Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Masyarakat secara umum bersifat dinamis, artinya bahwa masyarakat

dalam proses sosialnya selalu mengalami perubahan baik itu perubahan secara

cepat maupun secara lambat, atau perubahan yang direncanakan maupun

perubahan yang secara spontan. Dalam kehidupan masyarakat juga tidak ada yang

namanya masyarakat statis yang ada hanya masyarakat yang selalu mengalami

perubahan, meskipun perubahan tersebut tidak nampak atau perubahan secara

perlahan-lahan. Perubahan dalam masyarakat ini juga sering ditandai dengan

adanya perubahan pola pikir setiap individu atau orang perorangan sebagai

anggota dari masyarakat tersebut.

Dinamika sosial yang terjadi didalam kehidupan masyarakat juga dapat

dilihat dengan adanya perubahan fungsi struktural dalam masyarakat tersebut.

Perubahan-perubahan yang terjdi dalam masyarakat meliputi atas perubahan nilai-

nilai sosial, norma sosial, pola perilaku, susunan lembaga sosial, lapisan-lapisan

sosial, kekuasaan dan wewenang, interaksi sosial dan sebagainya. Perubahan

interaksi sosial dapat dikatakan sebagai faktor pendorong adanya perubahan atau

dinamika sosial. Dalam artian bahwa proses interaksi yang dilakukan oleh

individu-individu dalam memenuhi kebutuhanya, yang kemudian mengakibatkan

terjadinya dinamika sosial ekonomi masyarakat.

Perubahan atau kehidupan sosial tidak hanya berbicara tentang kemajuan

tetapi bisa juga berupa suatu kemunduran dalam bidang-bidang kehidupan


masyarakat. Misalnya adalah perubahan dalam bidang ilmu pengetahuan dan

teknologi. Ketika suatu masyarakat tidak dapat menyesuaikan diri dengan

perubahan tersebut atau pun masyarakat yang secara sadar atau pun tidak sadar

menutup diri dengan kemajuan teknologi maka akan melahirkan suatu

kemunduran dalam masyarakat tersebut karena dianggap kolot oleh masyarakat

lain.

Kehidupan sosial ekonomi berarti berbicara tentang perubahan sosial

ekonomi yang terjadi di dalam masyarakat. Karena perubahan yang terjadi dalam

masyarakat itu bukan hanya perubahan struktur sosial masyarakatnya tetapi juga

perubahan struktur ekonomi dalam masyarakat tersebut. Masyarakat sebagai suatu

sistem sosial dimana struktur-struktur sosialnya saling berhubungan satu sama

lain. Dimana fungsi dari struktur-struktur sosial tersebut saling terikat dan

beradaptasi yang tujuan keseluruhanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi

masyarakat.

Kondisi sosial ekonomi sebagai kaitan antara status sosial dan kebiasaan

hidup sehari-hari yang telah membudaya bagi individu atau kelompok di mana

kebiasaan hidup yang membudaya ini biasanya disebut dengan culture activity,

kemudian ia juga menjelaskan pula bahwa dalam semua masyarakat di dunia baik

yang sederhana maupun yang kompleks, pola interaksi atau pergaulan hidup

antara individu menunjuk pada perbedaan kedudukan dan derajat atau status

kriteria dalam membedakan status pada masyarakat yang kecil biasanya sangat

sederhana, karena disamping jumlah warganya yang relatif sedikit, juga orang-
orang yang dianggap tinggi statusnya tidak begitu banyak jumlah maupun

ragamnya.

Kondisi sosial ekonomi masyarakat dapat di lihat dari aktifitas sosial

dalam masyarakat seperti adanya kematian, pesta perkawinan, gotong royong

dalam membersihkan lahan pertanian ataupun dalam mendirikan rumah dan kerja

bakti untuk membersihkan atau membangun tempat-tempat umum seperti pasar

dan tempat ibadah, sedangkan gambaran kehidupan ekonomi masyarakat Desa

Meunasah Dayah ini terdiri dari pekerjaan, pendapatan, rumah tingal dan

lingkungan tempat tinggal mereka.

Faktor utama yang mendorong adanya perubahan atau dinamika baik

sosial maupun ekonomi masyarakat adalah dengan adanya pembangunan

infrastruktur. Contohnya adalah pembangunan infrastruktur jalan. Dimana

pembangunan infrastruktur jalan menjadi sentrum bagi masyrakat dalam

meningkatkan status sosial dan ekonomi mereka. Peningkatan status sosial

ekonomi maksudnya adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat secara umum.

Dengan adanya pembangunan infrastruktur jalan, khusunya bagi masyarakat desa,

akan memudahkan masyarakat dalam memeperoleh akses atau memobilisasi

proses distribusi hasil pertanian masyarakat.

Hampir 80% atau lebih penduduk Indonesia tinggal di daerah pedesaan

yang bekerja pada sektor pertanian sebagai mata pencarian pokok, sehingga

merupakan lapangan kerja dan produktif dan menyediakan pendapatan yang pada

akhirnya dapat meningkatkan tarap hidup masyarakat. Kebijaksanaan

pembangunan pertanian dalam tiga dekade terakhir berorientasi pada peningkatan


produksi melalui penggunaan teknologi padat modal. Tujuan akhir yang

diharapkan pemerintah adalah meningkatnya pangan dalam negeri melalui

pencapaian swasembada pangan dan mengurai ketergantungan pangan terhadap

negara luar.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam laporan

ini adalah Bagaimana Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat di Desa Meunasah

Dayah Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen?

C. Tujuan Kegiatan

Dari penjelasan di atas, tujuan pelaksanaan kegiatan ini adalah agar

mahasiswa mengetahui kondisi sosial ekonomi di daerah yang dijadikan objek

laporan serta dapat mengetahui sistem produksi komoditas yang diusahakan di

daerah tersebut.

D. Manfaat Kegiatan

1. Manfaat Praktis

Dengan diketahuinya dinamika sosial ekonomi masyarakat di Desa

Meunasah Dayah Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen, maka hal tersebut

dapat digunakan untuk mempercepat pertumbuhan desa serta menciptkan desa

yang mandiri. Hal tersebut juga dapat digunakan untuk menciptakan suatu bentuk

pembangunan desa yang berkelanjutan dengan mengintegrasi masyarakatnya.


2. Manfaat Teoritis

Secara teoritis, laporan ini dapat dimanfaatkan untuk perkembangan teori-

teori dalam ilmu sosial khususnya sosiologi. Teori-teori yang digunakan dalam

laporan ini dapat membantu melihat fenomena-fenomena yang terjadi dalam

masyarakat. Serta menambah wawasan bagi mahasiswa dalam menyikapi setiap

perubahan-perubahan yang terjadi dalam masyarakat menyakut sosial ekonomi.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Kondisi Sosial

Konsep sosial adalah konsep keseharian yang digunakan untuk menunjuk

sesuatu dan yang dipahami secara umum dalam masyarakat. Sedangkan konsep

sosiologis merupakan konsep yang digunakan sosiologi untuk menunjuk sesuatu

dalam konteks akademik. Sosiologi ialah suatu ilmu mengenai das sein dan

bukan das sollen. Sosiologi meneliti masyarakat serta perubahannya menurut

keadaan kenyataan. Sehubungan dengan perkataan sosiolgi, perkataan sosial

haruslah ditinjau sebagai semua kegiatan yang ada hubungannya dengan

masyarakat luas, sesuai dengan perkataan asalnya sozius yang berarti teman.

(Abdul, 2012: 30)

Perkataan sosial telah mendapat banyak interpretasi pula, walaupun

demikian, orang berpendapat bahwa perkataan ini mencapai reciprocal behavior

atau perilaku yang saling mempengaruhi dan saling tergantungnya manusia satu

sama lain. Suatu pengertian yang lebih jelas lagi ialah perkataan interdependensi.

Dengan demikian manusia sosial berarti manusia yang saling tergantung

kehidupannya satu sama lain. Interdependensi inilah yang merupakan satu-

satunya jalan penyelesaian untuk mengatasi kenyataan bahwa manusia tidak

memiliki apa yang oleh Freedman dan lain-lain disebut ready made adaptations

to environment. Dependensi manusia tidak saja terdapat pada awal hidup

manusia, akan tetapi dialami manusia seumur hidup sehingga komunikasi

mempunyai peranan penting. (Astrid, 1983:9)


Dalam suatu masyarakat demokratik dianggap bahwa masyarakat dan

individu komplementer satu sama lain, karena masyarakat tidak dapat

dibayangkan tanpa individu, seperti juga individu tidak dapat dibayangkan tanpa

adanya masyarakat. Betapa individu dan masyarakat komplementer satu sama lain

dapat dilihat dari kenyataan, bahwa: a. Manusia dipengaruhi oleh masyarakat

demi pembentukan pribadinya; b. Individu mempengaruhi masyarakat dan bahkan

bisa menyebabkan (berdasarkan pengaruhnya) perubahan besar terhadap

masyarakatnya. Justru dari unsur yang kedua, yaitu bahwa individu dapat

mengubah masyarakat sekelilingnya, terbukti bahwa manusia adalah selain dari

hasil pendidikannya sebagai manusia yang berfikir, dapat mengambil kesimpulan

dan pelajaran dari pengalamannya, mencetuskannya menjadi ide yang baru.

Dengan perubahan inilah, ia akan mengubah masyarakat sedikit demi sedikit dan

akhirnya terjadilah apa yang dikenal sebagai proses sosial yaitu proses

pembentukan masyarakat. (Damsar, 2011: 26)

Jadi, dapat dikatakan bahwa masyarakat selalu dalam proses sosial, selalu

dalam pembentukan. Masyarakat selalu dalam perubahan, penyesuaian dan

pembentukan diri (dalam dunia sekitarnya), sesuai dengan idenya. Karena

masyarakat terdiri dari individu-individu yang juga berinteraksi satu sama lain,

dengan sendirinya terjadilah perubahan terhadap masyarakat pula. Karena itu,

proses sosial dapat pula didefinisikan sebagai perubahan-perubahan dalam

struktur masyarakat sebagai hasil dari komunikasi dan usaha pengaruh-

mempengaruhi para individu dalam kelompok. Di samping itu, karena individu

secara tidak sadar sambil menyesuaikan diri juga mengubah secara tidak langsung
(bersama-sama dengan individu lain) dan masyarakatnya, dapat dikatakan bahwa

setiap individu maupun kelompok mempunyai peranan atau fungsi dalam

masyarakatnya.

B. Kondisi Ekonomi

Ekonomi sebagai suatu usaha dalam pembuatan keputusan dan

pelaksanaannya yang berhubungan pengalokasian sumber daya masyarakat

(rumahtangga dan pembisnis/ perusahaan) yangterbatas di antara berbagai

anggotanya, dengan mempertimbangkan kemampuan, usaha, dan keinginan

masing-masing. Jadi, kegiatan ekonomi merupakan gejala bagaimana cara orang

atau masyarakat memenuhi kebutuhan hidup mereka terhadap barang dan jasa.

Titik tolak analisis ekonomi adalah individu. Utilitarianisme mengasumsikan

bahwa individu adalah makhluk yang rasional, senantiasa menghitung dan

membuat pilihan yang dapat memperbesar kesenangan pribadi atau keuntungan

pribadi, dan mengurangi penderitaan atau menekan biaya. Untuk dapat bertahan

hidup, setiap individu perlu bekerja. Individu sendirilah yang lebih mengetahui

dibandingkan dengan orang lain, dia harus bekerja apa.

Menurut (Damsar, 2011: 35-36) hal ini dikarenakan individu lebih

mengetahui tentang dirinya sendiri dari sisi kemampuan, pengetahuan,

keterampilan, jaringan, dan lainnya yang dimilikinya.

a. Konsep Tindakan Ekonomi

Di dalam ekonomi, aktor diasumsikan mempunyai seperangkat pilihan dan

preferensi yang telah tersedia dan stabil. Tindakan yang dilakukan oleh aktor

bertujuan untuk memaksimalkan pemanfaatan (individu) dan keuntungan


(perusahaan). Tindakan tersebut dipandang rasional secara ekonomi. Sedangkan

sosiologi melihat beberapa kemungkinan tipe tindakan ekonomi. Kembali kepada

Weber, tindakan ekonomi dapat berupa rasional (individu mempertimbangkan alat

yang tersedia untuk mencapai tujuan yang ada), tradisional (bersumber dari tradisi

atau konvensi), dan spekulatif-irrasional (tindakan berorientasi ekonomi yang

tidak mempertimbangkan instrument yang ada dengan tujuan yang hendak

dicapai). Para ekonom sering menganggap tindakan ekonomi dapat ditarik dari

hubungan antara selera di satu sisi serta kuantitas dan harga dari barang dan jasa

di sisi lain.

Singkatnya, menurut ekonomi, tindakan ekonomi berkaitan dengan selera,

kualitas dan harga dari barang dan jasa. Sebaliknya bagi sosiologi, makna

dikonstruksi secara historis dan mesti diselidiki secara empiris, tidak bisa secara

sederhana ditarik melalui asumsi dan lingkungan eksternal. Sosiolog dapat

melihat tindakan ekonomi sebagai suatu bentuk dari tindakan sosial. Seperti yang

dikatakan Weber, tindakan ekonomi dapat dilihat sebagai suatu tindakan sosial

sejauh tindakan tersebut memperhatikan tingkah laku orang lain. Memberi

perhatian ini dilakukan secara sosial dalam berbagai cara seperti memperhatikan

orang lain, saling bertukar pandang, berbincang dengan mereka, berpikir tentang

mereka atau memberi senyum pada mereka.

Tindakan ekonomi biasanya tidak berada dalam ruang hampa, suatu ruang

yang tidak melibatkan hubungan sosial dengan orang atau kelompok lain. Tapi,

pada umumnya sebuah tindakan ekonomi terjadi dalam konteks hubungan sosial

dengan orang lain. Oleh sebab itu, tindakan ekonomi dapat berlangsung dengan
melibatkan kerjasama, kepercayaan, dan jaringan. Atau sebaliknya, suatu tindakan

ekonomi dapat menghasilkan perselisihan, ketidakpercayaan, dan pemutusan

hubungan.

b. Hubungan Ekonomi dengan Masyarakat

Pusat perhatian dari kajian para ekonom adalah pertukaran ekonomi, pasar,

dan ekonomi. Sedangkan masyarakat dianggap sebagai sesuatu yang diluar,

dia dipandang sebagai sesuatu yang telah ada (given). Sebaliknya sosiologi

memandang ekonomi sebagai bagian integral dari masyarakat. Sosiolog

terbiasa melihat kenyataan secara holistik, melihat kenyataan saling kait-

mengait antar berbagai faktor. Sosiologi ekonomi selalu memusatkan

perhatian pada analisis hubungan dan interaksi antara ekonomi dan institusi

lain dari masyarakat, seperti hubungan antara ekonomi dan agama,

pendidikan, stratifikasi sosial, demokrasi, atau politik.

c. Jaminan Ekonomi

Tujuan yang konstan dan tidak berubah dari buruh itu adalah jaminan

ekonomi. Bagi buruh jaminan ekonomi berarti upah yang cukup tinggi dan

cukup teratur untuk memberikan standar hidup yang wajar dan bisa

disisihkan untuk keperluan-keperluan lain, seperti biaya sakit, kecelakaan,

dana hari tua, serta memberi pendidikan yang lebih baik kepada anak-

anaknya. Jaminan ekonomi bagi buruh tidak sama dengan jaminan ekonomi

bagi orang kelas menengah. Jadi, bagi buruh jaminan ekonomi bukan berarti

sebuah rumah yang bebas dari penggadaian melainkan perlindungan terhadap


pemecatan sewenang-wenang, suatu jaminan akan senioritasnya, pekerjaan

tetap atau upah yang terjamin setiap tahunnya.

C. Masyarakat Desa

Banyak deskripsi yang dituliskan oleh para pakar mengenai pengertian

masyarakat. Dalam bahasa Inggris dipakai istilah society yang berasal dari kata

Latin socius, berarti kawan. Istilah masyarakat sendiri berasal dari akar kata

Arab syaraka yang berarti ikut serta, berpartisipasi. Masyarakat adalah

sekumpulan manusia saling bergaul, atau dengan istilah ilmiah, saling

berinteraksi (Koentjaraningrat, 2009: 116).

Pada umumnya pengertian desa dikaitkan dengan pertanian, yang

sebenarnya masih bisa didefinisikan lagi berdasarkan pada jenis dan tingkatannya.

Menurut Koentjaraningrat mendefinisikan desa itu sebagai komunitas kecil yang

menetap tetap di suatu tempat (Rahadjo, 2010 : 29) sedangkan menurut P.H

Landis terdapat tiga definisi tentang desa yaitu pertama desa itu lingkungan yang

penduduknya kurang dari 2.500 orang, kedua desa adalah suatu lingkungan yang

penduduknya mempunyai hubungan yang saling akrab serba informal satu sama

lain, dan yang ketiga desa adalah suatu lingkungan yang penduduknya hidup dari

pertanian. Masyarakat sebagai komunitas (community) adalah sekelompok orang

yang terikat oleh pola-pola interaksi karena kebutuhan dan kepentingan bersama

untuk bertemu dalam kepentingan mereka (Murdiyanto, 2008: 74).

Menurut Hillery, Jonassen dan Wills (Murdiyanto, 2008: 75)

mendefinisikan komunitas adalah sekelompok orang yang hidup dalam suatu

wilayah tertentu yang memiliki pembagian kerja yang berfungsi khusus dan saling
tergantung (interpendent) dan memiliki sistem sosial budaya yang mengatur

kegiatan para anggota yang mempunyai kesadaran akan kesatuan dan perasaan

memiliki serta mampu bertindak secara kolektif dengan cara yang teratur. Dengan

demikian komunitas dapat diartikan sebagai masyarakat setempat, yaitu suatu

wilayah kehidupan sosial yang ditandai oleh suatu derajat hubungan sosial

tertentu. Dasar dari masyarakat setempat adalah lokalitas dan perasaan masyarakat

setempat.

Masyarakat dalam setiap kehidupannya, ada sesuatu yang dihargai/diberi

penghargaan atas hal-hal tertentu yang terdapat di dalam masyarakat yang

bersangkutan. Penghargaan yang diberikan tersebut akan menempatkan suatu hal

tersebut pada kedudukan yang lebih tinggi ketimbang hal yang lainnya. Misalkan

dalam suatu masyarakat memberikan penghargaan yang lebih pada kekayaan

materil yang dimiliki seseorang maka orang yang memiliki kekayaan lebih akan

menempatkan kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang lainnya.

Gejala ini akan menimbulkan suatu perbedaan dalam masyarakat yang pada

akhirnya memunculkan pelapisan masyarakat.

Desa adalah salah satu bentuk kuno dari kehidupan bersama sebanyak

beberapa ribu orang, hampir semuanya saling mengenal, kebanyakan yang

termasuk di dalamnya hidup dari pertanian, perikanan dan sebagainya, usaha-

usaha yang dapat dipengaruhi oleh hukum dan kehendak alam. Dan dalam tempat

tinggal itu terdapat banyak ikatan-ikatan keluarga yang rapat, ketaatan pada tradisi

dan kaidah-kaidah sosial. Definisi desa tersebut yang ditandai adanya cara hidup

seperti pertanian, menandakan bahwa kehidupan manusianya sudah menetap,


mempunyai tanah untuk mengusahakan pertanian bahan makanan. Kehidupan

dengan mengerjakan sawah ataupun ladang orang dapat membuat mereka

memungut hasil dari tempat dimana mereka tinggal. Dengan kehidupan yang telah

menetap seperti inilah yang kemudian menimbulkan masyarakat desa. Dalam

masyarakat desa, suburnya tanah dan luas serta longgarnya daerah yang dapat

dipekerjakan sangat mempengaruhi persekutuan manusia yang menetap disitu

(desa). Jadi dari penjabaran tersebut, dapat disimpulkan bahwa proses lahirnya

suatu masyarakat desa diawali dengan hubungan antara individu-individu dan juga

ikatan yang didasarkan oleh kesamaan tempat tinggal.

D. Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat Desa

Sistem distribusi menentukan pembagian masyarakat menjadi kelas-kelas, dan

dimana terdapat kelas, maka kelas-kelas yang berbeda akan menerima jenis

pendidikan yang berbeda. Pada masyarakat kapitalis, kaum buruh mendapatkan

pendidikan yang paling sedikit, dan mereka yang berkeinginan memasuki suatu

profesiyang terpelajar memperoleh pendidikan terbanyak, sedangkan kuantitas

pendidikan yang sedang dianggap cocok bagi mereka yang akan menjadi orang-

orang terhormat atau usahawan. Sebagai suatu kaidah umum, seorang anak lelaki

atau perempuanmenjadi bagian dari kelas sosial yang sama sepertikedua orang

tuanya.

Santrock (2007: 282), status sosioekonomi sebagai pengelompokan orang-

orang berdasarkan kesamaan karakteristik pekerjaan, pendidikan ekonomi. Status

sosioekonomi menunjukan ketidak setaraan terentu. Secara umum anggota

masyarakat memiliki (1) pekerjaan yang bervarias prestisenya, dan beberapa


individu memiliki akses yang lebih besar terhadap pekerjaan berstatus lebih tinggi

dibanding orang lain; (2) tingkat pendidikan yang berbeda, ada beberapa

individual memiliki akses yang lebih besar terhadap pendidikan yang lebih baik

dibanding orang lain; (3) sumber daya ekonomi yang berbeda; (4) tingkat

kekuasaan untuk mempengaruhi institusi masyarakat. Perbeedaan dalam

kemampuan mengontrol sumber daya dan berpartisipasi dalam ganjaran

masyarakat menghasilkan kesempatan yang tidak setara.

Manusia selalu ingin memenuhi kebutuhan hidupnya baik moral maupun

material. Kebutuhan pokok dapat dijelaskan sebagai kebutuhan yang sangat

penting guna kelangsungan hidup manusia. Abraham Maslow mengungkapkan

kebutuhan manusia terdiri dari kebutuhan dasar fisiologis, kebutuhan akan rasa

aman, kebutuhan akan kasih sayang, kebutuhan akan dihargai dan kebutuhan

mengaktualisasikan diri.

Menurut Melly G Tan bahwa kedudukan sosial ekonomi mencakup (tiga)

faktor yaitu pekerjaan, pendidikan, dan penghasilan. Pendapat diatas didukung

oleh MaMahbud UI Hag dari Bank Dunia bersama dengan James Grant dari

Overseas Development Council mengatakan bahwa kehidupan sosial ekonomi di

titik beratkan pada pelayanan kesehatan, pendidikan, perumahan dan air yang

sehatyang didukung oleh pekerjaan yang layak (Susanto, 1984).

Pada umumnya penghasilan masyarakat akan lebih baik jika dibandingkan

dengan penghasilan mereka sebelumnya. Hal tersebut akan membawa suatu

perkembangan terutama perkembangan ekonomi yang sejalan pula dengan

perkembangan desa tersebut. Melly G. Tan mengatakan untuk melihat kondisi


sosial ekonomi keluarga atau masyarakat itu dapat dilihat melalui tiga aspek yaitu

pekerjaan, pendidikan, dan penghasilan. Berdasarkan hal ini maka keluarga atau

kelompok masyarakat itu dapat digolongkan memiliki sosial ekonomi rendah,

sedang, dan tinggi. (Koentjaraningrat, 1981)

Sehubungan dengan tingkat pendapatan/pengasilan berikut kriteria

golongan pendapatan/penghasilan, yaitu:

1. Golongan Berpenghasilan Rendah

Yaitu keluarga yang menerima pendapatan lebih rendah dari keperluan untuk

memenuhi tingkat hidup yang minimal, mereka perlu mendapatkan pinjaman

dari orang lain karena tuntutan kehidupan yang keras, perkembangan anak

dari keluarga itupun menjadi agresif. Sementara itu orang tua yang sibuk

mencari nafkah memenuhi kebutuhan ekonomi tidak sempat memberikan

bimbingan dan pengawasan terhadap perilaku anaknya.

2. Golongan Berpenghasilan Sedang.

Yaitu pendapatan yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok.

3. Golongan Berpenghasilan Tinggi

Yaitu selain dapat memenuhi kebutuhan pokok, sebagian dari pendapatan

yang diterima dapat ditabung dan digunakan untuk kebutuhan lain ataupun

kebutuhan dimasa mendatang.

Kebutuhan pokok disini sama halnya dngan tingkat hidup minimal

mencakup kebutuhan pokok primer yakni kebutuhan akan sandang, pangan, dan

papan. (http://pratama94.wordpress.com. Blogger: Pratama)


Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa

sosial ekonomi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan pemenuhan

kebutuhan, antara lain pendidikan, pekerjaan, dan pemenuhan kebutuhan tersebut

berkaitan dengan penghasilan.


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Populasi dan Sampel

Dalam suatu penelitian diperlukan populasi responden. Populasi menurut

Sugiono (2004:73) adalah : Wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau

subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh

peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Penelitiannya ini

dilakukan dengan pengambilan data dari pada responden. Data yang diambil

adalah dari sampel yang mewakili seluruh populasi. Maka dari sampel yang

diambil adalah dari sampel yang mewakili seluruh populasi. Populasi dalam

penelitian ini adalah seluruh jumlah KK yang ada di Desa Meunasah Dayah.

Sampel adalah jumlah yang mewakili populasi yang dijadikan objek

dalam penelitian ini. Penetapan sampel tersebut sesuai dengan pendapat Arikunto

(2004:107) yang menyebutkan bahwa: Apabila subjeknya kurang dari 100, lebih

baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi,

selanjutnya jika jumlah subjeknya besar dapat diambil antara 10-15%, atau 20-

25% atau lebih. Sehingga sampel penelitian ini adalah 25 pembeli dari jumlah

populasi yang ada.

B. Intrumen Penelitian

Untuk mempermudah pengujian terhadap analisis yang digunakan,

idealnya data yang digunakan dalam bentuk skala interval (scaled values). Pada

penelitian ini, data yang tersedia dalam bentuk skala ordinal dengan menggunakan
jawaban-jawaban dari masyarakat. Cara perhitungan yang digunakan pada skala

likert sendiri adalah dengan menghadapkan seorang responden dengan beberapa

pertanyaan dan kemudian diminta untuk memberikan jawaban.

Penggunaan angket sebagai alat untuk mengukut dan mengetahui jawaban

dari masyarakat setempat. Angket yaitu suatu cara pengumpulan data dengan

memberikan data atau menyebarkan daftar kepada responden, dengan harapan

mereka akan memberikan respon atas daftar pertanyaan tersebut.


BAB IV
PAPARAN DATA

A. Lokasi Praktek

Lokasi praktek dilaksanakan di Desa Meunasah Dayah Kecamatan

Peusangan Kabupaten Bireuen.

B. Demografi Desa Meunasah Dayah

C. Kondisi Sosial Ekonomi


DAFTAR PUSTAKA

Abdul Syani. 2012. Sosiologi Skematika, Teori, dan Terapan. Jakarta: PT Bumi
Aksara.

Astrid S. Susanto.1983. Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial. Jakarta:


Binacipta.

Damsar. 2011. Pengantar Sosiologi Ekonomi. Jakarta: Kencana