Anda di halaman 1dari 13

ARTIKEL PENELITIAN

Analisis Kinerja Petugas Kesehatan Gigi Terhadap Pelayanan Kesehatan


Gigi dan Mulut di Poliklinik Gigi RSUD Datoe Binangkang Kabupaten
Bolaang Mongondow

Analysis Of Dental Health Personnel Performance Of dental and Oral Health


Services in Dental Polyclinic Hospital Datoe Binangkang Bolaang
Mongondow

Ria O. Rundungan 1) A. J. M Rattu 2) N. W. Mariaty 1)


1)
Program Pascasarjana Universitas Sam Ratulangi Manado
2)
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado

Abstrak Abstract

Kesehatan gigi dan mulut saat ini dapat Oral health today can support the acceleration
mendukung percepatan tujuan Millenium of Millennium Development Goals (MDGs) by
Development Goals (MDGs) pada tahun 2015. 2015. In order to improve the health of the teeth
Untuk meningkatkan derajat kesehatan gigi needed dental health care efforts personnel
diperlukan upaya pelayanan kesehatan gigi yang maximum of dental health in providing oral health
maksimal dari petugas kesehatan gigi dalam services. Oral health services is influenced by the
memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut. performance of oral health personnels include:
Pelayanan kesehatan gigi dan mulut dipengaruhi motivation, ability to work, work experience and
oleh kinerja dari petugas kesehatan gigi dan mulut the facility or facilities. Whether or not the
meliputi: motivasi, kemampuan kerja, pengalaman Personnel's performance can be measured to see
kerja dan fasilitas atau sarana. Baik atau tidaknya how big the Personnel's ability to improve the oral
kinerja petugas dapat menjadi tolak ukur untuk health status of the surrounding community. The
melihat seberapa besar kemampuan petugas untuk purpose of this research is to analyze the
meningkatkan derajat kesehatan gigi dan mulut performance of Dental Health Personnel Of Dental
masyarakat sekitarnya. Tujuan penelitian adalah and Oral Health Services in Dental Polyclinic
untuk menganalisis Kinerja Petugas Kesehatan Hospital Datoe Binangkang Bolaang Mongondow.
Gigi Terhadap Pelayanan Kesehatan Gigi dan Results of this study shows that motivation, ability
Mulut di Poliklinik Gigi RSUD Datoe Binangkang to work, work experience and the means or
Kabupaten Bolaang Mongondow. Hasil penelitian facilities greatly affect oral health care so that the
ini menunjukkan bahwa motivasi, kemampuan necessary support and attention of the government
kerja, pengalaman kerja dan sarana atau fasilitas to improve the performance of dental health
sangat mempengaruhi pelayanan kesehatan gigi personnel.
dan mulut sehingga diperlukan dukungan dan
perhatian dari pemerintah untuk meningkatkan
kinerja dari petugas kesehatan gigi dan mulut. Keyword: Motivation, Ability To Work, Work
Experience, The Means Or Facilities

Kata kunci: Motivasi, Kemampuan Kerja,


Pengalaman Kerja, Sarana dan
Fasilitas.

414
JIKMU, Vol. 5, No. 2a April 2015

Pendahuluan dengan hal tersebut, maka ada hubungan


yang sangat erat antara kinerja perorangan
Masyarakat sering tidak menyadari
dan kinerja lembaga atau kinerja
bahwa kesehatan merupakan hal yang
perusahaan (Sutjipto, 2003).
sangat mahal yang tidak dapat dibayar.
Ketika seseorang mengalami suatu Sumber daya manusia yang bermutu,
penyakit, barulah orang tersebut merasa dalam hal ini perawat gigi merupakan
bahwa nilai kesehatan itu sangat berharga mereka yang dapat menunjukkan
dan tidak dapat ditukar dengan nilai kemampuan kerjanya secara optimal.
apapun, salah satu diantaranya adalah Dalam bekerja secara optimal, setiap
penyakit gigi dan mulut. Perawatan gigi perawat gigi pasti memiliki tujuan yang
dan mulut apabila dapat dirawat sedini berbeda-beda. Segala usaha untuk
mungkin dan efisien, sangat membantu mencapai tujuan tertentu itulah yang
dalam meningkatkan derajat kesehatan disebut sebagai motivasi
masyarakat Indonesia pada umumnya (Sastrohadisuwiryo dan Siswanto, 2005).
(Anonim, 2009a). Selain faktor motivasi faktor kemampuan
juga mempengaruhi kinerja pegawai,
Masalah globalisasi bidang jasa dan
sesuai dengan pendapat Davis (1964)
dampak globalisasi pada kesehatan,
dalam Meilani dan Yasrizal (2009), yang
kedokteran, dan keperawatan sangat
merumuskan bahwa kinerja manusia yaitu
ditentukan oleh lingkup kelompok jasa
kemampuan ditambahkan motivasi,
pelayanan kesehatan yang akan masuk ke
motivasi sama dengan sikap ditambah
Indonesia pada era globalisasi. Masalah ini
situasi dan kemampuan yaitu pengetahuan
menuntut kesiapan sumber daya manusia
ditambah dengan pengalaman atau
di Indonesia. Perubahan pemanfaatan
ketrampilan. Menurut Kementrian
sumber daya yang ada secara efektif dan
Kesehatan, kesehatan gigi dapat
efisien merupakan langkah jawaban yang
mendukung percepatan tujuan Millenium
cerdas dalam mengantisipasi pengaruh
Development Goals (MDGs) pada tahun
perubahan global. Kondisi semacam ini
2015 World Oral Health Day press
mengharuskan kepada semua organisasi
conference. Untuk menurunkan
baik pemerintah maupun swasta untuk
peningkatan penyakit gigi dan mulut
menyesuaikan diri dengan perkembangan
diperlukan peningkatan dan pemantapan
yang terjadi. Dalam setiap organisasi baik
pelatihan pelayanan gigi dan mulut bagi
itu pemerintah maupun swasta,
petugas kesehatan gigi dan mulut serta
membutuhkan profesionalisme Sumber
distribusi petugas kesehatan gigi yang
Daya Manusia (SDM) sebagai unsur
lebih lagi (Anonim, 2014b).
terpenting dalam pencapaian organisasi.
Kualitas SDM itu sendiri meliputi sikap Hasil dari penelitian Saragih (2009),
mental dan etos kerja, disamping menunjukkan ada 4 (empat) dimensi
pengetahuan, ketrampilan, kemampuan kepuasan yang memiliki hubungan secara
manajemen dan penguasaan teknologi, signifikan dengan kunjungan pasien
sehingga akan terwujud tenaga kerja yang dibalai pengobatan gigi Puskesmas
trampil, terdidik, termotivasi dan disiplin. Pekanbaru yaitu: aspek kehandalan dengan
Manajemen sumber daya manusia sebagai nilai p=0,001, daya tanggap p=0,012,
suatu pengelolaan dan pendayagunaan jaminan dengan nilai p=0,000 dan bukti
sumber daya yang ada pada individu fisik dengan nilai p=0,000 sedangkan yang
(pegawai / karyawan), perlu terus tidak berhubungan yaitu empati dengan
dikembangkan secara maksimal di dalam nilai p=0,456. Kesimpulannya bahwa perlu
dunia kerja, untuk mencapai organisasi adanya supervisi berkala untuk melihat
dan pengembangan individu (pegawai / kebutuhan dan merencanakan anggaran
karyawan) itu sendiri. Dalam kaitannya sesuai standar. Mengajukan usulan

415
Rundungan, Rattu dan Mariaty, Analisis Kinerja Petugas Kesehatan

pelatihan dan kursus untuk dokter gigi dan kurangnya motivasi terlihat dari pelayanan
perawat gigi, serta melakukan yang seadanya, juga peralatan yang kurang
pemeliharaan sarana dan prasarana yang memadai mempengaruhi pelayanan
ada. kesehatan gigi dan mulut pada pasien.
Berdasarkan uraian diatas peniliti tertarik
Rumah Sakit Datoe Binangkang
untuk menganalisis kinerja pelayanan
Bolaang Mongondow merupakan pusat
kesehatan gigi dan mulut yang dilakukan
rujukan yang berasal dari puskesmas dan
oleh petugas kesehatan gigi di poliklinik
puskesmas pembantu yang tersebar pada
Rumah Sakit Umum Datoe Binangkang
wilayah kecamatan baik pada
Bolaang Mongondow.
kabupaten/kota lain seperti Kota
Kotamobagu, Kabupaten Bolaang
Mongondow Utara, Kabupaten Bolaang
Mongondow Timur, Kabupaten Bolaang
Mongondow Selatan dan Kabupaten Metode
Bolaang Mongondow serta rujukan-
rujukan yang berasal dari dokter-dokter Jenis penelitian yang digunakan adalah
praktek. Observasi awal yang dilakukan penelitian kualitatif. Penelitian dilakukan
peneliti sebelum melakukan penelitian di ruang Poliklinik Gigi Rumah Sakit
terlihat adanya kondisi kerja yang kurang Datoe Binangkang Kabupaten Bolaang
baik antara dokter gigi dan perawat gigi, Mongondow pada bulan Desember 2014
peralatan yang kurang memadai dalam April 2015. Pemilihan sampel pada
pelayanan perawatan gigi dan mulut penelitian ini berdasarkan prinsip
kemudian terdengar keluhan dari pasien kesesuaian (appropriateness). Kesesuaian
tentang pelayanan yang mereka terima adalah sampel dipilih berdasarkan
lebih sering berikan rujukan ke praktek pengetahuan yang dimiliki berkaitan
klinik mandiri karena peralatan yang tidak dengan topik penelitian. Berdasarkan
lengkap atau rusak sehingga mereka yang prinsip tersebut diatas, maka dipilih
sudah jauh-jauh datang untuk berobat Informan yang terlibat langsung maupun
harus menunggu lagi sampai sore untuk tidak langsung dalam pelayanan kesehatan
bisa mendapatkan pelayanan perawatan gigi dan mulut di poliklinik gigi yaitu: (1)
gigi yang mereka butuhkan. Direktur rumah sakit, (2) Kepala Ruang
Pelayanan kesehatan gigi dan mulut di Poliklinik Gigi, (3) Petugas Kesehatan
poliklinik gigi Rumah Sakit Datoe Gigi (1 Dokter Gigi dan 1 Perawat Gigi),
Binangkang merupakan pusat rujukan (4) Pasien di Poliklinik Gigi (2 Informan).
sehingga data kunjungan ke poliklinik gigi Data primer didapatkan dari hasil
setiap tahunnya tinggi yaitu sekitar 3000 wawancara mendalam kepada direktur
kasus per tahunnya. Sebagai gambaran rumah sakit, kepala ruang poliklinik gigi,
jumlah kunjungan pada tahun 2013 jumlah perawat gigi dan dokter gigi, pasien di
kasus yaitu 3.054, dengan tindakan poliklinik gigi. Wawancara mendalam
perawatan yang paling banyak dilakukan dilakukan dengan menggunakan daftar
yaitu pencabutan gigi tetap 1583 kasus, pertanyaan pada panduan wawancara
penambalan sementara 316 kasus, mendalam dan hasilnya dicatat atau
pengobatan 499 kasus, dan lain-lain 656 direkam dengan menggunakan voice
kasus. Pelayanan kesehatan gigi dilakukan recorder di telepon genggam. Data
oleh 2 dokter gigi dan 4 perawat gigi sekunder didapatkan dari telaah dokumen
dengan peralatan yang tidak memadai di bagian administrasi kepegawaian serta
(Anonim, 2014a). data di bidang keperawatan dan rekam
medik. Hasil wawancara direkam dengan
Kondisi kerjasama antara petugas menggunakan alat rekaman (voice
kesehatan gigi yang kurang baik,

416
JIKMU, Vol. 5, No. 2a April 2015

recorder) serta catatan lapangan disalin tahun 2010 yaitu sebanyak 3811 kasus,
dalam bentuk transkrip. Reduksi data tahun 2011 mengalami penurunan
dalam bentuk analisis yang menajamkan, sebanyak 3159, tahun 2012 juga turun
menggolongkan, mengarahkan, membuang
menjadi 3131, tahun 2013 sejumlah 3054
yang tidak perlu dan mengorganisasikan
dengan data sedemikian rupa. Cara yang dan pada tahun 2014 semakin turun jumlah
ditempuh ialah dengan membaca semua kunjungan menjadi 2782. Adanya
transkip kemudian diberi kode, yaitu penurunan jumlah kunjungan pasien
membuat simbol yang dibuat peneliti dan karena peralatan yang kurang memadai
mempunyai arti berdasarkan topik pada terutama pada peralatan penambalan gigi
setiap kelompok data, kalimat ataupun sehingga pasien yang datang berkunjung
paragraf, selanjutnya dilakukan
lebih banyak dirujuk ke praktek dokter
pengelompokan kedalam kategori dan
dicari hubungan dengan kategori tersebut. mandiri atau dilakukan pencabutan gigi
Pengumpulan data kepada sumber yang apabila sudah tidak memungkinkan lagi
sama dengan teknik yang berbeda yaitu untuk dilakukan pencabutan gigi.
selain dengan wawancara mendalam juga
menggunakan panduan observasi untuk Dalam penelitian ini selain melakukan
mengobservasi langsung dan observasi wawancara mendalam peneliti juga
dokumen-dokumen melakukan observasi di ruang poliklinik
gigi. Observasi yang dilakukan meliputi
sarana dan prasarana, petugas kesehatan
Hasil dan Pembahasan gigi yang melakukan pelayanan kesehatan
gigi dan mulut pada pasien. Hasil
Jumlah dari petugas kesehatan gigi observasi dapat dilihat pada Tabel 1. Di
yang ada di poliklinik gigi RSUD Datoe bawah.
Binangkang jika di hitung jumlah
kebutuhan dengan skala ratio kebutuhan Pada tabel diatas maka sesuai hasil
dokter gigi 1 : 2000 untuk daerah observasi di ruang poliklinik gigi terhadap
perkotaan masih kurang begitu juga sarana prasarana penunjang kinerja
dengan skala ratio kebutuhan perawat gigi pelayanan kesehatan gigi dan mulut
9 : 100.000 juga masih kurang dari yang dengan kriteria kurang. Terkait dengan
dibutuhkan, saat ini jumlah penduduk di pelaksanaan pelayanan kesehatan gigi dan
Bolaang Mongondow yaitu 224.400 jiwa mulut hanya sebatas perawatan sederhana
(BPS, 2013), akan tetapi jika dihitung dan tergantung dari keluhan disaat pasien
dengan kebutuhan petugas kesehatan gigi datang tapi keinginan untuk memberikan
untuk rumah sakit tipe C, petugas pelayanan yang optimal seperti pemberian
kesehatan gigi yang ada sudah memenuhi fluor atau penambalan gigi untuk
standar, namun untuk kondisi Rumah Sakit mencegah lubang gigi dan
Datoe Binangkang yang merupakan pusat mempertahankan fungsi dari gigi jarang di
rujukan dari tindakan pelayanan kesehatan berikan pada pasien karena sarana dan
gigi di Kabupaten Bolaang Mongondow prasarana yang kurang memadai bahkan
jumlah petugas yang ada perlu untuk jauh dari memadai. Motivasi kerja
ditingkatkan lagi dan diperhatikan lagi sehubungan dengan penjelasan sebelum
terutama untuk rekrutmen tenaga dokter melakukan tindakan pelayanan atau
gigi dan dokter gigi spesialis bedah mulut perawatan gigi dan mulut hanya sebatas
dan dokter gigi spesialis orthodonti. pada penjelasan saja tapi tidak secara
Jumlah kunjungan di poliklinik gigi mendetail.
Rumah Sakit Datoe Binangkang pada

417
Rundungan, Rattu dan Mariaty, Analisis Kinerja Petugas Kesehatan

Tabel 1. Hasil observasi terhadap sarana prasarana penunjang dalam pelayanan kesehatan
gigi dan mulut di poliklinik gigi Rumah Sakit Datoe Binangkang Bolaang Mongondow

No Aspek observasi Hasil observasi


0 1 2 3
1 Motivasi
2 Kegiatan Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut
3 Sarana / Gedung
4 Bahan Keperawatan Gigi
5 Obat-obatan Keperawatan Gigi
6 Standar operasional prosedur ( SOP )
7 Administrasi Klinik
8 Kebijakan tertulis direktur
9 Alat peraga kesehatan gigi dan mulut
Nilai 1 5 2 2
Total Nilai 10
Prosentase 37%
Kriteria Kurang
Petunjuk :
Jumlah aspek yang di observasi 8, diberi skor 0,1,2 dan 3 dengan cara mencocokan antara
antara standar pelayanan dengan fakta yang di temukan.

Nilai skor = Nilai yang di capai x 100


27
Kriteria
1. Kriteria Baik : Skor 18 24 ( 76 100 % )
2. Kriteria Cukup : Skor 13 17 ( 56 75 % )
3. Kriteria Kurang : Skor 12 ( 55 % )

Pada pencatatan hasil pelaksanaan Kemudian pada observasi yang


pelayanan kesehatan gigi selalu dilakukan dilakukan juga di temui bahwa ruang
pencatatan dan pelaporan akan tetapi poliklinik gigi sudah kurang nyaman
format dari pelaporan belum ada yang terutama bagi petugas karena dinding yang
tersusun rapih dan hanya merupakan sudah mulai mengelupas, toilet tidak ada,
catatan saja tidak pernah ada tindak lanjut kebanyakan inventaris dari ruangan sudah
untuk menanggulangi jumlah kasus yang tua dan sudah tidak beroperasi dengan
tertinggi yang terjadi setiap tahun baik, begitu juga dengan pendingin
contohnya tingginya jumlah pencabutan ruangan yang hanya ada 1 buah sehingga
gigi yang tinggi setiap tahun karena alat petugas selalu kepanasan saat memberikan
bor yang sudah rusak dan belum ada pelayanan dengan jumlah pasien yang
perbaikan sampai saat ini. banyak setiap harinya sekitar lebih dari 12
kunjungan pasien setiap harinya.

418
JIKMU, Vol. 5, No. 2a April 2015

Sehubungan dengan observasi pada pasien yang datang berkunjung ke


fasilitas lain yaitu poster pendidikan poliklinik gigi.
kesehatan gigi kurang banyak dan tidak Motivasi dapat diartikan sebagai
lengkap memberikan informasi, adanya kekuatan (energi) petugas kesehatan gigi
gambar prosedur tetap atau standar yang dapat menimbulkan tingkat
operasional pelayanan tapi hanya di persistensi dan antusiasme dalam
letakkan di tempat yang tersembunyi melaksanakan pelayanan kesehatan gigi
sehingga jarang untuk selalu diperhatikan. dan mulut, baik yang bersumber dari
Begitu juga dengan bahan tambalan gigi dalam diri petugas kesehatan gigi itu
dan perawatan gigi yang lainnya tidak sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari
banyak tersedia, peralatan gigi juga jauh luar diri (motivasi ekstrinsik). Seberapa
dari memadai. kuat motivasi yang dimiliki akan
menentukan terhadap kualitas perilaku
yang ditampilkannya, baik dalam konteks
1. Motivasi
belajar, bekerja, maupun dalam kehidupan
lainnya. Kajian tentang motivasi telah
Hasil penelitian ini, terlihat jelas
sejak lama memiliki daya tarik tersendiri
bahwa motivasi informan mengenai
di kalangan pendidik, manajer, dan
pelayanan kesehatan gigi dan mulut
peneliti, terutama dikaitkan dengan
cukup baik, kenapa saya tuliskan cukup
kepentingan upaya pencapaian kinerja
baik karena dalam pelaksanaan
(prestasi) seseorang (Fathoni, 2006).
pelayanan beberapa informan bekerja
hanya sebatas pekerjaan saja tapi ada Penelitian dari Mulyono (2010)
juga petugas yang bekerja selain karena yang melakukan penelitian tentang faktor-
pekerjaan juga ingin meningkatkan faktor yang berpengaruh terhadap kinerja
derajat kesehatan gigi dan mulut. perawat di Rumah Sakit Tingkat III
Observasi dari direktur rumah sakit ke 6.06.01 Ambon dengan metode penelitian
poliklinik gigi juga kurang sedangkan kuantitaif cross sectional memperoleh
pengawasan atau pemantauan ke petugas hasil bahwa kepuasan kerja, motivasi kerja
kesehatan gigi berupa supervisi dan supervisi memiliki korelasi yang
diperlukan juga sebagai dorongan untuk sangat kuat dengan kinerja perawat.
meningkatkan kinerja petugas kesehatan Penelitian diatas juga didukung oleh
gigi. penelitian yang dilakukan oleh Meilani
dkk tahun 2009 pada perawat di RSUP
Hasil wawancara tentang pemberian
DR. M. Djamil Padang, dari hasil
insentif kepada petugas di Poliklinik gigi
penelitian diperoleh keputusan hasil
hanya diberikan berupa tunjangan kinerja
regresi dimensi motivasi terhadap kinerja
daerah dan jasa medik dari BPJS sesuai
perawat diterima. Kesimpulannya bahwa
dengan jumlah kunjungan atau tindakan
motivasi mempengaruhi kinerja dari
perawatan yang diberikan kepada
perawat.
petugas. Jika dikaji lebih lanjut mengenai
motivasi kerja pemberian insentif dan Teori WHO dalam Notoatmojo
tunjangan diperlukan sebagi pendorong menganalisis bahwa yang menyebabkan
kinerja petugas kesehatan. Kondisi kerja seseorang berperilaku karena adanya 4
di poliklinik gigi RSUD Datoe alasan pokok, pemikiran dan perasaan
Binangkang kurang kondusif, dari (thoughs and feeling) yakni dalam bentuk
kutipan wawancara menyatakan adanya pengetahuan, persepsi, sikap, keyakinan,
petugas kesehatan gigi yang tidak bisa kepercayaan dan penilaian seseorang
untuk diajak bekerja sama, akan tetapi terhadap objek kesehatan. Sikap sangat
kurangnya kerjasama antara petugas diperlukan dalam mendukung perilaku
tidak mempengaruhi pelayanan kepada individu, meskipun sikap belum

419
Rundungan, Rattu dan Mariaty, Analisis Kinerja Petugas Kesehatan

merupakan suatu tindakan atau aktivitas, Supervisi yang baik dari atasan kepada
tetapi sikap akan terbentuk apabila ada bawahannya akan memberikan hasil
rangsangan atau stimulus yang nantinya positif dalam peningkatan kerja perawat
akan membentuk sikap seseorang yang gigi. Hal ini sesuai dengan pendapat
masih tertutup, apabila sikap sudah Mangkunegara (2010) yaitu kegiatan
terbentuk maka akan terjadi suatu reaksi supervisi dari atasan yang dilaksanakan
yang merupakan respon. secara terencana dan berkesinambungan
kepada pegawai akan mendorong
Zuhriana (2012) yang
produktivitas. Kondisi kerja atau hubungan
menyebutkan hasil penelitian
kerja antara petugas kesehatan gigi juga
menunjukkan, darPG14 responden,
harus kondusif sesuai dengan pendapat
terdapat 13 orang (48,1%) yang memiliki
Dessler (2011) yang menyatakan bahwa
motivasi kerja tinggi, tetapi kinerjanya
kualitas kehidupan lingkungan kerja serta
kurang, dan 7 orang (100%) dengan
iklim kerja organisasi yang memadai
motivasi kerja yang rendah tetapi kinerja
berarti dimana para pegawai dapat
yang cukup. Uji statistik Chi Square
memenuhi kebutuhan mereka yang penting
memperlihatkan nilai p=0,019 < , ini
melalui hubungan sesama pegawai dalam
berarti, ada hubungan antara motivasi
organisasi dapat meningkatkan kinerja,
dengan kinerja perawat. Nilai koefisien
sedangkan pada hasil penelitian ditemukan
phi,=0,401, yang menunjukkan kekuatan
bahwa adanya hubungan yang tidak begitu
hubungannya masuk dalam kategori
baik antara perawat gigi dan dokter gigi.
hubungan sedang karena berada antara
Walaupun begitu para petugas tetap bisa
0,26-0,50.
melaksanakan pelayanan kesehatan gigi
Penelitian dari Pasca (2014) pada yang optimal pada pasien.
dokter gigi di Rumah Sakit Bhayangkara
Semarang dengan metode kualitatif
hasilnya menunjukkan bahwa antara 2. Kemampuan Kerja
motivasi kerja mendukung kinerja dokter
gigi dalam memberikan pelayanan Berdasarkan pada hasil kutipan
kesehatan gigi dan mulut. Pentingnya wawancara dengan informan bisa
kompensasi dan insentif bagi petugas diketahui bahwa kemampuan kerja dari
kesehatan gigi juga dibenarkan dari hasil petugas kesehatan gigi tidak diragukan
penelitian Marthinus (2000) pada 28 orang lagi, dilihat dari masa kerja dari petugas
dokter gigi melalui hasil uji Korelmi kesehatan gigi yang bertugas di poli gigi,
Product Moment menunjukkan adanya namun kemampuan kerja dari petugas
hubungan yang bermakna dari kompensasi perlu untuk selalu ditingkatkan melalui
dengan kinerja dokter gigi, diperoleh nilai pelatihan, kendala yang ada dalam
p sebesar 0,025 (< 0 0). Faktor supervisi perencanaan pelatihan yaitu perlunya dana
juga mempengaruhi kinerja karena 8 orang dan perencanaan yang baik untuk
(28,6%) dokter gigi pernah merasakan dan mengusulkan pelatihan teknis kesehatan
mendapatkan pembinaan dan pengawasan gigi bagi petugas kesehatan gigi. Subekhi
dari atasan selama melaksanakan dan Jauhar (2012) menyatakan pelatihan
pelayanan kesehatan gigi dan mulut. adalah program-program untuk
Kenyataan di poliklinik gigi RSU Datoe mempertahankan kemampuan
Binangkang hanya sebulan sekali melaksanakan pekerjaan secara individual,
dilakukan supervisi belum pernah ada kelompok dan atau berdsarkan jenjang
bimbingan atau pengawasan selama jabatan dalam organisasi. Didukung oleh
melakukan pelayanan kesehatan gigi dan pendapat Siagian (2008), pengembangan
mulut. pegawai penting sebagai bagian integral
dari usaha untuk memberikan motivasi

420
JIKMU, Vol. 5, No. 2a April 2015

dengan cara melakukan program dipraktikan. Umumnya pelatihan


pendidikan dan pelatihan. dimaksudkan untuk memperbaiki
Penyelenggaraannya dapat dilakukan penguasaan berbagai keterampilan kerja
dalam organisasi maupun diluar dalam waktu yang relatif singkat (pendek),
organisasi. Hal tersebut ditujukan untuk pelatihan berupaya menyiapkan para
peningkatan keahlian atau keterampilan karyawan untuk melakukan pekerjaan
melaksanakan tugas sekarang atau yang dihadapi.
mempersiapkan seseorang untuk Hasil penelitian yang diperoleh dari
penugasan baru di masa yang akan datang. jawaban para informan menjelaskan
Pelatihan adalah suatu proses jangka bahwa kemampuan dari petugas kesehatan
pendek yang mempergunakan prosedur gigi untuk dapat mengatasi kesulitan dan
sistimatis dan terorganisir, yang mana kegawatan yang terjadi pada setiap
karyawan non manajerial mempelajari kunjungan pasien dapat diatasi dengan
pengetahuan dan ketrampilan teknis untuk memanfaatkan pengetahuan dan
tujuan tujuan tertentu. Menurut Gibson kemampuan kerja mereka walaupun
(2002), ketrampilan adalah kecakapan dengan alat yang kurang memadai,
yang berhubungan dengan tugas yang pernyataan tersebut didukung hasil
dimiliki dan dipergunakan oleh sesorang wawancaramengenai masa kerja responden
dalam dalam waktu yang tepat. Beberapa yang sudah >5 Tahun, semakin lama
hal yang diperlu diperhatikan dalam bekerja semakin tinggi kemampuan
pelatihan adalah, sistim pelatihan, metode petugas untuk menangani kasus kegawat
pelatihan, peserta pelatihan, materi daruratan penyakit gigi dan mulut.
pelatihan dan alat bantu belajar Kemampuan adalah kapasitas seseorang
(Notoatmojo, 2007). dalam mengerjakan berbagai macam tugas
dalam pekerjaannya, dengan kemampuan
Penelitian diatas sejalan dengan
yang ada diharapkan kegiatan individu
konsep pelatihan menurut Soeprihanto
tidak akan menyimpang jauh dari kegiatan
2000 dalam Mirzama (2004), dimana
badan usaha, sehingga bukan hal yang
pelatihan mempunyai manfaat (a)
aneh apabila badan usaha memberi
meningkatkan produktivitas, baik kualitas
harapan kepada individu agar tujuan dapat
maupun kuantitas, (b) meningkatkan moral
tercapai (Sutrisno, 2009). Dimensi kualitas
kerja yang mendukung terciptanya suatu
pelayan kesehatan salah satunya adalah
kerja yang harmonis dan dengan hasil
kehandalan atau kemampuan untuk
yang meningkat, (c) karyawan akan
memberikan pelayanan sesuai yang
semakin percaya akan kemampuannya
dijanjikan secara akurat dan terpercaya.
sehingga para pengawas tidak terlalu
Kinerja harus sesuai dengan harapan
dibebani untuk selalu mengadakan
pengawasan setiap saat, (d) menurunkan pelanggan yang berarti ketepatan waktu,
pelayanan yang sama untuk semua
angka kecelakaan kerja, (e) meningkatkan
pelanggan, sikap yang simpatik dan
stabilitas dan fleksibilitas karyawan, (f)
dengan akurasi yang tinggi (Siagian,
membantu mengembangkan pribadi
2008).
karyawan.
Penelitian Meilani (2009) pada
Menurut Samsudin dalam Susilowati perawat di RSUP DR. M. Djamil Padang
(2008), Pelatihan merupakan bagian dari didapatkan hasil regresi dimensi
pendidikan. Pelatihan bersifat spesifik, kemampuan terhadap kinerja perawat
praktis dan segera. Spesifik berarti dengan variabel pengetahuan 0,212 dan
pelatihan berhubungan dengan bidang keterampilan 0,090. Keputusan hasil
pekerjaan yang dilakukan. Praktis dan regresi bahwa semakin tinggi kemampuan
segera berarti yang sudah dilatihkan dapat kerja perawat maka semakin tinggi pula

421
Rundungan, Rattu dan Mariaty, Analisis Kinerja Petugas Kesehatan

kinerja yang dihasilkannya, diikuti dengan pelayanan antara lain: berapa jumlah
penelitian dari Sainuddin (2010) pada 74 pencabutan gigi, jumlah penumpatan gigi,
pasien yang berkunjung di klinik praktek jumlah pembersihan karang gigi,
dokter gigi tentang kehandalan atau penyuluhan kesehatan gigi, pemasangan
kemampuan dalam memberikan pelayanan gigi palsu, bagaimana mutu pelayanan
gigi dan mulut merupakan faktor yang yang dilakukan, kesulitan yang dihadapi
dominan yang mempengaruhi tingkat dalam memberikan pelayanan dengan
kepuasan pasien. resiko dan apakah bekerja dengan cepat
melakukan tindakan rujukan apabila
diperlukan.
3. Pengalaman Kerja
Seorang petugas kesehatan gigi tanpa
peralatan yang memadai tidak dapat
Hasil wawancara yang diperoleh dari
melaksanakan pelayanan kesehatan gigi
responden mengenai pengalaman kerja,
yang optimal akan tetapi petugas
kesulitan dan kegawatan yang di hadapi
kesehatan gigi yang bertugas di poliklinik
dalam menangani pasien bisa diatasi dan
gigi berusaha untuk semaksimal mungkin
di tangani sesuai dengan kompetensi
dalam memberikan pelayanan kesehatan
masing-masing juga disebabkan karena
gigi yang optimal bagi pasien walaupun
petugas kesehatan gigi di poliklinik gigi
sarana yang tersedia kurang memadai.
sudah lama bekerja dan sudah banyak
Sependapat dengan Moekijat (2010)
pasien yang di tangani. Siagian (2008),
dimana motivasi dan pengalaman kerja
berpendapat bahwa pengalaman seseorang
merupakan hal yang berperan penting
dalam melakukan tugas tertentu secara
dalam meningkatkan suatu efektivitas
terus menerus dalam waktu yang cukup
kerja. Karena orang yang mempunyai
lama dapat meningkatkan kedewasaan
motivasi dan pengalaman kerja yang tinggi
teknis. Pengalaman individu dalam
akan berusaha dengan sekuat tenaga
peningkatan kedewasaan teknis bekerja,
supaya pekerjaanya dapat berhasil dengan
itu berarti bahwa individu tersebut selalu
sebaik-baiknya, akan membentuk suatu
memetik pelajaran berharga dari seluruh
peningkatan produktivitas kerja.
perjalanan kerja atau karier sehingga akan
semakin berkurang jumlah kesalahan yang
dibuatnya. Pengalaman kerja erat 4. Sarana/Fasilitas
kaitannya dengan kinerja. Semakin sering
seseorang melakukan pekerjaan yang Berdasarkan hasil dari observasi dan
sama, semakin terampil dan semakin cepat wawancara mengenai sarana atau fasilitas
dokter gigi dan perawat gigi
yang ada di poliklinik gigi Rumah Sakit
menyelesaikan pekerjaan tersebut. Datoe Binangkang masih kurang memadai
Responden dalam penelitian ini memiliki demikian juga keterangan dari petugas
masa kerja > 5 tahun. kesehatan gigi. Sarana merupakan salah
Pengalaman petugas kesehatan gigi satu faktor pendukung yang tidak boleh
dalam memberikan pelayanan kesehatan dilupakan, dalam pelayanan kesehatan gigi
gigi dan mulut merupakan hal yang dan mulut faktor sarana adalah alat dalam
penting, semakin banyak pengalaman yang pelaksanaan tugas pelayanan pada pasien.
diperoleh semakin mudah dalam Sarana pelayanan yang dimaksud disini
mengatasi masalah yang dihadapi. Artinya adalah segala jenis peralatan, perlengkapan
sejauh mana kreativitas, ketrampilan serta kerja dan fasilitas lain yang berfungsi
kualitas kerja petugas kesehatan gigi sebagai alat utama/pembantu dalam
dalam melaksanakan pelayanan kesehatan pelaksanaan pekerjaan. Peralatan kerja
gigi dan mulut bergantung pada sejauh yang ada harus senantiasa dipelihara sesuai
mana pengalaman dalam memberikan dengan standar, prosedur dan metode serta

422
JIKMU, Vol. 5, No. 2a April 2015

siap pakai, sebab kalau tidak maka adanya pernah berobat gigi ke sarana pelayanan
gangguan pada sarana kerja dapat kesehatan seperti puskesmas dan lainnya
berakibat fatal sama halnya dengan pergi ke sarana pelayanan kesehatan
pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang lainnya. Diketahui dari jumlah responden
dalam pelaksanaannya memerlukan yang ada terdapat 90% yang menderita
peralatan kesehatan gigi yang lengkap, jika karies. Hal ini menunjukkan bahwa
tidak pelayanan yang diberikan kepada tingginya penyakit gigi dan mulut belum
pasien tidak memadai kemudian di berikan diimbangi dengan pemanfaatan unit
rujukan ke praktek klinik mandiri dengan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang
fasilitas yang lebih memadai. tersedia terutama ditingkat pelayanan
dasar seperti puskesmas. Rendahnya
Fasilitas yang lengkap dan sesuai
pemanfaatan itu diperkirakan disebabkan
dengan standar yang ditetapkan (standart
mutu pelayanan yang kurang seperti
personal and facilities) diharapkan dapat
jumlah dan jenis sarana dan prasarana
meningkatkan kualiatas mutu layanan.
yang tersedia, keterbatasan tenaga,
Sumber daya merupakan faktor yang perlu
ketersediaan pelayanan dan manajemen
untuk terlaksananya suatu perilaku.
puskesmas yang belum baik.
Fasilitas yang tersedia hendaknya dengan
jumlah serta jenis yang memadai dan Penelitian Saragih (2009) dibalai
selalu keadaaan siap pakai dan untuk pengobatan gigi kota pekanbaru tahun
melakukan tindakan harus ditunjang 2009 menunjukkan ketersediaan sarana
fasilitas yang lengkap dan sebelumnya enam puluh persen (60%) dari standar
harus sudah disediakan. Hasil wawancara yang ada dengan kunjungan 9 perhari
yang diperoleh dari petugas kesehatan gigi ketersediaan sarananya juga cukup. Hanya
dan observasi dari ruang poliklinik gigi saja persentasi kecukupannya lebih tinggi
dapat diketahui bahwa fasilitas atau alat dari enam puluh sembilan persen (69%)
yang tersedia jauh dari memadai. dari standar yang ada. Dari hasil penelitian
Kurangnya alat yang tersedia di poliklinik saragih disimpulkan bahwa ketersediaan
gigi sangat berpengaruh pada tindakan sarana dalam pelayanan kesehatan gigi dan
pelayanan/perawatan pada pasien dapat mulut masih kurang dari satndar
dilihat dari jumlah tindakan pencabutan kecukupan yang ada.
gigi yang semakin tinggi setiap tahunnya. Dari berbagai hasil wawancara diatas
Fungsi sarana pelayanan menurut tampak bahwa sebenarnya SOP sudah
Moenir (2009) diantaranya : 1) untuk dibuat secara lengkap namun perawat
mempercepat proses pelaksanaan hanya sebatas tahu apa yang menjadi tugas
pekerjaan, sehingga dapat menghemat sehari-hari mereka. Hal ini dapat
waktu, 2) meningkatkan produktivitas baik menyebabkan prosedur yang ada selalu
barang ataupun jasa, 3) kualitas produk berubah-ubah karena bersifat situasional.
yang lebih baik/terjamin, 4) lebih Peraturan dan tata tertib juga sudah
mudah/sederhana dalam gerak para diberlakukan dan diketahui oleh para
pelakunya, 5) menimbulkan rasa perawat. Dalam hal ini kebijakan telah
kenyamanan bagi orang-orang yang dimengerti oleh para perawat gigi tetapi
berkepentingan, 6) menimbulkan rasa puas kemungkinan pihak manajemen belum
pada orang-orang yang berkepentingan memperhatikan secara lebih seksama
sehingga dapat mengurangi sifat mengenai penerapannya dan perepsi dari
emosional mereka. para perawat gigi. Kebijakan rumah sakit
yang baik serta memuaskan dalam
Situmorang (2006), dalam
pelaksanaannya serta adanya keterbukaan
penelitiannya terhadap 360 responden di
dalam masalah yang dihadapi rumah sakit
poliklinik gigi puskesmas teladan Medan
dapat memperngaruhi kinerja seseorang.
Kota, menemukan hanya 10 % yang

423
Rundungan, Rattu dan Mariaty, Analisis Kinerja Petugas Kesehatan

Kemampuan petugas kesehatan gigi Situmorang (2006), dalam


dalam memberikan pelayanan kesehatan penelitiannya terhadap 360 responden di
gigi dan mulut sudah baik dan selalu poliklinik gigi puskesmas teladan Medan
dilaksanakan sesuai dengan kompetensi Kota, menemukan hanya 10 % yang
petugas. Begitu pula dengan standar pernah berobat gigi ke sarana pelayanan
operasional kesehatan gigi dan mulut kesehatan seperti puskesmas dan lainnya
selalu diterapkan namum hanya sebatas pergi ke sarana pelayanan kesehatan
tahu apa yang menjadi tugas sehari hari lainnya dan 90% jumlah responden yang
mereka namun karena tidak adanya ada menderita karies. Hal ini menunjukkan
kebijakan dari pemerintah dan atasan bahwa tingginya penyakit gigi dan mulut
sehingga penerapan SOP belum terlalu belum diimbangi dengan pemanfaatan unit
diperhatikan secara lebih seksama pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang
mengenai penerapannya dan persepsi dari tersedia terutama ditingkat pelayanan
petugas kesehatan gigi di poliklinik gigi. dasar seperti puskesmas. Rendahnya
Kebijakan rumah sakit yang baik serta pemanfaatan itu diperkirakan disebabkan
memuaskan dalam pelaksanaannya serta mutu pelayanan yang kurang seperti
adanya keterbukaan dalam masalah yang jumlah dan jenis sarana dan prasarana
dihadapi rumah sakit dapat mempengaruhi yang tersedia, keterbatasan tenaga,
kinerja seseorang. ketersediaan pelayanan dan manajemen
puskesmas yang belum baik.
SOP digunakan oleh suatu organisasi
untuk memberi jejak arsip keseragaman
tindakan operasionalnya. Dalam
praktiknya tidak semua SOP yang dibuat
dapat diterapkan dalam kegiatan Kesimpulan
operasional, bahkan parahnya SOP hanya Kesimpulan dari analisis kinerja tenaga
sekadar dokumen yang diletakkan di rak kesehatan gigi terhadap pelayanan
atau lemari karena ia tidak dapat di kesehatan gigi dan mulut di Rumah Sakit
fungsikan sebagaimana mestinya Karjadi Datoe Binangkang adalah sebagai berikut :
(1987) dalam Pasca (2014). Pernyataan
diatas sesuai dengan kenyataan yang 1. Motivasi kerja dari petugas kesehatan
diperoleh di poliklinik gigi dimana SOP gigi masih kurang dalam memberikan
atau prosedur tetap pelaksanaan pelayanan pelayanan kesehatan gigi, kurangnya
kesehatan gigi hanya di gantung di dinding peran dari pemerintah dan atasan dapat
dan terhalang oleh lemari alat. dilihat dari tidak adanya kebijakan
pemerintah untuk membantu
Motivasi kerja merupakan dorongan meningkatkan pelayanan kesehatan
yang menggerakkan manusia untuk gigi dan mulut.
bertingkah laku. Demikian juga dengan
motivasi kerja dokter gigi dan perawat gigi 2. Kemampuan petugas kesehatan gigi
yang merupakan kondisi yang mengacu dalam merawat pasien disesuaikan
pada kekuatan dorongan atau kemampuan dengan kompetensi. Walaupun dalam
gerak yang melekat yang menyebabkan memberikan pelayanan perawatan gigi
munculnya perilaku dokter gigi, yang dapat di lakukan perawat gigi namun
sangat dipengaruhi oleh 1) sumber daya tidak semua boleh dilakukan harus ada
manusia, 2) sarana prasarana dan 3) koordinasi dengan dokter gigi karena
Standar Operational Prosedur (SOP), yang adanya kompetensi tugas masing-
ketiganya menjadi penghubung faktor masing.
kepemimpinan pelayanan poliklinik gigi 3. Pengalaman kerja dari petugas
dengan motivasi kerja dokter gigi dalam kesehatan gigi sudah baik namun tetap
pelayanan di poliklinik gigi.

424
JIKMU, Vol. 5, No. 2a April 2015

memperhatikan kompetensi kerja dari tenaga kesehatan maupun program


masing-masing petugas kesehatan gigi. yang dilaksanakan
4. Fasilitas/sarana yang kurang memadai 3. Bagi Peneliti Lain
yang ada di poliklinik gigi Perlu dilakukan penelitian selanjutnya
mempengaruhi pelayanan kesehatan tentang kinerja dari petugas kesehatan
gigi di poliklinik gigi RSUD Datoe gigi karena masih kurangnya penelitian
Binangkang dilihat dari menurunnya tentang kinerja petugas kesehatan gigi.
jumlah kunjungan pertahun dan dari
kinerja petugas kesehatan gigi yang
lebih banyak melakukan rujukan ke Daftar Pustaka
klinik dokter mandiri.
Anonimous, 2009a. Departemen
Kesehatan. Profil Kesehatan Indonesia.
Jakarta.
Saran Anonimous, 2014a. Laporan Tahunan
Rumah Sakit Datoe Binangkang
Saran yang dapat diberikan dengan Kabupaten Bolaang Mongondow.
melihat hasil penelitian ini adalah: Bolaang Mongondow.
1. Bagi Petugas Kesehatan Gigi Anonimous, 2014b. World Oral Health
Perlu meningkatkan lagi kinerja Report: almost 100 percent af adults
pelayanan kesehatan gigi dengan suffer from dental caries. Dental
mengubah motivasi kerja dari sekedar Tribune. http://www.dental-
pekerjaan menjadi peningkatan derajat tribune.com/articles/news/europe/1752
kesehatan gigi dan mulut juga 7_world_oral_health_report_almost_1
kepuasan dari pasien. Meningkatkan 00_per_cent_of_adults_suffer_from_d
kemampuan, ketrampilan dan ental_caries.html.
pengetahuan pelayanan kesehatan gigi Dessler, G. 2011. Manajemen Sumber
dan mulut melalui pelatihan dan Daya Manusia. Penerbit Indeks.
peningkatan sumber daya manusia bagi Jakarta.
perawat gigi dengan standar minimal
pendidikan Strata 1 dan Dokter Fathoni, A. 2006. Manajemen Sumber
Spesialis bagi dokter gigi. Daya Manusia. Rineka Cipta. Bandung
2. Rumah Sakit Umum Datoe
Binangkang Bolaang Mongondow Gibson, J.L., J.M. Ivancevich., and J.H.
Donnely. 2002. Organisasi: Perilaku,
a. Perlu adanya kebijakan yang Struktur, Proses (Terjemahan). Edisi 5.
mendukung pelayanan kesehatan Penerbit Erlangga. Jakarta.
gigi dan mulut
Mangkunegara, A.A.G. 2010. Evaluasi
b. Meningkatkan anggaran belanja Kinerja sumber daya manusia. Cetakan
terutama untuk dana pelatihan juga Ketiga. PT Refika Aditama. Bandung.
pengadaan peralatan di poliklinik
gigi. Insentif bagi petugas Marthinus, G. 2000. Faktor-faktor yang
kesehatan gigi perlu diperhatikan berhubungan degan kinerja dokter gigi
lagi sebagai rangsangan untuk puskesmas perkotaan Kabupaten/Kota
meningkatkan kinerja pelayanan di Propinsi Irian Jaya. Program Studi
kesehatan gigi bagi pasien Ilmu Kesehatan Masyarakat.
Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
c. Selalu melakukan monitoring dan
evaluasi setiap bulan, baik terhadap

425
Rundungan, Rattu dan Mariaty, Analisis Kinerja Petugas Kesehatan

Martoyo, S. 2007. Manajemen Sumber Sastrohadisuwaryo, B., dan Siswanto.


Daya Manusia. BPPE. Yogyakarta. 2005. Manajemen Tenaga Kerja
Indonesia, Pendekatan Administratif
Meilani, D., dan D. Yasrizal. 2009.
Dan Operasional. Cetakan Ketiga.
Analisis Pengaruh Motivasi,
Bumi Aksara. Jakarta.
Kemampuan dan Kepuasan Kerja
Terhadap Kepuasan Kerja Perawat Siagian, S. 2008. Manajemen Sumber
pada RSUP DR. M. Djamil Padang. Daya Manusia. Cetakan Ke-16. Bumi
Optimasi Sistem Industri, Vol. 8 No. 2 Aksara. Jakarta.
: 54-61. Situmorang, N. 2006. Survei Kepuasan
Mirzama, K. 2004. Kinerja Tenaga Pasien Terhadap Pelayanan Kesehatan
Kesehatan Dalam Memberikan Gigi dan Mulut di Poliklinik Gigi
Pelayanan Kesehatan Di Puskesmas Teladan Medan Kota.
Puskesmas Kalumpang Kota Ternate Dentika DJ: 11(2): 99-105.
Propinsi Maluku Utara Tahun 2004. Sutjipto, B.W. 2003. Manajemen Sumber
Moekijat, 2010. Manajemen Personalia Daya Manusia : Sebuah Tinjauan
dan Sumber Daya Manusia. Edisi II. Komprehensif, Paradigma baru
Mandar Maju. Bandung. Manajemen Sumber Daya Manusia.
Amara Book. Yogyakarta.
Moenir, 2009. Manajemen Pelayanan
Umum di Indonesia. Bumi Aksara. Subekhi, A. dan M, Jauhar. 2012.
Jakarta. Pengantar Manajemen Sumber Daya
Manusia (MSDM). Prestasi
Notoatmojo, S. 2007. Promosi Kesehatan
Pustakarya. Jakarta.
dan llmu Prilaku. Renika Cipta.
Jakarta. Susilowati, 2008. Analisis Pengaruh
Pendidikan Dan Latihan, Motivasi,
Pasca, G. 2014. Faktor Kepemimpinan
Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja
Pelayanan Poliklinik Gigi Yang
Perawat Dr. Oen Surakarta.
Mendukung Motivasi Kerja Dokter
Universitas Sebelas Maret. Surakarta.
Gigi Di Rumah Sakit Bhayangkara
Semarang. Fakultas Kesehatan Sutrisno, E. 2009. Manajemen Sumber
Masyarakat Universitas Diponegoro. Daya Manusia. Kencana. Jakarta
Semarang Zuhriana. 2012. Faktor Yang Berhubungan
Saragih, S. 2009. Hubungan Kualitas Dengan Kinerja Perawat Di Unit
Pelayanan dan Kepuasan Pasien Rawat Inap RSUD Bula Kab. Seram
Dengan Kunjungan di Balai Bagian Timur. Skripsi. Universitas
Pengobatan Gigi Puskesmas Kota Hasanudin. Makassar.
Pekan Baru. Tesis dari USU
Repository. Sumatera Utara.

426