Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pada infeksi virus dengue apalagi pada bentuk klinis DBD selalu disertai dengan
tanda perdarahan. Hanya saja tanda ini tidak selalu di dapat secara spontan oleh
penderita, bahkan pada sebagian besar penderita tanda perdarahan ini muncul setelah
dilakukan test tourniquet. Bentuk-bentuk perdarahan spontan yang dapat terjadi pada
penderita demam dengue dapat berupa perdarahan kecil-kecil di kulit (peteki),
perdarahan agak besar (ekimosis), perdarahan gusi, perdarahan hidung dan bahkan dapat
terjadi perdarahan masif yang berakhir dengan kematian.
Pada hari-hari pertama demam biasanya dapat dilakukan test Rumpel Leed untuk
mengetahui adanya peteki sebagai tes adanya infeksi dengue pada pasien demam. Darah
manusia adalah cairan jaringan tubuh. Fungsi utamanya adalah mengangkut oksigen yang
diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh. Darah juga menyuplai jaringan tubuh dengan
nutrisi, mengangkut zat-zat sisa metabolisme, dan mengandung berbagai bahan penyusun
sistem imun yang bertujuan mempertahankan tubuh dari berbagai penyakit. Hormon-
hormon dari sistem endokrin juga diedarkan melalui darah.
Setiap makhluk hidup membutuhkan zat-zat makanan yang diperoleh dari
lingkungannya. Untuk memasukkan dan membuang sisa zat makanan memerlukan sistem
transportasi. Sistem sirkulasi atau transportasi pada tubuh manusia meliputi sistem
peredaran darah manusia meliputi sistem peredaran darah dan peredaran getah bening.
Komponen sistem peredaran darah manusia terdiri atas darah, jantung, dan pembuluh
darah.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan rample leed test?
2. Apa saja tujuan dari rample leed test?
3. Apa saja prinsip-prinsip dalam rample leed test?
4. Apa saja fungsi bendungan?
5. Mengapa pemeriksaan rample leed penting?
6. Bagaimana cara pemeriksaan rample leed?
7. Bagaimana penatalaksanaan rample leed test?

C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui pengertian dari rample leed test.
2. Untuk mengetahui tujuan dari rample leed test.
3. Untuk mengetahui prinsip-prinsip dalam rample leed test.

1
4. Untuk mengetahui fungsi bendungan.
5. Untuk mengetahui mengapa pemeriksaan rample leed penting.
6. Untuk mengetahui cara pemeriksaan rample leed.
7. Untuk mengetahui penatalaksanaan rample leed test.

BAB II

PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN RAMPLEE LEED TEST


Rumple leed test adalah salah satu cara yang paling mudah dan cepat untuk menentukan
apakah terkena demam berdarah atau tidak. Rumple leed adalah pemeriksaan bidang

2
hematologi dengan melakukan pembendungan pada bagian lengan atas selama 10 menit
untuk uji diagnostik kerapuhan vaskuler dan fungsi trombosit.

B. TUJUAN RAMPLEE LEED TEST


1. Untuk mengetahui apa ada peningkatan trombosit karena adanya penyakit DBD
2. Untuk menguji ketahanan kapiler darah dengan pembendungan ( keadaan darah
kapiler fragile)

C. PRINSIP-PRINSIP RAMPLE LEED TEST


1. Prinsip yang digunakan dalam uji Tourniquet adalah dimana terdapat kapiler
diciptakan suasana anoksia dengan jalan membendung aliran darah vena. Anoksia
merupakan ketidakadaan penyediaan oksigen ke jaringan meskipun perfusi darah ke
jaringan adekuat. Suasana anoksia dan penambahan tekanan internal akan
memperlihatkan kemampuan ketahanan kapiler.
2. Diberikan pembebanan pada kapiler selama waktu tertentu sehingga terhadap kapiler
diciptakan suasana anoksia dengan adanya bendungan aliran darah vena. Terhadap
anoksia dan penambahan tekanan internal akan terlihat sejauh mana kemampuan
kapiler dapat bertahan. Jika ketahanan kapiler turun akan timbul Petechiae di kulit.
3. Jika ketahanan kapiler luntur (dinding kapiler kurang kuat), pembendungan vena
menyebabkan darah menekan dinding kapiler. Dinding kapiler yang oleh suatu sebab
kurang kuat atau adanya trombositopenia, akan rusak oleh pembendungan tersebut.
Darah dari dalam kapiler akan keluar dan merembes ke dalam jaringan sekitarnya
sehingga tampak sebagai bercak /titik merah kecil pada permukaan kulit yang dikenal
sebagai peteki.

D. FUNGSI BENDUNGAN
1. Untuk menimbulkan hambatan terhadap aliran darah balik di lengan dan juga
sehingga vena mengembang di permukaan kulit dan menjadi lebih jelah terlihat.
2. Hal yang perlu diperhatikan ialah bahwa bendungan tidak boleh terlalu ketat dan
tidak boleh berlangsung lama. Pembendungan yang ketat dan berlangsung lama dapat
menimbulkan hemokonsentrasi.

E. PENTINGNYA PEMERIKSAAN RAMPLE LEED


Manifestasi perdarahan yang paling sering ditemukan pada DBD ialah perdarahan
kulit, uji Tourniquet positif, memar dan perdarahan pada tempat pengambilan darah vena.
Uji Tourniquet merupakan tes yang sederhana untuk melihat gangguan pada vaskuler

3
maupun trombosit. Tes ini akan positif bilaada gangguan pada vaskuler maupun
trombosit.
Uji Tourniquet sebagai manifestasi perdarahan kulit paling ringan dapat dinilai
sebagai uji presumtif, oleh karena tes ini positif pada hari-hari pertama demam pada 53%
penderita DBD tanpa renjatan yang dirawat di Bagian Anak Rumah Sakit Dr. Cipto
Mangunkusumo Jakarta dalam tahun 1985-1986. Petekie merupakan manifestasi
perdarahan yang paling seringdijumpai, yaitu pada 51% penderita.
Di daerah endemis DBD, uji Tourniquet merupakan pemeriksaan penunjang
presumtif bagi diagnosis DBD apabila dilakukan pada anak yang menderita demam lebih
dari 2 hari tanpa sebab yang jelas. Sebagian orang mungkin menunjukkan hasil positif
tergantung padatekstur, ketipisan, dan suhu kulit, sehingga uji Tourniquet ini bukan
merupakan satu-satunya pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menentukan diagnosis
DBD. Untuk memastikannya perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium darah.
Sebuah tes tourniquet (juga dikenal sebagai Rumpel-Leede Kerapuhan kapiler-
Test atau hanya tes kerapuhan kapiler) menentukan kapiler kerapuhan. Ini adalah metode
diagnostik klinis untuk menentukan kecenderungan perdarahan pada pasien. Ia menilai
kerapuhan dinding kapiler dan digunakan untuk mengidentifikasi
trombositopenia(dengan pengurangan count platelet).
Pengujian ini didefinisikan oleh WHO sebagai salah satu syarat yang diperlukan
untuk diagnosis DBD. Ketika manset tekanan darah dipacu ke titik antara tekanan darah
sistolik dan diastolik selama lima menit, maka tes ini akan dinilai. Tes positif jika ada 10
atau lebih petechiae per inci persegi. Dalam DBD tes biasanya memberikan hasil positif
yang pasti dengan 20 petechiae atau lebih.
Tes ini tidak memiliki spesifisitas tinggi. faktor Mengganggu dengan uji ini
adalah perempuan yang pramenstruasi, postmenstrual dan tidak mengambil hormon, atau
mereka dengan kulit rusak matahari, karena semua akan mengalami peningkatan
kerapuhan kapiler.
Sebuah tourniquet tes positif di sisi kanan pasien dengan demam berdarah.
Catatan : peningkatan jumlah petechiae. Menurut WHO pada tes tourniquet dilakukan
penghitungan jumlah petekie dalam daerah seluas 1 inci 2 (1 inci = 2,5 cm) dimana saja
yang paling banyak petekienya termasuk di bawah fosa cubiti dan bagian dorsal lengan
dan tangan. Dalam klinik untuk mempermudah penghitungan digunakan plastik

4
transparan dengan gambaran lingkaran beriameter 2,8 cm (10) atau bujur sangkar dengan
ukuran 2,5 cm x 2,5 cm.
Dengan demikian lingkaran atau bujur sangkar tersebut dapat dengan mudah
digeserkan di seluruh permukaan kulit dan dicari daerah di mana petekie paling banyak.
Dalam menilai kenaikan hematokrit harus diingat pula pengaruh adanya anemi,
perdarahan dan pemberian terapi cairan dini. Untuk membuktikan adanya kebocoran
plasma dapat pula dicari efusi pleura pada pemeriksaan radiologik atau adanya
hipoalbuminemi. Dalam pengalaman klinik ternyata tidak selalu semua kriteria WHO
tersebut dipenuhi. Hemokonsentrasi baru dapat dinilai setelah pemeriksaan serial
hematokrit sehingga pada saat penderita pertama kali datang belum dapat ditentukan
adanya hemokonsentrasi atau tidak.
Pada infeksi virus dengue apalagi pada bentuk klinis DBD selalu disertai dengan
tanda perdarahan. Hanya saja tanda ini tidak selalu di dapat secara spontan oleh
penderita, bahkan pada sebagian besar penderita tanda perdarahan ini muncul setelah
dilakukan test tourniquet.
Bentuk-bentuk perdarahan spontan yang dapat terjadi pada penderita demam
dengue dapat berupa perdarahan kecil-kecil di kulit (peteki), perdarahan agak besar
(ekimosis), perdarahan gusi, perdarahan hidung dan bahkan dapat terjadi perdarahan
masif yang berakhir dengan kematian.
Pada hari-hari pertama demam biasanya dapat dilakukan test Rumpel Leed untuk
mengetahui adanya peteki sebagai tes adanya infeksi dengue pada pasien demam. Tes ini
cara awal paling sederhana bila suatu demam dicurigai sebagai infeksi dengue. Dikenal
sebagai cara Tes Rumpel Leed.
Meskipun uji tourniquet positif dapat juga ditemukan pada berbagai macam
penyakit, namun uji itu sebagai manifestasi perdarahan teringan dan dapat dinilai sebagai
presumptive test(test skrining) karena pada dijumpai pada sebagian besar penderita
DBD hari-hari pertama demam. Dengan melakukan tes RL maka dengan demikian kasus
cepat diketahui dan masyarakat dalam keadaan siap siaga menghadapi ancaman DBD
Uji Tourniquet dapat negative selama masa renjatan, juga kadang-kadang pada
DBD tanpa renjatan. Tes Rumpel Leed positif apabila :
1. Infeksi dengue
2. Defisiensi Vitamin C
3. ITP
4. Schonlein Henoch

5
Tes RL tidak perlu dilakukan:

1. Jika sudah terdapat purpura


2. Diketahui mempunyai riwayat perdarahan

H. PENATALAKSANA DEMAM BERDARAH DENGUE (PADA ANAK)


1. Adakah tanda kedaruratan, yaitu tanda syok (gelisah, nafas cepat, bibir biru, tangan
dan kaki dingin, kulit lembab), muntah terus-menerus, kejang, kesadaran menurun,
muntah darah, tinja darah, maka pasien perlu dirawat / dirujuk.
2. Apabila tidak dijumpai tanda kedaruratan, periksa uji Tourniquet dan hitung trombosit
a. Bila uji Tourniquet positif dan jumlah trombosit 100.000/l, penderita dirawat /
dirujuk.
b. Bila uji Tourniquet negatif dengan trombosit > 100.000/l atau normal, pasien
boleh pulang dengan pesan untuk datang kembali setiap hari sampai suhu turun.
3. Pasien dianjurkan minum banyak, seperti: air teh, susu, sirup, oralit, jus buah dan
lain-lain.
4. Berikan obat antipiretik golongan parasetamol jangan golongan salisilat.
5. Apabila selama di rumah demam tidak turun pada hari sakit ketiga, evaluasi tanda
klinis adakah tanda-tanda syok, yaitu anak menjadi gelisah, ujung kaki / tangan
dingin, sakit perut, tinja hitam, kencing berkurang; bila perlu periksa Hb, Ht dan
trombosit.
6. Apabila terdapat tanda syok atau terdapat peningkatan Ht dan / atau penurunan
trombosit, segera rujuk ke rumah sakit.

I. CARA PEMERIKSAAN RAMPLE LEED TEST


Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang dibutuhkan dalam uji Tourniquet atau Rumpel Leed antara lain :
1. Tensimeter
2. Stetoskop
3. Alat pengukur waktu
4. Alat tulis

Pemeriksaan Rumple Leed Tes (tourniquet test)

Rumple leed test adalah salah satu cara yang paling mudah dan cepat untuk
menentukan apakah terkena demam berdarah atau tidak. Rumple leed adalah
pemeriksaan bidang hematologi dengan melakukan pembendungan pada bagian lengan
atas selama 10 menit untuk uji diagnostik kerapuhan vaskuler dan fungsi trombosit.

Langkah-langkah dalam melakukan uji Tes Rumpel Leed adalah sebagai berikut :
6
1. Cuci tangan
2. Beritahu pasien tindakan yang akan dilakukan
3. Pasang manset pada lengan atas (ukuran manset sesuai dengan umur anak, yaitu lebar
manset = 2/3 lengan atas)
4. Pompa tensimeter untuk mendapatkan tekanan sistolik (pada saat kontraksi) dan
tekanan diastolik (pada saat relaksasi)
5. Ambil rata-rata antara tekanan sistolik dan tekanan diastolic
6. Aliran darah pada lengan atas dibendung pada tekanan antara sistolik dan diastolik
(rata-rata kedua tekanan tersebut) selama 5 menit
7. Baca hasilnya pada volar lengan bawah kira-kira 4 cm dibawah liipat siku dengan
penampang 5cm, apakah timbul petekie sebagai tanda pendarahan.
8. Catat
9. Informasikan hasil pemeriksaan pada pasien
10. Cuci tangan

Hasil

Nilai rujukan yang digunakan untuk menentukan hasil uji Tes Rumpel Leed sebagai
berikut :

Hasil Jumlah Petekie

Abnormal (+) > 20 petekie

Normal (-) < 10 petekie

Dubia (ragu-ragu) 10-20 petekie

7
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Darah manusia adalah cairan jaringan tubuh. Fungsi utamanya adalah mengangkut
oksigen yang diperlukan oleh sel-sel di seluruh tubuh.
Rumple leed test adalah salah satu cara yang paling mudah dan cepat untuk menentukan
apakah terkena demam berdarah atau tidak. Rumple leed adalah pemeriksaan bidang
hematologi dengan melakukan pembendungan pada bagian lengan atas selama 10 menit
untuk uji diagnostik kerapuhan vaskuler dan fungsi trombosit.
B. SARAN
Fokus utama pada masalah demam berdarah adalah pencegahan. Pembenahan kebersihan
lingkungan sekitar kita akan membantu proses pencegahan terjadinya Kejadian Luar
Biasa Demam Berdarah Dengue. Dengan lingkungan bersih, maka akan tercipta hidup
sehat tanpa adanya penyakit baik DBD maupun penyakit lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

8
Hadinegoro SRH, Soegijanto S, Wuryadi S, Suroso T. Tatalaksana Demam Dengue/Demam
Berdarah Dengue pada Anak. Dalam Naskah lengkap Demam Berdarah Dengue ; Pelatihan
bagi Peatih Dokter Spesialis Anak & Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dalam Tatalaksana
Kasus DBD. Balai Penerbit FK-UI, 2000 ; 80-135
Hendarwanto. Dengue dalam Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi ke-3, 1996. Balai Penerbit
FK-UI.417-26.
Loho T. Diagnosis Laboratorium Demam Berdarah Dengue. Dalam, Suplemen Naskah
Pendidikan Berkesinambungan Patologi Klinik 2002. Bagian Patologi Klinik FK-UI.