Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA


LABORTORIUM MIKROBIOLOGI

Disusun oleh :

KELOMPOK 4 C1 D3 Analis Kesehatan

1. Reza Nadia Natasya NIM : 1163126


2. Rina Cahyaningsih NIM : 1163127
3. Rini Hartiningrum NIM : 1163128
4. Serli Cahyaningtia NIM : 1163129
5. Sholikin NIM : 1163130
6. Sri Handayani NIM : 1163131
7. Waljiningsih NIM : 1163132
8. Yuni Tri Mujiastuti NIM : 1163133

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NASIONAL

SURAKARTA
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pada saat sekarang ini ,dengan berkembangnnya ilmu pengetahuan, maka
semakin tinggi pula rasa ingin tahu seseorang terhadap apa yang terdapat di
alam sampai pada mikrooorganisme yang tak dapat di lihat dengan mata
telanjang/berukuran kecil. Dari hal inilah muncul ilmu pengetahuan yang
mempelajari tentang mikroorganisme tersebut yang disebut dengan
mikrobiologi.Para peniliti mulai mencari tahu akan apa yang terkandung pada
mikroorganisme tersebut.Dalam bidang penelitian mikroorganisme ini,
tentunya menggunakan teknik atau cara- cara khusus untuk mempelajarinya
serta untuk bekerja pada skala laboratorium untuk meneliti mikroorganisme
ini baik sifat dan karakteristiknya, tentu diperlukan pula pengenalan akan alat-
alat laboratorium mikrobiologi serta teknik / cara penggunaan alat-alat yang
berhubungan dengan penelitian tersebut .Hal ini dilakukan untuk memudahkan
berlangsungkan suatu penelitian.
`Alat-alat yang digunakan dalam praktikummikrobiologi juga harus dalam
keadaan steril atau bebas dari kuman serta bakteri, virus dan jamur. Dan untuk
mensterilkannya diperlukan pula pengetahuan tentang cara- cara / teknik
sterilisasi. Hal ini dilakukan karena alat- alat yang digunakan pada
laboratorium mikrobiologi memiliki teknik sterilisasi yang berbeda .
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka dilakukanlah percobaan ini untuk
mengetahui teknikpengenalan, penyiapan dan penggunaan serta fungsi dan
prinsip kerja setiap alat laboratorium mikrobiologi.Selain itu pula untuk
mengetahui teknik sterilisasi dari alat-alat tersebut.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Untuk mengetahui apa saja alat-alat dan peralatan untuk percoban-
percobaan mikrobilogi
2. Untuk mengetahui kegunaan dan fungsi alat-alat dalam percobaan
tersebut.
C. TUJUAN
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui dan mengenal alat-alat yang digunakan dalam
laboratoium mikrobiologi
2. Untuk mengetahui teknik penyiapan serta penggunaan alat-alat tersebut
dengan baik .
3. Untuk mengetahui fungsi dan prinsip kerja alat-alat laboratorium
mikrobiologi.
4. Untuk mengetahui teknik/cara sterilisasi alat-alat yang digunakan dalam
laboratorium mikrobiologi.
BAB II
PEMBAHASAN

A. LANDASAN TEORI
Mikrobiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang mikroorganisme
yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang untuk meneliti apa saja yang
terkandung di dalam mikroorganisme. Dalam meneliti mikroorganisme
diperlukan teknik atau cara cara khusus untuk mempelajarinya serta untuk
bekerja pada skala laboratorium untuk meneliti mikroorganisme baik sifat
maupun karakteristiknya, tentu diperlukan adanya pengenalan alat yang akan
digunakan serta mengetahui cara penggunaan alat alat yang berhubungan
dengan penelitian unutk memudahkan dalam melakukan penelitian.
Alat alat yang digunakan dalam penelitian harus dalam keadaan steril
atau bebas dari kuman, bakteri, virus dan jamur. Perlu adanya pengetahuan
tentang cara cara atau teknik sterilisasi. Hal ini dilakukan karena alat alat
yang digunakan memiliki teknik sterilisasi yang berbeda.
Laboratorium seperti layaknya tempat bekerja harus dapat memberikan
kenyamanan, kesehatan dan keamanan kepada semua orang yang bekerja
didalamnya, termasuk pengelola laboratorium itu sendiri. Untuk itu, perlu
studi kelayakan mengenai perencanaan dalam merancang laboratorium kimia
yang meliputi adanya prosedur pengoperasian baku yang memerhatikan
kesehatan dan keselamatan kerja ( K3 ) dilaboratorium, adanya ventilasi dan
perlengkapan pelindung yang berfungsi baik, adanya penataan dan
pengelolaan bahan kimia dan peralatan laboratorium, serta adanya prosedur
pengolahan limbah laboratorium.
Sebelum melakukan praktikum, terlebih dahulu kita harus mengenal atau
mengetahui tentang alat-alat yang digunakan dalam melakukan praktikum
tersebut.Hal ini berguna untuk mempermudah kita dalam melaksanakan
percobaan, sehingga resiko kecelakaan di laboratorium dapat
ditanggulangi.Kebersihan dan kesempurnaan alat sangat penting untuk bekerja
di laboratorium. Alat yang kelihatan secara kasat mata, belum tentu bersih,
tergantung pada pemahaman seorang analis mengenai apa artinya bersih. Alat
kaca seperti gelas piala atau erlenmeyer paling baik dibersihkan dengan sabun
atau deterjen sintetik. Pipet, buret, dan labu volumetrik mungkin memerlukan
larutan deterjen panas untuk bisa bersih benar .

B. ALAT-ALAT DI LABORATORIM MIKROBIOLOGI


Untuk megetahui lebih jelasnya apa saja alat-alat dan fungsi dalam
percobaan mikrobilogi dan parkakas marilah kita pelajari lebih lanjut uraiyan
dibawah ini.
Apa saja alat-alat untuk percobaan mikrobiologi
1. Sendok tanduk
Untuk mengambil bahan- bahan medium yang berbentuk padat
2. Spoit
Untuk memindahkan cairan dengan volume sedikit
3. Labu semprot
Sebagai tempat/ wadah aquadest dalam pembersihan alat laboratorium
untuk mempermudah prosesnya
4. Handspray
Sebagai tempat/ wadah alkohol dalam penyemprotan alat yang akan
disterilkan
5. Cawan petri
Sebagai wadah/media untuk pertumbuhan suatu mikroorganisme
6. Batang pengaduk
Untuk mengaduk zat atau medium di dalam Erlenmeyer
7. Gelas ukur
Untuk mengukur volume suatu cairan
8. Pipet gondok
Untuk mengambil cairan dalam jumlah tertentu
9. Pipet volume
Untuk mengambil larutan dengan volume tertentu
10. Tabung durham
Sebagai indikator fermentasi
11. Elenmeyer
Untuk menampung larutan kimia atau larutan yang dijadikan stock
medium
12. Oven
Untuk mensterilkan alat- alat gelas yang tahan terhadap panas.Digunakan
pada sterilisasi udara kering dengan membebaskan alat- alat dari segala
macam kehidupan (mikroba) tanpa kelembaban.
13. Inkubator
Untuk menginkubasi atau mengembangbiakkan, pertumbuhan bakteri.
Pada bagian luar dari alat ni dilengkapi dengan penunjuk suhu, dimana
suhu yang digunakan adalah suhu kamar. Bagian dalamnya terdapat rak
yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan mikroorganisme yang akan
diinkubasi.
14. Laminary air flow
Untuk pengerjaan sacara aseptis karena mempunyai pola pengaturan dan
penyaringan aliran udara sehingga aseptis dan aplikasi sinar UV beberapa
jam sebelum digunakan.
15. Neraca ohaus
Untuk menimbang bahan- bhan secara manual
16. Autoklaf
Untuk sterilisasi basah dengan penun juk tekanan dan katub pengaman
pada dasarnya berfungsi untuk membuang uap panas dari alat yang
disterilkan yang dihasilkan dari bahan cair yang merupakan
pendukungnya.
17. Shaker
Untuk mengigantasi/menghomogenkan medium dan mikroba dengan
tujuan memberikan oksigen yang cukup untuk pertumbuhan mikroba dan
agar pertumbuhan mikroba merata.
18. Neraca analitik
Untuk menimbang bahan- bahan secara analitik
19. Sentrifuges
Untuk menyaring atau memisahkan padatan (mikroorganisme) dan larutan.
Alat ini dilengkapi dengan pengatur kecepatan untuk mempercepat proses
pemisahan.
20. Penangas Dipakai
Untuk memanaskan atau mengukus suatu zat padat menjadi larutan atau
untuk mendidihkan larutan. Alat ini memiliki pengontrol yang sangat
tinggi.
21. Spektrofotometer
Untuk mengukur jumlah pertumbuhan bakteri
22. Ose lurus
Untuk menusuk media dalam pertumbuhan bakteri pada media tegak
23. Ose bulat
Untuk menggores mwdia dalam pertumbuhan bakteri pada media miring.
24. Enkas
Untuk pengerjaan medium misalnya pada isolasi atau penanaman bakteri
dalam kondisi ruang yang aseptis agar tidak terkontaminasi dengan udara.

Dari hasil yang diperoleh dapat diketahui berbagai fungsi atau prinsip kerja
setiap alat yang ada di laboratorium mikrobiologi. Alat-alat ini terdiri dari alat
non gelas berupa sendok tanduk, spoit, labu semprot, hand spray. Alat gelas
berupa; Cawan petri, batang pengaduk,pipet gondok, gelas ukur, pipet volume,
tabung durham,dan erlenmeyer.Alat instrumen berupaoven, inkubator,
Laminarty air flow, Sentrifuges, penangas, Shaker, Neraca analitik, Neraca
ohaus, Autoklaf, Spektrofotometer.Alat lain berupaOse lurus, Ose bulatdan
Enkas. Alat- alat laboratorium mikrobiologi ini memiliki teknik sterilisasi yang
tidak semuanya sama antara lain :
1. Alat gelas : Alat- alat gelas ini disterilkan dengan menggunakan oven, atau
disebut juga hot air sterilization. Alat- alat gelas disterilkan oleh udara
panas di dalam oven.Alat- alat yang disterilkan dengan menggunakan oven
adalah alat yang tahan terhadap panas.
2. Alat non gelas : Alat- alat non gelas ini disterilkan dengan menggunakan
autoklaf yaitu dengan menggunakan uap air panas bertekanan tinggi.
3. Alat- alat yang disterilkan dngan otoklaf adalah alat yang tidak tahan
terhadap panas/ mudah meleleh.
4. Alat- alat lain : Ose bulat dan ose lurus : Alat ini disterilkan dengan
menaruh benda pada nyala api bunsen sampai merah membara.
5. Enkas : Alat ini disterilkan dengan cara menyemprotkan alkohol pada
dinding dan dasr enkas dengan handspray dan didiamkan sekitar 30 menit
kemudian menyalakan bunsen selama pengerjaan.

C. K3 DI LABORATORIUM MIKROBIOLOGI
Laboratorium adalah suatu tempat dimana mahasiswa, dosen, peneliti dan
sebagainya, melakukan percobaan. Percobaan yang dilakukan menggunakan
berbagai bahan kimia, peralatan gelas dan instrumentasi khusus yang dapat
menyebabkan terjadinya kecelakaan bila dilakukan dengan cara yang tidak
tepat. Kecelakaan itu dapat juga terjadi karena kelalaian atau kecerobohan
kerja, ini dapat membuat orang tersebut cedera, dan bahkan bagi orang
disekitarnya. Keselamatan kerja di laboratorium merupakan dambaan bagi
setiap individu yang sadar akan kepentingan kesehatan, keamanan dan
kenyamanan kerja.
Dalam pekerjaan sehari-hari petugas laboratorium selalu dihadapkan pada
bahaya-bahaya tertentu, misalnya bahaya infeksius, reagensia yang toksik,
peralatan listrik maupun gelas yang digunakan secara rutin. Secara garis besar
bahaya yang dihadapi dalam laboratorium dapat digolongkan dalam :
1. Bahaya kebakaran dan ledakan dari zat / bahan yang mudah terbakar atau
meledak.
2. Bahan beracun, korosif dan kaustik
3. Bahaya radiasi
4. Luka bakar
5. Syok akibat aliran listrik
6. Luka sayat akibat alat gelas yang pecah dan benda tajam
7. Bahaya infeksi dari kuman, virus atau parasit.
Berikut ini beberapa prosedur umum K3 yang dapat dilakukan di
Laboratorium Mikrobiologi :
1. Memahami prosedur keselamatan.
2. Tidak meningggalkan pekerjaan sedang berlangsung.
3. Hati-hati menangani peralatan panas / dengan pemanas.
4. Tidak memipet dengan mulut.
5. Tidak menyalakan api / pemanas dekat pelarut yang mudah menguap.
6. Tidak meninggalkan api / pemanas tanpa pengawasan.
7. Mematikan peralatan, api, dan kran air bila tidak digunakan.
8. Tidak membawa peralatan dan bahan kimia keluar lab tanpa ijin.
9. Tas dan barang bawaan tidak diletakkan di meja percobaan.
10. Melapor pada asisiten tentang alergi / penyakit bawaan terhadap bahan
kimia atau hewan percobaan.
11. Memahami prosedur penanganan hewan percobaan.

CARACARA KERJA YANG BAIK DENGAN MEMPERHATIKAN


KESELAMATAN DAN KEAMANAN
1. Dalam keadaan sehat fisik dan mental.
2. Mematuhi tata tertib praktikum dan berdisiplin dalam keseluruhan
kegiatan praktikum.
3. Menjaga kebersihan baik ruangan maupun alat - alat selama praktikum.
4. Meneliti jumlah dan keadaan alat-alat praktikum sebelum dan sesudah
praktikum selesai.
5. Dalam penimbangan, pengerjaan dan penulisan laporan harus sistematik,
cermat dan teliti.
6. Jujur dalam semua tindakanmulai dari pembuatan sampai penyerahan hasil
praktikum.
7. Kreatif misalnya sebelum memulai praktikum telah mempersiapkan
komponen-komponen pelengkap seperti menyiapkan wadah tutup botol
dll.
8. Selama praktek bicara seperlunya supaya suasana tenang.
9. Tunjukkan sikap dan penampilan percaya diri , tidak bingung dan tidak
ragu-ragu sehingga mampu bekerja dengan tenang.
10. Tidak ceroboh dalam menempatkan alat-alat laboratorium , sehingga
menimbulkan kecelakaan kerja seperti : ketumpahan air panas atau
memecahkan alat laboratorium

D. DASAR PEMERIKSAAN DI LABORATORIUM MIKROBIOLOGI


Untuk menetapkan nama atau identifikasi suatu kuman (bakteri) dari hasil
isolasi, diperlukan urut-urutan pemeriksaan seperti berikut :
1. Reaksi terhadap pewarnaan dan morfologi bakteri
Untuk mengethui morfologi (bentuk) kuman dan sekaligus reaksi
terhadap pewarnaan,dilakukan dengan pewarnaan Gram. Tetapi jika hanya
untuk mengetahui adanya kuman dan bentuk saja, dapat diperiksa dengan
pewarnaan Methylen biru. Di laboratorium, biasanya dipulas dengan
Gram, kecuali bakteri-bakteri tahan asam. Dengan mengetahui Gramnya
suatu bakteri, dapat kita memilih media-media apa yang diperlukan.
Dengan pewarnaan Gram dapat dibagi bakteri-bakteri itu atas 2 golongan :
a) Gram positif
Semua Bacillus, misalnya: B.substilis, B.anthrax, B.mycoides.
Semua Clostridium, misalnya: Cl.tetani, Cl.botulinum, Cl.Welchii.
Semua coccus, misalnya: Streptococcus, Staphylococcus,
Pneumococcus, Gaffkya, Tetragena.
Semua diphtheroid, misalnya: C.B.diphtheri, C.xerosis,
C.Hoffman.
Genus Mycobacterium, misalnya: tbc, lepra.
Treponemataceae
Sel-sel ragi (yeast)
b) Gram negatif :
Bakteri-bakteri usus pathogen, misalnya: B typhus dan paratyphus,
B.dysenteri
Bakteri-bakteri usus apathogen: E.coli, E.intermedium,
A.aerogenes, Paracolobactrum
Semua Reisseria, misalnya: Gonococus, Meningococcus dan
Neisseria lain
Semua bacteroid, misalnya: B.fragillis, B.funduliformis
Semua Brucella, misalnya: B.melitensis, B.Ab.Bang
Hemophilus
Pasteurella

2. Sifat-sifat pertumbuhan (media) dan morfologi koloni.


Untuk mengisolasi bakteri dari material (bahan) harus ditanam
kepebenihan. Atas dasar pengamatan Gram dan morfologi bakteri, kita
dapat memilih media apa yang diperlukan. Ada juga bahan yang tidak
dapat dilakukan pewarnaan Gram, misalnya terhadap feces, darah. Tetapi
dalam hal ini biasanya ada permintaan dari dokter yang ditujukan terhadap
pemeriksaan suatu bakteri, misalnya : pemeriksaan terhadap salmonella
atau shigella atau vibrio (Salmonella bisa terdapat dalam feces dan darah,
sedangkan shigella dan vibrio hanya terdapat dalam feces). Dengan
demikian kita dapat memilih media yang selektif untuk Gram negati staf
atau media yang eksklusif bagi bakteri-bakteri yang bersangkut Di bawah
ini diberikan contoh-contoh media yang diperlukan untuk mengisolasi
bakteri-bakteri.

Media untuk bakteri-bakteri :


Agar biasa dan bouillon: Streptococcus, Staphylococcus.
Boullion darah : Streptococcus, Staphylococcus, Pneumococcus,
Hemophilus influensa.
Endo. S.S.agar, Leifson Salmonella dan Shigella.
Wilson-Blair : Salmonella typhi.
Eosin Methylen Blue (E.M.B.agar) : Shigella.
Levinthal pelat agar : Hemophilus influensa.
Lowenstein, Finlayson, Dubos Mycobacterium tuberculose.
Alkalis pepton: Enrichment untuk Vibrio.
Gaal, Tetrathionat: Enrichment untuk Salmonella.
Telluriet, Loffler: Corynebacterium diphtheriae.
Agar darah-kentang-glycerin : Hemophilus pertusis.
Soda agar, TCBS, Dieudonne : Vibrio (kolera dan ElTor).
Vervoort dan Noguchi : Leptospira.
Tarozzi bouillon : Clostridium (anaerobe).
Sabouraud agar: Ragi, Saccharomyces, Fungi, Torula, Monilia dll

3. Pengujian sifat-sifat fisiologis/reaksi biokimia dan gerak


Untuk membantu determinasi atau identifikasi suatu mikroba
diperlukan pengujian sifat-sifat physiologik terhadap beberapa macam
gula. Daya fermentasi (peragian) terhadap karbohidrat dari kuman-kuman
itu satu sama lain berbeda-beda. Secara pasti sukar dimengerti mengapa
suatu kuman dapat meragikan salah satu gula, sedangkan gula yang
lainnya tidak. Padahal jika ditinjau dari sudut emphiris, gula itu adalah
sama. Hal ini disebabkan mungkin adanya perbedaan letak atom-atom H
dan OH di sekitar atom C.
Gula-gula yang dipakai adalah monosaccharida, disaccharida,
trisaccharida. Tiap jenis gula terdapat dalam air-pepton, kadarnya kira-kira
1%. Dalam tabung-tabung peragian ini dimasukkan satu tabung kecil
letaknya terbalik, untuk menampung gas yang terbentuk. Tabung peragian
ini disebut tabung Durham. Untuk mengetahui adanya peragian atau
tidak maka ke dalam perbenihan dibubuhi suatu indikator sebagai petunjuk
asam dan basa. Indikator yang biasanya dipakai dalam peragian gula-gula
ini, ialah :
a) Azolitmin, dalam keadaan netral atau sedikit basa warnanya violet
(ungu), dalam keadaan asam warnanya kuning
b) Phenol-red, dalam keadaan netral atau sedikit basa warnanya merah
dan dalam keadaan asam warnanya kuning

Bila suatu bakteri ditanam ke peragian ini, maka terdapat 3


kemungkinan :
1) Bakteri tidak meragikan gula atau terbentuk alkalis sedikit, sehingga
warna indikator dalam tabung peragian tidak berubah. Kita catat
sebagai : Peragian negatif (-).
2) Bakteri meragikan gula, tidak membentuk gas. Karena adanya
peragian ini terbentuk asam yang menyebabkan warna indikator
berubah dan perubahan ini dapat dilihat. Kita catat sebagai : Peragian
positif (+).
3) Bakteri meragikan gula dan membentuk gas, terjadi perubahan
indikator dan gas yang terbentuk masuk ke dalam tabung Durham. Gas
ini dapat kita lihat, yaitu isi tabung Durham jernih. Kita catat sebagai :
Peragian positif dan membentuk gas (+g).

Untuk melakukan pemeriksaan reaksi bio-kimia, di laboratorium


disebut jajaran warna (jajaran panjang) mungkin karena tutup macam-
macam gula itu berwarna-warni. Jajaran warna s biasanya terdiri dari :
Agar miring Indol
Glukose Methyl red
Lactose Simon citrat
Seitz Voges Proskauer
Mannit Urea
Maltose T.S.A (T.S.I)
Saccharose Semi-solid
Sesudah 1-2 hari disimpan pada suhu 37C (kecuali semi-solid
disimpan pada suhu kamar), hasil reaksi dan peragian dapat dibaca.

Cara melakukan pemeriksaan reaksi biokimia


Pemeriksaan reaksi biokimia, pada umumnya dilakukan terhadap
Gram negatif staf. Material yang telah ditanam pada media untuk Gram
negatif staf, seperti Endo agar, S.S. agar dan Leifson secara apusan,
sesudah dikeram pada inkubator 37C selama 24 jam, tumbuhlah koloni-
koloni bakteri. Pilihlah koloni-koloni yang rein, kemudian dengan jarum
diambil 1 koloni dan ditanam ke perbenihan bouillon 1 ml. Bouillon
dieram pada suhu 37C kira-kira 30 menit, seterusnya ditanam kejajaran
warna seperti di atas, dengan ose dan jarum. Untuk citrat, urea, T.S.A. dan
semi solid ditanam dengan jarum, selainnya dengan ose.
Citrat : Tusuk sampai ke dasar tabung, kemudian goreskan pada
permukaan citrat agar.
Urea : Penanaman dilakukan dengan melakukan goresan pada
permukaan urea-agar.
T.S.A : Tusuk sampai ke dasar tabung, kemudian goreskan pada
permukaan.
Semi-solid : Tusuk sampai ke dasar tabung, kemudian jarum
ditarik pelan-pelan, melihat gerak.
Penanaman harus secepat mungkin dan aseptis.

4. Reaksi aglutinasi dan presipitasi


Reaksi agglutinasi dilakukan di atas gelas-objek yang bersih,
sedangkan reaksi presipitasi dilakukan pada tabungkecil, dengan memakai
antiserum. Antiserum diperoleh dengan menyuntik kelinci beberapa kali
dengan kuman yang telah dimatikan. Darah kelinci diambil sesudah
dibiarkan membeku dan diputar maka cairan yang jernih sebelah atas
tabung putar terdapat serum yang mengandung antibody, misalnya :
agglutinin atau presipitin. Serum ini di laboratorium disebut antiserum.
Antiserum ini beragglutinasi dengan bakteri yang homolog (sebagai
agglutinogen) dan reaksinya adalah khas (spesifik).
Reaksi agglutinasi antara lain dilakukan terhadap pemeriksaan :
Salmonella, Shigella, Pneumococ, Vibrio. Sedangkan presipitat antara lain
dilakukan terhadap pemeriksaan : Brucella, Anthrax (Ascoli test), Yeast
dan Fungi, dll. Sebagai contoh dapat dikemukakan di sini :
a) Pada pemeriksaan feces (tinja) dari seorang pasien dapat dipisahkan
sejenis bakteri yang menurut sifat-sifat pertumbuhan dan sifat-sifat
biokimianya seperti kuman typhus (Salmonella typhi). Berdasarkan
pengamatan sifat-sifat ini saja belum dapat ditetapkan diagnosa,
pemeriksaan harus dilengkapi dengan agglutinasi dengan antiserum
typhus. Bila terjadi agglutinasi positif, barulah dapat
diberikan/ditetapkan nama kuman tadi. Sebaliknya jika agglutinasi
negatif, pasti bukan kuman typhus (Salmonella typhi).
b) Demikian juga halnya jika dari urine pasien dapat diisolasi suatu
kuman yang sifat-sifat pertumbuhannya dan sifat-sifat biokimianya
sama dengan kuman paratyphus, untuk memastikan diagnosa, harus
dilengkapi dengan agglutinasi antiserum2 paratyphus.
c) Begitu juga kalau dari feces penderita dapat diisolasi suatu kuman
yang sifat-sifat pertumbuhan dan sifat-sifat biokimianya sama dengan
Shigella. Maka untuk menetapkan diagnosa dan penetapan jenis
Shigella tersebut harus dilanjutkan dengan pemeriksaan agglutinasi,
dengan mempergunakan antiserum2 Shigella.
Dari contoh-contoh di atas dapat diambil kesimpulan bahwa untuk
menetapkan diagnosa/nama bakteri yang dapat diasingkan, misalnya untuk
Salmonella, Shigella, Vibrio harus dilengkapi dengan agglutinasi.

5. Pathogenitet hewan percobaan


Untuk menetapkan diagnosa terhadap beberapa kuman penyakit
diperlukan percobaan hewan. Hewan atau binatang yang dipergunakan
harus sensitif (peka = rentan) terhadap kuman yang bersangkutan. Pada
hewan-hewan percobaan tersebut harus dijumpai kembali kuman-kuman
tersebut, atau menimbulkan gejala-gejala yang spesifik (Postulate Koch).
Contoh-contoh :
Mycobacterium tuberculose type human dan bovine sensitif terhadap
marmut. Tipe bovine saja sensitive terhadap sapi dan kelinci dan sapi.
Pasteurella pestis sensitive terhadap marmut.
Pneumococcus sensitive terhadap tikus putih kecil.
Percobaan rabies binatang kera dan tikus putih kecil (Habel mouse
test).

6. Test kulit
Beberapa kuman memerlukan test kulit untuk memperlengkapi
diagnosa. Contoh yang dilakukan test kulit, ialah :
a) Beta Streptococus
b) Pneumococcus
c) Myc.tuberkulose
d) C.diphtheriae
e) Brucella
f) Yeast dan Fungi, dll.

7. Serologi (reaksi pengikat komplemen)


Beberapa penyakit dapat diperiksa dengan complement fixation test
(reaksi pengikat komplemen).Untuk reaksi ini diperlukan : ekstrak-
antigen, amboceptor, serum-pasien, eritrosit biri-biri dan serum
komplemen. Cara-cara melakukan complement fixation test, lihat diktat
serologi. Yang dapat diperiksa dengan test ini, antara lain:
a) Gonococcus (gonorrhoea).
b) Brucella.
c) Yeast dan Fungi.
d) Treponema (penyakit syphilis), dll.
Di dalam routine (pekerjaan sehari-hari) pemeriksaan bakteri hanya
dilakukan dengan: pewarnaan, kultur (media), reaksi biokimia, agglutinasi
dan percobaan hewan.
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang diperoleh dari pembahasan ini adalah :
1. Alat non gelas terdiri dari sendok tanduk, spoit, labu semprot, hand spray.
2. Alat gelas terdiri dari Cawan petri, batang pengaduk,pipet gondok, gelas
ukur, pipet volume, tabung durham,dan erlenmeyer.
3. Alat instrumen terdiri dari oven, inkubator, Laminarty air flow,
Sentrifuges, penangas, Shaker, Neraca analitik, Neraca ohaus, Autoklaf,
Spektrofotometer.
4. Alat lain terdiri dari Ose lurus, Ose bulat, dan Enkas.
5. Teknik sterilisasi alat gelas dengan menggunakan oven,sedangkan alat non
gelas dengan menggunakan autoklaf dan alat lainose dengan cara
dipijarkan dan enkas dengan cara menyemprotkan alkohol kemudian
menyalakan bunsen saat pengerjaan

B. SARAN
1. Sebelum melakukan paraktikum usahakan bagian alat-alat yangakan
digunkan dalam kondisi steril.
2. Sebaiknya fungsi dan bagian- bagian dari alat- alat dari laboratorium
mikrobiologi dapat dijelaskan secara terperinci oleh asisten pendamping
agar praktikan dapat paham betul akan penggunaan dan cara kerja alat
ataupun teknik sterilisasi alat.