Anda di halaman 1dari 19

BAB II

PEMBAHASAN

A. Hadits tentang pendidik harus mengutamakan prinsip memotivasi dan memudahkan

Artinya :

Dari Abu Musa beliau berkata, Rasulullah SAW apabila mengutus salah satu orang sahabatnya
untuk mengerjakan sebagian perintahnya selalu berpesan Sampaikan berita gembira oleh kalian
dan janganlah kalian menimbulkan rasa antipati, berlaku mudahlah kalian dan janganlah kalian
mempersulit .

Nilai tarbawi:

1. Hendaknya seorang pendidik mengajarkan kepada anak didiknya dengan sesuatu yang
mudah dimengerti dan dicena oleh anak didik

2. Jangan mengajarkan yang sulit-sulit

3. Hendaknya seorang pendidik ketika mengajar tidak boleh laku, sesuaikan dengan kondisi
anak perlu ada humor

4. Berilah kasih sayang agar anak / peserta didik selalu dekat dengan guru

5. Hendaknya ketika guru mengalami kesulitan seringlah berdiskusi

Motivasi sebagai suatu proses, mengantarkan murid kepada pengalaman-pengalaman yang


memungkinkan mereka dapat belajar. Sebagai proses, motivasi mempunyai fungsi antara lain:

1. Memberi semangat dan mengaktifkan murid agar tetap beminat dan siaga.

2. Memusatkan perhatian anak pada tugas-tugas tertentu yang berhubungandengan pencapaian


tujuan belajar.

3. Membantu memenuhi kebutuhan akan hasil jangka pendek dan hasil jangka panjang.
B. Hadits tentang pendidik harus mengetahui tingkat kemampuan peserta didik

1. Hadits pertama

Artinya:

Dari Ibnu Abbas berkata, Rasulullah saw bersabda: saya diperintahkan untuk berbicara kepada
manusia sesuai dengan kemampuan akalnya.

Seorang guru harus memahami kondisi muridnya, sehingga dia tidak bersikap arogan atau
memaksakan kehendak kepada muridnya. Guru juga harus mengetahui kemampuan intelektual
murid. Itulah kesan yang diperoleh dari ungkapan khidr pada ayat 67-68,

Artinya:

Dia menjawab: sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku (67). Dan
bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup
tentang hal itu? (68). (QS. Al.Kahfi : 67-68)

Ketika Nabi Musa mengajukan keinginannya untuk belajar dan mengikuti Nabi Khidr as, dia tahu
persis bahwa Nabi Musa tidak akan sanggup mengikutinya. Dia tahu bahwa Nabi Musa adalah
seorang yang keras dan emosional serta orang yang paling tidak bisa bersabar. Dan hal itu
dipahami oleh Nabi Khidr sebagai guru yang baik.

Begitulah sikap seorang guru dalam mengajar, hendaklah mereka mengetahui sikap, karakter
kepribadian, dan kemampuan peserta didiknya dengan baik. Agar para guru dapat memberikan
materi dan metode yang benar dalam menjalankan proses belajar dan mengajar.

2. Hadits kedua

. (( : -:
.))

Artinya:
Dari sahabat Anas bin Malik berkata, Rasulullah SAW bersabda: Mencari ilmu wajib bagi setiap
muslim-muslimah. Dan meletakkan ilmu tidak pada tempatnya seperti mengikat beberapa babi
dengan intan, mutiara, dan emas.

Hadits tersebut menjelaskan yang pertama: bahwa mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap
muslim ,tidak pandang usia, kecil, muda, tua, semua diwajibkan untuk mencari ilmu. Didalam ayat
Al-quran pun Allah berjanji, untuk meninggikan derajat bagi mereka yang berilmu. Yang kedua:
seekor babi yang dengan intan, mutiara, dan emas. Bahwasanya seekor babi yang najis diikat
dengan intan yang mana harganya sangatlah mahal, hal tersebut sangatlah sia-sia. Seseorang yang
memiliki ilmu tetapi justru melakukannya untuk kejahatan ataupun orang yang memiliki ilmu
tetapi tidak mengamalkannya, itu sangatlah sia-sia.

C. Hadits tentang pendidik harus mempunyai keahlian dalam bidangnya

. : :
(: . : . :
(: : .) ( : : .) - -
.)

Artinya :

Abu hurairoh berkata, suatu hari Nabi Muhammad SAW bercengkramah dengan kaum dalam
satu majlis, kemudian datanglah seorang badui dan ia bertanya: kapan kehancuran terjadi?
Rasulullah meneruskan bicaranya pada kaum dan sebagian kaum telah mendengar apa yang
dikatakan oleh orang badui sehingga mereka tidak senang terhadap Rasulullah atas perkataannya,
akan tetapi menurut sebagian kaum lain bahwa Rasulullah tidak mendengarnya sampai Rasulullah
menyelesaikan pembicaraannya. Rasulullah bertanya: dimana orang yang ingin mengetahui
tentang kehancuran?, orang badui itu menjawab: saya ya rasul, kemudian Rasulullah berkata:
terjadinya kehancuran yakni ketika sebuah amanah disia-siakan. Lalu orang badui itu kembali
bertanya: bagaimanakah amanah itu disia-siakan?, Rasulullah menjawab: ketika sebuah urusan
diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya.
Nilai tarbawi

Nilai tarbawi dalam hadits tersebut adalah :

a) Setiap pekerjaan harus dilakukan secara profesional

b) Suatu pekerjaan yang dilakukan oleh orang yang bukan ahlinya, maka akan timbul
kehancuran

c) Pendidik juga harus konsekuen dengan apa yang diajarkannya, yakni mampu melaksanakan
atau mengerjakan.

BAB III

KESIMPULAN

Secara terminologi, sebagaimana teori barat yang dikutip Ahmad Tafsir pendidik dalam islam
adalah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didiknya dengan
upaya mengembangkan seluruh potensi peserta didik, baik pesrta afektif, kognitif, maupun
psikomotorik.

Pada hadits tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa seorang pendidik, dalam melakukan
pengajaran haruslah menggunakan metode yang menyenangkan, agar pesrta didik tidak merasa
jenuh. Sehingga materi yang disampaikan dapat diserap dengan baik. Selebihnya, seorang
pendidik harus selalu memberi motivasi kepada muridnya agar selalu bersemangat dalam
mengikuti pelajaran yang berlangsung.

Pada hadits poin dua, bahwasanya mencari ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim. Dan
hendaklah mereka yang memiliki ilmu, mampu menempatkan ilmu pada tempatnya. Sehingga
tidaklah sia-sia.

Pada hadits poin ketiga, bahwasanya bagi seorang pendidik harus mempunyai keahlian dalam
bidangnya, agar tidak menimbulkan kerusakan. Dan seorang pendidik harus selalu konsekuen
dalam mengerjakan dan melaksanakan serta mampu mengamalkan dengan apa yang telah kita
peroleh.
Hadits-Hadits Terkait Dengan Kompetensi Pedagogis Guru

a) Hadits 1

Dalam hadits yang diriwayatkan at-Turmudzi, Rasulullah SAW memerintahkan untuk


menyampaikan segala apa yang dimiliki walaupun sedikit. Dan secara tersurat, hadits itu juga
menyatakan ancaman bagi seseorang yang berbuat dusta.



- -




.



-

Menceritakan kepada kami Muhammad bin yahya, menceritakan kepada kami Muhammad bin
Yusuf dari Ibnu Tsauban. Dia Abdurrahman bin Tasbit bin Tsauban dari Hassan bin Athiyyah
dari Abi Kabsyata As- Saluliy dari Abdillah bin Amr berkata: Rasulullah SAW bersabda:
Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat, dan beritakanlah tentang Bani Israil dan janganlah
berbuat kesalahan. Dan barang siapa yang berdusta atas namaku (muhammad) dengan sengaja,
maka disediakan tempat baginya di neraka.

Maksud sampaikanlah ilmu atau pelajaran dari Nabi SAW walaupun sedikit sesuai dengan
kemampuan atau sesuai dengan ilmu yang diketahuinya. Menyampaikan ilmu wajib dan
menyimpannya perbuatan dosa yang disebutkatim al-ilmi. Ancaman orang yang berdusta dalam
pemberitaan dari Nabi seperti membuata hadits palsu adalah neraka. Tugas guru adalah penyampai
ilmu, penyampai ayat, penyampai hadits, tidak boleh menyimpannya.[4]

Dari matan hadits di atas, dapat dipahami beberapa pokok bahasan yang harus diimplementasikan
oleh seorang guru (pendidik), diantarnya:

1. Seseorang guru adalah seorang yang menyampaikan ilmu (pengetahuan) kepada


orang lain, walaupun hanya sedikit.

2. Seorang guru harusnya mencegah dirinya dari berbuat kesalahan, karena guru
dipahami sebagai uswatun hasanah (teladan) bagi semua elemen masyarakat khususnya peserta
didiknya.
3. Seorang guru tidak boleh berbuat dusta atas nama Nabi Muhammad. Dalam kaitannya
ini berdusta atas nama Nabi Muhammad bisa diperluas maknanya (dilalatu an nash) dengan
berdusta atas nama Allah. Oleh karena itu konsekuensi logisnya (dilalatu al-isyarat) seseorang
harus berbuat jujur dalam setiap kondisi apapun.

Menurut Athiyah Al-Abrasyi seorang pendidik Islam itu harus memiliki sifat-sifat tertentu agar ia
dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Adapu sifat-sifat itu ialah[5]:

1. Memiliki sifat zuhud, tidak mengutamakan materi dan mengajar karena mencari
keridhaan Allah semata.

2. Seorang guru harus bersih tubuhnya, jauh dari dosa besar, sifat riya, dengki,
permusuhan, perselisihan dan sifat tercela lainnya.

3. Ikhlas dalam kepercayaan, keikhlasan dan kejujuran seorang guru di dalam


pekerjaannya merupakan jalan terbaik ke arah suksesnya di dalam tugas dan sukses murid-
muridnya.

4. Seorang guru harus bersifat pemaaf terhadap murid, ia sanggup menahan diri, menahan
kemarahan, lapang hati, sabar.

5. Seorang guru harus mencintai murid-muridnya seperti cintanya kepada anak-anaknya


sendiri, dan memikirkan keadaan mereka seperto memikirkan anak-anaknya sendiri.

6. Seorang guru harus mempunyai tabiat, pembawaan, adat, kebiasaan, rasa dan
pemikiran murid-muridnya agar ia tidak keliru dalam mendidik muridnya.

7. Seorang guru harus menguasai mata pelajaran yang akan diberikannya, serta
memperdalam pengetahuannya, tentang itu sehingga mata pelajaran itu tidak akan bersifat
dangkal.
B. Pendidik Menyampaikan Ilmu

Hadist Pendidik Menyampaikan Ilmu


Ilmu yang dimiliki ulama adalah amanat yang harus disampaikan




:
:

( )

Kosa Kata
a. : barang siapa
b. : ditanya
c. : tentang suatu ilmu
d. : kemudian merahasiakannya
e. : maka sempal ( mulutnya)
f. : dari api neraka
Terjemahan
Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah saw bersabda: Barang siapa yang ditanya tentang suatu
ilmu kemudian dirahasiakannya, maka dia akan sempal (mulutnya) dari api neraka. ( H.R Abu
Dawud dan Tirmidzi )
Penjelasan
Pengetahuan memang berkembag pesat, apalagi jika dikaitkan dengan pengetahuan
manusia tentang sains. Namun kita juga menyadari bahwa ilmu tidak akan pernah berkembang
jika tidak ada pengetahuan yang datang sebelumnya. Oleh karena itu jika menyinggung peranan
ulama dalam pendidikan, terutama pendidikan islam, peranannya sangatlah besar. Ada tiga
alasan yang mendasari hal ini, yaitu:
Pertama, ulama adalah pewaris para nabi. Syariat islam (tauhid) dari Nabi saw dan nabi lainnya,
tidak mungkin pernah sampai jika tidak ada ulama yang mempelajarinya kemudian
menyampaikannya kepada umat (sesuai hadis pertama)
Kedua, dalam hadis selanjutnya di atas, bahwa wafatnya ulama akan mengurangi ilmu yang ada
di dunia ini. Dengan wafatnya seorang ulama, artinya akan hilang satu figur yang mampu
memberikan penjelasan disaat umat membutuhkannya, bahkan lebih menghawatirkan akan
menimbulkan banyak bidah ataupun kesesatan. Namun hal ini bisa cegah, asalkan kita sebagai
generasi islam memiliki keinginan yang kuat untuk belajar (terutama belajar agama).
Ketiga, Rasul mengingatkan bahwa ilmu yang ada pada ulama adalah amanat yang harus
disampaikan kepada umat. sehingga dalam hadis ketiga ulama yang menyembunyikan ilmu dari
yang membutuhkan konsekuensinya sangat berat.
Hikmah
Setiap ilmu yang diberikan pahala yang besar bagi seorang ulama, pahala akan berlipat
apabila ilmu itu diamalkan dan akan berlipat pula pahala seorang ulama apabila muridnya
menyampaikan ilmu tersebut kepada orang lain. Dan setiap orang lain tersebut menyampaikan
ilmunya kepada orang lain lagi berlipat terus pahala tak terbatas bagi seorang ulama. Bahkan
setelah meninggal dan berlalu ratusan tahun apabila ilmu tersebut terus disampaikan kepada
orang lain pahala besar terus mengalir padanya.
Konteks ilmu tentu tidak terbatas pada ilmu agama. Namun ilmu pengetahuan secara umum yang
dapat memberikan kemaslahatan di dunia ini terlebih guna kemaslahatan kehidupan di akhirat
kelak.
. HADIS TENTANG PENDIDIK DAN PESERTA DIDIK, SERTA ANALISINYA DALAM
PENDIDIKAN
A. Pentingnya Pendidik
1. Pendidik sebagai perencana dan pengatur proses pendidikan, seperti yang dicontohkan Rasulullah
dalam salat
) (. ))

(( : - -
Dari Anas bin Malik, dari Nabi saw bersabda: Luruskan dan rapatkan (barisan salat kalian), karena
ketertiban barisan dalam salat merupakan bagian dari mendirikan (ksesmpurnaan) salat.(H.R Bukhari)
2. Pendidik sebagai pelaksana kegiatan pendidikan



- -
: - - .

Dari Malik bin Huwairis r.a berkata: Rasululah saw bersabda:Salatlah kalian sebagaimana kalian lihat
aku salat. (H.R Bukhari)
3. Pendidik sebagai pengevaluasi proses pendidikan
: : : :

)(.......................
Dari Abdullah r.a, rasulullah saw bersabda: rasul bersabda kepadaku: Bacalah al-Quran untukku. saya
berkata: apakah aku akan membacakan al-quran untukmu, sedangkan al-quran ini turun kepadamu?
Beliau bersabda: sesungguhnya aku senang mendengarkan (bacaan al-quran) dari orang lain. saya pun
membacanya sampai ketika tiba pada ayat: Fakaifa idzaa jinaa min kulli ummatin bisyahidiin wajina
bika alaa haa-ulaai syahiida ia berkata: saya melihat kedua mata beliau bercucuran air mata. (H.R
Ahmad)
Dalam keterangan lain:
:
Umar berkata: Hisablah (ealuasi) dirimu sebelum engkau dihisab.
Analisis Pendidikan
Pendidik atau guru merupakan komponen terpenting pendidikan. Tanpa adanya pendidik, maka ilmu yang
akan disampaikan tidak mungkin pernah sampai kepada peserta didik. Menurut Muhammad Ali (1992:4-
6) Pentingnya peranan seorang pendidik dalam proses pengajaran terangkup dalam tiga tugas pokoknya,
yaitu merencanakan dan mengatur dalam proses pendidikan, melaksanakan proses pendidikan, dan
mengealuasi hasil pembelajran sebagai umpan balik (stimulus) perbaikan.
Dalam perencanaan dan pengaturan (manajamen) pendidikan, Rasulullah saw mencontohkan bahwa
ketika akan melakukan kegiatan pembelajaran harus ditata sedemikian rupa, agar proses pembelajaran
bisa berjalan dengan tertib. Rasul mencontohkan perlunya tertib dan manajamen yang baik dalam
pendidikan dalam praktek salat berjamaah (dalam hadis pertama). Kenapa salat berjamaah yang
merupakan praktek ibadah langsung dikaitkan dengan pendidikan?. Alasannya karena Nabi saw lebih
paham bagaimana praktek salat yang benar, sehingga memperhatikan Beliau artinya mempelajari
bagaimana salat yang benar. Nilai filosofis dalam salat berjamaah tersebut juga mencerminkan bahwa
segala sesuatu harus tertata dengan baik, sehingga dicontohkan sebelum melaksanakan salat perlu
menertibkan barisan salat terlebih dahulu. Jika nilai perlunya tertib dalam barisan salat telah dipahami,
maka setiap perbuatan seorang muslim akan termanage pula dengan baik. Dan Rasul adalah sebaik-
sebaiknya manusia dalam hal mengatur dan merencanakan sesuatu, hal itu ditandai bahwa Rasul
mencotohkan bagaimana harus memulai salat berjamaah yang baik dan bukan sekedar memerintah.
Kaitannya dengan pendidikan bahwa Rasul juga sebagai pelaksana pengajaran kepada umatnya, karena
beliau langsung mencontohkan suatu amal yang sesuai syariat (hadis kedua).
Selain sebagai konseptor dan eksekutor dalam kegiatan pendidikan, satu lagi fungsi seorang pendidik
yaitu sebagai evaluator. Fungsi evaluasi adalah hal terpenting dari seorang pendidik, karena dari sinilah
dapat diketahui tercapai tidaknya tujuan pendidikan. Selain itu evaluasi juga sebagai stimulus bagaimana
memperbaiki kesalahan-kesalah dalam proses pembelajaran. Namun perlu diingat bahwa evaluasi
bukanlah ujian yang hanya berorientasi pada nilai (angka), itu hanya salahsatu bagian dari teknik evaluasi.
Hadis nomor tiga di atas adalah indikasi bahwa Rasulpun melakukan evaluasi dalam mengajarkan al-
Qurn kepada umatnya (termasuk anak-anak). Hadis nomor tiga tersebut merupakan sebuah metode yang
ditempuh oleh Rasulullah saw untuk menguji kemampuan bacaan al-Qurn pada seorang anak
(Abdullah), metode evaluasi yang diterapkannya adalah dengan menyuruhnya membacakan al-Qurn
tersebut. Jika bacaan anak kecil saja dievaluasi oleh Rasul maka apalagi bacaan sahabat yang telah baligh.
B. Sifat-Sifat Pendidik
1. bertakwa


.

:





) :
:
(
Dari Muadz bin Jabal, dari Rasulullau saw bersabda:Bertakwalah dimanapun kamu berada, dan
iringilah perbuatan buruk dengan yang baik maka (perbuatan buruk itu) akan terhapus. Dan beakhlaklah
kepada manusai dengan akhlak yang baik. (H.R Turmudzi, dikatakan bahwa hadis ini hasan dan ada juga
yang menyatakan sahih)
2. Berakhlak yang baik, karena Rasul diutus untuk menyempurnakan (mengajarkan) akhlak yang mulia.

: :

Dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: sesungguhnya aku diutus untuk
menyempurnakan akhlak yang mulia. (H.R. Al-Bazzar)
3. Menyayangi anak didiknya, dan menjauhi kekerasan
) (
:
Telah diriwayatkan dari Nabi saw, bahwa beliau bersabda:Jadilah pengajar dan janganlah (hindarilah)
menjadi orang yang kejam, karena pengajar itu lebih baik daripada orang yang kejam (berbuat
kekerasan). (H.R Bukhari)
4. Ikhlas dalam mengajar
:- -






)
(

Dari Umar bin Khatab r.a: Saya mendengat Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya setiap perbuatan
tergantung apa yang diniatkannya, barang siapa yang berhijrah (niatnya) karena Allah dan Rasulnya,
maka hijrahnya itu akan mencapai (ridha) Allah dan Rasulnya. Namun barang siapa yang hijrahnya
karena (menginginkan) kehidupan dunia dan wanita yang ingin dinikahinya, maka dia hanya akan sekedar
mendapat apa yang diniatkannya. (H.R Bukhari, Turmudzi, al-Nasai, dan Ibnu Majah)
5. Berkompeten sebagai pendidik, artinya sebelum mengajar seorang pendidik pernah belajar apa yang
akan diajarkannya

: )

(

Dari Usman, bahwasannya Rasulullah saw bersabda:Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar
al- Qurndan mengajarkannya. (H.R Bukhari, Turmudzi, al-Nasai, dan Ibnu Majah)
Analisis Pendidikan
Dalam Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (PP 19 th. 2005
tentang SNP) Bab VI bagian kesatu tentang pendidik, bahwa guru sebagai agen pembelajaran harus
memiliki empat kompetensi. Yang dimaksud dengan empat kompetensi tersebut adalah:
Pertama, kompetensi pedagogik. Secara sederhana yang dimaksud kompetensi pedagogik adalah bahwa
seorang guru menguasai keilmuan yang akan diajarkannya. Atau dengan kata lain, guru tersebut punya
pengalaman belajar tentang ilmu yang akan diajarkannya. Hal ini sesuai dengan hadis nomor lima yang
dijelaskan Rasulullah, bahwa sebelum mengajarkan al-Qurn seseorang harus melalui tahap belajar al-
Qurn terlebih dahulu.
Kedua, kompetensi kepribadian. Artinya bahwa seorang guru mesti berkepribadian yang baik dan sesuai
dengan ajaran islam. Yaitu baik hubungan secara vertikal maupun horizontal. Hadis kesatu tentang takwa
merupakan sifat baik secara vertikal antara hamba dengan khalik yang seharusnya dimiliki oleh pendidik.
Sedangkan hadis kedua merupakan kepribadian yang baik secara horizontal dengan sesama mahluk.
Kepribadian yang terpuji secara vertikal dan horizontal adalah modal besar yang harus dimiliki pendidik,
karena tujuan pendidikan dalam islam dalam rangka mendukung tugas manusia di dunia untuk beribadah.
Ibadah sendiri terkait dengan ibadah secara vertikal dan horizontal.
Ketiga, kompetensi profesional. Profesional artinya menghargai profesinya sendiri. Dalam isilah islam
profesional bisa dikaitkan dengan sikap ikhlas. Ikhlas memang melakukan suatu aktivitas dalam rangka
menggapai ridha Allah, namun maknanya sering dikaitkan dengan sedikit banyak upah (balasan) yang
diterima seseorang dari perbuatannya. Opini yang berkembang di masyarakat bahwa seseorang yang
melakukan sesuatu dengan cuma-cuma (gratis) baru disebut ikhlas, padahal sekali lagi tidak ada kaitannya
dengan hal tersebut. Ikhlas dalam lapangan pekerjaan dapat diartikan dengan mengerahkan segenap
potensi agar bisa melakukan tugasnya secara maksimal. Suatu aktivitas akan maksimal jika didasari tekad
(niat) yang kuat pula. Hadis nomor empat tentang niat merpakan dasar profesionalisme bagi setiap orang
(terutama pengajar), bahwa sikap profesional akan menghasilkan hasil yang diharapkan dan hal itu harus
dimulai dengan niat/ tekad yang bulat. Namun semua itu tetap dalam rangka menggapai ridah Allah swt.
Salahsatu bentuk aplikasi profesionalisme guru adalah mendidik dengan penuh kasihsayang dan bukan
dengan kekerasan seperti halnya dalam hadis nomor tiga.
Keempat, kompetensi sosial. Maksud kompetensi ini, bahwa seorang pendidik mesti memiliki peran aktif
dalam masyarakat. Pendidik mampu mewarnai masyarakat sekitarnya untuk diarahkan kepada hal yang
bermanfat. Orang yang dianggap berpengaruh dimasyarkat adalah orang yang bisa memberikan manfaat
bagi orang lain. Indikasi seseorang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat sekitarnya adalah
seorang pendidik mampu memberikan contoh ahlak yang baik seperti yang tercantum dalam hadis nomor
dua tentang ahlak mulia.
C. Orang Tua Sebagai Pendidik Utama Dan Pertama
1. Orang tua yang menentukan anaknya nanti



:
:



)
(
Dari Abu Hurairah berkata: Nabi saw bersabda: Setiap yang lahir, dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci).
Maka orang tuanyalah yang menentukan apakan dia menjadi seorang Yahudi, Nasrani, atau Najusi (H.R
Bukhari dan Muslim)
2. Orang tua memberikan contoh untuk memenuhi hak dan kewajiban


: :



) (
Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah saw bersabda:Diantara kewajiban orang tua terhadap anaknya
ada tiga, yaitu: memberinya namay yang baik jika lahir, mengajarkan kitab (al-Qurn) kepadanya jika
telah mampu (mempelajarinya), dan menikahkannya jika telah dewasa. (H.R. Hakim)
3. Orang tua mendidik anaknya untuk beribadah

:. :






) (
Dari Ibnu Amr bin Ash, ia berkata: Rasulullah bersabda Perintahkanlah anak-anak kalian shalat ketika
berumur 7 tahun, dan pukullah mereka ketika berumur 10 tahun. Pisahkanlah mereka dalam tempat
tidurnya (H. R Abu Daud)
4. Orang tua mendidik anak untuk mencintai Nabi dan keluarganya
) (

:.
Rasulullah bersabda, didiklah anak-anak kalian atas 3 perkara; mencintai nabi, mencintai keluarga nabi,
dan mencintai membaca Al-Quran. (H.R. al- Tabrani)
5. Orang tua harus mengajarkan keberanian kepada anaknya


:()
Umar bin Khatab berkata Ajarkanlah anak-anak kalian berenang, memanah, dan perintahlah mereka
agar pandai menunggang kuda (H.R Baihaqi)
Analisis Pendidikan
Anak adalah amanat dari Allah swt. Konsekuensinya bahwa amanat itu mesti di jaga. Salahsatu bentuk
menjaga dan memelihara anak sebagai amanat Allah adalah mendidiknya. Ironisnya, sekarang para orang
tua menilai bahwa pendidikan anaknya adalah tanggungjawab guru di sekolah. Padahal pertemuan anak
didik dengan pendidiknya di sekolah terbatas oleh waktu. Oleh karena itu dalam islam, orang tua tidak
bisa berlepas tangan dari tanggungjawab mendidik anaknya. Orang tua adalah pendidik pertama. Hal ini
dicontohkan ketika anak dalam kandungan islam mengajarkan agar banyak membacakan surat Yusuf
misalnya, atau ketika lahir diadzani dan diqomati. Bagaimana masa depan seorang anak akan terkait
dengan pendidikan yang diberikan orang tuanya. Anak bisa menjadi orang yang saleh atau salah
tergantung perhatian orang tua terhadap pendidikan yang diberikan kepada anaknya. Hal ini senada
dengan hadis nomor satu.
Realisasi orang tua sebagai pendidik utama dan pertama bagi anaknya adalah melalui cara mendidik
anaknya dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat, yaitu:
1. Pendidikan tentang ibadah, yang diwakili oleh hadis nomor tiga
2. Sejarah dan kecintaan terhadap Rasulullah, yang diwakili oleh hadis nomor empat
3. Pendidikan tentang akidah yang benar, diwakili oleh hadis nomor satu
4. Pendidikan tentang tanggungjawab untuk melaksanakan kewajiban dan menghargai hak orang lain, dua
5. Pendidikan yang menumbuhkan keberanian dan kesehatan, diwakili oleh hadis nomor lima.
Tentu bukan hanya sekedar itu, karena cakupan ilmu itu luas. Namun jika kita perhatikan, kelima hadis
tersebut bersentuhan langsung dengan kewajiban orang tua untuk mendidik anaknya. Indikasinya, dalam
hadis tesebut menyinggung-nyinggung kata atau . dan kelima hadis tersebut nampaknya sudah
mewakili tiga komponen jenis pendidikan yang dikembangkan pakar pendidikan barat bernama Bloom,
yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik.
D. Peserta Didik Harus Dihormati
1. Memberikan kemudahan kepada peserta didik

: .
)(
Dari Anas, dari Nabi saw beliau bersabda: mudahkanlah dan jangan dipersulit, gembirakanlah dan
jangan membuat mereka takut. (H.R Bukhari)
2. Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bisa mengulang pelajaran


:.

)(
Dari Anas, dari Nabi saw: apabila beliau mengucapkan salam, beliau mengucapkan salam tiga kali, dan
apabila beliau mengucapkan satu kalimat, maka beliau mengulangnya tiga kali.( HR Bukhari)
3. Memperlakukan peserta didik dengan penuh kasih sayang
:. :

.) (



Dari Aisyah r.a: Rasulullah saw bersabda: ..Ya Aisyah hendaklah kamu bersikap kasih sayang dan
hati-hatilah terhadap sikap kejam dan keji. (H.R Bukhari)
4. Peserta didik harus diarahkan kepada kebenaran jika melakukan kesalahan
) (

:.

Rasulullah saw bersabda: Hai anak, sebutlah nama Allah (sebelum makan) dan makanlah dengan tangan
kanan serta makanlah dulu apa yang ada di dekatmu. (H.R Bukhari dan Muslim)
5. Peserta didik harus didik sesuai usia dan kemampuan mereka
) (
:.
Rasulullah saw bersabda: Didiklah anak-anakmu sesuai dengan kemampuan akal mereka. (al-Hadis)
Analisis Pendidikan
Faktor keberhasilan pendidikan atau pembelajaran, salahsatunya ditentukan oleh kesiapan anak didik
dalam menerima materi. Peserta didik mampu menerima materi pembelajaran apabila suasana dan kondisi
anak siap menerima materi. Untuk menyiapkan peserta didik agar bisa menerima materi ini, perlu
dibangun suasana yang membuat peserta didik nyaman dan merasa dihargai. Dan hal itu akan terkait
dengan metode dan prinsip penyampaikan bahan ajar yang diunakan oleh pendidik. Ada empat hal yang
perlu diperhatikan dalam rangka menciptakan kondisi nyaman bagi peserta didik, sehinga pembelajaran
bisa efektif.
Pertama, hendaknya guru memberikan kemudahan kepada murid agar mereka dapat memahami materi
yang disampaikan. Hal ini termaktub dalam hadis kesatu.
Kedua, memberikan kesempatan kepada peserta didik agar bisa mengulangi pelajaran. Seperti ynag
dijelaskan dalam hadis ketiga.
Keempat, jika ada kesalahan atau kekurangan pada peserta didik, hendaklah guru tersebut
mengarahkannya kepada hal yang benar. Hal ini seperti yang dikisahkan dalam hadis nomor empat. Pada
saat itu ada seorang anak yang hendak makan tangannya kesana-kemari dan tidak sopan, Rasul yang saat
itu hadir disana menegurnya, kemudian memerintahkan kepada anak tersebut untuk makan dengan tangan
kanan dan dimulai dari makanan yang paling dekat dengannya.
Kelima, materi yang diberikan sesuai dengan tingkatan usia atau daya nalar peserta didik. Hal ini
diterangkan dalam hadis kelima.
E. Pendidikan Merupakan Tanggungjawab Bersama
1. Semua orang wajib menuntut ilmu


) (
: :
Dari Abu Hurairah r.a berkata: Rasulullah saw bersabda:Menuntut ilmu merupakan kewajiban setiap
Muslim. (H.R Ibnu Majah)
2. Semua pihak harus saling membantu dalam pelaksanaan pendidikan

: - -




) ( .


Dari Numan bin Basyir, dari Nabi saw bersabda: perumpamaan orang-orang mumin dalam saling
menyayangi, saling mengasihi, dan berlemah lembut, seperti satu tubuh. Jika satu bagian sakit, maka
bagian yang lainnya merasakan sakit dengan panas dan demam. (H.R Muslim)
3. Semua pihak bisa terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan sesuai kapasitasnya
: ,()
Dari Ibnu Masud, dari Rasulullah saw bersabda: Jadilah pengajar, ataupun pelajar, pendengar, dan
pencinta (ilmu) tetapi janganlah menjadi yang kelima, maka nanti kamu bisa celaka.(al-Hadis)
4. Masyarakat bisa berperan dalam pendidikan sebagai seorang pengajar walaupun hanya dengan
meluruskan sebuah kesalahan

"



:


" ( )
Dari Abu Said Khudriyi berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: Barang siapa yang melihat
sebuah kemungkaran, maka rubahlah dengan tangan (kekuasaan)nya, jika tidak mampu, rubahlah dengan
lisannya, jika tidak mampu, rubahlah dengan hatinya, itulah selemah-lemahnya iman. (H.R Muslim)
5. Masyarakat bisa berperan dalam pendidikan dengan berperan sebagai donatur
) (:
Rasulullah saw bersabda: Berjihadlah kamu melawan kemusyrikan (termasuk kebodohan) dengan harta,
jiwa, dan lidahmu. (H.R an-Nasai)
Analisis Pendidikan
Pendidikan adalah ujung tombak pemberdayaan sumber daya manusia. Baik tidaknya penyelenggaraan
pendidikan akan berpengaruh terhadap kemajuan sebuah negara. Konsekuensi dari hal tersebut bahwa
semua pihak bertanggungjawab atas pendidikan. Hadis pertama di atas tentang kewajiban menuntut ilmu
bagi setiap pribadi muslim merupakan indikasi akan hal ini. Begitu sentralnya peran masyarakat dalam
pendidikan sehingga Rasul memberikan opsi pilihan sejauhmana potensi kita terlibatdalam
penyelenggaraan pendidikan. Nabi saw menyataan kita bisa terlibat sebagai pengajar, peserta didik,
pendengar atau mungkin pencinta ilmu yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing.
Masyarakat bisa terlibat dalam dunia pendidikan sebagai pendidik walaupun hanya membenarkan
kesalahan yang dilakukan seseorang atau kelompok, dan itupun sesuai potensi dan kemampuan kita baik
dengan cara diplomasi, aksi atau bahkan dengan nurani.
Keterlibatan masyarkat sebagai peserta didik juga merupakan bagian dari dukungan terhadap dunia
pendidikan. Dan peran ini yang mutlak bisa dilakukan oleh setiap muslim yang diindikasikan dengan
perintah kewajiban untuk mencari ilmu bagi setiap orang.
Jika tidak bisa berperan lansung dalam proses pembelajaran, maka masyarakat bisa berperan sebagai
pendudukang kegiatan pendidikan. Perannya bisa sebagai pendegar, dalam hal ini penulis istilahkan
pendengar dalam hadis tesebut sebagai pengawas dalam proses pendidikan. Hal ini sesuai dengan hadis
Rasul nomor dua yang menyatakan gambaran keindahan kehidupan mastarakat muslin adalah saling
tolong (banu) dalam setiap kegiatan mereka, terutama dalam hal pendidikan. Atau mungkin bisa berperan
sebagai donatur. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa permasalahan dana juga sangat berpengaruh
dalam pendidikan. Oleh karena itu Rasul menyatakan sumbangan dana bagi pendidikan juga bisa dinilai
sebagai jihad melawan kemusyrikan, sebab kemusyrikan muncul dikarenakan kebodohan tentang ajaran
islam.
Kelima hadis sejalan dengan Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
(UU SNP) Bab XV yang menyebutkan:
1) Peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi perseorangan, kelompok, keluarga, oranisasi
profesi, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu
pelayanan pendidikan.
2) Masyarakat dapat berperan serta sebagai sumber, pelaksana, dan pengguna hasil pendidikan.
F. Pendidikan Agama Harus Diperhatikan
1. Pentingnya pendidikan shalat (ibadah)

:. :






) (
Dari Ibnu Amr bin Ash, ia berkata: Rasulullah bersabda Perintahkanlah anak-anak kalian shalat ketika
berumur 7 tahun, dan pukullah mereka ketika berumur 10 tahun. Pisahkanlah mereka dalam tempat
tidurnya (H. R Abu Daud)
2. Pentingnya pendidikan al-Qurn

: )

(

Dari Usman, bahwasannya Rasulullah saw bersabda:Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar
al- Qurndan mengajarkannya. (H.R Bukhari, Turmudzi, al-Nasai, dan Ibnu Majah)
3. Pentingnya pengetahuan agama islam untuk menjaga fitrah manusia



:
:



)
(
Dari Abu Hurairah berkata: Nabi saw bersabda: Setiap yang lahir, dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci).
Maka orang tuanyalah yang menentukan apakan dia menjadi seorang Yahudi, Nasrani, atau Najusi (H.R
Bukhari dan Muslim)
4. Pentingnya pendidikan tentang etika pergaulan





:

) (
Dari Anas bin Malik berkata: Seorang laki-laki tua ingin bertemu dengan Rasul, tetapi orang-orang tidak
mau melapangkan jalan baginya. Maka Rasulpun bersabda:Bukan termasuk umat kami, orang yang tidak
mencintai yang lebih muda dan tidak menghormati yang lebih tua.(H.R Turmudzi)
5. Pentingnya ilmu agama tentang keindahan dan kebersihan
: :
)(
Dari abdullah bin masud berkata: Rasulullah s.a.w. bersabda: sesungguhnya Allah itu maha indah dan
menyukai keindahan. (H.R. muslim)
6. Ilmu agama merupakan kunci kesuksesan dunia dan akhirat

) (
Barang siapa yang mengiginkan dunia (kebagiaan hidup di dunia), maka hendakalah ia menguasai
ilmunya, dan barang siapa yang menghendaki akhirat (kebahagiaan hidup di akhirat), hendakalah ia
menguasai ilmunya, dan barang siapa yang menghendaki keduanya (dunia dan akhirat), hendakalah ia
menguasai ilmunya. (hadits Nabi)
Analisis Pendidikan
Sebenarnya tidak ada istilah ilmu agama dan ilmu umum dalam islam, sebab semua ilmu sumbernya dari
Allah yang ditulis dalam al-Qurn, digambarkan di alam, dan dijelaskan oleh Sunah Nabi saw. Tetapi
pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan barat membuat manusia terlena dan
cenderung melupakan ilmu yang sifatnya petunjuk ibadah, baik ibadah secara vertikal maupun horizontal.
Padahal tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada penciptanya.
Pentingnya pendidikan agama ini, terkait dengan apa yang harus diajarkan dan apa hikmahnya harus
diajarkan. Terakit dengan apa yang harus diajarkan tentu tidak lepas dari sifat ibadah yang dilakukan
manusia itu sendiri. Pertama, yang diajarkan tentu ilmu agama yang sifatnya ubudiyah (ibadah vertikal).
Hadis tentang perintah mengajarkan salat dan belajar al- Qurn di atas merupakan bagian dari ilmu yang
harus diajarkan dalam rangka mendukung tugas manusia di dunia ini. Sehingga begitu pentingya
mengajarkan salat, usia 10 tahun harus diberi sanksi jikaxsi anak masih main-main dengan salatnya.
Pentingnya belajar tentang al- Qurn ditandai dengan keharusan untuk mengajarkannya, bahkan orang
yang mempelajari kitab suci kita ini disebut sebagai sebaik-baiknya orang muslim. Kedua, tentu terkait
dengan ilmu agama masalah muamalah secara umum atau ibadah secara horizontal. Hal ini diisyaratkan
dengan hadis nomor empat dan lima, yang terkait dengan etika pergaulan dan perlunya menjaga
kebersihan dan keindahan.
Pemberian pendidikan agama sebenarnya untuk kebaikan umat muslim sendiri, karena ilmu agama dalam
rangka menjaga fitrah manusia dalam seperti yang disebutkan hadis nomor tiga, dan dalam rangka
mengantarkan mausia untuk mencapai cita-citanya seperti digambarkan hadis keenam di atas.
G. Ulama/ Ilmuan Berperan Penting Dalam Pendidikan
1. Ulama adalah pewaris para nabi
: ......

. )(

Dari Abu Darda berkata, Rasulullah saw bersabda:........Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para
nabi, para nabi tidak mewariskan dinar ataupu dirham (harta), tetapi mereka mewariskan ilmu. (H.R Abu
Dawud)
2. Ilmu akan hilang jika ulama wafat



: - -

) ( .


dari Abdullah bin Amr, dari Nabi saw bersabda:Sesungguhnya Allah tidak akan menghilangkan ilmu
dengan mengangkatnya, tetapi dengan mewafatkan para ulama sehingga tidak lagi tersisa orang yang
alim. Dengan demikian orang-orang akan mengangkat para pemimpin yang dungu lalu ditanya dan
mereka (pemimpin dungu) memberi fatwa tanpa ilmu pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan.(H.R
Mutafa Alaih)
3. Ilmu yang dimiliki ulama adalah amanat yang harus disampaikan



:
: ( )

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah saw bersabda:Barang siapa yang ditanya tentang suatu ilmu
kemudian dirahasiakannya, maka dia akan sempal (mulutnya) dari api neraka. (H.R Abu Dawud)
Analisis Pendidikan
Pengetahuan memang berkembag pesat, apalagi jika dikaitkan dengan pengetahuan manusia tentang
sains. Namun kita juga menyadari bahwa ilmu tidak akan pernah berkembang jika tidak ada pengetahuan
yang datang sebelumnya. Oleh karena itu jika menyinggung peranan ulama dalam pendidikan, terutama
pendidikan islam, peranannya sangatlah besar. Ada tiga alasan yang mendasari hal ini, yaitu:
Pertama, ulama adalah pewaris para nabi. Syariat islam (tauhid) dari Nabi saw dan nabi lainnya, tidak
mungkin pernah sampai jika tidak ada ulama yang mempelajarinya kemudian menyampaikannya kepada
umat (sesuai hadis pertama).
Kedua, dalam hadis selanjutnya di atas, bahwa wafatnya ulama akan mengurangi ilmu yang ada di dunia
ini. Dengan wafatnya seorang ulama, artinya akan hilang satu figur yang mampu memberikan penjelasan
disaat umat membutuhkannya, bahkan lebih menghawatirkan akan menimbulkan banyak bidah ataupun
kesesatan. Namun hal ini bisa cegah, asalkan kita sebagai generasi islam memiliki keinginan yang kuat
untuk belajar (terutama belajar agama).
Ketiga, Rasul mengingatkan bahwa ilmu yang ada pada ulama adalah amanat yang harus disampaikan
kepada umat. sehingga dalamhadis ketiga ulama uang menyembunyikan ilmu dari yang membutuhkan
konsekuensinya sangat berat.
H. Pendidik Adalah Pekerjaan Yang Istimewa
1. Pengajar dalam Islam dipandang memiliki kedudukan yang terhormat



:
:

( )
Dari Abu Darda berkata, Rasulullah saw bersabda: keutamaan seorang yang berilmu (pengajar)
atas seorang abid (ahli ibadah)seperti keutamaan bulan purnama atas semua bintang. (H.R Abu Dawud)
2. Imu yang diajarkan akan menjadi amal yang terus mengalir pahalanya


:

) (
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw bersabda: Jika manusia mati, terputuslah semua amalnya
kecuali tiga hal, yaitu: sadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat (diamalkan/ diajarkan), dan anak saleh
yang selalu mendoakannya. (H.R Muslim)
3. Pendidik akan mendapatkan nilai kebaiakan (pahala) dari ilmu yang diamalkan peserta didikknya

)

(
Barang siapa yang menyeru pada kebenaran, maka dia akan mendapat pahala dari orang yang mengikuti
kebenaran darinya tanpa mengurangi nilai pahala orang yang mengikutinya tersebut. (H.R Muslim,
Turmudzi, dan Ibnu Majah)
4. Semua yang dipakai (dikeluarkan) pendidik untuk memperlancar proses pendidikan akan
diperhitungkan di hari kiamat seperti darahnya syuhada.
: :
) (
Dari Abu Darda berkata: Rasulullah saw bersabda: Akan ditimbang pada hari kiamat nanti, tinta ulama
(pendidikan) dengan darah syuhada. (H.R Abu Dawud)
Analisis Pendidikan
Tahun 2005, dengan disyahkannya Undang-undang nomor 14 tentang guru dan dosen, muncul harapan
bahwa profesi guru akan dihargai. Namun hal ini tidak mutlak berlaku bagi semua guru. Bagaimanapun di
Indonesia penghargaan terhadap guru disesuaikan dengan golongan yang dimilikinya. Hal ini juga akan
berpengaruh terhadap gaji yang mereka terima, semakin tinggi golongannya, maka akan semakin tinggi
upah yang diterima dan begiru sebaliknya. Di luar penghargaan dengan materi, jauh sebenarnya seorang
pendidik harus bangga dengan profesinya, karena islam sangatlah menghargai profesi ini.
Dalam hadis-hadis di atas disebutkan beberapa penghargaan islam terhadap pendidik melalui hadis yang
disampaikan Rasulullah saw, antara lain:
1. Derajat seorang pendidik lebih tinggi dari hamba. Rasul mentasybihkan (mengumpamakan) bahwa
perbandingan kelebihan seorang ahli ilmu (pengajar) dengan ahli ibadah seperti dalam hadis petama,
seperti bulan purnama atas semua bintang di langit. Bulan purnama walaupun satu tetapi begitu
dinantikan karena mampu menerangi bumi, sedangkan ribuan bintang belum tentu mampu menerangi
bumi seterang bulan.
2. Mengajar berarti berinfestasi untuk menabung pahala, karena hadis kedua menyebutkan ilmu yang
bermanfaat (diajarkan) pahalanya tidak terputus walaupun telah meninggal.
3. Jika ilmu yang diberikan seorang pendidik mendatangkan manfaat walaupun orang lain yang
mengamalkan diaakan mendapat tambahan pahala atas ilmu yang member manfaat tersebut. Bahkan
setiap yang digunakannya dalam mengajar akan ditimbang dengan darah para syuhada (hadis ketiga dan
keempat).
II. MENELADANI RASULULLAH SAW SEBAGAI PELOPOR PENDIDIKAN
Rasulullah saw. merupakan pelopor yang berhasil dalam pendidikan, terutama pendidikan islam. Bukti
kongkrit keberhasilan beliau sebagai pelopor pendidikan adalah keberhasilannya dalam mendidik para
sahabat. Pendidikan ala Rasulullah mampu menghasilkan sumber daya manusia sehandal Abu Bakar,
Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib, dan dengan potensi para sahabat tersebut
islam mampu meraih masa keemasan. Hadis-hadis yang telah disebutkan pada pembahasan sebelumnya
juga merupakan bukti sahih keberhasilan beliau dalam dunia pendidikan. Banyak faktor yang
mempengaruhi keberhasilan Nabi saw. dalam mendidik para sahabat dan umatnya pada zaman itu.
Sebagai umat muslim semestinyalah keberhasilan Rasul dalam edukasi ini menjadi inspirasi yang
diterapkan saat ini.
Dari sekian faktor yang mempengaruhi keberhasilan Nabi saw. dalam bidang pendidikan, ada satu hal
yang menarik yang bisa kita teladani dan terapkan dalam dunia pendidikan yang kita geluti. Hal yang
dimaksud adalah terkait metode yang diterapkan Rasul dalam mendidik sahabat, yaitu metode pendidikan
(pengajaran) dengan keteladanan.
Kita mungkin saja dapat menemukan suatu system pendidikan yang sempurna, menggariskan tahapan-
tahapan yang serasi bagi perkembangan manusia, menata kecenderungan dan kehidupan psikis,
emosional, maupun cara-cara penuangannya dalam bentuk perilaku, serta pemanfaatan potensinya
sesempurna mungkin. Akan tetapi semua ini masih memerlukan realisasi edukatif yang dilaksanakan oleh
seorang pendidik. Pelaksanaanya itu memerlukan seperangkat metode dan tindakan pendidikan, dalam
rangka mwujudkan asas yang melandasinya, metode yang merupakan patokannya dalam bertindak serta
tujuan pendidikannya yang diharapkan dapat dicapai. Ini semua hendaknya ditata dalam suatu system
pendidikan yang menyeluruh dan terbaca dalam seperangkat tindakan dan perilaku yang kongkrit.
Oleh karena itu Allah swt. mengutus Nabi Muhammad saw. agar menjadi teladan bagi seluruh manusia
dalam merealisasikan system pendidikan tersebut. Dalam sebuah keterangan disebutkan:
Aisyah r.a. pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah saw. kemudian Aisyah menjawab:
Akhlaknya (Rasulullha) adalah al-Quran
Para sahabat telah mempelajari berbagai urusan agama mereka dengan mengikuti teladan yang senagaja
diberikan Rasulullah saw. umpamanya, Beliau bersabda kepada mereka:



- -
: - - .

Dari Malik bin Huwairis r.a berkata: Rasululah saw bersabda:Salatlah kalian sebagaimana kalian lihat
aku salat. (H.R Bukhari)
Juga dalam melaksanakan ibadah haji, Beliaupun menyuruh mereka mencontohnya:
: .
Dari Jabir, bahwa Rasulullah saw bersabda: Ambillah dariku cara-cara mengerjakan haji kalian. (H.R
Muslim)
Sebagai contoh bahwa teladan Rasulullah sangat diperhatikan, seorang sahabat bertanya kepada tabiin:
Apakah aku tidak shalat seperti shalat Rasulullah saw. sebagai contoh bagi kalian?.
Demikianlah Rasulullah saw. peletak pendidikan Islam, mengajarkan kepada kita agar pendidik mengajar
para pelajarnya dengan perbuatan-perbuatannya; menarik nperhatian mereka agar mencotohnya, karena
dia sendiri mencotoh Rasulullah saw. Metode dengan teladan yang sukses diterapkan Rasul tersebut,
mungkin sebuah jawaban untuk menyelesaikan benang kusut permasalahn pendidikan di Indonesia.