Anda di halaman 1dari 17

Fiat Justitia Jurnal Ilmu Hukum Volume 7 No. 3, Sept Des.

2013, ISSN 1978-5186

Payung Hukum Pembentukan BUMDes

Zulkarnain Ridlwan
Dosen Bagian Hukum Tata Negara Fak. Hukum Unila
Email : zulkarnain.ridlwan@fh.unila.ac.id

Abstrak
Tujuan penulisan ini adalah mendeskripsikan payung hukum pembentukan badan
usaha milik desa (BUMDes). Merujuk pada peraturan perundang-undangan yang
mengatur tentang pemerintahan desa, disimpulkan bahwa pembentukan BUMDes
sebagai lembaga perekonomian desa memiliki landasan hukum yang kuat.
Peraturan yang mendasari pembentukan BUMDes terdiri dari undang-undang,
peraturan pemerintah, hingga peraturan menteri. Jika diperlukan untuk mengatur
lebih lanjut, pemerintah daerah dapat membentuk peraturan daerah tentang
BUMDes. Demikian pula ditingkat desa, dapat dibuat peraturan desa tentang
BUMDes sesuai dengan keadaan dan kekhasan desa masing-masing.

Kata Kunci : Payung Hukum, dan BUMDes

I. Pendahuluan kesatuan langkah menuju tercapainya


tujuan pembangunan nasional.
Tujuan pembangunan nasional
Hal ini juga berlaku dalam
adalah mewujudkan masyarakat adil
konteks pemerintahan daerah,
dan makmur yang merata material
bimbingan dan arahan dari
dan spiritual berdasarkan Pancasila
Pemerintah kepada masyarakat
dan Undang-Undang Dasar 1945
dalam upaya peningkatan
dalam wadah Negara Kesetuan
kesejahteraan, merupakan
Republik Indonesia yang merdeka,
keniscayaan. Dalam lingkup lebih
berdaulat, bersatu, dan berkedaulatan
kecil, kedudukan desa sebagai
rakyat dalam suasana perikehidupan
lingkup pemerintahan yang lebih
bangsa yang aman, tenteram, tertib,
dekat kepada masyarakat menjadikan
dan dinamis dalam lingkungan
segala panduan operasional desa
pergaulan dunia yang merdeka,
yang digariskan oleh pemerintah
bersahabat, tertib, dan damai.
pusat maupun daerah penting
Pembangunan nasional sebagai
tersedia. Upaya peningkatan
pengamalan Pancasila yang
kesejahteraan dilakukan dengan
mencakup seluruh aspek kehidupan
mengupayakan terbangunnya
bangsa diselenggarakan bersama
sumber-sumber penghasilan asli desa
oleh masyarakat dan Pemerintah.
(PADes). Sumber penghasilan desa
Masyarakat adalah pelaku utama
tersebut diantaranya berbentuk badan
pembangunan dan Pemerintah
usaha, atau badan usaha milik desa
berkewajiban mengarahkan,
(BUMDes).
membimbing, melindungi serta
Hingga saat ini sarana dan
menumbuhkan suasana yang
upaya untuk memberikan
menunjang. Kegiatan masyarakat dan
pemahaman akan keberadaan
kegiatan Pemerintah saling
lembaga swadaya masyarakat
menunjang, saling mengisi, dan
dibidang ekonomi ini belum
saling melengkapi dalam satu
maksimal dilakukan. Hal ini

355
Fiat Justitia Jurnal Ilmu Hukum Volume 7 No. 3, Sept Des. 2013, ISSN 1978-5186

dikarenakan aturan mengenai hal kebutuhan-kebutuhan jasmaniah,


tersebut masih tertuang dalam rohaniah, dan sosial yang sebaik-
kerangka peraturan perundang- baiknya bagi diri, keluarga, serta
undangan yang tinggi tingkatannya, masyarakat dengan menjunjung
dalam hal ini undang-undang dan tinggi hak dan kewajiban warga
peraturan pemerintah. Landasan yang negara sesuai dengan Pancasila. Oleh
lebih operasional memang telah karena itu, sesuai dengan ketentuan
tersedia dalam bentuk peraturan mengenai kedudukan, hak, dan
menteri, namun untuk lebih dekat kewajiban warga negara
sebagai panduan masyarakat desa sebagaimana dimaksud dalam
dan sesuai dengan kekhasan daerah, Undang-Undang Dasar 1945, perlu
maka harus diatur dalam peraturan dilakukan upaya-upaya yang lebih
daerah. memadai, terpadu, dan
Agar tersedia tersedia berkesinambungan guna
peraturan daerah yang dapat mewujudkan kemandirian dan
memberikan penduan yang kesejahteraan desa, sebagai ujung
dimaksud. Suatu panduan yang tombak perwujud kesejahteraan.
mencakup seluruh proses Peningkatan kesejahteraan
pembentukan dan pengelolaan masyarakat desa dengan
BUMDes yang memungkinkan bertambahnya PADes yang
aparat pemerintahan desa beserta dilatarbelakangi adanya
masyarakat secara umum dapat pembentukan BUMDes yang kuat
memahami sepenuhnya langkah sesuai dengan tujuan dan prinsip
operasional pembentukan dan keadilan sosial yang merupakan nilai
pengelolaan BUMDes demi PADes. dasar bernegara di Indonesia. Bahkan
Secara sosiologis, tersedianya pembentukan saja belumlah
suatu lembaga ekonomi yang memadai; dengan pertimbangan
dikelola secara swadaya oleh pengalaman telah mengajarkan
masyarakat desa sudah sejalan bahwa pembentukan/pendirian suatu
dengan kepentingan bersama lembaga yang baik, belum tentu
masyarakat. Kehadiran lembaga dapat mencapai tujuan pendiriannya,
semacam ini searah dengan tujuan dikarenakan kurang baiknya
peningkatan kemandirian dan pengelolaan manajerial dan
kreatifitas masyarakat desa untuk kepemimpinan lembaga tesebut.
mengusahakan kesejahteraannya. Oleh karena itu, panduan yang
Pendirian dan pengelolaan BUMDes disediakan oleh pemerintah daerah
yang kurang baik secara langsung haruslah juga mencakup pengelolaan
dapat kontraproduktif dengan tujuan BUMDes.
pembentukan BUMDes itu sendiri. Potensi yang dimiliki BUMDes
Kesejahteraan sosial yang sebagai lembaga usaha mandiri
dimaksud adalah suatu tata masyarakat desa dapat terus
kehidupan dan penghidupan sosial ditingkatkan pada masa yang akan
material maupun spiritual yang datang, karenanya panduan awal
diliputi oleh rasa keselamatan, pembentukan dan pengelolaan
kesusilaan, dan ketenteraman lahir BUMDes mesti tersedia. Dalam
batin yang memungkinkan bagi lingkup pemerintahan daerah,
setiap warga negara untuk panduan pembentukan dan
mengadakan usaha pemenuhan pengelolaan BUMDes dapat

356
Fiat Justitia Jurnal Ilmu Hukum Volume 7 No. 3, Sept Des. 2013, ISSN 1978-5186

dituangkan dalam peraturan daerah.


Sehingga dalam perspektif sosiologis 1) Undang-Undang Nomor 6
guna mewujudkan kesejahteraan Tahun 2014 tentang Desa
sosial dan kepatuhan untuk menjalani a. Pasal 87 ayat (1) Desa dapat
aturan tersebut ditingkat daerah dapat mendirikan Badan Usaha
lebih terjamin kepastiannya. Milik Desa yang disebut
Secara yuridis, peraturan di BUM Desa; ayat (2) BUM
daerah tentang BUMDes berdasar Desa dikelola dengan
pada UU No. 32 tahun 2004 tentang semangat kekeluargaan dan
Pemerintahan Daerah Pasal 213 ayat kegotongroyongan; (3) BUM
(1)Desa dapat mendirikan badan Desa dapat menjalankan
usaha milik desa sesuai dengan usaha di bidang ekonomi
kebutuhan dan potensi desa. dan/atau pelayanan umum
Rumusan yang sama diatur dalam PP sesuai dengan ketentuan
No. 72 Tahun 2005 tentang Desa. peraturan perundang-
Gambaran singkat landasan undangan.
keberadaan BUMDes sebagaimana b. Pasal 88 ayat (1) Pendirian
dijabarkan diatas menjadi BUM Desa disepakati melalui
pemahaman awal akan latar belakang Musyawarah Desa; ayat (2)
perlunya pengaturan lebih lanjut Pendirian BUM Desa (1)
mengenai BUMDes ditingkat daerah. ditetapkan dengan Peraturan
Bagaimana peraturan perundang- Desa. Pasal 89 hasil usaha
undangan mengatur keberadaan BUM Desa dimanfaatkan
BUMDes? Apa saja substansi untuk:
peraturan daerah akan yang mengatur 1. Pengembangan usaha; dan
BUMDes? Apa implikasi penerapan 2. Pembangunan Desa,
peraturan daerah tersebut? pemberdayaan masyarakat
Desa, dan pemberian bantuan
II. Pembahasan untuk masyarakat miskin
melalui hibah, bantuan sosial,
2.1 Kajian Peraturan Perundang- dan kegiatan dana bergulir
undangan mengenai Keberadaan yang ditetapkan dalam
BUMDes Anggaran Pendapatan dan
Kajian terhadap peraturan Belanja Desa.
perundang-undangan ini c. Pasal 90
dimaksudkan untuk mengetahui Pemerintah, Pemerintah
kondisi hukum atau peraturan Daerah Provinsi, Pemerintah
perundang-undangan yang mengatur Daerah Kabupaten/Kota, dan
mengenai substansi atau materi yang Pemerintah Desa mendorong
akan diatur. Dalam kajian ini akan perkembangan BUM Desa
diketahui posisi dari peraturan daerah dengan:
yang baru. Analisis ini akan 1. memberikan hibah dan/atau
menggambarkan sinkronisasi, akses permodalan;
harmonisasi peraturan perundang- 2. melakukan pendampingan
undangan yang ada serta posisi dari teknis dan akses ke pasar; dan
peraturan daerah untuk menghindari 3. memprioritaskan BUM Desa
terjadinya tumpang tindih dalam pengelolaan sumber
pengaturan. daya alam di Desa.

357
Fiat Justitia Jurnal Ilmu Hukum Volume 7 No. 3, Sept Des. 2013, ISSN 1978-5186

kerukunan nasional, serta


2) Undang-Undang Nomor 32 keutuhan Negara Kesatuan
Tahun 2004 tentang Republik Indonesia;
1
Pemerintahan Daerah ; b. meningkatkan kualitas
Undang-undang ini merupakan kehidupan masyarakat;
dasar hukum pertama yang c. mengembangkan kehidupan
melandasi pembuatan Perda tentang demokrasi;
pedoman tata cara pembentukan dan d. mewujudkan keadilan dan
pengelolaan BUMDes. Substansi pemerataan;
dasar yang diatur didalamnya e. meningkatkan pelayanan dasar
menjadi rujukan dalam perumusan pendidikan;
Perda tentang pedoman tata cara f. menyediakan fasilitas pelayanan
pembentukan dan pengelolaan kesehatan;
BUMDes, meliputi: g. menyediakan fasilitas sosial dan
(a) Pasal 213 fasilitas umum yang layak;
(1) Desa dapat mendirikan badan h. mengembangkan sistem jaminan
usaha milik desa sesuai dengan sosial;
kebutuhan danpotensi desa. i. menyusun perencanaan dan tata
(2) Badan usaha milik desa ruang daerah;
sebagaimana dimaksud pada j. mengembangkan sumber daya
ayat (1) berpedomanpada produktif di daerah;
peraturan perundang-undangan. k. melestarikan lingkungan hidup;
(3) Badan usaha milik desa l. mengelola administrasi
sebagaimana dimaksud pada kependudukan;
ayat (1) dapatmelakukan m. melestarikan nilai sosial budaya;
pinjaman sesuai peraturan n. membentuk dan menerapkan
perundang-undangan. peraturan perundang-undangan
(b) Penjelasan Pasal 213 ayat (2) sesuai dengan kewenangannya;
Badan Usaha Milik Desa adalah dan
badan hukum sebagaimana o. kewajiban lain yang diatur
diatur dalam peraturan dalam peraturan perundang-
perundang-undangan. undangan.
(c) Secara umum, Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2004 tentang Dalam hal ini, membentuk
Pemerintahan Daerah peraturan daerah dalam rangka
menjabarkan otonomi daerah pengusahaan kesejahteraan
memberikan hak, wewenang dan masyarakat hingga ditingkat desa
kewajiban kepada daerah termasuk dalam kewajiban
otonom untuk mengatur dan Pemerintah Daerah.
mengurus rumah tangganya
sendiri. Dalam 3) Peraturan Pemerintah Nomor
menyelenggarakan otonomi, 72 Tahun 2005 Tentang Desa
daerah mempunyai kewajiban: Peraturan Pemerintah Nomor 72
a. melindungi masyarakat, menjaga Tahun 2005 ini merupakan peraturan
persatuan, kesatuan dan pelaksana dari ketentuan tentang
Pemerintahan Desa yang diatur
1 sebagaimana telah diubah beberapa kali, dalam UU Nomor 32 Tahun 2004.
terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12
Tahun 2008

358
Fiat Justitia Jurnal Ilmu Hukum Volume 7 No. 3, Sept Des. 2013, ISSN 1978-5186

Ketentuan mengenai BUMDes diatur e. Penyertaan modal pihak lain


dalam beberapa pasal berikut: atau kerja sama bagi hasil
a. Pasal 14 ayat (1) Kepala Desa atasdasar saling menguntungkan.
mempunyai tugas Ayat (3) Kepengurusan
menyelenggarakan urusan Badan Usaha Milik Desa
pemerintahan, pembangunan, dan terdiri dari PemerintahDesa
kemasyarakatan. dan masyarakat.
Penjelasan Pasal 14 ayat (1) d. Pasal 80 Ayat (1) Badan Usaha
Yang dimaksud dengan urusan Milik Desa dapat melakukan
pemerintahan antara lain pinjaman sesuai dengan
pengaturan kehidupan peraturan perundang-undangan.
masyarakat sesuai dengan Ayat (2) Pinjaman sebagaimana
kewenangan desa seperti dimaksud pada ayat (1)
pembuatan peraturan desa, dilakukansetelah mendapat
pembentukan lembaga persetujuan BPD.
kemasyarakatan, pembentukan e. Pasal 81 Ayat (1) Ketentuan
Badan Usaha Milik Desa, lebih lanjut mengenai Tata Cara
kerjasama antar desa. Pembentukan dan Pengelolaan
b. Pasal 78Ayat (1) Dalam Badan Usaha Milik Desa diatur
meningkatkan pendapatan dengan Peraturan Daerah
masyarakat dan Desa, Pemerintah Kabupaten/Kota.
Desa dapat mendirikan Badan Ayat (2) Peraturan Daerah
Usaha Milik Desa sesuai dengan Kabupaten/Kota sebagaimana
kebutuhan dan potensi Desa. dimaksudpada ayat (1) sekurang-
Ayat (2) Pembentukan Badan kurangnya memuat:
Usaha Milik Desa sebagaimana a. bentuk badan hukum;
dimaksudpada ayat (1) ditetapkan b. kepengurusan;
dengan Peraturan Desa c. hak dan kewajiban;
berpedomanpada peraturan d. permodalan;
perundang-undangan. e. bagi hasil usaha;
Ayat (3) Bentuk Badan Usaha f. kerjasama dengan pihak
Milik Desa sebagaimana ketiga;
dimaksud padaayat (1) harus g. mekanisme pengelolaan dan
berbadan hukum. pertanggungjawaban;
c. Pasal 79 Ayat (1) Badan Usaha f. Didalam penjelasan umum juga
Milik Desa sebagaimana dijelaskan bahwa selain berasal
dimaksud dalam Pasal 78 ayat (1) dari paling sedikit 10% (sepuluh
adalah usaha desa yang dikelola per seratus)bagi hasil pajak
oleh Pemerintah Desa. daerah dan retribusidaerah, dan
Ayat (2) Permodalan Badan paling sedikit 10% (sepuluh per
Usaha Milik Desa dapat berasal dari : seratus)bagian dari dana
a. Pemerintah Desa; perimbangan keuangan pusatdan
b. Tabungan masyarakat; daerah yang diterima oleh
c. Bantuan Pemerintah, Pemerintah kabupaten/kota,sumberpendapata
Provinsi dan Pemerintah n lain yang dapat diusahakan
Kabupaten/Kota; oleh desa berasal dari
d. Pinjaman; dan/atau BadanUsaha Milik Desa,
pengelolaan pasar desa,

359
Fiat Justitia Jurnal Ilmu Hukum Volume 7 No. 3, Sept Des. 2013, ISSN 1978-5186

pengelolaan kawasan wisataskala


desa, pengeloaan galian C c. Bab II tentang Pembentukan,
dengan tidak menggunakan alat Pasal 2 Ayat (1) menyebutkan
berat dansumber lainnya. bahwa Pemerintah
Kabupaten/Kota menetapkan
4) Peraturan Menteri Dalam Peraturan Daerah tentang
Negeri Nomor 39 Tahun 2010 Pedoman Tata Cara
Tentang Badan Usaha Milik Pembentukan dan Pengelolaan
Desa BUMDes.
Sesuai dengan judulnya, Ayat (2) menjelaskan detail
Permendagri ini berkaitan langsung substansi yang harus diatur dalam
dengan BUMDes. Dalam arti Peraturan Daerah
diaturnya desain BUMDes secara Kabupaten/Kota tersebut
detail terdapat dalam berbagai sekurang-kurangnya memuat
ketentuan Permendagri ini. Hal bentuk organisasi,
tersebut diatur dalam: kepengurusan, hak dan
a. Pertimbangan umum yang kewajiban, permodalan, bagi
melandasi perlu bentuknya hasil usaha, keuntungan dan
BUMDes dijelaskan Permendagri kepailitan, kerjasama dengan
ini bahwa keberadaannya untuk pihak ketiga, mekanisme
meningkatkan kemampuan pertanggung jawaban, pembinaan
keuangan pemerintah desa dalam dan pengawasan masyarakat.
penyelenggaraan pemerintahan d. Pasal 3 ayat (2) bahkan
dan meningkatkan pendapatan menggariskan bahwa Peraturan
masyarakat melalui berbagai Daerah Kabupaten/Kota tersebut
kegiatan usaha ekonomi ditetapkan paling lambat 1 (satu)
masyarakat perdesaan, didirikan tahun sejak Peraturan Menteri ini
badan usaha milik desa sesuai ditetapkan.
dengan kebutuhan dan potensi e. Ketentuan teknis selanjutnya
desa. dijabarkan dalam Pasal 5 ayat (1)
b. Pasal 1 Ketentuan Umum bahwa syarat pembentukan
menjelaskan definisi BUMDes BUMDes:
dan Usaha Desa. a) atas inisiatif pemerintah desa
Badan Usaha Milik Desa, yang dan atau masyarakat
selanjutnya disebut BUMDes, berdasarkan musyawarah
adalah usaha desa yang warga desa;
dibentuk/didirikan oleh b) adanya potensi usaha
pemerintah desa yang ekonomi masyarakat;
kepemilikan modal dan c) sesuai dengan kebutuhan
pengelolaannya dilakukan oleh masyarakat, terutama dalam
pemerintah desa dan masyarakat. pemenuhan kebutuhan pokok;
Adapun Usaha Desa adalah jenis d) tersedianya sumber daya desa
usaha yang berupa pelayanan yang belum dimanfaatkan
ekonomi desa seperti, usaha jasa, secara optimal, terutama
penyaluran sembilan bahan kekayaan desa;
pokok, perdagangan hasil e) tersedianya sumber daya
pertanian, serta industri dan manusia yang mampu
kerajinan rakyat. mengelola badan usaha

360
Fiat Justitia Jurnal Ilmu Hukum Volume 7 No. 3, Sept Des. 2013, ISSN 1978-5186

sebagai aset penggerak b) Organisasi Pengelola


perekonomian masyarakat Organisasi pengelola BUMDes
desa; terpisah dari organisasi
f) adanya unit-unit usaha pemerintahan desa. Organisasi
masyarakat yang merupakan pengelola BUMDes
tersebut,paling sedikit terdiri
kegiatan ekonomi warga atas:
masyarakat yang dikelola
secara parsial dan kurang a. Penasihat atau komisaris, yang
terakomodasi; dan dijabat oleh Kepala Desa; dan
g) untuk meningkatkan b. Pelaksana operasional atau
pendapatan masyarakat dan direksi yang terdiri atas:
pendapatan asli desa. a. Direktur atau manajer; dan
f. Mekanisme pembentukan b. Kepala unit usaha.
c) Tugas dan Kewenangan
BUMDes dijabarkan dalam Pasal
Pengelola
5 ayat (2) yaitu melalui tahap: Penasihat atau komisaris
a) rembug desa/musyawarah mempunyai tugas melakukan
untuk menghasilkan pengawasan dan memberikan
kesepakatan; nasehat kepada pelaksana
b) kesepakatan dituangkan operasional atau direksi dalam
dalam AD/ART yang menjalankan kegiatan
sekurang-kurangnya berisi: pengelolaan usaha
organisasi dan tata kerja, desa.Penasihat atau komisaris
penetapan personil, sistem dalam melaksanakan tugas
pertanggung jawaban dan mempunyai kewenangan
meminta penjelasan pelaksana
pelaporan, bagi hasil dan
operasional atau direksi
kepailitan; mengenai pengelolaan usaha
c) pengusulan materi desa.
kesepakatan sebagai draft
peraturan desa; dan Pelaksana operasional atau
d) penerbitan peraturan desa. direksi, bertanggung jawab
kepada pemerintahan desa atas
g. Pada Bab III yang terdiri dari Pasal pengelolaan usaha desa dan
6 sampai Pasal 21 menjelaskan
mewakili BUMDes di dalam
tentang Pengelolaan BUMDes,
dan di luar pengadilan.
yaitu:
a) Pengelolaan BUMDes d) Pengelolaan
berdasarkan pada: BUMDes,dilakukan dengan
a. Anggaran Dasar, yang memuat persyaratan:
paling sedikit rincian nama, a. pengurus yang berpengalaman
tempat kedudukan, maksud dan dan atau profesional;
tujuan, kepemilikan modal, b. mendapat pembinaan
kegiatan usaha, dan manajemen;
kepengurusan.; dan c. mendapat pengawasan secara
b. Anggaran Rumah Tangga yang internal maupun eksternal;
memuat paling sedikit rincian d. menganut prinsip transparansi,
hak dan kewajiban pengurus, akuntabel, dapat dipercaya,
masa bakti kepengurusan, tata dan rasional; dan
cara pengangkatan dan e. melayani kebutuhan
pemberhentian pengurus, masyarakat dengan baik dan
penetapan operasional jenis adil.
usaha, dan sumber permodalan.

361
Fiat Justitia Jurnal Ilmu Hukum Volume 7 No. 3, Sept Des. 2013, ISSN 1978-5186

e) Jenis Usaha dan Permodalan Pasal 18 dibuat dalam naskah


BUMDesterdiri atas jenis-jenis perjanjian kerjasama. Naskah
usaha.Jenis-jenis usaha meliputi: perjanjian kerjasama tersebut
paling sedikit memuat: subyek
a. Jasa, antara lain: jasa keuangan
mikro; jasa transportasi; jasa kerjasama; obyek kerjasama;
komunikasi; jasa konstruksi; dan jangka waktu; hak dan
jasa energi. kewajiban; pendanaan; keadaan
b. Penyaluran sembilan bahan memaksa; penyelesaian
pokok, antara lain: beras; gula; permasalahan; dan pengalihan.
garam; minyak goreng; kacang Naskah perjanjian kerjasama
kedelai; dan bahan pangan usaha desa antar 2 (dua) desa atau
lainnya yang dikelola melalui lebih dalam satu kecamatan tersebut,
warung desa atau lumbung desa. disampaikan kepada camat paling
c. Perdagangan hasil lambat 14 (empat belas) hari sejak
pertanian,antara lain: jagung;
ditandatangani.
buah-buahan; dan sayuran.
d. Industri kecil dan rumah tangga, Naskah perjanjian kerjasama
antara lain: makanan; minuman, usaha desa antar 2 (dua) desa atau
kerajinan rakyat; bahan bakar lebih antar kecamatan, disampaikan
alternatif; dan bahan bangunan. kepada bupati/walikota melalui
Jenis-jenis usaha tersebut dapat camat paling lambat 14 (empat belas)
dikembangkan sesuai dengan kebutuhan hari sejak ditandatangani.
dan potensi desa. g) Laporan Pertanggungjawaban
Modal BUMDes berasal dari: Pelaksana operasional atau
pemerintah desa; tabungan direksi melaporkan
masyarakat; bantuan pemerintah, pertanggungjawaban
pemerintah provinsi, dan pemerintah pelaksanaan BUMDes kepada
kabupaten/kota; pinjaman; dan/atau Kepala Desa.Kepala Desa
kerja sama usaha dengan pihak lain. melaporkan
Modal BUMDes lainnya, pertanggungjawaban
dapat berasal dari dana bergulir BUMDes kepada BPD dalam
program pemerintah dan pemerintah forum musyawarah desa.
daerah yang diserahkan kepada desa h) Pembinaan dan Pengawasan
dan/atau masyarakat melalui Pasal 22 menjabarkan tentang
pemerintah desa. Pengawasan, bahwa:
f) Kerjasama (1) Menteri Dalam Negeri
BUMDes dapat melakukan melakukan pembinaan dan
kerjasama usaha antar 2 (dua) menetapkan norma, standar,
desa atau lebih dan dengan pihak prosedur dan kriteria
ketiga.Kerjasama usaha antar 2 BUMDes.
(dua) desa atau lebih dapat (2) Gubernur melakukan
dilakukan dalam satu kecamatan sosialisasi, bimbingan teknis
atau antar kecamatan dalam satu standar, prosedur, dan kriteria
kabupaten/kota.Kerjasama antar pengelolaan serta
2 (dua) desa atau lebih harus memfasilitasi akselerasi
mendapat persetujuan masing- pengembangan modal dan
masing pemerintahan desa. pembinaan manajemen
Kerjasama usaha desa BUMDes di Provinsi.
sebagaimana dimaksud dalam

362
Fiat Justitia Jurnal Ilmu Hukum Volume 7 No. 3, Sept Des. 2013, ISSN 1978-5186

(3) Bupati/Walikota melakukan pemberdayaan masyarakat dan


pembinaan, monitoring, desa;
evaluasi, upaya
pengembangan manajemen (3). Urusan pilihan sebagaimana
dan sumber daya manusia dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2)
serta prakarsa dalam adalah urusan pemerintahan
permodalan yang ada di yang secara nyata ada dan
perdesaan. berpotensi untuk meningkatkan
(4) Kepala Desa kesejahteraan masyarakat sesuai
mengkoordinasikan dengan kondisi, kekhasan, dan
pelaksanaan pengelolaan potensi unggulan daerah yang
BUMDes di wilayah bersangkutan.
kerjanya. Urusan wajib Pemerintahan
Adapun Pengawasan BUMDes Daerah di Bidang Pemberdayaan
dijelaskan pada Pasal 23, bahwa: Masyarakat dan Desa memiliki Sub
(1) BPD dan/atau pengawas bidangPemberdayaan Usaha
internal yang dibentuk Ekonomi Masyarakat, Sub sub
melalui musyawarah desa bidang Kebijakan, masing-masing
melakukan pengawasan atas pemerintah memiliki wewenang:
pengelolaan BUMDes. 1. Pemerintah Pusat;
(2) Inspektorat Kabupaten/Kota a. Penetapan kebijakan nasional.
melakukan pengawasan atas b. Penetapan pedoman, norma,
pengelolaan BUMDes. stndar, prosedur dan kriteria
pemberdayaan usaha
5) Peraturan Pemerintah Nomor ekonomi masyarakat skala
38 Tahun 20072 nasional.
Ketentuan Pasal 7 2. Pemerintah Daerah Provinsi;
memetakan urusan wajib dan urusan a. Penetapan kebijakan daerah
pilihan yang dapat diselenggarakan skala provinsi.
oleh pemerintah daerah provinsi, b. Penyelenggaraan
termasuk juga didalamnya di bidang pemberdayaan usaha
perlindungan penyandang cacat yang ekonomi masyarakat skala
berhubungan dengan kewenangan provinsi.
dibidang sosial. 3. Pemerintah Daerah
(1). Urusan wajib adalah urusan Kabupaten/Kota;
pemerintahan yang wajib a. Penetapan kebijakan daerah
diselenggarakan oleh skala kabupaten/ kota.
pemerintahan daerah provinsi b. Penyelenggaraan
dan pemerintahan daerah pemberdayaan usaha
kabupaten/kota, berkaitan ekonomi masyarakat skala
dengan pelayanan dasar. kabupaten/kota.
(2). Urusan wajib sebagaimana Untuk sub sub bidang Pemberdayaan
dimaksud diatas diantaranya Ekonomi Penduduk Miskin,
wewenang masing-masing lingkup
2 PP Nomor 38 Tahun 2007 tentang pemerintahan yaitu:
Pembagian Urusan Pemerintahan Antara 1. Pemerintah Pusat;
Pemerintah, Pemerintahan Daerah
Provinsi, dan Pemerintahan Pemerintah
Kabupaten/Kota

363
Fiat Justitia Jurnal Ilmu Hukum Volume 7 No. 3, Sept Des. 2013, ISSN 1978-5186

a. Koordinasi dan fasilitasi b. Pembinaan dan supervisi


pemberdayaan ekonomi pengembangan usaha ekonomi
penduduk miskin skala nasional. keluarga dan kelompok
b. Pembinaan dan supervisi masyarakat skala nasional.
pemberdayaan ekonomi
penduduk miskin skala nasional. c. Monitoring dan evaluasi
c. Monitoring dan evaluasi pengembangan usaha ekonomi
pemberdayaan ekonomi keluarga dan kelompok
penduduk miskin skala nasional masyarakat skala nasional.
2. Pemerintah Daerah Provinsi; 2. Pemerintah Daerah Provinsi;
a. Koordinasi dan fasilitasi a. Koordinasi dan fasilitasi
penyelenggaraan pemberdayaan pengembangan usaha ekonomi
ekonomi penduduk miskin skala keluarga dan kelompok
provinsi. masyarakat skala provinsi.
b. Pembinaan dan supervisi
b. Pembinaan dan supervisi
penyelenggaraan pemberdayaan
pengembangan usaha ekonomi
ekonomi penduduk miskin skala
keluarga dan kelompok
provinsi.
masyarakat skala provinsi.
c. Monitoring, evaluasi dan
c. Monitoring evaluasi dan
pelaporan penyelenggaraan
pelaporan pengembangan usaha
pemberdayaan ekonomi
ekonomi keluarga dan kelompok
penduduk miskin skala provinsi.
masyarakat skala provinsi.
3. Pemerintah Daerah
3. Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota;
Kabupaten/Kota;
a. Koordinasi dan fasilitasi
a. Koordinasi dan fasilitasi
penyelenggaraan pemberdayaan
penyelenggaraan pengembangan
ekonomi penduduk miskin skala
usaha ekonomi keluarga dan
kabupaten/kota. kelompok masyarakat skala
b. Penyelenggaraan pemberdayaan kabupaten/kota.
ekonomi penduduk miskin skala
b. Penyelenggaraan pengembangan
kabupaten/kota.
usaha ekonomi keluarga dan
c. Monitoring, evaluasi dan kelompok masyarakat skala
pelaporan penyelenggaraan kabupaten/kota.
pemberdayaan ekonomi
c. Monitoring evaluasi dan
penduduk miskin skala
pelaporan penyelenggaraan
kabupaten/kota.
pengembangan usaha ekonomi
Untuk sub sub bidang
keluarga dan kelompok
Pengembangan Usaha Ekonomi
masyarakat skala kabupaten/
Keluarga dan Kelompok Masyarakat,
kota.
wewenang masing-masing lingkup
pemerintahan yaitu: Untuk sub sub bidang
1. Pemerintah Pusat; Pengembangan Lembaga Keuangan
a. Koordinasi dan fasilitasi Mikro Perdesaan, wewenang masing-
pengembangan usaha ekonomi masing lingkup pemerintahan yaitu:
keluarga dan kelompok 1. Pemerintah Pusat;
masyarakat skala nasional.

364
Fiat Justitia Jurnal Ilmu Hukum Volume 7 No. 3, Sept Des. 2013, ISSN 1978-5186

a. Koordinasi dan fasilitasi pemasaran hasil usaha


pengembangan lembaga masyarakat skala nasional.
keuangan mikro perdesaan skala b. Pembinaan dan supervisi
nasional. pengembangan produksi dan
b. Pembinaan dan supervisi pemasaran hasil usaha
pengembangan lembaga masyarakat skala nasional.
keuangan mikro perdesaan skala c. Monitoring dan evaluasi
nasional. pengembangan produksi dan
c. Monitoring dan evaluasi pemasaran hasil usaha
pengembangan lembaga masyarakat skala nasional.
keuangan mikro perdesaan skala 2. Pemerintah Daerah Provinsi;
nasional. a. Koordinasi dan fasilitasi
2. Pemerintah Daerah Provinsi; penyelenggaraan pengembangan
a. Koordinasi dan fasilitasi produksi dan pemasaran hasil
penyelenggaraan pengembangan usaha masyarakat skala provinsi.
lembaga keuangan mikro b. Pembinaan dan supervisi
perdesaan skala provinsi. penyelenggaraan pengembangan
b. Pembinaan dan supervisi produksi dan pemasaran hasil
penyelenggaraan pengembangan usaha masyarakat skala provinsi.
lembaga keuangan mikro c. Monitoring evaluasi dan
perdesaan skala provinsi. pelaporan penyelenggaraan
c. Monitoring, evaluasi dan pengembangan produksi dan
pelaporan penyelenggaraan pemasaran hasil usaha
pengembangan lembaga masyarakat skala provinsi.
keuangan mikro perdesaan skala 3. Pemerintah Daerah
provinsi. Kabupaten/Kota;
3. Pemerintah Daerah a. Koordinasi dan fasilitasi
Kabupaten/Kota; penyelenggaraan pengembangan
a. Koordinasi dan fasilitasi produksi dan pemasaran hasil
penyelenggaraan pengembangan usaha masyarakat skala
lembaga keuangan mikro kabupaten/kota.
perdesaan skala kabupaten/kota. b. Penyelenggaraan pengembangan
b. Penyelenggaraan pengembangan produksi dan pemasaran hasil
lembaga keuangan mikro usaha masyarakat skala
perdesaan skala kabupaten/kota. kabupaten/kota.
c. Monitoring, evaluasi dan c. Monitoring evaluasi dan
pelaporan penyelenggaraan pelaporan penyelenggaraan
pengembangan lembaga pengembangan produksi dan
keuangan mikro perdesaan skala pemasaran hasil usaha
kabupaten/kota. masyarakat skala
Untuk sub sub bidang kabupaten/kota.
Pengembangan Produksi dan Untuk sub sub bidang
Pemasaran Hasil Usaha Masyarakat, Pengembangan Pertanian Pangan dan
wewenang masing-masing lingkup Peningkatan Ketahanan Pangan
pemerintahan yaitu: Masyarakat, wewenang masing-
1. Pemerintah Pusat; masing lingkup pemerintahan yaitu:
a. Koordinasi dan fasilitasi 1. Pemerintah Pusat;
pengembangan produksi dan

365
Fiat Justitia Jurnal Ilmu Hukum Volume 7 No. 3, Sept Des. 2013, ISSN 1978-5186

a. Koordinasi dan fasilitasi pangan masyarakat skala


pengembangan pertanian pangan kabupaten/kota.
dan peningkatan ketahanan Sebagaimana dijabarkan diatas,
pangan masyarakat skala kewenangan masing-masing lingkup
nasional. pemerintahan dalam sub sub bagian
b. Pembinaan dan supervisi kewenangan tersebut tidak
pengembangan pertanian pangan menyebutkan secara spesifik
dan peningkatan ketahanan nomenklatur BUMDes. Namun
pangan masyarakat skala secara implisit kewenangan tersebut
nasional. diatur dalam sub sub bagian
c. Monitoring dan evaluasi pengembangan usaha ekonomi
pengembangan pertanian pangan keluarga dan kelompok. Sehingga
dan peningkatan ketahanan dapat disimpulkan bahwa wewenang
pangan masyarakat skala Pemerintah Daerah yaitu dalam
nasional. rangka:
2. Pemerintah Daerah Provinsi; a. Koordinasi dan fasilitasi
a. Koordinasi dan fasilitasi penyelenggaraan pengembangan
pengembangan pertanian pangan usaha ekonomi keluarga dan
dan peningkatan ketahanan kelompok masyarakat skala
pangan masyarakat skala kabupaten/kota.
provinsi. b. Penyelenggaraan pengembangan
b. Pembinaan dan supervisi usaha ekonomi keluarga dan
pengembangan pertanian pangan kelompok masyarakat skala
dan peningkatan ketahanan kabupaten/kota.
pangan masyarakat skala c. Monitoring evaluasi dan
provinsi. pelaporan penyelenggaraan
c. Monitoring, evaluasi dan pengembangan usaha ekonomi
pelaporan pengembangan keluarga dan kelompok
pertanian pangan dan masyarakat skala kabupaten/
peningkatan ketahanan pangan kota.
masyarakat skala provinsi. Oleh karena itu, Pemerintah
3. Pemerintah Daerah Daerah dalam rangka melaksanakan
Kabupaten/Kota; wewenang tersebut perlu
a. Koordinasi dan fasilitasi mengeluarkan suatu Peraturan
penyelenggaraan pengembangan Daerah yang mengatur tentang
pertanian pangan dan BUMDes didaerah.
peningkatan ketahanan pangan Dari ketentuan peraturan
masyarakat skala perundang-undangan yang berkenaan
kabupaten/kota. dengan pembentukan dan
b. Penyelenggaraan pengembangan pengelolaan BUMDes diatas, dapat
pertanian pangan dan dilihat bahwa terdapat sinkronisasi
peningkatan ketahanan pangan yang menunjukkan pemerintah
masyarakat skala daerah berwenang dan
kabupaten/kota. bertanggungjawab atas penyediaan
c. Monitoring, evaluasi dan pedoman pembentukan dan
pelaporan penyelenggaraan pengelolaan BUMDes. Dengan
pengembangan pertanian pangan begitu, diperlukan sebuah peraturan
dan peningkatan ketahanan daerah tentang pedoman tata cara

366
Fiat Justitia Jurnal Ilmu Hukum Volume 7 No. 3, Sept Des. 2013, ISSN 1978-5186

pembentukan dan pengelolaan peraturan perundang-undangan


BUMDes yang akan melegitimasi yang berlaku.BUMDes didirikan
kedudukan pemerintah daerah dalam berdasarkan hasil musyawarah
melakukan pembinaan atas warga dan BPD yang ditetapkan
pembentukan dan pengelolaan berdasarkan peraturan
BUMDes. Sehingga pengaturan desa.Peraturan desa tersebut
mengenai BUMDes tidak terputus paling sedikit memuat: maksud
dan terdapat sinkronisasi antara dan tujuan; nama tempat dan
pengaturan di pusat dengan kedudukan wilayah usaha; asas,
pengaturan di daerah. fungsi dan jenis usaha;
permodalan; kepengurusan dan
2.2 Materi Muatan Peraturan organisasi; kewajiban dan hak;
Daerah Tentang BUMDes penetapan dan penggunaan laba.

Jika diperlukan, pemerintah BUMDes yang dibentuk oleh 2


daerah dapat membentuk peraturan (dua) desa atau lebih ditetapkan
daerah yang mengatur tentang dengan peraturan bersama antar
BUMDes. Hal-hal yang perlu diatur desa yang dilakukan secara
yaitu: musyawarah mufakat yang
1. Ketentuan Umum dikoordinasikan oleh camat.
Istilah yang mestinya digunakan
dalam perda tentang BUMDes yaitu: 2. Organisasi BUMDes
Daerah; Pemerintah Daerah; Kepala Organisasi BUMDes adalah
Daerah; Kecamatan; Camat; Desa; milik pemerintah desa, yang
Pemerintahan desa; Pemerintah desa; permodalannya sebagian atau
Kepala desa; Badan seluruhnya merupakan kekayaan
permusyawaratan desa; Peraturan desa yang dipisahkan, bukan
desa; Anggaran Pendapatan dan milik kelompok ataupun
Belanja Desa; Kekayaan Desa; perseorangan.Secara
Badan Usaha Milik Desa; organisatoris struktur BUMDes
Permodalan BUMDes; dan Wilayah terpisah dari struktur organisasi
kerja BUMDes. pemerintahan desa.BUMDes
memiliki anggaran dasar dan
2. Materi Pengaturan anggaran rumah tangga.
Materi yang hendaknya akan Anggaran dasar sekurang-
diatur dalam Perda tentang BUMDes kurangnya memuat rincian nama,
yaitu: tempat kedudukan, maksud dan
1. Pembentukan BUMDes tujuan, kepemilikan modal,
Pemerintah desa dapat kegiatan usaha dan
membentuk/mendirikan kepengurusan.Anggaran rumah
BUMDes dalam rangka tangga sekurang-kurangnya
meningkatkan sumber-sumber memuat hak dan kewajiban
asli pendapatan desa dan pengurus, masa bakti
menumbuh kembangkan kepengurusan, tata cara
perekonomian masyarakat pengangkatan dan pemberhentian
desa.BUMDes ditetapkan pengurus, penetapan operasional
berdasarkan peraturan desa jenis usaha, sumber permodalan
dengan berpedoman pada serta keuntungan dan

367
Fiat Justitia Jurnal Ilmu Hukum Volume 7 No. 3, Sept Des. 2013, ISSN 1978-5186

kepailitan.Anggaran dasar dan pemerintahan desa atas segala


anggaran rumah tangga dapat kegiatan yang dijalankan oleh
diubah paling singkat 1 (satu) BUMDes dan mewakili
tahun anggaran melalui rapat BUMDes di dalam dan diluar
pengurus.Anggaran dasar dan pengadilan.
anggaran rumah tangga disahkan
oleh kepala desa dan BPD serta 6. Jenis Usaha, Permodalan dan
disampaikan kepada bupati Bagi Hasil Usaha
melalui camat. Bab ini mengatur tentang jenis
usaha, permodalan dan bagi hasil
3. Kepengurusan BUMDes usahayang dapat dilaksanakan
Pengurus BUMDes terdiri dari melalui BUMDes.
penasihat dan pelaksana 7. Kerjasama dengan Pihak Ketiga
operasional.Penasihat dijabat Bab ini mengatur bahwa
oleh kepala desa.Pelaksana BUMDes dapat melakukan
operasional terdiri atasmanajer kerjasama dengan BUMDes
dankepala unit usaha.Masa lainnya dan/atau dengan pihak
jabatan pelaksana operasional ketiga.Dalam menjalin kerjasama
Bumdes adalah 3 (tiga) dengan pihak ketiga harus
tahun.Pelaksana operasional didasarkan pada prinsip ekonomi
diangkat dan diberhentikan yang saling menguntungkan
dengan keputusan kepala desa kedua belah pihak.Dalam
atas persetujuan BPD. menjalin kerjasama antar
BUMDes dan/atau dengan pihak
4. Mekanisme Pengangkatan Badan ketiga harus mendapatkan
Pengurus BUMDes persetujuan pemerintah desa.
Persyaratan pengangkatan,
berhenti, dan atau 8. Mekanisme Pengelolaan,
diberhentikannya pelaksana Pelaporan dan
operasional BUMDes. Pertanggungjawaban
5. Tugas dan Kewenangan Bab ini menjelaskan mekanisme
Penasihat dan Pelaksana pengelolaan, pelaporan dan
Operasional pertanggungjawaban pengelolaan
Bab ini mengatur tentang tugas BUMDes. Diantaranya bahwa
dan kewenangan penasihat dan pengelolaan BUMDes harus
pelaksana operasional. Penasihat dilakukan secara transparan,
mempunyai tugas melakukan akuntabel, partisipatif,
pengawasan dan memberikan berkelanjutan dan akseptabel.
nasehat kepada pelaksana Laporan pertanggungjawaban
operasional dalam menjalankan BUMDes disampaikan oleh ketua
kegiatan pengelolaan usaha pengurus pelaksana operasional
desa.Pengurus pelaksana kepada pemerintah desa dan BPD
operasional mempunyai tugas dalam forum musyawarah desa
menata, melaksanakan dan dan disaksikan oleh camat
mengembangkan usaha-usaha sebagai wakil pemerintah
perekonomian yang dijalankan kabupaten.
oleh BUMDes.Pengurus 9. Pembubaran BUMDes
pelaksana operasional atau BUMDes dapat dibubarkan
direksi bertanggungjawab kepada berdasarkan perintah peraturan

368
Fiat Justitia Jurnal Ilmu Hukum Volume 7 No. 3, Sept Des. 2013, ISSN 1978-5186

perundang-undangan yang 2.3 Implikasi Penerapan Peraturan


berlaku dan/atau apabila selama 2 Daerah tentang BUMDes
(dua) tahun berturut-turut selalu Implikasi pembentukan dan
mengalami kerugian.Semua asset pengelolaan BUMDes yang akan
dan kekayaan BUMDes yang diatur dalam peraturan daerah, akan
telah dibubarkan dibagi menurut dikaji kaitannya terhadap aspek
nilai nominal kehidupan masyarakat dan
saham/keikutsertaan pihak-pihak dampaknya terhadap aspek beban
yang terkait.Kekayaan desa yang keuangan daerah.
tersisa pada BUMDes yang telah Terhadap aspek kehidupan
dibubarkan menjadi hak milik masyarakat di desa, pengaturan
desa dan harus disetor langsung tentang pembentukan dan
ke kas desa. pengelolaan BUMDes dengan
peraturan daerah akan memberikan
10. Pembinaan, Pengawasan dan pedoman tata cara pemerintah dan
Audit masyarakat desa membentuk dan
Pelaksana pembinaan, mengelola suatu badan usaha
monitoring dan evaluasi serta bersama yang dapat mendukung
pelatihan teknis terhadap keuangan desa. Perda ini juga
manajemen BUMDes adalah diharapkan dapat memberi sandaran
Bupati.Inspektorat Kabupaten hukum bagi pemerintah desa dalam
melakukan pengawasan terhadap menyelenggarakan BUMDes.
pengelolaan BUMDes. Jikapun di desa tersebut telah ada
11. Ketentuan Peralihan lembaga sejenis, dapat diselaraskan
Segala bentuk kegiatan usaha dengan bentuk badan hukum
yang dikelola oleh pemerintah BUMDes.
desa sebelum diberlakukannya Perda ini juga dapat memberi
peraturan daerah ini dapat kejelasan peran dan tanggung jawab
ditetapkan sebagai kegiatan masing-masing pemangku
BUMDes sepanjang tidak kepentingan BUMDes dalam
bertentangan dengan peraturan menyelenggarakan usaha bersama
daerah ini. masyarakat ini. Dengan demikian
12. Ketentuan Penutup upaya pemerintah daerah untuk
Hal-hal yang belum cukup diatur mengoptimalkan segala potensi
dalam peraturan daerah ini, masyarakat desa dalam bidang
sepanjang mengenai teknis perekonomian dapat terlihat dengan
pelaksanaannya akan diatur lebih jelas.
lanjut dengan Peraturan Terhadap aspek beban keuangan
Bupati.Peraturan Daerah ini daerah, pengaturan tentang pedoman
mulai berlaku pada tanggal tata cara pembentukan dan
diundangkan.Agar setiap orang pengelolaan dalam peraturan daerah
dapat mengetahuinya, tidak akan memberi dampak
memerintahkan pengundangan pembebanan anggaran daerah. Hal
Peraturan Daerah ini dengan ini dikarenakan keperluan akan
penempatannya dalam Lembaran penyediaan fasilitas, sarana dan
Daerah. prasarana berdasar pada swadaya
masyarakat desa. Namun demikian,
untuk desa-desa tertentu yang belum

369
Fiat Justitia Jurnal Ilmu Hukum Volume 7 No. 3, Sept Des. 2013, ISSN 1978-5186

memiliki kemampuan untuk H.A.W. Widjaja. 2010. Otonomi


mengorganisir keuangan termasuk Desa: Merupakan Otonomi Yang
pengumpulan dana swadaya Asli, Bulat dan Utuh. Jakarta:
masyarakat, pemerintah daerah dapat RajaGrafindo.
mengambil inisiatif untuk membantu Juliantara, Dadang. 2003.
diawal pendiriannya. Pembaruan Desa, Bertumpu Pada
Yang Terbawah. Jogjakarta:
III. Penutup Lappera.
Kartohadikoesoemo, Soetardjo.
3.1 Simpulan 2004. Desa. Jakarta: PN Balai
Pertama, keberadaan BUMDes Pustaka.
sejalan dengan Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2004 tentang Peraturan Perundang-undangan
Pemerintahan Daerah. Juga selaras Undang-Undang Nomor 32 Tahun
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 2004 tentang Pemerintahan
72 Tahun 2005 tentang Desa. Kedua, Daerah.
substansi minimum yang harus diatur Peraturan Pemerintah Nomor 72
dalam Perda tentang BUMDes Tahun 2005 Tentang Desa.
disusun berdasarkan pada Pasal 2 Peraturan Menteri Dalam Negeri
Permendagri Nomor 39 Tahun 2010 Nomor 39 Tahun 2010 Tentang
Tentang BUMDes yang mengatur Badan Usaha Milik Desa.
bahwa Pemerintah Kabupaten/Kota
menetapkan Peraturan Daerah Makalah
tentang Pedoman Tata Cara Pambudi, Himawan, Aspek
Pembentukan dan Pengelolaan Sosiologi Politik Pemerintahan
BUMDes. Desa, makalah disampaikan
3.2 Saran dalam lokakarya Rancangan
Pemerintah daerah perlu Penyusunan UU tentang
membentuk BUMDes sesuai dengan Pemerintahan Daerah,
peraturan perundang-undangan, jika kerjasama PSHK dan DPD RI,
ada hal-hal lain yang bersifat lebih Hotel Harris, Jakarta, 6 Maret
teknis operasional serta perlu 2007.
mengatur sesuai dengan kekhasan,
masing-masing desa dapat
membentuk peraturan desa tentang
BUMDes.

DAFTAR PUSTAKA
Buku
Departemen Pendidikan Nasional
Pusat Kajian Dinamika Sistem
Pembangunan (PKDSP). 2007.
Buku Panduan Pendirian dan
Pengelolaan Badan Usaha Milik
Desa (BUMDes). Surabaya:
Fakultas Ekonomi Universitas
Brawijaya.

370
Fiat Justitia Jurnal Ilmu Hukum Volume 7 No. 3, Sept Des. 2013, ISSN 1978-5186

356