Anda di halaman 1dari 30

REFLEKSI KASUS

OD LEUKOMA ADHEREN KORNEA


OS PSEUDOFAKIA
OS DRY EYE SYNDROME

Diajukan untuk
Memenuhi Tugas Kepaniteraan Klinik dan Melengkapi Salah Satu Syarat
Menempuh Program Pendidikan Profesi Dokter Bagian Ilmu Mata
RSUD Dr. Loekmono Hadi Kudus

Disusun oleh:
Mohamad Reza Hendratmoko
30101206681

Pembimbing:
dr. Rosalia Septiana W., Sp.M

KEPANITERAAN KLINIK ILMU MATA


RSUD DR. LOEKMONO HADI KUDUS
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG SEMARANG
2017
BAB I

STATUS PASIEN

I. IDENTITAS PASIEN
Nama lengkap : Ny. M
Umur : 57 tahun
Agama : Islam
Alamat : Prambatan Kidul, Kudus
Pekerjaan : Wiraswasta
No. RM : 579907
Tanggal Pemeriksaan : 18 Mei 2017

II. ANAMNESIS

Autoanamnesis pada tanggal 18 Mei 2017 jam 08.00 di Poli Mata.


A. Keluhan Utama :
Pandangan kabur pada kedua mata
B. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang ke Poli Mata RSUD Kudus dengan keluhan pandangan pada kedua
mata kabur. Keluhan sudah dirasakan sejak 2 tahun yang lalu. Awalnya pandangan kabur
hanya pada mata kanan, perlahan, namun lama-lama menjadi semakin kabur hingga
sekarang tidak dapat melihat apa-apa. Beberapa bulan ini pandangan kabur pada mata kiri
disertai dengan mata merah, silau, perih dan sering keluar air mata. Dahulu mata kiri juga
pernah kabur dengan berkabut dan pernah melihat seperti lingkaran pelangi pada cahaya
lampu dan didiagnosis dokter dengan diagnosis katarak. 2 tahun yang lalu, mata kiri
sudah dilakukan operasi dan pemasangan lensa. Mata kanan baru diobati bila kontrol.
Tidak ada riwayat trauma pada mata kanan dan kiri. Dulu bila bepergian menggunakan
motor pasien sering terkena serangga terbang lalu dikucek. Pasien menggunakan
kacamata baca.
C. Riwayat Penyakit Dahulu :
Riwayat Hipertensi (+)
Riwayat DM (-)
Riwayat trauma (-)
Riwayat operasi pada mata (+)
D. Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak ada keluhan yang serupa pada keluarga
E. Riwayat Sosial Ekonomi :
Pasien bekerja sebagai wiraswasta berobat dengan BPJS

III. PEMERIKSAAN FISIK

A. STATUS GENERALIS
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Vital Sign
Tekanan Darah : 160/90 mmHg
Nadi : 84 kali/ menit
Suhu : 36,5 0C
Respiration Rate (RR) : 22 x/ menit
Status Gizi : BB 58kg, TB 158cm, IMT: 23,2

B. STATUS OFTALMOLOGI
Gambar :

OD OS
OCULI DEXTRA (OD) PEMERIKSAAN OCULI SINISTRA (OS)
0 Visus 6/18
Tidak dikoreksi Koreksi Tidak dikoreksi
Gerak bola mata normal,
Gerak bola mata normal, enoftalmus
Bulbus okuli enoftalmus (-), eksoftalmus (-),
(-), eksoftalmus (-), strabismus (-)
strabismus (-)
Edema (-), hiperemis(-), Edema (-), hiperemis(-),
nyeri tekan (-), nyeri tekan (-),
Palpebra
blefarospasme (-), lagoftalmus (-) blefarospasme (-), lagoftalmus (-)
ektropion (-), entropion (-) ektropion (-), entropion (-)
Edema (-), Edema (-),
injeksi silier (-), injeksi silier (-),
injeksi konjungtiva (-), Konjungtiva injeksi konjungtiva (-),
infiltrat (-), infiltrat (-),
hiperemis (-) hiperemis (-)
Putih Sklera Putih
Bulat, jernih
edema (-), Bulat, jernih
arkus senilis (+) edema (-),
keratik presipitat (-), infiltrat (-), Kornea arkus senilis (+)
opasitas (+) pada 1/3 medial keratik presipitat (-), infiltrat (
kornea, horizontal, berwarna -), sikatriks (-)
bayang-bayang putih
Jernih, dalam, arkus senilis (-), Camera Oculi Jernih, dalam, arkus senilis (-),
hipopion (-), hifema (-), Anterior hipopion (-), hifema (-),
Digital N TIO Digital N
Kripta(+), atrofi (-) coklat, Kripta(+), atrofi (-) coklat,
Iris
edema(-), synekia anterior (-) edema(-), synekia anterior (-)
Bulat, Diameter 3mm
Tidak dapat dinilai Pupil
refleks pupil L/TL: +/+
Kurang dapat dinilai Lensa IOL (+), central, POC (-)
Jernih Vitreus Jernih
Excavatio (-), CDR 0,3, ablation
Tidak dapat dinilai Retina
(-), eksudat (-)
Tidak dapat dinilai Funduscopy (+) cemerlang
Tidak dilakukan Sistem Lakrimasi Tidak dilakukan
Tidak ada penyempitan lapang
Tidak dilakukan Tes Konfrontasi pandang superior, inferior, nasal,
temporal

IV. RESUME
Subjektif
Pandangan kedua mata kabur
OD mata tidak bisa melihat total
OS mata kabur, berkabut, mata merah, berair
Riwayat kacamata baca (+)
Riwayat operasi katarak (+)
Objektif
Pemeriksaan fisik : Hipertensi (+)
Pemeriksaan mata :
OCULI DEXTRA (OD) PEMERIKSAAN OCULI SINISTRA (OS)
0 Visus 6/18
Tidak dikoreksi Koreksi Tidak dikoreksi
Gerak bola mata normal,
Gerak bola mata normal, enoftalmus
Bulbus okuli enoftalmus (-), eksoftalmus (-),
(-), eksoftalmus (-), strabismus (-)
strabismus (-)
Edema (-), hiperemis(-), Edema (-), hiperemis(-),
nyeri tekan (-), Palpebra nyeri tekan (-),
blefarospasme (-), lagoftalmus (-) blefarospasme (-), lagoftalmus (-)
ektropion (-), entropion (-) ektropion (-), entropion (-)
Edema (-), Edema (-),
injeksi silier (-), injeksi silier (-),
injeksi konjungtiva (-), Konjungtiva injeksi konjungtiva (-),
infiltrat (-), infiltrat (-),
hiperemis (-) hiperemis (-)
Putih Sklera Putih
Bulat, jernih
edema (-), Bulat, jernih
arkus senilis (+) edema (-),
keratik presipitat (-), infiltrat (-), Kornea arkus senilis (+)
opasitas (+) pada 1/3 medial keratik presipitat (-), infiltrat (
kornea, horizontal, berwarna -), sikatriks (-)
bayang-bayang putih
Jernih, dalam, arkus senilis (-), Camera Oculi Jernih, dalam, arkus senilis (-),
hipopion (-), hifema (-), Anterior hipopion (-), hifema (-),
Digital N TIO Digital N
Kripta(+), atrofi (-) coklat, Kripta(+), atrofi (-) coklat,
Iris
edema(-), synekia anterior (-) edema(-), synekia anterior (-)
Bulat, Diameter 3mm
Tidak dapat dinilai Pupil
refleks pupil L/TL: +/+
Kurang dapat dinilai Lensa IOL (+), central, POC (-)
Jernih Vitreus Jernih
Excavatio (-), CDR 0,3, ablation
Tidak dapat dinilai Retina
(-), eksudat (-)
Tidak dapat dinilai Funduscopy (+) cemerlang
Tidak dilakukan Sistem Lakrimasi Tidak dilakukan
Tidak ada penyempitan lapang
Tidak dilakukan Tes Konfrontasi
pandang superior, inferior, nasal,
temporal

V. DIAGNOSA DIFFERENSIAL
OD OS
Leukoma Pseudofakia
Nebula Dry Eye Syndrome
Makula Konjungtivitis Alergika
Leukoma Adheren
Ulkus kornea
Xeroftalmia

VI. DIAGNOSA KERJA


OD Leukoma Adheren
OS Pseudofakia
OS Dry Eye Syndrome
VII. DASAR DIAGNOSIS
a) OD Leukoma Adheren
Subjektif :
o OD tidak bisa melihat
o Riwayat sering terkena serangga dan dikucek
Objektif :
o Visus 0
o OD refleks pupil D/I (-)
o Tampak ada opasitas (+) pada 1/3 medial kornea, horizontal, berwarna
bayang-bayang putih
b) OS Pseudofakia
Subjektif :
o Ada riwayat katarak pada OS yaitu keluhan pandangan kabur, berkabut
o Ada riwayat operasi katarak 2 tahun yang lalu
Objektif :
o Pada lensa : IOL (+), letak central, POC (-)
c) OS Dry Eye Syndrome
Subjektif :
o OS mata merah
o OS berair
o OS silau berlebihan
Objektif :
o Beberapa tes tidak dilakukan untuk menunjang diagnosis
VIII. TERAPI
Promotif :
Menjelaskan tentang hasil pemeriksaan kepada penderita
Menjelaskan tentang penyakit yang diderita kepada penderita
Menjelaskan kepada penderita tentang akibat akibat atau komplikasi yang
mungkin dapat ditimbulkan oleh penyakit dan cara mencegahnya
Preventif
Kontrol secara rutin
Rutin menggunakan tetes mata
Kuratif
Medikamentosa
Cendo Lyteers ED fl I
S 4 dd gtt 1 OD
Vitamin B12
S 2 dd 1
Rehabilitative
Memakai obat secara teratur
Mengurangi kontak dengan angin atau AC
Bila mata terasa kering langsung meneteskan tetes mata
IX. PROGNOSIS

OKULI DEKSTRA (OD) OKULI SINISTRA (OS)

Quo Ad Visam Ad malam Ad bonam


Quo Ad Vitam Ad bonam Ad bonam

Quo Ad Kosmetikam Ad malam Ad bonam

Quo Ad Sanam Ad bonam Dubia ad malam

X. USUL DAN SARAN


Usul :
Dilakukan pemeriksaan schimer test untuk mengukur jumlah air mata
Dilakukan pemeriksaan ferning test untuk mengetahui kualitas air mata
Dilakukan fluorescin test untuk mengetahui ada defek pada kornea atau tidak
Dilakukan pemeriksaan menggunakan slit lamp untuk mengetahui terputusnya
atau tiadanya meniskus air mata di tepian palpebra
Penambahan medikamentosa berupa pemberian tetes mata vitamin A pada mata
kiri
Bila pasien ingin dioperasi, maka dapat diusulkan superfisial keratektomi,
lamellar keratoplasty, penetrating keratoplasty tergantung dari kedalaman opasitas
pada layer kornea
Saran :
Kontrol dan menggunakan obat secara teratur
Mengurangi paparan dengan angin dan AC
Bila melihat TV/handphone yang memancarkan radiasi menggunakan kacamata
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
PSEUDOFAKIA

Pseudofakia adalah lensa yang ditanam pada mata (lensa intra okuler) yang
diletakkan tepat ditempat lensa yang keruh dan sudah dikeluarkan.1 Lensa ini akan
memberikan penglihatan lebih baik. Lensa intraokular ditempatkan waktu operasi katarak
dan akan tetap disana untuk seumur hidup. Lensa ini tidak akan mengganggu dan tidak
perlu perawatan khusus dan tidak akan ditolak keluar oleh tubuh.2

Letak lensa didalam bola mata dapat bermacam macam, seperti :

Pada bilik mata depan, yang ditempatkan didepan iris dengan kaki penyokongnya
bersandar pada sudut bilik mata
Pada daerah pupil, dimana bagian optik lensa pada pupil dengan fiksasi pupil.
Pada bilik mata belakang, yang diletakkan pada kedudukan lensa normal dibelakang iris.
Lensa dikeluarkan dengan ekstraksi lensa ekstra kapsular
Pada kapsul lensa.

Pada saat ini pemasangan lensa terutama diusahakan terletak didalam kapsul lensa.
Meletakkan lensa tanam didalam bilik mata memerlukan perhatian khusus :
Endotel kornea terlindung
Melindungi iris terutama pigmen iris
Melindungi kapsul posterior lensa
Mudah memasukkannya karena tidak memberikan cedera pada zonula lensa.

Keuntungan pemasangan lensa ini :

Penglihatan menjadi lebih fisiologis karena letak lensa yang ditempatkan pada tempat
lensa asli yang diangkat.
Lapang penglihatan sama dengan lapang pandangan normal
Tidak terjadi pembesaran benda yang dilihat
Psikologis, mobilisasi lebih cepat.

Pemasangan lensa tidak dianjurkan kepada :

Mata yang sering mengalami radang intra okuler (uveitis)


Anak dibawah 3 tahun
Uveitis menahun yang berat
Retinopati diabetik proliferatif berat
Glaukoma neovaskuler
DRY EYE SYNDROME

A. DEFINISI
Definisi Sindroma Mata Kering (Dry Eye Syndrome) ialah suatu gangguan pada
permukaan mata yang ditandai dengan ketidakstabilan produksi dan fungsi dari
lapisan air mata Mata kering adalah penyakit multifaktorial pada air mata dan
permukaan mata yang menghasilkan gejala tidak nyaman, gangguan penglihatan, dan
tidak stabilnya film air mata yang berpotensi mengalami kerusakan pada permukaan
mata. Mata kering juga disertai dengan peningkatan osmolaritas film air mata dan
peradangan pada permukaan mata.
B. ETIOLOGI
Banyak diantara penyebab dry eye mempengaruhi lebih dari satu komponen film
air mata atau berakibat perubahan permukan muka yang secara sekunder
menyebabkan film air mata menjadi tidak stabil. Ciri histopatologik termasuk
timbulnya bintik-bintik kering kornea dan epitel konjungtiva, pembentukan filamen,
hilangnya sel goblet konjungtiva, pembesaran abnormal sel epitel non-goblet,
peningkatan stratifikasi sel, dan penambahan keratinasi
Etiologi dari dry eye syndrome/keratokeratokonjungtivitis sika yaitu1:
a. Kondisi ditandai hipofungsi kelenjar lakrimal
1. Kongenital
a) Dysautonomia familier (sindrom Riley-Day)
b) Aplasia kelenjar lakrimal (alakrima kongenital)
c) Aplasia nervus trigeminus
d) Dysplasia ektodermal
2. Didapat
a) Penyakit sistemik
Sindroma sjorgen
Sklerosis sistemik progresif
Sarkoidosis
Leukemia, limfoma
Amiloidosis
Hemokromatosis
b) Infeksi
Trachoma
Parotitis epidemica
c) Cedera
Pengangkatan kelenjar lakrimal
Iradiasi
Luka bakar kimiawi
d) Medikasi
Antihistamin
Antimuskarinik; atropin, skopalamin
Anestetika umum; halothane, nitrous oxide
Beta-adregenik blocker; timolol, practolol
e) Neurogenik-neuroparalitik (fasial nerve palsy)
b. Kondisi ditandai defisiensi musin
1. Avitaminosis A
2. Sindrom steven-johnson
3. Pemfigoid okuler
4. Konjungtivitis menahun
5. Luka bakar kimiawi
6. Medikasi-antihistamin, agen muskarin, agen beta adregenic blocker
c. Kondisi ditandai defisiensi lipid
1. Parut tepian palpebral
2. Blepharitis
C. EPIDEMIOLOGI
Mata kering merupakan salah satu gangguan yang sering pada mata, persentase
insidenisanya sekitar 10-30% dari populasi, terutama pada orang yang usianya lebih
dari 40 tahun dan 90% terjadi pada wanita. Frekuensi insidensia sindrom mata kering
lebih banyak terjadi pada ras Hispanic dan Asia dibandingkan dengan ras kaukasius
D. MANIFESTASI KLINIS
Pasien dengan mata kering paling sering mengeluh tentang sensasi gatal atau
berpasir (benda asing). Gejala umum lainnya adalah gatal, sekresi mukus berlebihan,
tidak mampu menghasilkan air mata, sensasi terbakar, fotosensitivitas, merah, sakit,
dan sulit menggerakkan palpebra.

Pada kebanyakan pasien, ciri paling luar biasa pada pemeriksaan mata adaah
tampilan yang nyata-nyata normal. Ciri yang paling khas pada pemeriksaan slitlamp
adalah terputus atau tiadanya meniskus air mata di tepian palpebra inferior. Benang-
benang mukuskental kekuning-kuningan kadang-kadang terlihat dalam fornix
conjungtivae inferior. Pada konjungtiva bulbi tidak tampak kilauan yang normal dan
mungkin menebal, beredema dan hiperemik.

Epitel kornea terlihat bertitik halus pada fissura interpalpebra. Sel-sel epitel
konjungtiva dan kornea yang rusak terpulas dengan bengal rose 1% dan defek pada
epitel kornea terpulas dengan fluorescein. Pada tahap lnjut keratokonjungtivitis sicca
tampak filamen-filamen dimana satu ujung setiap filamen melekat pada epitel kornea
dan ujung lain bergerak bebas. Pada pasien dengan sindrom sjorgen, kerokan dari
konjungtiva menunjukkan peningkatan jumlah sel goblet. Pembesaran kelenjar
lakrimal kadang-kadang terjadi pada sindrom sjorgen.

E. PATOFISIOLOGI
F. DIAGNOSIS
Diagnosis dan penderajatan keadaan mata kering dapat diperoleh dengan teliti
memakai cara diagnostik berikut:
A. Tes Schirmer
Tes ini dilakukan dengan mengeringkan film air mata dan memasukkan strip
Schirmer (kertas saring Whatman No. 41) kedalam cul de sac konjungtiva inferior
pada batas sepertiga tengah dan temporal dari palpebra inferior. Bagian basah yang
terpapar diukur 5 menit setelah dimasukkan. Panjang bagian basah kurang dari 10
mm tanpa anestesi dianggap abnormal.
Bila dilakukan tanpa anestesi, tes ini mengukur fungsi kelenjar lakrimal utama,
yang aktivitas sekresinya dirangsang oleh iritasi kertas saring itu. Tes Schirmer yang
dilakukan setelah anestesi topikal (tetracaine 0.5%) mengukur fungsi kelenjar
lakrimal tambahan (pensekresi basa). Kurang dari 5 mm dalam 5 menit adalah
abnormal.
Tes Schirmer adalah tes saringan bagi penilaian produksi air mata. Dijumpai hasil
false positive dan false negative. Hasil rendah kadang-kadang dijumpai pada orang
normal, dan tes normal dijumpai pada mata kering terutama yang sekunder terhadap
defisiensi musin.1,5

Gambar2. Diambil dari http://webeye.ophth.uiowa.edu

B. Tear film break-up time


pengukuran tear film break-up time kadang-kadang berguna untuk
memperkirakan kandungan musin dalam cairan air mata. Kekurangan musin mungkin
tidak mempengaruhi tes Schirmer namun dapat berakibat tidak stabilnya film air
mata. Ini yang menyebabkan lapisan itu mudah pecah. Bintik-bitik kering terbentuk
dalam film air mata, sehingga memaparkan epitel kornea atau konjungtiva. Proses ini
pada akhirnya merusak sel-sel epitel, yang dapat dipulas dengan bengal rose. Sel-sel
epitel yang rusak dilepaskan kornea, meninggalkan daerah-daerah kecil yang dapat
dipulas, bila permukaan kornea dibasahi flourescein.
Tear film break-up time dapat diukur dengan meletakkan secarik keras
berflourescein pada konjungtiva bulbi dan meminta pasien berkedip. Film air mata
kemudian diperiksa dengan bantuan saringan cobalt pada slitlamp, sementara pasien
diminta agartidak berkedip. Waktu sampai munculnya titik-titik kering yang pertama
dalam lapisan flourescein kornea adalah tear film break-up time. Biasanya waktu ini
lebih dari 15 detik, namun akan berkurang nyata oleh anestetika lokal, memanipulasi
mata, atau dengan menahan palpebra agar tetap terbuka. Waktu ini lebih pendek pada
mata dengan defisiensi air pada air mata dan selalu lebih pendek dari normalnya pada
mata dengan defisiensi musin.

Gambar 3. Diambil dari http://www.systane.ca

C. Tes Ferning Mata


Sebuah tes sederhana dan murah untuk meneliti mukus konjungtiva dilakukan
dengan mengeringkan kerokan konjungtiva di atas kaca obyek bersih. Arborisasi
(ferning) mikroskopik terlihat pada mata normal. Pada pasien konjungtivitis yang
meninggakan parut (pemphigoid mata, sindrom stevens johnson, parut konjungtiva
difus), arborisasi berkurang atau hilang.1
D. Pemulasan Flourescein
Menyentuh konjungtiva dengan secarik kertas kering berflourescein adalah
indikator baik untuk derajat basahnya mata, dan meniskus air mata mudah terlihat.
Flourescein akan memulas daerah-daerah tererosi dan terluka selain defek
mikroskopik pada epitel kornea.1
E. Penguji Kadar Lisozim Air Mata
Penurunan konsentrasi lisozim air mata umumnya terjadi pad awal perjalanan
sindrom Sjorgen dan berguna untuk mendiagnosis penyakit ini. Air mata ditampung
pada kertas Schirmer dan diuji kadarnya. Cara paling umum adalah pengujian secara
spektrofotometri.
F. Osmolalitas Air Mata
Hiperosmollitas air mata telah dilaporkan pada keratokonjungtivitis sicca dan
pemakaian kontak lens dan diduga sebagai akibat berkurangnya sensitivitas kornea.
Laporan-laporan menyebutkan bahwa hiperosmolalitas adalah tes paling spesifik bagi
keratokonjungtivitis sicca. Keadaan ini bahkan dapat ditemukan pada pasien dengan
Schirmer normal dan pemulasan bengal rose normal.
G. Lactoferrin
Lactoferrin dalam cairan air mata akan rendah pada pasien dengan hiposekresi
kelenjar lakrimal. Kotak penguji dapat dibeli dipasaran.
H. PENGOBATAN
Pasien harus mengerti bahwa mata kering adalah keadaan menahun dan
pemulihan pemulihan total sukar terjadi, kecuali pada kasus ringan, saat perubahan
epitel pada kornea dan konjungtiva masih reversibel.1 Air mata buatan adalah terapi
yang kini dianut. Salep berguna sebagai pelumas jangka panjang, terutama saat tidur.
Bantuan tambahan diperoleh dengan memakai pelembab, kacamata pelembab bilik,
atau kacamata berenang.
Fungsi utama pengobatan ini adalah penggantian cairan. Pemulian musin adalah
tugas yang lebih berat. Tahun-tahun belakangan ini, ditambahkan polimer larut air
dengan berat molekul tinggi pada air mata buatan, sebagai usaha memperbaiki dan
memperpanjang lama pelembaban permukaan.agen mukomimetik lain termasuk Na-
hialuronat dan larutan dari serum pasien sendiri sebagai tetesan mata. Jika mukus itu
kental, seperti pada sindrom Sjorgen, agen mukolitik (mis, acetylcystein 10%) dapat
menolong.
Topikal cyclosporine A
Topikal corticosteroids
Topikal/sistemik omega-3 fatty acids: Omega-3 fatty acids menghambat
sintesis dari mediator lemak dan memblok produksi dari IL-1 and TNF-alpha.

Pasien dengan kelebihan lipid dalam air mata memerlukan instruksi spesifik
untuk menghilangkan lipid dari tepian palpebrae. Mungkin diperlukan antibiotika
topikal atau sistemik. Vitamin A topikal mungkin berguna untuk memulihkan
metaplasia permukaan mata.

Semua pengawet kimiawi dalam air mata buatan akan menginduksi sejumlah
toksisitas kornea. Benzalkonium chlorida adalah peparat umum yang paling merusak.
Pasien yang memerlukan beberapa kali penetesan sebaiknya memakai larutan tanpa
bahan pengawet. Bahan pengawet dapat pula menimbulkan reaksi idiosinkrasi. Ini
paling serius dengan timerosal.1

Pasien dengan mata kering oleh sembarang penyebab lebih besar


kemungkinan terkena infeksi. Blepharitis menahun sering terdapat dan harus diobati
dengan memperhatikan higiene dan memakai antibiotika topikal. Acne rosacea sering
terdapat bersamaan dengan keratokonjungtivitis sicca, dan pemgobatan dengan
tetrasklin sistemik ada manfaatnya.

Tindakan bedah pada mata kering adalah pemasangan sumbatan pada


punktum yang bersifat temporer (kolagen) atau untuk waktu lebih lama (silikon),
untuk menahan sekret air mata. Penutupan puncta dan kanalikuli secara permanen
dapat dilakukan dengn terapi themal (panas), kauter listrik atau dengan laser
I. PROGNOSA
Secara umum, prognosis untuk ketajaman visual pada pasien dengan sindrom mata
kering baik
J. KOMPLIKASI
Pada awal perjalanan keratokonjungtivitis sicca, penglihata sedikit terganggu.
Dengan memburuknya keadaan, ketidaknyamanan sangat menggangu. Pada kasus
lanjut, dapat timbul ulkus kornea, penipisan kornea, dan perforasi. Kadang-kadang
terjadi infeksi bakteri sekunder, dan berakibat parut dan vaskularisasi pada kornea,
yang sangat menurunkan penglihatan. Terapi dini dapat mencegah komplikasi-
komplikasi ini.
LEUKOMA

A. ANATOMI KORNEA
Kornea (Latin, cornum = seperti tanduk) membentuk bagian anterior bola mata
merupakan jaringan transparan dan avaskular, mempunyai peranan dalam refraksi cahaya.
Indeks refraksi korna adalah 1,377 dan kekuatan refraksi sebesar 43 Dioptri, merupakan 70%
dari kekuatan refraksi mata.
Permukaan anterior kornea berbentuk agak elips dengan diameter horizontal rata-
rata 11,5-11,7 mm dan 10,5 - 10,6 mm pada diameter vertikal sedangkan permukaan
posterior berbentuk sirkuler dengan diameter 11,7 mm. Pada orang dewasa ketebalan kornea
bervariasi dengan rata-rata 0,65 1 mm di bagian perifer dan 0,55 mm di bagian tengah. Hal
ini disebabkan adanya perbedaan kurvatur antara permukaan anterior dan posterior kornea.
Radius kurvatur anterior kornea kira-kira 7,8 mm sedangkan radius kurvatur permukaan
posterior rata-rata 6,5 6,8 mm. Kornea menjadi lebih datar pada bagian perifer, namun
pendataran tersebut tidak simetris. Bagian nasal dan superior lebih datar dibanding bagian
temporal dan inferior. Luas permukaan luar kornea kira-kira 1,3 cm 2 atau 1/14 dari total
area bola mata (Wong & Tien Yin, 2001; Karesh J. W., 2003).

B. HISTOLOGI KORNEA
Secara histologis kornea terdiri atas 5 lapisan, yaitu:
1. Epitel
2. Membran Bowman
3. Stroma
4. Membran Descemet
5. Endotelium

1. Epitel
Tebalnya 50 m , terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang saling
tumpang tindih; satu lapis sel basal, sel polygonal dan sel gepeng. Pada sel basal sering
terlihat mitosis sel dan sel muda ini terdorong kedepan menjadi lapis sel sayap dan
semakin maju kedepan menjadi sel gepeng, sel basal berikatan erat dengan sel basal
disampingnya dan sel polygonal didepannya melalui desmosom dan macula okluden;
ikatan ini menghambat pengaliran air, elektrolit dan glukosa yang merupakan barrier.
Terdapat dua fungsi utama epitel: (1) membentuk barier antara dunia luar dengan
stroma kornea dan (2) membentuk permukaan refraksi yang mulus pada kornea dalam
interaksinya dengan tear film. Barier dibentuk ketika sel-sel epitel bergerak dari lapisan
basal ke permukaan kornea, secara progresif berdiferensiasi hingga sel-sel superfisial
membentuk dua lapisan sel tipis yang melingkar yang dihubungkan oleh tight junction
(zonula okluden), merupakan membran yang bersifat semipermiabel dan resistensi tinggi.
Barier ini mencegah masuknya cairan dari tear film ke stroma dan juga melindungi
struktur kornea dan intraokuler dari infeksi oleh patogen. Mikrovili pada hampir seluruh
permukaan superfisial sel-sel epitel dilindungi oleh glikokaliks sehingga dapat
berinteraksi dengan lapisan musin tear film agar permukaan kornea tetap licin. Berbagai
proses metabolik, biokemikal dan fisikal tampaknya mempunyai tujuan primer
mempertahankan keadaan lapisan sel epitel yang berfungsi sebagai barier dan agar
permukaan kornea tetap licin. Permukaan kornea yang licin berperan penting dalam
terbentuknya penglihatan yang jelas (Watsky M. A. & Olsen T. W., 2003).

2. Membrana Bowman
Membrana Bowman merupakan lapisan superfisial pada stroma, yang berfungsi
sebagai barier terhadap stroma. Kepadatan lapisan Bowman menghalangi penyebaran
infeksi ke dalam stroma yang lebih dalam. Lapisan ini tidak dapat beregenerasi sehingga
bila terjadi trauma akan diganti dengan jaringan parut (Edelhauser H. F, 2005; Oyster,
Clyde W., 1999).

3. Stroma
Stroma tersusun atas matriks ekstraselular seperti kolagen dan proteoglikan.
Matriks ekstraselular ini memegang peranan penting dalam struktur dan fungsi
kornea. Stroma terdiri atas kolagen yang diproduksi oleh keratosit dan lamella kolagen.
Karena ukuran dan bentuknya seragam menghasilkan keteraturan yang membuat kornea
menjadi transparan. Serat-serat kolagen tersusun seperti lattice (kisi-kisi), pola ini
berfungsi untuk mengurangi hamburan cahaya (Edelhauser H. F, 2005; Liesegang T. J.,
2008-2009).
Transparansi juga tergantung kandungan air pada stroma yaitu 70%. Proteoglikan
yang merupakan substansi dasar stroma, memberi sifat hidrofilik pada stroma. Hidrasi
sangat dikontrol oleh barier epitel dan endotel serta pompa endotel (Watsky M. A. &
Olsen T. W., 2003; Liesegang T. J., 2008-2009).
4. Membrana Descemet
Merupakan membrana aselular dan merupakan batas belakang stroma kornea
dihasilkan sel endotel dan merupakan membrane basalnya. Membrana Descemet bersifat
elastis dan berkembang terus seumur hidup, mempunyai tebal 40 m. Membran ini lebih
resisten terhadap trauma dan penyakit, dari pada bagian lain dari kornea (Edelhauser H.
F, 2005; Oyster, Clyde W., 1999).

5. Endotel
Lapisa in merupakan lapisan kornea yang paling dalam, tersusun dari epitel
selapis gepeng atau kuboid rendah. Berasal dari mesotelium, bentuk heksagonal, besar
20-40 m. Endotel melekat pada membran descement melalui hemidosom dan zonula
okluden. Sel-sel ini mensintesa protein yang mungkin diperlukan untuk memelihara
membran Descement. Sel-sel ini mempunyai banyak vesikel dan dinding selnya
mempunyai pompa Natrium yang akan mengeluarkan kelebihan ion-ion natrium ke
dalam kamera okuli anterior. Ion0ion klorida dan air akan mengikuti secara pasif.
Kelebihan cairan di stroma akan diserap oleh endotel sehingga stroma dipertahankan
dalam keadaan sedikit dehidrasi, suatu faktor yang diperlukan untuk mempertahankan
kualitas refraksi kornea.
Dua faktor yang berkontribusi dalam mencegah edema stroma dan
mempertahankan kandungan air tetap pada 70% adalah fungsi barier dan pompa endotel.
Fungsi barier endotel diperankan oleh adanya tight junction diantara sel-sel endotel
(Edelhauser H. F, 2005).
Pompa endotel
Stroma kornea memiliki konsentrasi Na+ 134 mEq/L sedangkan humor aquous
143 mEq/L. Perbedaan osmolaritas tersebut menyebabkan air berpindah dari stroma ke
humor aquous melalui osmosis. Mekanisme ini diatur oleh pompa metabolik aktif sel-sel
endotel. Pompa metabolik ini dikontrol oleh Na+ / K+ ATPase yang terletak di lateral
membrane. Dalam menjalankan fungsinya pompa endotel tergantung pada oksigen,
glukosa, metabolisme karbohidrat dan adenosine triphosphatase. Keseimbangan antara
fungsi barier dan pompa endotel akan mempertahankan keadaan deturgesensi kornea
(Edelhauser H. F, 2005).

Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensorik terutama berasal dari saraf siliar
longus, saraf nasosiliar, saraf ke V, saraf siliar longus berjalan supra koroid, masuk ke
dalam stroma kornea, menembus membran Bowman melepaskan selubung Schwannya.
Bulbus Krause untuk sensasi dingin ditemukan diantara. Daya regenerasi saraf sesudah
dipotong di daerah limbus terjadi dalam waktu 3 bulan (Perhimpunan Dokter Spesislis
Mata Indonesia, 2002).
Sumber nutrisi kornea adalah pembuluh-pembuluh darah limbus, humour aquous,
dan air mata. Kornea superfisial juga mendapat oksigen sebagian besar dari atmosfir.
Transparansi kornea dipertahankan oleh strukturnya seragam, avaskularitasnya dan
deturgensinya (Eva, P.R. & Whitcher J.P, 2008).
C. FISIOLOGI KORNEA
Kornea berfungsi sebagai membran pelindung dan jendela yang dilalui berkas cahaya
menuju retina. Sifat tembus cahayanya disebabkan strukturnya yang uniform, avaskuler dan
deturgenes. Deturgenes, atau keadaan dehidrasi relative jaringan kornea dipertahankan oleh
pompa bikarbonat aktif pada endotel dan oleh fungsi sawar epitel dan endotel. Endotel lebih
penting daripada epitel dalam mekanisme dehidrasi dan cidera kimiawi atau fisik pada
endotel jauh lebih berat daripada cedera pada epitel. Kerusakan sel-sel endotel menyebabkan
edema kornea dan hilangnya sifat transparan. Sebaliknya cedera pada epitel hanya
menyebabkan edema lokal stroma kornea sesaat yang akan menghilang bila sel-sel epitel itu
telah beregenerasi. Penguapan air dari film air mata prakornea akan mengkibatkan film air
mata akan menjadi hipertonik; proses itu dan penguapan langsung adalah faktor-faktor yang
menarik air dari stroma kornea superfisialis untuk mempertahankan keadaan dehidrasi.
D. SIKATRIK KORNEA
Sikatriks adalah jaringan parut pada kornea yang mengakibatkan permukaan kornea
irreguler sehingga memberikan uji plasido positif, dan mungkin terdapat dalam beberapa
bentuk, yaitu:

1. Nebula, kabut halus pada kornea yang sukar terlihat


2. Makula, kekeruhan kornea yang berbatas tegas
3. Leukoma, kekeruhan berwarna putih padat
4. Leukoma adherens, kekeruhan atau sikatriks kornea dengan menempelnya iris di dataran
belakang
5. Keratik presipitat, endapan sel radang didataran belakang atau endotel kornea
Sikatrik kornea dapat menimbulkan gangguan penglihatan mulai dari kabur sampai
dengan kebutaan. Sikatrik kornea dapat bentuk ringan (nebula), sedang (makula) dan berat
(leukoma). Gangguan kornea merupakan penyebab kebutaan kedua didunia setelah katarak.
Sikatrik kornea lebih sering disebabkan oleh komplikasi dari infeksi seperti keratitis ataupun
ulkus kornea yang tidak tertangani dengan baik. Belum ada data yang akurat mengenai
prevalensi sikatrik kornea di Indonesia

E. JENIS-JENIS SIKATRIK KORNEA


1. Nebula
a. Penyembuhan akibat keratitis superfisialis
b. Kerusakan kornea pada m.Bowman sampai 1/3
stroma
c. Pada pemeriksaan, terlihat kabut di kornea,
hanya dapat dilihat di kamar gelap dengan
Slit-lamp dan bantuan kaca pembesar
2. Makula
a. Penyembuhan akibat ulkus kornea
b. Kerusakan kornea pada 1/3 stroma sampai 2/3
ketebalan stroma
c. Pada pemeriksaan, putih di kornea, dapat
dilihat di kamar gelap dengan slit-lamp tanpa
bantuan kaca pembesar

3. Leukoma
a. Penyembuhan akibat ulkus kornea
b. Kerusakan kornea lebih dari 2/3 ketebalan
stroma
c. Kornea tampak putih, dari jauh sudah kelihatan
d. Apabila ulkus kornea sampai ke endotel
akan mengakibatkan perforasi, dengan tanda:
1) Iris prolaps
2) COA dangkal
3) TIO menurun
kemudian sembuh menjadi leukoma adheren (leukoma disertai sinekia anterior).

F. PATOGENESIS LEUKOMA
Selama stadium awal, epitel dan stroma di area yang terinfeksi atau terkena trauma
akan membengkak dan nekrosis. Sel inflamasi akut (terutama neutrofil) akan mengelilingi
ulkus awal ini dan menyebabkan nekrosis lamella stroma. Pada beberapa inflamasi yang
lebih berat, ulkus yang dalam dan abses stroma yang lebih dalam dapat bergabung sehingga
menyebabkan kornea menipis dan mengelupaskan stroma yang terinfeksi.

Sejalan dengan mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi, respon imun seluler
dan humoral digabung dengan terapi antibacterial maka akan terjadi hambatan replikasi
bakteri. Mengikuti proses ini akan terjadi fagositosis organism dan penyerapan debris tanpa
destruksi selanjutnya dari kolagen stroma. Selama stase ini, garis batas terlihat pada epitel
ulkus dan infiltrate stroma berkonsolidasi dan tepinya tumpul. Vaskularisasi kornea bisa
terjadi jika keratitis menjadi kronis. Pada stase penyembuhan, epithelium berganti mulai dari
area tengah ulserasi dan stroma yang nekrosis diganti dengan jaringan parut yang diproduksi
fibroblast. Fibroblast adalah bentuk lain dari histiosit dan keratosit. Daerah kornea yang
menipis diganti dengan jaringan fibrous. Pertumbuhan pembuluh darah baru langsung di area
ulserasi akan mendistribusikan komponen imun seluler dan humoral untuk penyembuhan
lebih lanjut. Lapisan Bowman tidak beregenerasi tetapi diganti dengan jaringan fibrous.
Epitel baru akan mengganti dasar yang ireguler dan vaskularisasi sedikit demi sedikit
menghilang.

Pada beberapa ulkus yang berat, keratolisis stroma dapat berkembang menjadi
perforasi kornea. Pembuluh darah uvea dapat berperan pada perforasi yang nantinya akan
menyebabkan sikatrik kornea. Sikatrik yang terjadi setelah keratitis sembuh dapat tipis atau
tebal. Sikatrik yang tipis sekali yang hanya dapat dilihat dengan slit lamp disebut nebula.
Sedangkan sikatrik yang agak tebal dan dapat kita lihat menggunakan senter disebut makula.
Sikatrik yang tebal sekali disebut leukoma. Nebula yang difuse, yang terdapat pada daerah
pupil lebih mengganggu daripada leukoma yang kecil yang tidak menutupi daerah pupil. Hal
ini disebabkan karena leukoma menghambat semua cahaya yang masuk, sedangkan nebula
membias secara ireguler, sehingga cahaya yang jatuh di retina juga terpencar dan gambaran
akan menjadi kabur sekali.

Sampai ke
Agen penyebab Cedera kornea Mulai dari epitel
lapisan endotel

Kerusakan
Inflamasi Nyeri kornea Sikatrik kornea
(ulserasi)

G. LEUKOMA ADHERENS
Leukoma adalah jaringan parut dengan munculnya vaskularisasi kornea, timbul
sebagai akhir dari keratitis dan ulkus kornea. Tergantung dari lokasi dan dalamnya
perkembangan stroma, menyebabkan timbulnya leukoma kornea yang secara jelas terlihat
signifikan memerlukan bedah kornea untuk rehabilitasi visual.

Pada kasus perforasi kornea dengan prolaps iris bisa terjadi koplikasi berupa sinekia
anterior jika tidak segera mendapatkan tindakan, yang lama kelamaan jaringan yang
mengalami perforasi akan menjadi sikatriks biasa disebut leukoma adherens dan jika
penempelan iris ke kornea tidak merata maka akan terjadi kelainan bentuk pupil.

Pemeriksaan yang dilakukan pada kornea, yaitu:

1. Uji flouresin
2. Uji fistel
3. Uji sensibilitas kornea (untuk fungsi trigeminus kornea)
4. Papan plasido (untuk melihat kelengkungan kornea)
Leukoma adheren adalah kekeruhan sikatriks kornea dengan menempelnya iris di
dataran belakang. Leukoma adheren merupakan kondisi dimana iris menempel ke kornea
yang biasanya terjadi pada ulkus kornea (bisa disebabkan oleh infeksi, autoimun atau
penanganan yang buruk terhadap kasus yang ringan) dan luka kornea. Keluhan pasien
umumnya adalah penurunan penglihatan, kekeruhan pada mata atau beberapa komplikasi
yang menyertai yaitu astigmatisma, ectasia, glaucoma. Leukoma adheren yang tidak diterapi
dengan baik dapat menyebabkan kebutaan total.
1. Pentalaksanaan
Indikasi keratoplasti, yaitu terjadi jaringan parut yang mengganggu penglihatan,
kekeruhan kornea yang menyebabkan kemunduran tajam penglihatan, serta memenuhi
beberapa kriteria yaitu :

a. Kemunduran visus yang cukup menggangu aktivitas penderita


b. Kelainan kornea yang mengganggu mental penderita
c. Kelainan kornea yang tidak disertai ambliopia

2. Pencegahan
Pencegahan terhadap ulkus dapat dilakukan dengan segera berkonsultasi kepada ahli
mata setiap ada keluhan pada mata. Sering kali luka yang tampak kecil pada kornea dapat
mengawali timbulnya ulkus dan mempunyai efek yang sangat buruk bagi mata.

a. Lindungi mata dari segala benda yang mungkin bisa masuk kedalam mata
b. Jika mata sering kering, atau pada keadaan kelopak mata tidak bisa menutup
sempurna, gunakan tetes mata agar mata selalu dalam keadaan basah
c. Jika memakai lensa kontak harus sangat diperhatikan cara memakai dan merawat
lensa tersebut
DAFTAR PUSTAKA

Basic and Clinical Science Course. External Disease and Cornea, part 1, Section 8, American
Academy of Ophthalmology, USA 2008-2009 P.179-92

Boles, SF, MD. Lens Complication & Management QEI Winter 2009 Newsletter. Citied on
August 9 th, 2011

Edelhauser HF. The cornea and the sclera, chapter 4 in Adlers Physiology of The eye
Clinical'Aplication. 10 th ed. St.louis, Missouri, Mosby, 2005 : 47-103

Eva PR, Biswell R. Cornea In Vaughn D, Asbury T, eds. General Ophtalmology 17th ed. USA
Appleton Lange; 2008. p. 126-49

Ilyas S. Mata Merah dengan penglihatan Turun Mendadak. In: Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. 3rd
ed. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2004. P.147-67

Karesh, JW. Topografic anatomy of the eye, In: Duane's Clinical Ophthalmology. (CD-
ROOM). Lippincott Williams & Wilkins. USA : 2003

Lange Gerhard K.Ophtalmology. 2000. New York: Thieme. P. 117-44

Liesegang TJ,Deutsch TA. External Disease and Cornea. Section 8, AAO, San Fransisco, 2008-
2009: 181 9

Mills TJ, Corneal Ulceration and Ulcerative Keratitis in Emergency Medicine.


Citied on August 9, 2011. Avaible from: http://www.emedicine.com/emerg/topic
115.htm

Oyster, Clyde W. The Human Eye, Structure and Function. Sunderland, Massachussetts, 1999
: 325-350

Watsky MA, Olsen TW., Cornea and Sclera, In: Duanes Clinical Ophthalmology, (two volume,
chapter four), (CD-ROOM). Lippincott Williams & Wilkins. USA : 2003