Anda di halaman 1dari 7

Pada operasi pemasangan implan dilakukan pemasangan pen,sekrup atau paku pengikat, plat logam yang diikat

dengan sekrup, paku intramedullar yang panjang (dengan atau tanpa sekrup pengunci), atau circum ferential bands.
Pada daerah interstitial sekitar implan merupakan daerah yang rentan terhadap kolonisasi mikroba, mikroba tersebut
dapat merusak jaringan sekitar implan dan menyebabkan menurunnya sistim pertahanan tubuh, sehingga terjadi
infeksi (Campoccia et al., 2006) .

Fraktur terbuka adalah apabila terdapat luka yang menghubungkan tulang yang fraktur dengan udara luar
atau permukaan kulit. Sedangkan fraktur tertutup adalah apabila tidak ada luka yang menghubungkan fraktur dengan
udara luar atau permukaan kulit (Nayagam, 2010). Perbedaan antara fraktur tertutup dan terbuka terdapat pada
pengaruh kontaminasi organisme. Pada fraktur terbuka terpapar organisme dari lingkungan sehingga memudahkan
terjadinya infeksi, sedangkan pada fraktur tertutup jarang terjadi infeksi kecuali dilakukan tindakan operasi
(Hamblen & Simpson, 2007).
Pada penanganan fraktur tertutup dengan fiksasi internal termasuk jenis operasi bersih yaitu, operasi yang
dilakukan pada daerah atau kulit yang pada kondisi prabedah tanpa peradangan dan tidak membuka traktus
respiratorius, traktus gastrointestinal, orofaring, traktus urinarius, atau traktus bilier ataupun operasi yang berencana
dengan atau tanpa pemakaian drain tertutup. Pada operasi bersih kemungkinan terinfeksi adalah 2-4 %. Untuk
menghindari kemungkinan terjadinya infeksi diberikan antibiotika profilaksis bedah yang bertujuan untuk mencegah
infeksi oleh mikroorganisme yang diperkirakan dapat timbul pada tempat operasi serta pencegahan infeksi pada
tempat dengan risiko infeksi tinggi, misalnya pemasangan implan atau prostetik yang permanen. Rute pemberian
antibiotika profilaksis sebaiknya parenteral (Pedoman Penggunaan Antibiotika RSUD DR.Soetomo, 2009) .
Pada Sefalosporin generasi pertama mencakup Sefazolin, Sefadroksil, Sefaleksin, Sefalotin, Sefapirin, dan Sefradin
sangat aktif terhadap kokus gram positif. Pada kasus bedah orthopedi digunakan antibiotika profilaksis Sefazolin
karena dapat menembus sebagian besar jaringan dengan baik serta toksisitas kecil. Seseorang dengan infeksi
stafilokokus atau streptokokus yang memiliki riwayat alergi penisilin, Sefazolin dapat menjadi pilihan terapi (Deck
& Winston, 2014).

Departmen pendidikan bedah Orlando Regional Medical Center menyatakan regimentasi antibiotika profilaksis yang
digunakan untuk fraktur tertutup adalah Sefazolin dan alternatif regimentasi yaitu Klindamisin, sedangkan pada
fraktur terbuka regimentasi antibiotika profilaksis yaitu kombinasi Sefazolin dengan Gentamisin dan alternatif
regimentasi yaitu Klindamisin dan Gentamisin.

1. Tulang panjang
Yang termasuk tulang panjang misalnya femur, tibia, ulna dan humerus, dimana daerah batas disebut diafisis dan
daerah yang berdekatan dengan garis epifisis disebut metafisis. Daerah ini merupakan suatu daerah yang sangat
sering ditemukan adanya kelainan atau penyakit, oleh karena daerah ini merupakan daerah metabolik yang aktif
dan banyak mengandung pembuluh darah. Kerusakan atau kelainan perkembangan pada daerah lempeng epifisis
akan menyebabkan pertumbuhan tulang.

2. Tulang pendek
Contoh dari tulang pendek antara lain tulang vertebrata dan tulang-tulang karpal.
3. Tulang pipih
Yang termasuk tulang pipih antara lain tulang iga, tulang skapula dan tulang pelvis.
Fungsi tulang sebagai struktur dan organ
Tulang adalah jaringan yang terstruktur dengan baik dan mempunyai lima fungsi utama,yaitu :
1. Membentuk rangka badan.
2. Sebagai pengumpil dan tempat melekat otot.
3. Sebagai bagian dari tubuh untuk melindungi dan mempertahankan organ dalam seperti otak, sumsum tulang
belakang, jantung dan paru paru.
4. Sebagai tempat deposit kalsium, fosfor, magnesium dan garam.
5. Sebagai organ yang berfungsi sebgai jaringan hemopoetik untuk memproduksi sel-sel darah merah, sel-sel darah
putih dan trombosit.
(Rasjad, 2012)
Tabel II.1 klasifikasi fraktur terbuka menurut Gustillo dan Anderson (Jaeger et al .,2006)
TIPE DESKRIPSI
I Luka kecil kurang dari atau sama dengan 1 cm, terdapat sedikit kerusakan
jaringan, tidak terdapat tanda-tanda trauma yang hebat pada jaringan
lunak
II Laserasi kulit melebihi 1 cm tetapi tidak terdapat kerusakan jaringan yang
hebat atau avulsi kulit. Terdapat kerusakan yang sedang dan jaringan
III Terdapat kerusakan yang hebat pada jaringan lunak termasuk otot, kulit
dan struktur neovaskuler dengan kontaminasi yang hebat.
IIIA jaringan lunak cukup menutup tulang yang patah
IIIB disertai kerusakan dan kehilangan jaringan lunak, tulang tidak tertutupi
oleh jaringan lunak
IIIC disertai cedera arteri yang memerlukan perbaikan segera

- Fraktur tertutup
Bilamana tidak ada luka yang menghubungkan fraktur dengan udara luar atau permukaan kulit.

Tabel II.2 klasifikasi fraktur tertutup menurut Tscherne (Nayagam, 2010)


TIPE DESKRIPSI
0 Fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa cedera
jaringan lunak
1 Fraktur dengan abrasi dangkal atau memar pada
kulit dan jaringan subkutan
2 Fraktur yang lebih berat dengan kontusio
jaringan lunak bagian dalam dan
pembengkakan
3 Cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak
yang nyata dan anacaman sindroma
kompartemen
1. Operasi bersih
Adalah operasi yang dilakukan pada daerah atau kulit yang pada kondisi prabedah tanpa peradangan dan tidak
membuka traktus respiratorius, traktus gastrointestinal, orofaring, traktus urinarius, atau traktus bilier ataupun
operasi yang berencana dengan penutupan kulit primer dengan atau tanpa pemakaian drain tertutup.
Antibiotik profilaksis disini dianjurkan pada :
a. Pemasangan implan atau prostesis yang permanen
b. Pembawa (carrier) bakteri patogen
c. Adanya infeksi di tempat lain di luar daerah operasi
d. Riwayat penyakit katup rematik atau telah memakai katup buatan
e. Penderita dengan tuberkulosis tenang (pemberian tuberkulostatik mencegah penyebaran)
f. Penderita yang mengalami diseksi jaringan yang luas, vaskularisasi jaringan terganggu atau jelek, pemberian
obat imunosupresif
Kemungkinan infeksi adalah 2-4 %
2. Operasi bersih terkontaminasi
Adalah operasi yang membuka traktus digestivus, traktus bilier, traktus urinarius, traktus respiratorius sampai
orofsring, traktus reproduksi kecuali ovarium ataupun operasi yang tanpa pencemaran nyata (gross spilage)
Antibiotik profilaksis di sini dianjurkan pada :
a. Diseksi leher dan masuk ke orofaring
b. Diseksi lambung (Ca), membuka kolon, ileum bagian distal
c. Operasi kolon atau usus kecil dengan gangguan vaskularisasi dari usus
d. Operasi yang menembus saluran empedu (ekstra hepatal)
e. Operasi saluran kemih
f. Operasi yang melalui vagina
Kemungkinan infeksi disini adalah 5-15 %
3. Operasi terkontaminasi
Adalah operasi yang membuka traktus digestivus, traktus bilier, traktus urinarius, traktus respiratorius sampai
dengan orofaring atau traktus reproduksi kecuali ovarium dengan pencemaran yang nyata ataupun operasi pada
luka karena kecelakaan dalam waktu kurang dari 6 jam (golden period). Antibiotik profilaksis di sini dianjurkan
pada :
a. Operasi yang menembus saluran empedu yang terinfeksi
b. Operasi yang menembus saluran kemih yang terinfeksi
c. Operasi radang akut tanpa pembebukan nanah
d. Operasi pada fraktur (patah tulang ) terbuka
Kemungkinan infeksi disini adalah 16-25 %
4. Operasi kotor dengan infeksi
Adalah operasi pada perforasi traktus digestivus, traktus urogenelitas atau traktus respiratorius yang terinfeksi
ataupun operasi yang melewti daerah purulen (inflamasi bakterial). Dapat pula operasi pada luka terbuka lebih
dari enam jam setelah kejadian atau terdapat jaringan non vital yang luas atau yang kotor.Dokter yang
melakukan operasi menyatakan sebagai luka operasi kotor atau terinfeksi.

Antibiotik disini dianjurkan sebagai :


a. Pemberian antibiotika terapetik dan bukan lagi profilaksis, terutama bila operasi dilakukan pada jaringan sehat
yang akan dilalui oleh nanah.
b. Pemberian antibiotika profilaksis dengan tujuan mencegah penyebaran intrakaviter, penyebaran ke tempat yang
jauh atau ke jaringan yang sebelumnya tidak terkontaminasi.
Kemungkinan infeksi disini adalah 40-70%
(PPAB RSUD Dr.Soetomo, 2009).

Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis adalah patogen utama yang menyebabkan infeksi. Hal ini
dikarenakan kuman tersebut merupakan flora normal dikulit , jika kulit dan selaput lendir rusak oleh pembedahan
maka kuman tersebut akan memperoleh jalan masuk dan akan berproliferasi pada jaringan dalam

Tipe Bedah Terapi lini pertama Terapi lini kedua


Antibiotika Dosis Antibiotika Dosis
Ortopedi Cefazolin 1 g IV pada saat induksi Vancomycin 1 g IV infus
dengan
implantasi
Pasien >80 kg: 2g IV pada saat induksi
pemasangan
fiksasi internal.
Pengulangan dosis selama prosedur jika
operasi >3 jam atau jika kehilangan darah
melebihi 1500 ml
(Quebec Associations of Pharmacists and Physicians, 2005)

Bedah spinal Cefazolin 2 g untuk pasien dengan berat badan <120 - Clindamycin -
dengan atau kg dengan interval dosis tiap 4 jam. - Vancomycin
tanpa
instrumentasi
Perbaikan pada Cefazolin 2 g untuk pasien dengan berat badan <120 - Clindamycin -
fraktur pinggul kg dengan interval dosis tiap 4 jam. - Vancomycin
Pemasangan Cefazolin 2 g untuk pasien dengan berat badan <120 - Clindamycin -
implan dengan kg dengan interval dosis tiap 4 jam. - Vancomycin
fiksasi internal
(Infectious Diseases Society of America, 2013)
Rekomendasi antibiotika Patogen Potensial Dosis
profilaksis
(Chambers, 2001)
- Sefazolin S. aureus, Coagulase Negatif Staphylococci, 1,0 g IV
- Vankomisin gram negatif bacilli, Pseudomonas.

(Handbook of Antimicrobial
Therapy, 2011)
- Sefazolin S.aureus, S. Epidermididis 1,2 g IV
- Sefuroxim 1,5 g IV
- Vancomysin 1g IV
(Nayagam, 2010)
- Co-amoxiclav (fraktur S.aureus -
terbuka tingkat
1,2,3ABC)
- Co-amoxiclav kombinasi gentamycin : fraktur terbuka tingkat 1,2,3ABC pada saat debridement.
- Gentamycin kombinasi vankomisin atau teicoplanin : diberikan pada definitif penanganan fraktur.
- Co-amoxiclav tunggal : untuk antibiotika terapi
1. Sefalosporin
Sefalosporin berasal dari Cephalosporium acremonium diisolasi pada tahun 1948 oleh Brotzu. Filtrat dari hasil
kultur jamur tersebut ditemukan dapat menghambat pertumbuhan S.aureus secara in vivo (Jr. Petri, 2006).
Golongan sefalosporin ini serupa dengan penisilin tetapi lebih stabil terhadap banyak beta laktamase bakteri dan
mempunyai spektrum aktivitas yang lebih luas. Sefalosporin tidak aktif terhadap enterokokus dan L.monocytogenes.
sefalosporin dapat diklasifikasikan menjadi empat kelompok atau generasi utama, yang bergantung pada spektrum
aktivitasnya.
a. Sefalosporin generasi pertama
Sefalosporin generasi pertama mencakup Sefazolin, Sefadroksil, Sefaleksin, Sefalotin, Sefapirin, dan Sefadrin.
Obat-obat ini sangat aktif terhadap kokus gram-positif misalnya pneumokokus, streptokokus dan stafilokokus. Pada
pemakaian klinis obat oral digunakan untuk infeksi saluran kemih seta infeksi streptokokus atau stafilokokus,
termasuk selulitis atau abses jaringan lunak. Namun Sefalosporin oral sebaiknya tidak untuk infeksi sistemik yang
serius. Sefazolin dapat menembus sebagian besar jaringan dengan baik. Sefazolin adalah obat pilihan untuk
profilaksis bedah. Sefalosporin golongan pertama merupakan alternatif untuk penisilin antistafilokokus bagi pasien
yang alergi penisilin.
b. Sefalosporin generasi kedua
Sefalosporin golongan kedua terdiri dari Sefaklor, Sefamandol, Sefonisid, Sefuroksim, Sefprozil, Lorakarbef, dan
Seforanid serta Sefamisin yang secara struktural berkaitan Sefoksitin, Sefmetazol, dan Sefotetan yang memiliki
aktivitas terhadap anaerob. Secara umum, obat obat ini aktif terhadap organisme yang dihambat oleh obat generasi
pertama, tetapi selain itu, obat tersebut juga aktif terhadap organisme gram-negativ (Deck & Winston, 2014). Pada
Sefuroksim biasanya diberikan melalui suntikan dan seringkali digunakan dalam profilaksis dalam pembedahan
(biasanya dengan Metronidazol untuk melawan bakteri anaerob), Sefuroksim resisten terhadap inaktivasi oleh beta
laktamase bakteri dan digunakan pada infeksi serius dimana antibiotika lain tidak efektif (Neal, 2006)
c. Sefalosporin generasi ketiga
Obat generasi ketiga mencakup Sefoperazon, Sefotaksim, Seftazidim, Seftizoksim, Seftriakson, Sefiksim,
Sefpodoksim proksetil, Sefdinir, Sefditoren pivoksil, Seftibuten, dan Moksalaktam. Dibandingkan dengan obat
generasi kedua, obat generasi ketiga memperlihatkan cakupan gram-negativ yang lebih luas, dan sebagian mampu
menembus sawar darah otak (Deck & Winston, 2014). Pada Sefotaxime mempunyai resistensi yang tinggi terhadap
bakterial penghasil betalaktamase dan mempunyai aktivitas yang baik pada beberapa bakteri gram-positiv dan
bakteri anaerobik gram-negativ (Jr. Petri, 2006).
d. Sefalosporin generasi keempat
Sefepime dan Sefpirom adalah contoh dari Sefalosporin generasi keempat. Sefepim lebih resisten terhadap hidrolisis
oleh beta laktamase kromosomal (misal yang diproduksi oleh enterobacter). Namun, seperti senyawa generasi ketiga
obat ini dihidrolisis oleh beta laktamase spektrum luas (Deck & Winston, 2014). Sefepime mempunyai aktivitas
yang lebih tinggi dibanding dengan seftazidim yaitu dalam pertahanan melawan streptococci dan S. aureus sensitiv
metisilin (Jr. Petri, 2006).
Mekanisme Kerja
Sefalosporin menghambat sintesis dinding sel bakteri seperti pada mekanisme kerja penisilin (Jr. Petri, 2006)
Farmakokinetika
Pada Sefaleksin, Sefradin, dan Sefadroksil diserap di usus dengan tingkat yang bervariasi. Dosis oral 500 mg, kadar
serum adalah 15-20 mcg/ml. Ekskresi terutama melalui filtrasi glomerulus dan sekresi tubulus kedalam urin.
Sefazolin adalah satu-satunya Sefalosporin parenteral generasi pertama yang masih digunakan secara umum. Setelah
infus intravena 1 g, kadar puncak Sefazolin adalah 90-120 mcg/ml. Pada sebagian besar Sefalosporin generasi
kedua, setelah infus intravena 1 g, kadar serum adalah 75-125 mcg/ml (Deck & Winston, 2014)
Efek Samping
Sefalosporin dapat menyebabkan sensitasi dan memicu berbagai reaksi hipersensitivitas yang identik dengan yang
terjadi pada penisilin, termasuk anafilaksis, demam, ruam kulit, nefritis, granulositopenia, dan anemia hemolitik.
Namun, inti kimia Sefalosporin cukup berbeda dari yang dimiliki penisilin sehingga sebagian orang dengan riwayat
alergi penisilin dapat menoleransi Sefalosporin. Sefalosporin yang mengandung gugus metiltiotetrazol dapat
menyebabkan hipoprotombinemia dan gangguan perdarahan (Deck & Winston, 2014).
2. Aminoglikosida
Aminoglikosida mencakup Sterptomisin, Neomisin, Kanamisin, Amikasin, Gentamisin, Tobramisin, Sisomisin,
Netilmisin, dan lain lain. Biasanya dikombinasikan dengan antibiotika beta laktam pada infeksi serius oleh bakteri
gram-negativ (Deck & Winston, 2014). Aminoglikosida berisi gula amino yang terhubung ke cincin amino silitol
oleh ikatan glikosidik. Aminoglikosida merupakan antibiotika yang memiliki sifat bakterisidal yang cepat.
Berikut merupakan beberapa penggunaan aminoglikosida dalam klinik :
- Gentamisin terutama digunakan pada infeksi berat (misal sepsis dan pneumonia) akibat bakteri gram-negatif
yang kemungkinan besar resisten terhadap obat lain.gentamisin biasanya dikombinasi dengan antibiotika lain
untuk mencegah terjadinya resistensi dalam pengobatakn infeksi yang dikarenakan oleh stafilokokokus (Deck &
Winston, 2014)
- Tobramisin untuk pengobatan pada infeksi P.aeruginosa di saluran napas bawah sebagai penyulit fibrosis kistik
(Deck & Winston, 2014)
Macam- macam reaksi merugikan dari aminoglikosida :
- Ototoksisitas : aminoglikosida bersifat toksisk terhadap sel-sel pendengaran sehingga terjadi gangguan
pendengaran dan gangguan keseimbangan.
- Nefrotoksik : dikarenakan aminoglikosida terakumulasi pada sel tubulus dan menimbulkan kerusakan pada sel
tubulus.
- Depresi neuromuskuler : semua aminoglikosida menghambat pelepasan asetilkolin dan menurunkan sensitivitas
reseptor. Gejala yang timbul meliputi depresi otot pernafasan (Chambers, 2006).
Mekanisme Kerja
Aminoglikosida adalah inhibitor reversibel sintesis protein. Proses awal adalah difusi pasif melalui saluran porin
menembus membran luar. Didalam sel aminoglikosida berikatan dengan sub unit 30S protein ribosom. Sintesis
protein dihambat oleh aminoglikosida melalui paling sedikit 3 cara yaitu interferensi terhadap kompleks inisiasi
pembentukan peptida, kesalahan pembacaan RNA, pengutraian polisom menjadi monosom non-fungsional.
Farmakokinetik
Aminoglikosida sangat kurang diserap dari saluran cerna, dan hampir seluruh dosis oral diekskresikan di feses
setelah pemberian oral. Namun, pemberian obat dapat diserap apabila terdapat ulserasi. Setelah penyuntikan
intramuskular aminoglikosida diserap dengan baik, menghasilkan konsentrasi puncak dalam darah dalam 30-90
menit. Aminoglikosida biasanya diberikan secara intravena sebagai infus 30-60 menit. Paruh normal aminoglikosida
adalah 2-3 jam, meningkat menjadi 24-48 jam pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal (Deck & Winston, 2014).

Kombinasi penggunaan antibiotika Sefazolin dan Gentamisin dimaksudkan untuk memperluas daya hambat
antibiotika pada bakteri. Sefazolin aktif terhadap gram positive dan Gentamisin aktif terhadap gram negativ
(Janmohammadi N & Roshan Hasanjani, 2010).