Anda di halaman 1dari 12

DECOMP CORDIS (GAGAL JANTUNG KONGESTIF)

A. Pengertian

Gagal jantung kongestif adalah suatu ketidakmampuan jantung untuk


memompakan ke seluruh tubuh sesuai dengan kebutuhan (Nurhidayat, 2011).
Gagal jantung terjadi ketika jantung tidak mampu memompa darah yang cukup
untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrien tubuh (Corwin, 2009).

Menurut Baradero (2008), gagal jantung kongestif, sering juga disebut


dengan dekompensasi kordis, insufisiensi jantung, atau inkompeten jantung,
adalah keadaan ketika jantung tidak mampu memompa darah ke seluruh tubuh
untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Gagal jantung dibagi atas gagal jantung akut
yang timbulnya sangat cepat sebagai akibat dari serangan infark miokard, ditandai
dengan sinkop, syok, henti jantung, dan kematian tiba-tiba dan gagal jantung
kronis berkembang secara perlahan dan disertai dengan tanda-tanda yang ringan
karena jantung dapat mengadakan kompensasi.
Menurut Price (1992), gagal jantung adalah keadaan patofisiologis di mana
jantung sebagai pompa tidak mampu memenuhi kebutuhan darah untuk
metabolisme jaringan.

B. Faktor Faktor yang Memengaruhi Pompa Jantung


Menurut Price (2002), gangguan fungsi mekanis jantung dan metode
metode bantuan sirkulasi ditinjau dari efek-efeknya terhadap tiga penentu utama
dari fungsi miokardium: beban awal (preload), kontraktilitas, dan beban akhir
(afterload).
1. Beban Awal 1.
Beban awal adalah derajat peregangan serabut miokardium pada akhir
pengisian ventrikel atau diastolic. Meningkatnya beban awal, sampai titik
tertentu, memperbanyak tumpang tindih antara filament-filamen aktin dan
myosin: meningkatkan kekuatan kontraksi dan curah jantung. Hubungan ini
dinyatakan dengan hukum Starling: yaitu peregangan serabut-serabut
miokardium selama diastole akan meningkatkan kekuatan kontraksi pada
sistol. Beban awal meningkat dengan bertambahnya volume diastolic ventrikel,
misalnya pada retensi cairan dan penurunan beban awal terjadi pada diuresis.
2. Kontraktilitas
Kontraktilitas, yaitu penentu kedua dari fungsi miokardium,
menunjukkan perubahan-perubahan dalam kekuatan kontraksi atau keadaan
inotropic yang terjadi bukan karena perubahan-perubahan dalam panjang
serabut. Pemberian obat inotropic positif seperti katekolamin atau digoksin,
akan meningkatkan kontraktilitas otot-otot jantung.
3. Beban akhir 3.
Beban akhir adalah besarnya tegangan dinding ventrikel yang harus
dicapai untuk mengejeksi darah sewaktu sistolik. Menurut Hukum Laplace,ada
tiga variable yang memengaruhi tegangan dinding, ukuran atau radius
intraventrikel, tekanan sistolik ventrikel, dan tebal dinding. Faktor-faktor yang
meningkatkan tekanan ventrikel selama sistolik (seperti vasokontriksi arteria
yang meningkatkan tahanan terhadap ejeksi ventrikel) atau meningkatnya
radius ventrikel (seperti pada retensi cairan) akan meningkatkan beban akhir.
Jantung yang gagal terutama peka terhadap peningkatan beban akibat
peningkatan beban akhir, karena terbatasnya cadangan jantung. Pengurangan
beban akhir dapat dicapai dengan intervensi seperti pemberian vasodilator.
Menurut hokum Laplace, hipertropi ventrikel sebagai konsekuensi lain dari
gagal jantung, juga menurunkan beban akhir. Bertambahnya masa otot juga
meningkatkan kerja ejeksi.
C. Etilogi
Beberapa istilah gagal jantung
1. Gagal jantung sistolik adalah ketidakmampuan kontraksi jantung
memompa sehingga curah jantung menurun menyebabkan kelemahan
kemampuan aktifitas fisik menurun dan gejala hipoperfusi lainnya.
2. Gagal jantung diastolik adalah gangguan reaksi dan gangguan
pengisian ventrikel (Sudoyo, Dkk 2009)
Klasifikasi menurut gejala dan intesitas gejala (Morton,2012)
1. Gagal jantung akut
Timbulnya secara mendadak, biasanya selama beberapa hari atau
beberapa jam.
2. Gagal jantung kronik
Erkembangan gejala selama beberapa bulan samai beberapa tahun dan
menggambarkan keterbatasan kehidupan sehari-hari.
Klasifikasi gagal jantung menurut letaknya
1. Gagal jantung kiri merupakan kegagalan ventrikel kiri untuk
mengisi atau mengosongkan dengan benar dan dapat lebih lanjut
diklasisfikasi menjadi disfungsi sistolik dan diastolik
2. Gagal jantung kanan merupakan kegagalan ventrikel kanan untuk
memompa secara adekuat. Penyebab yang paling sering terjadi
pada gagal jantung kanan adalah gagal jantung kiri. Gagal jantung
kanan juga dapat disebabkan oleh penyakit paru dan hipertensi
arteri pulmonary primer.
Menurut derajat sakitnya
1. Derajat pertama:
Tanpa keluhan, masih bisa melakukan aktfitas fisik sehari-hari
tanpa disertai kelelahan maupun sesak.
2. Derajat kedua
Ringan, aktifitas fisik sedang dapat menyebabkan kelelahan
atau sesak nafas, tetapi jika aktifitas ini dihentikan maka
keluhan pun hilang.
3. Derajat ketiga
Sedang, aktifitas ringan menyebabkan kelelahan atau sesak
nafas, tetapi keluhan akan hilang jika aktifitas dihentikan.
4. Derajat ke empat
Berat, tidak dapat melakukan aktifitas fisik sehari-hari, bahkan
pada saat istirahat pun keluhan tetap ada dan semakin berat jika
melakukan aktifitas walaupun aktifitas ringan.
Menurut Baradero (2008), penyebab gagal jantung dibagi atas dua
kelompok, yaitu:
1. Gangguan yang langsung merusak jantung, seperti infark miokardium,
miokarditis, fibrosis miokardium, dan aneurisma ventricular.
2. Gangguan yang menyebabkan kelebihan kelebihan beban ventrikel.
Kelebihan beban ventrikel dibagi atas: Preload adalah volume darah
ventrikel pada akhir diastole. Kontraksi jantung menjadi kurang efektif
apabila volume ventrikel sudah melampaui batasnya. Meningkatnya
preload dapat diakibatkan oleh regusgitasi aorta atau mitral, terlalu cepat
pemberian cairan infus terutama pada klien lansia dana anak kecil.
Afterload adalah kekuatan yang harus dikeluarkan jantung untuk
memompa darah ke seluruh tubuh (system sirkulasi). Meningkatnya
afterload dapat diakibatkan oleh stenosis aorta, stenosis pulmonal,
hipertensi sistemik, dan hipertensi pulmonal. Penyakit jantung
hipertensif adalah perubahan pada jantung sebagai akibat dari hipertensi
yang berlangsung terus-menerus dan meningkatkan afterload. Jantung
membesar sebagai kompensasi terhadap beban pada jantung. Apabila
hipertensi tidak teratasi, kegagalan jantung dapat terjadi.
Menurut Nurhidayat (2011), penyebab gagal jatung dapat di bagi menjadi
beberapa penyebab, yaitu:
1. Kelainan Mekanis
Peningkatan beban tekanan (resistensi) pembuluh darah, sentral
(stenosis aorta), perifer (hipertensi sistemik),peningkatan beban volume
(regurgitasi katup, peningkatan beban awal), bstruksi terhadap ventrikel
(stenosis mitralis atau trikuspidalis), tamponade pericardium, restruksi
endokardium atau miokardium, aneurisma ventrikel, dis-sinergi
ventrikel 9.
2. Kelainan Miokardium
Primer, kardiomiopati, miokarditis, kelainan metabolik, toksisitas
(alkohol, kobalt) preskardia, kelainan dis-dinamik sekunder (sekunder
terhadap kelainan mekanik), kekurangan O2, kelainan metabolik,
Inflamasi, penyakit sistemik, penyakit paru obstruksi menahun
(PPOM), berubahnya irama jantung atau urutan konduksi, henti
jantung, fibrilasi, takikardia atau bradikardia yang berat, asinkroni
listrik, gangguan konduksi
D. Manifestasi klinis
Menurut Nurhidayat (2010), tanda dan gejala gagal jantung secara
keseluruhan sangat bergantung pada etiologinya. Namun dapat
digambarkan sebagai berikut:
1. Ortopnea, yaitu sesak saat berbaring.
2. Dyspnea On Effort (DOE), yaitu sesak bila melakukan aktivitas.
3. Paroxymal Nocturnal Dyspnea(PND), yaitu sesak nafas tiba-tiba pada
malam hari disertai batuk.
4. Berdebar-debar.
5. Lekas lelah.
6. Batu-batuk.
Gambaran klinis gagal jantung kiri
1. Sesak nafas dyspnea on effort, paroxymal nocturnal dyspnea.
2. Pernapasan cheyne stokes.
3. Batuk.
4. Sianosis.
5. Suara sesak.
6. Ronchi basah, halus, tidak nyaring di daerah basal paru hydrothorak.
7. Kelainan jantung seperti pembesaran jantung, irama gallop,
tachycardia.
8. BMR mungkin naik
9. Kelainan pada foto rontgen
Gambaran klinis gagal jantung kanan
1. Edema pretibial, edema presakral, asites dan hydrothorax.
2. Tekanan vena jugularis meningkat (hepato jugular refluks).
3. Gangguan gastro intestinal, anorexia, mual muntah, rasa kembung di
epigastrium.
4. Nyeri tekan mungkin didapati gangguan fungsi hati tetapi
perbandingan albumin dan globulin tetap, splenomegaly,
hepatomegaly.
5. Gangguan ginjal, albuminuria, silinder hialin, glandular, kadar ureum
meninggi (60-100%), oligouria, nocturia.
6. Hiponatremia, hypokalemia, hipoklorimia
E. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Doengoes (2000), diagnosis gagal jantung dapat ditegakkan
dengan menggunakan kriteria:
1. Electrocardiogram (ECG)
Hipertrofi atrial atau ventrikuler, penyimpangan aksis, iskemia, dan
kerusakan pola mungkin terlihat. Disritmia, misal takikardia, fibrilasi
atrial, mungkin sering terdapat KVP (kontraksi ventrikuler prematur).
Kenaikan segmen ST/t persisten 6 minggu atau lebih setelah infark
miokard menunjukkan adanya aneurisme ventrikuler (dapat menyebabkan
gagal/disfungsi jantung).
2. Sonogram (ekogram, ekokardiogram dopple)
Dapat menunjukkan dimensi pembesaran bilik, perubahan dalam
fungsi/struktur katup, atau area penurunan kontraktilitas ventrikular.
3. Skan jantung (Multigated acquisition (MUGA)
Tindakan penyuntikan fraksi dan memperkirakan gerakan dinding jantung.
4. Kateterisasi jantung
Tekanan abnormal merupakan indikasi dan membantu membedakan gagal
jantung sisi kanan versus sisi kiri, dan stenosis katup atau insufisiensi.
Juga mengkaji patensi arteri koroner. Zat kontral disuntikkan ke dalam
ventrikel menunjukkan ukuran abnormal dan ejeksi fraksi/perubahan
kontraktilitas.
5. Rontgen dada
Dapat menunjukkan adanya kardiomegali, bayangan mencerminkan
dilatasi/hipertrofi bilik, atau perubahan dalam pembuluh darah
mencerminkan peningkatan tekanan pulmonal. Kontur abnormal, misal,
bulging pada perbatasan jantung kiri, dapat menunjukkan aneurisme
ventrikel.
6. Enzim hepar
Meningkat dalam gagal atau kongesti hepar.
7. Electrolit
Mungkin berubah karena perpindahan cairan atau penurunan fungsi ginjal,
terapi diuretik.
8. Oksimetri nadi
Saturasi oksigen mungkin rendah, terutama jika gagal jantung kiri akut
memperburuk PPOM atau gagal jantung kiri kronis.
9. Analisa Gas Darah
Gagal ventrikel kiri ditandai dengan alkalosis respiratorik ringan (dini)
atau hipoksemia dengan peningkatan PCO2 akhir.
10. Kreatinin
Peningkatan BUN (Blood Ureum Nitrogen) menandai penurunan fungsi
ginjal.
11. Albumin/transferrin serum
Mungkin menurun akibat penurunan masukan protein atau penurunan
sintesis dalam hepar yang mengalami kongesti.
12. Hitung Sel Darah
Mungkin menemukan anemia, polysitemia, atau perubahan kepekatan
menandakan retensi air mungkin meningkat, menunjukkan infark akut.
F. Penatalaksaan
1. Perubahan gaya hidup, monitoring dan kontrol faktor risiko
2. Meningkatkan oksigenasi dengan pemberian oksigen dan menurunkan
konsumsi oksigen melalui istirahat/pembatasan aktifitas
3. Memperbaiki kontraktilitas otot jantung
Mengatasi keadaan yang reversibel, termasuk tirotoksikosis,
mikesedema, dan aritmia. Pemberian obat digitalis untuk mengatasi
edema pulmonal akut yang berat (Digoksin oral untuk digitalisasi
cepat 0,5 2 mg dalam 4-6 dosis selama 24 jam dan dilanjutkan 2 x
0,5 mg selama 2-4 hari, Digoksin IV 0,75 1 mg dalam 4 dosis selama
4 jam)
4. Menurunkan beban jantung
Diet rendah garam, diuretik dosis rendah (furosemid 40-80 mg),
penghambat ACE (katopril mulai dari dosis 2 x 6,25 mg), vasodilator
(nitrogliserin 0,4-0,6 mg sublingual atau 0,2-2ug/kg/bb/menit iv,
nitroprusid 0,5-lug/kg/bb/menit iv, prazosin peroral 2-5 mg)

G. Pencegahan
Sedapat mungkin mengurangi faktor-faktor yang menyebabkan
terjadinya penyakit arteri koroner, terutama yang dapat dirubah oleh
penderita:
1. Berhenti merokok
Rokok mengandung nikomungkin mengurangi faktor-faktor yang
menyebabkan terjadinya penyakit
2. Menurunkan berat badan dan menurunkan kadar kolesterol darah
dengan diet atau dengan obat. Obesitas dapat meningkatkan kemungkinan
kolestrol meningkat, yang mengakibatkan arteriosklerosis.Klien sebaiknya
menurunkan berat badan untuk mencapai dan atau mempertahankan berat
badan yang optimal.
3. Mengendalikan tekanan darah
Peningkatan tekanan darah sistemik meningkatkan resistensi terhadap
pemompaan darah dari ventrikel kiri, sebagai akibatnya terjadi hipertropi
ventrikel untuk meningkatkan kekuatan kontraksi.Kebutuhan oksigen oleh
miokardium akan meningkat akibat hipertrofi ventrikel, hal ini
mengakibatkan peningkatan beban kerja jantung. Oleh sebab itu klien IMA
diharapkan untuk mengendalikan tekanan darah.
4. Melakukan olah raga secara teratur.
Arteriosklerosis dapat disebabkan oleh pola makan yang salah dan aktivitas
yang minimum. Dengan melakukan aktivitas olahraga yang teratur
diharapkan kemungkinan terjadinya arteriosklerosis akan berkurang.
WOC DECOMP CORDIS (GAGAL JANTUNG KONGESTIF) Penyakit jantung
(stenosis katub AV,
Faktor sistemik (hipoksia stenosis katub
Gangguan aliran darah ke otot jantung Arterosklorosis koroner anemia ) temponade perikarditis
konstruktif )
disfungsi miokardium beban volume berlebihan pasokan O2 ke jantung

Kontraktilitas beban systole Beban tekanan berlebeihan Beban sistolik berlebihan

Hambatan pengosongan Peningkatan kebutuhan Hipertensi sistemik pulmonal Preload


ventrikel metabolisme

COP Beban jantung Atrofi serabut otot Gagal jantung

Kelaianan otot jantung Disfungsi miokard


Kontraktilitas
miokarditis

Peradangan Dan penyakit Serabut otot jantung Gagal pompa ventrikel kanan
miokardium rusak

Penyempitan lumen venrikel


Gagal pompa ventrikel kiri Back failure LVED naik kanan

Foward failure Renal flow RAA


Hipertrofi ventrikel kanan
Suplai darah ke jaringan Suplai O2 di otak Aldosteron

Asidosis metabolik Sinkop Retensi Na + H2O Tekanan vena pulmonalis meningkat

ATP turun Resiko penurunan perfusi Kelebihan volume cairan Tekanan kapiler paru meningkat
jaringan jantung

Fatique
Ganguan pertukaran gas Edema paru Beban ventrikel

Intoleran aktivitas
Pitting edema Kerusakan intergitas kulit
Ronkhi basah Irittasi mukosa paru

Retensi cairan pada ektermitas bawah Bersihan jalan nafas tidak efektif
Penumpukan sekret Refleks batuk

Tidak dapat mengakomodasi semua darah yang Bendungan vena sstematik Bendungan atrium
secara normal kembali dari sirkulasi vena kanan Tekanan diastol

Perembesan vena di abdomen Lien Hepar

Splenomegali
Anoreksia dan mual Hepatomegali Nyeri

Cairan terdorong ke
Ketidkseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan Mendesak diafragma tekanan pembuluh rongga abdomen
tubuh portal

Ansietas Sesak nafas Ketidakefektifan pola nafas Ansietas