Anda di halaman 1dari 69

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Agama Islam merupakan agama yang paling mulia dan sempurna

dihadapan Allah SWT. Proses perkembangan, pertumbuhan, serta penyebaran

agama Islam di seluruh penjuru dunia tidak semudah membalikkan telapak

tangan. Semua itu tidak terlepas dari perjuangan Nabi Muhammad SAW.

Sehingga, perkembangan agama Islam masih ada sampai sekarang dan

berkembang pesat. Namun, perkembangan itu juga masih banyak yang kurang

mendalami mengenai agama Islam.

Islam sebagai agama wahyu yang memberi bimbingan kepada manusia

mengenai semua aspek hidup dan kehidupanya, dapat diibaratkan seperti jalan

raya yang lurus dan mendaki, memberi peluang kepada manusia yang melaluinya

sampai ke tempat yang dituju, tempat tertinggi dan mulia. Jalan raya itu lebar, kiri

kananya berpagar Al-Quran dan Al-Hadits. Pada jalan itu juga terdapat rambu-

rambu, tanda-tanda (marka) serta jalur-jalur sebanyak aspek kehidupan manusia.

Siapa saja yang memasuki gerbang jalan raya itu baik karena keturunan maupun

karena mengucapkan dua kalimat syahadat, wajib memperhatikan rambu-rambu,

tanda-tanda, dan berjalan melalui jalur-jalur yang telah ada.

Adanya degradasi akhlaq disebabkan karena kurangnya pengetahuan yang

mendalam tentang Islam. Kebanyakan orang Islam sekarang mengaku Islam tetapi

tidak disertai dengan pengamalannya. Dengan kata lain, umat Islam tidak secara

1
kaffah memeluk Islam, tetapi hanya setengah. Oleh karena itu perlunya

pemahaman tentang Agama Islam benar-benar diperlukan sehingga kita bisa lebih

mudah untuk memahami Islam lebih jauh.

1.2 MAKSUD DAN TUJUAN

Tujuan penulisan yang ingin dicapai penulis dalam makalah ini adalah :

1. Mengetahui pengertian dan ruang lingkup agama Islam.

2. Mengetahui klasifikasi agama dan agama Islam.

3. Mengetahui kerangka dasar agama Islam.

1.3 RUMUSAN MASALAH

Adapun yang akan dibahas dan menjadi rumusan masalah dalam makalah ini

adalah :

1. Apa pengertian dan ruang lingkup agama Islam?

2. Bagaimana klasifikasi agama dan agama Islam?

3. Bagaimana kerangka dasar agama Islam?

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Agama Islam

2.1.1 Pengertian Agama Islam

Islam adalah sebuah agama yang diturunkan Alloh kepada Nabi Muhammad
Salallohu Alaihi Wa Sallam sebagai nabi dan rosul paling akhir untuk menjadi
petunjuk atau pedoman hidup bagi seluruh manusia sampai akhir zaman.

Secara harfiah, Islam memiliki arti damai, tunduk, selamat dan bersih. Kata
islam sendiri terbentuk dari tiga huruf, yaitu S (sin), L (lam) dan M (mim) yang
mempunyai makna dasar Selamat (Salama).

2.1.2 Pengertian Islam Menurut Bahasa dan Istilah

Dari segi bahasa, Islam berasal dari kata aslama yang berakar dari kata
salama. Kata Islam merupakan bentuk mashdar (infinitif) dari kata aslama ini.

1. Ditinjau dari segi bahasanya yang dikaitkan dengan asal katanya, Islam
memiliki beberapa pengertian, diantaranya adalah:
Berasal dari salm (
) yang berarti damai.

Dalam al-Quran Allah SWT berfirman (QS. 8 : 61)

Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah


kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya
Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Kata salm dalam ayat di atas memiliki arti damai atau

3
perdamaian. Dan ini merupakan salah satu makna dan ciri dari
Islam, yaitu bahwa Islam merupakan agama yang senantiasa
membawa umat manusia pada perdamaian.

Dalam sebuah ayat Allah SWT berfirman : (QS. 49 : 9)

Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu'min berperang


maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua
golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka
perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan
itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali
(kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya
dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang berlaku adil.

Sebagai salah satu bukti bahwa Islam merupakan agama yang sangat
menjunjung tinggi perdamaian adalah bahwa Islam baru memperbolehkan
kaum muslimin berperang jika mereka diperangi oleh para musuh-
musuhnya.

Dalam Al-Quran Allah berfirman: (QS. 22 : 39)

Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang


diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya.
Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa
menolong mereka itu.

4
)yang berarti menyerah.
2. Berasal dari kata aslama (

Hal ini menunjukkan bahwa seorang pemeluk Islam merupakan


seseorang yang secara ikhlas menyerahkan jiwa dan raganya hanya
kepada Allah SWT. Penyerahan diri seperti ini ditandai dengan
pelaksanaan terhadap apa yang Allah perintahkan serta menjauhi
segala larangan-Nya. Menunjukkan makna penyerahan ini,

Allah berfirman dalam al-Quran: (QS. 4 : 125)

Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang


ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun
mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang
lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.

Sebagai seorang muslim, sesungguhnya kita diminta Allah untuk


menyerahkan seluruh jiwa dan raga kita hanya kepada-Nya. Dalam
sebuah ayat Allah berfirman: (QS. 6 : 162)

Katakanlah: "Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan


matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

Karena sesungguhnya jika kita renungkan, bahwa seluruh makhluk


Allah baik yang ada di bumi maupun di langit, mereka semua
memasrahkan dirinya kepada Allah SWT, dengan mengikuti
sunnatullah-Nya. Allah berfirman: (QS. 3 : 83) :

Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama


Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di
langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya
kepada Allahlah mereka dikembalikan.

Oleh karena itulah, sebagai seorang muslim, hendaknya kita


menyerahkan diri kita kepada aturan Islam dan juga kepada
kehendak Allah SWT. Karena insya Allah dengan demikian akan
menjadikan hati kita tentram, damai dan tenang (baca;
mutmainah).

3. Berasal dari kata istaslamamustaslimun (



- ) :
penyerahan total kepada Allah.

Dalam Al-Quran Allah berfirman (QS. 37 : 26)

Bahkan mereka pada hari itu menyerah diri.

Makna ini sebenarnya sebagai penguat makna di atas (poin


kedua). Karena sebagai seorang muslim, kita benar-benar diminta
untuk secara total menyerahkan seluruh jiwa dan raga serta harta
atau apapun yang kita miliki, hanya kepada Allah SWT. Dimensi
atau bentuk-bentuk penyerahan diri secara total kepada Allah

6
adalah seperti dalam setiap gerak gerik, pemikiran, tingkah laku,
pekerjaan, kesenangan, kebahagiaan, kesusahan, kesedihan dan
lain sebagainya hanya kepada Allah SWT. Termasuk juga berbagai
sisi kehidupan yang bersinggungan dengan orang lain, seperti sisi
politik, ekonomi, pendidikan, sosial, kebudayaan dan lain
sebagainya, semuanya dilakukan hanya karena Allah dan
menggunakan manhajAllah.

Dalam Al-Quran Allah berfirman (QS. 2 : 208)

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam


secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-
langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata
bagimu.

Masuk Islam secara keseluruhan berarti menyerahkan diri


secara total kepada Allah dalam melaksanakan segala yang
diperintahkan dan dalam menjauhi segala yang dilarang-Nya.

4. Berasal dari kata saliim (


) yang berarti bersih
dan suci.

Mengenai makna ini, Allah berfirman dalam Al-


Quran (QS. 26 : 89):

Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang


bersih.

7
Dalam ayat lain Allah mengatakan (QS. 37: 84):

(Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang


suci.

Hal ini menunjukkan bahwa Islam merupakan agama yang suci dan
bersih,yang mampu menjadikan para pemeluknya untuk memiliki
kebersihan dan kesucian jiwa yang dapat mengantarkannya pada
kebahagiaan hakiki, baik di dunia maupun di akhirat. Karena pada
hakekatnya, ketika Allah SWT mensyariatkan berbagai ajaran Islam,
adalah karena tujuan utamanya untuk mensucikan dan membersihkan
jiwamanusia.

Allah berfirman: (QS. 5 : 6)

Allah sesungguhnya tidak menghendaki dari (adanya syariat


Islam) itu hendak menyulitkan kamu, tetapi sesungguhnya Dia
berkeinginan untuk membersihkan kamu dan menyempurnakan
ni`mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.

5. Berasal dari salam (


) yang berarti selamat dan sejahtera.
Allah berfirman dalam Al-Quran: (QS. 19 : 47)

Berkata Ibrahim: "Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu,


aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya

8
Dia sangat baik kepadaku."

Maknanya adalah bahwa Islam merupakan agama yang senantiasa


membawa umat manusia pada keselamatan dan kesejahteraan. Karena
Islam memberikan kesejahteraan dan juga keselamatan pada setiap
insan.

ISTILAH

Adapun dari segi istilah, (ditinjau dari sisi subyek manusia terhadap
dinul Islam), Islam adalah ketundukan seorang hamba kepada wahyu
Ilahi yang diturunkan kepada para nabi dan rasul khususnya
Muhammad SAW guna dijadikan pedoman hidup dan juga sebagai
hukum/ aturan Allah SWT yang dapat membimbing umat manusia ke
jalan yang lurus, menuju ke kebahagiaan dunia dan akhirat.

Definisi di atas, memuat beberapa poin penting yang dilandasi dan didasari
oleh ayat-ayat Al-Quran. Diantara poin-poinnya adalah:

1. Islam sebagai wahyu ilahi (


)
Mengenai hal ini, Allah berfirman QS. 53 : 3-4 :

Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur'an) menurut


kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah
wahyu yang diwahyukan (kepadanya)."

9
2. Diturunkan kepada nabi dan rasul (khususnya Rasulullah SAW)

( )

Membenarkan hal ini, firman Allah SWT (QS. 3 : 84)

Katakanlah: "Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang


diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim,
Isma`il, Ishaq, Ya`qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan
kepada Musa, `Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak
membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan hanya
kepada-Nya-lah kami menyerahkan diri."

)
3. Sebagai pedoman hidup (

Allah berfirman (QS. 45 : 20):

"Al Qur'an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan


rahmat bagi kaum yang meyakini."

4. Mencakup hukum-hukum Allah dalam Al-Quran dan sunnah


Rasulullah SAW (

)

Allah berfirman (QS. 5 : 49-50)

10




*

Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka


menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu
mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap
mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian
apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling
(dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa
sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah
kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan
sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang
fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan
(hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi
orang-orangyangyakin?


5. Membimbing manusia ke jalan yang lurus. ( )

Allah berfirman (QS. 6 : 153)

Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang


lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-
jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu
dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu
agar kamu bertakwa.

11
6. Menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.(

)

Allah berfirman (QS. 16 : 97)

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun


perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan
Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya
akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih
baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

2.1.1 Makna Islam

Beberapa makna islam adalah :

1. Islam adalah Ketundukan


Allah menciptakan alam semesta, kemudian menetapkan manusia
sebagai hambaNya yang paling besar perannya di muka bumi.
Manusia berinteraksi dengan sesamanya, dengan alam semesta di
sekitarnya, kemudian berusaha mencari jalan untuk kembali
kepada Penciptanya. Tatkala salah berinteraksi dengan Allah,
kebanyakan manusia beranggapan alam sebagai Tuhannya
sehingga mereka menyembah sesuatu dari alam. Ada yang
menduga-duga sehingga banyak di antara mereka yang tersesat.
Ajaran yang benar adalah ikhlas berserah diri kepada Pencipta
alam yang kepadaNya alam tunduk patuh berserah diri. (QS.
4:125) Maka, Islam identik dengan ketundukan kepada sunnatullah
yang terdapat di alam semesta (tidak tertulis) maupun Kitabullah
yang tertulis (Alquran).

12
2. Islam adalah Wahyu Allah
Dengan kasih sayangnya, Allah menurunkan Ad-Dien (aturan
hidup) kepada manusia. Tujuanya agar manusia hidup teratur dan
menemukan jalan yang benar menuju Tuhannya. Aturan itu
meliputi seluruh bidang kehidupan: politik, hukum, sosial, budaya,
dan sebagainya. Dengan demikian, manusia akan tenteram dan
damai, hidup rukun dan bahagia dengan sesamanya dalam naungan
ridha Tuhannya. (QS. Al-Baqarah: 38) Karena kebijaksanaanNya,
Allah tidak menurunkan banyak agama. Dia hanya menurunkan
Islam. Agama selain Islam tidak diakui di sisi Allah dan akan
merugikan penganutnya di akhirat nanti. Sebagaimana firman
Allah, Sesungguhnya Ad-Dien yang diridhai di sisi Allah
hanyalah Islam. (QS. 3:19) Sebab, Islam merupakan satu-satunya
agama yang bersandar kepada wahyu Allah secara murni. Artinya,
seluruh sumber nilai dari nilai agama ini adalah wahyu yang Allah
turunkan kepada para RasulNya terdahulu. Dengan kata lain, setiap
Nabi adalah muslim dan mengajak kepada ajaran Islam. Ada pun
agama-agama yang lain seperti Yahudi dan Nasrani adalah
penyimpangan dari ajaran wahyu yang dibawa oleh para nabi
tersebut.

3. Islam adalah Agama Para Nabi dan Rasul


Perhatikan kesaksian Alquran bahwa Nabi Ibrahim adalah muslim,
bukan Yahudi atau pun Nasrani. (QS. 2:132) Nabi-nabi lain pun
mendakwahkan ajaran Islam kepada manusia. Mereka
mengajarkan agama sebagaimana yang dibawa Nabi Muhammad
saw. Hanya saja, dari segi syariat (hukum dan aturan) belum
selengkap yang diajarkan Nabi Muhammad saw. Tetapi, ajaran
prinsip-prinsip keimanan dan akhlaknya sama. Nabi Muhammad
saw. datang menyempurnakan ajaran para Rasul, menghapus

13
syariat yang tidak sesuai dan menggantinya dengan syariat yang
baru. (QS. 3: 84) Menurut pandangan Alquran, agama Nasrani
yang ada sekarang ini adalah penyimpangan dari ajaran Islam yang
dibawa Nabi Isa a.s. Nama agama ini sesuai nama suku yang
mengembangkannya. Isinya jauh dari Kitab Injil yang diajarkan Isa
a.s.. Agama Yahudi pun telah menyimpang dari ajaran Islam yang
dibawa Nabi Musa a.s.. Diberi nama dengan nama salah satu Suku
Bani Israil, Yahuda. Kitab Suci Taurat mereka campur aduk
dengan pemikiran para pendeta dan ajarannya ditinggalkan.
4. Islam adalah Hukum-hukum Allah di dalam Alquran dan Sunnah
Orang yang ingin melihat Islam hendaknya melihat Kitabullah
Alquran dan Sunnah Rasulullah. Keduanya, menjadi sumber nilai
dan sumber hukum ajaran Islam. Islam tidak dapat dilihat pada
perilaku penganut-penganutnya, kecuali pada pribadi Rasulullah
saw. dan para sahabat beliau. Nabi Muhammad saw. bersifat
mashum (terpelihara dari kesalahan) dalam mengamalkan Islam.
Beliau membangun masyarakat Islam yang terdiri dari para sahabat
Nabi Muhammad saw yang langsung terkontrol perilakunya oleh
Allah dan RasulNya. Jadi, para sahabat Nabi tidaklah mashum
bagaimana Nabi, tapi mereka istimewa karena merupakan pribadi-
pribadi didikan langsung Nabi Muhammad
saw. Islam adalah akidah dan ibadah, tanah air dan penduduk,
ruhani dan amal, Alquran dan pedang sebagaimana telah
dibuktikan dalam hidup Nabi, para sahabat, dan para pengikut
mereka yang setia sepanjang zaman.

5. Islam adalah Jalan Allah Yang Lurus Islam merupakan


satu-satunya pedoman hidup bagi seorang muslim.
Baginya, tidak ada agama lain yang benar selain Islam.
Karena ini merupakan jalan Allah yang lurus yang

14
diberikan kepada orang-orang yang diberi nikmat oleh
Allah. (QS. 6:153; 45:18)

6. Islam Pembawa Keselamatan Dunia dan Akhirat


Sebagaimana sifatnya yang bermakna selamat
sejahtera, Islam menyelamatkan hidup manusia di
dunia dan di akhirat. Keselamatan dunia adalah
kebersihan hati dari noda syirik dan kerusakan jiwa.
Sedangkan keselamatan akhirat adalah masuk surga
yang disebut Daarus Salaam. Allah menyeru (manusia)
ke Daarus Salaam (surga), dan menunjuki orang yang
dikehendakiNya kepada jalan yang lurus (Islam). (QS.
10:25) Dengan enam prinsip di atas kita dapat
memahami kemuliaan dan keagungan ajaran agama
Allah ini. Nabi Muhammad saw. bersabda, Islam itu
tinggi dan tidak ada kerendahan di dalamnya. Sebagai
ajaran, Islam tidak terkalahkan oleh agama lain. Maka,
setiap muslim wajib meyakini kelebihan Islam dari
agama lain atau ajaran hidup yang lain. Allah sendiri
memberi jaminan. (QS.5:3)

2.1.2 Mengapa Mencari Agama Selain Islam

Islam telah sempurna, demikian yang harus umat Islam yakini. Islam
juga adalah agama yang diridhoi oleh Allah Taala dan bukan agama
lainnya, ini pun harus dipahami. Setiap agama mungkin mengklaim,
merekalah yang paling benar. Namun karena berdasarkan wahyu dari
Allah dengan adanya realita berbagai ragam agama, yang diterima di sisi
Allah hanyalah satu yaitu Islam.

15
Allah Taala berfirman,

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-
cukupkan kepadamu nimat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama
bagimu (QS. Al Maidah: 3).

Ketika Ibnu Abbas membaca ayat di atas, beliau berkata, Orang Yahudi
mengatakan:

Seandainya ayat ini turun di tengah-tengah kami, niscaya kami akan


merayakan hari turunnya ayat tersebut sebagai ied (hari besar atau hari
raya). Ibnu Abbas berkata bahwa ayat ini turun saat bertemunya dua hari
raya yaitu hari raya ied (haji akbar) dan hari Jumat.[1]

Beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari ayat di atas:

Pertama: Ajaran Islam telah sempurna sehingga kita tidak butuh


pada agama dan nabi yang lain.

Saat Nabi shallallahu alaihi wa sallam wukuf di Arafah ketika Haji


Wada, turunlah ayat di atas. Inilah ayat dari Al Quran yang diturunkan
terakhir. Karena beberapa waktu setelah ayat tersebut turun, Nabi
shallallahu alaihi wa sallam meninggal dunia, yaitu setelah beliau
kembali ke Madinah selepas pulang dari haji. Hal ini menunjukkan bahwa
ketika Rasul shallallahu alaihi wa sallam meninggal dunia, sudah
sempurnalah Islam. Demikian penjelasan guru kami, Syaikh Dr. Sholih Al
Fauzan.[2]

Seorang ahli tafsir terkemuka Ibnu Katsir rahimahullah berkata


tentang ayat ini, Inilah nikmat Allah azza wa jalla yang terbesar bagi
umat ini di mana Allah telah menyempurnakan agama mereka,
sehingga mereka pun tidak lagi membutuhkan agama lain selain agama

16
ini, juga tidak membutuhkan nabi lain selain nabi mereka Muhammad
shallallahu alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Allah menjadikan Nabi
Muhammad shallallahu alaihi wa sallam sebagai penutup para nabi, dan
mengutusnya kepada kalangan jin dan manusia. Maka perkara yang halal
adalah yang beliau shallallahu alaihi wa sallam halalkan dan perkara
yang haram adalah yang beliau shallallahu alaihi wa sallam
haramkan.[3]

Kedua: Tidak perlu ada penambahan dan pengurangan dalam ibadah


alias kita dilarang berbuat bidah (amalan yang tidak ada tuntunan).

Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata,

Allah telah menyempurnakan islam, sehingga mereka (umat Islam) tidak


perlu lagi menambah ajaran Rasul selamanya- dan Allah pun telah
membuat ajaran Islam itu sempurna sehingga jangan sampai dikurangi
selamanya-. Jika Allah telah ridho, maka janganlah ada yang murka
dengan ajaran Islam selamanya-.[4]

Ketika Imam Malik rahimahullah membicarakan ayat di atas, beliau


juga menyinggung bahaya bidah. Beliau berkata,

-

) { } :

Barangsiapa yang berbuat bidah dalam Islam dan ia menganggapnya


hasanah (baik), ia berarti telah mengklaim bahwa Muhammad shallallahu
alaihi wa sallam telah mengkhianati risalah. Karena Allah telah berfirman
(yang artinya), Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu
Jika di saat Rasul hidup, sesuatu bukanlah termasuk ajaran Islam,
maka saat ini juga bukanlah ajaran Islam.[5]

17
Dari Aisyah, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang
tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.[6]

Ketiga: Ayat di atas adalah sanggahan untuk orang yang


mendiskreditkan Islam dengan mengatakan bahwa Islam tidak cocok
untuk setiap zaman dan setiap tempat.

Seperti orang yang mengatakan bahwa Islam itu benar-benar kuno dan
tidak cocok lagi untuk zaman saat ini. Jika dikatakan dalam ayat bahwa
Islam telah sempurna berarti Islam itu cocok untuk setiap zaman dan
tempat. Jika sebagian orang dangkal dalam memahami Islam, maka yang
keliru bukan Islamnya, namun karena kedangkalan pikirannya. Jadi Islam
itu sempurna dan berlaku untuk setiap zaman bagi para hamba hingga
datangnya hari kiamat.[7]

Keempat: Memeluk Islam adalah nikmat yang amat besar, yang patut
disyukuri.

Jika dikatakan dalam ayat bahwa Allah telah mencukupkan nikmat-


Nya, maka hal ini menunjukkan Islam adalah nikmat yang paling besar
bagi seorang hamba. Namun siapa yang menerima nikmat ini, itulah
mereka yang bisa mengambil manfaat. Sebaliknya, siapa yang
menolaknya, merekalah yang berdosa dan akan mendapat dhoror
(bahaya).[8]

Kelima: Allah hanya meridhoi Islam, bukan agama lainnya.

Disebutkan dalam ayat bahwa Allah telah meridhoi Islam sebagai


agama. Padahal Islam yang dikatakan telah sempurna sebagaimana disebut
di awal ayat. Jadi, Allah telah menyempurnakan Islam, telah meridhoinya

18
dan telah meridhoi hamba-Nya. Sehingga yang diridhoi hanyalah Islam,
bukan agama lainnya. Allah Taala berfirman,

Agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam (QS. Ali Imran: 19).

Setelah datangnya agama yang dibawa oleh Nabi kita Muhammad


shallallahu alaihi wa sallam-, maka agama lainnya seperti Nashrani dan
Yahudi, seluruhnya adalah agama yang batil yang tidak diridhoi oleh
Allah. Dalam ayat lain disebutkan,

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali


tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat
termasuk orang-orang yang rugi (QS. Ali Imran: 85).

Keenam: Bantahan untuk yang menyatakan semua agama sama.

Ayat yang kita bahas dan dua ayat terakhir yang disebutkan di atas
menunjukkan kelirunya pemahaman yang menyatakan semua agama
sama. Ada yang mengklaim bahwa Nashrani, Yahudi dan Islam semuanya
agama yang benar dan dapat mengantarkan pada Allah karena sama-sama
agama samawi yang turun dari langit. Ini jelas pemahaman keliru dan
dusta. Karena tidak ada lagi agama yang benar setelah datangnya Islam.
Yang benar hanyalah Islam. Setelah datang Islam yang dibawa oleh Nabi
kita Muhammad -shallallahu alaihi wa sallam-, terhapuslah ajaran agama
sebelumnya yaitu Yahudi dan Nashrani. Agama yang lain bisa jadi
terhapus atau tergantikan, yang ada dan diridhoi hanyalah satu yakni
Islam. Sehingga siapa yang ingin masuk surga, maka peluklah agama
Islam. Siapa yang malah mencari agama selain Islam, maka tempatnya di
neraka karena ia berarti telah menolak agama yang Allah ridhoi.

19
Agama Yahudi yaitu ajaran Musa alaihis salam yang saat itu menjadi
agama dan tidak menyimpang, maka diterima. Begitu pula agama
Nashrani yang tidak menyimpang demikian. Namun setelah datangnya
Islam yang dibawa oleh Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wa
sallam-, ajaran-ajaran sebelumnya terhapus, yang tersisa hanyalah Islam.

Sehingga tidak ada pilihan dan hukumnya wajib untuk mengikuti Islam
sebagaimana yang Allah perintahkan dan ini berlaku untuk setiap zaman
dan tempat. Allah Taala telah memerintahkan untuk mengikuti agama
yang dibawa oleh Muhammad sebagaimana disebut dalam ayat lainnya,


) 31(



)32(

Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku,


niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Taatilah Allah dan
Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang kafir. (QS. Ali Imran: 31-32).[9]

2.1.3 Karakteristik Agama Islam

karakteristik yang mengokohkan kelebihan Islam dan membuat umat


manusia sangat membutuhkan agama Islam adalah sebagai berikut:

1. Islam datang dari sisi Allah Subhanahu wa Taala dan sesungguhnya


Allah lebih mengetahui apa yang menjadi mashlahat (kebaikan) bagi
hamba-hamba-Nya.

Allah Subhanahu wa Taala berfirman:

Apakah (pantas) Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui? Dan Dia
Mahahalus, Maha Mengetahui. [Al-Mulk: 14]

20
2. Islam menjelaskan awal kejadian manusia dan akhir kehidupannya, serta
tujuan ia diciptakan.

Allah Subhanahu wa Taala berfirman:

Wahai manusia! Bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan


kamu dari diri yang satu (Adam), dan (Allah) menciptakan pasangannya
(Hawa) dari (diri)nya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan
laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang
dengan Nama-Nya kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan
kekeluargaan. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu.
[An-Nisaa: 1]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman:

Darinya (tanah) itulah Kami menciptakan kamu dan kepadanyalah Kami


akan mengembalikan kamu dan dari sanalah Kami akan mengeluarkan
kamu pada waktu yang lain. [Thaahaa: 55]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman:

Aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan agar mereka


beribadah kepada-Ku. [Adz-Dzaariyaat: 56]

3. Islam adalah agama fitrah. Islam tidak akan pernah bertentangan dengan
fitrah dan akal manusia.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

21




Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai)


fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah)
itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus,
tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. [Ar-Ruum: 30]

Islam memperhatikan akal dan mengajaknya ber-fikir, mencela kebodohan


dan taqlid buta.

Allah Subhanahu wa Taala berfirman:

Katakanlah, Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-


orang yang tidak mengetahui? [Az-Zumar: 9]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam


dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau
dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan
langit dan bumi (seraya berkata), Ya Rabb kami, tidaklah Engkau
menciptakan semua ini dengan sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah
kami dari adzab Neraka. [Ali Imran: 190-191]

Juga firman-Nya Subhanahu wa Taala:

22
Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena
pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta
pertanggung-jawabannya. [Al-Israa: 36]

Islam meliputi aqidah dan syariat (keyakinan dan pedoman hidup). Islam
telah sempurna dalam aqidah, ajaran syariatnya dan seluruh aspek
kehidupan.

4. Islam adalah ilmu syari. Ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim dan
muslimah, dan ilmu mengangkat derajat orang-orang yang memilikinya ke
derajat yang paling tinggi.

Firman Allah Azza wa Jalla:

Niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di


antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat [Al-
Mujadilah: 11]

5. Allah Azza wa Jalla menjamin kebahagiaan, kemuliaan, dan


kemenangan bagi orang yang berpegang teguh kepada Islam dan
menerapkannya dalam kehidupan, baik bagi perorangan maupun
masyarakat.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

Dan Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di


antaramu dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa Dia sungguh-sungguh
akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah
menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan
meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka,

23
dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, setelah mereka
berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) beribadah
kepada-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku.
Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah
orang-orang yang fasik. [An-Nuur: 55]

6. Dalam agama Islam terdapat penyelesaian bagi segala problematika,


karena syariat dan dasar-dasar ajarannya mencakup segala hukum bagi
segala peristiwa yang tidak terbatas.

7. Syariat Islam adalah syariat yang paling bijak dalam mengatur semua
bangsa, paling tepat dalam memberikan solusi dari setiap masalah,
memperhatikan kemaslahatan dan sangat memperhatikan hak-hak
manusia.

8. Islam adalah agama yang fleksibel (cocok untuk semua tempat, zaman,
bangsa dan berbagai macam situasi). Bahkan dunia tidak akan menjadi
baik melainkan dengan agama Islam. Oleh karenanya, semakin modern
zaman dan semakin majunya bangsa selalu muncul bukti baru yang
menunjukkan keabsahan Islam dan ketinggian nilainya.

9. Islam adalah agama cinta, kebersamaan, persahabatan dan kasih sayang


sesama kaum mukminin.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

Sesungguhnya orang-orang mukmin bersaudara, karena itu damaikanlah


antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah
supaya kamu mendapat rahmat. [Al-Hujuraat: 10]

Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:



.

.

24
Perumpamaan kaum mukminin dalam (sikap) cinta men-cintai, sayang-
menyayangi dan menaruh rasa simpati, seperti satu tubuh. Jika salah satu
anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut
merasakan sakit juga, dengan demam dan tidak bisa tidur. [2]

Juga sabda beliau Shallallahu alaihi wa sallam :

Orang-orang yang saling sayang-menyayangi akan dikasihi oleh Allah


Yang Maha Pengasih, Maha Perkasa lagi Mahatinggi, maka sayangilah
orang yang ada di muka bumi, niscaya kalian disayangi oleh Allah yang
ada di langit.[3]

10. Islam adalah agama kesungguhan, keseriusan dan amal.


Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:



:
:



.

Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin
yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah
dalam menuntut sesuatu yang bermanfaat bagimu dan mohonlah per-
tolongan kepada Allah (dalam segala urusanmu) serta janganlah sekali-kali
engkau merasa lemah. Apabila engkau tertimpa musibah, janganlah
engkau berkata, Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini
dan begitu, tetapi katakanlah, Ini telah ditakdir-kan Allah, dan Allah
berbuat apa yang Dia kehendaki, karena ucapan seandainya akan
membuka (pintu) per-buatan syaitan. [4]

11. Islam adalah agama yang sangat jauh dari kontradiksi.


Allah Azza wa Jalla berfirman:

25
Maka apakah mereka tidak menghayati (mendalami) Al-Qur-an? Kalau
kiranya (Al-Qur-an) itu bukan dari sisi Allah, pastilah mereka menemukan
pertentangan yang banyak di dalamnya. [An-Nisaa: 82]

12. Islam itu sangat jelas dan sangat mudah, tidak sulit, dan Islam mudah
difahami oleh setiap orang.

13. Islam mengajak kepada akhlak mulia dan amal shalih.


Allah Azza wa Jalla berfirman:

Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang maruf serta


berpalinglah dari orang-orang bodoh. [Al-Araaf: 199]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman:

Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang
yang antaramu dan antara dia ada per-musuhan seolah-olah menjadi teman
yang sangat setia. [Fushshilat: 34]

14. Islam memelihara kesehatan. Banyak sekali dalil dari Al-Qur-an dan
As-Sunnah tentang pemeliharaan kesehatan.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

Dan makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. [Al-Araaf: 31]

Para ulama mengatakan, Sederhana dalam makan dan minum merupakan


faktor utama terpeliharanya kesehatan.

Di antara isyarat pemeliharaan kesehatan, Islam mengharamkan makanan


yang berbahaya bila dikonsumsi oleh manusia.

26
Allah Azza wa Jalla berfirman:

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah,


daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain
Allah [Al-Ba-qarah: 173]

Allah berfirman tentang khamr (minuman keras):

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr,


berjudi, (berkorban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak
panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah
(perbuatan-perbuatan itu) agar kamu mendapat keberuntungan. [Al-Maa-
idah: 90]

Khamr diharamkan karena di antara bahayanya adalah merusak akal,


melemahkan jantung, merusak hati dan ber-bagai penyakit lainnya.

Allah Azza wa Jalla berfirman tentang madu yang berkhasiat


menyembuhkan penyakit:

Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan lalu tempuhlah


jalan Rabb-mu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu
keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya
terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada
yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi
orang-orang yang berfikir. [An-Nahl: 69]

27
15. Islam seiring dengan penemuan ilmiah. Oleh karena itu tidak mungkin
penemuan ilmiah yang benar ber-tentangan dengan nash-nash syariat
Islam yang jelas.

2.1.4 Islam Agama Tauhid

Islam disebut juga sebagai agama tauhid atau monotheisme karena


Islam datang ke dunia ini membawa agama hanif atau agama yang lurus.
Yaitu, agama yang memegang teguh akan prinsip tauhid. Tauhid adalah
mengesakan Allah dan menyembah hanya kepada satu Tuhan, yaitu Allah
SWT. Itulah yang disebut juga dengan monotheisme. Mono artinya satu,
dan theisme artinya Tuhan.

Oleh karena itu, agama Islam sangat menentang keras dan melarang
segala bentuk penyembahan kepada tuhan selain Allah SWT. Prinsip dan
kalimat tauhid yang biasa kita ucapkan sehari-hari adalah: laa ilaaha
illallaah. Artinya: tidak ada tuhan yang pantas disembah dan sebagai
tempat menggantungkan diri selain daripada Allah.

2.1.5 Islam Agama Para Nabi

Islam yang artinya penyerahan ibadah hanya kepada Alloh, adalah


agama para Nabi. Agama mereka satu, yaitu islam. Berkata Nabi Ibrahim
'Alaihissalam yang dimuat dalam Surat Al-Baqoroh : 131,


Aku ber-Islam, menyerahkan diriku kepada Robbul 'Alamiin
Beliau dan juga Nabi Ya'qub berwasiat kepada anak-anaknya yang termuat
dalam Surat Al-Baqoroh : 132





Wahai anak-anakku, sesungguhnya Alloh Subhanahu Wa Ta'ala telah
memilih agama bagi kalian. Maka janganlah kalian meninggal dunia
kecuali dalam keadaan sebagai orang islam.
Berkata murid-murid Nabi Isa 'Alaihissalam kepada beliau, yang
diabadikan dalam Surat Ali Imron : 52

28


Dan saksikanlah bahwasanya kami adalah orang-orang islam
Nabi Musa 'Alaihissalam, beliau pernah berkata kepada kaumnya, tertulis
dalam Surat Yunus : 84


Maka hendaklah kalian hanya bertawakkal kepada Alloh, kalau kalian
benar-benar orang islam.
Di dalam suratnya, Nabi Sulaiman 'Alaihissalam berkata kepada Ratu
Balqis dan juga para pengikutnya, yang dimuat dalam An-Naml : 31



Hendaklah kalian jangan sombong kepadaku dan datanglah kalian datang
kepadaku dalam keadaan sebagai orang islam
Inilah agama para Nabi dan para pengikut mereka dan Alloh Subhanahu
Wa Ta'ala tidak menerima kecuali agama islam.



Sesungguhnya agama yang benar di sisi Alloh adalah agama islam (QS.
Ali-Imran :19).



Dan barang siapa yang mencari selain agama islam, maka tidak akan
diterima darinya dan dia di akhirat akan termasuk orang-orang yang
merugi (QS. Ali-Imran :85).
Rosululloh Sholallohu 'Alaihi Wasallam bersabda dalam hadits shahih,




Para Nabi adalah saudara sebapak, ibu-ibu mereka adalah berbeda dan
agama mereka satu (HR. Bukhori dan Muslim)

2.1.6 Islam Agama Universal

Islam merupakan agama universal, ajarannya mencakup seluruh aspek


kehidupan umat manusia yang berlaku di setiap tempat dan masa. Islam
merupakan agama yang memiliki keseimbangan orientasi hidup, yaitu
kehidupan dunia dan akhirat. Penamaan Islam sebagai agama, langsung
diberikan oleh Allah melalui wahyu-NYA (Al-Quran). Sementara itu,
pemberian nama agama lain yang berkembang di dunia senantiasa

29
diidentifikasikan kepada orang atau tokoh yang membawa ajaran tersebut,
atau daerah tempat agama itu lahir.

Universalisme Islam terintegritas dan terkodifikasi dalam akidah,


syariah, dan akhlak. Antara satu dan yang lainnya terdapat nisbat atau
hubungan yang saling berkaitan dan kesemuanya berfokus dan menuju
pada keesaan Allah atau bertauhid. Ajaran tauhid inilah yang menjadi inti,
awal, dan akhir dari seluruh ajaran Islam.

Islam itu sendiri, secara totalitas, merupakan suatu keyakinan bahwa


nilai-nilai ajarannya adalah benar dan bersifat mutlak karena bersumber
dari Yang Mahamutlak. Dengan demikian, segala yang diperintahkan dan
diizinkan-Nya adalah suatu kebenaran, sedangkan segala sesuatu yang
dilarang-Nya adalah kebatilan.

2.2 Islam Agama Damai

Islam adalah agama damai, agama penuh toleransi, agama yang


menjunjung tinggi nilai kemanusiaan serta menentang pengkrusakan atau
pembunuhan, baik dilakukan secara massif atau terhadap individu.

Ada 5 hak asasi manusia yang sangat dihormati dan dipelihara oleh
agama Islam, yaitu Agama, Nyawa, Harta, Nasab dan Kehormatan.

Siapun yang melakukan pelecehan dan tindak kejahatan terhadap


kelima hak asasi manusia tersebut tidak bisa diterima, dan Islam
memberikan hukuman yang sangat berat terhadap pelakunya.

Allah swt. berfirman:

Barang siapa membunuh seorang manusia bukan karena orang itu


membunuh orang lain (bukan karena qishash), atau bukan karena
membuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan ia membunuh manusia
seluruhnya; dan barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia,

30
maka seakan-akan ia telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya.
Al-Maidah: 32

Islam melarang menggunakan segala cara untuk meraih tujuan.


Dalam suasana kecamuk perang sekali pun, Islam memberikan rambu-
rambu dan etika berperang: tidak boleh membunuh orang yang telah
menyerah, tidak boleh membunuh wanita, orang tua, anak kecil, tidak
boleh merusak tanaman, atau tempat ibadah. Tawanan perang dalam Islam
juga dijaga dan diperlakukan secara manusiawi.

Oleh karena itu, setiap tindak kekerasan, pembunuhan atau


pemboman, maka tindakan itu tidak bisa ditolelir, tidak bisa diterima,
siapapun pelakunya, apapun agamanya. Dan Islam berlepas diri dari
tindakan tersebut.

2.2.1 Bagaimana Bergaul Sesama Islam

Seorang mukmin dalam menjalankan kehidupannya tidak hanya


menjalin hubungan dengan Allah semata (habluuminallah), akan tetapi
menjalin hubungan juga dengan manusia (habluuminannas). Saling kasih
sayang dan saling menghargai haruslah diutamakan, supaya terjalin
hubungan yang harmonis. Rasulullah saw bersabda: Tidak dikatakan
beriman salah seorang di antaramu, sehingga kamu menyayangi
saudaramu, sebagaimana kamu - menyayangi dirimu sendini. (HR.
Bukhari Miisllm)
Perbedaan bangsa, suku, bahasa, adat, dan kebiasaan menjadi satu
paket ketika Allah menciptakan manusia, sehingga manusia dapat saling
mengenal satu sama lainnya. Sekali lagi . tak ada yang dapat membedakan
kecuali ketakwaannya.
Untuk itu, ada beberapa hal yang perlu kita tumbuh kembangkan agar
pergaulan kita dengan sesama muslim menjadi sesuatu yang indah
sehingga mewujudkan ukhuwah islamiyah. Tiga kunci utama untuk

31
mewujudkannya yaitu taaruf, tafahum, dan taawun. Inilah tiga kunci
utama yang harus kita lakukan dalam pergaulan.



Taaruf.
Apa jadinya ketika seseorang tidak mengenal orang lain?
Mungkinkah mereka akan saling menyapa? Mungkinkah mereka akan
saling menolong, membantu, atau memperhatikan? Atau mungkinkah
ukhuwah islamiyah akan dapat terwujud?
Begitulah, ternyata taaruf atau saling mengenal menjadi suatu
yang wajib ketika kita akan melangkah keluar untuk bersosialisasi dengan
orang lain. Dengan taaruf kita dapat membedakan sifat, kesukuan, agama,
kegemaran, karakter, dan semua ciri khas pada diri seseorang.
Tafahum.
Memahami, merupakan langkah kedua yang harus kita lakukan
ketika kita bergaul dengan orang lain. Setelah kita mengenal seseorang
pastikan kita tahu juga semua yang ia sukai dan yang ia benci. Inilah
bagian terpenting dalam pergaulan.
Dengan memahami kita dapat memilah dan memilih siapa yang
harus menjadi teman bergaul kita dan siapa yang harus kita jauhi, karena
mungkin sifatnya jahat. Sebab, agama kita akan sangat ditentukan oleh
agama teman dekat kita. Masih ingat ,Bergaul dengan orang shalih ibarat
bergaul dengan penjual minyak wangi, yang selalu memberi aroma yang
harum setiap kita bersama dengannya. Sedang bergaul dengan yang jahat
ibarat bergaul dengan tukang pandai besi yang akan memberikan bau asap
besi ketika kita bersamanya.
Tak dapat dipungkiri, ketika kita bergaul bersama dengan orang-
orang shalih akan banyak sedikit membawa kita menuju kepada kesalihan.
Dan begitu juga sebaliknya, ketika kita bergaul dengan orang yang

32
akhlaknya buruk, pasti akan membawa kepada keburukan perilaku (
akhlakul majmumah ).
Taawun.
Setelah mengenal dan memahami, rasanya ada yang kurang jika
belum tumbuh sikap taawun (saling menolong). Karena inilah
sesungguhnya yang akan menumbuhkan rasa cinta pada diri seseorang
kepada kita. Bahkan Islam sangat menganjurkan kepada ummatnya untuk
saling menolong dalam kebaikan dan takwa. Rasullullah SAW telah
mengatakan bahwa bukan termasuk umatnya orang yang tidak peduli
dengan urusan umat Islam yang lain.

Taaruf, tafahum , dan taawun telah menjadi bagian penting yang


harus kita lakukan. Tapi, semua itu tidak akan ada artinya jika dasarnya
bukan ikhlas karena Allah. Ikhlas harus menjadi sesuatu yang utama,
termasuk ketika kita mengenal, memahami, dan saling menolong. Selain
itu, tumbuhkan rasa cinta dan benci karena Allah. Karena cinta dan benci
karena Allah akan mendatangkan keridhaan Allah dan seluruh
makhluknya.
2.2.2 Bagaimana Bergaul Dengan Non-Muslim

Manusia sebagai makhluk sosial, tidak akan pernah lepas dari


kebutuhan mereka untuk bersosialisasi dengan manusia lainnya. Islam
tidak melarang umatnya bergaul dengan kaum non muslim.Hanya saja,
dalam pergaulan Islam telah memberikan adab-adabnya baik dengan
sesama muslim dan adab dengan non muslim. Untuk kali ini, akan Mia
bahas tata cara pergaulan dg non muslim, sesuai dengan pertanyaan yang
diajukan.
1. Dibolehkan melakukan kerjasama dlm hal hablum minannas (antar
manusia dg manusia) spt perdagangan, pendidikan umum, pekerjaan,
memberantas kebatilan, menolong orang yang dizhalimi, memberantas
segala bahaya terhadap kemanusiaan, menjaga keamanan lingkungan,
memperoleh barang bukti dan memberantas penyakit-penyakit menular,

33
dan lain-lainnya. Tapi tdk boleh kerjasama dlm hal agama. spt ikut
perayaan suatu agama, atau melakukan ibadah bersama. Ibadah bersama
yang tidak dibolehkan ini tentu saja dlm konteks ibadah manusia ke tuhan
spt sholat atau misa. Tapi ibadah antar manusia spt saling memberikan
hadiah/sedekah, senyum, mengucapkan salam, berbuat baik dll
dibolehkan.

Makanya dlm ibadah yang menyangkut perayaan hari besar agama ttu, ada
ulama berpendapat, tdk boleh mengucapkan selamat kpd non muslim saat
perayaan agamanya. Tapi kalau untuk perayaan umum seperti kelahiran,
naik jabatan, ulang tahun dan hal2 umum lainnya maka dibolehkan. Krn,
perayaan agama spt hari besar agama lain, itu udah dlm ranah aqidah. Tapi
ada ulama lain yang berpendapat, boleh mengucapkan selamat tetapi tdk
boleh mengikuti perayaannya. Toleransi ummat islam utk non islam yg
sdg merayakan hari besarnya adalah dg tdk mengganggu, menghalang2i
dan tdk ikut campur dlm perayaan tsb.

Ini didasarkan surat al-kafirun:


1. Qul yaa ayyuhal kaafiruun.
Katakanlah: Hai orang-orang kafir,
2. Laa a'budu maa ta'buduun.
aku tidak menyembah apa yang kamu sembah.
3. Wa laa antum 'abiduuna maa a'bud.
Dan kamu tdk pula menyembah apa yang aku sembah,
4. Wa laa ana 'aabidum maa 'abattum.
dan aku bukan menyembah apa yang kamu sembah,
5. Wa laa antum 'aabiduuna maa a'bud.
Dan kamu tdk pula menyembah apa yang aku sembah
6. Lakum diinukum wa liya diin.
Bagi kamu agama kamu dan bagiku agamaku.

34
Makanya letak toleransi ummat muslim kepada non muslim dalam urusan
agama adalah "Bagimu agamamu, bagiku agamaku".

2. Berlaku adil kepada mereka. Allah mewajibkan ummat muslim


menegakkan keadilan, baik ke sesama muslim maupun ke non muslim
yang berbuat baik. Dan juga berbuat baik dengan bantuan finansial,
memberi makan kepada mereka yang kelaparan, memberi pinjaman bagi
mereka yang membutuhkan, menolong mereka dalam perkara-perkara
yang mubah (boleh), berlemah-lembut dalam tutur kata, membalas ucapan
selamat mereka (yang tidak terkait dengan akidah, seperti selamat belajar,
selamat menikmati hidangan dll)

Hal ini berdasarkan surat Al-Mumtahanah 60.

Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil
terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan
tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang berlaku adil.

Surat Al Maidah ayat 8.

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang


yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi
dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu
kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah,
karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada
Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan.

35
3. Berbuat baik dan berkata baik kpd non muslim, dan jikapun berdebat,
berdebat dg baik, tidak mencaci dan hal2 buruk lainnya

Surat Al Ankabut 46

Janganlah engkau berdebat dengan Ahli Kitab melainkan dengan


cara yang terbaik, kecuali orang-orang yang zhalim di antara
mereka.

Surat An-Nahl: 125.

"Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan


pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih
baik."

4. Seorang muslim tidak boleh bersikap zhalim terhadap non muslim.


Sehingga tidak boleh menganiaya mereka, tidak boleh berkhianat atau
memanipulasi, membunuh atau melakukan perbuatan merusak lainnya,
menakut-nakuti (menteror) mereka, menggertak (mengintimidasi) mereka,
mencuri harta mereka, mencopetnya, tidak boleh bersikap curang terhadap
hak mereka, atau mengkhianati amanah mereka, tidak boleh tidak
membayar upah mereka, membayar kepada mereka harga barang jualan
mereka kalau kita membelinya dari mereka, dan membagi keuntungan
dalam usaha patungan dengan mereka

Asy-Syuraa ayat 15

Maka karena itu serulah (mereka kepada agama itu) dan tetaplah
sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa
nafsu mereka dan katakanlah: Aku beriman kepada semua Kitab yang
diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara
kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal

36
kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara
kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nya lah
kembali(kita)

5. Tidak boleh memerangi atau mendzalimi (menyakiti) non muslim yang


tdk memerangi islam atau ummat muslim. Org muslim di larang
memerangi non muslim terlebih dahulu, hanya boleh membalas jika
keselamatan mereka terancam atau diusir dr negerinya atau perang karena
membela diri.

Surat Al-Hajj ayat 39-40.

"Telah diijinkan berperang bagi orang orang yang diperangi, karena


mereka telah di aniaya, dan sesungguhnya Allah, benar benar Maha
Kuasa menolong mereka. (Yaitu) orang orang yang telah diusir dari
kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, tak lain karena
perkataan mereka, Tuhan kami hanyalah Allah'

Surat Al-Baqarah 190

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu,


(tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas

jika mereka yg awalnya memerangi muslim lalu meminta perdamaian,


maka permintaan itu harus dipenuhi. karena Allah tidak menyukai org yg
melampaui batas (yang tidak memberikan kebaikan/perdamaian kepada
yang menginginkan kebaikan/perdamaian tsb).

37
Surat Al Baqarah 92

"Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka


sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Surat Al Baqarah 93

".... Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada
permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim."

6. Didalam islam, ucapan salam adalah sebuah doa atau ucapan baik atau
sebagai sutau bentuk penghargaan yang diberikan oleh orang lain terhadap
kita. Jadi, jika ada yang mengucapkan salam yang baik, maka balaslah
pula dengan kebaikan.

"Dan apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka


balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan
yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu."
(QS. An Nisaa' : 86).

Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda, Jika salah seorang dari


Ahlul kitab mengucapkan salam pada kalian, maka balaslah: Wa
alaikum. (Riwayat Bukhari dan Muslim).

7. Tidak boleh memaksakan agama kepada mereka.

Al Baqarah ayat 2

38
"Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah
jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat..."

Al-Kafiruun ayat 6

"Bagi kamu agama kamu dan bagiku agamaku."

8. Selain itu juga tidak boleh memaksakan hukum fiqih islam kepada non
muslim. Kaum muslimin harus meyakini bahwa ada perbedaan antara
muslim dengan non muslim dalam beberapa ketentuan hukum, seperti
warisan, pernikahan, perwalian dalam nikah, memasuki kota Mekkah dan
lain-lain, dan tidak memaksakan hukum fiqih islam untuk kaum non
muslim. Dan untuk menetapkan suatu perkara, dikembalikan kepada
aturanmasingkitab.

Surat Al-Maidah 48

Dan (lalu) Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur'an dengan membawa


kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang
diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu;
maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan
janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan
kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara
kamu , Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah
menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah
hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka
berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali
kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu
perselisihkan itu"

Surat al Hajj 67-69

39
"Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syari'at tertentu yang mereka
lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam
urusan (syari'at) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu.
Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus. Dan jika
mereka membantah kamu, maka katakanlah: "Allah lebih mengetahui
tentang apa yang kamu kerjakan." Allah akan mengadili di antara kamu
pada hari kiamat tentang apa yang kamu dahulu selalu
berselisihpadanya."

Surat Al-Hajj ini juga berlaku untuk sesama kaum muslim yang selalu
berbantah-bantahan terhadap madzhab nya

9. Bagaimana jika salah satu kerabatnya adalah non muslim? Seperti anak
yang mempunyai orangtua yang non muslim atau sebaliknya, atau saudara
yang mempunyai saudara lainnya yang non muslim?

Ibnul Qayyim mengatakan, Allah mencela orang-orang yang


memutuskan tali silaturahim dengan ibunya. Allah justru mewajibkan
untuk menunaikan haknya meskipun ia seorang wanita kafir.

Ini berdasarkan firman Allah dalam surat An Nisa ayat 1dan


(peliharalah) hubungan silaturrahim

Rasulullah bersabda:

Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan tali silaturahim. (HR.
al-Imam Bukhari no. 5984, Kitabul Adab, Muslim no. 2556, Kitab al-
Bir wa ash-Shilah)

40
An-Nisa ayat 36

"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan


sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-
kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan
tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan
membangga-banggakan diri.

2.2.3 Pergaulan Antar Umat Beragama Menurut Islam

Islam Agama Rahmat bagi Seluruh Alam


Kata islam berarti damai, selamat, sejahtera, penyerahan diri, taat dan
patuh. Pengertian tersebut menunjukkan bahwa agama islam adalah agama
yang mengandung ajaran untuk menciptakan kedamaian, keselamatan, dan
kesejahteraan hidup umat manusia pada khususnya dan seluruh alam pada
umumnya. Agama islam adalah agama yang Allah turunkan sejak manusia
pertama, Nabi pertama, yaitu Nabi Adam AS. Agama itu kemudian Allah
turunkan secara berkesinambungan kepada para Nabi dan Rasul-rasul
berikutnya.

Agama islam mempunyai karakter sebagai berikut :

1. Sesuai dengan fitrah manusia. Artinya ajaran agama islam


mengandung petunjuk yang sesuai dengan sifat dasar manusia (
Q.S al-Rum : 3 )
2. Ajarannya sempurna, artinya materi ajaran islam mencakup
petunjuk seluruh aspek kehidupan manusia. ( Q.S Al-Maidah )
3. Kebenaran mutlak. Kemutlakan ajaran islam dikarenakan berasal
dari Allah yang Maha Benar. Di samping itu kebenaran ajaran
islam dapat dibuktikan melalui realita ilmiyah dan ilmu
pengetahuan. ( Q.S Alb-Baqarah: 147 )
4. Mengajarkan keseimbangan dalam berbagai aspek kehidupan.

41
5. Fleksibel dan ringan. Artinya ajaran islam memperhatikan dan
menghargai kondisi masing-masing individu, dan tidak
memaksakan umatnya untuk melakukan perbuatan di luar batas
kemampuannnya.
6. Berlaku secara universal, artinya ajaran islam berlaku untuk seluruh
umat manusia di dunia sampai akhir masa. ( Q.S al- Ahzab:40 )
7. Sesuai dengan akal pikiran dan memotivasi manusia untuk
menggunakan akal pikirannya. ( Q.S al- mujadalah:11 )
8. Inti ajarannya tauhid dan seluruh ajarannya mencerminkan
ketauhidan kepada Allah SWT
Fungsi islam sebagai rahmat bagi sekalian alam tidak tergantung
pada penerimaan atau penilain manusia.

Bentuk-bentuk kerahmatan Allah pada ajaran Islam tersebut adalah:

1. Islam menunjuki manusia jalan hidup yang benar


2. Islam memberikan kebebasan kepada manusia untuk menggunakan
potensi yang diberikan Allah secara bertanggung jawab.
3. Islam menghargai dan menghormati semua manusia sebagai hamba
Allah,baik muslim maupun non muslim.
4. Islam mengatur pemanfaatan alam secara baik dan proporsional.
5. Islam menghormati kondisi spesifik individu dan memberikan
perlakuan yang spesifik pula

2.2.4 Islam Menampilkan Kesejahteraan dan Kedamaian

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran


yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya
Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari
jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat
petunjuk. (QS. An Nahl:125)

Agama Islam yang disebarkan dan diajarkan oleh Nabi Muhammad saw
merupakan agama yang ditujukan demi kesejahteraan dan keselamatan
seluruh umat sekalian alam. Kata Islam sendiri yang berasal dari bahasa
Arab berarti tunduk, patuh, selamat, sejahtera, dan damai. Maka, agama
Islam mengajarkan umatnya untuk selalu menegakkan perdamaian di
dunia sehingga persaudaraan dapat terjalin dengan erat.

42
Sebelum Nabi Muhammad saw diutus oleh Allah swt untuk
mengajarkan agama Islam, sejarah mencatat bahwa kehidupan manusia
pada waktu itu dikenal sebagai masa Jahiliah. Di zaman Jahiliah itu
banyak terjadi kezhaliman seperti pembunuhan, permusuhan, penindasan,
dan lain sebagainya. Namun, setelah Nabi Muhammad saw diutus sebagai
Rasul Allah dan menyampaikan ajaran Islam, bukti bahwa Islam agama
perdamaian terwujud. Pengikut Nabi Muhammad saw berangsur-angsur
banyak, Islam menjadi agama yang menjanjikan keselamatan dan
kesejahteraan. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt, Dan tiadalah Kami
mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.
(QS. Al Anbiya:107)

Islam adalah agama yang memiliki konsep akan penyerahan diri


sepenuhnya kepada Allah swt, Tuhan Yang Maha Esa, dengan panduan Al
Quran dan As Sunnah. Kedamaian dan kesejahteraan umat adalah dasar
utama yang diajarkan dalam Islam. Oleh karena itu, pembunuhan,
permusuhan, dan perpecahan bukanlah ajaran yang berasal dari agama
Islam.

Islam juga mengajarkan bagaimana menghadapi perpecahan dan segala


perselisihan yang bermaksud memecah belah umat. Dalam Al Quran
dijelaskan bahwa sejak zaman Rasul pun Islam selalu mendapat
pertentangan dan serangan dari musuh-musuh Islam. Rasulullah saw
difitnah dan dimusuhi. Namun beliau tetap istiqomah menjalankan syariat
dari Allah swt. Dalam Al Quran menyebutkan, Dan demikianlah Kami
jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaithan-syaithan (dari jenis)
manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada
sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu
(manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak
mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-
adakan. (QS. Al Anam:112)

Begitu pula dalam surat Al Baqarah ayat 120: Orang-orang Yahudi


dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama
mereka. Katakanlah: Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang
sebenarnya). Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka
setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi
pelindung dan penolong bagimu.

Sifat Rasul dalam menyampaikan ajaran Islam di zaman itu bisa


menjadi teladan kita di tengah adanya berbagai fitnah maupun usah
pemecahbelahan umat Islam yang akhir-akhir ini semakin menjadi, baik

43
berupa film, tulisan, buku, dan lain sebagainya. Keimanan kita sebagai
umat Islam sedang diuji oleh Allah swt, di mana kita merasa marah di kala
kesucian Islam diporak-porandakan, sehingga Islam memiliki image yang
buruk di mata dunia. Maka ingatlah kita akan firman Allah dalam surat Ali
Imran ayat 103: Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama)
Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.

Semoga Allah selalu melindungi seluruh umat Islam di dunia, agar


terlepas dari segala macam kezhaliman. Marilah kita selalu bertakwa
kepada Allah swt dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan
meninggalkan segala larangan-Nya. Sesungguhnya orang yang bertakwa
dipandang mulia dan ditinggikan derajatnya oleh Allah swt di dunia dan di
akhirat.

2.3 Kerangka Dasar Agama Islam

2.3.1 Aqidah

Aqidah ( bahasa Arab: ) dalam istilah Islam yang berarti Iman.

Semua sistem kepercayaan atau keyakinan bisa dianggap sebagai salah satu
aqidah.

Menurut etimologinya, aqidah dalam bahasa Arab berasal dari kata al-

aqdu ( ) yang berarti ikatan, at-tautsiiqu ( ) yang berarti

kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-ihkaamu (


) yang artinya
mengokohkan (menetapkan), dan ar-rabthu biquwwah (
) yang
berarti mengikat dengan kuat.

Secara terminologi, aqidah adalah iman yang teguh dan pasti.Aqidah juga
dapat diartikan sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara mudah oleh
manusia berdasarkan akal, wahyu (yang didengar) dan fitrah (Al-Maidah
5:15).



Artinya :

44
Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah SWT dan kitab yang
menerangkannya.

2.3.2 Sikap Tauhid

Tauhid (Arab : )dilihat dari segi Etimologis yaitu berarti Keesaan


Allah, mentauhidkan berarti mengakui keesaan Allah; mengesakan Allah
atau mengiktikadkan bahwa Allah SWT itu Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya.

Tauhid diambil kata : Wahhada Yuwahhidu Tauhidan yang artinya


mengesakan. Satu suku kata dengan kata wahid yang berarti satu atau kata
ahad yang berarti esa. Dalam ajaran Islam Tauhid itu berarti keyakinan akan
keesaan Allah. Kalimat Tauhid ialah kalimat La Illaha Illallah yang berarti
tidak ada Tuhan melainkan Allah. Sebagaimana yang difirmankan Allah
SWT sendiri didalam surat Al-baqarah:163 yang artinya :

Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan
Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Adapun pengertian tauhid menurut para ulama ternama:

1. DR. Abdul Aziz, tauhid adalah mempercayai bahwa Allah SWT


adalah satu-satunya pencipta, pemelihara, penguasa, dan pengatur
Alam Semesta

2. Prof. Dr. M. Yusuf Musa, tauhid adalah keyakinan tentang adanya


Allah Yang Maha Esa, yang tidak ada satu pun yang menyamai-
Nya dalam Zat, Sifat atau perbuatan-perbuatan-Nya

3. Shalih Fauzan bin Abdullah al Fauzan, tauhid adalah mengesakan


Allah SWT dari semua makhluk-Nya dengan penuh penghayatan,

45
dan keikhlasan beribadah kepada-Nya, meninggalkan peribadatan
selain kepada-Nya, serta membenarkan nama-nama-Nya yang
Mulia (asmaul husna), dan sifat-sifat-Nya yang Maha Sempurna,
dan menafikan sifat kurang dan cela dari-Nya

Tauhid bukan sekedar mengenal dan mengerti bahwa pencipta alam


semesta ini Allah, bukan sekedar mengetahui bukti-bukti rasional tentang
kebenaran wujud (keberadaan) Nya, dan wahdaniyah (keesaan) Nya, dan
bukan pula sekedar mengenal Asma dan sifat-Nya. Namun, tauhid adalah
pemurnian ibadah kepada Allah. Maksudnya yaitu, menghambakan diri
hanya kepada Allah secara murni dan konsekwen dengan mentaati segala
perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, dengan penuh rasa rendah
diri, cinta, harap dan takut kepada-Nya.

Untuk inilah sebenarnya manusia diciptakan Allah, dan sesungguhnya misi


para Rasul adalah untuk menegakkan tauhid dalam pengertian di atas, mulai
dari Rasul pertama sampai Rasul terakhir Nabi Muhammad SAW.

Tauhid dibagi menjadi 3 macam, yakni tauhid rububiyah, uluhiyah dan Asma
wa Sifat.

1. Tauhid Rububiyah

Yang dimaksud dengan tauhid rububiyah (keesaan zat Allah) adalah


bahwa Allah Esa dalam Zat-Nya. Allah adalah wujud yang tidak bergantung
pada apa dan siapa pun dalam bentuk apapun. Dalam bahasa Al-Quran,
Allah adalah Ghani (absolute). Segala sesuatu bergantung pada-Nya dan
membutuhkan pertolongan-Nya. Allah tidak membutuhkan segala sesuatu.
Allah berfirman:

Hai manusia, kamulah yang mebutuhkan Allah. Dan Allah, Dialah Yang
Maha Kaya (tidak membutuhkan apa pun) lagi Maha Terpuji. (QS. Fathir:
15)

46
Maksudnya adalah kita meyakini keesaan Allah dalam perbuatan-
perbuatan yang hanya dapat dilakukan oleh Allah, seperti mencipta dan
mengatur seluruh alam semesta beserta isinya, memberi rezeki, memberikan
manfaat, menolak mudharat dan lainnya yang merupakan kekhususan bagi
Alloh.

Namun pengakuan seseorang terhadap Tauhid Rububiyah ini tidaklah


menjadikan seseorang beragama Islam karena sesungguhnya orang-orang
musyrikin Quraisy yang diperangi Rosululloh mengakui dan meyakini jenis
tauhid ini. Sebagaimana firman Allah,

Katakanlah: Siapakah Yang memiliki langit yang tujuh dan Yang


memiliki Arsy yang besar? Mereka akan menjawab: Kepunyaan Allah.
Katakanlah: Maka apakah kamu tidak bertakwa? Katakanlah: Siapakah
yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia
melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari -Nya, jika kamu
mengetahui? Mereka akan menjawab: Kepunyaan Allah. Katakanlah:
Maka dari jalan manakah kamu ditipu? (Al-Muminun: 86-89).

2. Tauhid Uluhiyah

Tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah adalah mengiktikadkan bahwa hanya


Allah saja yang berhak dipuja dan dipuji. Memuja dan memuji selain Allah
serta sikap ingin dipuji maupun dipuja, baik yang terang-terangan maupun
yang sembunyi-sembunyi (dalam hati) adalah perbuatan syirik. Sebagaimana
firman Allah dalam suratnya,

Hanya kepada Engkau-lah kami beribadah dan hanya kepada Engkau


kami mohon pertolongan. (Al-Fatihah, 1:5)

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah membimbing Ibnu Abbas


radhiallahu anhu dengan sabda beliau: Dan apabila kamu minta maka

47
mintalah kepada Allah dan apabila kamu minta tolong maka minta tolonglah
kepada Allah. (HR. Tirmidzi)

Dan sembahlah Allah dan jangan kalian menyekutukan-Nya dengan


sesuatu apapun (QS. An Nisa: 36)

Hai sekalian manusia sembahlah Rabb kalian yang telah menciptakan


kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi orang-orang
yang bertaqwa. (QS. Al Baqarah: 21)

2.3.3 Aspek Keimanan

Kedudukan Iman

Kedudukan Iman lebih tinggi dari pada Islam, Iman memiliki


cakupan yang lebih umum dari pada cakupan Islam, karena ia mencakup
Islam, maka seorang hamba tidaklah mencapai keImanan kecuali jika
seorang hamba telah mamapu mewujudka keislamannya. Iman juga lebih
khusus dipandang dari segi pelakunya, karena pelaku keimanan adalah
kelompok dari pelaku keIslaman dan tidak semua pelaku keIslaman
menjadi pelaku keImanan, jelaslah setiap mukmin adalah muslim dan
tidak setiap muslim adalah mukmin.

Hakikat iman

Iman adalah keyakinan yang menghujam dalam hati, kokoh penuh


keyakinan tanpa dicampuri keraguan sedikitpun. Sedangkan keimanan
dalam Islam itu sendiri adalah percaya kepada Alloh, malaikat-
malaikatNya, kitab-kitabNya, Rosul-rosulNya, hari akhir dan berIman
kepada takdir baik dan buruk. Iman mencakup perbuatan, ucapan hati dan
lisan, amal hati dan amal lisan serta amal anggota tubuh. Iman bertambah
dengan ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan.

48
Keimanan tidak terpisah dari amal, karena amal merupakan buah
keImanan dan salah satu indikasi yang terlihat oleh manusia. Karena itu
Alloh menyebut Iman dan amal soleh secara beriringan
dalam Quran surat Al Anfal ayat 2-4 yang artinya:

Allah Subhannahu wa Taala berfirman: Sesungguhnya orang-


orang yang beriman itu adalah mereka yang jika disebut nama Allah
gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-
ayatNya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah
mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang
menafkahkan sebagian dari rizki yang kami berikan kepada me-reka.
Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benar-nya. (Al-Anfal:
2-4)

Keimanan memiliki satu ciri yang sangat khas, yaitu dinamis.


Yang mayoritas ulama memandang keImanan beriringan dengan amal
soleh, sehinga mereka menganggap keImanan akan bertambah dengan
bertambahnya amal soleh. Akan tetapi ada sebagaian ulama yang melihat
Iman berdasarkan sudut pandang bahwa ia merupakan aqidah yang tidak
menerima pemilahan (dikotomi). Maka seseorang hanya memiliki dua
kemungkinan saja: mukmin atau kafir, tidak ada kedudukan lain diantara
keduanya. Karena itu mereka berpendapat Iman tidak bertambah dan tidak
berkurang.

Iman adakalanya bertambah dan adakalanya berkurang, maka perlu


diketahui kriteria bertambahnya Iman hingga sempurnanya Iman, yaitu:

1) Diyakini dalam hati

2) Diucapkan dengan lisan

3) Diamalkan dengan anggota tubuh.

49
Sedangkan dalam Islam sendiri jika membahas mengenai Iman
tidak akan terlepas dari adanya rukun Iman yang enam, yaitu:

1) Iman kepada Alloh

2) Iman kepada malaikatNya

3) Iman kepada kitabNya

4) Iman kepada rosulNya

5) Iman kepada Qodho dan Qodar

6) Iman kepada hari akhir

2.3.4 Syariah

Pengertian Syariah Islam

Syariah adalah ketentuan-ketentuan agama yang merupakan pegangan


bagi manusia di dalam hidupnya untuk meningkatkan kwalitas hidupnya
dalam rangka mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Syariah Islam
adalah tata cara pengaturan tentang perilaku hidup manusia untuk
mencapai keridhoan Allah SWT yang dirumuskan dalam Al-Quran, yaitu
:

1. Surat Asy-Syura ayat 13

Artinya : Dia telah mensyariahkan bagi kamu tentang agama yang


telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah
kamu wahyukan kepadamu dan apa yang telah kami
wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu :
Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah
entangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama

50
yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada
agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi
petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-
Nya). (Quran surat Asy-Syura ayat 13).

2. Surat Asy-Syura ayat 21

Artinya : Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain


Allah yang mensyariahkan untuk mereka agama yang tidak
diijinkan Allah ? sekiranya tak ada ketetapan yang
menentukan (dari Allah tentukanlah mereka dibinasakan.
Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan
memperoleh azab yang pedih. (Quran Surat Asy-Syura
Ayat : 21).

3. Surat Al-Jatsiyah ayat 18

Artinya : Kemudian kami jadikan kamu berada di atas syariah


(peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariah
itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang
tidak mengetahui.(Quran Surat Al-Jatsiyah ayat : 18)

Adapun pengertian syariah secara etimologis kata Syariah berakar


kata syaraa yang berarti sesuatu yang dibuka secara lebar kepadanya.
Dari sinilah terbentuk kata syariah yang berarti sumber air minum.
Kata ini kemudian dikonotasikan oleh bangsa Arab dengan jalan yang
lurus yang harus diikuti. Secara terminologis, Muhammad Ali al-Sayis
mengartikan syariah dengan jalan yang lurus. Kemudian pengertian ini
dijabarkan menjadi: Hukum Syara mengenai perbuatan manusia yang
dihasilkan dari dalil-dalil terperinci. Syekh Mahmud Syaltut mengartikan
syariah sebagai hukum- hukum dan tata aturan yang disyariahkan oleh
Allah bagi hamba-Nya untuk diikuti.

51
Tujuan Syariah Islam

Tujuan dari syariah adalah untuk kebaikan dan kemaslahatan kehidupan


kita. Paling tidak ada 8 tujuan .

1. Memelihara Kemaslahatan Agama (hifzh al-din)

Agama Islam harus dibela dari ancaman orang-orang yang tidak


bertanggung-jawab yang hendak merusak aqidah, ibadah dan akhlak
umat. Ajaran Islam memberikan kebebasan untuk memilih agama,
seperti ayat Al-Quran: Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama
(Islam).. QS. Al-Baqarah:256.

2. Memelihara Jiwa (hifzh al-nafsi)

Agama Islam sangat menghargai jiwa seseorang. Oleh sebab itu,


diberlakukanlah hukum Qishash yang merupakan suatu bentuk hukum
pembalasan. Seseorang yang telah membunuh orang lain akan
dibunuh, seseorang yang telah mencederai orang lain, akan dicederai,
seseorang yang yang telah menyakiti orang lain, akan disakiti secara
setimpal. Dengan demikian seseorang akan takut melakukan kejahatan.

3. Memelihara Akal (hifzh al-aqli)

Kedudukan akal manusia dalam pandangan Islam amatlah penting.


Akal manusia dibutuhkan untuk memikirkan ayat-ayat Qauliyah (Al-
Quran) dan kauniah (sunnatullah) menuju manusia kamil. Salah satu
cara yang paling utama dalam memelihara akal adalah dengan
menghindari khamar (minuman keras) dan judi.

4. Memelihara Keturunan dan Kehormatan (hifzh al-nashli)

52
Islam secara jelas mengatur pernikahan, dan mengharamkan zina.
Didalam Syariah Islam telah jelas ditentukan siapa-siapa yang boleh
dinikai, dan siapa yang tidak boleh di nikahi. Syariah Islam akan
menghukum dengan tegas secara fisik (dengan cambuk) dan emosional
(dengan disaksikan banyak orang) agar para pezina bertaubat.

5. Memelihara Harta Benda (hifzh al-mal)

Dengan adanya Syariah Islam, maka para pemilik harta benda akan
merasa lebih aman, karena Islam mengenal hukuman Had, yaitu
potong tangan dan/atau kaki. Dengan demikian Syariah Islam akan
menjadi andalan dalam menjaga suasana tertib masyarakat terhadap
berbagai tindak pencurian.

6. Melindungi kehormatan seseorang

Termasuk melindungi nama baik seseorang dan lain sebagainya,


sehingga setiap orang berhak dilindungi kehormatannya di mata orang
lain dari upaya pihak-pihak lain melemparkan fitnah, misalnya.
Kecuali kalau mereka sendiri melakukan kejahatan. Karena itu betapa
luarbiasa Islam menetapkan hukuman yang keras dalam bentuk
cambuk atau Dera delapan puluh kali bagi seorang yang tidak
mampu membuktikan kebenaran tuduhan zinanya kepada orang lain.

7. Melindungi rasa aman seseorang

Dalam kehidupan bermasyarakat, seseorang harus aman dari rasa


lapar dan takut. Sehingga seorang pemimpin dalam Islam harus bisa
menciptakan lingkungan yang kondusif agar masyarakat yang di
bawah kepemimpinannya itu tidak mengalami kelaparan dan
ketakutan

8. Melindugi kehidupan bermasyarakat dan bernegara

53
Islam menetapkan hukuman yang keras bagi mereka yang mencoba
melakukan kudeta terhadap pemerintahan yang sah yang dipilih oleh
ummat Islam dengan cara yang Islami.
Bagi mereka yang tergolong Bughot ini, dihukum mati, digantung atau
dipotong secara bersilang supaya keamanan negara terjamin.

Ruang Lingkup Syariah

Ruang lingkup syariah antara lain mencakup peraturan-peraturan


sebagai berikut :

1. Ibadah, yaitu peraturan-peraturan yang mengatur hubungan langsung


dengan Allah SWT (ritual), yang terdiri dari :

a. Rukun Islam : mengucapkan syahadat, mengerjakan shalat,


zakat, puasa, dan haji.

b. Ibadah lainnya yang berhubungan dengan rukun Islam.

2. Badani (bersifat fisik) : bersuci meliputi wudlu, mandi, tayamum,


pengaturan menghilangkan najis, peraturan air, istinja, adzan, qomat,
Itikaf, doa, sholawat, umroh, tasbih, istighfar, khitan, pengurusan mayit,
dan lain-lain.

3. Mali (bersifat harta) : qurban, aqiqah, alhadyu, sidqah, wakaf, fidyah,


hibbah, dan lain-lain.

4. Muamalah, yaitu peraturan yang mengatur hubungan seseorang dengan


yang lainnya dalam hal tukar-menukar harta (jual beli dan yang searti),
diantaranya : dagang, pinjam-meminjam, sewa-menyewa, kerja sama
dagang, simpanan, penemuan, pengupahan, rampasan perang, utang-
piutang, pungutan, warisan, wasiat, nafkah, titipan, jizah, pesanan, dan
lain-lain.

54
5. Munakahat, yaitu peraturan yang mengatur hubungan seseorang dengan
orang lain dalam hubungan berkeluarga (nikah, dan yang berhubungan
dengannya), diantaranya : perkawinan, perceraian, pengaturan nafkah,
penyusunan, memelihara anak, pergaulan suami istri, mas kawin,
berkabung dari suami yang wafat, meminang, khulu, liam dzilar, ilam
walimah, wasiyat, dan lain-lain.

6. Jinayat, yaitu peraturan yang menyangkut pidana, diantaranya :


qishsash, diyat, kifarat, pembunuhan, zinah, minuman keras, murtad,
khianat dalam perjuangan, kesaksian dan lain-lain.

7. Siyasa, yaitu yang menyangkut masalah-masalah kemasyarakatan


(politik), diantaranya : ukhuwa (persaudaraan) musyawarah (persamaan),
adalah (keadilan), taawun (tolong menolong), tasamu (toleransi),
takafulul ijtimah (tanggung jawab sosial), ziamah (kepemimpinan)
pemerintahan dan lain-lain.

8. Akhlak, yaitu yang mengatur sikap hidup pribadi, diantaranya : syukur,


sabar, tawadlu, (rendah hati), pemaaf, tawakal, istiqomah (konsekwen),
syajaah (berani), birrul walidain (berbuat baik pada ayah ibu), dan lain-
lain.

7. Peraturan-peraturan lainnya seperti : makanan, minuman, sembelihan,


berburu, nazar, pemberantasan kemiskinan, pemeliharaan anak yatim,
mesjid, dawah, perang, dan lain-lain.

Sumber Sumber dan Klasifikasi Syariah

Sumber-sumber syariah ialah:

1. Al-Quran, kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad


SAW, dan merupakan Undang-Undang yang sebagian besar berisi
hukum-hukum pokok.

55
2. Al-Hadist (As-Sunnah), sumber hukum kedua yang memberikan
penjelasan dan rincian terhadap hukum-hukum Al-Quran yang
bersifat umum.

3. Rayu (Ijtihad), upaya para ahli mengkaji Al-Quran dan As-


Sunnah untuk menetapkan hukum yang belum ditetapkan secara
pasti dalam Al-Quran dan As-Sunnah.

Syariah dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

1. Wajib (Ijab), yaitu suatu ketentuan yang menurut pelaksanaannya,


apabila dikerjakan mendapat pahala, dan apabila ditinggalkan
mendapat dosa.

2. Haram, yaitu suatu ketentuan apabila ditinggalkan mendapat


pahala dan apabila dikerjakan mendapat dosa. Contohnya : zinah,
mencuri, membunuh, minum-minuman keras, durhaka pada orang
tua, dan lain-lain.

3. Sunnah (Mustahab), yaitu suatu ketentuan apabila dikerjakan


mendapat pahala dan apabila ditinggalkan tidak berdosa. .......

4. Makruh (Karahah), yaitu suatu ketentuan yang menganjurkan


untuk ditinggalkannya suatu perbuatan; apabila ditinggalkan
mendapat pahala dan apabila dikerjakan tidak berdosa. Contohnya
: merokok, makan bau-bauan, dan lain-lain.

Prinsip-prinsip Syariah Islam

1. Tidak Mempersulit (Adam al-Haraj)

Dalam menetapkan syariah Islam, al-Quran senantiasa


memperhitungkan kemampuan manusia dalam melaksanaknnya. Itu
diwujudkan dengan mamberikan kemudahan dan kelonggaran
(tasamuh wa rukhsah) kepada mansusia, agar menerima ketetapan
hukum dengan kesanggupan yang dimiliknya.

56
2. Mengurangi Beban (Taqlil al-Taklif)

Prinsip kedua ini merupakan langkah prenventif (penanggulangan)


terhadap mukallaf dari pengurangan atau penambahan dalam
kewajiban agama. Al-Quran tidak memberikan hukum kepada
mukallaf agar ia menambahi atau menguranginya, meskipun hal itu
mungkin dianggap wajar menurut kacamata sosial. Hal ini guna
memperingan dan menjaga nilai-nilai kemaslahatan manusia pada
umumnya, agar tercipta suatu pelaksanaan hukum tanpa dasari
parasaan terbebani yang berujung pada kesulitan. Umat manusia tidak
diperintahkan untuk mencari-cari sesuatu yang justru akan
memperberat diri sendiri.

3. Penetapan Hukum secara Periodik

Al-quran merupakan kitab suci yang dalam prosesi tasri sangat


memperhatikan berbagai aspek, baik natural, spiritual, kultural,
maupun sosial umat. Dalam menetapkan hukum, al-Quran selalu
mempertimbangkan, apakah mental spiritual manusia telah siap untuk
menerima ketentuan yang akan dibebankan kepadanya?. Hal ini terkait
erat dengan prinsip kedua, yakni tidak memberatkan umat. Karena
itulah, hukum syariah dalam al-Quran tidak diturunkan secara serta
merta dengan format yang final, melainkan secara bertahap, dengan
maksud agar umat tidak merasa terkejut dengan syariah yang tiba-tiba.
Karenanya, wahyu al-Quran senantiasa turun sesuai dengan kondisi
dan realita yang terjadi pada waktu itu.

Untuk lebih jelasnya, berikut ini akan kami kemukakan tiga periode
tasryi al-Quran:

a. Mendiamkan, yakni ketika al-Quran hendak melarang


sesuatu, maka sebelumnya tidak menetapkan hukum apa-apa tapi
memberikan contoh yang sebaliknya.

57
b. Menyinggung manfaat ataupun madlaratnya secara global.
Dalam contoh khamr di atas, sebagai langkah kedua, turun ayat
yang menerangkan tentang manfaat dan madlarat minum khamr.
Dalam ayat tersebut, Allah menunjukkan bahwa efek sampingnya
lebih besar daripada kemanfaatannya (QS. Al-Baqarah: 219) yang
kemudian segera disusul dengan menyinggung efek khamr bagi
pelaksanaan ibadah (al-Nisa: 43)

c. Menetapkan hukum tegas. Kewajiban shalat misalnya. Tahap


pertama terjadi permulaan Islam (di Mekah), di saat umat Islam
banyak menuai siksaan dan penindasan dari penduduk Mekah,
kewajiban shalat hanya dua rakaat, yaitu pada pagi dan sore. Itu
pun dilakukan secara sembunyi-sembunyi, kahawatir terjadi
penghinaan yang semakin menjadi-jadi dari suku Qurasy.

4. Sejalan dengan Kemaslahatan Universal

Islam bukan hanya doktrin belaka yang identik dengan


pembebanan, tetapi juga ajaran yang bertujuan untuk menyejahterakan
manusia. Karenanya, segala sesuatu yang ada di mayapada ini
merupakan fasilitas yang berguna bagi manusia dalam memenuhi
kebutuhannya.

5. Persamaan dan Keadilan (al-Musawah wa al-Adalah)

Persamaan hak di muka adalah salah satu prinsip utama syariah


Islam, baik yang berkaitan dengan ibadah atau muamalah. Persamaan
hak tersebut tidak hanya berlaku bagi umat Islam, tatpi juga bagi
seluruh agama. Mereka diberi hak untuk memutuskan hukum sesuai
dengan ajaran masing-masing, kecuali kalau mereka dengan sukarela
meminta keputusan hukum sesuai hukum Islam.

58
2.3.5 Akhlak

Pengertian Akhlak

Kata akhlak berasal dari bahasa arab yaitu Al-Khulk yang berarti
tabeat, perangai, tingkah laku, kebiasaan, kelakuan. Menurut istilahnya,
akhlak ialah sifat yang tertanam di dalam diri seorang manusia yang bisa
mengeluarkan sesuatu dengan senang dan mudah tanpa adanya suatu
pemikiran dan paksaan. Dalam KBBI, akhlak berarti budi pekerti atau
kelakuan. Sedangkan menurut para ahli, pengertian akhlak adalah sebagai
berikut:

Menurut Ibnu Maskawaih

Menurutnya akhlak ialah hal li nnafsi daaiyatun lahaa ila afaaliha


min ghoiri fikrin walaa ruwiyatin yaitu sifat yang tertanam dalam jiwa
seseorang yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tanpa
memerlukan pemikiran dan pertimbangan.

Menurut Abu Hamid Al Ghazali

Akhlak ialah sifat yang terpatri dalam jiwa manusia yang darinya
terlahir perbuatan-perbuatan yang dilakukan dengan senang dan mudah
tanpa memikirkan dirinya serta tanpa adanya renungan terlebih dahulu.

Menurut Ahmad bin Mushthafa

Akhlak merupakan sebuah ilmu yang darinya dapat diketahui jenis-


jenis keutamaan, dimana keutamaan itu ialah terwujudnya keseimbangan
antara tiga kekuatan yakni kekuatan berpikir, marah dan syahwat atau
nafsu.

Menurut Muhammad bin Ali Asy Syariif Al Jurjani

Akhlak merupakan sesuatu yang sifatnya (baik atau buruk) tertanam


kuat dalam diri manusia yang darinyalah terlahir perbuatan-perbuatan
dengan mudah dan ringan tanpa berpikir dan direnungkan.

Pengertian Akhlak Dalam Islam Terlengkap

Dalam Al-Quran surat Al-Qolam ayat 4 dikatakan bahwa Dan


sesungguhnya engkau (Muhammad) berada diatas budi pekerti yang
agung. Dan dalam sebuah haditspun dikatakan bahwa Aku diutus hanya
untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.

59
Sehingga jelas bagi umat Islam diseluruh alam berpatokan pada
akhlaknya nabi Muhammad SAW. Akhlak terpuji yang ada dalam diri
Rasulullah SAW patut kita jadikan contoh dan suri tauladan yang baik.
Ada dua sumber yang harus dijadikan sebagai pegangan hidup yakni Al-
Quran dan As-Sunnah yang keduanyapun dijadikan sumber akhlak
islamiyah. Jika manusia telah berakhlakul karimah atau akhlak yang baik,
mulia, terpuji InsyaAllah hidupnya akan jauh lebih baik

2.3.6 Akhlak Kepada Khalik

Berakhlak kepada Allah tidak berbeda dengan inti iman kepada-Nya.


Dalam menjalankan iman ini diperlukan akhlak. Puncak dari akhlak
kepada Allah disebut Ihsan,yaitu: Anda menyembah Allah seakan-
akan anda melihat Dia, Dia pasti melihat Anda. Perilaku dan sifat
Mukmin yang selalu merasakan kehadiran Tuhan inilah Ihsan yang akan
menampilkan seorang mukminnya berakhlak terpuji dan mulia. Akhlak
kepada-Nya antara lain:

Beriman hanya kepada Allah (Tauhid).


Menyembah, beribadah dan berdoa hanya kepada-Nya (memohon
rahmat,berkah,dan perlindungan hanya kepada-Nya).
Menghindari perbuatan syirik menyekutukan allah, beribadah, berdoa,
berlindung kepada selain Allah, atau kepada-Nya bersama yang selain-
Nya.
Mengikuti, mentaati aturan-aturan hokum berupa perintah dan
larangan yang telah diturunkan kepada para Rasul-Nya (Al-Quran dan
Al-Sunnah)
Mencintai, bersyukur, berxikir, tawakkal, dan takwa kepada Allah
SWT.
Tidak mau brbuat dosa karena selalu merasakan pengawasan Tuhan,
seperti: berdusta, khianat, mencuri, menipu, korupsi, menyogok, zina,
dsb

2.3.7 Akhlak Kepada Makhluk

Bagaiman berakhlak kepada rasul, Tuhan mengajarkan dalam kitab suci :

Agar taat kepada rasul. Bahwa taat kepada rasul suatu pertanda iman
dan bukti taat kepada allah (QS 3:31-32).
Tidak mencintai sesuatu termasuk kepada keluarga, harta, dan profesi
lebih dari mencintai Allah dam Rasul-Nya.
Tidak Menyimpang dari Rasul dan mengadaada dalam bidang ibadah.

60
Melakukan ibadah-ibadah sunnat yang telah dilakukan Rasul.
Senantiasa mendoakan Rasul, mengucapkan shalawat kepada-
Nya,Keluarga-Nya, dan para Sahabat-Nya.
Berupaya mencontohkan sedekat dekatnya perilaku Rasul di bidang
mu-amalah.
Tidak mencerca , menghina, dan melecehkan Rasul dan Keluarga-Nya,
seperti membuat gambar, karikatur, menghina dengan ucapan , tulisan,
dsb.
Tidak membuat-buat suatu ajaran (ibadah atau muamalah) yang
disebutkan sebagai ajaran Rasul dengan tanpa sadar, baik palsu, bidah
atau fitnah.

2.3.8 Akhlak Kepada Diri Sendiri

Untuk mempertahankan kehormatan, harg diri, dan meningkatkan


harkat dan martabat dalam hidup ini kita memerlukan akhlak terhadap diri
sendiri, antara lain:

Menyadari diri untuk apa kita hidup dari mana hendak dan untuk apa?.
Menjaga kehormatan dan harga diri, membersihkan diri lahir dan batin
(lahir dengan berpakaian yang bersih dan rapi) dan batin
menghindarkan diri dari segala dosa besar, kecil dan hal-hal yang tidak
berguna.
Memiliki dan memupuk sifat-sifat terpuji seperti : jujur, ikhlas, sabar,
rendah hati, senang menolong, adil, bijaksana, sederhana, tawakal.
Taat menjalankan ajaran agama.
Menjaga lisan, mata, telinga, dan tangan dari segala macam perbuatan
tercela.
Mencari rezeki yang halal.
Menganjurkan yang maruf, (yang baik) dan mencegah munkar ( yang
buruk dan tercela ).
Peduli terhadap lingkungan dengan menyayangi segala makhluk dan
cinta damai.
Menghormati dan memupuk silaturrahim kepada orang lain.
Senang kepada hal-hal terpuji, seperti senang bersih, senang memberi,
senang menolong, senang dan cinta ilmu, senang belajar: membaca,
menulis, berkemauan keras, teguh, tekun, tidak tamak, senang
membalas jasa, dll.
Selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah meningkatkan iman
dan takwa, beramal saleh.

61
Berusaha untuk meninggalkan hal-hal yang tidak terpuji seperti:
berdusta, berkhianat, hasud-dengki, berbuat aniaya dan terror, menipu,
mengicuh, mencuri,korupsi, dll.

2.3.9 Akhlak Kepada Keluarga.

Kepada Ibu dan Bapak dengan : berbakti, menghormati, menyayangi,


dan mendoakan keduanya. Sebaliknya tidak berlaku atau berkatakasar,
apalagi sampai menyakiti fisik keduanya. Dan bila keduanya telah
sepuh, tidak mampu lagi berusaha, agar keduanya disantini dan diberi
nafkah.
Kepada istri atau suami dengan senantiasa menjaga kedamaian,
ketenangan, dan saling menghormati, saling menyayangi, bersikap
jujur dan terbuka, saling tenggang rasa, tidak selingkuh dan saling
curiga, cemburu yang berlebihan, dan menuntut hal-hal diluar
kemampuan.
Kepada anak-anak dengan menumpahkan ksaih sayang, memberikan
nafkah yang cukup, berlaku adil dan bijaksana, memberikan
pendidikan : akhlak, budi pekerti, agama, dan ilmu pengetahuan.
Kepada saudara-saudara derngan memupuk saling kasih sayang, orang
tua dihormati, dan yang muda disayangi. Saling menolong dan tidak
bersikap bakhil dan aniaya.
Kepada tetangga dan masyarakat dengan seantiasa membina hubungan
harmonis, saling membantu, bergotong-royong saling tenggang rasa (
membatasi kebebasan pribadi dengan kebiasaan orang lain ), saling
menghormati,saling meminta dan memberi ( tidak mengambil begitu
saja milik tetangga tanpa izin ) dsb.

2.3.10 Akhlak Kepada Lingkungan (Alam Semesta).

Memperhatikan dan mrenungkan penciptaan alam semsta serta


bersyukur kepada Allah Pencipta-Nya.
Kemudian memanfaatkan alam semesta (lingkungan ) dengan sebesar-
besarnya bagi kemakmuran hidup manusia.
Menjaga keseimbangan dan kelestarian lingkungan flora (tumbuhan )
dan fauna ( binatang ) dan alam semesta ini untuk kepentingan
manusia
Tidak berlaku zalim, aniaya, atau mengeksploitasi secara semena-mena
seperti penebangan hutan, penggalian tambang, penambanga pasir,
tanah, kapur tanpa memperdulikan lingkungan, serta membuat polusi
air, udara, tanah dsb.

62
2.3.11 Pembinaan Akhlak dan Budi Pekerti.
Akhlak berasal dari bahasa Arab yaitu alkhulqu, al-khuluq yang
mempunyai arti watak, tabiat, keberanian, atau agama.[3] Secara Istilah
akhlak menurut Ibnu Maskawaih (421 H) adalah suatau keadaan bagi
jiwa yang mendorong ia melakukan tindakan-tindakan dari keadaan itu
tanpa melalui pikiran dan pertimbangan. Keadaan ini terbagi dua, ada yang
berasal dari tabiat aslinya, ada pula yang diperoleh dari kebiasaan yang
berulang-ulang. Boleh jadi, pada mulanya tindakan itu melalui pikiran dan
pertimbangan, kemudian dilakukan terus menerus, maka jadilah suatu
bakat dan akhlak.

Indikasi bahwa akhlak dapat dipelajari dengan metode pembiasaan,


meskipun pada awalnya anak didik menolak atau terpaksa melakukan
suatu perbuatan/akhlak yang baik, tetapi setelah lama dipraktekkan, secara
terus-menerus dibiasakan akhirnya anak mendapatkan akhlak mulia.
Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin sebagaimana dikutip Muhammad
Rabbi Muhammad Jauhari memberikan definisi akhlak sebagaisuatu
ungkapan tentang keadaan pada jiwa bagian dalam yang melahirkan
macam-macam tindakan dengan mudah, tanpa memerlukan pikiran dan
pertimbangan terlebih dahulu.

Dari dua defenisi di atas dapat dipahami bahwa akhlak bersumber dari
dalam diri anak dan dapat juga berasal dari lingkungannya. Secara umum
akhlak bersumber dari dua hal tersebut dapat berbentuk akhlak baik dan
akhlak buruk, tergantung pembiasaannya, kalau anak membiasakan
perilaku buruk, maka akan menjadi akhlak buruk bagi dirinya, sebaliknya
anak membiasakan perbuatan baik, maka akan menjadi akhlak baik bagi
dirinya. Penjelasan tersebut mengindikasikan bahwa akhlak dapat
dipelajari dan diinternalisasikan dalam diri seseorang melalui pendidikan,
di antaranya dengan metode pembiasaan. Dengan adanya kemungkinan

63
diinternalisasikan nilai-nilai akhlak ke diri anak, memungkinkan pendidik
melakukan pembinaan akhlak.

Metode Pembinaan Ahklak


Pembinaan akhlak merupakan tumpuan perhatian pertama dalam islam.
Hal ini dapat dilihat dari salah satu misi kerasulan Nabi Muhammad SAW.
yang utamanya adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Dalam
salah satu hadits beliau innama buitsu liutammima makarin al-akhlak.
(HR. Ahmad).Hanya saja aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang
mulia

Perhatian islam demikian dalam pembinaan ahklak ini dapat pula


dilihat dari perhatian islam terhadap pembinaan jiwa yang harus daripada
pembinaan fisik, karena dari jiwa yang baik inilah akan menghasilkan
perbuatan yang baik kepada manusia sehingga menghasilkan kebaikan dan
kebahagiaan pada seluruh kehidupan manusia, lahir dan batin. Perhatian
islam dalam pembinaan ahklak selanjutnya dapat dianalisis pada muatan
ahklak yang terdapat pada seluruh aspek ajaran islam. Ajaran islam
tentang keimanan, misalnya sangat berkaitan erat dengan amal shaleh dan
perbuatan yang terpuji. Iman yang tidak disertai amal shaleh dinilai
sebagai iman palsu, bahkan dianggap sebagai kemunafikan. Di dalam Al-
Quran yang artinya : diantara manusia ada yang mengatakan kami
berima kepada Allah dan hari kemudian (22). Padahal mereka itu
sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu
Allah dan orang-orang yang beriman, padahal merekan hanya menipu
dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. (22) Hari kemudian ialah mulia
dari waktu mahkluk dikumpulkan di padang masyar sampai waktu yang
tak ada batasnya.
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang
percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak

64
ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka
pada jalan Allah. mereka itukah orang-orang yang benar. Ayat-ayat di atas
dengan jelas menunjukkan bahwa iman iman yang dikehendaki islam
bukan iman yang hanya sampai pada ucapan dan keyakinan, tetapi iman
yang disertai dengan perbuatan ahlak yang mulia. Seperti tidak ragu
menerima ajaran Rasul, mau memanfaatkan dirinyadan hartanya untuk
berjuang dijalan Allah, ini menunjukkan bahwa keimanan harus
membuahkan ahklak yang mulia. Pembinaan ahklak dalam islam.
Pembinaan ahkalak dalam islam juga terintegrasi dengan rukun, hasil
analisis Muhammad Al-Gazali terhadap rukun islam yang lima telah
menunjukkan dengan jelas, bahwa dalam rukun islam yang lima itu
terkandung konsep pembinaan ahklak. Rukun islam yang pertama
mengucapkan dua kalimat syahadat, kalimat ini mengandung pernyataan
bahwa manusia selama hidup tunduk terhadap aturan Allah. Orang yang
patuh kepada Allah dan Rasul-Nya tentunya akan baik. Kedua
mengerjakan shalat lima waktu sehari semalam. Shalat yang dikerjakan
membuat pelakunya terhindar dari perbuatan keji dan mungkar. Ketiga,
membayar zakat. Yaitu agar orang-orang yang melaksanakannya terhindar
sikap kikir, membersihkan hartanya dan tidak mementingkan dirinya
sendiri. Keempat, puasa bukan hanya menahan diri lapar dan haus,
bahkan lebih dari itu untuk menahan sikap keji dan mungkar, sehingga kita
senantiasa melaksanakan pebuatan baik. Kelima, ibadah haji, ibadah ahji
dalam rukun islam bersifat konferensif yang menuntut persyaratan,
disamping harus menguasai ilmunya. Juga harus sehat fisik, adanya
kemamauan yang kuat, adanya kesabaran dalam menjalankannya, serta
rela meninggalkan harta dan kekayaannya.

65
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Arti yang terkandung dalam perkataan Islam adalah kedamaian,

kesejahteraan, keselamatan, penyerahan (diri), ketaatan, dan kepatuhan dengan

sepenuh hati kepada kehendak Illahi. Kehendak Illahi yang wajib ditaati dengan

sepenuh hati oleh manusia itu, manfaatnya bukanlah untuk Allah sendiri tetapi

untuk kemaslahatan atau kebaikan manusia dan lingkungan hidupnya.

Menurut sumber ajaran suatu agama, agama-agama dapat dibagi menjadi

(1) Agama wahyu (revealed religion) atau agama langit dan (2) Agama budaya

(cultural religion /natural religion) yang disebut juga agama bumi atau agama

alam.

Kerangka dasar agama Islam meliputi :

1. Aqidah, yakni iman atau keyakinan

66
2. Syariah, yakni jalan yang harus ditempuh oleh setiap umat Islam

3. Akhlaq, yakni sikap yang menimbulkan kelakuan baik atau buruk

Sebagai agama wahyu terakhir, agama Islam merupakan suatu sitem

akidah dan syariah serta akhlaq yang mengatur hidup dan kehidupan manusia

dalam berbagai hubungan

3.2 Saran

Sebagai umat Islam, sudah menjadi kewajiban kita untuk bertaqwa kepada

Allah SWT. dan mengikuti tuntunan dari Nabi Muhammad SAW. Segala macam

peraturan ataupun kaidah yang ada di kehidupan telah diatur oleh Allah sang

pencipta, kita dapat mempelajari itu semua melalui kitab suci Al-Quran dan Al-

Hadits agar dalam menjalani kehidupan ini kita senantiasa berada dalam jalan

Allah SWT. yang benar.

67
BAB IV

DAFTAR PUSTAKA

http://diahkumalaizzaa.blogspot.co.id/2014/06/pengertian-dan-ruang-

lingkup-agama-islam.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Syariat_Islam

http://tiaradj.blogspot.co.id/2012/10/tauhid-penerapan-tauhid-dalam-

kehidupan.html

https://blogmateri.wordpress.com/2015/02/12/makalah-aqidah-tauhid-

iman-hakikat-dan-kedudukannya/

http://alyanursyarifah.blogspot.co.id/2014/09/makalah-agama-islam-

syariah-islam.html

http://el-misbah.blogspot.co.id/2008/11/marifatul-islam-1-pengertian-

islam.html

https://duiiantydwi.wordpress.com/artikel-2/pengertian-dan-makna-islam/

68
https://rumaysho.com/2826-hanya-islam-yang-diterima.html

https://almanhaj.or.id/3191-karakteristik-agama-islam.html

http://www.seputarpengetahuan.com/2015/05/pengertian-akhlak-dalam-

islam-terlengkap.html

http://duniakampus7.blogspot.co.id/2015/03/metode-pembinaan-akhlak-

dalam.html

http://www.dakwatuna.com/2009/07/17/3126/islam-agama-

damai/#ixzz4VD5PkNGs

http://kucingtengil.blogspot.co.id/2012/07/pergaulan-muslim-dengan-non-

muslim.html

http://novemberscr.blogspot.co.id/2013/01/kerukunan-umat-

beragama.html

https://cahyaislam.wordpress.com/2009/05/15/islam-agama-perdamaian/

69