Anda di halaman 1dari 34

Diskusi Jumat

PSYCHOSOCIAL-INFLUENCE HEALTH

Diskusi Jumat PSYCHOSOCIAL-INFLUENCE HEALTH Oleh: Adi Nugraha DJ Anwar 1518012190 Jose Adelina Putri 1518012237

Oleh:

Adi Nugraha DJ Anwar

1518012190

Jose Adelina Putri

1518012237

Kurnia Fitri Apriliana

1618012006

M. Ridho Ansori

1518012186

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS LAMPUNG

2017

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Allah SWT karena atas berkat rahmat-Nya sehingga penulis

dapat menyelesaikan makalah diskusi jumat dengan judul “Psychosocial Influence

Health” dalam rangka menyelesaikan tugas kepaniteraan klinik Ilmu Kedokteran

Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.

Pada kesempatan ini pula penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada para

pembimbing dari pihak fakultas maupun luar fakultas yang telah memberikan bantuan,

saran, serta kerjasamanya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini.

Penulis menyadari banyak kekurangan dalam penulisan makalah ini, baik dari segi isi,

bahasa, analisis dan sebagainya. Oleh karena itu, penulis ingin meminta maaf atas

segala kekurangan tersebut, hal ini disebabkan karena masih terbatasnya pengetahuan,

wawasan dan keterampilan penulis. Selain itu, kritik dan saran dari pembaca sangat

diharapkan guna untuk kesempurnaan makalah selanjutnya dan perbaikan untuk kita

semua. Akhir kata penulis juga berharap kiranya makalah dan diskusi jumat ini dapat

berguna dan bermanfaat bagi mahasiswa, dan semua pihak yang membutuhkannya.

Bandar Lampung, 22 Juni 2017

Tim Penulis

BAB I PENDAHULUAN

Di masa lalu sistem kesehatan hanya berorientasi pada penyakit, apabila telah sakit,

barulah

dilakukan

pengobatan.

Proses

globalisasi

menimbulkan

transformasi

komunikasi dan informasi di berbagai kawasan dunia yang memberikan dampak

terhadap

perubahan

nilai-nilai

sosial

dan

budaya.

Keadaan

ini

membutuhkan

kemampuan adaptasi yang baik serta dukungan lingkungan yang kondusif, sehingga

nilai-nilai sosial dan budaya dapat berkembang

secara tanggap sesuai dengan

perubahan. Perubahan-perubahan yang kompleks dan cepat pada kehidupan modern

saat ini dikarenakan manusia hidup di ruang lingkup sosial yang banyak berinteraksi

dengan lingkungan maupun dengan manusia lainnya yang memiliki karakter dan pola

pikir yang berbeda. Secara Holistik manusia adalah makhluk biopsiko-sosio-spiritual

yang unik dan menerapkan sistem terbuka dan saling berinteraksi. Manusia selalu

berusaha

mempertahankan

keseimbangan

hidupnya.

Keseimbangan

yang

dipertahankan oleh setiap individu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Keadaan individu yang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan disebut sehat

(Marimis, 2009).

Kesehatan menurut WHO adalah suatu keadaan sejahtera meliputi fisik, mental, dan

sosial, tidak hanya bebas dari penyakit atau kecacatan. Secara analogi kesehatan jiwa

pun mengandung berbagai karakteristik positif yang menggambarkan keselarasan dan

keseimbangan kejiwaan yang mencerminkan kedewasaan dari kepribadian individu.

Ini berarti kebutuhan akan adanya quality of life yang lebih tinggi dari sebelumnya

makin terasa untuk masa sekarang dan akan datang Seorang individu dikatakan sakit

apabila gagal dalam mempertahankan keseimbangan diri dan lingkungannya. Kondisi

ini sangat rentan terhadap stres, anxietas, konflik, ketergantungan terhadap

NAPZA(Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya) dan perilaku

seksual

yang

menyimpang,

psikososial (WHO, 2010).

yang

dapat

digolongkan

sebagai

masalah

Faktor-faktor psikososial dibagi menjadi dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor internal meliputi genetik, hormon dan kesehatan mental. Sedangkan faktor

eksternal meliputi keluarga dan lingkungan. Faktor-faktor tersebut memiliki hubungan

yang cukup erat dengan kesehatan fisik. Beberapa penelitian mengatakan bahwa faktor

psikososial

menjadi

penyebab

penting

dari

ketidaksetaraan

kesehatan.

Faktor

psikososial juga dapat menjadi penyebab yang dapat mempengaruhi kesehatan fisik

melalui

mekanisme

psikologis.

Terdapat

penelitian

observasional

yang

juga

membuktikan bahwa terdapat hubungan antara faktor psikososial dan kesehatan fisik

(Maclead and Smith, 2013).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

World Health Organization (WHO) mendefinisikan sehat sebagai kondisi sejahtera

fisik, mental, dan sosial, bukan hanya terbebas dari penyakit maupun cacat. Definisi

WHO tentang sehat mempunyai karakteristik berikut yang dapat meningkatkan

konsep sehat yang positif :

1. Memperhatikan individu sebagai sebuah sistem yang menyeluruh.

2. Memandang sehat dengan mengidentifikasi lingkungan internal dan eksternal.

3. Penghargaan terhadap pentingnya peran individu dalam hidup.

Sedangkan menurut UU No. 23 Tahun 1992, Kesehatan adalah keadaan sejahtera

dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan

ekonomi. Dalam pengertian ini maka kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan

yang utuh terdiri dari unsur unsur fisik, mental dan sosial dan di dalamnya

kesehatan jiwa merupakan bagian integral kesehatan. Dalam pengertian yang

paling luas, sehat merupakan suatu keadaan yang dinamis dimana individu

menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan internal (psikologis,

intelektual, spiritual dan penyakit) dan eksternal

ekonomi)

dalam

mempertahankan

kesehatannya.

(lingkungan fisik, sosial, dan

Dalam

membantu

seorang

individu yang sakit kembali sehat, seorang dokter bukan hanya memerhatikan

faktor fisiologi dan anatomi, akan tetapi memahami juga kebutuhan spiritual,

lingkungan, psikologis, dan sosial (British Medical Association, 2011).

Psikososial berasal dari gabungan dua kata, psiko dan sosial. Kata “psiko”

mengacu pada aspek psikologis dari individu (pikiran, perasaan, dan perilaku),

sedangkan “sosial” mengacu pada hubungan eksternal individu dengan orang-

orang di lingkungannya. Berdasarkan asal katanya, psikososial menunjuk pada

hubungan yang dinamis antara faktor psikis dan sosial, yang saling berinteraksi

dan memengaruhi satu sama lain (Gerungan WA, 2004). Psikososial adalah setiap

perubahan yang terjadi dalam kehidupan individu, baik yang bersifat psikologik

maupun

sosial

yang

mempunyai

pengaruh

timbal

balik

(Sarafino,

2006).

Kesehatan psikososial merupakan hasil dari interaksi kompleks antara riwayat

seseorang dan apa yang dipikirkannya serta interpretasinya terhadap masa lalu dan

apa arti masa lalu tersebut baginya (Donatelle, 2011).

2.2 Ruang Lingkup Kesehatan Psikososial

Kesehatan psikososial mencakup kesehatan emosional (feeling), kesehatan spiritual

(being), kesehatan mental (thinking), dan kesehatan sosial (relating) (Donatelle,

2011).

a. Kesehatan emosional (feeling) adalah bagian kesehatan psikososial tentang

reaksi dan emosi terhadap hidup. Emosi adalah perasaan yang intens dengan

pola yang kompleks, misalnya kebencian, frustasi, ansietas, dan kebahagiaan.

b. Kesehatan spiritual (being) adalah keyakinan yang dapat memberikan tujuan

dan arti hidup, sense of belonging

c. Kesehatan

mental

(thinking).

Individu

yang

sehat

mental

cenderung

menganggap tantangan dalam hidup adalah tantangan yang membangun,

sedangkan orang dengan kesehatan mental yang tidak baik biasanya irasional.

d. Kesehatan

sosial

(relating)

mencakup

interaksi

dengan

orang

lain,

kemampuan untuk menggunakan social support dan kemampuan untuk

beradaptasi dalam berbagai situasi.

2.3 Faktor Kesehatan Psikososial

Faktor-faktor

yang

memengaruhi

kesehatan

(Donatelle, 2011; Taylor, 2010):

psikososial

dibagi

menjadi

Tabel 1. Faktor Kesehatan Psikososial (Donatelle, 2011; Taylor, 2010).

FAKTOR INTERNAL

FAKTOR EKTERNAL

a. Genetik

a.

Keluarga

b. Hormonal

b.

Lingkungan

c. Lainnya

c.

Stress

Keyakinan diri untuk mencapai kesuksesan (self-efficacy)

Harga diri(self-esteem)

Menyerah karena pernah gagal (learned helplessness)

Optimisme

Kepribadian (personality)

Usia dan kedewasaan

(life span

and

maturity)

2.3.1 Faktor Internal

a. Genetik

Pengaruh genetik bersifat heredo-konstitusional yang artinya bahwa

bentuk untuk konstitusi seseorang ditentukan oleh faktor keturunan.

Faktor

genetik

akan

berpengaruh

pada

kecepatan

pertumbuhan,

kematangan tulang, gizi, alat seksual, dan saraf. Genetika perilaku

mempelajari

pengaruh

hereditas

terhadap

perilaku.Para

peneliti

genetika perilaku telah menemukan bukti-bukti yang meningkat bahwa

hingga taraf tertentu, kemampuan kognitif, sifat kepribadian, orientasi

seksual dan gangguan kejiwaan dipengaruhi oleh faktor genetik. Gen

adalah unit informasi pembawa sifat yang ada dalam kromosom.

Penurunan sifat pada manusia kebanyakan lebih bersifat poligenik,

yaitu satu sifat merupakan produk dari interaksi beberapa gen (Taylor,

2010).

Keberadaan

atau

ketiadaan

gen

tertentu

tidak

secara

otomatis

mengakibatkan perilaku tertentu, tetapi gen lebih memberi predisposisi

untuk merespon lingkungan dengan cara tertentu dan bahkan mencari

jenis lingkungan tertentu pula. Namun hingga saat ini belum diketahui

secara pasti sejauh mana gen mengendalikan tingkah laku. Menurut

beberapa

penelitian

mengenai

sifat

kepribadian,

terdapat

hasil

konsisten yang menunjukkan bahwa kepribadian tertentu dan sifat

sosial banyak dipengaruhi oleh komponen genetik, misalnya sifat

intorvert

dan

ekstrovert-secara

umum

heritabilitas

(besarnya

penurunan sifat) kepribadian lebih rendah daripada inteligensi (Taylor,

2010).

b. Hormonal

Penelitian

dalam

bahwa

hormon

bidang

dapat

psikoneuroendokrinologi

mempengaruhi

perilaku

menunjukkan

manusia

dan

pengalaman-pengalaman yang dialami manusia dalam kehidupannya

dapat

mempengaruhi

kadar

hormon

dalam

tubuhnya.

Pengaruh

hormon terhadap aspek psikososial sudah terjadi sejak masa pranatal

yaitu saat janin berumur 4 bulan. Pada saat itu, terjadi pertumbuhan

yang cepat dan kelenjar pituitary dan tiroid mulai bekerja. Hormon

yang berpengaruh terutama adalah hormon pertumbuhan somatotropin

yang dikeluarkan oleh kelenjar pituitary (Taylor, 2010).

c. Lainnya

Eskpektasi orang lain terhadap sebuah kesuksesan merupakan bagian

dari

faktor

internal,

yaitu

bagaimana

diri

menerimanya

dan

menimbulkan internal peace. Memiliki kontrol personal penting untuk

kesehatan psikososial. Self-efficacy penting agar seseorang yakin bahwa

ia dapat mencapai kesuksesan. Beberapa orang memiliki learned

helplessness, yaitu ketika mereka menyerah untuk mencoba mencapai

kesuksesan. Hal-hal diatas juga dipengaruhi oleh kepribadian masing-

masing yang dapat menentukan seberapa kuat mental seseorang. Orang-

orang

dengan

psikososial

yang

kemampuan

beradaptasi

dalam

sehat

situasi

memiliki

extraversion,

sosial,

dapat

mencapai

kesepakatan, dapat mengikuti aturan, terbuka untuk pengalaman baru,

dan stabil secara emosional (Donatelle, 2011).

2.3.1 Faktor Eksternal

a. Keluarga

Lingkungan yang terdekat yang paling awal dan yang terlama dialami

seseorang adalah lingkungan keluarga. Keluarga adalah salah satu

mata rantai kehidupan yang paling esensial dalam sejarah perjalanan

hidup manusia. Keluarga sebagai pranata sosial pertama dan utama,

mempunyai arti paling strategis dalam mengisi dan membekali nilai-

nilai kehidupan yang dibutuhkan oleh anak yang sedang mencari

makna kehidupannya. Dengan kata lain, pranata keluarga adalah titik

awal keberangkatan, sekaligus sebagai modal awal perjalanan hidup

anak yang kemudian dilengkapi dengan rambu-rambu perjalanan yang

digariskan pranata sosial lainnya di lingkungan pergaulan sehari-hari.

Keluarga yang hubungan antar anggotanya tidak harmonis, penuh

konflik dapat memicu timbulnya berbagai masalah kesehatan mental

bagi anak (Baihaqi, 2005).

Pengalaman-pengalaman yang dilalui anak ketika kecil, termasuk

perilaku orang tua dan sikap mereka terhadap anak mempunyai

pengaruh

yang

besar

dalam

kehidupan

anak

nantinya.

Karena

kepribadian terbentuk dari pengalaman sejak kecil, terutama pada

tahun- tahun pertama kehidupan anak. Pengalaman itu termasuk

pendidikan, perlakuan orang tua, sikap orang tua terhadap anak atau

sikap orang tua satu sama lain (ayah dan ibu).Pengalaman-pengalaman

pada tahun-tahun pertama itulah yang menentukan kesehatan mental

seseorang, bahagia atau tidaknya di kemudian hari (Baihaqi, 2005).

Kondisi keluarga yang tidak baik (yaitu sikap orang tua) juga dapat

menyebabkan perubahan psikososial individu, misalnya :

1.

Hubungan kedua orang tua yang dingin, atau penuh ketegangan,

atau acuh tak acuh.

 

2.

Kedua orangtua jarang di rumah dan tidak ada waktu untuk

bersama dengan anak-anak.

 

3.

Komunikasi

antara

orang

tua

dan

anak

yang

tidak

baik (communication gap).

 

4.

Kedua orang tua berpisah (separate) atau bercerai (divorce).

 

5.

Salah satu orang tua menderita gangguan jiwa/kepribadian.

6.

Orang tua dalam pendidikan anak kurang sabar, pemarah, keras dan

otoriter, dan lain sebagainya (Taylor, 2010).

b. Lingkungan

Individu

pada

umumnya

banyak

menghabiskan

waktunya

untuk

melakukan kontak sosial dengan orang lain dalam hal ini bertujuan

untuk mencapai kepuasannya dalam berinteraksi dengan lingkungan

sekitarnya. Dalam kehidupan sehari-hari, kontak sosial paling sering

individu tersebut lakukan dengan

lingkungan

yang paling dekat

dengannya dan yang paling sering ia temui, yaitu lingkungan tempat

dirinya bergaul dengan individu lain terutama yang sebaya dengan

dirinya dengan alasan, memiliki tujuan dan latar belakang yang serupa.

Contohnya, setiap hari seseorang akan melakukan aktivitas-aktivitas

umum seperti sekolah dan bekerja yang membuatnya berada pada

suatu lingkungan tertentu dan berakhir pada aktivitasnya bergaul

dengan individu-individu dalam lingkungan tersebut, dalam hal ini

teman sekolah dan rekan kerja. Kondisi lingkungan yang buruk besar

pengaruhnya bagi kesehatan seseorang, misalnya soal perumahan,

pindah tempat tinggal, penggusuran, hidup dalam lingkungan yang

rawan (kriminalitas) dan lain sebagainya. Rasa tercekam dan tidak

merasa aman ini amatmengganggu ketenangan dan ketentraman hidup,

sehingga tidak jarang orang jatuh kedalam depresi dan kecemasan

(Feldman, 2003).

c. Stres

Stres dapat digambarkan sebagai keadaan yang mengganggu fungsi

fisiologis atau psikologis normal seseorang (Sadock, 2007). Stress

dapat berasal dari diri individu, keluarga dan lingkungan. Stres

merupakan suatu pengalaman emosional negatif yang disertai dengan

perubahan

biokimia,

fisiologi,

kognitif

dan

perilaku

yang

dapat

diramalkan dan diarahkan baik terhadap usaha untuk mengubah

kejadian stres ataupun mengakomodasikan efek dari stres tersebut

(Taylor, 2010). Stres merupakan keadaan psikologis yang timbul jika

ada ketidakseimbangan antara persepsi individu mengenai tuntutan

yang harus dihadapi dibandingkan dengan kemampuan mereka untuk

mengatasi tuntutan tersebut (Sarafino dan Smith, 2011).

Penggolongan jenis stress didasarkan atas persepsi individu terhadap

stres yang dialaminya, yakni:

Eustress (Stres Positif)

Eustress adalah jenis stres yang baik karena dikaitkan dengan

perasaan positif dan kondisi tubuh yang sehat. Eustress bersifat

menyenangkan dan memberikan pengalaman yang memuaskan.

Eustress dapat meningkatkan kesiagaan mental, kewaspadaan,

kognisi, dan performa individu. Eustress juga dapat meningkatkan

motivasi individu untuk menciptakan sesuatu (Lazarus, 1998).

Distress (Stres Negatif)

Distress

merupakan

stres

yang

merusak

atau

bersifat

tidak

menyenangkan. Stres dirasakan sebagai suatu keadaan dimana

individu mengalami rasa cemas, ketakutan, khawatir, atau gelisah

sehingga individu mengalami keadaan psikologis yang negatif,

menyakitkan, dan timbul keinginan untuk menghindarinya (Selye,

1976).

2.4 Pengaruh Psikososial terhadap Kesehatan

Masalah-masalah psikososial memengaruhi kesehatan dalam berbagai bentuk,

salah satunya yakni stres psikososial. Stress psikososial adalah setiap keadaan atau

peristiwa yang menyebabkan perubahan dalam kehidupan seseorang; sehingga

orang

itu

terpaksa

mengadakan

adaptasi

atau

penyesuaian

diri

untuk

menanggulanginya. Namun tidak semua orang mampu melakukan adaptasi dan

mengatasi stressor tersebut sehingga timbullah keluhan-keluhan antara lain berupa

cemas dan depresi. Individu dengan depresi atau ansietas memiliki fungsi sosial

yang lebih rendah, disabilitas yang lebih besar dibandingkan mereka yang sehat.

Distress emosional sering menyebabkan masalah somatik, seperti gangguan tidur,

kelelahan, dan nyeri. Pasien dengan depresi berat juga memiliki kecenderungan

melakukan perilaku tidak sehat (unhealthy behavior) yang lebih besar, misalnya

merokok, sedentary lifestyle, dan overeacting. Terlebih lagi, depresi dan gangguan

psikologis akan mengganggu fungsi kognitif, motivasi, dan coping abilities.

Penelitian

menyebutkan

neuroendokrin,

imunitas,

Medicine, 2008).

adanya

stressor

dan

fungsi

sistem

psikososial

lain

dalam

mengganggu

kerja

tubuh

(Institute of

Faktor psikososial lain yang dapat mempengaruhi kesehatan individu adalah faktor

dukungan keluarga. Dukungan keluarga merupakan bentuk pemberian dukungan

terhadap

anggota

keluarga

lain

yang

mengalami

permasalahan.

Sedangkan

menurut

Sarafino

(2006),

dukungan

keluarga

adalah

sebagai

suatu

proses

hubungan antara keluarga dengan lingkungan sosial. Dari uraian tersebut diatas

maka dapat disimpulkan bahwa dukungan keluarga adalah suatu keadaan atau

proses hubungan antara keluarga yang memberi manfaat kepada orang lain. Jenis

dukungan keluarga ada enam, yaitu:

a. Dukungan Instrumental, yaitu keluarga merupakan sumber pertolongan praktis

dan konkrit.

b. Dukungan informasional, yaitu keluarga berfungsi sebagai sebuah kolektor dan

diseminator (penyebar informasi).

c. Dukungan penilaian (apprasial), yaitu keluarga bertindak sebagai sebuah

umpan balik, membimbing dan menengahi pemecahan masalah dan sebagai

sumber dan validator identitas keluarga.

d. Dukungan emosional, yaitu keluarga sebagai sebuah tempat yang aman dan

damai untuk istirahat dan pemulihan serta membantu penguasaan terhadap

emosi.

e. Dukungan finansial, stress finansial biasanya mempengaruhi sistem keluarga

dan

mengakibatkan

hancumya

keluarga.

Tagihan

-

tagihan

medis

mengharuskan ibu bekerja Jana ayah melakukan pekerjaan sambilan, sehingga

liburan dan aktivitas-aktivitas waktu Luang hilang, ketegangan perkawinan

memuncak sehingga mengancam hubungan keluarga. Perceraian, pisah, anak-

anak

yang

berandal,

masalah-masalah

psikosomatis,

penyalahgunaan

obatobatan merupakan gejala dari efek-efek kacau balau jangka panjang yang

ditimbulkan oleh stres finansial.

f. Dukungan spiritual, sesungguhnya kepercayan terhadap Tuhan dan berdoa

diidentifikasikan oleh keluarga sebagai paling penting bagi keluarga untuk

mengatasi suatu 4 stressor yang berkaitan dengan kesehatan atau sebagai suatu

metode dan sangat penting dan sangat sering digunakan, karena agama sebagai

cara paling penting untuk menanagani kanker (Sarafino, 2006).

Sedangkan untuk mekanisme dukungan terbagi dalam tiga bentuk dukungan, yaitu:

a. Dukungan nyata, mekispun sebenamya setiap orang dengan sumber-sumber

yang tercukupi dalam bentuk uang atau perhatian, dukungan nyata merupakan

paling etktif bila dihargai oleh penerima dengan tepat. Pemberian dukungan

nyata yang berakibat pada perasaan ketidakadekuatan dan berhutang akan

benar-benar menambah stress individu.

b. Dukungan pengharapan, kelompok. dukungan dapat mempengaruhi persepsi

individu

akan

ancaman

dukungan

sosial

menyangga

orang-orang

untuk

melawan stress dengan membantu mereka mendefinisikan kembali situasi

tersebut

sebagai

ancaman

kecil,

bagaimanapun

dukungan

sosial

hanya

membantu jika stressor tersebut dapat diterima, pasien kanker umumnya tidak

ingin mendiskusikan penyakitnya karena cacat yang didapat pada kondisi

tersebut dan tidak mencari bantuan dari pasien kanker lain agar terhindar dari

ucapan umum bahwa mereka mengalami kanker.

c.

Dukungan emosional, jika stress mengurangi perasaan seseorang akan hal yang

dimiliki

dan

dicintai,

dukungan

emosional

dapat

menggantikanya

atau.

menguatkan perasaan-perasaan ini. Stress yang tidak terkontrol dapat berakibat

pada hilangnya harga diri. Jika hat ini terjadi, jaringan pendukung memainkan

peran yang berarti dalam meningkatkan pendapat yang rendah terhadap diri

sendiri.

Kejadian-kejadian

yang

berakibat

seseorang

merasakan

hilang

perasaan

memilki

dapat

diperbaiki

dengan

bentuk

dukungan

yang

mengembangkan hubungan personal yang relatif.

Namun, terdapat pula dukungan keluarga yang tergolong kurang baik, contohnya

individu menganggap bahwa keluarga tidak memberikan saran atau anjuran

pengobatan dari pelayanan kesehatan, keluarga tidak meminta pendapat individu

terdahulu

dalam

rencana

pengobatan,

keluarga

menegur

individu

saat

ada

keperluan saja, dan keluarga tidak menanyakan keluhan yang individu rasakan.

Sehingga, untuk dapat

sangatlah

membutuhkan

meningkatkan derajat

kesehatan individu

yang sakit

peran

keluarga

dalam

kesembuhan

yang

berupa

memberikan sarana prasanan, menyediakan dana pengobatan, meluangkan waktu

untuk mendampingi berobat dan saat dirumah maupun bergaul dilingkungan

sekitarnya.

Faktor

yang

mempengaruhi

dukungan

keluarga

diantaranya

menerapkan fungsi keluarga yaitu sejauh mana keluarga mempengaruhi anggota

keluarga lain saat mengalami masalah kesehatan serta membantu dalam memenuhi

kebutuhan (Maclead and Smith, 2013).

Faktor psikososial eksternal lain yang juga dapat mempengaruhi adalah dukungan

sosial. Definisi dukungan sosial yaitu mengacu pada kenyamanan, perhatian,

penghargaan, atau bantuan yang diberikan orang lain, atau kelompok terhada

individu. Sementara dukungan sosial didefinisikan sebagai peran yang dimainkan

oleh teman-teman dan relasi dalam memberikan nasihat, bantuan, dan beberapa

antaranya

untuk

menceritakan

perasaan

pribadi

(Lahey,

2007).

Pengaruh

lingkungan sosial dalam kesehatan dapat dilihat dari tempat individu tersebut hidup

dan bekerja, seperti merokok, penggunaan alkohol, diet yang tidak sehat (Masic,

2013).

Lingkungan pekerjaan merupakan salah satu faktor psikososial yang berpengaruh

terhadap kesehatan individu. Penelitian menunjukan bahwa terdapat hubungan

antara tekanan pada pekerjaan dengan penyakit jantung iskemik. Beberapa bukti

menunjukkan

bahwa

tekanan

kerja,

ketidakseimbangan

antara

usaha

dan

penghargaan, kurangnya dukungan, kurangnya keadilan, pekerjaan yang tidak

aman, shift malam, pekerjaan

yang terus-menerus dan kebisingan memiliki

hubungan dengan kejadian penyakit jantung iskemik (Theorell et al, 2016).

BAB III TELAAH JURNAL

A. Informasi Jurnal

a) Judul

Penilaian Standar dari Faktor Psikososial dan Pengaruhnya Terhadap Hasil

Kesehatan Yang Dikonfirmasi Secara Medis Pada Pekerja: Sebuah Sistematik

Review.

b) Latar Belakang

Saat ini, risiko psikososial diakui sebagai salah satu tantangan terbesar untuk

kesehatan dan keselamatan kerja, karena hal tersebut dapat menyebabkan

kerusakan serius pada kesehatan fisik dan mental pekerja, yang menyebabkan

konsekuensi signifikan bagi organisasi dan masyarakat. Risiko ini Dianggap

sebagai ancaman bagi kesehatan orang-orang yang bekerja, terutama yang

berkaitan

dengan

faktor-faktor

seperti

globalisasi,

ekonomi

pasar bebas,

teknologi

informasi

baru,

krisis

ekonomi

dan

resesi

berikutnya,

yang

menghadirkan

tantangan

Untuk

lebih

mengidentifikasi

kecocokan

antara

kondisi tempat kerja dan karakteristik angkatan kerja yang mungkin berdampak

pada kesehatan.

c) Bahan dan metode

Penelusuran elektronik dilakukan pada sumber basis data berikut: PuBmed, B-

ON (Elsevier, Springer, Taylor & Francis, Wiley, CINAHL, Emerald), Science

Direct, Psycarticles, Psychology and Behavioral Sciences Collection dan

GOOGLE (http://scholar.google.com) untuk periode 2004 hingga Juni 2014.

Hal ini dilakukan karena peran faktor psikososial telah berubah seiring

berjalannya waktu dan tinjauan ini bertujuan untuk mencerminkan kondisi

terbaru saat ini. Publikasi harus tersedia di jurnal peer-review. Studi asli dalam

bahasa Inggris, Perancis, Portugis dan Spanyol memenuhi syarat untuk ditinjau.

Kami mengikuti protokol standar untuk tinjauan ini sesuai dengan pedoman dan

rekomendasi

PRISMA

yang

telah

divalidasi

untuk

tinjauan

sistematis.

Penyaringan artikel dilakukan dalam dua tahap. Pada tahap pertama, artikel

dipilih berdasarkan judul dan abstrak. Abstrak dari semua judul yang dipilih

disortir untuk informasi lebih rinci.

Dua

reviewer

independen

(S.R

dan

J.T.C)

membaca

abstrak

dan

mengelompokkannya menjadi kelompok artikel relevan, tidak relevan dan

mungkin

relevan.

Pada

tahap

kedua,

artikel

teks

lengkap

dinilai

untuk

kelayakannya. Dua reviewer (S.R dan J.T.C) memasukkan kriteria inklusi dan

pengecualian secara terpisah ke artikel yang berpotensi memenuhi syarat dan

kedua pengulas kemudian mengekstrak data dari artikel asli secara terpisah.

Setiap ketidaksepakatan diperiksa secara independen oleh reviewer kedua

(J.A.F) dan konsensus tercapai. Data diekstraksi untuk karakteristik penelitian

berikut: Desain studi; negara; Setting / tempat kerja; Aktivitas profesional yang

dipelajari; ukuran sampel; Rentang usia peserta; Tingkat partisipasi pada awal

(semua

desain),

tingkat

partisipasi

pada

saat

tindak

lanjut

(rancangan

kelompok);

mengukur

confounders;

Faktor

kerja

psikososial;

Instrumen

penilaian faktor psikososial yang divalidasi untuk populasi penelitian, dan

evaluasi medis spesifik dari hasil kerja terkait kesehatan atau bukti data yang

terdaftar

mengenai

ketidakhadiran

penyakit

(divalidasi

dan

dikonfirmasi

dengan ketiadaan penyakit yang dideritanya).

 

Hubungan

faktor

psikososial

terkait

pekerja

terhadap

kesehatan

pekerja

(berdasarkan metode penilaian yang divalidasi untuk populasi penelitian dan

evaluasi klinis hasil kerja terkait kesehatan) diperiksa untuk mengukur dampak

(perbedaan mean, koefisien korelasi, koefisien beta , Rasio rasio (RR), rasio

odds (OR), rasio hazard (HR), rasio risiko (Pvalue atau 95% confidence interval

(95% CI) dan disajikan untuk setiap studi jika tersedia. Hasil disintesis menurut

rancangan

bentuk

studi

(Cross-sectional,

prospective

cohort),

instrumen

penilaian

faktor

psikososial

yang

divalidasi

untuk

populasi

penelitian

(kuesioner, skala) dan hasil (penyakit, ketiadaan penyakit).

d) Hasil Dalam penelitian prospektif, Rugulies dkk. Menilai apakah pegawai yang

bekerja

dalam

bidang

pelayanan

yang

terkena

16

karakteristik

resiko

psikososial pekerjaan yang berbeda (kontak dengan klien lebih dari separuh

waktu, kekerasan dan ancaman dari klien selama 12 bulan terakhir, pekerjaan

melibatkan

pengendalian

klien,

tuntutan

emosional,

tuntutan

untuk

menyembunyikan emosi, tuntutan kuantitatif, Kecepatan kerja yang tinggi,

pengaruh di tempat kerja, makna pekerjaan, kemungkinan pengembangan,

kualitas manajemen, prediktabilitas, kejelasan peran, konflik peran, dukungan

tinggi dari rekan kerja, dukungan tinggi dari atasan) mengalami peningkatan

jumlah hari ketidakhadiran akibat sakit. Hasil kerja karyawan adalah 16

karakteristik pekerjaan psikososial yang dinilai pada awal dan menganalisis

hubungan mereka dengan jumlah hari ketidakhadiran akibat sakit pada saat

follow-up

selama

3

tahun.

Berbagai

karakteristik

psikososial

pekerjaan

(keterpaparan terhadap kekerasan dan ancaman, tuntutan emosional yang

tinggi, persyaratan tinggi untuk menyembunyikan emosi, pengaruh rendah di

tempat kerja, rendahnya makna kerja, rendahnya kualitas manajemen dan

konflik peran) ditemukan terkait secara signifikan dengan Peningkatan jumlah

hari akibat sakit pada saat dilakukan follow-up, setelah disesuaikan dengan

confounder. Karyawan yang dinilai dalam kuartil paling buruk dari indeks

lingkungan psikososial kerja dilaporkan mengalami peningkatan sebesar 71%

[Rate Ratio (RR 1,71, 95% CI: 1,32-2,21)] dalam hari ketidakhadiran akibat

sakit. Selain itu, ada kecenderungan yang jelas bahwa memburuknya indeks

lingkungan kerja psikososial memperkirakan kenaikan ketidakhadiran akibat

sakit. Dibandingkan dengan karyawan dengan lingkungan kerja psikososial

yang paling baik (kuartil indeks atas), karyawan di tiga kuartil berikutnya

memiliki 19% (p = .21), 39% (p = .01) dan 71% (p = 0,001, Kuartil terendah)

lebih banyak ketidakhadiran hari setelah penyesuaian untuk semua pembaur

potensial dan untuk paparan kekerasan dan ancaman. Analisis fraksi etiologi,

menemukan bahwa jika semua peserta studi telah terpapar pada kuartil indeks

lingkungan kerja psikososial yang paling baik, tidak adanya hari ketidakhadiran

akibat sakit akan berkurang sebesar 24%.

Selain itu, penghapusan paparan terhadap kekerasan dan ancaman akan

mengurangi ketidakhadiran hari akibat sakit sebesar 10%. Menariknya, dalam

analisis

fraksi

etiologi,

bahwa

memperbaiki

indeks

lingkungan

kerja

psikososial dan menghilangkan keterpaparan terhadap kekerasan dan ancaman

akan mencegah 32% dari semua ketidakhadiran akibat sakit dalam populasi

penelitian.

Temuan tambahan adalah efek mediasi kelelahan terkait pekerjaan yang diakui

sebagai prediktor kuat untuk ketidakhadiran akibat sakit bila disesuaikan untuk

semua

pembaur

potensial

dan

untuk

16

karakteristik

psikososial

yang

memprediksi 28% (RR 1,18 CI 95%: 1,06-1,13, p = 0,03) peningkatan akibat

sakit pada saat dilakukan follow-up.

Tinjauan sistematis ini memungkinkan untuk memperhatikan bahwa penelitian

saat ini perlu mentafsirkan kesehatan dan keselamatan kerja, baik dalam bidang

kedokteran dan area pengetahuan psikososial untuk mencapai informasi yang

lebih akurat. Penting untuk dicatat, ada tantangan dalam mengukur dampak

kerja terhadap kesehatan karena faktor-faktor seperti:

1.

Keterbatasan

dalam

sistem

pencatatan

dan

pemberitahuan

nasional

terhadap penyakit akibat kerja membuat sulit untuk menentukan hubungan

kausal antara kondisi tempat kerja dan gangguan kesehatan pekerja,

terutama dalam kasus penyakit dengan periode laten yang panjang dan

dengan penyebab multifaktorial;

2. desain

Penggunaan

penelitian

cross-sectional

daripada

desain

studi

longitudinal;

3. Penggunaan penilaian yang dilaporkan sendiri;

4. Kurangnya penggunaan hasil kesehatan yang dikonfirmasi secara medis

pada pekerja, dan

5. urangnya penggunaan metode penilaian validasi psikososial untuk populasi

penelitian, seperti yang kita amati dalam tinjauan sistematis ini.

e) Kesimpulan Hasil tinjauan sistematis ini menunjukkan bahwa lingkungan sosial (tempat

kerja,

masyarakat,

keluarga,

dan

lain-lain)

dapat

mempengaruhi

hasil

kesehatan. Sebagian besar penelitian (7/10) mengamati efek buruk dari faktor

kerja psikososial yang buruk terhadap kesehatan pekerja: 3 pada ketidakhadiran

penyakit, 4 pada penyakit kardiovaskular. Tiga penelitian lainnya melaporkan

efek merugikan pada tidur dan pada biomarker yang terkait dengan penyakit.

Namun, berat hasilnya terbatas karena hanya sedikit penelitian yang memiliki

kualitas metodologis tinggi. Faktanya, efek yang lebih konsisten ditemukan

dalam

penelitian

tentang

kualitas

metodologis

yang

tinggi

dengan

menggunakan rancangan prospektif dengan instrumen yang divalidasi untuk

menilai faktor kerja psikososial dan ukuran objektif hasil kesehatan terkait

pekerjaan. Oleh karena itu, penelitian lebih lanjut perlu mengkonfirmasi efek

merugikan dari faktor kerja psikososial negatif terhadap hasil kesehatan dan

studi

di

masa

depan

harus

mempertimbangkan

a)

menggunakan

desain

prospektif, b) menggunakan kuesioner risiko psikososial yang divalidasi dan

ukuran objektif hasil kesehatan, dan c) mempelajari Keterkaitan yang kompleks

antara pekerjaan dan kesehatan fisik dan mental pekerja.

B. Critical Appraisal

Analisis VIA

a) Validity

Desain:

Metode penelitian menggunakan Sistematik review. Tujuan dari tinjauan

sistematis ini adalah untuk merangkum bukti yang menilai hubungan antara

lingkungan kerja psikososial dan kesehatan pekerja berdasarkan pada studi

yang menggunakan instrumen standar dan divalidasi untuk menilai lingkungan

kerja psikososial dan yang berfokus pada hasil kesehatan yang dikonfirmasi

secara medis. Tinjauan sistematis terhadap literatur dilakukan dengan mencari

basis data PubMed, B-ON, Science Direct, Psycarticles, Koleksi Psychology

and

Behavioral

Sciences

dan

mesin

pencari

(Google

Scholar)

dengan

menggunakan kata-kata yang tepat untuk studi yang diterbitkan dari tahun 2004

sampai 2014. Tinjauan ini Mengikuti rekomendasi Pernyataan Pelaporan

Tinjauan Sistematik (PRISMA). Studi dimasukkan dalam kajian jika data

tentang penilaian psikosial yang tervalidasi untuk populasi penelitian dan

evaluasi medis spesifik untuk hasil kerja terkait kesehatan yang disajikan.

Populasi dan sampel:

Secara keseluruhan, strategi pencarian menghasilkan 10.623 referensi, dimana

10 penelitian (tujuh kohort prospektif dan tiga penampang) memenuhi kriteria

inklusi. Sebagian besar penelitian (7/10) mengamati efek buruk dari faktor kerja

psikososial yang buruk terhadap kesehatan pekerja: 3 pada ketidakhadiran

penyakit, 4 pada penyakit kardiovaskular. 3 studi lainnya melaporkan efek

merugikan pada tidur dan pada biomarker yang terkait dengan penyakit.

Pemilihan sampel:

Pada jurnal ini, sumber artikel diambil dari: PuBmed, B-ON (Elsevier,

Springer,

Taylor

&

Francis,

Wiley,

CINAHL,

Emerald),

ScienceDirect,

Psycarticles, Koleksi Psychology and Behavioral Sciences dan GOOGLE

(http://scholar.google.com) untuk artikel periode 2004 hingga Juni 2014.

Strategi pencarian terdiri dari kombinasi tiga kata kunci pencarian: istilah yang

berkaitan dengan faktor kerja psikososial; istilah yang terkait dengan penilaian

risiko dan istilah yang berkaitan dengan fisik pekerja dan hasil kesehatan

mental.

Publikasi harus tersedia di jurnal peer-review. Studi asli dalam bahasa Inggris,

Perancis, Portugis dan Spanyol memenuhi syarat untuk ditinjau.

Kami mengikuti protokol standar untuk tinjauan ini sesuai dengan pedoman dan

rekomendasi PRISMA yang telah divalidasi untuk tinjauan sistematis.

Penyaringan artikel dilakukan dalam dua tahap. Pada tahap pertama, artikel

dipilih berdasarkan judul dan abstrak. Abstrak dari semua judul yang dipilih

disortir untuk informasi lebih rinci.

Dua

reviewer

independen

(S.R

dan

J.T.C)

membaca

abstrak

dan

mengelompokkannya menjadi kelompok artikel relevan, tidak relevan dan

mungkin

relevan.

Pada

tahap

kedua,

artikel

teks

lengkap

dinilai

untuk

kelayakannya. Dua reviewer (S.R dan J.T.C) memasukkan kriteria inklusi dan

pengecualian secara terpisah ke artikel yang berpotensi memenuhi syarat dan

kedua pengulas kemudian mengekstrak data dari artikel asli secara terpisah.

Setiap ketidaksepakatan diperiksa secara independen oleh reviewer kedua

(J.A.F) dan konsensus tercapai. Data diekstraksi untuk karakteristik penelitian

berikut: Desain studi; negara; Setting / tempat kerja; Aktivitas profesional yang

dipelajari; ukuran sampel; Rentang usia peserta; Tingkat partisipasi pada awal

(semua

desain),

tingkat

partisipasi

pada

saat

tindak

lanjut

(rancangan

kelompok);

mengukur

confounders;

Faktor

kerja

psikososial;

Instrumen

penilaian faktor psikososial yang divalidasi untuk populasi penelitian, dan

evaluasi medis spesifik dari hasil kerja terkait kesehatan atau bukti data yang

terdaftar

mengenai

ketidakhadiran

penyakit

(divalidasi

dan

dikonfirmasi

dengan ketiadaan penyakit yang dideritanya).

b) Importancy

Hasil tinjauan sistematis ini menunjukkan bahwa lingkungan sosial (tempat

kerja,

masyarakat,

keluarga,

dan

lain-lain)

dapat

mempengaruhi

hasil

kesehatan. Sebagian besar penelitian (7/10) mengamati efek buruk dari faktor

kerja psikososial yang buruk terhadap kesehatan pekerja: 3 pada ketidakhadiran

penyakit, 4 pada penyakit kardiovaskular. Tiga penelitian lainnya melaporkan

efek merugikan pada tidur dan pada biomarker yang terkait dengan penyakit.

Hasil dari penelitian jurnal ini memiliki importancy yang cukup baik, karena

dengan

dapat

dibuktikannya

melalui

penelitian

yang baik

bahwa faktor

psikososial dalam pekerjaan memiliki pengaruh terhadap kesehatan baik fisik

maupun mental dari pekerja dapat membuat semua pihak dapat memikirkan

pencegahan yang baik dari berbagai aspek sehingga dapat mengurangi resiko

psikososial untuk mengurangi resiko timbulnya penyakit pada pekerja.

c) Applicability

Hasil penelitian dalam jurnal ini dapat diterapkan di Indonesia. Hal ini sejalan

dengan sistem kebijakan kesehatan di Indonesia yang mulai akan digiatkan

pada orientasi tindakan preventif dan promosi kesehatan. Pemahaman yang

lebih baik dari faktor risiko psikososial dalam kalangan pekerja dan lebih

memperhatikan langkah-langkah pencegahan menghasilkan dampak positif

dalam mengurangi tingkat kejadian kesakitan pada kalangan pekerja.

Tujuan utama dari kesehatan okupasional merupakan tindakan pencegahan baik

dari peningkatan keamanan diri hinggapembentukan kebijakan-kebijakan yang

dapat memeberikan kesempatan bagi pekerja untuk mengurangi resiko-resiko

psikososial akibat tekanan dan kelebihan beban kerja ataupun lingkungan kerja

yang tidak baik.

Di masa depan kita harus memperhatikan, tidak hanya untuk keterlibatan para

professional medis dalam pengelolaan penyakit akibat kerja/okupasional, tetapi

juga politisi, ekonom dan struktur lainnya dalam kehidupan sehari-hari dan

pengambilan keputusan di daerah tertentu

dari kondisi kerja dan kehidupan.

BAB IV PEMBAHASAN

Puskesmas Satelit terletak di Jl. Jend. Sudirman No. 64 Pahoman, kedamaian, Kota Bandar Lampung memiliki berbagai program kerja akan tetapi belum ada program yang secara khusus memperhatikan keadaan psikososial dari masyarakat di wilayah kerjanya. Faktor-faktor psikososial yang mungkin berhubungan dengan kondisi kesehatan pasien hanya ditanyakan ketika pasien berobat ke puskesmas meliputi usia, riwayat pribadi, pekerjaan, dan lingkungan tempat tinggal. Berdasarkan teori-teori dan hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor psikososial memiliki pengaruh terhadap kesehatan sehingga dapat memberikan outcome yang lebih baik. Oleh karena itu sebaiknya puskesmas memiliki suatu program yang dapat dijadikan sarana bagi para masyarakatnya untuk saling memberikan dukungan, berbagi pengetahuan bahwa kesehatan tidaklah terlepas dari segala aspek termasuk aspek psikososial seperti keadaan dan dukungan keluarga, interaksi dengan lingkungan ataupun stres. Sehingga dengan memperhatikan setiap aspek tersebut kita harapkan dapat tewujudnya kesehatan, tercapainya segala rencana terapi dan menyingkirkan paradigma bahwa penyakit hanya dapat disembuhkan dengan menggunakan obat-obatan.

BAB V KESIMPULAN

BAB V KESIMPULAN 1. Psikososial adalah setiap perubahan dalam kehidupan individu, baik yang bersifat psikologik maupun

1. Psikososial adalah setiap perubahan dalam kehidupan individu, baik yang bersifat psikologik maupun sosial yang mempunyai hubungan timbal-balik, masalah kejiwaan dan kemasyarakatan, sebagai akibat terjadinya perubahan sosial dan atau gejolak sosial dalam masyarakat.

2. Faktor-faktor psikososial dibagi menjadi dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

3. Faktor internal terdiri dari genetik, horrmonal, Keyakinan diri untuk mencapai kesuksesan (self-efficacy), Menyerah karena pernah gagal (learned helplessness), Optimisme, Kepribadian (personality), Usia dan kedewasaan (life span and maturity), sedangkan faktor eksternal terdiri dari keluarga dan lingkungan.

4. Pengaruh psikososial berperan penting terhadap kesehatan individu.

DAFTAR PUSTAKA

Baihaqi, MIF., Sunardi, Akhlan, R. N. R., Heryati, E. 2005. Psikiatri (Konsep Dasar

dan Gangguan-gangguan). PT. Refika Aditama. Bandung

British Medical Association. 2011. The psychological and social needs of patients.

London: BMA Science & Education

Donatelle RJ. 2011. Health: The Basics, green edition. Oregon: Pearson

Feldman, S., Geisler C., and Silberling, L. 2003. Moving targets: displacement,

improverishment, and development. ISSJ. 55(175): 7-13.

Gerungan, WA. 2000. Psikologi Sosial. Bandung : PT. Refika Aditama.

Hawari, Dadang. 2006. Manajemen Stres, Cemas dan Depresi. Fakultas Kedokteran

Universitas Indonesia. Jakarta : Gaya Baru.

Inhestern L, Haller A-C, Wlodarczyk O, Bergelt C. 2016. Psychosocial Interventions

for Families with Parental Cancer and Barriers and Facilitators to Implementation

and Use A Systematic Review. PLoS ONE 11(6): e0156967.

doi:10.1371/journal.pone.0156967

Institute of Medicine. 2008. Cancer care for the whole patient: meeting psychosocial

health needs. Washington: The National Academies Press

Kemenkes RI. 1992. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan. Jakarta: Kemenkes.

Lahey, B. B. 2007. Psychology: An Introduction, Ninth Edition. New York: The

McGraw-Hill Companies.

Lazarus, R. S. 1998. From psychological stress to the emotions: A history of changing

outlooks. Fifty Years of the Research and Theory of RS Lazarus: An Analysis of

Historical and Perennial Issues, 349.

Maramis,W.F. 2009. Ilmu Kedokteran Jiwa. Airlangga University Press: Surabaya.

Masic,

Izet.

2013.

The

Significance of

the Psychosocial

Factors

Influence in

Pathogenesis

of

Cardiovascular

Disease.

Macleod J, Smith GD, Heslop P, Metcalfe C, Carroll D, et al. 2013. Psychological

stress and cardiovascular disease: empirical demonstration of bias in a

prospective observational study of Scottish men. BMJ 324: 1247.

Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Promosi Kesehatan : Teori dan Aplikasi. Jakarta: Rineka

Cipta

Ojo OS, Malomo SO, Sogunle PT. 2016. Blood pressure (BP) control and perceived

family support in patients with essential hypertension seen at primary case clinic

in Western Nigeria. J Family. Med Prim Care. 5:569-75.

Pinel, J. P. 2011. Biopsychology of Emotion, Stress, and Health. Biopsychology (8th

ed., Pearson new international ed., p. 458). Boston: Pearson.

Sadock, B. J., Kaplan, H. I. dan Sadock, V. A. 2007. Psychological Factors Affecting

Physical Conditions. Kaplan & Sadock's synopsis of psychiatry: behavioral

sciences/clinical psychiatry. (10th ed., p. 814). Philadelphia: Wolter

Kluwer/Lippincott Williams & Wilkins.

Sarafino,

E.

P.

dan

Smith,

T.

W.

2011.

Health

interactions (7th ed.). Hoboken, N.J.: Wiley.

psychology:

biopsychosocial

Selye, H. 1976. Forty years of stress research: principal remaining problems and

misconceptions. Canadian Medical Association Journal, 115(1), 53.

Taylor, S. E. 2010. Mechanisms linking early life stress to adult health outcomes. Proceedings of the National Academy of Sciences, 107(19), 8507-

8512.

Theorell T, et al. A Systematic review of studies in the contributions of the work environment to ischemic heart disease development. Eur J Public Helath.

2016;26:470-477.

World Health Organization. 1947. Definisi Sehat. www.who.int. Di Akses pada 21 Juni

2016.