Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH PATOLOGI SOSIAL

DAMPAK ANCAMAN HUMAN TRAFFICKING DI KOTA BANDUNG

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Patologi Sosial

Oleh:
Syahidah Rizkia 10050013056
Raden M. Ilham 10050013086
Rianti Yunisa 10050013089

Kelas B

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2016
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Permasalahan


Manusia sebagai makhluk sosial sepanjang sejarahnya akan senantiasa
mengadakan interaksi-interaksi sosial dengan sesamanya dan dengan terjadinya
interaksi ini, maka tumbuh dan terciptalah beberapa bentuk pola perilaku manusia di
dalam masyarakat. Pola perilaku tersebut tentunya ada yang selaras dan ada pula yang
menyimpang dari norma-norma atau kaedah-kaedah yang telah disepakati dan
ditetapkan sebagai pedoman pergaulan hidup.
Dengan kemajuan yang pesat dalam gaya hidup dan juga pertumbuhan manusia
yang membludak, menimbulkan permasalahan tersendiri dalam lingkungan masyarakat,
terutama dalam tuntutan ekonomi yang semakin lama semakin mencekik masyarakat,
sehingga bermunculan berbagai cara dalam memenuhi kebutuhan hidupnya termasuk
kriminalitas, dan salah satu caranya adalah human trafficking. Masalah korban
kejahatan menimbulkan berbagai permasalahan dalam masyarakat pada umumnya dan
pada korban/pihak korban kejahatan pada khususnya (orang dewasa, anak). Belum
adanya perhatian dan pelayanan terhadap para korban kejahatan suatu masyarakat
merupakan tanda belum atau kurang adanya keadilan dan pengembangan kesejahteraan
dalam masyarakat tersebut. Ini berarti juga bahwa citra mengenai sesama manusia
dalam masyarakat tersebut masih belum memuaskan dan perlu disempurnakan demi
pembangunan manusia seutuhnya.
Kasus human trafficking khususnya perempuan di bawah umur kembali ramai
dibicarakan masyarakat. Hal ini menjadi topik yang sangat besar karena korbannya
mayoritas adalah perempuan di bawah umur, yang lebih buruk salah satu dari pelakunya
adalah teman dekat mereka atau bahkan orang tua mereka sendiri. Orang tua yang
seharusnya melindungi anak agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik,
kurang memberikan perhatian yang lebih kepada anak mereka. Isu human trafficking
yang marak dibicarakan saat ini jangan dipandang sebelah mata. Masalah ini muncul
akibat dari beberapa aspek salah satunya yang mendasari adalah aspek ekonomi seperti
banyaknya tingkat pengangguran dan kemiskinan yang semakin meluas di negara kita.
Oleh karena itu banyak juga masyarakat yang menghalalkan berbagai cara untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya salah satunya dengan human trafficking. Lesunya
perekonomian menyebabkan banyak keluarga kehilangan sumber pendapatannnya
dalam kondisi ini, human trafficking dianggap memberi kesempatan yang lebih baik
mendapatkan uang.
Banyak perempuan di bawah umur dari desa yang mau meninggalkan kampung
halamannya karena tergiur oleh janji yang diberikan oleh para trafficker untuk bekerja
di kota dengan gaji yang besar, tetapi sesampainya di kota, diperdaya bahkan dipaksa
untuk menjadi pelacur. Namun tidak hanya itu, selain dari aspek ekonomi, kurangnya
aspek pendidikan yang diperoleh mayarakat juga menjadi penyebab maraknya human
trafficking. Dengan kata lain pemahaman masyarakat terhadap masalah masih kurang.
Secara umum, human trafficking terjadi karena ketidaktahuan perempuan di bawah
umur akan pekerjaan yang ditawarkan oleh anggota sindikat, padahal tidak satupun
perempuan di bawah umur berkeinginan mendapat pekerjaan sebagai pelacur.
Perdagangan manusia (Human Trafficking) adalah segala bentuk perekrutan,
perpindahan, pengiriman orang yang bertujuan untuk eksploitasi. Proses Perdagangan
manusia umumnya menggunakan kekerasan, penipuan dan pemaksaan di dalamnya.
Eksploitasinya berbentuk pemaksaan untuk menjadi pekerja seks, kerja paksa,
perbudakan atau segala hal yang mirip dengan perbudakan atau penjualan organ tubuh.
Sementara itu perdagangan anak biasanya berbentuk penjualan anak ke luar negeri
untuk diadopsi, untuk dijadikan pengemis atau untuk pemujaan agama.
Kasus Perdagangan manusia (Human Trafficking) adalah masalah yang sekarang
telah menjadi kasus internasional. Kasus yang diduga merupakan pelanggaran HAM
berat ini ada hampir di setiap negara di dunia. Pemecahan demi pemecahan berusaha
dicari oleh dunia internasional guna meminimalisir kasus ini, namun belum ada suatu
titik terang yang menunjukkan penurunan kasus atau korban perdagangan manusia.
Upaya pencegahan dalam menangani Tindak Pidana Perdagangan Orang
didasarkan pada nilai-nilai luhur, komitmen nasional, dan internasional untuk
melakukan upaya pencegahan sejak dini, penindakan terhadap pelaku, perlindungan
korban, dan peningkatan kerjasama. Untuk itu segala perangkat yang dibutuhkan untuk
merealisasikan komitmen tersebut terus menerus diupayakan, dilengkapi, dan
disempurnakan, baik dari sisi peraturan hingga kepada penganggarannya.
Kasus trafficking dari tahun ke tahun semakin meningkat. Pengiriman tenaga
kerja Indonesia ke luar negeri sering dijadikan modus kejahatan perdagangan manusia.
Para korban perdagangan manusia ini biasanya masuk melalui jalur ilegal melalui para
calo. Setiap tahun sedikitnya 450.000 warga Indonesia (70 persen adalah perempuan)
diberangkatkan sebagai tenaga kerja ke luar negeri. Dari jumlah tersebut sekitar 46
persen terindikasi kuat menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (hasil kajian
Migrant Care Tahun 2009).
Seperti yang terjadi di Kota Bandung Provinsi Jawa Barat, kasus perdagangan
orang sangatlah mengkhawatirkan. Kota bandung merupakan salah satu daerah dimana
tingkat perdagangan manusianya sangat tinggi. Kota Bandung saat ini merupakan salah
satu daerah pengirim (sender area) sekaligus penerima korban perdagangan perempuan
dan anak.
Dengan demikian Kota Bandung menduduki posisi kedua tertinggi untuk daerah
korban trafficking asal Jawa Barat. Hingga kini, kasus-kasus perdagangan orang,
terutama perempuan dan anak tetap terjadi. Berbagai kasus perempuan dan anak-anak
yang diperdagangkan seringkali mereka dipekerjakan di sektor berbahaya, pekerjaan
terlarang, kurir narkoba, untuk kerja paksa, korban eksploitasi seksual dan lain
sebagainya. Fenomena perdagangan manusia, khususnya perempuan atau dikenal
dengan istilah Trafficking, bukanlah merupakan hal yang asing bagi dewasa ini.
Perdagangan manusia diartikan sebagai suatu fenomena perpindahan orang atau
sekelompok orang dari suatu tempat ke tempat lain, yang kemudian dibebani utang
untuk biaya proses berimigrasi.
Didasari berbagai hal yang terjadi, disadari bahwa dalam menangani
komplektisitas permasalahan trafficking, tidak hanya peran pemerintahan daerah saja
yang dibutuhkan namun dibutuhkan kerja sama dari semua pihak baik instansi yang ber
sangkutan, LSM/ORMAS, maupun masyarakat, hingga aparat penegak hukum yang
langsung berhadapan dengan berbagai kasus perdagangan orang, diharapkan dapat
mencegah atau setidaknya mengurangi terjadinya kejahatan perdagangan orang yang
terjadi di masyarakat Kota Bandung.
Perdagangan orang telah dikriminalisasi dalam hukum Indonesia. Perdagangan
tersebut secara eksplisit dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Undang-
Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, sebagai berikut: Pasal 297
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana menyatakan bahwa : Memperdagangkan
perempuan dan laki-laki yang belum dewasa, dihukum penjara paling lama enam
tahun. Pasal 65 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia
menyatakan : Setiap anak berhak untuk memperoleh perlindungan dari kegiatan
eksploitasi dan pelecehan seksual, penculikan, perdagangan anak, serta dari berbagai
bentuk penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya.
Berdasarkan uraian di atas penulis kemudian tertarik untuk melakukan penelitian
dengan judul dampak ancaman human trafficking di Kota Bandung.

1.2 Identifikasi Permasalahan


Dalam penelitian ini rumusan masalah yang diangkat adalah Bagaimana
dampak ancaman human trafficking di Kota Bandung.

1.3 Manfaat dari kajian yang dilakukan


1.3.1 Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan kajian lebih lanjut untuk
mendapatkan konsep ilmiah dan dapat memberikan sumbangan ilmu pengetahuan
dibidang Psikologi.
1.3.2 Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu pihak-pihak terkait untuk lebih
dapat memberikan informasi pemahaman kepada masyarakat terhadap tindak
perdagangan orang (Human Trafficking).

BAB II
LANDASAN TEORITIS
2.1. Perdagangan Orang Sebagai Kejahatan
Masalah perdagangan orang telah meluas dalam bentuk jaringan kejahatan yang
terorganisir dan tidak terorganisir. Baik bersifat antarnegara maupun dalam negeri,
sehingga menjadi ancaman terhadap masyarakat, bangsa dan negara, serta merupakan
tindakan yang bertentangan dengan harkat dan martabat dan dapat dikatakan sebagai
suatu tindak pidana, sehingga harus diberantas.
Menurut Moeljatno (1993:54), bahwa perbuatan pidana adalah yang oleh suatu
aturan hukum dilarang dan diancam pidana, asal saja dalam pada itu diingat bahwa
larangan ditujukan kepada perbuatan, (yaitu suatu keadaan atau kejadian yang
ditimbulkan kepada orang yang menimbulkan kejadian tersebut. Antara larangan dan
ancaman pidana ada hubungan yang erat, oleh karena antara kejadian dan orang yang
menimbulkan kejadian itu, ada hubungan yang sangat erat pula.
Sedangkan menurut Roeslan Saleh, perbuatan pidana adalah perbuatan yang oleh aturan
hukum pidana dinyatakan sebagai perbuatan yang dilarang. Menurut wujud atau
sifatnya, perbuatan-perbuatan pidana ini adalah perbuatan-perbuatan yang melawan
hukum. Perbuatan-perbuatan ini juga merugikan masyarakat dalam arti bertentangan
dengan atau menghambat akan terlaksananya tata dalam pergaulan masyarakat yang
dianggap baik dan adil.
Jadi, dari kedua pendapat diatas, peneliti dapat menyimpulkan perbuatan pidana
adalah perbuatan yang oleh suatu aturan hukum dilarang dan dapat diancam pidana bagi
barang siapa yang melanggar larangan tersebut, dan perbuatan-perbuatan ini juga dapat
merugikan masyarakat dalam arti bertentangan dengan atau menghambat akan
terlaksananya tata dalam pergaulan masyarakat yang dianggap baik dan adil.
Oleh karena itu, trafficking atau perdagangan orang dapat dikatakan sebagai
suatu kejahatan, karena trafficking merupakan perbuatan yang dilarang oleh suatu
aturan hukum, yaitu Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007.

2.1 Pengertian Perdagangan Orang


Trafficking perempuan dan anak adalah segala tindakan pelaku trafficking yang
mengandung : salah satu atau lebih tindakan: perekrutan antar daerah dan negara,
pemindah tanganan, pemberangkatan, penerimaan, penampungan sementara. Dengan
cara : ancaman, penggunaan kekerasan verbal dan fisik, penculikan, penipuan, tipu
muslihat, memanfaatkan posisi kerentanan, misalnya ketika seorang tidak memiliki
pilihan lain, terisolasi, ketergantungan obat, jebakan hutang, dan lain lain, memberikan
atau menerima pembayaran atau keuntungan perempuan dan anak digunakan untuk
tujuan : pelacuran dan eksploitasi seksual (termasuk pedophilia), buruh migran legal
maupun illegal, adopsi anak, penganten pesanan, pembantu rumah tangga, ,mengemis,
industri pornografi, pengedaran obat terlarang, penjualan organ tubuh, dan bentuk
eksploitasi lainnya.
Globalisasi mengacu pada peningkatan kemudahan pergerakan orang, barang,
jasa,dan informasi lintas batas nasional dan di seluruh dunia. Globalisasi ekonomi dunia
dikaitkan dengan gerakan manufaktur ke daerah-upah rendah dunia dan pengembangan
perusahaan multinasional yang melakukan bisnis di lebih dari satu bangsa
(Stiglitz,2002). Tapi proses yang sama globalisasi juga terkait dengan bentuk-bentuk
baru dari kejahatan, seperti pencurian identitas dan pencucian uang menggunakan
cybertechniques dan Internet, atau dalam bentuk lama seperti kejahatan seperti seks dan
perdagangan narkoba dan perbudakan. Globalisasi juga telah mendorong
pengembangan baru yaitu kejahatan yang terorganisir suatu kelompok dan difasilitasi
gelombang baru internasional terorisme (lihat Bab 16; Institute National Kehakiman,
2005).
Dalam istilah hukum, trafficking mengacu "perekrutan,penampungan,
transportasi, penyediaan, atau memperoleh seseorang untuk tenaga kerja atau jasa,
melalui penggunaan kekuatan, penipuan, atau pemaksaan untuk tujuan dari tunduk
kepada kerja paksa, pekerjaan sewa, ijon, atau perbudakan "(National Institute of
Justice, 2005). Para pejabat PBB memperkirakan bahwa sebanyak 900.000 orang dijual
di seluruh dunia setiap tahunnya. Di Amerika, perdagangan manusia telah menjadi
penting dan pasar pidana yang sangat menguntungkan di 10 tahun terakhir.
Diperkirakan 50.000 perempuan dan anak diperdagangkan dari negara asing ke Amerika
Serikat setiap tahunnya, sebagian besar untuk pekerjaan yang tidak tersedia di negara-
negara mereka sendiri, dan banyak juga untuk prostitusi (Stein, 2003). Jaringan
penyaluran utama untuk perdagangan manusia membentang dari Asia, seluruh Eropa,
melalui Central Amerika dan Karibia, ke Amerika Serikat, sering melibatkan beberapa
penyeberangan perbatasan dan banyak pembayaran kepada pejabat perbatasan yang
korup. jumlah terbesar orang yang diperdagangkan ke Inggris berasal dari daerah yang
kurang berkembang di dunia. Yang paling populer rute transit untuk Cina, South
Amerika, dan Asia Selatan adalah melalui Amerika Tengah dan Meksiko. Panama
adalah titik transit utama bagi para migran yang berasal dari Kolombia, Ekuador, Peru,
Kuba, India, dan China. Afrika Selatan juga menjadi transit yang penting menunjuk ke
Amerika Serikat, dan pedagang yang semakin memanfaatkan perbatasan AS-Kanada
sebagai koridor ke Amerika Serikat. Pedagang pada manusia sering menggunakan
bentuk perbudakan dikenal sebagai jeratan hutang untuk memastikan bahwa korban-
korban mereka tidak dapat keluar dari involunter perbudakan. Orang yang
diselundupkan ke negara kaya oleh penjahat profesional biasanya mereka berhutangb
sampai ribuan dolar. Selain itu juga, disertai dengan ancaman tentang konsekuensi fisik
Kegagalan untuk melakukan pembayaran, hal itu berfungsi untuk menahan orang dalam
bentuk perbudakan. Tentu saja, ini bentuk umum dari jeratan hutang yang diterapkan
untuk pengedaran orang ficked dalam berbagai jenis pekerjaan, tidak hanya di
perdagangan seks.

1.3 Ketentuan Hukum Dalam Kejahatan Perdagangan Orang


Landasan hukum perdagangan orang adalah sebagai berikut :
1. Tujuan Negara Indonesia adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh
tumpah darah indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan
kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.
2. Undang-Undang Dasar 1945 : menjamin warga negaranya untuk menikmati hak
asasinya, sekaligus memberikan perlindungan hukum, juga jaminan hak untuk tidak
diperbudak.
3. TAP MPR IV/1999 tentang GBHN. TAP MPR X/2001: untuk mengatasi
perempuan dan anak melalui penyusunan peraturan perundangan nasional, ratifikasi
konvensi internasional, dan pembentukan rencana aksi serta gugus tugas (task
force)..
4. Ditegaskan kembali melalui TAP MPR VI/2002. Beberapa peraturan perundang-
undangan yang terkait dengan kejahatanperdagangan orang, yaitu sebagai berikut :
a. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
Ketentuan mengenai larangan perdagangan orang pada dasarnya telah teratur
dalam KUHP khususnya pada :
Pasal 297 Memperdagangkan perempuan dan laki-laki yang belum dewasa
dihukum penjara paling lama enam tahun.
Pasal 324 Barangsiapa dengan biaya sendiri atau orang lain menjalankan
perniagaan budak atau melakukan perbuatan perdagangan budak atau dengan sengaja
turut campur dalam hal itu, baik langsung maupun tidak langsung, dihukum penjara
selama-lamanya dua belas tahun.
Ketentuan dalam KUHP tersebut tidak merumuskan pengertian perdagangan
orang yang tegas secara hukum, apalagi dalam KUHP tersebut sanksinya terlalu ringan
tidak seimbang dengan dampak yang diderita korban akibat kejahatan perdagangan
orang. Untuk itu Perumus RUU KUHP mengakomodir masukan para aktivis anti
perdagangan orang. Larangan trafficking dalam Pasal 297 KUHP kembali dimasukkan
dalam RUU KUHP, bahkan diperluas cakupannya.
b. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia
Pasal 65 Setiap anak berhak untuk memperoleh perlindungan dari kegiatan
eksploitasi dan pelecehan seksual, penculikan, perdagangan anak, serta dari berbagai
bentuk penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya.
Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Perdagangan Orang Perdagangan orang adalah bentuk modern dari perbudakan
manusia. Perdagangan orang juga merupakan salah satu bentuk perlakuan terburuk dari
pelanggaran harkat dan martabat manusia. Bertambah maraknya masalah perdagangan
orang di berbagai negara termasuk Indonesia dan negara-negara yang sedang
berkembang lainnya. Tindak pidana perdagangan orang tidak hanya terjadi di daerah
perkotaan, tetapi juga daerah pedesaan, dan korbannya tidak lain adalah perempuan dan
anak. Kurangnya pengetahuan serta rendahnya pendidikan, kadang kala menyebabkan
seseorang menjadi korban oknum-oknum tertentu yang memanfaatkan keadaan serta
situasi.
Komitmen pemerintah Indonesia untuk turut serta memerangi kejahatan
trafficking dapat kita lihat atas usahanya membuat satu peraturan perundang-undangan.
Pada tanggal 20 Maret 2007 Pemerintah Indonesia mengesahkan berlakunya Undang-
Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan
Orang (UU PTPPO).
Dalam undang-undang ini dikatakan bahwa perdagangan orang adalah tindakan
perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan
seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan,
pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang,
atau memberi bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang
memegang kendali atas orang lain tersebut, baik yang dilakukan di dalam negara
maupun antar negara, untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi.
Ada tiga elemen pokok yang terkandung dalam pengertian trafficking. Pertama:
elemen perbuatan, yang meliputi: merekrut, mengangkut, memindahkan,
menyembunyikan, atau menerima. Kedua: elemen sarana (cara) untuk mengendalikan
korban, yang meliputi: ancaman, penggunaan, paksaan, berbagai bentuk kekerasan,
penculikan, penipuan, kecurangan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan atau
pemberian/penerimaan atau keuntungan untuk memperoleh persetujuan dari orang yang
memegang kendali atas korban. Ketiga, elemen tujuannya, yang meliputi: eksploitasi,
setidaknya untuk prostitusi atau bentuk eksploitasi seksual lainnya, kerja paksa,
perbudakan, penghambaan, dan pengambilan organ tubuh.
Dalam undang-undang ini sangat jelas digambarkan bahwa perdagangan orang
(human trafficking) bukan suatu kejahatan pidana biasa tetapi merupakan suatu
kejahatan yang serius karena dilakukan dengan modus operandi yang sistematis dan
kontinu. Beberapa kategori bisa diambil dalam menafsirkan undang-undang tersebut,
yaitu: pelaku human trafficking bisa seseorang, kelompok orang/organisasi; perbuatan
tersebut dilakukan secara sengaja dan sistematis serta menimbulkan penderitaan fisik
dan psikis terhadap korban; korban trafficking biasanya berasal dari kelompok rentan
seperti perempuan dan anak-anak; praktek trafficking telah membatasi bahkan
melanggar prinsip-prinsip HAM karena pada dasarnya manusia tidak untuk
diperdagangkan atau dikomersilkan.

BAB III
METODE
3.1 Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode melalui penulusuran dokumen berdasarkan
sumber sumber terpercaya. Teknik pengumpulan data berdasarkan dokumen dokumen
dengan menggunakan referensi dari data data yang ada. Metode browserb dengan
menggunakan dokumen dari website, jurnal jurnal, dan juga berita elektronik.
3.2 Level Analisis
Level yang digunakan pada penelitian ini adalah level masyarakat, dikarenakan
peneliti ingin melihat dampak ancaman human trafficking di Bandung khususnya
kepada korban perempuan dan anak-anak secara keseluruhan.
Ada tiga elemen pokok yang terkandung dalam pengertian trafficking.
1. Pertama: elemen perbuatan, yang meliputi: merekrut, mengangkut, memindahkan,
menyembunyikan, atau menerima.
2. Kedua: elemen sarana (cara) untuk mengendalikan korban, yang meliputi:
ancaman, penggunaan, paksaan, berbagai bentuk kekerasan, penculikan, penipuan,
kecurangan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan atau
pemberian/penerimaan atau keuntungan untuk memperoleh persetujuan dari orang
yang memegang kendali atas korban.
3. Ketiga, elemen tujuannya, yang meliputi: eksploitasi, setidaknya untuk prostitusi
atau bentuk eksploitasi seksual lainnya, kerja paksa, perbudakan, penghambaan,
dan pengambilan organ tubuh.
Dalam hal pengendalian korban, terdapat suatu tindakan ancaman pada korban,
disini akan dijelaskan mengenai data yang diperoleh melalui teknik browser mengenai
bentuk ancaman terhadap korban perempuan dan anak-anak.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Berdasarkan data yang didapat dan ditelusuri melalui kompas.com. Sepanjang
tahun 2013 terjadi 14 kasus perdagangan manusia (human trafficking) di Kabupaten
Bandung Barat, Jawa Barat. Sebagian korbannya adalah kaum perempuan.
Wakil Bupati Bandung Barat Yayat Sumitra, mengatakan kasus-kasus itu merata
di seluruh kabupaten tersebut. "Dari 14 kasus, ada 40 orang yang jadi korban semua
merata di semua kecamatan." ujar Yayat saat ditemui usai Rakerda gugus tugas
pencegahan dan penanganan korban kekerasan, perdagangan manusia terhadap
perempuan dan anak di Padalarang, Selasa (3/12/2013).
Yayat menambahkan, tidak jarang kasus human trafficking diwarnai kekerasan
dan rata-rata dilatarbelakangi masalah ekonomi. Banyak korban yang mudah dibujuk
dengan iming-iming penghasilan besar. "Dengan kesejahteraan yang merata kasus ini
bisa hilang dengan sendirinya," akunya.
Sementara itu, bentuk penjualan manusia dan kekerasan terhadap perempuan
yang terjadi di Bandung Barat masih didominasi oleh tindakan-tindakan yang sifatnya
kriminal. "Sebenarnya sudah masuk ke ranah tindak pidana seperti perdagangan
manusia, penculikan dan seksualitas," imbuhnya.
Pemkab Bandung Barat membentuk Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan
Perempuan dan Anak (P2TP2A) Bandung Barat. Lembaga ini bertujuan menanggulangi
kasus-kasus penjualan manusia dan kekerasan terhadap perempuan sekaligus mewadahi
para korbannya. Menurut Yayat, pembentukan itu akan dilakukan secepatnya mengingat
selama ini semua korban penjualan manusia dan kekerasan terhadap perempuan masih
ditanggulangi P2TP2A Provinsi Jawa Barat.
Menurut P2TP2A.org Jabar, Mafia perdagangan orang (Human Trafficking)
menggunakan berbagai cara untuk mengelabui korbannya.Seorang mahasiswi di Kota
Bandung, Jawa Barat menjadi korban. Ia tidak menyangka lokasi spa tempatnya bekerja
justru menjebaknya ke arah prostitusi. Selama tiga bulan ia menderita, hingga akhirnya
berhasil kabur dan melapor ke pusat pelayanan terpadu pemberdayaan perempuan dan
anak (P2TP2A) di Jalan Riau NO 2 Kota Bandung, belum lama ini.
Saat ini kasusnya dalam penanganan Unit Pelayanan Perempuan dan Anak Polda
Jabar. Ketua P2TP2A Jabar, Netty Heryawan, mengatakan bahwa cerita mahasiswi
tersebut merupakan secuil kisah dari ratusan bahkan mungkin ribuan potret pilu korban
trafiking lainnya.
Ciri-ciri Trafiking :
1. Adanya Rekruitmen, bujuk rayu, ganti rugi, penipuan, nikah palsu shadow
married, pemalsuan identitas.
2. Adanya gerak pindah
3. Adanya serah terima
4. Jeratan lilitan hutang
5. Pengekangan kebebasan/penyekapan
6. Penindasan
7. Intimidasi ancaman kekerasan
8. Pemerasan fisik seks
Menurut data yang didapat melalui jabar.tribunnews.com, Kasus perdagangan
orang (trafficking) di Jawa Barat sangat memprihatinkan. Provinsi yang berbatasan
langsung dengan ibu kota, ini berada di peringkat pertama kasus trafficking terbanyak.
Menurut Ketua Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak
(P2TP2A) Jawa Barat, Netty P Heryawan, berdasarkan data yang dimiliki BPPKB,
sepanjang tahun 2010 tercatat terjasi 1.311 kasus kekerasan terhadap perempuan.
Dengan rincian kasus kekerasan fisik sebanyak 741 kasus, kekerasan psikis 83 kasus,
kekerasan seksual 266 kasus, penelantaran 49 kasus. Serta ada 32 kasus anak
bermasalah dengan hukum.
Menurutnya, fenomena yang terjadi saat ini di kalangan terdidik termasuk
mahasiswa dan lulusan perguruan tinggi ternyata tidak terlepas dari ancaman kejahatan
human trafficking. Apalagi setelah mahasiswi asal Bandung diketahui menjadi korban
trafficking. "Ternyata korban trafficking tidak selalu berasal dari kalangan yang tidak
menamatkan kuliahnya. Penyebab human trafficking bukan hanya disebabkan oleh
kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan. Namun disebabkan juga pergeseran nilai
dan paradigma masyarakat yang terjebak pada kehidupan instan dan hedonis akibat
dampak globalisasi," katanya pada acara Diskusi dan Sosialisasi Antisipasi Human
Traffiking dan KDRT Sejak Dini yang digelar Pusjian Kemitraan Polisi dan Masyarakat
FISIP Unla, Selasa (9/10).
Oleh karena itu, ujarnya, semua memiliki tanggungjawab yang besar untuk
mencermati dan berbagi peran. Karena kejahatan trafficking dan KDRT tidak bisa
diselesaikan oleh satu pihak saja. Tidak boleh ada ruang kosong. Peran preventif,
kuratif, dan rehabilitatif menjadi tanggung jawab semua.

4.2 Pembahasan
Untuk hasil penelitian, setelah dilakukannya pencarian dan penelusuran data
melaliui dokumentasi data data dari sumber terkait, hal ini di awali dengan globalisasi
yang semakin membesar. Globalisasi mengacu pada peningkatan kemudahan
pergerakan orang, barang, jasa,dan informasi lintas batas nasional dan di seluruh dunia.
Globalisasi ekonomi dunia dikaitkan dengan gerakan manufaktur ke daerah-upah
rendah dunia dan pengembangan perusahaan multinasional yang melakukan bisnis di
lebih dari satu bangsa (Stiglitz,2002).
Tapi proses yang sama globalisasi juga terkait dengan bentuk-bentuk baru dari
kejahatan, seperti pencurian identitas dan pencucian uang menggunakan
cybertechniques dan Internet, atau dalam bentuk lama seperti kejahatan seperti seks dan
perdagangan narkoba dan perbudakan. Globalisasi juga telah mendorong
pengembangan baru yaitu kejahatan yang terorganisir suatu kelompok dan difasilitasi
gelombang baru internasional terorisme (lihat Bab 16; Institute National Kehakiman,
2005). Hal ini memicu munculnya bentuk baru dalam kejahatan dengan menggunakan
metode lama, yaitu kejahatan seks, perdagangan manusia dan juga perbudakan. Bentuk
kejahatan yang saat ini melanda dunia internasional hasil dari berkembang pesatnya
globalisasi adalah kejahatan perdagangan perempuan atau anak kecil yang sering
disebut dengan Human trafficking.
Human trafficking adalah salah satu permasalahan internasional yang sangat
berdampak besar bagi negara Indonesia, karena Indonesia termasuk kedalam salah satu
negara dengan tingkat kriminalitas human trafficking tertinggi di dunia, dan ini sudah
berlangsung sejak lama. Daerah Jawa Barat adalah wilayah dengan penghasil kasus
terbanyak human trafficking di Indonesia, Kasus perdagangan orang (trafficking) di
Jawa Barat sangat memprihatinkan. Provinsi yang berbatasan langsung dengan ibu kota,
ini berada di peringkat pertama kasus trafficking terbanyak.
Menurut Ketua Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak
(P2TP2A) Jawa Barat, Netty P Heryawan, berdasarkan data yang dimiliki BPPKB,
sepanjang tahun 2010 tercatat terjasi 1.311 kasus kekerasan terhadap perempuan.
Dengan rincian kasus kekerasan fisik sebanyak 741 kasus, kekerasan psikis 83 kasus,
kekerasan seksual 266 kasus, penelantaran 49 kasus. Serta ada 32 kasus anak
bermasalah dengan hukum. Hal ini memberikan dampak kepada masyarakat Indonesia
terutama wilayah Jawa Barat, tetapi hal ini belum menjadi hal yang disoroti oleh
pemerintah Jawa Barat maupun kepolisian, karena hingga saat ini belum ada program
khusus untuk menangani kasus ini, padahal kasus ini sudah berlangsung sejak lama di
Indonesia.

BAB V
KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa kejahatan dengan jenis human trafficking yang terjadi
di Indonesia, kota Bandung yang menjadi pemasok kasus kedua tertinggi di Jawa Barat.
Kasus ini sangat memprihatinkan dan menganggu kehidupan remaja/dewasa perempuan
dan anakanak dalam hal berpendidikan dan kondisi ekonomi. Dalam keadaan ekonomi
yang rendah sebagian masyarakat terpengaruh dengan tawaran pekerjaan yang
menghasilkan gaji yang besar dan masyarakat tersebut tidak mencari tahu lebih lanjut
mengenai pekerjaan yang ditawarkan tersebut.
Hal ini menyebabkan adanya kesempatan para pelaku human trafficking untuk
melakukan tindakan kriminalnya. Seringkali para pelaku menipu para korban dengan
imingiming bekerja di luar kota atau luar negeri sebagai TKW atau pekerja, tetapi pada
saat korban di pindahkan mereka dipaksa menjadi pelacur atau budak. Para pelaku
menjual korban dengan menyelundupkan para korban secara ilegal, hal ini pun
berhubungan dengan berbagai sindikat kriminal internasional, karena perdagangan
manusia adalah kriminal yang sangat sering lintas negara, sehingga masalah ini adalah
suatu permasalahan internasional.
Seharusnya Indonesia lebih memiliki program untuk menanggulangi ataupun
mencegah hal ini agar tidak semakin meluas. Indonesia harus membuat program khusus
terutama daerahdaerah yang memiliki presentasi yang tinggi dalam tingkat
kriminalisasi human trafficking. Karena hal ini menjadi suatu permasalahan sosial yang
meluas karena menganggu kesejahteraan kehidupan masyarakat Indonesia terutama
wanita dan anakanak yang dimana menjadi permasalahan dalam keamanan dalam
mencari pekerjaan.

DAFTAR PUSTAKA
Andriansyah, Imam Ibrahim. 2013. Dalam jurnal tinjauan viktimologis terhadap
kejahatan perdagangan orang (human trafficking). Pada website http://reposi
tory.unhas.ac.id/bitstream/handle/123456789/7826/SKRIPSI%20viktim
%20trafficking%20%28Autosaved%29%20%28Autosaved
%29%20%28Autosaved%29%20%28Autosaved%29.pdf?sequence=1
Kornblum, William. Joseph Julian. Social Problems (e-book). Fourteenth Editional
Puja Singgih Pangestu. 2016. Dalam jurnal kebijakan criminal terhadap upaya
penanggulangan tindakan pidana perdagangan manusia. Pada website http://kar
yailmiah.unisba.ac.id/index.php/hukum/article/download/2547/pdf
Sinaga, Obsatar. 2011. Dalam junal fenomena human trafficking di asia tenggara.
Pada website http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2012/02/2_feno
mena_human_trafficking_di_asia_tenggara2.pdf

DAFTAR LAMPIRAN