Anda di halaman 1dari 16

BAB 1

TIJAUAN PUSTAKA

1.1 Konsep Dasar Kista Ovarium


1.1.1 Definisi
Kista ovarium yaitu suatu kantong abnormal berisi cairan atau setengah cairan
yang tumbuh dalam indung telur (ovarium). Kista ovarium biasanya tidak bersifat
kanker, namun walaupun kista tersebut bersifat kecil diperlukan perhatian yang lebih
lanjut untuk memastikan kista tersebut tidak berupa kanker (Brunner dan Suddarth.
2005).
Kistoma ovarium merupakan suatu tumor, baik yang kecil maupun yang besar,
kistik atau padat, jinak atau ganas (Winknjosastro, 2005).
Kista ovarium adalah suatu pengumpulan cairan yang terjadi pada indung
telur atau ovarium. Cairan yang terkumpul ini dibungkus oleh selaput yang terbentuk
dari lapisan terluar dari ovarium (Agusfarly, 2007).

1.1.2 Etiologi
Kista ovarium terbentuk oleh bermacam sebab. Penyebab inilah yang nantinya
akan menentukan tipe dari kista. Diantara beberapa tipe kista ovarium,tipe folikuler
merupakan tipe kista yang paling banyak ditemukan. Kista jenis ini terbentuk oleh
karena pertumbuhan folikel ovarium yang tidak terkontrol. Folikel adalah suatu
rongga cairan yang normal terdapat dalam ovarium. Pada keadaan normal, folikel
yang berisi sel telur ini akan terbuka saat siklus menstruasi untuk melepaskan sel
telur. Namun pada beberapa kasus, folikel ini tidak terbuka sehingga menimbulkan
bendungan carian yang nantinya akan menjadi kista. Cairan yang mengisi kista
sebagian besar berupa darah yang keluar akibat dari perlukaan yang terjadi pada
pembuluh darah kecil ovarium.
1.1.3 Patofisiologi
Kista terdiri atas folikel folikel praovulasi yang telah mengalami atresia
(degenerasi). Pada wanita yang menderita ovarium polokistik, ovarium utuh dan FSH
dan SH tetapi tidak terjadi ovulasi ovum. Kadar FSH dibawah normal sepanjang
stadium folikular daur haid, sementara kadar LH lebih tinggi dari normal, tetapi tidak
memperlihatkan lonjakan. Peningkatan LH yang terus menerus menimbulkan
pembentukan androgen dan estrogen oleh folikel dan kelenjar adrenal. Folikel
anovulasi berdegenerasi dan membentuk kista, yang menyebabkan terjadinya
ovarium polikistik. (Corwin, 2002)
Kista bermetastasis dengan invasi langsung struktur yang berdekatan dengan
abdomen dan pelvis dan sel sel yang menempatkan diri pada rongga abdomen dan
pelvis. Penyebaran awal kanker ovarium dengan jalur intra peritonial dan limfatik
muncul tanpa gejala atau tanda spesifik.
Gejala tidak pasti yang akan muncul seiring dengan waktu adalah perasaan
berat pada pelvis. Sering berkemih dan disuria dan perubahan fungsi gastro intestinal,
seperti rasa penuh, mual, tidak enak pada perut, cepat kenyang dan konstipasi. Pada
beberapa perempuan dapat terjadi perdarahan abnormal vagina skunder akibat
hiperplasia endometrium, bila tumor menghasilkan estrogen beberapa tumor
menghasilkan testosteron dan menyebabkan virilisasi. (Price, Wilson, 2006)
Kista nonneoplastik sering ditemukan, tetapi bukan masalah serius. Kista
folikel dan luteal di ovarium sangat sering ditemukan sehingga hampir dianggap
sebagai varian fisiologik. Kelainan yang tidak berbahaya ini berasal dari folikel graaf
yang tidak ruptur atau pada folikel yang sudah pecah dan segera menutup kembali.
Kista demikian seringnya adalah multipel dan timbul langsung di bawah lapisan
serosa yang menutupi ovarium, biasanya kecil, dengan diameter 1- 1,5 cm dan berisi
cairan serosa yang bening, tetapi ada kalanya penimbunan cairan cukup banyak,
sampai mencapai diameter 4 hingga 5 cm sehingga dapat di raba massa dan
menimbulkan nyeri panggul. Jika kecil, kista ini dilapisi granulosa atau sel teka,
tetapi seiring dengan penimbunan cairan timbul tekanan yang dapat menyebabkan
atropi sel tersebut. Kadang kadang kista ini pecah, menimbulkan perdarahan
intraperitonium, dan gejala abdomen akut. (Robbins, 2007)
Pathway
1.1.4 Manifestasi Klinis
Sebagian besar kista ovarium tidak menimbulkan gejala, atau hanya sedikit
nyeri yang tidak berbahaya. Tetapi ada pula kista yang berkembang menjadi besar
dan menimpulkan nyeri yang tajam. Pemastian penyakit tidak bisa dilihat dari gejala-
gejala saja karena mungkin gejalanya mirip dengan keadaan lain seperti
endometriosis, radang panggul, kehamilan ektopik (di luar rahim) atau kanker
ovarium. Meski demikian, penting untuk memperhatikan setiap gejala atau perubahan
ditubuh Anda untuk mengetahui gejala mana yang serius. Gejala-gejala berikut
mungkin muncul bila anda mempunyai kista ovarium :
1. Perut terasa penuh, berat, kembung
2. Perasaan berat pada pelvis
3. Sulit BAB atau konstipasi
4. Haid tidak teratur
5. Nyeri panggul yang menetap atau kambuhan yang dapat menyebar ke
punggung bawah dan paha.
6. Nyeri perut yang tajam dan tiba-tiba
7. Nyeri bersamaan dengan demam
8. Rasa ingin muntah

1.1.5 Komplikasi
1. Torsi
Komplikasi yang paling sering terjadi pada tumor dengan ukuran sedang.
Adanya putaran menyebebkan gangguan peredaran darah yang disebabkan
oleh torsi, ini terutama mengenai susunan vena saja. Torsi yang berlebihan
menyebabkan kista terlepas sama sekali. Peristiwa torsi kadang-kadang
disertai rasa nyeri yang hebat dan terus-menerus, terkadang rasa nyeri ini
hanya sebentar.
2. Ruptur dari kista
Hal ini disertai gejala sakit, enek dan muntah. Bila ada pembuluh darah yang
pecah dapat disertai gejala syok
3. Supurasi dari kista
Peradangan kista dapat terjadi setelah torsi/ berdiri sindiri secara secara
hematogen/ limfogen.
Gejala peradangan seperti sakit, nyeri tekan, perut tegang, demam dan
terositis.
4. Perubahan keganasan
Dari suatu tumor kistik ovarium benigna dapat terjadi keganasan
5. Partus lama/macet
Akibat dari tumor/kistoma ovarii yang cukup besar dapat menyebabkan
kelainan kelainan letak janin dalam rahim yang menghalangi masuknya
kepala janin kedalam panggul.
6. Infertilitas
Bagi pasien wanita pre manopause dengan tindakan histerektomi.

1.1.6 Klasifikasi
1 Kista Ovarium Non Neoplastik (Fungsional)
a Kista folikel
Kista folikel berkembang pada wanita muda, sebagian akibat folikel de graft
yang matang karena tidak dapat menyerap cairan setelah ovulsi. Kista ini bisanya
asimptomotik kecuali jika robek, dimana kasus ini terdapat nyeri pada panggul. Jika
kista tidak robek, bisanya meyusut setelah 2-3 siklus menstrusi.
b Kista corpus luteum
Terjadi setelah ovulasi dan karena peningkatan sekresi dari progesteron akibat
dari peningkatan cairan di korpus luteum ditandai dengan nyeri, tendenderness pada
ovari, keterlambatan menstuasi dan siklus menstuasi yang tidak teratur atau terlalu
panjang. Rupture dapat mengakibatkan haemoraghe intraperitoneal. Biasanya kista
corpus luteum hilang selama 1-2 siklus menstruasi.
c Sindroma rolisistik ovarium
Terjadi ketika endokrin tidak seimbang sebagai akibat dari estrogen yang
terlalu tinggi, testosteron dan LH serta penurunan sekresi FSH. Tanda dan gejala
terdiri dari obesitas, hirsurism (kelebihan rambut di badan) mens tidak teratur,
infertilitas.
d Kista Theca- lutein
Biasanya bersama dangan mola hydatidosa. Kista ini berkembang akibat lamanya
stimulasi ovarium dari human chorionik gonadotropine (HCG).

2. Kista Ovarium Plastik (Abnormal)


a Kistadenoma
Berasal dari pembungkus ovarium yang tumbuh menjadi kista. Kista ini juga
dapat menyerang ovarium kanan atau kiri. Gejala yang timbul biasanya akibat
penekanan pada bagian tubuh sekitar seperti vesika urinaria sehingga dapat
menyebabkan inkontinensia atau retensi. Jarang terjadi tapi mudah menjadi ganas
terutama pada usia di atas 45 tahun atau kurang dari 20 tahun.
b Kista coklat (endometrioma)
Terjadi karena lapisan di dalam rahim tidak terletak di dalam rahim tapi melekat
pada dinding luar indung telur. Akibatnya, setiap kali haid, lapisan ini akan
menghasilkan darah terus menerus yang akan tertimbun di dalam ovarium dan
menjadi kista. Kista ini dapat terjadi pada satu ovarium. Timbul gejala utama yaitu
rasa sakit terutama ketika haid atau bersenggama.
c Kista dermoid
Dinding kista keabu-abuan dan agak tipis, konsistensi sebagian kistik kenyal dan
sebagian lagi padat. Dapat terjadi perubahan kearah keganasan, seperti karsinoma
epidermoid. Kista ini diduga berasal dari sel telur melalui proses partenogenesis.
Gambaran klinis adalah nyeri mendadak diperut bagian bawah karena torsi tangkai
kista.
d Kista endometriosis
Merupakan kista yang terjadi karena ada bagian endometrium yang berada di luar
rahim. Kista ini berkembang bersamaan dengan tumbuhnya lapisan endometrium
setiap bulan sehingga menimbulkan nyeri hebat, terutama saat menstruasi dan
infertilitas.
e Kista hemorhage
Merupakan kista fungsional yang disertai perdarahan sehingga menimbulkan
nyeri di salah satu sisi perut bagian bawah.
f Kista lutein
Merupakan kista yang sering terjadi saat kehamilan. Kista lutein yang
sesungguhnya, umumnya berasal dari korpus luteum haematoma.
g Kista polikistik ovarium
Merupakan kista yang terjadi karena kista tidak dapat pecah dan melepaskan sel
telur secara kontinyu. Biasanya terjadi setiap bulan. Ovarium akan membesar karena
bertumpuknya kista ini. Untuk kista polikistik ovarium yang menetap (persisten),
operasi harus dilakukan untuk mengangkat kista tersebut agar tidak menimbulkan
gangguan dan rasa sakit.

1.1.7 Pemeriksaan Penunjang


Pemastian diagnosis untuk kista ovarium dapat dilakukan dengan pemeriksaan:
1. Ultrasonografi (USG)
Tindakan ini tidak menyakitkan, alat peraba (transducer) digunakan untuk
mengirim dan menerima gelombang suara frekuensi tinggi (ultrasound) yang
menembus bagian panggul, dan menampilkan gambaran rahim dan ovarium di
layar monitor. Gambaran ini dapat dicetak dan dianalisis oleh dokter untuk
memastikan keberadaan kista, membantu mengenali lokasinya dan
menentukan apakah isi kista cairan atau padat. Kista berisi cairan cenderung
lebih jinak, kista berisi material padat memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
2. Laparoskopi
Dengan laparoskopi (alat teropong ringan dan tipis dimasukkan melalui
pembedahan kecil di bawah pusar) dokter dapat melihat ovarium, menghisap
cairan dari kista atau mengambil bahan percontoh untuk biopsi.
3. Hitung darah lengkap
Penurunan Hb dapat menunjukkan anemia kronis.

1.1.8 Penatalaksanaan
Pada kista ovarium dengan keluhan nyeri perut dilakukan laparatomi, pada kista
ovarium asimtomatik besarnya lebih 10 cm, dilakukan laparatomi pada trimester ke
dua kehamilan, kista yang kecil (<5cm) umumnya tidak memerlukan tindakan
operatif, kista 5-10 cm, memerlukan observasi; jika menetap atau membesar, lakukan
laparotomi, jika pada laparotomi ada kecurigaan keganasan, pasien perlu dirujuk
kerumah sakit yang lebih lengkap untuk evaluasi dan penanganan selanjutnya.
(Saifuddin, 2002).
Dalam triwulan I sebaiknya pengangkatan tumor ditunda sampai kehamilan
mencapai 16 minggu. Saat operasi yang paling baik ialah dalam kehamilan antara 16
dan 20 minggu. Operasi dalam kehamilan muda dapat disusul oleh abortus apabila
korpus luteum graviditatis yang menghasilkan progesteron ikut terangkat. Dalam hal
demikian perlu diberikan terapi penggantian dengan suntikan progestin sampai
kehamilan lewat 16 minggu. Apabila operasi dilakukan setelah kehamilan mencapai
16 minggu, maka hal tersebut di atas tidak usah dikhawatirkan karena plasenta sudah
terbentuk lengkap, fungsi korpus luteum diambil alih oleh plasenta, dan produksi
progesteron berlangsung terus walaupun korpus luteum terus terangkat. Sebaliknya
rangsangan mekanis pada uterus waktu operasi sukar dihindarkan dengan akibat
partus prematurus.(Saifuddin, 2002).
Mengenai cara mengatasi kista satu-satunya jalan yang paling efektif dengan
mengangkat kista melalui operasi.
Apabila tumor baru diketahui dalam kehamilan tua dan tidak menyebabkan
penyulit obstetric atau gejala-gejala akut, atau tidak mencurigakan akan mengganas,
maka kehamilan dapat di biarkan sampai berlangsung partus spontan. Dan operasi
baru dilakukan dalam masa nifas. Akan tetapi apabila tumor terkurung dalam
panggul, sectio sesarea merupakan tindakan pengakhiran kehamilan atau persalinan
yang paling aman.
Dalam persalinan dapat dicoba secara hati-hati reposisi tumor yang
menghalang-halangi turunnya kepala, asal disadari bahwa tumor kistik dapat pecah,
apabila reposisi sudah kembali, anak dibiarkan lahir spontan dan tumor diangkat
dalam masa nifas. lain hanya dengan tumor yang dianggap ganas atau yang disertai
gejala-gejala akut. Dalam hal ini operasi harus segera dilakukan tanpa menghiraukan
umur kehamilan.

1.2 Manajemen Keperawatan


1.2.1 Pengkajian
1. Identitas klien
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, agama dan
alamat, serta data penanggung jawab.
2. Keluhan klien saat masuk rumah sakit
Biasanya klien merasa nyeri pada daerah perut dan terasa ada massa di daerah
abdomen, menstruasi yang tidak berhenti-henti.
3. Riwayat Kesehatan
- Riwayat kesehatan sekarang
Keluhan yang dirasakan klien adalah nyeri pada daerah abdomen bawah,
ada pembengkakan pada daerah perut, menstruasi yang tidak berhenti, rasa
mual dan muntah.
- Riwayat kesehatan dahulu
Sebelumnya tidak ada keluhan.
- Riwayat kesehatan keluarga
Kista ovarium bukan penyakit menular/keturunan.
4. Pemeriksaan Fisik
Dilakukan mulai dari kepala sampai ekstremitas bawah secara sistematis.
a. Kepala
- Hygiene rambut
- Keadaan rambut
b. Mata
- Sklera : ikterik/tidak
- Konjungtiva : anemis/tidak
c. Leher
- pembengkakan kelenjer tyroid
d. Pernapasan
- Jenis pernapasan
- Bunyi napas
e. Abdomen
- Nyeri tekan pada abdomen.
- Teraba massa pada abdomen.
f. Ekstremitas
- Nyeri panggul saat beraktivitas.
- Tidak ada kelemahan.
g. Eliminasi
- Adanya konstipasi

1.2.2 Diagnosa Keperawatan


Pre Op
1. Nyeri akut berhubungan dengan proses penyakit (penekanan) jaringan
pada organ ruang abdomen.
2. Cemas berhubungan dengan diagnosis dan rencana pembedahan
Post operasi
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injury fisik
2. Risiko infeksi berhubungan dengan tindakan invasif pembedahan

1.2.3 Intervensi Keperawatan


Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional
keperawatan
1. Nyeri Setelah 1. Kaji 1. Sebagai indicator
akut dilakukan karakteristik nyeri untuk menentukan
berhubung tindakan secara intervensi
an dengan keperawatan komprehensif 2. Teknik relaksasi
proses diharapkan: ( penyebab, dapat membantu
penyakit KH kualitas, mengurangi nyeri.
(penekana 1. Melapor karakteristik, 3. Perubahan TTV
n) jaringan kan nyeri waktu) merupakan Identifikasi
pada berkurang 2. Ajarkan klien terhadap
organ 2. Skala teknik relaksasi perkembangan pasien.
ruang Nyeri 1- 5 seperti teknik 4. Posisi yang
abdomen. 3. Ekspresi nafas dalam dan nyaman juga dapat
tidak distraksi. mengurangi rasa nyeri.
meringis 3. Monitor TTV 5. Membantu
pasien. menghilangkan nyeri
4. Atur posisi yang dialami pasien.
pasien senyaman
mungkin.
5. Kolaborasi
dalam pemberian
obat analgetik.
2. Cem Setelah 1. Kaji 1. Mengetahui kondisi
as dilakukan kecemasan klien klien dengan menggali
berhubung tindakan (penyebab) informasi untuk
an dengan keperawatan 2. Dorong klien mengetahui penyebab
diagnosis diharapkan: agar mau kecemasan klien.
dan KH: mengungkapkan 2. Berikan klien ruang
rencana 1. Klien tidak perasaannya. yang nyaman dengan
pembedah menunjukan 3. Beri klien privasi yang terjaga
an kecemasan. penjelasan tentang dalam membicarakan
2. TTV dalam tindakan yang akan tentang masalah klien
batas normal dilakukan. agar klien bebas
4. Libatkan mengungkapkan
keluarga/ orang masalahnya.
terdekat dalam 3. Membeikan penjelasan
pengambilan yang dibutuhkan klien
keputusan yang agar klien mengerti
penting. bahwa tindakan yang
dilakukan untuk
mempercepat
kesembuhan klien
sehingga dapat
mengurangi rasa ceamas
klien.
4. Keluarga dan orang
terdekat sebagai
pendukung dalam setiap
keputusan yang dipilih
oleh klien.
3. Risik Setelah 1. Kaji adanya 1. Mengetahui kondisi
o infeksi dilakukan tanda-tanda infeksi. klien dan sebagai
berhubung tindakan 2. Monitor vital indicator untuk
an dengan keperawatan sign klien. melakukan tindakan
tindakan diharapkan: 3. Lakukan selanjutnya.
invasif KH: tindakan aseptic 2. Jika terjadi infeksi
pembedah Tidak terdapat dalam melakukan biasanya suhu tubuh
an. tanda- tanda perawatan pada klien meningkat.
infeksi seperti klien terutama pada 3. Mencegah terpaparnya
kalor, dolor, luka bekas insisi. kuman atau bakteri agar
rubor, tumor 4. Anjurkan juga tidak menimbulkan
dan fungsi kepada keluarga infeksi pada luka insisi.
laesa. agar tetap menjaga 4. Mencegah terpaparnya
kebersihan kuman atau bakteri agar
lingkungan klien. tidak menimbulkan
5. Kolaborasi infeksi pada luka insisi.
dengan tenaga 5. Sebagai data
medis untuk penunjang dalam
melakukan cek lab pemberian terapi.
memantau WBC 6. Mengobati infeksi
klien. yang dialami klien.
6. Jika WBC
tinggi kolaborasi
dalam pemberian
antibiotic.

1.2.4 Implementasi Keperawatan


Implementasi merupakan tindakan yang sesuai dengan yang telah
direncanakan, mencakup tindakan mandiri dan kolaborasi. Tindakan mandiri adalah
tindakan keperawatan berdasarkan analisis dan kesimpulan perawat dan bukan atas
putunjuk tenaga kesehatan lain. Tindakan kolaborasi adalah tindakan keperawatan
yang didasarkan oleh hasil keputusan bersama dengan dokter atau petugas kesehatan
lain.

1.2.5 Evaluasi
Evaluasi merupakan kegiatan membandingkan antara hasil implementasi
dengan criteria dan standar yang telah ditetapkan untuk melihat keberhasilannya.
Kerangka kerja valuasi sudah terkandung dalam rencana perawatan jika secara jelas
telah digambarkan tujuan perilaku yang spesifik maka hal ini dapat berfungsi sebagai
criteria evaluasi bagi tingkat aktivitas yang telah dicapai (Friedman; Widiastuty,
2014)
DAFTAR PUSTAKA

Bobak. 2005. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Jakarta : EGC


Carpenito- Moyet,Lynda juall. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 10.
Jakarta: EGC.
Doenges E Marilynn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan.Jakarta : EGC.
Farrer, Helen. 2001. Perawatan Maternitas. Jakarta: EGC
Llewellyn-Jones, Derek. 2002. Dasar-Dasar Obstetri Dan Ginekologi. Jakarta :
Hipokartes
Purwaningsih, Wahyu. 2010. Asuhan Keperawatan Maternitas. Yogyakarta: Nuha
Medika.
Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Suddart Vol.2 Edisi 8. Jakarta : EGC.