Anda di halaman 1dari 11

Case Report Session (CRS)

PREEKLAMPSIA BERAT

Disusun oleh:

Adlina Asfara 1301-1213-0640


Hidayatul Husna 1301-1213-0575
Nurfatin Anis 1301-1213-2523
Yola Yuniaarti 1301-1213-0504

SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN
RSUD KOTA BANDUNG
2015
IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. R
Tanggal Lahir : 7/6/1978
Usia : 37 thn
Alamat : Babakan Penghulu RT 01/RW 06, Cinambo, Kota Bandung
Status : Menikah
Pendidikan : SD
Pekerjaan : IRT
Agama : Islam
MRS : 26/4/2015 07:35

ANAMNESIS
Pasien dirujuk dari bidan dengan DK/ G5P3A1 parturien aterm 39-40 minggu kala I fase aktif
+ preeklampsia berat
Keluhan utama : tekanan darah tinggi
Riwayat penyakit sekarang : G5P3A1 merasa hamil 9 bulan mengeluh mules-mules yang
semakin sering dan semakin kuat sejak 2 jam SMRS. Keluar cairan banyak dari jalan lahir
dialami ibu sejak 2 jam SMRS. Cairan berwarna jernih, tidak berbau, dan tidak disertai
demam. Keluar lendir dan darah dirasakan ibu. Gerak anak dirasakan ibu. Ibu mengetahui
memiliki tekanan darah tinggi sejak usia kehamilan 8 bulan. Keluhan sakit kepala, nyeri ulu
hati, pandangan kabur, kejang, dan kehilangan kesadaran disangkal ibu. Riwayat tekanan
darah tinggi pada kehamilan sebelumnya disangkal ibu. Riwayat tekanan darah tinggi
sebelum kehamilan disangkal ibu. Ibu diperiksa air kencingnya di bidan dan ditemukan
protein pada urin +2. Karena keluhannya, ibu dirujuk ke RSUD Kota Bandung.
Keterangan tambahan:
Menikah perempuan, 17 tahun, SD, IRT
laki-laki, 19 tahun, SMP, swasta

1
Riwayat obstetrik
Kontrasepsi yang lalu : (-)
PNC : di bidan sebanyak 7 kali
HPHT : 20/7/2014, siklus : 28 hari teratur
Taksiran partus 27/4/2015
Riwayat kehamilan dan persalinan terdahulu
Tahun Lamanya Komplikasi Persalinan Bayi/ anak
hamil kehamilan
Spontan Tindakan Komplikasi BB Keadaan Sex
lahir
(g)
1999 9 bulan - V (oleh - - 3200 Hidup, 16 P
bidan) tahun
2002 Abortus - - - - - - -
2007 9 bulan - V (oleh - - 3300 Hidup, 8 P
bidan) tahun

2009 9 bulan - V (oleh - - 4200 Hidup, 6 P


bidan) tahun
2015 Hamil ini

PEMERIKSAAN FISIK
KU : Compos Mentis
Tanda Vital:
TD : 150/110 mmHg S : 36,2oC N : 88x/menit R : 20x/menit
BB: 105 kg TB: 160 cm
Kepala : konjungtiva anemis -/- , sklera ikterik -/-
Leher : tidak teraba pembesaran KGB
Toraks : B/G simetris, VBS ki = ka, Bunyi jantung murni regular, S1 S2 (+) normal, S3 S4 (-
), murmur ()
Abdomen : hepar dan lien sulit dinilai
Ekstremitas : CRT <2, edema -/-, refleks fisiologis +/+

Status Obstetrik
TFU : 42 cm
Letak anak : kepala 5/5, puki

2
HIS : 4/10/35
BJA : 148 x/m
TBBJ: 4880 gram
Inspekulo: lakmus test (+)

PD :
v/v t.a.k
portio tipis lunak
4-5 cm
Ket (-)
Kepala st -2

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hb: 12,3
Ht: 39,8
Leukosit: 9.730
Trombosit: 298.000
Proteinuria +1

DIAGNOSIS KERJA : G5P3A1 parturien aterm 39-40 minggu kala I fase aktif +
preeklampsia berat

TATA LAKSANA :
Admission test
Pasang kateter urin
MgSO4 20% 4 gram dalam 100 cc RL dalam 15-20 menit (loading dose)
MgSO4 20% 10 gram dalam 500 cc RL 20 gtt/menit (maintenance)
Dopamet 3x500 mg
Observasi KU, tanda vital, his, DJJ, diuresis
R/ partus pervaginam

PROGNOSIS :

3
Quo ad vitam : ad bonam
Quo ad functionam : ad bonam

Laporan Partus:

14.30 Ibu mulai gelisah, mengeluh mules semakin kuat dan ingin meneran.
Dilakukan Pemeriksaan Dalam:
- v/v tak
- portio tidak teraba
- lengkap
- Ket (-)
- Kep station +1
Ibu dipimpin meneran
14.57 Lahir bayi laki-laki, spontan, berat badan 5120 gr dan panjang badan 56 cm, APGAR
1/5=5/7
Dilakukan manajemen aktif kala III
Ibu disuntikkan Oksitosin 10 IU IM pada paha kanan anterolateral
Dilakukan PL: TFU sepusat, kontraksi baik
Dilakukan peregangan tali pusat terkendali
15.05 Lahir plasenta, lengkap, bentuk bulat diskoid, insersi sentralis, ukuran 24x20x2 cm, berat
600 gr
Perdarahan 200cc
Kesimpulan : P4A1 partus maturus spontan

Follow up 27/6/2015

S : kel (-)
O : KU: kesadaran: compos mentis
TD: 110/70 mmHg
N: 84 x/menit
R: 20 x/menit
S: 36,2oC
ASI +/+
Abdomen : datar lembut
TFU: 2 jari di bawah pusat
Kontraksi baik
Lochia rubra (+)
BAK (+)
BAB (-)
A : P4A1 partus maturus spontan
P : Asam mefenamat 3x500 mg
Amoxicillin 3x500 mg
SF 1x1

4
PREEKLAMSIA BERAT

Preeklamsia adalah adanya hipertensi dan proteinuria pada seorang perempuan hamil yang
tadinya normotensive .Penyakit ini timbul sesudah minggu ke 20 dan paling sering terjadi
pada primigravida yang muda.

1. Diagnosis
Diagnosis preeklamsia ditegakkan bila ditemukan gejala hipertensi dan proteinuria
yang disebut juga sebagai kriteria minimum.
a. Hipertensi : merupakan gejala yang paling awal dan tiba-tiba sesudah kehamilan
20 minggu. Batas tekanan darah adalah 140 mmHg (sistolik) dan 90 mmHg
(diastolic).
b. Proteinuria :ditegakkan bila kadar protein >= 300 mg dalam urine 24 jam atau 30
mg/dl (+1 dipstick) urine sewaktu, atau rasio protein/kreatinin>= 0.3
Gejala subjektif yang dapat ditemukan pada preeclampsia adalah :
a. Sakit kepala hebat akibat vasospasme atau edema otak
b. Sakit ulu hati akibat regangan selaput hati oleh perdarahan/ edema/ sakit
karena perubahan di lambung
c. Gangguan penglihatan yang disebabkan vasospasme, edema atau ablasi retina
Preeklamsia disebut berat bila ditemukan :
Tekanan darah sistolik>= 160 mmHg dan/atau diastolic >=110 mmHg
Proteinuria >= 2 gram dalam 24 jam atau>= 2+ dipstick urine sewaktu
Kreatinin serum >1.2 mg/dl
Trombosit <100.000/ul
Hemolisis dan peninggian kadar LDH
Peningkatan kadar serum transaminase
Gangguan serebral (sakit kepala menetap) atau gangguan penglihatan;
Sakit ulu hati yang menetap

Anamnesis : Keluhan sakit kepala, nyeri ulu hati, pandangan kabur, kejang, dan
kehilangan kesadaran(-). Riwayat tekanan darah tinggi pada kehamilan sebelumnya
(-). Riwayat tekanan darah tinggi sebelum kehamilan (-). Ibu diperiksa air kencingnya
di bidan dan ditemukan protein pada urin +2.
Pemfis: TD : 150/110 mmHg
Lab: Proteinuria +1

2. Diagnosis banding
a. Hipertens ikronis :hipertensi yang sudah ada sebelum kehamilan
b. Hipertensi kronis dengan superimposed pre eklamsia : pre eklamsia yang
terjadi pada perempuan hamil dengan hipertensi kronis

5
c. Hipertensigestasional: peningkatan tekanan darah setelah usia kehamilan lebih
dari 20 minggu tanpa adanya proteinuria atau kelainanan sitemiklainnya
Pasien tidak mempunyai riwayat hipertensi sebelum kehamilan sebelumnya.
Proteinuria pada pasien +3 sehingga hipertensi kronis, hipertensikronis
superimposed pre eklamsia, dan hipertensi gestatsional dapat dieklusi.

3. Etiologi dan factor risiko


Etiologi pada preeclampsia adalah :
Terpajan villi korialis pertama kali
terpajan villi korialis berlebihan (hiperplasentosis) factor imunologi
Factor genetik
Faktor nutrisi: kejadian preeklamsia meningkat pada keadanan kekurangan
zat/vitamin antioksidan, kalsium dan protein, kelebihan garam natrium atau
kekurangan asam lemak tak jenuh

Faktor risiko
Risiko terkait pasangan laki-laki / suami :primigravida, primipaternitas, umur
yang ekstrem (terlalu muda/ tua), pasangan/suami pernah menikahi wanita
yang kemudian hamil dan menderita preeklamsia, pemaparan sperma terbagas,
inseminasi donor sperma/ oosit
Risiko terkait riwayat penyakit terdahulu dan riwayat penyakit dalam keluarga
: riwayat preeklamsia/eklamsia, hipertensikronik, obesitas, diabetes
gestational / DM tipe 1, sindrom antifosfolipid dan hiperhomosisteinemia
Risiko terkait kehamilan sekarang :molahidatidosa, kehamilanganda, infeksi
saluran kencil, hidropsfetalis
Faktor yang mengurangi risiko :seks oral danmerokok
Pasien mempunyai factor risiko : hamil pada usia 37 tahun

Perjalanan penyakit
a. Tahap1 :tahap preklinik, disebabkan oleh kegagalan invasitrofoblas sehingga
terjadi gangguan remodeling arterispiralis/arter uterine yang menyebabkan
vasospasme dan hipoksia
b. Tahap2 : tahap klinik , disebabkan oleh stress oksidatif dan pelepasan factor
plasenta kedalam sirkulasi darah ibu yang mencetuskan respon inflamasi
sistemik dan aktivasi endotel disfungsi endotel peningkatan zat
vasokonstriktor dan penurunan zat vasodilator, peningkatan permeabilitas
kapiler & gangguan system pembekuan darah. Tahap 2 sangan dipengaruhi
oleh factor penyakit ibu seperti jantung, ginjal DM, kegemukan / keturunan,
sehingga dapat menjelaskan pathogenesis penderita preeklamsia awitan dini.

4. Pengelolaan

6
a. Deteksi dini : pelbagai pemeriksaan petanda biologis, biokimia dan biofisik
sebelum timbulnya gejala klinis sindrom preeklamsia yaitu hipertensi dan
proteinuria. Deteksi dini dapat dilakukan dengan cara mengidentifikasi factor
risiko dan pemeriksaan petanda preeklamsia.
b. Pencegahan berdasarkan hasil meta analisis terhadap 19 kajian sistematik,
WHO merekomendasikan upaya pencegahan preeklamsia dan eklamsia
sebagai berikut :
i. Pemberian kalsium 1,5-2 gr/hari di dalam diet selama kehamilan
terutama di daerah kurang asupan kalsium
ii. Pemberian aspirin dosis rendah sebesar 75 mg/hari dimulai sejak
sebelum usia kehamilan 20 minggu
iii. Pemberian MgSo4 i.v mau pun i.m merupakan pilihan utama
pencegahan dan pengobatan kejang eklamsia
iv. Ibu penderita preeklamsia berat dan eklamsia harus dirujuk ke faislitas
kesehatan yang lebih tinggi setelah mendapat loading dose MgSo4
c. Preeklamsia ringan :istirahat, mengurangi aktivitas fisik, memperbaiki asupan
gizi dan protein. Ideal : rawat inap namun dapat dilakukan rawat jalan dengan
memperhatikan hal-hal sbb :
i. Rawat jalan : istirahat cukup (berbaring/tidur miring); diet cukup
protein, rendah karbohidrat dan lemak, roboransia, control tiap minggu
ii. Rawat inap :apabila gejala klinis tidak membaik setelah 2 minggu
rawat jalan, timbul salah satu atau lebih gejala dan tanda PEB
d. Preeklamsia berat
Tujuan pengobatan PEB : mencegah eklamsia, memperbesar kemungkinan
hidup anak yang lahir; sedapat mungkin meminimalisasi trauma persalinan &
mencegah penyulit di kehamilan/ persalinan berikutnya dan mencegah
hipertensi persisten. Pilihan :konservatif / aktif. Perawatan konservatif :
mempertahankan kehamilan + pengobatan medisinal. Perawatan aktif :
terminasi kehamilan setelah pengobatan medisinal
i. Indikasi perawatan aktif
Ibu : kehamilan>37 minggu, tanda dan gejala impending
eclampsia (nyeri kepala hebat, penglihatan kabur, nyeri ulu
hati, gelisah, hiperrefleksia), gagal terapi konservatif,
peningkatan tekanan darah dalam 6 jam sejak terapi medicinal
dimulai, gagal perbaikan setelah 24 jam sejak terapi medicinal
dimulai
Janin :gawat janin dan pertumbuhan janin terhambat
Laboratorik : HELLP (hemolysis, elevated liver enzyme, low
platelet count)

ii. Pengobatan medisinal

7
Obatantikejang
o Pilihan : MgSo4 (i.vatauim)
Iv
Dosisawal : 4 gram MgSo4 20% (20cc) dalam
100 cc RL atau ringer dextrose selama 15-20
menit dilanjutkan dengan dosis maintenance :
10 gr MgSo4 20% dalam 500 cc RL/RD dengan
kecepatan 1-2 gr / jam
Im Dosisawal : 4gr MgSo4 20% (20cc) iv
dengan kecepatan 1 gr/menit dilanjutkan dengan
dosis pemeliharaan 4 gr MgSO4 40% (10cc) im
setiap 4 jam. Tambahakan 1 cc lidokain 2%
setiap pemberian im untuk mengurangi nyeri
dan panas

Syarat pemeberian MgSo4 : tersedia antidotum


(kalsiumglukonas 10%-1 gr dalam 10cc),
frekuensi pernafasan>= 16x/mnt, produksi
urine >=30 cc per jam (>=0.5cc/kgBB/jam),
reflex patella positif. Hentikan apabila : ada
tanda intoksikasi, setelah 24 jam pascasalin,
dalam 6 jam pascasa linter jadi perbaikan /
normotensif.

o Diazepam dapat diberikan bila tidak tersedia MgSO4.


Diazepam iv diberikan dengnan dosis 10mg dan dapat
diulangi setelah 6 jam

Obat antihipertensi hanya diberikan bila tekanan darah sistolik


>180 mmHg dan atau diastolic > 110 mmHg. Pilihan obat
antara lain :
o Hidralazine 2 mg iv dilanjutkan 100 mg dalam 500cc
NaCL secara titrasi sampai tekanan darah sistolik <170
mmHg dan diastolic <110 mmHg
o Labetalol 20 mg bolus iv. Bila tidak berhasil
menurunkan tekanan darah selama 10 menit, ulangi
dengan pemberian 40 mg lalu 80 mg setiap 10 menit
(maksimal 220 mg) sampai tercapai tekanan darah yang
diinginkan
o Nifedipin 10 mg po tiap 30 menit (maksimal 120
mg/hari) sampai tercapai tekanan darah yang
diinginkan. Tidak boleh diberikan sublingual

8
o Obat lain seperti metildopa, nikardipin, verapamil,
nimodipin.
Lain-lain
o Diuretikum :tidak diberikan kecual bila ada edema
paru, gagal jantung kongestif, edema anasarka
o Kardiogonik bila ada tanda payah jantung
o Antipiretik bila demam
o Antibiotik bila ada tanda infeksi
o Anti nyeri bila penderita gelisah karena kesakitan

iii. Pengelolaan obstetric


Pengelolaan terbaik : mengakhiri kehamilan, karena penyebab
preeklamsia adalah kehamilan itu sendiri dan akan membaik setelah
persalinan. Hal ini juga dapat mencegah kematian janin dan ibu. Namun
bila kehamilan preterm dan kondisi ibu dan janin baik dapat dilakukan
perawatan konservatif sampai 37 minggu. Bila persyaratan konservatif
tidak terpenuhi, akhiri kehamilan dengan induksi /augmentasi. Persalinan
pervaginam diselesaikan dengan partus buatan; bila ada indikasi dapat
dilakukan seksiosesaria

Penatalaksanaan kasus pada pasien adalah seperti berikut:

MgSO4 20% 4 gram dalam 100 cc RL dalam 15-20 menit (loading dose)
MgSO4 20% 10 gram dalam 500 cc RL 20 gtt/menit (maintenance)
Dopamet 3x500 mg
R/ partus pervaginam

5. Komplikasi
Vasokonstriksi yang meluasakan menyebabkan perubahan di dalam organ/system
antaralain :
Kardiovaskular :hipertensi, penurunan cardiac output, trombositopenia,
gangguan pembekuandarah, perdarahan, DIC, pengurangan volume plasma,
peningkatan permeabilitas pembuluh darah, edema, nekrosis
Plasenta :nekrosis, hambatan pertumbuhan janin, gawat janin, solusio plasenta
Ginjal :endoteliosis kapiler ginjal, penurunan bersihan asam urat, penurunan
laju filtrasi glomerulus, oliguria, proteinuria, gagal ginjal
Otak : edema, hipoksia, kejang (eklampsia), gangguan pembuluh darah otak
Hati :gangguan fungsi hati, peninggian kadar enzim hati, icterus, edema,
perdarahan dan regangan kapsul hati (HELLP syndrome)
Mata : edema pupil, iskemia, perdarahan, ablasio retina
Paru-paru : edema iskemia, nekrosis, perdarahan gangguan pernapasan
Pada pasien tidak terdapat/ terdapat tanda-tanda komplikasi

9
6. Prognosis
Prognosis bergantung kepada terjadinya eklamsia. Kematian akibat preeklamsia
sebesar 0.5% namun pada eklamsia menjadi 5%. Prognosis anak juga memburuk
bergantung kepada derajat keparahan preeklamsia. Kematian perinatal 20% dan
dipengaruhi oleh prematuritas.

DAFTAR PUSTAKA

1. Krisnadi SR, Mose JC, Effendi JS. Pedoman Diagnosis dan Terapi Obstetri dan
Ginekologi RS. DR. Hasan Sadikin. Bandung : Fakultas Kedokteran Universitas
Padjadjaran; 2005.
2. Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ. Williams Obstetrics. 23rd edition, USA :
McGraw-Hill; 2010.
3. Martaadisoebrata D, Wirakusumah FF, Effendi JS. Obstetri Patologi Ilmu Kesehatan
Reproduksi. 3 ed. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2012.

10