Anda di halaman 1dari 12

PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II

I. Judul : Stoikiometri Kompleks Amin-Tembaga


II. Tujuan : Menentukan Rumus Molekul
kompleks amin tembaga (ii)

III. Dasar Teori


Tembaga dalam senyawanya memiliki bilangan oksidasi +1 dan +2.
bilangan oksidasi +2 pada tembaga dominan. Kebanyakan garam tembaga (II)
adalah biru, warna ini agak sama dengan larutan heksaaquo tembaga (II)
[Cu(OH2)6]2-. Sama halnya dengan tembaga (II) klorida. Warna hijau ini
disebabkan oleh adanya ion kompleks seperti pada planar tetrachlorocuprate
(II) ion, [CuCl4]2-. Ketika dielusi, warna larutan akan berubah menjadi biru.
Transformasi warna terjadi dimana kompleks direaksikan dengan molekul air,
warna terakhir yang terjadi adalah heksaaquo tembaga (II) ion. Raksinya:
[CuCl4]2-(aq)+ 6 H2O(l) [Cu(OH2)6]2+ (aq) + 4Cl(aq)
(Rayner, 2004)
Tembaga; sifat khas adalah tembaga termaksud logam transisi, tembaga
dapat membentuk ion kompleks, tembaga mempunyai bilangan oksidasi +1
dan +2 dalam senyawa, ion tembaga (I) tidak stabil dalam air; mengalami
reaksi disporposionasi. Pemekatan dilakukan dengan cara flotasi. Konsentrasi
mengandung 25 -30% tembaga sebagai Cu2S dengan FeS sebagai pengotor.
Pemurnian dilakukan secara elektrolisis pada suhu 50 60oC dari larutan
CuSO4 yang diasamkan (Ahmad, 2001).
Mineral yang paling umum adalah chalcopyrite CuFeS2. Tembaga
diekstraksi dengan permanganan dan peleburan oksidatif, atau dengan
pencucian dengan bantuan mikroba, yang diikuti oleh elektrodeposisi dari
larutan sulfat. Tembaga digunakan dalam aliasi seperti kuningan dan
bercampur sempurna dengan emas. Ia sangat lambat teroksidasi superficial
dalam uap udara, kadang kadang menghasilkan lapisan hijau hidrokso
karbonat dan hidrokso sulfat (dari SO2 dalam atmosfer) (Wilkson, 1989).
Senyawa yang unsure logam transisinya mempunyai bilangan oksidasi tinggi
cenderung agak kovalen, sedangkan yang bilangan oksidasinya lebih rendah
cenderung lebih ionic. Contohnya oksida oksida: Mn2O7 adalah senyawa
kovalen berwujud cair pada suhu kamar (mengkristal hanya pada suhu 6 oC),
tetapi Mn3O4 adalah senyawa ionic, mengandung baik Mn (II) maupun
Mn(III), yang meleleh pada suhu 1564oC. oksida kovalen cenderung berupa
anhidrida asam, sedangkan oksida ionic cenderung basa, sama seperti pada
unsure golongan utama (Oxtoby, 2003).
Dimanapun tidak ada perbedaan mendasar tentang senyawa logam transisi
yang dibandingkan dengan senyawa yang terdapat dalam kelompok unsure.
Dalam suatu teori valensi menerapkan kelomok unsure dapat berhasil
menerapkan unsure transisi. Secara umum, metode MO aplikasi senyawa
logam transisi memberikan kesalahan dan manfaat yang banyak, yang lain
seperti level approxi adalah cukup baik, hanya yang lain ada penyebabnya
(Cotton, et all., 1995).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan konsentrasi tertinggi
logam Cu terdapat pada badan karang jenis bercabang di Pulau Sertung yaitu
0,084 ppm, sedangkan di air logam Cu tidak terdeteksi di setiap stasiun
penelitian. Dari hasil analisis diketahui bahwa beberapa stasiun di ketiga pulau
tersebut memiliki kandungan konsentrasi logam Cu pada badan karang yang
telah melebihi ambang batas yang telah ditetapkan oleh Menteri Lingkungan
Hidup, yaitu < 0,01 ppm (Rahman, 2005).

IV. Alat dan Bahan


Alat
a) 1 buah buret 50 ml dan mikro buret 5 ml
b) Corong pisah 250 ml
c) Erlenmeyer
d) Pipet gondok 10 ml dan 25 ml
e) Gelas piala
f) Statif dan klem

Bahan
a) Larutan standar asam oksalat 0,1 M
b) Larutan ammonia 1 M
c) Larutan Cu2+
d) Larutan HCl 0,005 M
e) Larutan NaOH 0,1 M
f) Kloroform
g) Indikator PP

V. Prosedur percobaan
1. Standarisasi beberapa larutan
a. Larutan NaOH
Siapkan buret 50 ml dan diiisi larutan NaOH yang akan
distandarisasi
Siapkan 3 buah Erlenmeyer dan diisi dengan masing-masing
10 ml larutan standar H2C2O4 dan ditambah 2 tetes iindicator
pp, kemudian dititrasi dengan larutan NaOH yang akan
dititrasi
Hitung konsentrasi NaOH

b. Larutan HCl
Dilakukan standarisasi larutan HCl dengan menggunakan larutan standar
NaOH hasil standarisasi langkah a
c. Larutan NH3
Dilakukan standarisasi larutan NH3 degan menggunakan larutan standar
HCl hasil standarisasi langkah b.

2. Penentuan koefisien distribusi ammonia antara air dan kloroform


Ditambahkan 10 ml larutan NH3 1M (hasil standarisasi ) dan 10 ml
larutan air ke dalam corong pemisah 250 ml. kocok agar homogen.
Ditambahkan 25 ml kloroform ke dalam corong pemisah dan kocok
selama 5-10 menit (perhatikan cara mengocok)
Diamkan sebentar sehingga Nampak jelas ada dua lapisan. Kemudian
pisahkan kedua lapisan tersebut
Dipindahkan 10 ml larutan kloroform ke dalam Erlenmeyer yang berisi 10
ml air dan ditambahkan indicator metal orange
Dititrasi secara perlahan larutan itu dengan larutan standar HCl 0,055 M
menggunakan biuret mikro 5 ml . titik ekivalen ditandai idengan
terjadinya perubahan warna
Ulangi titrasi untuk 10 ml kedua dan kemudian sisanya
Dihitung koefisien distribusi ammonia dengan menggunakan persamaan

Kd= [ammonia] kloroform

[ammonia] air

3. Penentuan rumus kompleks Cu-amin


Langkah ini dilakukan serupa dengan langkah penentuan koefisien
distribusi ammonia, hanya 10 ml air yang ditambahkam ke dalam corong
pemisah diganti dengan 10 ml larutan Cu2+ 0,1 M
Dari langkah ini dengan menggunakan harga Kd, dapat dihitung jumlah
ammonia yang dalam air dan kloroform.
Banyaknya mmonia yang terkomplekskan dapat dihitung dengan
mengurangkan jumlah ammonia dalam kloroform dan air pada jumlah
total ammonia awal. Dengan membandingkan jumlah mol ion Cu 2+ dengan
ammonia terkompleks dapat ditentukan dengan rumus kompleksnya.

VI. Hasil Pengamatan


1. Standarisasi Beberapa Larutan
a. Standarisasi larutan NaOH

Skala Awal (ml) Skala Akhir (ml) Volume NaOH (ml)


50 70,5 20,5
50 70,4 20,4
50 70,4 20,4
b. Standarisasi larutan HCl

Skala Awal (ml) Skala Akhir (ml) Volume NaOH (ml)


50 98,4 48,4
50 98,5 48,5
50 98,3 48,3

c. Standarisasi Larutan NH3


Skala Awal (ml) Skala Akhir (ml) Volume NaOH (ml)
50 93 3
50 93 3
50 93 3

2. Penentuan koefisien distribusi ammonia antara air dan kloroform


Langkah Percobaan Hasil Pengamatan
10 ml NH3 + 10 ml air , Terbentuk 2 lapisan air dan NH 3 diatas
dikocok + 25 ml kloroform dan Kloroform dibawah, agak berminyak
Pada bagian atas agak keruh dan
dikocok 5-10 menit dalam
bawahnya lebih bening
corong pemisah
10 ml kloroform + 10 ml air + Kuning menjadi merah muda
V rata rata = 3,3 ml
2 tetes Metil Orange, dititrasi
dengan HCl 0,055 M

2. Penentuan rumus kompleks Cu-amin


Langkah Percobaan Hasil Pengamatan
10 ml NH3 + 10 ml Ion Warna Larutan ion Cu2+ ialah biru muda ,
Cu2+, dikocok + 25 ml ketika ditambahkan NH3 menjadi biru tua

kloroform dikocok 5-10


menit dalam corong
pemisah
10 ml kloroform + 10 ml air + Kuning menjadi merah muda
V rata rata = 3,5 ml
2 tetes Metil Orange, dititrasi
dengan HCl 0,055 M
VII. Persamaan Reaksi

H2C2O4 + 2NaOH Na2C2O4 + H2O

HCl + NaOH NaCl + H2O

Cu2+ + 2NH3 [Cu (NH3)2]2+

VIII. Pengolahan Data


1. Standarisasi beberapa larutan
a. Larutan NaOH
Volume H2C2O4 yang dipakai = 10 mL
[H2C2O4] = 0,1M
Volume NaOH yang dipakai = (20,5+20,4+20,4) mL = 20,43 mL
3

M NaOH . V NaOH = MH2C2O4. VH2C2O4


MNaOH[Baku]= 0,1 M . 10 mL =0,049 M
20,43 mL
b. Larutan HCl
Volume NaOH yang dipakai = (48,4+48,5+48,3) mL = 48,4 mL
3
[NaOH]baku = 0,049 M
Volume HCl yang dipakai = 10 mL
MHCl. V HCl= M NaOH. V NaOH
M[HCl]Baku = 0,049 M . 48,4 mL / 10 mL =0,237 M

c. Larutan NH3
Volume HCl yang dipakai = 3 mL
[HCl]baku = 0,237 M
Volume NH3 yang dipakai = 10 mL
[NH3]baku = 0,237 M . 3 mL / 10 mL = 0,0711M

2. Penentuan Koefisien Distribusi Ammonia dalam air


[HCl]baku = 0,0711M
Volume NH3 dalam CHCl3 terpakai = 25 ml
[NH3] kloroform = (0,237 0,055) M = 0,182 M
[NH3] air = [NH3] awal - [NH3] kloroform
= (0,0711M 0,182)M
= 0,1109
Kd = [NH3] kloroform/[NH3] air = 0,182 M/ 1,003 M = 0,181

3. Penentuan Rumus Kompleks Cu2+ Ammin


[HCl]baku = 1,185 M
Volume NH3 dalam CHCl3 terpakai = 25 ml
[NH3]kloroform = 0,182 M
[NH3]air bebas = 1,003 M
[Cu-NH3] = [NH3]air - [NH3]kloroform
= (1,185M 0,055M)
=1,13 M
Mol Cu : mol [Cu NH3] = [NH3] awal-[NH3] klroform + mol [NH3]
air bebas
= 1,185 M 0,055M + 1,003 M
= 2,133
Mol Cu = 2,133/1,13 = 2
Rumus Kompleks adalah = [Cu(NH3)2]2+

VIII. Pembahasan

Prinsip dasar dari percobaan ini layaknya dalam proses ekstraksi pelarut
dimana berlaku hokum distribusi yang menyatakan apabila suatu system
terdiri dari dua lapisan campuran (solvent) yang tidak saling bercampur satu
sama lain, dan ketika ditambahkan senyawa ketiga (zat terlarut), maka
senyawa itu akan terdistribusi (terpartisi) kedalam kedua lapisan tersebut
seperti yang telah dijelaskan oleh Nerst.
Pada percobaan percobaan kali ini bertujuan untuk menentukan rumus
molekul kompleks ammin tembaga (II), dimana dilakukan 3 tahapan. Yang
pertama yaitu standarisasi beberapa larutan, dalam hal ini larutan NaOH, HCl
dan NH3. Standarisasi ini dilakukan untuk menentukan konsentrasi larutan
yang sebenarnya. Yang kedua adalah penentuan koefisien distribusi amoniak
antara air dan Kloroform, dan yang ketiga yaitu penentuan rumus kompleks
tembaga ammin.

Pada standarisasi larutan NaOH digunakan larutan standar primer asam


oksalat (H2C2O4). NaOH distandarisasi dengan asam oksalat karena NaOH
merupakan larutan basa. Indikator yang digunakan haruslah dapat mengubah
warna menjadi merah muda pada larutan yang bersifat basa. Konsentrasi
NaOH setelah standarisasi diperoleh yaitu 0,049 N, hasil standarisasi ini tidak
sesuai dengan konsentrasi awal NaOH sebelum distandarisasi yaitu 0,1 N.
Pada standarisasi larutan HCl, larutan standar yang digunakan adalah larutan
standar NaOH yang telah distandarisasi
sebelumnya oleh asam oksalat.

HCl distandarisasi dengan NaOH karena HCl merupakan larutan asam maka
harus distandarisasi dengan menggunakan larutan standar yang bersifat basa.
Konsentrasi HCl setelah distandarisasi diperoleh 0,237 N,. Konsentrasi NH3
yang diperoleh setelah standarisasi diperoleh yaitu 0,0711 N .Dalam
penentuan koefisien distribusi ammonia antara air dan kloroform dilakukan
dengan pencampuran NH3 dan aquades didalam corong pisah yang kemudian
dikocok selama 5-10 menit. Fungsi dari pengocokkan ini yaitu agar larutan
dapat homogen. Setelah didiamkan maka akan Nampak adanya dua lapisan
dimana pada bagian atas agak keruh dan bawahnya lebih
bening. Lapisan atas air dan NH3, lapisan bawah kloroform hal ini dikarenakan
adanya perbedaan kepolaran antara senyawa kloroform dengan larutan
amoniak dimana berat jenis kloroform (1,47 kg/L) lebih besar dibanding berat
jenis air (1 kg/L). Penitrasian larutan kloroform dilakukan dengan
menggunakan HCl sebagai titran hingga warna berubah menjadi merah muda,
Perubahan warna ini menandakan bahwa larutan menjadi asam dan pH larutan
semakin menurun. Dimana kita ketahui bahwa HCl dapat berperan dalam
penurunan nilai pH larutan sehingga larutan yang pada awalnya bersifat basa
menjadi asam. Dari hasil perhitungan didapatkan besarnya konsentrasi NH3
dalam kloroform yaitu 0,182 N, sehingga konsentrasi NH3 dalam air sebesar
1,003 N.
Dari kedua konsentrasi NH3 dalam masing-masing larutan dapat dihitung
koefisien distribusi amonia yaitu sebesar 0,181. Dalam penentuan rumus
kompleks ammin-tembaga(II) dilakukan pencampuran 10 mL larutan NH 3
dengan 10 mL larutan ion Cu2+. Larutan bewarna biru keputihan yang
menandakan warna Cu. Larutan ini ditambahkan dengan 25 mL larutan
kloroform dan dikocok selama 5-10 menit. Larutan didiamkan sampai
terbentuk dua lapisan. Lapisan atas adalah larutan Cu2+ dalam ammonia
sedangkan lapisan bawah adalah larutan Cu2+ dalam kloroform. Diperoleh
volume Hcl yang terpakai 10 ml dan volume NH3 25 ml. Dari perhitungan
diperoleh Normalitas NH3 dalam Cu2+ yang dikomplekskan adalah 1,13 M
Untuk menentukan rumus kompleks ammin tembaga dari perhitungan
diketahui mol Cu 0,1 N diperoleh 2,133 dan mol NH3 dalam Cu2+ adalah 2,133
sehingga perbandingan antara mmol Cu2+ dan mmol NH3 adalah 2 : 1 . Jadi
rumus kompleksnya adalah [Cu(NH3)2]2+. Dalam percobaan ini menunjukkan
bahwa atom Cu sebagai atom pusat dan NH3 sebagai ligannya

IX. Kesimpulan

1. Bilangan koordinasi Cu2+ adalah empat yang menunjukkan bahwa ion pussat
Cu2+ hanya mampu menyediakan empat ruanng untuk ditempati ligan NH3
2. senyawa kompleks terbentuk dari ion logam dan ligan, senyawa kompleks
ammin tembaga dapat terbentuk dengan menambahkan ammonia berlebih ke
dalam larutan tembaga (II) yang telah diketahui jumlahnya, nilai koefisien
distribusi amonia adalah sebesar 0,181. Jumlah mol NH3 yang terkomplekskan
pada percobaan ini adalah sebesar 1,13 mmol. Dengan perbandingan antara
mmol Cu2+ dan mmol NH3 adalah 1 : 2 sehingga rumus kompleks ammin
tembaga yang diperoleh pada percobaan ini adalah [Cu(NH3)2]2+.
X. Daftar Pustaka

Fauzi, M. Al Rizqi Dharma. 2012.Stoikiometri kompleks amin tembaga.


http://mylife-diechemie.blogspot.com. (Diakses pada tanggal 25
Maret 2017)

Raymond , Chang.2006.Kimia Anorganik Jilid 2.Jakarta : Earlangga

Utami, Budi. 2011. Pratikum Kimia Anorganik Stoikiometri Kompleks


amin tembaga. http://www.chem-is-try.org/. (Diakses pada
tanggal 25 Maret 2017)

XI. Lampiran
Standarisasi beberapa larutan
Penentuan Rumus Kompleks Cu Amin

Pememtuan koefisien distribusi ammonia antara air dan klorofom