Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Lansia atau lanjut usia merupakan tahap terakhir dalam tahap

pertumbuhan. Lanjut usia merupakan proses alami yang tidak dapat dihindari

oleh setiap individu. Proses menua akan terjadi perubahan-perubahan baik

anatomis, biologis, fisiologis maupun psikologis. Gejala-gejala kemunduran

yang terjadi antara lain kulit mulai kehilangan elastisitasnya, timbul keriput,

mulai beruban, pendengaran dan penglihatan berkurang, mudah lelah, gerakan

mulai lamban dan kurang lincah, perubahan anatomi jantung dan pembuluh

darah. Jantung mengalami pelebaran dan pembuluh darah kehilangan

elastistasnya, hal ini berpengaruh pada pengaturan tekanan darah serta bisa

menyebakan hipertensi (Potter & Perry, 2010). Menurut Azizah (2011), lanjut

usia adalah bagian dari proses tumbuh kembang. Manusia tidak secara tiba-

tiba menjadi tua, tetapi berkembang dari bayi, anak-anak, dewasa, dan

akhirnya menjadi tua. Dengan perubahan fisik dan tingkah laku yang dapat

diramalkan yang terjadi pada semua orang pada saat mereka mencapai usia

tahap perkembangan tertentu. Lansia merupakan suatu proses yang alami,

semua orang akan mengalami proses menjadi tua dan masa tua merupakan

masa hidup. Dan dimasa ini juga seseorang akan mengalami kemunduran

fisik, mental dan sosial secara bertahap. Menurut Nugroho (2008), saat ini di
seluruh dunia, jumlah lansia diperkirakan lebih dari 629 juta jiwa dengan usia

rata-rata 60 tahun dan diperkirakan pada tahun 2025 akan mencapai 1,2

milyar orang. Kemajuan di bidang kesehatan, meningkatnya sosial ekonomi

masyarakat dan semakin meningkatnya pengetahuan masyarakat yang

bermuara dengan meningkatnya pada kesejahteraan rakyat akan

meningkatnya usia harapan hidup (Anonim 1, 2012). Berdasarkan data dari

lembaga kesehatan dunia (WHO) menyebutkan bahwa apabila tahun 2010

angka harapan hidup usia diatas 60 tahun mencapai 20,7 juta orang kemudian

naik menjadi 36 juta orang. Kenaikan tersebut diprediksi akan terus

bertambah hingga mencapai 71 juta orang pada tahun 2050 (Sugandi, 2012).

Sedangkan menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010 angka

harapan hidup perempuan adalah 74 tahun, sedangkan laki-laki adalah 51

tahun (Harnowo, 2012). Penduduk lanjut usia beberapa tahun terakhir

mengalami peningkatan yang signifikan. Tahun 2007, jumlah penduduk lanjut

usia sebesar 18,96 juta jiwa dan meningkat menjadi 20.547.541 juta jiwa pada

tahun 2009. Jumlah lansia di Indonesia termasuk tersbesar keempat setelah

Cina, India, dan Jepang. Usia harapan hidup perempuan lebih panjang

dibandingkan laki-laki, maka penduduk lanjut usia perempuan lebih banyak

dibandingkan laki-laki 11,29 juta jiwa berbanding 9,26 juta jiwa.

Permasalahan lanjut usia secara umum di Indonesia didominasi oleh

perempuan (Badan Pusat Statistik, 2010). Berdasarkan data dari Biro Pusat
Statistik (BPS) (2009), menyatakan bahwa peningkatan jumlah lansia di

Indonesia pada tahun 2000-2011baik secara absolute maupun persentase

mengalami peningkatan. Persentase penduduk lansia meningkat dari 9,27%

pada tahun 2000 menjadi 10,57% pada tahun 2011. Hal ini antara lain

disebabkan oleh meningkatnya usia harapan hidup sebagai hasil dari

pembangunan di bidang kesehatan. Jumlah penduduk di Jawa Tengah pada

tahun 2011 berdasarkan proyeksi penduduk tahun 2010 menjadi 3,49 juta.

Provinsi Jawa Tengah (jateng) termasuk satu dari tujuh provinsi di indonesia

yang berpenduduk dengan struktur tua (lansia). Menurut data dari Departemen

Sosial (Depsos) menyebutkan, jumlah penduduk lansia tahun 2020 di

Indonesia diperkirakan akan mencapai 28,8 juta (11,34%). Di Indonesia

terdapat 7% penduduknya adalah lansia. Berdasarkan usia

kronologis/biologisnya, lanjut usia dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu usia

pertengahan (middle age) antara usia 45-59 tahun, lanjut usia (elderly) berusia

antara 60-74 tahun, lanjut usia tua (old) usia 75-90 tahun, dan usia sangat tua

(very old) di atas 90 tahun (Azizah, 2011).

Hipertensi dan penyakit kardiovaskuler masih cukup tinggi dan

bahkan cenderung meningkat seiring dengan gaya hidup yang jauh dari

perilaku hidup bersih dan sehat, mahalnya biaya pengobatan hipertensi,

disertai kurangnya sarana dan prasarana penanggulangan hipertensi. Penyakit

stroke, hipertensi dan penyakit jantung meliputi lebih dari sepertiga penyebab
kematian, dimana stroke menjadi penyebab kematian terbanyak 15,4%,

hipertensi 6,8%, penyakit jantung iskemik 5,1% dan penyakit jantung 4,6%.

Dalam data Riskesdes 2007 juga disebutkan prevalensi hipertensi di Indonesia

berkisar 30% dengan insiden komplikasi penyakit kardiovaskuler lebih

banyak pada perempuan 52% dibandingkan laki-laki 48% (Depkes RI, 2009).

Hipertensi merupakan penyakit yang sering di sebut Silent killer. Pada

masa lansia hipertensi merupakan penyakit yang sering terjadi. Hipertensi

merupakan tekanan darah yang melebihi batas tekanan darah normal dimana

terjadi peningkatan darah sistolik dan diastolik melebihi batas normal yang

terjadi tiga kejadian terpisah pada seseorang, yaitu >160 mmHg untuk tekanan

sistolik dan >90 mmHg untuk tekanan diastolik pada lansia (Smeltzer & Bare,

2013).

Hipertensi merupakan masalah utama yang sering ditemui, karena

angka kejadiannya yang selalu meningkat setiap tahun. Menurut laporan

World Health Organization (WHO), hipertensi merupakan penyebab nomor

satu kematian di dunia. Data tahun 2010 di Amerika Serikat menunjukkan

bahwa 28,6% orang dewasa berusia 18 tahun ke atas menderita hipertensi

(Papdi, 2013). Sedangkan prevalensi hipertensi di Indonesia yang didapat

melalui pengukuran pada umur 18 tahun adalah sebesar 26,5 %, yang

didapat melalui kuesioner terdiagnosis tenaga kesehatan sebesar 9,4 persen,

yang didiagnosis tenaga kesehatan atau sedang minum obat sebesar 9,5
persen. Jadi, ada 0,1 persen yang minum obat sendiri. Responden yang

mempunyai tekanan darah normal tetapi sedang minum obat hipertensi

sebesar 0.7 persen. Jadi prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 26,5 persen

(25,8% + 0,7 %) ( Riskesdas 2013). Ada beberapa faktor yang berpengaruh

dalam perkemangan hipertensi, faktor tersebut bisa diubah atau di kontrol

seperti diet, berat badan, gaya hidup. Namun, ada beberapa faktor yang yang

tidak bisa di ubah yaitu seperti usia, jenis kelamin, dan genetik. Serta ada

beberapa faktor juga bisa dikaitkan dengan hipertensi, yaitu seseorang yang

menderita penyakit yang dapat meningkatkan tekanan darah. Hal ini sesuai

dengan pendapat Smeltzer & Bare (2013).Peningkatan prevalensi hipertensi

serta tidak terkontrolnya hipertensi menyebabkan komplikasi. Tingginya

tekanan darah yang lama pada penderita seperti pada lansia tentu akan

merusak pembuluh darah di seluruh tubuh, terutama pada mata, jantung,

ginjal dan otak. Oleh karena itu, konsekuensi yang biasa terjadi pada

penderita hipertensi yang lama dan tidak terkontrol adalah gangguan

pengelihatan, oklusi koroner, gagal ginjal, dan stroke. Hal tersebut sesuai

dengan yang dikatakan (Smeltzer & Bare, 2013).

Masa lansia adalah masa perkembangan terakhir dalam hidup

manusia. Perubahan fisik lansia pada sistem kardiovaskuler akan berpengaruh

terhadap tekanan darahnya. Tekanan darah merupakan kekuatan yang

digunakan oleh darah yang bersirkulasi pada dinding-dinding oleh pembuluh


darah dan merupakan satu dari tanda-tanda vital yang utama dari kehidupan,

yang juga termasuk detak jantung, kecepatan pernafasan dan temperatur

(Muhammadun, 2010). Tekanan darah dibagi menjadi dua yaitu sistolik dan

diastolik.

Tekanan darah sistolik adalah tekanan yang dihasilkan otot jantung

untuk mendorong darah dari bilik kiri jantung ke aorta saat jantung

berelaksasi. Tekanan darah diastolik adalah tekanan pada dinding arteri dan

pembuluh darah akibat mengendurnya otot jantung (Pearce, 2004). Menurut

Anggraeni (2012) menyatakan bahwa tekanan darah rendah atau hipotensi

yaitu jika tekanan darah <90/60 mmHg, tekanan darah normal berkisar dari

120/80 mmHg dan dinyatakan hipertensi bila tekanan darahnya >140/90

mmHg.