Anda di halaman 1dari 46

Penjelasan

atas
PERATURAN DAERAH KOTA CILEGON
NOMOR TAHUN 2011
TENTANG
RENCANA TATA RUANG WILAYAH (RTRW) KOTA CILEGON
TAHUN 2010 - 2030

I. UMUM

Pembangunan di Indonesia, khususnya di beberapa wilayah perkotaan


tertentu, telah berlangsung lama dengan hasil yang umumnya belum memuaskan.
Kota-kota yang telah memiliki rencana tata ruang kota, yang dulu disebut master
plan, atau Rencana Induk Kota (RIK), atau Rencana Umum Tata Ruang Kota
(RUTRK), sebagai pedoman dan arahan pembangunan sebagian besar belum
menunjukkan hasil sesuai dengan tujuan dan arahan yang ditetapkan. Hasil
pembangunan kota-kota yang memiliki rencana hampir sama saja dengan hasil
pembangunan kota yang tanpa rencana, sehingga menimbulkan kesan dengan atau
rencana kota hasilnya akan sama saja. Ketidakefektifan dokumen dan Peraturan
Daerah tentang rencana tata ruang kota menimbulkan pertanyaan apakah suatu
rencana tata ruang kota diperlukan atau tidak. Melihat upaya-upaya yang perlu
dilakukan oleh Pemerintah Daerah, terutama dalam mendapatkan keabsahan hukum
tindakan yang dilakukan untuk melindungi kepentingan umum, tidak dapat disangkal
lagi bahwa rencana tata ruang kota dengan dasar hukum yang sah tetap diperlukan.
Tidak salah bila sebagian besar pihak yang berkepentingan (stakeholder) dalam
pembangunan kota berpendapat bahwa memiliki rencana kota jauh lebih baik
daripada tidak memilikinya sama sekali. Ini juga merupakan pandangan yang realistik
dan logis bagi semua orang yang peduli kepada masa depan. Yang selanjutnya harus
dipikirkan adalah bagaimana melaksanakan rencana tata ruang kota tersebut dengan
efektif agar mencapai tujuan yang dicita-citakan bersama.

Setelah selama bertahun-tahun perencanaan kota di Indonesia merujuk


kepada Staadsvormings Ordonnantie (SVO) 1948 dan peraturan pelaksanaannya,
Staadsvormings Verordening (SVV) 1949, serta merujuk pula pada berbagai
peraturan dan keputusan di tingkat menteri yang hampir seluruh isinya tidak sesuai
dengan SVO dan SVV, akhirnya Indonesia memiliki dasar hukum penataan ruang
pada tahun 1992. Dasar hukum untuk penataan ruang, termasuk penataan ruang
wilayah kota, ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang
Penataan Ruang yang mejadi landasan bagi kegiatan penataan ruang di Indonesia.

Undang ...
-2-

Undang-undang tersebut menetapkan unsur utama dalam penataan ruang


terdiri dari perencanaan tata ruang yang menghasilkan Rencana Tata Ruang
Wilayah, pemanfaatan ruang yang mengatur mekanisme dan perangkat
pelaksanaan Rencana Tata Ruang Wilayah, serta pengendalian pemanfaatan ruang
yang berisi mekanisme dan perangkat pengendalian pemanfaatan ruang. Khusus
dalam perencanaan tata ruang, undang-undang ini mengatur bentuk Rencana Tata
Ruang Wilayah berdasarkan wilayah administratif, yaitu Rencana Tata Ruang
Wilayah Nasional (RTRWN), Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP), dan
Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota (RTRW Kabupaten/Kota) yang
dilakukan secara terpadu dan tidak dipisah-pisahkan.

Dalam perkembangannya, Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992


tentang Penataan Ruang dipandang sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan
pengaturan penataan ruang sehingga diganti dengan Undang-Undang Nomor 26
Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Dalam undang-undang tersebut dinyatakan
bahwa penataan ruang sebagai suatu sistem perencanaan tata ruang, pemanfaatan
ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang, merupakan satu kesatuan yang tidak
terpisahkan dan harus dilakukan sesuai dengan kaidah penataan ruang sehingga
diharapkan: (i) dapat mewujudkan pemanfaatan ruang yang berhasil guna dan
berdaya guna serta mampu mendukung pengelolaan lingkungan hidup yang
berkelanjutan; (ii) tidak terjadi pemborosan pemanfaatan ruang; dan (iii) tidak
menyebabkan terjadinya penurunan kualitas lingkungan.

Perubahan peraturan perundang-undangan, kebijakan dan rencana tata


ruang di tingkat Nasional dan Provinsi sangat berpengaruh terhadap proses
penataan ruang di Daerah. Sejalan dengan perkembangan politik di Indonesia
setelah krisis multidimensi tahun 1998, sistem pemerintahan pun mengalami
perubahan mendasar dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun
2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004
tentang Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah dengan peraturan
pelaksanaannya. Sistem pemerintahan ini menekankan pada prinsip desentralisasi
dan memberikan kewenangan lebih besar kepada daerah otonom untuk mengurus
rumah tangganya sendiri. Proses penataan ruang di tingkat Nasional dan Provinsi
tidak lagi bersifat top-down, tetapi perlu didasarkan pada kesepakatan dengan
Provinsi dan Daerah terkait.

Paradigma ...
-3-

Paradigma pemerintahan dan pembangunan yang berkembang


mempengaruhi pula pendekatan, prosedur dan substansi penataan ruang kota.
Tata kepemerintahan yang baik (good governance) dan pemerintah yang bersih
(clean government) dengan prinsip-prinsipnya yang meliputi antara lain partisipasi,
informasi/transparansi, subsidiaritas, akuntabilitas, keefektifan dan efisiensi,
kesetaraan, ketanggapan, kerangka hukum yang adil, berorientasi pada
konsensus, dan profesionalisme, telah menjadi tuntutan yang tidak dapat ditawar.
Perencanaan yang partisipatif juga telah menjadi tuntutan dalam proses penataan
ruang.

Walaupun Pemerintah Kota Cilegon mempunyai kewenangan dan kewajiban


dalam penataan dan pembangunan kota, tetapi prosesnya perlu melibatkan
berbagai kelompok masyarakat, antara lain lembaga non-pemerintah, asosiasi
profesi dan usaha, pendidikan tinggi, badan hukum, dunia usaha, dan masyarakat
lainnya. Paradigma penting yang sudah dianut oleh semua negara adalah
pembangunan berkelanjutan. Konsep ini bertumpu pada tujuan pembangunan di
satu sisi, dan pengendalian atau pembatasan dampak negatif kegiatan manusia
terhadap alam di sisi lainnya. Pada awalnya, konsep ini berpijak hanya
pada kemampuan daya dukung alam pada skala makro, tetapi kemudian
berkembang pada keberlanjutan sosial dan ekonomi. Beberapa paradigma
pembangunan lainnya yang dikemukakan oleh UNDP tahun 1994 dan penting
diperhatikan dalam penataan ruang antara lain keterlibatan kelompok minat,
koordinasi vertikal dan horizontal, kelayakan pembiayaan, subsidiaritas, dan
interaksi perencanaan fisik dan ekonomi.

Pengaruh internasional juga patut dipertimbangkan dampaknya terhadap


perkembangan Kota Cilegon. Era globalisasi yang sudah semakin dekat dan
nyata mulai harus dihadapi, antara lain dengan akan diberlakukannya ketentuan
World Trade Organization (WTO), Asean Free Trade Agreement (AFTA), NAFTA,
dan lain-lain. Perkembangan informasi teknologi yang sangat cepat juga
mempengaruhi perkembangan dunia menjadi tanpa batas.

Dalam konteks nasional adanya perubahan rujukan sistem perencanaan,


mengakibatkan RTRW Kota Cilegon perlu disusun kembali. Pada waktu RTRW
Kota Cilegon Tahun 2001 dibuat masih mengacu pada RTRW Provinsi Jawa Barat,
mengingat Provinsi Banten baru terbentuk pada Tahun 2002 dan belum
memiliki RTRW Provinsi. Selain itu, penyusunan RTRW Kota Cilegon semata-mata
didasarkan pada Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan
Ruang; dengan acuan prosedural penyusunan Peraturan Menteri Dalam Negeri
Nomor 2 Tahun 1987 tentang Pedoman Penyusunan Rencana Kota. Kedua rujukan
tersebut pada dasarnya masih menganut sistem perencanaan top-down,
dimana kedudukan rencana tata ruang bersifat hirarkis.

Dewasa ...
-4-

Dewasa ini terdapat rujukan-rujukan baru dalam sistem perencanaan, karena


adanya Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional, Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah (revisi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999), dan Undang-
Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, serta Peraturan
Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional.
Terkait dengan prosedur penyusunan rencana tata ruang, secara teknis telah ada
Pedoman Penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah Kota (Peraturan Menteri
Pekerjaan Umum Nomor: 17/PRT/M/2009) yang memberi arahan tentang
ketentuan teknis muatan RTRW Kota serta proses dan prosedur penyusunan RTRW
Kota.
Berdasarkan RTRW Nasional (Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008),
Kota Cilegon ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN) yang berfungsi
sebagai kota pusat pertumbuhan nasional. Selanjutnya juga dijelaskan bahwa Kota
Cilegon merupakan pusat utama untuk Kawasan Andalan Bojonegara Merak
Cilegon, dimana sektor unggulan kawasan ini adalah industri, pariwisata, pertanian,
perikanan, dan pertambangan. Kota Cilegon sebagai potensi inlet-outlet terhadap
lokasi pasar dunia, dimana secara geografis Kota Cilegon memiliki akses langsung
terhadap Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I yang didukung oleh keberadaan
21 pelabuhan umum dan khusus. ALKI yang merupakan salah satu jalur pelayaran
internasional menjadi salah satu acuan pengembangan inlet-outlet wilayah
nasional, yaitu dalam meningkatkan aksesibilitas terhadap lokasi pasar dunia. Peran
penting Kota Cilegon sebagai inlet-outlet di tingkat nasional di sisi lain ditunjukkan
dengan kinerja bongkar muat barang antar pulau dan luar negeri pada Pelabuhan
Khusus dan Umum yang ada di Kota Cilegon.
Kota Cilegon sebagai simpul sistem transportasi Jawa-Sumatera, melalui
posisi seperti ini Kota Cilegon turut menentukan pertumbuhan dan perkembangan
wilayah di kedua pulau besar tersebut. Dalam sektor transportasi misalnya,
keberadaan Pelabuhan Merak menjadi penentu roda perekonomian yang bergerak
dari Pulau Jawa ke Sumatera dan sebaliknya, khususnya dalam menjamin
kelancaran distribusi arus barang dan manusia. Disamping itu, keberadaan Jalan Tol
Merak-Jakarta semakin meningkatkan aksesibilitas eksternal Kota Cilegon, baik
dengan ibukota negara (Jakarta) maupun wilayah-wilayah di Pulau Jawa lainnya.
Kota Cilegon dalam konstelasi pembangunan Pulau Jawa sebagaimana
tertuang dalam RTR Pulau Jawa-Bali memiliki kedudukan dan peran penting yang
antara lain digambarkan melalui penetapan Kota Cilegon sebagai pusat pelayanan
sekunder jasa pemerintahan dan industri manufaktur serta pengolahan, pariwisata
bahari, serta sebagai salah satu simpul dalam arahan pola pengelolaan sistem
jaringan jalan rel KA di Jawa-Bali dan sistem jaringan prasarana energi dan tenaga
listrik yang diprioritaskan penanganannya.
Kota ...
-5-

Kota Cilegon dalam beberapa tahun terakhir ini telah mengalami


perkembangan yang luar biasa. Perkembangan dimaksud bukan saja terjadi dalam
aspek ekonomi ataupun sosial, tetapi juga dalam aspek pemanfaatan ruang kota.
Pertumbuhan sosial, ekonomi dan pemanfatan ruang yang pesat tersebut
menyebabkan pengendalian perkembangan kota menjadi semakin semakin sulit
sehingga banyak terjadi ketidaksesuaian pemanfaatan ruang dengan Rencana
Umum Tata Ruang Kota yang telah ditetapkan.

Mempertimbangkan berbagai hal di atas, maka Pemerintah Kota Cilegon


perlu meningkatkan kemampuan manajerial dalam pengelolaan pembangunan kota.
Pembangunan kota harus dilakukan dengan lebih terpadu, menyeluruh, efisien,
efektif, ekonomis, tepat waktu dan tepat sasaran dengan memilih strategi dan
kebijakan pembangunan yang tepat dalam pemanfaatan sumber daya, maupun
sumber dana, serta penyediaan dan pengaturan ruang yang lebih optimal.

Oleh karenanya, pengembangan dan penataan ruang kota yang lebih terarah
melalui RTRW Kota perlu dilakukan secara terpadu dan menyeluruh sebagai bagian
dari strategi untuk meningkatkan kinerja pemerintahan dan pembangunan,
menciptakan kondisi lingkungan yang lebih baik, maupun meningkatkan kinerja
pelayanan publik

Untuk menghadapi berbagai perubahan dan paradigma yang berkembang,


penataan ruang Kota Cilegon perlu mendapat perhatian yang serius. RTRW Kota
Cilegon yang akan memandu perkembangan dan mengikat pemerintah Kota dan
masyarakat secara hukum pada 20 tahun mendatang perlu disempurnakan agar
menjadi pedoman yang rasional dan sah.

RTRW Kota Cilegon merupakan matra spasial dari pembangunan di bidang


ekonomi dan pembangunan bidang sosial budaya. Oleh karena itu, penataan ruang
di Kota Cilegon merupakan implementasi dari keterpaduan pembangunan di bidang
ekonomi dan sosial budaya. Sebagai wadah bagi kegiatan pembangunan ekonomi
dan sosial budaya itu, maka pemanfaatan ruang harus dilakukan secara serasi,
selaras, dan seimbang serta berkelanjutan. Pemanfaatan ruang secara serasi,
selaras, dan seimbang adalah kegiatan dalam penataan ruang yang harus dapat
menjamin terwujudnya keserasian, keselarasan, dan keseimbangan struktur dan
pola pemanfaatan ruang, sedangkan yang dimaksud dengan pemanfaatan ruang
yang berkelanjutan kegiatan dalam penataan ruang yang harus dapat menjamin
kelestarian dan kemampuan daya dukung sumber daya alam.

II. Pasal ...


-6-

II. Pasal Demi Pasal


Pasal 1
Istilah-istilah yang dirumuskan dalam pasal ini dimaksudkan untuk memberikan
kesamaan pengertian dalam Peraturan Daerah ini.
Pasal 2
Cukup jelas.
Pasal 3
ayat (1)
Cukup jelas.
ayat (2)
Cukup jelas.
Pasal 4
ayat (1)
Cukup jelas.
ayat (2)
Cukup jelas.
ayat (3)
Cukup jelas.
Pasal 5
Cukup jelas
Pasal 6
Yang dimaksud dengan kebijakan penataan ruang wilayah adalah rangkaian
konsep dan asas yang menjadi garis besar dan dasar dalam pemanfaatan ruang
darat, laut, dan udara termasuk ruang di dalam bumi untuk mencapai tujuan
penataan ruang.
Pasal 7
Yang dimaksud dengan strategi penataan ruang wilayah adalah langkah-langkah
pelaksanaan kebijakan penataan ruang.
ayat (1)
Huruf a
Yang dimaksud dengan fasilitas atau prasarana minimum disini adalah
segala fasilitas dan/atau prasarana penunjang kegiatan industri yang
harus ada dalam suatu kawasan perindustrian antara lain Ruang Terbuka
Hijau (RTH)/pertamanan, jalan lingkungan, penerangan jalan, drainase,
IPAL, dll.
Huruf ...
-7-

Huruf b

Cukup jelas.

Huruf c

Cukup jelas.

Huruf d

Cukup jelas.

Huruf e

Cukup jelas.

ayat (2)

Huruf a

Cukup jelas.

Huruf b

Cukup jelas.

Huruf c

Cukup jelas.

Huruf d

Cukup jelas.

Huruf e

Cukup jelas.

Huruf f

Cukup jelas.

ayat (3)

Huruf a

Cukup jelas.

Huruf b

Cukup jelas.

Huruf c

Cukup jelas.

Huruf d

Cukup jelas.

Huruf e

Cukup jelas.

ayat ...
-8-

ayat (4)

Huruf a

Cukup jelas.

Huruf b

Cukup jelas.

Huruf c

Cukup jelas.

Huruf d

Cukup jelas.

Huruf e

Cukup jelas.

Huruf f

Cukup jelas.

ayat (5)

Huruf a

Cukup jelas.

Huruf b

Cukup jelas.

Huruf c

Cukup jelas.

Huruf d

Cukup jelas.

ayat (6)

Huruf a

Cukup jelas.

Huruf b

Cukup jelas.

Huruf c

Cukup jelas.

Huruf ...
-9-

Huruf d

Sumber air baku Kota Cilegon sebagian besar berasal dari sumber mata air
di Kawasan Rawa Danau Kabupaten Serang. Untuk itu perlu kerjasama
antara Pemerintah Kota Cilegon dan Pemerintah Kabupaten Serang dalam
hal pelestarian kawasan sumber mata air tersebut.

ayat (7)

Huruf a

Cukup jelas.

Huruf b

Intensifikasi RTH dilakukan dengan pemilihan jenis tanaman, letak


tanaman, ruang antar permukiman, dan lain-lain. Selain itu dilakukan juga
diantaranya melalui penataan ulang taman dan/atau jalur hijau.

Sedangkan ekstensifikasi RTH dilakukan dengan cara menambah luas


lahan RTH dari yang sudah ada.

Huruf c

Cukup jelas.

Huruf d

Cukup jelas.

Huruf e

Cukup jelas.

Huruf f

Cukup jelas.

ayat (8)

Huruf a

Cukup jelas.

Huruf b

Cukup jelas.

Huruf c

Cukup jelas.

Huruf ...
- 10 -

Huruf d

Cukup jelas.

Huruf e

Cukup jelas.

Huruf f

Cukup jelas.

Huruf g

Cukup jelas.

ayat (9)

Huruf a

Cukup jelas.

Huruf b

Cukup jelas.

Huruf c

Cukup jelas.

ayat (10)

Huruf a

Cukup jelas.

Huruf b

Cukup jelas.

Huruf c

Cukup jelas.

Huruf d

Cukup jelas.

ayat (11)

Huruf a

Cukup jelas.

Huruf b

Cukup jelas.

Huruf c

Cukup jelas.

ayat ...
- 11 -

ayat (12)

Huruf a

Cukup jelas.

Huruf b

Cukup jelas.

Huruf c

Kegiatan budi daya unggulan merupakan kegiatan yang menjadi


penggerak utama perekonomian kawasan dan wilayah sekitarnya.

Agar kegiatan budi daya unggulan dapat berkembang dengan baik, perlu
dikembangkan prasarana dan sarana pendukung seperti jaringan jalan, air
bersih, jaringan listrik, dan telekomunikasi yang dapat mendorong
pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut dan di wilayah sekitarnya.

Huruf d

Cukup jelas.

Huruf e

Cukup jelas.

ayat (13)

Huruf a

Cukup jelas.

Huruf b

Cukup jelas.

Huruf c

Cukup jelas.

Pasal 8

ayat (1)

Yang dimaksud dengan rencana struktur ruang adalah gambaran struktur


ruang yang dikehendaki untuk dicapai pada akhir tahun rencana, yang
mencakup struktur ruang yang ada dan yang akan dikembangkan.

ayat (2)

Cukup jelas.

Pasal ...
- 12 -

Pasal 9

ayat (1)

BWK disusun menurut fungsi dan karakteristiknya sehingga pengembangan


BWK yang meliputi penetapan fungsi pengembangan masing-masing BWK
berdasarkan penilaian kondisi sekarang dan antisipasi perkembangan di masa
yang akan datang dapat mewujudkan pelayanan sarana prasarana yang
efektif dan efisien, yang persebarannya disesuaikan dengan jenis dan tingkat
kebutuhan yang ada.

ayat (2)

Rencana rinci yang dimaksud adalah Rencana Detail Tata Ruang (RDTR)
dan/atau rencana tata ruang kawasan strategis kota. Rencana rinci ini disusun
sebagai perangkat operasional rencana tata ruang kota.

ayat (3)

Cukup jelas.

Pasal 10

ayat (1)

Cukup jelas.

ayat (2)

Cukup jelas.

ayat (3)

Cukup jelas.

Pasal 11

ayat (1)

Cukup jelas.

ayat (2)

Sistem jaringan transportasi darat merupakan sistem yang memperlihatkan


keterkaitan kebutuhan dan pelayanan transportasi antar kawasan dan antar
wilayah dalam ruang wilayah Kota Cilegon.

Pengembangan sistem ini dimaksudkan untuk menciptakan keterkaitan antar


pusat pelayanan serta mewujudkan keselarasan dan keterpaduan antara pusat
pelayanan kegiatan dengan sektor kegiatan ekonomi masyarakat.

ayat (3)

Cukup jelas.

Pasal ...
- 13 -

Pasal 12

ayat (1)

Klasifikasi jalan umum di Indonesia terbagi berdasarkan sistem, fungsi, status,


dan kelas. Berdasarkan sistem, jalan umum terdiri dari jalan primer dan jalan
sekunder. Berdasarkan fungsinya jalan diklasifikasikan menjadi jalan arteri,
kolektor, lokal, dan lingkungan. Jalan nasional, jalan provinsi, jalan kabupaten,
jalan kota, dan jalan desa adalah klasifikasi jalan berdasarkan status.
Sedangkan klasifikasi jalan berdasarkan kelasnya hanya meliputi jalan bebas
hambatan. Definisi, ciri-ciri dan ketentuan teknisnya telah diatur dalam
Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan, dan Peraturan
Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 tentang Jalan.

ayat (2)

Jalan primer adalah jalan yang menghubungkan secara menerus Pusat


Kegiatan Nasional (PKN), Pusat Kegiatan Wilayah (PKW), Pusat Kegiatan Lokal
(PKL) sampai ke Pusat Kegiatan Lingkungan (PKLing); dan menghubungkan
antar PKN.

ayat (3)

Jalan sekunder adalah jalan yang menghubungkan secara menerus kawasan


yang memiliki fungsi primer, sekunder kesatu, sekunder kedua, dan
seterusnya sampai ke persil.

ayat (4)

Huruf a

Pemeliharaan rutin jalan merupakan kegiatan merawat serta memperbaiki


kerusakan-kerusakan yang terjadi pada ruas-ruas jalan dengan kondisi
pelayanan mantap. Jalan dengan kondisi pelayanan mantap adalah ruas-
ruas jalan dengan umur rencana yang dapat diperhitungkan serta
mengikuti suatu standar tertentu.

Huruf b

Pemeliharaan berkala jalan merupakan kegiatan penanganan terhadap


setiap kerusakan yang diperhitungkan dalam desain agar penurunan
kondisi jalan dapat dikembalikan pada kondisi kemantapan sesuai dengan
rencana.

Huruf ...
- 14 -

Huruf c

Rehabilitasi jalan merupakan kegiatan penanganan terhadap setiap


kerusakan yang tidak diperhitungkan dalam desain, yang berakibat
menurunnya kondisi kemantapan pada bagian/tempat tertentu dari suatu
ruas jalan dengan kondisi rusak ringan, agar penurunan kondisi
kemantapan tersebut dapat dikembalikan pada kondisi kemantapan sesuai
dengan rencana.

Huruf d

Yang dimaksud peningkatan struktur jalan merupakan kegiatan


penanganan untuk dapat meningkatkan kemampuan ruas-ruas jalan
dalam kondisi tidak mantap atau kritis agar ruas-ruas jalan tersebut
mempunyai kondisi pelayanan mantap sesuai dengan umur rencana yang
ditetapkan.

Sedangkan peningkatan kapasitas jalan merupakan penanganan jalan


dengan pelebaran perkerasan, baik menambah maupun tidak menambah
jumlah lajur.

Huruf e

Cukup jelas.

Huruf f

Cukup jelas.

Huruf g

Cukup jelas.

Huruf h

Cukup jelas.

Huruf i

Dalam membangun jaringan jalan baru dihindari persimpangan dengan rel


kereta api. Meminimalisir persilangan jalan dengan jaringan rel kereta api
dimaksudkan untuk meminimalisir konflik lalu lintas pada saat kereta
lewat. Hal ini dapat dilakukan dengan cara pembuatan fly over di atas
jaringan kereta tersebut atau under pass di bawah jaringan rel kereta api.

Huruf j

Kegiatan parkir yang ada di badan jalan terutama pada kawasan yang
rawan kemacetan akan dikurangi untuk kemudian dihilangkan. Setiap
kegiatan yang berada di sepanjang jaringan jalan diwajibkan untuk
menyediakan lahan parkir sehingga tidak ada lagi kegiatan parkir di badan
jalan.

Huruf ...
- 15 -

Huruf k

Cukup jelas.

Huruf l

Cukup jelas.

Huruf m

Cukup jelas.

Huruf n

Cukup jelas.

Huruf o

Cukup jelas.

Pasal 13

ayat (1)

Pembagian tipe terminal mengacu pada Undang-Undang Nomor 22 Tahun


2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ).

ayat (2)

Cukup jelas.

Pasal 14

Cukup jelas.

Pasal 15

ayat (1)

Cukup jelas.

ayat (2)

Cukup jelas.

Pasal 16

ayat (1)

Huruf a

Jaringan jalur kereta api Merak Rangkas Bitung Jakarta ini


menghubungkan Kota Cilegon dengan kota-kota sekitar, yakni Serang,
Rangkasbitung, Tangerang, dan Jakarta.

Huruf b

Cukup Jelas.

ayat (2)

Cukup jelas.

Pasal ...
- 16 -

Pasal 17

ayat (1)

Huruf a

ALKI merupakan alur laut yang ditetapkan sebagai alur untuk pelaksanaan
hak lintas alur laut kepulauan berdasarkan konvensi hukum laut
internasional. ALKI ditetapkan untuk menghubungkan 2 (dua) perairan
bebas, yaitu Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

ALKI I melintasi Laut Cina Selatan Selat Karimata Laut Jawa Selat
Sunda.

Huruf b

Pelabuhan pengumpul diselenggarakan guna mewujudkan sistem


transportasi laut yang handal dan berkemampuan tinggi dalam rangka
menunjang pembangunan nasional.

Kriteria teknis pelabuhan pengumpul ditetapkan oleh menteri yang tugas


dan tanggung jawabnya di bidang transportasi laut.

Huruf c

Terminal untuk kepentingan sendiri dikembangkan untuk menunjang


pengembangan kegiatan atau fungsi tertentu (kegiatan perindustrian,
pertambangan, perikanan, atau kegiatan lainnya yang dalam pelaksanaan
usaha pokoknya memerlukan fasilitas pelabuhan).

ayat (2)

Cukup jelas.

Pasal 18

Cukup jelas.

Pasal 19

ayat (1)

Cukup jelas.

ayat (2)

Cukup jelas.

ayat (3)

Cukup jelas.

Pasal ...
- 17 -

Pasal 20

Huruf a

Jaringan terestrial meliputi jaringan mikro digital, fiber optic (serat optik),
mikro analog, dan kabel laut.

Yang dimaksud jaringan satelit merupakan piranti komunikasi yang


memanfaatkan teknologi satelit.

Huruf b

Cukup jelas.

Huruf c

Cukup jelas.

Huruf d

Cukup jelas.

Pasal 21

ayat (1)

Huruf a

Yang dimaksud dengan air baku adalah air yang dapat dipergunakan
untuk keperluan air bersih, industri, pertanian, penggelontoran, dan
kelistrikan.

Sumber air baku Waduk Krenceng merupakan Instalasi Pengolahan Air


milik PT. Krakatau Steel/PT. KS (Perusahaan Air Minum PT. Krakatau Tirta
Industri/PT. KTI) yang airnya berasal dari sumber air baku Rawa Danau,
Kabupaten Serang.

PDAM Cilegon sementara ini tidak melakukan pengolahan air melainkan


memanfaatkan air hasil olahan PT. KTI.

Huruf b

Bahwa Daerah Irigasi Kedung Ingas (1.455 Ha) merupakan kewenangan


Provinsi Banten dan Daerah Irigasi Cibeber (21 Ha) merupakan
kewenangan Kota Cilegon.

Huruf c

Cukup jelas.

ayat (2)

Cukup jelas.

Pasal ...
- 18 -

Pasal 22

ayat (1)

Cukup jelas.

ayat (2)

Cukup jelas.

ayat (3)

Huruf a

Yang dimaksud dengan sistem terpisah seluruhnya (completely separate


system) adalah dengan memisahkan saluran antara sistem penyaluran air
hujan dan air buangan (limbah). Air limbah akan disalurkan melalui
saluran tertutup (perpipaan).

Huruf b

Pengelolaan tinja yang akan dikembangkan adalah dengan membuat


Instalasi Pengolahan Limbah Tinja (IPLT) secara komunal pada setiap
lingkungan permukiman.

Huruf c

Untuk pembangunan perumahan baru, para developer disyaratkan untuk


membuat IPLT sedangkan perumahan yang sudah ada secara bertahap
untuk merubah sistem septic tank menjadi sistem komunal.

Huruf d

Total lahan seluas 50 (lima puluh) hektar meliputi lokasi pengelolaan


limbah B3 dan kawasan penyangga/buffer zone.

Huruf e

Yang dimaksud dengan kriteria teknis adalah persyaratan teknis untuk


pembangunan fisik kawasan tempat pengelolaan limbah B3 dan
pengelolaan limbah B3 sesuai dengan ketentuan pengelolaan limbah B3.

Kriteria desain tempat pengelolaan limbah B3 adalah:

1. Dapat melindungi masyarakat di sekitar lokasi pengelolaan limbah B3


serta para pekerjanya dari pencemaran lingkungan akibat kegiatan
yang dilakukan.

2. Sesuai ...
- 19 -

2. Sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku yaitu


Keputusan Kepala Bapedal No. 4 Tahun 1995 tentang Simbol dan
Label Bahan Berbahaya dan Beracun.

3. Mempunyai efektivitas pengolahan yang baik dalam menetralkan


limbah yang ditampung dari industri sehingga dapat menghasilkan
bahan produk yang bisa digunakan kembali untuk industri.

4. Teknologi pengolahan dapat mengurangi limbah padat yang tidak


dapat diolah lagi sehingga dapat mengurangi volume limbah padat
yang di landfill.

Huruf f

Cukup jelas.

Huruf g

Yang dimaksud ketentuan yang berlaku adalah semua ketentuan


peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang tata laksana
pengawasan pengelolaan limbah B3.

ayat (4)

Yang dimaksud dengan Tempat Penampungan Sampah Sementara (TPS)


adalah tempat sebelum sampah diangkut ke tempat pendauran ulang,
pengolahan, dan/atau tempat pengolahan sampah terpadu.

Sedangkan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) adalah tempat untuk memroses


dan mengembalikan sampah ke media lingkungan secara aman bagi manusia
dan lingkungan.

Huruf a

Cukup jelas.

Huruf b

Cukup jelas.

Huruf c

Cukup jelas.

Huruf d

Cukup jelas.

Huruf
- 20 -

Huruf e

Cukup jelas.

Huruf f

Yang dimaksud dengan konsep daur ulang, pemanfaatan kembali,


pengurangan (recycle-reuse-reduce) adalah suatu konsep untuk
meminimalkan jumlah sampah menuju zero waste, konsep dimulai dari
pemilahan sumber sampah yang dilakukan dengan mendesain bak
sampah sehingga memudahkan sampah untuk digunakan kembali (reuse),
pengurangan jumlah sampah, dan dilanjutkan dengan mendaur ulang
sampah di tempat lain. Penerapan konsep ini juga dilakukan di TPS dan
TPA.

Huruf g

Cukup jelas.

Huruf h

Pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan


berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah.

Penyelenggaraan pengelolaan sampah antara lain berupa penyediaan


tempat penampungan sampah, alat angkut sampah, tempat
penampungan sementara, tempat pengolahan sampah terpadu, dan/atau
tempat pemrosesan akhir sampah.

Huruf i

Cukup jelas.

Huruf j

Cukup jelas.

ayat (5)

Cukup jelas.

ayat (6)

Cukup jelas.

ayat (7)

Jalur evakuasi yang dimaksud meliputi:

1. Untuk menuju lokasi evakuasi I yang dipusatkan di SD Kampung Baru Kab.


Serang, jalur evakuasi melalui akses jalur Jl. Cilodan/Sriwi Kec. Ciwandan
yang melewati perbatasan antara Kota Cilegon Kab. Serang berjarak + 2
Km dari jalur Jalan Utama/Jalan Nasional;

2. Untuk
- 21 -

2. Untuk menuju lokasi evakuasi II yang dipusatkan di Kampung Kopo Kidul,


jalur evakuasi melalui akses jalur Jl. Kawasan Pancapuri dan Akses Jalur Jl.
Ciromo-Kopolandeuh (Jl. Sunan Demak) berjarak + 2 Km dari jalur Jalan
Utama/Jalan Nasional;

3. Untuk menuju lokasi evakuasi III yang dipusatkan di Kantor Desa/MTs


Randakari, jalur evakuasi melalui akses jalur Jl. Randakari (Sukasari-Sasak
Asem) dan Akses Jalur Jl. Kp. Warung Kara-Umbul Burak berjarak + 1,2
Km dari jalur Jalan Utama/Jalan Nasional;

4. Untuk menuju lokasi evakuasi IV yang dipusatkan di Kp. Karang Jetak Lor
(Kubang Sari), jalur evakuasi melalui akses jalur Jl. Mudakir (Meluar-
Warung Juwet-Buah Kopek-Panauwan-Ciriu) dan Akses jalan lain menuju
lokasi berjarak + 2 Km dari jalur Jalan Utama/Jalan Nasional;

5. Untuk menuju lokasi evakuasi V yang dipusatkan di SD Walikukun (Lebak


Denok), jalur evakuasi melalui akses jalur Jl. Ir. Sutami (Krenceng-
Batukuda), Jl. H. Agus Salim, Jl. Kp.Leuweung Sawo, Delingseng, Kepuh
Denok menuju lokasi berjarak + 3 Km dari jalur Jalan Utama/Jalan
Nasional;

6. Untuk menuju lokasi evakuasi VI yang dipusatkan di SD Lebak Gebang


(Bagendung) Kec. Cilegon, jalur evakuasi melalui akses Jl. Temu Putih,
Ciwedus, arah TPA Bagendung menuju lokasi berjarak + 4 Km dari jalur
Jalan Utama/Jalan Nasional;

7. Untuk menuju lokasi evakuasi VII yang dipusatkan di TPU Cikerai Kec.
Cibeber, jalur evakuasi melalui akses jalur Jl. Tb. Ismail, Jl. Pagebangan,
arah TPA Bagendung menuju lokasi berjarak + 4 Km dari jalur Jalan
Utama/Jalan Nasional;

8. Untuk menuju lokasi evakuasi VIII yang dipusatkan di Kab. Serang


(Waringin Kurung), jalur evakuasi melalui akses jalur Jalan Serdang Kab.
Serang;

9. Untuk menuju lokasi evakuasi IX yang dipusatkan di SD Pecinaan (Tegal


Bunder), jalur evakuasi melalui akses jalur Jl. Sumampir, Kebondalem,
Purwakarta, Pabean menuju lokasi berjarak + 3 Km;

10. Untuk menuju lokasi evakuasi X yang dipusatkan di SD Gerem 3 Kec.


Grogol, jalur evakuasi melalui akses utama (Jl. H. Leman) berjarak + 1,2
Km;

11. Untuk menuju lokasi evakuasi XI yang dipusatkan di Lapangan Terbuka,


jalur evakuasi melalui akses Jl. Statomer-Cikuasa berjarak + 1,2 Km;

12. Untuk ...


- 22 -

12. Untuk menuju lokasi evakuasi XII yang dipusatkan di Daerah Terbuka, jalur
evakuasi melalui akses Jl. Puskesmas Merak, Jl. Pasar Baru Merak, Jl.
Merdeka, dan Jl. Langon 2 menuju ke lokasi berjarak + 1,6 Km;

13. Untuk menuju lokasi evakuasi XIII yang dipusatkan di Lapangan Terbuka,
jalur evakuasi melalui akses Jl. Kp. Cipala menuju ke lokasi berjarak + 1,2
Km;

14. Untuk menuju lokasi evakuasi XIV yang dipusatkan di SD Pulorida (Lebak
Gede), jalur evakuasi melalui akses Jl. Kp. Temposo menuju ke lokasi
berjarak + 0,8 Km; dan

15. Untuk menuju lokasi evakuasi XV yang dipusatkan di Lapangan Terbuka


(Kel. Suralaya), jalur evakuasi melalui akses Jl. Ki Kahal menuju ke lokasi
berjarak + 2,1 Km.

ayat (8)

Cukup jelas.

Pasal 23

ayat (1)

Cukup jelas.

ayat (2)

Cukup jelas.

Pasal 24

ayat (1)

Kawasan lindung dapat diterapkan untuk mengatasi dan mengantisipasi


ancaman kerusakan lingkungan saat ini dan pada masa yang akan datang
akibat kurangnya kemampuan perlindungan wilayah yang ada.

Penetapan suatu kawasan berfungsi lindung wajib memperhatikan


penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah (P4T) yang ada
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang
pertanahan.

ayat (2)

Cukup jelas.

ayat ...
- 23 -

ayat (3)

Yang dimaksud dengan kawasan yang memberikan perlindungan terhadap


kawasan bawahannya adalah kawasan resapan air di wilayah Cilegon Utara
(Kecamatan Pulomerak) dan Cilegon Selatan (Kecamatan Ciwandan). Kawasan
resapan air adalah daerah yang mempunyai kemampuan tinggi untuk
meresapkan air hujan sehingga merupakan tempat pengisian air bumi (akifer)
yang berguna sebagai sumber air. Perlindungan terhadap kawasan resapan
air, dilakukan untuk memberikan ruang yang cukup bagi peresapan air hujan
pada daerah tertentu untuk keperluan penyediaan kebutuhan air tanah dan
pengendalian banjir, baik untuk kawasan bawahannya maupun kawasan yang
bersangkutan.

Kriteria kawasan resapan air adalah:

a. kawasan dengan curah hujan rata-rata lebih dari 1.000 mm per tahun;

b. lapisan tanahnya berupa pasir halus berukuran minimal 1/16 mm;

c. mempunyai kemampuan meluluskan air dengan kecepatan lebih dari 1


meter per hari;

d. kedalaman muka air tanah lebih dari 10 meter terhadap muka tanah
setempat;

e. kelerengan lebih dari 15 %; dan

f. kedudukan muka air tanah dangkal lebih tinggi dari kedudukan muka air
tanah dalam.

ayat (4)

Yang dimaksud dengan jalur sempadan pantai dan/atau sungai adalah seluruh
tepian pantai dan/atau sungai/kali yang ada di Kota Cilegon.

Perlindungan terhadap jalur sempadan sungai dilakukan untuk melindungi


fungsi sungai dari kegiatan budidaya yang dapat mengganggu dan merusak
kondisi sungai dan mengamankan aliran sungai.

Kriteria jalur sempadan sungai adalah:

a. sekurang-kurangnya 5 meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul di luar


kawasan perkotaan dan 3 meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul di
dalam kawasan perkotaan;

b. sekurang-kurangnya 100 meter di kanan kiri sungai besar dan 50 meter di


kanan kiri sungai kecil yang tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan;

c. sekurang-kurangnya ...
- 24 -

c. sekurang-kurangnya 10 meter dari tepi sungai untuk sungai yang


mempunyai kedalaman tidak lebih dari 3 meter;

d. sekurang-kurangnya 15 meter dari tepi sungai untuk sungai yang


mempunyai kedalaman lebih dari 3 meter sampai dengan 20 meter;

e. sekurang-kurangnya 30 meter dari tepi sungai untuk sungai yang


mempunyai kedalaman lebih dari 20 meter.

Ketentuan garis sempadan sungai diatur lebih lanjut oleh Peraturan Daerah
yang berlaku.

Kriteria kawasan perlindungan setempat untuk kawasan sekitar danau


buatan/waduk dan situ yaitu daratan sepanjang tepian danau buatan/waduk
dan situ yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik danau
antara 50-100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat.

Kriteria kawasan perlindungan setempat untuk kawasan sekitar mata air yaitu
kawasan di sekitar mata air dengan jari-jari sekurang-kurangnya 200 meter.

Kawasan di bawah SUTT dan SUTET adalah seluruh kawasan di bawah tower
SUTT dan SUTET yang ada di Kota Cilegon.

Kriteria kawasan di bawah SUTT dan SUTET diatur dalam Peraturan Menteri
Energi dan Sumber daya Mineral.

ayat (5)

RTH terdiri dari RTH Publik dan RTH Privat.

RTH publik merupakan RTH yang dikelola oleh pemerintah kota yang
digunakan untuk kepentingan masyarakat secara umum. Proporsi RTH publik
paling sedikit 20 % (dua puluh persen) dari luas wilayah kota, untuk
menjamin keseimbangan ekosistem kota sehingga meningkatkan ketersediaan
udara bersih dan meningkatkan estetika kota.

RTH privat meliputi kebun atau halaman rumah/gedung milik


masyarakat/swasta yang ditanami tumbuhan, proporsi RTH privat paling
sedikit 10 % (sepuluh persen) dari luas wilayah kota. Penyediaan RTH privat
dilaksanakan untuk meningkatkan fungsi dan proporsi RTH di kota,
pemerintah, masyarakat, dan swasta didorong untuk menanam tumbuhan di
dalam areal lahan miliknya dan/atau di atas bangunan gedung.

Pada ruang-ruang privat yang luasan RTH-nya kurang dari 10 % (sepuluh


persen) dari luas lahan yang dikuasai, harus dilakukan upaya peningkatan luas
RTH hingga mencapai tingkat paling sedikit 10 % (sepuluh persen).

Pada ...
- 25 -

Pada ruang-ruang privat (khususnya ruang di dalam kawasan perindustrian


dan sekitarnya) dengan luasan RTH lebih dari 10 % (sepuluh persen), perlu
dilakukan upaya agar luas RTH tersebut tidak berkurang atau dipertahankan
guna meminimalisir dampak pencemaran udara.

Pada kondisi ekosistem tertentu dimana keberlanjutan lingkungan hidup


mensyaratkan keberadaan RTH lebih besar seperti pada daerah sekitar
kawasan perindustrian, maka dalam rencana rinci tata ruang dan atau site
plan kawasan ditetapkan proporsi luas RTH sesuai dengan kondisi ekosistem
tersebut.

Pengadaan RTH taman kota, RTH taman lingkungan, dan RTH tempat
pemakaman umum sesuai dengan standar prasarana kota dan besaran/lokasi
yang ditetapkan dalam rencana tata ruang.

Taman kota adalah rencana taman di eks pasar baru di Kecamatan Jombang.
Taman lingkungan adalah seluruh taman yang ada di dalam kawasan
perumahan (developer) maupun di dalam permukiman penduduk, taman di
dalam areal perkantoran, dan kawasan industri.

TPU adalah TPU Cikerai dan TPU Makam Balung di Kecamatan Citangkil, serta
seluruh TPU kecil yang tersebar di dalam lingkungan permukiman penduduk.
Jalur sempadan jalan kereta api adalah seluruh kawasan di sisi kiri dan kanan
rel kereta api yang ada di Kota Cilegon.

Kriteria jalur sempadan jalan kereta api yaitu kawasan di sisi kiri dan kanan rel
kereta api dengan jarak sekurang-kurangnya 20 meter.

Sempadan jalan dan jalan bebas hambatan diatur oleh pengelolaan jalan
sesuai dengan rancangan teknis dan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

Huruf a

Cukup jelas.
Huruf b

Cukup jelas.

Huruf c

Cukup jelas.

Huruf d
Cukup jelas.

Huruf e

Yang dimaksud dengan intensifikasi dan ekstensifikasi RTH adalah


sebagaimana dapat dilihat pada penjelasan Pasal 7 ayat (7) huruf b.

Huruf ...
- 26 -

Huruf f

Cukup jelas.

Huruf g

Cukup jelas.

Huruf h

Cukup jelas.

Huruf i

Cukup jelas.

ayat (6)

Cukup jelas.

ayat (7)

Yang dimaksud dengan kawasan cagar budaya yaitu tempat serta ruang di
sekitar bangunan bernilai budaya tinggi dan situs yang mempunyai manfaat
tinggi untuk pengembangan ilmu pengetahuan. Fungsi bangunan pada
kawasan ini dapat berubah dengan mempertahankan bentuk asli bangunan.

ayat (8)

Cukup jelas.

ayat (9)

Cukup jelas.

ayat (10)

Cukup jelas.

Pasal 25

ayat (1)

Cukup jelas.

ayat (2)

Kawasan budi daya menggambarkan kegiatan dominan yang berkembang di


dalam kawasan tersebut. Dengan demikian, masih dimungkinkan keberadaan
kegiatan budi daya lainnya di dalam kawasan tersebut. Sebagai contoh, pada
peruntukan kawasan perindustrian dapat dikembangkan perumahan untuk
para pekerja di kawasan peruntukan industri.

Peruntukan ...
- 27 -

Peruntukan kawasan budi daya dimaksudkan untuk memudahkan pengelolaan


kegiatan termasuk dalam penyediaan prasarana dan sarana penunjang,
penanganan dampak lingkungan, penerapan mekanisme insentif, dan
sebagainya. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa penyediaan
prasarana dan sarana penunjang kegiatan akan lebih efisien apabila kegiatan
yang ditunjangnya memiliki besaran yang memungkinkan tercapainya skala
ekonomi dalam penyediaan prasarana dan sarana. Peruntukan kawasan budi
daya disesuaikan dengan kebijakan pembangunan.

Pasal 26

ayat (1)

Kawasan perumahan harus dilengkapi dengan prasarana dan sarana


lingkungan, serta tempat kerja yang memberikan pelayanan dan kesempatan
kerja terbatas untuk mendukung perikehidupan dan penghidupan sehingga
fungsi perumahan tersebut dapat berdaya guna dan berhasil guna.

ayat (2)

Yang dimaksud dengan pengembangan secara vertikal adalah


pengembangan ruang secara tegak lurus baik di atas permukaan tanah
maupun di dalam bumi dengan batas geometri tertentu yang disesuaikan
dengan kondisi geografis daerah.

Pengembangan ke arah vertikal harus mempertimbangkan dimensi fisik dan


non fisik.

Dimensi fisik antara lain meliputi karakteristik lahan, topografi, dan daya
dukung lahan.

Dimensi non fisik antara lain meliputi ekonomi, sosial, dan budaya.

Untuk mewujudkan pengembangan permukiman secara vertikal dapat


dilakukan berdasarkan Kasiba dan Lisiba.

Pengembangan secara vertikal meliputi rumah susun dengan ketinggian


maksimum 5 lantai, apartemen rendah dengan ketinggian sampai 8 lantai, dan
apartemen tinggi dengan ketinggian lebih dari 8 lantai. Prasarana yang harus
dipertimbangkan terutama ketersediaan kapasitas prasarana jalan dan air
bersih.

ayat (3)

Cukup Jelas.

ayat ..
- 28 -

ayat (4)

Peremajaan kota (urban renewal) merupakan kegiatan untuk memperbaiki


daerah kota; dengan maksud agar dapat meningkatkan pemanfaatan daerah-
daerah yang dirasakan sudah kurang menguntungkan bagi kehidupan sosial
dan penghidupan ekonomi kota.

Pembangunan kembali kota (urban redevelopment) merupakan pengaturan


dan pembangunan kembali lahan kota; berupa upaya meningkatkan manfaat
lahan bagi masyarakat maupun pemerintah kota.

Lokasi yang dimaksud adalah lokasi yang teridentifikasi sebagai kawasan


kumuh (berdasarkan kajian Penyusunan Pola dan Strategi Penataan
Permukiman Kumuh Kota Cilegon) yaitu:

1. RW. 02 Cibeber Barat Kel. Cibeber Kec. Cibeber

2. RW. 04 Kel. Ketileng Kec. Cilegon

3. RW. 02 Kel. Banjarnegara Kec. Ciwandan

4. RW. 05 Medaksa Kel. Tamansari Kec. Pulomerak

5. RW. 03 Pecak Kel. Gedongdalem Kec. Jombang

6. RW. 03 Kel. Panggungrawi Kec. Jombang

7. RW. 03 Kp. Priuk Kel. Sukmajaya Kec. Jombang

8. RW. 02 Teratai Udik Kel. Masigit Kec. Jombang

9. RW. 01 Kubang Lampit Kel. Tegal bunder Kec. Purwakarta

10. Link. Ciore Wetan Kel. Kotasari dan Grogol Kec. Grogol

11. Link. Kagungan RW. 06 Kel. Gerem Kec. Grogol

12. Link. Kagungan RW. 07 Cupas Wetan Kel. Gerem Kec. Grogol

13. Link. Sukaseneng RW. 01 dan 02 Kel. Tamansari Kec. Pulomerak

ayat (5)

Ketentuan pembangunan Kasiba dan Lisiba yang berdiri sendiri diatur dalam
Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 1999 tentang Kasiba dan Lisiba.

ayat (6)

Cukup jelas.

ayat (7)

Cukup jelas.

ayat (8)

Cukup jelas.

Pasal ...
- 29 -

Pasal 27

ayat (1)

Huruf a

Cukup jelas.

Huruf b

Cukup jelas.

Huruf c

Cukup jelas.

Huruf d

Cukup jelas.

Huruf e

Cukup jelas.

Huruf f

Yang termasuk jasa profesional adalah pengacara, dokter, psikolog, dan


sejenisnya.

Yang termasuk jasa perdagangan terdiri dari ekspor-impor, perdagangan


berjangka, dan sejenisnya.

Yang termasuk jasa keuangan terdiri dari perbankan, asuransi, lembaga


keuangan non bank, pasar modal, dan sejenisnya.

Huruf g

Yang termasuk jasa pariwisata terdiri dari agen dan biro perjalanan,
penginapan, dan sejenisnya.

Huruf h

Cukup jelas.

ayat (2)

Cukup jelas.

Pasal 28

Kawasan perindustrian dimaksudkan untuk mengarahkan agar kegiatan industri


dapat berlangsung secara efisien dan produktif, mendorong pemanfaatan sumber
daya setempat, pengendalian dampak lingkungan,dan sebagainya.

ayat (1)

Huruf a

Cukup jelas.

Huruf ...
- 30 -

Huruf b

Industri kecil dan menengah yang tidak menimbulkan dampak negatif


yang dimaksud adalah industri yang tidak mengkonsumsi banyak air
(terutama air tanah dalam), sudah memiliki instalasi pengolahan limbah,
dan tidak menimbulkan gangguan lingkungan, seperti bau, bising, dll.

Aglomerasi kegiatan industri kecil dan menengah ke dalam 1 (satu)


kawasan industri tertentu dimungkinkan dengan luasan minimal adalah 5
(lima) hektar seperti yang disyaratkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor
24 Tahun 2009 tentang Kawasan Industri.

Huruf c

Cukup jelas.

Huruf d

Cukup jelas.

ayat (2)

Cukup jelas.

Pasal 29

ayat (1)

Cukup jelas.

ayat (2)

Cukup jelas.

ayat (3)

Cukup jelas.

ayat (4)

Cukup jelas.

ayat (5)

Cukup jelas.

ayat (6)

Cukup jelas.

Pasal 30

ayat (1)

Cukup jelas.

ayat (2)

Cukup jelas.

ayat ...
- 31 -

ayat (3)

Cukup jelas.

ayat (4)
Cukup jelas.

Pasal 31

Kawasan pariwisata adalah kawasan yang didominasi oleh fungsi kepariwisataan


dapat mencakup sebagian areal dalam kawasan lindung atau kawasan budi daya
lainnya dimana terdapat konsentrasi daya tarik dan fasilitas penunjang pariwisata.

ayat (1)

Cukup jelas.
ayat (2)

Cukup jelas.

ayat (3)

Cukup jelas.

ayat (4)
Jenis hiburan khusus yang dikendalikan, dibatasi, dan/atau dilarang antara lain
meliputi bar, pub, panti pijat, karaoke, mesin ketangkasan, diskotik, kelab
malam, dan tempat hiburan lainnya diluar fasilitas yang melekat pada fungsi
kegiatan lain selain hotel.
Lebih jelasnya mengenai hiburan khusus ini diatur dalam Peraturan Daerah
tersendiri.

ayat (5)

Cukup jelas.
ayat (6)

Cukup jelas.

Pasal 32

ayat (1)

Huruf a
Yang termasuk dalam kawasan komersial adalah fasilitas rumah toko,
perdagangan grosir dan perkulakan.

Huruf b

Cukup jelas.
ayat (2)
Cukup jelas.

Pasal ...
- 32 -

Pasal 33

Kawasan terminal terpadu merupakan gabungan lokasi 3 (tiga) moda yang terdiri
dari terminal tipe A (angkutan jalan), pelabuhan kapal (angkutan sungai, danau,
dan penyeberangan), dan stasiun kereta api.

ayat (1)

Cukup jelas.

ayat (2)

Cukup jelas.

Pasal 34

Kawasan peruntukan pertambangan batuan dimaksudkan untuk mengarahkan


agar kegiatan pertambangan dapat berlangsung secara efisien dan produktif tanpa
menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.

Yang dimaksud dengan pertambangan batuan adalah sebagaimana disebut dalam


pasal 2 ayat 2 huruf d PP No 23 tahun 2010, meliputi pumice, tras, toseki,
obsidian, marmer,perlit, tanah diatome, tanah serap (fullers earth), slate, granit,
granodiorit, andesit, gabro, peridotit, basalt, trakhit, leusit, tanah liat, tanah urug,
batu apung, opal, kalsedon, chert, kristal kuarsa, jasper, krisoprase, kayu
terkersikan, gamet, giok, agat, diorit, topas, batu gunung quarry besar, kerikil
galian dari bukit, kerikil sungai, batu kali, kerikil sungai ayak tanpa pasir, pasir
urug, pasir pasang, kerikil berpasir alami (sirtu), bahan timbunan pilihan (tanah),
urukan tanah setempat, tanah merah (laterit), batu gamping, onik, pasir laut, dan
pasir yang tidak mengandung unsur mineral logam atau unsur mineral bukan
logam dalam jumlah yang berarti ditinjau dari segi ekonomi pertambangan.

ayat (1)

Cukup jelas.

ayat (2)

Cukup jelas.

ayat (3)

Cukup jelas.

Pasal 35

ayat (1)

Cukup jelas.

ayat (2)

Cukup jelas.

Pasal ...
- 33 -

Pasal 36

ayat (1)

Cukup jelas.

ayat (2)

Cukup jelas.

Pasal 37

Huruf a

Cukup jelas.

Huruf b

Yang dimaksud dengan pedagang kreatif lapangan (PKL) adalah kegiatan jasa
dan perdagangan yang tidak bertentangan dengan hukum serta dimiliki dan
diusahakan sendiri dengan menggunakan tempat usaha di ruang terbuka
publik, tidak menetap atau permanen, sarana berdagang tidak berpondasi,
dan menempati persil yang diperuntukan bagi kegiatan ini.

Lokasi ruang publik yang diizinkan untuk dimanfaatkan oleh kegiatan PKL
secara reguler maupun insidental (sewaktu-waktu) ditetapkan oleh Walikota.

Luas untuk kegiatan PKL pada setiap ruang publik yang diizinkan untuk
dimanfaatkan secara reguler oleh UKL dibatasi maksimum 10% dari luas areal;
sedangkan ruang publik yang dapat dimanfaatkan secara insidental oleh PKL
maksimum 50 % dari areal ruang publik.

Pemanfaatan ruang publik untuk kegiatan PKL hanya diperbolehkan pada


waktu yang ditetapkan oleh Walikota.

Ketentuan lainnya yang harus diatur adalah batas gangguan yang diizinkan,
ketentuan ketertiban, kebersihan, dan keindahan kota, perlindungan terhadap
fungsi utama ruang publik, serta keamanan dan keselamatan pengguna ruang
publik.

Huruf c

Cukup jelas.

Huruf d

Cukup jelas.

Huruf e

Cukup jelas.

Pasal ...

Pasal 38
- 34 -

ayat (1)

Cukup jelas.

ayat (2)

Cukup jelas.

Pasal 39

Penetapan kawasan strategis lebih ditekankan pada upaya untuk memacu


perkembangan sektor-sektor strategis yang dapat memberi dampak positif
terhadap pembangunan daerah secara keseluruhan.

ayat (1)

Cukup jelas.

ayat (2)

Cukup jelas.

ayat (3)

Cukup jelas.

ayat (4)

Cukup jelas.

ayat (5)

Yang dimaksud dengan ketentuan peraturan perundang-undangan adalah


semua ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang
kerjasama pendanaan/pembiayaan dalam pembangunan dan/atau
pengelolaan kawasan strategis.

ayat (6)

Cukup jelas.

Pasal 40

ayat (1)

Cukup jelas.

ayat (2)

Cukup jelas.

ayat ...
- 35 -

ayat (3)

Yang dimaksud dengan peraturan perundang-undangan adalah peraturan


perundang-undangan yang mengatur tentang sistem perencanaan
pembangunan daerah, keuangan daerah, dan perbendaharaan daerah.

Pasal 41

ayat (1)

Indikasi program utama menggambarkan kegiatan yang harus dilaksanakan


untuk mewujudkan rencana struktur dan rencana pola ruang wilayah.

ayat (2)

Cukup jelas.

ayat (3)

Cukup jelas.

ayat (4)

Cukup jelas.

ayat (5)

Cukup jelas.

ayat (6)

Cukup jelas.

ayat (7)

Yang dimaksud dengan ketentuan peraturan perundang-undangan adalah


semua ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang
kerja sama pendanaan/pembiayaan dalam pembangunan dan/atau
penyediaan barang publik.

Pasal 42

Cukup jelas.

Pasal 43

Cukup jelas.

Pasal 44

Ketentuan umum peraturan zonasi bertujuan untuk menjamin fungsi kawasan


yang berada di wilayah Kota Cilegon, yang terdiri atas:

b. ketentuan mengenai jenis kegiatan pemanfaatan ruang yang


diperbolehkan pada suatu kawasan;

c. ketentuan ...
- 36 -

c. ketentuan mengenai jenis kegiatan pemanfaatan ruang yang tidak


diperbolehkan pada suatu kawasan;

d. ketentuan mengenai jenis kegiatan pemanfaatan ruang yang diperbolehkan


dengan persyaratan tertentu pada suatu kawasan; dan/atau

e. ketentuan mengenai tingkat intensitas kegiatan pemanfaatan ruang pada


suatu kawasan.

ayat (1)

Cukup jelas.

ayat (2)

Cukup jelas.

Pasal 45

ayat (1)

Cukup jelas.

ayat (2)

Cukup jelas.

ayat (3)

Cukup jelas.

ayat (4)

Cukup jelas.

ayat (5)

Cukup jelas.

Pasal 46

Huruf a

Cukup jelas.

Huruf b

Cukup jelas.

Huruf c

Pendirian bangunan yang dibatasi adalah pada bangunan permanen.

Bangunan fasilitas umum lainnya yang dapat dibangun pada kawasan lindung
dan RTH adalah bangunan yang apabila dibangun di lokasi lain menjadi tidak
berfungsi seperti jembatan penyeberangan yang melintasi taman di median
jalan dan halte angkutan umum.

Huruf ...
- 37 -

Huruf d

Cukup jelas.

Huruf e

Prinsip-prinsip teknik penambangan dan kapasitas yang diperkenankan, akan


diatur lebih lanjut dalam peraturan daerah.

Huruf f

Cukup jelas.

Huruf g

Cukup jelas.

Huruf h

Yang dimaksud ketentuan peraturan perundang-undangan adalah ketentuan


peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang kriteria kawasan
lindung.

Huruf i

Yang dimaksud kegiatan budi daya yang tidak mengganggu fungsi lindung
adalah kegiatan yang tidak mengubah bentang alam dan ekosistem alami,
antara lain pembuatan teras untuk meningkatkan konservasi tanah dan air,
pemanfaatan hasil hutan non-kayu seperti buah-buahan, getah, damar,
tengkawang, dan lain-lain dan harus dilakukan tanpa mengurangi fungsi pokok
masing-masing kawasan lindung yang bersangkutan; pembuatan menara
pengawas satwa di taman hutan raya dengan menggunakan konstruksi bambu
atau kayu, sehingga yang berada langsung dipermukaan tanah hanya keempat
kakinya.

Pengertian kegiatan budidaya secara terbatas di kawasan non hutan yang


berfungsi lindung antara lain untuk pembangunan prasarana vital seperti
sistem jaringan listrik, telepon, cek dam, tandon air atau bendung, pemancar
elektronik tetap diperlukan meskipun bangunan tersebut pada kawasan
lindung.

Pasal 47

ayat (1)

Cukup jelas.

ayat ...
- 38 -

ayat (2)

Cukup jelas.

ayat (3)

Huruf a

Yang dimaksud sarana penunjang adalah fasilitas pendidikan, kesehatan,


peribadatan, perbelanjaan, taman dan lapangan olahraga.

Huruf b

Yang dimaksud dengan standar teknis adalah standar teknis bangunan


perumahan.

Huruf c

Amplop bangunan yang ditetapkan antara lain, meliputi Garis Sempadan


Bangunan (GSB), Koefisien Dasar Bangunan (KDB), Koefisien Lantai
Bangunan (KLB), Koefisien Dasar Hijau (KDH), dan ketinggian bangunan.

Penetapan tema arsitektur bangunan antara lain, meliputi persyaratan


penampilan bangunan gedung, tata ruang dalam, keseimbangan,
keserasian, dan keselarasan bangunan gedung dengan lingkungannya,
serta pertimbangan adanya keseimbangan antara nilai-nilai sosial budaya
setempat terhadap penerapan berbagai perkembangan arsitektur dan
rekayasa.

Kelengkapan bangunan yang dapat ditetapkan antara lain, meliputi lahan


parkir, jalan, kelengkapan pemadam kebakaran, dan jalur evakuasi
bencana.

Huruf d

Cukup jelas.

Huruf e

Cukup jelas.

Huruf f

Cukup jelas.

Huruf g

Cukup jelas.

Huruf ...
- 39 -

Huruf h

Yang dimaksud dengan konsep neighborhood unit adalah konsep


pengembangan kawasan perumahan lengkap dengan prasarana dan
sarana kebutuhan hidup sehari-hari.

Huruf i

Ketentuan pembangunan KASIBA dan LISIBA yang berdiri sendiri diatur


dalam Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 1999 tentang KASIBA dan
LISIBA.

Huruf j

Cukup jelas.

Huruf k

Cukup jelas.

Huruf l

Cukup jelas.

Huruf m

Cukup jelas.

ayat (4)

Cukup jelas.

ayat (5)

Huruf a

Cukup jelas.

Huruf b

Cukup jelas.

Huruf c

Cukup jelas.

Huruf d

Cukup jelas.

Huruf e

Yang dimaksud alur pelayaran adalah bagian dari perairan baik yang
alami maupun buatan yang dari segi kedalaman, lebar, dan hambatan
pelayaran lainnya dianggap aman untuk dilayari.

Huruf ...
- 40 -

Huruf f

Cukup jelas.

Huruf g

Yang dimaksud dengan Daerah Lingkungan Kerja Pelabuhan (DLKR)


adalah wilayah perairan dan daratan pada pelabuhan yang dipergunakan
secara langsung untuk kegiatan pelabuhan.

Yang dimaksud dengan Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan


(DLKP) adalah wilayah perairan di sekeliling DLKR perairan pelabuhan
yang dipergunakan untuk menjamin keselamatan pelayaran.

ayat (6)

Cukup jelas.

ayat (7)

Cukup jelas.

ayat (8)

Cukup jelas.

ayat (9)

Cukup jelas.

Pasal 48

ayat (1)

Cukup jelas.

ayat (2)

Cukup jelas.

ayat (3)

Cukup jelas.

ayat (4)

Cukup jelas.

ayat (5)

Cukup jelas.

ayat (6)

Cukup jelas.

Pasal ...
- 41 -

Pasal 49

ayat (1)

Prosedur khusus yang dimaksud adalah dengan merubah perda.

ayat (2)

Cukup jelas.

ayat (3)

Cukup jelas.

Pasal 50

ayat (1)

Cukup jelas.

ayat (2)

Cukup jelas.

ayat (3)

Cukup jelas.

ayat (4)

Cukup jelas.

ayat (5)

Huruf a

Perangkat insentif dan disinsentif yang berkaitan dengan elemen guna


lahan meliputi:

a. dalam bentuk pengaturan atau kebijakan dapat terdiri dari pengaturan


hukum kepemilikan lahan oleh swasta dan pengaturan perizinan;

b. dalam bentuk ekonomi meliputi Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), dan
retribusi perubahan pemanfaatan lahan; serta

c. dalam bentuk pengadaan langsung oleh pemerintah daerah meliputi


pengusahaan lahan oleh Pemerintah.

Huruf b

Perangkat insentif dan disinsentif yang berkaitan dengan pelayanan umum


meliputi:

a. dalam bentuk pengaturan atau kebijakan dapat terdiri dari kekuatan


hukum untuk mengembalikan gangguan/pencemaran dan pengaturan
penyediaan pelayanan umum oleh swasta;

b. dalam ...
- 42 -

b. dalam bentuk ekonomi meliputi pajak kemacetan, pajak pencemaran,


retribusi perizinan, pembangunan, dan biaya dampak pembangunan;
serta

c. dalam bentuk pengadaan langsung oleh pemerintah daerah meliputi


pengadaan barang publik dan pelayanan umum oleh Pemerintah.

Huruf c

Perangkat insentif dan disinsentif yang berkaitan dengan penyediaan


prasarana meliputi:

a. dalam bentuk pengaturan atau kebijakan dapat terdiri dari penyediaan


prasarana seperti AMDAL;

b. dalam bentuk ekonomi antara lain user charge, development exaction


dan initial cost for land consolidation; serta

c. dalam bentuk pengadaan langsung oleh pemerintah daerah meliputi


pengadaan prasarana dan pembangunan fasilitas umum oleh
Pemerintah.

Pasal 51

ayat (1)

Cukup jelas.

ayat (2)

Cukup jelas.

Pasal 52

ayat (1)

Cukup jelas.

ayat (2)

Huruf a

Cukup jelas.

Huruf b

Cukup jelas.

Huruf c

Prasarana vital yang dimaksud meliputi sistem jaringan listrik, telepon, cek
dam, tandon air atau bendung, dan pemancar elektronik tetap diperlukan
meskipun bangunan tersebut pada kawasan lindung.

ayat ...
- 43 -

ayat (3)

Cukup jelas.

ayat (4)

Cukup jelas.

Pasal 53

Cukup jelas.

Pasal 54

ayat (1)

Cukup jelas.

ayat (2)

Cukup jelas.

ayat (3)

Cukup jelas.

Pasal 55

ayat (1)

Cukup jelas.

ayat (2)

Cukup jelas.

Pasal 56

Huruf a

Cukup jelas.

Huruf b

Cukup jelas.

Huruf c

Cukup jelas.

Huruf d

Cukup jelas.

Huruf e

Cukup jelas.

Huruf f

Cukup jelas.

Pasal ...
- 44 -

Pasal 57

ayat (1)

Cukup jelas.

ayat (2)

Cukup jelas.

Pasal 58

ayat (1)

Cukup jelas.

ayat (2)

Cukup jelas.

Pasal 59

ayat (1)

Cukup jelas.

ayat (2)

Cukup jelas.

Pasal 60

Huruf a

Cukup jelas.

Huruf b

Cukup jelas.

Huruf c

Cukup jelas.

Huruf d

Cukup jelas.

Pasal 61

ayat (1)

Cukup jelas.

ayat (2)

Cukup jelas.

Pasal ...
- 45 -

Pasal 62

Huruf a

Cukup jelas.

Huruf b

Cukup jelas.

Huruf c

Cukup jelas

Pasal 63

ayat (1)

Cukup jelas.

ayat (2)

Cukup jelas.

ayat (3)

Cukup jelas.

Pasal 64

Cukup jelas.

Pasal 65

ayat (1)

Cukup jelas.

ayat (2)

Cukup jelas.

ayat (3)

Cukup jelas.

Pasal 66

ayat (1)

Cukup jelas.

ayat (2)

Cukup jelas.

ayat (3)

Cukup jelas

Pasal ...
- 46 -

Pasal 67

Cukup jelas.

Pasal 68

Cukup jelas.

Pasal 69

Cukup jelas.

Pasal 70

Cukup jelas.

TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KOTA CILEGON TAHUN 2011 NOMOR 3