Anda di halaman 1dari 13

PAPER WAWASAN DAN KAJIAN MIPA

PERISTIWA PASANG SURUT AIR LAUT

DITINJAU DARI WAWASAN DAN KAJIAN MIPA

Disusun oleh :
Nama : Yuli Ana Dwi Handayani
NIM : 15308141055
Kelas : Biologi E 2015

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara maritim dengan perairan (laut) hampir 2/3
wilayahnya. Banyak peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di lautan Indonesia. Peritiwa-
peristiwa tersebut memberikan pengaruh yang besar terhadap kehidupan organisme laut,
kehidupan manusia, maupun keadaan laut itu sendiri. Salah satu peritiwa yang terjadi di laut
adalah pasang surut air laut yang disebabkan oleh gaya gravitasi.
Apabila kita mengamati pergerakan air laut di pantai dalam waktu yang cukup
lama, maka kita akan merasakan bahwa kedalaman air dimana kita berpijak selalu berubah
sepanjang waktu. Pada mulanya muka air terlihat rendah, beberapa waktu kemudian menjadi
tinggi dan akhirnya mencapai maksimum. Setelah itu muka air menurun kembali sampai
elevasi terendah, meninggalkan batu karang dan pasir, serta pangkal pohon pun terbuka
kemudian kering. Selanjutnya air laut naik kembali menggenangi pantai, sampai batu
karang, pasir dan pangkal pohon-pohon tadi terendam sampai tinggi. Dinamika perubahan
elevasi muka air laut tersebut merupakan gerakan air laut yang paling aneh diantara semua
gerakannya. Di Indonesia dinamika permukaan air laut tersebut dinamakan pasang surut
(pasut) air laut.
Pada masa lalu, manusia sangat takut melihat gerakan pasut air laut tersebut, sebab
bumi ini dianggapnya bernafas seperti satu raksasa besar. Julius Caesar, seorang kaisar
Romawi, pernah menduga bahwa bulanlah yang menyebabkan adanya pasang, dan
dugaannya memang benar, meskipun ia tidak tahu betul bagaimana caranya. Baru sekitar
abad ke-17, Sir Isaac Newton menemukan teori yang cukup relevan dengan fenomena ini.
Newton menjelaskan pasang surut air laut sebagai fenomena alam yang berkaitan dengan
hukum gravitasi universal.
Pasang surut air laut dapat dikaji baik secara biologi, kimia, astronomi, fisika,
maupun sosial budaya. Dalam paper ini, penulis mencoba mengkaji peristiwa pasang surut
air laut secara biologi, kimia, astronomi, fisika, maupun sosial budaya.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana jika pasang surut air laut dikaji dalam kajian ilmu ke-MIPA-an?
2. Bagaimana jika pasang surut air laut dikaji dalam kajian ilmu lain (Astronomi dan Sosial
Budaya)?

C. Tujuan
1. Mengetahui tentang pasang surut air laut jika dikaji dalam kajian ilmu ke-MIPA-an
2. Mengetahui tentang pasang surut air laut jika dikaji dalam kajian ilmu yang lain,
misalnya Astronomi dan Sosial Budaya
BAB II
PEMBAHASAN

Pasang surut diartikan sebagai naik turunnya muka laut secara berkala akibat adanya
gaya tarik menarik benda-benda angkasa terutama matahari, bumi dan bulan terhadap massa air
di bumi. Pengaruh benda angkasa lainnya diabaikan karena jaraknya lebih jauh atau ukurannya
lebih kecil.
Jenis pasang surut teridentikasi sebagai bentuk pengaruh gravitasi bulan dan matahari
serta gaya sentrifugal bumi secara langsung terhadap pergerakan air laut. Adapun tipe pasang
surut biasanya dipengaruhi oleh faktor lokalitas laut secara khusus, sehingga membedakan
karakter pasang surut antara satu tempat dengan tempat yang lain.
1. Pasang purnama (spring tide) adalah pasang yang terjadi ketika bumi, bulan dan matahari
berada dalam suatu garis lurus. Pada saat itu akan dihasilkan pasang tinggi yang sangat
tinggi dan pasang rendah yang sangat rendah. Pasang surut purnama ini terjadi pada saat
bulan baru dan bulan purnama (konjungsi dan oposisi).
2. Pasang perbani (neap tide) adalah pasang yang terjadi ketika bumi, bulan dan matahari
membentuk sudut tegak lurus. Pada saat itu akan dihasilkan pasang tinggi yang rendah dan
pasang rendah yang tinggi. Pasang surut perbani ini terjadi pasa saat bulan 1/4 dan 3/4.
Tipe pasut ditentukan oleh frekuensi air pasang dan surut setiap harinya. Hal ini
disebabkan karena perbedaan respon setiap lokasi terhadap gaya pembangkit pasang surut.
Sehingga terjadi tipe pasut yang berlainan di sepanjang pesisir. Pasang surut di Indonesia dibagi
menjadi 4 yaitu:
1. Pasang surut harian tunggal (diurnal tide). Merupakan pasang surut yang terjadi satu kali
pasang dan satu kali surut dalam satu hari, ini terdapat di Selat Karimata.
2. Pasang surut harian ganda (semi diurnal tide). Merupakan pasang surut yang terjadi dua kali
pasang dan dua kali surut yang tingginya sama dalam satu hari, ini terdapat di Selat Malaka
dan Laut Andaman.
3. Pasang surut campuran condong harian tunggal (mixed tide, prevailing diurnal). Merupakan
pasang surut yang tiap harinya terjadi satu kali pasang dan satu kali surut tetapi terkadang
dengan dua kali pasang dan dua kali surut yang sangat berbeda dalam tinggi dan waktu, ini
terdapat di Pantai Selatan Kalimantan dan Pantai Utara Jawa Barat.
4. Pasang surut campuran condong harian ganda (mixed tide, prevailing semi diurnal).
Merupakan pasang surut yang terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dalam sehari, tetapi
kadang-kadang terjadi satu kali pasang dan satu kali surut dengan memiliki tinggi dan waktu
yang berbeda, ini terdapat di Pantai Selatan Jawa dan Indonesia bagian timur.

A. Kajian Fisika dan Astronomi Pasang Surut Air Laut


Berdasarkan kajian ilmu fisika pasang surut air laut merupakan hasil dari gaya tarik
gravitasi dan efek sentrifugal. Efek sentrifugal adalah dorongan ke arah luar pusat rotasi.
Gravitasi bervariasi secara langsung dengan massa tetapi berbanding terbalik dengan jarak.
Meskipun ukuran bulan lebih kecil dari matahari, gaya tarik gravitasi bulan dua kali lebih
besar daripada gaya tarik matahari dalam membangkitkan pasang surut laut karena jarak
bulan lebih dekat daripada jarak matahari ke bumi. Gaya tarik gravitasi menarik air laut ke
arah bulan dan matahari menghasilkan dua tonjolan pasang surut gravitasional di laut.
Lintang dari tonjolan pasang surut ditentukan oleh deklinasi, sudut antara sumbu rotasi bumi
dan bidang orbital bulan dan matahari.
Pendefinisaian menurut Newton, Pasang surut air laut (Ocean tides) diartikannya
sebagai gerakan naik turunnya air laut terutama akibat pengaruh adanya gaya tarik menarik
antara massa bumi dan massa benda-benda angkasa, khususnya bulan dan matahari. Puncak
elevasi disebut pasang tinggi dan lembah elevasi disebut pasang rendah. Periode pasang
surut (Tidal Range) adalah waktu antara puncak atau lembah gelombang ke puncak atau
lembah gelombang berikutnya. Dalam siklus bulanan, terjadi 2 kali pasang tinggi yang
tertinggi dan pasang rendah yang terendah yaitu saat konjungsi dan oposisi. Menurut teori
gravitasi universal, besaran gaya gravitasi berbanding terbalik terhadap jarak. Oleh karena
itu, meskipun ukuran bulan lebih kecil dari matahari, gaya tarik gravitasi bulan lebih besar
daripada gaya tarik matahari dalam membangkitkan pasang surut laut karena jarak bulan ke
bumi lebih dekat dari pada jarak matahari ke bumi. Dalam hal ini sesuai dengan teori
gravitasi Sir Isaac Newton yang termuat dalam buku Philosophiae Naturalis Principia
Mathematika, menyatakan bahwa besarnya gaya tarik menarik antara dua titik massa
berbanding langsung dengan massanya dan berbanding terbalik dengan kuadrat jaraknya.
Gaya tarik gravitasi menarik air laut ke arah bulan dan matahari sehingga
menghasilkan beberapa tonjolan (bulge) pasang surut gravitasional di laut. Dimana satu
bagian terdapat pada permukaan bumi yang terletak paling dekat dengan bulan dan tonjolan
yang lain terdapat pada bagian bumi yang letaknya paling jauh dari bulan. Lintang dari
tonjolan pasang surut ditentukan oleh deklinasi bulan yang menghasilkan gravitasi yang
relatif kuat menarik massa air yang menghadap sisi bumi yang langsung menghadap ke
bulan. Sedangkan di sisi bumi yang lain terdapat juga adanya tonjolan air karena gaya
gravitasi bulan pada sisi ini berkekuatan jauh lebih lemah dari pada gaya sentrifugal bumi.
Dua tonjolan massa air ini merupakan daerah-daerah yang saat itu mengalami pasang tinggi.
Dan seperti kita ketahui bahwa bumi ini berputar pada porosnya, maka pasang tinggi yang
terjadi pun akan bergerak bergantian secara perlahan-lahan dari satu tempat ke tempat lain di
permukaan bumi.
Bulan sebagai objek utama penyebab terjadinya pasang surut air laut, selain
mengelili bumi juga mengelilingi matahari bersama bumi. Oleh karena orbit matahari dan
bulan yang berbentuk oval, maka sistem jarak bumi-bulan-matahari selalu berubah-ubah. Di
samping itu, matahari bersama bulan sama-sama menarik air laut yang menjadikannya
pasang. Apabila bulan dan matahari berada pada satu garis langit, tarikannya menjadi lebih
kuat. Tetapi kerap kali bulan dan matahari itu menarik dari jurusan yang berbeda-beda,
dengan demikian maka kadang-kadang pasang itu sangat tinggi dan pada waktu lainnya
sangat rendah.
Menurut teori lama, naik turunnya permukaan laut (sea level) yang teratur
disebabkan oleh gravitasi benda-benda langit terutama bulan dan matahari. Posisi benda-
benda langit tersebut selalu berubah secara teratur terhadap bumi, sehingga besarnya kisaran
pasang surut juga berubah secara teratur mengikuti perubahan tersebut. Namun, tampaknya
teori ini belum mampu menjawab pertanyaan tentang Faktor yang berpengaruh terhadap
dinamika pasang surut secara komprehensif, karena kenyataan yang ada sering tidak sesuai
dengan teori ini. Dengan alasan inilah kemudian muncul teori baru yang melengkapi teori
lama. Teori baru menyatakan bahwa yang mempengaruhi dinamika pasang surut air laut
-selain gravitasi bulan dan matahari- adalah keadaan laut secara lokal. Meliputi kedalaman,
luas, dan gesekan laut. Teori baru ini juga menyertakan rotasi bumi sebagai faktor yang
berpengaruh terhadap dinamika pasang surut air laut.
a. Teori Kesetimbangan (Equilibrium Theory)
Teori kesetimbangan pertama kali diperkenalkan oleh Sir Isaac (1642-1727).
Teori ini menerangkan sifat-sifat pasang surut secara kualitatif. Teori diasumsikan pada
bumi ideal berbentuk bulat sempurna yang seluruh permukaannya ditutupi oleh air
dengan distribusi massa yang seragam dan pengabaian terhadap pengaruh
kelembaman(Inertia). Kesetimbangan juga diasumsikan dengan kedalaman laut dan
densitas yang sama antara naik dan turunnya elevasi permukaan laut yang sebanding
dengan gaya pembangkit pasang surut (Tide Generating Force) yaitu Resultante gaya
gravitasi bulan matahari dan gaya sentrifugal bumi. Teori ini berkaitan dengan hubungan
antara laut, massa air yang naik, bulan, dan matahari. Gaya pembangkit pasang surut
akan menimbulkan air tinggi pada dua lokasi dan air rendah pada dua lokasi. Pembangkit
pasang surut sendiri dijelaskannya dengan teori gravitasi universal, yang menyatakan
bahwa pada sistem dua massa m1 dan m2 akan terjadi gaya tarik menarik sebesar F di
antara keduanya yang besarnya sebanding dengan perkalian massanya dan berbanding
terbalik dengan kuadrat jaraknya.
b. Teori Pasang surut Dinamik (Dynamical Theory)
Teori pasang surut dinamik berpedoman bahwa lautan yang homogen masih
diasumsikan menutupi seluruh bumi pada kedalaman yang konstan, tetapi gaya-gaya tarik
periodik dapat membangkitkan gelombang dengan periode sesuai dengan konstitue-
konstituennya. Karakteristik pasang surut yang terbentuk dipengaruhi oleh karakter laut
secara lokal. Teori ini pertama kali dikembangkan oleh Laplace (1796-1825). Teori
dinamik melengkapi teori kesetimbangan sehingga sifat-sifat pasang surut dapat
diketahui secara kuantitatif.
Menurut teori dinamis, gaya pembangkit pasut menghasilkan gelombang pasut
(tide wive) yang periodenya sebanding dengan gaya pembangkit pasut. Karena
terbentuknya gelombang, maka terdapat faktor lain yang perlu diperhitungkan selain gaya
pembangkit pasang surut. Menurut Defant, faktor-faktor tersebut adalah: kedalaman
perairan dan luas perairan, pengaruh rotasi bumi (gaya Coriolis), gesekan dasar laut.
Selain itu juga terdapat beberapa faktor lokal yang dapat mempengaruhi pasut di
suatu perairan seperti, topogafi dasar laut, lebar selat, bentuk teluk, dan sebagainya,
sehingga berbagai lokasi memiliki ciri pasang surut yang berlainan.
Rotasi bumi menyebabkan semua benda yang bergerak di permukaan bumi akan
berubah arah (Coriolis Effect). Di belahan bumi utara benda membelok ke kanan,
sedangkan di belahan bumi selatan benda membelok ke kiri. Pengaruh ini tidak terjadi di
equator, tetapi semakin meningkat sejalan dengan garis lintang dan mencapai maksimum
pada kedua kutub. Besarnya juga bervariasi tergantung pada kecepatan pergerakan benda
tersebut.
Kecepatan rotasi bumi pada sumbunya terindentifikasi terlalu cepat bagi massa
air, sehingga keterlambatan samudera merespon gaya penggerak pasang surut merupakan
hal yang pasti, mengingat samudera tidak memiliki cukup waktu untuk membangun
pasang surut dengan segera. Hal ini juga telah diungkapkan oleh Mac Millan, menurutnya
gaya Coriolis mempengaruhi arus pasut dengan faktor gesekan dasar yang dapat
mengurangi periode pasut dan menyebabkan keterlambatan fase (Phase lag), serta
mengakibatkan persamaan gelombang pasut menjadi non linier. Semakin dangkal
perairan maka semakin besar pengaruh gesekannya.

B. Kajian Biologi Pasang Surut Air Laut


Pasang surut air laut tentu mempengaruhi kehidupan organisme laut. Terutama
organisme yang berada pada zona intertidal. Zona intertidal adalah zona yang dipengaruhi
oleh pasang surut air laut dengan luas area yang sempit antara daerah pasang tertinggi dan
surut terendah. Pasang surut merupakan kondisi yang menyebabkan daerah intertidal terkena
udara terbuka secara periodik. Organisme yang berada pada zona intertidal perlu
kemampuan adaptasi agar dapat menempati daerah ini.
Kombinasi antara pasang surut dan waktu dapat menimbulkan dua akibat langsung
yang nyata pada kehadiran dan organisasi komunitas intertidal. Pertama, perbedaan waktu
relative antara lamanya suatu daerah tertentu di intertidal berada diudara terbuka dengan
lamanya terendam air. Lamanya terkena udara terbuka merupakan hal yang sangat penting
karena pada saat itulah organisme laut akan berada pada kisaran suhu terbesar dan
kemungkinan mengalami kekeringan. Semakin lama terkena udara, semakin besar
kemungkinan kehilangan air diluar batas kemampuannya. Kebanyakan hewan ini harus
menunggu sampai air menggenang untuk mencari makan. Semakin lama terkena udara,
semakin kecil kesempatan untuk mencari makan dan mengakibatkan kekurangan energi.
Pengaruh kedua, pasang surut yang terjadi pada siang hari atau malam hari
memiliki pengaruh yang berbeda terhadap organisme. Surut pada malam hari menyebabkan
daerah intertidal berada dalam kondisi udara terbuka dengan kisaran suhu yang relative lebih
rendah jika dibandingkan dengan daerah yang mengalami surut pada saat siang hari. Suhu di
daerah intertidal biasanya mempunyai kisaran yang luas selama periode berbeda baik secara
harian maupun musiman dan dapat melebihi toleransi organisme. Jika pasang surut terjadi
pada kisaran suhu udara maksimum (siang hari yang panas) maka akan melebihi batas
toleransi suhu organisme. Meskipun tidak terjadi kematian, namun organisme akan semakin
lemah karena suhu ekstrem sehingga tidak dapat beraktivitas seperti biasa dan pada
akhirnya akan mati.
Pengaruh ketiga, pasang surut yang terjadi secara periodik cenderung membentuk
irama tertentu dalam kegiatan organisme pantai, misalnya irama memijah, mencari makan
atau aktivitas organisme lainnya.
Flora dan fauna yang hidup pada zona intertidal memiliki kemampuan bervariasi
dalam menyesuaikan diri terhadap keadaan terkena udara maupun kehilangan air. Adaptasi
yang dilakukan oleh organisme intertidal yang banyak kehilangan air karena air laut surut
diantaranya adalah bergerak dari daerah yang terbuka ke lubang-lubang, celah atau galian
yang basah atau bersembunyi dibawah alga sehingga kehilangan air dapat dihindari.
Organisme yang tidak dapat berpindah tempat seperti alga dan bivalvia mereka beradaptasi
untuk mengatasi kehilangan air yang besar dengan struktur jaringan tubuhnya. Selain itu
pada Genus Porphyra, Fucus dan Enteromorpha sering dijumpai dalam keadaan kisut dan
kering setelah lama berada diudara terbuka, tetapi ketika air laut pasang kembali mereka
akan cepat menyerap air dan kembali menjalankan proses kehidupannya. Beberapa species
dari teritip, gastropoda, dan bivalvia memiliki kemampuan untuk menghindari kehilangan
air dengan cara merapatkan cangkangnya atau memiliki opercula yang dapat menutup rapat
celah cangkang.
Untuk menjaga tubuh dari suhu ekstrem akibat pasang surut air laut, organisme
yang berada pada daerah intertidal memiliki beberapa adaptasi. Misalnya dengan
memperbesar ukuran tubuhnya. Dengan memperbesar ukuran tubuh, maka luas permukaan
tubuh akan lebih kecil dibandingkan volume tubuh. Sehingga luas daerah tubuh yang
mengalami peningkatan suhu menjadi lebih kecil. Selain dengan memperbesar ukuran tubuh
bias juga dengan memperbanyak ukiran pada cangkang. Ukiran-ukiran pada cangkang
berfungsi sebagai sirip radiator sehingga memudahkan hilangnya panas.
Hilangnya panas juga dapat diperbesar melalui pembentukan warna tertentu pada
cangkang. Genus Nerita an Littorina memiliki warna lebih terang dibandingkan dengan
kerabatnya yang hidup di daerah laut dalam (warna gelap akan menyerap panas). Memiliki
persediaan air tambahan yang disimpan di dalam rongga mantel seperti pada teritip dan
limfet yang banyaknya melebihi kebutuhan hidup hewan ini. Persediaan air ini dipergunakan
untuk strategi mendinginkan tubuh melalui penguapan sekaligus menghindarkan kekeringan.

C. Kajian Kimia Pasang Surut Air Laut


Di laut terdapat berbagai zat kimia yang sangat berperan dalam kelangsungan
hidup organisme. Zat-zat kimia tersebut diantaranya adalah NaCl yang sering disebut garam
dapur, MgCl2, K, Ca, O2, N, Na, dll. Arus pasang surut air laut dapat mempengaruhi
penyebaran zat-zat kimia tersebut. Arus pasang surut berperan penting dalam pengangkutan
zat kimia yang terdapat di laut.

D. Kajian Sosial Budaya Pasang Surut Air Laut


Pasang surut air laut juga dapat berpengaruh terhadap kehidupan sosial budaya
masyarakat, khususnya masyarakat pesisir. Pasang surut air laut dapat digunakan sumber
energi listrik. Meskipun saat ini penggunaan dan juga pemanfaatan pasang surut air laut
sebagai sumber pembangkit listrik tidak digunakan sebagaimana mestinya, namun ada
potensi tinggi bagi gaya yang ditimbulkan oleh pasang surut air laut menjadi energi listrik.
Gaya pasang surut air laut dapat dimanfaatkan untuk menghidupkan generator yang dapat
menjadi sumber energi listrik bagi pemukiman di sekitar pesisir pantai. Namun masih butuh
pengkajian lebih lanjut lagi untuk memastikan pemanfaatan potensi dari gaya pasang surut
air laut untuk menjadi pembangkit listrik secara penuh.
Pasang surut air laut juga memberikan manfaat untuk kegiatan transportasi
perairan. Kondisi pasang surut air laut dapat dimanfaatkan untuk membantu kegiatan
pelabuhan, seperti berangkat dan juga berlabuhnya kapal-kapal dari berbagai ukuran. Selain
itu, pasang surut air laut sangat mempengaruhi mata pencaharian masyarakat yang tinggal di
pesisir pantai. Salah satu mata pencaharian masyarakat pesisir pantai adalah menambang
garam. Garam yang dihasilkan dari air laut merupakan salah satu contoh konkrit dari
manfaat pasang surut air laut bagi warga sekitar pesisir pantai. Ketika air pasang, maka ini
merupakan waktu untuk mengumpulkan air laut, yang kemudian akan dijemur dan akan
membentuk kristal-kristal garam yang dapat menjadi salah satu mata pencaharian utama dan
juga sampingan bagi warga yang tinggal di sekitar pesisir pantai.
Selain sebagai penambang garam, masyarakat pesisir memanfaatkan pasang surut
air laut untuk mencari ikan. Ketika air laut sedang mengalami pasang, maka ikan-ikan akan
banyak yang ikut terbawa hingga sangat dekat dengan pesisir pantai. Dan ketika surut
banyak pula ikan-ikan yang terdampar di tepi pantai. Hal inilah yang sering kali
dimanfaatkan oleh para penduduk di pesisir pantai untuk digunakan sebagai mata
pencaharian.
Pasang surut air laut dapat dimanfaatkan sebagai kegiatan water sport atau
olahraga air seperti sufing. Jika tidak ada pasang surut air laut, kegiatan olahraga sufing akan
sulit dilakukan. Dengan adanya pasang surut air laut akan menambah gelombang ombak di
laut sehingga olahraga sufing akan lebih menantang.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan kajian terkait pasang surut air laut, dapat disimpulkan bahwa:
1. Pasang surut air laut jika dikaji dengan ilmu ke-MIPA-an, mengandung makna yang
sangat luas. Secara fisika maupun astronomi pasang surut air laut adalah peristiwa naik
turunnya muka laut secara berkala akibat adanya gaya tarik menarik benda-benda
angkasa terutama matahari, bumi dan bulan terhadap massa air di bumi. Pasang surut air
laut merupakan hasil dari gaya tarik gravitasi dan efek sentrifugal. Efek sentrifugal adalah
dorongan ke arah luar pusat rotasi. Gravitasi bervariasi secara langsung dengan massa
tetapi berbanding terbalik dengan jarak.
2. Secara biologi, pasang surut air laut akan berpengaruh terhadap kehidupan organisme
laut, khususnya organisme yang berada pada zona intertidal. Zona intertidal adalah zona
yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut dengan luas area yang sempit antara daerah
pasang tertinggi dan surut terendah. Pasang surut merupakan kondisi yang menyebabkan
daerah intertidal terkena udara terbuka secara periodik. Sehingga organisme akan
mengalami kehilangan air dan suhu yang ekstrem. Untuk itu, organisme yang berada pada
zona intertidal perlu kemampuan adaptasi agar dapat menempati daerah ini. Adaptasi
yang dilakukan oleh organisme penghuni daerah ini sangat bervariasi tergantung jenis
individunya.
3. Secara kimiawi, arus pasang surut air laut dapat mempengaruhi penyebaran zat-zat kimia
tersebut. Arus pasang surut berperan penting dalam pengangkutan zat kimia yang terdapat
di laut.
4. Selain dikaji secara MIPA, pasang surut air laut juga dapat dikaji secara sosial budaya.
Dimana pasang surut air laut sangat berpengaruh terhadap kehidupan social budaya
masyarakat terutama masyarakat pesisir. Pasang surut air laut akan mempengaruhi mata
pencaharian masyarakat, selain itu pasang surut air laut juga dimanfaatkan masyarakat
pesisir untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Contoh pemanfaatan pasang surut air laut
yang dilakukan oleh masyarakat pesisir adalah dengan menggunakan energi pasang surut
air laut sebagai sumber energi listrik, water sport, dan lain-lain.
DAFTAR PUSTAKA

Ari Nilandary, Harun Yahya. 2003. Terj.Keajaiban Dalam Atom. Bandung: Dzikro.
Francisca Petrajani, Paul Strather. 2002. Terj. Newton dan Gravitasi. Jakarta: Erlangga.
http://id.wikipedia.org/wiki/Julius_Caesar, diakses pada hari Sabtu, 6 Mei 2017.
http://www.ilmukelautan.com/oseanografi/fisika-oseanografi/402-pasang-surut, diakses pada hari
Sabtu, 6 Mei 2017.
Joenil Kahar: 2008. Geodesi. Bandung: ITB.
John Gribbin. 2005. Fisika Moderen. Jakarta: Erlangga.
Mohamad Radjab, Ferdinand C. Lane. 1961. Terj. Laut dan Kekajaannja. Jakarta: Bhratara.
Pius Abdillah dan Danu Prasetyo. 2005. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. Surabaya: Arkola.
Sahala Hutabarat dan Stewart M. Evans. 1986. Pengantar Oseanografi. Jakarta: Universitas
Indonesia .
Saroso.2011. Teori Pasang Surut. Jakarta: Dinas Hidro Oseanografi TNI AL.
Soerjadi Wirjohamidjojo dan Sugarin. 2008. Praktek Meteorologi Kelautan. Jakarta: Badan
Meteorologi dan Geofisika.
Terry Mahoney. 2003. Astronomi. Jakarta: Elex media Komputindo .