Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG.
Kesenjangan kuantitatif dan ketimpang kualitatif antara pendidikan di desa dan kota sejak
dahulu sangat menonjol, lebih-lebih untuk saat ini (Coombs and Ahmed, 1984). Dampak
langsung dari gejala itu adalah terjadinya mobilitas pendidikan yang timpang, untuk
selanjutnya memuat ketimpang mobilitas penduduk. Soepardjo Adikusumo (1984) dalam
makalahnya yang bejudul Penggalangan Keharmonisan Kualitas Kependidikan
Masyarakat Kota-Desa yng disampaikan pada seminar pendidikan dan Pengembangan
Kualitas Hidup Bangsa di IKIP Bandung, memberikan uraian yang komprehensif tentang
sebab-sebab membanjirnya penduduk dari desa ke kota, terutama untuk memperoleh
kesempatan pendidikan.

B. TUJUAN PENULISAN
Tujuan dari pembuatan makalah ini antara lain:
1. Mengetahui bagaimana pendidikan didesa dan di kota

C. C. MANFAAT

Dapat mengetahui tingkat pendidikan didesa dan di kota

1
BAB II

ISI

A. PRILAKU KERUANGAN

Pendidikan sebagai alat pengubah prilaku manusia menempati posisi tersendiri dalam
kancah kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Pendidikan dianggap sebagai alat (tool)
untuk mengubah taraf hidup manusia dari kondisi buruk saat ini ke kondisi yang lebih
bermutu dimasa mendatang (Faure,1972). Dalam kondisi seperti itu berbagai gejala lain
tumbuh di masyarakat.

Gejala dimaksud antara lain :

1. Banjir anak didik dan meningkatnya aspirasi masyarakat terhadap pendidikan


tidak sejalan dengan kapasitas pendidikan yang mana pendidikan masih dianggap
terlalu lamban dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia.
2. Gerak pendidikan baik kualitatif maupun kuantitatif antara desa dan kota masih
dirasakan terlalu senggang.
3. Ketidakseimbangan vertical dan ketidakseimbangan horizontal.
4. Sumber alam yang langka.
5. Semakin menyebarnya anggapan masyarakat desa bahwa hidup dokita serba
mudah dan enak.
6. Khusus dalam diri anak usia sekolah terdapat anggapan bahwa mutu pendidikan di
perkotaan lebih tinggi.
Manusia berkualitas adalah manusia terdidik, meskipun tidak lah mutlak bahwa
tingkatan pendidikan tertentu akan membuahkan keterampilan, sikap dan pengetahuan
tertentu persis seperti yang diharapkan. Tidak ada korelasi mutlak anara tingkat pendidikan
dengan kemampuan yang dimiliki.
Roger A. Kaufman (1972) dari Floridina State University mengemukakan bahwa
pendidikan dapat dipandang sebagai proses mempengaruhi individu (learner) dengan (at least
minimal), skills, knowledge and attitudes sehingga mereka dapat hidup dan berproduksi
dalam masyarakat setelah mereka secara legal keluar dari lembaga pendidikan, setidaknya,
berwujud ketemapilan, pengetahuan dan sikap minimal yang dibutuhkan masyarakat sesuai
dengan tujuan lembaga.
2
Kebutuhan dan tuntutan akan pengetahuan, keterampilan dan sikap semacam itu
tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan
dan teknologi. Ada kecendrungan mutu hidup dikemuadian hai turut ditentukan oleh
sejumlah indicator itu dan karenanya, kejar-kejaran terhadap pemerolehan pengetahuan,
keterampilan dan lain-lain pada taraf tinggi semakin menonjol. Ini berarti meningkatkan
aspirasi pendidikan, tidak hanya dalam aspek kualitatif tetapi juga aspek kuantutatif yang
menyebutkan bahwa aspirasi memasukkan anak ke sekolah semakin besar. Khusus untuk
memakusi perguruan tinggi, meurut Soepardjo Adikusumo, mereka cenderung dari desa ke
kota dan dari luar Jawa ke Jawa.

Gejela meminati pendidikan di perkotaan tentu saja tidaklah terbatas pada tingkat
perguruan tinggi. Pada tingkat pendidikan menengah pun sangat menonjol, terutama di
daerah-daerah di tingkat desa atau kecamatan, dimana pendidikan menengah belum ada.
Bahkan tidak jarang, dengan alas an tertentu, orang tua menyekolahkan anaknya dikota sejak
dari pendidikan dasar, yang nota bene masih dapat dilakukan di desa tempat ia tinggal.

Pemerataan kuantitatif dan kualitatif pendidikan sebagai upaya mengurangi urbanisasi


anak usia sekolah yang dibahas pada bagian ini berawal dari asumsi sebagai berikut :

1. Anak usia sekolah, khususnya tingkat sekolah dasar dan sekolah menengah
merupakan kelompok terbesar masyarakat Indonesia.
2. Aspirasi masyarakat dan anak didik memasuki pendidikan semakin tinggi di
satu pihak dan masih ada jurang pemerataan kualitas dan kuantitas pendidikan
antara desa dan kota di pihak lain.
3. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini membuat pendidikan
semakin berarti bagi upaya pemerolehan pengetahuan, keterampilan dan sikap
yang sulit dibendung sebagai akibat langsung dari keterbatasan fasilitas
pendidikan.

Kesenjangan kuantitatif dan ketimpang kualitatif antara pendidikan di desa dan kota
sejak dahulu sangat menonjol, lebih-lebih untuk saat ini (Coombs and Ahmed, 1984).
Dampak langsung dari gejala itu adalah terjadinya mobilitas pendidikan yang timpang, untuk
selanjutnya memuat ketimpang mobilitas penduduk. Soepardjo Adikusumo (1984) dalam
makalahnya yang bejudul Penggalangan Keharmonisan Kualitas Kependidikan Masyarakat
Kota-Desa yng disampaikan pada seminar pendidikan dan Pengembangan Kualitas Hidup

3
Bangsa di IKIP Bandung, memberikan uraian yang komprehensif tentang sebab-sebab
membanjirnya penduduk dari desa ke kota, terutama untuk memperoleh kesempatan
pendidikan.

Badan Pembina Pendidikan Internasional (1984) atau International Council of


Education Development (ICED) dalam laporannya menagatakan, bahwa di kota-kota bukan
hanya tersedia banyak sekolah, akan tetapi relative lebih mudah dimanfaatkan daripada d
pedesaan. Di kota-kota banyak tersedia kegiatan ekonomi modern, media (surat kabar, buku,
majalah, televise, siaran radio, film) dan semua barang modern yang kesemuanya merupakan
barang konsumsi modern.

Kesempatan pendidikan luas sekali di kota-kota, banyak lembaga pendidikan dan


jenis pilihan spesialis yang dapat dipilih (UNESCO, 1978). Lebih dari itu, anak didik dikota-
kota lebih banyak mendapatkan informasi dari segala sumber, baik langsung maupun tidak
langsung.

Di desa, kondisi itu jauh berbeda dan sulit diubah, lebih-lebih lagi Indonesia yang
wiayahnya sangat luas,rumit dan kompleks, di samping kemampuan ekonomi, komuniksi dan
motivasi warga sebelum menunjang.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, menyebabkan pengelola pedidikan


dituntut keras mengejar ketinggalan dan apa yang diperoleh melalui penelitian dan
pengembangan (Research and Development ) seringkali sulit diserap dalam waktu singkat
oleh lembaga pendidikan. Kalaupun demikian tidak menutup mata bahwa pendidikan
memberikan sumbangan besar bagi kemajuan ilmu pengethuan dan teknologi.

Kesenjangan- yang menurut saya adalah sbab dari krisis pendidikan itu akan
Nampak jelas di pedesaan, dimana modernisasi rakyatnya berjalan lamban, tidak ada
motivasi belajar, kolot, kurang gizi, mempertahankan warisan budaya masa lampau dan
segalanya. Coombs dan Ahmed (1984) mengemukakan bahwa, pada umumnya seluruh usaha
pembangunan nasional mengalami akibat krisis pendidikan ini, lebih-lebih di pedesaan.

4
Alasan krisis itu menurut Coombs dan Ahmed (1984) ada 3 :

1. Daerah perkotaan memperoleh lebih banyak jatah sumber daya yang memang
serba langka (scares).
2. Ketidaksesuaian apa yang dipelajari dan apa yang seharusnya dipelajari
dipedesaan dan gejala itu sangat kelihatan.
3. Kebijaksaan pendidikan yang lebih banyak menempatkan arti persekolahan
formal, oleh karena itu apa yang mayoritas dibutuhkan oleh masyarakat pedesaan
diabaikan sama sekali.

Peserta didik di desa berasal dai kalangan miskin atau tidak beruntung dan dampak
ekologi juga berpengaruh. Hasil observasi singkat menunjukkan berbagai gejla buruk dari
aktivitas pendidikan anak desa terpencil antara lain :

1. Tingkat ketidakhadiran murid tinggi, terutama pada saat penggarapan lahan


pertanian dan musim panen.
2. Proses belajar anak sekolah ditunjang hanya dengan alat seadanya, bangku yang
reot, ruang kotor, buku tulis yang sudah kumal, sepatu penuh lumpur pada musim
hujan atau debu pada musim kering.

3. Belajar dirumah dengan menggunakan penerangan dari lampu lentera yang


asapnya memenuhi lubang hidung.
4. Sepulang sekolah membantu orang tua di tanah pertaniannya atau memburuh dan
pulang menjelang atau sesudah waktu magrib.
5. Tidak ada kesempatan menambah mengetahuan lain melalui televise, bimbingan
belajar dari guru, apalagi membaca media massa, seperti Koran dan majalah.

Citra pendidikan diperkotaan lebih baik, kesempatan memperoleh pendidikan di kota


lebih luas dan kemajuan dalam bidang komunikasi dan informasi mudah dirasakan.
Meningkatnya kemampuan ekonomi menyebabkan perunhan prilaku penduduk kota
dari statis di masa lampau dan dinamis di masa kini.

5
B. PEMERATAAN KUALITAS

Dari sudut pemerataan, pendidikan dapat dilihat dari dua dimensi, yaitu dimensi
kualitas (quality dimension) dan dimensi kuantitas (quantity dimension). Penekana pada
aspek kuantitas seringkali mengabaikan aspek kualitas dan demikian sebaliknya.

Pemerataan kuantitas pendidikan merupakan tanggung jawab pemerintah, masyarakat


dan orang tua secara integral. Pemerintah, dengan kemampuan yang ada telah bertekad
memberikan kesempatan kepdaa setiak warga negara yang ingi menikmati pendidikan.
Masyarakat dan orang tua juga mempunyai tanggung jawab besar dal hal seperti :

a. Memberikan dana untuk lancarnya roda pendidikan persekolahan, baik disekolah-


sekolah pemerintah maupun sekolah swasta.
b. Memilih pendidikan yang paling cocok, kalaupun anak mempunyai kebebasan
lebih untuk memilih jenis pendidikan yang diinginkannya.
c. Memberi kemudahan untuk anak (anggota kelurga) untuk memperlancar kegiatan
pendidikan.

Bertambahnya tingkat partisipasi pendidikan membawa dampak yang tidak kecil, antara lain:

a. Banyaknya anak yang harus ditampung pada tingkat berikut, dari SD ke SMTP dan
seterusnya.
b. Semakin banyak jumlah fasilitas fisik yang diperlukan pada tingkat pendidikan
tertentu.
c. Penambahan guru pada setiap tingkat pendidikan.
d. Dana yang harus dikeluarkan oleh pemerintah dan orang tua.
e. Tuntutan terhadap pelayanan pendidikan yang efektif dan efisien.

Kemajuan yang menggembirakan dari hasil pendidikan di Indonesia, menyebabkan


angka partisipasi cukup tinggi, terutama pada tingkat pendidikan lanjutan pertama. Meskipun
demikian angka partisipasi itu berbeda kontras pada setiap level (tingkat) pendidikan.
Artinya, jumlah angka partisipasi tidaklah sedikit. Tingkat partisipasi itu mencerminkan
bahwa secara kuantitatif kesempatan dan mungkin lebih tepat dikatakan kemampuan
masyarakat memperloleh pendidikan berbeda secara horizontal dan vertical.

6
Indicator pendidikan yang berkualitas :

a. Pendidikan yang berkualitas adalah pendidikan yang mampu menempuh manusia-


manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri serta bersama-sama
dapat membangun bangsa dan negaranya.
b. Dalam arti praktis, pendidikan dapat dikatakan berkualitas, jika subjek pengeluaran
pendidikan mampu memenuhi kebutuhan dasar yaitu :
1. Sandang.
2. Pangan.
3. Papan.
4. Kesehatan.
5. Pendidikan untuk anak-anak mereka

Pemerintah telah banyak berusaha dalam upaya menuju pemerintahan pendidikan


secara menyeluruh, meskipun belum sampai pada taraf yang diharapkan oleh seluruh lapisan
masyarakat, terutama di pedesaan. Peningkatan mutu pendidikan tidak terbatas pada
pembenahan manajemen pendidikan, akan tetapi berurusan dengan individu sasaran didik,
situasi dan kondisi, sumber, alat pendidikan, kecakapan para pengelola, system evaluasi,
proses belajar mengajar dan sebagainya.

Beberapa upaya pemerataan kualitas telah dilakukan baik bersifat teknis maupun
konsepsional. Beberapa usaha dimaksud antara lain :

a. Pengadaan buku-buku, baik buku paket maupun buku perpustakaan.


b. Penambahan fasilitas dan sumber belajar.
c. Penataan proses pendidikan (PBM) yang lebih efektif dan efisien melalui
perubahan metodologi, teknik penyampaian informasi, system evaluasi, struktur
materi dan sebagainya.
d. Penataan guu dan para pengelola pendidikan.
e. Perubahan kurikulum dan memasukkan aspek teknologis (Sains) ke dalam
pendidikan.
f. Pembinaaan disiplin karyawan.
g. Dan lain-lain usaha yang berhubungan langsung atau tidak langsung terhadap
upaya perbaikan kualitas pendidikan.

7
Uraian sebelumnya dapat mengarahkan kita pada kesimpulan bahwa terdapat perbedaan
antara pendidikan di desa dan di kota baik dalam hal jumlah maupun mutu. Rendahnya
kapabilitas pendidikan (educational capability) baik dalam jumlah maupun dalam mutu di
pedesaan menyebabkan anak usia sekolah lebih cendeung memilih pendidikan tingkat
tertentu di kota-kota dengan berbagai alas an, seperti :

1. Kesempatan pendidikan di kota lebih besar.


2. Mutunya relative tinggi.
3. Mudah daya jangkau.
4. Harga diri.
5. Keinginan menghindari diri dari pekerjaan keluarga dan beberapa alasan lain.

Banyaknya anak ingin mengikuti pendidikan di kota biasanya menimbulkan sejumlah


permasalahan, seperti :

1. Keterbatasan fasilitas pendidikan di kota-kota menyebabkan mereka sulit ditampung


dan kalaupun dipaksakan mereka harus menghadapi kenyataan, harus masuk lembaga
pendidikan swasta dengan kemampuan ekonomi orang tua sangat terbatas.
2. Munculnya masalah-masalah social, seperti kejahatan, kenakalan remaja, dan lain-
lain.
3. Dengan adanya anak muda meninggalkan kampong halaman, maka desa akan
mengalami kekurangan tenaga kerja. Pada umumnya orang atau anak didik yang
tinggal di desa masih di anggap tenaga produktif, dapat membantu orang tua
menggarap tanah pertanian, menjadi buruh setengah hari mengerjakan upah borongan
dan lain0lain.
4. Dengan bertambahnya anak sekolah diperkotaan, berarti harus disediakan
pemondokan, hal ini sering menimbulkan kerawanan.

Upaya menggalang keharmonisan dimaksud itu antara lain adalah dengan jalan :

1. Pemerataan pendidikan secara kuantitatif, minimal sampai tingkat SLTA.


2. Pemerataan pendidikan secara kualitatif, minimal sampai tingkat SLTA.1

1
Danim Sudarwan Media Komunikasi pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara,2013)h.130-143
8
Solusi Masalah Pemerataan Pendidikan
Banyak macam pemecahan masalah yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah
untuk meningkatkan pendidikan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, langkah-
langkah ditempuh melalui cara konvesional dan cara inovatif.

Cara konvesional antara lain:

a) Membangun gedung sekolah seperti SD inpres dan atau ruangan belajar.

b) Menggunakan gedung sekolah untuk double shift (sistem bergantian pagi dan sore).

Sehubungan dengan itu yang perlu digalakkan, utamanya untuk pendidikan dasar ialah
membangkitkan kemauan belajar bagi masyarakat yang kurang mampu agar mau
menyekolahkan anaknya.

Cara Inovatif antara lain:

Sistem pamong (pendidikan oleh masyarakat, orang tua, dan guru) atau inpact sistem, sistem
tersebut dirintis di solo dan didiseminasikan ke beberapa provinsi.

a) SD kecil pada daerah terpencil

b) Sistem guru kunjung

c) SMP terbuka

d) Kejar paket A dan b

e) Belajar jarak jauh, seperti di universitas terbuka2

C. KESERASIAN PENDIDIKAN
Kenyataan yang tidak dapat dipungkiri adalah bahwa bangsa Indonesia itu
berbhineka. Berbhineka yang dimaksud disini tidak sama dengan makna Bhineka Tunggal
Ika, seperti yang selalu terutang pada benda yang jadi pijakan Burung Garuda. Berbhineka
berarti adanya variasi atau kebhinekaan, dilihat dari dimensi keterjangkauan informasi, mata
pencaharian, peluang, mobilitas, kemajuan wilayah, pencapaian pendidikan tertinggi, dan
yang tidak pula kalah pentingnya, potensi pribadi.

Atas dasar kebhinekaan itu, upaya menyelaraskan pendidikan antara kota dengan
desa, baaik kualitatif maupun kuantutatif, dan apalagi untuk setiap level pendidikan, tidak
lain seperti memutar ujung menjadi pangkal.

2
Umar Tirtarahardja dan La Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan, (Jakarta: PT Rineka Cipta) hal. 231
9
Pada tingkat pendidikan dasar (yang menurut UU No. 2 Tahun 1989 berarti sekolah
dasar dan sekolah lanjutan tingkat pertama), konsep kkeserasian secara kuantitatif relative
mudah direalisasikan. Keserasian kualitatif, walau bagaimanapun tidak mungkin, terutama
pada tingkat SLTA dan Perguruan Tinggi, keserasian keduanya akan tetap merupakan
keremangan, kalaupun tidak disebut kegelapan

Beberapa upaya praktis sebagai jembatan untuk meminimalkan ketidakserasian itu


memang ada dan sebagian itu telah dilakukan, seperti :

a. Penataan muatan local.


b. Penentuan standard kurikulum dan buku paket.
c. Penentuan jam belajar.
d. Pola pengangkatan guru.
e. Ketentuan jumlah siswa per kelas.
f. Jam mengajar bagi guru dan lain-lain ditentukan secara sama.

Fasilitas sumber informasi umum, sarana transportasi, kebiasaan hidup dan pola persaingan,
jangkauan pandang, figure idola, variasi lapangan kerja, dan lain-lain akan tetap berbeda
secara kontras. Kesiapan pengambilan keputusan secara luas dan komitmen pribadi peserta
didik serta mobilisasi oponi melalui media dan kontak-kontak pribadi merupkan potensi yang
harus diaktualkan untuk mengurangi kesenjangan atau mendekatkan kesersian dimaksud.
Mobiliasi opini terutama yang dimaksud untuk meyakinkan warga dan peserta didik, bahwa
tujuan akhir hidup manusia adalah hidup layak serbaneka keseimbangan.

Atas dasar itu, yang menjadi focus kita adalah bukan semata-mata merealisasikan
obsesi menyerasikan pendidikan di kota dan di desa, melainkan juga menanamkan konsep,
bahwa tujuan akhir manusia adalah hidup layak dimanapun mereka tinggal. Manusia yang
dapat hidup secara layak dapat berkiprah secara total dalam pembangunan (minimal pada
skala local/daerah sekitar), dan kiprah itu dimaksud untuk membantu percepatan upaya
kesejahteraan social secara keseluruhan.

Satu kebijakan bidang pendidikan, meskipun tujuan positif yaitu untuk mengukur
standard prestasi belajar secara nasional, namun banyak mengundang urbanisasi dan
kecemburuan adalah pola Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (EBTANAS). Kebijakan
EBTANAS mengandung makna kemauan menymakan ketidaksamaan. Kebhinekaan bangsa
kita (dalam makna kebhinekaan seperti diuraikan pada bagian sebelumnya), membuat
10
kebijakan EBTANAS yang berproduk nilai EBTANAS Murni (NEM) dirasakan benar-benar
tidak adil, terutama pada tingkat SLTA ke bawah. Permasalahannya akan jadi sederhana, jika
NEM tidak menjadi ukuran dapat diterimanya pserta didik dan pendidikan jenjang
selanjutnya, karena kenyataan secara kontras menunjukkan bahwa, lulusan institusi
pendidikan dipedesaan umumnya ber NEM rendah. Akibatnya, mereka harus masuk
kesekolah-sekolah kelas dua, baik negeri maupun swasta. Kondisi ini membangun lingkaran
setan baik jangka pendek maupun jangka panjang dirasakan kurang adil.

Uraian sebelumnya dapat mengarahkan kita pada kesimpulan bahwa terdapat


perbedaan antara pendidikan di desa dan di kota baik dalam hal jumlah maupun mutu.
Rendahnya kapabilitas pendidikan (educational capability) baik dalam jumlah maupun dalam
mutu di pedesaan menyebabkan anak usia sekolah lebih cendeung memilih pendidikan
tingkat tertentu di kota-kota3

3
Danim Sudarwan, op. cit. hal.144-146
11
BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Pemerintah telah banyak berusaha dalam upaya menuju pemerintahan pendidikan


secara menyeluruh, meskipun belum sampai pada taraf yang diharapkan oleh seluruh lapisan
masyarakat, terutama di pedesaan. Peningkatan mutu pendidikan tidak terbatas pada
pembenahan manajemen pendidikan, akan tetapi berurusan dengan individu sasaran didik,
situasi dan kondisi, sumber, alat pendidikan, kecakapan para pengelola, system evaluasi,
proses belajar mengajar dan sebagainya.

SARAN

Dalam penulisan makalah ini, penulis menyadari masih banyak kekurangan, oleh
karena itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangununtuk
kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat menambah dan meningkatkan
pengetahuan kita

12
DAFTAR PUSTAKA

Danim, Sudarwan. 2013. Media Komunikasi Pendidikan, Jakarta. PT Bumi Aksara

Umar Tirtarahardja dan La Sulo. 2005. Pengantar Pendidikan, Jakarta. PT Rineka Cipta

13