Anda di halaman 1dari 7

PEMBENTUKAN VERBA DARI DASAR NOMINA

DALAM BAHASA SASAK HALUS

Dian Mahendra
Universitas Mataram
henndra94@gmail.com

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pembentukan verba dari dasar


nomina dalam bahasa Sasak halus. Dalam penelitian ini dipaparkan tipe-tipe
pembentukan verba dari dasar nomina dalam BSH dan proses morfofonemiknya.
Data diambil dari tuturan lisan pengguna BSH. Metode padan ekstralingual
dengan teknik referensial dan metode disribusional dengan teknik urai unsur
terkecil dan teknik oposisi dua-dua digunakan untuk menganalisis data dalam
penelitian ini. Dari hasil analisis data tersebut ditemukan sembilan tipe
pembentukan verba dari dasar nomina dalam BSH, yaitu tipe Zero+DN,
{-}+DN, {b-}+DN, DN+{-an}, DN+{-in}, {-}+DN+{-an}, {-}+DN+{-in},
{t-}+DN+{-an}, dan {t-}+DN+{-in}. Adapun proses morfofonemik yang
ditemukan dalam penelitian ini berupa penambahan fonem, pelesapan fonem, dan
penggantian fonem.

Kata kunci: pembentukan verba, nomina, proses morfofonemik

PEMBENTUKAN VERBA DARI DASAR NOMINA DALAM BSH


Pembentukan verba dari dasar nomina dalam bahasa Sasak halus (hencefort:
BSH) termasuk kajian morfologi derivasional. Pembentukan derivasional adalah
pembentukan yang menghasilkan kata baru yang berbeda dari dasarnya atau
pembentukan yang menyebabkan terjadinya perubahan identitas leksikal. Dengan
kalimat lain, dapat dikatakan bahwa pembentukan kata secara derivasional tidak
hanya dilihat dari perubahan kelas kata, tetapi ada juga pembentukan kata yang
tidak merubah kelas kata, namun merubah arti leksikalnya (bandingkan Sukri,
2008: 44; Subroto, 2012: 10; Purnanto, 2006: 137; Badulu dan Herman, 2005:
11; Verhaar, 2012: 117, 121, 143; dan Abdullah, 2012: 130). Sebagai contoh,
misalnya kata cangkul (N) mencangkul (V) termasuk proses derivasi karena
mengubah kelas kata dari N menjadi V. Sementara itu, perubahan kata lurah (N)
kelurahan (N) juga termasuk proses derivasi walaupun tidak mengubah kelas
kata. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan identitas leksikal berupa fitur
semantis dari kedua kata tersebut. Kata lurah (N) memiliki fitur semantis
bernyawa, dapat bergerak, manusia, dan punya pikiran (Pak lurah Sujono).
Sedangkan kelurahan (N) memiliki fitur semantis tak bernyawa, bukan manusia,
dan menyangkut sistem pemerintahan di tingkat desa yang memiliki wilayah dan
perangkat tertentu.
Perubahan kelas kata tersebut pada umumnya dilakukan melalui proses
afiksasi. Namun, ada juga beberapa ahli yang mengatakan bahwa
pemajemukan/komposisi juga dapat menghasilkan kata baru. Selain itu, dalam
beberapa bahasa, perubahan tersebut juga dimungkinkan melalui proses derivasi
zero. Derivasi zero atau konversi sebagaimana yang dikemukakan oleh Edi
Subroto (2012: 16) merupakan pembentukan yang menghasilkan leksem berbeda
tanpa perubahan bentuk. Misalnya leksem gunting (N) menjadi leksem gunting
(V). Leksem gunting (N) terlihat dalam kalimat Ibu membeli gunting baru.,
sedangkan leksem gunting (V) terdapat dalam kalimat Gunting kertas itu!.
Dengan demikian, pembentukan dari leksem gunting (N) menjadi gunting (V)
termasuk derivasional melalui proses derivasi zero. Selanjutnya, yang menjadi
persoalan dalam proses derivasi zero itu adalah manakah yang menjadi input
(dasar) dan manakah yang menjadi output (bentukan). Dalam kaitan ini, peneliti
sependapat dengan pendapat Marchand dalam Edi Subroto (2012: 17) yang
menyatakan bahwa satuan yang definisi semantisnya bergantung pada satuan lain
disebut keluaran (output) dan yang lain sebagai masukan (input). Misalnya,
tuturan gunting kain itu berarti potong kain itu dengan gunting. Jadi, tuturan
tersebut mengasumsikan adanya satuan gunting. Oleh karena itu, gunting (V)
dianggap sebagai keluaran, sedangkan gunting (N) dianggap sebagai masukan.
Hasil pembentukan verba dari dasar nomina dalam BSH dapat
diklasifikasikan menjadi sembilan tipe, yakni tipe Zero+DN, {-}+DN, {b-}
+DN, DN+{-an}, DN+{-in}, {-}+DN+{-an}, {-}+DN+{-in}, {t-}+DN+{-an},
dan {t-}+DN+{-in}.
Tipe Zero+DN
Tipe ini merupakan tipe pembentukan verba dari dasar nomina dengan
melekatkan morfem zero pada bentuk dasar (hencefort: BD). Dengan kalimat lain,
pembentukan verba dengan tipe ini tidak merubah bentuk tetapi hanya merubah
kelas katanya.
Pembentukan verba dari dasar nomina dengan morfem zero ini
menunjukkan proses derivasional karena terjadi perubahan kelas kata. Data yang
diperoleh di lapangan tentang verba tipe zero+DN yang dianggap berasal dari BD
nomina adalah sebagai berikut.
N V
______________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ___ ________ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ___ ________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ___________

tambah [tambah] cangkul tambah [tambah] cangkul


sendok [sndok] sendok sendok [sndok] sendok
awis [awIs] sabit awis [awIs] sabit
______________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ___ ________ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ___ ________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ___________

Data-data di atas dapat dianalisis kelas katanya dengan cara melihat


valensi sintaksisnya. Contohnya dapat dilihat pada kalimat berikut ini.
(1) Niniq tiang numbas tambah. (2) Tambah bangket nike!
[nini? tia nUmbas tambah] [tambah bakt nik]
kakek saya membeli cangkul cangkul sawah itu
Dari kedua kalimat di atas, kata tambah pada kalimat pertama merupakan nomina,
sedangkan kata tambah pada kalimat kedua merupakan verba. Selanjutnya, kata
tambah (N) dikatakan sebagai dasar dan kata tambah (V) dikatakan sebagai
bentukan/turunan. Hal ini terlihat jelas pada kalimat kedua yang mengasumsikan
adanya satuan tambah yang dapat digunakan untuk membajak sawah.
Tipe {-}+DN
Tipe ini merupakan perpaduan antara morfem prefiks {-} yang dilekatkan pada
BD nomina. Morfem prefiks {-} mempunyai beberapa morf, antara lain {-},
{-}, {m-}, {-}, dan {n-}. Berikut contoh kata bentukan (hencefort: KB) dari
tipe ini.

2
N V
______________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ___ ________ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ___ ________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ___________

lanjar [lanjar] rokok ngelanjar [lanjar] merokok


ajeng [aj] nasi ngajeng [aj] makan nasi
______________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ___ ________ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ___ ________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ___________

Pembentukan dengan tipe di atas menunjukkan adanya proses


morfofonemik. Pada KB ngelanjar, terjadi penambahan fonem // pada morfem
prefiks {-} sehingga realisasinya menjadi {-}. Sementara itu, pada KB
ngajeng tidak terdapat perubahan fonemis apapun. Ketika BD ajeng dilekatkan
dengan morfem afiks {-}, hanya terjadi penambahan bunyi // saja.

Tipe {b-} +DN


Tipe ini merupakan perpaduan antara morfem prefiks {b-} yang dilekatkan pada
BD nomina. Adapun morfem prefiks {b-} memiliki tiga buah alomorf, yaitu
{b-}, {bl-}, dan {br-}. Berikut contoh KB dari tipe ini.
N V
______________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ___ ________ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ___ ________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ___________

baos [bawos] pesan bebaos [bbawos] berpesan


base [bas] kata bebase [bbas] berkata
kuace [kuwac] baju bekuace [bkuwac] memakai baju
seluar [sluwar] kain beseluar [bsluwar] memakai kain
______________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ___ ________ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ___ ________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ___________

Berdasarkan data-data di atas, dalam pendistribusian morfem prefiks {b-}


dengan BD tidak ditemukan perubahan apapun. Artinya, ketika morfem prefiks
{b-} dilekatkan dengan BD, maka BD tersebut tidak mengalami perubahan
fonemis, melainkan hanya mengalami penambahan bunyi [b] saja.
Tipe DN+{-an}
Tipe ini merupakan perpaduan antara morfem sufiks {-an} yang melekat pada BD
nomina. Adapun KB yang dihasilkan melalui tipe ini adalah sebagai berikut.
N V
______________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ___ ________ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ___ ________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ___________

baos [bawos] pesan baosan [bawosan] sampaikan


base [bas] kata basean [basyan] katakan
kuace [kuwac] baju kuacean [kuwacan] pakaikan baju
seluar [sluwar] kain seluaran [sluwaran] pakaikan kain
jinah [jinah] uang jinahan [jinahan] jualkan/uangkan
gading [gadI] tangan gadingan [gadian] bawakan
______________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ___ ________ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ___ ________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ___________

Berdasarkan data-data di atas, dalam pendistribusian morfem sufiks {-an}


dengan BD juga tidak ditemukan adanya perubahan fonemis. Hal ini sama dengan
morfem prefiks {b-} sebagaimana dikemukakan di atas. Jadi, BD yang dilekati
morfem sufiks {-an} hanya mengalami penambahan bunyi [an] saja.

Tipe DN+{-in}
Tipe ini merupakan perpaduan antara morfem sufiks {-in} yang melekat pada BD
nomina. Pada umumnya pembentukan dengan tipe ini sama dengan pembentukan
dengan tipe di atas, yakni tipe DN+{-an}. Adapun KB yang dihasilkan melalui
tipe ini adalah sebagai berikut.

3
N V
______________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ___ ________ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ___ ________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ___________

baos [bawos] pesan baosin [bawosIn] sampaikan


base [bas] kata basein [basyIn] katakan
kuace [kuwac] baju kuacein [kuwacyIn] pakaikan baju
seluar [sluwar] kain seluarin [sluwarIn] pakaikan kain
jinah [jinah] uang jinahin [jinahIn] jualkan/uangkan
gading [gadI] tangan gadingin [gadiIn] bawakan
______________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ___ ________ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ___ ________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ___________

Sebagaimana pembentukan dengan tipe DN+{-an}, pembentukan dengan


tipe DN+{-in} juga tidak menunjukkan adanya perubahan fonemis. Adapun
proses yang terjadi ketika morfem sufiks {-in} dilekatkan pada BD adalah
penambahan bunyi /in/ pada akhir BD-nya.
Tipe {-}+DN+{-an}
Tipe ini merupakan perpaduan antara morfem konfiks {-an} yang melekat pada
BD nomina. Adapun KB yang dihasilkan melalui tipe ini adalah sebagai berikut.
N V
______________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ___ ________ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ___ ________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ___________

pager [pagr] pagar mageran [magran] memagari


anak [anak] anak nganakan [anakan] melahirkan
angen [an] angan ngangenan [anan] mengharapkan
impi [Impi] mimpi ngimpian [Impian] memimpikan
______________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ___ ________ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ___ ________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ___________

Data-data yang dipaparkan di atas menunjukkan adanya proses


morfofonemik. KB mageran dibentuk melalui kombinasi antara morfem konfiks
{-an} yang melekat pada BD pager. Dalam proses tersebut, morfem {-}
mengalami perubahan bunyi menjadi /m/ ketika dilekati dengan BD yang diawali
fonem /p/. Selanjutnya, KB nganakan, ngangenan, dan ngimpian tidak
menunjukkan adanya perubahan fonemis. Hal ini disebabkan karena dalam proses
pelekatan morfem konfiks {-an} pada BD dari KB tersebut, hanya terjadi
penambahan bunyi // di awal BD dan bunyi /an/ di akhir BD.

Tipe {-}+DN+{-in}
Tipe ini merupakan perpaduan antara morfem konfiks {-in} yang melekat pada
BD nomina. Adapun KB yang dihasilkan melalui tipe ini adalah sebagai berikut.
N V
______________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ___ ________ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ___ ________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ___________

susu [susu] susu/payudara nyusuin [usuwIn] menyususi


pupur [pupUr] bedak mupurin [mupurIn] memakaikan bedak
kincu [kIncu] gincu ngincuin [IncuwIn] memakaikan gincu
______________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ___ ________ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ___ ________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ___________

Berdasarkan data di atas, terlihat adanya proses morfofonemik. KB


nyusuin dibentuk melalui kombinasi morfem konfiks {-in} yang melekat pada
BD susu. Dalam proses tersebut, terjadi pelesapan fonem /s/ yang digantikan oleh
fonem // yang merupakan salah satu alomorf dari morfem {-}. KB mupurin
juga mengalami proses morfofonemik yang sama, yakni pelesapan fonem /p/ yang
digantikan oleh fonem /m/ yang merupakan salah satu alomorf dari morfem {-}.
Selanjutnya, KB ngincuin juga menunjukkan gejala yang sama. Dalam proses

4
pembentukannya, terjadi pelesapan fonem /k/ yang digantikan oleh fonem //
yang juga merupakan salah satu alomorf dari morfem {-}.

Tipe {t-}+DN+{-an}
Tipe ini merupakan perpaduan antara morfem konfiks {t-an} yang melekat pada
BD nomina. Adapun KB yang dihasilkan melalui tipe ini adalah sebagai berikut.

N V
______________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ___ ________ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ___ ________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ___________

gading [gading] tangan tegadingan [tgadian] dibawakan


jinah [jinah] uang tejinahan [tjinahan] dijual/diuangkan
owat [owat] obat teowatan [towatan] diobati
______________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ___ ________ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ___ ________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ___________

Data-data temuan di atas tidak menujukkan adanya proses morfofonemik.


Hal ini disebabkan karena dalam proses pembentukannya, ketika morfem konfiks
{t-an} melekat pada BD hanya terjadi penambahan bunyi /t/ di awal BD dan
bunyi /an/ di akhir BD.

Tipe {t-}+DN+{-in}
Tipe ini merupakan perpaduan antara morfem konfiks {t-in} yang melekat pada
BD nomina. Pada umumnya pembentukan dengan tipe ini sama dengan
pembentukan dengan tipe {t-}+DN+{-an} di atas. Adapun KB yang dihasilkan
melalui tipe ini adalah sebagai berikut.

N V
______________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ___ ________ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ___ ________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ___________

gading [gading] tangan tegadingin [tgadiIn] dibawakan


jinah [jinah] uang tejinahin [tjinahIn] dijual/diuangkan
owat [owat] obat teowatin [towatIn] diobati
______________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ___ ________ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ______ ___ ________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ____________ ___________

Berian data di atas menunjukkan gejala yang sama dengan pembentukan


melalui tipe {t-}+DN+{-an}. Gejala tersebut menunjukkan bahwa tidak ada
perubahan fonemis yang terjadi dalam proses pembentukan kata tersebut. Adapun
proses yang terjadi hanyalah penambahan bunyi /t/ di awal BD dan bunyi /an/ di
akhir BD.

5
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Wakir, dkk. 2012. Pembentukan Verba dari Dasar Nomina dalam
Bahasa Indonesia. In: Jurnal Linguistik Indonesia Edisi Agustus 2012
Nomor 2.

Alwasilah, A. Chaedar. 2011. Beberapa Mazhab dan Dikotomi Teori Linguistik.


Bandung: Penerbit Angkasa.

Alwi, Hasan, dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai
Pustaka.

Azhar, Lalu Muhammad. 1997. Kamus Bausastr: Sasak Indonesia dan


Indonesia Sasak. Klaten: PT. Intan Pariwara.

Badulu, Abdul Muis dan Herman. 2005. Morfosintaksis. Jakarta: Rineka Cipta.

Chaer, Abdul dan Leonie Agustina. 2010. Sosiolinguistik: Perkenalan Awal.


Jakarta: Rineka Cipta.

Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineke Cipta.

Hidayat, Toni Syamsul. 2010. Bahasa Sasak Halus Dan Prilaku Sosial
Masyarakat Penuturnya. In: Seminar Nasional Pemertahanan Bahasa
Nusantara, 6 Mei 2010, Hotel Pandanaran Semarang.

Kridalaksana, Harimurti. 2005. Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta:


Gramedia Pustaka Utama.

Mahsun, 2006. Kajian Dialektologi Diakronis Bahasa Sasak di Pulau Lombok.


Yogyakarta: Gama Media.

, 2012. Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi, Metode, dan


Tekniknya. Jakarta: Rajawali Press.

Muhammad. 2011. Paradigma Kualitatif Penelitian Bahasa. Yogyakarta: Liebe


Book Press

Muslich, Masnur. 2014. Tata Bentuk Bahasa Indonesia: Kajian ke Arah Tata
Bahasa Deskriptif. Jakarta: Bumi Aksara.

Nababan, P.W.J. 1984. Sosiolinguistik: Suatu Pengantar. Jakarta: Gramedia.

Purnanto, Dwi. 2006. Kajian Morfologi Derivasional dan Infleksional dalam


Bahasa Indonesia. Jurnal Kajian Linguistik dan Sastra, Volume 18, Nomor
35, 2006: 136-152.

Ramlan. 1980. Morfologi. Yogyakarta: U.P. Karyono.

6
Sensus Penduduk Nusa Tenggara Barat Berdasarkan Kabupaten Tahun 2016.

Subroto, Edi. 2012. Pemerian Morfologi Bahasa Indonesia: Berdasarkan


Perspektif Derivasi dan Infleksi Proses Afiksasi. Surakarta: Cakrawala
Media.

Sukri, Muhammad. 2008. {m-} sebagai Afiks Derivasional dan Infleksional


dalam Bahasa Sasak Dialek Kuto-Kute. Disertasi, Bali: Universitas
Udayana.

, 2008. Morfologi: Kajian Antara Bentuk dan Makna. Mataram:


Cerdas Press.

Sumadi. 2012. Morfologi Bahasa Indonesia. Malang: Universitas Negeri Malang.

Sumarsono. 2014. Sosiolinguistik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Thomas, Linda dan Shan Wareing. 2007. Bahasa, Masyarakat, dan Kekuasaan.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Verhaar, J.W.M. 2012. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gajah Mada


University Press.

Yulida, Ratna. 2008. Sistem Verba Bahasa Sasak Dialek Bayan dari Dasar Verba
dan Nomina. Tesis, Surakarta: Program Pasca Sarjana Universitas Sebelas
Maret.