Anda di halaman 1dari 19

RESTRIKSI PERDAGANGAN INTERNASIONAL

Disusun Oleh:
SARTI SAPUTRA

Dosen Pengampu:
PARDINAL, MM

JURUSAN EKONOMI
SYARIAH
INSTITUT IAI AL-AZHAAR
TAHUN AKADEMIK 2017/2018

i
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, saya ucapkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat serta
hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan tugas Makalah yang berjudul Restriksi
Perdagangan Internasional.
Walaupun masih banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini, namun
saya berharap agar makalah ini dapat dipergunakan dan dimanfaatkan baik di
dalam kampus atau diluar kampus.
Dalam melaksanakan makalah ini banyak pihak yang terlibat dan membantu
sehingga dapat menjadi satu makalah yang dapat di baca dan dimanfaatkan .
Akhirnya kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan. Akhir
kata semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi saya khususnya dan bagi para
pembaca umumnya. Sekian dari saya mengucapkan banyak terimakasih .

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.........................................................................................................ii

DAFTAR ISI...................................................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN.................................................................................................1

A. Latar Belakang.......................................................................................................1

BAB II PEMBAHASAN..................................................................................................3

A. Hambatan dalam pedagangan internasional............................................................3

B. Hambatan dalam memasuki bisnis international....................................................7

C. Macam-macam Restriksi dalam Perdagangan Internasional.....................................8

BAB III PENUTUP........................................................................................................15

A. Kesimpulan..........................................................................................................15

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................16

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Persaingan bisnis di era perdagangan bebas menunjukkan
perkembangan yang pesat sehingga seolah tidak ada batas antar negara.
Indonesia harus berkompetisi dengan negara lain di bidang perdagangan,
baik negara maju maupun negara berkembang. Perdagangan bebas
membuka peluang bagi produsen Indonesia untuk menjual produknya ke
luar negeri dan sebaliknya memberi pilihan produk yang lebih banyak
kepada masyarakat. Setiap negara dapat berkonsentrasi untuk memproduksi
barang tertentu dengan seefisien mungkin untuk meningkatkan kapasitas
ekonomi dunia.
Peran pemerintah diharapkan sangat sedikit dalam perdagangan bebas.
Namun demikian, perdagangan bebas antar- negara yang tidak terkontrol
oleh peran pemerintah dan negara dapat berakibat pada keadaan dimana
pengusaha dalam negeri terutama sektor Usaha Kecil dan Menengah
semakin terpuruk karena berkompetisi dengan pengusaha dari negara maju.
Untuk itu tetap diperlukan peran pemerintah dan kalangan dunia usaha
untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif, agar semua pelaku usaha
dapat tetap bertahan dan bersaing satu sama lain secara sehat. Sistim
perdagangan bebas meminta setiap negara membuka akses yang adil dan
tidak diskriminatif terhadap satu sama lain.

Untuk dapat bersaing pada tingkat perdagangan dunia, maka dunia


usaha dalam negeri harus tumbuh kuat. Untuk cepat tumbuh kuat tentu
salah satunya diperlukan kebijakan pemerintah yang menguntungkan
pengusaha dalam negeri. Meskipun perdagangan bebas berarti tidak ada
batas negara, kebijakan yang menguntungkan masih dapat diciptakan
dengan syarat tidak melawan hukum perdagangan bebas dunia.

1
Kebijakan yang menguntungkan pengusaha dalam negeri dilakukan
oleh negaramaju sebagaimana sikap negara industri maju yang secara tidak
langsung melakukan proteksi terhadap industri dalam negerinya melalui
berbagai isu seperti isu lingkungan hidup, ketenagakerjaan dan lain-lain.
Menghadapi perdagangan bebas dunia, maka kalangan dunia usaha juga
perlu untuk mengambil sikap dalam menjaga keseimbangan dunia usaha
dalam negeri dan luar negeri.

2
BAB II
PEMBAHASAN

Perdagangan internasional adalah perdagangan yang dilakukan suatu


negara dengan negara lain atas dasar saling percaya dan saling
menguntungkan. Perdagangan internasional tidak hanya dilakukan oleh
negara maju saja, namun juga negara berkembang.
Menurut Sadono Sukirno, manfaat perdagangan internasional adalah
memperoleh barang yang tidak dapat diproduksi di negeri sendiri. Banyak
faktor-faktor yang mempengaruhi perbedaan hasil produksi di setiap
negara. Faktor-faktor tersebut diantaranya : Kondisi geografi, iklim, tingkat
penguasaan IPTEK dan lain-lain. Dengan adanya perdagangan
internasional, setiap negara mampu memenuhi kebutuhan yang tidak
diproduksi sendiri.
Dari pengertian diatas seharusnya semua negara terbuka terhadap
perdagangan internasional tetapi kenyataanya tidak. Masih ada beberapa
negara negara terkandang membatasi perdagangan internasional untuk
melindungi para produsen yang tidak sanggup bersaing dalam perdagangan
internasional agar tidak bangkrut yang dapat menyebabkan tingkat
pengangguran di negara tersebut meningkat.1
A. Hambatan dalam pedagangan internasional
Berdasarkan literatur berikut ini beberapa hambatan yang seringkali
muncul dalam perdagangan internasional.

a. Perbedaan Mata Uang Antarnegara


Pada umumnya mata uang setiap negara berbeda-beda. Perbedaan
inilah yang dapat menghambat perdagangan antar negara. Negara yang
melakukan kegiatan ekspor, biasanya meminta kepada negara pengimpor
untuk membayar dengan menggunakan mata uang negara pengekspor.

1
Hartatik Kindarto, IPS Ekonomi kelas IX. (Jakarta : CV Sinar Mulya Pustaka,
2014), h 74-76

3
Pembayarannya tentunya akan berkaitan dengan nilai uang itu sendiri.
Padahal nilai uang setiap negara berbeda-beda. Apabila nilai mata uang
negara pengekspor lebih tinggi daripada nilai mata uang negara pengimpor,
maka dapat menambah pengeluaran bagi negara pengimpor. Dengan
demikian, agar kedua negara diuntungkan dan lebih mudah proses
perdagangannya perlu adanya penetapan mata uang sebagai standar
internasional.

b. Pembayaran Antarnegara Sulit dan Risikonya Besar


Pada saat melakukan kegiatan perdagangan internasional, negara
pengimpor akan mengalami kesulitan dalam hal pembayaran. Apabila
membayarnya dilakukan secara langsung akan mengalami kesulitan. Selain
itu, juga mempunyai risiko yang besar. Oleh karena itu negara pengekspor
tidak mau menerima pembayaran dengan tunai, akan tetapi melalui kliring
internasional atau telegraphic transfer atau menggunakan L/C.

c. Adanya Kebijaksanaan Impor dari Suatu Negara


Setiap negara tentunya akan selalu melindungi barang-barang hasil
produksinya sendiri. Mereka tidak ingin barang-barang produksinya
tersaingi oleh barang-barang dari luar negeri. Oleh karena itu, setiap negara
akan memberlakukan kebijakan untuk melindungi barang-barang dalam
negeri. Salah satunya dengan menetapkan tarif impor. Apabila tarif impor
tinggi maka barang impor tersebut akan menjadi lebih mahal daripada
barang-barang dalam negeri sehingga mengakibatkan masyarakat menjadi
kurang tertarik untuk membeli barang impor. Hal itu akan menjadi
penghambat bagi negara lain untuk melakukan perdagangan.

d. Terjadinya Perang
Terjadinya perang dapat menyebabkan hubungan antar negara
terputus. Selain itu, kondisi perekonomian negara tersebut juga akan

4
mengalami ke lesuan. Sehingga hal ini dapat menyebabkan perdagangan
antarnegara akan terhambat.

e. Adanya Organisasi-Organisasi Ekonomi Regional


Biasanya dalam satu wilayah regional terdapat organisasi-organisasi
ekonomi. Tujuan organisasi-organisasi tersebut untuk memajukan
perekonomian negara-negara anggotanya. Kebijakan serta peraturan yang
dikeluarkannya pun hanya untuk kepentingan Negara-negara anggota.
Sebuah organisasi ekonomi regional akan mengeluarkan peraturan ekspor
dan impor yang khusus untuk negara anggotanya. Akibatnya apabila ada
negara di luar anggota organisasi tersebut melakukan perdagangan dengan
negara anggota akan mengalami kesulitan.

f. Kualitas Sumber Daya yang Rendah


Rendahnya kualitas tenaga kerja dapat menghambat perdagangan
internasional. Mengapa? Karena jika sumber daya manusia rendah,
maka kualitas dari hasil produksi akan rendah pula. Suatu negara yang
memiliki kualitas barang rendah, akan sulit bersaing dengan barang-barang
yang dihasilkan oleh negara lain yang kualitasnya lebih baik. Hal ini
tentunya menjadi penghambat bagi negara yang bersangkutan untuk
melakukan perdagangan internasional.

g. Peraturan administrasi.
Seperti perizinan ekspor-impor, aturan-aturan prosedur ekspor-impor,
masalah pajak, masalah penentuan harga, dan system pembayaran. saat ini
pemerintah mewajibkan penggunaan L/C Letter Of Credit sebagai alat
pembayaran kegiatan ekspor untuk sejumlah industri. Ini untuk
meningkatkan devisa bagi Negara. Karena dengan kewajiban membuka L/C
di dalam negeri setiap pembayaran terhadap produk ekspor diatur dalam
peraturan tersebut.

5
Berikut ini beberapa negara yang membuat terhambatnya
perdagangan internasional waulaupun sudah adanya sistem perjanjian
perdangan bebas yang dibuat oleh semua negara anggota WTO ( World
Things Organizations ).

1. Negara Maju
Contohnya : Jepang
Dimana jepang melakukan penghambatan perdagangan internasional
untuk beras dengan mengenakan terif dan bea masuk sebesar 200 300 %
dari harga produk yang membuat susahnya beras dari negara lain sangat
sulit di pasarkan di jepang karena harga beras impor tersebut kalah bersaing
dengan bersa lokal akibat dari besarnya tarif dan bea masuk yang di buat
negeri sakura tersebut.
Yang mana dari pembatasan ini membuat tingkat impor beras di
jepang akan turun atau sedikit turun dan membuat petani dan pihak yang
berkaitan dengan produksi beras di jepang akan memiliki kehidupan yang
makmur dan mengurangi tingkat pengangguran di negeri sakura tersebut.

2. Negara Berkembang
Contohnya : Indonesia
Dimana baru baru ini indonesia melakukan penghambatan
perdagangan internasional pada produk horikultural dengan melakukan
kuota impor ( jumlah maksimum ) barang horikultural yang dapat di impor
sebab pemerintah indonesia berkata bahwa indonesia lagi surplus barang
horikultural sehingga membuat terbatasnya perdagangan internasional.
Yang mana dari pembatasan ini membuat tingkat impor horikultural di
indonesia turun atau sedikit turun dan membuat petani dan pihak yang
berkaitan dengan barang horikultural tersebut akan mendapatkan
penghargaan atas kerja kerasnya yaitu dimana harga hurikultural tersebut
yang naik karena tak adanya barang horikultural impor dan membuat para

6
petani semakin bersemangat untuk bertani karena kerja kerasnya terbayar
yang membuat kurangnya tingkat pengangguran.
Dan juga melakukan kuota impor itu pemerintah berusaha untuk
menjaga neraca pembayaran agar tidak mengalami defisit sehingga
cadangan devisa indonesia tetap terjaga.
Bisa dibayangkan jika tidak ada kouta impor,hal yang mungkin
yerjadi adalah kalah bersaingnya para petani indonesia dari petani negara
lain yang memiliki keunggulan dalam bidang permodalan dan jumlah
produksi.contohnya saja negera amerika serikat yang mana petaninya
memiliki modal yang besar dan jumlah produksi yang sangat besar karna
pemanfaatan mereka dalam menggunakan teknologi.2

B. Hambatan dalam memasuki bisnis international


Melaksanakan bisnis internasional tentu saja akan lebih banyak
memiliki hambatan ketimbang di pasar domestic. Negara lain tentu saja
akan memiliki berbagai kepentingan yang sering kai menghambat
terlaksannya transaksi bisnis internasional. Disamping itu kebiasaan atau
budaya Negara lain tentu saja akan berbeda dengan negeri sendiri. Oleh
karena itu maka terdapat beberapa hambatan dalam bisnis internasional
yaitu :
1. Batasan perdagangan dan tarif bea masuk
2. Perbedaan bahasa, social budaya/cultur
Perbedaan dalam hal bahasa seringkali merupakan hambatan bagi
kelancaran bisnis Internasional, hal ini disebabkan karena bahasa
adalah merupakan alat komunikasi yang vital baik bahasa lisan
maupun bahasa tulis. Tanpa komunikasi yang baik maka hubungan
bisnis sukar untuk dapat berlangsung dengan Iancar. Hambatan bahasa
saat ini semakin berkurang karena adanya bahasa Internasional yaitu
bahasa lnggris.

2
Nopirin, Ekonomi Internasional (BPFE Yogyakarta : Kencana Prenada Media
Group, 1997), h 46.

7
Perbedaan kondisi sosial budaya merupakan suatu masalah yang
harus dicermati pula dalam melakukan bisnis Internasional. Misalnya
saja pemberian warna terhadap suatu produk ataupun bungkusnya
harus hati-hati karena warna tertentu yang di suatu negara memiliki arti
tertentu di negara lain dapat bermakna yang bertentangan.
3. Kondisi politik dan hukum/perundang-undangan
Hubungan politik yang kurang baik antara satu negara dengan
negara yang lain akan mengakibatkan terbatasnya hubungan bisnis dari
kedua negara tersebut. Misalnya, Amerika yang mengembargo
komoditi perdagangan dengan negara-negara Komunis.
Ketentuan Hukum ataupun Perundang-undang yang berlaku di
suatu negara kadang juga membatasi berlangsungnya bisnis
internasional. Misalnya negara Arab melarang produk yang
mengandung babi.
4. Hambatan Operasional
Hambatan perdagangan atau bisnis internasional yang lain adalah
masalah operasional yakni transportasi atau pengangkutan barang yang
diperdagangkan ke negara yang lain. Transportasi ini seringkali sukar
untuk dilakukan karena antara kedua negara itu belum memiliki jalur
pelayaran kapal laut yang reguler. Hal ini dapat mengakibatkan biaya
pengangkutan atau ekspedisi menjadi sangat mahal yang dikarenakan
pengangkutnya hanya melayani satu negara itu saja.

C. Macam-macam Restriksi dalam Perdagangan Internasional


1. Tarif
Tarif adalah pembebanan pajak atau costum duties terhadap
barang-barang yang melewati batas suatu negara.
a. Tarif digolongkan menjadi.
1. Bea ekspor adalah pajak/bea yang dikenakan terhadap barang
yang diangkut menujuke negara lain. Jadi pajak untuk barang-

8
barang yang keluar dari costum area suatu Negara yang
memungut pajak. Custom area adalah daerah dimana barang-
barang bebas bergerak dengan tidak dikenai bea pabean.
2. Bea Transito adalah pajak/bea yang dikenakanan terhadap barang-
barang yang meliputi wilayah suatu negara dengan ketentuan
bahwa barang tersebut sebagai tujuan akhirnya adalah negara
lain.
3. Bea impor adalah pajak/bea yang dikenakan terhadap brnag-
barang yang masuk dalam custom area suatu negara dengan
ketentuan bahwa negara tersebut sebagai tujuan akhir.

b. Perbedaan tarif menurut jenisnya :


1. Ad valorem duties, yakni bea pabean yang tingginya dinyatakan
dalam presentase dari nilai barang yang dikenakan bea tersebut.
2. Specific duties, yakni bea yang tingginya dinyatakan untuk tiap
ukuran fisik daripada barang.
3. Specific Ad valorem atau compound duties, yakni bea yang
merupakan kombinasi antara specific dan ad valorem. Misalnya
suatu barang tertentu dikenakan 10% tariff ad valorem ditambah
Rp 20,00 untuk setiap unit.

c. Sistem tarif
1. Single-column tariffs, sistem dimana untuk masing-masing
barang hanya mempunyai satu macam tarif. Biasanya sifatnya
autonomous tariffs (tarif yang ditentukan sendiri oleh sesuatu
negara tanpa persetujuan dengan negara lain). Kalau tingginya
tarif ditentukan dengan perjanjian dengan negera lain disebut
Convetional Tariffs.
2. Double-column tariffs, sistem dimana setiap barang mempunyai
2 tarif. Apabila kedua tarif ditentukan sendiri dengan undang-
undang maka disebut bentuk maksimundan minimum. Dalam

9
bentuk ini jika tarif maksimumnya sebagai normal duties maka
tarif minimumnya digunakan untuk barang dari negera-negara
tertentu yang mengadakan perjanjian tarif dengan negara
tersebut, tetapi jika taarif minimumnya sebagai normal duties
maka tarif maksimum digunakan untuk membalas tindakan
negera lain yang membebankan tarif barang yang lebih tinggi.
Jika tarif maksimum sebagai normal duties sedangkan tarif yang
lebih rendah ditentukan berdasarkan perjanjian dengan negara
lain, (jadi autonomous dan conventional) maka bentuk ini disebut
General and Conventional Form
3. Triple-column tariffs, sistem ini digunakan oleh negara penjajah.
Sebenarnya sistem ini diperluas daripada double column tariffs,
yaitu dengan menambah satu macam tariff preference untuk
negara-negara bekas jajahan atau afiliasi politiknya. Sistem ini
sering disebut dengan Preferential System

d. Efek tarif
Pembebanan tarif terhadap sesuatu barang dapat mempunyai
efek terhadap perekonomian suatu negara, khususnya terhadap pasar
barang tersebut. Beberapa macam efek tarif adalah :
a. Efek terhadap harga (prince effect)
b. Efek terhadap konsumsi (consumption effect)
c. Efek terhadap produk (protective/import substitution effect)
d. Efek terhadap redistribusi pendapatan (redistribution effect)

e. Alasan pembebanan tarif


Ada beberapa alasan pembebanan tarif baik yang secara
ekonomis bisa dipertanggung jawabkan, misalnya untuk mencapai
kenaikan penghasilan riil maupun yang secara ekonomis tidak bisa
dipertanggung jawabkan.

10
1. Yang secara ekonomis dapat dipertanggung jawabkan
a. Memperbaiki dasar tukar
Suatu negara dapat mempengaruhi dasar pertukaran antara
ekspor dan impornya melalui pembebanan tarif.Telah dijelaskan
bahwa pembebanan tarif dapat mengurangi keinginan untuk
mengimpor. Ini berarti bahwa untuk sejumlah tertentu ekspor
menghendaki jumlah impor yang lebih besar, sebagaian dari
pada nya diserahkan kepda pemerintah sebagai pembayaran tarif
Karena hal ini menyangkut perubahan di dalam permintaan
dunia akan suatu barang.
b. Infant industry
Industri industri yang sedang tumbuh perlu mendapat
perlindungan terhadap persaingan indutri-industri luar negeri
yang lebih besar dan maju.Pada umumnya industry-industri
yang sedang tumbuh ini effiensinya belum tinggi serta belum
dapat menikmati adanya economies of scale.Oleh karna itu
pembebanan terhadap barang dari luar negeri dapat memberi
perlindungan terhadap industry dalam negeri yang sedang
tumbuh ini.
c. Deversifikasi
Alasan ini sangat erat dengan alasan infrant industry di
atas, tetapi lebih dititik beratkan pada negara yang hnaya
menghasilkan satu atau beberapa macam barang saja. Negara
semacam ini akan mengalami kesulitan apabila harga barang-
barang hasil produksinya dipasaran dunia goncang. Dengan
pembebanan tarif industry dalam negeri dapat berkembang
sehingga dapat memperbanyak jumlah serta jenis barang yang
dihasilkan. Makin banyak jenis barang yang dihasilkan, ekonomi
negara itu akan semakin stabil karena penurunan harga satu jenis
produk mungkin dapat diimbangi dengan kenaikan harga barang
lain.

11
d. Employment
Pembebanan tarif akan mengakibatkan turunnya impor
dan kenaikan produksi dalam negeri. Kenaikan produksi ini
berarti pula kenaikan kesempatan kerja.Dalam hal ini
pembebanan tarif dapat digunakan untuk memperluas
kesempatan kerja.
e. Anti dumping
dumpingberarti menjual barang diluar negeri jauh lebih
murah daripada di dalam negeri. Ini tidak berarti bahwa harga
yang murah tersebut dibawah harga pokok.Negara yang
menjalankan politik dumping pada umumnya bermaksud untuk
menguasai pasar.Untuk mencegah politik yang demikian ini
suatu negara dapat membebankan tarif terhadap barang yang
berasal dari negara yang menjalankan politik dumping supaya
tidak terkena akibat jelek daripada pollitik tersebut.
2. Yang secara ekonomis tidak dapat dipertanggungjawabkan:
a. To keep money at home
Alasan ini mengemukakan bahwa apabila penduduk suatu
negara itu membeli barang dari luar negeri maka negara tersebut
memperoleh barang dan negara lain memperoleh uang. Tetapi
apabila membeli barang produksi dalam negeri maka uang
tersebut tidak lari keluar negeri. Jadi dengan membebankan tarif
impor, maka impor akan berkurang sehingga akan mencegah
larinya uang keluar negeri.
b. The low-wage
Negara yang tingkat upahnya tinggi tidak mengadakan
hubungan dengan negara yang tingkat upahnya rendah tanpa
menganggung resiko akan turunnya tingkat upah. Turunnya
tingkat upah berarti pula turunnya standard hidup.Oleh karena
itu untuk melindungi para pekerja yang upahnya tinggi dari

12
persaingan para pekerja yang upahnya rendah maka negara yang
tingkat upahnya tinggi tersebut perlu membebankan tarif bagi
barang yang berasal dari negara yang tingkat upahnya rendah.
c. Home market
Alasan ini menyatakan bahwa produsen dalam negeri
mempunyai hak terhadap pasar dalam negeri. Tarif akan
mengakibatkan turunnya atau hilangnya impor yang diganti
dengan produksi dalam negeri. Kenaikan produksi berarti
tambahnya kesempatan yang akhirnya berarti pula kenaikan
kegiatan ekonomi.

2. Quota
Quota adalah pembatasan jumlah fisik terhadap barang yang
masuk (quota impor) dan keluar (quota ekspor).
a. Quota impor
Jenisnya quota impor adalah: absolut atau unilateral quota,
negotiated atau bilateral quota, tarif quota dan mixing quota.
1. Absolut atau unilateral quota adalah quota yang besar atau
kecilnya ditentukan sendiri oleh suatu negara tanpa persetujuan
dengan negara lain. Quota semacam ini sering menimbulkan
tindakan balasan oleh negara lain.
2. Negotiated atau bilateral quota adalah quota yang besar atau
kecilnya ditentukan berdasarkan perjanjian antara dua negara atau
lebih.
3. Tarif quota adalah gabungan antara tarif dan quota. Untuk
sejumlah tertentu barang diizinkan masuk (impor) dengan tarif
tertentu, tambahan impor masih diizinkan tetapi dikenakan tarif
yang lebih tinggi.
4. Mixing quota yakni membatasi penggunaan bahan mentah yang
diimpor dalam proporsi tertentu dalam produksi barang akhir.

13
Pembatasan ini untuk mendorong berkembangnya industry
didalam negri.

b. Efek quota impor


Pembatasan jumlah barang yang diimpor akan menyebabkan
berkurangnya barang impor tersebut dipasar dalam negeri,
sedangkan permintaan relatif tetap. Keadaan ini akan
mengakibatkan harga barang impor tersebut dipasar dalam negeri
lebih tinggi daripada dipasar dunia sehingga akan menimbilkan
adanya monopoly profit (keuntungan karena monopoli).

c. Quota ekspor
Seperti juga halnya dengan quota impor, maka ekspor pun
dapat dibatasi jumlahnya. Pembatasan jumlah ekspor ini bertujuan
antara lain:
1. Untuk mencegah barang-barang yang penting jatuh atau
berada ditangan musuh
2. Untuk menjamin tersedianya barang didalam negeri
dalam proporsi yang cukup
3. Untuk mengadakan pengawasan produksi serta
pengendalian harga guna mencapai stabilisasi harga
Quota ekspor biasanya dikenakan terhadap bahan mentah
yang merupakan barang perdagangan penting dan dibawah suatu
pengawasan badan internasional (misalnya kopi dan timah).3

3
Muhni, Abdul, Hambatan-hambatan dalam perdagangan internasional,
(blogspot.com Muhni, 2011) jam 20:27 wib.

14
BAB III
PENUTUP

1 Kesimpulan
Perdagangan internasional diperlukan oleh semua negara termasuk
Indonesia agar dapat memiliki apa yang tidak dimiliki negara tersebut dari
negara lain dengan cara melakukan perdagangan dengan negara lain.
Menurut Amir M.S., bila dibandingkan dengan pelaksanaan
perdagangan di dalam negeri, maka perdagangan internasional sangatlah
rumit dan kompleks. Kerumitan tersebut disebabkan oleh hal-hal berikut.
1. Pembeli dan penjual terpisah oleh batas-batas kenegaraan.
2. Barang harus dikirim dan diangkut dari suatu negara kenegara
lainnya melalui bermacam peraturan seperti pabean, tarif, peraturan
administrasi lainnya yang bersumber dari pembatasan yang
dikeluarkan oleh masing-masing pemerintah.
3. Antara satu negara dengan negara lainnya terdapat perbedaan dalam
bahasa, mata uang, taksiran dan timbangan, hukum dalam
perdagangan, kualitas sumber daya dan sebagainya.
Tetapi walaupun perdagangan internasional tersebut perlu. Negara
tidak harus melakukan perdagangan internasional setiap saat. Ada kalanya
negara tersebut tidak melakukan perdagangan internasional, yaitu impor
barang di saat produksi dalam negeri masih cukup ataupun surplus. Agar
lebih mensejahterakan masyarakat negara tersebut, dan juga untuk
menghemat devisa negara, agar tidak terus mengalami penurunan yang
berpengaruh pada neraca pembayaran negara tersebut, yang memmbuat
neraca pembayaran negara tersebut defisit.
Jadi seperti yang kita ketahui hambatan hambatan yang ada dalam
perdagangan internasional tidak semua berdampak negatif, namun juga ada
yang berdampak bagi pemerintah dan pengusaha-pengusaha kecil di dalam
negeri.

15
DAFTAR PUSTAKA

Nopirin, Ekonomi Internasional, BPFE Yogyakarta : Kencana Prenada


Media Group, 1997.
Kindarto, Hartatik, IPS Ekonomi kelas IX. Jakarta : CV Sinar Mulya
Pustaka, 2014.
Muhni, Abdul, Hambatan-hambatan dalam perdagangan internasional.
(http//amuhni.blogspot.com/2011/04/hambatan-hambatan-dalam-
perdagangan. Di akses tgl 7 April 2017.

16