Anda di halaman 1dari 4

MANIFESTASI TUBERKULOSIS ORAL:

LANGKAH UNTUK DIAGNOSIS DINI

ABSTRAK

Tuberkulosis adalah penyakit infeksi kronis yang menyerang setiap bagian dari tubuh
termasuk mulut. Diawali dengan infeksi pada paru, TB dapat menyebar secara hematogen ke
bagian tubuh lain termasuk mandibula atau maksila. Hal ini terjadi di mulut dan melibatkan
lidah dengan struktur dan bentuk yang tidak biasa. Lesi pada oral penting untuk diagnosis dini
tuberkulosis primer.

KATA PENGANTAR
Tuberkulosis adalah penyakit granumalutosa kornis yang disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosis. Tuberkulosis menjadi masalah utama kesehatan di seluruh dunia
selama berabadabad. Prevalensi tuberkulosis di dunia cenderung menurun dalam satu dekade
terakhir, tetapi prevalensi tuberkulosis di negaranegara Asia masih sangat tinggi.
Meskipun manifestasi oral pada tuberkulosis merupakan kejadian yang langka, tapi dapat
diperkirakan sebanyak 0,15% dari seluruh kasus infeksi tuberkulosis. Lesi oral tersebut
biasanya disebabkan oleh inokulasi sekunder dari sputum yang terinfeksi ataupun oleh
penyebaran hematogen.
Saat ini, manifestasi oral pada TB muncul kembali di samping banyaknya infeksi
ektrapulmonal yang terlupakan sebagai konsekuensi dari wabah dan munculnya TB yang
resisten terhadap obat dan penurunan sistem kekebalan tubuh.

LATAR BELAKANG
Sejarah Tuberkulosis dimulai sekitar 15.00020.000 tahun yang lalu. Tuberkulosis
ditemukan di Mesir, Cina, dan India. Arkeolog mendeteksi spinal tuberkulosis sebagai Potts
diseases pada mumi Mesir. Pada abad ke-18, angka kejadian tuberkulosis mengalami
peningkatan sebanyak 900 kemarin dalam 100.000 populasi.
Setelah Robert Koch menemukan organisme penyebab tuberkulosis pada tahun 1882,
Edward Livingston Trudeau memulai konsep mengisolasi pasien tuberkulosis dan memberi
mereka tempat untuk beristirahat serta asupan nutrisi.
Kemudian, Bacilus Calmette Huering (BCG) diciptakan oleh Albert Calmette dan
Carmille Guerin di Perancis pada tahun 1908. Namun, BCG baru digunakan pada tahun 1921.
Dengan demikian, hal tersebut membuat revolusi dan sekarang vaksin ini dimasukkan
dalam daftar WHO sebagai obat yang paling penting untuk sistem kesehatan dasar. Meskipun
angka kejadian TB menurun di masa ini, pemberantasan penyakit ini secara tuntas tampaknya
sulit karena infeksi bersamaan HIV dan berkembangnya strain yang resisten secara luas.

BEBAN GLOBAL DARI PENYAKIT DAN PREVALENSI PENYAKIT


Menurut WHO (2013), sekitar 8,6 juta orang di seluruh dunia terinfeksi tuberkulosis.
Angka kematian karena infeksi TB di dunia sebesar 1,3 juta. Diperkirakan sekitar 1,1 juta
(13%) dari 8,6 juta orang yang terinfeksi TB juga positif terinfeksi HIV. Sekitar 75% kasus
tersebut berada di daerah Afrika.
HIV1 yang terkait dengan TB telah mencapai proporsi epidemis pada banyak negara di
Afrika. Prevalensi dan insidensi TB memiliki jumlah yang sama pada individu dengan HIV
yang positif maupun negatif, tetapi risiko untuk TB yang aktif meningkat pada subjek dengan
hasil seropositive. Masalah pada kasus TB dapat terus meningkat karena kemunculan strains
MDR dari M.TB, yang mana merupakan ancaman yang serius pada pasien HIVAIDS yang
memiliki angka mortalitas tinggi.
Mayoritas kasus di seluruh dunia pada tahun 2012 berada di Asia Tenggara (29%), Afrika
(27%) dan Pasifik Barat (19%) daerah. India dan China sendiri menyumbang 26% dan 12%
dari total kasus masing-masing.
Lesi oral tuberkulosis memiliki kejadian yang relatif langka. Insiden ini telah dilaporkan
kurang dari 0,5-1% dari seluruh pasien tuberkulosis.
Air liur dianggap memiliki peran penting yang menjelaskan kurangnya lesi oral
meskipun sejumlah besar bakteri basil ditemukan dalam sputum dalam kasuskasus TB paru.
Faktor lain yang berperan adalah terdapatnya saprophytes, resistensi otot lurik terhadap invasi
bakteri, dan ketebalan darei pitel pelindung. Hal ini diyakini bahwa organisme memasuki
mukosa melalui celah kecil di epitel permukaan, yang membuatnya menjadi tempat favorit
untuk kolonisasi bakteri. Faktor lokal yang dapat memfasilitasi invasi bakteri ke mukosa mulut
termasuk kebersihan mulut yang buruk, leukoplakia, trauma lokal, dan iritasi lainnya. Inokulasi
pada pasien biasanya merupakan hasil dari sputum yang terinfeksi atau penyebaran secara
hematogen atau limpatik.
Kondisi yang menjadi predisposisi penyakit ini termasuk kehidupan perkotaan yang
padat, penyalahgunaan obatobatan, tingkat kebersihan dan kesehatan yang buruk, serta
kemiskinan. Infeksi virus seperti HIV dengan atau tanpa AIDS menyebabkan imunosupresi
yang akhir-akhir ini muncul sebagai faktor risiko yang sangat signifikan untuk perkembangan
TB.

MANIFESTASI ORAL TUBERKULOSIS

Lesi TB oral dapat terjadi baik secara primer atau sekunder. Lesi primer jarang terjadi,

terjadi pada pasien yang lebih muda, dan timbul sebagai ulkus tunggal yang nyeri dengan
pembesaran kelenjar getah bening regional. Lesi sekunder lebih umum terjadi, sering dikaitkan
dengan penyakit paru, biasanya timbul sebagai ulkus tunggal, berindurasi, tidak teratur dan
nyeri yang ditutupi oleh eksudat inflamasi pada pasien dari semua kelompok usia, tetapi lebih
umum pada pasien paruh baya dan lanjut usia.
TB oral dapat terjadi pada setiap lokasi di mukosa mulut, tetapi lidah merupakan lokasi
yang paling sering. Selain itu dapat juga terjadi di lokasi yang lain seperti langit-langit, bibir,
mukosa bukal, gingiva, tonsil palatina, dan dasar mulut. Kelenjar ludah, amandel, dan uvula
juga sering terlibat. TB oral primer dapat hadir sebagai ulkus yang tidak nyeri disertai
pembesaran kelenjar getah bening regional.
Lesi oral dapat timbul dalam berbagai bentuk, seperti ulkus, nodul, tuberkuloma, dan
granuloma periapikal. Manifestasi oral TB juga bisa dalam bentuk ulkus dangkal, patch, lesi
jaringan lunak yang mengalami indurasi, atau bahkan lesi di dalam rahang dalam bentuk
osteomyelitis TB dan gambaran radiolusen tulang. Dari semua lesi oral ini, bentuk ulser adalah
bentuk yang paling umum terjadi. Ulkus tersebut sering disertai nyeri, tanpa kaseasi dari
kelenjar getah bening yang terkait.
Lesi oral TB tidak spesifik dalam gejala klinis dan sering diabaikan dalam diagnosis
diferensial, terutama ketika lesi oral yang hadir sebelum gejala sistemik timbul.

Keterlibatan gingiva primer lebih sering terjadi pada anak-anak dan remaja dari pada

dewasa. Lesi biasanya tampak sebagai ulkus tunggal yang menyakitkan yang semakin
memanjang dari margin gingiva ke kedalaman adjacent vestibula yang berdekatan dan sering
dikaitkan dengan pembesaran kelenjar getah bening di leher. Biasanya lesi yang terbentuk bisa
tunggal atau ganda, dengan atau tanpa nyeri dan bentuknya tidak teratur, dikelilingi ulkus
eritem di sekitarnya tanpa lesi indurasi, lesi satelit umum ditemukan.
Ketika TB oral terjadi sebagai lesi primer, ulkus menjadi manefetasi klinis yang paling
umum terjadi yang biasanya berkembang sepanjang tepi lateral lidah yang bersentuhan dengan
gigi yang kasar, tajam, atau rusak atau di lokasi iritasi lainnya. Pasien dengan lesi TB oral
sering memiliki riwayat trauma sebelumnya. Setiap area iritasi kronis atau peradangan dapat
mendukung lokalisasi Mycobacterium. Lesi TB pada lidah memiliki karakteristik lendir tebal
di dasarnya. Lesi lidah ini ditandai dengan rasa sakit tak henti-hentinya dan progresif yang
mengganggu proses asupan nutrisi dan istirahat. Ulkus TB pada lidah mungkin melibatkan
ujung, margin lateral, dorsum, garis tengah, dan pangkal lidah. Betuknya tidak teratur, pucat,
dan lembab dengan margin terbalik dan granulasi di dasar disertai pengelupasan jaringan.
Dengan meningkatnya jumlah kasus TB, bentuk yang tidak biasa dari penyakit pada
rongga mulut lebih mungkin terjadi dan dapat salah didiagnosis. Meskipun jarang, dokter dan
dokter gigi harus menyadari lesi oral TB dan mempertimbangkan kondisi tersebut sebagai
diagnosis diferensial dari ulkus oral. TB rongga mulut sering menstimulasi lesi kanker dan
lain-lain seperti ulkus traumatis, ulkus aftosa, aktinomikosis, ulkus sifilis, atau granuloma
Wegener. Ulkus traumatik yang terjadi di daerah-daerah iritasi yang kronis dapat timbul dalam
kondisi akut dan nyeri. Selain itu, sumber iritasi biasanya jelas pada saat pemeriksaan. Ulkus
kronis dengan indurasi harus dibedakan dari karsinoma, seperti pada lesi TB lain dari kepala
dan leher yang karakteristiknya bisa mirip satu sama lain dan sering timbul bersamaan.