Anda di halaman 1dari 7

NASKAH PUBLIKASI

PENGARUH PENGGUNAAN GADGET TERHADAP PENURUNAN TAJAM


PENGLIHATAN PADA ANAK USIA SEKOLAH (6-12 TAHUN)
DI SD MUHAMMADIYAH 2 PONTIANAK SELATAN

WIDEA ERNAWATI
I 31111024

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2015
Pengaruh Penggunaan Gadget terhadap Penurunan Tajam Penglihatan pada Anak Usia
Sekolah (6-12 Tahun) di SD Muhammadiyah 2 Pontianak Selatan

Widea Ernawati*, Ichsan Budiharto***, Winarianti**

Abstrak : Penggunaan gadget yang salah antara lain frekuensi penggunaan berlebihan, posisi tidak
benar dan intensitas pencahayaan yang tidak baik akan berdampak terhadap penurunan tajam
penglihatan. Penurunan tajam penglihatan pada anak-anak akan berakibat pada kesulitan anak untuk
melakukan aktivitas sehari-harinya. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh
penggunaan gadget terhadap penurunan tajam penglihatan pada anak usia sekolah (6-12 tahun) di
SD Muhammadiyah 2 Pontianak Selatan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif
dengan pendekatan Cross Sectional. Sampel dalam penelitian berjumlah 55 orang dari kelas 1-5.
Data diolah dengan uji Chi-Square dengan nilai p < 0,05. Berdasarkan hasil analisis didapatkan
nilai p=0,015 yang artinya ada pengaruh antara posisi dan intensitas pencahayaan saat
menggunakan gadget terhadap penurunan tajam penglihatan. Tidak terdapat pengaruh secara
statistik antara frekuensi lamanya menggunkaan gadget terhadap penurunan tajam penglihatan
dengan nilai p=0,112. Disimpulkan tidak ada pengaruh antara frekuensi lamanya menggunakan
gadget terhadap penurunan tajam penglihatan pada anak usia sekolah. Ada pengaruh antara posisi
dan intensitas pencahayaan saat menggunakan gadget terhadap penurunan tajam penglihatan pada
anak usia sekolah.
Kata Kunci : Gadget, Tajam Penglihatan, Anak Usia Sekolah

The Influence of the Use of Gadgets to Decrease Visual Acuity in Children of School Age
(6-12 Years) in Muhammadiyah 2 Primary School South Pontianak

Abstract : The abusement of gadgets such as the excessive frequency, not true position and intensity
less lighting will be an impact on the decrease visual acuity. Decrease of visual acuity in children
would result in difficulty for children to perform daily activities. The object from this research is
know the influence of used gadgets to decrease in visual acuity of school-age children (6-12 years)
in Muhammadiyah 2 Primary School in South Pontianak. This research used descriptive
quantitative methods with the Cross Cectional. The sample in this research is one to five grade with
the number of 55 people. The data was analyzed by Chi-Square test with p value < 0,05. Based on
the analyzed result, p value has a significant influence between the position (p=0,015) and the
intensity of lighting (p=0,015) when used gadgets to decrease of visual acuity. There is no
statistically influence between the frequency length of using gadget to decrease of visual acuity with
p=0,112. This research conclusion is no influence between the frequency length of used gadgets to
decrease of visual acuity. There is influence between the position and the intensity of lighting when
used gadgets to decrease of visual acuity at school age children.
Key words : Gadgets, Visual Acuity, Children of School Age

* Nursing Student Tanjungpura University


** Nursing Lecturer Tanjungpura University
*** Staff Soedarso Hospital and Nursing Lecturer Tanjungpura University
Pendahuluan Kriteria inklusi antara lain responden
Teknologi berkembang dengan pesat berusia 6-12 tahun, mau dilakukan
sesuai dengan zamannya. Salah satu bentuk pemeriksaan mata dan mau diwawancarai.
teknologi yang beredar adalah gadget. Gadget Kriteria ekslusi yaitu responden berasal dari
tidak hanya digunakan oleh kalangan remaja kelas internasional, mengalami cacat atau
dan dewasa, tetapi juga digunakan oleh cedera pada mata dan responden mengalami
kalangan usia anak sekolah. Tahap penyakit mata seperti glukoma, strabismus,
pengenalan gadget pada anak usia sekolah konjungtivis, dan katarak serta penyakit mata
merupakan usia yang masih terlalu awal. Pada lain yang dapat mengganggu hasil
usia sekolah, permainan anak lebih pemeriksaan. Aktivitas penggunaan gadget
disarankan pada permainan fisik, yang diteliti meliputi frekuensi menggunakan
keterampilan intelektual, fantasi serta terlibat gadget, posisi saat menggunakan gadget dan
dalam kelompok atau tim (Suherman, 2012). intensitas pencahayaan saat menggunakan
Penggunaan gadget yang salah seperti gadget. Ketajaman penglihatan di ukur
frekuensi penggunaan gadget yang dengan menggunakan kartu snellen. Analisa
berlebihan, posisi yang tidak benar dan data menggunakan uji Chi-Square.
intensitas pencahayaan yang tidak baik, akan
berdampak terhadap penurunan tajam Hasil dan Pembahasan
penglihatan. Penurunan tajam penglihatan
pada anak-anak akan berakibat pada kesulitan
anak untuk melakukan aktivitas sehari- Nilai Visus
harinya. Semakin bertambahnya penurunan
tajam penglihatan pada anak, maka akan Penuru
meningkatkan berbagai resiko komplikasi nan
kebutaan, seperti glukoma dan abrasi retina 43,4% Normal
(Tiharyo dkk, 2008). 56,4%
Perawat sebagai tenaga kesehatan
yang bertanggung jawab terhadap Gambar 1. Frekuensi Tajam Penglihatan
peningkatan derajat kesehatan seseorang baik Responden
fisik maupun mental, sudah seharusnya
berpartisipasi dalam mencegah penurunan Hasil pemeriksaan tajam penglihatan
tajam penglihatan pada anak usia sekolah dengan menggunakan kartu snellen,
(Wong, 2009). didapatkan responden yang menggunakan
gadget sebagian besar mempunyai nilai visus
Metodologi normal yaitu sebanyak 31 orang (56,4%) dan
Penelitian ini dilakukan di SD penurunan 24 orang (43,6%).
Muhammadiyah 2 Kota Pontianak,
Kalimantan Barat. Penelitian dilaksanakan Tabel 1. Frekuensi Responden Menurut
pada hari Jumat, 12 Desember 2014 dengan Jenis dan Kepemilikan Gadget
agenda penyebaran dan pengisian kuesioner Variabel Kategori n %
oleh responden, kemudian dilanjutkan pada
Tablet 32 58,2 %
hari Sabtu, 13 Desember 2014 dengan agenda Smartphone 20 36,4 %
pemeriksaan ukuran visus atau tajam Jenis Gadget
Playstation 1 1,8 %
penglihatan responden. Laptop 2 3,6 %
Penelitian ini menggunakan metode Kepemiilikan Sendiri 40 72,7 %
deskriptif kuantitatif dengan pendekatan Gadget Meminjam 15 27,3 %
Cross Sectional. Populasi adalah siswa-siwa N 55 100%
SD Muhammadiyah 2 Pontianak Selatan
dengan jumlah sampel 55 orang. Teknik Hasil pengolahan data penelitian pada
sampling menggunakan stratified random tabel 1, responden yang menggunakan gadget,
sampling yang selanjutnya sampel dipilih jenis gadget yang paling banyak digunakan
dengan simple random sampling. yaitu tablet. Sarwar (2013) mennyampaikan
pertumbuhan gadget jenis tablet pada tahun
2013 lebih tinggi daripada jenis gadget mengambil nilai tengah yaitu 7,00 sebagai cut
lainnya. Bentuk tablet yang berukuran besar of point-nya. Adapun pengkategorian untuk
membuat anak merasa nyaman sehingga lebig frekuensi, posisi dan intensitas cahaya saat
betah menggunakannya terutama untuk menggunakan gadget dapat dilihat pada tabel
bermain game. berikut ini :
Responden yang menggunakan gadget
sebagian besar gadget tersebut adalah milik Tabel 3. Distribusi Kategori Kebiasaan
mereka sendiri sebanyak 40 orang (72,7%) dalam Menggunakan Gadget di SD
yang artinya pada usia sekolah mereka sudah Muhammadiyah 2 Pontianak Selatan
dipercayai untuk memiliki gadget secara Tahun 2014
pribadi. Selain itu, mereka juga ingin Variabel Kategori n %
memiliki suatu barang pribadi seperti gadget Frekuensi Normal 25 45,5 %
ketika melihat teman sebayanya sudah Lamanya
memiliki gadget terlebih dahulu. Penelitian Menggunakan
Gadget Berlebihan 30 54,5 %
ini sesuai dengan Wong (2009) yang Posisi saat Benar 33 60,0 %
mengatakan bahwa teman sekelas memiliki Menggunakan
pengaruh yang penting pada kemampuan Gadget Tidak Benar 22 40,0 %
sosialisasi anak per individu. Intensitas Baik 41 47,3 %
Pencahayaan
saat
Tabel 2. Distribusi Total Nilai Kebiasaan
Menggunakan
dalam Menggunakan Gadget Gadget Tidak Baik 14 52,7 %
Variabel N SD Mean Median N 55 100 %
Frekuensi 55 2,518 8,75 9,00
lamanya Berdasarkan tabel 3, penelitian
menggunakan didapatkan hasil bahwa frekuensi lamanya
gadget menggunakan gadget termasuk kategori
Posisi saat 55 3,206 10,2 11,00
menggunakan 7 berlebihan. Sebagian besar responden lebih
gadget sering menghabiskan waktu luang mereka
Intensitas 55 2,103 6,73 7,00 untuk bermain gadget daripada bermain diluar
Pencahayaan rumah ataupun belajar. Hasil penelitian ini
saat tidak sejalan dengan hasil penelitian yang
menggunakan
gadget
pernah dilakukan sebelumnya oleh
Malahayati (2012) yang menunjukkan bahwa
Berdasarkan tabel 2 terlihat frekuensi frekuensi lamanya anak bermain video game
lamanya menggunakan gadget pada di gadget mereka masuk dalam kategori baik
responden didapatkan nilai rata-rata atau normal.
responden adalah 8,75 dan SD 2,518 dengan Posisi saat menggunakan gadget,
hasil perhitungannya adalah <30% (28,7%), didapatkan bahwa posisi saat menggunakan
disimpulkan distribusi data normal. Posisi gadget masuk dalam kategori benar. Hasil
responden saat menggunakan gadget penelitian ini selaras dengan hasil penelitian
didapatkan nilai rata-rata responden adalah Wati (2008) yang menunjukkan bahwa
10,27 dan SD 3,206 dengan hasil frekuensi posisi duduk lebih besar
perhitungannya adalah >30% (31,2%), dibandingkan dengan posisi tiduran. Posisi
disimpulkan distribusi tidak normal. tiduran juga diminati oleh anak-anak, yang
Pengkategorian variabel ini yaitu 11,00 sebagian menjawab selalu atau sering
sebagai cut of point-nya. Intensitas menggunakan posisi tiduran untuk bermain
pencahayaan responden saat menggunakan gadget.
gadget didapatkan nilai rata-rata responden Variabel intensitas pencahayaan
adalah 6,73 dan SD 2,103 dengan hasil menunjukkan hasil bahwa sebagian besar
perhitungannya adalah >30% (31,3%), anak masuk dalam kategori baik. Anak-anak
disimpulkan distribusi data tidak normal. lebih memilih berada diruangan yang terang
Pengkategorian variabel ini peneliti saat menggunakan gadget. Hasil penelitian ini
sejalan dengan hasil penelitian Wati (2008) hubungan yang signifikan dengan keluhan
yang menunjukkan bahwa frekuensi anak- penglihatan.
anak berada pada pencahayaan redup atau Penurunan tajam penglihatan
tidak baik lebih kecil dibandingkan dengan dikarenakan aktivitas melihat dekat yang
pencahayaan terang atau baik. Selanjutnya, terlalu sering akan menyebabkan kekuatan
pengaruh frekuensi, posisi dan intensitas akomodasi mata akan meningkat sesuai
pencahayaan saat menggunakan gadget dengan kebutuhan, makin dekat benda makin
terhadap penurunan tajam penglihatan dapat kuat mata harus berakomodasi
dilihat pada tabel berikut ini : (mencembung). Refleks akomodasi akan
bangkit bila mata melihat kabur dan pada
Tabel 4. Pengaruh Frekuensi, Posisi dan waktu melihat dekat (Ilyas, 2004).
Intensitas Pencahayaan Hasil penelitian ini sejalan dengan
Nilai Tajam Penglihatan penelitian yang dilakukan Wati (2008) bahwa
Variabel Kategori Normal Penurunan p ada hubungan antara kebiasaan posisi saat
n % n % membaca di rumah dengan gangguan
54,8 33,3 penurunan ketajaman penglihatan. Hasil lain
Normal 17 % 8 %
Frekuensi 0,112 dari penelitian terkait yang dilakukan oleh
45,2 66,7
Berlebihan 14 % 16 % Arianty (2013) justru menunjukkan tidak
74,2 41,7 terdapat hubungan yang bermakna untuk
Benar 23 % 10 % seluruh parameter aktivitas jarak dekat
Posisi 0,015
Tidak 25,8 58,3 dengan miopia.
benar 8 % 14 %
87,1 58,3
Saat pencahayaan terasa kurang oleh
Intensitas Baik 27 % 14 %
0,015
mata, maka mata akan berakomodasi lebih
Pencahayaan 12,9 41,7 kuat untuk melihat benda. Akomodasi adalah
Tidak baik 4 % 10 %
kemampuan lensa untuk mencembung yang
Penurunan tajam penglihatan pada terjadi akibat kontraksi otot siliar. Daya
anak yang frekuensi lamanya menggunakan pembiasan lensa bertambah kuat akibat dari
gadget dalam kategori berlebihan disebabkan akomodasi. Kekuatan akomodasi akan
oleh stres yang terjadi pada fungsi meningkat sesuai dengan kebutuhan. Semakin
penglihatan. Stres pada otot akomodasi dapat dekat benda maka semakin kuat mata harus
terjadi pada saat seseorang berupaya untuk berakomodasi (Vaughan & Asbury, 2000).
melihat pada objek berukuran kecil dan pada Intensitas pencahayaan yang tidak
jarak yang dekat dalam waktu yang lama. baik akan menyebabkan mata berakomodasi
Pada kondisi demikian, otot-otot mata akan lebih kuat dan jika dibiarkan secara terus
bekerja secara terus menerus dan lebih menerus akan menyebabkan penurunan tajam
dipaksakan. Ketegangan otot-otot penglihatan permanen. Hasil penelitian ini
pengakomodasi (otot-otot siliar) makin besar sejalan dengan hasil penelitian Wati (2008)
sehingga terjadi peningkatan asam laktat dan yang menunjukkan ada hubungan antara
sebagai akibatnya terjadi kelelahan mata, kondisi penerangan tempat belajar dirumah
stress pada retina dapat terjadi bila terdapat dengan gangguan penurunan ketajaman
kontras yang berlebihan dalam lapangan penglihaan.
penglihatan dan waktu pengamatan yang
cukup lama (Ilyas, 2004). Kesimpulan
Hasil penelitian ini tidak sejalan Tidak ada pengaruh antara frekuensi
dengan hasil penelitian yang pernah dilakukan lamanya menggunakan gadget terhadap
sebelumnya oleh Wati (2008) yang penurunan tajam penglihatan pada anak usia
menunjukkan ada hubungan antara lamanya sekolah (6-12 tahun) di SD Muhammadiyah 2
menonton televisi dengan gangguan Pontianak Selatan tahun 2014. Ada pengaruh
penurunan tajam penglihatan. Penelitian yang antara posisi dan intensitas pencahayaan saat
dilakukan Kurmasela (2013) terkait lama menggunakan gadget terhadap penurunan
penggunaan laptop dengan keluhan tajam penglihatan pada anak usia sekolah (6-
penglihatan, menunjukkan tidak ada
12 tahun) di SD Muhammadiyah 2 Pontianak Sarwar, M., & Soomro, T. R. (2013). Impact
Selatan tahun 2014. of Smartphone's on Society. European
Journal of Scientific Research, 98(2),
Saran 216-226.
Perawat dapat memberikan pendidikan Suherman. (2012). Buku Saku Perkembangan
kesehatan dalam upaya menjaga ketajaman Anak. Jakarta: EGC.
penglihatan anak. Perawat juga dapat Tiharyo, I., Gunawan, W., & Suhardjo.
memberikan intervensi keperawatan yang (2008). Pertambahan Miopia pada
sesuai dengan tugas perkembangan Anak Sekolah Dasar Daerah
psikososial anak usia sekolah. Sesuai dengan Perkotaan dan Pedesaan di Daerah
teori yang dikemukakan oleh Erickson, pada Istimewa Yogyakarta. Jurnal
tahap ini anak mulai keluar dari lingkungan Oftalmologi Indonesia, 6(2), 104-112.
keluarga ke lingkungan sekolah sehingga Vaughan, D., & Asbury, T. (2000).
semua aspek memiliki peran penting seperti Oftalmologi Umum. Jakarta: Widya
guru, orangtua dan teman. Oleh karena itu, Medika.
intervensi yang dapat dilakukan yaitu Wati, N. A. (2008). Skrining Gangguan
menyarankan orangtua agar memberikan Tajam Penglihatan (visus) Anak Usia
gadget kepada anak jika anak dapat menjaga 7-10 Tahun Sekolah Dasar di
nilainya disekolah dengan baik dan beperilaku Kecamatan Bantul Kabupaten Bantul.
yang sopan. Gadget dapat diberikan hanya Bantul: Skripsi Fakultas Kedokteran
pada waktu tertentu saja seperti pada hari Universitas Gajah Mada.
libur. Orangtua juga memperhatikan makanan Wong, D. L. (2009). Buku Ajar Keperawatan
yang diberikan kepada anak, disarankan agar Pediatrik Edisi 6. Jakarta: Buku
memberikan makanan yang mengandung Kedokteran EGC
banyak Vitamin A. Intervensi lain yaitu
bekerjasama dengan pihak sekolah
mengadakan pemeriksaan tajam penglihatan
secara rutin dengan mengundang ahli
Refraksionis Optisien.

Daftar Pustaka
Arianti, M. P. (2013). Hubungan Riwayat
Miopia di Keluarga dan Aktivitas
Jarak Dekat dengan Miopia pada
Mahasiswa PSPD Untan Angkatan
2010-2012. Pontianak: Skripsi
Fakultas Kedokteran Universitas
Tanjungpura.
Ilyas, S. (2004). Ilmu Perawatan Mata.
Jakarta: Sagung Seto.
Kurmasela, Saerang, & Laya, R. (2013).
Hubungan Penggunaan Laptop dengan
Keluhan Penglihatan pada Mahasiswa
Fakultas Kedokteran Universitas Sam
Ratulangi. Jurnal e-Biomedik, 1(1),
291-299.
Malahayati, D. (2012). Hubungan kebiasaan
Bermain Video Game dengan Tingkat
Motivasi Belajar pada Anak Usia
Sekolah. Depok: Skripsi Fakultas Ilmu
Keperawatan Universitas Indonesia