Anda di halaman 1dari 16

MATERI PENATALAKSANAAN HIPERTENSI

1. DIET HIPERTENSI

Pada penderita hipertensi dimana tekanan darah tinggi > 160 /gram mmHg, selain
pemberian obat-obatan anti hipertensi perlu terapi dietetik dan merubah gaya hidup. Tujuan
dari penatalaksanaan diet adalah untuk membantu menurunkan tekanan darah dan
mempertahankan tekanan darah menuju normal. Disamping itu, diet juga ditujukan untuk
menurunkan faktor risiko lain seperti berat badan yang berlebih, tingginya kadar lemak
kolesterol dan asam urat dalam darah. Harus diperhatikan pula penyakit degeneratif lain
yang menyertai darah tinggi seperti jantung, ginjal dan diabetes mellitus.
Prinsip diet pada penderita hipertensi adalah sebagai berikut :
1. Makanan beraneka ragam dan gizi seimbang.
2. Jenis dan komposisi makanan disesuaikan dengan kondisi penderita.
3. Jumlah garam dibatasi sesuai dengan kesehatan penderita dan jenis
makanan dalam daftar diet.
Yang dimaksud dengan garam disini adalah garam natrium yang terdapat dalam
hampir semua bahan makanan yang berasal dari hewan dan tumbuh-tumbuhan. Salah satu
sumber utama garam natrium adalah garam dapur. Oleh karena itu, dianjurkan konsumsi
garam dapur tidak lebih dari - sendok teh/hari atau dapat menggunakan garam lain
diluar natrium.

A. MENGATUR MENU MAKANAN


Mengatur menu makanan sangat dianjurkan bagi penderita hipertensi untuk
menghindari dan membatasi makanan yang dpat meningkatkan kadar kolesterol darah
serta meningkatkan tekanan darah, sehingga penderita tidak mengalami stroke atau
infark jantung. Makanan yang harus dihindari atau dibatasi adalah:
1. Makanan yang berkadar lemak jenuh tinggi (otak, ginjal, paru, minyak kelapa, gajih).
2. Makanan yang diolah dengan menggunakan garam natrium (biscuit, craker, keripik
dan makanan kering yang asin).
3. Makanan dan minuman dalam kaleng (sarden, sosis, korned, sayuran serta buah-
buahan dalam kaleng, soft drink).
4. Makanan yang diawetkan (dendeng, asinan sayur/buah, abon, ikan asin, pindang,
udang kering, telur asin, selai kacang).
5. Susu full cream, mentega, margarine, keju mayonnaise, serta sumber protein hewani
yang tinggi kolesterol seperti daging merah (sapi/kambing), kuning telur, kulit ayam).
6. Bumbu-bumbu seperti kecap, maggi, terasi, saus tomat, saus sambal, tauco serta
bumbu penyedap lain yang pada umumnya mengandung garam natrium.
7. Alkohol dan makanan yang mengandung alkohol seperti durian, tape.

DAFTAR BAHAN PANGAN :

1. Serelia, dan umbi-umbian serta hasil olahannya: beras, jagung, sorgum, cantle, jail,
sagu, ubi, singkong, kentang, talas, mie, roti, bihun, oat.
2. Sayuran: Sayur daun: kangkung, bayam, pucuk labu, sawi, katuk, daun singkong,
daun pepaya, daun kacang, daun mengkudu, dan sebagainya. Sayur buah: kacang
panjang, labu, mentimun, kecipir, tomat, nangka muda, dan sebagainya. Sayur akar:
wortel, lobak, bit, dan sebagainya.
3. Buah: jambu biji, pepaya, jeruk, nanas, alpukat, belimbing, salak, mengkudu,
semangka, melon, sawo, mangga.
4. Kacang-kacangan dan hasil olahnya (tempe, tahu) serta polong-polongan.
5. Unggas, ikan, putih telur.
6. Daging merah, kuning telur.
7. Minyak, santan, lemak (gajih), jeroan, margarine, susu dan produknya.
8. Gula, garam.

STOP : KONSUMSI DAGING KAMBING DAN DURIAN


Cara mengatur diet untuk penderita hipertensi adalah dengan memperbaiki rasa
tawar dengan menambah gula merah/putih, bawang (merah/putih), jahe, kencur dan
bumbu lain yang tidak asin atau mengandung sedikit garam natrium. Makanan dapat
ditumis untuk memperbaiki rasa. Membubuhkan garam saat diatas meja makan dapat
dilakukan untuk menghindari penggunaan garam yang berlebih. Dianjurkan untuk selalu
menggunakan garam beryodium dan penggunaan garam jangan lebih dari 1 sendok teh
per hari. Meningkatkan pemasukan kalium (4,5 gram atau 120 175 mEq/hari) dapat
memberikan efek penurunan tekanan darah yang ringan. Selain itu, pemberian kalium
juga membantu untuk mengganti kehilangan kalium akibat dan rendah natrium. Pada
umumnya dapat dipakai ukuran sedang (50 gram) dari apel (159 mg kalium), jeruk (250
mg kalium), tomat (366 mg kalium), pisang (451 mg kalium) kentang panggang (503 mg
kalium) dan susu skim 1 gelas (406 mg kalium). Kecukupan kalsium penting untuk
mencegah dan mengobati hipertensi: 2-3 gelas susu skim atau 40 mg/hari, 115 gram
keju rendah natrium dapat memenuhi kebutuhan kalsium 250 mg/hari. Sedangkan
kebutuhan kalsium perhari rata-rata 808 mg.
Pada ibu hamil makanan cukup akan protein, kalori, kalsium dan natrium yang
dihubungkan dengan rendahnya kejadian hipertensi karena kehamilan. Namun pada ibu
hamil yang hipertensi apalagi yang disertai dengan bengkak dan protein urin (pre
eklampsia), selain obat-obatan dianjurkan untuk mengurangi konsumsi garam dapur
serta meningkatkan makanan sumber Mg (sayur dan buah-buahan). Contoh menu pada
seorang penderita hipertensi laki-laki umur 55 tahun, TB = 175 cm, BB = 80 kg, Tekanan
darah = 160/100 mHg dengan aktivitas ringan.
IMT = -------------- = 26,13 (gemuk) 1,75 x 1,75
BB ideal = (175-100) 10% (175-100) = 67,5 kg Penurunan BB menjadi 75 kg masih
dalam batas > 10%. Jadi kebutuhan energi dari laki-laki tersebut diatas adalah : BMR =
(11,6 x 75) + 879 = 870+ 879 = 1749
AKG = 1,56 x 1749 = 2728 Kkal.
Karena kegemukan, sehingga total kalori diturunkan menjadi 2500 Kkal. Kebutuhan
karbohidrat : 65% x 2500 = 1625 kkal = 406,25 gram (60-65%) Kebutuhan protein : 20%
x 2500 = 500 kkal = 100 gram (15-25%) Kebutuhan lemak : 15% x 2500 = 375 kkal =
41,66 gram (10-15%)

B. SUPLEMENTASI ANTI OKSIDAN


Walaupun suplementasi anti oksidan masih memerlukan penelitian lebih lanjut,
namun saat ini banyak sekali suplemen yang dijual dan dikonsumsi oleh masyarakat.
Sebagai tenaga medis harus berhati-hati memberikan anjuran minuman suplemen agar
tidak terjadi overdosis.
1. Vitamin dan penurunan homosistein :Asam folat, vitamin B6, vitamin B 12 dan
riboflavin merupakan ko-faktor enzim yang essential untuk metabolisme homosis tein.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kadar homosistein dalam darah
akan meningkatkan risiko penyakit arteri koroner. Kadar asam folat yang rendah
berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit koroner dan kadar vitamin yang rendah
juga berkaitan dengan peningkatan risiko aterosklerosis, walaupun risiko
aterosklerosis yang berhubungan dengan rendahnya kadar vitamin B6 tidak
berhubungan dengan konsentrasi homositein yang tinggi. Sedangkan vitamin B12
tidak berhubungan dengan penyakit vaskuler
2. Kacang kedelai dan isoflavon : Kedelai banyak mengandung fito estrogen yaitu
isoflavon, yang memiliki aktivitas estrogen lemah. Penelitian meta analisis pada tahun
1995 menyimpulkan bahwa isoflavon dari protein kedelai lebih bermakna
menurunkan kadar kolesterol total, kolesterol LDL dan trigliserida, tanpa
mempengaruhi kadar kolesterol HDL. Sehingga dianjurkan mengkonsumsi protein
kedelai (20 50 gram/hari) dengan modifikasi diet pada penderita dengan kadar
kolesterol (total dan LDL) yang tinggi. Tempe adalah hasil pengolahan kedelai yang
melalui proses fermentasi, dengan kandungan gizi lebih baik dari kedelai. Sehingga
tempe dianjurkan untuk di konsumsi oleh penderita hipertensi sebagai sumber protein
nabati.
3. Tempe : Tempe adalah salah satu makanan tradisional Indonesia, hasil fermentasi
kaping rhizopus ohgosporis atau rhizopusoryzal pada biji kedelai yang telah direbus.
Ada berbagai macam tempe, yang dibicarakan disini adalah tempe yang terbuat dari
kedelai, yang merupakan produk kompak, terbungkus rata oleh miselium kaping
sehingga nampak berwarna putih, dan bila diiris kelihatan keping biji kedelai
berwarna kuning pucat, diantara miselium. Fermentasi kaping menghasilkan
perubahan pada tekstur kedelai, menjadi empuk dan nilai zat gizi tempe lebih baik
dari kacang kedelai.

Manfaat Tempe :
Tempe merupakan sumber zat gizi yang baik, terutama bagi penderita hiper
kolesterolemia. Dari berbagai penelitian ternyata tempe dapat menurunkan kadar
kolesterol dalam darah serta mencegah timbulnya penyempitan pembuluh darah, karena
tempe mengandung asam lemak tidak jenuh ganda. Sehingga penderita hipertensi
dianjurkan untuk mengkonsumsi tempe setiap hari, disamping diet rendah lemak jenuh.
Tempe juga mengandung zat anti bakteri yang dapat menghambat pertumbuhan
beberapa jenis bakteri granpositif serta penyebab diare (salmonella sp dan shigella sp).
Oleh karena itu, tempe juga dianjurkan untuk dikonsumsi balita yang menderita diare.
Nilai Gizi Tempe :

Protein
Enzim-enzim yang dihasilkan kaping, menghasilkan asam amino bebas, sehingga
kadarnya meningkat sampai 85 kali kadar protein kedelai.
Karbohidrat
Kedelai mengandung karbohidrat berupa sakrosa dan stakhiosa dan rifinosa (2
terakhir menyebabkan pembentukan gas dalam perut). Fermentasi kedelai menjadi
tempe menghasilkan karbohidrat.
Lemak
Enzim dalam kaping dapat menurunkan kadar lemak total dari 22,2% menjadi 14,4%
dan meningkatkan kadar asam lemak bebas dari 0,5% menjadi 21%.
Mineral
Didalam kedelai terdapat asam fitat yang merupakan senyawa forfose, yang tidak
dapat dimanfaatkan oleh tubuh. Dengan fermentasi, kaping menghasilkan enzim
fitase yang menguraikan asam fitat, sehingga forfosenya dapat dimanfaatkan tubuh.
Vitamin
Proses fermentasi dapat meningkatkan kadar vitamin B2 (Riboferum), Vitamin Bb
(Piridoksin), asam folat, asam panthotenat, dan asam nikotinat. Sedangkan kadar
vitamin B1 menurun karena untuk pertumbuhan kaping dan terbentuk pula vitamin
B12 oleh bakteri yang tidak ada dalam produk nabati lainnya.
Asam lemak omega 3
Mengkonsumsi satu porsi ikan yang tinggi lemak (atau minyak ikan ) tiap hari dapat
menjadi asupan asam lemak omega 3 (EPA dan DHA) sekitar 900 mg/dl, dan
dilaporkan dapat menurunkan kadar kolesterol danmencegah penyakit jantung
koroner
Serat
Walaupun berbagi studi menunjukkan adanya hubungan antara beberapapa jenis
serat gengan penurunan kolesterol lDDL dan atau kolesterol total, namun belum ada
bukti langsung yang menunjukkan hubungan antara suplemen serat dengan
penurunan penyakit kardio vaskular.
C. TERAPI PENUNJANG
Selain pengobatan dan pengaturan menu makanan pada penderita hipertensi,
diperlukan juga terapi khusus lain seperti konseling masalah kejiwaan dan fisioterapi,
terutama pada penderita pasca stroke atau infark penting. Pengertian juga diberikan
kepada keluarga atau pengasuh untuk membantu menyiapkan makanan khusus serta
mengingatkan kepada penderita, makanan yang harus dihindari/dibatasi.

D. GARAM NATRIUM
Garam natrium terdapat secara alamiah dalam bahan makanan atau
ditambahkan pada waktu memasak atau mengolah makanan. Makanan berasal dari
hewan biasanya lebih banyak mengandung garam natrium dari yang berasal dari
tumbuhtumbuhan. Garam Natrium yang ditambahkan ke dalam makanan biasanya
berupa ikatan, yaitu :
1. Natrium Chlorida atau garam dapur
2. Mono-Natrium Glutamat atau vetsin
3. Natrium Bikarbonat atau soda kue
4. Natrium Benzoat untuk mengawetkan buah
5. Natrium Bisulfit atau sendawa yang digunakan untuk mengawetkan
daging seperti Corned beef

Cara memasak untuk mengeluarkan garam Natrium antara lain :


1. Pada ikan asin di rendam dan di cuci terlebih dahulu
2. Untuk mengeluarkan garam natrium dari margarine dengan mencampur
margarine dengan air, lalu masak sampai mendidih, margarine akan mencair
dan garam natrium akan larut dalam air. Dinginkan cairan kembali dengan
memasukkan panci kedalam kulkas. Margarine akan keras kembali dan
buang air yang mengandung garam natrium. Lakukan ini 2 kali.

2. POLA DAN KUALITAS TIDUR LANSIA

Tidur merupakan suatu proses otak yang dibutuhkan oleh seseorang untuk dapat berfungsi
dengan baik. Masyarakat awam belum begitu mengenal gangguan tidur sehingga
jarang mencari pertolongan. Pendapat yang menyatakan bahwa tidak ada orang yang
meninggal karena tidak tidur adalah tidak benar. Beberapa gangguan tidur dapat
mengancam jiwa baik secara langsung (misalnya insomnia yang bersifat keturunan dan
fatal dan apnea tidur obstruktif) atau secara tidak langsung misalnya kecelakaan akibat
gangguan tidur. Di Amerika Serikat, biaya kecelakaan yang berhubungan dengan
gangguan tidur per tahun sekitar seratus juta dolar. Prevalensi gangguan tidur pada
lansia cukup tinggi yaitu sekitar 67 %. Walaupun demikian, hanya satu dari delapan
kasus yang menyatakan bahwa gangguan tidurnya telah didiagnosis oleh dokter.

Lansia dengan depresi, stroke, penyakit jantung, penyakit paru, diabetes, artritis,
atau hipertensi sering melaporkan bahwa kualitas tidurnya buruk dan durasi tidurnya
kurang bila dibandingkan dengan lansia yang sehat. Gangguan tidur dapat
meningkatkan biaya penyakit secara keseluruhan. Gangguan tidur juga dikenal sebagai
penyebab morbiditas yang signifikan. Ada beberapa dampak serius gangguan tidur
pada lansia misalnya mengantuk berlebihan di siang hari, gangguan atensi dan memori,
mood depresi, sering terjatuh, penggunaan hipnotik yang tidak semestinya, dan
penurunan kualitas hidup. Angka kematian, angka sakit jantung dan kanker lebih tinggi
pada seseorang yang lama tidurnya lebih dari 9 jam atau kurang dari 6 jam per hari bila
dibandingkan dengan seseorang yang lama tidurnya antara 7-8 jam per hari.

Berdasarkan dugaan etiologinya, gangguan tidur dibagi menjadi empat kelompok


yaitu, gangguan tidur primer, gangguan tidur akibat gangguan mental lain, gangguan
tidur akibat kondisi medik umum, dan gangguan tidur yang diinduksi oleh zat. Gangguan
tidur-bangun dapat disebabkan oleh perubahan fisiologis misalnya pada proses
penuaan normal. Riwayat tentang masalah tidur, higiene tidur saat ini, riwayat obat yang
digunakan, laporan pasangan, catatan tidur, serta polisomnogram malam hari perlu
dievaluasi pada lansia yang mengeluh gangguan tidur. Keluhan gangguan tidur yang
sering diutarakan oleh lansia yaitu insomnia, gangguan ritme tidur,dan apnea tidur.

Pola tidur yang dimiliki setiap orang seperti halnya jam dimana tubuh individu dapat
memahami kapan waktunya untuk tertidur dan kapan waktunya untuk bangun. Waktu
tidur diatur oleh jam biologis/irama sirkadian yang terletak di kedalaman otak. Ketika
jam biologis menentukan waktu tidur, ini akan bekerja dengan fungsi tubuh lainnya
untuk membantu menyiapkan individu untuk tertidur di malam hari, dan berhentinya
berbagai fungsi tubuh yang berkaitan dengan waktu terjaga/bangun. Hal ini juga terjadi
kebalikannya ketika individu terbangun. Setiap orang memiliki siklus bangun tidur yang
sudah biasa dilakukan, ini menentukan kapan waktu yang tepat untuk seseorang
tertidur. Waktu tersebut dapat didukung oleh cahaya lampu atau matahari di siang hari,
kebiasaan waktu makan dan aktivitas yang dilakukan seperti biasanya dalam waktu
tertentu setiap harinya. Seseorang yang memiliki pola tidur- bangun yang teratur lebih
menunjukkan tidur yang berkualitas dan performa yang lebih baik daripada orang yang
memiliki pola tidur-bangun yang berubah-ubah (Harkreader, Hogan, & Thobaben,
2007). Pola tidur-bangun yang berubah-ubah dan apabila individu belum beradaptasi
dengan perubahan tersebut maka akan mengakibatkan gangguan pola tidur. Carpenito
(2002) mendefinisikan gangguan pola tidur sebagai kondisi ketika individu mengalami
atau beresiko mengalami perubahan pada kualitas dan kuantitas pola istirahat yang
menimbulkan ketidaknyaman atau menganggu gaya hidup yang diinginkan. Kualitas
dan kuantitas tidur dipengaruhi beberapa faktor, seperti penyakit, lingkungan, gaya
hidup, stres emosional, dan lain-lain.

Kualitas tidur adalah kemampuan individu untuk tetap tertidur dan untuk
mendapatkan jumlah tidur REM dan NREM yang tepat (Kozier, Erb, Berman, & Snyder,
2004). Kualitas tidur yang baik akan ditandai dengan tidur yang tenang, merasa segar
pada pagi hari dan merasa semangat untuk melakukan aktivitas (Craven & Hirnle,
2000). Busyee et al., (1989) melakukan penelitian tentang pengukuran kualitas dan pola
tidur dengan menggunakan The Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI), PSQI
membedakan antara tidur yang baik dan tidur yang buruk dengan pemeriksaan 7
komponen: latensi tidur, durasi tidur, kualitas tidur, efisiensi kebiasaan tidur, gangguan
tidur, penggunaan obat tidur dan gangguan fungsi tubuh di siang hari (Kunert &
Kolkhorst, 2007). PSQI merupakan instrumen efektif yang digunakan untuk mengukur
kualitas dan pola tidur pada orang dewasa.

KLASIFIKASI GANGGUAN TIDUR


1. Gangguan tidur primer
Gangguan tidur primer adalah gangguan tidur yang bukan disebabkan oleh
gangguan mental lain, kondisi medik umum, atau zat. Gangguan tidur ini dibagi dua
yaitu disomnia dan parasomnia. Disomnia ditandai dengan gangguan pada jumlah,
kualitas, dan waktu tidur. Parasomnia dikaitkan dengan perilaku tidur atau peristiwa
fisiologis yang dikaitkan dengan tidur, stadium tidur tertentu atau perpindahan tidur-
bangun.
Disomnia terdiri dari insomnia primer, hipersomnia primer, narkolepsi, gangguan
tidur yang berhubungan dengan pernafasan, gangguan ritmik sirkadian tidur, dan
disomnia yang tidak dapat diklasifikasikan. Parasomnia terdiri dari gangguan mimpi
buruk, gangguan teror tidur, berjalan saat tidur, dan parasomnia yang tidak dapat
diklasifikasikan.
2. Gangguan tidur terkait gangguan mental lain
Gangguan tidur terkait gangguan mental lain yaitu terdapatnya keluhan
gangguan tidur yang menonjol yang diakibatkan oleh gangguan mental lain (sering
karena gangguan mood) tetapi tidak memenuhi syarat untuk ditegakkan sebagai
gangguan tidur tersendiri. Ada dugaan bahwa mekanisme patofisiologik yang
mendasari gangguan mental juga mempengaruhi terjadinya gangguan tidur-bangun.
Gangguan tidur ini terdiri dari: Insomnia terkait aksis I atau II dan Hipersomnia terkait
aksis I atau II.
3. Gangguan tidur akibat kondisi medik umum
Gangguan akibat kondisi medik umum yaitu adanya keluhan gangguan tidur
yang menonjol yang diakibatkan oleh pengaruh fisiologik langsung kondisi medik
umum terhadap siklus tidur-bangun.
4. Gangguan tidur akibat zat
Yaitu adanya keluhan tidur yang menonjol akibat sedang menggunakan atau
menghentikan penggunaan zat (termasuk medikasi).
Penilaian sistematik terhadap seseorang yang mengalami keluhan tidur seperti
evaluasi bentuk gangguan tidur yang spesifik, gangguan mental saat ini, kondisi
medik umum, dan zat atau medikasi yang digunakan, perlu dilakukan.

PERUBAHAN TIDUR PADA LANSIA NORMAL


Pola tidur-bangun berubah sesuai dengan bertambahnya umur. Pada masa
neonatus sekitar 50% waktu tidur total adalah tidur REM. Lama tidur sekitar 18 jam.
Pada usia satu tahun lama tidur sekitar 13 jam dan 30 % adalah tidur REM. Waktu
tidur menurun dengan tajam setelah itu. Dewasa muda membutuhkan waktu tidur 7-8
jam dengan NREM 75% dan REM 25%. Kebutuhan ini menetap sampai batas lansia.
Lansia menghabiskan waktunya lebih banyak di tempat tidur, mudah jatuh tidur,
tetapi juga mudah terbangun dari tidurnya. Perubahan yang sangat menonjol yaitu
terjadi pengurangan pada gelombang lambat, terutama stadium 4, gelombang alfa
menurun, dan meningkatnya frekuensi terbangun di malam hari atau meningkatnya
fragmentasi tidur karena seringnya terbangun. Gangguan juga terjadi pada dalamnya
tidur sehingga lansia sangat sensitif terhadap stimulus lingkungan.
Selama tidur malam, seorang dewasa muda normal akan terbangun sekitar 2-4
kali. Tidak begitu halnya dengan lansia, ia lebih sering terbangun. Walaupun
demikian, rata-rata waktu tidur total lansia hampir sama dengan dewasa muda.
Ritmik sirkadian tidur-bangun lansia juga sering terganggu. Jam biologik lansia lebih
pendek dan fase tidurnya lebih maju. Seringnya terbangun pada malam hari
menyebabkan keletihan, mengantuk, dan mudah jatuh tidur pada siang hari. Dengan
perkataan lain, bertambahnya umur juga dikaitkan dengan kecenderungan untuk
tidur dan bangun lebih awal. Toleransi terhadap fase atau jadual tidur-bangun
menurun, misalnya sangat rentan dengan perpindahan jam kerja. Adanya gangguan
ritmik sirkadian tidur juga berpengaruh terhadap kadar hormon yaitu terjadi
penurunan sekresi hormon pertumbuhan, prolaktin, tiroid, dan kortisol pada lansia.
Hormon-hormon ini dikeluarkan selama tidur dalam. Sekresi melatonin juga
berkurang. Melatonin berfungsi mengontrol sirkadian tidur. Sekresinya terutama pada
malam hari. Apabila terpajan dengan cahaya terang, sekresi melatonin akan
berkurang.

3. OLAHRAGA
Pengobatan pada hipertensi dapat dilakukan secara nonfarmakologi yaitu latihan
olahraga, karena pelaksanaanya mudah ,murah, meriah, manfaat dan aman. Banyak
bentuk olahraga yang dapat ditempuh oleh para pasien hipertensi, mulai dari jalan kaki,
jogging, senam, dan lainnya yang dilakukan secara sukarela dan sesuai dengan
peminatnya terhadap macam olahraga.
1. Olahraga Untuk Penderita Hipertensi
Penderita hipertensi atau mereka yang mengidap penyakit tekanan darah tinggi
dapat mengikuti program olahraga atau latihan yang sesuai dengan kondisi
penyakitnya. Seseorang mungkin saja hanya memiliki penyakit hipertensi atau
dengan disertai penyakit lainnya.
Untuk penderita hipertensi yang harus diperhatikan adalah tingginya tekanan
darah. Semakin tinggi tekanan darah semakin keras kerja jantung, karena untuk
mengalirkan darah saat jantung memompa berarti jantung harus mengeluarkan
tenaga sesuai dengan tingginya tekanan itu. Bila jantung tidak mampu memompa
dengan tekanan setinggi itu, berarti jantung akan gagal memompa darah. Bagi
penderita hipertensi faktor tekanan darah memiliki peranan penting dalam
menentukan boleh tidaknya berolahraga, takaran dan jenis olahraga yang akan
dilakukan. Jika dalam keadaan istirahat atau diam seseorang yang tekanan
darahnya sudah mencapai 200/120 mmHg, maka harus membatasi aktivitas
olahraga.
Beberapa hal yang dapat dijadikan acuan yang harus dipenuhi sebelum
memutuskan untuk berolahraga diantaranya adalah :
a. Penderita hipertensi sebaiknya dikontrol atau dikendalikan terlebih dahulu
tekanan darahnya, tekanan darah sistolik tidak melebihi 160 mmHg dan tekanan
diastolik tidak melebihi 100 mmHg taraf sehingga masih dalam relatif normal
yaitu tekanan darah sistolik 140 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg.
b. Sebelum melakukan olahraga, sebaiknya anda mendapatkan informasi
mengenai penyebab hipertensi sekaligus informasi mengenai kondisi organ
tubuh lainnya seperti keadaan jantung, ginjal, serta pemeriksaan laboraturium
darah maupun urin. Kondisi organ tersebut akan mempengaruhi keberhasilan
dalam memperoleh pengaruh positif olahraga yang anda lakukan.
c. Latihan yang diberikan ditujukan untuk meningkatkan daya tahan (endurance)
dan tidak boleh menambah peningkatan tekanan sehingga bentuk latihan yang
paling tepat adalah jalan kaki, bersepeda, senam atau berenang.
d. Olahraga yang bersifat kompetisi tidak diperbolehkan. Olahraga yang bersifat
kompetisi dikhawatirkan akan memacu emosi sehingga akan mempercepat
peningkatan tekanan darah.
e. Olahraga peningkatan kekuatan tidak diperbolehkan. Seperti angkat beban dan
sejenisnya . Olahraga ini akan menyebabkan peningkatan tekanan darah secara
mendadak dan melonjak.
f. Secara teratur memeriksa tekanan darah sebelum dan sesudah latihan.
Olahraga pada penderita tidak hanya ditentukan oleh denyut jantung tetapi juga
berdasarkan reaksi tekanan darahnya.
g. Salah satu hasil dari olahraga pada penderita hipertensi adalah terjadi
penurunan tekanan darah, sehingga olahraga dapat menjadi salah satu obat
hipertensi. Bagi penderita hipertensi ringan (tensi 160/95 mmHg tanpa obat),
maka olahraga disertai pengaturan makan (mengurangi konsumsi garam) dan
penurunan berat badan (bagi yang berlebih) dapat menurunkan tekanan darah
sampai tingkat normal (140/80 mmHg).

2. Mekanisme Menurunya Tekanan Darah


Salah satu hasil latihan fisik yang teratur adalah pelebaran pembuluh darah
sehingga tekanan darah yang tinggi akan menurun. Pengaturan lain yang akan
mempengaruhi turunnya tekanan darah adalah terkendalinya pusat pengaturan
darah di dalam tubuh. Hal lain adalah hormonal yang biasa memacu tekanan darah
semakin sedikit dikeluarkan atau dipakai. Semua faktor diatas memberi kontribusi
atas turunnya tekanan darah.

3. Manfaat Latihan Olahraga Bagi Jantung dan Tubuh


a. Kerja jantung efisien
b. Keluhan nyeri dada ketika melakukan aktifitas akan berkurang atau menghilang
c. Kadar lemak didalam darah akan semakin menurun
d. Pembuluh darah jantung atau arteri koroneria akan lebih besar dan lebar
dibanding dengan orang yang tidak terlatih. Disamping itu kolateral atau pembuluh
darah baru bila sudah terjadi penyempitan atau penyumbatan.
e. Pembuluh darah setelah operasi atau setelah pelebaran dengan balon tetap
terbuka.
f. Mencegah timbulnya penggumpalan darah.
g. Enzim bekerja lebih efisien.
h. Kemampuan tubuh atau kesegaran jasmani akan meningkat.

4. OBAT
PRINSIP 6 ( ENAM ) BENAR DALAM PEMBERIAN OBAT

1.Benar Pasien
Sebelum obat diberikan, identitas pasien harus diperiksa (papan identitas di tempat
tidur, gelang identitas) atau ditanyakan langsung kepada pasien atau keluarganya.
Jika pasien tidak sanggup berespon secara verbal, respon non verbal dapat
dipakai, misalnya pasien mengangguk. Jika pasien tidak sanggup mengidentifikasi
diri akibat gangguan mental atau kesadaran, harus dicari cara identifikasi yang
lain seperti menanyakan langsung kepada keluarganya. Bayi harus selalu
diidentifikasi dari gelang identitasnya.

2. Benar Obat
Obat memiliki nama dagang dan nama generik. Setiap obat dengan nama
dagang yang kita asing (baru kita dengar namanya) harus diperiksa nama
generiknya, bila perlu hubungi apoteker untuk menanyakan nama generiknya
atau kandungan obat. Sebelum memberi obat kepada pasien, label pada
botol atau kemasannya harus diperiksa tiga kali. Pertama saat membaca
permintaan obat dan botolnya diambil dari rak obat, kedua label botol
dibandingkan dengan obat yang diminta, ketiga saat dikembalikan ke rak
obat. Jika labelnya tidak terbaca, isinya tidak boleh dipakai dan harus
dikembalikan ke bagian farmasi.

Jika pasien meragukan obatnya, perawat harus memeriksanya lagi. Saat


memberi obat perawat harus ingat untuk apa obat itu diberikan. Ini membantu
mengingat nama obat dan kerjanya.

3.Benar Dosis
Sebelum memberi obat, perawat harus memeriksa dosisnya. Jika ragu,
perawat harus berkonsultasi dengan dokter yang menulis resep atau apoteker
sebelum dilanjutkan ke pasien. Jika pasien meragukan dosisnya perawat
harus memeriksanya lagi. Ada beberapa obat baik ampul maupun tablet
memiliki dosis yang berbeda tiap ampul atau tabletnya. Misalnya
ondansentron 1 amp, dosisnya berapa ? Ini penting !! karena 1 amp
ondansentron dosisnya ada 4 mg, ada juga 8 mg. ada antibiotik 1 vial
dosisnya 1 gr, ada juga 1 vial 500 mg. jadi Anda harus tetap hati-hati dan teliti.

4.Benar Cara/Rute
Obat dapat diberikan melalui sejumlah rute yang berbeda. Faktor yang
menentukan pemberian rute terbaik ditentukan oleh keadaan umum pasien,
kecepatan respon yang diinginkan, sifat kimiawi dan fisik obat, serta tempat
kerja yang diinginkan. Obat dapat diberikan peroral, sublingual, parenteral,
topikal, rektal, inhalasi.

5. POSYANDU LANSIA
Posyandu adalah pusat kegiatan masyarakat dalam upaya pelayanan kesehatan
dan keluarga berencana. Kegiatan posyandu adalah perwujudan dari peran serta
masyarakat dalam menjaga dan meningkatkan derajat kesehatan mereka. posyandu
lansia adalah suatu forum komunikasi, alih teknologi dan pelayanan kesehatan oleh
masyarakat dan untuk masyarakat yang mempunyai nilai strategis untuk
pengembangan sumber daya manusia khususnya lanjut usia (Depkes, 2000).
Tujuan dari dibentuknya posyandu lansia menurut Azrul (1998), yaitu :
memelihara kondisi kesehatan dengan aktifitas fisik sesuai kemampuan dan aktifitas
mental yang mendukung memelihara kemandirian secara maksimal melaksanakan
diagnosa dini secara tepat dan memadai melaksanakan pengobatan secara tepat
membina lansia dalam bidang kesehatan fisik spiritual sebagai sarana untuk
menyalurkan minat lansia meningkatkan rasa kebersamaan diantara lansia
meningkatkan kemampuan lansia untuk mengembangkan kegiatan kesehatan dan
kegiatan - kegiatan lain yang menunjang sesuai dengan kebutuhan.
Menurut Depkes RI (2000), manfaat dari posyandu lansia adalah :
a. Kesehatan fisik usia lanjut dapat dipertahankan tetap bugar
b. Kesehatan rekreasi tetap terpelihara
c. Dapat menyalurkan minat dan bakat untuk mengisi waktu luang
Upaya-upaya yang dilakukan dalam posyandu lansia antara lain : Lima upaya
yang dilakukan dalam posyandu lansia antara lain :
a) Upaya meningkatkan / promosi kesehatan
Upaya meningkatkan kesehatan promotif pada dasarnya merupakan upaya
mencegah primer (primary prevention). Menurut Suyono (1997), ada beberapa
tindakan yang disampaikan dalam bentuk pesan BAHAGIA yaitu :
1) Berat badan berlebihan agar dihindari dan dikurangi
2) Aturlah makanan hingga seimbang
3) Hindari faktor resiko penyakit degeneratif
4) Agar terus berguna dengan mempunyai hobi yang bermanfaat
5) Gerak badan teratur agar terus dilakukan
6) Iman dan takwa ditingkatkan, hindari dan tangkal situasi yang menegangkan
7) Awasi kesehatan dengan memeriksa badan secara periodik

b) Peningkatan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, meliputi kegiatan


peningkatan keagamaan (kegiatan doa bersama). Peningkatan ketakwaan berupa
pengajian rutin satu bulan sekali. Kegiatan ini memberikan kesempatan mewujudkan
keinginan lanjut usia yang selalu berusaha terus memperkokoh iman dan takwa

c) Peningkatan kesehatan dan kebugaran lanjut usia meliputi :


1) Pemberian pelayanan kesehatan melalui klinik lanjut usia
Kegiatan pelayanan kesehatan dengan cara membentuk suatu
pertemuan yang diadakan disuatu tempat tertentu atau cara tertentu misalnya
pengajian rutin, arisan pertemuan rutin, mencoba memberikan pelayanan
kesehatan yang bersifat sederhana dan dini. Sederhana karena kita menciptakan
sistem pelayanan yang diperkirakan bisa dilaksanakan diposyandu lansia dengan
kader yang juga direkrut dari kelompok pra usia lanjut. Bersifat dini karena
pelayanan kesehatan tersebut dilaksanakan rutin tiap bulan dan diperuntukkan
bagi seluruh lanjut usia baik yang merasa sehat maupun yang merasa adanya
gangguan kesehatan. Selain itu aspek preventif mendapatkan porsi penekanan
dalam pelayanan kesehatan ini.
2) Penyuluhan gizi
3) Penyuluhan tentang tanaman obat keluarga
4) Olah raga
Olah raga adalah suatu bentuk latihan fisik yang memberikan pengaruh
baik terhadap tingkat kemampuan fisik seseorang, apabila dilakukan secara baik
dan benar. Manfaat latihan fisik bagi kesehatan adalah sebagai upaya promotif,
preventif, kuratif, rehabilitatif. Ada berbagai jenis kegiatan yang dapat dilakukan,
salah satunya adalah olah raga. Jenis olah raga yang bisa dilakukan dalam
kegiatan posyandu lansia adalah pekerjaan rumah, berjalan-jalan, jogging atau
berlari-lari, berenang, bersepeda, bentuk-bentuk lain seperti tenis meja dan tenis
lapangan
5) Rekreasi
d) Peningkatan ketrampilan
Kesenian, hiburan rakyat dan rekreasi merupakan kegiatan yang sangat
diminati oleh lanjut usia. Kegiatan yang selalu bisa mendatangkan rasa gembira
tersebut tidak jarang menjadi obat yang sangat mujarab terutama bagi lansia yang
kebetulan anak cucunya bertempat tinggal jauh darinya atau usia lanjut yang selalu
berusaha terus memperkokoh iman dan takwa.
Peningkatan ketrampilan untuk lansia meliputi :
1) Demontrasi ketrampilan lansia membuat kerajinan
2) Membuat kerajinan yang berpeluang untuk dipasarkan
3) Latihan kesenian bagi lansia

e) Upaya pencegahan/prevention
Masing-masing upaya pencegahan dapat ditunjukkan kepada :
1) Upaya pencegahan primer (primary prevention) ditujukan kepada lanjut usia yang
sehat, mempunyai resiko akan tetapi belum menderita penyakit
2) Upaya pencegahan sekunder (secondary prevention) ditujukan kepada penderita
tanpa gejala, yang mengidap faktor resiko. Upaya ini dilakukan sejak awal
penyakit hingga awal timbulnya gejala atau keluhan
3) Upaya pencegahan tertier (tertiery prevention) ditujukan kepada penderita
penyakit dan penderita cacat yang telah memperlihatkan gejala penyakit.

DAFTAR PUSTAKA

Amir Nurmiati. Gangguan Tidur pada Lanjut Usia Diagnosis dan Penatalaksanaan. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr Cipto
Mangunkusumo, Jakarta
Biokimia Nutrisi dan Metabolisme dengan Pemakaian Secara Klinis, Maria C. Linder, Ph.D,
Department of Chemistry, Fullertor, diterjemahkan oleh Aminudin Parakkasi; Penerbit
UI Press, 1992
Makanan Formula Untuk Mengatasi Masalah Kurang Energi Protein (KEP), Direktorat Bina
Gizi Masyarakat, Jakarta, 1994
Panduan 13 Pesan Dasar Gizi Seimbang, Depkes RI; Jakarta, 1995

Pedoman Makan Untuk Kesehatan Jantung Indonesia, PERKI Pusat dan Yayasan
Jantung Indonesia; Jakarta, 2002
Pedoman Terapi Diet dan Nutrisi Edisi II, Mary Courtney Moore, diterjemahkan oleh Dr.
Liniyanti D. Oswari M. N. S. MSc; Hipokrates Tahun I, 1992
Penuntun Diet, Bagian Gizi RSCM dan PERSAGI; Jakarta, 1996

Dustan HP. 1980. Hypertension In : Heart Book. USA : American Heart Association
Kalim H, Santoso K, dan Sunarya S. 1996. Pedoman Tatalaksana Dislipidemia dalam
Penanggulangan Penyakit Jantung Koroner. Jakarta : Persatuan Dokter Spesialis
Kardiovaskuler Indonesia.
Kusmana, Dede. 1997. Olahraga Bagi Kesehatan Jantung. Jakarta : FK UI.