Anda di halaman 1dari 14

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Definisi

Nutrisi adalah sesuatu yang dimakan seseorang dan bagaimana

tubuh menggunakannya.

(Barbara,2010 : 740).

Nutrisi adalah substansi organik dan non organik yang

ditemukan dalam makanan dan dibutuhkan oleh tubuh agar dapat

berfungsi dengan baik.

(Kozeir : 2004).

Kebutuhan gizi seseorang ditentukan oleh faktor usia, jenis

kelamin, jenis kegiatan, dan sebagainya.

Prosedur pemenuhan kebutuhan nutrisi adalah kebutuhan nutrisi

bagi tubuh merupakan suatu kebutuhan dasar manusia yang sangat penting.

Dilihat dari kegunanaanya nutrisi merupakan sumber energi untuk segala

aktivitas dalam sistem tubuh. sumber nutrisi dalam tubuh berasal dari dalam

tubuh sendiri, seperti glikogen yang terdapat dalam otot dan hati ataupun

protein dan lemak dan lemak dalam jaringan dan sumber lain yang berasal

dari luar tubuh seperti yang sehari-hari dimakan oleh manusia. Pemenuhan

kebutuhan nutrisi pada anak akan sangat berguna dalam membantu proses

tumbuh-kembang.

8
9

Prosedur pemenuhan kebutuhan nutrisi pada orang sakit yang tidak

mampu secara mandiri dapat dilakukan dengan cara membantu memenuhi

melalui beberapa cara yaitu pemberian nutrisi melalui oral atau mulut

tindakan ini merupakan tindakan keperawatan yang dilakukan pada klien

yang tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi melalui mulut atau oral atau

adanya gangguan fungsi menelan dan pemberian nutrisi melalui parentral

merupakan pemberian nutrisi berupa cairan infus yang dimasukan kedalam

tubuh melalui darah vena baik sentral (untuk nutrisi parentral total) atau vena

perifer.

(hidayat, 2005).

Nutrisi merupakan elemen penting untuk proses dan fungsi tubuh.

Enam katagori zat makanan adalah air, karbohidrat. Protein, lemak, vitamin,

dan mineral. Kebutuhan energi dipenuhi dengan metabolisme karbohidrat,

protein, dan lemak. Air adalah komponen tubuh yang vital dan berfungsi

sebagai penghancur zat makanan. Vitamin dan mineral tidak menyediakan

energi, tetapi penting untuk proses metabolisme dan keseimbangan asam

basa.

(potter & perry 2006 : 1421).

Makanan kadyang kadang digambarkan menurut kepadatan

nutrisi, proposi nutrisi penting untuk jumlah kalori. Makanan dengan

kepadatan nutrisi tinggi, seperti buah buahan dan sayur sayuran,

menyediakan sejumlah besar nutrisi yang berhubungan dengan kalori.


10

Makanan dengan kepadatan nutrisi rendah, seperti gula dan alkohol, tinggi

kalorinya tapi berzat gizi rendah.

(potter & perry 2006 : 1421).

Nutrisi adalah zat-zat gizi dan zat lain yang berhubungan dengan

kesehatan dan penyakit, termasuk keseluruhan proses dalam tubuh

manusia untuk menerima makanan atau bahan-bahan dari lingkungan

hidupnya dan menggunakan bahan-bahan tersebut untuk aktifitas penting

dalam tubuhnya serta mengeluarkan sisanya. Nutrisi dapat dikatakan

sebagai ilmu tentang makanan, zat-zat gizi yang terkandung, aksi, reaksi

dan keseimbangan.

Kekurangan nutrisi dapat terjadi pada banyak kasus penyakit

seperti halnya pada kasus abses, sedangkan pengertian abses adalah

kumpulan nanah (Netrofil yang telah mati) yang terakumulasi disebuah

kapasitas jaringan karena adanya proses infeksi (biasanya oleh bakteri atau

parasit) atau karena adanya benda asing (misalya serpihan, luka peluru, atau

jarum suntik) proses ini merupakan reaksi perlindungn oleh jaringan untuk

mencegah penyebaran atau perluasan infeksi kebagian tubuh yang lain. Abses

adalah infeksi kulit dan subkutis dengan gejala berupa kantong berisi nanah.

(Nanda Nic-Noc 2013, hal: 6).


11

B. Etiologi

Etiologi dari ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

menurut Nanda 2013 adalah faktor biologis, faktor ekonomi,

ketidakmampuan untuk mengabsorsi nutrisi, ketidakmampuan untuk

mencerna makanan, ketidakmampun menelan makanan. Sedangkan pada

abses mandibula ketidakseimbangan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan

tubuh disebabkan oleh kemampuan asupan makanan.

(Nanda Nic-Noc 2013, hal: 6).

C. Patofisiologi

C.1 Pemenuhan Kebutuhan

Kebutuhan Nutrisi merupakan elemen penting untuk proses dan

fungsi tubuh. enam kategori zat makanan diantaranya adalah air

karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral. Kebutuhan energi

dipenuhi dengan metabolisme karbohidrat, protein dan lemak. Air

adalah komponen tubuh yang vital dan bertindak sebagai penghancur

zat makanan.

(Potter & Perry, 2006, hlm 1421).

C.2 Kebutuhan diet yang dianjurkan untuk memenuhi kebutuhan

Selama remaja, umur fisiologi merupakan panduan yang lebih

baik untuk kebutuhan nutrisi daripada umur kronologis. Kebutuhan

kalori meningkat besar untuk memenuhi permintaan metabolisme yang

meningkat. Perempuan memerlukan kira-kira 2000 kkal/ hari, laki-laki


12

2500 hingga 3000 kkal/ hari. Kebutuhan protein meningkat untuk

kebutuhan sehari hari dari 45 hingga 59 g.

(Potter & Perry, 2006, hlm 1438).

Sedangkan patofisiologi pada kasus penyakit abses adalah Kuman

yang masuk kedalam tubuh akan menyebabkan kerusakanakan jaringan

dengan cara mengeluarkan toksin. Bakteri melepaskan eksotoksin yang

spesifik (sintesis), kimiawi yang secara spesifik mengawali proses

peradangan atau melepaskan endotoksin yang ada hubungannya dengan

dinding sel. Reaksi hipersensitivitas terjadi bila ada perubahan kondisi respon

imunologi mengakibatkan perubahan reaksi imun yang merusak jaringan.

Agent fisik dan bahan kimia oksidan dan korosif menyebabkan kerusakan

jaringan,kematian jaringan menstimulus untuk terjadi infeksi. Infeksi

merupakan salah penyebab dari peradangan, kemerahan merupakan tanda

awal yang terlihat akibat dilatasi arteriol akan meningkatkan aliran darah

kemikro sirkulasi kalor terjadi bersamaan dengan kemerahan bersifat lokal.

Peningkatan suhu dapat terjadi secara sistemik.

Abses yang tidak diobati akan pecah dan mengeluarkan pus

kekuningan sehingga terjadi kerusakan Integritas kulit. Sedangkan abses yang

diinsisi dapat mengakibatkan resiko penyebaran infeksi.

(http: //id.wikipedia.com. diperoleh tanggal 26 Mei 2014).


13

D. Gambaran klinis

Gambaran klinis pada pasien abses adalah abses bisa terbentuk

diseluruh tubuh, termasuk paru-paru, mulut, rektum, dan otot. Abses yang

sering ditemukan didalam kulit atau tepat dibawah kulit terutama jika timbul

diwajah. Menurut smeltzer dan bare, gejala dari abses tergantung kepada

lokasi dan pengaruhnya terhadap fungsi suatu organ syaraf. Gejalanya bisa

berupa : Nyeri,nyeri tekan, teraba hangat, pembengkakan, kemerahan,

demam.

suatu abses yang terbentuk tepat terbentuk tepat dibawah kulit

biasanya tampak sebagai benjolan. Adapun lokasi abses antara lain ketiak,

telinga, dan tungkai bawah. Jika abses akan pecah, maka daerah pusat

benjolan akan lebih putih karena kulit diatasnya menipis. Suatu abses di

dalam tubuh, menimbulkan gejala seringkali terlebih tumbuh besar. Abses

mungkin bisa menyebarkan infeksi keseluruh tubuh.

Untuk menentukan atau menegakan diagnosa pada manifestasi klinis

penyakit abses diperluhkan:

D.1 Pemeriksaan Fisik

Harus ditemukan luka terbuka atau tertutup, organ atau jaringan

terinfeksi, massa eksudat, peradangan, abses superficial dengan ukuran

bervariasi, rasa sakit dan bila dipalpasi akan terasa fluktuaktif.

(NANDA 2013 : 8).


14

D.2 Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan penunjang dari penyakit infeksi adalah sebagai

berikut:

D.2.a Kultur : Mengidentifikasi organisme penyebab abses sensitivitas

menentukan obat yang paling efektif.

D.2.b Sel darah putih, Hematokrit mungkin meningkat, Leukopenia,

Leukositosis (15.000 - 30.000) mengindikasikan produksi sel

darah putih termasuk dalam jumlah besar.

D.2.c Elektrolit serum, berbagai ketidakseimbangan mungkin terjadi

dan menyebabkan acidosis, perpindahan cairan dan perubahan

fungsi ginjal

D.2.d Pemeriksaan pembekuan : Trombositopenia dapat terjadi karena

agregasi trombosit, PT/PTT mungkin memanjang menunjukaftn

koagulopati yang diasosiasikan dengan iskemia hati/sirkulasi

toksin/status syok.

D.2.e Laktat serum : Meningkat dalam acidosis metabolic, disfungsi

hati, syok.

D.2.f Glukosa serum, hiperglikemi menunjukkan glukogenesis dan

glikogenesis di dalam hati sebagai respon dari puasa atau

perubahan seluler dalam metabolisme.

D.2.g BUN/Kr : Peningkatan kadar diasosiasikan dengan dehidrasi,

ketidakseimbangan atau kegagalan ginjal dan disfungsi atau

kegagalan hati.
15

D.2.h GDA : Alkalosis respiratori hipoksemia,tahap lanjut hipoksemia

asidosis respiratorik dan metabolic terjadi karena kegagalan

mekanisme kompensasi.

D.2.i Urinalisis : Adanya sel darah putih/bakteri penyebab infeksi

sering muncul protein dan sel darah merah.

D.2.j Sinar X : Film abdominal dan dada bagian bawah yang

mengindikasikan udara bebas di dalam abdomen atau organ

pelvis.

D.2.k EKG : Dapat menunjukan perubahan segmen ST dan gelombang

T, dan disritmia yang menyerupai infak miokard.

(Doenges,2000:873).

E. Pengelolaan Kasus

Dalam keperawatan kasus pada asuhan keperawatan

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh ini menggunakan

model keperawatan TIM, dimana pengelolaan kasus ini dilakukan selama tiga

hari mulai tanggal 10 mei 2014 sampai 12 mei 2014, dalam pengelolaan TIM

ini perawat saling bekerjasama dalam melakukan asuhan keperawatan demi

memperoleh hasil yang makmisal, meskipun muncul beberapa kendala namun

perawat dapat menyelesaikan demi terciptanya kepuasan klien.


16

F. Asuhan Keperawatan

Untuk memberikan asuhan keperawatan pemenuhan kebutuhan

tubuh kurang dari kebutuhan tubuh pada Tn. T dengan post operasi Abses

Mandibula di ruang Puspa Nidra RSUD Kardinah Tegal harus dilakukan

beberapa tahapan.

Dibawah ini akan di jelaskan mulai dari pengkajian, diagnosa keperawatan,

tujuan, rencana, tindakan dan rasional.

F.1 Pengkajian

Perawat berkolaborasi dengan alhi diet dalam memimpin

pengkajian nutrisi yang komperhensif. Karena makanan dan cairan

adalah kebutuhan dasar biologis semua makhluk hidup, maka

pengkajian nutrisi penting khususnya bagi klien yang beresiko masalah

nutrisi yang berhubungan dengan stres, penyakit, hospitalisasi,

kebiasaan gaya hidup. Pusat pengkajian nutrisi sekitar empat area

pokok yaitu:

F.1.a Pengukuran Fisik dan Antropometri

Pengukuran tinggi dan berat badan klien harus diperoleh

ketika pasien masuk rumah sakit atau lingkungan pelayanan

kesehatan apapun.Tinggi dan berat badan klien dapat

dibandingkan dengan standar hubungan tinggiberat badan.

Perubahan berat badan yang terakhir harus

didokumentasikan.sedangkan pengukuran antropometrik dapat

memiliki variasi penting kecuali pengujinya terampil, telah


17

mempraktikan pengukuran ini, dan memiliki peralatan yang

tepat.

F.1.b Tes Laboratorium dan Biokimia

Tidak satupun tes laboratorium atau biokimia adalah

diagnostik untuk malnutrisi, tes tes dipengarui oleh banyak

faktor seperti keseimbangan cairan, fungsi hati, fungsi ginjal, dan

adanya penyakit. Tes laboratorium biasanya digunakan untuk

mempelajari status nutrisi termasuk ukuran protein plasma seperti

albumin, transferin, retinol yang mengikat protein, total kapasitas

ikatan zat besi dan hemoglobin.

F.1.c Riwayat Diet dan Kesehatan

Riwayat diet berfokus pada kebiasaan asupan makanan

dan cairan klien,sebaik informasi tentang pilihan, alergi, masalah,

dan area yang berhubungan lainnya, seperti kemampuan klien

untuk memperoleh makanan.

F.1.d Observasi Klinis

Observasi klinis dapat menjadi aspek terpenting diantara

pengkajian nutrisi. Seperti pada bentuk pengkajian keperawatan

lain, perawat mengobservasi klien tanda tanda perubahan

nutrisi.
18

F.2 Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang menguraikan

respon aktual atau potensial klien terhadap masalah kesehatan yang

perawat mempunyai izin dan berkomitmen untuk mengatasinya.

(potter & perry, 2005 : 166).

Menurut potter & perry (2006 : 1446), Diagnosa Nutrisi terdiri dari:

F.2.a Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh

Menurut NANDA Faktor yang berhubungan : ketidakmampuan

pemasukan atau mencerna makanan atau mengabsorpsi zat zat

gizi.

Intervensi menurut capernito(2009)

F.2.a.1 Jelaskan tentang perlunya konsumsi kabohidrat, lemak,

protein, vitamin, meneral, dancairan yang adekuat.

Rasional : Nutrisi menyediakan sumber energi,

membentuk jaringan, dan mengatur proses

metabolik tubuh.

F.2.a.2 Konsultasikan dengan ahli gizi untuk menetapkan

kebutuhan kalori harian dan jenis makanan yang sesuai

dengan klien.

Rasional : Konsultasi dapat membantu menetapkan

diet yang memenuhi asupan kalori dan

nutrisi yang optimal.


19

F.2.a.3 Diskusikan pada klien tentang kemungkinan penyebab

penurunan nafsu makan

Rasional : Faktor-faktor seperti nyeri, keletihan,

penggunaan analgesik, dan nutrisi yang

optimal.

F.2.a.4 Anjurkan klien untuk istirahat sebelum makan

Rasional : Kondisi yang lemah lambat laun

menurunkan keinginan dan kemampuan

klien anoreksia untuk makan.

F.2.a.5 Tawarkan makanan dalam jumlah sedikit, tetapi sering,

bukan banyak, tetapi jarang; tawarkan makanan yang

disajikan dalam keadaan dingin

Rasional : Distribusi total asupan kalori harian yang

merata sepanjang hari membantu mencegah

distensi lambung sehingga selara makan

mungkin akan meningkat.

F.2.a.6 Pada kasus penurunan nafsu makan, batasi asupan

cairan saat makan dan hindari mengonsumsi cairan 1

jam sebelum dan sesudah makan

Rasional : Pembatasan asupan cairan saat makan

membantu mencegah distensi lambung.

F.2.a.7 Dorong dan bantu klien untuk menjaga kebersihan

mulut yang baik


20

Rasional : Kebersihan mulut yang kurang

menyebabkan bau dan rasa yang tidak

sedap yang dapat mengurangi nafsu makan.

F.2.a.8 Atur agar porsi makanan tinggi kalori dan tinggi protein

disajikan saat klien biasanya merasa paling lapar

Rasional : Menyediakan makanan tinggikalori dan

tinggi-protein pada saat klien merasa paling

lapar akan meningkatkan kemungkinan

klien mengonsumsi kalori dan protein yang

adekuat.

(Capernito, 2009).

F.2.b Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh

Faktor yang berhubungan : penurunan laju metabolik, asupan

nutrisi dan kalori yang berlebihan dalam diet

Intervensi menurut Capernito (2009)

F.2.b.1 Kaji factor penyebab atau factor penunjang

Rasional : Kemampuan untuk menurunkan berat

badan saat sedang menjalankan terapi

kortikosteroid tampaknya bergantung pada

pembatasan asupan natrium dan upaya

mempertahankan asupan kalori yang sesuai.

F.2.b.2 Bantu klien untuk menurunkan asam kalori yang tidak

penting dan meningkatkan aktifitas metaboliknya


21

Rasional : Peningkatan aktifitas mendukung upaya

menurunkan berat badan.

F.2.b.3 Jelaskan tentang pengaruh penurunan indra pengecapan

dan penciuman pada persepsi kenyang setelah makan

Rasional : Individu dengan gangguan penciuman atau

pengecapan bisa mengonsmsi lebih banyak

makanan yang memuaskan pengecapan

mereka.