Anda di halaman 1dari 11

MANAJEMEN OPTIMAL LAHAN TIDUR UNTUK

PEMBANGUNAN PERTANIAN

Zaidan
Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya

A. Pendahuluan

Secara alami tanah ditutupi oleh vegetasi yang beragam genetic dan
fenotif sehingga tersusun ekosistem yang komplek. Tanah dengan
ekosistemnya sering disebut sebagai lahan. Bersadarkan tipologi
penggenangan air maka lahan dapat dikelompokkan menjadi lahan basah
(wet land) dan lahan kering (dry land), dan berdasarkan ketinggian dari
permukaan laut maka pengelompokan lahan menjadi lahan dataran rendah,
medium dan tinggi. Oleh sebab itu, persoalan lahan untuk kepentingan
manusia dan ekosistem dapat saja terjadi di lahan basah, lahan kering, lahan
dataran rendah, medium dan tinggi.
Lahan telah lama menjadi bagian penting manusia terutama untuk
pemukiman dan penghidupan sehingga semakin lama lahan menjadi seolah-
olah semakin sempit sebagai akibat kepentingan manusia semakin luas.
Penyusutan luas lahan alami telah merubah ekosistemnya. Persoalan
perubahan ekosistem lahan telah lama disuarakan dan diingatkan oleh
banyak pihak dari berbagai negara di dunia. Mensikapi hal tersebut
Indonesia telah menerapkan peraturan pengelolaannya untuk berbagai
sektor. Salah satu persoalan ekosistem lahan dalam 20 tahun terakhir ini
adalah lahan tidur atau lahan terlantar. Lahan terlantar dapat berarti
kawasan yang telah mengalami perubahan fungsinya yaitu dari alami
menjadi lahan rusak. Makna lain dari lahan terlantar yaitu areal yang pernah
dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian tetapi selanjutnya tidak dikelola.
Lahan terlantar dapat pula berarti sebagai areal yang belum pernah
dimanfaatkan tetapi berpotensi untuk dikembangkan menjadi kawasan
produktif untuk pertanian, kehutanan, peternakan dan perikanan..

Pertemuan Teknis Pengelolaan Lahan Wilayah Barat pd 21-23 maret 2006 di Palembang 1
Berdasarkan definisi tersebut maka lahan terlantar dapat saja terdapat di
kawasan pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan dan peternakan
mencakup di lahan basah dan lahan kering yang menyebar dari dataran
rendah sampai tinggi.
Lahan terlantar yang ada di Indonesia sangat sulit untuk diperediksi
secara tepat sebab bersifat non permanen yang sangat dipengaruhi oleh
kecepatan pengrusakan dan pemulihan, dan kemajuan investasi. Walaupun
demikian, secara umum luas dan sebaran lahan terlantar yang ada di setiap
provinsi dapat dilihat pada Tabel 1.

Secara sederhana munculnya lahan terlantar disebabkan oleh


berubahnya fungsi lahan yang mencakup fungsi vegetasi (vegetation
function) atau fungsi ekonomi (economical function) yang disebabkan oleh
kondisi alami atau kesengajaan. Proses alami yang memacu munculnya
lahan terlantar adalah banjir, kekeringan, gempa bumi, gunung meletus,
kebakaran alami, atau serangan organisme pengganggu. Kegiatan

Pertemuan Teknis Pengelolaan Lahan Wilayah Barat pd 21-23 maret 2006 di Palembang 2
kesengajaan seperti penebangan pohon secara liar, pembakaran lahan tak
terkendali, penambangan terbuka dapat pula menjadi penyebab munculnya
lahan terlantar.
Wujud lahan terlantar yang paling mudah untuk dilihat di lahan kering
atau menjadi indikator biologis adalah alang-alang (Imperata cylenderica)
dan semak belukar yang ada di sekitar atau di dalam kawasan pertanian
atau kehutanan. Untuk lahan basah yang menjadi indikatornya adalah
populasi rumput air dan prumpung. Untuk lahan bekas penambangan maka
indikator lahan terlantarnya adalah alang-alang berasosiasi dengan
senduduk yang tumbuh kerdil (batubara dan minyak), dan alang-alang
berasosiasi rumput di hamparan pasir (timah). Oleh sebab itu, lama waktu
lahan terlantar dapat dilihat dari kerapatan populasi alang-alang, semak
belukar, rumput air dan prumpung, dan jika semak belukarnya telah berubar
menjadi hutan skunder maka berarti lahan tersebut terlantar lebih dari 10
tahun.
Berdasarkan fakta bahwa alang-alang dapat dengan cepat tumbuh
dan berkembangbiak serta beradaptasi pada lahan yang tidak dikelola maka
luas lahan yang dicover alang-alang dapat dijadikan petunjuk tentang luas
lahan terlantar. Luas alang-alang di Indonesia sangat variatif dan menurut
estimasi ahli maka luasnya sekarang sekitar 7,5 juta ha dan 10 tahun yang
lalu sekitar 2 juta ha (Minha, 2000). Hasil pengolahan data yang dilakukan
bakosurtanal (1998) menunjukan bahwa penyebaran lahan alang-alang
murni ( pure alang-alang ) dan lahan semak belukar dan alang-alang
(Mixture of alang-alang and shrub ), dengan hasil seperti tertera pada Tabel
2.

Tabel 2. Penyebaran Lahan Alang-alang menurut Kelompok Lahan Alang-


alang murni dan Lahan Alang-alang campuran.

Pertemuan Teknis Pengelolaan Lahan Wilayah Barat pd 21-23 maret 2006 di Palembang 3
Provinsi Lahan Alang-alang Lahan Semak
Murni (ha) Belukar dan Alang- Alang ( ha )

Riau 64.231 106.212


Jambi 32.525 22.100
Sumatera Selatan 184.725 152.400

Sub Total 281.481 280.712

Kalimantan Selatan 435.847 100.303


Kalimantan Tengah 130.400 6.950
Kalimantan Timur 172.402 67.041
Kalimantan Barat 361.950 -

Sub Total 1.100.599 174.294

Sulawesi Utara 4.639 17.319


Sulawesi Tengah 26.023 136.773
Sulawesi Selatan 196.875 70.853
Sulawesi Tenggara
Sub Total 227.537 224.945

Bali 1.750 -
NTB 8.650 -
NTT - 137.856
Sub Total 10.410 137.856
Total 1.620.027 817.807

Sumber : Bakosurtanal ( 1998) dalam Sianturi (2003)

.
B. Karakteristika dan Permasalahan Lahan Terlantar
Lahan terlantar yang terdapat di lahan kering dapat diidentikan dengan
lahan bervegetasi alang-alang. Oleh sebab itu, karakteristik dan
permasalahan keberadaan alang-alang menjadi fenomena lahan terlantar.
Dengan demikian, sisi negatif populasi alang-alang seperti sangat mudah
terbakar pada kemarau dan sulit dikendalikan menjadi hal yang tidak
terpisahkan dengan permasalahan lahan terlantar. Berdasarkan data yang

Pertemuan Teknis Pengelolaan Lahan Wilayah Barat pd 21-23 maret 2006 di Palembang 4
ada ternyata luas alang-alang yang terbakar pada tahun 2002 seluas 19 ribu
ha sehingga asap yang dihasilkan menjadi isu lingkungan.
Pemanfaatan lahan alang-alang untuk dialihfungsikan menjadi lahan
pertanian (produktif) sangat intensif dikemukakan oleh banyak pihak pada
tahun 2000 kemarin. Lahan alang-alang merupakan lahan marjinal, oleh
karena itu tanpa adanya input teknologi yang tinggi akan menghasilkan
produksi yang rendah dan pendapatan yang rendah. Untuk merubah lahan
alang-alang menjadi lahan yang lebih produktif perlu dikaji dan dipahami
secara komperehensif tentang faktor-faktor yang terkait dengan
permasalahan yang ada di lahan tersebut. Ada tiga hal utama yang kiranya
perlu dikaji yaitu;

1. Sosial ekonomi dan budaya


Salah satu fenomena budaya petani kita adalah melaksanakan
kegiatan ladang berpindah untuk membudidayakan padi ladang. Kegiatan
tersebut telah berlangsung lama. dan lama waktu menetap di suatu ladang
sangat ditentukan oleh kesuburan tanah (top soil). Dengan demikian,
kawasan hutan akan terus dirambah secara acak agar bertanam padi
ladang dapat dilangsungkan setiap tahunnya. Untuk mempersiapkan hal
tersebut biasanya petani akan membakar vegetasi yang telah ditebas, dan
selain menghanguskan kayu tebasan maka sering juga membakar areal
lain. Lahan yang telah dibakar akan ditanami dengan padi, sayuran, dan
juga tanaman tahunan seperti karet, pisang, nangka dan sebagainya.
Tanaman tahunan tersebut biasanya ditanam diberbatasan lahan hutan.
Satu tahun setelah kegiatan berladang areal tersebut akan ditumbuhi oleh
alang-alang dan semak belukar yang juga tanaman tahunan. Jika lahan
tersebut telah kurang subur maka lahan tersebut akan ditinggal dan menjadi
terlantar.
Lahan basah yang terlantar biasanya berhubungan dengan
perubahan tinggi genangan. Lahan rawa yang berubah tipologi sebagai
akibat f

Pertemuan Teknis Pengelolaan Lahan Wilayah Barat pd 21-23 maret 2006 di Palembang 5
aktor alam atau kesengajaan dapat berdampak terhadap semakin cepat dan
lamanya fase kering atau banjir. Perubahan tipologi rawa seperti itu sangat
sulit untuk melaksanakan budidaya padi oleh petani. Dengan demikian,
biasanya lahan tersebu akan ditinggal dan menjadi terlantar.
Lahan yang secara acak telah ditumbuhi alang-alang dan semak
belukar selanjutnya menjadi persoalan sosial jika dimasuki oleh pihak lain
sebab secara adat lahan tersebut telah ada pemilik. Kejadian tersebut
juga dapat pula dijumpai di lahan basah. Petani sesungguhnya kurang
menyukai ladang berpindah tetapi hal tersebut sebagai akibat modal usaha
tani mereka sangat minimal (ekonomi lemah).
Lahan alang-alang atau semak belukar baik di lahan kering maupun
lahan basah dapat menjadi lahan terlantar setelah terjadi konversi atau
pemindahan hak atas lahan dari petani atau kelompok tani kepada
seseorang atau perusahaan. Lahan tersebu biasanya luas dan terletak di
kawasan strategis. Untuk kasus tersebut berarti lahan terlantar terjadi
akibat lambannya investasi atau ada tujuan lain agar mendapat keuntungan
ekonomi. Lahan terlantar tersebut biasanya sulit untuk dijadikan produktif
sebab secara hukum lahan tersebut ada pemiliknya. Untuk menjadikan
lahan terlantar tersebut menjadi produktif tentunya perlu adanya kerjasama
yang saling menguntungkan antara pemilik dengan calon petani
penggarafnya sehingga hak mereka dapat dilindungi hukum.
Permasalahan yang dihadapi untuk merehabilitasi lahan terlantar
menjadi areal pertanian yang produktif adalah pendanaan dan pembuktian
kepada masyarakat lokal bahwa secara ekonomis alih guna lahan menjadi
areal pertanian sangat menguntungkan. Dengan demikian, aspek sosial
ekonomi dan budaya perlu diperhatikan karena masalah tanah merupakan
isu yang sangat sensitif.

2. Kesuburan Tanah
Untuk di lahan kering maka jenis tanah yang mendominasinya adalah
Podsolik Merah Kuning (PMK). PMK yang mempunyai akumulasi liat

Pertemuan Teknis Pengelolaan Lahan Wilayah Barat pd 21-23 maret 2006 di Palembang 6
(argilik) atau kandik pada horizon B sepadan dengan Ultisol. Tanah ini
mempunyai horizon bawah yang padat sehingga mempunyai sifat fisika
tanah yang buruk. Permasalahan pada Ultisol adalah kasarnya tekstur
tanah lapisan atas, sedangkan lapisan bawah lebih padat. Selain itu,
dengan adanya akumulasi liat (horizon argilik) di lapisan bawah
menyebabkan bobot isi tanah tinggi. Tingginya bobot isi Ultisol
menunjukkan bahwa tanah tersebut padat dan mempunyai aerasi yang
buruk yang mengakibatkan lambatnya gerakan air masuk ke dalam tanah
yang dapat memperlambat proses pengisian air tanah pada daerah
perakaran tanaman. Walaupun curah hujan tinggi, apabila daya pegang air
tanah rendah, maka pada musim kemarau tanah akan cepat sekali
mengalami kekeringan sehingga air tidak tersedia bagi tanaman (Sitorus,
2002).
Sifat kimia Ultisol pada umumnya kurang baik, kesuburan tanahnya
rendah dan kandungan Al tinggi. Menurut Adiningsih dan Mulyadi (1992),
Ultisol pada lahan alang-alang mempunyai tingkat kendala sifat kimia yang
buruk sehingga kesuburan tanah rendah. Hal ini dicirikan dengan sangat
miskinnya hara terutama fosfat dan kation-kation dapat ditukar seperti Ca,
Mg dan K, reaksi tanah masam dan sebagian disertai kadar Al tinggi
sehingga dapat meracuni tanaman. Selain itu, faktor pembatas lain Ultisol
adalah rendahnya bahan organik tanah dan KTK serta peka terhadap erosi.
Faktor pembatas utama pemanfaatan lahan kering untuk pertanian adalah
ketersediaan air. Air yang cukup untuk kebutuhan tanaman biasanya
berasal dari hujan. Dengan demikian, budidaya tanaman pangan dan
semusim di lahan kering hanya berlangsung antara 4 sampai 5 bulan.
Perubahan tipologi rawa dapat juga berpengaruh terhadap
ketersediaan hara makro dan mikro tanahnya. Secara umum ketersedian
P, K dan Ca sangat terbatas di tanah rawa. Sebaliknya Al, Fe, dan Mn
berada dalam kondisi toksit untuk tanaman. Oleh karena itu, varietas padi
yang adaptif rawa pasang surut berbeda dengan padi irigasi teknis.
Kendala lain dalam budidaya tanaman padi di lahan rawa adalah lapisan

Pertemuan Teknis Pengelolaan Lahan Wilayah Barat pd 21-23 maret 2006 di Palembang 7
firit. Pembukaan lahan untuk persiapan tanam yang kurang hati-hati dapat
mengakibatkan terjadinya oksidasi firit sehingga tanaman padi menjadi mati.

3. Aspek Kebijakan
Lahan terlantar relatif luas dan sudah saatnya pemerintah
memanfaatkan lahan tersebut menjadi lahan yang lebih produktif. Bila
dibanding dengan pembukaan areal baru pemanfaatan lahan alang-alang
jauh lebih murah ( Mulyani, 2005). Kebijakan tersebut tentunya harus
senantiasa berorientasi bisnis sehingga kemanfaatan lahan tersebut untuk
pemilik, penggaraf dan pembangunan masyarakat dapat terlihat dan
dirasakan secara nyata. Oleh karena itu, sudah waktunya pemerintah
menetapkan kebijakan pemanfaatan lahan alang-alang yang luas menjadi
isu kebijakan strategis dalam upaya mendukung revitalisasi pertanian
sehingga pengadaan pangan nasional lebih terjamin. Pengadaan pangan
nasional merupakan hal yang sangat mendesak dewasa ini sebab Import
beras Indonesia rata-rata 2 juta ton setiap tahun, terbesar nomor satu di
dunia. Import gula rata-rata 1,4 juta ton setiap tahun, terbesar nomor dua di
dunia. Import jagung rata-rata 1,5 juta ton setiap tahun dan import kedelei
telah mencapai 1,35 juta ton pada tahun 2001. Jumlah impor pangan yang
sangat besar tersebut telah menguras devisa negara yang sangat besar.
Sebagai ilustrasi nilai import bahan pangan Indonesia pada tahun 2000
telah menghabiskan devisa negara sebesar 1.475 juta US $ (Harian
Kompas, 11 Juni 2002 dalam Yodohusodo, 2002).

C. Model Pengembangan Lahan Terlantar


Permasalahan utama yang dihadapi petani dalam pemanfaatan lahan
terlantar adalah tidak tersedianya modal usahatani dan sarana prasara
terbatas. Jadi, untuk tahap awal dan mendesak maka pengembangan
lahan terlantar tentunya dimulai dengan adanya penyediaaan modal
usahatani. Modal usahatani dikaitkan dengan kegiatan pemberdayaan
masyarakat. Untuk pengembangan masyarakat tentunya keterpaduan yang

Pertemuan Teknis Pengelolaan Lahan Wilayah Barat pd 21-23 maret 2006 di Palembang 8
sinergis dari berbagai instansi sangat diharapkan agar jaminan
kelangsungan usahatani dan pembelian hasil panen dapat terjamin.
Keterkaitan antar sektor untuk program optimalisasi lahan tidur dalam
bentuk pemberdayaan masyarakat dapat dilihat pada diagram di bawah ini.

Perbankan Dinas Teknis Lembaga


independen

Manajer Lapangan

On farm
Operasional
Monitoring
Evaluasi
Off farm

Perdagangan produk
Pengembalian Kredit

Kunci keberhasilan program ini adalah klarifikasi lahan (CPCL) sebab


dari hal tersebut akan ditentukan kelayakan teknis, fisik dan lingkungan
serta sosekbud dari lahan terlantar, dan sebaiknya klarifikasi tersebut oleh
lembaga independen. Hasil dari CPCL dengan persetujuan manajer
lapangan selanjutnya direkomendasikan oleh dinas teknis terkait kepada
perbankan untuk dibiayai. Lahan terlantar tersebut selanjutnya diorganisir
dengan standar prosedur operasional (SOP) oleh manajer lapangan untuk
melaksanakan kegiatan pertanian. Dalam hal ini monitoring secara terpadu
oleh perbankan, dinas teknis dan lembaga independen harus dilakukan

Pertemuan Teknis Pengelolaan Lahan Wilayah Barat pd 21-23 maret 2006 di Palembang 9
secara berkala dan kontinyu dengan petani atau kelompok tani. Walaupun
demikian tentunya kawasan lahan tidur perlu sebelumnya ditingkatkan
sarana dan prasana, dan peralatan panen dan pascapanen oleh dinas
teknis terkait agar persoalan pascapanen tidak menjadi masalah. Sejalan
dengan kegiatan usahatani tersebut berlangsung maka manajer lapangan
mencari pembeli hasil (buyer) dalam bentuk kontrak jual beli produk.
Model kegiatan tersebut telah dilaksanakan untuk budidaya jagung
di lahan terlantar kabupaten Muara Enim. Model tersebut kiranya berlaku
sama untuk komoditi lain termasuk juga ternak dan ikan. Walaupun
demikian, kespesifikan ekologis lahan, isolasi jarak dan pula sosekbud
pemilik lahan harus menjadi dasar pertimbangan model pengembangan
lahan terlantar sehingga modifikasi model dapat dilakukan sesuai dengan
kebutuhan.

D. Kesimpulan
Lahan terlantar dapat berarti kawasan yang pernah dimanfaatkan
untuk kegiatan pertanian tetapi selanjutnya tidak dikelola. Lahan terlantar
dapat pula berarti sebagai areal yang belum pernah dimanfaatkan tetapi
berpotensi untuk dikembangkan menjadi kawasan produktif pertanian.
Lahan terlantar dapat saja terdapat di kawasan pertanian, perkebunan,
kehutanan, perikanan dan peternakan mencakup di lahan basah dan lahan
kering yang menyebar dari dataran rendah sampai tinggi.
Untuk merubah lahan terlantar menjadi lahan yang lebih produktif
perlu dikaji dan dipahami secara komperehensif tentang sosekbud,
kesuburan tanah dan didukung dengan kebijakan Pemerintah yang berupa
aspek legal dan pendanaan sehingga terjadi sinkronisasi berbagai
kepentingan.
Untuk pengembangan masyarakat di lahan terlantar tentunya
keterpaduan yang sinergis dari berbagai instansi sangat diharapkan agar
jaminan kelangsungan usahatani dapat terjamin dan menguntungkan.

Pertemuan Teknis Pengelolaan Lahan Wilayah Barat pd 21-23 maret 2006 di Palembang 10
DAFTAR PUSTAKA

Adiningsih, J.S. dan M. Mulyadi. 1992. Alternatif teknik rehabilitasi dan


pemanfaatan lahan alang-alang. Dalam PPT (ed). Pemanfaatan
lahan alang-alang untuk usahatani berkelanjutan.
Bogor.Prosiding.Seminar lahan alang-alang. Bogor.

Minha. A. 2000. Pemanfaatan lahan tidur untuk peningkatan pendapatan


petani dan pengembangan wilayah. Fakultas Pertanian Unsri.
Palembang.

Mulyani, A. 2005. Teknologi untuk meyulap lahan Alang-alang menjadi


lahan pertanian. Sinar Tani. Jakarta.

Sitorus, S.R.P.2002. Pemanfaatan lahan alang-alang untuk penggunaan


pertanian dan transmigrasi. Makalah pada Pertemuan Koordinasi
Lintas Sektor Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. 2002.
Jakarta.

Sianturi, P.S. 2003. Pemanfaatan lahan tidur (alang-alang) untuk


pengembangan program tansmigrasi. Makalah. Falsafah Sains.
Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Pertemuan Teknis Pengelolaan Lahan Wilayah Barat pd 21-23 maret 2006 di Palembang 11