Anda di halaman 1dari 18

MONOGRAF GUNUNG KEMUKUS

A. Monograf Desa Pendem


1. Luas dan batas wilayah
Gunungkemukus terletak di Desa Pendem mempunyai luas wilayah 421,3995 ha.
Sebagian besar terdiri dari tanah sawah 347,2185 ha dan tanah kering 74,181 ha.
Batas-batasDesa Pendem adalah:
Sebelah utara : Desa Ngidul,Kecamatan Sumber Lawang
Sebelah selatan : Desa Suko, Kecamatan Miri
Sebelah timur : Desa Ngadiluwih, Kecamatan Sumber Lawang
Sebelah barat : Desa Bagot, Kecamatan Miri
2. Jumlah penduduk
Jumlah penduduk Desa Pendem sebanyak 4247 jiwa, terdiri dari 2095 laki-laki dan
2152 perempuan. Penduduk yang berusia antara 0-9 tahun berjumlah 1051 jiwa,
antara 10-24 tahun berjumlah 1148 jiwa, dan antara 25-39 tahun berjumlah 810 jiwa.

3. Penduduk menurut pendidikan


Jumlah penduduk menurut pendidikan terdiri dari tamatan akademi atau
Pendidikan Tinggi sebanyak 15 orang, tamat SMU sebanyak 90 orang, tamat SLTP
sebanyak 290 orang, dan tamat SD sebanyak 748 orang. Sebanyak 741 orang tidak
tamat SD dan 730 orang belum tamat SD. Sisanya sebanyak 999 orang tidak
mengenal bangku sekolah.
Sebagai sarana pendidikan di Desa Pendem terdapat tiga TK dengan 3 orang guru
dan 80 murid. Jumlah SD 3 buah dengan jumlah guru 22 orang dan jumlah murid
588 orang. Sarana pendidikan yang berupa madrasah ada 1 buah dengan guru 6
orang dan jumlah murid 92 orang.
4. Penduduk berdasarkan usia
Penduduk Desa Pendem yang berusia antara 0-9 tahun berjumlah 1051 jiwa, 10-19
tahun berjumlah 812 orang, dansebanyak 606 orang berusia antara 20-29 orang.
Adapun usia 30-39 tahun berjumlah 540 orang, usai antara 40-49 tahun sebanyak
481 orang. Penduduk Desa Pendem berusia 50 tahun keatas berjumlah 882 orang,
yang terdiri dari 375 orangusia anatar 50-59 tahun, 292 orang berusia antara 60-69
tahun , dan sisanyasebanyak 214 orang berusia 70 tahun keatas. Penduduk wanita
yang berusia 75tahun keatas tidak ada, tetapi penduduk pria yang berusia 75 tahun
ketas terdapat 38 orang.

5. Mata pencaharian
Mata pencaharian penduduk Desa Pendem terdiri dari petani sebagai buruh tani
sebanyak 614 orang, sebagai petani sebanyak 414 orang, dan yang berkerja di bidang
pengangkutan berjumlah 162orang. Penduduk yang bermata pencaharian sebagai
nelayan yaitu sebagai nelayan di waduk Kedung Ombo sebanyak 115 orang. Sebanyak
69 orang bermata pencaharian sebagai buruh bangunan, sedangkan 43 orang
bekerja sebagai pegawai negeri sipil, dan 35 orang bekerja sebagai pedagang.
Sebanyak 27 orang bekerja sebagai buruh industri dan21 orang sebagai pensiunan.
Penduduk Desa Pendem ada yang bekerja sebagai pengusaha sebanyak 2 orang dan
TNI/Polri sebanyak 2 orang. Sisanya sebanyak 1.680 tidak mempunyai pekerjaan
tetap, hanya diikatan bekerja lain-lain.

6. Agama
Penduduk sebagian besar beraga Islam yaitu 4.226, yang beragama Budha sebanyak
20 orang. Penduduk yang beragama Katolik sebanyak 2 orang, dan 1 orang beragama
Hindu.Sarana sebagai ibadah baru terdapat 5 buah masjid dan surau 28 buah.

7. Kesehatan
Di Desa Pendem baru terdapat 1 orang bidan dan 4 orang dukun bayi. Puskemas
baru ada 1 buah, itu pun terdapat di Kecamatan Sumber Lawang. Apabila dilihat dari
sarana kesehatan yang ada, jumlah ekseptor ada 501 orang dan PUS ada 625 orang.
Pemakai IUD ada 133 orang, suntik 133 orang, dan susuk 1 orang. Pemakai pil
sebanyak 69 orang, MOP 7 orang, dan MOW 74 orang. Apabila dilihat jumlah
eseptor yang memakai kondom, peminatnya hampir tidak ada, yaitu 1 orang.

B. Keadaan lokasi penelitian


Lokasi penelitian ritual ngalab berkah di Gunung Kemukus terletak di pingir Waduk
Kedung Ombo. Tekstur Gunung Kemukus berbentuk lahan tanjung seperti sebuah
bukit, dikelilingi oleh perumahan penduduk Desa Pendem RW 1 terdiri 2 RT yaitu
RT 02 dan RT 3. Dibawah kaki Gunung Kemukus terdapat semak belukar yang
membatasi rumah penduduk dengan waduk. Penerangan berupa listrik PLN
membuat Objek Wisata Gunung Kemukus ramai dan memudahkan aktifitas peziarah
dan pelaku ngalab berkah pada malam hari.

Infrastruktur berupa jalan menuju Sendang Ontrowulan dan Makam Pangeran


Samudro sudah dibangun dengan fondasi sementasi yang cukup kokoh. Sendang
Ontrowulan terlatak pada jalan lurus arah kekanan dekat dengan waduk, ada
bangunan tempat ritual atau serambi untuk ijin memasuki area Sendang melalui
juru kunci dan tempat menitipkan barang bawaan peziarah. Bangunan Sendang
Ontrowulan berbentuk L. Sendang asli berbentuk sumuran, dari permukaan tanah
sampai dengan permukaan air sekitar 2 meter, dan bergaris tengah 1 meter.
Sumuran dikelilingi oleh batu-batu putih berbentuk tidak beraturan tanpa semen.
Diatasnya diberi plesteran lantai dan diberi pagar dinding empat pesegi panjang
setinggi 2 meter, dengan luas sekitar 5 meter persegi. Demi terjaga kelestariannya,
sendang diisolir. Pada dinding ruangan sendang tumbuh dua pohon besar.

Air sendang yang dipergunakan untuk pelaksanaan ritual oleh peziarah maupun
penduduk sekitar adalah air sumur yang berjarak 3 meter dari sumur sendang yang
asli, diberi dinding persegi panjang dengan lantai keramik berwarnamerah. Air yang
keluar dari sumuran buatan berasal dari aliran air sendang Ontrowulan. Sendang
atau sumura buatan ini dikelilingi tembok setinggi 1,60 meter, kedalaman sumur
1,20 meter. Air sendang buatan ini dapat diambil dengan menggunakan
timba/ember kecil. Sumuran ini juga dikelilingi dinding empat persegi panjang
setinggi 2 meter dengan luas 5 meter persegi.

Sedangkan Makam Pangeran Samudro terletak pada jalan melalui tangga yang
landai ke atas bukit atau Gunung Kemukus arah sebelah kiri jalan sebelum ke
Sendang Ontrowulan. Sebelum memasuki Makam Pangeran Samudro ada dua juru
kunci di depan pintu bagian dalam dekatmakam yang menunggu kedatangan
peziarah sebelum masuk kedalam makam. Pintu yang dibatasi dinding kayu setinggi
2,30 meter, dengan 2 buah tempat pembakaran kemenyan setinggi 70 cm empat
persegi panjang di kiri dan kanan pintu masuk.Didalam makam ada dua buah
payung berwarna kuning, simbol keluarga kerajaan. Bangunan yang menutupi
Makam Pangeran Samudro berbentuk persegi panjang panjang 7 meter dan lebar 6
meter, dan bangunan di samping makam panjang 7 meter dan lebar 5 meter. Posisi
Makam Pangeran Samudro lurus pada pintumasuk bangunan tersebut. Sekitar 15
meter dibawah bangunan Makam Pangeran Samudro, terdapat sebuah pos
keamanan Dinas Pariwisata Sragen.

Disekitar jalan menuju makam dansendang di penuhi warung , penginapan rumah


penduduk, tempat karoke milik penduduk dan hiruk pikuk aktifitas warga setempat
dan pengunjung untuk melakukan interaksi sosial. Disekitar makam di kelilingi
pohon-pohon besar semak belukar.

C. Monograf Gunung Kemukus


Menurut data statistik dari Kantor Desa Pendem lokasi Gunung Kemukus termasuk
wilayah 2. Yang termasuk RT 02 adalah Kedung Uter dan RT 32 adalah Gunung Sari.
Di RT 32 jumlah KK ada 33,dengan jumlah penduduk 125 orang. Penduduk yang
bermata pencaharian sebagai wiraswasta sebanyak 22 orang dan sebagai petani 11
orang. Jumlah anak rata-rata per KK adalah 1-2 anak. Adapun jumlah KK dari RT 02
sebanyak 61, dengan jumlah penduduk 218 orang. Penduduk bermata pencaharian
sebagai petani 43 orang, sebagai swasta (pedagang, bakul) sebanyak 21 orang dan
sebagai buruh sebanyak 2 orang. Menurut penuturan pemilik warung, pedagang
rokok, dan penjual bunga, kesemuanya penduduk Gunung Kemuskus yang
bertempat tinggal di sekitar makam Pangeran Samudro kurang lebih 150 KK,
sebagian besar terdiri dari keluarga pendatang yang lalu tinggal menetap dan
menjadi penduduk resmi dari berbagai daerah di Jawa Tengah.

Jumlah dukun di Gunung Kemukus ada 3 orang, bidan desa 1 orang, posyandu 1
buah, dan mushola 1 bua. Pos kesehatan dilokasi Gunung Kemukus hanya buka satu
bulan sekali, yaitu hari selasa di rumah bapak RT. Rumah tempat tinggal sekaligus
tempat penginapan atau warung diGunung Kemukus berjumlah 150 buah.

Fasilitas yang tersedia di Gunung Kemukus adalah : 1) mushola; 2) kamar mandi dan
WC umum;3) tempat parkir roda dua dan empat; 4) titipan sepeda yang dikelolaoleh
penduduk setempat; 5) penginapan juga di kelola penduduk setempat; 6) warung-
warung yang menyedian kebutuhan peziarah; 7) kedai makan milik penduduk
stempat; 8) kapal motor untuk menyeberangi waduk juga dikelola penduduk
setempat; 9) pangkalan ojek, abik didalam makam maupun diluar makam Pangeran
Samudro, 10) bangsal di dekat Makam Pangeran Samudro dan Sendang
Ontrowulan;11) petugas keamanan dan ketertiban yang terdiri dari pegawai Dinas
Pariwisata, Pegawai Kecamatan, Pamong Desa, dan Petugas Koramil setempat.
GUNUNG KEMUKUS DALAM PERSPEKTIF WISATA, PEREKONOMIAN, DAN
KEHIDUPAN SOSIAL

Aning Maryana, NIM. 13340250031, Mahasiswa Fakutas Ekonomi,


Universitas Satyagama Jakarta, 2017

ABSTRAKSI

Lokasi gunung Kemukus terletak di bagian barat desa Pendem, yakni termasuk
Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Luas wilayah desa Pendem
adalah 421,399 Ha, yang terdiri dari tanah sawah 347,218 Ha dan tanah kering 74,181
Ha.Masyarakat Gunung Kemukus masuk dalam kategori masyarakat abangan, yakni
masyarakat yang memiliki versi tersendiri dalam menjalankan ibadah keseharian. Biasanya
mereka mengaku beragama Islam meskipun mereka tidak pernah melaksanakan syariat
seperti shalat dan puasa. Sebagai potret masyakat abangan, masyarakat Gunung Kemukus
sangat menghormati hal-hal yang berbau magis.
Meskipun masyarakat Gunung Kemukus jauh dari prinsip-prinsip agama namun
mereka melakukan apa yang disebut sinkritisme agama. Sinkritisme ini ditandai adanya
kontak hubungan antar agama, kepercayaan, pertemuan dan pergumulan, percampuran dan
peleburan agama-agama. Dalam pertemuan atau percampuran ini seringkali terjadi perubahan
struktur dan sifat dari kepercayaan dan budaya yang saling bertemu akan tetapi juga
seringkali terjadi perubahan struktur asasinya sehingga masih memiliki identitas masing-
masing. Dalam prakteknya, masyarakat Gunung Kemukus memadukan unsur Islam dan
budaya lokal.
Bukti autentik interaksi Islam dan budaya lokal dalam masyarakat Gunung
Kemukus ditandai dengan perubahan bentuk ziarah kubur yang diajarkan Islam ke bentuk
ziarah kubur masyarakat primitif. Bentuk interaksi ini memungkinkan Islam mewarnai,
mengubah, mengolah dan memperbaharui budaya lokal, tetapi mungkin pula Islam yang
justru diwarnai oleh berbagai budaya lokal. Melalui hal ini timbul proses Jawanisasi unsur-
unsur Islam yang akhirnya melahirkan Islam kejawen. Dalam interaksi budaya lokal dan
budaya Islam tentu muncul dua jenis budaya yang berbeda; budaya unggul dan budaya
tradisional yang ketinggalan. Kebudayaan yang unggul akan selalu mempengaruhi
kebudayaan yang terbelakang.
Masyarakat Gunung Kemukus yang menggantungkan kehidupannya dari kegiatan
kepariwisataan, tentu memiliki perbedaan-perbedaan dengan masyarakat maritim maupun
agraris. Perbedaan-perbedaan tersebutlah yang memberikan keunikan tersendiri pada wilayah
sekitar Gunung Kemukus. Diperlukan perhatian khusus untuk dapat mengungkapkan
keunikan yang terdapat pada daerah Gunung Kemukus, terutama hal-hal yang berhubungan
dengan kegiatan ekonomi.
Selain proses sosial yang memakan waktu panjang, bagi penulis masyarakat
Gunung Kemukus menyisakan pertanyaan yakni ritual seks dan prostitusi termasuk bagian
penyakit sosial atau kreatifitas sosial? Pertanyaan ini perlu diungkapkan karena munculnya
ritual seks dan prostitusi bukan karena kesengajaan sebagaimana yang terjadi pada tempat-
tempat pelacuran yang lain. Munculnya ritual seks dan prostitusi di Gunung Kemukus
terbentuk karena pemaknaan terhadap agama yang kemudian dibumbui oleh mitos dan
radikalisasi budaya.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang mempunyai keanekaragaman kebudayaan
yang terdapat di dalamnya. Setiap daerah memiliki bentuk kebudayaan yang berbeda antara
yang satu dengan yang lainnya. Perbedaan ini lahir dari faktor lingkungan fisik maupun latar
belakang sejarah yang terdapat pada setiap daerah. Keanekaragaman ini juga nampak pada
banyaknaya suku, ras, agama, dan kepercayaan, bahasa serta kebudayaan. Setiap kebudayaan
mengandung nilai-nilai luhur yang dijadikan panutan bagi masyarakat yang bersangkutan.
Oleh karena itu, kebudayaan tetap bertahan dari generasi ke generasi berikutnya.
Banyak sekali cerita di Jawa yang menggambarkan bahwa pemenuhan harapan orang
kejawen tidak cukup hanya dengan bekerja dan bersembahyang. Ada upaya lain yang harus
mereka lakukan, yaitu upaya ritual, yang dilaksanakan masyarakat sesuai dengan
kepercayaan mereka terhadap berbagai mitos dan sejarah tempat-tempat keramat tertentu
yang berkembang. Salah satu tempat ritual dan memiliki kepercayaan mitos yang kuat adalah
Makam Pangeran Samudro di Gunung Kemukus. Orang Jawa mempunyai suatu pandangan
bahwa makam itu merupakan hal yang dianggap keramat dan karena sering mempunyai nilai
khusus bagi orang yang bersangkutan dan jiwa orang yang sudah meninggal itu dapat
dimintai berkah atau pertolongan oleh kaum kerabatnya yang masih hidup.
Tempat wisata ziarah tersebut tampak menarik untuk dikunjungi dengan berbagai
keunikannya terutama dilihat dari segi ritualnya. Keberadaan tempat ziarah tersebut akan
menimbulkan pro dan kontra pada masyarakat umum, baik yang sudah berkunjung ke tempat
ziarah tersebutmaupun yang hanya mendengar cerita saja. Sebagian besar pandangan
masyarakat terhadap tempat ziarah makam Pangeran samudro selalu negatif.
Pada umumnya orang yang datang ke Gunung Kemukus adalah untuk mencari berkah.
Adapun alasan masyarakat melakukan ritual ngalap berkah yaitu supaya usaha berjalan
lancar, mendapat jabatan atau mempertahankan jabatan, mendapatkan kekayaan yang
berlimpah dengan mudah. Para pelaku ngalap berkah mempunyai keyakinan bahwa ketika
mereka mendatangi Gunung Kemukus dan melakukan ritual yang telah ditentukan maka
mereka mengalami peningkatan ekonomi, usaha lancar, dan peningkatan jabatan.
Dengan adanya ritual-ritual yang terdapat di tempat wisata ziarah Gunung Kemukus,
maka baik secara langsung maupun tidak langsung berpengaruh pada perekonomian dan
kehidupan sosial masyarakat di wilayah tersebut.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, disusun rumusan permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana model wisata ziarah yang terdapat di Gunung Kemukus?
2. Bagaimana kondisi perekonomian warga di wilayah Gunung Kemukus?
3. Bagaimana gambaran kehidupan sosial masyarakat di Gunung Kemukus?

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini sebagai berikut:
1. Mengetahui model wisata ziarah yang terdapat di Gunung Kemukus.
2. Mengetahui kondisi perekonomian warga di wilayah Gunung Kemukus.
3. Mengetahui gambaran kehidupan sosial masyarakat di Gunung Kemukus.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Gambaran Wilayah Gunung Kemukus


Lokasi gunung Kemukus terletak di bagian barat desa Pendem, yakni termasuk
Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Luas wilayah desa Pendem
adalah 421,399 Ha, yang terdiri dari tanah sawah 347,218 Ha dan tanah kering 74,181 Ha.
Secara rinci batas wilayah desa Pendem adalah sebagai berikut:
Sebelah Barat : Desa Bagor Kecamatan Miri
Sebelah Selatan : Desa Suko Kecamatan Miri
Sebelah Timur : Desa Ngadiluwih Kecamatan Sumber Lawang
Sebelah Utara : Desa Ngadul Kecamatan Sumberlawang
Sedangkan penghuni yang ada di sana (kemukus) itu berjumlah 600 orang dan dari
600 orang itu kurang lebih terdiri dari 300 KK, Sedangkan sejarah kemukus ini mungkin
gambarannya sama persis seperti sejarah yang tertera dalam buku-bukui, saya tidak bisa
menjelaskannya secara mendetail juga karena saya disini bukan termasuk orang lama, saya
kelahiran 56, jadi saya sendiri tidak tau sejarahnya dari awal, mungkin yang tau persis sejarah
gunung kemukus adalah juru kunci yang dikatakan itu lebih dari yang saya katakan untuk
sejarah-sejarah itu.
Dari data statistik terbaru, Desa Pendem memiliki 10 dusun 8 RW serta 35 RT. Dan
Gunung Kemukus terbagi dalam dua dusun, sebelah timur dan utara adalah dusun Kedungter,
sedangkan sebelah barat dan selatan masuk dusun Gunungsari. Dan dua dusun tersebut
terbagi dalam lima RT, yaitu RT 02, 32, 33, 34 dan RT 35 yang kesemuanya masuk RW I.
Seperti yang diungkapkan oleh Kepala Desa Pendem, dulunya Kemukus merupakan
sebuah nama ketinggian, yakni sebuah pegunungan atau bukit yang dikelilingi oleh sungai
yang meluap pada musim hujan dan mengering pada musim kemarau. Sehingga pada musim
hujan air sangat melimpah, bahkan untuk menuju kesana harus ditempuh dengan memakai
perahu karena jembatan yang adapun terendam air.
Namun pada musim kemarau air sangat sulit ditemukan, bahkan penduduk disana
seringkali kekurangan air, jadi tanah di gunung Kemukus terlihat gersang pada musim itu.
Dan setelah dibuatnya Waduk Kedung Ombo (WKO), sebagian besar masyarakat yang
tinggal di pinggiran sungai terpaksa harus pindah. Dari situlah kemudian gunung kemukus
yang terkenal angker mulai banyak dikunjungi peziarah dan pendatang dari luar daerah.
Untuk menuju gunung Kemukus tidaklah sulit, dari Solo kita bisa meneruskan
perjalanan melewati Gemolong, Bagor ataupun Mudro, untuk menuju desa Pendem. Dari
jalan raya desa pendem, lokasi gunung Kemukus harus ditempuh lagi dengan kendaraan
pribadi, Ojeg atupun jalan kaki. Karena sampai saat ini jalan menuju lokasi gunung kemukus
secara infrastruktur memang belum memadai, selain belum ada kendaraan umum dari jalan
raya menuju lokasi kecuali ojeg, jalan tersebut juga masih berupa bebatuan dan sulit dilalui
oleh kendaraan besar seperti bis dan truk. Memang ada jalan lain untuk menuju ke lokasi,
namun harus memutar dan membutuhkan waktu lebih lama.
Penduduk di Kemukus sebagian besar adalah pendatang yang kemudian menetetap dan
menjadi penduduk resmi. Sebagaimana yang dikuatkan oleh Ketua RT 02, bahwa di RT-nya
terdapat 52 KK dan hanya 2 KK (termasuk dirinya) yang merupakan penduduk asli,
selebihnya adalah pendatang yang berasal dari Sukoharjo, Pati, Kudus, Jepara, Ngawi, Tuban
dan lain-lain. Dari jumlah KK yang ada dikemukus 75 KK merupakan penduduk asli dan 325
KK adalah pendatang yang kemudian menetap dan menjadi penduduk resmi dengan memiliki
KTP setempat.
Jumlah KK yang ada di RT saya 52 KK, dan hanya 2 KK yang merupakan penduduk asli
sini. Jika diperkiraan penduduk kemukus ini ada sekitar 400 KK, maka penduduk asli hanya
ada sekitar 75KK, dan penduduk yang lainnya itu merupakan pendatang. Dengan
perumpamaan prosentase itu 90% pendatang dan 10% penduduk asli. Rata-rata pendatang
yang berdomisili disini berasal dari Pati, Kudus dan Jepara. Kelihatannya sekitar lima tahun
terakhir, mulai banyak pendatang dan mulai berkembang semakin padat. Sebelum adanya
rumah-rumah seperti sekarang, dulu hanya menggunakan tenda-tenda.
Orang yang istilahnya mababat hutan berani membuat rumah disitu dulunya adalah
piyayi dari tampat jauh, karena penduduk asli sini bermukim di bawah gunung dekat sungai,
termasuk saya dulunya tinggal didekat jembatan yang ada dibawah itu. Dan setelah ada
Waduk Kedung Ombo (WKO) kemudian masyarakat terpaksa pindah kesini, kemudian saya
membeli tanah yang sekarang saya tempati ini. Jadi surat yang saya miliki ini adalah
Sertifikat hak milik dan bukan hak guna bangunan. Karena tanah-tanah yang berada di dekat
sungai yang ditempati warga sekarang itu adalah milik WKO jadi kalau sewaktu-awktu
dibutuhkan ya harus pindah, karena itu rumah-rumah yang ada disitu berupa papan dan belum
ditembok. Saya sendiri berada disini sudah sekitar 17 tahun, selama dua tahun setengah saya
tinggal di atas (dekat makam), kemudian saya membuat rumah disini dan sudah saya tempati
kurang lebih 15 tahun.
Tahun-tahun itu mulai berkembang dan ramai-ramainya peziarah datang. Bahkan ketika
1 1 suro sampai berjubel hampirn tidak muat, orang dari manapun datang kesini untuk ngalap
berkah. Jadi jualan makanan seadanyapun pasti bersih (terjual habis). Untuk sejarah awal
cerita gunung kemukus ini masih ada satu orang yang masih hidup, yang tau dan fahami
tentang seluk beluk yang ada disini yaitu mbah Parjan. Bisa dianggap dia aadalah sesepuh
sini, tapi dia bukan seorang juru kunci. Rumahnya ada didekat sendang Ontrowulan. Kalau
juru kunci-juru kunci itu tidak hafal masalahnya mereka hanya anak mantu dan anak mantu
dari juru kunci sebelumnya jadi kurang begitu faham, karena mereka juga tidak bertempat
tinggal disini. Tapi ada satu juru kunci yang tinggal disini dan merupakan anak langsung dari
juru kunci sebelumnya namanya Mastur.
Kemukus mulai ramai orang setelah adanya SDSB, sejenis Togel (undian berhadiah
dengan menyebutkan no urut tepat yang akan keluar), yang mana waktu itu ada seorang
priyayi (peziarah) asal Bandung yang setelah nyepi dikemukus dapat rezeki nomplok.
Sehingga setelah itu banyak orang Bandung yang berbondong-bondong datang ke sini, Salah
satu ritual yang mereka lakukan adalah menyepi kurang lebih tiga hari untuk mendapatkan
petunjuk (wangsit) nomor yang kira-kira akan keluar.
Keadaan gunung Kemukus pada sekitar tahun 1975 sampai 1982 masih rengget hutan.
Bahkan untuk naik ke gunung saja belum ada satupun orang sini yang berani. Karena jika
anda lihat disekitar makam saat ini ada pagar, nah dulu pagar itu sebagai
tempat wiwitan (pohon nogosari yang dikeramatkan) dan ketika ada priyayi yang sudah
masuk ke dalam pagar itu tidak bisa keluar.
Ada juga satu cerita lain, ada salah satu penduduk desa yang setelah dari makam, baru
diketahui setelah dirumah ternyata di dalam sakunya terdapat daun, kemudian ia sakit,
dimana sakitnya itu tidak bisa disembuhkan meski sudah dicoba berobat kemana saja tetap
tidak hasil. Jenis penyakit yang dikeluhkan salah satunya yakni badan lemas dan tubuh
rasanya cuma ingin tidur saja. Dan ketika ditanyakan pada sesepuh (orang yang dituakan),
jika ada ketutan daun seperti itu ataupun barang lain, maka harus dikembalikan ke tempat
asalnya. Namur suasana angker tersebut sekarang sudah tidak seperti itu, banyak yang
memotong kayu misalnya untuk membangun rumah. Meskipun demikian priyayi sini tetap
tidak berani. Tapi ndilalah penduduk sini yang mengambil kayu di atas sana untuk
membangun rumah ternyata di dalam rumah itupun ada saja musibah yang terjadi.

B. Wisata Ziarah Gunung Kemukus


Menurut Humas Kabupaten Sragen, wilayah ini mulai tahun 1983 dikelola oleh Dinas
Pariwisata Sragen, setelah sebelumnya dibawah pengelolaan Dinas Pendapatan Daerah.
Gunung Kemukus identik sebagai kawasan wisata seks karena di tempat ini orang bisa sesuka
hati mengkonsumsi seks bebas dengan alasan untuk menjalani laku ritual ziarahnya, itulah
syarat kalau mereka ingin kaya dan berhasil.
Dalam suatu aturan yang tak resmi disyaratkan bahwa setiap peziarah harus berziarah
ke makam Pangeran Samudro sebanyak 7 kali yang biasanya dilakukan pada malam Jum'at
Pon dan Jum'at Kliwon atau pada hari-hari dan bulan yang diyakhini baik, melakukan
hubungan seksual dengan seseorang yang bukan suami atau istrinya (mereka boleh membawa
pasangannya sendiri atau mungkin bertemu di sana), pada hari yang terakhir
kedatangannya/yang ke 7 kalinya, peziarah harus melakukan slametan (semacam syukuran
dengan menyembelih ayam atau kambing) yang dipimpin oleh juru kunci untuk mensyukuri
penggenapan laku ziarahnya itu dan memohon berkah agar keinginannya berhasil.
Pertama kali pengunjung yang bermaksud berziarah datang biasanya mereka harus
menemui juru kunci, kepada juru kunci mereka menceritakan apa maksud kedatangannya,
setelah itu masuk ke dalam beranda makam dan menaburkan kembang telon/bunga tiga
macam sambil memohon agar terkabul permintaannya. Syarat laku yang kemudian dilakukan
adalah tradisi "bersetubuh" dengan pasangan yang bukan suami atau istrinya dan mereka
sengaja tidak tidur semalam dengan menggelar tikar di bawah pohon di sekitar makam
bersama pasangannya itu.
Masyarakat Gunung Kemukus masuk dalam kategori masyarakat abangan, yakni
masyarakat yang memiliki versi tersendiri dalam menjalankan ibadah keseharian. Biasanya
mereka mengaku beragama Islam meskipun mereka tidak pernah melaksanakan syariat
seperti shalat dan puasa. Sebagai potret masyakat abangan, masyarakat Gunung Kemukus
sangat menghormati hal-hal yang berbau magis. Satu contoh pada malam jumat pon di antara
hiruk pikuk peziarah ada alunan musik gamelan yang benada magis. Biasanya alunan musik
gamelan ini ditabuh oleh orang yang berpakain Jawa dan diiringi dengan penyanyi yang
berpakain Jawa pula.
Potret masyarakat Gunung Kemukus sama dengan orang Jawa kebanyakan. Yakni
mereka mengambil Islam hanya sebagai atribut identitas. Islam Gunung Kemukus adalah
Islam sinkretik atau yang paling umum abangan. Setriotipe ini menunjukkan tingkat
keIslaman mereka yang belum mencapai kesempurnaan, atau masyarakat Gunung Kemukus
belum sepenuhnya ber-Islam. Ini bisa dilihat dari perilaku dan pandangan kosmologis dan
tatanan sosial yang lebih depengaruhi oleh animisme.
Rumus-rumus yang terkandung di dalamnya lebih menyerupai kepercayaan primitif.
Pola keagamaan masyarakat Gunung Kemukus dikategorikan sebagai agama sinkretik. Data
menunjukkan bahwa praktek keIslaman masyarakat Gunung Kemukus berbeda jauh dari
praktek yang ada di timur tengah. Dalam hal ini, fenomena Gunung Kemukus menampilkan
sesuatu yang bukan berasal dari Islam. Islam Gunung Kemukus menggunakan simbol,
konsep, serta tata cara yang berasal dari anismisme. Lebih lanjut, pembacaan terhadap
fenomena masyarakat Gunung Kemukus harus mempertimbangkan unsur budaya secara
esensialistik dengan memberikan prioritas pada otoritas sejarah.
Budaya masyarakat Gunung Kemukus tidak dilihat sebagai unsur-unsur yang esensinya
berasal dari endapan sejarah yang berujung pada tradisi primitif dan kepercayaan
lokal. Lazimnya masyarakat abangan, pola keagamaan masyarakat Gunung Kemukus sangat
tradisional, dalam pengertian agama cenderung simbolik dan pemaknaan terhadapnya
ditunjukkan dalam ekspresi-ekspresi religius yang bersifat campuran. Yakni campuran antara
nilai-nilai Islam dan budaya lokal atau adat istiadat. Selain itu, sesajen dan kemenyan
menjadi hal penting bagi masyarakat Gunung Kemukus. Meskipun demikian, di daerah ini
berdiri 1 musolla dan 1 masjid bantuan pemerintah dan bukan swadaya masyarakat setempat.
Oleh karena itu, musolla dan masjid ini hanya sekedar ada saja, karena tidak pernah
digunakan secara maksimal.
Menurut penulis, agama bagi masyarakat Gunung Kemukus bukan sebagai realitas
sosial karena mereka merasa asing dengan agama. Membaca hal demikian, penulis berminat
untuk memaknai ulang peran agama sebagai realitas sosial. Karena, secara teoritik agama
adalah realitas sosial yang ditandai oleh sedikitnya tiga corak pengungkapan universal:
pengungkapan yang berwujud sistem kepercayaan (belief system), pengungkapan yang
berbentuk praktek yakni sebagai sistem persembahan (system of workship), serta
pengungkapan berwujud sebagai suatu sistem hubungan masyarakat (system of social
relation).
Dalam teori ini, agama merupakan suatu sistem yang memiliki peran atau fungsi
penting bagi kehidupan masyarakat. Fungsi nyata agama adalah sebagai sistem relasi sosial
adalah fungsi integratif. Dalam konteks ini, agama menjadi sumber utama terbentuknya
integarsi masyarakat yang baik. Agama bahkan dipandang memiliki kemampuan membangun
tatanan social (social order) yang mapan dan kuat.
Atas dasar persamaan dan kesepakatan serta ikatan psiko relegius, kredo, dogma,
kultus, simbol dan tata nilai dan norma serta cara-cara spiritualitas tertentu yang diyakini,
maka para penganut agama cenderung berupaya sebaik mungkin untuk mempertahankan
serta mengamalkan ajarannya dan memperjuangkan agama yang dianutnya. Dalam perspektif
ini, sangat jelas bahwa agama memang memiliki fungsi utama yang necessary bagi
terbentuknya integritas sosial dalam masyarakat atau bangsa. Pada kenyataannya agama
bukan semata-mata merupakan persoalan keyakinan pribadi yang melekat dalam diri
indidvidu, melainkan juga memiliki dampak sosial bagi masyarakat secara keseluruhan
sebagai hakikat kolektif. Dengan demikian, agama apapun namamya sebagai sistem norma
dan nilai maupun sebagai sistem relasi sosial mempunyai daya ubah (transformabilitas) bagi
masyarakat, terutama bagi komunitas pemeluknya.
Tapi pembacaan atas fungsi dan peran agama di atas, tidak berlaku bagi
masyarakat Gunung Kemukus karena perilaku mereka tidak didasari prinsip-prinsip agama
yang mampu membangun masyarakat. Masyarakat Gunung Kemukus murni digerakkan oleh
semangat bisnis birahi dan sesekali dibumbui mitos tentang ziarah makam Pangeran
Samudro. Bagi mereka agama sebagai simbol sebagaimana diakui oleh penghuni penduduk
setempat.
Meskipun masyarakat Gunung Kemukus jauh dari prinsip-prinsip agama namun mereka
melakukan apa yang disebut sinkritisme agama. Sinkritisme ini ditandai adanya kontak
hubungan antar agama, kepercayaan, pertemuan dan pergumulan, percampuran dan peleburan
agama-agama. Dalam pertemuan atau percampuran ini seringkali terjadi perubahan struktur
dan sifat dari kepercayaan dan budaya yang saling bertemu akan tetapi juga seringkali terjadi
perubahan struktur asasinya sehingga masih memiliki identitas masing-masing. Dalam
prakteknya, masyarakat Gunung Kemukus memadukan unsur Islam dan budaya lokal. Pada
perkembangannya unsur Islam dan budaya lokal, menimbulkan beberapa problem identitas
bagi agama atau budaya terebut, dan fenomena percampuran dua agama dan budaya akan
memunculkan budaya baru atau agama versi baru. Peritiwa ini memantapkan teori yang
mengatakan bahwa setiap terjadi sinkritisme akan melahirkan suatu hal baru baik berwujud
reduksi, reformasi, maupun revivalisasi dari agama maupun budaya lokal.
Selain sinkritisme agama, kehidupan masyarakat Gunung Kemukus dipenuhi dengan
simbol ritual, fenomena ini meneguhkan bahwa simbol ritual menempati peran penting dalam
masyarakat. Karena ritual agama dalam masyarakat dianggap telah berperan memperkukuh
integrasi sosial, selain itu ritual merupakan ekspresi dan aspek simbolik dari tindakan magi
dan agama. Ritual dapat dilihat sebagai sebuah pertunjukan religius, dimana di dalamnya
terdapat aktor dan penonton. Sebagai sebuah pertunjukan relegius, maka ritual pada dasarnya
tidaklah bersifat universal, tetapi bersifat relatif dan mesti dilihat sebagai sebuah sistem
konstruksi budaya dari komunikasi simbolik masyarakat.
Bukti autentik interaksi Islam dan budaya lokal dalam masyarakat Gunung Kemukus
ditandai dengan perubahan bentuk ziarah kubur yang diajarkan Islam ke bentuk ziarah kubur
masyarakat primitif. Bentuk interaksi ini memungkinkan Islam mewarnai, mengubah,
mengolah dan memperbaharui budaya lokal, tetapi mungkin pula Islam yang justru diwarnai
oleh berbagai budaya lokal. Melalui hal ini timbul proses Jawanisasi unsur-unsur Islam yang
akhirnya melahirkan Islam kejawen. Dalam interaksi budaya lokal dan budaya Islam tentu
muncul dua jenis budaya yang berbeda; budaya unggul dan budaya tradisional yang
ketinggalan. Kebudayaan yang unggul akan selalu mempengaruhi kebudayaan yang
terbelakang.
Dalam masyarakat Gunung Kemukus, perjumpaan Islam dengan budaya Jawa
memunculkan konstruksi dan formasi kehidupan sosial, budaya, agama. Perjumpaan tersebut
memunculkan sebuah perubahan sosial-budaya dalam kehidupan masyarakat Gunung
Kemukus. Tentu saja proses interaksi ini terkait konstruksi budaya. Perilaku ziarah kubur ini
bercorak agama asli yakni animisme dan dinamisme. Memberi lahan subur bagi tumbuhnya
mistisisme. Suatu paham yang bertolak dari keyakinan ruhaniah adanya kesatuan antara
mikrokosmos dengan makrokosmos dua entitas dalam satu kesatuan substansi. Sisa ritus
pemujaan kuno seperti ini sampai sekarang masih bisa disaksikan sebagai fenomena
keagamaan yang menarik untuk diamati dalam kehidupan religi Gunung Kemukus.
Fenomena ini memberi bukti bahwa sekalipun masyarakat Gunung Kemukus tidak
mengakui agama sebagai realitas sosial tapi pada hakikatnya agama memberi landasan yang
tidak sekedar menyangkut hubungan personal tapi juga hubungan sosial yang memiliki ikatan
emosional. Agama pada prinsipnya memberi kontribusi kepada kehidupan sosial masyarakat,
karena agama tidak hanya sebatas keyakinan tapi juga menjadi tata cara bermasyarakat. Bisa
dikata bahwa agama memberi inspirasi individu untuk membangun masyarakat. Bentuk
sumbangsih agama bagi masyarakat adalah ziarah kubur yang tidak semata-mata ajaran
animisme dan dinamisme tapi juga ajaran Islam, apalagi Pangeran Samudro juga diyakini
sebagai salah satu penyebar agama Islam.
Meskipun demikian, membaca masyarakat Gunung Kemukus tidak bisa berdasarkan
hitam di atas putih. Artinya, perlu pemaknaan yang lebih utuh untuk membaca budaya dan
kebiasaan masyarakat Gunung Kemukus. Oleh karena itu, melihat budaya lokal sebagai
sebuah struktur otonom yang memiliki kaitan historis. Pembacaan ini menitikberatkan pada
kondisi aktual suatu praktek budaya.
Makna yang terkandung dalam suatu tindakan atau yang termuat dalam simbol-simbol
budaya dipahami melalui relasi-relasi yang ada dari setiap unsurnya. Meskipun dalam kasus
Gunung Kemukus, simbol-simbol Hindu dan Budha serta animisme digunakan, hal itu harus
dilihat dari kaitannya dengan simbol lain yang ada dalam dimenasi waktu yang sama. Simbol
tersebut tidak dapat dipahami melalui kerangka etimologi yang diasalkan sejarah asal-usul.
Hal yang sama juga berlaku bagi simbol-simbol Islam yang digunakan orang Jawa. Simbol
tersebut tidak dapat dipahami dengan cara meneropong statusnya dari wilayah simbol
tersebut berasal. Artinya suatu praktek kehidupan lebih ditentukan oleh struktur otonom dari
relasi keseluruhan unsur-unsurnya.
Mitos Kemukus dipercayai oleh para kapitalis cilik Jawa sebagai media untuk memacu
spritit kapital mereka secara maksimal. Lahirnya kemantapan diri (self fulling prophecy)
untuk meraih kesuksesan berusaha, menjadi peneguh kaum kapitalis cilik untuk
merealisasikan harapannya. Dalam perkembangan Kemukus telah berubah menjadi pasar,
terjadi pertemuan antara supplier dan pembeli maupun broker (perantara), dalam wujud
penziarah, PSK dan pemerintah itu sendiri.

C. Perekonomian Masyarakat Gunung Kemukus

Masyarakat Gunung Kemukus yang menggantungkan kehidupannya dari kegiatan


kepariwisataan, tentu memiliki perbedaan-perbedaan dengan masyarakat maritim maupun
agraris. Perbedaan-perbedaan tersebutlah yang memberikan keunikan tersendiri pada wilayah
sekitar Gunung Kemukus. Diperlukan perhatian khusus untuk dapat mengungkapkan
keunikan yang terdapat pada daerah Gunung Kemukus, terutama hal-hal yang berhubungan
dengan kegiatan ekonomi.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Kantor Kelurahan Desa Pendem, pada umumnya
masyarakat Desa Pendem bermata pencaharian sebagai seorang petani (buruh). Para buruh
tani tersebut bekerja pada mereka yang mempunyai lahan pertanian dengan sejumlah upah.
Wilayah Desa Pendem mempunyai wilayah persawahan yang cukup luas. Luas persawahan
Desa Pendem mencapai 196.000 ha. Lebih dari separuh wilayah Desa Pendem atau sekitar
56% merupakan wilayah persawahan yang umumnya ditanami padi. Tak mengherankan jika
sebagian besar penduduk Desa Pendem bermatapencaharian sebagai petani.
Selain profesi sebagai petani yang merupakan profesi umum Masyarakat Desa
Pendem, masih terdapat beberapa jenis mata pencaharian lainnya. Terdapat profesi lain
seperti PNS, POLRI, buruh industri, dan lain-lain. Berikut adalah jumlah penduduk
berdasarkan mata pencahariannya:
Tabel. Komposisi penduduk Desa Pendem

Jenis Pekerjaan Jumlah

Petani Pemilik 479 orang

Buruh Tani 647 orang

Pengusaha

Buruh Industri 20 orang


Jasa Pengangkutan 5 orang

PNS 47 orang

POLRI 5 orang

Pensiunan 23 orang

Lain-lain 1.302 orang


Sumber: Laporan Pertanggungjawaban Kepala Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang,
Kabupaten Sragen

Pemanfaatan sumber daya alam Desa Pendem merupakan potensi utama yang
dimanfaatkan masyarakatnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka memanfaatkan
lahan-lahan yang tersedia sebagai lahan persawahan. Profesi sebagai petani maupun buruh
tani memang menjadi profesi yang sangat wajar untuk dipilih karena Desa Pendem memiliki
wilayah persawahan yang cukup luas ditambah dengan sejumlah lahan pekarangan dan
tegalan yang juga dapat dimanfaatkan sebagai lahan pertanian.
Data diatas menunjukkan, hanya beberapa penduduk saja yang bermatapencaharian
sebagai pegawai, baik sipil maupun yang bukan. Profesi yang membutuhkan pendidikan
hingga perguruan tinggi memang jarang dipilih oleh masyarakat desa seperti desa Pendem.
Masyarakat Desa Pendem yang umumnya hanya bekerja sebagai petani atau buruh tani
biasanya hanya memberikan pendidikan dasar kepada anak-anak mereka. Setelah pendidikan
dasar tersebut diselesaikan, mereka biasanya memilih pekerjaan yang sama dengan orang tua
mereka atau merantau ke luar daerah untuk mendapatkan profesi yang lebih baik.
Dibangunnya Waduk Kedung Ombo ikut memberikan potensi baru bagi mata
pencaharian Masyarakat Desa Pendem. Mereka melakukan budidaya karamba jaring apung
dan berprofesi sebagai nelayan. Untuk mengatasi keterbatasan modal, mereka membentuk
kelompok tani. Langkah tersebut mengalami keberhasilan dengan semakin meningkatnya
produksi ikan di wilayah Desa Pendem. Hal tersebut memberikan pilihan lain bagi
masyarakat Desa Pendem untuk memilih matapencaharian sehari-hari.
Kehadiran Kemukus, khususnya bagi Desa Pendem merupakan asset lokal yang
sangat potensial menghasilkan kapital. Transaksi kapital dalam semalam yang terjadi pada
pasar Kemukus, disadari oleh pemeerintah Desa mempunyai kontribusi yang tinggi terhadap
PAD mereka. Transaksi tersebut dapat terjadi pada berbagai sektor ekonomi, seperti retribusi,
biaya sewa kamar, biaya parkir dan sumbangan para peziarah terhadap para kuncen, juga
retribusi dari warung-waring serta para pedagang kaki lima.
Kemukus oleh Pemda Sragen telah ditetapkan sebagai tujuan wisata. Oleh karena itu,
pengelolaan Kemukus diberikan kepada tiga lembaga, yakni Kelurahan, Dinas Pariwisata dan
Kepolisian. Tourisma telah menjadi paradigma baru di dalam pendekatan Developmentalism.
Lahirnya tourisma tidak sekedar berangkat dari logika kesejahteraan rakyat, namun lebih
sebagai perwujudan dari logika kapitalistik terhadap pengeloaan ekosistem atau ruang hidup
manusia. Meskipun demikian juga tourisma tidak akan mencapai prestasinya apabila
masyarakat tidak sejahtera.
Hubungan timbal balik antara logika kapital dan tingkat kesejahteraan rakyat menjadi
konstruksi epistemologis dibalik manajemen tourisma oleh negara maupun swasta.
Kenyataan tersebut akan tampak pada pengelolaan pasar Kemukus oleh tiga pihak yang
berkepentingan secara kapital, yakni negara, swasta dan pribumi.
Namun adanya wisata gunung kemukus itu memang merupakan pariwisata yang
bersandarkan ziarah menambah aset pendapatan Desa, baik untuk pintu masuk atau gerbang,
parkir maupun bagi pengunjung, dengan adanya wisata gunung kemukus ini juga menambah
penghasilan warga masyarakat kami disana, mereka disana bisa mengembangkan atau
memanfaatkannya seperti parkir menyewakan rumah mereka bisa jualan bunga, atau
makanan itulah diantaranya seperti itu, yang semuannya itu adalah menambah penghasilan
dari warga disana.
Hasil dari semua itu Desa itu mendapatkan 10% dari dinas pariwisata, namun semua
itu tidak pasti ya mbak ya, ketidak pastian itu karena masalahnya apa, masalahnya
pengunjung tidak sama, kadang-kadang ada Jumat baik seperti pada tanggal 1 bulan syura
itu termasuk bulan yang baik, seperti hari jelek atau Jumat jelek itu termasuk bulan
Ramadhan, itu memang istilahnya dengan anjuran pemerintah tempat-tempat keramaian
memang dikurangi, Desapun juga begitu yakni berpartisipasi kalau bulan Ramadhan itu
diminta untuk mengurangi, atau kita itu harus bisa saling menghargai, jadi orang yang jualan
makanan disana maupun pengunjung agak lebih berkurang di banding hari-hari biasa.
Namun untuk bulan-bulan sakral, seperti bulan baik 1 syuro pengunjung mulai
meningkat lagi, kalau masalah pembagian pendapatan pada masyarakat berhubung disini
terdiri dari 4 kadus berdasarkan MUDES (Musyawarah Desa) itu tergantung pada apa yang
dibutuhkan Desa yang paling diutamakan, tapi untuk ini saya sebagai pejabat yang baru di
desa ini, saya akan menyamaratakan sesuai dengan hasil MUDES, jadi mungkin untuk tahun
ini sebenarnnya yang mendapatkan anggaran belum tentu, apa mungkin untuk perbaikan atau
pengerasan jalan atau pangairan sawah, terus dua pengerasan jalan yang menuju kesawah itu
bisa berkomfirmasi dengan kadus 4 yakni ngabayan, kadus 1 itu disini yaitu barong sedang
kadus 4 itu ngebayan, dan kemukus termasuk kadus 1 yakni barong.
Tiga pihak yang dipandang sebagai penentu roda pasar di Kemukus, dicurigai memiliki
satu karakter relasional, apakah simbiosis mutualistik, simbiosis komensialitik ataukah
simbiosis parasitivistik. Melalui pendekatan tiga karakter patronase tersebut kajian ini
dilakukan.
Masyarakat Kemukus selalu mengkondisikan daerah wisata Kemukus sebagai tempat
mencari rizki saja, termasuk aktivitas penginapan dan prostitusi. Tradisi ritual yang lebih
banyak pengunjung adalah perayaan adat pada setiap tanggal 1 syuro. Pada kesempatan
tersebut masyarakat melaksanakan dua kegiatan, yakni bersih desa sehabis musim panen dan
Cuci kelambu.
Kemukus bagi orang Jawa merupakan tempat dimana seseorang
mencari pesugihan dengan suatu ritual unik. Sungguhpun demikian, ritual yang ada di
Kemukus bukanlah sesuatu yang ada begitu saja dalam rangkaian ritus para pencari
pesugihan, namun kehadirannya telah menjadikan Kemukus sebagai tujuan para pesugih
untuk ngalap berkah yang banyak dikunjungi orang, terumata pada tiap malam Jumat Pon.
Keunikan ritus tersebut telah banyak mengundang para peneliti untuk mengkaji secara
seksama realitas sebenarnya dibalik semua gejala budaya tersebut. Berbagai pendekatan telah
dilakukan untuk mengkajinya seperti antropologi, religi, politik dan ekonomi. Tujuan kajian
mereka, pada umumnya ingin mengkaji motif terdalam mengapa ritus seks tersebut menjadi
bagian dari prosesi pesugihan di Kemukus.
Ritus atau laku khusus berkenaan dengan suatu prosesi sakral di dalam budaya Timur
memegang arti penting terhadap kehidupan manusia. Masyarakat Timur memandang jika
ritus merupakan laku yang melekat dalam kesadaran makro-mikro manusia. Sehingga jika
manusia tidak melaksanakannya, maka akan terjadi bencana bagi dirinya. Karena konstruksi
masyarakat Timur, memiliki kesadaran makrocosmis yang komprehensif.
Terlepas dari konstruk mitos atau legenda yang menghidupkan Kemukus, kini Kemukus
telah menjelma menjadi pasar, karena semua potensi ekonomi bertemu pada ritus Kemukus.
Jadi, di ruang Kemukus telah terbentuk pasar tempat bertemunya pada para pemilik modal
yang ikut memperebutkan ruang Kemukus sebagai arena pergumulan kepentingan dan modal.
Bagi ilmu politik, situasi tersebut menujukkan gejala subcentral authorities yakni
adanya otoritas pengelolaan atas desentralisasi aset ekonomi yang dimiliki oleh pemerintah
lokal. Ritual pesugihan paling ramai dilakukan pada setiap 40 hari, yakni malam Jumat Pon.
Pada malam tersebut, hampir ribuan manusia berada di Kemukus. Mereka datang dari
berbagai pelosok tampat, seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatra, hingga Madura. Tujuan
mereka adalah satu, yakni berburu pesugihan.
Jika diamati secara prosesi, sebenarnya ritus Kemukus tidaklah beda dengan di
beberapa tempat pesugihan, yakni menemui juru kunci, mandi bersuci, berdoa di makam,
tirakat, dan kemudian menjelang pagi hari, mereka pulang. Tetapi yang menarik dari rentetan
ritus tersebut, yakni adanya keyakinan jika ingin hajatnya cepat terkabul harus melaksanakan
ritual seks dengan pasangan yang baru bertemu di lokasi. Untuk kebutuhan tersebut tersebar
berbagai mitos yang menguatkan jika ritus Seks menjadi salah satu bagian yang tidak boleh
dilewatkan.
Mitos tersebut akhirnya terus melekat pada ritual Kemukus. Meskipun ada sebagian
peziarah tidak percaya dengan ritus demikian. Termasuk beberapa juru kunci pun
menyatakan bahwa mereka tidak pernah menganjurkan kepada penziarah melakukan ritus
seks sebagai prasyarat terkabulnya hajat mereka. Namun pada kenyataanya ritus seks teleh
menggejala secara terbuka di Kemukus.
Dalam perkembangannya, daerah Gunung Kemukus telah menjelma menjadi kompleks
prostitusi. Banyak para pendatang, khususnya para penanam modal mendirikan bedeng-
bedeng berupa bangunan semi permanen yang menyediakan jasa kamar dan makanan
sekedarnya. Jika diamati bisnis ini semakin menjamur, hal tersebut dapat dilihat dari
banyaknya warung-warung kumuh berdiri di dalam wilayah Kemukus.
Banyaknya pengunjung yang datang, membawa berkah tersendiri bagi para pedagang
kaki lima, pengojek, penyedia jasa parkir, pedagang makanan dan juga pedagang jamu.
Apalagi bagi pedang aksesoris ritual, seperti kembang, menyan dan botol kosong untuk
mengisi air suci dari sendang selalu mendapatkan keuntungan besar. Pendapatkan
pedagang bunga sendiri rata-rata pada hari Jumat Pon mampu menembus pendapatan 1 juta
rupiah, Ini merupakan pendapatan yang luar biasa bagi seorang pedagang bunga rampe
sejenisnya jika dibandingkan dengan pedagang di tempat lain.
Bagi pihak pemerintah, pendapatkan diperoleh dari retribusi masuk yang dipatok harga
Rp. 7. 500 perorang dan retribusi bagi pada pedagang kaki lima yang membuka lapak di
dalam wilayah Kemukus. Jadi, tidak heran jika PAD Dusun Pendem bisa menembus milyaran
rupiah pertahunnya. Ini merupakan PAD tertinggi yang diperoleh Pemda Sragen jika
dibandingkan dengan daerah wisata lainnya, seperti Sangiran.
Untuk menemukan peran negara dalam pasar Kemukus, dapat ditelusuri dari dari
prespektif tourisma. Dalam perspektif tourisma, jenis-jenis bisnis tour dibagi ke dalam
beberapa bentuk, yakni
1. Pilgrimage atau wisata rohani. Di Eropa jenis ini sangat banyak ditemukan. Beberapa negara
menjadikan objek wisata mereka sebagai tujuan keagamaan, seperti Lourdes atau Knock di
Ireland, juga Graceland dan kuburan Jim Morrison di Pre Lachaise,atau Istana Vatikan di
Roma.
2. Health tourism atau wisata kesehatan. Jenis wisata ini tidak hanya berkunjung ke tempat-
tempat yang indah semata, tetapi juga bertujuan untuk berobat atau menyembuhkan diri.
Tempat-tempat yang sering dituju untuk wisata kesehatan ini seperti pemandian air panas
/spa di kaki-kaki pegunungan
3. Leisure travel atau perjalanan untuk bersantai
4. Jenis wisata ini menekan pada objek-objek wisata yang memiliki potensi untuk berjalan-
jalan santai, seperti susana asri pemandangan laut, perladangan ataupun sungai-sungai yang
indah dan menyegarkan.
5. Winter tourism atau wisata winter. Wisata jenis ini khusus diperuntukan pada bulan-bulan
winter yang menawarkan paket-paket outdoor yang menyenangkan. Seperti skiing, berkemah
ataupun olahraga yang menantang di alam terbuka.
6. Terakhir, disebut Mass tourism atau wisata rakyat. Massa tourism atau wisata rakyat adalah
jenis wisata yang memadukan semua unsur wisata berada pada satu tempat, sehingga banyak
orang berkunjung pada satu waktu untuk kebutuhan wisata, seperti Disney Land, dan lain-
lainnya.
Lalu, Wisata Kemukus dapat dimasukan ke dalam jenis apa? Jika melihat aktivitas
utamanya, tentu tidak dapat dimasukan ke dalam wisata rohani, meskipun di Kemukus
terdapat serangkaian ritual. Jika melihat aktivitas utama di Kemukus, resort ini lebih tepat
disebut sebagai tujuan wisata seks. Kemukus dipelihara karena daerah Kemukus telah
menjadi resort mistis yang banyak dituju oleh para pencari pesugihan. Perpaduan antara dua
entitas tersebut telah menguatkan posisi Kemukus sebagai tempat yang patut dilindungi.
Sungguhpun sulit mengkategorikan pada jenis apa jenis wisata Kemukus, toh, Kemukus
tetap dianggap sebagai penghasil PAD tertinggi bagi PEMDA Sragen. Inilah yang menurut
Bailey (1999) menjadikan Kemukus sebagai aset potensial pemerintah lokal. Maka tak heran
jika pemerintah daerah ikut melibatkan diri dalam bisnis ini. Hal tersebut dapat diamati dari
pemberian status kepada Kemukus sebagai tujuan wisata dan beberapa fasilitas disediakan
untuk keperluan tersebut, seperti penyediaan ruang keamanan yang dimanfaatkan oleh Pam
Swakarsa sebagai pos jaga.
Selain itu juga mensupply tenaga-tenaga kesehatan setiap bulannya untuk memeriksa
kesehatan para PSK. Diperkirakan dalam malam Jumat Pon terdapat ratusan PSK beroperasi
di Kemukus, baik yang terdaftar maupun musiman. Memang sulit untuk membedakan mana
PSK mana pengunjung, karena aktivitas mereka juga menunjukkan gejala yang sama yakni
berupaya mencari teman kencan. Meskipun demikian, sebenarnya dari tampilan fisik mapun
perilaku mereka di lapangan, dapat dibedakan. Jika PSK biasanya berpakaian seronok, serta
secara profesional dan agresif mencari teman kencannya, sementara para penziarah dalam
berpakaian lebih sopan bahkan ada yang berjilbab dan berpeci dan tidak agresif di dalam
mencari teman kencan.

D. Kehidupan Sosial Masyarakat Gunung Kemukus


Pada sisi lain, membaca fenomena Gunung Kemukus perlu pembacaan yang lebih luas.
Karena Gunung Kemukus sebentuk masyarakat komunal yang antar individu memiliki
kontribusi untuk membentuk masyarakat. Oleh karena itu, membaca fenomena sosial
masyarakat Gunung Kemukus bisa meminjam analisa sosiolog kenamaan Vilfredo Pareto.
Menurut Vilfredo Pareto pada prinsipnya masyarakat terdiri dari apa yang dilakukan
oleh anggota-anggota individual. Mereka merupakan the material points or molecules dari
sistem yang disebut masyarakat. Suatu sistem dibentuk dari bagian-bagian yang tergantung
satu sama lain karena dikonstruksi. Hal terpenting membaca masyarakat bahwa kelakukan
manusia bersifat mekanis atau otomatis. Oleh karena itu, manusia dilingkupi oleh perbuatan
logis dan perbuatan nonlogis. Perilaku disebut logis, kalau direncanakan oleh akal budi
dengan berpedoman pada tujuan yang mau dicapai.
Pada sisi lain, hampir seluruh kehidupan masyarakat terdiri dari perbuatan-perbuatan
nonlogis. Satu contoh, saat seseorang memutuskan sesuatu ia tidak semata-mata karena
pertimbangan rasional dan logika tapi keputusan-keputusan tersebut dipengaruhi oleh
kepentingan dan sentimen-sentimen yang sedang berpengaruh di dalam masyarakat.
Sistem sosial atau masyarakat ditegakkan oleh individu-individu yang senantiasa
mengarah pada keseimbangan. Individu-individu saling mempengaruhi agar tercapai
keseimbangan. Pada dasarnya masyarakat bersifat konservatif. Kecendrungan kearah
kestabilan dan kesimbangan tidak ada hubungannya dengan kesadaran dan kebebasan
manusia. Kalau terjadi pergolakan, itu sebatas sementara karena manusia pada prinsipnya
menginginkan kesimbangan.
Selain Vilfredo Pareto, sosiolog yang patut diapresiasi untuk membaca fenomena
Gunung Kemukus adalah George Simmel. Sebagai seorang sosiolog ia
mengatakan pertama masyarakat terdiri dari jaringan relasi-relasi antara orang yang
menjadikan mereka bersatu. Masyarakat bukan badan fisik, melainkan sejumlah pola perilaku
yang disepakati dan ditunjang bersama. Salah satu faktor terbentuknya komunikasi antar
masyarakat tersebut adanya dorongan kebutuhan dan tujuan sehingga mereka melakukan
kontak dengan orang lain.
Meskipun demikian, komunikasi antar individu belum bisa membentuk masyarakat
karena mereka berkomunikasi belum tentu karena didorong oleh kepentingan dan tujuan yang
sama. Simmel menambahkan untuk membentuk masyarakat perlu adanya saling
mempengaruhi sehingga mereka terangkai antar individu yang saling memberi arti.Kedua,
relasi-relasi aktif antar orang yang berkelompok atau bermasyarakat mengarah kepada
terbentuknya komunitas atau kebersamaan.
Saat ini ciri komunitas atau kebersamaan ditandai dengan pola fungsional dan rasional
hal ini menggantikan pola tradisional yang bersifat afektif dan personal. Ketiga, kesatuan-
kesatuan sosial tidak hanya terbentuk dari relasi-relasi integratif dan harmonis. Keadaan
masyarakat ditentukan oleh dua jenis interaksi yang keduanya mempunyai efek positif. Kalau
dilihat dalam keseluruhan interaksi yang membentuk masyarakat, persaingan merupakan
relasi yang memainkan peranan positif bagi seluruh anggota masyarakat
Kedua sosiolog ini, menjelaskan bahwa terbentuknya masyarakat karena adanya
berbagai gesekan kepentingan yang antar kepentingan tersebut saling berkomunikasi dan
bernegosiasi. Setelah berkomunikasi dan negosiasi, terjadilah apa yang disebut kesepakatan,
dari kesepakatan antar individu ini masyarakat mulai terbentuk.
Teori ini menguatkan posisi masyarakat Gunung Kemukus yang pada prinsipnya
terbentuk oleh proses panjang sejarah masyarakat tersebut. Adanya prostitusi adalah rentetan
sosial yang terjadi karena adanya ritual seks. Artinya, ritual seks memberi landasan terjadinya
masyarakat yang sedemikian rupa sehingga munculah potret masyarakat Gunung Kemukus
seperti sekarang ini.
Selain proses sosial yang memakan waktu panjang, bagi penulis masyarakat Gunung
Kemukus menyisakan pertanyaan yakni ritual seks dan prostitusi termasuk bagian penyakit
sosial atau kreatifitas sosial? Pertanyaan ini perlu diungkapkan karena munculnya ritual seks
dan prostitusi bukan karena kesengajaan sebagaimana yang terjadi pada tempat-tempat
pelacuran yang lain. Munculnya ritual seks dan prostitusi di Gunung Kemukus terbentuk
karena pemaknaan terhadap agama yang kemudian dibumbui oleh mitos dan radikalisasi
budaya. Oleh karena itu, penulis tidak memandang masyarakat Gunung Kemukus sebagai
patalogi sosial tapi ia adalah kreatifitas sosial yang terbentuk karena antar anggota
masyarakat saling berkomunikasi untuk menciptakan masyarakat Gunung Kemukus
sebagaimana yang lihat saat ini.
Meskipun terkenal sebagai kawasan prostitusi, di daerah Kemukus terdapat mushola
dan aktivitas keberagamaan. Penduduk setempat atau pendatang selalu memanfaatkan
mushola tersebut untuk beribadah. Sementara bagi penduduk setempat, keberadaan mushola
dan takmirnya dimanfaatkan bagi kegiatan keberagamaan seperti pengajian, sholat berjamaah
dan Perayaan Hari Besar Islam lainnya.
Selain pengajian rutin yang diadakan tiap hari Senin, diwaktu-waktu tertentu juga
diadakan ketika ada undangan hajatan, seperti kelahiran bayi, sunatan atau khitanan dan lain-
lain, bahkan terkadang kita juga di undang di acara pernikahan, apalagi di bulan-bulan baik
seperti bulan Ruwah, hampir tiap hari ada undangan, bahkan pernah juga dalam satu hari bisa
tiga kali sampai empat kali kit dapat undangan untuk acara hajatan dibulan baik.
Di bulan Ramadhan di tiap-tiap Musalla atau Masjid yang ada di Kemukus itu berbeda-
beda kegiatannya, di Masjid dekat pintu masuk misalnya biasanya di bulan Ramadhan tiap
minggu sekali mengundang imam dari luar Kemukus untuk mengisi menjadi imam. Juru
kunci sendiri tidak ikut dalam kegiatan keagamaan masyarakat, karena juru kunci bukan
berasal dari wilayah Kemukus melainkan berasal dari daerah Barong, sehingga juru kunci
murni hanya mengurusi makam saja.
Mayoritas masyarakat Kemukus adalah beragama Islam. Dilihat dari ritual ibadah yang
dilakukan, seperti tradisi barjanji, tahlil dan yasin maka bisa dikategorikan sebagian besar
masyarakat secara idealisme lebih condong pada NU, dan itu merupakan tradisi yang
dilakukan oleh masyarakat asli sekitar Kemukus. Ada memang sebagian masyarakat terutama
pendatang yang secara ideologi adalah Muhamadiyah, tapi hal tersebut ternyata kurang
diterima oleh sebagian besar masyarakat sekitar karena takut akan menganggu ritualitas yang
selama ini sudah berjalan. Namun dari observsi yang penulis lakukan dan ditunjang dengan
pernyataan dari Bapak dan Ibu RT, bahwa kebanyakan penduduk terutama pendatang
beragama Islam hanya secara formalitas saja (Islam KTP).
Kegiatan keagamaan yang ada yaitu TPA (Taman Pendidikan Al-Quran) bagi anak-
anak, pengajian rutin untuk bapak-bapak yang dilaksanakan tiap malam jumat di masjid
dengan membaca yasin dan tahlil bagi orang-orang yang telah mendahului. Pengajian rutin
biasanya dipindah harinya ketika bertepatan dengan malam jumat kliwon atau malam jumat
pon Sedangkan pengajian untuk ibu-ibu dilakuakan tiap senin siang jam 13. 00 secara door
to door yakni dari rumah ke rumah. Pengajian tersebut berisi barjanji yang diiringi oleh
musik rebana, arisan dan pembacaan doa-doa. Selain itu ada pula pengajian memperingati
hari besar keagamaan seperti maulid ataupun as-syura yang diikuti oleh bapak, ibu dan anak-
anak.
Organisasi sosial yang ada di Kemukus meliputi organisasi PKK bagi ibu-ibu, yang
diprakarsai oleh ibu-ibu di lima RT yang ada. Beberapa kegiatan yang dilakukan diantaranya
arisan, pembinaan dan pengarahan dari desa meliputi kesehatan dan pertanian. Begitu pula
ketika ada pengobatan gratis ataupun Posyandu dari Puskesmas terdekat berkunjung untuk
melakukan pemeriksaan. Selain itu PKK juga melakukan kegiatan ketika memperingati
kemerdekaan, yakni dengan menyumbangkan kas terbanyak bagi kegiatan tersebut dan sibuk
menyiapkan untuk perlombaan dan sebagainya.
Adapula 2 organisasi yang dikelola oleh kepolisian dalam hal ini Kapolsek, yakni
Paguyuban Ojek yang diikuti oleh para penarik ojek masyarakat Kemukus dan sekitarnya,
serta PamSwakarsa (GERTAK) yakni organisasi keamanan yang bertugas mengamankan
daerah sekitar Kemukus.
Mengingat banyaknya kerusuhan dan pencopetan yang seringkali terjadi, sehingga
memang sangat diperlukan adanya organisasi tersebut untuk meminimalisir tindak kejahatan
yang rawan terjadi. Dan menjadikan masyarakat sekitar maupun peziarah yang datang
menjadi lebih aman Selain itu ada pula organisasi Seni Karawitan yang dipelopori juga oleh
GERTAK. Sampai sekarang seni karawitan lebih banyak menerima permintaan manggung di
luar Kemukus.