Anda di halaman 1dari 45

ASKEP waham CURIGA

DAFTAR ISI
Halaman
KATAPENGANTAR............................................................................... i
DAFTAR ISI......................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang................................................................................... 1
B. Tujuan Penulisan............................................................................... 1
C. Proses Penyusunan Makalah.................................................................2

BAB II GAMBARAN KASUS


A. Pengkajian......................................................................................... 3
B. Masalah Keperawatan........................................................................4
C. Pohon Masalah (Problem Tree).............................................................5

BAB III TINJAUAN TEORITIS


A. Proses Terjadinya Curiga................................................................5
B. Masalah Keperawatan........................................................................6
C. Tindakan Keperawatan Untuk Semua Masalah Pada Klien....................7

BAB IV PELAKSANAAN ASUHAN KEPERAWATAN...............................15

BAB V PEMBAHASAN......................................................................... 17

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN....................................................... 20

DAFTAR KEPUSTAKAAN...................................................................... 21

LAMPIRAN-LAMPIRAN........................................................................ 22

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah Asuhan Keperawatan Klien Nn. G. Dengan Masalah Utama Curiga.
Dalam penyelesaian masalah ini kami mendapatkan bantuan dari berbagai pihak,
maka kesempatan ini kami mengucapkan banyak terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Dr. Azrul Azwar . MPH. selaku Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.
2. Ibu Netty Herawaty, Skp, M..App.Sc. selaku Koordinator Mata Ajaran Keperawatan Jiwa
3. Ibu. Ria Utami Panjaitan SKp, selaku Pembimbing dan Tim Mata Ajaran Keperawatan Jiwa.
4. Kapala Ruangan dan Staf Ruang Melati Rumah Sakit Jiwa Pusat Jakarta.
5. Rekan-rekan Mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia yang mengikuti
Mata Ajaran Keperawatan Jiwa.
Mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, makalah ini tentu
masih jauh dari sempurna, maka kami mengharapkan kritik dan saran sehingga dapat lebih
menyempurnakannya.

Surabaya, Oktober 2002


Kelompok V
BAB l
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Perilaku curiga merupakan gangguan berhubungan dengan orang lain dan lingkungan
yang ditandai denganperasaan tidak percaya dan ragu-ragu. Perilaku tersebut tampak jelas saat
individu berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan .
Apabila masalah curiga tidak diatasi, maka akan menimbulkan maslah-masalah lain
seperti : menarik diri, kurang minat dalam kebersihan diri yang dapat menyebabkan penampilan
diri kurang adekuat. Dapat juga menyebabkan pengungkapan marah yang tidak konstruktif,
sehingga dapat melukai diri sendiri dan orang lain. Kelompok juga sulit menemukan literatur
yang membahas tentang perilaku curiga.
Berdasarkan hasil pengkajian yang dilakukan di Ruang Melati Rumah Sakit Jiwa Pusat
Jakarta (RSJPJ) sebagai lahan praktek, diperoleh data bahwa 75 % klien yang rawat ulang.
Masalah asuhan keperawatan yang ditemukan adalah menarik diri, curiga, halusinasi dan ketidak
mampuan merawat diri. Dari masalah-masalah yang ada, ditemukan 4 kasus dari 12 yang ada
( 30%) klien dengan masalah curiga.
Berdasarkan fenomena tersebut, kelompok tertarik untuk mempelajari lebih lanjut dan
menyajikan dalam bentuk seminar dengan topik Asuhan Keperawatan Klien dengan
Perilaku Curiga.

B. TUJUAN
Tujuan kelompok V mengambil kasus Nn. G dengan masalah utama curiga adalah :
1. Mempelajari kasus curigai disesuaikan dengan teori dan konsep yang telah diterima.
2. Memberikan asuhan keperawatan pada klien curiga dengan pendekatan proses keperawatan.
3. Mendesiminasikan asuhan keperawatan klien curiga.

C. PROSES PENULISAN MAKALAH.


Dalam menuliskan laporan kasus ini, kelompok mahasiswa mendiskusikan kasus-kasus
diruang Melati, memutuskan untuk mengambil salah satu kasus untuk seminar yaitu curiga,
kemudian kelompok melakukan studi literatur yang terkait dengan kasus, selanjutnya melakukan
asuhan keperawatan pada klien yang dimaksud. Asuhan keperawatan dilakukan mulai minggu ke
tiga (17 April 1997) sampai dengan minggu ke tujuh (16 Mei 1997). Akhirnya disusun secara
tertulis dalam bentuk makalah untuk diseminarkan.
BAB ll
GAMBARAN KASUS

A. Pengkajian.
Nn. G, wanita 47 th. Agama budha, belum kawin, tidak tamat SD, anak pertama dari 8
bersaudara (klien anak angkat). Klien keluar masuk RS jiwa tahun 1977 di RS J Bogor, dan
masuk RSJ Grogol 1978 sampai sekarang. Alasan masuk rumah sakit menurut keluarga, klien
sering marah - marah , tidak tahu penyebabnya, banting pintu, nada suara tinggi tidak jelas dan
melempari rumah orang.
Keadaan klien saat ini, kadang-kadang marah, merebut barang orang lain, jika bicara
mata melotot, sering tampak tegang bicara kadang-kkadang kacau, kalau lagi marah suara tinggi
dan cepat, vena jugularisnya menonjol, sambil berjalan jalan menghampiri klien lain. Bila klien
marah mengatakan Orang-orang disini malas-malas tidak mau bantu bersih-bersih, inginnya
enak-enakkan makan tidur saja. Suatu hari klien mengeluh barangnya (uang dan alat mandi)
hilang, dan bajunya robek. Klien beranggapan klien E. yang mengambil.
Gigi klien kuning sudah banyak yang tanggal, kulit agak bersisik, rambut kotor banyak
ketombe, klien tampak tidak rapi, baju jarang ganti, sering duduk dan tiduran dilantai. Setiap
bertemu dengan mahasiswa klien belum mandi. Klien mandi 1x sehari kadang-kadang tidak
mandi; klien mengatakan malas mandi.
Pada tanggal 25/4 1997 , Klien sedang duduk dan disampingnya duduk klien M, tiba-tiba
nada suara klien seperti mengomel melihat klien M, nada suaranya tambah tinggi dan tiba-tiba
klien M dipukul lalu pergi meninggalkan klien M sambil marah-marah. Setelah di eksplorasi
klien mengatakan klien M mengejek. Jika melihat orang sedang ngobrol klien tampak
menyelidik. Dari hasil pengkajian keluarga : apabila klien pulang kerumah (setiap hari Sabtu dan
Minggu) kegiatan klien bersih-bersih got, sampah, bersih-bersih rumah, tetapi setelah itu klien
marah-marah membuat lingkungan menjadi berisik.
B. Masalah Keperawatan.
Dari data-data tersebut diatas muncul masalah keperawatan : curiga, menarik diri, cara
mengungkapkan marah yang tidak konstruktif, potensial melukai orang lain/amuk, kurang
berminat dalam kebersihan diri dan penampilan diri kurang adekuat.

1. Curiga
DS : Klien selalu mengatakan orang lai malas, mengatakan barang-barangnya hilang dan baju
robek menuduh klien E yang melakukan, merasa kesal karena klien M sering mengejek.
DO : klien menyelidik bila ada orang berbicara, sering kontrol kamar klien lain, tiba-tiba marah
dan memukul klien M pada saat klien M duduk.
2. Menarik diri
D.S : Klien mengatakan malas bicara dengan klien lain karena sering membuat kesal
D.O : Klien sering sendiri dikamar, tidak pernah berinteraksi dengan klien lain, sering melamun
dibawah tempat tidurnya sambil merokok.
3. Cara mengungkapkan marah yang tidak konstruktif
D.S : Klien megatakan kalau marah mengamuk, keluarga mengatakan klien marah-marah.
D.O : Klien sering tampak tegang, kurang bersahabat, kalau marah nada suara tinggi dan cepat,
mata melotot, bicara kacau dan terlihat vena jugularis menonjol.
4. Potensial melukai orang lain, diri sendiri/amuk.
D.S : Klien mengatakan, minta agar klien lain mau membersihkan kotoran yang ada diruangan.
Klien lain mengatakan bahwa klien G sering menyuruh kalau tidak mau , marah-marah.
D.O : Klien kalau marah jalan-jalan menghampiri klien lain, suka merebut barang orang lain,
sering berdebat dengan klien lain, nada suara tinggi.
5. Kurang berminat dalam kebersihan diri
D.S : Klien mengatakan malas mandi, kalau mandi 1x sehari, siang hari, kadang-kadang tidak
mandi.
D.O : Klien tampak tidak rapi, sering duduk dan tiduran dilantai, setiap kali interaksi dengan
mahasiswa (jam 09.00) klien belum mandi.
6. Penampilan diri kurang adekuat
D.S: Klien mengatakan enggan mandi badannya gatal.
D.O : Kulit agak bersisik, gigi kuning rambut kotor banya ketombe, baju jarang diganti tidak rapi
dan sering duduk dilantai.

C. ProblemTree ( Pohon Masalah )

Penampilan diri tidak adekuat Potensial Amuk

Kurang minat dlm kebersihan diri Pengungkapan Efek

marah yang tidak


Menarik Diri konstruktif

CURIGA Core Problem

Harga Diri Rendah Causa

Konflik Sibling
Kehilangan berkepanjangan
BAB III
TINJAUAN TEORI

A. Proses terjadinya masalah.


Perilaku curiga merupakan gangguan berhubungan dengan orang lain dan lingkungan
yang ditandai dengan perasaan tidak percaya dan ragu-ragu. Perilaku tersebut tampak jelas saat
individu berinteraksi dengan orang lain atau lingkungannya. Perilaku curiga merupakan prilaku
proyeksi terhadap perasaan ditolak, ketidakadekuatan dan inferiority. Ketika klien kecemasannya
meningkat dalam merespon terhadap stresor, intra personal, ekstra personal dan inter personal.
Perasaan ketidak nyamanan di dalam dirinya akan diproyeksikan dan kemudian dia akan
merasakan sebagai ancaman/ bahaya dari luar. Klien akan mempunyai fokus untuk
memproyeksikan perasaannya yang akan menyebabkan perasaan curiga terhadap orang lain dan
lingkungannya. Proyeksi klien tersebut akan menimbulkan prilaku agresif sebagaimana yang
muncul pada klien atau klien mungkin menggunakan mekanisme pertahanan yang lain seperti
reaksi formasi melawan agresifitas, ketergantungan, afek tumpul, denial, menolak terhadap
ketidaknyamanan.
Faktor predisposisi dari curiga adalah tidak terpenuhinya trust pada masa bayi . Tidak
terpenuhinya karena lingkungan yang bermusuhan, orang tua yang otoriter, suasana yang kritis
dalam keluarga, tuntutan lingkungan yang tinggi terhadap penampilan anak serta tidak
terpenuhinya kebutuhan anak. Dengan demikian anak akan menggunakan mekanisme fantasi
untuk meningkatkan harga dirinya atau dia akan mengembangkan tujuan yang tidak jelas.
Klien dengan perilaku curiga memperlihatkan sikap bermusuhan dan mudah marah, sorot
mata tajam dan menyelidik, sangat sensitif terhadap perilaku orang lain, gelisah, ketakutan,
cemas (agitasi dan agresif). Sering kali kaku dalam menafsirkan pendapat tentang lingkungan,
berbicara tidak sesuai dengan kenyataan. Berbicara membesar-besarkan diri (grandiosa),
bersikap seperti orang penting, selalu memprotes keadaan lingkungan.
Menarik diri, merasa asing dengan orang lain dan lingkungan, tidak mampu
melaksanakan peran dalam keluarga mengguanakan mekanisme dalam mempertahankan diri
proyeksi, dineal (pengingkaran), menolak makan dan obat berat badan cenderung turun, tidak
dapat tidur atau sering terbangun waktu tidur. Kebersihan diri kurang, tidak rapih, pakaian kotor.
Kurang berpartisipasi dalam kegiatan agama, ada usaha bunuh diri dan cenderung melikai orang
lain.
Pada klien , dari data yang ditemukan faktor predisposisi dari prilaku curiga adalah
gangguan pola asuh. Di dalam keluarga klien merupakan anak angkat dari keluarga yang pada
saat itu belum memiliki anak. Klien menjadi anak kesayangan ayahnya, karena klien dianggap
sebagai pembawa rejeki keluarga. Sejak kelahiran adik-adiknya ( 7 orang ) klien klien berusia 10
tahun, mulai merasa tersisih dan tidak diperhatikan, merasa tidak nyaman, sehingga klien merasa
terancam dari lingkungan keluarganya. Sejak itu klien tidak percaya pada orang lain, sering
marah-marah dan mengamuk sehingga klien dibawa oleh keluarganya ke RS jiwa.
Masalah yang biasanya timbul pada klien curiga karena adanya kecemasan yang timbul
akibat klien merasa terancam konsep dirinya, kurangnya rasa percaya diri terhadap lingkungan
yang baru/asing ,masalah ini tidak muncul pada klien G. Masalah lain yang juga sering muncul
pada klien curiga yaitu marah, timbul sebagai proyeksi dari keadaan ketidak adekuatan dari
perasaan ditolak, masalah ini muncul pada klien .
Isolasi sosial merupakan masalah yang juga muncul pada diri klien. Klien menarik diri
akibat perasaan tidak percaya pada lingkungan . Curiga merupakan akibat dari mekanisme
koping yang tidak efektif, klien menunjukan bingung peran, kesulitan membuat keputusan,
berperilaku destruktif dan menggunakan mekanisme pertahanan diri yang tidak sesuai, dan
masalah ini ada pada diri klien.
Masalah lain yang timbul adalah gangguan perawatan diri dan data yang diperoleh : klien
berpenampilan tidak adekuat, dimana klien tidak mandi, tidak mau gosok gigi, rambut kotor dan
banyak ketombe, kuku kotor dan panjang, masalah ini ada pada diri klien.
Pada klien umumnya terjadi gangguan konsep diri : harga diri rendah, dimana klien
mempunyai pandangan negatif terhadap dirinya. Selama melakukan asuhan keperawatan
kemungkinan ditemukan, kelompok masih perlu data lagi, karena kalau dianalisa masalah curiga
muncul karena adanya masalah harga diri rendah.
Potensial gangguan nutrisi, pada klien curiga biasanya mengira makanan itu beracun atau
petugas mungkin sudah memasukkan obat-obatan ke dalam minumannya, akibatnya tidak mau
makan - minum, masalah ini tidak ada pada diri klien.

Tindakan Keperawatan.
MASALAH 1 : Curiga.
Psikoterapeutik.
a) Bina hubungan saling percaya.
Sadari bahwa klien sangat sensitif , curiga, dan banyak menggunakan mekanisme pertahanan
diri proyeksi.
Adakan kontak hubungan dengan klien sering dalam waktu singkat, pertahankan kontak mata.
Bicara secara terbuka , tidak ber bisik-bisik klien dapat mendengar dengan jelas, tidak berhenti
berbicara saat klien datang, tidak menggunakan bahasa sindiran.
Hindari perdebatab dalam berbicara dengan klien.
Bila ada perubahan jadwal informasikan dengan mengunakan kalimat yang singkat dan jelas.
Minta maaf bila perawat tidak memenuhi janjinya.
b) Bingbing klien mengungkapkan perasaan
Katakan pada klien bahwa menjamin keamanan dan melindunginya selama perawatan.
Katakan kepada klien bahwa perawat selalu membantunya sehubungan dengan perasaannya .
Anjurkan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya secara nonverbal dan memberi umpan
balik.
Tanyakan tenyang persaan klien apabila klien mengungkapkan perasaan secara nonverbal dan
memberi umpan balik.
Anjurkan klien untuk mengungkapkan perasaan secara verbal dan bersama-sama mencari jalan
penyelesaiannya
c) Bantu dan bimbing klien menemukan cara penyelesaian masalah (koping) yang konstruktif.
Bicarakan dengan klien apa yang dilakukannya saat mengalami perasaan curiga, bermusuhan,
takut dan cemas.
Bicarakan dengan klien manfaat dari cara penyelasaian masalah yang biasa digunakan.
Bersama klien mencari alternatif cara penyelesaian masalah untuk mengatasi perasaan yang
tidak menyenangkan tersebut.
Berikan dorongan kepada klien agar memilih penyelesaian masalah yang tepat ,serta
membicaraakan konsekwensi dari cara yang dipilih.
Berikan kesempatan pada klien untuk mencobanya.
Bimibing klien untuk mencoba cara lain
d) Beri penghargaan dan pujian atas keberhasilan klien.

Pendidikan Kesehatan.
Bimbing klien untuk meningkatkan pengetahuan tentang perilaku yang adaptif (dapat diterima)
dan maladaptif (tidak dapat diterima).
Bicarakan akibat penilaian yang salah terhadap realitas.
Bantu dan latih klien untuk mengembangkan keterampilan berkomunikasi.
Latih klien dalam berkomunikasi ,untuk tetap mengakui keberadaan orang lain dengan
menggunakan kata saya dan bukan kita untuk mengembangkan kemampuan sosialisasinya.
Jelaskan kepada klien dan keluarga tentang jenis,dosis dan manfaat obat.

Kegiatan Hidup Sehari-hari (ADL).


a) Bimbing klien memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairan.
Pantau pola makan
Ajak klien ke ruang makan
Jelaskan kepada klien bahwa makan dan minum yang cukup untuk menjaga kesehatannya.
Tanyakan kepada klien alasan jika dia menolak makan
Beri kesempatan klien untuk ikut serta menyiapkan makanan bila klien curiga makanannya
diracuni.
Ajak klien makan bersama dengan klien lain dan petugas
Anjurkan kepada keluarga untuk membawa makanan dari rumah.
b) Bimbing klien melaksanakan kebersihan diri
Jelaskan kepada klien manfaat kebersihan diri
Bimbing klien untuk mandi,gosok gigi,keramas,berhias dan berpakaian yang pantas dan rapih
Sediakan fasil;itas untuk:mandi ,sikat gigi,berhias dan berpakaian
Beri pujian bila klien berpenampilan bersih dan rapih
c) Bimbing klien melakukan kegiatan.
Berikan klien kegiatan yang disukai, yang dapat diselesaikan dengan baik, dan dapat
menyalurkan dorongan agresifitas dan rasa bermusuhan.
Bantu klien memilih kegiatan yang dapat dilakukan.
Ajak klien mengikuti kegiatan atau secara bertahap, dari jenis kegiatan yang tidak memerlukan
persaingan (kompetetif) sesuai dengan kemampuan klien.

Terapi Somatik.
a) Beri obat sesuai denganprogram medis
Berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain agar kemasan obat tetap terjamin.
Beri obat dalam bentuk cairan bila klien enggan minum obat dalam bentuk tablet.
b) Pantau respon klien.

Lingkungan Terapeutik
a) Siapkan lingkungan fisik yang aman agar dapat menurunkan perasaan cemas.
Pindahkan klien ke tempt yang tenang dan aman apabila dia merasa terancam dan kehilangan
kontrol diri.
Pantau tingkah laku klien ; meningkatkan kecemasan dan tanda marah.
Berikan jaminan bahwa lingkungan aman bagi klien.
Sediakan tempat tidur ,lemari pribadi dimana klien yakin barangnya aman tersimpan.
b) Siapkan Lingkungan Sosial
Pindahkan klien ketempat yang tenang bila kemarahannya memuncak dan berikan pengertian
kepada klien yang lain bahwa perilakunya tersebut sehubungan dengan curiga.
Buat agar klien dapat berinteraksi dengan petugas lain dan menganjurkan kepada petugas
tersebut untuk sering berinteraksi dalam waktu singkat.
Pantau klien saat berinteraksi dan anjurkan untuk mengembangkan pendekatan yang tepat dalam
membina hubungan dengan orang lain.
Beri dukungan bila klien mampu mencoba berinteraksi dengan orang lain dengan menyediakan
fasilitas;tempat,pujian.

MASALAH 2 : Menarik diri


Psikoterapeutik.
a) Bina hubungan saling percaya
Buat kontrak dengan klien : memperkenalkan nama perawat dan waktu interaksi dan tujuan.
Ajak klien bercakap-cakap dengan memanggil nama klien, untuk menunjukkan penghargaan
yang tulus.
Jelaskan kepada klien bahwa informasi tentang pribadi klien tidak akan diberitahukan kepada
orang lain yang tidak berkepentingan.
Selalu memperhatikan kebutuhan klien.

b) Berkomunikasi dengan klien secara jelas dan terbuka


Bicarakan dengan klien tentang sesuatu yang nyata dan pakai istilah yang sederhana
Gunakan komunikasi verbal dan non verbal yang sesuai, jelas dan teratur.
Bersama klien menilai manfaat dari pembicaraannya dengan perawat.
Tunjukkan sikap empati dan beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaanya

c) Kenal dan dukung kelebihan klien


Tunjukkan cara penyelesaian masalah (koping) yang bisa digunakan klien, cara menceritakan
perasaanya kepada orang lain yang terdekat/dipercaya.
Bahas bersama klien tentang koping yang konstruktif
Dukung koping klien yang konstruktif
Anjurkan klien untuk menggunakan koping yang konstruktif.
d) Bantu klien mengurangi cemasnya ketika hubungan interpersonal
Batasi jumlah orang yang berhubungan dengan klien pada awal terapi.
Lakukan interaksi dengan klien sesering mungkin.
Temani klien beberapa saat dengan duduk disamping klien.
Libatkan klien dalam berinteraksi dengan orang lain secara bertahap, dimulai dari klien dengan
perawat, kemudian dengan dua perawat, kemudian ditambah dengan satu klien dan seterusnya.
Libatkan klien dalam aktivitas kelompok.
Pendidikan kesehatan
Jelaskan kepada klien cara mengungkapkan perasaan selain dengan kata-kata seperti dengan
menulis, menangis, menggambar, berolah-raga, bermain musik, cara berhubungan dengan orang
lain : keuntungan berhubungan dengan orang lain.
Bicarakan dengan klien peristiwa yang menyebabkan menarik diri.
Jelaskan dan anjurkan kepada keluarga untuk tetap mengadakan hubungan dengan klien.
Anjurkan pada keluarga agar mengikutsertakan klien dalam aktivitas dilingkungan masyarakat.

Terapi Somatik.
Beri obat sesuai dengan prinsip lima benar.
Pantau reaksi obat.
Catat pemberian obat yang telah dilaksanakan.
Pastikan apakah obat telah diminum, periksa tempat-tempat yang memungkinkan klien
menyimpan obat.

Lingkungan terpeutik.
Pindahkan barang-barang yang dapat membehayakan klien maupun orang lain dari ruangan
klien.
Cegah agar klien tidak berada dalam ruangan sendiri dalam waktu lama.
Beri rangsangan sensori seperti suara musik dan gambar di ruangan klien.

Kegiatan hidup sehari-hari (ADL)


Bantu klien dalam melaksanakan kebersihan diri sampai dapat melaksanakannya sendiri.
Bimbing klien berpakaian yang rapi
Batasi kesempatan untuk tidur
Sediakan sarana informasi dan hiburan seperti : majalah, surat kabar, radio dan televisi.
Buat dan rencanakan jadwal kegiatan bersama-sama klien.

MASALAH 3: Cara mengungkapkan marah yang tidak konstrukti


Psikoterapeutik
a) Bina hubungan saling percaya
Memanggil klien dengan nama panggilan yang disukai.
Bicara dengan sikap tenang , rileks dan berwibawa.

b) Bantu klien mengidentifikasi rasa marah


Dengarkan ungkapan rasa marah dan perasaan bermusuhan klien dengan sikap yang tenang.
Beri respon atas ungkapan rasa marah dan bermusuhan.
Bimbing klien mengungkapkan rasa marah yang sehat.

c) Identifikasi cara marah yang sehat(biologi, emosional, intelektual, sosial, spiritual)


Bimbing klien mencoba cara marah yang dipilih pada situasi nyata.

d) Berikan bimbingan atau latihan mengungkapkan marah secara asertif.


Bantu latihan asertif (kenali tanda marah,kenali cara marah,dengan membedakan cara yang
konstruktif dan destruktif).
Bantu memperhatikan perilaku positif.
Lindungi melukai diri sendiri dan orang lain.

Lingkungan Terapeutik
Rencanakan dan ciptakan lingkungan yang tidak meningkatkan reaksi marah klien.
Tempatkan klien di ruang rawat dan ikut sertakan dalam kegiatan ruangan, pengaturan waktu
interaksi, pola staf dan tingkat aktivitas.

Terapi Somatik
Melaksanakan program terapi medik :
Siapkan obat sesuai dengan dosis.
Catat obat (nama obat, cara, waktu) yang telah ditentukan.
Pastikan klien sudah minum obat.
Pantau respon klien.

Pendidikan Kesehatan
Arahkan klien untuk memukul barang yang tidak mudah rusak bantal, kasur).
Anjurkan klien untuk latihan relaksasi, latihan fisik atau olah raga.
Ajarkan dan anjurkan keluarga menerima marah klien dengan diam sebentar.
Setelah klien tenang anjurkan klien dan keluarga mendiskusikan penyebab marah.
Anjurkan keluarga untuk menggunakan humor yang tidak menyakiti orang lain.

Kegiatan Kehidupan Sehari-hari (ADL)


1. Penuhi kebutuhan gizi dan cairan
Beritahu klien saat makan /minum.
Jelaskan bahwa makan/minum dapat meningkatkan kesehatannya.
Sediakan makanan tinggi kalori dan protein.
Anjurkan klien untuk cuci tangan sebelum makan.
Tanyakan alasan klien menolak makan
Beri pujian bila klien dapat menghabiskan makanan yang disiapkan.
Anjurkan klien untuk cuci tangan sesudah makan.

2. Bantu klien merawat kebersihan diri


Buat perjanjian dengan klien tantang kegiatan yang akan dilakukan
Bimbing klien untuk mandi , gosok gigi, keramas , mengeringkan badannya sendiri.
Bantu klien dan bimbing berpakaian rapih,menyisir rambut serta menghias wajah.
Beri pujian dan umpan balik setelah klien melakukan kegiatan
Catat hasil kegiatan serta respon klien

MASALAH 4 : Potensial melukai orang lain.


Psikoterapeutik
a) Bina hubungan saling percaya
Memanggil klien dengan nama yang disukai
Bicara dengan sikap tenang ,rileks dan berwibawa
Tanyakan apa yang diinginkan oleh klien dengan tidak menjanjikan sesuatu yang tidak mungkin
dapat dipenuhi.
b) Bantu klien mengungkapkan rasa marah.
Dengarkan ungkapan rasa marah dan perasaan bermusuhan klien dengan sikap yang tenang.
Beri respon atas ungkapan rasa marah dan bermusuhan
Anjurkan klien untuk mencoba mengendalikan diri , dan menyatakan bahwa perawat siap
membantunya.

Lingkungan terapeutik
1. Amankan klien dan lingkungan
siapkan ruangan yang akan dipakai untuk perawatan klien
Anjurkan klien lain atau keluarga untuk mengosongkan tempat yang akan dilalui oleh klien
Pindahkan alat-alat yang membahayakan klien atau lingkungannya

2. Pindahkan klien ke tempat yang aman


Siapkan tenaga minimal 2 orang (sesuai dengan kondisi klien)
Seorang petugas berbicara kepada klien agar ia berusaha mengendalikan diri dengan tetap
menjaga jarak personal.
Petugas yang lain siap memberi bantuan bila klien tidak dapat mengendalikan diri, tapi bila
klien dapat mengendalikan diri maka ajak klien ketempat yang tenang dengan didampigi oleh
perawat.
Bila klien tetap tidak dapat mengendalikan diri maka :
Petugas satu memegang tangan kiri klien petugas memegang tangan kanannya.
Tangan klien disilangkan diodadanya kemudian petugas satu memegang tangan kanan dan
petugas dua memegang tangan kiri kilen.
Klien diminta berjalan keruangan yang telah disiapkan.
Jelaskan pada klien tujuan tindakan yang dilakukan secara berulang.

Terapi Somatik
Melaksanakan program terapi medik, beri obat melalui suntikan :
Jelaskan pada klien tindakan yang akan dilakukan
Manset klien bila dalam keadaan gelisah.
Siapkan obat sesui dengan dosis ,didalam spit bawa ke ruang klien dengan menggunakan bak
instrumen steril.
Dua orang petugas menghampiri klien sambil membantu mengatur posisi dan pegang
tanmgannya.
Satu orang petugas / perawat yang lain menahan bagian yang akan disuntik sambil
menenangkan klien .
Setelah disuntik salah seroang perawat mendampingi klien sampai tenang kembali.
Perawat merapihkan alat dan mencuci tangan, dokumentasikan pemberian obat (nama obat,
dosis, cara, dan waktu pemberiaan ).

Pendidikan Kesehatan.
Jelaskan pada keluarga tanda-tanda dini pada klien amuk.
Jelaskan pada keluarga agar tidak menghadapi klien sendiri bila dia dalam keadaan amuk.
Beri informasi cara-cara mengatasi klien amuk serta tempat mencari bantuan bila diperlukan.
Kegiatan Kehidupan Sehari-hari (ADL)
a) Penuhi kebutuhan gizi dan cairan
Beritahu klien saat makan /minum
Jelaskan bahwa makan/minum dapat meningkatkan kesehatannya
Sediakan makanan tinggi kalori dan protein
Anjurkan klien untuk cuci tangan sebelum makan
Tanyakan alasan klien menolak makan
Beri pujian bila klien dapat menghabiskan makanan yang disiapkan.
Anjurkan klien untuk cuci tangan sesudah makan.

b) Bantu klien merawat kebersihan diri

Buat perjanjian dengan klien tantang kegiatan yang akan dilakukan


Bimbing klien untuk mandi , gosok gigi, keramas , mengeringkan badannya sendiri.
Bantu klien dan bimbing berpakaian rapih,menyisir rambut serta menghias wajah.
Beri pujian dan umpan balik setelah klien melakukan kegiatan
Catat hasil kegiatan serta respon klien

MASALAH 5 : Kurang minat dalam kebersihan diri


Psikoterapeutik
Bina hubungan saling percaya
Bimbing klin mengungkapkan perasaannya
Bantu dan bimbing klien menemukan cara penyelesaian masalah kebersihan
Kesehatan Pendidikan
Bimbing klien untuk meningkatkan pengetahuan tentang perawatan diri.
Diskusikan dengan klien manfaat kebersihan diri.
Diskusikan dengan klien cara perawatan diri
Lingkungan terapeutik
Siapkan lingkungan fisik yang bersih.
Bimbing klien melakukan kegiatan sehari-hari.
Kegiatan Hidup Sehari-hari.
Bimbing klien memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairan.
Bimbing klien melaksanakan kebersihan diri.
Jelaskan kepada klien manfaat kebersihan diri.
Bimbing klien untuk mandi ,gosok gigi, keramas, berhias dan berpakaian yang pantas dan rapi.
Sediakan fasilitas untuk memelihara kebersihan.
Beri reinforcement positif bila klien berpenampilan rapi dan bersih.
BAB IV
PELAKSANAAN ASUHAN KEPERAWATAN

Pelaksanaan proses keperawatan berorientasi pada masalah yang timbul pada klien. Pada
bab ini akan menyampaikan secara singkat mengenai pelaksanaan proses keperawatan yang
meliputi : diagnosa keperawatan, tujuan jangka panjang, implementasi/tindakan yang dilakukan,
evaluasi dan tindak lanjut.
Adapun proses keperawatan secara lengkap ada pada lampiran.

Diagnosa keperawatan I
Potensial melukai diri sendiri, orang lain s/d ketidakmampuan klien mengungkapkan marah
secara konstruktif.
Tupan : tidak melukai orang lain / diri sendiri serta mampu mengungkapkan marah secara
konstruktif.
Intervensi : Membina hubungan saling percaya dengan klien, memelihara ketengann lingkungan
dengan suasana hangat dan bersahabat, mempertahan kan sikap perwat secara konsisten,
mendorong klien untuk mengungkapkan hal-hal yang menyebabkan klien marah. mendiskusikan
dengan klien tentang tanda-tanda yang biasa terjadi pada orang yang sedang marah, mendorong
klien untuk mengatakan cara-cara yang dilekukan bila klien marah, mendiskusikan dengan klien
cara mengungkapkan marah secara konstruktif, mendiskusikan dengan keluarga (pada saat
kunjungan rumah) ttg marah pada klien , apa yang sudah dilakukan bila klien marah dirumah bila
klien cuti.
Evaluasi : Setelah mendapatkan asuhan keperawatan klien mengalami perkembangan : klien
mau menerima petugas (mahasiswa ) dan membalas salam, berespon secara verbal, dapat
membalas jabat tangan dan mau diajak berbicara, mampu mengungkapkan penyebab marahnya,
dapat mengenal tanda-tanda marah, megatakan kalau amuk itu tidak baik, dapat memperagakan
tehnik relaksasi.
Tindak lanjut : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diatas kelompok merencanakan untuk
melanjutkan untuk latihan marah yang konstruktif dengan tehnik relaksasi dan tehnik asertif.

Diagnosa keperawatan II
Gangguan hubungan sosial; menarik diri sehubungan dengan curiga.
Tupan : klien dapat berinteraksi dengan orang lain (sesama klien, perawat)
Implementasi : membina hubungan saling percaya, bersikap empati pada klien, mengeksplorasi
penyebab kecurigaan pada klien, mengadakan kontak sering dan singkat, meningkatkan respon
klien terhadap realita, memberikan obat sesuai dengan program terapi dan mengawasi respon
klien, mengikut sertakan klien dalam TAK sosialisasi untuk berinteraksi.
Evaluasi: Klien mampu mengeksplorasi yang menyebabkan curiga, klien hanya berinteraksi
dengan perawat terutama perawat praktikan, klien tidak berinteraksi dengan klien lain, klien
disiplin dalam meminum obat sesuai program terapi.
Tindak lanjut: Teruskan untuk program sosialisasi/ interaksi klien untuk mengurangi kecurigaan.

Diagnosa Keperawatan III


Penampilan diri kurang s/d kurang minat dalam kebersihan diri.
Tupan : Penampilan klien rapih dan bersih serta klien mampu merawat kebersihan diri.
Implementasi : Memperhatikan tentang kebersihan klien, mendiskusikan dengan klien ttg
gunanya kebersihan, memberikan reinforsemen positif apa yang sudah dilakukan klien,
mendorong klien untuk mengurus kebersihan diri.
Evaluasi : Klien mandi 1x sehari pakai sabun mandi, keramas memakai sampo dan menggosok
gigi. Klien dapat mengungkapkan pentingnya kebersihan diri dan akibatnya dari tidak
memelihara kebersihan.
Tindak lanjut : Perlu dilanjutkan dengan TAK tentang kegiatan sehari-hari dan berikan motivasi
agar klien mau merawat diri.
BAB V
PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dibahas penerapan teori pada kasus Nn. G dengan maslah curiga, dan
respon klien setelah dilakukan implementasi berdasarkan teori tersebut. Berdasarkan hasil
pengkajian, perilaku curiga pada klien Nn.G kemungkinan disebabkan oleh kesalahan dalam
pola asuh. Kedudukan klien sebagai anak angkat seolah-olah dirasakan klien berkompetisi
dengan kelahiran anak kandung orang tua angkatnya. Ditambah kematian ayah angkatnya yang
selama ini menyayangi klien sehingga membuat klien merasa tidak diperhatikan lagi.
Sesuai dengan tinjauan teori pada bab III, pada kasus ini juga memperhatikan perilaku
maladaptif sebagai dampak dari perilaku curiga, antara lain menarik diri, kurangnya perawatan
diri dan marah.
Dari implementasi yang telah dilakukan menunjukan bahwa memanggil nama klien
dengan nama yang disukai, memberikan respon yang positif untuk membina hubungan saling
percaya. Berbicara dengan jelas, tidak berbisik dan tidak berhenti saat klien datang juga
membuat klien berinteraksi dengan perawat. Klien selalu menunjukan sikap menyelidik ketika ia
melihat orang lain berbincang-bincang. Dengan mengajak klien terlibat dalam pembicaraan,
perilaku tersebut hilang.
Mengadakan kontak singkat tapi sering juga membuat klien harus merasa diperhatikan
dan klien terlihat lebih kooperatif. Hal ini ditunjukan melalui perilaku klien yang bersahabat dan
mau memulai pembicaraan dengan perawat.
Prinsip untuk tidak mendebat saat berbicara dengan klien memang dapat diterapkan pada
kasus ini. Ketika apa yang diucapkan klien tidak dibenarkan, klien akan semakin menarik diri
dan kadang menjadi agresif. Memberikan dorongan kepada klien untuk mengungkapkan
perasaan pada saat curiga tidak selamanya diterima klien. Klien sering menunjukan perilaku
menarik diri dan diam ketika diminta untuk mengungkapkan perasaannya. Hal ini mungkin
disebabkan perilaku disebabkan perilaku tersebut merupakan mekanisme pertahanan diri dengan
proyeksi dan merupakan masalah ini bagi klien sehingga klien akan merasa terancam
integritasnya bila hal tersebut dibicarakan.
Memberikan kegiatan yang disenangi klien membuat klien merasa dihargai. Dengan
membersihkan kamar mandi, membereskan meja setiap hari membuat klien merasa berhasil dan
berguna. Pemberian reinforcement positif, memberikan respon yang baik, dimana klien tampak
senang dan selalu mengatakan apa yang telah dilakukannya dan yang akan dilakukannya. Prinsip
kegiatan yang tidak bersifat kompetitif juga dapat dibuktikan. Klien menolak ketika diajak
bermain congklak karena kesal temanya bermain curang.
Faktor lingkungan juga memberikan dampak yang besar terhadap perilaku curiga klien.
Kondisi klien di ruangan sebagian besar menarik diri, membuat klien semakin menarik diri dan
tidak mau berinteraksi dengan klien lain. Melibatkan klien dalam terapi aktifitas kelompok
(TAK) memberikan dampak yang baik. Dengan TAK, klien mulai mencoba berinteraksi dengan
klien lain dan mengurangi sikap bermusuhan.
Memberikan kesempatan klien untuk cuti pulang ke rumah, juga memperbaiki perilaku
klien. Selama praktek, klien sudah tiga kali cuti. Setelah cuti klien tampak lebih gembira, rajin
melaksanakan kegiatan. Hal ini disebabkan klien merasakan kembali ia masih diterima di
keluarga. Dengan demikian keluarga mempunyai peran yang penting dalam membantu
mengatasi perilaku klien.
Setelah melakukan suatu kegiatan, klien marah-marah karena merasa orang lain tidak
bekerja, hanya klien sendiri setelah diberikan intervensi dengan mengekspresikan perasaan dan
mendiskusikan tanda-tanda marah dan cara mengungkapkan marah yang konstruktif, klien dapat
menyebutkan tanda-tanda marah dan mau berlatih mengungkapkan marah secara asertif. Apabila
tidak diberikan stimulus, klien cenderung kembali marah.
Dari hasil kunjungan rumah, tampak terjadi perubahan sikap keluarga terhadap klien.
Sebelumnya keluarga tidak menginginkan klien pulang ke rumah karena kalau pulang klien
hanya marah-marah. Bila klien marah, hanya dibiarkan saja dan klien tidak betah di rumah
(1 hari), lalu klien kembali ke rumah sakit. Dengan memberitahukan pentingnya peran keluarga
dalam membantu mengatasi perilaku klien dan cara menghadapi klien, keluarga mau menerima
kepulangan klien. Klien menjadi lebih betah di rumah. Setiap hari sabtu klien minta cuti untuk
pulang ke rumah.
Klien menarik diri akan memberikan perilaku malas dalam melakukan kebersihan diri
dan pada klien tampak kurang minat dalam melakukan perawatan diri. Setelah dilakukan
pendekatan, pemberian motivasi dan pemberian reinforcement positif terhadap keberhasilan atau
kemajuan yang ditujukan, ternyata klien termotivasi untuk melakukan perawatan diri.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

Setelah membandingkan teori dan pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien G dengan
masalah curiga, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Membina hubungan saling percaya merupakan kunci hubungan perawat - klien yang terapeutik.
Berbicara dengan jelas, tidak berhenti bicara saat klien datang, tidak mendebat.
2. Support sistem keluarga sangat besar pengaruhnya terhadap perilaku klien curiga.
3. Terapi akitifitas kelompok : sosialisasi dan gerak merupakan bentuk terapi kelompok yang dapat
membantu menyelesaikan masalah curiga dan menarik diri.
4. Cara mengungkapkan marah yang kostruktif sangat diperlukan pada klien curiga.

Dari kesimpulan di atas dapat kami memberikan beberapa saran sebagai berikut :
1. Sebaiknya perawat banyak berlatih cara membina hubungan saling percaya.
2. Lebih banyak melibatkan keluarga dalam mengatasi perilaku klien melalui kunjungan rumah,
menganjurkan keluarga untuk lebih sering menengok klien.
3. Terapi aktifitas kelompok (TAK) hendaknya dilakukan secara rutin dan teratur karena
merupakan suatu terapi yang dapat mempercepat proses penyembuhan. (dapat mengurangi
perasaan curiga).
4. Klien dengan curiga hendaknya diajarkan cara-cara marah yang konstruktif, agar tidak
membahayakan diri sendiri, orang lain atau lingkungan.
BAB VI
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Membina hubungan saling percaya merupakan kunci hubungan perawat - klien yang
terapeutik. Berbicara dengan jelas, tidak berhenti bicara saat klien datang, tidak mendebat dan
penerimaan keluarga besar pengaruhnya terhadap perilaku klien curiga. Terapi aktifitas
kelompok merupakan media yang tepat dalam membantu klien mengatasi perilaku curiga.
Keluarga mempunyai peran penting dan utama dalam membantu mengatasi perilaku klien.

B. SARAN
Oleh karena itu sebaiknya perawat banyak berlatih cara membina hubungan saling
percaya, lebih banyak melibatkan keluarga dalam mengatasi perilaku klien melalui kunjungan
rumah, menganjurkan keluarga untuk lebih sering menengok klien dan membuat jadwal terapi
aktifitas kelompok secara terstruktur.
DAFTAR KEPUSTAKAAN

Kumpulan Kuliah : Mata Ajaran Keperawatan Jiwa Dalam Konteks Keluarga. Disajikan di Fakultas Ilmu
Keperawatan -Universitas Indonesia, Jakarta: tidak dipublikasikan, 1997.

Rawlins, R.P, dan Heacock, P.E. (1993). Clinical Mannual of Psychiatric Nursing. St. Louis: Mosby Year
Book.

Stuart, G.W, dan Sundeen, S.J. (1991). Principles and Practice of Psychiatric Nursing, 4 th ed. St. Louis:
Mosby Year Book

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN WAHAM CURIGA

Pengkajian dilaksanakan pada tanggal 14 16 Juni 2005.

I. IDENTITAS KLIEN

Inisial : Tn. BS ( L)

Umur : 40 tahun

Tgl masuk : 6 Juni 2005

No. Reg : 027470

Informan : klien sendiri (Tn.BS)

II. ALASAN MASUK


Tiga hari sebelum masuk rumah sakit, di rumah klien tampak gelisah, sering marah-marah
tanpa sebab tapi tidak sampai merusak barang-barang. Klien sering merasa curiga kepada
orang lain.

III. FAKTOR PREDISPOSISI

1. Klien pernah mengalami gangguan jiwa sejak SMP pernah dirawat, sekarang dirawat
yang keempat kalinya. Terakhir dirawat 2 tahun yang lalu.

2. Pengobatan sebelumnya kurang berhasil karena klien merasa sudah sembuh dan tak mau
minum obat.

3. Klien mengatakan tidak pernah mengalami aniaya fisik,aniaya sexual, penolakan dari
lingkungan, kekerasan dalam keluarga baik sebagai pelaku, korban maupun saksi.
Klien juga tidak pernah terlibat dalam tindakan kriminal.

4. Anggota keluarga klien tak ada yang mengalami gangguan jiwa.

5. Klien mengatakan pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan adalah ketika
ditinggal mati bapaknya 6 tahun yang lalu dan ketika dirinya tidak diterima menjadi
guru setelah lulus SPG sehingga klien berpikir banyak koruptor yang menerima uang
suap sehingga dia gagal menjadi guru.

Masalah keperawatan :

- Gangguan isi pikir : waham curiga

IV. FISIK

1. Tanda tanda vital :

TD : 120/80 mm Hg, N : 84X/menit, S : 36,50C, RR : 20 X/menit

2. Ukur :
TB : 162 cm, BB : 58 Kg

3. Keluhan fisik :

Klien mengatakan mulutnya terasa kaku untuk dibuka sehingga sulit untuk makan,
punggungnya terasa sakit akibat diikat waktu masuk, keluar ambeien dari duburnya saat
BAB tapi masih bisa dimasukkan lagi.

Masalah keperawatan : Harga diri rendah

Pemeriksaan fisik :

Kepala : rambut bersih, rapi, potong pendek

Mata : konjungtiva tak anemis, sklera tak ikterik, tak ada konjungtivitis

Hidung : taka ada polip, tak ada discharge

Telinga : simetris, bersih, tak ada gangguan pendengaran

Mulut : bersih, bibir agak kering, tak ada stomatitis, gigi bersih, tak bau mulut

Leher : simetris, tak ada pembesaran kelenjar tiroid

Thorak : tak ada tarikan otot bantu nafas, tak ada ronkhi, wheezing

Abdomen : tak ada asites, peristaltik usus normal

Ekstremitas : tak ada udem, tak kaku sendi/otot, rentang gerak normal

Genetalia : bersih, ada hemoroid yang keluar saat BAB

V. PSIKOSOSIAL

1. Genogram
Menurut klien, ibunya sangat mencintainya dan mengasuhnya dengan baik sejak dirinya masih
kecil. Pengambil keputusan dalam keluarga adalah ibunya dibantu dengan saudara-saudaranya
yang lain. Meskipun tidak tinggal serumah tetapi saudara-saudaranya sangat memperhatikannya.
Komunikasi dalam keluarga dilakukan secara terbuka, siapa saja boleh mengeluarkan
pendapatnya.

2. Konsep diri

a. Gambaran diri

Klien mengatakan bersyukur mempunyai bentuk tubuh yang normal, semua


bagian tubuhnya disukai karena masing-masing bermanfaat sesuai fungsinya.
Klien mengatakan tak ada bagian tubuh yang tidak disukai karena itu sama
saja tidak mensyukuri nikmat Allah yang telah menciptakannya.

b. Identitas

Klien anak ke delapan dari sembilan bersaudara tapi belum bekerja.Klien


mengatakan bersyukur diciptakan Allah sebagai seorang laki-laki dan dia
merasa puas. Tapi klien juga kecewa karena pada umur 40 tahun belum
mendapat jodoh/isteri. Klien juga kecewa atas pekerjaan guru yang gagal
diperolehnya padahal dia berpendidikan SPG.

c. Peran

Sebagai seorang anak yang hanya tinggal dengan ibunya, klien sering
membantu ibunya dalam mengurusi pekerjaan rumah maupun di sawah.

d. Ideal diri

Klien ingin menjadi seorang guru meski bukan pegawai negeri dan ingin
mengajari anak-anak mengaji dan kalau bisa membuka pondok pesantren.

e. Harga diri
Klien merasa minder dan malu karena sudah berumur 40 tahun tapi belum
mempunyai istri dan pekerjaan seperti saudara-saudaranya yang bisa menjadi
guru. Klien mengatakan bisa berhubungan atau bersosialisasi dengan orang
lain yang menurut dia baik karena klien mengatakan bisa membaca isi hati
orang lain.

Masalah keperawatan : Harga diri rendah

3. Hubungan sosial

Klien mengatakan orang yang paling dekat adalah ibunya yang sangat
mencintainya,klien selalu bercerita kepada ibunya bila menghadapi suatu
masalah. Saudara-saudaranya yang lain juga cukup dekat dengan klien meski
tidak tinggal serumah. Klien sering mengikuti acara pengajian di kampungnya
maupun di tempat lain.

4. Spiritual

Klien mengatakan beragama Islam dan taat melakukan ibadah baik sebelum sakit
maupun selama sakit karena ibadah kepada Allah merupakan kewajiban manusia
meski dalam keadaan apapun. Klien mengatakan sangat fanatik terhadap agama
Islam.

VI. STATUS MENTAL

1. Penampilan

Klien berpenampilan rapi, bersih, penggunaan pakaian sesuai, selama di rumah sakit
klien selalu memakai seragam rumah sakit, peci dan sandal jepit.

2. Pembicaraan

Pada awalnya pembicaraan klien terarah tetapi lama kelamaan kacau, berpindah-
pindah dari kalimat satu ke kalimat lain dan tidak sesuai dengan realitas (inkoheren).
Masalah keperawatan : Gangguan komunikasi verbal

3. Aktivitas Motorik

Klien agak tremor dan mengeluh punggungnya nyeri, tapi klien masih bisa berjalan
dan memenuhi kebutuhan perawatan diri dengan bantuan minimal.

4. Alam Perasaan

Klien mengatakan perasaannya baik-baik saja,klien tidak merasa sedih, putus asa,
khawatir atau takut terhadap sesuatu. Tetapi kadang klien merasa marah atau jengkel
bila mendengar berita tentang kejahatan dan ketidakadilan.

Masalah keperawatan : Resiko tinggi perilaku kekerasan

5. Afek

Klien berespon sesuai dengan stimulus yang diberikan, klien tampak tertawa bila
mendengar atau melihat sesuatu yang menyenangkan dan klien tampak sedih ketika
menceritakan pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan.

6. Interaksi Selama Wawancara

Klien tampak bersahabat selama wawancara, ada kontak mata dan selalu menjawab
sesuai pertanyaan yang diajukan. Tetapi kadang klien mengungkapkan Mbak Y kalau
bicara dengan saya harus sidik, amanah, tabligh, fatonah (benar, dapat dipercaya,
menyampaikan, cerdas), karena saya bisa membaca hati dan pikiran Mbak.

Masalah keperawatan : gangguan isi pikir : waham curiga

7. Persepsi

Klien mengatakan tidak pernah mendengar suara atau bisikan yang tidak ada
wujudnya, klien juga tidak pernah melihat bayangan-bayangan atau mencium bau yang
tidak ada wujudnya. Klien tidak pernah tampak berbicara sendiri atau tersenyum-
senyum sendiri.

8. Proses Pikir

Klien kadang-kadang berbicara kacau tak ada hubungan dan berpindah-pindah (flight
of ideas) antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain, kadang klien juga
mengulang kalimat yang sama, seperti, Mbak, kalau ngomong dengan saya harus
sidik, amanah, tabligh, fatonah. Selain itu juga sering mengulang kalimat saya bisa
membaca isi hati orang lain

Masalah keperawatan :

- Gangguan komunikasi verbal

9. Isi Pikir

Klien meyakini bahwa kegagalannya menjadi guru ketika sudah lulus SPG adalah
karena ada orang-orang yang sengaja merugikan dirinya, yaitu adanya koruptor yang
menerima uang suap. Klien mengatakan bahwa Allah memberikan keyakinan pada
dirinya untuk selalu memerangi segala bentuk kejahatan yang ada termasuk Amerika
yang selalu menindas Indonesia. Klien juga meyakini bahwa dirinya diberi kelebihan
oleh Allah untuk bisa membaca isi hati dan pikiran orang lain, sehingga dia tahu orang-
orang yang berniat tidak baik atau jahat terhadap dirinya.

Masalah keperawatan : Gangguan isi pikir : waham curiga

10. Tingkat Kesadaran

Kesadaran klien composmentis, orientasi waktu, tempat dan orang baik.

11. Memori

Klien mampu mengingat kejadian-kejadian yang sudah lama berlalu seperti ketika
klien sakit jiwa pertama kali waktu dia masih SMP, klien lulus SPG tahun 1986, dan
ayahnya meninggal 6 tahun yang lalu. Klien juga mampu mengingat kejadian jangka
pendek seperti dia dirawat di rumah sakit jiwa yang keempat kalinya masuk rumah
sakit jiwa tanggal 6 Juni 2005. Klien juga mampu mengingat kejadia ssaat, seperti tadi
pagi makan dengan lauk apa.

12. Tingkat Konsentrasi dan Berhitung

Klien mampu berkonsentrasi dengan baik yang dibuktikan dengan klien mampu
mengulang atau menjelaskan kembali apa yang telah dibicarakan dengan perawat.
Klien mampu berhitung angka-angka atau benda nyata dengan baik.

13. Kemampuan Penilaian

Jika diberi penjelasan, klien mampu mengambil keputusan dengan tepat. Klien juga
mampu memutuskan alterbatif tindakan yang mau dilakukan lebih dulu, misalnya mau
makan dulu atau mandi dulu.

14. Daya Tilik Diri

Klien menyadari bahwa dirinya menderita gangguan jiwa yang memang membutuhkan
perawatan. Klien tidak menyalahkan orang-orang diluar dirinya yang menyebabkan dia
mengalami gangguan jiwa.

VII. KEBUTUHAN PERSIAPAN PULANG

1. Makan

Klien makan 3 kali sehari, makan sendiri tanpa bantuan dan mampu membereskan
alat-alat makan setelah selesai makan.

2. BAB/BAK

Klien mampu memenuhi kebutuhan BAB dan BAK sendiri di kamar mandi, mapu
menjaga kebersihan diri dan pakaian.
3. Mandi

Klien mengatakan mandi dan gosok gigi dua kali sehari, keramas setiap hari. Klien
tampak bersih dan tak ada bau badan.

4. Berpakaian

Klien mampu memilih dan mengenakan pakaian sendiri, ganti pakaian setelah mandi,
penggunaan pakaian sesuai dan penampilan rapi.

5. Istirahat dan Tidur

Klien mengatakan bisa istirahat tidur dengan cukup, baik siang atau malam, tak ada
gangguan tidur. Klien selalu berdoa sebelum dan ketika bangun tidur

6. Penggunaan obat

Klien mengatakan sudah tahu cara, dosis dan waktu minum obat. Tiga macam obat
diminum 2 kali 1 tablet pada pagi dan malam hari. Klien juga mengatakan salah satu
efek samping obat yang diarasakan adalah mulutnya terasa kaku dan kadang sulit
dibuka saat makan.

7. Pemeliharaan kesehatan

Klien mengatakan setelah pulang dari rumah sakit akan selalu kontrol dan minum obat
secara teratur agar penyakitnya tidak kambuh lagi. System pendukungnya adalah
keluarga yang selalu memperhatikan saat kapan dia harus kontrol dan minum obat.

8. Aktivitas di dalam rumah

Klien mengatakan aktivitas di dalam rumah yang sering dia lakukan adalah mengurusi
ternak (ayam Bangkok), membantu bersih-bersih rumah dan mencuci pakaian sendiri.

9. Aktivitas di luar rumah


Klien mengatakan aktivitas klien di luar rumah adalah membantu mengurus sawah,
mengikuti kegiatan pengajian dan berkunjung ke rumah saudara dengan naik sepeda
motor sendiri.

VIII. MEKANISME KOPING

Bila mempunyai masalah, klien selalu bercerita kepada ibu atau saudara-saudaranya.
Tetapi kadang dia juga mudah tersinggung dan marah saat ada masalah. Tetapi klien tidak
pernah mencederai diri maupun orang lain, klien juga tidak pernah menghindari masalah,
munum alcohol dan lain-lain.

Masalah keperawatan : Resiko tinggi perilaku kekerasan

IX. MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN

Klien mengatakan tidak mempunyai masalah dengan kelompok, lingkungan, pendidikan,


perumahan, ekonomi maupun pelayanan kesehatan. Masalah yang paling dirasakan klien
adalah masalah pekerjaan,dirinya yang sudah berumur 40 tahun dan mempunyai ijazah
SPG tetapi tidak bisa menjadi guru dan klien merasa benar-benar kecewa.

Masalah keperawatan : gangguan konsep diri, harga diri rendah.

X. PENGETAHUAN

Klien mengatakan bahwa sakit jiwa yang dideritanya karena kekecewaannya yang terlalu
mendalam. Menurut klien sakit jiwa bisa sembuh dengan pengobatan secara teratur,
menenangkan hati dan pikiran serta berdoa kepada Allah. Klien mengatakan ketika dirinya
merasa sudah sembuh dan tidak minum obat, penyakitnya kambuh lagi.

XI. ASPEK MEDIK

1. Diagnosa Medik : Skizofrenia Paranoid

2. Terapi Medik : Chlorpromazine 2 x 100 mg


Artan 2 x 2 mg

Haloperidol 2 x 5 mg

XII. ANALISA DATA

NO DATA FOKUS MASALAH


KEPERAWATAN

1. S: Resiko tinggi perilaku


kekerasan
2. - Klien mengatakan kadang merasa marah
atau jengkel bila mendengar berita tentang Gangguan isi pikir : waham
3.
kejahatan dan ketidakadilan curiga

4.
- Klien mengatakan kadang saat ada masalah Gangguan komunikasi verbal
mudah tersinggung dan marah
Gangguan konsep diri : harga
- Keluarga mengatakan sebelum masuk rumah diri rendah
sakit, klien tampak gelisah, sering marah-
marah tanpa sebab tapi tidak sampai
merusak barang-barang atau mencederai

O:

- Kadang klien tampak gelisah, mondar-


mandir, wajah tegang saat mengungkapkan
kemarahannya

S:

- Klien mengatakan bahwa kegagalannya


menjadi guru karena banyak koruptor yang
menerima uang suap sehingga dia tidak
diterima sebagai guru

- Klien sering mengatakan bahwa dirinya bisa


membaca hati dan pikiran orang lain
terutama orang-orang yang bermaksud jahat
kepadanya

- Klien sering mengatakan Kalau Mbak Y


ngomong dengan saya harus sidik, amanah,
tabligh, fatonah (benar, dapat dipercaya,
menyampaikan, cerdas)

O:

- Kontak pertama klien menunjukkan sikap


tidak bersahabat dan kurang kooperatif

S:

- Klien mengatakan bawa dirinya bisa


membaca hati dan pikiran orang lain

O:

- Pembicaraan klien lama-lama kacau,


berpindah-pindah dari kalimat satu ke
kalimat lain dan tidak sesuai realitas

- Klien juga sering mengulang-ulang kalimat

S:

- Klien merasa minder, malu dan kecewa


karena sudah berumur 40 tahun tapi belum
mempunyai istri dan pekerjaan seperti
saudara-saudaranya yang menjadi guru

O:

- Klien menunduk dan tampak sedih ketika


mengungkapkan perasaannya.

XIII. DAFTAR MASALAH KEPERAWATAN

1. Resiko tinggi perilaku kekerasan

2. Gangguan komunikasi verbal

3. Gangguan isi pikir : waham curiga

4. Gangguan konsep diri : harga diri rendah

POHON MASALAH :

Gangguan isi pikir :


XIV. DAFTAR DIAGNOSA
waham curiga KEPERAWATAN

1. Resiko tinggi perilaku


kekerasan berhubungan
dengan waham curiga

2. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan waham curiga

3. Gangguan isi pikir : waham curiga berhubungan dengan harga diri rendah
1. Pengkajian menurut Rawlins dan Heacock (1993) pengkajian klien dengan gangguan waham
meliputi :
. Dimensi fisik
Aktivitas sehari-hari
Kebiasaan/kepatuhan terhadap pengobatan
Perilaku merusak
Riwayat kesehatan
Pemeriksaan fisik
. Dimensi intelektual
. Dimensi emosional
. Dimensi spiritual
. Dimensi sosial
2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan yang lazim muncul pada klien dengan waham pada skizofrenia
menurut Townsend (1998), NANDA (2005) dan Carpenitto (1998) antara lain :
a. Resiko tinggi terhadap kekerasan : diarahkan pada diri sendiri dan orang lain.
b. Isolasi sosial
c. Koping individu tidak efektif
d. Perubahan persepsi sensori : pendengaran/pengelihaan
e. Perubahan proses pikir
f. Kerusakan komunikasi verbal
g. Kurang perawatan diri
h. Gangguan pola tidur
3. Perencanaan
a. Tujuan dan tindakan keperawatan berdasarkan standar asuhan keperawatan jiwa (2006) pada
gangguan proses pikir : waham antara lain :
Tujuan jangka panjang (TUPAN)
Klien tidak mengalami gangguan proses pikir dan berfungsi optimal dilingkungan sosialnya.
Tujuan jangka pendek (TUPEN)
1. Klien mengenal wahamnya dengan kriteria :
a) Klien mampu mengenal terjadinya waham
b) Klien mampu mengungkapkan isi waham
c) Klien mengungkapkan frekuensi waham
d) Klien mampu mengungkapkan perasaannya terkait dengan waham
Rencana tindakan
a) Bina hubungan saling percaya (BHSP)
b) Beri kesempatan klien untuk mendiskusikan wahamnya dengan petugas perawat.
c) Hindari mendebat/mendukung waham
d) Fokuskan diskusi padaperasaanklien
e) Dorong klien untuk mengungkapkan perasaan terkait dengan wahamnya.
f) Hindarkan stimulasi yang berlebihan dengan dapat menyebabkan munculnya waham.
2. Klien mampu mengontrol wahamnya, dengan kriteria
a) Klien tidak menanggapi wahamnya
b) Klien melaporkan penurunan frekuensi munculnya waham
c) Klien meminta validasi terhadap kebenaran/kenyataan
d) Klien mendemonstrasikan penolakan hadirnya waham
e) Klien menunjukkan pola pikir yang logis
f) Klien menunjukkan kemampuan untuk memenuhi ide-ide atau pikiran orang lain dan lain-lain.
Rencana tindakan
a) Observasi isi waham yang membahayakan
b) Bantu klien mengeliminasi/menurunkan stressor yang menciptakan delusi
c) Dukung klien untuk memvalidasi keyakinan terhadap wahamnya dengan orang yang
dipercaya/petugas/perawat.
d) Dukung klien untuk melaksanakan jadwal kegiatan harian secara konsisten.
e) Berikan aktivitas rekreasi atau aktivitas yang membutuhkan perhatian dan keterampilan diwaktu
luang klien
f) Kelola pemberian obat-obat antipsikotik dan antidepresent seuai order/kebutuhan.
g) Monitor efek samping obat
h) Jelaskan pentingnya kepatuhan klien terhadap aturan pengolahan obat.
3. Klien mampu mengingat kejadian/masalah dimasa lalu dengan kriteria.
a) Klien mampu mengingat kembali kejadian masalah jangka pendek
b) Klien dapat mengingat kembali informasi/masalah jangka menengah
c) Klien dapat mengingat kembali informasi/masalah jangka panjang.
Rencana tindakan :
a) Monitor daya ingat klien
b) Kaji kemampuan klien dalam mengingat sesuatu
c) Diskusikan dengan klien dan keluarga beberapa masalah memori yang dialami
d) Ingatkan kembali pengalaman masa lalu klien dengan cara yang tepat.
e) Simulasi pikiran dengan mengulangi pikiran yang diekspresikan klien secara tepat (ingatkan klien
tentang kejadian/peristiwa yang barus saja dialami klien)
f) Implementasikan teknik mengingat dengan cara yang tepat seperti dengan gambar visual membuat
daftar/jadwal menulis nama pada kartu dan sebagainya.
g) Bantu dalam tugas pembelajaran yang berkaitan, misalnya mengingat kembali verbal dan
informasi yang telah disampaikan dengan cara yang tepat.
h) Lebih orientasi klien, misal dengan mengingat dan tinggal, jam, musim, informasi yang bersifat
pribadi dan sebagainya.
i) Beri kesempatan kepada klien untuk melatih konsentrasinya, misal dengan permainan,
mencocokkan kartu, halma dan sebagainya.
4. Klien mampu meningkatkan kesadaran terhadap lingkungan sekitar dengan kriteria.
a) Klien mampu mengidentifikasi lingkungan sekitar sesuai realita/kenyataan.
b) Klien mampu mengungkapkan perasaannya setelah mengidentifikasi lingkungan sekitar
c) Klien mengungkapkan keuntungan mengidentifikasi lingkungan.
Rencana tindakan
a) Monitor interpretasi klien terhadap lingkungan (misal : tempat, orang disekitarnya dan
sebagainya).
b) Tempatkan obyek/hal-hal yang familiar dilingkungan/dikamar klien (misal : jam dinding, gambar,
foto).
c) Buat jadwal aktivitas/kegiatan harian bersama klien
d) Dorong klien untuk melakukan aktivitas sesuai jadwal yang telah dibuat tersebut.
e) Berikan terapi kognitif
f) Libatkan klien dalam TAK orientasi realita
5. Klien mampu mempertahankan kosentrasi dengan kriteria :
a) KLien mampu mempertahankan dan mendengarkan dengan baik saat diajak berbicara
b) Klien mampu melaksanakan instruksi sederhana yang diberikan
c) Klien dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan dengan tepat
Rencana tindakan :
a) Observasi kemampuan klien berkonsentrasi
b) Kaji kemampuan klien memahami dan memproses informasi dengan pertanyaan singat dan
sederhana
c) Tietapkan tujuan pembelajaran yang berguna dan realistis bagi klien
d) Berikan instruksi setelah klien menunjukkan kesiapan untuk belajar atau menerima informasi.
e) Atur instruksi sesuai tingkat pemahaman klien dan yang signat dan sederhana sampai yang lebih
kompleks
f) Gunakan bahasa yang familiar dan mudah dipahami oleh klien.
g) Dorong klien untuk menjawab pertanyaan dengan singkat dan jelas
h) Koreksi interpretasi yang salah dan informasi/pertanyaan yang diterima klien dengan cara yang
tepat
i) Dorong klien untuk terlibat aktif dalam pembelajaran
j) Beri reinforcement pada setiap kemajuan klien
k) Libatkan klien dalam TAK stimulasi sensori
6. Kesadaran klien terhadap identitas personal, waktu dan tempat meningkat/baik dengan kriteria :
a) Mampu mengenal identitas diri dengan baik
b) Klien mengenal identitas orang disekitarnya dengan tepat/baik
c) Klien mampu mengidentifikasi waktu (jam, hari, bulan, tahun) dengan benar
Rencana tindakan
a) Monitor orientasi klien terhadap realita
b) Sapa klien dengan namanya pada saat interaksi
c) Beri informasi kepada klien terhadap orang, tempat, waktu, sesuai kebutuhan.
d) Tanyakan satu pertanyaan pada satu waktu
e) Beri satu perintah pada satu waktu
f) Berikan/libatkan klien dalam aktivitas yang konkrit/nyata
g) Gunakan tanda/gambar/simbol untuk menstimulasi momen dan meningkatkan orientasi
h) Hindari stimulasi yang berlebihan yang dapat meningkatkan disorientasi
i) Faslitasi kunjungan keluarga dan orang-orang yang familiar dengan klien.
Libatkan klien dalam TAK orientasi realita.

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN


GANGGUAN ISI PIKIR : WAHAM
Published November 25, 2009 by rastiti

1. 1. KAJIAN TEORI

1. A. PENGERTIAN

1. Waham adalah keyakinan yang salah yang secara kokoh dipertahankan


walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan realita sosial
(Stuart dan Sunden, 1990 : 90).

2. Waham adalah suatu kepercayaan yang salah/ bertentangan dengan kenyataan


dan tidak tetap pada pemikiran seseorang dan latarbelakang sosial budaya
(Rowlins, 1991: 107)

3. Waham adalah bentuk lain dari proses kemunduran pikiran seseorang yaitu
dengan menca,puri kemampuan pikiran diuji dan dievaluasi secara nyata (Judith
Heber, 1987: 722).

4. Waham adalah keyakinan tentang suatu isi pikir yang tidak sesuai dengan
kenyataan atau tidak cocok dengan intelegensi dan latar belakang kebudayaan
biarpun dibuktikan kemustahilannya itu (W. F.Maramis 1991 : 117).

Berdasarkan pengertian di atas maka waham adalah suatu gangguan perubahan isi pikir yang
dilandasi adanya keyakinan akan ide-ide yang salah yang tidak sesuai dengan kenyataan,
keyakinan atau ide-ide klien itu tidak dapat segera diubah atau dibantah dengan logika atau hal-
hal yang bersifat nyata.

1. B. RENTANG RESPON

Rentang respon gangguan adaptif dan maladaptif dapat dijelaskan sebagai berikut :
Rentang respon neurobiologis

Respon adaptif Respon maladaptif

Pikiran logis persepsi akurat Kadang-kadang isi pikir Gangguan isi pikir waham
terganggu ilusi halusinasi
Emosi konsisten dengan
pengalaman Reaksi emosional ber- Ketidakmampuan untuk
lebihan atau kurang mengalami emosi
Prilaku sesuai dengan
hubungan social Prilaku ganjil atau tidak Ketidakmampuan isolasi
lazim sosial

Rentang respon neurobiologis di atas dapat dijelaskan bila individu merespon secara adaptif
maka individu akan berpikir secara logis. Apabila individu berada pada keadaan diantara adaptif
dan maladaptif kadang-kadang pikiran menyimpang atau perubahan isi pikir terganggu. Bila
individu tidak mampu berpikir secara logis dan pikiran individu mulai menyimpang maka ia
akan berespon secara maladaptif dan ia akan mengalami gangguan isi pikir : waham

1. C. FAKTOR PREDISPOSISI

Faktor predisposisi dari perubahan isi pikir : waham kebesaran dapat dibagi menjadi 2 teori yang
diuraikan sebagai berikut :

1. 1. Teori Biologis

1. Faktor-faktor genetik yang pasti mungkin terlibat dalam perkembangan suatu kelainan
ini adalah mereka yang memiliki anggota keluarga dengan kelainan yang sama (orang
tua, saudara kandung, sanak saudara lain).

2. Secara relatif ada penelitian baru yang menyatakan bahwa kelainan skizofrenia mungkin
pada kenyataannya merupakan suatu kecacatan sejak lahir terjadi pada bagian
hipokampus otak. Pengamatan memperlihatkan suatu kekacauan dari sel-sel pramidal di
dalam otak dari orang-orang yang menderita skizofrenia.

3. Teori biokimia menyatakan adanya peningkatan dari dopamin neurotransmiter yang


dipertukarkan menghasilkan gejala-gejala peningkatan aktivitas yang berlebihan dari
pemecahan asosiasi-asosiasi yang umumnya diobservasi pada psikosis.

4. 2. Teori Psikososial
1. Teori sistem keluarga Bawen dalam Lowsend (1998 : 147) menggambarkan
perkembangan skizofrenia sebagai suatu perkembangan disfungsi keluarga.
Konflik diantara suami istri mempengaruhi anak. Penanaman hal ini dalam anak
akan menghasilkan keluarga yang selalu berfokus pada ansielas dan suatu kondsi
yang lebih stabil mengakibatkan timbulnya suatu hubungan yang saling
mempengaruhi yang berkembang antara orang tua dan anak-anak. Anak harus
meninggalkan ketergantungan diri kepada orang tua dan anak dan masuk ke
dalam masa dewasa, dan dimana dimasa ini anak tidak akan mamapu
memenuhi tugas perkembangan dewasanya.

2. Teori interpersonal menyatakan bahwa orang yang mengalami psikosis akan


menghasilkan hubungan orang tua anak yang penuh akan kecemasan. Anak
menerima pesan-pesan yang membingungkan dan penuh konflik dan orang tua
tidak mampu membentuk rasa percaya terhadap orang lain.

3. Teori psikodinamik menegaskan bahwa psikosis adalah hasil dari suatu ego yang
lemah. Perkembangan yang dihambat dan suatu hubungan saling
mempengaruhi antara orang tua, anak. Karena ego menjadi lebih lemah
penggunaan mekanisme pertahanan ego pada waktu kecemasan yang ekstrim
menjadi suatu yang maladaptif dan perilakunya sering kali merupakan
penampilan dan segmen diri dalam kepribadian.

1. D. FAKTOR PRESIPITASI

Faktor presipitasi dari perubahan isi pikir : waham, yaitu :

1. Biologis

Stressor biologis yang berhubungan dengan neurobiologis yang maladaptif termasuk gangguan
dalam putaran umpan balik otak yang mengatur perubahan isi informasi dan abnormalitas pada
mekanisme pintu masuk dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif
menanggapi rangsangan.

1. Stres lingkungan

Secara biologis menetapkan ambang toleransi terhadap stres yang berinterasksi dengan sterssor
lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan prilaku.

1. Pemicu gejala

Pemicu yang biasanya terdapat pada respon neurobiologis yang maladaptif berhubungan dengan
kesehatan lingkungan, sikap dan prilaku individu, seperti : gizi buruk, kurang tidur, infeksi,
keletihan, rasa bermusuhan atau lingkungan yang penuh kritik, masalah perumahan, kelainan
terhadap penampilan, stres gangguan dalam berhubungan interpersonal, kesepain, tekanan,
pekerjaan, kemiskinan, keputusasaan dan sebagainya.
1. E. JENIS-JENIS WAHAM

Waham terbagi atas beberapa jenis, yaitu :

1. Waham Kejar

Individu merasa dirinya dikejar-kejar oleh orang lain atau sekelompok orang yang bermaksud
berbuat jahat kepada dirinya, sering ditemukan pada klien dengan stres anektif tipe depresi dan
gangguan organik.

1. Waham Kebesaran

Penderita merasa dirinya paling besar, mempunyai kekuatan, kepandaian atau kekayaan yang
luar biasa, misalnya adalah ratu adil dapat membaca pikiran orang lain, mempunyai puluhan
rumah, dll.

1. Waham Somatik

Perasaan mengenai berbagai penyakit yang berada pada tubuhnya sering didapatkan pada
tubuhnya.

1. Waham Agama

Waham dengan tema agama, dalam hal ini klien selalu meningkatkan tingkah lakunya yang telah
ia perbuat dengan keagamaan.

1. Waham Curiga

Individu merasa dirinya selalu disindir oleh orang-orang sekitarnya sehingga ia merasa curiga
terhadap sekitarnya.

1. Waham Intulistik

Bahwa sesuatu yang diyakini sudah hancur atau bahwa dirinya atau orang lain sudah mati, sering
ditemukan pada klien depresi.
1. F. TANDA DAN GEJALA

Tanda dan gejala dari perubahan isi pikir waham yaitu : klien menyatakan dirinya sebagai
seorang besar mempunyai kekuatan, pendidikan atau kekayaan luar biasa, klien menyatakan
perasaan dikejar-kejar oleh orang lain atau sekelompok orang, klien menyatakan perasaan
mengenai penyakit yang ada dalam tubuhnya, menarik diri dan isolasi, sulit menjalin hubungan
interpersonal dengan orang lain, rasa curiga yang berlebihan, kecemasan yang meningkat, sulit
tidur, tampak apatis, suara memelan, ekspresi wajah datar, kadang tertawa atau menangis sendiri,
rasa tidak percaya kepada orang lain, gelisah.

1. G. SUMBER KOPING

Ada beberapa sumber koping individu yang harus dikaji yang dapat berpengaruh terhadap
gangguan otak dan prilaku kekuatan dalam sumber koping dapat meliputi seperti : modal
intelegensi atau kreativitas yang tinggi. Orang tua harus secara aktif mendidik anak-anaknya,
dewasa muda tentang keterampilan koping karena mereka biasanya tidak hanya belajar dan
pengamatan. Sumber keluarga dapat berupa pengetahuan tentang penyakit, finansial yang cukup,
ketersediaan waktu dan tenaga dan kemampuan untuk memberikan dukungan secara
berkesinambungan.

1. H. POHON MASALAH

Kerusakan komunikasi verbal Akibat

1. 2. TEORI ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN ISI PIKIR : WAHAM

1. A. Pengkajian

1. 1. Pengumpulan Data

Hal-hal yang perlu dikaji pada klien dengan gangguan isi pikir : waham kebesaran yaitu :

1. Data Subjektif

Klien merasa dirinya sebagai orang besar, mempunyai kekuatan, kepandaian yang luar biasa,
misalnya dapat membaca atau membawa pikiran orang lain, dialah ratu adil.
1. Data Objektif

Klien kadang-kadang tampak panik, tidak mampu untuk berkonsentrasi, waham atau ide-ide
yang salah, ekspresi muka kadang sedih kadang gembira, tidak mampu membedakan khayalan
dengan kenyataan, sering tidak memperlihatkan kebersihan diri, gelisah, tidak bisa diam
(melangkah bolak-balik), mendominasi pembicaraan, mudah tersinggung, menolak makan dan
minum obat, menjalankan kegiatan agama secara berlebihan atau tidak sama sekali
melakukannya, merusak diri-sendiri dan orang lain serta lingkungannya, jarang mengikuti atau
tidak mau mengikuti kegiatan-kegiatan sosial, sering terbangun pada dini hari, penampilan
kurang bersih.

1. 2. Daftar Masalah

Masalah yang lazim muncul pada klien dengan perubahan isi pikir : waham kebesaran, yaitu :

1. Kerusakan komunikasi verbal.

2. Perubahan isi pikir : waham kebesaran

3. Kerusakan interaksi sosial : menarik diri

1. B. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa yang sering muncul, yaitu :

1. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan perubahan isi pikir : waham

2. Perubahan isi pikir : waham berhubungan dengan kerusakan interaksi sosial : menarik diri.

3. Kerusakan interaksi sosial : menaruh diri berhubungan dengan gangguan konsep diri : harga diri
rendah.

1. C. Perencanaan dan Intervensi

Tindakan keperawatan yang lazim dilakukan pada klien dengan perubahan isi pikir: waham
kebesaran yaitu :

1. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan perubahan isi pikir : waham kebesaran :

1. Tujuan umum : klien mampu berkomunikasi verbal dengan baik sehingga klien dapat
melakukan hubungan dengan orang lain.
1. Tujuan khusus :

Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat.

Dapat mengidentifikasi pikiran yang realita, mengarahkan pikiran yang realita.

Intervensi dan Rasional

Bina hubungan saling percaya dengan klien, ciptakan lingkungan yang hangat dan bersahabat.

Rasional : dengan rasa saling percaya, klien dapat mengungkapkan perasaannya sehingga akan
mempermudah melakukan tindakan keperawatan.

Diskusikan dengan klien penyebab perubahan isi pikirnya.

Rasional : dengan mengetahui penyebab, maka akan mempermudah dalam melakukan tindakan
keperawatan.

Diskusikan, anjurkan serta arahkan klien berpikir secara realita.

Rasional : klien dapat melakukan hal-hal yang realita sesuai dengan kenyataan.

Libatkan keluarga dalam perawatan klien terutama terhadap perubahan isi pikir klien.

Rasional : keluarga merupakan support sistem yang baik untuk mendukung penyembuhan klien.

1. Perubahan isi pikir : waham kebesaran berhubungan dengan menarik diri

1. Tujuan umum : klien tidak mengalami perubahan isi pikir : waham kebesaran

2. Tujuan khusus :

Klien dapat menyebutkan penyebab dirinya menarik diri dengan kriteria evaluasi, klien dapat
mengetahui penyebabnya.

Klien dapat menyebutkan keuntungan dan kerugian berhubungan dengan orang lain.

Intervensi dan rasional

Kaji pengetahuan klien dengan prilaku menarik diri sehingga dapat mengenali tanda-tanda
menarik diri.

Rasional : klien dapat menyadari tanda-tanda menarik diri sehingga memudahkan perawat
memberikan intervensi selanjutnya.

Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya terutama penyebab prilaku menarik
diri.
Rasional : klien dapat mengungkapkan penyebab prilaku menarik diri dapat membantu perawat
dalam mengidentifikasi tindakan yang dilakukan.

Berikan pujian terhadap kemampuan berhubungan dengan orang lain dan kerugian bila tidak
mau berhubungan dengan orang lain.

Rasional : pujian akan dapat memotivasi klien untuk mau berhubungan dengan orang lain.

1. Kerusakan interaksi sosial : menarik diri berhubungan dengan konsep diri, harga diri rendah.

a. Tujuan umum : klien mau berinteraksi sosial dan tidak menarik diri.

1. Tujuan khusus : dapat meningkatkan kemampuan yang dimiliki dan digunakan dengan kriteria
evaluasi, dapat mengungkapkan kemampuan yang dimiliki.

Intervensi dan rasional

Diskusikan dan anjurkan klien untuk melakukan kegiatan sesuai kemampuan yang masih dapat
dipergunakan selama sakit.

Rasional : memberi kesempatan pada klien untuk melakukan kegiatan sesuai kemampuan hingga
klien merasa harga dirinya meningkat.

Anjurkan klien meminta obat pada petugas dan dapat merasakan manfaat.

Rasional : memastikan klien minum obat.

1. Gangguan konsep diri harga diri rendah berhubungan dengan ideal diri tidak realistis dan
gambaran diri yang terlalu tinggi.

1. Tujuan umum : klien tidak merasa harga diri rendah

2. Tujuan khusus :

Mengenal masalah, mengidentifikasi sikap menyebut masalah mengetahui pemecahannya.

Mampu mengenal harapan-harapan nyata dan tidak nyata.

Intervensi dan rasional

Bimbing keluarga untuk menghargai kemampuan hal-hal yang dimiliki klien walaupun tidak
sebanding dengan kemampuan anggota keluarga lain.

Rasional : dengan menghargai kemampuan klien akan meningkatkan harga diri rendah.

Identifikasi bersama kilen tentang prilakunya yang maladaptif.


Rasional : klien dapat mengenal, mengungkapkan serta menerimanya

Identifasi bersama klien cara untuk memecahkan masalah.

Rasional : dapat meningkatkan kemampuan klien.

Beri tanggapan dan dengarkan harapan yang diinginkan.

Rasional : membuat klien menjadi terbuka.

Dorong individu untuk mengungkapkan harapan yang dimilikinya.

Rasional : memudahkan perawat dalam melakukan harapan yang dimiliki.

Tunjukkan pada klien harapan yang nyata.

Rasional : menunjukkan pada harapan yang bersifat nyata sehingga dapat menerima kenyataan.

Alihkan pada harapan yang tidak sesuai keaktivitas sesuai hoby.

Rasional : dapat membimbing untuk melakukan tindakan sesuai kemampuannya.

1. D. Evaluasi

Hasil yang diharapkan setelah melakukan intervensi pada klien dengan perubahan isi pikir :
waham kebesaran yaitu :

1. Klien dapat membina hubungan saling percaya.

2. Klien dapat mengendalikan isi pikir : waham kebesaran.

3. Klien dapat mengekspresikan perasaannya.

4. Klien dapat mengembangkan persepsi diri yang positif.

5. Klien dapat berhubungan dengan lingkungan.

6. Klien dapat terlibat dalam perawatannya.