Anda di halaman 1dari 14

AKUNTANSI FORENSIK

Makalah di ambil dari Jurnal Public Asset Management: Empirical Evidence


From The State Governments In The United States

Disusun Oleh:

Ratna Juwita

Disusun sebagai Salah Satu Syarat untuk Meraih Nilai

Mata Kuliah Akuntansi Forensik

JOIN PROGRAM
PROGRAM PASCASARJANA
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2017
BAB 7

STRATEGI MODAL KERJA

Manajemen personalia umumnya berfokus pada 1. pengelolaan tugas administrasi secara


rutin 2. Penegakkan hukum, peraturan, serta peraturan yang mengatur PNS. Semakin
meningkatnya kebutuhan manajemen organisasi dan ditambah dengan ingin meningkatkan
kinerja perusahaan, manajemen lini saat ini terbatas pemusatan otoritas personil yang
berlebihan. Untuk itu manajemen perlu merubah fungsi tradisionalnya dengan cara
mempertimbangkan sumber daya manusia sebagai modal untuk dapat menghasilkan nilai.
Dengan demikian manajemen sumber daya manusia (HRM) adalah istilah yang tepat yang
menggambarkan fungsi manajemen karyawan dalam organisasi publik.

A. INVESTASI TENAGA KERJA UNTUK PENGELOLAAN ASET TEATAP UMUM

manajemen sumber daya manusia menggabungkan antara perencanaan dan pengelolaan


tenaga kerja dengan tujuan di masa depan. Dalam pengelolaan properti publik, karyawan di
anggap sebagai human capital, dimana pemerintah berinvestasi. Berinvestasi pada human
capital di pengelolaan aset tetap publik tergambar dalam sejumlah dimensi sebagai berikut :

1. Kepemimpinan senior lembaga pemerintah haus berkomitmen untuk mengembangkan


cara efektif untuk berinvestasi pada human capital
2. Manajer properti harus berpartisipasi dalam mengembangkan strategi human capital
secara keseluruhan yang menunjukan persyaratan dan sasaran pengelolaan aset tetap.
3. Manajer properti bertanggung jawab untuk mengembangkan, menerapkan, dan
mengevaluasi, pendekatan human capital yang di rancang untuk memenuhi kebutuhan
pelanggan dan memperbaiki keseluruhan operasi pengelolaan properti.

Investasi pada sumber daya manusia merupakan sebagian besar biaya pengelolaan properti,
selain itu manajemen sumber daya manusia juga memainkan peran mendasar dalam
pengelolaan aset tetap publik. Human capital manajemen berfungsi sebagai konsultan internal
untuk pengelolaan aset tetap di bidang bidang seperti perancangan organisasi,
pengembangan program, motivasi kerja dan peningkatan produktivitas. Selain itu human
capital tidak hanya menyediakan keahlian yang di sesuaikan untuk manajemen aset tetap
publik tetapi keterlibatannya juga ada pada pengambilan keputusan dan pemecahan masalah.

B. PERENCANAA SUMBER DAYA MANUSIA SECARA STRATEGIS

Selain fungsi operasional, MHC (Manajemen Human Capital) harus mengambil peran
strategis, perencanaan HC strategis harus mencakup seluruh kebutuhan fungsi manajemen
aset tetap, hal ini harus menyesuikan dengan keputusan mengenaik HC dan keputusan terkait
dengan misi pengelolaan aset tetap dan tujuan organisasi. Oleh karena itu perencanaan HC
strategis suatu badan perlu mempertimbangkan persyaratan tenaga kerja manajemen aset
tetap. Selain itu HCM strategis bertanggung jawab atas perencanaan suksesi, seperti
pengembangan bakat staf manajemen aset tetap, selain itu juga harus mencakup perencanaan
untuk perubahan dan perencanaan pemotongan. Selain pertimbangan pertimbangan
tersebut, di perhatikan juga semua pemangku kepentingan dalam pengembangan tim yang
keterlibatannya dapat berkontribusi terhadap keberhasilan pengelolaan aset tetap.
Perencanaan HC strategis didasarkan pada data angkatan kerja saat ini yang terlibat dalam
pengelolaan aset. Secara khusus data tersebut terdiri dari : kesesuaian antara ukuran angkatan
kerja dengan pekerjaan manajemen aset tetap, bentuk tenaga kerja, tingkat atrisi, persediaan
keterammpilan, tingkat pensiun yang di proyeksikan, penilaian kinerja, periode rata rata
untuk mengisi kekosongan, tingkat penerimaan calon pekerja terpilih, dan umpan balik survei
pelanggan, survei karyawan dan wawancara. Selain itu perencanaan HC strategis juga
didasarkan pada kategori data lainnya, seperti anggaran agensi, program pletaihan, jumlah
karyawan yang mengikuit pelatihan, persentase pegawai wanita, permintaan layanan yang
diberikan oleh lembaga, dan lingkungan serikat pekerja. Penting untuk dicatat bahwa data ini
dapat mempengaruhi perencanaan HC strategis dengan cara yang berbeda dan dalam
berbagai tingkat. Misalkan ketika sebuah badan di paksa untuk memangkas anggaran yang
memiliki kemunduran ekonomi atau perlambatan permintaan akan layanan, rencana HC
strategis harus di restrukturasi untuk melestarikan misi agensi tersebut. Mungkin beberapa
program pelatihan dapat di batalkan dan karyawan di berhentikan bila perlu.
C. PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA UNTUK BAKAT
MANAJEMEN PROPERTI

Pengembangan SDM merupakan invenstasi berkelanjutan, hal ini berkaitan dengan pelatihan
karyawan. Di sisi lain, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, pengembangan SDM
merupakan dimensi penting dalam perencanaan strategis HC, namun tidak hanya
perencanaan strategis saja namun juga perencanaan operasional. Dari sudut pandak
perencanaan strategis, manajemen tenaga kerja harus memperhatikan pengembangan
profesional bakat karyawan dan perluasan visi karyawan dalam pengelolaan aset tetap publik.
Dari sudut pandang yang lain, yaitu perencanaan operasional manajemen tenaga kerja yang
menangani pengelolaan aset tetap publik harus memberikan pelatihan karyawan baru atau
pelatihan yang berorientasi tugas tertentu. Terkait dengan perencanaan pengembangan
sumber daya manusia yang berkelanjutan, manajemen sumber daya manusia memerlukan
informasi terkini untuk mengambil keputusan mengenai pengembangan pegawai manajemen
properti. Manajemen sumber daya dengan komitmen tingkat atas dan bantuan dari manajer
aset tetap, perlu membangaun kerangka kerja yang sistematis untuk menarik,
mengembangkan, mempertahankan dan menerapkan karyawan manajemen properti
berkinerja tinggi untuk mencapai tujuan pengelolaan properti dan mencapai misi organisasi.
Menerapkan perencanaan keberlanjutan, staf sumber daya manusia harus mengidentifikasi
posisi yang cenderung mengalami pensiun dalam waktu dekat, menentukan keterampilan
penting yang diperlukan untuk posisi, memuat program pelatihan internal untuk
mengembangkan keterampilan.

D. MENCIPTAKAN BUDAYA ORGANISASI BERORIENTASI HASIL

Menciptakan budaya organisasi yang berorientasi kepada hasil merupakan misi mendasar
pengelolaan sumber daya manusia karena manajemen sumber daya manusia menjalankan
peran kepemimpinan dalam membangun suasana organisasi yang mendorong kinerja, kerja
sama, dan akuntabilitas yang tinggi. Organisasi belajar lebih beradaptasi dengan perubahan
karena mendorong penciptaan dan eksplorasi pengetahuan baru. Budaya organisasi yang
berorientasi pada hasil membantu memobilisasi antusiasme kerja karyawan manajemen aset
tetap dan memotivasi mereka untuk meningkatkan kinerja. Menciptakan budaya organisasi
yang berorientasi pada hasil di lingkunan lembaga melibatkan karyawan manajemen aset
tetap dalam pengambilan keputusan, dan tujuan baik tujuan individu maupun tujuan tim
untuk mencapai misi organisasi. Ada beberapa faktor yang menjadi kunci dalam pengelolaan
HC, faktor faktor ini membangun sistem yang dinamis dan konstruktif yang secara efektif
mengatur aktivitas pengelolaan aset tetap untuk mencapai tujuan dan sasaran organisasi.
Faktor faktor tersebut yaitu :

1. Komitment pimpinan senior terhadap investasi HC


2. Manajer properti berpartisipasi dalam keseluruhan strategi HC
3. Manajer properti menerapkan pendekatan HC
4. Departemen HC memberlakukan undang undang dan peraturan
5. Staf HC bermitra dengan manajer properti untuk mengembangkan rencana kerja
6. Departemen HC berfungsi sebagai konsultan pengelola properti dalam desain
organisasi, motivasi kerja, dan peningkatan produktivias
7. Mendeskripsikan pekerjaan karyawan berdasarkan tujuan dan sasara pengelolaan
properti secara keseluruhan
8. Pertimbangan kebutuhan tenaga kerja pengelolaan properti
9. Merencanakan perubahan
10. Keterlibatan karyawan dalam pengambilan keputusan
11. Pengembangan tim
12. Peningkatan kemampuan operasional
13. Pencapaian persyaratan kerja baru
14. Kepuasan kebutuhan jangka panjang karyawan yang berkualifikasi
15. Memenuhi kepuasan pelanggan
16. Menyelaraskan dengan tujuan dan sasaran agensi
17. Bangun suasana untuk belajar organisasi
18. Mendorong meningkatkan kinerja
19. Mendorong kerja sama
20. Meningkatkan akuntabilitas karyawan
21. Memahami bawahan
22. Menetapkan komunikasi yang efektif antara manajer dan bawahan
BAB 8

SUMBER PENGELOLAAN INFORMASI DAN TEKNOLOGI

Pengelolaan informasi dalam administrasi publik memiliki fungsi yang sangat


penting, manajer publik harus mendapatkan kumpulan data dan memproses menjadi
informasi untuk dapat di gunakan. Mereka membuat keputusan dengan informasi yang
mereka peroleh atau memberikannya kepada pengambil keputusan tingkat atas untuk
membuat keputusan signifikan pada saat saat yang kritis. Terdapat dua alasan, yang
mungkin menjelaskan mengapa manajemen informasi itu penting baik secara individu
maupun publik. Salah satunya adalah manajemen sebagai bentuk pekerjaan telah menjadi
lebih komplek dan dapat melibatkan berbagai faktor dalam lingkungan yang berubah ubah
dengan cepat. Faktor lainnya adalah alat pengambilan keputusan telah di perbaiki untuk
membantu manajer memecahkan masalah yang lebih kompleks. Oleh karenanya proses
pengambilan keputusan menjadi lebih menantang untuk saat ini, karena kebih banyak
informasi yang perlu di dapatkan dengan alat pengambilan keputusan yang semakin rumit
yang harus digunakan untuk memecahkan masalah sulit.

Pengelola properti atau administrator harus memperoleh informasi terbaru mengenai


faktor faktor ini untuk membuat keputusan terkait, akuisisi, penggunaan dan pemeliharaan
properti dan disposisi. Sumber informasi dan teknologi dalam sistem manajemen aset publik
memiliki posisi khusus,di sisi lain akuisisi informasi adalah proses dinamis dimana
pengelolaan aset mengkategorikan aset properti, mengumpulkan data mentah properti,
menggambarkan dan mencatat keadaan properti, menilai aset tetap, mencatat, melaporkan isi
keuangan dan akunting aset tetap. informasi yang diperoleh merupakan keluaran dari
pengelolaan aset tetap dalam siklus hidup properti. Di sisi lain, informasi yang diperoleh
memiliki fungsi yang sangat diperlukan dalam proses pengambilan keputusan pengelolaan
aset. Manajer aset publik bergantung pada informasi aset yang diperoleh untuk membuat
keputusan mengenai bagaimana menangani properti terkait yang bersangkutan. Dari
perspektif pengambilan keputusan, informasi menjadi masukan sementara keputusan yang
dirumuskan oleh manajer aset adalah keluaran.

Mengelola sumber informasi adalah menggabungkan data mentah, orang dan proses
untuk menghasilkan informasi dan menggunakan informasi untuk membantu manajer aset
tetap dalam mencapai tujuan dan sasaran pengelolaan aset. Dalam prakteknya manajemen
informasi, karyawan manajemen aset mengumpulkan, menyimpan dan mengarsipkan data
(memproduksi informasi) kemudian mereka sampaikan kepada yang membutuhkan informasi
tersebut (pengelolaan properti). Manajemen informasi adalah proses yang terus menerus
dimana data mentah menghasilkan informasi setelah tahap pemrosesan. Kemudian informasi
yang baru diproduksi dianggap sebagai masukan untuk pengambilan keputusan dan
menghasilkan informasi baru. Dalam pengelolaan aset tetap, produk dari manajemen
informasi adalah keputusan yang berkontribusi terhadap hasil perencanaan, aset yang
diperoleh, layanan yang diberikan, dan disposisi aset. Sumber Informasi dan Teknologi harus
mencakup informasi hukum dan peraturan, informasi sumber daya manusia, informasi aset
tetap, informasi keuangan dan akuntansi, dan pengelolaan informasi. Karena sistem
manajemen aset publik mencakup beberapa dasar persyaratan hukum dan peraturan dan
manajemen sumber daya manusia, dasar Sumber Informasi dan Teknologi berfokus pada
informasi terkait properti, yaitu sifat aset tetap dan atribut akuntansi keuangan.
A. INFORMASI ASET TETAP

Aset tetap perlu di kategorikan klasifikasinya, setiap pemerintahan memiliki aturan dan
undang undang yang berbeda dalam mengkalsifikasikan aset tetap nya. Namun umumnya
aset properti rill di kelompokkan menjadi tiga kategori yaitu bangunan, aset infrastruktur dan
lahan. Semua aset tetap publik dapat digunakan kecuali properti surplus. Selain
kriteria,manajemen aset perlu mendefinisikan dan menggunakan elemen data dan standart
untuk membangun inventaris aset tetap. Elemen data yang konsisten memudahkan pembaca
mengetahui status aset publik. Di sisi lain konsistensi ini meningkatkan kualitas informasi
properti dan menghindari dilema penggunaan standart yang berbeda untuk berbagai agen
yang menggunakan aset. Proses menginventarisasi aset tetap di mulai dari mengumpulkan
data dasar per properti. Mencakup properti yang dimiliki atau yang di kendalikan pemerintah.
Kemudian melakukan pengisian data hal ini mungkin akan berbeda untuk setiap kategori aset
tetap. Informasi yang harus ada yaitu :

penggunaan, persentase yang di gunakan,


umur, masa manfaat asli, nilai buku, sisa
tanggal hunia, manfaat
zonasi, laporan historis operasi,
lokasi, pemilik hukum.

Informasi diatas adalah informasi umum yang wajib ada, namun beberapa aset milik
pemerintah atau aset yang disewakan oleh swasta memiliki informasi khusus yang berbeda
yang perlu di tambahkan. Dari perspektif hukum, pendaftaran properti memberi wewenang
kepemilikan dan hak kepemilikan properti, terutama tanah dan bangunan. Hal ini
memungkinkan transfer dan transaksi properti yang efisien dan terjamin. Dari sudut pandang
ekonomi dan keuangan, pendaftaran properti mengumpulkan informasi mengenai
pembiayaan properti, perpajakan, keamanan kredit, dan perbaikan dan manajemen. Dengan
informasi yang diperoleh dari pendaftaran properti, pemerintah dapat menggunakan properti
yang terdaftar secara lebih efisien dan efektif. Sistem pendaftaran dapat berfungsi dengan
baik pun di pengaruhi pada beberapa faktor yaitu :

elemen properti di pilih dengan tepat


organisasi yang efisien
keamanan
akses mudah
keandalan
pengambilan biaya yang efektif

B. INFORMASI KEUANGAN DAN AKUNTANSI

Informasu keuangan dan akuntansi di bagi menjadi 2 poin dalam bab ini yaitu pelaporan
keuangan dan akuntansi serta valuasi aset tetap. Di amerika serikat aset tetap memiliki bagian
yang cukup besar di pemerintahan baik bagian maupun lokal. Pada bab sebelumnya di
jelaskan bahwa tujuan pengelolaan aset publik adalah memaksimalkan nilai aset tetap yang
dimiliki dan di kendalikan oleh pemerintah. Dalam proses pengelolaan aset tetap publik
manajer aset secara teratur melaporkan, melacak, dan menilai aset tetap, oleh karena itu
pengelolaan informasi keuangan dan akuntansi mempunyai kedudukan penting dalam
mengatur aset tetap.

B.1. PELAPORAN KEUANGAN DAN AKUNTANSI

Amerika serikat menggunakan standart yang di keluarkan oleh GASB namun untuk
pemerintah federal mereka berkiblat pada FASAB (Federal Accounting Standart
Advisory Board). Baik GASB dan FASAB memiliki persyaratan bahwa biaya dan
pendapatan mengenai aset modal dilaporkan berdasarkan kategori. Bagi pemerintah
negara bagian dan lokal, aset tetap dikategorikan sebagai tanah, bangunan, peralatan,
perbaikan selain bangunan, konstruksi dalam penyelesaian, dan barang tak berwujud.
Selain itu, Pernyataan GASB 34 mensyaratkan bahwa aset infrastruktur juga dicatat
sebagai bagian dari aset modal negara atau pemerintah daerah. Aset infrastruktur
biasanya meliputi jalan, jembatan, terowongan, sistem air dan saluran pembuangan,
bendungan, sistem drainase, dan sistem pencahayaan. Aset modal yang digunakan
untuk kegiatan pemerintah dan aktivitas jenis usaha dicatat dalam laporan keuangan
pemerintah sementara aset modal yang digunakan untuk kegiatan fidusia harus
dikecualikan dari pernyataan pemerintah.

B.2. VALUASI ASET TETAP

Penilaian terhadap aset tetap masih menjadi pertentangan di kalangan pihak, valuasi
properti publik adalah masalah mahal yang mungkin menimbulkan biaya yang tidak
perlu dan perbedaan pendapat dari pembayar pajak. Muncul adanya perbedaan
penilaian dari berbagai suduat pandang yaitu :

1. Penilaian properti tidak di perlu karena tidak semua properti publik berpotensi
untuk dipasarkan
2. nilai sosial dari banyak aset publik sulit diukur
3. Nilai beberapa properti publik ditentukan oleh 151 fitur publik dan dibatasi
4. Standar penilaian sulit dibenarkan; Sehingga bisa menimbulkan kebingungan

Namun, dalam praktik pengelolaan aset publik, ada sejumlah isu yang perlu penilaian
dan penilaian aset. Beberapa masalah ini mungkin mencakup hal-hal berikut:

Untuk memperkirakan nilai aset untuk pelaporan aset reguler,


Untuk memperkirakan nilai sekarang untuk menggunakan aset sebagai
jaminan,
Untuk memperkirakan nilai pasar untuk penjualan aset, transfer, perdagangan,
usaha patungan,
Untuk memperkirakan nilai sisa atau sisa untuk pensiun aset,
Mengestimasi rente pasar untuk harga transfer internal, dan
Mengestimasi nilai sekarang untuk penggabungan atau penyerahan agen
pemerintah

Selain itu, penilaian dan penilaian aset tetap melibatkan berbagai faktor, seperti biaya
awal, usia, karakteristik fisik dan lingkungan, lokasi, masa hidup, depresiasi,
penghargaan, dan nilai penggantian. Berbagai metode penilaian sebenarnya digunakan
untuk melayani berbagai tujuan. Untuk tujuan pembukuan, kriteria penilaian berikut
dapat digunakan :

Nilai buku: Aset tetap dinilai berdasarkan nilai perolehannya. Nilai buku dapat
digunakan untuk properti yang-tidak mewakili biaya kesempatan komersial
yang sebenarnya, kecuali ada penjualan / pelepasan aset yang terus-menerus
dari perubahan penggunaan lahan - Fernholz & Fernholz, 2006, hal 8). Nilai
buku aset tetap dapat dikurangi dengan depresiasi, amortisasi, dan deplesi
sedangkan aset tetapnya digunakan untuk memberikan layanan atau
memperoleh pendapatan. Namun, nilai buku mungkin tidak mewakili nilai
sebenarnya dari aset tetap kecuali jika valuasi dilakukan pada saat akuisisi,
konstruksi, atau waktu tertentu lainnya.
Nilai Penggantian: Biaya yang harus dibayar untuk mengganti properti tetap
pada saat sekarang atau pada kondisi pra-rugi.
Nilai pasar komparatif: Nilai aset komparatif adalah perkiraan yang baik
terhadap nilai aset tetap yang akan dicatat.
Nilai sosial dan budaya: Nilai-nilai ini mungkin tidak sama dengan nilai
finansial, namun signifikan dari perspektif berbagai segmen pemerintahan

Untuk tujuan laporan akuntansi keuangan, GASB No 34 menggunaka dua metode


penillaian properti, salah satunya dengan metode tradisional berdasarkan biaya
historis. Dengan metode ini pemerintah mencatat biaya awal untuk membeli atau
konstruksi dan menyusutkannya dengan metode garis lurus, sesuia dengan umur
ekonomis properti tersebut. Jika metode penyusutan tradisional ini digunakan, biaya
pemeliharaan dan penyusutan dicatat sebagai biaya. Namun metode ini banyak di
kritik oleh beberapa kalangan karena beberapa alasan :

a. Nilai akuisisi pada neraca mungkin sudah tua


b. Akunansi biaya historis berfokus pada mengalokasikan biaya bukan
pada nilai asetnya
c. Didasarkan pada daya beli tetap sama selama mas hidup suatu properti
d. Harga biaya historis mencerminkan tingkat suku bunga lama dan
penilaian jumlah waktu dan ketidakpastian arus kas masa depan yang
tidak pasti.

Metode lain yang dapat diberikan oleh GASB Statement 34, disebut dengan
pendekatan pelaporan yang dimodifikasi, memberikan nilai pada aset tetap
berdasarkan nilai pasar atau biaya penggantiannya. Ini mengakui bahwa aset modal
dipertahankan dan dipelihara pada kondisi saat ini melalui investasi dalam perbaikan
dan penggantian sehingga dapat memperpanjang masa manfaatnya. Dengan
pendekatan pelaporan yang dimodifikasi, biaya awal dan perbaikan dan penambahan
aset modal tidak disusutkan; Dan biaya pemeliharaan dan pembaharuan / pelestarian
dicatat sebagai beban. Jika memilih untuk menggunakan pendekatan pelaporan yang
dimodifikasi, pemerintah negara bagian dan lokal harus memiliki sistem manajemen
kualifikasi yang mencakup inventarisasi aset modal yang mutakhir, penilaian kondisi
yang konsisten dan lengkap dengan menggunakan skala pengukuran, dan perkiraan
pemeliharaan dan biaya pelestarian tahunan pada tingkat kondisional yang
diungkapkan.

untuk tujuan penjualan aset, transfer, dan perdagangan, aset modal harus
dinilai dan dinilai untuk memperkirakan harga pasar wajar saat ini. Umumnya, ada
tiga pendekatan untuk penilaian: perbandingan penjualan, kapitalisasi pendapatan, dan
biaya atau penjumlahan. Pendekatan perbandingan penjualan dimulai dengan
menemukan properti sebanding yang baru saja dijual, dan kemudian menyesuaikan
nilai pasar dari properti ini untuk memperkirakan nilai aset subjek. Penyesuaian
dilakukan dengan mempertimbangkan perbedaan dalam waktu penjualan, perbedaan
lokasi, dan perbedaan ukuran, kondisi lingkungan, dan fasilitas yang dapat
menyebabkan perbedaan nilai. Namun, pendekatan ini tidak berlaku untuk properti
unik karena kurangnya sifat yang sebanding. Pendekatan kapitalisasi adalah
pendekatan yang pendapatan mengubah keuntungan masa depan dari kepemilikan
properti menjadi nilai sekarang yang setara untuk memperkirakan nilai properti yang
akan dibayar investor untuk mempertimbangkan arus pendapatan di masa depan.
Pendekatan ini melibatkan tingkat kapitalisasi yang mencerminkan hubungan yang
berlaku antara laba bersih tahunan dan total nilai properti.

C. PENGELOLAAN INFORMASI MANAJEMEN

Sistem informasi manajemen bekerja bergantung pada sejumlah faktor, umumnya sistem
informasi manajemen terdiri dari empat komponen yaitu :

Perencanaan
Perancangan
Penggunaan
Pengendalian

Perencanaan menentukan informasi apa yang termasuk dalam subsistem informasi


manajemen. Hanya bila sistem informasi manajemen mencakup informasi yang benar,
sistem dapat berfungsi dengan tepat untuk melayani tujuan yang diharapkan. Selain itu,
sumber informasi harus akurat, tepat waktu, lengkap dan ringkas, dapat diakses, dan dapat
digunakan. Informasi yang usang dan tidak akurat dapat menyebabkan keputusan yang tidak
tepat. Tanpa adanya informasi yang memadai, manajer tidak sampai pada keputusan rasional,
namun sejumlah informasi kompetitif dapat menyebabkan kebingungan dan berkontribusi
pada keputusan irasional.

Informasi pengelolaan instansi pemerintah sebagian besar terkomputerisasi dan tidak


hanya tersedia untuk manajer dan pemangku kepentingan internal lainnya, tetapi juga kepada
pemegang eksternal. Sebenarnya komputerisasi informasi biasanya dianggap sebagai
indikator vital dari sistem manajemen yang efektif. Selain itu, program perangkat lunak
dibuat untuk mengembangkan prototipe penyimpanan informasi dan menyediakan perangkat
bagi manajer publik untuk membuat keputusan. Penggunaan sistem informasi manajemen
menentukan bagaimana informasi digunakan, siapa yang memiliki akses terhadap informasi,
dan siapa yang bertanggung jawab atas dan mengelola informasi tersebut. Di sektor swasta,
semakin banyak organisasi telah membentuk chief information officer (CIO) untuk
memastikan bahwa sumber informasi dikelola secara efektif (Synnott, 1987). Tanggung
jawab utama CIO adalah perencanaan informasi strategis yang profesional. CIO harus
memastikan bahwa investasi organisasi dalam sistem informasinya sesuai dengan tujuan
bisnis strategisnya (Beatty et al, 2005). Kontrol menunjukkan bagaimana informasi
manajemen disesuaikan dan diperbarui. Kategori informasi tertentu dapat dilengkapi atau
dihapus untuk memenuhi kebutuhan manajemen dan pengambilan keputusan. Sistem
pengelolaan informasi aset tetap harus mencakup informasi pokok aset tetap yang terdiri dari
elemen fundamental dari setiap aset tetap yang dimiliki dan dimiliki oleh pemerintah.
Informasi properti perlu mencakup fitur inti dari setiap aset, terutama kepemilikan dan
penyewaan, kondisi aset fisik, status pemanfaatan, layanan yang diberikan, dan posisi
fungsional dalam operasi pemerintah.

Informasi utama yang disertakan dalam sistem informasi pengelolaan aset disajikan
pada gambar dibawah. Informasi utama tersebut merupakan pilar yang mendukung
pengambilan keputusan aset strategis. Selain itu, informasi keuangan dan akuntansi tidak
hanya menyajikan struktur sumber keuangan, namun informasi ini juga mempengaruhi cara
pemberian aset oleh pemerintah. Sumber informasi harus diproses dan diperbarui pada saat
yang tepat ketika unsur aset properti diubah. Hal ini membuat informasi yang berkaitan
dengan properti menjadi akurat dan konsisten. Bagaimana informasi pengelolaan aset tetap
disimpan, ditentukan oleh jumlah aset tetap dan teknologinya yang tersedia, dan hal itu akan
berdampak pada keefektifan biaya sistem informasi. Untuk sejumlah besar aset tetap,
program perangkat lunak harus dikembangkan untuk mengkategorikan dan mensintesiskan
informasi mengenai setiap aset properti. Bersamaan dengan itu, sistem pemetaan berbasis
satelit dapat digunakan untuk kategori aset tetap tertentu seperti bangunan dan lahan
(Fernholz & Fernholz, 2007). Teknologi informasi dapat digunakan untuk menggabungkan
catatan informasi dengan portal internet untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas
manajemen aset tetap sekaligus meningkatkan transparansi manajemen. Namun, manajer aset
harus memastikan bahwa biaya untuk mengambil dan menggunakan informasi manajemen
terbatas pada tingkat tertentu. Dari perspektif manajemen makro, pemerintah perlu
memberikan hak asuh atas sistem informasi pengelolaan properti di bawah yurisdiksi sebuah
badan pengelola properti khusus atau departemen jasa keuangan jika tidak ada badan khusus
semacam itu.

Gambar di bawah ini menyajikan daftar informasi utama manajemen aset tetap. Diharapkan
bahwa pada suatu tingkat pemerintah menetapkan sistem informasi aset tetap yang mencatat
karakteristik aset tetap utama yang dimiliki, sewa, dan kontrol pemerintah ini. Ini membantu
pengambil keputusan pemerintah dan manajer aset tetap memahami konstituen, kondisi, dan
nilai aset tetap sehingga membuat keputusan yang tepat mengenai perolehan aset baru,
pembuangan aset lancar, atau restrukturisasi aset yang digunakan.