Anda di halaman 1dari 33

MAULIDYA NUR AMALIA - 1102012156

LI 1. KLB BERDASARKAN MORBIDITAS DAN MORTALITAS


Definisi
Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya kesakitan/kematian yang bermakna
secara epidemiologis dalam kurun waktu dan daerah tertentu (Kep. Dirjen PPM&PLP No.451
I/PD.03.04/1991). Kejadian Luar Biasa (KLB) merupakan salah satu istilah yang sering digunakan dalam
epidemiologi. Istilah ini juga tidak jauh dari istilah wabah yang sring kita dengar dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua istilah ini sering digunakan akan tetapi sering kali kita tidak mengetahui apa arti kedua kata tersebut.
Menurut UU : 4 Tahun 1984, kejadian Luar Biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian
kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu.
Wabah: berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat
secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat
menimbulkan malapetaka. Menteri menetapkan dan mencabut daerah tertentu dalam wilayah Indonesia
yang terjangkit wabah sebagai daerah wabah.
Perbedaan definisi antara Wabah dan KLB:
Wabah harus mencakup:
- Jumlah kasus yang besar.
- Daerah yang luas.
- Waktu yang lebih lama.
- Dampak yang timbulkan lebih berat.
Kriteria KLB
KLB meliputi hal yang sangat luas seperti sampaikan pada bagian sebelumnya, maka untuk
mempermudah penetapan diagnosis KLB, pemerintah Indonesia melalui Keputusan Dirjen PPM&PLP No.
451-I/PD.03.04/1999 tentang Pedoman Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan KLB telah
menetapkan kriteria kerja KLB yaitu:
- Timbulnya suatu penyakit/menular yang sebelumnya tidak ada/tidak dikenal.
- Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus-menerus selama 3 kurun waktu berturut-turut
menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun).
- Peningkatan kejadian penyakit/kematian, 2 kali atau lebih dibandingkan dengan periode sebelumnya
(jam, hari, minggu, bulan, tahun).
- Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan dua kali lipat atau lebih bila
dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya.
- Angka rata-rata perbulan selama satu tahun menunjukkan kenaikan dua kali lipat atau lebih
dibanding dengan angka rata-rata per bulan dari tahun sebelumnya.
- Case Fatality Rate dari suatu penyakit dalam suatu kurun waktu tertentu menunjukan kenaikan 50%
atau lebih, dibanding dengan CFR dari periode sebelumnya.
- Propotional Rate (PR) penderita baru dari suatu periode tertentu menunjukkan kenaikan dua kali
atau lebih dibanding periode yang sama dan kurun waktu/tahun sebelumnya.
- Beberapa penyakit khusus: Kholera, DHF/DSS, (a) Setiap peningkatan kasus dari periode
sebelumnya (pada daerah endemis). (b)Terdapat satu atau lebih penderita baru dimana pada
periode 4 minggu sebelumnya daerah tersebut dinyatakan bebas dari penyakit yang bersangkutan.
Istilah-istilah yang sering terdapat dalam kejadian luar biasa:
OUTBREAK adalah Suatu episode dimana terjadi dua atau lebih penderita suatu penyakit yang sama
dimana penderita tersebut mempunyai hubungan satu sama lain.
EPIDEMI adalah Keadaan dimana suatu masalah kesehatan (umumnya penyakit) yang ditemukan
pada suatu daerah tertentu dalam waktu yang singkat frekuensinya meningkat.
PANDEMI adalah Keadaan dimana suatu masalah kesehatan (umumnya penyakit), frekuensinya
dalam waktu singkat meningkat tinggi dan penyebarannya telah mencakup wilayah yang luas.
ENDEMI adalah Keadaan dimana suatu masalah kesehatan (umumnya penyakit), frekuensinya pada
wilayah tertentu menetap dalam waktu lama berkenaan dengan adanya penyakit yang secara
normal biasa timbul dalam suatu wilayah tertentu.
Klasifikasi
Klasifikasi KLB
Menurut Penyebab

1
MAULIDYA NUR AMALIA - 1102012156
Toksin
- Enterotoxin, misalnya yang dihasilkan oleh Staphylococcus aureus, Vibrio, Cholera, Escherichia,
Shigella.
- Eksotoxin (bakteri), misalnya yang dihasilkan oleh Clostridium botulinum, Clostridium perfringens.
- Endotoxin
o Infeksi (Virus, Bakteri, Protozoa, Cacing).
o Toksin Biologis (Racun jamur, Alfatoxin, Plankton, Racun ikan, Racun tumbuh-tumbuhan).
o Toksin Kimia.
- Zat kimia organik: logam berat (seperti air raksa, timah), logam lain.
- Cyanida.
- Zat kimia organik: nitrit, pestisida.
- Gas-gas beracun: CO, CO2, HCN, dan sebagainya.
Menurut Sumber KLB
Manusia misal: jalan napas, tenggorokan, tangan, tinja, air seni, muntahan, seperti: Salmonella,
Shigella, Staphylococus, Streptoccocus, Protozoa, virus Hepatitis.
Kegiatan manusia, misal: Toxin biologis dan kimia (pembuangan tempe bongkrek, penyemprotan,
pencemaran lingkungan, penangkapan ikan dengan racun).
Binatang seperti: binatang piaraan, ikan, binatang mengerat, contoh: Leptospira, Salmonella, Vibrio,
Cacing dan parasit lainnya, keracunan ikan/plankton.
Serangga (lalat, kecoa, dan sebagainya) misal: Salmonella, Staphylokok, Streptokok.
Udara, misal: Staphyloccoccus, Streptococcus, Virus, pencemaran udara.
Permukaan benda-benda/alat-alat misal: Salmonella.
Air, misalnya: Vibrio Cholerae, Salmonella.
Makanan/minuman, misal: keracunan singkong, jamur, makanan dalam kaleng.
Menurut Penyakit Wabah
Beberapa penyakit dari sumber di atas yang sering menjadi wabah:
Cholera
Pes
Demam kuning
Demam bolak-balik
Tifus bercak wabah
Demam Berdarah Dengue (DBD)
Campak
Polio
Difteri
Pertusis
Rabies
Malaria
Influenza
Hepatitis
Tifus perut
Meningitis
Encephalitis
SARS
Anthrax
Klasifikasi Wabah:
1. Common Source Epidemic
Adalah suatu letusan penyakit yang disebabkan oleh terpaparnya sejumlah orang dalam suatu kelompok
secara menyeluruh dan terjadi dalam waktu yang relatif singkat. Adapun Common Source Epidemic itu
berupa keterpaparan umum, biasa pada letusan keracunan makanan, polusi kimia di udara terbuka,
menggambarkan satu puncak epidemi, jarak antara satu kasus dengan kasus, selanjutnya hanya dalam
hitungan jam, tidak ada angka serangan ke dua.
2. Propagated/Progresive Epidemic

2
MAULIDYA NUR AMALIA - 1102012156
Bentuk epidemi dengan penularan dari orang ke orang sehingga waktu lebih lama dan masa tunas yang
lebih lama pula. Propagated atau progressive epidemic terjadi karena adanya penularan dari orang ke orang
baik langsung maupun melalui vector, relatif lama waktunya dan lama masa tunas, dipengaruhi oleh
kepadatan penduduk serta penyebaran anggota masya yang rentan serta morbilitas dari penduduk
setempat, masa epidemi cukup lama dengan situasi peningkatan jumlah penderita dari waktu ke waktu
sampai pada batas minimal anggota masyarakat yang rentan, lebih memperlihatkan penyebaran geografis
yang sesuai dengan urutan generasi kasus.
Metodologi Penyelidikan KLB
Tingkat atau pola dalam penyelidikan KLB ini sangat sulit ditentukan, sehingga metoda yang dipakai pada
penyelidikan KLB sangat bervariasi. Menurut Kelsey et al., 1986; Goodman et al., 1990 dan Pranowo, 1991,
variasi tersebut meliputi:
1. Rancangan penelitian, dapat merupakan suatu penelitian prospektif atau retrospektif tergantung
dari waktu dilaksanakannya penyelidikan. Dapat merupakan suatu penelitian deskriptif, analitik atau
keduanya.
2. Materi (manusia, mikroorganisme, bahan kimia, masalah administratif).
3. Sasaran pemantauan, berbagai kelompok menurut sifat dan tempatnya (Rumah sakit, klinik,
laboratorium dan lapangan).
4. Setiap penyelidikan KLB selalu mempunyai tujuan utama yang sama yaitu mencegah meluasnya
(penanggulangan) dan terulangnya KLB di masa yang akan datang (pengendalian), dengan tujuan
khusus:
a. Diagnose kasus-kasus yang terjadi dan mengidentifikasi penyebab penyakit.
b. Memastikan keadaan tersebut merupakan KLB.
c. Mengidentifikasikan sumber dan cara penularan.
d. Mengidentifikasi keadaan yang menyebabkan KLB.
e. Mengidentifikasikan populasi yang rentan atau daerah yang berisiko akan terjadi KLB.
Langkah-langkah Penyelidikan KLB
- Persiapan penelitian lapangan.
- Menetapkan apakah kejadian tersebut suatu KLB.
- Memastikan Diagnose Etiologis.
- Mengidentifikasikan dan menghitung kasus atau paparan.
- Mendeskripsikan kasus berdasarkan orang, waktu, dan tempat.
- Membuat cara penanggulangan sementara dengan segera (jika diperlukan).
- Mengidentifikasi sumber dan cara penyebaran.
- Mengidentikasi keadaan penyebab KLB.
- Merencanakan penelitian lain yang sistematis.
- Menetapkan saran cara pencegahan atau penanggulangan.
- Menetapkan sistim penemuan kasus baru atau kasus dengan komplikasi.
- Melaporkan hasil penyelidikan kepada Instansi kesehatan setempat dan kepada sistim pelayanan
kesehatan yang lebih tinggi.
Persiapan Penelitian Lapangan
Sebelum penyelidikan KLB dilaksanakan perlu adanya persiapan dan rencana kerja. Persiapan lapangan
sebaiknya dikerjakan secepat mungkin, dalam 24 jam pertama sesudah adanya informasi (Kelsey., 1986),
Greg (1985) dan Bres (1986) mengatakan bahwa persiapan penelitian lapangan meliputi:
1. Pemantapan (konfirmasi) informasi.
Informasi awal yang didapat kadang-kadang tidak lengkap, sehingga diperlukan pemantapan informasi
untuk melengkapi informasi awal, yang dilakukan dengan kontak dengan daerah setempat. Informasi awal
yang digunakan sebagai arahan untuk membuat rencana kerja (plan of action), yang meliputi informasi
sebagai berikut:
a. Asal informasi adanya KLB. Di Indonesia informasi adanya KLB dapat berasal dari fasilitas kesehatan
primer (laporan W1), analisis sistem kewaspadaan dini di daerah tersebut (laporan W2), hasil
laboratorium, laporan Rumah sakit (Laporan KD-RS) atau masyarakat (Laporan S-0).

3
MAULIDYA NUR AMALIA - 1102012156
b. Gambaran tentang penyakit yang sedang berjangkit, meliputi gejala klinis, pemeriksaan yang telah
dilakukan untuk menegakan diagnosis dan hasil pemeriksaannya, komplikasi yang terjadi (misal
kematian, kecacatan. Kelumpuhan dan lainnya).
c. Keadaan geografi dan transportasi yang dapat digunakan di daerah/lokasi KLB.
2. Pembuatan rencana kerja
Berdasar informasi tersebut disusun rencana penyelidikan (proposal), yang minimal berisi:
a. Tujuan penyelidikan KLB.
b. Definisi kasus awal.
c. Hipotesis awal mengenai agent penyebab (penyakit), cara dan sumber penularan.
d. Macam dan sumber data yang diperlukan.
e. Strategi penemuan kasus.
f. Sarana dan tenaga yang diperlukan.
Definisi kasus: definisi kasus sangat berguna untuk arahan pada pencarian kasus nantinya. Mengingat
informasi yang didapat mungkin hanya merupakan persangkaan penyakit tertentu atau gejala klinis yang
ditemui, maka definisi kasus sebaiknya dibuat longgar, dengan kemungkinan kasus-kasus lain akan masuk.
Perbaikan definisi kasus akan dilakukan setelah pemastian diagnose, pada langkah identifikasi kasus dan
paparan.
Hipotesis awal, hendaknya meliputi penyakit penyebab KLB, sumber dan cara penularan. Untuk membuat
hipotesis awal ini dapat dengan mempelajari gejala klinis, ciri dan pola epidemiologis penyakit tersangka.
Hipotesis awal ini dapat berubah atau lebih spesifik dan dibuktikan pada waktu penyelidikan (Bres, 1986).
Tujuan penyelidikan KLB selalu dimulai dengan tujuan utama mengadakan penanggulangan dan
pengendalian KLB, dengan beberapa tujuan khusus, di antaranya:
a. Memastikan diagnosis penyakit.
b. Menetapkan KLB.
c. Menentukan sumber dan cara penularan.
d. Mengetahui keadaan penyebab KLB.
Pada penyelidikan KLB diperlukan beberapa tujuan tambahan yang berhubungan dengan penggunaan
hasil penyelidikan. Misalnya untuk mengetahui pelaksanaan program imunisasi, mengetahui kemampuan
sistem surveilans, atau mengetahui pertanda mikrobiologik yang dapat digunakan (Goodman et al., 1990).
Strategi penemuan kasus, strategi penemuan kasus ini sangat penting kaitannya dengan pelaksanaan
penyelidikan nantinya. Pada penyelidikan KLB pertimbangan penetapan strategi yang tepat tidak hanya
didasarkan pada bagaimana memperoleh informasi yang akurat, tetapi juga harus dipertimbangkan
beberapa hal yaitu:
a. Sumber daya yang ada (dana, sarana, tenaga).
b. Luas wilayah KLB.
c. Asal KLB diketahui.
d. Sifat penyakitnya.
Beberapa strategi penemuan kasus yang dapat digunakan pada penyelidikan KLB dengan beberapa
keuntungan dan kelemahannya (Bres, 1986):
a. Penggunaan data fasilitas kesehatan Cepat Terjadi bias seleksi kasus.
b. Kunjungan ke RS atau fasilitas kesehatan Lebih mudah untuk mengetahui kasus dan kontak hanya
kasus-kasus yang berat.
c. Penyebaran kuesioner pada daerah yang terkena Cepat, tidak ada bias menaksir populasi kesalahan
interpretasi pertanyaan.
d. Kunjungan ke tempat yang diduga sebagai sumber penularan Mudah untuk menge-tahui hubungan
kasus dan kontak Terjadi bias seleksi dan keadaan sudah spesifik.
e. Survai masyarakat (survai rumah tanggal, total survai) Dapat dilihat keadaan yang sebenarnya
Memerlukan waktu lama, memerlukan organisasi tim dengan baik.
f. Survai pada penderita Jika diketahui kasus dengan pasti Memerlukan waktu lama, hasil hanya
terbatas pada kasus yang diketahui.
g. Survai agent dengan isolasi atau serologi Kepastian tinggi, di-gunakan pada penya-kit dengan carrier
mahal, hanya dilakukan jika pemerik saan lab dapat dikerjakan
3. Pertemuan dengan pejabat setempat.

4
MAULIDYA NUR AMALIA - 1102012156
Pertemuan dimaksudkan untuk membicarakan rencana dan pelaksanaan penyelidikan KLB, kelengkapan
sarana dan tenaga di daerah, memperoleh izin dan pengamanan.
Pemastian Diagnosis Penyakit Dan Penetapan KLB
Pemastian Diagnosis Penyakit
Cara diagnosis penyakit pada KLB dapat dilakukan dengan mencocokan gejala/tanda penyakit yang terjadi
pada individu, kemudian disusun distribusi frekuensi gejala klinisnya. Cara menghitung distribusi frekuensi
dari tanda-tanda dan gejala-gejala yang ada pada kasus adalah sebagai berikut:
- Buat daftar gejala yang ada pada kasus.
- Hitung persen kasus yang mempunyai gejala tersebut.
- Susun ke bawah menurut urutan frekuensinya.
Penetapan KLB
Penetapan KLB dilakukan dengan membandingkan insidensi penyakit yang tengah berjalan dengan
insidensi penyakit dalam keadaan biasa (endemik), pada populasi yang dianggap berisiko, pada tempat dan
waktu tertentu. Dalam membandingkan insidensi penyakit berdasarkan waktu harus diingat bahwa
beberapa penyakit dalam keadaan biasa (endemis) dapat bervariasi menurut waktu (pola temporal
penyakit). Penggambaran pola temporal penyakit yang penting untuk penetapan KLB adalah, pola musiman
penyakit (periode 12 bulan) dan kecenderungan jangka panjang (periode tahunan pola maksimum dan
minimum penyakit). Dengan demikian untuk melihat kenaikan frekuensi penyakit harus dibandingkan
dengan frekuensi penyakit pada tahun yang sama bulan berbeda atau bulan yang sama tahun berbeda (CDC,
1979).
KLB tersembunyi, sering terjadi pada penyakit yang belum dikenal atau penyakit yang tidak mendapat
perhatian karena dampaknya belum diketahui.
KLB palsu (pesudo-epidemic), terjadi oleh karena:
1. Perubahan cara mendiagnosis penyakit.
2. Perubahan perhatian terhadap penyakit tersebut.
3. Perubahan organisasi pelayanan kesehatan.
4. Perhatian yang berlebihan.
Untuk mentetapkan KLB dapat dipakai beberapa definisi KLB yang telah disusun oleh Depkes. Pada
penyakit yang endemis, maka cara menentukan KLB bisa menyusun dengan grafik Pola Maksimum-minimum
5 tahunan atau 3 tahunan.
Deskripsi KLB
Deskripsi Kasus Berdasarkan Waktu
Penggambaran kasus berdasarkan waktu pada periode wabah (lamanya KLB berlangsung), yang
digambarkan dalam suatu kurva epidemik.
Kurva epidemik adalah suatu grafik yang menggambarkan frekuensi kasus berdasarkan saat mulai sakit
(onset of illness) selama periode wabah. Kurva ini digambarkan dengan axs horizontal adalah saat mulainya
sakit dan sebagai axis vertikal adalah jumlah kasus.
Kurva epidemik dapat digunakan untuk tujuan:
o Menentukan / memprakirakan sumber atau cara penularan penyakit dengan melihat tipe kurva
epidemik tersebut (common source atau propagated).
o Mengidentifikasikan waktu paparan atau pencarian kasus awal (index case). Dengan cara
menghitung berdasarkan masa inkubasi rata-rata atau masa inkubasi maksimum dan minimum.
Deskripsi Kasus Berdasarkan Tempat
Tujuan menyusun distribusi kasus berdasarkan tempat adalah untuk mendapatkan petunjuk populasi
yang rentan kaitannya dengan tempat (tempat tinggal, tempat pekerjaan). Hasil analisis ini dapat digunakan
untuk mengidentifikasi sumber penularan. Agar tujuan tercapai, maka kasus dapat dikelompokan menurut
daerah variabel geografi (tempat tinggal, blok sensus), tempat pekerjaan, tempat (lingkungan) pembuangan
limbah, tempat rekreasi, sekolah, kesamaan hubungan (kesamaan distribusi air, makanan), kemungkinan
kontak dari orang ke orang atau melalui vektor (CDC, 1979; Friedman, 1980).
Deskripsi KLB Berdasarkan Orang
Teknik ini digunakan untuk membantu merumuskan hipotesis sumber penularan atau etiologi penyakit.
Orang dideskripsikan menurut variabel umur, jenis kelamin, ras, status kekebalan, status perkawinan,
tingkah laku, atau kebudayaan setempat. Pada tahap dini kadang hubungan kasus dengan variabel orang ini

5
MAULIDYA NUR AMALIA - 1102012156
tampak jelas. Keadaan ini memungkinkan memusatkan perhatian pada satu atau beberapa variabel di atas.
Analisis kasus berdasarkan umur harus selalu dikerjakan, karena dari age spscific rate dengan frekuensi dan
beratnya penyakit. Analisis ini akan berguna untuk membantu pengujian hipotesis mengenai penyebab
penyakit atau sebagai kunci yang digunakan untuk menentukan sumber penyakit.
Pencegahan terjadinya wabah/KLB
A. Pencegahan tingkat pertama
- Menurunkan faktor penyebab terjadinya wabah serendah mungkin dengan cara desinfeksi,
pasteurisasi, sterilisasi yang bertujuan untuk menghilangkan mikroorganisme penyebab penyakit
dan menghilangkan sumner penularan.
- Mengatasi/modifikasi lingkungan melalui perbaikan lingkungan fisik seperti peningkatan air bersih,
sanitasi lingkungan, peningkatan lingkungan biologis seperti pemberntasan serangga dan binatang
pengerat serta peningkatan lingkungan sosial seperti kepadatan rumah tangga.
- Meningkatkan daya tahan pejamu meliputi perbaikan status gizi,kualitas hidup penduduk,
pemberian imunisasi serta peningkatan status psikologis.
B. Pencegahan tingkat kedua
Sasaran pencegahan ini terutama ditunjukkan pada mereka yang menderita atau dianggap menderita
(suspek) atau yang terancam akan menderita (masa tunas) dengan cara diagnosis dini dan pengobatan yang
tepat agar dicegah meluasnya penyakit atau untuk mencegah timbulnya wabah serta untuk segera
mencegah proses penyakit lebih lanjut serta mencegah terjadinya komplikasi.
C. Pencegahan tingkat ketiga
Bertujuan untuk mencegah jangan sampai penderita mengalami cacat atau kelainan permanen,
mencegah bertambah parahnya suatu penyakit atau mencegah kematian akibat penyakit tersebut dengan
dilakukannya rehabilitasi.
D. Strategi pencegahan penyakit
Dilakukan usaha peningkatan derajad kesehatan individu dan masyarakat, perlindungan terhadap
ancaman dan gangguan kesehatan, pemeliharaan kesehatan, penanganan dan pengurangan gangguan serta
masalah kesehatan serta rehabilitasi lingkungan.
Prosedur Penanggulangan KLB
1. Masa pra KLB
Informasi kemungkinan akan terjadinya KLB / wabah adalah dengan melaksanakan Sistem Kewaspadaan
Dini secara cermat, selain itu melakukakukan langkah-langkh lainnya:
- Meningkatkan kewaspadaan dini di puskesmas baik SKD, tenaga dan logistik.
- Membentuk dan melatih TIM Gerak Cepat puskesmas.
- Mengintensifkan penyuluhan kesehatan pada masyarakat.
- Memperbaiki kerja laboratorium.
- Meningkatkan kerjasama dengan instansi lain.
Tim Gerak Cepat (TGC)
Sekelompok tenaga kesehatan yang bertugas menyelesaikan pengamatan dan penanggulangan wabah di
lapangan sesuai dengan data penderita puskesmas atau data penyelidikan epideomologis. Tugas /kegiatan:
- Pengamatan: Pencarian penderita lain yang tidak datang berobat. Pengambilan usap dubur terhadap
orang yang dicurigai terutama anggota keluarga
Pengambilan contoh air sumur, sungai, air pabrik dll yang diduga tercemari dan sebagai sumber
penularan.
- Pelacakan kasus untuk mencari asal usul penularan dan mengantisipasi penyebarannya. Pencegahan
dehidrasi dengan pemberian oralit bagi setiap penderita yang ditemukan di lapangan.
- Penyuluhahn baik perorang maupun keluarga.
- Membuat laporan tentang kejadian wabah dan cara penanggulangan secara lengkap.
2. Pembentukan Pusat Rehidrasi
Untuk menampung penderita diare yang memerlukan perawatan dan pengobatan.
Tugas pusat rehidrasi:
- Merawat dan memberikan pengobatan penderita diare yang berkunjung.
- Melakukan pencatatan nama , umur, alamat lengkap, masa inkubasi, gejala diagnosa dsb.
- Memberikan data penderita ke Petugas TGC.

6
MAULIDYA NUR AMALIA - 1102012156
- Mengatur logistic.
- Mengambil usap dubur penderita sebelum diterapi.
- Penyuluhan bagi penderita dan keluarga .
- Menjaga pusat rehidrasi tidak menjadi sumber penularan (lisolisasi).
- Membuat laporan harian, mingguan penderita diare yang dirawat.(yang diinfus, tdk diinfus, rawat
jalan, obat yang digunakan dsb.
Faktor penyebab KLB
Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya KLB/Wabah adalah Herd Immunity. Secara umum
dapat dikatakan bahwa herd immunity ialah kekebalan yang dimiliki oleh sebagian penduduk yang dapat
menghalangi penyebaran. Hal ini dapat disamakan dengan tingkat kekebalan individu yaitu makin tinggi
tingkat kekebalan seseorang, makin sulit terkena penyakit tersebut. Demikian pula dengan herd immunity,
makin banyak proporsi penduduk yang kebal berarti makin tinggi tingkat herd immunity-nya hingga
penyebaran penyakit menjadi semakin sulit. Setelah terjadi wabah, jumlah penduduk yang kebal bertambah
hingga herd immunity meningkat hingga penyebaran penyakit berhenti. Setelah beberapa waktu jumlah
penduduk yang kebal menurun demikian pula dengan herd immunity-nya dan wabah penyakit tersebut
datang kembali, demikianlah seterusnya.
Kekebalan Kelompok (Herd Immunity)Adalah tingkat kemampuan atau daya tahan suatu kelompok
penduduk tertentu terhadap serangan atau penyebaran unsur penyebab penyakit menular tertentu
berdasarkan tingkat kekebalan sejumlah tertentu anggota kelompok tersebut.
Herd Immunity merupakan faktor utama dalam proses kejadian wabah di masyarakat serta kelangsungan
penyakit pada suatu kelompok penduduk tertentu.
Wabah terjadi karena 2 keadaan:
Keadaan kekebalan populasi yakni suatu wabah besar dapat terjadi jika agent penyakit infeksi masuk
ke dalam suatu populasi yang tidak pernah terpapar oleh agen tersebut atau kemasukan suatu agen
penyakit menular yang sudah lama absen dalam populasi tersebut.
Bila suatu populasi tertutup seperti asrama, barak dimana keadaan sangat tertutup dan mudah
terjadi kontak langsung, masuknya sejumlah orang-orang yang peka terhadap penyakit tertentu
dalam populasi tsb. Ex: Asrama mahasiswa/tentara.
Pengukuran Angka Kesakitan/Morbiditas
a. INCIDENCE RATE
Incidence rate adalah frekuensi penyakit baru yang berjangkit dalam masyarakat di suatu tempat /
wilayah / negara pada waktu tertentu.
Incidence Rate (IR):
Jumlah penyakit baru
--------------------------------- k
Jumlah populasi berisiko
b. PREVALENCE RATE
Prevalence rate adalah frekuensi penyakit lama dan baru yang berjangkit dalam masyarakat di suatu
tempat/ wilayah/ negara pada waktu tertentu.
- PR yang ditentukan pada waktu tertentu (misal pada Juli 2000) disebut Point Prevalence Rate.
- PR yang ditentukan pada periode tertentu (misal 1 Januari 2000 s/d 31 Desember 2000) disebut
Periode Prevalence Rate.
Prevalence Rate (PR):
Jumlah penyakit lama + baru
--------------------------------------- k
Jumlah populasi berisiko
c. ATTACK RATE
Attack Rate adalah jumlah kasus baru penyakit dalam waktu wabah yang berjangkit dalam masyarakat di
suatu tempat/ wilayah/ negara pada waktu tertentu
Attack Rate (AR):
Jumlah penyakit baru
--------------------------------- k
Jumlah populasi berisiko

7
MAULIDYA NUR AMALIA - 1102012156
(dalam waktu wabah berlangsung)
Pengukuran Mortality Rate
a. CRUDE DEATH RATE
CDR adalah angka kematian kasar atau jumlah seluruh kematian selama satu tahun dibagi jumlah
penduduk pada pertengahan tahun.
CDR (Crude Death Rate)
Jumlah semua kematian
--------------------------------- k
Jumlah semua penduduk
b. SPECIFIC DEATH RATE
SDR adalah jumlah seluruh kematian akibat penyakit tertentu selama satu tahun dibagi jumlah penduduk
pada pertengahan tahun
SDR (Specific Death Rate
Jumlah kematian penyakit x
----------------------------------- k
Jumlah semua penduduk
c. CASE FATALITY RATE
CFR adalah persentase angka kematian oleh sebab penyakit tertentu, untuk menentukan kegawatan/
keganasan penyakit tersebut.
CFR (Case Fatality Rate):
Jumlah kematian penyakit x
------------------------------------ x 100%
Jumlah kasus penyakit x
d. MATERNAL MORTALITY RATE
MMR = AKI = Angka kematian Ibu adalah jumlah kematian ibu oleh sebab kehamilan/ melahirkan/ nifas
(sampai 42 hari post partum) per 100.000 kelahiran hidup
MMR (Maternal Mortality Rate):
Jumlah kematian Ibu
------------------------------ x 100.000
Jumlah kelahiran hidup
e. INFANT MORTALITY RATE
IMR = AKB = angka kematian bayi adalah jumlah kematian bayi (umur <1tahun) per 1000 kelahiran hidup.
IMR (Infant Mortality Rate):
Juml kematian bayi
----------------------------- x 1000
Juml kelahiran hidup
f. NEONATAL MORTALITY RATE
NMR = AKN = Angka Kematian Neonatal adalah jumlah kematian bayi sampai umur < 4 minggu atau 28
hari per 1000 kelahiran hidup
NMR (Neonatal Mortality Rate):
Jumlah kematian neonatus
------------------------------------ x 1000
Jumlah kelahiran hidup
g. PERINATAL MORTALITY RATE
PMR = AKP = angka Kematian Perinatal adalah jumlah kematian janin umur 28 minggu s/d 7 hari seudah
lahir per 1000 kelahiran hidup
PMR (Perinatal Mortality Rate):
Jumlah kematian perinatal
---------------------------------- -x 1000
Jumlah kelahiran hidup
LI 2. POLA PENCARIAN KESEHATAN DAN PERILAKU KESEHATAN INDIVIDU DAN MASYARAKAT
Perilaku Kesehatan Individu

8
MAULIDYA NUR AMALIA - 1102012156
Perilaku kesehatan individu pada dasarnya adalah suatu respons seseorang (organisme) terhadap
stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan serta lingkungan.
Batasan ini mempunyai 2 unsur pokok, yakni respons dan stimulus atau perangsangan. Respons atau reaksi
manusia, baik bersifat pasif (pengetahuan, persepsi, dan sikap) maupun bersifat aktif (tindakan yang nyata
atau practice). Sedangkan stimulus atau rangsangan terdiri 4 unsur pokok, yakni : sakit & penyakit, sistem
pelayanan kesehatan, makanan, dan lingkungan. Dari batasan ini perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan
menjadi 4 kelompok:
1. Perilaku Pemeliharaan Kesehatan (health maintenance) adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang
untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan
bilamana sakit. Oleh sebeb itu perilaku pemeliharaan kesehatan ini terdiri dari 3 aspek:
a. Perilaku pencegahan penyakit dan penyembuhan penyakit bila sakit, serta pemulihan kesehatan
bilamana telah sembuh dari penyakit.
b. Perilaku peningkatan kesehatan, apabila seseorang dalam keadaan sakit.
c. Perilaku gizi (makanan & minuman).
2. Perilaku Pencarian atau Penggunaan Sistem atau Fasilitas Pelayanan Kesehatan atau sering disebut
Perilaku Pencarian Pengobatan (health seeking behavior) adalah menyangkut upaya atau tindakan
seseorang pada saat menderita dan atau kecelakaan. Tindakan atau perilaku ini dimulai dari
mengobati sendiri (self treatment) sampai mencari pengobatan ke luar negeri.
3. Perilaku terhadap makanan (nutrition behavior), yakni respons seseorang terhadap makanan sebagai
kebutuhan vital bagi kehidupan, meliputi pengetahuan, persepsi, sikap dan praktek kita terhadap
makanan serta unsur-unsur yang terkandung di dalamnya/zat gizi, pengelolaan makanan, dll.
4. Perilaku Kesehatan Lingkungan adalah bagaimana seseorang merespon lingkungan, baik lingkungan
fisik maupun sosial budaya dan bagaimana sehingga lingkungan tersebut tidak mempengaruhi
kesehatannya. Seorang ahli lain (Becker, 1979) membuat klasifikasi tentang perilaku kesehatan ini.
a. Perilaku hidup sehat adalah perilaku-perilaku yang berkaitan dengan upaya atau kegiatan seseorang
untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya. Perilaku ini mencakup antara lain:
- Menu seimbang.
- Olahraga teratur.
- Tidak merokok.
- Tidak minum-minuman keras dan narkoba.
- Istirahat yang cukup.
- Pengendalian stres
- Perilaku atau gaya hidup lain yang positif bagi kesehatan
b. Perilaku sakit mencakup respon seseorang terhadap sakit dan penyakit. Persepsinya terhadap sakit,
pengetahuan tentang penyebab dan gejala penyakit, pengobatan penyakit dan sebagainya, dsb.
c. Perilaku peran sakit (the sick role behavior) mencakup:
- Tindakan untuk memperoleh kesembuhan.
- Mengenal/mengetahu fasilitas atau sasaran pelayanan penyembuhan penyakit yang layak.
- Mengetahui hak (misalnya : hak memperoleh perawatan dan pelayanan kesehatan).
Kosa & Robertson mengatakan bahwa perilaku kesehatan individu cenderung dipengaruhi oleh
kepercayaan orang yang bersangkutan terhadap kondisi kesehatan yang diinginkan dan kurang berdasarkan
pada pengetahuan biologi. Memang kenyataannya demikian, tiap indivisu mempunyai cara yang berbeda
dalam mengambil tindakan penyembuhan atau pencegahan yang berbeda meskipun gangguan
kesehatannya sama. Pada umumnya tindakan yang diambil berdasarkan penilaian individu atau mungkin
dibantu oleh orang lain terhadap gangguan tersebut. Penilaian semacam ini menunjukkan bahwa gangguan
yang dirasakan individu menstimulasi dimulainya suatu proses sosial psikologis. Proses semacam ini
menggambarkan berbagai tindakan yang dilakukan si penderita mengenai gangguan yang dialami dan
merupakan bagian integral interaksi sosial pada umumnya. Proses ini mengikuti suatu keteraturan tertentu
yang dapat diklasifikasikan dalam 4 bagian, yakni:
1. Adanya suatu penilaian dari orang yang bersangkutan terhadap suatu gangguan atau ancaman
kesehatan. Dalam hal ini persepsi individu yang bersangkutan atau orang lain (anggota keluarga)
terhadap gangguan tersebut akan berperan. Selanjutnya gangguan dikomunikasikan kepada orang
lain (anggota keluarga) dan mereka yang diberi informasi tersebut menilai dengan kriteria subjektif.

9
MAULIDYA NUR AMALIA - 1102012156
2. Timbulnya kecemasan karena adanya persepsi terhadap gangguan tersebut. Disadari bahwa setiap
gangguan kesehatan akan menimbulkan kecemasan baik bagi yang bersangkutan maupun bagi
anggota keluarga lainnya. Bahkan gangguan tersebut dikaitkan dengan ancaman adanya kematian.
Dari ancaman-ancaman ini akan menimbulkan bermacam-macam bentuk perilaku.
3. Penerapan pengetahuan orang yang bersangkutan mengenai hal-hal yang berhubungan dengan
masalah kesehatan, khususnya mengenai gangguan yang dialaminya. Oleh karena gangguan
kesehatan terjadi secara teratur di dalam suatu kelompok tertentu maka setiap orang di dalam
kelompok tersebut dapat menghimpun pengetahuan tentang berbagai macam gangguan kesehatan
yang mungkin terjadi. Dari sini sekaligus orang menghimpun berbagai cara mengatasi gangguan
kesehatan itu baik secara tradisional maupun modern. Berbagai cara penerapan pengetahuan baik
dalam menghimpun berbagai macam gangguan maupun cara-cara mengatasinya tersebut
merupakan pencerminan dari berbagai bentuk perilaku.
4. Dilakukannya tindakan manipulatif untuk meniadakan atau menghilangkan kecemasan atau
gangguan tersebut. Di dalam hal ini baik orang awam maupun tenaga kesehatan melakukan
manipulasi tertentu dalam arti melakukan sesuatu untuk mengatasi gangguan kesehatan. Dari sini
lahirlah pranata-pranata kesehatan baik tradisional maupun modern.
Secara lebih detail, Becker (1979) membagi perilaku masyarakat yang berhubungan dengan kesehatan
menjadi tiga, yaitu:
1. Perilaku kesehatan: hal yang berkaitan dengan tindakan seseorang dalam memelihara dan
meningkatkan kesehatannya. Contoh: memilih makanan yang sehat, tindakan-tindakan yang dapat
mencegah penyakit.
2. Perilaku sakit : segala tindakan atau kegiatan yang dilakukan seseorang individuyang merasa sakit,
untuk merasakan dan mengenal keadaan kesehatannya atau rasa sakit. Contoh pengetahuan
individu untuk memperoleh keuntungan.
1. perilaku peran sakit : segala tindakan atau kegiatan yang dilakukan oleh individu yang sedang sakit
untuk memperoleh kesehatan.
Terdapat dua paradigma dalam kesehatan yaitu paradigma sakit dan paradigma sehat.Paradigma sakit
adalah paradigma yang beranggapan bahwa rumah sakit adalah tempatnya orang sakit. Hanya di saat sakit,
seseorang diantar masuk ke rumah sakit. Ini adalah paradigma yang salah yang menitikberatkan kepada
aspek kuratif dan rehabilitatif. Sedangkan paradigma sehat Menitikberatkan pada aspek promotif dan
preventif, berpandangan bahwa tindakan pencegahan itu lebih baik dan lebih murah dibandingkan
pengobatan.
KLASIFIKASI PERILAKU
a. Perilaku kesehatan ( health behavior) yaitu hal hal yang berkaitan dengan memelihara ,
meningkatkan dan mencegah penyakit dengan tindakan tindakan perorangan seperti sanitasi,
memilih makanan dn kebersihan.
b. Perilaku sakit ( illness behavior) yaitu tindakan seseorang dalam menyikapi sakit dan kemampuan
individu untuk mengidentifikasi penyakit ,penyebab penyakit serta usaha usaha mencegah penyakit
tersebut.
c. Perilaku peran sakit (the sick role behavior) yaitu tindakan seseorang yang sedang sakit untuk
memperoleh kesembuhan . perilaku ini disamping berpengaruh terhadap kesehatan /kesakitanya
sendiri juga berpengaruh terhadap kesehatan/kesakitanya sendiri juga berpengaruh terhadap orang
lain terutama anak anak yang belm mempunyai kesadaran dan tanggung jawab terhadap
kesehatanya.
RESPON PERILAKU TERHADAP PENYAKIT
a. Bentuk pasif : respon internal yang terjadi di dalam diri manusia dan tidak secara langsung dapat
terlihat oleh orang lain missal tanggapan atau sikap batin dan pengetahuan.
b. Bentuk Aktif : yaitu perilaku itu jelas dapat diobservasi secara langsung misalnya pada kedua
contoh diatas si ibu sudah membawa anaknya ke puskesmas untuk imunisasi.
FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
a. Faktor predisposing berupa pengetahuan , sikap , kepercayaa, tradisi, nilai dll.
b. Faktor enabling /pemungkin berupa ketersediaan sumber sumber / fasilitas peraturan peraturan.
c. Faktor reinforcing/ mendorong/memperkuat berupa tokoh agama , tokoh masyarakat.

10
MAULIDYA NUR AMALIA - 1102012156
PERUBAHAN PERILAKU
a. Teori Stimulus dan Transformasi.
b. Teori teori belajar social ( social searching )
- Tingkah laku sama ( same behavior )
- Tingkah laku tergantung ( matched dependent behavior 0.
- Tingkah laku salinan ( copying behavior )
c. Teori belajar social dari bandara dan walter.
- Efek modeling ( modeling effect ) yaitu peniru melakukan tingkah laku baru melalui asosiasi sehingga
sesuai dengan tingkah laku model.
- Efek menghambat ( inhibition) dan menghapus hambatan ( dishinbition ) dimana tingkah laku yang
tidak sesuai dengaan model dihambat timbulnya, sedangkan tingkah laku yang sesuai dengan
tingkah laku model dihapuskan hambatannya sehingga timbul tingkah laku yang dapat menjadi
nyata.
- Efek kemudahan ( facilitation effect ) yaitu tingkah laku yang sudah pernah dipelajari oleh peniru
lebih mudah muncul kembali dengan mengamati tingkah laku model.
Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Mengobati
Mayoritas masyarakat dengan pengetahuan kurang dan sedang (78%), sikap yang sedang (8%) cenderung
akan berobat ke puskesmas jika mereka telah menderita atau merasakan matanya sakit seperti gatal, mata
merah, belekan, jika telah mengalami kebutaan, bila sudah tidak dapat bekerja , tidak dapat mengenali
seseorang dalam jarak dekat maupun jauh, dan tidak bisa berjalan dengan baik. Mereka biasanya akan
mengeluh sakit pada matanya sehingga mereka baru memeriksakan sakitnya ke puskesmas. Berdasarkan
teori perilaku pencarian pelayanan kesehatan disebutkan bahwa perilaku orang yang sakit untuk
memperoleh penyembuhan mencakup tindakan- tindakan seperti perilaku pencarian dan penggunaan
fasilitas/tempat pelayanan kesehatan (baik tradisional maupun modern). Tindakan ini dimulai dari
mengobati sendiri sampai mencari pengobatan di luar negeri
Masyarakat jika menderita sakit cenderung mengobati sendiri terlebih dahulu dengan membeli obat di
warung seperti tetes mata, salep di apotik tanpa resep dari dokter, mereka hanya menanyakan kepada
penjaga apotik obat mana yang biasa digunakan untuk mata merah, padahal dengan mereka membeli obat
tanpa resep dokter belum tentu itu baik buat kesehatan mata, dan belum tentu obat tersebut tidak
menimbulkan efek samping jika mengabaikan aturan pemakaian. Dan ada juga yang mengobati secara
tradisional yaitu dengan mengompres mata dengan air hangat, air sirih, air teh, daun kelor dan air bambu. Di
sisi lain masyarakat dengan pengetahuan baik (22%) dan bersikap baik (92%) berperilaku langsung
mengobati ke puskesmas atau rumah sakit. Hal ini dikarenakan mereka mengetahui apa yang akan terjadi
jika terlambat dalam melakukan pengobatan, dan juga mereka memiliki dasar pengetahuan yang baik
tentang kesehatan, khususnya kesehatan mata. Sehingga jika mengalami gangguan pada mata mereka
langsung mengobati dengan rasional.
Pelayanan Kesehatan Modern
1. Polindes.
Polindes adalah salah satu program pembangunan oleh pemerintah RI bidang kesehatan yang berangkat
dari persoalan tingginya angka kesakitan dan kematian ibu karena hamil dan bersalin. Program ini
merupakan program penyediaan fasilitas layanan kesehatan di desa yang jauh dari fasilitas kesehatan yang
memadai. Tiga tujuan utama program adalah:
Sebagai tempat pelayanan kesehatan ibu, anak dan KB.
Sebagai tempat pemeriksaan kehamilan dan pertolongan persalinan.
Sebagai tempat konsultasi, penyuluhan dan pendidikan kesehatan bagi masyarakat, dukun bayi dan
kader kesehatan.
Secara institusi dan gagasan, polindes merupakan representasi sistim medis modern yang dalam proses
intervensi di masyarakat sasaran akan bertemu dengan sistim medis lokal tradisional. Dinamika dan proses
komunikasi yang terjadi antara keduanya menghasilkan adopsi parsial program oleh masyarakat sasaran. Hal
yang menarik dari data temuan lapangan adalah terdapat perbedaan perspektif antara program dan nilai-
nilai lokal dalam menginterpretasi kehamilan dan persalinan dan etiologi tentang sehat sakit. Program
beroperasi atas dasar prinsip-prinsip fisiologis dan model-model biomedis serta bekerja atas diktum
preventif.

11
MAULIDYA NUR AMALIA - 1102012156
Hal ini konsisten dengan cara kerja sistem medis modern (dalam hal ini program KIA di polindes) yaitu
mencegah lebih baik dari pada mengobati. Bagi pengetahuah lokal, kehamilan dan persalinan lebih
dijelaskan dalam kerangka religius dan transendental sehingga campur tangan manusia dianggap minimal
dan pasif. Dalam konteks pemikiran ini, pemeliharaan dan perawatan dengan makna mencegah resiko
sebalum terjadi tidak dikenal dan dianggap mendahului takdir yang memberi rasionalisasi rendahnya angka
kunjungan konsultasi ibu selama kehamilan hingga paska bersalin. Pada gilirannya hal ini menghambat
deteksi dini resiko pada kehamilan ibu dan menghalangi upaya-upaya untuk mengatasinya. Pendekatan
program yang cendrung tekhnikal medis membuat program menjadi keras dan impersonal bagi ibu.
Memperhatikan dan mengadopsi sistim kognisi lokal, etiologi setempat dan pola keterlibatan individu-
individu dalam sistim sosial setempat kedalam program dapat memberi keuntungan pada program dalam
jangka panjang hingga program dapat menyediakan layanan yang lebih sesuai dengan kondisi dan
pengetahuan lokal. Upaya memahami nilai-nilai budaya dan sistim sosial setempat memberi pemahaman
tentang faktor- faktor yang menghambat diadopsinya program dan merancang strategi yang dapat
mendukung program. Kata kunci: Polindes, pelayanan kesehatan ibu hamil bersalin, faklor sosial budaya.
2. Holistik Modern
Sudah saatnya bagi masyarakat untuk beralih ke layanan kesehatan holistik modern. Dalam situasi
biaya pelayanan kesehatan umum sekarang ini sangat tinggi dan kadang-kadang terasa mencekik dan sulit
dijangkau oleh sebagian besar masyarakat, maka untuk mendapatkan konsultasi dan pengobatan berbagai
penyakit secara maksimum dengan akurat dan hemat, sudah saatnya masyarakat memanfaatkan layanan
kesehatan Holistik Modern.
DR.ASVIAL RIVAI, M.D (M.A) sang pelopor dan pengembang layanan kesehatan holistik modern itu di
Indonesia sejak tahun 1997, menjelaskan. Di bawah ini, kami tampilkan wawancara Kris Sadipun dari Bekasi
Ekspres (BE) dengan DR.ASVIAL RIVAI (AR) di Kantor Pusat Holistik Moderen, Mall Belannova, Sentul City,
Bogor, dalam bentuk tanya-jawab menyangkut keunggulan layanan kesehatan Holistik Moderen
BE: Apa yang dimaksud dengan layanan kesehatan Holistik Modern?
AR: Itu hanya sebuah nama. Apalah arti sebuah nama, banyak orang berkata begitu. Tapi
sebenarnya holistik modern merupakan sebuah sebutan terhadap satu sistem pelayanan
terpadu dalam memenuhi berbagai kebutuhan untuk pemeliharaan dan perbaikan tingkat
kesehatan yang mungkin sudah rusak yang disebut sakit-sakitan. Layanan kesehatan holistik
modern dalam arti yang sangat dalam, meliputi berbagai pelayanan termasuk layanan pemeriksaan
kesehatan secara menyeluruh, konsultasi kesehatan secara menyeluruh (baik fisik, emosional dan
juga kejiwaan), perawatan / pengobatan penyakit-penyakit secara menyeluruh (juga fisik, emosional
dan kejiwaan), pemberian nasehat dan anjuran-anjuran kesehatan secara menyeluruh (berlaku juga
untuk kesehatan fisik, emosional dan kejiwaan), kontrol ulang serta bimbingan / tuntunan selama
penyakit-penyakitnya belum sembuh atau selama masih dibutuhkan oleh sipenderita. Itu dilakukan
secara terpadu oleh satu tenaga praktisi yang sudah dilatih untuk menekuni profesi itu, tanpa harus
rujuk kesana sini, tanpa harus ambil darah, tanpa suntikan, tanpa melukai dan malah tanpa buka-
buka pakaian sangat etis.
Dalam melakukan pemeriksaan kesehatan menyeluruh, digunakan berbagai metode yang megacu pada
ilmu pengetahuan kesehatan dengan benar, sebagai satu pandangan lain nonmedis, yang merupakan
terobosan baru dalam bidang kesehatan yang sangat sederhana tapi sangat efektif, yaitu ilmu iridology yang
berasal atau ditemukan oleh seorang dokter medis di Eropa (yaitu satu ilmu pengetahuan bagaimana
mendeteksi penyakit malalui tanda-tanda yang terjadi pada mata akibat adanya gangguan penyakit itu),
Ilmu kinesiology yang berasal atau ditemukan oleh seorang ahli saraf di Amerika (yaitu ilmu pengetahuan
bagaimana mengetahui tingkat kesehatan organ-organ dan sistem tubuh melalui kelemahan yang terjadi
pada otot lengan) dan ilmu phytobiophysics yang berasal atau ditemukan oleh seorang dokter juga di Inggris
(yaitu bagaimana mengetahui dan memperbaiki tingkat penyakit dan kelemahan tubuh seseorang melalui
perobahan energy yang terjadi pada tubuh yang ditest dengan energy bunga-bungaan berbagai warna). Dan
ada juga berbagai cara pendeteksian dan perawatan yang lain, seperti heart lock, jump leading,
universal energy, podorachidian dan lain-lain.
3. Pelayanan Kesehatan Tradisional
Sekalipun pelayanan kesehatan moderen telah berkembang di Indonesia, namun jumlah masyarakat yang
memanfaatkan pengobatan tradisional tetap tinggi. Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional, 2001

12
MAULIDYA NUR AMALIA - 1102012156
ditemukan sekitar 57,7% penduduk Indonesia melakukan pengobatan sendiri, sekitar 31,7% menggunakan
obat tradisional serta sekitar 9,8% menggunakan cara pengobatan.
Adapun yang dimaksud dengan pengobatan tradisional disini adalah cara pengobatan atau perawatan
yang diselenggarakan dengan cara lain diluar ilmu kedokteran atau ilmu keperawatan yang lazim dikenal,
mengacu kepada pengetahuan, pengalaman dan keterampilan yang diperoleh secara turun temurun, atau
berguru melalui pendidikan, baik asli maupun yang berasal dari luar Indonesia, dan diterapkan sesuai norma
yang berlaku dalam masyarakat (UU No 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan).
Banyak faktor yang berperan, kenapa pemanfatan pengobatan tradisional masih tinggi di Indonesia.
Beberapa diantaranya yang dipandang penting adalah:
1. Pengobatan tradisional merupakan bagian dari sosial budaya masyarakat.
2. Tingkat pendidikan, keadaan sosial ekonomi dan latar belakang budaya masyarakat menguntungkan
pengobatan tradisional.
3. Terbatasnya akses dan keterjangkauan pelayanan kesehatan moderen.
4. Keterbatasan dan kegagalan pengobatan modern dalam mengatasi beberapa penyakit tertentu.
5. Meningkatnya minat masyarakat terhadap pemanfaatan bahan-bahan (obat) yang berasal dari alam
(back to nature).
6. Meningkatnya minat profesi kesehatan mempelajari pengobatan tradisional.
7. Meningkatnya modernisasi pengobatan tradisional.
8. Meningkatnya publikasi dan promosi pengobatan tradisional.
9. Meningkatnya globalisasi pelayanan kesehatan tradisional.
10. Meningkatnya minat mendirikan sarana dan menyelenggarakan pelayanan kesehatan tradisional.
Pengobatan alternatif bias dilakukan dengan menggunakan obat-obat tradisional, yaitu bahan atau
ramuan bahan yang berasal dari tumbuhan, hewan, mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari
bahan-bahan tersebut yang turun-temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.
Pengobatan alternatif merupakan bentuk pelayanan pengobatan yang menggunakan cara, alat atau bahan
yang tidak termasuk dalam standar pengobatan kedokteran moderen (pelayanan kedoteran standar) dan
digunakan sebagai alternatif atau pelengkap pengobatan kedokteran moderen tersebut.
Berbagai istilah telah digunakan untuk cara pengobatan yang berkembang di tengah masyarakat. WHO
(1974) menyebut sebagai traditional medicine atau pengobatan tradisional. Para ilmuwan lebih menyukai
traditional healding. Adapula yang menyebutkanalternatif medicine. Ada juga yang menyebutkan
dengan folk medicine, ethno medicine, indigenous medicine (Agoes, 1992;59).
Dalam sehari-hari kita menyebutnya pengobatan dukun. Untuk memudahkan penyebutan maka dalam
hal ini lebih baik digunakan istilah pengobatan alternatif, karena dengan istilah ini apat ditarik garis tegas
perbedaan antara pengobatan moderen dengan pengobatan di luarnya dan juga
dapat merangkum sistem-sistem pengobatan oriental (timur) seperti pengobatan tradisional atau sistem
penyembuhan yang berakar dari budaya turun temurun yang khas satu etnis (etno medicine).
Pengobatan alternatif sendiri mencakup seluruh pengobatan tradisional dan pengobatan alternatif
adalah pengobatan tradisional yang telah diakui oleh pemerintah. Pengobatan yang banyak dijumpai adalah
pengobatan alternatif yang berlatar belakang akar budaya tradisi suku bangsa maupun agama. Pengobat
(curer) ataupun penyembuh (healer) dari jasa pengobatan maupun penyembuhan tersebut sering disebut
tabib atau dukun. Pengobatan maupun diagnosa yang dilakukan tabib atau dukun tersebut selalu identik
dengan campur tangan kekuatan gaib ataupun yang memadukan antara kekuata rasio dan batin.
Salah satu cirri pengobatan alternatif adalah penggunaan doa ataupun bacaan-bacaan. Doa atau bacaan
dapat menjadi unsur penyembuh utama ketika dijadikan terapi tunggal dalam penyembuhan.Selain doa ada
juga ciri yang lain yaitu adanya pantangan pantangan.
Pantangan berarti suatu aturan-aturan yang harus dijalankan oleh pasien. Pantangan-pantangan tersebut
harus dipatuhi demi kelancaran proses pengobatan, agar penyembuhan dapat selesai dengan cepat.
Dimana pantanganpantangan tersebut sesuai dengan penyakit yang diderita pasien. Seperti misalnya
penyakit patah tulang maupun terkilir, biasanya dilarang unutk mengkonsumsi minum es dan kacang-
kacangan. Makanan-makanan tersebut menurutnya dapat mengganggu aliran syaraf-syaraf yang akan
disembuhkan.
LI 3. CAKUPAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN DAN IMUNISASI
Syarat pokok pelayanan kesehatan

13
MAULIDYA NUR AMALIA - 1102012156
Suatu pelayanan kesehatan dikatakan baik apabila:
1. Tersedia (available) dan berkesinambungan (continuous)
Artinya semua jenis pelayanan kesehatan yang dibutuhkan masyarakat tidak sulit ditemukan, serta
keberadaannya dalam masyarakat adalah pada setiap saat yang dibutuhkan.
2. Dapat diterima (acceptable) dan bersifat wajar (appropriate)
Artinya pelayanan kesehatan tersebut tidak bertentangan dengan keyakinan dan kepercayaan
masyarakat. Pelayanan kesehatan yang bertentangan dengan adat istiadat, kebudayaan, keyakinan dan
kepercayaan mesyarakat, serta bersifat tidak wajar, bukanlah suatu pelayanan kesehatan yang baik.
3. Mudah dicapai (accessible)
Ketercapaian yang dimaksud disini terutama dari sudut lokasi. Dengan demikian, untuk dapat
mewujudkan pelayanan kesehatan yang baik, maka pengaturan distribusi sarana kesehatan menjadi sangat
penting. Pelayanan kesehatan yang terlalu terkonsentrasi di daerah perkotaan saja, dan sementara itu tidak
ditemukan didaerah pedesaan, bukanlah pelayanan kesehatan yang baik.
4. Mudah dijangkau (affordable)
Keterjangkauan yang dimaksud adalah terutama dari sudut biaya. Untuk dapat mewujudkan keadaan
yang seperti itu harus dapat diupayakan biaya pelayanan kesehatan tersebut sesuai dengan kemampuan
ekonomi masyarakat. Pelayanan kesehatan yang mahal hanya mungkin dinikmati oleh sebagian kecil
masyarakat saja bukanlah kesehatan yang baik.
5. Bermutu (quality)
Mutu yang dimaksud disini adalah yang menunjuk pada tingkat kesempurnaan pelayanan kesehatan yang
diselenggarakan, yang disatu pihak tata cara penyelenggaraannya sesuai dengan kode etik serta standart
yang telah ditetapkan.
Prinsip pelayanan prima di bidang kesehatan.
1. Mengutamakan pelanggan
Prosedur pelayanan disusun demi kemudahan dan kenyamanan pelanggan, bukan untuk memeperlancar
pekerjaan kita sendiri. Jika pelayanan kita memiliki pelanggan eksternal dan internal, maka harus ada
prosedur yang berbeda, dan terpisah untuk keduanya. Jika pelayanan kita juga memiliki pelanggan tak
langsung maka harus dipersiapkan jenis-jenis layanan yang sesuai untuk keduanya dan utamakan pelanggan
tak langsung.
2. System yang efektif
Proses pelayanan perlu dilihat sebagai sebuah system yang nyata (hard system), yaitu tatanan yang
memadukan hasil-hasil kerja dari berbagai unit dalam organisasi. Perpaduan tersebut harus terlihat sebagai
sebuah proses pelayanan yang berlangsung dengan tertib dan lancar dimata para pelanggan.
3. Melayani dengan hati nurani (soft system)
Dalam transaksi tatap muka dengan pelanggan, yang diutamakan keaslian sikap dan perilaku sesuai
dengan hati nurani, perilaku yang dibuat-buat sangat mudah dikenali pelanggan dan memperburuk citra
pribadi pelayan. Keaslian perilaku hanya dapat muncul pada pribadi yang sudah matang.
4. Perbaikan yang berkelanjutan
Pelanggan pada dasarnya juga belajar mengenali kebutuhan dirinya dari proses pelayanan. Semakin baik
mutu pelayanan akan menghasilkan pelanggan yang semakin sulit untuk dipuaskan, karena tuntutannya juga
semakin tinggi, kebutuhannya juga semakin meluas dan beragam, maka sebagai pemberi jasa harus
mengadakan perbaikan terus menerus.
5. Memberdayakan pelanggan
Menawarkan jenis-jenis layanan yang dapat digunakan sebagai sumberdaya atau perangkat tambahan
oleh pelanggan untuk menyelesaikan persoalan hidupnya sehari-hari.
Mutu layanan kesehatan bersifat multidimensi, antara lain:
1. Dimensi Kompetensi Teknis
Dimensi kompetensi teknis menyangkut keterampilan, kemampuan, penampilan atau kinerja pemberi
layanan kesehatan. Dimensi ini berhubungan dengan bagaimana pemberi layanan kesehatan mengikuti
standar layanan kesehatan yang telah disepakati, yang meliputi ketepatan, kepatuhan, kebenaran dan
konsistensi. Tidak dipenuhinya dimensi kompetensi teknis dapat mengakibatkan berbagai hal, mulai dari
penyimpangan kecil terhadap standar layanan kesehatan, sampai pada kesalahan fatal yang dapat
menurunkan mutu layanan kesehatan dan membahayakan jiwa pasien.

14
MAULIDYA NUR AMALIA - 1102012156
2. Dimensi Keterjangkauan atau Akses
Artinya layanan kesehatan harus dapat dicapai oleh masyarakat, tidak terhalang oleh keadaan geografis,
sosial, ekonomi, organisasi dan bahasa. Akses geografis diukur dengan jarak, lamanya perjalanan, biaya
perjalanan, jenis transportasi, dan/atau hambatan fisik lain yang dapat menghalangi seseorang memperoleh
layanan kesehatan. Akses sosial atau budaya berhubungan dengan dapat diterima atau tidaknya layanan
kesehatan itu secara sosial atau nilai budaya, kepercayaan dan prilaku. Akses ekonomi berkaitan dengan
kemampuan membayar biaya layanan kesehatan. Akses organisasi ialah sejauh mana layanan kesehatan itu
diatur hingga dapat memberikan kemudahan/kenyamanan kepada pasien atau konsumen. Akses bahasa,
artinya pasien harus dilayani dengan menggunakan bahasa atau dialek yang dapat dipahami oleh pasien.
3. Dimensi Efektivitas
Layanan kesehatan harus efektif, artinya harus mampu mengobati atau mengurangi keluhan yang ada,
mencegah terjadinya penyakit dan berkembang/meluasnya penyakit yang ada. Efektifitas layanan kesehatan
ini bergantung pada bagaimana standar layanan kesehatan itu digunakan dengan tepat, konsisten dan sesuai
dengan situasi setempat. Umumnya standar layanan kesehatan disusun pada tingkat organisasi yang lebih
tinggi, sementara pada tingkat pelaksana, standar layanan kesehatan itu harus dibahas agar dapat digunakan
sesuai dengan kondisi. Dimensi efektivitas berhubungan erat dengan dimensi kompetensi teknis terutama
dalam pemilihan alternatif dalam menghadapi relative risk dan ketrampilan dalam mengikuti prosedur yang
terdapat dalam standar layanan kesehatan.
4. Dimensi Efisiensi
Sumber daya kesehatan sangat terbatas. Oleh karena itu dimensi efisiensi kesehatan sangat penting
dalam layanan kesehatan. Layanan kesehatan yang efisien dapat melayani lebih banyak pasien dan
masyarakat. Layanan kesehatan yang tidak efisien umumnya berbiaya mahal, kurang nyaman bagi pasien,
memerlukan waktu lama, dan menimbulkan resiko yang lebih besar pada pasien. Dengan melakukan analisis
efisiensi dan efektivitas kita dapat memilih intervensi yang paling efisien.
5. Dimensi Kesinambungan
Dimensi kesinambungan layanan kesehatan artinya pasien harus dapat dilayani sesuai dengan
kebutuhannya, termasuk rujukan jika diperlukan tanpa mengulangi prosedur diagnosis dan terapi yang tidak
perlu. Pasien harus selalu mempunyai akses ke layanan kesehatan yang dibutuhkannya. Karena riwayat
penyakit pasien terdokumentasi dengan lengkap, akurat dan terkini, layanan kesehatan rujukan yang
diperlukan pasien dapat terlaksana dengan tepat, waktu dan tempatnya.
6. Dimensi Keamanan
Dimensi keamanan maksudnya layanan kesehatan harus aman, baik bagi pasien, pemberi layanan
maupun masyarakat sekitarnya. Layanan kesehatan yang bermutu harus aman dari risiko cedera, infeksi,
efek samping, aatau bahaya lain. Oleh karena itu harus disusun suatu prosedur yang akan menjamin
keamanan kedua belah pihak.
7. Dimensi Kenyamanan
Dimensi kenyamanan tidak berpengaruh langsung dengan efektivitas layanan kesehatan, tetapi
mempengaruhi kepuasan pasien/konsumen sehingga mendorong pasien untuk datang berobat kembali ke
tempat tersebut. Kenyamanan dan kenikmatan dapat menimbulkan kepercayaan pasien terhadap organisasi
layanan kesehatan.
8. Dimensi Informasi
Layanan kesehatan yang bermutu harus mampu memberikan informasi yang jelas tentang apa. Siapa,
kapan, dimana dan bagaimana layanan kesehatan itu akan atau telah dilaksanakan. Dimensi informasi ini
sangat penting pada tingkat puskesmas dan rumah sakit.
9. Dimensi Ketepatan Waktu
Agar berhasil, layanan kesehatan harus dilakukan dalam waktu dan cara yang tepat, oleh pemberi
layanan yang tepat, menggunakan peralatan dan obat yang tepat, serta biaya yang tepat (efisien).
10. Dimensi Hubungan Antarmanusia
Hubungan antarmanusia adalah hubungan antara pemberi layanan kesehatan (provider) dengan pasien
atau masyarakat (konsumen), antar sesama pemberi layanan kesehatan, antar atasan-bawahan, dinas
kesehatan, rumah sakit, puskesmas, pemerintah daerah, LSM, masyarakat dan lain-lain. Hubungan
antarmanusia yang baik akan menimbulkan kepercayaan dan kredibilitas dengan cara saling menghargai,
menjaga rahasia, saling menghormati, responsif, memberi perhatian, dan lain-lain.

15
MAULIDYA NUR AMALIA - 1102012156
Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota yang bertanggungjawab
menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja.
1. Unit Pelaksana Teknis Sebagai unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota (UPTD),
puskesmas berperan menyelenggarakan sebagian dari tugas teknis operasional Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota dan merupakan unit pelaksana tingkat pertama serta ujung tombak pembangunan
kesehatan di Indonesia.
2. Pembangunan Kesehatan Pembangunan kesehatan adalah penyelenggaraan upaya kesehatan oleh
bangsa Indonesia untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap
orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal.
3. Penanggungjawab Penyelenggaraan Penanggungjawab utama penyelenggaraan seluruh upaya
pembangunan kesehatan di wilayah kabupaten/kota adalah Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota,
sedangkan puskesmas bertanggungjawab hanya sebagian upaya pembangunan kesehatan yang
dibebankan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota sesuai dengan kemampuannya.
4. Wilayah Kerja Secara nasional, standar wilayah kerja puskesmas adalah satu kecamatan, tetapi
apabila di satu kecamatan terdapat lebih dari dari satu puskesmas, maka tanggungjawab wilayah
kerja dibagi antar puskesmas, dengan memperhatikan keutuhan konsep wilayah (desa/kelurahan
atau RW). Masing-masing puskesmas tersebut secara operasional bertanggungjawab langsung
kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
Upaya Untuk tercapainya visi pembangunan kesehatan melalui puskesmas, yakni terwujudnya
Kecamatan Sehat Menuju Indonesia Sehat, puskesmas bertanggungjawab menyelenggarakan upaya
kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat, yang keduanya jika ditinjau dari sistem kesehatan
nasional merupakan pelayanan kesehatan tingkat pertama. Upaya kesehatan tersebut dikelompokkan
menjadi dua yakni:
1. Upaya Kesehatan Wajib Upaya kesehatan wajib puskesmas adalah upaya yang ditetapkan
berdasarkan komitmen nasional, regional dan global serta yang mempunyai daya ungkit tinggi untuk
peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Upaya kesehatan wajib ini harus diselenggarakan oleh
setiap puskesmas yang ada di wilayah Indonesia. Upaya kesehatan wajib tersebut adalah:
- Upaya Promosi Kesehatan.
- Upaya Kesehatan Lingkungan.
- Upaya Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana.
- Upaya Perbaikan Gizi.
- Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular.
- Upaya Pengobatan.
2. Upaya Kesehatan Pengembangan Upaya kesehatan pengembangan puskesmas adalah upaya yang
ditetapkan berdasarkan permasalahan kesehatan yang ditemukan di masyarakat serta yang
disesuaikan dengan kemampuan puskesmas. Upaya kesehatan pengembangan dipilih dari daftar
upaya kesehatan pokok puskesmas yang telah ada, yakni:
- Upaya Kesehatan Sekolah.
- Upaya Kesehatan Olah Raga.
- Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat.
- Upaya Kesehatan Kerja.
- Upaya Kesehatan Gigi dan Mulut.
- Upaya Kesehatan Jiwa.
- Upaya Kesehatan Mata.
- Upaya Kesehatan Usia Lanjut.
- Upaya Pembinaan Pengobatan Tradisional.
Azas penyelenggaraan Puskesmas
Azas penyelenggaraan Puskesmaspuskesmas tersebut dikembangkan dari ketiga fungsi puskesmas. Dasar
pemikirannya adalah pentingnya menerapkan prinsip dasar dari setiap fungsi puskesmas dalam
menyelenggarakan setiap upaya puskesmas, baik upaya kesehatan wajib maupun upaya kesehatan
pengembangan. Azas penyelenggaraan puskesmas yang dimaksud adalah:
1. Azas pertanggung jawaban wilayah.

16
MAULIDYA NUR AMALIA - 1102012156
Azas penyelenggaraan puskesmas yang pertama adalah pertanggungjawaban wilayah.Dalam arti
puskesmas bertanggungjawab meningkatkan derajat kesehatan masyarakatyang bertempat tinggal di
wilayah kerjanya. Untuk ini puskesmas harus melaksanakanberbagai kegiatan, antara lain sebagai berikut:
Menggerakkan pembangunan berbagai sektor tingkat kecamatan, sehinggaberwawasan kesehatan.
Memantau dampak berbagai upaya pembangunan terhadap kesehatan masyarakat diwilayah
kerjanya.
Membina setiap upaya kesehatan strata pertama yang diselenggarakan olehmasyarakat dan dunia
usaha di wilayah kerjanya.
Menyelenggarakan upaya kesehatan strata pertama (primer) secara merata danterjangkau di
wilayah kerjanyaDiselenggarakannya upaya kesehatan strata pertama oleh puskesmas
pembantu,puskesmas keliling, bidan di desa serta berbagai upaya kesehatan di luar
gedungpuskesmas lainnya (outreach activities) pada dasarnya merupakan realisasi daripelaksanaan
azas pertanggungjawaban wilayah.
2. Azas pemberdayaan masyarakat.
Azas penyelenggaraan puskesmas yang kedua adalah pemberdayaan masyarakat. Dalamarti puskesmas
wajib memberdayakan perorangan, keluarga dan masyarakat, agarberperan aktif dalam penyelenggaraan
setiap upaya puskesmas. Untuk ini, berbagaipotensi masyarakat perlu dihimpun melalui pembentukkan
Badan Penyantun Puskesmas(BPP).Beberapa kegiatan yang harus dilaksanakan oleh puskesmas dalam
rangkapemberdayaan masyarakat antara lain:
Upaya kesehatan ibu dan anak: posyandu, polindes, Bina Keluarga Balita (BKB).
Upaya pengobatan: posyandu, Pos Obat Desa (POD).
Upaya perbaikan gizi: posyandu, panti pemulihan gizi, Keluarga Sadar Gizi (Kadarzi).
Upaya kesehatan sekolah: dokter kecil, penyertaan guru dan orang tua/wali murid,Saka Bakti Husada
(SBH), Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren).
Upaya kesehatan lingkungan: Kelompok Pemakai Air (Pokmair), Desa PercontohanKesehatan
Lingkungan (DPKL).
Upaya kesehatan usia lanjut: posyandu usila, panti wreda.
Upaya kesehatan kerja: Pos Upaya Kesehatan Kerja (Pos UKK).
Upaya kesehatan jiwa: posyandu, Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM).
Upaya pembinaan pengobatan tradisional: Taman Obat Keluarga (TOGA), PembinaanPengobat
Tradisional (Battra).
Upaya pembiayaan dan jaminan kesehatan (inovatif): dana sehat, Tabungan IbuBersalin (Tabulin),
mobilisasi dana keagamaan
3. Azas keterpaduan
Azas penyelenggaraan puksesmas yang ketiga adalah keterpaduan. Untuk mengatasiketerbatasan
sumberdaya serta diperolehnya hasil yang optimal, penyelenggaraan setiapupaya puskesmas harus
diselenggarakan secara terpadu, jika mungkin sejak dari tahapperencanaan. Ada dua macam keterpaduan
yang perlu diperhatikan, yakni:
Keterpaduan lintas program.
Keterpaduan lintas program adalah upaya memadukan penyelenggaraan berbagaiupaya kesehatan yang
menjadi tanggungjawab puskesmas. Contoh keterpaduan lintasprogram antara lain:
- Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS): keterpaduan KIA dengan P2M, gizi,promosi kesehatan,
pengobatan.
- Upaya Kesehatan Sekolah (UKS): keterpaduan kesehatan lingkungan denganpromosi kesehatan,
pengobatan, kesehatan gigi, kesehatan reproduksi remaja dankesehatan jiwa.
- Puskesmas keliling: keterpaduan pengobatan dengan KIA/KB, gizi, promosikesehatan, kesehatan gigi.
- Posyandu: keterpaduan KIA dengan KB, gizi P2M, kesehatan jiwa, promosikesehatan
Keterpaduan lintas sector.
Keterpaduan lintas sektor adalah upaya memadukan penyelenggaraan upayapuskesmas (wajib,
pengembangan dan inovasi) dengan berbagai program dari sector terkait tingkat kecamatan, termasuk
organisasi kemasyarakatan dan dunia usaha.Contoh keterpaduan lintas sektor antara lain:
- Upaya Kesehatan Sekolah: keterpaduan sektor kesehatan dengan camat,lurah/kepala desa,
pendidikan, agama.

17
MAULIDYA NUR AMALIA - 1102012156
- Upaya promosi kesehatan: keterpaduan sektor kesehatan dengan camat,lurah/kepala desa,
pendidikan, agama, pertanian.
- Upaya kesehatan ibu dan anak: keterpaduan sektor kesehatan dengan camat,lurah/kepala desa,
organisasi profesi, organisasi kemasyarakatan, PKK, PLKB.
- Upaya perbaikan gizi: keterpaduan sektor kesehatan dengan camat, lurah/kepaladesa, pertanian,
pendidikan, agama, koperasi, dunia usaha, PKK, PLKB.
- Upaya pembiayaan dan jaminan kesehatan: keterpaduan sektor kesehatan dengancamat,
lurah/kepala desa, tenaga kerja, koperasi, dunia usaha, organisasikemasyarakatan.
- Upaya kesehatan kerja: keterpaduan sektor kesehatan dengan camat, lurah/kepaladesa, tenaga
kerja, dunia usaha.
4. Azas Rujukan.
Target Indikator Pelayanan Minimal Puskesmas
Pelayanan Kesehatan Dasar:
Cakupan kunjungan Ibu hamil K4 95 % pada Tahun 2015.
Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani 80 % pada Tahun 2015.
Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan 90%
pada Tahun 2015.
Cakupan pelayanan nifas 90% pada Tahun 2015.
Cakupan neonatus dengan komplikasi yang ditangani 80% pada Tahun 2010.
Cakupan kunjungan bayi 90%, pada Tahun 2010.
Cakupan Desa/Kelurahan Universal Child Immunization (UCI) 100% pada Tahun 2010.
Cakupan pelayanan anak balita 90% pada Tahun 2010.
Cakupan pemberian makanan pendamping ASI pada anak usia 6 - 24 bulan keluarga miskin 100 %
pada Tahun 2010.
Cakupan balita gizi buruk mendapat perawatan 100% pada Tahun 2010.
Cakupan Penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat 100 % pada Tahun 2010.
Cakupan peserta KB aktif 70% pada Tahun 2010.
Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit 100% pada Tahun 2010.
Cakupan pelayanan kesehatan dasar masyarakat miskin 100% pada Tahun 2015.
Pelayanan Kesehatan Rujukan
Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin 100% pada Tahun 2015.
Cakupan pelayanan gawat darurat level 1 yang harus diberikan sarana kesehatan (RS) di
Kabupaten/Kota 100 % pada Tahun 2015.
Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa /KLB
Cakupan Desa/ Kelurahan mengalami KLB yang dilakukan penyelidikan epidemiologi < 24 jam 100%
pada Tahun 2015.
Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat
Cakupan Desa Siaga Aktif 80% pada Tahun 2015.
Memahami dan menjelaskan imunisasi
Imunisasi adalah suatu prosedur rutin yang akan menjaga kesehatan anak anda. Kebanyakan dari
imunisasi ini adalah untuk memberi perlindungan menyeluruh terhadap penyakit-penyakit yang berbahaya
dan sering terjadi pada tahun-tahun awal kehidupan seorang anak. Walaupun pengalaman sewaktu
mendapatkan vaksinasi tidak menyenangkan untuk bayi anda (karena biasanya akan mendapatkan suntikan),
tapi rasa sakit yang sementara akibat suntikan ini adalah untuk kesehatan anak dalam jangka waktu panjang.
Waktu dan Jadwal Pemberian imunisasi dasar pada bayi dan imunisasi TT pada ibu hamil
a. Imunisasi Aktif adalah kekebalan tubuh yang di dapat seorang karena tubuh yangsecara aktif
membentuk zat antibodi, contohnya: imunisasi polio atau campak. Imunisasi aktif juga dapat di bagi
2 macam:
Imunisasi aktif alamiah adalah kekebalan tubuh yang secara otomatis di peroleh sembuh dari suatu
penyakit.
Imunisasi aktif buatan adalah kekebalan tubuh yang di dapat dari vaksinasi yang diberikan untuk
mendapatkan perlindungan dari sutu penyakit.

18
MAULIDYA NUR AMALIA - 1102012156
b. Imunisasi Pasif adalah kekebalan tubuh yang di dapat seseorang yang zat kekebalan tubuhnya di
dapat dari luar. Contohnya Penyuntikan ATC (Anti tetanusSerum). Pada orang yang mengalami luka
kecelakaan. Contah lain adalah terdapat pada bayi yang baru lahir dimana bayi tersebut menerima
berbagi jenis antibodi dari ibunya melalui darah plasenta selama masa kandungan, misalnya antibodi
terhadap campak. Imunisasi pasif ini dibagi yaitu:
Imunisai pasif alamiah adalah antibodi yang didapat seorang karena diturunkan oleh ibu yang
merupakan orang tua kandung langsung ketika berada dalam kandungan.
Imunisasi pasif buatan adalah kekebalan tubuh yang di peroleh karena suntikan serumuntuk
mencegah penyakit tertentu.
Lima macam Vaksin imunisasi dasar pada bayi yang wajib:
Vaksin Polio
Bibit penyakit yang menyebabkan polio adalah virus, vaksin yang digunakan oleh banyak negara termasuk
Indonesia adalah vaksin hidup (yang telah diselamatkan) vaksin berbentuk cairan. pemberian pada anak
dengan meneteskan pada mulut. Kemasan sebanyak 1 cc / 2 cc dalam 1 ampul.
Vaksin Campak
Bibit penyakit yang menyebabkan campak adalah virus. Vaksin yang digunakan adalah vaksin hidup.
Kemasan dalam flacon berbentuk gumpalan yang beku dan kering untuk dilarutkan dalam 5 cc pelarut.
Sebelum menyuntikkan vaksin ini, harus terlebih dahulu dilarutkan dengan pelarut vaksin (aqua bidest).
Disebut beku kering oleh karena pabrik pembuatan vaksin ini pertama kali membekukan vaksin tersebut
kemudian mengeringkannya. Vaksin yang telah dilarutkan potensinya cepat menurun dan hanya bertahan
selama 8 jam.
Vaksin BCG
Vaksin BCG adalah vaksin hidup yang berasal dari bakteri. Bentuknya vaksin beku kering seperti vaksin
campak berbentuk bubuk yang berfungsi melindungi anak terhadap penyakit tuberculosis (TBC). Dibuat dari
bibit penyakit hidup yang telah dilemahkan, ditemukan oleh Calmett Guerint. Sebelum menyuntikkan BCG,
vaksin harus lebih dulu dilarutkan dengan 4 cc cairan pelarut (NaCl 0,9%). Vaksin yang sudah dilarutkan
harus digunakan dalam waktu 3 jam. Vaksin akan mudah rusak bila kena sinar matahari langsung. Tempat
penyuntikan adalah sepertinya bagian lengan kanan atas.
Vaksin Hepatitis B
Bibit penyakit yang menyebabkan hepatitis B adalah virus. Vaksin hepatitis B dibuat dari bagian virus
yaitu lapisan paling luar (mantel virus) yang telah mengalami proses pemurnian. Vaksin hepatitis B akan
rusak karena pembekuan dan pemanasan. Vaksin hepatitis B paling baik disimpan pada temperatur 2,8C.
Biasanya tempat penyuntikan di paha 1/3 bagian atas luar.
Vaksin DPT
Terdiri toxoid difteri, bakteri pertusis dan tetanus toxoid, kadang disebut triple vaksin. Berisi vasin DPT,
TT dan DT. Vaksin DPT disimpan pada suhu 2,8C kemasan yang digunakan : Dalam - 5 cc untuk DPT, 5 cc
untuk TT, 5 cc untuk DT. Pemberian imunisasi DPT, DT, TT dosisnya adalah 0,5 cc. Dalam pemberiannya
biasanya berupa suntikan pada lengan atau paha.
Imunisasi yang disarankan:
Imunisasi DT
Imunisasi DT memberikan kekebalan aktif terhadap toksin yang dihasilkan oleh kuman penyebab difteri
dan tetanus. Imunisasi diberikan bagi anak dengan kebutuhan khusus, misalnya sudah mendapat suntikan
DPT.
Imunisasi TT
Imunisasi tetanus (TT, tetanus toksoid) memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tetanus. ATS (Anti
Tetanus Serum) juga dapat digunakan untuk pencegahan (imunisasi pasif) maupun pengobatan penyakit
tetanus. Jenis imunisasi ini minimal dilakukan lima kali seumur hidup untuk mendapatkan kekebalan penuh.
Imunisasi Hib
Imunisasi Hib membantu mencegah infeksi oleh Haemophilus influenza tipe b. Organisme ini bisa
menyebabkan meningitis, pneumonia dan infeksi tenggorokan berat yang bisa menyebabkan anak tersedak.
Sampai saat ini, imunisasi HiB belum tergolong imunisasi wajib, mengingat harganya yang cukup mahal. Dua
jenis vaksin yang beredar di Indonesia, yaitu Act Hib dan Pedvax.
Imunisasi Meningitis

19
MAULIDYA NUR AMALIA - 1102012156
Imunisasi ini belum diwajibkan pemerintah karena biayanya masih cukup besar. Imunisasi dilakukan bagi
bayi dibawah usia satu tahun hingga balita. Imunisasi ini mencegah terjadinya infeksi meningitis atau lapisan
otak yang banyak terjadi pada bayi dan balita.
Imunisasi Varisella
Imunisasi varisella memberikan perlindungan terhadap cacar air.
Imunisasi HBV
Imunisasi HBV memberikan kekebalan terhadap hepatitis B. Hepatitis B adalah infeksi hati yang bisa
menyebabkan kanker hati dan kematian. Karena itu imunisasi hepatitis B termasuk yang wajib diberikan.
Jadwal pemberian imunisasi ini sangat fleksibel, tergantung kesepakatan dokter dan orangtua. Bayi yang
baru lahir pun bisa memperolehnya. Imunisasi ini pun biasanya diulang sesuai petunjuk dokter.
Imunisasi Pneumokokus Konjugata
Imunisasi pneumokokus konjugata melindungi anak terhadap sejenis bakteri yang sering menyebabkan
infeksi telinga. Bakteri ini juga dapat menyebabkan penyakit yang lebih serius, seperti meningitis dan
bakteremia (infeksi darah).
Imunisasi Tipa
Imunisasi tipa diberikan untuk mendapatkan kekebalan terhadap demam tifoid (tifus atau paratifus).
Kekebalan yang didapat bisa bertahan selama tiga-lima tahun dan harus diulang kembali. Imunisasi ini dapat
diberikan dalam 2 jenis: imunisasi oral berupa kapsul yang diberikan selang sehari selama 3 kali. Biasanya
untuk anak yang sudah dapat menelan kapsul.
Imunisasi Hepatitis A
Penyakit ini sebenarnya tidak berbahaya dan dapat sembuh dengan sendirinya. Tetapi bila terkena
penyakit ini penyembuhannya memerlukan waktu yang lama, yaitu sekitar 1- 2 bulan. Jadwal pemberian
yang dianjurkan tak berbeda dengan imunisasi hepatitis B. Vaksin hepatitis A diberikan dua dosis dengan
jarak 6 - 12 bulan.

Imunisasi dasar untuk bayi


Vaksinasi Jadwal pemberian- Booster/Ulangan
usia
BCG Waktu lahir -- Tuberkulosis
Hepatitis B Waktulahir-dosis I 1 tahun-- pada Hepatitis B
1bulan-dosis 2 bayi yang lahir
6bulan-dosis 3 dari ibu dengan
hep B.
DPT dan 3 bulan-dosis1 18bulan- Dipteria,
Polio 4 bulan-dosis2 booster1 pertusis,
5 bulan-dosis3 6tahun-booster tetanus,dan
2 polio
12tahun-
booster3
Campak 9 bulan -- Campak

20
MAULIDYA NUR AMALIA - 1102012156
Imunisasi yang dianjurkan
Vaksinasi Jadwal Booster/Ulangan Imunisasi untuk
pemberian-usia melawan
MMR 1-2 tahun 12 tahun Measles,
meningitis, rubella

Hib 3bulan-dosis 1 18 bulan Hemophilus


4bulan-dosis 2 influenza tipe B
5bulan-dosis 3
Hepatitis A 12-18bulan -- Hepatitis A
Cacar air 12-18bulan -- Cacar air
Yang harus diperhatikan, tanyakan dahulu dengan dokter anda sebelum imunisasi jika bayi anda sedang
sakit yang disertai panas; menderita kejang-kejang sebelumnya ; atau menderita penyakit system saraf.
Jadwal imunisasi adalah informasi mengenai kapan suatu jenis vaksinasi atau imunisasi harus diberikan
kepada anak. Jadwal imunisasi suatu negara dapat saja berbeda dengan negara lain tergantung kepada
lembaga kesehatan yang berwewenang mengeluarkannya

LANGKAH-LANGKAH KEGIATAN:
a. Petugas Imunisasi menerima kunjungan bayi sasaran Imunisasiyang telah membawa Buku KIA / KMS
di Ruang Imunisasi setelahmendaftar di loket pendaftaran.
b. Petugas memriksa status Imunisasi dalam buku KIA / KMS danmenentukan jenis imunisasi yang akan
diberikan.
c. Petugas menanyakan keadaan bayi kepada orang tuanya(keadaan bayi yang memungkinkan untuk
diberikan imunisasi atau bilatidak akan dirujuk ke Ruang Pengobatan).
d. Petugas menyiapkan alat (menyeteril alat suntik dan kapas air hangat).
e. Petugas menyiapkan vaksin (vaksin dimasukkan ke dalamtermos es).
f. Petugas menyiapkan sasaran (memberitahukan kepada orangbayi tentang tempat penyuntikan.
g. Petugas memberikan Imunisasi (memasukkan vaksin ke dalamalat suntik, desinfeksi tempat suntikan
dengan kapas air hangat, memberikansuntikan vaksin/meneteskan vaksin sesuai dengan jadwal
imunisasi yangakan diberikan.
h. Petugas melakukan KIE tentang efek samping pasca imunisasikepada orang tua bayi sasaran
imunisasi.
i. Petugas memberikan obat antipiretik untuk imunisasi DPT, dijelaskan cara dan dosis pemberian.

21
MAULIDYA NUR AMALIA - 1102012156
j. Petugas memberitahukan kepada orang tua bayi mengenai jadwalimunisasi berikutnya.Petugas
mencatat hasil imunisasi dalam Buku KIA / KMS dan Buku Catatan Imunisasiserta rekapitulasi setiap
akhir bulannya.
IMUNISASI TT UNTUK IBU HAMIL
Program Imunisasi TT Ibu Hamil
Program Imunisasi bertujuan untuk menurunkan angka kesakitan, kecacatan dan kematian dari penyakit-
penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I).Untuk mencapai hal tersebut, maka program imunisasi
harus dapat mencapai tingkat cakupan yang tinggi dan merata di semua wilayah dengan kualitas pelayanan
yang memadai.
Pelaksanaan kegiatan imunisasi TT ibu hamil terdiri dari kegiatan imunisasi rutin dan kegiatan tambahan.
Kegiatan imunisasi rutin adalah kegiatan imunisasi yang secara rutin dan terus-menerus harus dilaksanakan
pada periode waktu yang telah ditetapkan. yang pelaksanaannya dilakukan di dalam gedung (komponen
statis) seperti puskesmas, puskesmas pembantu, rumah sakit, rumah bersalin dan di luar gedung seperti
posyandu atau melalui kunjungan rumah. Kegiatan imunisasi tambahan adalah kegiatan imunisasi yang
dilakukan atas dasar ditemukannya masalah dari hasil pemantauan atau evaluasi. (Depkes RI, 2005).
Manfaat imunisasi TT ibu hamil
a. Melindungi bayinya yang baru lahir dari tetanus neonatorum (BKKBN, 2005; Chin, 2000). Tetanus
neonatorum adalah penyakit tetanus yang terjadi pada neonatus (bayi berusia kurang 1 bulan) yang
disebabkan oleh clostridium tetani, yaitu kuman yang mengeluarkan toksin (racun) dan menyerang
sistim saraf pusat (Saifuddin dkk, 2001).
b. Melindungi ibu terhadap kemungkinan tetanus apabila terluka (Depkes RI, 2000).
Kedua manfaat tersebut adalah cara untuk mencapai salah satu tujuan dari program imunisasi secara
nasional yaitu eliminasi tetanus maternal dan tetanus neonatorum (Depkes, 2004)
Jadwal Imunisasi TT ibu hamil
a. Bila ibu hamil sewaktu caten (calon penganten) sudah mendapat TT sebanyak 2 kali, maka kehamilan
pertama cukup mendapat TT 1 kali, dicatat sebagai TT ulang dan pada kehamilan berikutnya cukup
mendapat TT 1 kali saja yang dicatat sebagai TT ulang juga.
b. Bila ibu hamil sewaktu caten (calon penganten) atau hamil sebelumnya baru mendapat TT 1 kali,
maka perlu diberi TT 2 kali selama kehamilan ini dan kehamilan berikutnya cukup diberikan TT 1 kali
sebagai TT ulang.
c. Bila ibu hamil sudah pernah mendapat TT 2 kali pada kehamilan sebelumnya, cukup mendapat TT 1
kali dan dicatat sebagai TT ulang.
Cara pemberian dan dosis
a. Sebelum digunakan, vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspensi menjadi homogen.
b. Untuk mencegah tetanus/tetanus neonatal terdiri dari 2 dosis primer yang disuntikkan secara
intramuskular atau subkutan dalam, dengan dosis pemberian 0,5 ml dengan interval 4 minggu.
Dilanjutkan dengan dosis ketiga setelah 6 bulan berikutnya. Untuk mempertahankan kekebalan
terhadap tetanus pada wanita usia subur, maka dianjurkan diberikan 5 dosis. Dosis ke empat dan ke
lima diberikan dengan interval minimal 1 tahun setelah pemberian dosis ke tiga dan ke empat.
Imunisasi TT dapat diberikan secara aman selama masa kehamilan bahkan pada periode trimester
pertama.
c. Di unit pelayanan statis, vaksin TT yang telah dibuka hanya boleh digunakan selama 4 minggu
dengan ketentuan:
- Vaksin belum kadaluarsa.
- Vaksin disimpan dalam suhu +2 - +8C.
- Tidak pernah terendam air.
- Sterilitasnya terjaga.
- VVM (Vaccine Vial Monitor) masih dalam kondisi A atau B.
d. Di posyandu, vaksin yang sudah terbuka tidak boleh digunakan lagi untuk hari berikutnya.
Efek SampingEfek samping jarang terjadi dan bersifat ringan, gejalanya seperti lemas dan kemerahan
pada lokasi suntikan yang bersifat sementara dan kadang-kadang gejala demam. (Depkes RI, 2005).
Vaksin TT (Tetanus Toxoid)

22
MAULIDYA NUR AMALIA - 1102012156
Deskripsi Vaksin jerap TT ( Tetanus Toxoid ) adalah vaksin yang mengandung toxoidtetanus yang telah
dimurnikan dan terabsorbsi ke dalam 3 mg/ml aluminium fosfat.Thimerosal 0,1 mg/ml digunakan sebagai
pengawet. Satu dosis 0,5 ml vaksinmengandung potensi sedikitnya 40 IU. Dipergunakan untuk mencegah
tetanus padabayi yang baru lahir dengan mengimunisasi Wanita Usia Subur (WUS) atau ibuhamil, juga untuk
pencegahan tetanus pada ibu bayi. (Depkes RI, 2005).
LI 4. SISTEM RUJUKAN
Sistim perujukan
Adalah suatu sistem jaringan pelayanan kesehatan yang memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung
jawab secara timbal balik atas timbulnya masalah dari suatu kasus atau masalah kesehatan masyarakat, baik
secara vertikal maupun horisontal, kepada yang lebih kompeten, terjangkau dan dilakukan secara rasional.
Sistem rujukan adalah system yang dikelola secara strategis, proaktif, pragmatif dan koordinatif untuk
menjamin pemerataan pelayanan kesehatan maternal dan neonatal yang paripurna dan komprehensif bagi
masyarakat yang membutuhkannya terutama ibu dan bayi baru lahir, dimanapun mereka berada dan berasal
dari golongan ekonomi manapun agar daoat dicapai peningkatan derajat kesehatan ibu dan bayi melalui
peningkatan mutu dan keterjangkauan pelayanan kesehatan dan neonatal di wilayah mereka berada.
(Depkes RI, 2006)
Menurut tata hubungannya, sistem rujukan terdiri dari: rujukan internal dan rujukan eksternal.
Rujukan Internal adalah rujukan horizontal yang terjadi antar unit pelayanan di dalam institusi
tersebut. Misalnya dari jejaring puskesmas (puskesmas pembantu) ke puskesmas induk.
Rujukan Eksternal adalah rujukan yang terjadi antar unit-unit dalam jenjang pelayanan kesehatan,
baik horizontal (dari puskesmas rawat jalan ke puskesmas rawat inap) maupun vertikal (dari
puskesmas ke rumah sakit umum daerah).
Menurut lingkup pelayanannya, sistem rujukan terdiri dari: rujukan Medik dan rujukan Kesehatan.
Rujukan Medik adalah rujukan pelayanan yang terutama meliputi upaya penyembuhan (kuratif) dan
pemulihan (rehabilitatif). Misalnya, merujuk pasien puskesmas dengan penyakit kronis (jantung
koroner, hipertensi, diabetes mellitus) ke rumah sakit umum daerah.
Rujukan Kesehatan adalah rujukan pelayanan yang umumnya berkaitan dengan upaya peningkatan
promosi kesehatan (promotif) dan pencegahan (preventif). Contohnya, merujuk pasien dengan
masalah gizi ke klinik konsultasi gizi (pojok gizi puskesmas), atau pasien dengan masalah kesehatan
kerja ke klinik sanitasi puskesmas (pos Unit Kesehatan Kerja).
Jenis rujukan
Rujukan secara konseptual terdiri atas:
Rujukan upaya kesehatan perorangan yang pada dasarnya menyangkut masalah medik perorangan
yang antara lain meliputi:
- Rujukan kasus untuk keperluan diagnostik, pengobatan, tindakan operasional dan lain-lain.
- Rujukan bahan (spesimen) untuk pemeriksaan laboratorium klinik yang lebih lengkap.
- Rujukan ilmu pengetahuan antara lain dengan mendatangkan atau mengirim tenaga yang lebih
kompeten atau ahli untuk melakukan tindakan, memberi pelayanan, ahli pengetahuan dan teknologi
dalam meningkatkan kualitas pelayanan.
Rujukan upaya kesehatan masyarakat pada dasarnya menyangkut masalah kesehatan masyarakat
yang meluas meliputi:
- Rujukan sarana berupa antara lain bantuan laboratorium dan teknologi kesehatan.
- Rujukan tenaga dalam bentuk antara lain dukungan tenaga ahli untuk penyidikan sebab dan asal usul
penyakit atau kejadian luar biasa suatu penyakit serta penanggulangannya pada bencana alam,
gangguan kamtibmas, dan lain-lain.
- Rujukan operasional berupa antara lain bantuan obat, vaksin, pangan pada saat terjadi bencana,
pemeriksaan bahan (spesimen) bila terjadi keracunan masal, pemeriksaan air minum penduduk, dan
sebagainya.
Tujuan Sistem Rujukan Upaya Kesehatan
Umum:
Dihasilkannya pemerataan upaya pelayanan kesehatan yang didukung mutu pelayanan yang optimal
dalam rangka memecahkan masalah kesehatan secara berdaya guna dan beerhasil.
Khusus:

23
MAULIDYA NUR AMALIA - 1102012156
- Dihasilkannya upaya pelayanan kesehatan klinik yang bersifat kuratif dan rehabilitatif secara berhasil
guna dan berdaya guna.
- Dihasilkannya upaya kesehatan masyarakat yang bersifat preventif dan promotif secara berhasil
guna dan berdaya guna.

Jalur Rujukan berlangsung sebagai berikut:


Intern antar petugas Puskesmas.
Antara Puskesmas Pembantu dengan Puskesmas.
Antara masyarakat dengan Puskesmas.
Antara satu Puskesmas dengan Puskesmas yang lain.
Antara Puskesmas dengan RS, Laboratorium atau fasilitas kesehatan lainnya.
Upaya kesehatan Rujukan
Langkah-langkah dalam meningkatkan rujukan:
Meningkatkan mutu pelayanan di Puskesmas dalam menampung rujukan dari Puskesmas Pembantu
dan Pos Kesehatan dari masyarakat.
MengadakanPusat Rujukan Antara dengan mengadakan ruangan tambahan untuk 10 tempat tidur
perawatan penderita gawat darurat pada lokasi yang strategis.
Meningkatkan sarana komunikasi antara unit-unit pelayanan kesehatan dengan perantaraan telpon
atau radio komunikasi pada setiap unit pelayanan kesehatan.
Menyediakan puskesmas keliling pada setiap kecamatan dalam bentuk kendaraan roda 4 atau
perahu bermotor yang dilengkapi dengan radio komunikasi.
Menyediakan sarana pencatatan dan pelaporan yang memadai bagi sistem rujukan, baik rujukan
medik maupun rujukan kesehatan.
Meningkatkan dana sehat masyarakat untuk menunjang pelayanan rujukan.
Keuntungan system rujukan
Pelayanan yang diberikan sedekat mungkin ke tempat pasien, berarti bahwa pertolongan dapat
diberikan lebih cepat, murah, dan secara psikologi member rasa aman pada pasien dan keluarganya.
24
MAULIDYA NUR AMALIA - 1102012156
Dengan adanya penataran yang teratur diharapkan pengetahuan dan keterampilan petugas daerah
makin meningkat sehingga semakin banyak kasus yang dapat dikelola di daerah masing-masing.
Masyarakat desa dapat menikmati tenaga ahli
Manfaat sistem rujukan, ditinjau dari unsur pembentuk pelayanan kesehatan:
Dari sudut pemerintah sebagai penentu kebijakan (policy maker)
- Membantu penghematan dana, karena tidak perlu menyediakan berbagai macam peralatan
kedokteran pada setiap sarana kesehatan.
- Memperjelas sistem pelayanan kesehatan, karena terdapat hubungan kerja antara berbagai sarana
kesehatan yang tersedia.
- Memudahkan pekerjaan administrasi, terutama pada aspek perencanaan.
Dari sudut masyarakat sebagai pengguna jasa pelayanan (health consumer)
- Meringankan biaya pengobatan, karena dapat dihindari pemeriksaan yang sama secara berulang-
ulang.
- Mempermudah masyarakat dalam mendapatkan pelayanan, karena telah diketahui dengan jelas
fungsi dan wewenang setiap sarana pelayanan kesehatan.
Dari sudut kalangan kesehatan sebagai penyelenggara pelayanan keseahatan (health provider)
- Memperjelas jenjang karier tenaga kesehatan dengan berbagai akibat positif lainnya seperti
semangat kerja, ketekunan, dan dedikasi.
- Membantu peningkatan pengetahuan dan ketrampilan, yaitu: kerja sama yang terjalin.
- Memudahkan atau meringankan beban tugas, karena setiap sarana kesehatan mempunyai tugas dan
kewajiban tertentu.
LI 5. PROGRAM PUSKESMAS
PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI (PE)
Definisi
Epidemiologi merupakan salah satu bagian dari pengetahuan Ilmu Kesehatan Masyarakat (Public Health)
yang menekankan perhatiannya terhadap keberadaan penyakit dan masalah kesehatan lainnya dalam
masyarakat. Keberadaan penyakit masyarakat itu didekati oleh epidemiologi secara kuantitatif. Karena itu,
epidemiologi akan mewujudkan dirinya sebagai suatu metode pendekatan banyak memberikan perlakuan
kuantitatif dalam menjelaskan masalah kesehatan.
Epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang distribusi, frekuensi, dan determinan penyakit pada
populasi.
- Distribusi: Orang, tempat, waktu.
- Frekuensi, ukuran frekuensi: Insiden dan atau prevalen.
- Determinan faktor risiko: faktor yang mempengaruhi atau faktor yang memberi risiko atas terjadinya
penyakit atau masalah kesehatan.
Penyelidikan epidemiologi (PE) adalah rangkaian kegiatan untuk mengetahui suatu kejadian baik sedang
berlangsung maupun yang telah terjadi, sifatnya penelitian, melalui pengumpulan data primer dan sekunder,
pengolahan dan analisa data, membuat kesimpulan dan rekomendasi dalam bentuk laporan.
Manfaat Epidemiologi
Manfaat Epidemiologi antara lain:
- Membantu pekerjaan Administrasi Kesehatan.
- Dapat menerangkan penyebab masalah kesehatan.
- Dapat menerangkan perkembangan alamiah penyakit.
- Dapat menerangkan keadaan suatu masalah kesehatan.
Tujuan Penyelidikan Epidemiologi (PE)
- Mendapatkan besaran masalah yang sesunguhnya.
- Mendapatkan gambaran klinis dari suatu penyakit.
- Mendapatkan gambaran kasus menurut variabel Epidemiology.
- Mendapatkan informasi tentang faktor risiko (lingkungan, vektor, perilaku, dll) dan etiologi,
Dari ke empat tujuan di tersebut dapat dianalisis sehingga dapat memberikan suatu penanggulangan atau
pencegahan dari penyakit itu.
Kegiatan Penyelidikan Epidemiologi (PE)
a. Tahap Survei pendahuluan:

25
MAULIDYA NUR AMALIA - 1102012156
Menegakan diagnose.
Memastikan adanya KLB.
Buat hypotesa mengenai penyebab, cara penyebaran, dan faktor yg mempengaruhinya.
b. Tahap pengumpulan data;
Identifikasi kasus kedalam variabel epid (orang, tempat, waktu).
Tentukan agen penyebab, cara penyebaran, dan faktor yang mempengaruhinya.
Menentukan kelompok yang rentan/beresiko.
c. Tahap pengolahan data:
Lakukan pengolahan data menurut variabel epidemiologi, menurut ukuran epid (Angka insiden,
Angka prevalen, Casefatality), menurut nilai statistik (Mean, median mode, deviasi).
Lakukan analisa data:
- Menurut variabel epid, menurut ukuran epid, menurut nilaistatistik.
- Bandingkan nilai-nilai tsb dengan kejadian atau nilai-nilai yg sudah ada.
Buat intepretasi hasil analisa.
Buat laporan hasil PE
d. Tentukan tindakan penanggulangan dan pencegahannya
Tindakan penanggulangan:
- Pengobatan penderita.
- Isolasi kasus
Tindakan pencegahan:
- Surveilans yg ketat.
- Perbaikan mutu lingkungan.
- Proteksi diri.
- Perbaikan status kes masyarakat.
LI 6. ASPEK SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT DALAM PEMANFAATAN PELAYANAN KESEHATAN
Pengaruh sosial budaya terhadap kesehatan masyarakat Tantangan berat yang masih dirasakan dalam
pembangunan kesehatan di Indonesia adalahsebagai berikut.
1. Jumlah penduduk yang besar dengan pertumbuhan yang cukup tinggi serta penyebaran penduduk
yang tidak merata di seluruh wilayah.
2. Tingkat pengetahuan masyarakat yang belum memadai terutama pada golongan wanita.
3. Kebiasaan negatif yang berlaku di masyarakat, adat istiadat, dan perilaku yang kurang menunjang
dalam bidang kesehatan.
4. Kurangnya peran serta masyarakat dalam pembangunan bidang kesehatan.Aspek sosial budaya yang
berhubungan dengan kesehatanAspek soaial budaya yang berhubungan dengan kesehatan anatara
lain adalah faktorkemiskinan, masalah kependudukan, masalah lingkungan hidup, pelacuran dan
homoseksual.
Komunikasi
Komunikasi kesehatan disebut juga promosi kesehatab. Karena komunikasie merupakan kegiatan untuk
mgnondisikan fakktor-faktor predisposisi. Kurangnya pengetahuan, dan sikap masyarakat terhadap
kesehatan dan penyakit, adanya tradisi, kepercayaan yang negative tentang penyakit, makanan, lingkungan,
dan sebagainya, mereka tidak berprilaku sesuai dengan nilai-nilai kesehatan. Untuk itu maka diperlukan
komunikasi, pemberian informasi-informasi tentang kesehatan. Untuk berkomunikasi yang efektif para
petugas kesehatan perlu dibekali ilmu komunikasi, termasuk media komunikasinya.
Pola Pikir
Perilaku pencarian Pengobatan (Health Seeking Behavior) adalah pola atau perilaku pencarian pelayanan
kesehatan di masyarakat. Dua hal yang perannya kuat dalam menentukan pengambilan keputusan tentang
pengobatan.
Pertama adalah persepsi mereka terhadap penyakit.
Orang yang mempesepsikan penyakitnya sebagai penyakit ringan cenderung untuk memilih pengobatan
sendiri (self medication) misalnya dengan mencari obat di warung atau apotik, orang yang mengganggap
penyakit mereka serius, biasanya tiga hari sampai seminggu tidak sembuh cenderung untuk memilih datang
ke dokter atau layanan kesehatan, tetapi mereka yang menganggap penyakitnya sangat serius atau kronis

26
MAULIDYA NUR AMALIA - 1102012156
seperti diabetes, stroke dan hipertensi justru memilih pengobatan alternatif baik itu tabib, pengobatan
herbal, maupun dukun.
Kedua adalah persepsi mereka tentang layanan kesehatan profesional.
Mereka yang mempersepsikan bahwa pengobatan profesional sulit untuk dijangkau, mahal dan tidak
efektif cenderung untuk lari ke pengobatan sendiri dan pengobatan alternatif. Pada penderita penyakit
kronis yang sifatnya degeneratif seperti penyakit diabetes dan darah tinggi atau strok, tampaknya
kebanyakan mengangap bahwa penyembuhan melalui usaha medis adalah sia-sia.
Kebiasaan
Perilaku kesehatan adalah suatu respon seseorang terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan
penyakit, system pelayanan kesehatan, makanan, serta lingkungan. Bentuk dari perilaku tersebut ada dua
yaitu pasif dan aktif. Perilaku pasif merupakan respon internal dan hanya dapat dilihat oleh diri sendiri
sedangkan perilaku aktif dapat dilihat oleh orang lain. Masyarakat memiliki beberapa macam perilaku
terhadap kesehatan. Perilaku tersebut umumnya dibagi menjadi dua, yaitu perilaku sehat dan perilaku sakit :
Perilaku sehat yaitu perilaku seseorang yang sehat dan meningkatkan kesehatannya tersebut.
Perilaku sehat mencakup perilaku-perilaku dalam mencegah atau menghindari dari penyakit dan
penyebab penyakit atau masalah, atau penyebab masalah (perilaku preventif). Contoh dari perilaku
sehat ini antara lain makan makanan dengan gizi seimbang, olah raga secara teratur, dan menggosok
gigi sebelum tidur.
Perilaku sakit. Perilaku sakit adalah perilaku seseorang yang sakit atau telah terkena masalah
kesehatan untuk memperoleh penyembuhan atau pemecahan masalah kesehatannya. Perilaku ini
disebut perilaku pencarian pelayanan kesehatan (health seeking behavior). Perilaku ini mencakup
tindakan-tindakan yang diambil seseorang bila terkena masalah kesehatan untuk memperoleh
kesembuhan melalui sarana pelayanan kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit.
Secara lebih detail, Becker (1979) membagi perilaku masyarakat yang berhubungan dengan kesehatan
menjadi tiga, yaitu:
Perilaku kesehatan.
Hal yang berkaitan dengan tindakan seseorang dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya.
Contoh: memilih makanan yang sehat, tindakan-tindakan yang dapat mencegah penyakit.
Perilaku sakit.
Segala tindakan atau kegiatan yang dilakukan seseorang individuyang merasa sakit, untuk merasakan dan
mengenal keadaan kesehatannya atau rasa sakit. Contoh: pengetahuan individu untuk memperoleh
keuntungan.
Perilaku peran sakit.
Segala tindakan atau kegiatan yang dilakukan oleh individu yang sedang sakit untuk memperoleh
kesehatan.
Terdapat dua paradigma dalam kesehatan yaitu paradigma sakit dan paradigma sehat :
Paradigma sakit adalah paradigma yang beranggapan bahwa rumah sakit adalah tempatnya orang
sakit. Hanya di saat sakit, seseorang diantar masuk ke rumah sakit. Ini adalah paradigma yang salah
yang menitikberatkan kepada aspek kuratif dan rehabilitatif.
Paradigma sehat Menitikberatkan pada aspek promotif dan preventif, berpandangan bahwa
tindakan pencegahan itu lebih baik dan lebih murah dibandingkan pengobatan.
Penanggulangan
Dampak
Derajat kesehatan masyarakat yang disebut sebagai psycho socio somatic health well being , merupakan
resultante dari 4 faktor yaitu:
- Environment atau lingkungan.
- Behaviour atau perilaku, Antara yang pertama dan kedua dihubungkan dengan ecological balance.
- Heredity atau keturunan yang dipengaruhi oleh populasi, distribusi penduduk, dan sebagainya.
- Health care service berupa program kesehatan yang bersifat preventif, promotif, kuratif, dan
rehabilitatif.
Dari empat faktor tersebut di atas, lingkungan dan perilaku merupakan faktor yang paling besar
pengaruhnya (dominan) terhadap tinggi rendahnya derajat kesehatan masyarakat. Tingkah laku sakit,
peranan sakit dan peranan pasien sangat dipengaruhi oleh faktor -faktor seperti kelas social, perbedaan suku

27
MAULIDYA NUR AMALIA - 1102012156
bangsa dan budaya. Maka ancaman kesehatan yang sama (yang ditentukan secara klinis), bergantung dari
variable-variabel tersebut dapat menimbulkan reaksi yang berbeda di kalangan pasien.
PENDIDIKAN KESEHATAN MASYARAKAT
Prinsip pendidikan kesehatan masyarakat
Pendidikan kesehatan bukan hanya pelajaran di kelas tetapi merupakan kumpulan pengalaman
dimana saja dan kapan saja sepanjang dapat mempengaruhi pengetahuan sikap dan kebiasaan
sasaran pendidikan.
Pendidikan kesehatan tidak dapat secara mudah diberikan oleh seseorang kepada orang lain karena
pada akhirnya sasaran pendidikan itu sendiri yang dapat mengubah kebiasaan dan tingkah lakunya
sendiri.
Bahwa yang harus dilakukan oleh pendidik adalah menciptakan sasaran agar individu keluarga,
kelompok dan masyarakat dapat mengubah sikap dan tingkah lakunya sendiri.
Penddikan kesehatan dikatakan berhasil bila sasaran pendidikan (individu), keluarga, kelompok, dan
masyarakat) sudah mengubah sikap dan tingkah lakunya sesuai dengan tujuan yang telah
ditetapkan.
Ruang Lingkup Pendidikan kesehatan masyarakat.
Dimensi sasaran
Pendidikan kesehatan individu dengan sasaran individu.
Pendidikan kesehatan kelompok dengan sasaran kelompok masyarakat tertentu.
Pendidikan kesehatan masyarakat dengan sasaran masyarakat luas.
Dimensi tempat pelaksanaan
Pendidikan kesehatan dirumah sakit dengan sasaran pasien dan keluarga.
Pendidikan kesehatan di sekolah dengan sasaran pelajar.
Pendidikan kesehatan di masyarakat atau tempat kerja dengan sasaran masyarakat atau pekerja.
Dimensi tingkat pelayanan kesehatan
Pendidikan kesehatan promosi kesehatan (health promotion) misal: Peningkatan gizi, perbaikan
sanitasi lingkungan, gaya hidup dan sebagainya.
Pendidikan kesehatan untuk perlindungan khusus (specific Protection) misal: imunisasi.
Pendidikan kesehatan untuk diagnosis dini dan pengobatan tepat (early diagnostic and promt
treatment) missal: dengan pengobatan layak dan sempurna dapat menghindari dari resiko
kecacatan.
Pendidikan kesehatan untuk rehabilitasi missal: dengan memulihkan kondisi cacat melalui latihan
latihan tertentu.
METODE PENDIDIKAN KESEHATAN MASYARAKAT
a. Metode pendidikan individual (perorangan).
Bimbingan dan penyuluhan (guidance and counseling) yaitu: kontak antara klien dengan petugas
lebih intensif, setiap masalah yang dihadapi oleh klien dapat dikoreksi dan dibantu penyelesaianya,
akhirnya klien tersebut akan dengan sukarela dan bedasarkan kesadaran penuh pengertian akan
menerima perilaku tersebut (mengubah prilaku).
Interview (wawancara): Yaitu merupakan bagian dari bimbingan dan penyuluhan dan menggali
informasi mengapa ia tidak atau belum menerima perubhan untuk mengetahui apakah perilaku yang
sudah atau yang akan diadopsi itu mempunyai dasar pengertian dan kesadaran yang kuat apabila
belum maka peru penyuluhan yang lebih mendalam lagi.
b. Metode pendidikan kelompok.
Kelompok Besar: Ceramah, seminar.
Kelompok Kecil: diskusi kelompok, curah pendapat (brain storming), bola salju (snow balling),
kelompok kecil kecil (buzz group), memainkan peranan (role play), permainan simulasi (simulation
game).
c. Metode pendidikan masa.
Ceramah umum (public speaking).
Pidato pidato diskusi tentang kesehatan melalui media elektronik baik TV maupun radio, pada
hakikatnya adalah merupakan bentuk pendidikan kesehatan masa.

28
MAULIDYA NUR AMALIA - 1102012156
Simulasi dialog atar pasien dengan dokter atau petugas kesehatan lainnya tentang suatu penyakit
atau masalah kesehatan melalui tv atau radio.
Tulisan tulisan di majalah / koran baik dalam bentuk artikel maupun tanya jawab / konsultasi
tentang kesehatan.
Bill board yang dipasang dipinggir jalan ,spanduk dan poster
d. Alat bantu dan media pendidikan kesehatan masayarakat
Alat bantu (peraga) Alat alat yang digunakan oleh peserta didik dalam menyampaikan bahan
pendidikan /pengajaran. Macam macam alat bantu pendidikan: Alat bantu lihat (visual body) seperti
slide, film, film strip.
Alat bantu dengar (audio aids) seperti piringan hitam, radio, pita suara.
Alat bantu lihat dengar seperti : Televisi
e. Media Pendidikan Kesehatan
Media pendidikan kesehatan pada hakikatnya adalah alat bantu pedidikan (audio visual aids) disebut
media pendidikan karena alat alat tersebut merupakan alat saluran (channel) untuk menyampaikan
kesehatan karena alat alat tersebut digunakan untuk mempermudah penerimaan pesan pesan kesehatan
bagi masyarakat atau klien . berdasarkan fungsinya sebagai penyaluran pesan pesa kesehatan (media) media
ini dibagi menjadi 3: Cetak , elektronik, media papan (billboard).
LI 7. PANDANGAN ISLAM TERHADAP KLB, HUKUM MENJAGA KESEHATAN, DAN BEROBAT
Menurut buku Syariah dan Ibadah (Pamator 1999) yang disusun oleh Tim Dirasah Islamiyah dari
Universitas Islam Jakarta, ada 5 (lima) hal pokok yang merupakan tujuan utama dari Syariat Islam, yaitu:
1. Memelihara kemaslahatan agama (Hifzh al-din)
Agama Islam harus dibela dari ancaman orang-orang yang tidak bertanggung-jawab yang hendak
merusak aqidah, ibadah dan akhlak umat. Ajaran Islam memberikan kebebasan untuk memilih agama,
seperti ayat Al-Quran: Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam) (QS Al-Baqarah [2]: 256).
Akan tetapi, untuk terpeliharanya ajaran Islam dan terciptanya rahmatan lilalamin, maka Allah SWT telah
membuat peraturan-peraturan, termasuk larangan berbuat musyrik dan murtad: Sesungguhnya Allah tidak
akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang
dikehendakiNya. Barangsiapa yang mempesekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang
besar. (QS An-Nisaa [4]: 48).
Dengan adanya Syariat Islam, maka dosa syirik maupun murtad akan ditumpas.
2. Memelihara jiwa (Hifzh al-nafsi)
Agama Islam sangat menghargai jiwa seseorang. Oleh sebab itu, diberlakukanlah hukum qishash yang
merupakan suatu bentuk hukum pembalasan. Seseorang yang telah membunuh orang lain akan dibunuh,
seseorang yang telah mencederai orang lain, akan dicederai, seseorang yang yang telah menyakiti orang lain,
akan disakiti secara setimpal. Dengan demikian seseorang akan takut melakukan kejahatan. Ayat Al-Quran
menegaskan:
Hai orang-orang yang beriman! Telah diwajibkan kepadamu qishash (pembalasan) pada orang-orang
yang dibunuh (QS Al-Baqarah [2]: 178).
Namun, qishash tidak diberlakukan jika si pelaku dimaafkan oleh yang bersangkutan, atau daiat (ganti
rugi) telah dibayarkan secara wajar. Ayat Al-Quran menerangkan hal ini:
Barangsiapa mendapat pemaafan dari saudaranya, hendaklah mengikuti cara yang baik dan hendaklah
(orang yang diberi maaf) membayar diat kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula) (QS Al-
Baqarah [2]: 178).
Dengan adanya Syariat Islam, maka pembunuhan akan tertanggulani karena para calon pembunuh akan
berpikir ulang untuk membunuh karena nyawanya sebagai taruhannya. Dengan begitu, jiwa orang beriman
akan terpelihara.
3. Memelihara akal (Hifzh al-aqli)
Kedudukan akal manusia dalam pandangan Islam amatlah penting. Akal manusia dibutuhkan untuk
memikirkan ayat-ayat Qauliyah (Al-Quran) dan kauniah (sunnatullah) menuju manusia kamil. Salah satu cara
yang paling utama dalam memelihara akan adalah dengan menghindari khamar (minuman keras) dan judi.
Ayat-ayat Al-Quran menjelaskan sebagai berikut:

29
MAULIDYA NUR AMALIA - 1102012156
Mereka bertanya kepadamu (wahai Muhammad) mengenai khamar (minuman keras) dan judi.
Katakanlah: Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa
kedua-duanya lebih besar dari manfaatnya. (QS Al-Baqarah [2]: 219).
Syariat Islam akan memelihara umat manusia dari dosa bermabuk-mabukan dan dosa perjudian.
4. Memelihara keturunan dan kehormatan (Hifzh al-nashli)
Islam secara jelas mengatur pernikahan, dan mengharamkan zina. Didalam Syariat Islam telah jelas
ditentukan siapa saja yang boleh dinikahi, dan siapa saja yang tidak boleh dinikahi. Al-Quran telah mengatur
hal-hal ini:
Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita
budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. (QS Al-Baqarah [2]: 221).
Perempuan dan lak-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera,
dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika
kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan
oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman. (QS An-Nur [24]: 2).
Syariat Islam akan menghukum dengan tegas secara fisik (dengan cambuk) dan emosional (dengan
disaksikan banyak orang) agar para pezina bertaubat.
5. Memelihara harta benda (Hifzh al-mal)
Dengan adanya Syariat Islam, maka para pemilik harta benda akan merasa lebih aman, karena Islam
mengenal hukuman Had, yaitu potong tangan dan/atau kaki. Seperti yang tertulis di dalam Al-Quran:
Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagaimana)
pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha perkasa lagi
Maha Bijaksana (QS Al-Maidah [5]: 38).
Islam menetapkan tujuan pokok kehadirannya untuk memelihara agama, jiwa, akal, jasmani, harta, dan
keturunan.Setidaknya tiga dari yang disebut berkaitan dengankesehatan. Tidak heran jika ditemukan bahwa
Islam amat kayadengan tuntunan kesehatan.
Paling tidak ada dua istilah literatur keagamaan yang digunakan untuk menunjuk tentang pentingnya
kesehatan dalampandangan Islam.
Kesehatan, yang terambil dari kata sehat.
Afiat.
Keduanya dalam bahasa Indonesia, sering menjadi kata majemuk sehat afiat. Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesra, kata "afiat" dipersamakan dengan "sehat". Afiat diartikan sehat dan kuat,sedangkan sehat
(sendiri) antara lain diartikan sebagai keadaan baik segenap badan serta bagian-bagiannya (bebas dari
sakit).Kalau sehat diartikan sebagai keadaan baik bagi segenap anggota badan, maka agaknya dapat
dikatakan bahwa mata yang sehat adalah mata yang dapat melihat maupun membaca tanpa menggunakan
kacamata. Tetapi, mata yang afiat adalah yang dapat melihat dan membaca objek-objek yang bermanfaat
serta mengalihkan pandangan dari objek-objek yang terlarang, karena itulah fungsi yang diharapkan dari
penciptaan mata. Dalam konteks kesehatan fisik, misalnya ditemukan sabda Nabi Muhammad Saw:
Sesungguhnya badanmu mempunyai hak atas dirimu.
Demikian Nabi Saw. menegur beberapa sahabatnya yang bermaksud melampaui batas beribadah,
sehingga kebutuhan jasmaniahnya terabaikan dan kesehatannya terganggu.
Pembicaraan literatur keagamaan tentang kesehatan fisik, dimulai dengan meletakkan prinsip:
Pencegahan lebih baik daripada pengobatan. Karena itu dalam konteks kesehatan ditemukan sekian banyak
petunjuk Kitab Suci dan Sunah Nabi Saw. yang pada dasarnya mengarah pada upaya pencegahan.
Salah satu sifat manusia yang secara tegas dicintai Allah adalah orang yang menjaga kebersihan.
Kebersihan digandengkan dengan taubat dalam surat Al-Baqarah (2);222:
Sesungguhnya Allah senang kepada orang yang bertobat,dan senang kepada orang yang membersihkan
diri.
Tobat menghasilkan kesehatan mental, sedangkan kebersihan lahiriah menghasilkan kesehatan
fisik.Wahyu kedua (atau ketiga) yang diterima Nabi Muhammad Saw. adalah: Dan bersihkan pakaianmu
dan tinggalkan segala macam kekotoran (QS Al-Muddatstsir [74]: 4-5).
ISLAM MEMERINTAHKAN UMATNYA UNTUK BEROBAT

30
MAULIDYA NUR AMALIA - 1102012156
Berobat pada dasarnya dianjurkan dalam agama islam sebab berobat termasuk upaya memelihara jiwa
dan raga, dan ini termasuk salah satu tujuan syariat islam ditegakkan, terdapat banyak hadits dalam hal ini,
diantaranya:
1. Dari Abu Darda berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

Sesungguhnya Alloh menurunkan penyakit beserta obatnya, dan Dia jadikan setiap penyakit ada
obatnya, maka berobatlah kalian, tetapi jangan berobat dengan yang haram. (HR.Abu Dawud 3874, dan
disahihkan oleh al-Albani dalam Shahih wa Dhaif al-Jami 2643)
2. Dari Usamah bin Syarik berkata, ada seorang arab baduwi berkata kepada Nabi shallallahu alaihi wa
sallam:
: ( ) :
: ( )
Wahai Rosululloh, apakah kita berobat?,Nabi bersabda,berobatlah, karena sesungguhnya Alloh tidak
menurunkan penyakit, kecuali pasti menurunkan obatnya, kecuali satu penyakit (yang tidak ada obatnya),
mereka bertanya,apa itu ? Nabi bersabda,penyakit tua. (HR.Tirmidzi 2038, dan disahihkan oleh al-Albani
dalam Sunan Ibnu Majah 3436)
Menjadi wajib dalam beberapa kondisi:
Jika penyakit tersebut diduga kuat mengakibatkan kematian, maka menyelamatkan jiwa adalah
wajib.
Jika penyakit itu menjadikan penderitanya meninggalkan perkara wajib padahal dia mampu berobat,
dan diduga kuat penyakitnya bisa sembuh, berobat semacam ini adalah untuk perkara wajib,
sehingga dihukumi wajib.
Jika penyakit itu menular kepada yang lain, mengobati penyakit menular adalah wajib untuk
mewujudkan kemaslahatan bersama.
Jika penyakit diduga kuat mengakibatkan kelumpuhan total, atau memperburuk penderitanya, dan
tidak akan sembuh jika dibiarkan, lalu mudhorot yang timbul lebih banyak daripada maslahatnya
seperti berakibat tidak bisa mencari nafkah untuk diri dan keluarga, atau membebani orang lain
dalam perawatan dan biayanya, maka dia wajib berobat untuk kemaslahatan diri dan orang lain.
Berobat menjadi sunnah/ mustahab
Jika tidak berobat berakibat lemahnya badan tetapi tidak sampai membahayakan diri dan orang lain,
tidak membebani orang lain, tidak mematikan, dan tidak menular , maka berobat menjadi sunnah baginya
Berobat menjadi mubah/ boleh
Jika sakitnya tergolong ringan, tidak melemahkan badan dan tidak berakibat seperti kondisi hukum wajib
dan sunnah untuk berobat, maka boleh baginya berobat atau tidak berobat
Berobat menjadi makruh dalam beberapa kondisi
Jika penyakitnya termasuk yang sulit disembuhkan, sedangkan obat yang digunakan diduga kuat
tidak bermanfaat, maka lebih baik tidak berobat karena hal itu diduga kuat akan berbuat sis- sia dan
membuang harta.
Jika seorang bersabar dengan penyakit yang diderita, mengharap balasan surga dari ujian ini, maka
lebih utama tidak berobat, dan para ulama membawa hadits Ibnu Abbas dalam kisah seorang wanita
yang bersabar atas penyakitnya kepada masalah ini.
Jika seorang fajir/rusak, dan selalu dholim menjadi sadar dengan penyakit yang diderita, tetapi jika
sembuh ia akan kembali menjadi rusak, maka saat itu lebih baik tidak berobat.
Seorang yang telah jatuh kepada perbuatan maksiyat, lalu ditimpa suatu penyakit, dan dengan
penyakit itu dia berharap kepada Alloh mengampuni dosanya dengan sebab kesabarannya.
Dan semua kondisi ini disyaratlkan jika penyakitnya tidak mengantarkan kepada kebinasaan, jika
mengantarkan kepada kebinasaan dan dia mampu berobat, maka berobat menjadi wajib.
Berobat menjadi haram
Jika berobat dengan sesuatu yang haram atau cara yang haram maka hukumnya haram, seperti berobat
dengan khomer/minuman keras, atau sesuatu yang haram lainnya.

31
MAULIDYA NUR AMALIA - 1102012156

32
MAULIDYA NUR AMALIA - 1102012156

33