasiennya, sudah sejauh manakah

tingkat penyebaran kanker tersebut baik ke organ atau jaringan sekitar maupun

penyebaran ketempat lain. Stadium hanya dikenal pada tumor ganas atau kanker dan tidak

ada pada tumor jinak. Untuk menentukan suatu stadium, harus dilakukan pemeriksaan

klinis dan ditunjang dengan pemeriksaan penunjang lainnya yaitu histopatologi atau PA,

rontgen, USG, dan bila memungkinkan dengan CT scan, scintigrafi, dll. Banyak sekali

cara untuk menentukan stadium, namun yang paling banyak dianut saat ini adalah

stadium kanker berdasarkan klasifikasi sistem TNM yang direkomendasikan oleh UICC
(International Union Against Cancer dari World Health Organization)/AJCC (American

Joint Committee On cancer yang disponsori oleh American Cancer Society dan American

College of Surgeons). TNM merupakan singkatan dari "T" yaitu tumor size atau

ukuran tumor, "N" yaitu node atau kelenjar getah bening regional dan "M"

yaitu metastasis atau penyebaran jauh. Ketiga faktor T, N, dan M dinilai baik secara

klinis sebelum dilakukan operasi, juga sesudah operasi dan dilakukan pemeriksaan

histopatologi (PA).1

Pada kanker payudara, penilaian TNM sebagai berikut:

T (tumor size), ukuran tumor:

T 0: tidak ditemukan tumor primer

T 1: ukuran tumor diameter 2 cm atau kurang

T 2: ukuran tumor diameter antara 2-5 cm

T 3: ukuran tumor diameter > 5 cm

T 4: ukuran tumor berapa saja, tetapi sudah ada penyebaran ke kulit atau dinding dada

atau pada keduanya, dapat berupa borok, edema atau bengkak, kulit payudara kemerahan

atau ada benjolan kecil di kulit di luar tumor utama

N (node), kelenjar getah bening regional:

N 0: tidak terdapat metastasis pada kgb regional di ketiak/aksilla

N 1: ada metastasis ke kgb aksilla yang masih dapat digerakkan

N 2: ada metastasis ke kgb aksilla yang sulit digerakkan

N 3: ada metastasis ke kgb di atas tulang selangka (supraclavicula) atau pada kgb

di mammary interna di dekat tulang sternum

M (metastasis), penyebaran jauh:

M x: metastasis jauh belum dapat dinilai

M 0: tidak terdapat metastasis jauh


M 1: terdapat metastasis jauh

Setelah masing-masing faktor T, N, dan M didapatkan, ketiga faktor tersebut kemudian

digabung dan akan diperoleh stadium kanker sebagai berikut:

Stadium 0: Tis N0 M0

Stadium 1: T1 N0 M0

Stadium II A: T0 N1 M0/T1 N1 M0/T2 N0 M0

Stadium II B: T2 N1 M0 / T3 N0 M0

Stadium III A: T0 N2 M0/T1 N2 M0/T2 N2 M0/T3 N1 M0/T2 N2 M0

Stadium III B: T4 N0 M0/T4 N1 M0/T4 N2 M0

Stadium III C: Tiap T N3 M0

Stadium IV: Tiap T-Tiap N-M1

STADIUM 0

Disebut Ductal Carsinoma In Situ atau Non-invasive Cancer, yaitu kanker tidak menyebar

keluar dari pembuluh / saluran payudara dan kelenjar-kelenjar (lobules) susu pada

payudara.4

STADIUM I

Tumor masih sangat kecil, diameter tumor terbesar kurang dari atau sama dengan 2 cm

dan tidak ada metastasis ke kelenjar limfe regional.4


d.
e.

STADIUM II A

Tidak ada tanda-tanda tumor pada payudara, tetapi terdapat metastasis kelenjar limfe

mobil di fosa aksilar ipsilateral.

Diameter tumor lebih kecil atau sama dengan 2 cm dan telah ditemukan metastasis

kelenjar limfe mobil di fosa aksilar ipsilateral.

Diameter tumor lebih lebar dari 2 cm tapi tidak lebih dari 5 cm dan tidak ada

metastasis ke kelenjar limfe regional.1


STADIUM II B

Diameter tumor lebih dari 2 cm tapi tidak lebih dari 5 cm dan terdapat metastasis

kelenjar limfe mobil di fosa aksilar ipsilateral.

Diameter tumor lebih dari 5 cm, tetapi tidak terdapat metastasis kelenjar limfe

regional.1

STADIUM III A

Diameter tumor lebih kecil dari 5 cm dan terdapat metastasis kelenjar limfe di fosa

aksilar ipsilateral yang terfiksasi dengan jaringan lain.

Diameter tumor lebih dari 5 cm dan terdapat metastasis kelenjar limfe di fosa aksilar

ipsilateral yang terfiksasi dengan jaringan lain.1


STADIUM III B

Tumor telah menyebar ke dinding dada atau menyebabkan pembengkakan bisa juga

luka bernanah di payudara. Didiagnosis sebagai Inflamatory Breast Cancer. Bisa

sudah atau bisa juga belum menyebar ke pembuluh getah bening di ketiak dan lengan

atas, tapi tidak menyebar ke bagian lain dari organ tubuh.1

STADIUM III C

a. Ukuran tumor bisa berapa saja dan terdapat metastasis kelenjar limfe infraklavikular

ipsilateral, atau bukti klinis menunjukkan terdapat metastasis kelenjar limfe

mammaria interna dan metastase kelenjar limfe aksilar, atau metastasis kelenjar limfe

supraklavikular ipsilateral.1
STADIUM IV

Ukuran tumor bisa berapa saja, tetapi telah menyebar ke lokasi yang jauh, yaitu :

tulang, paru-paru, liver atau tulang rusuk.4

C. Etiologi
Belum ada penyebab spesifik kanker payudara yang diketahui, para peneliti telah
mengidentifikasi sekelompok faktor resiko. Riset lebih lanjut tentang faktor-faktor resiko
akan membantu dalam mengembangkan strategi yang efektif untuk mencegah kanker
payudara. Faktor-faktor resiko mencakup:
Tinggi melebihi 170 cm
Wanita yang tingginya 170 cm mempunyai resiko terkena kanker payudara karena
pertumbuhan lebih cepat saat usia anak dan remaja membuat adanya perubahan
struktur genetik (DNA) pada sel tubuh yang diantaranya berubah ke arah sel ganas.
Riwayat kanker payudara
Terjadi malignitas sinkron di payudara lain karena mammae adalah organ
berpasangan
Anak perempuan dari ibu dengan kanker payudara (herediter)
Menarke dini
Resiko Ca payudara meningkat pada wanita yang mengalami menstruasi sebelum usia
12 tahun.
Nulipara dan usia maternal
Lanjut saat kelahiran anak pertama. Wanita yang melahirkan setelah usia 30 tahun
lebih berisiko mengalami kanker payudara.
Menopause pada usia lanjut (setelah usia 50 tahun).
Riwayat penyakit payudara jinak
Kontrasepsi oral
Mengkonsumsi alkohol setiap hari
Hormon
Diduga tidak adanya keseimbangan estrogen sehingga dapat menyebabkan carcinoma
mammae. Oleh sebab itu carcinoma mammae lebih banyak perempuan dibandingkan
dengan laki-laki
Pernah menjalani operasi ginekologi misalnya tumor ovarium
Pernah mengalami radiasi didaerah dada.
Pernah mengalami operasi pada payudara kelainan jinak atau tumor ganas mammae
Disebabkan oleh tumor yang terjadi karena trauma yang berulang-ulang iritasi yang
berjalan kronis oleh karena rangsangan oleh bahan-bahan kimiawi, zat pewarna, sinar
radioaktif
Obesitas pasca maunopause

D. Patofisiologi
Tumor/neoplasma merupakan kelompok sel yang berubah dengan cirri-ciri:
proliferasi sel yang berlebihan dan tidak berguna yang tidak mengikuti pengaruh struktur
jaringan sekitarnya.
Neoplasma yang maligna terdiri dari sel-sel kanker yang menunjukkan proliferasi
yang tidak terkendali yang mengganggu fungsi jaringan normal dengan menginfiltrasi dan
memasukinya dengan cara menyebarkan anak sebar ke organ-organ yang jauh. Di dalam
sel tersebut terjadi perubahan secara biokimia terutama dalam intinya. Hampir semua
tumor ganas tumbuh dari suatu sel di mana telah terjadi transformasi maligna dan berubah
menjadi sekelompok sel-sel ganas di antar sel-sel normal.
Proses jangka panjang terjadinya kanker ada 4 fase:
1. Fase induksi: 15-30 tahun
Sampai saat ini belum dipastikan sebab terjadinya kanker, tapi bourgeois lingkungan
mungkin memegang peranan besar dalam terjadinya kanker pada manusia.
Kontak dengan karsinogen membutuhkan waktu bertahun-tahun samapi bisa merubah
jaringan displasi menjadi tumor ganas. Hal ini tergantung dari sifat, jumlah, dan
konsentrasi zat karsinogen tersebut, tempat yang dikenai karsinogen, lamanya terkena,
adanya zat-zat karsinogen atau ko-karsinogen lain, kerentanan jaringan dan individu.
2. Fase in situ: 1-5 tahun
pada fase ini perubahan jaringan muncul menjadi suatu lesi pre-cancerous yang bisa
ditemukan di serviks uteri, rongga mulut, paru-paru, saluran cerna, kandung kemih,
kulit dan akhirnya ditemukan di payudara.
3. Fase invasi
Sel-sel menjadi ganas, berkembang biak dan menginfiltrasi meleui membrane sel ke
jaringan sekitarnya ke pembuluh darah serta limfe.
Waktu antara fase ke-3 dan ke-4 berlangsung antara beberpa minggu sampai beberapa
tahun.
4. Fase diseminasi: 1-5 tahun
Bila tumor makin membesar maka kemungkinan penyebaran ke tempat-tempat lain
bertambah.
E. Manifestasi Klinis
Pasien biasanya datang dengan benjolan/massa di payuidara, rasa sakit, keluar
cairan dari puting susu, kulit sekung (lesung), retraksi atau deviasi putting susu, nyeri
tekan atau rabas khususnya berdarah, dari putting. Kulit Peau d orange, kulit tebal
dengan pori-pori yang menonjol sama dengan kulit jeruk, dan atau ulserasi pada payudara
keduanya merupakan tanda lanjut dari penyakit.
Tanda dan gejala metastasis yang luas meliputi pembesaran kelenjar getah
bening, nyeri pada daerah bahu, pinggang, punggung bagian bawah, atau pelvis, batuk
menetap, anoreksi atau berat badan yang turun, gangguan pencernaan, pusing,
penglihatan yang kabur dan sakit kepala.
Ca payudara dapat terjadi dibagian mana saja dalam payudara tetapi mayoritas
terjadi pada kuadran atas terluar dimana sebagian besar jaringan payudara terdapat. Ca
payudara umumnya terjadi pda payudara sebelah kiri. Umumnya lesi tidak terasa nyeri,
terfiksasi dan keras dengan batas yang tidak teratur. Keluhan nyeri yang menyebar pada
payudara dan nyeri tekan yang terjadi pada saat menstruasi biasanya berhubungan dengan
penyakit payudara jinak. Metastasis ke kulit dapat dimanifestasikan adanya Ca payudara
pada tahap lanjut.
F. Komplikasi
Komplikasi potensial dari Ca payudara adalah limfederma. Hal ini terjadi jika
saluran limfe untuk menjamin aliran balik limfe ke sirkulasi umum tidak berfungsi
dengan adekuat. Jika nodus eksilaris dan sistem limfe diangkat, maka sistem kolateral dan
aksilaris harus mengambil alih fungsi mereka. Apabila mereka diinstruksikan dengan
cermat dan didorong untuk meninggikan, memasase dan melatih lengan yang sakit selama
3-4 bulan. Dengan melakukan hal ini akan membantu mencegah perubahan bentuk tubuh
dan mencegah kemungkinan terbukanya pembengkakan yang menyulitkan.
G. Jenis Kanker Payudara
a. Karsinoma insitu
Karsinoma insitu artinya adalah kanker yang masih berada pada tempatnya,
merupakan kanker dini yang belum menyebar atau menyusup keluar dari tempat
asalnya.
b. Karsinoma duktal
Karsinoma duktal berasal dari sel-sel yang melapisi saluran yang menuju puting susu.
Sekitar 90% kanker payudara merupakan karsinoma duktal.
c. Karsinoma lobuler
Karsinoma lobuler mulai tumbuh di dalam kelenjar susu, biasanya terjadi setelah
menopause.
d. Karsinoma invasive
Karsinoma invasive adalah kanker yang telah menyebar dan merusak jaringan
lainnya, biasanya terinkalisir (terbatas pada payudara) maupun melastatik (menyebar
kebagian tubuh lainnya).
e. Karsinoma meduler
Kanker ini berasal dari kelenjar susu.
H. Stadium Kanker Payudara
Pentahapan Kanker Payudara dibagi menjadi 4, yaitu:
Tahap 0: Kanker insitu dimana sel-sel kanker berada pada tempatnya didalam
payudara yang normal
Tahap I: Terdiri atas tumor yang kurang dari 2 cm, tidak mengenai nodus limfe
dan tidak terdeteksi adanya metastasis.
Tahap II: Terdiri tas tumor yang lebih besar dari 2 cm tetapi kurang dari 5 cm dan
tidak terdeteksi adanya metastasis.
Tahap III: Terdiri atas tumor yang lebih besar dari 5 cm atau tumor dengan
sembarang ukuran yang menginvasi kulit atau dinding dengan nodus limfe
terfiksasi positif dalam area klavikular dan tanpa bukti adanya metastasis.
Tahap IV: Teridri atas tumor dalam sembarang ukuran dengan nodus limfe normal
atau kankerosa dan adanya metastasis jauh.
I. Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium meliputi:
a. Morfologi sel darah
b. Laju endap darah
c. Tes faal hati
d. Tes tumor marker (carsino Embrionyk Antigen/CEA) dalam serum atau plasma
e. Pemeriksaan sitologik
Pemeriksaan ini memegang peranan penting pada penilaian cairan yang keluar
spontan dari putting payudar, cairan kista atau cairan yang keluar dari ekskoriasi
b. Mammagrafi
Pengujian mammae dengan menggunakan sinar untuk mendeteksi secara dini.
Memperlihatkan struktur internal mammae untuk mendeteksi kanker yang tidak
teraba atau tumor yang terjadi pada tahap awal. Mammografi pada masa menopause
kurang bermanfaat karean gambaran kanker diantara jaringan kelenjar kurang tampak.

c. Ultrasonografi
Biasanya digunakan untuk mndeteksi luka-luka pada daerah padat pada mammae
ultrasonography berguna untuk membedakan tumor sulit dengan kista. kadang-kadang
tampak kista sebesar sampai 2 cm.
d. Thermography
Mengukur dan mencatat emisi panas yang berasal; dari mammae atau
mengidentifikasi pertumbuhan cepat tumor sebagai titik panas karena peningkatan
suplay darah dan penyesuaian suhu kulit yang lebih tinggi.
e. Xerodiography
Memberikan dan memasukkan kontras yang lebih tajam antara pembuluh-pembuluh
darah dan jaringan yang padat. Menyatakan peningkatan sirkulasi sekitar sisi tumor.
f. Biopsi
Untuk menentukan secara menyakinkan apakah tumor jinak atau ganas, dengan cara
pengambilan massa. Memberikan diagnosa definitif terhadap massa dan berguna
klasifikasi histogi, pentahapan dan seleksi terapi.
g. CT. Scan
Dipergunakan untuk diagnosis metastasis carsinoma payudara pada organ lain
h. Pemeriksaan hematologi
Yaitu dengan cara isolasi dan menentukan sel-sel tumor pada peredaran darah dengan
sendimental dan sentrifugis darah.
J. Penatalaksanaan
a. Pencegahan
Perlu untuk diketahui, bahwa 9 di antara 10 wanita menemukan adanya benjolan di
payudaranya. Untuk pencegahan awal, dapat dilakukan sendiri. Sebaiknya
pemeriksaan dilakukan sehabis selesai masa menstruasi. Sebelum menstruasi,
payudara agak membengkak sehingga menyulitkan pemeriksaan. Cara pemeriksaan
adalah sebagai berikut :
a. Berdirilah di depan cermin dan perhatikan apakah ada kelainan pada payudara.
Biasanya kedua payudara tidak sama, putingnya juga tidak terletak pada
ketinggian yang sama. Perhatikan apakah terdapat keriput, lekukan, atau puting
susu tertarik ke dalam. Bila terdapat kelainan itu atau keluar cairan atau darah dari
puting susu, segeralah pergi ke dokter.
b. Letakkan kedua lengan di atas kepala dan perhatikan kembali kedua payudara.
c. Bungkukkan badan hingga payudara tergantung ke bawah, dan periksa lagi.
d. Berbaringlah di tempat tidur dan letakkan tangan kiri di belakang kepala, dan
sebuah bantal di bawah bahu kiri. Rabalah payudara kiri dengan telapak jari-jari
kanan. Periksalah apakah ada benjolan pada payudara. Kemudian periksa juga
apakah ada benjolan atau pembengkakan pada ketiak kiri.
e. Periksa dan rabalah puting susu dan sekitarnya. Pada umumnya kelenjar susu bila
diraba dengan telapak jari-jari tangan akan terasa kenyal dan mudah digerakkan.
Bila ada tumor, maka akan terasa keras dan tidak dapat digerakkan (tidak dapat
dipindahkan dari tempatnya). Bila terasa ada sebuah benjolan sebesar 1 cm atau
lebih, segeralah pergi ke dokter. Makin dini penanganan, semakin besar
kemungkinan untuk sembuh secara sempurna. Lakukan hal yang sama untuk
payudara dan ketiak kanan
b. Pembedahan
a. Mastektomi parsial (eksisi tumor lokal dan penyinaran)
Mulai dari lumpektomi sampai pengangkatan segmental (pengangkatan jaringan
yang luas dengan kulit yang terkena) sampai kuadranektomi (pengangkatan
seperempat payudara), pengangkatan atau pengambilan contoh jaringan dari
kelenjar limfe aksila untuk penentuan stadium; radiasi dosis tinggi mutlak perlu
(5000-6000 rad).
b. Mastektomi total
Dengan diseksi aksial rendah seluruh payudara, semua kelenjar limfe dilateral
otocpectoralis minor.
c. Mastektomi radikal yang dimodifikasi
Seluruh payudara, semua atau sebagian besar jaringan aksila
d. Mastektomi radikal
Seluruh payudara, otot pektoralis mayor dan minor dibawahnya, seluruh isi aksila.
e. Mastektomi radikal yang diperluas
Sama seperti mastektomi radikal ditambah dengan kelenjar limfe mamaria interna.
c. Non pembedahan
a. Penyinaran
Pada payudara dan kelenjar limfe regional yang tidak dapat direseksi pada kanker
lanjut; pada metastase tulang, metastase kelenjar limfe, aksila, kekambuhan tumor
local atau regional setelah mastektomi.
b. Kemoterapi
Adjuvan sistematik setelah mastektomi; paliatif pada penyakit yang lanjut.
c. Terapi hormon dan endokrin
Kanker yang telah menyebar, memakai estrogen, androgen, antiestrogen,
coferektomi adrenalektomi hipofisektomi. (Smeltzer, dkk. 2002. hal: 1596-1600).
2.1.3 KISTA OVARIUM

A. DEFINISI
Definisi kista adalah pertumbuhan abnormal berupa kantong (pocket, pouch) yang
tumbuh abnormal di bagian tubuh tertentu. Kista ada yang berisi udara, cairan, nanah
atau bahan-bahan lain. Kista ovarium adalah suatu kantung yang berisi cairan atau
materi semisolid yang tumbuh pada atau sekitar ovarium1.

B. ANGKA KEJADIAN
Kistadenoma ovarii musinosum terbanyak ditemukan bersama-sama dengan
kistadenoma ovarii serosum. Kedua tumor merupakan kira-kira 60% dari seluruh
ovarium, sedang kistadenoma ovarii musinosum merupakan 40% dari seluruh
kelompok neoplasma ovarium.

Di Indonesia Hariadi (1970) menemukan frekuensi sebesar 27%; sedangkan Gunawan


(1977) menemukan angka 29,9%; Sapardan (1970) 37,2%; dan Djaswadi 15,1%2.

Sedangkan untuk kistadenoma ovarii serosum ditemukan dalam frekuensi yang


hampir sama dengan kistadenoma musinosum dan dijumpai pada golongan umur yang
sama. Agak lebih sering ditemukan kista bilateral (10 20%); Hariadi (1970) 10,9%
dan Gunawan (1977) 20,3%. Selanjutnya, di Surabaya Hariadi dan Gunawan
menemukan angka kejadian tumor ini masing-masing 39,8% dan 28,5%; di Jakarta
Sapardan mencatat angka 20,0%; dan di Yogyakarta Djaswadi mencatat angka
36,1%2.

Frekuensi kista dermoid dijumpai 10% dari seluruh neoplasma ovarium yang kistik
dan paling sering ditemukan pada wanita yang masih muda. Ditaksir 25% dari semua
kista dermoid bilateral, lazimnya dijumpai pada masa reproduksi walaupun kista
dermoid dapat ditemukan pula pada anak kecil. Tumor ini dapat mencapai ukuran
yang sangat besar, sehingga beratnya mencapai beberapa kilogram.

Frekuensi kista dermoid di beberapa rumah sakit di Indonesia ialah sebagai berikut;
Sapardan mencatat angka 16,9%; Djaswadi 15,1%; Hariadi dan Gunawan masing-
masing 11,1% dan 13,5% di antara penderita dengan tumor ovarium. Sebelum perang
dunia II, Eerland dan Vos (1935) melaporkan frekuensi kista dermoid sebesar 3,8%
dari 451 tumor ovarium yang diperiksa di Nederlands-Indisch Kanker Instituut di
Bandung, di antaranya satu kasus pada anak umur 13 tahun2.

C. KLASIFIKASI
Terdapat berbagai macam tumor yang dapat tumbuh pada ovarium. Ada yang
neoplastik dan nonneoplastik. Beberapa di antara tumor neoplastik bersifat jinak
(noncancerous) dan tidak pernah menyebar di luar ovarium. Tipe lainnya adalah
maligna atau ganas (cancerous) dan dapat menyebat ke bagian-bagian tubuh lainnya.
Selanjutnya tumor neoplastik yang bersifat jinak dapat dibagi menjadi tumor kistik
dan tumor solid. Kista ovarium termasuk tumor neoplastik yang bersifat jinak dan
diklasifikasikan menjadi:1

1. Kistoma Ovarii Simpleks


Kista ini mempunyai permukaan rata dan halus, biasanya bertangkai, seringkali
bilateral dan dapat menjadi besar. Dinding kista tipis tampak lapisan epitel jernih,
serous dan berwarna kuning. Pada dinding kista tampak lapisan epitel kubik.
Berhubung dengan adanya tangkai, dapat terjadi torsi (putaran tangkai) dengan gejala-
gejala mendadak. Diduga bahwa kista ini suatu jenis kistadenoma serosum, yang
kehilangan epitel kelenjarnya berhubung dengan tekanan cairan dalam kista.

2. Kistadenoma Ovarii Musinosum


Tumor lazimnya berbentuk multilokuler; oleh karena itu, permukaan berbagala
(lobulated). Kira-kira 10% dapat mencapai ukuran yang amat besar, lebih-lebih pada
penderita yang datang dari pedesaan. Pada tumor yang besar tidak lagi dapat
ditemukan jaringan ovarium yang normal. Tumor biasanya unilateral, akan tetapi
dapat juga dijumpai yang bilateral.
Kista menerima darahnya melalui suatu tangkai; kadang-kadang dapat terjadi torsi
yang mengakibatkan gangguan sirkulasi. Gangguan ini dapat menyebabkan
perdarahan dalam kista dan perubahan degeneratif, yang memudahkan timbulnya
perlekatan kista dengan omentum, usus-usus dan peritoneum parietale.

Dinding kista agak tebal dan berwarna putih keabu-abuan, yang terakhir ini
khususnya bila terjadi perdarahan atau perubahan degeneratif di dalam kista. Pada
pembukaan terdapat cairan lendir yang khas, kental seperti gelatin, melekat dan
berwarna kuning sampai coklat tergantung dari percampurannya dengan darah.

3. Kistadenoma Ovarii Serosum


Pada umumnya kista jenis ini tak mencapai ukuran yang amat besar dibandingkan
dengan kistadenoma musinosum. Permukaan tumor biasanya licin, akan tetapi dapat
pula berbagala karena kista serosum pun dapat berbentuk multilokuler, meskipun
lazimnya berongga satu. Warna kista putih keabu-abuan. Isi kista cair, kuning dan
kadang-kadang coklat karena campuran darah. Tidak jarang kistanya sendiri kecil,
tetapi permuukaannya penuh dengan pertumbuhan papiler (solid papilloma).
4. Kista Endometroid
Kista ini biasanya unilateral dangan permukaan licin; pada dinding dalam terdapat
satu lapisan sel-sel, yang menyerupai lapisan epitel endometrium.

5. Kista Dermoid
Tidak ada ciri-ciri yang khas pada kista dermoid. Dinding kista kelihatan putih,
keabu-abuan dan agak tipis. Konsistensi tumor sebagian kistik kenyal, di bagian lain
padat. Sepintas lalu kelihatan seperti kista berongga satu, akan tetapi bila dibelah,
biasanya nampak satu kista besar dengan ruangan kecil-kecil dalam dindingnya. Pada
umumnya tedapat satu daerah pada dinding bagian dalam, yang menonjol dan padat.

Pada kista dermoid dapat terjadi torsi tangkai dengan gejala nyeri mendadak di perut
bagian bawah. Ada kemungkinan pula terjadinya sobekan dinding kista dengan akibat
pengeluaran isi kista dalam rongga peritoneum2.
D. TANDA DAN GEJALA
Kebanyakan wanita dengan tumor ovarium tidak menimbulkan gejala dalam waktu
yang lama. Gejala umumnya sangat bervariasi dan tidak spesifik. Sebagian gejala dan
tanda adalah akibat dari pertumbuhan, aktivitas endokrin, atau komplikasi tumor
tersebut. Pada stadium awal dapat berupa gangguan haid. Dapat juga terjadi
peregangan atau penekanan daerah panggul yang menyebabkan nyeri spontan atau
nyeri pada saat bersenggama. Jika tumor sudah menekan rektum atau kandung kemih
mungkin terjadi konstipasi atau sering berkemih.

Pada stadium lanjut gejala yang terjadi berhubungan dengan adanya asites
(penimbunan cairan dalam rongga perut), penyebaran ke omentum (lemak perut) dan
organ-organ di dalam rongga perut lainnya seperti usus-usus dan hati. Penumpukan
cairan bisa juga terjadi pada rongga dada akibat penyebaran penyakit ke rongga dada
yang mengakibatkan penderita sangat merasa sesak napas1.

Pada umumnya gejala yang timbul dan patognomonik adalah:

Penekanan terhadap vesika dan rektum.


Perut terasa penuh
Pembesaran perut
Perdarahan (jarang)
Nyeri (pada putaran tangkai/kista pecah)
Sesak napas, oedema tungkai (pada tumor yang sangat besar)3.
E. DIAGNOSIS
Apabila pada pemeriksaan ditemukan tumor di rongga perut bagian bawah dan atau di
rongga panggul, maka setelah diteliti sifat-sifatnya (besarnya, lokalisasi, permukaan,
konsistensi, apakah dapat digerakkan atau tidak), perlulah ditentukan jenis tumor
tersebut. Pada tumor ovarium biasanya uterus dapat diraba tersendiri, terpisah dari
tumor. Jika tumor ovarium terletak di garis tengah dalam rongga perut bagian bawah
dan tumor itu konsistensinya kistik, perlu dipikirkan adanya kehamilan atau kandung
kemih penuh, sehingga pada anamnesis perlulah lebih cermat dan disertai
pemeriksaan tambahan.
Di negara-negara berkembang, karena tidak segera dioperasi tumor ovarium dapat
menjadi besar, sehingga mengisi seluruh rongga perut. Dalam hal ini kadang-kadang
sukar untuk menentukan apakah pembesaran perut disebabkan oleh tumor atau
ascites, akan tetapi dengan pemeriksaan yang dilakukan dengan teliti, kesukaran ini
biasanya dapat diatasi.

Apabila sudah ditentukan bahwa tumor yang ditemukan ialah tumor ovarium, maka
perlu diketahui apakah tumor itu bersifat neoplastik atau nonneoplastik. Tumor
nonneoplastik akibat peradangan umumya dalam anamnesis menunjukkan gejala-
gejala ke arah peradangan genital, dan pada pemeriksaan tumor-tumor akibat
peradangan tidak dapat digerakkan karena perlengketan. Kista nonneoplastik
umumnya tidak menjadi besar dan diantaranya pada suatu waktu biasanya menghilang
sendiri2.

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak jarang tentang penegakan diagnosis tidak dapat diperoleh kepastian sebelum
dilakukan operasi, akan tetapi pemeriksaan yang cermat dan analisis yang tajam dari
gejala-gejala yang ditemukan dapat membantu dalam pembuatan diferensial
diagnosis2.

Beberapa cara yang dapat digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis adalah:

1. Laparoskopi
Pemeriksaan ini sangat berguna untuk mengetahui apakah sebuah tumor berasal dari
ovarium atau tidak, serta untuk menentukan sifat-sifat tumor itu.
2. Ultrasonografi
Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan letak dan batas tumor, apakah tumor berasal
dari uterus, ovarium, atau kandung kencing, apakah tumor kistik atau solid, dan dapat
pula dibedakan antara cairan dalam rongga perut yang bebas dan yang tidak.

3. Foto Rontgen
Pemeriksaan ini berguna untuk menentukan adanya hidrothoraks. Selanjutnya, pada
kista dermoid kadang-kadang dapat dilihat adanya gigi dalam tumor.

4. Parasintesis
Pungsi ascites berguna untuk menentukan sebab ascites. Perlu diperhatikan bahwa
tindakan tersebut dapt mencemarkan cavum peritonei dengan isi kista bila dinding
kista tertusuk2.

Pada pemeriksaan ultrasonografi (USG) kista abnormal dapat memberikan gambaran


kantung dengan banyak ruang-ruang dan terlihat pertumbuhan sel-sel yang menonjol
dari dinding dalam kista. Ini membuat permukaan kista menjadi bergerigi atau tidak
mulus. Dan tidak seperti kista fungsional yang hanya terisi cairan, kista abnormal
memperlihatkan campuran cairan dan jaringan solid4.

G. PENATALAKSANAAN
Terapi kista ovarium bergantung dari beberapa faktor, yaitu ukuran dan jenis kista,
umur dan kondisi kesehatan penderita, rencana kehamilan di masa depan, demikian
juga dengan beratnya gejala-gejala yang terjadi4.

Dua prinsip penting dalam manajemen kista ovarium yaitu:

1. Sikap wait and see. Oleh karena mayoritas kista adalah kista fungsional yang akan
menyusut dengan sendirinya dalam 2 3 bulan. Semakin dini deteksinya semakin
mudah pengobatannya. Tentu setiap wanita berharap agar ovariumnya tetap utuh,
tidak rusak atau dapat dipertahankan, jika diputuskan untuk mengangkat kista.
Kemungkinan ini dapat terjadi jika kista ditemukan dalam stadium dini.
2. Pilihan lainnya ialah terapi bedah. Indikasi bedah ialah kista yang tidak menghilang
dalam beberapa kali siklus menstruasi atau kista yang memiliki ukuran demikian
besar, kista yang ditemukan pada wanita yang menopause atau kista yang
menimbulkan rasa nyeri luar biasa dan sampai timbul perdarahan. Tindakan bedah
dapat sangat terbatas berupa pengangkatan kista dengan tetap mempertahankan
ovarium. Tindakan ini kemungkinan dapat menjadi lebih ekstensif, mulai dari
pengangkatan seluruh ovarium atau lebih luas lagi merembet ke pengangkatan uterus
(histerektomi total)4.
Prinsip penanganan kista ovarium bahwa tumor ovarium neoplastik memerlukan
operasi dan tumor nonneoplastik tidak, jika menghadapi tumor ovarium yang tidak
memberikan gejala/keluhan pada penderita dan yang besarnya tidak melebihi 5 cm
diameternya, kemungkinan besar tumor tersebut adalah kista folikel atau kista korpus
luteum. Tidak jarang tumor tersebut mengalami pengecilan secara spontan dan
menghilang, sehingga perlu diambil sikap untuk menunggu selama 2 3 bulan, jika
selama waktu observasi dilihat peningkatan dalam pertumbuhan tumor tersebut, dapat
diambil kesimpulan bahwa kemungkinan tumor besar itu bersifat neoplastik dan dapat
dipertimbangkan untuk pengobatan operatif2.

Tindakan operasi pada tumor ovarium neoplastik yang tidak ganas ialah
pengangkatan tumor dengan mengadakan reseksi pada bagian ovarium yang
mengandung tumor, akan tetapi jika tumornya besar atau ada komplikasi perlu
dilakukan pengangkatan ovarium, biasanya disertai pengangkatan tuba
(salphyngooogorektomi). Jika terdapat keganasan operasi yang lebih tepat ialah
histerektomi dan salphyngoooforektomi bilateral. Akan tetapi pada wanita muda yang
masih ingin mendapatkan keturunan dan dengan tingkat keganasan tumor yang
rendah, dapat dipertanggungjawabkan untuk mengambil resiko dengan melakukan
operasi yang tidak seberapa radikal2.

H. KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat terjadi pada kista ovarium diantaranya2:

Torsi
Ruptur
Perdarahan
Menjadi keganasan: potensi kistadenoma ovarium jinak menjadi ganas sudah
dipostulasikan, kista dermoid dan endometriosis dapat berubah menjadi ganas, akan
tetapi dalam persentase yang relatif kecil.
I. PROGNOSIS
Wiliam Helm, C dkk (2005) mengatakan:

Prognosis dari kista jinak sangat baik. Kista jinak tersebut dapat tumbuh di jaringan
sisa ovarium atau di ovarium kontralateral.
Kematian disebabkan karena karsinoma ovarii ganas berhubungan dengan stadium
saat terdiagnosis pertama kali dan pasien dengan keganasan ini sering ditemukan
sudah dalam stadium akhir.
Angka harapan hidup dalam 5 tahun rata-rata 41,6% bervariasi antara 86,9% untuk
stadium FIGO Ia dan 11,1% untuk stadium IV.
Tumor sel granuloma memiliki angka bertahan hidup 82% sedangkan karsinoma sel
skuamosa yang berasal dari kista dermoid berkaitan dengan prognosis yang buruk.
Sebagian besar tumor sel germinal yang terdiagnosis pada stadium awal memiliki
prognosis yang sangat baik. Disgerminoma dengan stadium lanjut berkaitan dengan
prognosis yang lebih baik dibandingkan germinal sel tumor nondisgerminoma.
Tumor yang lebih tidak agresif dengan potensi keganasan yang rendah mempunyai
sifat yang lebih jinak tetapi berhubungan dengan angka kematian yang tinggi. Secara
keseluruhan angka bertahan hidup selama 5 tahun adalah 86,2%.
DAFTAR PUSTAKA

Bobak, Lowdermilk, & Jensen. (2004). Buku Ajar Keperawatan Maternitas, alih bahasa
Maria A. Wijayarini, Peter I. Anugrah (Edisi 4). Jakarta: EGC.

Heardman. (2011). Diagnosa Keperawatan. Jakarta. EGC.

Hefner, Linda J. & Danny J.Schust. (2008). At a Glance Sistem Reproduksi Edisi II. Jakarta :
EMS, Erlangga Medical Series.

Johnson, Meridian Maas, & Sue Moorhead. (2000). Nursing Outcame Clasification. Mosby.
Philadelphia.

Mansjoer, Arif. (2002). Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius.

McCloskey & Gloria M Bulechek. (1996). Nursing Intervention Clasification. Mosby. USA.

Sjamjuhidayat & Wim de Jong. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta : EGC.

Smelzer & Bare. (2002). Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.

Williams, Rayburn F. (2005). Obstetri dan Ginekologi. Jakarta: Widya medika.

Winkjosastro, Hanifa, (2005), Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka

Bagian Obstetri dan Ginekologi FK Unpad Bandung. (2000). Obstetri Fisiology. Bandung :
Elemen.

Carpenitto, Lynda Juall. (2000). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Alih bahasa : Monica
Ester, Edisi 8. EGC : Jakarta.

Doengoes, Marilynn E. (2001). Rencana Perawatan Maternal / Bayi Edisi 2. Jakarta : EGC.

G.W Garland and Joan M.E, 1999, Quickly Obstetric and ginekology of Nurses, English
University Press, London

Haen Forer. (1999). Perawatan Maternitas Edisi 2. Jakarta : EGC.

Hinchliff, Sue. (1996). Kamus Keperawatan. Edisi; 17. EGC : Jakarta

Manuaba. (2001). Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi dan KB.
Jakarta : EGC.

Muchtar Rustam. (1998). Sinopsis Obstetri Fisiologi Obstetri Patologi Edisi: 2. Jakarta :
EGC.
1. Mulyana, Salim. (2007), Kistoma Ovarii, (medlinux.blogspot), Available from:
http://medlinux.blogspot.com. (Acessed: 2012, April 15).
2. Wiknjosastro, Hanifa, dkk. (2005), Ilmu Kandungan, Edisi 2, Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.
3. Moeloek, Farid Anfasa. (2003), Standar Pelayanan Medik Obstetri dan Ginekologi,
Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia, Jakarta.
4. Anonim. (2004), Kista Ovarium yang Jarang Disadari. (majalah farmasia), Available
from: http://www.majalahfarmasia.com. (Acessed: 2012, April 15).
5. William Helm, C. (2005), Ovarian Cysts, (emedicine), Available from:
http://emedicine.com (Acessed: 2012, April 15).